Archive for April 10, 2008

Strategi Pembangunan Pendidikan yang Berkualitas dan Madani

STRATEGI PEMBANGUNAN PENDIDIKAN YANG BERKUALITAS DAN MADANI
DI SUMATERA BARAT

Oleh,
H. MAS’OED ABIDIN

Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau
Wakil Ketua Dewan Penasehat MUI Sumbar
Ketua Umum Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM)
Provinsi Sumatera Barat

Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem
pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan
kepada Tuhan yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. (UUD-45)
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk mempunyai kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”, dan
“Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab,
serta berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa”.
(UU No. 20 th 2003, Sistem Pendidikan Nasional)

MUKADDIMAH

Kemulian pengabdian seorang pendidik terpancar dari keikhlasan membentuk anak manusia menjadi pintar, berilmu, berakhlak dan pengamal ilmu yang menjelmakan kebaikan pada diri, kerluarga, dan di tengah umat kelilingnya.

Namun sekarang, kita menatap fenomena mencemaskan. Penetrasi bahkan infiltrasi budaya asing ternyata berkembang pesat. Pengaruhnya tampak pada perilaku pengagungan materia secara berlebihan (materialistik) dan kecenderungan memisah kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik). Kemudian berkembang pula pemujaan kesenangan indera dengan mengejar kenikmatan badani (hedonistik).

Hakekatnya, telah terjadi penyimpangan perilaku yang sangat jauh dari budaya luhur – adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah-. Kesudahannya, rela atau tidak, pasti mengundang kriminalitas, sadisme, dan krisis secara meluas.

Pergeseran paradigma materialistic acapkali menjadikan para pendidik (murabbi) tidak berdaya menampilkan model keteladanan. Ketidakberdayaan itu, menjadi penghalang pencapaian hasil membentuk watak anak nagari. Sekaligus, menjadi titik lemah penilaian terhadap murabbi bersangkutan.

Tantangan berat ini hanya mungkin dihadapi dengan menampilkan keterpaduan dalam proses pembelajaran dan pengulangan contoh baik (uswah) terus menerus.

Jati diri bangsa terletak pada peran maksimal ibu bapa – yang menjadi kekuatan inti masyarakat – dalam rumah tangga.

Pekerjaan ini memerlukan ketaletenan dengan semangat dan cita-cita yang besar ditopang kearifan.

Kedalaman pengertian serta pengalaman di dalam membaca situasi dan upaya menggerakkan masyarakat sekitar yang mendukung proses pendidikan.

Usaha berkesinambungan mesti sejalan dengan,
a. pengokohan lembaga keluarga (extended family),
b. pemeranan peran serta masyarakat secara pro aktif,
c. menjaga kelestarian adat budaya (hidup beradat).

Setiap generasi yang dilahirkan dalam satu rumpun bangsa (daerah) wajib tumbuh menjadi,
a. Kekuatan yang peduli dan pro-aktif dalam menopang
pembangunan bangsanya.
b. Mempunyai tujuan yang jelas, menciptakan kesejahteraan
yang adil merata melalui program-program pembangunan.
c. Sadar manfaat pembangunan merata dengan,
1. prinsip-prinsip jelas,
2. equiti yang berkesinambungan,
3. partisipasi tumbuh dari bawah dan datang dari atas,
4. setiap individu di dorong maju
5. merasa aman yang menjamin kesejahteraan.

MENGHADAPI ARUS KESEJAGATAN
Kesejagatan (global) yang deras secara dinamik perlu dihadapi dengan penyesuaian kadar apa yang di kehendaki.

Artinya, arus kesejagatan tidak boleh mencabut generasi dari akar budaya bangsanya.

Sebaliknya, arus kesejagatan itu mesti dirancang dapat ditolak mana yang tidak sesuai.

Abad keduapuluhsatu (alaf baru) ini ditandai mobilitas serba cepat dan modern. Persaingan keras dan kompetitif seiring dengan laju informasi dan komunikasi serba efektif tanpa batas.

Bahkan, tidak jarang membawa pula limbah budaya ke barat-baratan, menjadi tantangan yang tidak mudah dicegah.

Menjadi pertanyaan, apakah siap mengha¬dapi perubahan cepat penuh tantangan, tanpa kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas yang berani melawan terjangan globalisasi itu?”

Semua elemen masyarakat berkewajiban menyiapkan generasi yang mampu bersaing di era tantangan sosial budaya, ekonomi, politik, menyangkut semua aspek kehidupan manusia.

Globalisasi membawa perubahan perilaku, terutama terhadap generasi muda.

Jika tidak mempunyai kekuatan ilmu, akidah dan budaya luhur, akan terancam menjadi generasi buih, sewaktu-waktu terhempas di karang dzurriyatan dhi’afan, menjadi “X-G” atau the loses generation.

Membiarkan diri terbawa arus deras perubahan sejagat tanpa memperhitungkan jati diri akhirnya menyisakan malapetaka.

Pemahaman ini, perlu ditanamkan di kala melangkah ke alaf baru.

Kelemahan mendasar terdapat pada melemahnya jati diri.
Kelemahan ini dapat terjadi karena kurangnya komitmen kepada nilai luhur agama (syarak) yang menjadi anutan bangsa.

Lemahnya jati diri akan dipertajam oleh tindakan isolasi diri lantaran kurang kemampuan dalam penguasaan “bahasa dunia” (politik, ekonomi, sosial, budaya).

Ujungnya, generasi bangsa menjadi terjajah di negerinya sendiri. Mau tidak mau, tertutup peluang berperan serta dalam kesejagatan. Kurang percaya diri lebih banyak disebabkan oleh,
a. Lemah penguasaan teknologi dasar yang menopang
perekonomian bangsa,
b. Lemah minat menuntut ilmu.

HILANGNYA AKHLAK MENJADIKAN SDM LEMAH

Penyimpangan perilaku menjadi ukuran moral dan akhlak.
Hilang kendali menjadi salah satu penyebab lemahnya ketahanan bangsa.

Yang merasakan akibatnya, terutama tentulah generasi muda, lantaran rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan.

Hapusnya panutan dan impotensi tokoh pemangku adat dalam mengawal budaya syarak, dan pupusnya wibawa ulama menjaga syariat agama, memperlemah daya saing anak nagari.

Lemahnya tanggung jawab masyarakat, akan berdampak dengan terbiarkan kejahatan meruyak secara meluas.

Interaksi nilai budaya asing yang bergerak kencang tanpa kendali, akan melumpuhkan kekuatan budaya luhur anak nagari.
Bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi bisnis.
Akibatnya, profesi guru (murabbi) mulai dilecehkan.

Hilang keseimbangan telah mendatangkan frustrasi sosial yang parah.
Tatanan bermasyarakat tampil dengan berbagai kemelut.
Krisis nilai akan menggeser akhlak dan tanggungjawab moral sosial
ke arah tidak acuh (permisiveness).
Dan bahkan, terkesan toleran terhadap perlakuan maksiat, aniaya dan durjana.

Konsep kehidupan juga mengalami krisis dengan pergeseran pandang (view) terhadap ukuran nilai.
Sehingga, tampil pula krisis kridebilitas dalam bentuk “erosi kepercayaan”. Peran orang tua, guru dan pengajar di mimbar kehidupan mengalami kegoncangan wibawa.

Giliran berikutnya, lembaga-lembaga masyarakat berhadapan dengan krisis tanggung jawab kultural yang terkekang sistim dan membelenggu dinamika.

Orientasi kepentingan elitis sering tidak populis dan tidak demokratis.
Dinamika perilaku mempertahankan prestasi menjadi satu keniscayaan beralih ke orientasi prestise dan keijazahan.
Tampillah krisis solidaritas.

Kesenjangan sosial, telah mempersempit kesempatan mendapatkan pendidikan dan pekerjaan secara merata.
Idealisme pada generasi muda tentang masa datang mereka, mulai kabur.

Perjalanan budaya (adat) terkesan mengabaikan nilai agama (syarak).

