Menatap Masa Depan Bangsa

MASA DEPAN

OLEH: H.MAS’OED ABIDIN

Betapapun krisis tengah melanda Indonesia sebagai bahagian dari kawasan Asia Tenggara, namun sebagai bangsa yang besar semestinya bersikap optimis dengan dorongan semangat besar bahwa bangsa (kawasan) ini akan menjadi pusat kegiatan masa datang, baik dalam penguasaan ekonomi ataupun intelektual menghadapi percaturan abad ke duapuluh satu.

Suatu kenyataan, instalasi kekuatan ekonomi terpegang oleh bahagian terkecil (selected minority) dengan penguasaan kebutuhan mayoritas penduduk di pedesaan.
Namun, bila kekuatan kecil ini mampu membangkitkan peran penguasaan kebutuhan terbesar masyarakat, adalah suatu keniscayaan semata bangsa ini akan dapat bergerak secara pasti menjadi umat yang di perhitungkan.

Sulit untuk di elakkan, adanya suatu keharusan memelihara gerak pertumbuhan dari bawah (bottom-up).
Usaha nyata perlu dikembangkan melalui ekonomi keluarga dan pemungsian kekuatan ekonomi pasar dari pedesaan.
Karena, yang akan memimpin orang banyak adalah yang bisa berbuat banyak untuk orang banyak itu.

Peranan generasi mendatang harus di siapkan pada dasar kesepahaman memelihara destiny sendiri, dengan menanamkan kebebasan terarah untuk menumbuh kembangkan tanggung jawab bersama, dalam upaya meningkatkan daya saing dan menghasilkan hal-hal yang produktif, pada gilirannya akan membuahkan beragam hasil usaha yang dinikmati bersama.

Memang ada satu kecemasan bahwa sebahagian generasi yang bangkit kurang menyadari tempat berpijak.
Sebenarnya suatu kelaziman belaka pada kawasan yang tengah berkembang tampilan kolektivitas lebih mengedepan dari pada aktivitas individu.

Dalam hubungan ini diperlukan penyatuan gerak langkah memelihara sikap-sikap yang harmonis dengan menghindari adanya tindakan eksploitasi dalam hubungan bermasyarakat.
Penguatan daya implementasi konsep-konsep aktual menjadi sangat penting, melalui research dan pengembangan serta kualita dalam membentuk kondisi.

Pemberdayaan institusi (lembaga) kemasyarakatan yang ada (adat, agama, perguruan tinggi), dalam mencapai ujud keberhasilan, mesti disejalankan dengan kelompok umara’ (penguasa) yang adil (kena pada tempatnya).

Ketersambungan pendapat ilmuan dan para pengamat melalui dialog, dan penekanan amanah pada pemegang-pemegang kendali ekonomi, serta penyatuan gerak seluruh masyarakat yang ujud dalam do’a (harapan) berpadu pada usaha (kenyataan), merupakan pekerjaan mendesak dalam meniti suatu pengembangan pembangunan (development).

Pemeranan seni mengajak secara aktif (dakwah) akan menyokong mempertahankan apa yang kita miliki dan membuat apa yang belum kita miliki.

Akhlak mulia adalah suatu kemestian bagi mendorong tumbuhnya pro-aktif dalam gerak pembangunan fisik dan non-fisik.

Suatu kecemasan bahwa diantara generasi yang tengah berkembang belum siap memerankan tugas di masa depan, memang beralasan.

Gejala itu terlihat dari banyaknya generasi bangsa yang masih terdidik dalam bidang non-science (seperti, kecenderungan terhadap yang berbau mistik, paranormal, pedukunan, penguasaan kekuatan jin, budaya lucah, pergaulan bebas, kecanduan ectacy,dan konsumsi penanyangan pornografi) di tengah berkembangnya iptek.

Gejala ini tampil pada permukaan tata pergaulan yang dipermudah oleh penayangan informasi produk cyber space.

Keinginan yang tidak selektif, peniruan gaya hidup yang tidak berukuran, sesungguhnya akan lebih banyak menghambat kesiapan menatap masa depan.

Kemungkinan ini bisa terjadi karena kurangnya interest terhadap agama dan mulai meninggalkan puncak-puncak budaya yang diwarisi, diperberat oleh tindakan para pemimpin formal dan non-formal yang kebanyakannya masih terpaut pada pengamatan tradisional dan non-science.

Problematika ini akan teratasi dengan usaha berketerusan dalam memelihara kemurnian aqidah (tauhid) supaya tidak terjadi pemahaman dan pengamalan keseharian agama yang campur aduk, serta usaha berkesinambungan dalam menjaga agar tidak terjerumus dalam kehidupan materialis.

Upaya yang intensif ini semestinya berkemampuan menggiring Sumber Daya Umat tetap bertumpu kepada science dengan nilai agama dan budaya.
Tugas ini perlu di emban secara terpadu.

About these ads
Categories: Amar Makruf Nahi Munkar, Buya Masoed Abidin, Education, Ekonomi anak nagari, Globalisasi, Komentar, Masyarakat Adat, Pluralitas, Politics, Sejarah | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,241 other followers

%d bloggers like this: