Archive for April 11, 2008

Pengembangan Pariwisata Berbasis Nagari di Sumbar

Nagari

Pariwisata Sumbar Berbasis Nagari
Antara Potensi dan Nilai-nilai
Adat dan Agama

Oleh Buya H. Mas’oed Abidin

Pendahuluan

Dari mana akan kita mulai ???

Pertanyaan ini mengusik kita untuk mendahului.

Padahal sebelumnya, kita sudah berada di depan.
Tapi tidak pernah mencapai garis finish.

Allah telah mentakdirkan kita sebagai satu kaum yang menempati dataran tinggi dan dataran rendah.

Berbukit, berlurah, dihiasi tebing dan munggu.
Sungainya mengalir melingkar membalut negeri, seperti Batang Sianok diam - diam mengalir terus. Ditingkah gemercik air menimpa dedaunan di pagi hari.
Juga sungai-sungai besar, seperti Batang Masang, Batang Sinamar, Hulu Batang Kampar, Pertemuan Lolo di Pasaman Timur dan segitiga perbatasan 50 Kota, Pasaman dan Muara Mahat.

Airnya tetap mengalir terus. Bila hujan tidak turun, embun tetap menyuburkan tanah.

Di kelilingnya didapati sawah berjenjang, ladang berbintalak.
Diapit gunung menjulang tinggi, di kawal Singgalang dan Merapi. Sago, Tandikat, Talang dan Talamau. Indah menjulang.

Danau Maninjau airnya biru, tampak nan dari Embun Pagi..
Singkarak luas beriak, kadang berombak kecil memecah ke tepi danau, di Ombilin, Sumpur, dan tepian Singkarak.

Danau Di Atas dan Danau Di Bawah, sikembar biru yang mengasyikkan bagi mata yang memandang.
Sungguhpun risau sering mengganggu, kampung halaman selalu menanti.
Indah sekali !!!

Lautnya, jangan disebut lagi. Yang tenag menghempas pantai, ada di Sasak dan Air Bangis. Yang menggila menghempas pulau ada di Mentawai. Berpuluh pulau mengitari.
Pantai Cerocok, Pantai Padang, Pantai Mandeh, Pantai Tiku dan Pariaman siap pula menanti.

Alam yang indah karunia Ilahi ini, seakan “qith’ah minal jannah fid-dunya”, sepotong sorga tercampak kebumi.
Mengundang orang yang datang berdecak kagum.

Keindahan alam ini, bertambah cantik, karena ada pagar adat yang kuat dan agama yang kokoh.

Tampak dalam tata pergaulan dan sikap laku sejak dahulu.
Masyarakatnya ramah. Peduli dengan anak dagang.
Pendidikannya maju.

Dengan negeri ribuan dokter, dan para ahli.

Di dataran tingginya, ditemui pula Parabek dan Canduang.
Tempat bermukim para penuntut ilmu dari seluruh penjuru. Dulu…
Bahkan dari Malaysia, Brunei, Thailand dan Pattani.

Di samping dari seluruh Nusantara, bahkan dari Aceh, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.

Di sini pula didapati satu-satunya Kwik School, sekolah guru, kata orang doeloe, yang melahirkan banyak pujangga dan pendidik. Termasuk St. Takdir Alisyahbana dan Asrul Sani yang terkenal itu.

Dari halamannya tempat bermain para cendekiawan, Agus Salim, Hatta, Syahrir, Natsir, Assaat, Rasyid Manggis, Rosihan Anwar, Muhamad Yamin, Adinegoro, dan sederetan nama yang panjang, yang dikenal menjadi negarawan yang diakui.

Dan ini adalah bahagian dari kaba itu.

Bila kaba ini ingin di lanjutkan pula.
Yang bersua adalah hidup anak negeri berpagarkan nilai-nilai.

Nilai-nilai Adat dan Syarak.

Sebagai masyarakat beradat dengan pegangan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat itu yang telah memberikan pelajaran-pelajaran besar. Antara lain:

1). Bekerja:

Ka lauik riak mahampeh. Ka karang rancam ma-aruih.
Ka pantai ombak mamacah. Jiko mangauik kameh-kameh.
Jiko mencancang, putuih – putuih. Lah salasai mangko-nyo sudah.

Artinya setiap yang dilakukan haruslah program oriented.
Sama sekali bukanlah kemauan perseorangan (orientasi personal) semata.
Sejak dari perencanaan hingga sasaran yang hendak dicapai terpolarisasi melalui persilangan pendapat masyarakat ditempat mana program itu akan dilaksanakan.

2). Caranya:
Senteng ba-bilai, Singkek ba-uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo.

Artinya, ada kesamaan visi dan kesediaan kontrol.

Anggang jo kekek cari makan, Tabang ka pantai kaduo nyo, Panjang jo singkek pa uleh kan, mako nyo sampai nan di cito,

Artinya, harus dihidupkan kerja sama, tidak hanya sebatas sama bekerja.

Adat hiduik tolong manolong, Adat mati janguak man janguak, Adat isi bari mam-bari, Adat tidak salang ma-nyalang,

Maknanya, kesediaan investasi mensukseskan misi yang ada pada visi yang sama.

• Karajo baiak ba-imbau-an, Karajo buruak bahambau-an.

Tiada lain yang diminta adalah terjalinnya network yang sempurna.

• Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang, Satitiak jadikan lauik, Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru.

Dipastikan adanya satu kearifan, membaca setiap perubahan dalam membuat satu estimasi.

• Jiko mangaji dari alif, Jiko babilang dari aso, Jiko naiak dari janjang, Jiko turun dari tanggo.

Adanya prinsip taat asas, dan terjaminnya law enforcement, pelaksanaan program pada koridor yang tepat.

• Pawang biduak nak rang Tiku, Pandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Di sinan api mangko hiduik

Dituntut adanya kesepahaman akan adanya keberagaman usaha, yang satu sama lain terikat, terkait dan saling mendukung, serta sustainable.

Handak kayo badikik-dikik, Handak tuah batabua urai, Handak mulia tapek-i janji, Handak luruih rantangkan tali, Handak buliah kuat mancari, Handak namo tinggakan jaso, Handak pandai rajin balaja.

Kaedah ini tiada lain adalah penerapan dinamika kehidupan masyarakat yang inovatif, kreatif, yang sangat diperlukan untuk pengembangan daerah dalam menggali potensinya.

• Dek sakato mangkonyo ado, Dek sakutu mangkonyo maju, Dek ameh mangkonyo kameh, Dek padi mangkonyo manjadi.

Arti yang lebih menukik adalah kooperatif.
Maka sikap koperatif ini adalah warisan budaya Minangkabau.

Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu, Nan gurun buek kaparak. Nan bancah jadikan sawah, Nan munggu pandam pakuburan, Nan gauang katabek ikan, Nan padang kubangan kabau, Nan rawang ranangan itiak.

Makna yang lebih dalam adalah berlakunya prinsip-prinsip ekonomi pembangunan secara makro dan mikro, dengan berwawasan lingkungan.

• Alah bakarih samporono, Bingkisan rajo Majopahik, Tuah basabab bakarano, Pandai batenggang di nan rumik.

Modal utama untuk siap bersaing dan bertanding disaat AFTA-2003, persaingan global dan akan diterapkannya borderless-community system itu

Latiak-latiak tabang ka Pinang. Hinggok di Pinang duo-duo, Satitiak aie dalam piriang, Sinan bamain ikan rayo.

Ada suatu unggulan yang sangat spesifik dan mendorong kepada optimisme yang tinggi.
Lebih egaliter, tak pernah mau dikalahkan.
Konsekwensinya, adalah siap tampil dengan keungulan.
Tidak hanya semata tampil beda.

