Archive for April 15, 2008

Hidupkan Dakwah Bangun Negeri (Bagian ke-II)

Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Membentuk Perwakilan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia
Sumatera Barat, selangkah Menuju Rumah Sakit Islam Ibnu Sina

HIDUPKAN DAKWAH,
BANGUN NEGERI

Oleh : H Mas’oed Abidin

Dewan Dakwah yang baru berumur lima belas bulan (27 Februari 1967-15 Juni 196 8) pada saat itu, merupakan satu lembaga dakwah yang sangat dihar¬apkan sebagai tumpuan pembentengan aqidah umat.

Bapak DR. Mohamad Natsir dalam pertemuan dengan ahlul qurba yang merupakan inner circle perjuangan Islam dan dalam upaya mengangkat harga diri umat di daerah selalu mendengar keluhan tentang pesatnya gerakan misionaris.

Lebih-lebih sejak masa orde lama telah terkondisi seakan dibuka peluang kepada gerakan missionaris atas dukungan orang-orang komunis (PKI).
Bahkan setelah PKI dihapuskan sebagai satu-saatunya tuntutan hati nurani rakyat ditahun 1966, orang-orang Komunis yang lari ketakutan mencoba berlindung di balik dinding lonceng-lonceng gereja, setidak-tidaknya inilah yang terjadi di Pasaman Barat.

Kondisi Masyarakat yang runyam ini, menurut Bapak DR. Mohamad Natsir hanya mungkin diperbaiki dengan amal nyata.
Bukan hanya dengan semboyan-semboyan yang kadang kala bisa memancing sikap apatime masyarakat atau perlawanan terhadap kebijakan penguasa di daerah.

Karenanya Bapak DR. Mohamad Natsir selalu me-nasehatkan supaya kaedah yang selama ini telah dimiliki oleh umat Islam yaitu ukhuwah dan persatuan mesti dihidupkan kembali.

Di antaranya, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DEWAN DAKWAH) Perwakilan di daerah Tk.I propinsi Sumatera Barat, yang diresmikan sendiri oleh Bapak DR. Mohamad Natsir di Gedung Nasional Bukittinggi, pada tanggal 15 Juli 1968.

Pertemuan bersejarah ini dihadiri oleh hampir seluruh ulama Sumatera Barat, yang sejak dari awal memang telah tergabung di dalam Majelis Ulama Sumatera Barat.

Bahkan juga dihadiri oleh para ninik mamak, pemangku adat.
Diikuti pula oleh seluruh pemuka masyarakat, dari berbagai lapisan, bahkan dari desa-desa terpencil.

Para undangan, sengaja datang berduyun-duyun menyambut kehadiran pemimpin pulang.

Antusias hadirin waktu itu terlihat secara spontan.
Tidak ada satu kursi pun yang kosong.
Tidak ada tempat yang lowong yang tak diisi.
Malahan banyak para hadirin yang hanya bias berdiri, atau hanya dapat duduk di lantai.

Resminya Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DEWAN DAKWAH) Perwakilan Sumatera Barat, sebagai perwakilan pertama di daerah di luar DKI Jakarta.

Programnya adalah mewujudkan lima program pokok dakwah komprehensif di Sumatera Barat.

Di antaranya, membangun Rumah Sakit Islam, sebagai antisipasi terhadap gerakan pemurtadan yang dilakukan oleh pihak Salibiyah.

Kepengurusan pertama dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DEWAN DAKWAH) di Sumatera Barat, dinakhodai oleh ulama-ulama kharismatik seperti Buya H. Mansur Daud Dt. Palimo Kayo bekas Duta besar RI di Irak.

Buya Datuk adalah bekas Ketua Umum Masyumi Sumatera Tengah.
Pada tahun 1968 Buya Datuk Palimo Kayo telah menduduki jabatan sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Sumatera Barat.

Kepengurusan Dewan Dakwah Sumatera Barat ini diperkuat oleh Buya Haji Nurman, Buya Haji Anwar, Buya Haji Marzuki Bakri Datuk Rajo Sampono, Buya Fachruddin Hs. Datuk Majo Indo.

Dari kalangan muda seperti Mazni Salam Datuk Paduko Intan, Djoefry Sulthany, Muhammad Sa’id Tuanku Sulaiman (kemudian menyandang gelar sako Datuk Tan Kabasaran), Chazanatul Israr, Ibu Ratnasari, dan Asma Malim dan lain-lain.

Kenyataannya, memang penggerak pertama Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DEWAN DAKWAH) di Sumatera Barat adalah Keluarga Besar Bulan Bintang.

Tidak pula dapat dibantah bahwa mereka adalah orang-orang yang aktif dalam setiap gerak perjuangan Agama dan Bangsa.

Sejak masa yang jauh.
Dalam jalan panjang yang telah ditempuh sejarah daerah ini, sebelum Republik Indonesia diproklamirkan, mereka telah dikenal sebagai pejuang gigih.
Malah, di antaranya ada yang berada pada barisan Perintis Kemerdekaan.

Akan tetapi masih ada saja kalangan yang berpandangan sinis.
Membandingkan, bahwa diantara pengurus-pengurus pertama Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumatera Barat yang diresmikan oleh Bapak DR. Mohammad Natsir tersebut oleh sebagian kalangan dicap sebagai bekas pemberontak PRRI. Atau setidak-tidaknya simpatisan PRRI.

Keberadaan Keluarga Bulan Bintang dan bekas PRRI di Sumatera Barat waktu itu sebagai jawaban dan konsekwensi logis dari anti Komunis.