Pengabaian ini pula yang mendatangkan penyakit sosial yang kronis,
di antaranya kegemaran berkorupsi.

Adalah suatu keniscayaan belaka, bahwa masa depan sangat banyak ditentukan oleh kekuatan budaya yang dominan.

Sisi lain dari era kesejagatan adalah perlombaan mengejar kemajuan seperti pertumbuhan ekonomi dan komunikasi untuk menciptakan kemakmuran.

Lemahnya syarak (aqidah tauhid) di tengah mesyarakat serta merta mencerminkan perilaku tidak Islami yang senang melalaikan ibadah.

GENERASI PENYUMBANG

Membentuk generasi penyumbang dalam bidang pemikiran (aqliyah), ataupun pembaharuan (inovator) harus menjadi sasaran perioritas.

Keberhasilan akan selalu ditentukan oleh adanya keunggulan pada institusi di bidang pendidikan.

Pendidikan ditujukan untuk membentuk generasi yang menguasai pengetahuan dengan kemampuan dan pemahaman mengidentifikasi masalah yang dihadapi.

Seterusnya, mengarah kepada kaderisasi diiringi oleh penswadayaan kesempatan-kesempatan yang ada.

Generasi baru yang mampu mencipta akan menjadi syarat utama keunggulan.

Kekuatan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada.

Generasi muda harus menjadi aktor utama dalam pentas kesejagatan.
Mereka mesti dibina dengan budaya kuat yang berintikan “nilai-nilai dinamik” dan relevan dalam kemajuan di zaman itu.

Generasi masa depan yang diminati, lahir dengan budaya luhur (tamaddun) berlandaskan tauhidik, kreatif dan dinamik.

Maka, strategi pendidikan mesti mempunyai utilitarian ilmu berasas epistemologi Islam yang jelas.

Sasarannya, untuk membentuk generasi yang tumbuh dengan tasawwur (world view) yang integratik dan umatik sifatnya.

Artinya, pendidikan mengarah kepada membentuk generasi yang bermanfaat untuk semua, terbuka dan transparan.

Generasi sedemikian hanya dapat dikembangkan melalui pendidikan akhlak, budi pekerti dan penguasaan ilmu pengetahuan.

Maka akhlak karimah adalah tujuan sesungguhnya dari proses pendidikan, dan menjadi wadah diri dalam menerima ilmu-ilmu lainnya, karena pada akhirnya ilmu yang benar, akan membimbing umat ke arah amal karya, kreasi, inovasi, motivasi yang baik (shaleh).

Dengan demikian, diyakini bahwa akhlak adalah jiwa pendidikan, inti ajaran agama, buah dari keimanan.

Generasi penerus harus taat hukum.
Upaya ini dilakukan dengan memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga.

Mengokohkan peran orang tua, ibu bapak, dan memungsikan peranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif.

Memperkaya warisan budaya dilakukan dengan menanamkan sikap setia, cinta dan rasa tanggung jawab, sehingga patah tumbuh hilang berganti.

Menanamkan aqidah shahih (tauhid) dengan istiqamah pada agama Islam yang dianut.

Menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur.

Apabila sains dipisah dari aqidah syariah dan akhlak, niscaya yang akan lahir saintis tak bermoral agama.
Kesudahannya, ilmu banyak dengan iman yang tipis, berujung dengan sedikit kepedulian di tengah bermasyarakat.

Langkah-langkah ke arah pembentukan generasi mendatang sesuai bimbingan Kitabullah QS.3:102 mesti dipandu pada jalur pendidikan, formal atau non formal.

Mencetak anak bangsa yang pintar dan bertaqwa (QS.49:13), oleh para pendidik (murabbi) yang berkualitas pula. Keberhasilan gerakan dengan pengorganisasian (nidzam) yang rapi.

Menyiapkan orang-orang (SDM) yang kompeten, dengan peralatan memadai.

Penguasaan kondisi umat, dengan mengenali permasaalahan keumatan.

Mengenali tingkat sosial dan budaya daerah, hanya dapat di baca dalam peta dakwah yang bagaimanapun kecilnya, memuat data-data tentang keadaan umat yang akan diajak berperan tersebut.

Di sini terpampang langkah pendidikan yang strategis itu.

Di samping itu perlu pula menanamkan kesadaran serta tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah.

Sikap penyayang dan adil, akan dapat memelihara hubungan harmonis dengan alam, sehingga lingkungan ulayat dan ekosistim dapat terpelihara.

Melazimkan musyawarah dengan disiplin, akan menjadikan masyarakat teguh politik dan kuat dalam menetapkan posisi tawar.

Kukuh ekonomi serta bijak memilih prioritas pada yang hak, menjadi identitas generasi yang menjaga nilai puncak budaya Islami yang benar.

Sesuatu akan selalu indah selama benar.
Semestinya disadari bahwa budaya adalah wahana kebangkitan bangsa.
Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya.

PENGUATAN NILAI BUDAYA (TAMADDUN)
Madani mengandung kata maddana al-madaina atau banaa-ha, artinya membangun atau hadhdhara, maknanya memperadabkan dan tamaddana artinya menjadi beradab dengan hidup berilmu (rasio), mempunyai rasa (arif, emosi) secara individu dan kelompok mempunyai kemandirian (kekuatan dan kedaulatan) dalam tata ruang, peraturan dan perundangan yang saling berkaitan.(Al Munawwir, 1997:1320, dan Al-Munjid, al-Mu’ashirah, 2000:1326-1327).

Masyarakat madani (al hadhariyyu) adalah masyarakat berbudaya yang maju, modern, berakhlak dan mempunyai peradaban melaksanakan ajaran agama (syarak) dengan benar.

Masyarakat madani (tamaddun) adalah masyarakat berbudaya dan berakhlaq. Akhlaq adalah melaksanakan ajaran agama (Islam).

Memerankan nilai-nilai tamaddun — agama dan adat budaya — di dalam tatanan kehidupan masyarakat, menjadi landasan kokoh meletakkan dasar pengkaderan (re-generasi) agar tidak terlahir generasi yang lemah. Kegiatan utama diarahkan kepada kehidupan sehari-hari.

Keterlibatan generasi muda pada aktifitas-aktifitas lembaga agama dan budaya, dan penjalinan hubungan erat yang timbal balik antara badan-badan kebudayaan di dalam maupun di luar daerah , menjadi pendorong lahirnya generasi penyumbang yang bertanggung jawab.

Generasi penyumbang (inovator) sangat perlu dibentuk dalam kerangka pembangunan berjangka panjang.

Bila terlupakan, yang akan lahir adalah generasi pengguna (konsumptif) yang tidak bersikap produktif, dan akan menjadi benalu bagi bangsa dan negara.

Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus didalam membentuk SDM, maka di samping kurikulum ilmu terpadu dan holistik, sangat perlu dirancang kualita pendidik (murabbi) yang sejak awal mendapatkan pembinaan terpadu.

Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik, dan bukan utopis.

Keberhasilan perkembangan generasi penerus ditentukan dalam menumbuhkan sumber daya manusia yang handal.

Mereka, mesti mempunyai daya kreatif dan ino¬vatif, dipadukan dengan kerja sama berdisiplin, kritis dan dinamis.
Mempunyai vitalitas tinggi, dan tidak mudah terbawa arus.

Generasi yang sanggup menghadapi realita baru, dengan memahami nilai nilai budaya luhur.

Selalu siap bersaing dalam basis ilmu pengetahuan dengan jati diri yang jelas dan sanggup menjaga destiny, mempunyai perilaku berakhlak.

Berpegang teguh kepada nilai-nilai mulia iman dan taqwa, mempunyai motivasi yang bergantung kepada Allah, yang patuh dan taat beragama.

Mereka, akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan.
Memahami dan mengamalkan nilai nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, memberikan motivasi emansipatoris dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik material, tanpa harus mengorbankan nilai nilai kemanusiaan.

Semestinya dipahami bahwa kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) dengan basis iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat.

Hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional. Karena itu, perlulah domein ruhiyah itu dibangun dengan sungguh-sungguh;

a. pemantapan metodologi,
b. pengembangan program pendidikan,
c. pembinaan keluarga, institusi, dan lingkungan,
d. pemantapan aqidah (pemahaman aktif ajaran Agama)

MEMBENTUK SUMBER DAYA MANUSIA BERKUALITAS

Kita berkewajiban membentuk SDM menjadi sumber daya umat (SDU) yang berciri kebersamaan dengan nilai asas “gotong royong”, berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas. Beberapa model dapat dikembangkan di kalangan para pendidik.

Antara lain, pemurnian wawasan fikir disertai kekuatan zikir, penajaman visi, perubahan melalui ishlah atau perbaikan.

Mengembangkan keteladanan (uswah hasanah) dengan sabar, benar, dan memupuk rasa kasih sayang melalui pengamalan warisan spiritual religi serta menguatkan solidaritas beralaskan iman dan adat istiadat luhur.
“Nan kuriak kundi nan sirah sago,
nan baik budi nan indah baso”.

Akhirnya, intensif menjauhi kehidupan materialistis, “dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.

Para pendidik (murabbi) adalah bagian dari suluah bendang dengan uswah hidup mempunyai sahsiah (شخصية) bermakna pribadi yang melukiskan sifat individu mencakup gaya hidup, kepercayaan, kesadaran beragama dan harapan, nilai, motivasi, pemikiran, perasaan, budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak akan mampu menghadirkan kesan positif masyarakat Nagari.

Faktor kepribadian tetap diperlukan dalam proses pematangan sikap perilaku anak didik yang mencerminkan watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seseorang.

Ciri kepribadian syarak yang mesti ditanamkan merangkum sifat-sifat,
1. Sifat Ruhaniah dan Akidah, mencakup ;
a. keimanan yang kental kepada Allah yang Maha Sempurna,
b. keyakinan mendalam terhadap hari akhirat, dan
c. kepercayaan kepada seluruh asas keimanan (arkan al iman) yang lain.

2. Sifat-Sifat Akhlak, tampak di dalam perilaku;
a. Benar, jujur, menepati janji dan amanah.
b. Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan,
c. Tawadhu’, sabar, tabah dan cekatan,
d. Lapang dada – hilm –, pemaaf dan toleransi.
e. Bersikap ramah, pemurah, zuhud dan berani bertindak.

3. Sifat Mental, Kejiwaan dan Jasmani, meliputi,
3.1. Sikap Mental,
a. Cerdas — pintar teori, amali dan sosial –,
menguasai spesialisasi (takhassus),
b. Mencintai bidang akliah yang sehat, fasih,
bijak penyampaian.
c. Mengenali ciri, watak, kecenderungan masyarakat Nagari

3.2. Sifat Kejiwaan,
a. emosi terkendali, optimis dalam hidup, harap kepada Allah,
b. Percaya diri dan mempunyai kemauan yang kuat.
c. Lemah lembut dan baik dalam pergaulan dengan masyarakat.

3.3. Sifat Fisik,
a. mencakup sehat tubuh,
b. berpembawaan menarik, bersih,
c. rapi (kemas) dan menyejukkan.

Satu daftar senarai panjang menerangkan sikap pendidik adalah berkelakuan baik (penyayang dan penyabar), berdisiplin baik, adil dalam menerapkan aturan.

Memahami masalah dengan amanah dan mampu memilah intan dari kaca.

Mempunyai kemauan yang kuat serta bersedia memperbaiki kesalahan dengan sadar.

Selanjutnya tidak menyimpang dari ruh syari’at.
Maknanya, mampu melakukan strukturisasi ruhaniyah.

Para murabbi dapat mewujudkan delapan tanggung jawab dalam hidup;
1). Tanggungjawab terhadap Allah, dengan keyakinan iman
dan kukuh ibadah bersifat istiqamah, iltizam beramal soleh
dengan rasa khusyuk dalam mencapai derajat taqwa dan
mengagungkan syiar Islam dengan perilaku beradat dan beradab.

2). Tanggungjawab terhadap Diri, mengupayakan keselamatan diri,
baik aspek fisik, emosional, mental maupun moral,
bersih dan mampu berkhidmat kepada Allah,
masyarakat dan negara.

3). Tanggungjawab terhadap Ilmu, menguasai ilmu takhassus
secara mendalam dan menelusuri dimensi spiritualitas Islam
dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan untuk
tujuan kemanusiaan dan kesejahteraan umat manusia.

4). Tanggungjawab terhadap Profesi, tidak bertingkah laku yang
menghilangkan kepercayaan orang ramai dan dapat
memelihara maruah diri dengan amanah.

5). Tanggungjawab terhadap Nagari, mengutamakan
keselamatan anak Nagari dan memfungsikan lembaga
lembaga pendidikan (surau) dengan ikhlas.

6). Tangungjawab Terhadap Sejawat, menghindari tindakan yang
mencemarkan sejawat dengan berusaha sepenuh hati
mengedepankan kemajuan social hanya karena Allah.

7). Tanggungjawab terhadap Masyarakat dan Negara,
tidak merusak kepentingan masyarakat atau negara dan
selalu menjaga kerukunan bernegara di bawah syari’at Allah.

8). Tanggung jawab kepada Rumah Tangga dan Ibu Bapa,
dengan menghormati tanggungjawab utama ibu bapa
dengan mewujudkan hubungan mesra dan kerjasama
yang erat di antara institusi pendidikan dengan rumahtangga.

MENGHIDUPKAN PARTISIPASI UMAT

Umat mesti mengantisipasi berbagai krisis dengan kekuatan agama dan budaya (adat dan syarak) agar tidak menjadi kalah di tengah era persaingan.

Memantapkan watak terbuka dan pendidikan akhlak berlandaskan ajaran tauhid. Mengamalkan nilai-nilai amar makruf nahi munkar seperti tertera dalam QS.31, Lukman:13-17.

Menghadapi degradasi akhlak dapat dilakukan berbagai program.

Antara lain ;
1. INTEGRASI AKHLAK yang kuat dengan menanamkan penghormatan
terhadap orang tua.
Mempunyai adab percakapan di tengah pergaulan.
Pendalaman ajaran agama (tafaqquh fid-diin).
Berpijak kepada nilai-nilai Islam yang universal (tafaqquh fin-naas).
Membawa masyarakat memperhatikan masalah sosial (umatisasi)
dengan teguh.
Menetapkan kepentingan bersama dengan ukuran taqwa,
responsif dan kritis dalam mengenali kehidupan duniawi yang bertaraf
perbedaan.

Tahap selanjutnya mendorong kepada penguasaan ilmu pengetahuan.
Kaya dimensi dalam pergaulan bersama mencercahkan rahmatan lil ‘alamin
pada seluruh aspek kehidupan.

2. KEKUATAN RUHIYAH.
Ketahanan umat, bangsa dan daerah terletak pada kekuatan ruhiyah
dengan iman taqwa dan siasah kebudayaan.
Intinya adalah tauhid.
Implementasinya akhlak.
Umat kini akan menjadi baik dan berjaya,
apabila sebab-sebab kejayaan umat terdahulu dikembalikan.
Bertindak atas dasar anutan yang kuat,
yakni “memulai dari diri sendiri, mencontohkannya kepada
masyarakat lain”, (Al Hadist).

3. JALINAN KERJASAMA yang kuat rapi – network, nidzam –
antara lembaga perguruan secara akademik,
dengan meningkatkan pengadaan pengguna fasilitas.

a. Mendorong pemilikan jati diri berbangsa dan bernegara.
b. Memperkokoh interaksi kesejagatan dengan melakukan
penelitian bersama, penelaahan perubahan-perubahan di desa
dan kota, antisipasi arus kesejagatan dengan
penguatan jati diri generasi.
c. Pengoperasionalan hasil-hasil penelitian,
d. Meningkatkan kerja sama berbagai instansi yang dapat
menopang peningkatan kesejahteraan.

