KEJUJURAN, Modal Utama dalam Membina Ummat

Hikmah Jum’at ;
عَليَْكم بالصِّدْقِ فَإنَّ الصِّدْقَ يَهْدى إِلى البِرِّ،
وَ البِرُّ يَهْدى إلى الجَنَّةِ،
وما يَزَال الرَّجُلُ يَصْدِقُ و يَسْحَرَّى الصِّدْقَ حَتى يُكْتَبُ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا

و إِيَّاكُمْ و الكَذِبَ فإنَّ الكَذِبَ يَهْدِى إلى الفُجُوْرِ و إنَّ الفُجُوْر يَهْدِى إلى النَّارِ
وَمَا يَزَالُ العَبْدُ يَكْذِبُ وَ يَسْحَرُّ الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ الكَذَّابًا

“ Hendaklah kamu semua bersikap jujur,
karena kejujuran membawa kepada kebaikan,
dan kebaikan membawa ke sorga.
Seorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran
akan ditulis (dicatat) oleh Allah sebagai orang yang jujur (shidiq).

Dan jauhilah sifat bohong, karena kebohongan membawa kepada kejahatan,
dan kejahan membawa ke neraka.
Orang yang selalu berbohong dan mencari-cari kebohongan,
akan ditulis (dicatat) oleh Allah sebagai pembohong (kadzdzab).
(H.R. Bukhari)

Salah satu dari moral utama seorang manusia adalah kejujuran.
Kejujuran adalah dasar (fundament, asas, sendi) dalam pembinaan umat
dan modal utama menciptakan kebahagiaan di tengah masyarakat.

Kejujuran menyangkut segala urusan kehidupan dan kepentingan orang banyak.
Kepada semua manusia Allah SWT telah memerintahkan
agar selalu mempunyai perilaku dan sifat jujur ini.

Rasulullah SAW adalah contoh terbaik.
Rasulullah adalah seorang yang memiliki pribadi utama dalam hal kejujuran.
Kejujuran adalah akhlak utama para nabi dan rasul.
Demikian pula akhlak para generasi pertama dan utama umat ini,
mereka senantiasa berpegang teguh kepada kebenaran
dan kejujuran dalam segala aspek kehidupan.
Tidak hanya dalam urusan kemasyarakatan, dan bernegara,
tetapi juga di dalam kehidupan keluarga dan rumah tangga,
termasuk pergaulan dengan anak-anak cucu dan kerabat mereka.

Abu Hurairah r.a meriwayatkan sebuah hadits Rasulullah SAW.
Beliau bersabda:
“Barangsiapa yang berkata kepada seorang anak,
“Mari nak, ambillah kurma ini”,
lalu dia tidak memberikannya,
maka ia telah mendustainya.”
(HR. Ahmad)

Hadist ini melihatkan kepada kita,
betapa sebuah janji yang telah dijanjikan,
manakala dibelokkan atau tidak dilaksanakan,
sesungguhnya kejujuran itu telah rusak,
bahkan punah dan melahirkan bencana atau kemelut.

Dengan tuntunan seperti itu,
Rasulullah SAW hendak memberi pelajaran
kepada para orang tua dan para pendidik,
supaya mereka menanamkan sifat utama ini
kepada anak-anaknya semenjak kecil.
Sehingga ketika mereka menjadi dewasa
mereka tetap memiliki watak dan kebiasaan ini.

Melalui cara ini diharapkan kelak
akan lahir generasi Islam yang utama,
yang akan memberikan kebahagiaan hidup
dan membangkitkan kesadaran berbangsa.

Islam menaruh perhatian serius terhadap moral terpuji ini.
Islam selalu mengajak dan mendorong manusia agar memiliki watak ini,

Sebaliknya Islam tidak menyukai
dan bahkan memperingatkan manusia agar menjauhi dusta
menjauhi ketidak jujuran.
Dusta adalah merupakan salah satu perangai yang bernilai rendah dan tercela.
Dusta, menjadikan hukum-hukum rusak binasa,
Dusta, menjadikan kehormatan terinjak-injak
dan dusta pula yang menyebabkan berbagai kejahatan merajalela.

Berita bohong sering mengakibatkan
terputusnya hubungan persaudaraan
menimbulkan konflik yang tidak menguntungkan
dalam hubungan sesama manusia.

Isu atau berita bohong tidak sedikit yang telah membuat
seseorang kehilangan harga dirinya.

Satu di antara bukti bahwa agama Islam sangat mencela dusta adalah
bahwa Islam sangat mencela saksi palsu
yang dapat mengakibatkan hukum dapat diperjual belikan.

Menurut ajaran Islam,
saksi palsu adalah salah satu bagian dari kesalahan sangat besar,
berakibat sangat fatal dan termasuk dosa besar.

Kesaksian dusta sering diperbuat seseorang karena beberapa sebab.
Antara lain karena hubungan yang tidak baik,
atau karena terlalu membenci seseorang (lawan ataupun bekas kawan),
atau karena takut kepada atasan,
atau karena ada udang di balik batu.

Demi menegakkan kebenaran dan kedamaian di muka bumi ini,
Tuhan memerintahkan kepada kita menjadi saksi yang jujur dan adil,
dan mengutamakan penegakan kebenaran.

Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman,
jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan,
menjadi saksi karena Allah
biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapakmu dan kaum kerabatmu.
Jika ia kaya ataupun miskin,
maka Allah lebih tahu kemaslahatannya.
Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu
karena ingin menyimpang dari kebenaran,
dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata)
atau enggan menjadi saksi,
maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui
akan segala apa yang kamu kerjakan.”
(Q.S. An Nisaa’: 135)

Menjadi orang yang jujur merupakan pilihan yang sungguh berat sekali
di tengah arus budaya yang penuh dengan kepalsuan,
penuh kedustaan, kemunafikan dan ketidak-jujuran,
di mana sangat sulit mencari orang yang dapat dipegang kata dan janjinya.

Kejujuran tidak hanya mencerminkan integritas kepribadian seseorang,
tetapi juga menjadi pesona bagi sesama
dan menjadi penyebab datangnya ketenangangan bagi pelakunya.

Dalam hadits-hadits Rasulullah SAW,
kita akan mendapatkan petuah
tentang betapa berartinya makna sebuah kejujuran.

Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk meninggalkan apa yang kita ragukan
dan menganjurkan untuk mengerjakan apa yang kita yakini.

Kejujuran akan menimbulkan ketenangan jiwa
sedangkan dusta selalu saja membuat jiwa pelakunya bimbang dan goncang.

Maka tidak aneh,
bila sering dijumpai orang yang memiliki harta benda,
kekayaan berlimpah
namun ia tidak pernah menemui kebahagiaan dan ketenangan jiwa,
karena,
mungkin sekali harta benda yang melimpah ruah itu
dihasilkan dari jalan yang tidak benar atau dari hasil ketidak-jujuran.

Sikap dusta (bohong) sangat berbahaya.
Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya Muhammad SAW
mengingatkan kita para hamba dan umatnya
untuk senantiasa memelihara dan menjaga sifat yang mulia ini,
yakni sifat kejujuran atau shiddiq.

Tidak ada makna kehidupan, jika tidak dihiasi dengan kejujuran.
Tidak berfaedah harta berlimpah,
jika semua harta itu tidak berasal dari tetesan keringat kejujuran.
Maka, tanamkanlah kejujuran dalam diri kita,
karena kejujuran adalah salah satu pondasi utama dalam membangun bangsa.

Betapapun besarnya sebuah bangsa,
jika kejujuran di tangan pemimpin dan di tengah rakyatnya telah sirna,
maka hancurlah bangsa itu.

Wabillahit taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa barakatuh,
Buya H. Masoed Abidin

Memperingati Maulid Nabi SAW

MEMPERINGATI MAULID NABI SAW

Oleh : H. Mas’oed Abidin

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan kami tidak mengutusmu (Muhammad) melainkan kepada segenap ummat manusia, sebagai pembawa berita dan pemberi peringatan. Tetapi kebanyakan manusia tidak rnengetahui.” (Q.S. Saba’: 28)

NAPAK TILAS SEJARAH KEHIDUPAN RASULULLAH ATAU SIRAH NABAWIYAH.

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaum-mu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, ajpeg-image-227c397269-pixels-buyamat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Q.S. At Taubah:. 28)

Muhammad Rasulullah saw. dilahirkan di tengah-tengah keluarga Bani Hasyim di Makkah el Mukarramah di bulan Rabi’ul Awwal (musim bunga), pada hari Senin, tanggal 12 Rabi’ul Awwal permulaan tahun dalam peristiwa gajah (al fiil); bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 April tahun 571 M, dan empat puluh tahun setelah berkuasanya Kisra Anusyirwan di Parsi.

Saat itu, yang menjadi bidan untuk merawatnya adalah Siti Syifa’, ibu dari sahabat Abdurrahman bin ‘Auf R.Anhu.