Keluarga Bulan Bintang dan PRRI jelas-jelas merupakan satu kelompok yang memiliki ciri-ciri khas (mumayizat) sebagai kelompok anti Komunis.
Jauh sebelum adanya angkatan ’66 atau bangkitnya orde baru.

Selama 41 tahun Dewan Dakwah berkiprah dengan langkah yang pasti dan sangat konsistern.
Kiprah dakwahnya terlihat dalam semboyan dan gerakan Risalah Memulai Dakwah Melanjutkan.

BAI’ATUL QURBA

Bai’atul Qurba atau bai’at kekeluargaan adalah kelanjutan pesan dari “pemimpin”. Memang inilah bukti yang nyata dari kebenaran Firman Allah Subhanahu wa ta’ala :
“Dan orang-orang yang bekerja sungguh-sungguh pada (jalan) kami, sesungguhnya kami akan pimpin mereka di jalan-jalan kami: dan sesunggunya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebaikan” (Al-Ankabut 69).

Dakwah bukanlah kepintaran baru.
Tidak pula rahasia yang pakai patent, tak boleh dicontoh ditiru.
Kepandaian yang sudah lama ada, terbuka bagi siapapun untuk mempelajarinya. Asal saja orang dapat merasakan nilai dan kepentingannya, mempunyai daya inisiatif dan imagination (daya cipta), tentu akan dapat mempergunakannya.

Begitu pula, kepintaran membina masyarakat dari bawah. Kepandaian-kepandaian ini sederhana sekali.
Mengajarkan umat mengolah halaman keliling sebagai tempat yang menghasilkan, sehingga terbentuk kemandirian, tidak tergantung kepada menengadahkan tangan pada orang lain.

Membangun ekonomi dari bawah.
Begitu pulalah proses mempertinggi kesejahteraan hidup, yang bernama proses pembangunan ekonomi itu.

Procesnya bisa dipercepat, tetapi dia mempunyaii undang-undang bajanya sendiri, yang tak dapat tidak, harus dijalani.
Ini seringkali pada umumnya, dilupakan orang, dengan segala akibat yang mengecewakan.

Daerah tempat kita bekerja itu terkenal sebagai daerah yang kaya dengan sumber alam.

Tetapi kecenderungan penduduknya, di bidang ekonomi ialah kepada mencahari nafkah dengan memindah-mindahkan barang dari satu tempat ke tempat yang lain. Adapun menghasilkan barang belum cukup mendapat perhatian.
Padahal sumber kemakmuran yang asasi adalah produksi, yakni menghasilkan barang. Ini seringkali “dilupakan” pula.

Latar belakang dari usaha kita ini ialah merombak tradisi pikiran tersebut dan membuka jalan baru.
Memulai dari urat masyarakat itu sendiri.
Dengan cara-cara yang praktis.

Amaliyah sepadan dengan kekuatan mereka.
Serentak disertai dengan membangun jiwa dan peribadi mereka.
Sebagai satu umat yang mempunyai wijhah.
Memiliki falsafah dan tujuan hidup yang nyata.
Masyarakat yang mempunyai shibgah, corak kepri-badian yang terang.

Dalam rangka yang agak luas, dengan istilah yang gagah, dinamakan “satu aspek dari Social Reform”.
Begitulah hakekatnya.

Kalau sekedar soal mencari kaya, rasanya orang Minang tak usah payah-payah benar mengajarnya lagi.
Pada umumnya, mereka cukup mempunyai inteligensi dan daya gerak. Juga kalau sekedar memperpesat kegiatan produksi yang ekffektif di Minangkabau, dalam arti ekonomis semata-mata, tidak usaha payah-payah benar.

Tetapi seringkali, nasib kita tak ubah dari nasib induk ayam menetaskan telor itik. Sebab itu, pekerjaan ini mempunyai aspek lain, dan menafaskan jiwa lain.
Kita berusaha di urat masyarakat.

Menumbuhkan kekuatan terpendam dikalangan yang lemah.
Kita ingin berhubungan dengan para dhu’afa dalam bentuk yang lain dari pada ; “meminta nasi bungkus”.

Selain daripada itu pekerjaan kita ini adalah di dukung oleh cita-cita hendak menjelmakan tata-cara hidup kemasyarakatan yang berdasarkan :

a. hidup dan memberi hidup, (ta’awun) bukan falsafah berebut hidup;

b. tanggung jawab tiap-tiap anggota masyarakat atas kesejahteraan lahir batin dari masyarakat sebagai keseluruhan dan sebaliknya (takaful dan tadhamun);

c. keragaman dan ketertiban yang bersumber kepada disiplin jiwa dari alam, bukan lantaran penggembalaan dari luar;

d. ukhuwwah yang ikhlas, bersendikan Iman dan Taqwa ;

e. keseimbangan (tawazun) antara kecerdasan otak dan kecakapan tangan, antara ketajaman akal dan ketinggian akhlak, antara amal dan ibadah, antara ikhtiar dan do’a.

Ini wijhah yang hendak di tuju.

Ini pula shibghah yang hendak di pancangkan

Tidak seorangpun yang berpikiran sehat di negeri ini yang akan keberatan terhadap penjelmaan masyarakat yang semacam itu.
Suatu bentuk dan susunan hidup berjama’ah yang diredhai Allah yang dituntut oleh “syari’at” Islam, sesuai dengan Adat basandi Syara’ dan Syara’ nan basandi Kitabullah.

Kita sekarang merintis, merambah jalan guna menjelmakan hidup berjama’ah sedemikian yang belum kunjung terjelma di negeri kita ini, kecuali dalam khotbah alim-ulama, pepatah petitih ahli adat, dan pidato para cerdik cendekia.