Menggali ekoteknologi dengan kearifan yang ramah lingkungan.

Menanam keyakinan actual, bahwa yang ada sekarang adalah milik generasi mendatang.

Keyakinan ini menumbuhkan penyadaran bahwa beban kewajiban generasi adalah memelihara dan menjaga untuk diwariskan kepada gererasi pengganti, secara berkesinambungan, lebih baik dan lebih sempurna.

Aktifitas ini akan memacu peningkatan daya kinerja di berbagai bidang garapan melalui,
a. rancangan pembangunan pendidikan arus bawah,
b. mempertajam alur pemikiran melalui pendidikan dengan
pendekatan holistik (holistic approach) menurut cara yang tepat.

Allah mengingatkan, apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi (QS.7,al-A’raf:96).

Artinya, mengajak Umat mempelajari dan mengamalkan iman dan taqwa (tuntutan syarak sesuai ajaran Islam).

Selanjutnya, menggiatkan penyebaran dan penyiaran dakwah, untuk mencapai keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia.

DI BAWAH KONSEP REDHA ALLAH

Setiap Muslim harus melakukan perbaikan (ishlah) pada dua sisi. Dimulai dengan, ishlah an-nafsi, yaitu perbaikan kualitas diri sendiri, sebagaimana arahan Rasulullah, “Mulailah dari diri kamu kemudian lanjutkan kepada keluargamu” (Al Hadist).

Selanjutnya islah al-ghairi yaitu perbaikan kualitas lingkungan menyangkut masalah hubungan sosial masyarakat, sosial ekonomi, kebudayaan dan pembinaan alam lingkungan yang dikenal sebagai sustainable development atau pengembangan berkesinambungan.

Langkah awal yang harus ditempuh adalah menanamkan kesadaran tinggi tentang perlunya perubahan dan dinamik yang futuristik.

Penggarapan secara sistematik dengan pendekatan proaktif, untuk mendorong terbangunnya proses pengupayaan (the process of empowerment), umat membangun dan memelihara akhlak.

MELAKSANAKAN TUGAS DAKWAH terus menerus dengan petunjuk yang lurus (QS.Al-Ahzab, 33 : 45-46) dibuktikan dengan beribadah kepada Allah.

Mengawal generasi Sumbar yang tetap kuat melaksanakan ajaran agama Islam secara kaffah.

Menjauhi pikiran, konsep dan ajakan yang mengarah atau membawa kepada sikap musyrik.

Mengingatkan selalu untuk bersiap kembali kepada-Nya (QS.Al Qashash, 28 : 87).

Setiap muslim hakikinya adalah umat dakwah pelanjut Risalah Rasul yakni Islam.

Dari sini, berawal gerakan syarak mangato adat memakai, artinya hidup dan bergaul dengan meniru watak pendakwah pertama, Muhammad Rasulullah SAW.

Meneladani pribadi Muhammad SAW untuk membentuk effectif leader di medan dakwah dalam menuju inti agama Islam (QS. Al Ahzab, 33 : 21).

Dakwah selalu akan berkembang sesuai variasi zaman yang senantiasa berubah.

Tahapan berikutnya perencanaan terarah, untuk mewujudkan keseimbangan antara minat dan keterampilan dengan strategi (siyasah) yang jelas.

Aspek pelatihan menjadi faktor utama pengupayaan. Konsep-konsep visi, misi, memang sering terbentur oleh lemahnya metodologi dalam operasional (pencapaian).

Maka dalam tahap pelaksanaan mesti diupayakan secara sistematis (the level of actualization).

Menetapkan langkah ke depan pembinaan human capital dengan keluasan ruang gerak mendapatkan pendidikan.

Pembinaan generasi muda yang akan mewarisi pimpinan berkualitas wajib mempunyai jati diri, padu dan lasak, integreted inovatif.

Langkah yang dapat dilakukan adalah mengasaskan agama dan akhlak mulia sebagai dasar pembinaan.

Langkah drastik berikutnya mencetak ilmuan beriman taqwa seiring dengan pembinaan minat dan wawasan.

Generasi muda Sumbar ke depan mesti menyatukan akidah, budaya dan bahasa bangsa, untuk dapat mewujudkan masyarakat madani yang berteras keadilan sosial yang terang.

Strategi pendidikan yang madani (maju, dan berperadaban) menjadi satu nikmat yang wajib dipelihara, agar selalu bertambah.

Perlu ada kepastian dari pemerintah daerah dengan satu political action yang jelas tegas berkelanjutan, untuk mendorong pengamalan ajaran Agama (syarak) Islam, melalui jalur pendidikan formal dan non-formal secara nyata.

Political will, akan sangat menentukan dalam membentuk generasi muda Sumbar yang kuat dan berjaya di masa datang.

Ajaran tauhid mengajarkan agar kita menguatkan hati, karena Allah selalu beserta orang yang beriman.

Dengan bermodal keyakinan tauhid ini, niscaya generasi terpelajar akan bangkit dengan pasti dan sikap yang positif.
a. Menjadi sumber kekuatan dalam proses pembangunan
b. Menggerakkan integrasi aktif,
c. Menjadi subjek dan penggerak pembangunan nagari
dan daerahnya sendiri.

Semoga Allah memberi kekuatan memelihara amanah bangsa ini dan senantiasa meredhai.

Amin.

Wabillahit-taufiq wal hidayah,

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi wa barakatuh.

Comments (1)

Pengembangan Moral dan Nilai-Nilai Islam pada PAUD

PENGEMBANGAN MORAL DAN NILAI- NILAI AGAMA ISLAM
PADAPENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)

H. Mas’oed Abidin

MUKADDIMAH

Sudah lama kita mendengar ungkapan, “jadilah kamu berilmu yang mengajarkan ilmunya, atau belajar (muta’alliman), atau menjadi pendengar (mustami’an). Dan, jangan menjadi kelompok keempat, yang tidak memiliki aktifitias keilmuan sama sekali. Yakni, tidak mengajar, tidak pula belajar, serta enggan untuk mendengar”.

Peran Guru di tengah umat dan anak didiknya, adalah sesuatu pengabdian mulia, dan tugas sangat berat. Mereka adalah pelopor pembangunan (agent of changes).

Bekal utamanya adalah keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT, hidup beradat, berakhlaq mulia.
Inilah, yang menjadi program utama di dalam pendidikan anak usia dini (PAUD). Tugas itu berat.

Umat hanya mungkin dibentuk melalui satu proses pembelajaran, dengan pengulangan terus menerus (kontiniutas), pencontohan (uswah) yang baik. Pekerjaan ini memerlukan ketaletenan dan semangat yang prima.

Kemuliaan seorang guru (pendidik) terpancar dari keikhlasan membentuk umat dan anak manusia menjadi pintar, beriman, berakhlaq, berilmu, mengamalkan ilmunya, untuk kebaikan diri sendiri, keluarga, dan kemaslahatan umat, di kelilingnya, serta mempunyai ibadah yang teratur, shaleh pribadi, dan shaleh social, dengan tauhid yang istiqamah.

Keberhasilan murabbi (guru) akan banyak didukung oleh kearifan, yang dibangun oleh kedalaman pengertian, pengalaman dalam membaca situasi, serta upaya dan kondisi yang kondusif di sekitarnya.

TANTANGAN DI ABAD KE 21

Abad ini ditandai oleh,
(a). mobilitas serba cepat dan modern,
(b). persaingan keras dan kompetitif,
(c). komunikasi serba efektif, dalam satu global village, dan

Akibat yang sangat dirasakan adalah generasi kini banyak bergelimang di dalam selokan limbah budaya kebaratan (westernisasi).

Alaf baru ini hadir dengan cabaran global yang menuntut keteguhan, dalam menghadapi tantangan yang berjibun banyaknya

Di antara tantangan tantangan itu, adalah infiltrasi budaya sekularis yang sudah menjajah mentalitas manusia.
Di sampingnya ada pula the globalization life style meniru sikap yahudi, dibumbui oleh pemupukan suburnya budaya lucah (sensate culture), dengan memanfaatkan sarana ICT (informasi, komunikasi dan teknologi).

Akibat yang dirasakan adalah, menjauhnya generasi bangsa dari adat budaya luhur, berpindah ke pemujaan nilai rasa panca indera, yang menonjolkan keindahan sensual, erotik, seronok, ganas.

Tujuan yang banyak diminati hanya semata mengejar kesenangan badani.

Dalam pergaulan keseharian, terutama di kalangan remaja yang mulai kehilangan fondasi budaya dan kekuatan akidah agama, tumbuh subur kebiasaan miras — bahkan sampai menelan korban berpuluh orang dalam keadaan mabuk, pingsan bahkan wafat –.

Selain itu, terlihat pula menjamurnya sarana yang menumbuh suburkan pergaulan bebas, akhirnya menjurus ke kecanduan madat dan narkoba.

Menghadapi tantangan ini, semua elemen masyarakat berkewajiban mempersiapkan generasi yang sanggup bersaing dalam era global tersebut.

Generasi dimaksud mesti tampil dengan sibghah yang nyata.
Pembentukannya dilakukan melalui pendidikan anak pada usia dini.

Penyimpangan perilaku telah menjadi ukuran atas kemunduran moral dan akhlak.

Hilangnya kendali para remaja, berakibat ketahanan bangsa akan lenyap dengan lemahnya remaja.

Penyebab utama di antaranya, rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan, hilangnya tokoh panutan, berkembangnya kejahatan di kalangan orang tua

Selain itu, juga karena luputnya tanggung jawab lingkungan dan masyarakat dalam menjaga perkembangan kejiwaan generasi pengganti.

Hal ini terjadi, juga disebabkan impotensi peran di kalangan pemangku adat, hilangnya wibawa ulama dan pudurnya suluah bendang di nagari

Tidak dapat dimungkiri bahwa, bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi bisnis, dan melemahnya profesi da’i dan guru karena kurang diminati dan tidak diperhatikan sungguh-sungguh, baik oleh kalangan pemerintah ataupun oleh masyarakat sendiri.

Akibat lanjutannya adalah suluah bendang (suluh benderang) yang akan menerangi masyarakat itu mulai dipandang leceh, sebelah mata.
Gelaran pahlawan tanpa jasa, mulai beringsut mundur menjadi tanpa perhatian.

PERILAKU UMAT JUGA BERUBAH
Interaksi dan ekspansi kebudayaan dari luar, bergerak secara meluas.

Pengaruh budaya asing berkembang pesat, seperti pengagungan materia secara berlebihan (materialistik), pemisahan kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik), pemujaan kesenangan indera mengejar kenikmatan badani (hedonistik).

Perilaku di atas merupakan penyimpangan sangat jauh dari budaya luhur. Pada akhirnya, melahirkan Kriminalitas, perilaku Sadisme, dan Krisis moral, secara meluas.

Perubahan dalam hidup beradat juga telah merambah Minangkabau.
Adat ndak dipacik arek, agamo ndak dipagang taguah.

Fakta menunjukkan bahwa adat tidak berdampak banyak terhadap generasi muda.

Tempat bertanya tidak ada, Sudah banyak yang tidak mengerti adat. Karena itu, generasi muda di Nagari mulai kebingungan.

Manakala problematika sosial ini lupa mengantisipasi melalui gerakan dakwah, melalui Pendidikan Anak Usia Dini berbasis aqidah, maka arus globalisasi ini membawa perubahan yang negatif.

Hilangnya keseimbangan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, yang menyebabkan timbulnya berbagai krisis.

Perilaku luhur akan bergeser, dan menipisnya ukhuwah, serta berkembangnya perbuatan maksiat.

Maka sekolah atau pendidikan berbasis aqidah, mesti menjadi cerminan idealitas masyarakat yang mempertahankan pembelajaran budi akhlak.

Pergeseran budaya akan terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, seperti kegemaran berkorupsi, aqidah tauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, serta suka melalaikan ibadah.

Salah satu solusi untuk mengatasi problematika keumatan ini, adalah dengan melaksanakan pendidikan aqidah pada anak usia dini (PAUD).

Para pendidik dan pengelola program PAUD, mesti berakar ke jantung umat. Mereka wajib menambah ilmu, menguatkan amal, menanamkan akhlak, menjaga ibadah dan karakter umat, dengan berpedoman wahyu Allah SWT.

Pendidikan aqidah dan akhlaq akan membawa umat kepada bertaqwa.

Janji Allah SWT sangat tepat, ” apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi.“ (QS.7,al-A’raf:96).

MENGHIDUPKAN ANTISIPASI UMAT
Umat mesti diajak mengantisipasi perkembangan global agar tidak menjadi kalah.

Dalam persaingan dimaksud, beberapa upaya mesti disejalankan dengan ;
a. Memantapkan watak terbuka,
b. Pendidikan aqidah tauhid,
c. Mengamalkan nilai-nilai amar makruf nahi munkar,
d. Integrasi moral yang kuat,
e. Memiliki penghormatan terhadap orang tua,
f. Mempunyai adab percakapan di tengah pergaulan,
g. Pendalaman ajaran agama tafaqquh fid-diin,
berpijak pada nilai-nilai ajaran Islam yang universal tafaqquh fin-naas.
h. Perhatian besar terhadap masalah sosial atau umatisasi,
i. Memacu penguasaan ilmu pengetahuan,
j. Kaya dimensi dalam pergaulan rahmatan lil ‘alamin,
k. Iman dan ibadah, menjadi awal dari ketahanan bangsa.

KETAHANAN UMAT DAN BANGSA, PADA UMUMNYA TERLETAK PADA KEKUATAN RUHANIYAH, KEYAKINAN AGAMA DENGAN IMAN TAQWA DAN SIASAH KEBUDAYAAN.

INTINYA ADALAH TAUHID. IMPLEMENTASINYA AKHLAQ.

Program pendidikan anak usia dini (PAUD) dapat dilakukan dengan nuansa surau.

Surau adalah suatu institusi yang khas dalam masyarakat Minangkabau.

Fungsinya bukan sekedar tempat sholat. Juga sebagai tempat pendidikan dan tempat mendapat pengajaran bagi anak muda. Banyak tokoh-tokoh besar di Minangkabau lahir dari surau.

Pengelolaan pendidikan bernuansa surau, pada masa sekarang bisa dihidupkan kembali.
Esensi dan semangatnya lewat menggerakkan kebersamaan anak Nagari.

Para pendidik mesti tampil mengambil peran, karena ada gejala, adat tidak memberi pengaruh yang banyak terhadap generasi muda di Minangkabau, dan adanya tendensi bahwa generasi tua, terlihat kurang pula memberikan suri teladan.

Akibat melemahnya peran orang tua, dapat menjadikaan generasi muda bersikap apatis terhadap adat itu sendiri.

Peran para pendidik mesti membentuk watak Generasi Sumatera Barat, sesuai petatah yang berbunyi,

“Indak nan merah pado kundi,
indak nan bulek pado sago,
Indak nan indah pado budi,
indak nan elok pado baso.

Anak ikan dimakan ikan,
gadang di tabek anak tanggiri,
ameh bukan pangkaik pun bukan,
budi sabuah nan diharagoi.

Dulang ameh baok balaie,
batang bodi baok pananti,
utang ameh buliah bababie,
utang budi dibaok mati.”

Enam unsur sangat perlu diperhatikan untuk membentuk masyarakat yang mandiri dan berprestasi, melalui harakah dakwah, dalam pendidikan bernuansa surau ;
1. IMAN,
2. ILMU,
3. Kerukunan, Ukhuwah dan Interaksi,
4. Akhlaq, Moralitas sebagai Kekuatan Ruhiyah,
5. Badunsanak, sikap Gotong royong (Ta’awun),
6. Menjaga Lingkungan sebagai Social Capital, menerapkan Eko Teknologi.