3). Kemakmuran :

Rumah gadang gajah maharam, Lumbuang baririk di halaman, Rangkiang tujuah sajaja. Sabuah si bayau-bayau, Panenggang anak dagang lalu. Sabuah si Tinjau lauik, Birawati lumbuang nan banyak, Makanan anak kamanakan.

Makmur tidak milik satu orang.
Kemakmuran akan terpelihara bila keamanan terjamin.
Semua orang dapat menimati kemakmuran secara patut dan pantas dalam keserta-mertaan. Dalam pengembangan setiap usaha, sangat diperlukan pemerataan penghasilan.

Manjilih ditapi aie, Mardeso di paruik kanyang.

4). Perhatian dengan penuh kehati-hatian sangatlah penting.

Ingek sabalun kanai, Kulimek balun abih,
Ingek-ingek nan ka-pai. Agak-agak nan ka-tingga.

Bila diunut sejak awal, jelas di sini ada satu mental climate yang subur.
Bila pandai menggunakannya dengan tepat, akan banyak sekali membantunya dalam usaha membangun anak nagari dan kampung halaman.

Lah masak padi ‘rang singkarak, masaknyo batangkai-tangkai, satangkai jarang nan mudo. Kabek sabalik buhua sontak, Jaranglah urang nan ma-ungkai, Tibo nan punyo rarak sajo.

Artinya diperlukan orang-orang yang ahli dibidangnya untuk menatap setiap peradaban yang tengah berlaku.

Melupakan atau mengabaikan ini, lantaran menganggap sebagai barang kuno, yang harus dimasukkan kedalam museum, di zaman modernisasi sekarang, ini berarti satu kerugian.

Sebab berarti mengabaikan satu partner “yang amat berguna” dalam pembangunan masyarakat dan negara.

Nilai Agama

“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka ? (Pada hal), Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri mereka sendiri.
Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-olokkannya” (QS.30, Ar-Rum, ayat 9-10).

Sekarang, kita tengah menyaksikan satu kondisi terjadinya pergeseran pandangan masyarakat dunia dewasa ini.

Maka masyarakat Minang, khususnya di Luhak Agam yang umatnya seratus prosen Islam wajib berperan aktif ke depan.

Dengan upaya menjadikan firman Allah sebagai aturan kehidupan.

Melaksanakan secara murni konsep agama dalam setiap perubahan. Agar peradaban kembali gemerlapan.

Berpaling dari sumber kekuatan murni, Kitabullah dan Sunnah Rasul, dengan menanggalkan komitmen prinsip syar’i dan akhlak Islami, akan berakibat fatal untuk Ranah Bundo yang didiami banyak umat Islam, dan bahkan mengundang benaca bagi penduduk bumi.

Pada gilirannya umat Islam akan menjadi santapan konspirasi dari kekuatan asing.

Konsekwensinya adalah wilayah yang sudah terpecah akan sangat mudah untuk dikuasai.

Kembali kepada watak Islam tidak dapat ditawar-tawar lagi.
Bila kehidupan manusia ingin diperbaiki.
Dan bila pariwisata akan di benahi di ranah ini.

Tuntutan kedepan agar umat lahir kembali dengan iman dan amal nyata dalam ikatan budaya (tamaddun).

• Tatanan masyarakat harus dibangun diatas landasan persatuan (QS.al-Mukminun:52).
• Mayarakat mesti ditumbuhkan dibawah naungan ukhuwwah (QS.al-Hujurat:10).
• Anggota masyarakatnya didorong hidup dalam prinsip ta’awunitas (kerjasama) dalam al-birri (format kebaikan) dan ketakwaan (QS.al-Maidah:2).
• Hubungan bermasyarakat didasarkan atas ikatan mahabbah (cinta kasih), sesuai sabda Rasul: “Tidak beriman seorang kamu sebelum mencintai orang lain seperti menyayangi diri sendiri”.
• Setiap masalah diselesaikan dengan musyawarah (QS.asy-Syura:38).
• Tujuan akhirnya, penjelmaan satu tatanan masyarakat yang pantang berpecah belah (QS.Ali Imran:103).

Rahasia keberhasilan adalah “tidak terburu-buru” (isti’jal) dalam bertindak.
Tidak memetik sebelum ranum.
Tidak membiarkan jatuh ke tempat yang dicela.
Kepastian amalan adanya husnu-dzan (sangka baik) sesama umat.

Mengiringi semua itu adalah tawakkal kepada Allah.

Dalam tatanan berpemerintahan, kekuasaan akan berhasil jika menyentuh hati nurani rakyat banyak, sebelum kekuasaan itu menjejak bumi.

Ukurannya adalah adil dan tanggap terhadap aspirasi yang berkembang.

Takarannya adalah kemashlahatan umat banyak.

Kemasannya adalah jujur secara transparan.

Kekuatan hati (dhamir) penduduk (rakyat) terletak pada ditanamkannya kecintaan yang tulus.

Menghidupkan energi ruhanik lebih didahulukan sebelum menggerakkan fisik umat.
Titik lemah umat karena hilangnya akhlaq, moralitas Islami.

Enggan memahami syari’at, berakibat hilangnya kecintaan (kesadaran) terhadap Islam.
Lahirnya radikalisme, berlebihan dalam agama, menghapuskan watak Islam.

Tidak menghormati hubungan antar manusia, merupakan kebodohan pengertian terhadap prinsip sunnah.
Akibatnya adalah tindakan merusak (anarkis).

Potensi Pariwisata Di Sumatera Barat

1. Keindahan Alamnya sangat potensial. Indah. Sangat indah.
Menjadi alat promosi pariwisata internasional.
Sudahkah dicatatkan sebagai trade mark ???

2. Adatnya kokoh. Contoh di Luhak nan Tigo.
Masih tersimpan dalam prilaku empat jinih di nagari.
Masihkah masyarakat Minang tahu di nan ampek ???

3. Agamanya kuat. Banyak sekolah, madrasah yang berkualitas.
Sebab promosinya sudah lama dikenal.
Problematikanya, kenyataan bahwa jalinan ini mulai mengendur.
Karena pergeseran nilai-nilai.
Akibatnya, kita kehilangan salah satu asset yang amat potensial.
Apa upaya mendudukkannya kembali ???

4. Rakyatnya rajin. Bagaimana memelihara dan memacunya ???

5. Setiap daerah memiliki keunggulan. Dari segi makanan, ada Rinuak Maninjau, Bilih Singkarak, Sanjai Bukittinggi, Pisang Pasaman, Daun Kahwa dari Pagadih, Randang Koto Tuo, Kue Kacang dari Biaro, Sarang Balam dari Batagak, Bika dari Batu Palano, Kue Sangko dari Sungai Puar, Saka Lawang dan Sungai Landir, Nasi Kapau dari Tilkam. Banyak sekali potensi yang bisa dijual. Siapakah yang menjualnya sekarang ???

6. Setiap desa ada produk. Jauh sebelum Jepang menerapkan “one village one product”.
Sudah terkenal Tenunan Pandai Sikek (Batagak), Kerajinan emas (Guguak Tinggi,
Guguak Randah), Silver Work (Kotogadang), Konveksi (IV Angkat), Kerajinan Besi
(Sungai Puar), Tarawang (IV Angkat), Suji (Kamang dan Tilatang).
Tugas kedepan, adalah mebuat perubahan program dari memperdayakan kepada
memberdayakan.

Mampukah kita ???

Kesimpulan

Pariwisata, mengundang orang untuk melihat apa yang tidak ada pada mereka.

Pariwisata yang berhasil adalah yang menyajikan produk wisata yang bisa mengasilkan pendapatan anak nagari.
Mendorong mereka untuk hidup, dan memberi hidup.

Pariwisata menyajikan produk yang belum atau tidak dimiliki orang lain (produk unggulan).

