Archive for ABS-SBK

Bagaimana sebaiknya umat menyikapi Flu Burung

Bagaimana sebaiknya masyarakat bersikap dan Berfikir Positif Terhadap Permasalahan Flu Burung

(Penyakit Hewan yang berkaitan dengan Kesehatan Manusia)¨

Oleh : H Masoed Abidin

Mukaddimah

Januari 2004, di Indonesia, di laporkan adanya kasus kematian ayam ternak yang luar biasa (terutama di Bali, Botabek, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Barat dan Jawa Barat). Kematian ayam ternak itu, awalnya disebut-sebut karena virus new castle. Kemudian, Departemen Pertanian menyebutkan penyebabnya virus flu burung (Avian influenza (AI)). Jumlah unggas yang mati  akibat wabah penyakit flu burung di 10 propinsi di Indonesia sangat besar yaitu 3.842.275 ekor (4,77%) dan yang paling tinggi jumlah kematiannya adalah propinsi  Jawa Barat (1.541.427 ekor).

Pada bulan lalu (Juli 2005), akibat penyakit flu burung ini, diberitakan telah merenggut tiga nyawa warga Tangerang Banten (dalam pemberitaan didasarkan hasil pemeriksaan laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Depkes Jakarta dan laboratorium rujukan WHO di Hongkong). Masyarakat awam jadi heboh, ketakutan. Seyogyanya masyarakat tidak perlu sampai panik, karena kematian bukan milik muthlak satu penyakit. Akan tetapi, berbagai tindakan kewaspadaan memng perlu di tingkatkan, karena siapapun tahu, bahwa waspada itu adalah bagian dari taqwa.

Menyikapi musibah

Semestinya umat beragama (terutama Islam), apabila melihat datangnya satu peristiwa yang kurang baik, menerimanya sebagai satu musibah atau ujian belaka. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar“.[1]

Memang bangsa kita sedang di uji, di antaranya menurut sumber yang layak kita percayai, sebagian besar Provinsi di Indonesia telah terjangkit flu burung itu. Diantaranya, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Yogyakarta, Jakarta, Bali, Nusatenggara Barat, Nusatenggara Timur, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Bangka Belitung, Riau, Bengkulu, Jambi, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Selawesi Selatan (Sumber: Departemen Pertanian)

Cobaan2 tersebut bagi orang yang beriman membuka peluang untuk melakukan penelitian mendalam, dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sabda Rasul SAW memberikan sinyal kepada kita sbb; “Apabila Allah mencintai seorang hamba (manusia), diberiNya ujian supaya Allah mendengar orang itu menundukkan hati kepadaNya”. (HR. Baihaqi dari Abu Hurairah).[2]

Menurut WHO, flu burung mudah menular dari unggas ke manusia dibanding dari manusia ke manusia. Dalam kaitan penyebaran penyakit ini, barangkali ada baiknya kita simak sebuah hadis, bahwa penyakit dari segi tauhid adalah urusan Allah. Namun, ada upaya nyata yang mesti kita lakukan, sebagaimana diriwayatkan dari Ibn Syihab: Abu Salamah bin Abdurrahman bin ‘Auf pernah menceritakan bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Tidak ada penularan“. Dan dia menceritakan pula bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Yang sakit tidak boleh didekatkan kepada yang sehat.” (HR. Muslim)[3].

Karena itu, masyarakat luas mesti diberitahu tentang penularan virus avian influenza ini dapat bercampur dengan virus influenza yang biasa di idap manusia, karena terjadi kontak langsung dengan unggas atau kotoran unggas yang terinfeksi virus flu burung ini. Satu-satunya cara virus flu burung dapat menyebar dengan mudah dari manusia ke manusia, apabila virus flu burung tersebut bermutasi dan bercampur dengan virus flu manusia.

 

 Usaha pencegahan

Secara ilmu pengetahuan dan hasil2 penelitian, dianjurkan sangat agar sejauh mungkin menghindari kontak langsung dengan ayam atau unggas yang diidentifikasi telah terinfeksi flu burung. Bila kalimat ini kita perpegangi, tentulah para pekerja di peternakan, penjual, pengemudi yang membawa produk unggas adalah profesi yang paling rentan terkena virus ini. Maka setiap orang harus bekerja dengan sempurna, ” Allah menyukai orang yang bekerja, apabila dia bekerja dengan baik” (HR. Thabrani)[4]

” Cara paling utama, tentulah menjaga kemestian mencuci tangan dan mandi sehabis bekerja, meninggalkan pakaian kerja di tempat kerja dan membersihkan kotoran unggas setiap hari. Artinya menjaga kebersihan selalu, .