Kegiatan Pendidikan Anak Usia DINI (PAUD), mesti dijadikan upaya pembinaan karakter anak, dengan berbasis nilai-nilai agama, yang nanti akan menjadi pagar adat dan syarak, dalam menghadapi krisis identitas, sebagai akibat dari perubahan dalam nilai – nilai adat.

MENGAJAK, MENDIDIK, DAN MENGAMALKAN ISLAM
Peran Guru atau Murabbi dalam mendidik anak sejak usia dini adalah ibarat Suluh Benderang di tengah umat.
Tugasnya mesti dilaksanakan dengan keikhlasan sebagai satu pengabdian mulia dan tugas berat.

Keikhlasan membentuk umat jadi pintar, beriman, berakhlaq, berilmu, beramal baik, membina diri, kemashlahatan umat, dan keluarga, menjadi panutan dan ikutan, ibadahnya teratur, shaleh peribadi dan sosial, beraqidah tauhid yang shahih dan istiqamah.

Pendidikan anak sejak usia dini ini, tidak terlepas dari upaya menyiapkan satu generasi yang beradab, berakhlaq, berakidah dan berprestasi, melalui ;

a. Membudayakan Wahyu Al Quran dalam memakaikan adat basandi syarak
dan syarak basandi kitabullah, melalui pendidikan dan pelatihan,
b. Implementasinya, dalam perilaku anak berakidah, dan berakhlaq,
dalam kerangka lebih luas, menghidupkan dakwah membangun negeri.

Perintah untuk melaksanakan tugas-tugas da’wah itu, secara kontinyu atau terus menerus, dan sambung bersambung.

PELAKSANA DAKWAH ADALAH SETIAP MUSLIM
Setiap mukmin adalah umat da’wah pelanjut Risalah Rasulullah yakni Risalah Islam.

Umat dan para murabbi (pendidik) mesti berupaya sekuat tenaga untuk meneladani pribadi Muhammad SAW, dalam membentuk effectif leader dengan mengamalkan inti dan isi Agama Islam, yakni akhlaq Islami, Aqidah tauhid yang shahih, kesalehan, dan keyakinan kepada hari akhirat,

”Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab, 33 : 21).

ISLAM MENDIDIKKAN KEPRIBADIAN
USWAH atau contoh tauladan terpuji, melukiskan kesan positif dalam mayarakat.

Alat canggih teknologi modern tidak dapat mengambilalih peran orang tua dalam uswah.

Faktor manusia tetap diperlukan dalam proses pematangan sikap pribadi seseorang anak, sejak usia dini, dengan menanamkan laku perangai (syahsiah), yang mencerminkan watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seorang

SAHSIYAH MURABBI MEMBAWA KEBERHASILAN PENDIDIKAN ISLAM
Tidak diragukan lagi bahwa guru — murabbi, muallim, – yang punya kepribadian baik serta uswah hidup yang terpuji akan mampu melukiskan kesan positif dalam diri anak didik mereka.

Alat teknologi modern walau bagaimanapun canggihnya tidak akan dapat mengambil alih peranan guru.

Faktor manusia tetap diperlukan dalam proses pembentukan dan pematangan sikap pribadi para anak didik dan menanamkan laku perangai — syahsiah — murid.

Tegasnya sahsiah mencerminkan watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seseorang

CIRI UTAMA ATAU SYAHSIAH (شخصية) ITU BERMAKNA PRIBADI ATAU PERSONALITY, YANG MENGGAMBARKAN SIFAT INDIVIDU YANG MERANGKUM PADANYA GAYA HIDUP, KEPERCAYAAN, HARAPAN, NILAI, MOTIF, PEMIKIRAN, PERASAAN, BUDI PEKERTI, PERSEPSI, TABIAT, SIKAP DAN WATAK SESEORANG.

Banyak kajian telah dibuat tentang sifat-sifat yang perlu ada pada seorang guru (murabbi, mu’allim) yang baik dan akan menghasilkan kesan mendalam pada proses pengajaran yang mereka sampaikan.

Karena itu, sifat dan ciri guru muslim hendaklah merangkum :

A. SIFAT RUHANIAH DAN AKIDAH
1. Keimanan yang kental kepada Allah yang Maha Sempurna
2. Keyakinan mendalam terhadap hari akhirat, hari berbangkit
dan keyakinan akan adanya hari pembalasan
3. Kepercayaan kepada seluruh para Rasul di iringi dengan sifat,
dan asas menjalankan keimanan (arkan al iman) yang lain.

B. SIFAT-SIFAT AKHLAK
1. Benar dan jujur
2. Menepati janji dan Amanah
3. Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan
4. Merendah diri – tawadhu’ –
5. Sabar, tabah dan cekatan
6. Lapang dada – hilm –, Pemaaf dan toleransi
7. Menyayangi murid, mengutamakan kepentingan orang banyak dengan sikap pemurah, zuhud dan berani bertindak.

C. SIFAT MENTAL, KEJIWAAN DAN JASMANI
1. SIKAP MENTAL
• Cerdas (Kepintaran teori, amali dan sosial),
menguasai mata pelajaran,dan memahami anak didikan dengan khusus.
• Luas pengetahuan umum dan ilmiah yang sehat
• Mengenal ciri, watak, kecenderungan dan keperluan murid, fasih, bijak,
dan cakap di dalam penyampaian

2. SIFAT KEJIWAAN
• Tenang dengan emosi mantap terkendali, optimistik dalam hidup,
penuh harap kepada Allah dan tenang jiwa bila mengingatiNya.
• Percaya diri dan mempunyai kemauan yang kuat,
lemah lembut dan baik dalam pergaulan
• Berfikiran luas dan mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat

3. SIFAT FISIK
• Sehat tubuh dan badan dari penyakit menular
• Berperawakan menarik, bersih, rapi (kemas) dan menyejukkan.

Berapa penilitian di beberapa negara maju terdapat daftar sikap yang diinginkan ada pada para murabbi (guru) :
• Berkelakuan baik (penyayang dan penyabar), mampu menguraikan kepada anak
didik dengan jelas, berdisiplin, amanah dan menunaikan janji,

• Mempunyai sahsiah yang dihormati, berkemauan yang kuat, berbakat, dan
berjiwa kepimpinan yang tinggi, berpengetahuan umum yang luas, bersikap
menarik dan bersuara yang merangkul dan mendidik,

• Pandai memberi nasihat, simpati terhadap kelemahan murid, pandai memilih
kata-kata, tanggap dengan suasana murid di rumah, dan mengujudkan sikap
kerjasama, serta bersemangat riadah dan kedisiplinan

Guru muslim (murabbi) yang mempunyai sahsiah yang baik ialah guru yang mengamalkan etika keguruan Islam yang standard dan mempunyai personaliti yang baik.

ETIKA GURU MUSLIM
Etika pendidik Islam yang profesial, memiliki beberapa tanggung jawab yang dapat diawali oleh kemauan dari dalam diri guru dan kemudian dapat ditukuk tambah oleh khalayak pendidik dan dihayati sebagai suatu etika profesi keguruan
Di antara lain, sebagai berikut ;
1. TANGGUNGJAWAB TERHADAP ALLAH
Etika guru muslim terhadap Allah ialah :
1. Senantiasa memantapkan keyakinan kepada Allah dengan ibadah.
2. Bersifat istiqamah, dengan semangat berbakti dan beramal soleh.
3. Wajib menghayati rasa khusyuk, takut dan harap kepada Allah,
dan selalu bersyukur kepada Allah di samping selalu berdoa
kepadaNya dengan membaca ayat-ayat Allah dan merendahkan
diri kehadratNya.

2. TANGGUNGJAWAB TERHADAP DIRI
1. Guru muslim hendaklah memastikan keselamatan diri sendiri,
mencakup aspek fisik, emosional, mental maupun moral,
bersih diri, rapi pakaian, dan tempat tinggal.

2. Memahami kekuatan dan kelemahan diri untuk boleh
dimanfaatkan serta ditingkatkan dari segenap aspek
dan dapat berkhidmat sebanyak mungkin kepada Allah,
masyarakat dan negara.