Kita rintiskan dengan cara dan alat-alat sederhana tetapi dengan api cita-cita yang berkobar-kobar dalam dada kita masing-masing.
Ini nawaitu kita dari semula.
Kita jagalah agar api nawaitu jangan padam atau berubah di tengah jalan.

Demikian antara lain pesan Bapak DR.Mohamad Natsir, dalam setiap pertemuan beliau dengan umat di Sumatera Barat.

Nilai amal, besar atau kecil, terletak dalam niat yang menjadi motif untuk melakukannya.

Tinggi atau rendahnya nilai hasil yang dicapai sesuai pula dengan tinggi atau rendahnya mutu niat orang yang mengejar hasil itu.

Amal yang sudah maupun yang akan datang akan kering dan hampa, sekiranya amal lahirnya dilakukan, tetapi tujuan nawaitunya di anjak.
Hindarilah, jangan sampai kehilangan nawaitu di tengah jalan,

Andaikata kelihatan tanda-tanda akan kehilangan nawaitunya, maka kewajiban adalah memanggil kembali.
Agar jangan sampai terseret hanyut oleh arus pengejaran benda yang berserak bertebaran semata.
Bila cepat terpintasi, Insya Allah, umat akan masuk shaf kembali.

Keadaan masing-masing tidak banyak berbeda dari keadaan umat yang hendak di rintiskan jalannya itu.
Sebab masing-masing kita adalah sebahagian dari mereka juga.

Maka tidaklah salah, berkat kemurahan Ilahi akan turut merasakan bahagia tertinggi, apabila dapat melihat ribuan dapur berasap karenanya.
Sedikit sama di cacah, banyak sama di lapah.

Tak ada bahagia dalam ke-kenyangan sepanjang malam, bila si-jiran setiap akan tidur diiringi lapar.
Dalam rangka inilah harus dipahamkan apa yang terkandung dalam kalimat-kalimat sederhana dari “bai’atul qurba”, bai’at kekeluargaan yang hendak di- ikrarkan ini. Membangun amal jama’ie, termasuk Rumah Sakit Islam Ibnu Sina di Sumatera Barat.

Tekad ini yang akan membimbing kita dalam menerjemahkan bai’atul qurba ini ke dalam amal dan perbuatan, yang ditujukan kepada keridhaan Allah jua.

Begitu Pak Natsir mulai merintiskan melalui rintisan qalbu, sebagai landasan ibadah rohani.

B i s m i l l a h !

Dari sini kita mulai !

Semakin dipelajari, semakin nampak persoalan-persoalan yang dihadapi, semakin terasa kesulitan yang harus dilalui.

Semuanya dilalui dengan memperoleh ber-bagai pengalaman-pengalaman berharga yang mahal, disirami dengan keringat dan air mata, sehingga dengan demikian itu tumbuhlah dalam hati ;

“rasa berpantang putus asa,
bertawakkal dalam melakukan kewajiban,
sepenuh hati, jangan setengah-setengah,
dengan tekad,
tidak terhenti sebelum sampai,
yang ditujukan kepada keridhaan Allah jua”.

Prinsip ini mengawali berdirinya Balai Kesehatan Ibnu Sina di Bukittinggi, walau pada mulanya hanya sekedar akan bernama Balai Kesehatan Dakwah di Sumatera Barat.

Namun, karena mengerjakan sesuatu tidak setengah-setangah, selalu dengan tekad sepenuh hati, maka Balai Kesehatan Ibnu Sina oleh Yayasan Rumah Sakit Islam (YARSI) Sumatera Barat, menjadi cikal bakal lahirnya Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Yarsi Sumbar, hingga hari ini.

Insya Allah, hingga akhir masa. 


CR. Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir dalam Dakwah Komprehensif, dibawah judul “Hidupkan Dakwah Bangun Negeri”, Bagian ke II, oleh Buya H Mas’oed Abidin

Comments (1)

Hidupkan Dakwah Bangun Negeri

Gagasan Menghidupkan
KIPRAH DAKWAH

“PEMIMPIN PULANG” …..,

Oleh : H. Mas’oed Abidin

14 JUNI 1968, udara pagi yang cerah di Lapangan Udara Tabing Padang, pintu gerbang ranah Minang, kembali hidup. Setelah hampir satu dasawarsa berada dalam cengkeraman “Orde Lama” merasa terbebas dari rasa tertekan dan hilangnya harga diri.

Hari itu, baru 2 tahun setelah “Orde Baru” di-canangkan dibawah kepemimpinan Soeharto, setelah lahir TRITURA, massa rakyat sangat mendambakan suasana baru. Masyarakat mulai bernafas baru, terbebas dari segala macam tekanan yang selama ini terasa berat menghimpit. Terutama dirasa berada dibawah sistem komunis PKI.

Sekarang, ditahun 1968 masyarakat ter-panggil kembali untuk membangun kampung halaman.

Jam menunjukkan jarum waktu 08.15 WIB pagi itu, disaat pesawat Electra GIA mencecah landasan dengan mulus.

Membawa di dalamnya Bapak DR. Mohamad Natsir dan Umi Nahar, yang berkunjung ke Sumatera Barat atas undangan Gubernur Sumbar Prof. Harun Zain dan Walikota Padang Kolonel Maritim Akhirul Yahya.

Pemimpin Pulang, Bapak DR. Mohamad Natsir melangkah dengan kepada tegak.