Masyarakat secara luas, sangat dianjurkan untuk senantiasa menjaga daya tahan tubuh dengan memakan makanan bergizi serta istirahat cukup.

Bimbingan agama sangatlah jelas, bahwa makan tidak tegantung kepada banyaknya yang dimakan, tetapi banyaknya gizi yang diproduksi oleh makanan itu, sehingga orang yang memakan makanan itu menjadi ringan atau sehat badannya. Salah satu sabda Rasulullah SAW menyebutkan, “Yang lebih disukai Allah di antara kamu ialah yang sedikit makannya dan ringan badannya.” (HR. Dailami dari Ibnu Abbas)[5]

Masyarakat umum yang profesinya sebagai peternak unggas (ayam dan sejenisnya), semestinya mengolah pemeliharaan unggas dengan cara yang benar, antara lain, memilih unggas yang sehat.

§  Para ahli semestinya memberikan panduan2 secara rutin. Bila dalam penyebaran virus ini dapat juga melalui mediasi babi, maka tidak heran jika sejak 14 abad lalu Allah mengharamkan babi ini. Firman Allah mengingtakan kita semua, “Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi –karena sesungguhnya semua itu kotor– atau binatang sembelihan yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS.Al.An’am : 145)[6]

§  Memasak daging ayam dengan benar. Hemat dan tidak berlebihan, terutama tentang makanannya sesuai bimbingan hadis Rasul SAW diriwayatkan dari Jabir dan Ibn Umar r.a: Rasulullah SAW. bersabda, “Orang Mukmin makan dengan satu usus, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh usus. (HR. Muslim)[7].

§  Mengolahnya dengan bersih, karena Allah itu bersih dan menyenangi yang bersih, Allah itu indah dan menyenangi yang indah.Ingatlah selalu firman Allah,” Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah ni’mat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya  saja menyembah“. (QS. An-Nahl: 114)[8]

§  Menjamin kematangannya (Diantara para ahli menyebutkan haruslah dijamin suhunya sampai dengan suhu ± 800 C selama 1 menit dan pada telur sampai dengan suhu ± 640 C selama 4,5 menit, karena virus ini pada daging ayam tidak bertahan lama karena selnya sudah mati jika dimasak. Virus juga akan mati pada suhu 60 derajat celsius selama 30 menit atau 56 derajat celcius selama tiga jam). Wallahu a’lamu, dan para ilmuanlah yang paling mengerti.

§  Dari sisi keyakinan agama, mulai lah sesuatu dengan berlindung kepada Allah (diantaranya memulai pekerjaan dengan Bismillah).

Obat Flu Burung:

Formula untuk mengatasi flu burung pada unggas, di antaranya telah ditemukan oleh Tropical Agriculture Centre (TAC) bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Barokah di Nganjuk, Jawa Timur. Menurut Direktur Penelitian dan Pengembangan TAC Herman Maulana, formula ini bisa menekan kematian unggas hingga 70 persen. “Bahan yang kita gunakan adalah garlik murni dari tanaman yang sudah kita ekstrak sehingga membutuhkan dosis sedikit,” kata Herman, baru-baru ini. Selain TAC, obat untuk menyembuhkan unggas dari flu burung juga ditemukan oleh seorang peternak (Zuhairi) asal Rengas Condong, Kabupaten Batang Hari, Jambi. Pekan silam, Zuhairi menyatakan, ramuannya ampuh untuk mengobati sekitar 180 ayamnya yang terjangkit flu burung. Ramuan Zuhairi terdiri dari campuran buah mengkudu dengan lada dan air.

Khulasah

Memang, amatlah benar, bahwa “man jadda wa jadda“, yakni yang bersungguh-sungguh juga yang akan mendapat.