3. Melibatkan diri dengan program dan agenda yang dapat
meningkatkan kualitas profesional seorang guru.

3. TANGGUNGJAWAB TERHADAP ILMU
1. Memastikan penguasaan ilmu takhassus secara mantap
dan mendalam, bercita dan berbuat — iltizam — dengan
amanah ilmiah.

2. Sunguh-sungguh mengamalkan ilmu yang dimiliki dan
mengembangkan untuk di ikuti oleh anak didik,
dan selalu mengikuti perkembangan teknologi dan ilmu
pengetahuan terbaru dalam rangkaian pembelajaran
ilmu-ilmu yang berkaitan.

3. Sepanjang masa menelusuri sudut atau dimensi
spirituality Islam dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan.

4. TANGGUNGJAWAB TERHADAP PROFESI
1. Seorang guru tidaklah boleh bertingkah laku yang
mencemarkan sifat profesinya yang berakibat kepada hilang
atau kurangnya kepercayaan orang ramai terhadap
profesi perguruan.

2. Guru bertugas sebagai pengganti ibu bapa dalam usaha
membentuk tingkah laku anak didiknya ke arah sikap
perangai yang diterima oleh masyarakat, dan
menumpukan perhatian terhadap keperluan setiap
anak didiknya.

3. Dia haruslah mendidik dan mengambil tindakan secara adil
terhadap semua anak didik, tanpa membedakan tempat asal,
keluarga, intelek, akademik dan status-status lain.

5. TANGGUNGJAWAB TERHADAP ANAK DIDIK
1. Guru muslim hendaklah lebih mengutamakan kebajikan,
dan keselamatan anak didiknya.

2. Bersikap adil terhadap, tanpa membedakan faktor-faktor jasmani,
mental, emosi, politik, ekonomi, sosial, keturunan,
dan agama anak didiknya.

3. Menampilkan suatu cara pakaian, pertuturan dan tingkah laku
yang dapat memberikan contoh yang baik kepada anak didiknya.

6. TANGUNGJAWAB TERHADAP REKAN SEJAWAT
1. Guru muslim senantiasa berusaha dengan sepenuhnya
menunaikan tanggungjawab dengan rajin dan
bersungguh-sungguh dan mengekalkan
kemajuan ikhtisas dan sosial.

2. Senantiasa bersedia membantu rekan sejawat
terutamanya mereka yang baru dalam profesi perguruan.

3. Mawas diri dan tidak mencemarkan nama baik profesi pendidik.

7. TANGGUNGJAWAB TERHADAP MASYARAKAT DAN NEGARA
1. Mengelakkan diri daripada meyebarkan sesuatu ajaran
yang dapat merusak kepentingan anak didik,
masyarakat atau negara, ataupun yang dapat bertentangan
dengan aturan bernegara.

2. Memupuk dalam diri setiap anak didik sikap dan nilai
yang dapat membantu dan membimbing mereka untuk
menjadi warga negara yang taat setia, bertanggungjawab,
dan berguna, menghormati orang-orang yang lebih tua dan
menghormati adanya perbedaan kebudayaan, keturunan dan agama.

3. Menghormati masyarakat tempat mereka berkhidmat dan
memenuhi segala tanggungjawab sebagai seorang warganegara
dan senantiasa sanggup mengambil bahagian
dalam sebarang kegiatan masyarakat.
Berpegang kepada tingkah laku yang sopan yang diterima
oleh masyarakat dan menjalani kehidupan harian dengan baik.

8. TANGGUNGJAWAB TERHADAP IBU BAPA DAN RUMAH TANGGA
1. Menghormati tanggungjawab utama ibu bapa
terhadap anak-anak mereka.

2. Berusaha mewujudkan hubungan mesra dan kerjasama
yang erat di antara institusi pendidikan dengan rumahtangga.

3. Menganggap semua maklumat yang diberikan oleh ibu bapa
mengenai keadaan rumahtangga atau anak mereka
sebagai suatu hal akan diperbaiki dalam diri anak didiknya,
dan tidak akan membocorkannya kepada sesiapa
kecuali kepada mereka yang berhak mengetahuinya saja.

KEBERHASILAN PENDIDIKAN ISLAM
Meskipun ciri dan sahsiah guru yang baik telah dicapai namun itu tidak pula bermakna pengajaran mereka dengan sendirinya berkesan.

Pengajaran yang disampaikan oleh guru akan berkesan atau tidak, amat bergantung kepada beberapa faktor yang berkaitan degan proses belajar dan mengajar yang menjadi hubungan erat antara guru dan anak didiknya.

Tantangan yang dihadapi oleh para guru dalam mengajar murid-murid zaman ini bukanlah suatu yang mudah.

Guru juga berhadapan dengan kenakalan remaja yang semakin serius di lingkungan sekolahnya.
Ibu bapa mesti ikut serta dalam memudahkan kerja guru-guru di sekolah itu.

Masyarakat juga wajib memainkan peranan sebagai pendukung keberhasilan guru dalam pembelajaran terhadap murid-murid mereka.
Tanpa kerjasama semua pihak proses pendidikan tidak akan berjaya menghasilkan generasi yang baik.

MEMBENTUK GENERASI MASA DEPAN
Perkembangan kedepan banyak ditentukan oleh peranan generasi penerus dengan ruang interaksi yang jelas.

Pendidik harus menjadi agen sosialisasi yang menggerakkan kehidupan masa depan lebih baik. Kita memerlukan generasi yang handal, dengan beberapa sikap;

a. individu yang berakhlak, berpegang pada nilai-nilai mulia iman dan taqwa, daya kreatif dan inno¬vatif, dipadukan dengan kerja sama berdisiplin, kritis dan dinamis, memiliki vitalitas tinggi, tidak mudah terbawa arus, sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan.

b. memahami nilai nilai budaya luhur, punya jati diri yang jelas, generasi yang menjaga destiny, motivasi yang bergantung kepada Allah, yang patuh dan taat beragama akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan,

c. memahami dan mengamalkan nilai nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, mempunyai motivasi dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik material, tanpa harus mengorbankan nilai nilai kemanusiaan.

Kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) dengan basis iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat.

Hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional.

Pendidikan anak usia dini, akan berperan membentuk mental umat – dengan FAST -, satu ranah ruhani yang memiliki kekuatan ;
 Fathanah (Ilmiah),
 Amanah (jujur),
 Amaliyah (transparan),
 Shiddiq (lurus),
 Shaleh (Yakin terhadap akhirat),
 Setia (ukhuwah mendalam),
 Tabligh (Dialogis),
 Tauhid (Percaya kepada Allah),
 Taat (Disiplin),

Generasi baru harus mampu mencipta, menjadi syarat utama keunggulan. Keutuhan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada.

Generasi muda harus dibina menjadi umat dakwah, dengan memiliki budaya yang kuat berintikan nilai-nilai dinamik yang relevan dengan realiti kemajuan di era globalisasi, yakni nilai-nilai agama Islam.

Generasi masa depan (era globalisasi) mesti Memiliki ; budaya luhur (tamaddun), berpaksikan tauhidik, kreatif dan dinamik, memiliki utilitarian ilmu berasaskan epistemologi Islam yang jelas, tasawwur (world view) yang integratik dan umatik sifatnya (bermanfaat untuk semua, terbuka dan transparan).

Pendidikan dikembangkan sejak usia dini si anak, dengan menekankan pada pendidikan akhlak, budi pekerti, dengan tujuan yang jelas ;
a. Menghambat gerakan-gerakan yang merusak Islam.
b. Menimbulkan keinsafan tentang perlunya adil sesuai syara’ Islam.
c. Melahirkan masyarakat penyayang yang tidak aniaya satu sama lain.
d. Menanamkan tata kehidupan saling kasih mengasihi dan beradab sopan.

Akhlak karimah adalah tujuan sesungguhnya dari proses pendidikan, dan menjadi wadah dalam menerima ilmu lainnya, dan membimbing umat kearah amal karya, kreasi, inovasi, motivasi yang shaleh (baik).