Dengan kecerahan menatap kedepan.
Menyiratkan optimisme yang tinggi.
Tumbuhkan pembangunan masyarakat Sumatera Barat di Ranah Minang.
Inilah tugas berat kedepan.

Beliau pulang, diundang melanjutkan perjuangan.
Dalam rangka merangsang semangat umat yang tadinya telah hampir padam untuk bersama membangun kampung halaman.

Bapak Gubernur Harun Zain, menyebut dengan kata kunci yang pas “mengangkat harga diri” masyarakat Minang.

Program ini, bukan program dadakan.
Sebagai-mana lazimnya mengambil hati orang pusat.
Sama sekali tidak.

Bahkan semua pihak sangat menyadari, bahwa tidak akan ada satupun rencana pembangnunan bisa jalan, manakala masyarakat diam apatis.

Beliau disambut dengan panggilan “orang tua kita”.
Hampir seluruh daerah Tingkat II dalam daerah Sumatera Barat sempat didatangi Bapak DR. Mohamad Natsir.

Dalam setiap pembicaraan dengan umat, tujuannya hanya satu.
Mendorong umat memulai kembali membangun negeri yang bermuara dari lubuk hati. 

TASYAKUR NIKMAT

Saat itu, kita sedang berada dalam suasana tasyakur nikmat.
Kalaulah tidak lantaran Karunia Ilahi, tidaklah terbayang sama sekali, bahwa kita akan dapat mencapai apa yang tercapai sampai sekarang ini.

Apalagi, bila kita mengingat kembali betapa besar-nya kesulitan yang harus kita lalui.
Disertai pula dengan banyaknya intimidasi dan tekanan-tekanan yang pernah dirasakan.

Di samping besarnya kecurigaan yang sudah ditimpakan kepada umat Islam, di daerah ini.
Terutama di dalam mengangkat amal-amal khirat untuk umat ini.

Maka peristiwa pagi itu, tidak dapat tidak merupakan lembaran baru dari umat di ranah ini.

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamien ….,

Inilah bukti yang nyata dari kebenaran Firman Ilahi itu.
“Jika kamu mensyukuri maka AKU akan menam-bahnya untuk kamu. Dan, jika kamu menolak, maka sesungguhnya azab KU sangat pedih”.

Kalau hari itu, di kala kedatangan Bapak DR. Mohamad Natsir pulang ke Padang, suasana kita tengah memperingati 5 tahun usianya Yayasan Kesejahteraan.

Senyatanya hakekat dari amal usahanya sudah lebih tua dari usianya sendiri.

Idea atau pemikiran pengembangan amal umat itu, sudah mulai digulirkan sejak berapa tahun sebelum amal itu bernama Yayasan Kesejahteraan.

Titik tolak dari usaha ini berasal dari pertemuan pemimpin umat di Padang Sidempuan.
Dalam pertemuan sekembali dari suasana sulit, dan bahkan selalu diawasi gerak langkah, para pemimpin umat telah menggariskan langkah-langkah untuk membangun kembali Sumatera Barat.

Ranah Bundo, atau ranah Minang, diakui secara nyata, baru saja keluar dari situasi per-golakan daerah.
Orang, masih takut-takut.

Pergolakan, memang membekaskan luka-luka yang terkoyak oleh perang saudara. Semasa rezim Soekarno, luka itu sangat dalam dirasa selang 2½ tahun lamanya. Banyak luka yang harus ditambal.
Banyak sakit yang harus diobati.
Banyak pula keruntuhan yang harus dibangun.

Menghidupkan kembali api “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”, yang telah mulai digerogoti dari banyak penjuru.
Langkah-langkah yang digariskan itu, tersimpul erat kepada bagaimana menghadapi:

• penyaluran tenaga-tenaga terpelanting, baik ia rakyat pengungsi yang kehilangan sumber hidup, maupun mahasiswa pelajar yang terputus pelajarannya.

• perumahan rakyat yang hangus terbakar

• sumber ekonomi rakyat desa yang tertutup jalan

• luka hati rakyat yang merasa kehilangan tempat mengadu

• kehancuran pendidikan agama.

Jauh sebelum pemimpin pulang, bulan Nopember 1961, telah berlangsung satu pertemuan di Medan.
Pertemuan itu, dipelopori oleh Bapak DR. Mohamad Natsir, Brigjen A.Thalib, Dr. Darwis, Mawardi Noor.

Dari pertemuan itu lahir satu pandangan yang sama.
Bahwa, upaya untuk membangun kembali Sumatera Barat waktu itu harus dengan menggerakkan anak kemenakan putera Minang dan daerah, yang banyak jumlahnya dan bertebaran diperantauan.

Sebagai wadahnya diambillah kebijaksanaan membentuk yayasan yang bernama Yayasan Tunas Harapan.

Kemudian berubah menjadi Yayasan Harapan Umat.
Sejak awal berdirinya diketuai oleh Mr. Ezziddin.

Dalam pada itu, sebagian di antara keluarga Qurba, sudah bertekad pula untuk tinggal di daerah Sumatera Barat, membangun negeri.

Keluarga Qurba, adalah keluarga dekat, yang selalu merasa keterdekatan hati dengan keluarga di kampung halaman.
Sungguhpun setiap saat hidup dan penghidupan mereka banyak dihabiskan di rantau.

Merantau, bagi keluarga Qurba, sama sekali bukan melarikan diri.
Tidak pula menyingkir karena dendam atau benci.
Merantau, hanyalah semata pengamalan dari kaedah pepatah di Ranah Bundo

“Karatau madang dihulu, babuah babungo balun.
Marantau buyuang dahulu, (disaat) dirumah (kampung halaman) paguno balun”.