Akhirnya, manusia beriman harus menyakini bahwa kematian adalah semata ketentuan Allah, karenanya tidak per;lu amat di takuti, namun mesti dipersiapkan. Kematian hanya mengejar kita satu kali. Ingatlah pesan Nabi SAW, Sesungguhnya seseorang dicari oleh rezekinya lebih sering dari dicari ajalnya.” (HR.Thabrani dari Abu Darda’)[i]


 

rsen. “Bahan yang kita gunakan adalah garlik murni dari tanaman yang sudah kita ekstrak sehingga Catatan


¨  Disampaikan oleh H.Mas’oed Abidin dlm acara yang di laksanakan oleh Fak.Peternakan UNAND, di Aula Unand Jl.Perintis Kemerdekaan Padang, Rabu, tgl.10 AGUSTUS 2005, dala upaya menyikapi masalah Flu Burung.


[1]           QS. Al Baqarah : 155.

   [2]   إِذَا أَحَبَّ اللهُ عَبْدًا ابْتَلاَهُ لِيَسْمَعَ تَضَرُّعَهُ (رواه البيهقي عن ابن هريرة)

    [3]  عَنْ ابْنِ شِهَابٍ: إِنَّ أَبَا سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ حَدَّثَهُ أَنَّ   رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لاَ عَدْوَي، وَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لاَ يُوْرِدُ ُمْمِرضٌ عَلَي مُصِحٍّ ) رواه مسلم)

[4]       يُحِبُّ اللهُ العَامِلَ إِذَا عَمِلَ أَنْ يُحْسِنَ ) رواه الطبراني (

       [5] أَحَبَّكُمْ إِلىَ اللهِ أَقَلَّكُمْ طَعْمًا وَ أَخَفَّكُمْ بَدَنًا (رواه الديلمي عن ابن عباس)

[6]    قُلْ لآأَجِدُ فيِ مَا أُوْحِيَ إِليَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَنْ يَكُوْنَ مَيِّتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوْحًا أَوْ لحَْمُ خِنْزِيْرِ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أًهِلَّ لِغَيْرِ اللهِ بِهِ، فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ (الأنعام: 145)

[7]    عَنْ جَابِرٍ وَ ابْنِ عُمَرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: المُؤْمِنُ يَأْكُلُ فيِ مِعًي وَاحِدٍ وَ الْكَافِرُ يَأْكُلُ فيِ سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ. (رواه مسلم)

[8]   فَكُلُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللهُ حَلاَلاً طَيِّبًا وَ اشْكُرُوْا نِعْمَةَ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ       ) النحل: 114 )

[9]     إِنَّ الرِزْقَ لَيَطْلُبُ العَبْدَ أَكْثَرَ مِمَا يَطْلُبُهُ أَجَلُهُ ]رواه الطبراني[

 

Comments

Hematlah Energi yang disediakan Alam secara terbatas

HEMATLAH DENGAN ENERGI YANG TERSEDIA DI ALAM SEMESTA
SEBAGAI PENGAMALAN DARI AJARAN ISLAM DAN ETIKA RELIGI

Oleh : H. Mas’oed Abidin

ALAM TUNDUK PADA KEKUASAAN ALLAH
Firman Allah menyebutkan, “Sesungguhnya pada langit dan bumi terdapat tanda-tanda…”

” Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman.” (QS.45, al Jatsiyah : 3).

Manusia – penduduk bumi -, yang disebut khalifah – penguasa, pengelola, penerima amanah sebagai penjaga dan pembaharu dari alam yang telah diciptakan Allah untuk makhluk ini –, wajib menjaga agar alam itu tetap lestari.

Salah kelola alam adalah kesalahan (dosa) besar yang mengakibatkan bencana karena energi alam tidak termanfaatkan.
Hal ini lebih awal dirasakan oleh manusia.
” dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan dan mereka di liputi oleh (azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya. ” (QS.45, al Jatsiyah : 33).

BUMI DAN LANGIT SATU DAN LAINNYA TERKAIT
Ilmu pengetahuan kosmologi moderen, secara observasi maupun teori, menunjukkan dengan jelas bahwa, pada suatu ketika dalam waktu, keseluruhan alam semesta adalah tak sesuatupun melainkan sebuah AWAN BERUPA ASAP, yaitu sebuah komposisi padatan tinggi yang gelap dan gas yang panas.

Hal ini amatlah jelas sesuai dengan firman Allah didalam Alquran menyebutkan,
…. dan kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. (QS.41, Fush-shilat : 11).

Sekaligus ayat ini menjelaskan kepada manusia bahwa ”alam patuh kepada perintah dan hukum Allah”

Alam dijadikan lengkap dengan sumber energi.
Terbatas.
Di antaranya air.
“ dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga mau beriman – percaya akan kekuasaan Allah –?” (QS.21, al Anbiya’ : 30).