Beliau lahir nama beliau Muhammad (yang terpuji), ayahnya Abdullah (hamba Allah), ibunya Aminah (yang memberi rasa aman), kakeknya dipanggil Abdul Muthallib yang namanya adalah Syaibah (orang tua yang bijaksana), sedangkan yang membantu ibunya melahirkan bernama Asy-Syifa’ (yang sempurna dan sehat), serta yang menyusukannya adalah Halimah As-Sa’diyah (yang lapang dada dan mujur). Semua nama-nama itu, sungguh telah mengisyaratkan keistimewaan berkaitan dengan Nabi Muhammad SAW yang dipilihkan oleh Allah Azza wa Jalla.

di-depan-rumah-maulid-rasul-di-makkahMakna nama-nama tersebut menurut para Ulama memiliki kaitan yang erat dengan keperibadian Nabi Muhammad SAW. Walaupun ada juga sebagian ulama tarikh yang berpendapat bahwa beliau lahir pada subuh pagi Senin tanggal 9 Rabi’ul Awwal tahun Fil pertama, sebagaimana pentahkikan yang dilakukan para ahli astronomi dan ulama falak, seperti Syeikh Mahmud Fasya al Falaky, Muhammad Sulaiman Al Manshurfury dan Mahmud Basya. (Untuk lebih lanjut ada baiknya dilihat juga Kitab Ar Rahiq Al Makhtum karya Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfury dan buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW, yang ditulis oleh K.H. Moenawar Chalil).

MASA REMAJA DAN DEWASA

Pada awal masa remajanya, Rasulullah SAW biasa mengembala kambing di kalangan Bani Sa’ad. Pada usia dua puluh lima tahun, seorang saudagar kaya bernama Khadijah binti Khuwaylid al As’ad telah mendengar tentang kejujuran, kredibilitas dan kemuliaan akhlaq Muhammad. Siti Khadijah telah mengirim utusan kepada pemuda Muhammad bin Abdullah dan menawarkan kepadanya agar berkenan berangkat ke Syam untuk menjalankan barang dagangannya.

Beliau menerima tawaran itu, dan kemudioan berangkat ke Syam membawa barang dagangan Khadijah binti Khuwaylid dengan disertai Maisarah.

Dua bulan sepulang beliau dari negeri Syam, dengan tawaran Khadijah melalui sahabatnya Nafisah binti Munyah, Muhammad SAW menikah dengan Siti Khadijah, dengan maharnya menurut setengah riwayat dua puluh ekor onta muda.

Semua putra-putri beliau, dilahirkan dari rahim Siti Khadijah r.a., adalah Al-Qasim, kemudian Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fatimah dan Abdullah yang bergelar Ath-Thayyib dan Ath-Thair. Semua putra beliau meninggal dunia selagi masih kecil. Sedangkan semua putri beliau sempat menjumpai Islam, dan mereka masuk Islam serta ikut hijrah. Hanya saja mereka semua meninggal dunia selagi Rasulullah SAW masih hidup, kecuali Fathimah. Fathimah meninggal dunia selang enam bulan sepeninggalan beliau.

Ada juga anak Rasulullah SAW bernama Ibrahim yang lahir dari isteri beliau Maria Al Qibthiyah, seorang isteri yang beliau terima dan nikahi sebagai tanda persahabatan dengan Muqauqis dari Mesir, ketika Muhammad telah diangkat menjadi Rasulullah SAW.

NUBUWWAH DAN RISALAH SERTA PERINTAH DAKWAH

Di saat Umur Rasulullah SAW genap empat puluh tahun, suatu awal kematangan, mulailah tampak-tampak tanda-tanda nubuwwah pada diri beliau. Di antara tanda-tanda itu adalah mimpi hakiki. Selama enam bulan mimpi yang beliau alami itu hanya menyerupai fajar subuh yang menyingsing. Mimpi ini termasuk salah satu bagian dari empat puluh enam bagian dari nubuwwah.

Akhirnya pada bulan Ramadhan pada tahun ketiga dari masa pengasingan di gua Hira, Allah berkehendak untuk melimpahkan rahmat-Nya kepada penghuni bumi, memuliakan beliau dengan nubuwwah dan menurunkan Malaikat Jibril kepada beliau sambil membawa ayat-ayat Al Qur’an (Al ‘Alaq: 1- 5). Hal ini juga disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitabnya Fathul Bary.

Kemudian turunlah wahyu Ilahi yang memuat pesan-pesan untuk melaksanakan Dakwah kepada Allah SWT, seperti dalam surat Al Muddatstsir ayat 1-7.

Sungguh dalam makna terkandung dalam ayat ini. Di antaranya, memberi peringatan agar tidak melanggar apa yang telah diperintahkan atau telah dilarang oleh Allah SWT, sebab akan berakibat ditimpa azab yang sangat pedih dan dahsyat. Perintah untuk mengagungkan Rabb, Allah SWT Yang Maha Agung. Mengingatkan agar menjauhi sikap sombong, yang dapat menyeretnya ke dalam kehancuran dan murka Allah. Memerintahkan membersihkan pakaian dan meninggalkan perbuatan dosa, agar kesucian lahir batin benar-benar tercapai, sehingga mendapatkan pancaran cahaya Ilahi yang penuh dengan hidayah Allah SWT. Menggerakkan Dakwah dan amal Islamiyah dengan selalu sabar dan tabah, serta terus meminta pertolongan dan perlindungan serta memohon hidayah, taufiq dan ridho-Nya.

Setelah mendapatkan perintah ini, Rasulullah SAW bangkit dan setelah itu, selama dua puluh lima tahun beliau tidak pernah istirahat dan diam. Beliau tidak pernah mengeluh apalagi berputus asa dalam melaksanakan misi dakwah ini.

WAFATNYA RASULULLAH SAW.

Pada detik-detik terakhir dari hidup Rasulullah SAW, beliau masih sempat bersiwak yang dilakukan oleh Abdurrahman bin Abu Bakar. Di dekat pembaringan beliau ada bejana berisi air. Beliau mencelupkan kedua tangan berisi air lalu mengusapkannya ke wajah sambil bersabda, “Tiada Tuhan selain Allah. Sesungguhnya kematian itu ada sekaratnya.”

di-bawah-kubah-hijau-ini-di-masjid-nabawi-berkubur-muhammad-rasulullah-sawSeusai bersiwak, beliau mengangkat tangan atau jari-jari, mengarahkan pandangan ke arah langit-langit rumah dan bibir beliau bergerak-gerak. Sayyidah Aisyah masih sempat mendengar sabda beliau pada saat itu. Beliau bersabda, “bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka para Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan Sholihin. Ya Allah, ampunilah dosaku, dan rahmatilah aku. Pertemukanlah aku dengan kekasih Yang Maha Tinggi, Ya Allah, kekasih Yang Maha Tinggi.”

Kalimat yang terakhir ini diulangi hingga tiga kali yang disusul dengan tangan beliau yang melemah. “Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’uun.” Beliau telah berpulang kepada kekasih Yang Maha Tinggi.

Hal ini terjadi selagi waktu dhuha sudah terasa panas, pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal 11 H, dalam usia enam puluh tiga tahun lebih empat hari.

TRADISI PERINGATAN MAULID NABI SAW

Tradisi perayaan Mulid seperti yang diselenggarakan di hampir semua masyarakat muslim sekarang ini bukanlah satu warisan yang ditinggalkan oleh Muhammad SAW atau suatu yang diperintahkan beliau pada hayatnya Muhammad SAW. Peringatan seperti ini, adalah keputusan bijaksana yang ditetapkan Sultan Shalahuddin al Ayyubi yang memerintah Mesir dan Syiria pada tahun-tahun 564 – 589 M/1169-1193 H.

Berbagai pendapat telah berkembang tentang kebolehan, keutamaan, dan hikmah, bahkan penolakan, terhadap diadakannya peringatan Maulid Nabi SAW ini.

Di antara yang menolak, terdapat pada kitab Al-Bida’ Al-Hauliyah wa Fatwa Tata’allaq bil Maulid an-Nabawi, Darul Fadhilah, Riyadh, 1421H – 2000M, yang ditulis oleh Abdullah bin Abdul Azis at-Tuwaijiry dan Dakhilullah bin Bakhil Al-Mathrafi. Buku ini telah terbit dalam edisi Indonesia berjudul, « Adakah Maulid Nabi SAW », Darul Falah, Jakarta, Cet-1, Syawal 1426 H/Nopember 2005 M. Buku kecil 172 halaman ini, dilengkapi dengan Fatwa-fatwa Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu-Asysyaikh,Syakh Abdul Azis bin Abdullah bin Baaz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin, Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, dan pendapat dari Al-Lajnah Ad-Daaimah Saudi Arabia masa ini.

Menurut buku kecil ini, peringatan Maulid SAW dikategorikan suatu bid’ah. Mula sekali yang mengadakan bid’ah ini, adalah Bani Ubaid Al-Qadah dari kelompok Fathimiyah, sebagaimana juga ditulis di dalam kitab Ahsan Al-Kalam hal.44, Al-Ittida’, hal.251, Taarkh Al-Ihtifal Al-Maulid An-Nabi, hal.62, dan kitab lainnya. Wallahu’alamu bis-shawaab.

umat-mengikuti-peringatan-maulid-di-depan-masjid-dan-madrasah-di-50-kotaAda hal terpenting dalam suasana peringatan Maulid Nabi, yaitu menanamkan pada diri anak-anak kecintaan kepada Nahi saw. Sehingga suri tauladan kehidupan yang beliau contohkan dapat terserap dalam pikiran mereka. Begitu pula halnya sejarah tauladan para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhurn. Maka tentulah diperlukan bahan bacaan sebagai referensi dalam mengajarkan nilai-nilai yang terkandung dalam sejarah dan Sunnah Rasulullah saw. Rasulullah SAW pernah berpesan bahwa dua pusaka abadi yang beliau wariskan kepada ummatnya adalah Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw.