Walaupun segala akibat harus dilalui, tekad hanya satu.
Berusaha dengan sepenuh hati menurut kemampuan yang ada.
Sesuai dengan kondisi dan situasi yang sedang dialami pada tiap-tiap waktu itu.

Dengan bantuan dari keluarga Bulan Bintang dan dari para perantauan di Pekanbaru, Medan, Padang Sidempuan dan Jakarta, akhirnya terwujudkan juga cita-cita.

Seberat-berat apapun beban dipundak, niscaya akan dirasakan ringan, selama dipakaikan kaedah “berat sepikul ringan sejinjing”.

Langkah pertama, kaum ibu yang sejak lama ter-gabung dalam amal Muslimat Keluarga Besar Bulan Bintang, di antaranya digerakkan oleh Saudara Syarifah Dinar dan Asma Malim, telah berhasil menghimpunkan bingkisan-bingkisan mawaddah fil qurba berupa kain, pakaian dan uang.

Mawaddah fil qurba, dijadikan semacam jembatan serasa sepenanggungan, sebagai inti dari mengamalkan adat nan basandi syarak, syarak basandi Kitabullah juga.

Bingkisan yang sudah dikumpul langsung diantarkan kepada para keluarga korban perjuangan di beberapa tempat terserak yang dapat dicapai di Sumatera Barat. Terjalinlah kembali ta’ziyah fil qurba dengan surat pengantar Bapak DR. Mohamad Natsir.

Dengan pedoman yang digariskan secara rinci oleh Bapak DR. Mohamad Natsir untuk maksud mengumpulkan kerikil-kerikil ter-pelanting akibat pergolakan.

Maka amal-amal nyata yang telah mulai digerakkan itu, dilanjutkan kearah mencari lapangan pekerjaan bagi tenaga-tenaga terpelanting tersebut.

Tentu, disesuaikan menurut bakat dan kemampuan mereka masing-masing juga. Umumnya usaha ini menemui berbagai kesulitan. Secara psikologis, umat masih diliputi oleh rasa takut.

Alasan yang sering terdengar tampil adalah demi menjaga keamanan diri yang bersangkutan.
Akibatnya banyak amalan yang tak berani muncul.

Namun demikian, dalam jumlah yang sangat sedikit, dapat juga berhasil.
Hasil ini pada umumnya adalah karena “faktor hubungan” keluarga dan famili antara yang “menerima” dan yang “memberi”.

Dalam kaedah “singkek uleh mauleh kurang tukuak manukuak”.

Didorong rasa tanggung jawab terhadap kampung halaman, yang baru keluar dari kancah pergolakkan, maka putera yang benar cinta kampung halaman negerinya, pastilah ingin turun tangan membangun kembali kampung negerinya itu.

Usaha kearah itu dengan menumbuhkan perhatian menggerakkan perantau- perantau.
Guna menyalurkan bantuannya untuk mendorong kembali kehidupan rakyat.

Kerja yang tidak kecil artinya, adalah menghubungi mereka serta memanggil hati mereka, dalam berusaha membangun kampung dan negeri dari tanah perantauan.

Lebih jauh yang diniatkan adalah timbulnya “percaya diri” (self confidence) dalam arti strategi yang menyatu, yaitu “strategi harga diri” yang lebih sering disebut oleh Bapak DR. Mohamad Natsir dengan izzatun nafsi sebagai buah nyata dari pan-dangan hidup ajaran tauhid (Tauhidic Weltans-chaung).

Melanjutkan usaha ini Bapak DR. Mohamad Natsir terus menerus membekali dengan pedoman dan petunjuk-petunjuk.
Hal tersebut telah digoreskan Beliau, lama sekali.
Walau di saat diri Beliau tengah berada dalam karantina politik dari rezim “orde lama”.
Garisan yang sebenarnya merupakan pandangan bersama para pemimpin-pemimpin umat yang lainnya juga.

Sebenarnya, dalam setiap menentukan sikap para pemimpin umat itu, tidak pernah meninggalkan prinsip musyawarah.
Begitu selalu dilakukan dengan Bapak Syafruddin Prawiranegara, Bapak Burhanuddin Harahap, Buya Duski Samad, dan lain-lainnya.

Ide membangun dari rantau yang diketengahkan Bapak DR. Mohamad Natsir disambut baik.
Tidak hanya para dermawan, dengan menyanggupi untuk membantu melapangkan jalan dalam usaha-usaha yang tengah dilakukan.
Tetapi juga oleh para pemikir, pengetua kampung halaman.

Sehingga dengan nyata melahirkan pusat pemikir dan penggerak kampung halaman dari rantau.
Yang setiap masa bisa dikembangkan sesuai kebutuhan, baik secara partial maupun global.
Tumbuhlah semacam center of exelence untuk Ranah Minang.

Adalah suatu keniscayaan belaka, bahwa “mencapai kemakmuran rakyat banyak ditentukan kepada kerajinan tangan dan usaha rumah tangga”.
Memulai program sederhana melalui keterampilan tangan (handy-craft), perindustrian tikar mendong ataupun persuteraan.
Ditumbuhkan melalui beberapa program latihan dan pengenalan.
Idea ini mulai dilaksanakan tahun 1962.

Awal tahun 1963, selesai masa pelajaran, beberapa tenaga terlatih pulang ke kampung masing-masing.
Mereka pulang, dengan dibekali amanat.
Supaya kepandaian praktis yang telah diperdapat, hendaklah membekali diri dan untuk meningkatkan mutu masyarakat.