Semuanya itu, memerlukan kesiapan-kesiapan antara lain ;

1. Melibatkan seluruh unsur anak nagari berprilaku yang menarik.

2. Melibatkan kembali semua anak nagari memakaikan adat dan agama yang terjalin erat
dan rapi.
Sehingga menjadi bahan penelitian bagi orang lain. Contoh dinegeri orang,
seperti di Bali, Brunei, Malaysia, India, yang melaksanakan apa yang kita sebutkan
“indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan”, yaitu budaya dan tamaddun.

3. Pariwisata yang akan lama bertahan dimasa mendatang, di abad keduapuluh satu ini,
adalah wisata budaya, alam, spiritual, ilmu pengetahuan, di samping situs-situs peninggalan
lama.
Di Luhak Nan Tigo, Pasaman, Lunang dan Darmasraya masih tersimpan semuanya itu.
Lebih jauh, akan lahir dengan sendirinya para peneliti, kolektor potensi-potensi budaya
tersebut.

4. Latihan pemandu wisata, yang beradat dan beragama menjadi satu yang sangat utama
sebagai pendukung pariwisata di Sumatera Barat, Ranah Budaya Minangkabau.

5. Event-event Internasional,
• Pertemuan pelukis sketsa Manca Negara dikaki Merapi, Singgalang,
Embun Pagi Danau Maninjau, Singkarak, Danau Kembar, Mentawai dan lainnya.
• Pencak Silat Harimau Campo Luhak Agam,
• Layang-layang seperti Jepang atau Thailand,
• Festival tari, folk-lore, dan sejenisnya.

Dan banyak lagi yang bisa digali secara kreatif.

Akhirulkalam, gagasan ini sesungguhnya bisa dikembangkan dalam scope yang lebih luas di seluruh daerah Minangkabau, sebagai asset pariwisata Sumatera Barat.

Insya Allah. Menyambut VIY 2008 dan sepanjang tahun-tahun sesudahnya.

Wabillahit taufiq wal hidayah.

Comments

Pesan Rang Gaek

Pesan Rang Gaek

Kasuri Tuladan Kain, Kacupak Tuladan Batuang
Falsafah Pakaian Pangulu
Untua Dipakai Hiduik Banagari

Disampaikan oleh Buya H. Mas’oed Abidin

Sakapua Siriah, Pengantar kata

Kaganti siriah nan sakapua –
umpamo rokok nan sabatang –
tacinto bajawek tangan –
jo diri dunsanak nan basamo –
kok untuang pambari Allah –
kasuri tuladan kain –
kacupak taladan batuang –

Ibdonesianya,
Akan ganti sekapur sirih, umpama rokok yang sebatang, maksud hendak berjabatan tangan, dengan masing-masing diri dunsanak bersama Jika ada untung pemberian Allah, akan menjadi suri teladan kain, menjadi cupak teladan acuan bersama.

Tulisan nan ambo buekko –
sabab ba alah dek baitu –
aluran badan diri ambo –
tantangan tulih manulih –
aka singkek pandapek kurang –
ilimu di tuhan tasimpan nyo –
tapi samantangpun baitu –
bapalun paham nan haluih –
dek ujuik manantang bana –
jan kalah sabalun parang –
dipabulek hati nurani –
untuang tasarah bagian –
walau ka angok angok ikan –
bogo ka nyawo nyawo patuang –
patah kapak batungkek paruah –
namun nan niaik dalam hati –
mungkasuik tatap basampaian –

Jika di ungkapkan dalam bahasa Indonesia, isinya kira-kira sebagai berikut ; (Tulisan yang hamba bikin ini, sebab karenanya, setentang badan diri, sehubungan tulis menulis, akal masih pendek dan pendapat masih kurang, ilmu di Tuhan tersimpannya.

Tapi, sungguhpun demikian, bersimpul keinginan yang halus, karena ingin mengujudkan yang benar, agar jangan kalah sebelum perang, di bulatkan hati nurani, untuang terserah pada bagian (nasib).

Walau sangat susak sebagai ikan bernafas, walau dalam keadaan sulit bernafas sekalipun, patah sayap bertongkat paruh, namun yang tersirat di dalam hati, maksud tetap akan disampaikan).

Dalam ungkapan bahasa budaya Minangkabau ini, tampak jelas bahwa ada ada pengakuan dan sekaligus rasa tawadhu’ atau tidak menyombongkan diri, bahwa sebagai manusia ilmu tetap kurang.

Yang maha berilmu itu hanya Allah semata sebagai di ungkapkan “aka singkek pandapek kurang – ilimu di tuhan tasimpan nyo – artinya, akal masih pendek dan pendapat masih kurang, ilmu di Tuhan tersimpannya.”

Pengakuan terhadap kekurangan diri ini menjadikan seseorang tetap berupaya untuk maju.

Dorongan untuk berbuat lebih baik itu, terungkap di dalam kalimat “tapi samantangpun baitu – bapalun paham nan haluih – dek ujuik manantang bana – jan kalah sabalun parang – jan kalah sabalun parang – dipabulek hati nurani – untuang tasarah bagian –.

Maknanya sungguhpun banyak kekuarangan dan keterbatasan yang dipunyai, ada bersimpul keinginan yang halus yang ternukil dalam nurani, karena ingin mengujudkan yang benar, agar jangan kalah sebelum perang, di bulatkan hati nurani, untung terserah pada bagian (nasib)”.

Di sini kita lihat ada pemahaman dan tekad yang bulat hendak meraih keberhasilan mesti diikuti oleh tawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kesadaran akan kekurangan diri, manakala memiliki tekad kuat di dalam hati, diiringi dengan usaha sekuat tenaga untuk meujudkan keinginan hati tersebut, serta dipandu oleh tawakkal kepada Allah, adalah modal utama untuk maju.

Di sini terletak nilai kearifan lokal Minangkabau, agar setiap generasi itu memikili cita-cita tinggi, rajin bekerja, dan bertawakkal kepada Allah.

Di cubo juo bagulambek –
hanyo harapan dari ambo –
kapado dunsanak bakuliliang –
kok basuo kalimaik nan ndak jaleh –
titiak jo koma nan salah latak –
usah dicacek langkah sumbang –
sabab baitu kato ambo –
dalam diri ambolah yakin –
sadonyo dunsanak nan datangko –
tantu bakandak tabu nan manih –
kok tabu tibarau tasuo –
itu nan ado diambo –
pado manjadi upek puji –
jan jatuah dihimpok janjang –
nak jan mambarek ka akiraik –
ambo nak mintak di ma’afkan.

Indonesianya
(Dicoba pelan-pelan berangsur-angsur, menjadi harapan dari hamba, kepada dunsanak sekeliling, jika bertemu kalimat yang tidak jelas, titik dan koma salah letak, janganlah di cari langkah yang sumbang letaknya.

Sebab demikian harapan hamba, dalam diri hamba ada keyakinan, bahwa semua dunsanak yang datang ini, tentu semua berkehendak tebu yang manis.

Kalau tebu tibarau, yang tersua, karena itulah yang ada pada hamba.

Daripada menjadi umpat puji, agar jangan jatuh ditimpa tangga, agar jangan memberati di akhirat, hamba lebih dahulu hendak meminta dimaafkan).

Dalam bertutur kata ada kaidah di Minangkabau “bakato di bawah-bawah” yang mengandung makna ada keharusan tidak boleh membanggakan diri.

Kearifan ini adalah termasuk ajaran syarak, yaitu “kullu dzi ‘ilmin ‘alimun” artinya setiap yang berilmu, masih ada yang lebih berilmu.

Dalam ungkapan keseharian kini disebutkan, di atas langit masih ada langit.
Takabur dan menyombongkan diri satu sikap tercela di dalam tata pergaulan Masyarakat Adat.

Sikap tawadhu’ atau tidak menyombongkan diri itu, terlihat dari cara berucap dan menyampaikan maksud tujuan.

Di sini kita melihat kekuatan kata di Minangkabau itu.

Seperti di ungkapkan di atas, kita belum tentu dapat memenuhi kehendak semua orang. Walau semua orang yang datang mengharapkan sesuatu yang menyenangkan dan memuaskan hatinya.

Seperti di ungkapan “sadonyo dunsanak nan datangko – tantu bakandak tabu nan manih”

Adalah satu keniscayaan bahwa semua semua berkehendak tebu yang manis.

Namun dalam realita kehidupan, tidak semuanya manis.
Ada juga yang hambar tidak berasa.

Di sinilah terletak kearifan itu, bahwa “ kok tabu tibarau tasuo – itu nan ado diambo –.
Kalau tebu tibarau, yang tersua, karena itulah yang ada pada hamba.

Agar tida terjadi umpatan, yang dapat berakibat kepada putusnya hubungan atau rusaknya kekeluargaan dan kekerabatan, maka rela dan maaf sangat diperlukan.

Umumnya orang akan memulai pembicaraannya dengan kalimat seperti di ungkapan ini, “pado manjadi upek puji – jan jatuah dihimpok janjang – nak jan mambarek ka akiraik – ambo nak mintak di ma’afkan”.

Kemaafan berkaitan erat dengan kebahagiaan di dunia, karena hubungan silaturahim tetap baik, dan di akhirat juga mendapatkan pahala.

Kalimat ini, menjadi bukti bahwa di dalam bertutur kata, orang Minangkabau tidak semata memikirkan wujud duniawi semata, tapi juga berfikir untuk kehidupan akhiratnya.

(bersambung Insya Allah)

Wassalamu’alaikum Wa rahmatullahi wa barakatuh.

Comments (1)

Memperkuat Posisi Nagari, dalam Syarak Mangato Adat Mamakai

Nagari

MEMPERKUAT POSISI NAGARI
DALAM MENJALANKAN
SYARAK MANGATO ADAT MAMAKAI

Oleh : H. Mas’oed Abidin

UPAYA untuk memperkuat posisi Nagari, secara syarak banyak tuntutan yang mestinya dilakukan, diantaranya mengetahui kelemahan dan kemampuan yang dimiliki oleh nagari itu. Selain itu diperlukan pula upaya pemetaan tata ruang yang jelas terhadap langkah-langkah yang perlu dilakukan. Untuk lebih jelasnya, kita lihat bahasan berikut ini.
1. MENGGALI POTENSI NAGARI
TUGAS kembali ke Pemerintahan Nagari, sesungguhnya adalah menggali kembali potensi dan asset nagari – yang terdiri dari budaya, harta, manusia, dan agama anutan anak nagari –, karena apabila tidak digali, akan mendatangkan kesengsaraan baru bagi masyarakat nagari itu. Kerja ini semestinya dimulai dengan menghimpun dan memanggil potensi yang ada dalam unsur manusia di dalam masyarakat nagari.
Kesadaran akan benih-benih kekuatan yang ada dalam diri masing-masing digerakkan dan dikembangkan dengan cara-cara yang lazim dan tidak terpaksa, yaitu melalui ; observasinya dipertajam, daya pikirnya ditingkatkan, daya geraknya didinamiskan , daya ciptanya diperhalus, daya kemauannya dibangkitkan, kemudian menumbuhkan dan mengembalikan kepercayaan kepada diri sendiri.
Handak kayo badikik-dikik, Handak tuah batabua urai,
Handak mulia tapek-i janji, Handak luruih rantangkan tali,
Handak buliah kuat mancari, Handak namo tinggakan jaso,
Handak pandai rajin balaja.
Dek sakato mangkonyo ado, Dek sakutu mangkonyo maju,
Dek ameh mangkonyo kameh, Dek padi mangkonyo manjadi.”.

Tujuannya harus sampai kepada taraf yang memungkinkan untuk mampu berdiri sendiri dan membantu nagari tetangga secara selfless help, dengan memberikan bantuan dari rezeki yang telah kita dapatkan tanpa mengharap balas jasa, “Pada hal tidak ada padanya budi seseorang yang patut dibalas, tetapi karena hendak mencapai keredhaan Tuhan-Nya Yang Maha Tinggi”. (Q.S. Al Lail, 19 - 20).
Walaupun di depan mata terpampang jelas ada kendala-kendala, namun optimisme banagari mesti selalu dipelihara ;
“Alah bakarih samporono, Bingkisan rajo Majopahik,
Tuah basabab bakarano, Pandai batenggang di nan rumik”.

Sebagai masyarakat nagari yang hidup dengan pegangan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat akan dipertajam makna dan fungsinya oleh kuatnya peran surau yang memberikan pelajaran-pelajaran sesuai dengan syara’ itu, antara lain dapat di ketengahkan ;
1. Mengutamakan prinsip hidup berkeseimbangan
Hukum Syara’ menghendaki keseimbangan antara perkembangan hidup rohani dan jasmani. “Sesungguhnya jiwamu (rohani-mu) berhak atas kamu (supaya kamu pelihara) dan badanmu (jasmanimu) berhak atasmu supaya kamu pelihara” (Hadist).
Keseimbangan akan tampak dalam mewujudkan kemakmuran di ranah ini,
“Rumah gadang gajah maharam,
Lumbuang baririk di halaman,
Rangkiang tujuah sajaja,
Sabuah si bayau-bayau,
Panenggang anak dagang lalu,
Sabuah si Tinjau lauik,
Birawati lumbuang nan banyak,
Makanan anak kamanakan.

Manjilih ditapi aie,
Mardeso di paruik kanyang”.

Sesuai bimbingan syara’, “Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya” (Hadist).

2. Kesadaran kepada luasnya bumi Allah, merantaulah !
Allah telah menjadikan bumi mudah untuk digunakan. Maka berjalan atau merantau di atas permukaan bumi, dan makanlah dari rezekiNya dan kepada Nya tempat kembali, telah lama menjadi pegangan hidup anak nagari di Minangkabau. “Maka berpencarlah kamu diatas bumi, dan carilah karunia Allah dan (di samping itu) banyaklah ingat akan Allah, supaya kamu mencapai kejayaan”, (QS.62, Al Jumu’ah : 10).
Agar supaya “jangan tetap tertinggal dan terkurung dalam lingkungan yang kecil”, dan sempit (QS.4, An Nisak : 97).
Karatau madang di hulu babuah babungo balun.
Marantau buyuang dahulu di rumah paguno balun.

3. Mencari nafkah dengan “usaha sendiri”
Memiliki jati diri, self help dengan tulang delapan kerat sekalipun “lebih terhormat”, daripada meminta-minta dan menjadi beban orang lain, “Kamu ambil seutas tali, dan dengan itu kamu pergi kehutan belukar mencari kayu bakar untuk dijual pencukupkan nafkah bagi keluargamu, itu adalah lebih baik bagimu dari pada berkeliling meminta-minta”. (Hadist).
` Pemahaman hadist ini melahirkan sikap kemandirian, bahwa setiap anak nagari paling berkepentingan memajukan nagarinya. Nagari yang maju berkewajiban membantu kemajuan nagari tetangga, karena telah diikat oleh kaedah barek sapikua, riangan sajinjiang (mutual help), dan karena setiap nagari tetangga telah dipertautkan oleh pengalaman sejarah adaik salingka nagari dan kekerabatan.
Maka membiarkan diri hidup di dalam kemiskinan tanpa berupaya adalah salah , “Kefakiran (kemiskinan) membawa orang kepada kekufuran (ke-engkaran)” (Hadist).
4. Tawakkal dengan bekerja dan tidak boros.
Tawakkal, bukan “hanya menyerahkan nasib” dengan tidak berbuat apa-apa, “Bertawakkal lah kamu, seperti burung itu bertawakkal” (Atsar dari Shahabat). Tak ada kebun tempat bertanam, tak ada pasar tempat berdagang. Tak kurang, setiap pagi terbang meninggalkan sarangnya dalam keadaan lapar, dan setiap sore kembali dalam keadaan “kenyang”. Ditanamkan pentingnya kehati-hatian,
“Ingek sa-balun kanai,
Kulimek sa-balun abih,
Ingek-ingek nan ka-pai,
Agak-agak nan ka-tingga”.