Tradisi memperingati Maulid Nabi semestinya dirakit menjadi sebuah tradisi Islami yang sangat bermanfaat bagi kaum muslimin. Dalam acara-acara peringatan Maulid Nabi dapat didengarkan dan dihayati segala hal yang disampaikan oleh para penceramah tentang suri tauladan dalam kehidupan Rasulullah saw.

Bagi kita, memperingati Maulid (kelahiran) Muhammad Rasulullah SAW, bermakna secara sadar menelusuri pekerti agung dari seorang terpilih. Jelas nasabnya, jujur, amanah, baik pekertinya, serta penyantun dan pemaaf (pengakuan Ja’far bin Abi Thalib dihadapan Raja Najasyi), sebagai uswah hasanah (suri teladan baik), bagi setiap mukmin yang percaya kepada Allah dan hari akhir (QS.33,al-Ahzab:21). Karena, dia diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam (QS.21,al-Anbiya’:107). Muhammad SAW, adalah seorang yang istimewa.

Dia adalah Rasul Allah, pilihan diantara banyak rasul sebelumnya (QS.3,Ali Imran:144). Bahkan, menjadi penutup Nabi-Nabi (QS.33,al-Ahzab:40).

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah SAW itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu)bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangannya) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allalt (zikrullah). (Q.S. Al Ahzab: 21)

Makna hakiki dari memperingati Maulid Nabi SAW haruslah diinsyafi bukan sekedar seremonial keagamaan semata, namun hendaklah ditujukan kearah intropeksi total diri sendiri, guna meningkatkan kualitas hidup beragama, beribadah, dan bermasyarakat.

REFLEKSI PERINGATAN MAULID SEBAGAI UPAYA MENELADANI RASULULLAH SAW

mengaji-di-depan-ummatSalah satu refleksi peringatan maulid adalah mengambil keteladanan Nabi Muhammad SAW yang telah mengeluarkan ummat manusia dan lembah kemiskinan harta, kemiskinan ilmu, kemelaratan mental (akhlak) maupun spritual (hakekat uluhiyah dan rububiyah).

Muhammad SAW mengentaskan ummat dari kemiskinan harta dengan memacu kepada usaha individu dengan memberi bibit untuk ditanam bukan menyediakan nasi untuk dimakan. Petunjuk yang tersirat dalam beberapa sabda Rasulullah SAW. Di antaranya: Bekerjalah kamu untuk duniamu seakan-akan-akan hidup selamanya dan berusahalah kamu untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati esok hari. (H.R. Ibnu ‘Asakir)

Dalam kehidupannya Rasulullah telah memberi contoh. Beliau SAW tidak pernah menolak pengemis yang datang ke rumahnya. Bahkan sering para pengemis diberi bibit kurma untuk ditanam sehingga sang pengemis dapat memberi makan anak cucunya. Rasulullah SAW sangat menghargai makna sebuah kerja. Etos kerja Islam merupakan manifestasi kepercayaan muslim yang memiliki kaitan dengan tujuan hidup yang hakiki, yaitu ridha Allah SWT dalam meraih prestasi di Dunia dan Akhirat.

Nabi Muhammad SAW mendorong ummat agar tidak miskin ilmu. Beberapa pesan Rasulullah SAW mengingatkan, “Barangsiapa yang menginginkan dunia haruslah dengan ilmu, dan barang siapa yajig menginginkan akhirat haruslah dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan kedua-keduanya haruslah dengan ilmu”. (H.R. Murrafaqun ‘Alaih).

Di atas semua itu, dengan ilmu yang diredhai Allah maka seseorang dianggap sebagai pewaris Nabi, dan dengan ilmu kebahagiaan di dunia akhirat dapat di raih.

Nabi Muhammad Saw mendorong agar manusia tidak menjadi miskin mental. Apabila jiwa atau mental sehat, dengan sendirinya akan memancar bayangan kesehatan itu pada perilaku kehidupan sehari-hari. Risalah Islamiyah adalah suatu anugerah bagi ummat manusia.

Nabi Muhammad SAW telah berhasil membawa masyarakat jahiliyah yang miskin mental menjadi masyarakat yang luhur, berakhlak. memiliki sopan santun dan tata krama dalam pergaulan dan penuh peradaban, dengan menghidupkan empat sikap utama.

Pertama, Syaja‘ah artinya berani pada kebenaran dan takut pada kesalahan dan dosa. Selanjutnya, Iffah artinya pandai menjaga kehormatan diri lahiriah dan batiniyah. Kemudian, Hikmah artinya tahu rahasia diri dan pengalaman hidup, dan terakhir adalah ‘Adalah artinya adil walaupun pada diri sendiri.

Muhammad SAW adalah figur teladan yang diidolakan kaum muslimin. Setiap langkahnya yang selalu dibawah kontrol Ilahi adalah mutiara berharga, menjadi landasan perhitungan akhlak bagi ummatnya, untuk berbuat dan juga merupakan hukum yang ditaati.

Tiada seorangpun yang dapat meragukan keagungan peribadi Rasulullah SAW. Keperibadian yang dijadikan contoh teladan dalam segala hal.

Rasulullah sebagai seorang suami yang teladan, sebagai ayah teladan, sebagai guru teladan, sebagai tokoh teladan, sebagai abli strategi teladan, sebagai ahli ekonomi teladan, sebagai pejuang hak-bak asasi manusia teladan, dan sebagai kepala negara yang teladan.

Keteladanan yang mampu mengubah situasi dan kondisi masyarakat. Keteladanan yang mampu mereformasi sistem dan tatanan yang ada, ke arah yang lebih baik dan tujuan yang mulia, yakni baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur (negeri yanq makmur dan penuh ampunan Tuhan).

buya-bersama-walikota-padang-fauzi-bahar-dalam-satu-pengajianNilai-nilai keteladanan tersebut hendaknya menjadi warisan yang paling berharga bagi kita ummat manusia, tanpa terkecuali. Setiap langkah yang kita ayunkan, setiap nawaitu yang kita bulatkan, setiap pernyataan yang kita ikrarkan dan setiap perbuatan yang kita lakukan merupakan cerminan dan keteladanan RasululIah saw. yang mesti diterapkan dalam kehidupan.

Maka dalam upaya mengikuti ajaran beliau, setidaknya salah satu dan sifat beliau ada dalam diri seorang muslim. Dan di antara sifat mulia yang beliau miliki adalah sifat shidiq. Karena sifat shidiq ini, Rasulullah SAW. diberi gelar Al Amin (orang yang dapat dipercaya). Shidiq (as shidqu) artinya benar atau jujur, lawan dan dusta atau bohong (al kidzbu).

Seorang muslim dituntut memiliki sifat shidiq; dalam keadaan benar lahir maupun batin. Sifat shidiq yang utama dan harus dimiliki adalah Shidqul qalb, yaitu benar hati atau kejujuran hati nurani. Kejujuran hati nurani dapat dicapai jika hati dihiasi dengan iman kepada Allah SWT dan bersih dan segala macam penyakit hati. Sifat ini akan mencapai kematangannya apabila didukung dengan sifat ihsan.

Selanjutnya Shidqul hadits, yaitu benar atau jujur dalam ucapan dan perkataan. Seseorang dapat dikatakan jujur dalam perkataan apabila semua yang diucapkannya adalah suatu kebenaran bukan kebatilan. Di samping itu perlu ada Shidqul ‘amal, yaitu benar perbuatan atau beramal shaleh sesuai dengan syari’at Islam.

Sifat shidiq akan mengantarkan seseorang ke pintu gerbang kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Karenanya Rasulullah SAW. memerintahkan setiap muslim untuk bersikap shidiq dalam segala hal di antaranya dalam tiga hal di alas. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 177.

Rasulullah saw bersabda: “Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke surga. Seseorang sang telah jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah sebaqai seorarig yang jujur (shidiq). Dan jauhilah sifat bohong, karena kebohongan membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka. Oranq yang selalu berbohonq dan mencari-cari kebohongan, akan ditulis oleh Allah sebaqai pembohonq (kadzdzab)”. (HR. Bukhari)

Sifat shidiq adalah “tambang emas” dalam diri seseorang yang sangat berharga. Dan sifat inilah yang dijadikan standar kepercayaan orang lain kepadanya. Apabila seseorang telah kehilangan sifat shidiq, maka hilanglah arti dirinya, karena tiada yang mau mempercayainya.

Sikap ini pula yang amat diperlukan di dalam membangun bangsa dan negara Indonesia tercinta ini.

Allahu a‘lam bishawab

Kunjungan ke Mesir

hma-ghaza-2masjid-ali.jpghma-latar-sphinx1hma-sinai-1hma-saharapasar-tradisional-mishr

hma-sinai-1

Hujan adalah rahmat Allah, Jangan dicela datangnya, terimalah dengan penuh syukur dan sabar, persiapkan diri menerima rahmat Allah …. h u j a n …..

Janganlah Mencela Hujan

….