Di kala itu Bapak DR. Mohamad Natsir sudah pindah ke Batu, Malang.

Merencana sambil tasyakur nikmat atas bebasnya Ibu Hajjah Rahmah El Yunusiyah di Padang Panjang dari karantina politik orde lama, telah mempertemukan teman, guru dan bekas murid.

Lazimnya, pertemuan dikalangan keluarga seperti itu, telah membuahkan ke-sepakatan dari hati ke hati untuk kemudian dipindahkan ketangan.
Berbentuk amal nyata.
Beberapa ilmu pengetahuan praktis yang telah didapat di Jawa Barat, yakni sutera alam dan tikar mendong harus dikembangkan di Sumatera Barat, melalui kursus-kursus dan latihan-latihan.

Pertama kalinya dilakukan pada tanggal 15 April sampai dengan 15 Mei 1963 di Balingka, dengan diikuti oleh 20 orang ibu-ibu Muslimah.

Dari sini, kelak tumbuh ber-kecambah membentuk Badan Penyantun terutama bagi menyambut lahirnya dan menjadi penggerak untuk percepatan pembangunan serta perwujudan idea Rumah Sakit Islam Ibnu Sina, YARSI Sumatera Barat.

Bayangan masa depan yang menyeruak penuh harapan di antara tekanan diktator yang dikendalikan oleh PKI dimasa lalu, tetap merayap dari sudut ke sudut hati umat.
Perasaan dan pengalaman itu melecut semua untuk membentuk masa depan yang lebih aman dan tenteram.
Walaupun juga barangkali dirasakan, bahwa di antara hal-hal itu ada yang demikian barunya.
Sehingga sukar.
Malah rasa-rasa tak mungkin dapat mencapainya.
Akan tetapi, gerakkan tangan, Allah akan turunkan rezeki.

Semboyan amalan kita ialah :
• Yang m u d a h sudah dikerjakan orang
• Yang s u k a r kita kerjakan sekarang
• Yang tak mungkin kita kerjakan besok
• Dengan mengharapkan hidayat Ilahi

“Katakanlah: Wahai kaumku, berbuatlah kamu sehabis-habis kemampuan-mu, akupun berbuat” !

Itulah bunyi semboyan yang menjadi pesan Bapak DR. Mohamad Natsir dalam pedoman pemulihan tenaga terpelanting, sedari dulu di pertengahan November 1961.

Usaha-usaha mempelajari pengetahuan praktis itu, tidaklah hanya dicukupkan dengan apa yang telah dilaku-kan oleh rombongan pria.

Akan tetapi, kalangan perempuan merasakan pula pentingnya dipelajari dalam mempertinggi kesejahteraan hidup di rumah tangga.

Hubungan kerjasama sesama keluarga mesti ditingkatkan.

Pemeliharaan hubungan melalui beragam usaha seperti yang telah dilakukan oleh Djanamar Adjam dengan H.M. Miftah sekeluarga di Pasar Minggu, sejak November 1963, dengan memperkenalkan cara pembibit-an dan penanaman Tanaman Holtikultura, telah membawa perubahan baru bagi kehidupan pertanian di desa.

Termasuk juga pembekalan dengan pengetahuan penganyaman topi bambu di desa Cangkok Tangerang.
Demikian pula mempelajari penanaman padi dan jagung ke Lembaga Padi dan Jagung di Bogor.

Bagi kalangan “bundo kanduang” kaum ibu di desa-desa yang selalu bergeluit dengan pertanian dan pengolahan alam, maka, pengetahuan sederhana yang disebutkan itu sangat penting dikembangkan.

Tentunya, melalui latihan-latihan praktis.

Pengenalan bibit harapan, penggunaan pupuk yang tepat, percobaan penanaman pertama, sampai kepada praktik pembibitan sayur mayur dimulai dari penanaman bibit “bayam hikmat” (bapinas astunensis) yang dikirimkan dari wisma peristirahatan Ashhabul qafash, di tengah mana Bapak DR. Mohamad Natsir ditahan di Rumah Tahanan Militer di Jakarta.

Disemai tanamkan pula dilingkungan keluarga.

Maka tidaklah salah, mungkin berkat kemurahan Ilahi, “bibit yang halus” yang disemaikan dengan baik, dipelihara dengan tekun dan sabar, akan memberikan hasil yang baik dan bermanfaat.
Apalagi bila disimak pesan yang menyertai di secarik kertas kecil dari balik dinding tahanan pada Desember 1963.

Pesan itu tertuilis, “sesudah dipotong makin bercabang”.
Suatu kata bersayap, berisikan ajakan yang selalu dirasa nikmat oleh setiap keluarga yang menerima.
Sebagai amanat yang harus dipelihara dalam kerangka “bai’atul qurba’ itu.

Salah seorang dari keluarga besar, bernama Buya Haji Bakri Suleman dari keluarga bangsawan Rokan Kabupaten Kampar di Pekanbaru mengungkapkan pesan pemimpin ini dengan pengertian “kuunuu ..bayaaman..”,

Semboyan amal ini merupakan buhul makin erat, setiap saat menjadi pendorong untuk mengangkat amal-amall nyata betapapun beratnya.
Kelak dikemudian hari, Buya Haji Bakri Suleman, bersama dengan teman-teman beliau, seperti Haji Zaini Kunin, Haji Rawi Kunin, Soeman Hs, Ibu Hajjah Syamsidar Yahya, Syamsidar Djoefri, Tengku Djalil, Ibu Hajjah Khadijah Ali, Haji Moeslim Roesli, Dr, Haji Rasanuddin, Moeslim Kawi, dan banyak lagi lainnya.