5. Kesadaran kepada ruang dan waktu
Peredaran bumi, bulan dan matahari, pertukaran malam dan siang, menjadi bertukar musim berganti bulan dan tahun, “Kami jadikan malam menyelimuti kamu (untuk beristirahat), dan kami jadikan siang untuk kamu mencari nafkah hidup”. (QS.78, An Naba’ : 10-11), dan menanamkan kearifan akan adanya perubahan-perubahan.
Yang perlu dijaga ialah supaya dalam segala sesuatu harus pandai mengendalikan diri, agar jangan melewati batas, dan berlebihan,
“Ka lauik riak mahampeh,
Ka karang rancam ma-aruih,
Ka pantai ombak mamacah.
Jiko mangauik kameh-kameh,
Jiko mencancang, putuih – putuih,
Lah salasai mangko-nyo sudah”.

Artinya bekerja sepenuh hati, dengan mengerahkan semua potensi yang ada, dengan tidak menyisakan kelalaian ataupun ke-engganan.
Tidak berhenti sebelum sampai, dan tidak berakhir sebelum benar-benar sudah.

2. KONSEP TATA RUANG YANG JELAS
NAGARI di Minangkabau berada di dalam konsep tata ruang yang jelas,
Basasok bajarami,
Bapandam bapakuburan,
Balabuah batapian,
Barumah batanggo,
Bakorong bakampuang,
Basawah baladang,
Babalai bamusajik.
Ba-balai (balairuang atau balai-balai adat) tempat musyawarah dan menetapkan hukum dan aturan.
“ Balairuang tampek manghukum,
ba-aie janieh basayak landai,
aie janiah ikan-nyo jinak,
hukum adie katonyo bana,
dandam agiae kasumaik putuih,
hukum jatuah sangketo sudah”.

Ba-musajik atau ba-surau tempat beribadah.
“Musajik tampek ba ibadah,
tampek balapa ba ma’ana,
tampek balaja al Quran 30 juz,
tampek mangaji sah jo batal” ,

Artinya menjadi pusat pembinaan umat untuk menjalin hubungan bermasyarakat yang baik (hablum-minan-naas) dan terjaminya pemeliharaan ibadah dengan Khalik (hablum minallah), maka adanya balairuang dan musajik (surau) ini menjadi lambang utama terlaksananya hukum dalam “adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah., syara’ mangato adat nan kawi syara’ nan lazim”.
Kedua lembaga ini – balai adat dan surau – keberadaannya tidak dapat dipisah dan dibeda-bedakan.
“Pariangan manjadi tampuak tangkai,
pagarruyuang pusek Tanah Data,
Tigo luhak rang mangatokan.
Adat jo syara’ jiko bacarai,
bakeh bagantuang nan lah sakah,
tampek bapijak nan lah taban”.

Apabila kedua konsep yang membentuk prilaku anak nagari di Minangkabau ini, yakni adat dan syarak telah berperan sempurna, maka akan ditemui di kelilingnya tampilan kehidupan masyarakat yang memiliki akhlak perangai terpuji dan mulia atau memiliki akhlakul-karimah.
“Tasindorong jajak manurun,
tatukiak jajak mandaki,
adaik jo syara’ kok tasusun,
bumi sanang padi manjadi”.

Konsep tata-ruang yang memungkinkan umat dibentuk prilakunya ini adalah salah satu kekayaan budaya yang sangat berharga di nagari dan bukti idealisme nilai budaya di Minangkabau, termasuk di dalam mengelola kekayaan alam dan pemanfaatan tanah ulayatnya.
“Nan lorong tanami tabu,
Nan tunggang tanami bambu,
Nan gurun buek kaparak,
Nan bancah jadikan sawah,
Nan munggu pandam pakuburan,
Nan gauang katabek ikan,
Nan padang kubangan kabau,
Nan rawang ranangan itiak”.

Tata ruang yang jelas memberikan posisi peran pengatur, pemelihara dan pendukung sistim banagari yang terdiri dari orang ampek jinih yaitu, ninik mamak , alim ulama , cerdik pandai , urang mudo , bundo kanduang .
3. WILAYAH KESEPAKATAN
Dengan demikian, nagari di Minangkabau tidak hanya sebatas pengertian ulayat hukum adat namun yang lebih mengedepan dan paling utama adalah wilayah kesepakatan antar berbagai komponen masyarakat di dalam nagari dengan spiritnya adalah ;
a. Kebersamaan (sa-ciok bak ayam sa-danciang bak basi), ditemukan dalam pepatah
“Anggang jo kekek cari makan,
Tabang ka pantai kaduo nyo,
Panjang jo singkek pa uleh kan,
mako nyo sampai nan di cito.”
b. Keterpaduan (barek sa-pikua ringan sa-jinjiang) yang diperlihatkan dalam kaedah,
“Adat hiduik tolong manolong,
Adat mati janguak man janguak,
Adat isi bari mam-bari,
Adat tidak salang ma-nyalang”.
Basalang tenggang, yakni saling meringankan dengan kesediaan memberi dukungan terhadap pencapaian derajat kehidupan dengan “Karajo baiak ba-imbau-an, Karajo buruak bahambau-an”.
c. Musyawarah (bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mupakat), dalam kerangka “Senteng ba-bilai, Singkek ba-uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo”
d. Keimanan kepada Allah SWT menjadi pengikat spirit yang menjiwai sunnatullah dalam setiap gerak mengenal alam keliling,
“Panggiriak pisau sirauik,
Patungkek batang lintabuang,
Satitiak jadikan lauik,
Sakapa jadikan gunuang,
Alam takambang jadikan guru ”.

Alam ini telah diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan mengandung faedah kekuatan dan khasiat yang diperlukan untuk memperkembang dan mempertinggi mutu hidup jasmani manusia, dengan keharusan berusaha membanting tulang dan memeras otak untuk mengambil sebanyaknya faedah dari alam sekelilingnya agar dinikmati sambil mensyukuri dengan beribadah kepada Ilahi.
e. Kecintaan kenagari adalah perekat yang dibentuk oleh perjalanan waktu dan pengalaman sejarah. Menjaga anak nagari dari pada melewati batas-batas yang patut dan pantas agar tidak terbawa hanyut materi dan hawa nafsu yang merusak, adalah satu bentuk persembahan manusia kepada Maha Pencipta, dan satu pola hidup yang mempunyai keseimbangan antara kemajuan dibidang rohani dan jasmani.
“Jiko mangaji dari alif,
Jiko babilang dari aso,
Jiko naiak dari janjang,
Jiko turun dari tango”.

Pengkajian lebih mendalam membuktikan bahwa kecintaan kepada nagari itu tumbuh dari sistem dan pola yang telah ditanamkan oleh adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah di dalam mewujudkan Mulkiyah Allah di Bumi yang merujuk kepada Sunnah.
Kecintaan kepada nagari, adalah bagian dari kecintaan kepada Allah (mahabbatullah) mesti dibangun dan ditegakkan dengan sistem kooperatif melalui lembaga musyawarah (kelembagaan syura) di nagari-nagari, yakni musyawarah sesama orang beriman dan bertaqwa.

Setiap kamu adalah pemimpin – penggembala – dan setiap kamu akan ditanyai tentang rakyatnya, maka imam adalah pemimpin dan dia ditanyai tentang rakyat yang di pimpinnya. (HR.Muttafaq ‘alaihi).

Tidak ada kamus di dalam Kitabullah (Alquran) musyawarah untuk menetapkan hal yang bertalian keperluan sesama mukmin mesti merujuk kepada konsepsi kuffar.
Sikap hidup (attitude towards life) ini menjadi sumber pendorong kegiatan anak nagari dibidang ekonomi, dengan tujuan utama terpenuhinya keperluan hidup jasmani (material needs).
Hasilnya tergantung kepada dalam atau dangkalnya sikap hidup tersebut berurat dalam jiwa masyarakat nagari dan sangat ditentukan juga oleh tingkat kecerdasan anak nagari yang telah dicapai.

Wahai orang-orang yang beriman janganlah engkau ambil menjadi orang kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu, karena mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa-apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan ayat-ayat Kami, jika kamu mau memahaminya. (QS.3, ali Imran : 118).
Inilah prinsip utama adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah itu.
Non kooperatif sesama muslim akan membuka peluang untuk adanya tawar menawar antara mukmin dan kafir. Dalam hubungan ini, peran dan fungsi surau amat menentukan pula.

Comments (1)

Kembali ke Surau, Membina Umat.

KEMBALI KE SURAU MEMBINA UMAT

Oleh H Mas’oed Abidin

Umat Islam di Ranah Minangkabau menjadikan surau sarana perguruan membina anak nagari.

Fungsinya tidak semata menjadi tempat ibadah mahdhah (shalat, tadarus, dan pengajian majlis ta’lim).

Menjadi tempat tumbuh lembaga perguruan anak nagari yang dimulai dari akar rumput.

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَافَةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوْا فِي الدِّيْنِ وَ لِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوْا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يِحْذَرُوْنَ.
Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya, apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS.IX, at Taubah, ayat 122).

Kekuatan surau adalah kuatnya jalinan hubungan masyarakat saling menguntungkan (symbiotic relationship).
Sanggup menjadi pusat kekuatan perlawanan membisu (silent opposition) terhadap penjajah.

وَمَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا، فَهُوَ فِي سَبِيْلِ اللهِ (متفق عليه)
Siapapun yang berjuang untuk meninggikan kalimat Allah — kalimatulli hiyal ‘ulya –, dan mereka mati dalam perjuangan itu, maka sungguh dia sudah berada dalam jihad fii sabilillah. (HR.Muttafaq ‘alaihi)

Musajik tampek ba ibadah,
tampek balapa ba ma’ana,
tampek balaja Alquran 30 juz,
tampek mangaji sah jo batal” ,

Artinya, Masjid dan Surau menjadi pusat pembinaan umat untuk menjalin hubungan bermasyarakat yang baik (hablum-minan-naas) dan terjaminya pemeliharaan ibadah dengan Khalik (hablum minallah).

Adanya balairuang dan musajik (surau) ini menjadi lambang utama terlaksananya hukum

Surau dan Balerong (=balai ruang yang tidak memiliki kamar, sama halnya dengan surau dan masjid), di dalam “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah., syarak mangato adat nan kawi syarak nan lazim”, adalah sarana penting.

Kedua lembaga ini –-balai adat dan surau-– keberadaannya tidak dapat dipisah dan dibeda-bedakan.

Pariangan manjadi tampuak tangkai,
Pagaruyuang pusek Tanah Data,
Tigo luhak rang mangatokan.
Adat jo syarak jiko bacarai,
bakeh bagantuang nan lah sakah,
tampek bapijak nan lah taban.

Alam Minangkabau belum lengkap kalau tidak mempunyai Masjid (musajik) atau surau tempat beribadah.

Identitas surau sesuai personifikasi pemimpinnya.
Surau adalah pusat pembinaan umat, untuk menjalin hubungan bermasyarakat yang baik (hablum-minan-naas).
Terjamin pula ibadah dengan Khalik (hablum minallah).

Adanya balairuang dan musajik (surau) ini menjadi lambang utama terlaksananya hukum dalam “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah., syarak mangato adat nan lazim syarak nan kawi (qawiy = kuat).

يأيُّها الناسُ إنا خلقنَاكم مِن ذكرٍ و أنثَى و جَعلْناكمْ شُعوبًا و قَبَائِلَ لِتَعارَفوا إنَّ أكْرمَكمْ عندَ اللهِ أتقَاكم إن الله عليْم خبيرٌ
Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsa-bangsa) dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …. (QS.49, al Hujurat : 13)

Apabila sarana-sarana ini berperan sempurna, masyarakat kelilingnya hidup dengan akhlak terpuji. Perangai mulia berakhlakul-karimah. “Adaik jo syarak kok tasusun, bumi sanang padi manjadi”.

IHWAL SURAU
Surau amat sesuai menjadi pusat pembinaan umat.

Surau adalah satu anak tangga dari jenjang bermasyarakat di nagari yang teguh melaksanakan prinsip musyawarah (demokrasi).
Surau adalah pondasi dasar dan utama dalam menerapkan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

Dukungan masyarakat adat dan kesepakatan tungku tigo sajarangan, bundo kanduang dan rang mudo, menjadi penggerak utama mewujudkan tatanan sistim di nagari.
Konsepnya tumbuh dari akar nagari sendiri.

Masyarakat Minangkabau yang beradat-beragama selalu ingat kepada hidup sebelum mati dan hidup sesudah mati.

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَ مِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُوْنَهُ مِنْ أَمْرِاللهِ إِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَ إِذَا أَرَادَ اللهُ بِقَوْمٍ سُوْءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُوْنِهِ مِنْ وَالٍ.
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS.Ar-Ra’du : 11)

Peran dakwah di Ranah Minangkabau sekarang ini adalah menyadarkan umat dalam membentuk diri mereka sendiri.

Kenyataan sosial terhadap anak nagari diawali dengan mengakui keberadaan puncak-puncak kebudayaan mereka, dan mendorong kepada satu bentuk kehidupan bertanggung jawab. Inilah tuntutan Dakwah Ila-Allah.

Seruan atau ajakan kepada Islam yang diberikan Khaliq untuk manusia, yang sangat sesuai dengan fithrah manusia itu.
Islam adalah agama Risalah, dan penyiarannya dilanjutkan oleh dakwah.

Di Ranah Minangkabau tempat nya adalah surau atau masjid.
Keberhasilan suatu upaya dakwah (gerak dakwah) memerlukan pengorganisasian (nidzam).

Perangkat organisasi surau, selain orang-orang, adalah juga peralatan dakwah dan penguasaan kondisi umat, tingkat sosialnya dan budaya yang melekat pada tata pergaulan mereka yang dapat dibaca dalam peta dakwah.

Bimbingan syarak mengatakan al haqqu bi-laa nizham yaghlibuhu al baathil bin-nizam. Artinya, tanpa mengindahkan pengaturan (organisasi) selalu akan kalah oleh kebatilan yang terorganisir.

Pekerjaan mengajak manusia akan berhasil dengan ilmu, hikmah, akhlak dan menyeru kejalan Allah, dengan petunjuk yang lurus. Maka, da’iya (Imam khatib di Nagari) adalah pewaris tugas Nabi Muhammad Rasulullah S.A.W.

وما أرْسَلْنَاك إلاَّ كافةً للناس بشيرًا و نذيرًا ولَكنَّ أكْثرَ النَّاسِ لا يعْلَموْن
Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (QS. Saba’, 34 : 28).

Menghidupkan surau (masjid) dalam masa ini adalah menetapkan visi untuk menentukan program pembinaan di tengah anak nagari yang akan mendukung percepatan pembangunan nagari itu.

Koordinasi akan mempertajam faktor pendukungnya.