Sungguh sangat disayangkan sekali, setiap orang sudah mengetahui bahwa hujan merupakan kenikmatan dari Allah ta’ala. Namun, ketika hujan dirasa mengganggu aktivitasnya, timbullah kata-kata celaan dari seorang muslim seperti ‘Aduh!! hujan lagi, hujan lagi’. Sungguh, kata-kata seperti ini tidak ada manfaatnya sama sekali, dan tentu saja akan masuk dalam catatan amal yang jelek karena Allah berfirman:

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaaf : 18)

Bahkan kata-kata seperti ini bisa termasuk kesyirikan sebagaimana seseorang mencela makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa seperti masa (waktu). Hal ini dapat dilihat pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.’ “ (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Janganlah kamu mencaci maki angin.” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan hasan shohih)

Dari dalil di atas terlihat bahwa mencaci maki masa (waktu), angin dan makhluk lain yang tidak dapat berbuat apa-apa, termasuk juga hujan adalah terlarang. Larangan ini bisa termasuk syirik akbar (syirik yang mengeluarkan seseorang dari Islam) jika diyakini makhluk tersebut sebagai pelaku dari sesuatu yang jelek yang terjadi. Meyakini demikian berarti meyakini bahwa makhluk tersebut yang menjadikan baik dan buruk dan ini sama saja dengan menyatakan ada pencipta selain Allah. Namun, jika diyakini yang menakdirkan adalah Allah sedangkan makhluk-makhluk tersebut bukan pelaku dan hanya sebagai sebab saja, maka seperti ini hukumnya haram, tidak sampai derajat syirik. Dan apabila yang dimaksudkan cuma sekedar pemberitaan, -seperti mengatakan, ‘Hari ini hujan deras, sehingga kita tidak bisa berangkat ke masjid untuk shalat’-, tanpa ada tujuan mencela sama sekali maka seperti ini tidaklah mengapa. (Lihat Mutiara Faedah Kitab Tauhid, 227-231)

Perhatikanlah hal ini! Semoga Allah selalu menjaga kita, agar lisan ini banyak bersyukur kepada-Nya atas karunia hujan ini, dan semoga Allah melindungi kita dari banyak mencela.

….

Ketika hujan mulai turun kadang kita lebih repot mencari tempat berteduh  atau sibuk berteriak teriak hujan …hujan …dan berlari keluar mengambil jemuran di depan rumah. Seringnya memang seperti itu kita selalu lupa untuk berdoa, semoga saja hujan yang turun tidak membawa bencana atau angin yang berhembus membawa kesejukan. Saya hanya mencoba mengingatkan saja barangkali saja kita memang selalu lupa berdoa ketika hujan turun, berikut saya kutipkan beberapa doa, mudah mudahan kita semua dapat mengamalkannya:

1.       Doa ketika ada angin kencang

“Allahumma innii As-aluka Khoiroaa Wakhoiro Maa Fiihaa Wakhoiro Maa Arsalta Bihi Wa-a ‘Uudzu Bika Min Syarrihaa Wasyarri Ma arsalta Bih.

Ya Allah ssesungguhnya aku mohon kepadaMu akan kebaikan angin ini dan kebaikan apasaja yang ada padanya dan kebaikan yang di bawanya, dan aku berlindung kepadaMu akan kejahatan dan kejahatan yang di bawanya.

2.       Di waktu hujan turun

Allahuma Shayiban Naafi’a

Ya Allah semog a lebat dan bermanfaat.

3.       Setelah Hujan berhenti

Muthirnaa Bifadhlillaahi Warohmatih.

Kami di beri hujan ini karena Allah dan rahmatnya

4.       Mohon perlindungan dari hujan yang membawa bencana

Allahumma Hawaalainaa Walaa ‘Alainaa, Allahumma ‘Alal Aakami Wazh-zhiroobi Wabuthuunil Audiyati Wamanaabitisysyajar.

Ya Allah curahkan hujan ini di sekeliling kami dan bukan di atas kami, Ya Allah curahkan di atas hutan hutan, di tengah tengah lembah dan tempat  tempat  tumbuhnya pohon.

5.       Doa ketika mendengar petir

Subhaana Mayyusabbihur Ro’du Bihamdika Wal Malaa-ikatu Min Khiifatih.

Maha suci Dzat yang petirpun bertasbih dengan puja pujiNya dan juga malaikat karena takut padaNya.

Atau bias juga:

Allahumma Laa Taqtulnaa Bighodhobika Walaa Tuhliknaa Bi’Adzaabika Wa-‘aafinaa Qobla Dzaalik.

Ya Allah janganlah  engkau  membunuh kami dengan kemurkaanMu, dan janganlah engkau memusnahkan kami karena siksaMu, dan ampunilah kami sebelum semua itu.

Mudah mudahan bermanfaat, mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisannya.

Wassalam.

Generasi Muda dan ABSSBK

Generasi Muda dan Internalisasi ABS-SBK
Rabu, 14 Januari 2009
Oleh : Marjohan, Sekretaris PW Muhammadiyah Sumbar 1990-1995
Mengacu pada terminologi Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI),

pemuda atau generasi muda  adalah manusia yang berumur 17—40 tahun.

Sedangkan dalam Tarekh Islam (tahun ke 40/’Amul Fiil, Tahun Gajah),

Khalifah Ali bin Abi Thalib (20–an tahun), disebut oleh Nabi Muhammad SAW

sebagai pemuda, ketika mengikrarkan dua kalimat syahadat di hadapan Rasul,

sewaktu beliau baru saja menerima wahyu pertama di Gua Hira,

pada 14 abad lampau!

Gelora generasi muda tersebut antara lain berupa heroisme, romantisme dan

aktualisme. Dalam kancah kehidupan yang digumulinya, figur generasi muda,

baik individual maupun kolektif, selalu punya obsesi menujukkan jati diri

(self actualization) sebagai manusia yang punya makna atau arti sebuah hidup.

Mereka mampu menyandang tanggung jawab (mas’uliyah/accountability) betapa

pun beratnya. Mereka berusaha gigih memunculkan potensi diri sebagai manusia

kaya poweritas tinggi. Aura jiwa mudanya kerap menggeliat ke permukaan.

Terutama ketika kondisi sosial objektif masyarakat sedang labil.

Berbekal potensi diri plus aura muda itu pula, generasi muda sepanjang

perjalanan sejarah, senantiasa memosisikan diri sebagai pilar kekuatan umat /

masyarakat; motivator kebangkitan umat; dan penegak nilai kemuliaan; serta

penegak tiang pancang nilai budaya.  Lebih dari itu, generasi muda adalah juga

pembawa panji–panji kebenaran (al–haq), serta pengawal barisan bagi menjuluk

kemenangan dan kemaslahatan umat. Seabreg perspektif ideal konsepsional

tersebut, bukan berarti generasi muda sunyi dari permasalahan rumit yang

mengitari bahkan mengintainya tiap saat.

Sebagai akibat alam global yang kian merangkak maju, tak sedikit  generasi

muda yang terkontaminasi, sehingga mereka terjerembab ke dalam lumpur

kenistaan yang mengkhawatirkan banyak orang.

Dekadensi moral dalam berbagai bentuk dan manifesasinya, menjadi

pemandangan yang menyesakkan rongga dada. Indikasinya?

Yang namanya kumpul kebolisme, vandalisme, brutalisme dan anarkisme,

menghiasi media cetak dan media elektronik hampir tiap saat.

Kondisi bisa kian runyam, sebab selain kerapuhan kepribadian yang acap-kali

menggerayangi generasi muda, social control dari orang tua selaku pendidik

utama pun amat lemah. Ironisnya, regulasi dan program pemberdayaan generasi

muda, yang digulirkan legislatif dan eksekutif, terkesan hanya menyentuh kulit–

kulit bawang, demi meraup tujuan–tujuan sehasta ke depan  (materialistis,

pragmatis dan politis-praktis).

Akibat dari semua itu, sebagian generasi muda sepertinya masih renggang dari

prinsip–prinsip Islam secara substansial dan normatif doktrinal.

Khusus di  Minangkabau, kredo Islam substantif yang bertelekan pada al-Qur,an

dan Sunnah Rasul yang shahih lagi mutawatir itu, diungkapkan dalam satu

adagium : Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABSSBK).

Syarak (syari’at) mangato adat mamakai!

Menelusuri lebih intens hal ihwal ABSSK, sampai kini tetap saja mengapung

ke perumahan pecaturan  pemikiran dari berbagai kalangan. Kaum literati adat,

berpendapat bahwa ABSSBK dideklerasikan di Puncak Pato Bukik Marapalam,

Lintau Luhak nan Tuo, Tanah Datar.

Ungkapan adat yang kerap dipakai atas konsensus kaum adat dan kaum Agama

ini adalah “adat basentak turun (dari darek/darat ke pesisir/Pariaman),

dan Syarak basentak naiak” (dari pesisir/pantai ke darek).

Lalu, berpijak pula pada rumusan Seminar Nasional 200 Tahun Tuanku Imam

Bonjol dan Tuanku Rao, 17–18 Desember 2008, di Lubuk Sikaping–yang

dinara-sumberi sejarawan Prof. Dr. Taufik Abdullah, Drs. Syafnir Aboe Nain,

Dr. Haedar Nashir, Prof. Dr. Mestika Zed, Prof. Dr. Gusti Asnan, Dr. Saafroeddin

Bahar dan Dr. Ichwan Azhari (dimoderatori Pimpinan Harian Padang Ekspres,

St. Zaili Asril & Budayawan/Sastrawan Darman Moenir), dikatakan bahwa

deklerasi Bukik Marapalam, kurang didukung fakta sejarah yang shahih lagi

akurat, dan sangat riskan untuk dipertanggungjawabkan secara ilmiah

berorientasi historis.

Kalau begitu duduk perkaranya, lalu bagaimana pula kajian kaum substansialis

dan historikalis adat tentang ABSSBK?

Bertolak dari penelusuran panjang lagi menukik sejarawan Syafnir Aboe Nain

— seperti dicurai-paparkan di forum seminar tersebut, ditemui bahwa kredo

adat bersendi Syarak, punya tali-temali dengan gerakan Padri dengan tokoh

sentral Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Rao dan Tuanku Tambusai.

Beliau–beliau inilah yang digelari  Prof. Dr. Hamka (1971) sebagai trio pembaru

pemikiran Islam (tajdidu fi al-Islam ) di, dan dari Minangkabau/Melayu.

Sebelumnya, ulama kharismatik dan sejarawan otodidak ini,

telah pula menyematkan trio pembaru Islam terhadap Haji Miskin, Haji Piobang

dan Haji Soemanik (1803–1807)—yang  berhasil secara  spektakuler meletakan

kerangka dasar gerakan Padri.

Senada dengan Hamka, sejarawan Syafnir Aboe Nain, juga lebih cendrung

menyebut Padri sebagai sebuah gerakan. Bukan perang Padri yang dalam

versi penulis-penulis Belanda, justru telah menyemburatkan konflik horizontal

antara kaum Agama dan kaum adat, seperti yang dipahami masyarakat dan

generasi muda selama ini.

Soalnya, yang namanya terminologi gerakan berkonotasi penelusuran sejarah

pemikiran Islam, yang mengandung sekebat gagasan, tindakan, pelaku, visi-misi

dan perjuangan, serta implementasinya dalam dinamika masyarakat yang dicita

dan dicitrakan Dinul Islam.

Yaitu suatu tatanan masyarakat yang berkualitas (khaira ummah /

QS ali-Imran : 110), dalam semua dimensi kehidupan.

Dengan kata lain, gerakan Padri yang bibitnya telah disemai Haji Miskin,

Haji Piobang, dan Haji Soemanik, Tuanku Nan Renceh dan Tuanku Mansiangan

(1803), punya obsesi besar, merajut masyarakat yang seimbang antara

aspek ‘aqidah, ‘ibadah, akhlaqu al-karimah, dan mu’amalah dunyawiyah.

Yang disebut penggal akhir, tak cuma berkutat dalam hal sosial politik,

yang lebih penting  penggawe Padri juga menggerakkan ekonomi kerakyatan

berbasis kultural (Chrestine Dobbin, 2007).

Guna mewariskan platform gerakan plus keperjuangan Padri tersebut,

Tuanku Imam Bonjol justru menuangkan pemikiran yang bergelayut di dada

(al-‘ilmu fish-shudur/ilmu & hikmah bersumber di dada), dan di kepala beliau

menjadi sebuah buku, yaitu “Naskah Tuanku Imam Bonjol”–yang kemudian

dilanjutkan anaknya, Sultan Chaniago.

Dalam dokumen yang semula berserak-serak, lalu disadur  Syafnir Aboe Nain

(2007), dengan tajuk yang sama, didapatkan penjelasan tentang proses lahirnya

(hukum) Adat Bersendi Syara’. ***

http://www.padangekspres.co.id/content/view/28080/55/

Qunut Nazilah Membantu Saudara Muslim di Palestina yang teraniya dalam invasi dan genocida Israeli

Soal qunut Nazilah setelah i’tidal itu banyak ditemui di dalam hadist-hadist Nabi SAW, dalam perbuatan beliau atau suruhan beliau.


Di antaranya pada hadist Riwayat Imam Muslim, dalam Kitab Shahih Muslim bab Shalat, hadist nr.419, 420, 421, 422 dan  423, yang di antara kesimpulannya Rasulullah SAW pernah melaksanakan qunut, malah sampai satu bulan bertutur-turut (sebagaimana disampaikan oleh Abu Hurairah),

Dalam doanya sering mendoakan orang-orang yang membunuh para sahabat dalam perang Bir Ma’unah sampai 30 kali shalat shubuh,

Bahkan mengutuk Kabilah Riil dan Zakwan, Libyan dan ‘Ushaiyyah yang telah berbuat durhaka terhadap Allah dan Rasulnya (sebagaimana Muslim meriwayatkan hadist itu dari Sahabat Anas bin Malik).

Malah ada hadist dari Barraa~i bahwa Rasulullah SAW membaca qunut pada shalat shubuh dan maghrib.

Karena qunut adalah doa, dan doa adalah senjata orang mukmin, barangkali lebih mangkus dari peluru kendali yang dilontarkan oleh Israel di Ghaza kini.


hma-sinai-1Di antara doa yang baik adalah dengan jiwa  yang  suci bersih mari kita tundukkan hati kepada  kebesaran Allah, mengharap karunia dan rahmat-Nya, untuk keluarga kita, kaum Muslimin, dan bangsa kita,


رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ اِسْرَافَنَا فِى أَمْرِنَا وَ ثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَ انْصُرْنَا عَلَى القَوْمِ الكَافَرْيْن.

“Ya Allah, Ampunilah dosa kami, ampunilah keteledoran kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami menghadapi kaum kafir”.

اللَّهُمَّ لاَ تُمْكِنُ الأَعْدَاءَ فِيْنَا وَلاَ تُسَلِّطْهُمْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ َيَخافُكَ وَلاَ يَرْحَمُنَا

“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau beri kemungkinan musuh berkuasa terhadap kami janganlah Engkau berikan kemungkinan mereka memerintah kami, walaupun kami mempunyai dosa. Janganlah Engkau jadikan yang memerintah kami, orang yang tidak takut kepada-Mu, dan tidak mempunyai kasih sayang terhadap kami”.

اللهُمَّ أَهْلِكِ الكَفَرَةَ الَّذِي يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَ يَكْذِبُوْنَ رَسُلَكَ وَ يُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَائَكَ

“Wahai Tuhan kami, hancurkanlah orang-orang yang selalu menutup jalan Engkau, yang tidak memberikan kebebasan kepada agama-Mu, dan mereka-mereka yang mendustakan Rasul-Rasul Engkau,dan mereka yang memerangi orang-orang yang Engkau kasihi”.

اللهُمَّ فَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَ أَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لا َتَرُوْدَهُ عَنِ القَوْمِ الُمجْرِمِْينَ.

“Wahai Tuhan kami, hancurkanlah kesatuan mereka, dan pecah belah barisan mereka. Turunkan kepada mereka ‘azab sengsara-Mu, yang selalu Engkau timpakan kepada golongan-golongan yang selalu berbuat dosa”.

اللهُمَّ أَعِزِّ الإِسْلاَمِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اخْذُلِ الكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِيْنَ

“Wahai Tuhan kami, berilah kemuliaan kepada Islam dan kaum Muslimin, rendahkanlah orang-orang yang kafir dan orang musyrik”.

رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ وَ تبُ ْعَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.

Demikian jawaban buya secara amat sederhana, dan silahkan cari Shahih Muslim yang barangkali sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.


Wassalam,
Buya HMA

Muhasabah Menyambut Tahun Baru Hijrah

Dzikrullah dan Muhasabah

Memantapkan Akhlaq Bermasyarakat Menyambut Tahun Baru Hijrah

Oleh : Buya H. Mas’oed Abidin

الحَمْدُ لله الذِي جَعَلَ لَنَا مَا فيِ الأرضِ لِلعِمَارَات وَ زَرْعِ الحَسَنَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ خَالِقُ الأرْض وَ السَّمَاوَات، و أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَ رَسُوْله الدَّاعِي إِلىَ دِيْنِهِ بِأَوْضَحِ البَيِّنَات. اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِك عَلَى سَيِّدِالكَائِنَات، نَبِيِّنَا مُحَمَّد وَ عَلىَ آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ التَّابِعِيْنَ المُجْتَهِدِين لِنَصْرَةِ الدِّين وَ إِزَالةِ المُنْكَرَات

Wahyu terakhir dalam Alquranul Karim,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الاِسْلامَ دِينًا

“Dihari ini, Aku lengkapkan untuk kamu agamamu, dan Aku sempurnakan untuk kamu ni’mat Ku, dan Aku nyatakan keredhaan depan-kabahKU untuk Islam menjadi agamamu” (QS.5, Al Maidah:3).

Kita diseru meraih redha Allah SWT dengan ;

a) Menafkahkan harta, di waktu lapang maupun sempit,

b) Menahan amarah dan mema`afkan orang,

c) Selalu berbuat kebajikan (muhsinin),

d) Ingat akan Allah, dan mohon ampun atas dosa-dosanya,

e) Tidak berbuat keji, padahal mereka tahu akibatnya..

Ketika kita ditimpa ujian, lima sikap ini amat perlu dalam mengatasi musibah ini. Hakekat dari akhlaq mulia adalah kepedulian, kemaafan, dan istighfar. Sabda Rasul SAW mengingatkan akan hamba yang sangat dicintai oleh Allah SWT, sesuai sabda Rasul SAW,

أَحَبُّ عِبَادَ اللهِ إِلىَ اللهِ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Hamba-hamba Allah yang paling dicintai-Nya adalah yang paling baik akhlaknya diantara mereka” (Shahih Al Jami’: 179).

Hidup kita ini tidak terlepas dari Keinginan2.