Dengan mengamalkan falsafah “sesudah dipotong makin berkecambah”, maka tenaga-tenaga tersebut itu, kemudian hari dapat menelorkan amal khairat yang nyata di Pekanbaru dan daerah Riau.

Di antara amal itu adalah, Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Riau yang melahirkan Universitas Islam Riau (UIR).
Mempelopori mandirikan masjid-masjid, membentuk Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Perwakilan di Propinsi Riau.

Para pemimpin umat yang melanjutkan cita-cita Bapak DR. Mohamad Natsir ini sangat banyak bertebaran, dimana-mana.

Di Propinsi Riau umpamanya perhatian tertuju kepada keadaan suku terasing, seperti Suku Sakai dan Suku Laut yang terdapat dipropinsi tersebut.

Di Sumatera Barat perhatian sama darahkan ke Kepulauan Mentawai.
Begitu pula, ikut aktif dalam mendirikan Rumah Sakit Islam IBNU SINA Yarsi Riau, setelah berdiri di Sumatera Barat Yayasan Rumah Sakit Islam yang melahirkan Rumah Sakit Islam IBNU SINA di Bukittinggi. Semuanya, berupa amal-amal khairat yang nyata dan telah dinikmati oleh umat keberadaannya.

Pada pertengahan tahun 1968, selama hampir satu bulan Bapak DR. Mohamad Natsir selaku Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia berkeliling di Sumatera Barat (15 Juni - 15 Juli 1968).

Beliau berkeliling mendatangi jama’ah hampir pada setiap daerah tingkat II.
Sejak dari Pesisir Selatan hingga Pasaman, mulai dari Padang hingga Talawi dan Sijunjung.
Menghidupkan kembali jiwa yang telah diam hampir mati dan mata yang kuyu tanpa harapan.

Melalui taushiah yang amat berharga, secara berangsur tetapi pasti, harapan umat kembali menggeliat hidup menyambut himbauan “pemimpin pulang”.

Bapak DR. Mohamad Natsir, pemimpin pemandu umat Islam Indonesia, adalah bekas Perdana Menteri Pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang di kenal dengan “mosi integral Natsir”.

Beliau termasuk pendiri Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, disamping telah lama terpilih sebagaii Wakil Presiden Muktamar Alam Islami.

Beliau juga adalah bekas Ketua Umum Partai Masyumi yang telah dibubarkan oleh pemerintahan Presiden Soekarno pada tahun 1960.

Lepas dari segala atribut yang melekat pada diri Bapak DR. Mohamad Natsir itu, beliau diranah Minang ini adalah ninik mamak, yang bergelar sako Datuk Sinaro Panjang, dari Maninjau.

Walaupun beliau dilahirkan ke bumi di dusun kecil Jembatan Berukir Batu Begirik Alahan Panjang Desa Tigo Sepakat Lembah Gumanti di Kabupaten Solok.

Dalam setiap pertemuan, baik di tanah lapang ataupun di ruang-ruang sekolah dan masjid-masjid yang Beliau datangi, selalu berpesan supaya setiap pribadi pemimpin selalu memiliki sikap teguh (istiqamah) dalam pendirian.

Di saat para pemimpin pejuang beranjak pulang kembali dari jihadnya.
Mesti kembali lagi berjuang menghidupkan jiwa umat.
Agar jiwa umat selalu terjaga ruhnya tetap hidup. Bapak DR. Mohamad Natsir, telah pula mengingatkan dengan ungkapan yang teramat politis dan puitis, tentang kriteria pemimpin yang pulang itu.

“Empat cara, pulang bagi Pemimpin dari Perjuangan.
Dia pulang dengan kepala tegak, membawa hasil perjuangan.”

Maka dia harus bersyukur kepada Allah, dengan selalu berupaya tidak pernah berhenti menjaga umat tetap berada pada garis perjuangannya.

Dia, sebagai pemimpin tidak boleh berhenti.
Ada pula, pemimpin yang senyatanya,

“Dia pulang dengan kepala tegak,
tapi tangan di belenggu musuh untuk calon penghuni terungku (tempat pembakaran),
atau lebih dari itu,
riwayatnya akan menjadi pupuk penyubur tanah
Perjuangan bagi para Mujahidin seterusnya”.

Seorang pemimpin penjuang, semestinya memiliki kerelaan tinggi, berkorban diri untuk kepentingan umatnya.
Bukan sebaliknya, minta di sanjung oleh umat yang di pimpinnya.
Tidak jarang, seorang pejuang pemimpin harus menyerahkan jasadnya. Namun, rohnya tetap hidup dan menghidupi jiwa umat yang di pimpinnya.

Dalam konsep pembinaan umat yang selalu diketengahkan oleh Bapak DR. Mohamad Natsir adalah, untuk membina umat mesti awalnya di-dahului oleh keinginan dan kemampuan pemimpin untuk membina sikap diri pribadinya. Karena, pemimpin akan tampil sebagai panutan dari masyarakat yang akan dipimpinnya. Walau kenyataannya pemimpin tersebut harus berkorban demi umat yang dipimpinnya.
Karena itu, ada pemimpin,

“Dia pulang.
Tapi yang pulang hanya namanya.
Jasadnya sudah tinggal di Medan Jihad.

Sebenarnya, di samping namanya,
juga turut pulang ruh-nya yang hidup,
dan meng-hidupkan ruh umat sampai tahun berganti musim,
serta mengilhami para pemimpin yang akan tinggal di belakangnya”.