يأيُّها النبيُّ إنا أرْسلْناكَ شاهدًا و مُبشّرًا و نذيْرًا. و داعيًا إلى اللهِ بإذْنِهِ و سرَاجًا منيْرًا. و بَشِّرِ الْمُؤمنِيْنَ بأنَّ لَهمْ مِن اللهِ فضْلاً كبيرًا
Hai Nabi sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mu’min bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah. (QS.Al-Ahzab, 33 : 45-47).

Kaedah syarak akan mendorong keberhasilan dakwah menghidupkan adagium adat basandi syarak syara; basandi Kitabullah.

Aktualisasi Kitabullah (nilai-nilai Alqurani) hanya dapat dilihat melalui gerakan amal nyata yang terus menerus terkait dengan seluruh segi kehidupan anak nagari, seperti kemampuan bergaul, mencintai, berkhidmat, menarik, mengajak (dakwah), merapatkan potensi barisan (shaff) mengerjakan amal-amal Islami secara jamaah.

ولا يصدُّنَّك عنْ آياتِ اللهِ بعدَ إذْ أُنْزِلتْ إليْكَ وادْعُ إلى ربِّكَ ولا تكوْننَّ من المُشرِكيْنَ. ولا تدْعُ مع اللهِ إلها آخرَ لا إله إلاَّ هو كُلُّ شيءٍ هالكٌ إلاَّ وجهَهُ له الحُكْمُ و إليهِ تُرجَعُون.
Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. BagiNyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (QS.Al Qashash, 28 : 87)

Tugas ini menjadi tugas para Rasul. Umat sekarang menjadi penerus dakwah sepanjang masa.

Terlaksananya tugas-tugas dakwah dengan baik akan menjadikan umat Islam mampu menjawab harapan masyarakat dunia.

Maka perlu setiap Da’iya – Imam, Khatib, Urang Siak, Tuanku, alim ulama suluah bendang di nagari-nagari — meneladani pribadi Muhammad SAW

لَقَدْ كانَ لكُمْ فِي رَسُوْل اللهِ أُسْوةٌ حسنةٌ لِمنْ كان يَرْجوا اللهَ و اليومَ الآخرَ وذكرَ الله كثِيْرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab, 33 : 21)

Contoh di dalam membentuk effectif leader menuju kepada inti dan isi Agama Islam (tauhid). قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ “Katakanlah bahwa berimanlah kepada Allah dan istiqamah, tetap pendirian.
و خَالِقِ النَّاسَ بِخُلْقٍ حَسَنٍ “ Diciptakan manusia dengan perangai yang baik (terpuji)”.

Umat kini akan menjadi baik dan berjaya, bila sebab-sebab kejayaan umat terdahulu dikembalikan.

إلَهِي أنْتَ مَقْصُودِي ورِضَاكَ مَطْلُوبِ
Tuhanku, Engkau semata tujuan hidupku. Dan keredhaan-Mu semata pula yang aku tuntut.

Kita mestinya bertindak atas dasar syarak ini.
Mencari redha Allah, dan mengajak orang lain untuk menganutnya. Allah menghendaki kelestarian Agama dengan mudah, luwes, elastis, tidak beku dan tidak berlaku bersitegang.

Usaha ini akan menjadi gerakan antisipatif terhadap arus globalisasi negatif abad sekarang. Mengembangkan surau berorientasi kepada mutu.
Sehingga pembinaan surau berkembang menjadi center of exellence, yang menghasilkan generasi berparadigma ilmu komprehensif.

Terintegrasinya pengetahuan agama, budi akhlaq dan keterampilan (memasak, menjahit, mengaji, bersilat) yang mendorong anak surau sanggup hidup mandiri.

Peran surau menghidupkan adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah menjadi tugas setiap insan anak nagari yang telah terikat dalam “umat dakwah” menurut Kitabullah – yakni nilai-nilai Alqurani di bawah konsep mencari ridha Allah.

ولتَكُن مِّنْكم أمةٌ يدْعوْنَ إلى الخيْرِ و يأْمروْنَ بِالمعْرُوفِ و ينهوْن عنِ المنْكر و أولئِك همُ المفْلحُون.
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.(QS. Ali Imran, 3 : 104 )

Peningkatan kualitas pembinaan umat melalui surau dapat dicapai. Organisasi suaru lebih menjadi viable –dapat hidup terus, berjalan tahan banting, bergairah, aktif dan giat-– menurut permintaan zaman, dan durable –-yakni dapat tahan lama-– seiring perubahan dan tantangan zaman. Peran serta masyarakat adalah menerapkan manajemen mengelola surau lebih accountable dari segi keuangan maupun organisasi.

Kitabullah mendeskripsikan agama Islam adalah sempurna, utuh dan di ridhai. Melalui peningkatan ini, sumber finansial masyarakat dapat dipertanggungjawabkan secara lebih efisien.

Setiap Muslim, dengan nilai-nilai Kitabullah wajib mengemban missi mulia yaitu merombak kekeliruan ke arah kebenaran secara hakiki di dalam “perjalanan kepada kemajuan (al madaniyah)”.

MENINGKATKAN MUTU ANAK NAGARI

Meningkatkan Mutu SDM anak nagari melalui kerja keras.
Menguatkan potensi yang sudah ada melalui program unggulan, kaderisasi. Menumbuhkan SDM nagari yang sehat dengan gizi cukup.
Meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (terutama terapan). Peningkatan peran serta masyarakat mengelola surau.

Sistim terpadu menjadi bagian integral dari masyarakat Muslim di Ranah Minangkabau.

Ajaran syarak Islam mampu memberikan jalan keluar (solu¬si) terhadap problematika sosial umat manusia.

Keyakinan kepada agama Islam (di dalam syarak disebut aqidah Islamiyah) menjadi landasan berpijak.

Motivasi untuk berbuat dan berharap pada setiap yang mempercayainya. Keyakinan tauhid itu terhunjam dan berurat berakar di dalam hati manusia. Dengannya mampu menangkap tanda tanda zaman, perubahan sosial, politik, ekonomi dan perkisaran masa di sekitarnya.

Mampu membaca zeitgeist tanda tanda zaman karena beriman kepada Allah.
Perbedaan pemikiran dikuatkan dzikrullah dengan pemikiran bertumpu paham kebendaan, seperti positivisme dzikrullah dan apatisme thagut (syaithaniyah).

Apatisme dalam perubahan sosial, politik dan ekonomi tersebut adalah selemah lemah iman (adh’aful iman).

Sikap diam (apatis) dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi hanya dapat dihilangkan dengan,
• mengerjakan sesuatu yang dapat dikerjakan,
artinya berbuat sesuai kemampuan,
• jangan membiarkan diri terkurung kepada pemikiran
yang tidak mungkin dikerjakan,
• memulai dengan apa yang ada,
karena dengan yang ada itu sudah dapat memulai sesuatu,
• jangan berpangku tangan dengan menghitung orang yang lalu lalang,
dan membiarkan diri ketinggalan.

Konsep ini adalah amanat syarak (Islam) dalam menghadapi perubahan sosial, politik dan ekonomi.

Betapa kecil pun perubahan tidak boleh dinanti tanpa kesiapan. Namun, selalu memanfaatkan hubungan diri (kemampuan anak nagari) dengan kehidupan dunia luar di sekitarnya.

Sikap hidup menjemput bola adalah sikap hidup sesuai ajaran Islam. Bergerak, berusaha, proaktif dan inovatif adalah cara-cara paling tepat mengantisipasi selemah lemah iman. Kata kunci perubahan sosial, politik dan ekonomi yang dikembangkan syarak (agama Islam) melalui tiga cara hidup, yakni,
• bantu dirimu sendiri (self help),
• bantu orang lain (self less help), dan
• saling membantu dalam kehidupan ini (mutual help),

Konsep hidup ini mengajarkan seseorang untuk tidak mesti selalu tergantung kepada orang lain.