Keinginan tidak terlepas dari usaha. Makin tinggi keinginan seorang makin kuat usaha yang dilakukan. Keinginan dan usaha mesti dikuatkan dengan penyerahan diri kepada Allah SWT dengan memiliki sikap tawakkal. Tawakkal akan mendorong motivasi dhamir masyarakat menjadi dinamis, khusus di Ranah Minang.

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS.65, at-Thalaq:3).

Allah SWT telah menjadikan tawakkal sebagai syarat dari iman. Bila tawakkal hilang, maka hilang pula iman itu.

Tawakkal adalah ibadah hati yang melahirkan semangat utama, dan akhlak paling mulia. Tawakkal menduduki posisi penting dalam agama, dan maqam mulia di kalangan orang mukmin. Tawakkal adalah darjah muttaqin paling tinggi dalam taqarrub kepada Allah SWT. Tawakkal adalah bekerja keras dengan sikap yang konsisten.

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ على اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُوْ خِمَاصًا وَ تَرُوْحُ بِطَانًا.

“ Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya Allah akan memberikan rezki seperti kepada seekor burung yang keluar terbang pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang ”.(HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Tawakkal himpunan Ma’rifah dengan Allah

Dengan mengenali sifat-sifat Allah hati teguh di maqam tauhid. Yakin kepada Allah. Menyandarkan urusan dengan tenang kepada-Nya. Anggapan baik kepada Allah Azza wa Jalla. Dan ridha kepada Allah dengan menyerahkan semua kepada-Nya.

وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلا

“Dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (QS. Al Ahzab: 3).

Tawakkal yang benar adalah selalu ingat kepada Allah dalam setiap tindakan.Tempat Dzikir berada di dalam hati. Tidak diujung lidah belaka. Dzikir menjadikan qalbu khusyu’ (focus) dan tawadhu’ (merendah) dengan rasa khauf (takut) dan raja’ (harap). Dzikir, pangkal ketentraman dan kedamaian. Allah adalah sumber ketenangan dan kedamaian.

Mencapai Kedamaian mendatangi Sumbernya

Sumber kebahagiaan adalah Allah SWT. Mendatangi-Nya adalah dengan membersamakan diri dengan Do’a.

عَنْ عَلِىِّ بن أَبِي طَالِبِ رَضِىَ الله عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ، قال رسول الله ص.م: الدُّعَاءُ سِلاَحُ المُؤْمِنِ وَ عِمَادُ الدِّيْنِ وَ نُوْرَ السَّمَاوَاتِ وَ اْلأَرْضِ

“Dari Ali bin Abi Thalib r.a. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : Doa adalah senjata orang mukmin, tiang agama dan cahaya langit dan bumi.” (HR. Al Hakim)

Dzikir itulah jalan pembersamaan dengan Allah SWT (ma’rifatullah) yang dengannya qalbu jadi tenteram. “… Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu…” (Q.S. Al Baqarah: 152).

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” (Q.S. Ar Ra’d: 28)

Meninggalkan zikrullah berarti membuka keleluasaan syetan untuk menguasai diri kita dan membawa kita kepada tindakan dzalim dan maksiyat. Firman Allah :

اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلاَ إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Syetan telah menguasai mereka dan menjadikan mereka lupa mengingat Allah (zikrullah); mereka itu jadi golongan syetan. Ketahuilah, sesungguhnya golongan syetan adalah golongan yang merugi.” (Q.S. Mujadilah: 19)

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ خَيْرًا فَتَحَ لَهُ قُفْلَ قَلْبِهِ وَ جَعَلَ فِيْهِ الْيَقِيْنَ وَ الصِّدْقَ وَ جَعَلَ قَلْبَهُ وَاعِيًا لِمَا سَلَكَ فِيْهِ وَ جَعَلَ قَلْبَهُ سَلِيْمًا وَلِسَانَهُ صَادِقًا وَ خَلِيْقَتَهُ مُسْتَقِيْمَةً وَ جَعَلَ أُذُنَهُ سَمِيْعَةً وَ عَيْنَهُ بَصِيْرَة ً) رواه الشيخ عن أبي ذر(

Apabila Allah hendak mendatangkan kebaikan kepada hambaNya dibukakan kunci hatinya dan dimasukkan ke dalamnya keyakinan dan kebenaran dan dijadikan hatinya menyimpan apa yang masuk ke dalamnya dan dijadikan hatinya bersih, lidahnya berkata benar, budinya lurus, telinganya sanggup mendengar dan matanya melihat dengan terangan. (HR. Syekh dari Abu Zar).

Hati yang sudah terbuka wajib dipupuk terus dengan mujahadah dan kesungguhan. Mujahadah adalah suatu keniscayaan yang mesti dilakukan siapa saja yang menginginkan kebersihan jiwa dan kematangan iman dan taqwa. Bertahan dalam lapar (puasa) dan bangun tahajjud di perempat malam, adalah sesuatu yang mudah. Membina akhlak dan membersihkan jiwa dari yang mengotorinya sangatlah sulit. Hati dan fikiran mesti dijaga baik, dengan menambah ilmu, mendengar nasehat yang diajarkan Rasulullah SAW, dan melengkapi diri budi pekerti mulia. Tasbih, tahmid dan istigfar memperkuat sifat istiqamah, konsisten dalam garis Allah di medan juang manapun berada supaya tidak hanyut di bawah arus.

Membangun umat berawal dari Silaturrahim.

صِلَةُ الرَّحِمِ وَ حُسْنُ اْلخُلُقِ وَ حُسْنُ الِجوَارِ يُعَمِّرْنَ الدِّيَارَ وَ يَزِدْنَ فِى الأعْمَارِ. }رواه أحمد{

“Menghubungkan silaturrahim, budi pekerti yang baik den berbuat baik terhadap tetangga, itulah yang akan meramaikan kampung dan menambah umur”. (HR Ahmad)

Khalifah Umar Ibnu Khattab menegaskan ;

نَحْنُ قَوْمٌ أَعَزَّنَا الله بِالإِسْلاَم فَمَهْمَا ابْتَغَيْنَا العِزَّةَ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ بِهِ أَذَلَّنَا اللهُ }رواه الحكم{

Kita adalah umat yang telah dibikin berjaya oleh Allah dengan bimbingan agama Islam, kalaulah (satu kali) kita ingin mencapai kejayaan lagi dengan bimbingan selain agama Islam, (sudah pasti) malah kehinaanlah yang akan ditimpakan Allah kepada kita.”

Pemimpin berperan menyejahterakan Umatnya.

السُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِى الأرْضِ، يَأوِى إِلَيْهِ الضَّعِيْفِ وَ بِهِ يَنْتَصِرُ المَظْلُوْمُ وَ مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ الله فِى الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ القِيَامَةِ. }رواه ابن النجار عن أبي هريرة{

“Penguasa (pemerintahan) yang dilindungi oleh Allah di bumi, lantaran berlindung kepadanya orang lemah dan karena orang teraniaya mendapatkan pertolongan (dengan adil). Barang siapa di dunia memuliakan penguasa yang menjalankan perintah Allah, niscaya orang itu di hari kiamat dimuliakan pula oleh Allah” (Diriwayatkan oleh ibnu Najar dari Abu Hurairah).

Pemimpin yang baik akan menjadikan kehidupan dunia jernih di mata rakyatnya.

خِيَارُ أَئِمَّتُكُمُ الذِّينَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَ يُحِبُّوْنكَمُ ْو َتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ وَ يُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ.

“Pemimpin kamu yang terbaik ialah yang kamu cintai dia setulus hati, sedang mereka pun mencintai kamu rakyatnya dengan sesungguh hati pula. Kamu selalu mendo’akan keselamatan mereka kepada Allah, begitu pula mereka selalu berdo’a dan berusaha keras untuk kesejahteraan kamu rakyatnya, dengan seikhlas hati pula.

وَ شِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الذِّيْنَ تَبْغُضُوْنَهُمْ وَ يَبْغْضُوْنَكُمْ تلَعِْنُوْنـَـهُمْ وَ يَلْعَنُوْنَكُمْ. }رواه مسلم عن ابن مالك{

Sejahat-jahat pimpinan kamu ialah mereka yang selalu kamu benci karena tindak tanduknya yang tidak adil, dan merekapun membenci kamu rakyatnya setengah mati. Kamu selalu mengutuk dan melaknat mereka supaya kekuasaan mereka cepat tumbang,sedangkan mereka sendiri mengutuki kamu pula dengan cara mempersulit dan menyengsarakan kamu rakyatnya….” (Hadits menurut riwayat Imam Muslim dari A’uf bin Malik).

Rasul SAW menyebutkan peran Hartawan

الدُّنْيَا الأَرْبَعَةُ نَفَرٍ: عَبْدٌ رِزْقَهُ الله مَالاً وَ عِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيْهِ وَ يَصِلُ فِيْهِ رَحِمَهُ وَ يَعْلَمُ اللهُ حَقًّا فَهذَا بِأَفْضَلِ المَنَازِلِ. }رواه الترمذي{

“ Dunia ini berada dalam genggaman empat tahapan; seorang yang diberi rezki oleh Allah dengan kekayaan dan ilmu, lalu dengan kekayaan itu dia bertaqwa kepada Allah,selanjutnya di ikat tali silahturrahmi dengan masyarakat, kemudian di perhatikannya benar batas-batas hak untuk Allah. Maka disanalah kedudukan sebaik-baiknya.” (HR.Tirmidzi)

Peran umarak amat menentukan.