Tentu, bukanlah pemimpin sejati, yang pulang dengan menyerah kalah.
Atau menjadi pengikut arus tasyabbuh, ber-lindung pada hilalang sehelai, karena mendandani diri sendiri.

Lebih parah lagi kalau terjadi pencampur bauran haq dan bathil, sehingga jiwa umat jadi mati.

Pemimpin sedemikian, kata Bapak DR. Mohamad Natsir, serupa dengan;

”Dia pulang dengan tangan ke atas,
kepalanya terkulai, hatinya menyerah kecut kepada musuh
yang memusuhi Allah dan Rasul.

Yang pulang itu jasadnya, yang satu kali juga akan hancur.
Nyawanya mematikan ruh umat buat zaman yang panjang.

Entah pabila umat itu akan bangkit kembali,
mungkin akan diatur oleh Ilahi dengan umat yang lain, yang lebih baik,
nanti……..
Ia “Pemimpin” dengan tanda kutip.”

Namun, ada juga pemimpin pejuang yang tidak pernah pulang dari medan jihadnya.
Mereka adalah para nakhoda pembawa bahtera.

“Adakalanya ada nakhoda berpirau melawan arus.
Tapi berpantang ia bertukar haluan, berbalik arah.
Ia belum pulang.”

Berpirau artinya maju.
Maju menyongsong angin dan arus.

Waktu berpirau, perahu dikemudikan sedemikian rupa, sehingga angin dan gulungan ombak tidak me-mukul tepat depan.
Tetapi menyerong.
Adapun haluan pelayaran tetap kearah tujuan yang telah ditentukan.
Tidak berkisar.

Dalam suasana sulit sekalipun, pemimpin umat harus bisa istiqamah mencapai arah dan tujuannya.
Walaupun untuk itu dia terpaksa melawan arus dan gelombang..

Pesan ini disampaikan beliau sudah lama sekali.
Tetapi selalu, dan selalu terasa baru.
Diketengahkan dalam satu ungkapan indah, pada ketika yang panjang di Medan Djihad, 24 Agustus 1961/ Maulid 1381.
Tepatnya, setahun setelah Masyumi membubarkan diri.

Demikianlah suatu sunnatullah.
Bahwa di pundak pejuang ada beban yang mesti dipikul dan untuk selalu di ingat oleh pemimpin pejuang.

Ranah Minang di kala itu sedang diuji coba oleh misi baptis melalui pendirian Rumah Sakit Baptis di Bukittinggi dengan iming-iming membantu kesehatan penduduk yang lemah.

Dukungan beberapa oknum pihak penguasa di antaranya kalangan tentara telah memberi angin seakan program Baptis itu tidak mungkin dihalangi.
Alasannya, menurut mereka yang mendukung, sangat sederhana, karena pihak Baptis berusaha dalam “menyiapkan sarana pokok yang memang dibutuhkan masyarakat yang tengah sakit badan maupun perasaan”.

Ninik mamak alim ulama sudah bicara.
Namun gaungnya ibarat sipongang dalam ngarai.
Seakan tak ada yang mau menyahuti.

Kata tak berjawab, dan gayung tak pernah disambut.
Artinya, dianggap sebagai angin lalu.
Tidak hanya di Bukittinggi.

Bahkan gerakan Kristenisasi “Salibiyah” terasa juga di daerah-daerah pinggiran seperti Pasaman Barat (Kinali).
Daerah yang sejak tahun 1950 telah diberikan hak ulayatnya oleh ninik mamak Pasaman kepada Pemerintah Daerah Sumatera Tengah, menjadi tempat bermukimnya para transmigrasi.

Ibarat pepatah yang menyebut dalam kata bersayap menumpang riak dengan gelombang di tengah alunan pesatnya pembangunan dan pengembangan daerah-daerah, secepat itu pula gerakan kristenisasi menyertai.
Na’udzubillah.

Kondisi ini terasakan pahit oleh masyarakat yang merasa dirinya kalah.
Dan selalulah terlihat sikap putus asa berpangku tangan dengan mengambil posisi lebih baik mengalah.
Bila ini diteruskan bisa-bisa terjadi jalan di alih orang lalu atau tepian dialih orang yang pergi mandi.

Bahayanya, masyarakat jadi dongkol dan berpangku tangan.
Suatu pengalaman pahit, tetapi sangat berharga didalam mengembalikan sikap arif dan penuh kehati-hatian.

Karena itu khusus untuk daerah Sumatera Barat kehadiran Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DEWAN DAKWAH) di sambut sebagai suatu wadah tempat umat menggantungkan harapan.

Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia diharapkan sebagai badan “yang akan mampu menjawab tantangan”, karena dianggap sangat istiqamah sebagai kekuatan anti Komunis di Indonesia.

Keberadaanya diterima oleh kalangan tua dan muda.
Suatu kekuatan baru dalam memelihara kerukunan umat dan kejayaan agama.
Hanya sebahagian kalangan non Islam yang amat meragukan keberadaan Dewan Dakwah.

Mereka cemas seakan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia akan menggerakkan kembali pergolakan di daerah.
Mencungkil kembali luka lama yang mulai bertaut.

Namun Bapak DR. Mohamad Natsir menasehatkan gubahlah dunia dengan amalmu dan hidupkan dakwah bangun negeri

Jadi, programnya jelas,
“menghidupkan dakwah membangun negeri”. 

CR. Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir dalam Dakwah Komprehensif, bagian I “Hidupkan Dakwah Bangun Negeri” oleh Buya H.Mas’oed Abidin

Comments