Ketergantungan menempatkan orang terbawa kemana mana.
Menjadi tak berdaya di tangan yang menjadi tempat bergantung. Mengokohkan perpegangan agama dan pemahaman syarak menjadi kerja paling utama.

و مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
Barangsiapa yang Allah SWT kehendaki akan kebaikan, maka Allah SWT akan menakdirkannya tahu akan urusan agamanya. (HR.Muttafaq ‘Alaih dari hadist Mu’awiyah).

Dengan demikian, anak nagari menjadi sehat rohani.
Terjaga dengan norma-norma adat.
Sehingga anak nagari menjadi masyarakat beradat yang beragama (Islam).

Menggali potensi SDA di nagari diselaraskan dengan perkembangan global yang tengah berlaku.
Memperkuat ketahanan ekonomi rakyat.
Membangun kesejahteraan dimulai dari pembinaan unsur manusianya, dari self help (menolong diri sendiri) kepada mutual help.

Ihsan berbuat baik dan ta’awun tolong menolong sesuai dengan anjuran Islam. Bantu membantu, ta’awun, mutual help dalam rangka pembagian pekerjaan (division of labour) menurut keahlian masing-masing ini, akan mempercepat proses mempertinggi mutu yang dihasilkan. Itulah taraf ihsan yang hendak dicapai.

Zakat sebagai sarana pembersih harta dan upaya memperkuat paradigma umat

Di samping itu, zakat dapat dijadikan penopang ekonomi anak nagari melalui pelatihan bagaimana memanfaatkan dan mengelola zakat secara benar. Tidak semata konsumsi sesaat. Zakat dijadikan modal usaha dari kalangan dhu’afak di dalam negeri.

Pesan Rasulullah SAW, memang mengajarkan penyesuaian untuk mencapai kehidupan dunia yang sejahtera, tanpa melupakan kehidupan akhirat tempat manusia akan kembali.

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ (رواه مسلم)
Kamu lebih memahami dengan urusan-urusan dunia kamu. (HR.Muslim)

Di Minangkabau teradisi masyarakat selalu seiring sejalankan dengan perlakuan ibadah.
Sebenarnya, acara tersebut dapat bernilai positif. Terutama apabila tidak di campur aduk dengan perbuatan yang terlarang oleh ajaran Islam.

Pembauran di Minangkabau dimulai dengan menjalin keharmonisan hubungan antar keluarga di nagari, dengan saling peduli, akan memberi sumbangan besar mempererat silaturrahmi.

Ikatan persaudaraan adalah modal besar dalam membangun nagari.
Buhul ikatan itu berawal dari kuatnya hubungan bermasyarakat.
Darinya lahir tanggung jawab bersama didasari kebersihan hati dan wajah berseri.

Di tengah perubahan zaman, nilai luhur yang di kandung telah mulai terjadi pencampur bauran antara hak dan bathil di mana-mana.
Antara suruh dan tegah jadi kabur.
Ibadah dan maksiat campur baur.
Sangat mencemaskan.

Keadaan mencemaskan ini mulai terjadi di nagai-nagari di Ranah Bundo.
Abih gali dek galitik.
Yang tadinya pantang larangan, kini jadi biasa.
Malahan menjadi kesukaan.

Orang banyak menyebut sakali aie gadang sakali tapian barubah. Artinya sekali air besar, tepian lama dihanyutkannya.
Tampaknya, budaya kita sedang mengalami penetrasi budaya orang lain. Acara balimau itupun menjauh pula dari nilai adat dan syarak.

Hura-hura dan huru-huru mulai mucul di mana-mana karena lemahnya panggilan peran surau.
Nilai harkat diri sangat tipis.
Larangan adat dan agama mulai dilanggar.
Aturan beradat tidak tampak.
Kerusakan datang mengancam.
Nilai budaya Minang mulai tergugat.
Mulailah terasa hilangnya norma-norma yang baik.

Ranah Minang, seakan tidak lagi hidup dalam keindahan kultur budaya. Masyarakat mulai larut dalam hubungan tak berbudaya.

Syarak sebenarnya telah mengingatkan agar perbuatan meniru hal yang tidak baik itu dijauhi.
Rasulullah SAW telah mengingatkan kita semua,

لاَ تَكُوْنُوْا إمَّعَةً يَقُوْلُ: أَنَا مَعَ النَّاسِ، إِنْ أَحْسَنُوْا أَحْسَنْتُ، و إنْ أسَاءُوا أسأْتُ، لَكِنْ وَطِّنُوا أنْفُسَكُمْ إنْ أحْسَنَ النَّاسُ أنْ تُحْسِنُوا، و إن أسَاءُوا أَلاَّ تَظْلِمُوا. (رواه الترمذي)
Janganlah kalian menjadi seperti bunglon yang berkata, aku bersama orang-orang, jika mereka baik, maka akupun baik pula. Dan jika mereka buruk akhlaknya, maka akhlakku pun buruk pula. Akan tetapi tanamkanlah sikap pada diri kalian; jika mereka baik, hendaklah kalian selalu baik; dan jika mereka buruk akhlaknya, maka janganlah kalian ikut berbuat berbuat dzalim (artinya ikut pula berbuat buruk).

Maka, perlu upaya keras semua pihak mencegah generasi kedepan terperangkap perbuatan maksiyat.

Di antara yang dapat dikerjakan oleh anak nagari adalah membersihkan halaman rumah, masjid dan surau, serta membuat sesuatu yang baik dan bermanfaat untuk kehidupan anak nagari. Keteraturan adalah satu nikmat dari Ramadhan yang dinantikan tiap tahun.

Orang Minangkabau di Sumatera Barat yang menanggalkan budayanya, akan mewarisi generasi rapuh.
Jiwanya akan mati.
Akibatnya, kehidupan tidak lagi beralas adat yang tak lekang karena panas tak lapuk karena hujan.

Bila kondisi itu tidak di awasi, rela ataupun tidak, jalan di alih urang lalu, tepian di aliah urang mandi akan menjadi kenyataan. Minangkabau akhirnya tersisa dalam nostalgia.

Hidup kedepan akan dikuasai oleh yang teguh pada puncak budayaannya. Tak mudah di sangkal bahwa puncak kebudayaan adalah warna kehidupan kaum (bangsa).

Nilai budaya dalam tatanan kehidupan aktif merupakan aset bernilai tinggi untuk di persandingkan pada era kesejagatan (globalisasi).

Satu generasi bangsa akan hilang, karena lemahnya nilai-nilai budaya.
Selain itu, akan membuka peluang untuk dijajah oleh budaya lain yang lebih kuat. Mau tidak mau, generasi yang lemah budaya nyaris diperebutkan orang lain. Untuk kemudian dikuasai dan dihalau kian kemari di dalam persaingan bebas yang keras.

Generasi lemah iman dan lemah tamaddun akan tergilas habis. Dalam alam global yang kejam ini, generasi yang lemah akan ditelan oleh yang kuat.

Kemampuan memelihara nilai-nilai budaya bangsa perlu diperkuatkan.
Bimbingan syarak, sesuai sabda Rasulullah SAW menuntunkan prilaku indah sebagai berikut;

إِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، وَطَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ، نَظِيْفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ، فَنَظِّفُوْا أَفْنِيِتَكُمْ وَلاَ تَتَشَبَّهُوا بِاليَهُوْدِ (رواه الترمذ)
Artinya, “ Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai yang keindahan, baik dan menyukai kebaikan, bersih serta menyukai kebersihan. Oleh karena itu, bersihkanlah halaman rumah kalian dan jangan kalian menyerupai yahudi.” (HR. Tirmidzi).

Wassalamu’alaiku Warahmatullahi Wa Barakatuh,

Comments