AKHLAK, ADALAH JIWA PENDIDIKAN, INTI AJARAN AGAMA, DAN BUAH KEIMANAN.

BAHASA DAKWAH ADALAH BAHASA KEHIDUPAN
Mendidik tidak dapat dipisah dari satu gerakan dakwah.

Dalam menggerakkan dakwah diperlukan menggalang saling pengertian, koordinasi sesamanya mempertajam faktor-faktor pendukungnya, membuka pintu dialog persaudaraan (hiwar akhawi), untuk membentuk efektif leader, mencontoh peribadi Rasulullah SAW, menjadi satu kunci keberhasilan da’wah Risalah.

Aktualisasi dari nilai-nilai Al-Qur’an itu, hanya bisa diwujudkan dengan gerakan amal nyata yang berkesinambungan (kontinyu), dalam seluruh aktivitas kehidupan manusia, melalui kemampuan bergaul, mencintai, berkhidmat, menarik, mengajak (da’wah) , merapatkan potensi barisan (shaff), mengerjakan amal-amal Islami secara bersama-sama (jamaah).

Setiap Muslim harus melakukan perbaikan (ishlah) kualitas diri sendiri, sebagaimana arahan Rasulullah “Mulailah dari diri kamu kemudian lanjutkan kepada keluargamu dan kepada lingkunganmu” (Al Hadist), dan perbaikan kualitas lingkungan, keluarga, hubungan sosial masyarakat, sosial ekonomi, kebudayaan dan pembinaan alam lingkungan yang berkesinambungan.

Pendidikan usia dini ini tidak akan berhenti dan akan berkembang terus sesuai dengan variasi zaman yang senantiasa berubah, dengan tujuan utama membentuk generasi pintar, berilmu, dan berbudaya dengan akhlaq karimah.

Pengembangan pendidikan berkualitas (quality oriented), akan mendorong lahirnya umat yang mempunyai ilmu yang komprehensif, yakni pengetahuan agama plus keterampilan, dengan aqidah tauhid yang istiqamah.

Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan sumber-sumber belajar di dalam masyarakat menjadi bagian integral dari masyarakat Muslim secara keseluruhan.

Dengan pengembangan dakwah ini, maka surau dan masjid, dapat menjadi core, atau inti, mata dan pusat dari learning society, masyarakat belajar. Sasarannya, agar lahir umat dakwah yang terdidik, berkualitas, capable, fungsional, integrated di tengah masyarakatnya.

Setiap Muslim harus ‘arif, dalam menangkap setiap pergeser¬an yang terjadi karena perubahan zaman ini, juga menjanjikan peluang peluang yang ada, sehingga memiliki visi jauh ke depan dalam percaturan hidup dunia (Q.S. 28: 77).

KEKUATAN TAUHID
Paradigma tauhid, laa ilaaha illa Allah, mencetak manusia menjadi ‘abid (yang mengabdi kepada Allah) dalam arti luas mampu melaksanakan ajaran syar’iy mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasul Allah, menjadi manusia mandiri (self help), sesuai eksistensi manusia itu di jadikan.

Manusia pengabdi (‘abid) adalah manusia yang tumbuh dengan aqidah Islamiyah yang kokoh.

AQIDAH ISLAMIAH ADALAH SENDI FUNDAMENTAL DINUL ISLAM, AQIDAH ADALAH LANGKAH AWAL UNTUK MENJADI MUSLIM. AQIDAH ADALAH KEYAKINAN BULAT, TANPA RAGU DAN BIMBANG, AQIDAH MEMBENTUK WATAK MANUSIA PATUH DAN TAAT, SEBAGAI BUKTI PENYERAHAN TOTAL KEPADA ALLAH.

Aqidah menuntun hati manusia kepada pembenaran kekuasaan tunggal Allah secara absolut.

Aqidah ini membimbing hati manusia merasakan nikmat rasa aman dan tentram dalam mencapai Nafsul Mutmainnah dengan segala sifat-sifat utama.

Manusia berjiwa bersih (muthmainnah) selalu memenuhi janjinya terhadap Allah, dan melaksanakan semua perintah Allah secara konsekwen.

Konsistensi, atau ke-istiqamah-an membentuk manusia patuh dan taat dalam mengamalkan syari’at Islam secara tidak terputus ibarat akar dengan pohonnya.
Maka hakikinya tanpa aqidah tidak ada artinya seorang muslim.

Aqidah Islamiyah ialah Iman kepada Allah dengan mengakui eksistensiNya (wujudNya).

Ibadah bermakna secara konsisten penuh keikhlasan melaksanakan perintah-perintah Allah tanpa reserve.

Konsistensi aqidah tauhid bersedia meninggalkan apa saja bentuk larangan dari Allah, dengan sikap ketaatan dan disiplin diri, karena mencari redha Allah.

Sikap tawakkal adalah konsekwensi dari ikhtiar dan usaha sesuai keyakinan tauhid.

Tawakkal dan ikhtiar usaha selalu jalan seiring.
Keduanya berjalin berkulindan merupakan mekanisme terpadu dalam kerangka kekuasaan Allah Yang Maha Agung.

Keyakinan tauhid mengajarkan kesadaran mendalam bahwa Allah selalu ada di samping manusia.

Keyakinan tauhid mampu menepis rasa takut dan menghapus gentar dalam menghadapi resiko hidup.

Hilangnya aqidah tauhid melahirkan fatalistis atau bersikap apatis dan pesimis.
Keyakinan tauhid, adalah kekuatan besar dari energi ruhaniah yang mendorong manusia untuk hidup inovatif.

MEMBANGUN SDM MENJADI SDU
Kita berkewajiban membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi Sumber Daya Umat (SDU) yang berciri kebersamaan dengan nilai berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas.

Beberapa model perlu dikembangkan di kalangan para pendidik, seperti ; pemurnian wawasan fikir, kekuatan zikir, penajaman visi, perubahan melalui ishlah atau perbaikan, mengembangkan keteladanan uswah hasanah, sabar, benar, memupuk rasa kasih sayang, dan pendalaman spiritual religi.

Menguatkan solidaritas beralaspijak kepada iman dan adat istiadat luhur, “nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”. Intensif menjauhi kehidupan materialistis, “dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.

KHATIMAH

1. Menetapkan langkah kedepan ;
a. pembinaan human capital dengan keluasan ruang gerak mendapatkan pendidikan,
b. pembinaan generasi yang memiliki jati diri, padu dan lasak, integreted inovatif.
c. mengasaskan agama dan akhlak sebagai dasar pendidikan pada anak sejak usia dini.
d. mencetak anak-anak muslim berilmu yang benar, beriman taqwa.
e. membina wawasan yang menyatu dengan akidah, budaya bangsa, dan bahasa.
f. mewujudkan masyarakat yang berasas keadilan sosial yang jelas.

2. Mengokohkan pegangan umat dengan keyakinan dasar Islam sebagai suatu cara hidup yang komprehensif.

3. Menyebarkan budaya wahyu di atas kemampuan akal.

4. Meyakini Peran krusial Ajaran Islam, bahwa kemenangan hanya disisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS.8, Al-Anfal : 9-10).

5. Generasi penerus harus taat hukum, dapat dilakukan dengan cara ;
a. memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga,
b. memperkokoh peran orang tua, ibu bapak ,
c. pemeranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif,
d. memperkaya warisan budaya, setia, cinta dan rasa tanggung jawab patah tumbuh hilang berganti
e. menanamkan aqidah shahih (tauhid), dan istiqamah pada agama yang dianut,
f. menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur.
g. menanamkan kesadaran, tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah
h. penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam
i. melazimkan musyawarah dengan disiplin, sebagai nilai puncak budaya Islam yang benar.

Budaya adalah wahana kebangkitan bangsa.

Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya.
Sesuatu akan selalu indah selama benar.

Demikianlah semoga Allah senantiasa Meridhai.

Wabillahit taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wa barakatuh,

Comments (2)