إِذَا كَانَ أُمَرَائُكُمْ خَيَارُكُمْ وَ أَغْنِيَائُكُمْ سَمَحَائُكُمْ وَ أَمْرُكُمْ شُوْرَى بَيْنَكُمْ فَظَهَرَ الأَرْضِ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ بَطْنِهَا

Manakala para pemimpin kamu diambil dari dari orang-orang baik di antara kamu dan para orang kaya kamu adalah orang-orang penyantun di antara kamu serta semua urusan kamu di musyawarahkan di antara sesamamu maka punggung bumi akan lebih baik sebagai tempat tinggalmu daripada — mati berkalang tanah, dalam perut bumi.

Dunia berkabung ketika Pemimpin buruk Perangai.

إِذَا كَانَ أُمَرَائكُِمْ شِرَرُكُمْ وَ أَغْنِيَائِكُمْ بُخَلاَئِكُمْ وَ أَمْرُكُمْ فِى يَدِ نِسَائِكُمْ فَبَطْنِ الأَرْضِ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ ظَهْرِهَا.

“ Jika Umarak kamu terambil dari mereka-mereka yang jahat, hartawan kamu adalah manusia-manusia bakhil budak harta, dan segala persoalan kemasyarakatan kamu tidak di musyawarahkan lagi, akan tetapi terombang ambing dalam permainan hawa nafsu wanita yang mengendalikan dari belakang, maka dalam masyarakat yang demikian, perut bumi yakni mati berkalang tanah, lebih baik dari hidup bercermin bangkai”. Na’izubillahi min zaalik.

Dengan ibadah lakukan Muhasabah.

Peribadi muslim yang kuat iman tampil dengan pekerti terpuji, terutama dengan rasa malu. Sabda Rasul SAW,

العَدْلُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الأُمَرَاءِ أَحْسَنُ،

السَّخَاءُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الأَغْنِيَاءِ أَحْسَنُ،

اَلْوَرَعُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى العُلَمَاءِ أَحْسَنُ،

الصَّبْرُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الفُقَرَاءِ أَحْسَنُ،

التَّوْبَةُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الشَّبَابِ أَحْسَنُ،

الَحيَاءُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى النِّسَاءِ أَحْسَنُ.

}رواه الديلمى عن عمر{

Keadilan itu baik, akan tetapi lebih baik kalau berada pada umarak(pejabat pemerintahan).

Kedermawanan itu baik, namun akan lebih baik jika ada pada orang-orang yang mampu (hartawan).

Hemat cermat itu sangat baik, akan tetapi lebih baik kalau cermat itu berada pada orang berilmu.

Kesabaran itu baik, namun akan lebih baik kalau ada pada orang miskin.

Tobat (meninggalkan dosa itu baik), tetapi akan lebih baik kalau ada pada pemuda.

Malu itu baik, tetapi akan lebih baik kalau ada pada perempuan”. (HR. Dailami dari Umar bin Khattab).

Padang, 1 Muharram 1430 H

Urgensi Hijrah

Kiat MEnumbuhkan Militansi Ummat

Oleh : H.Mas’oed Abidin

Fenomena Hijrah

past-photo-masoed-abidinHijrah berarti pindah kenegeri lain – emigrasi / eksodus – [1].

Dalam sejarah Islam, hijrah Rasul adalah satu peristiwa Sirah Nabawi (sejarah Rasulullah SAW) bersama-sama Mukminin pindah dari Makkah ke Madinah pada satu setengah millenium yang lalu, dan kemudian menjadi awal penghitungan tahun baru Islam di zaman Sahabat Umar Ibnu Al-Khattab RA di saat menjabat Khalifah III sesudah wafatnya Rasulullah SAW.

Hijrah bukan melarikan diri karena takut siksaan, atau karena tekanan musyrikin Quraisy semata. Hijrah adalah satu peristiwa penting yang menjadi titik awal — starting-point – kebangkitan Dakwah Islam, dedikasi keyakinan Tauhid — beriman kepada Allah, bukti kepatuhan, buah kesetiaan –, ketaatan kepada prinsip-prinsip ajaran tauhid.

Hijrah adalah jawaban tegas seorang mukmin atas seruan Allah, tanda kecintaan sejati – mahabbah – kepada Muhammad Rasulullah SAW. Cinta akan Allah dan Rasul SAW dibuktikan oleh kemampuan menundukkan kecintaan kepada harta benda, sanak keluarga dan kerelaan menggantinya dengan keikhlasan menerima Ajaran Islam.

Hijrah adalah fenomena kekuatan umat Mukminin. Citra ajaran dan latihan dari Rasulullah SAW,– ujian menghadapi krisis – akan tersua sepanjang masa. [2]

Hijrah adalah gerakan nyata dari interpretasi Wahyu Al Quran. Hijrah adalah kebenaran perjalanan sejarah manusia pemilik keyakinan tauhid — berakidah Islam — sepanjang masa, siap sedia melaksanakan reformasi actual – menanggalkan kehidupan jahili – menumbuh biasakan karakter masyarakat Sunnah – Islami – dalam membentuk generasi Qurani.

Membentuk Militansi Khayra Ummah

Hijrah pada hakekatnya melahirkan militansi – bersemangat, penuh ghairah dalam melakukan sesuatu (lihat KUBI, hal.898) – di tengah ummat tauhid itu.

Militansi menampilkan sosok umat bermutu — khaiyr-ummah –, yakni umat yang siap memikul tanggung jawab manusiawi – menjadi khalifah Allah di muka bumi – itulah puncak kewibawaan ajaran Islam.

Setiap upaya menjadikan Islam sebagai agama yang haq (benar) dari Allah oleh ummat yang militan — secara pasti tidak bisa dirusak oleh perdayaan dan tekanan dari golongan musyrikin – atheism – Quraisy.

Dalam fenomena kekinian — di era global dan arus kebebasan informasi – tekanan paham-paham – atheis, sekuler, anarchism, permissivism – dalam bentuk neo-communism bergenetika tidak berakhlaq.

Militansi ummat mengamalkan ajaran Islam – di antaranya menampilkan akhlak Islami yang karimah – menjadi satu-satunya benteng terkuat melindungi harkat-martabat kemanusiaan.

Militansi Muhajirin — umat yang tidak cemas dan takut – berhadapan dengan penangkapan, pemenjaraan, pembunuhan, pengusiran, penculikan, pengucilan, intimidasi — dari pihak Jahiliyah Qureisy –, tidak takut menentang kemusyrikan maupun atheis – laa diniyah –, walau dalam masa yang panjang tidak boleh berhubungan dagang — embargo ekonomi — serta bermacam usaha makar yang diperlakukan terhadap Rasulullah SAW dan orang-orang Mukmin di masa itu. [3]

Tantangan Ummat Di Depan

Kebiasaan sikap Masyarakat Jahiliyah yang selalu menyembah berhala, hilangnya batas halal-haram, berkelakuan keji tercela — zina, sadis, miras, korupsi, kolusi, manipulasi, hedonis dan riba, dan segala bentuk p[enyakit masyarakat --, menjadi ancaman terhadap jiran, memutus silaturrahim dengan membahayakan ketenteraman tetangga, yang kuat menelan yang lemah.

Strukturisasi ruhaniyah Risalah Muhammad SAW, dikenal shiddiq (lurus, transparan), amanah (jujur), tabligh (dialogis), fathanah (ilmiah), memancangkan keyakinan bersih kepada kekuasaan Allah Yang Esa (tauhidiyah), percaya kepada hari berbangkit (akhirat), disiplin dalam beribadah (syari’at), memiliki optimisme yang tinggi terhadap luasnya bumi (rezki), hidup dalam kesaudaraan mendalam (mu-akhah), — sesungguhnya adalah bentuk-bentuk militansi yang dikiatkan dan di kaitkan kepada setiap pribadi mukmin –, siap sedia untuk berhijrah – tidak ada hijrah lagi sesudah futuh Makkah, dan yang sebenar hijrah itu adalah meninggalkan apa-apa yang dilarangkan oleh Allah – maka hijrah sedemikian semata-mata dikerjakan hanya mengharapkan balasan (pahala) dari Allah semata.[5]

Hijrah telah menjadi ketetapan operatif yang berlangsung terus menerus dalam proses restrukturisasi masyarakat baru, — tegak dengan ikatan kepercayaan, dengan prinsip dasar yang lebih tinggi dari sekedar hubungan solidaritas kelompok ‘ashabiyah, nepotisme –.

Kemudian, tumbuh-kembang menjadi masyarakat majemuk pertama yang hidup diatas landasan keadilan berkemakmuran dengan kekayaan — iman, harta dan ilmu – menjadi sumber kekuatan dalam membangun.[6] Nash (teks) Al Quran membuktikan pula bahwa masyarakat Madinah tumbuh berkeamanan yang tenteram serta dihuni tidak hanya oleh umat Mukmin — homogrenitas agama –, tapi juga oleh Yahudi-Nashara (Judeo-kristiani) dan bahkan kalangan Munafik (hipokrit).

Hijrah telah membentuk tatanan masyarakat yang terbuka untuk semua. Kesempatan berkembang mencari kehidupan berdasar hak asasi yang sama bagi semua anggota masyarakatnya — tidak ada kelompok yang bisa mencegah berbagai anggota masyarakatnya untuk maju –, menjadi salah satu keutamaan yang ditampilkan Islam membangun satu masyarakat yang kuat berdasarkan sikap saling mengasihi (ukhuwwah dan mahabbah) dan saling membantu (ta’awun). Peradaban Islami yang tinggi melahirkan suatu lingkungan yang sehat politik, ekonomi, kebudayaan dan materil, memungkinkan manusia mengarahkan dirinya untuk menyembah Allah dalam semua kegiatan — lihat QS.Tahrim,ayat 6 – tanpa rintangan dari institusi-institusi yang memerintah di masyarakat itu.

Khulasah

  • Masyarakat akan tetap dianggap terbelakang sepanjang ia gagal menciptakan satu lingkungan yang tepat untuk menyembah Allah sesuai dengan syari’at-Nya. Tidak dapat disangkal bahwa Islam dan Iman mampu membangkitkan motivasi kuat dengan keyakinan diri yang unggul dengan militansi penghayatan dan pengamalan syari’at agamanya.
  • Memiliki kebebasan terarah dan bertanggung jawab, baik secara moral maupun intelektual adalah menjadi satu catatan kaki dari sejarah hijrah yang tak boleh di abaikan.
  • Generasi umat Islam hari ini harus mampu mencapai visi baru dalam gelombang kesadaran Islam. Pengaruhnya akan tampak jelas dalam tatanan kehidupan duniawi.
  • Hanya kelompok Yahudi (zionis) yang tidak akan pernah diam. Mereka akan selalu berupaya sekuat daya agar manusia senantiasa mengikut millah (konsepsi dan cara-cara) mereka. Walan tardha ‘ankal yahauudu wa lan-nashara hatta tattabi’ millatahum (QS.2:120).

Wallahu a’lamu bis-shawaab

.

Padang, Muharram 1430 H


[1] Al ‘Ashry, Kamus Kontemporer Arab Indonesia, Atabik Ali, Ahmad Zuhdi Mudhor, Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, Cetakan Pertanma, 1996, hal.1966. dan lihat juga Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al Munawwir Pustaka Progressif Surabaya 1997, hal. 1489.

[2] “ wadzkuruu idz antum qalilun, mustadh-‘afuuna fil-ardhi. Takhaa-fuuna an yatakhat-tafakumun-naasu. Fa awaakum, wa ayyadakum bi nashrihi, wa razaqakum minat-thaiyibaati, la’allakum tasykurun”, artinya ; Dan ingatlah (hai para Muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas dipermukaan bumi (Makkah), kamu takut orang-orang (Makkah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (di Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongannya, dan diberinya kamu rezeki dari yang baik-baik, agar kamu bersyukur” (QS.8, al-Anfaal :26).

[3] ”wa idz yamkuru bikal-ladzina kafaruu, liyutsbituuka aw yaqtuluuka, aw yugrijuuka. Wa yamkuruuna, wa yamkurullahu. Wallahu khairul makirina” , artinya :Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakan kamu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya” (QS.8, al Anfal :30).

[4] Lihat “Al Islam Ruhul Madaniyah”, berisi jawaban Sahabat Ja’far bin Abi Thalib kepada Kaisar Negus di Habsyi.

[5] “Wa man yuhaajir fii sabiilillahi yajid fil-ardhi muraghaban katsiraran wa sa’ah. Wa man yakhruj min baitihi muhajiran ilallahi wa rasulihi tsumma yudrikhul mautu faqad waqa’a ajruhu ‘alallahi. Wa kanallahu ghafuran rahiman” artinya Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati dimuka bumi ini tempat berhijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ketempat yang dituju), maka sesungguhnya telah tetap pahalanya disisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.4, an-Nisa’:100).

[6] Sejarah kemudian membuktikan betapa Shahabat Ali bin Abi Thalib pernah diadili atas aduan seorang Yahudi dengan dakwaan pemilikan seperangkat baju besi oleh seorang hakim Muslim dan akhirnya demi hukum dan keadilan Ali bin Abi Thalib bisa di kalahkan lantaran tidak dapat mengetangahkan bukti-bukti di pengadilan (mahkamah).

Bergembira dalam ibadah berqurban di Mentawai Tanah harapan masa datang

Membagikan daging qurban di Desa Matobek Sipora Mentawai

Membagikan daging qurban di Desa Matobek Sipora Mentawai

Dalam rangka kegiatan dakwah ke kepulauan Mentawai yang di kaitkan dengan hari raya qurban Idul Adha dalam menyebar hewan qurban serta membagikan kepada penduduk Mentawai yang masih memerlukan bantuan itu.

Terimakasih kepada H. Muchlis Hamid, Hj.Novi Novalina, Brilliansi Mulyanto, H Agus Haryanto, H. Surachmin, Roy Octaviantoro bin Eko Sumantoro,yang ikut berqurban ke daerah ini.

Kegembiraan anak-anak Mentawai berhari raya Idul Qurban

Kegembiraan anak-anak Mentawai berhari raya Idul Qurban

Anak-anak Mentawai yang masih bersih ini tampak amat bergembira dalam merayakan Idul Qurban, di antaraanya karena di kampung mereka akan disembelih hewan qurban sebagai ikatan bathin satu keluarga dan keluarga lainnya.

Rasa kebersamaan selama ini sudah sangat kuat tumbuh di tengah masyarakatnya. Makin kuat lagi dalam kegiatan ibadah seperti ini setiap tahunnya Namun kegembiraan sanagat didukung oleh ketersediaan sarana ibadah sehari-hari.

Dalam salah satu rumah ibadah di Masjid An Nur Matobek

Dalam salah satu rumah ibadah di Masjid An Nur Matobek

Menunggu waktu shalat tiba mereka bercengkerama sesama keluarga di dalam rumah ibadah mereka yang serba guna itu.

Sebagai tempat melansungkan kegiatan ibadah dan menjadi balai pertemuan warga sesama muhtadi di desa.

Berpakaian indah seadanya pertanda hari raya telah tiba

Persiapan penyembelihan hewan qurban di desa Matobek Mentawai

Persiapan penyembelihan hewan qurban di desa Betu Monga Mentawai

Kegembiraan berhari raya Idul Adha menjadi sempurna karena di masjid di Desa Betu Monga Mentawai ini ada qurban yang dikirimkan saudara seiman dari tanah tepi.

Terima kasih kepada H Farid Rusyid, Soemarsono, Gita Putri Agustina, Rizki Wahyudi, Muh.Siddik Ari Putri, H. Elfa Zahar, moga Allah terima ibadah ini dengan ikhlasnya.

Alhamdulillah.

Zulkifli TS Koordinator Dai Mentawai membawa hewan Qurban untuk disembelih di Desa Sagitci Sipora Mentawai

Zulkifli TS Koordinator Dai Mentawai membawa hewan Qurban untuk disembelih di Desa Sagitci Sipora Mentawai

Sagitci satu desa di Selatan Pulau Sipora termasuk umat Islam yang banyak di sana, dengan bimbingan Dai Hesto HS putra Sagitci. Tahun ini di desanya akan disembelih hewan qurban yang dikirimkan saudara-saudara Muslim dari tanah tepi yang dibawa oleh Dai Kondang di Mentawai Zulkifli Tamali Saogo.

Peneymebelihan hewan qurban di Sagitci

Peneymebelihan hewan qurban di Sagitci

Memang terasa bahwa ibadah ini didorong semata oleh keikhlasan mengikuti millah Ibrahim Alihisalam.

Desa Sagitci juga memperoleh nikmatnya dengan ikut menyembelih hewan qurban yang berasal dari tanah tepi.

Qurban yang disalurkan dari Tanah Tepi melalui Buya Masoed Abidin

Qurban yang disalurkan dari Tanah Tepi melalui Buya Masoed Abidin

Memang pelaksanaan Qurban ke kepulauan ini termasuk sulit. Terimakasih disampaikan kepada Fadel Akbar, Kemal Nasser, Ario Timur, Chitra Afsari, H. Pamuji Raharjo, Ibu Evi Ratnawati, Alm. Ibu Siti Hafsyah yang telah ikut berpartisipasi.

Selain persoalan transportasi, masalah mendapatkan hewan sapi termasuk susah juga. Kebanyakan masyarakat warga transmigrasi di SP I, II dan III Tuapejat yang berasal dari Tanah Jawa semata yang berternak sapi atau kambing. Namun ternak kambing sulit pula didapat karena ada sejenis tanaman rumput yang membahayakan ternak kambing itu. Manakala kebetulan kambing piaraan ini memakan rumput tersebut akan berakibat kambing itu segera sakit dan mati.

Membagi dan membersihkan daging qurban di Sagitci

Membagi dan membersihkan daging qurban di Betu Munga Sipora

Dengan berqurban kita dapat memupuk hidup kebersamaan yang kuat ukhuwah dan penuh cinta kasih dari Brilliano Dino Syahruddin, H. Akhiruddin, H. Abubakar, Hj. Wirda, Yenny Sofia bt. M. Yunus, Erizal Anwar, Ampri Setyawan, Fitri Yeni.

Moga Allah menerima amal ibadah qurban ini.

Qurban untuk Sagitci Mentawai

Qurban untuk desa-desa di Mentawai

Terima kasih disampaikan untuk  Dyah Nirmala, Dorce Yunirsyam, Lona Imelda, Juke Ismara, Fauzy Abdullah di KL, Muh.Iqbal el Sunnury di Selangor Darul Ehsan, dan Fuad Salim.

Moga amnal ibadah ini diterima Allah SWT.

Amin.