Persoalan mendasar adalah ;
1. Sikap jiwa (mental attitude) yang wajib dipunyai dalam mengaji fenomena alam
2. Iman – percaya –, dengan yakin terhadap kekuasaan dan keesaan Allah Khaliqul Alam.
3. ”Air merupakan unsur utama dari benda hidup.”. Dari 50 hingga 90 persen dari berat organisme hidup adalah air.”

Allah telah membangun langit itu, dan dia pula yang meluaskannya.
Alam tidak terjadi dengan sendirinya.
Dia dijadikan dan tunduk kepada aturan baku yang telah ditetapkan oleh pencitanya.
Para ilmuan berkata,”pengetahuan kami mengenai ekspansi alam semesta masih sangat terbatas”.

Dengan wahyu Allah pengetahuan lebih meningkat.
Manusia mesti mengelola dan menghadapi fenomena alam sesudah dan sebelum terjadi, dengan mudah dipelajari bahwa alam berjalan dengan aturan baku (sunnatullah – natuurwet) itu.
Dan Allah berfirman,
” dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. masing-masing dari keduanya itu BERENANG di dalam GARIS EDAR-nya. ” (QS.21, al Anbiyak : 33).

ANGIN ADALAH SUMBER ENERGI YANG PALING BERHARGA.
” dan Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa berita (kabar) gembira, dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (yakni hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang bersih, ” (QS.25, al Furqan : 48).

” dan Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman, angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Anbiya’ : 81).

Angin adalah sumber energi.
1. Dengan energi itu, aman berjalan di daratan terbuka– tidak perlu AC dan freon yang membuat lapisan ion menipis, penyebab pemanasan global –.

2. Dengan angin memudahkan (berlayar) di lautan, meluncurkan bahtera membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik.

Sumber energi tidak akan mendatangkan manfaat, ketika ;
a. tidak mau menjaga alam sebagai sumber energi.
b. enggan mengelola kelestarian di alam ini.

Bukti dan tanda kekuasan Allah, dikirim angin sebagai pembawa berita gembira.
Awan tebal ditiup angin, lalu hujan turun, menjadi rahmat Allah dengan tumbuhnya biji-bijian yang disemai, menghijaukan tanaman, mengganti putik menjadi buah, dan seterusnya.

Ketika alam dirusak, maka air hujan yang turun berubah menjadi banjir, membawa petaka. Angin bertiup kencang, tanpa penghalang kayu di hutan, ikut menghancurkan rumah dan bangunan.

Perintah kepada manusia pandailah menjaga alam, dan hematlah menggunakan energi yang disediakan oleh alam itu.
” dan Allah Dia-lah Yang mengirimkan angin ; lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu kesuatu negeri yang mati lalu Kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu.” (QS. 35, Fathir : 9).

AIR ADALAH SUMBER ENERGI KEHIDUPAN
Allah mengumpamakan yang benar dan yang bathil dengan air dan buih. Buih akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya. Namun, air yang memberi manfaat kepada manusia akan tetap ada di bumi. Memberikan perbandingan antara logam yang mencair dalam air dan buihnya. Buih akan lenyap dan tidak ada gunanya bagi manusia –.”

Kejadian alam semesta tergantung kepada kekuasaan Allah SWT.
” dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa ” (QS. 51, adz-Dzariyat : 47).

“Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemu-lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan.” (QS. 54, al Qamar : 12).

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir)” (QS.15, al Hijr : 45).

Umat manusia sekarang mesti;
a. menjaga potensi energi yang ada dalam air,
b. mengolahnya dengan sebaiknya.
c. Air sumber energi terbarukan, jika kita pandai memanfaatkannya.

ALAM TUNDUK KEPADA KETENTUAN HUKUM ALLAH DAN WAKTU
” Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan MENUNDUKKAN matahari dan bulan, MASING-MASING BERJALAN MENURUT WAKTU YANG DITENTUKAN. Ingatlah, Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. 39, az-Zumar : 5).

GUNUNG-GUNUNG MENJADI PASAK BUMI
” Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?,” (QS. 78, an Naba’ : 6-7).

Ilmu pengetahuan moderen telah membuktikan bahwa, “Gunung-gunung memiliki akar-akar yang menjuntai ke bawah.”
Selanjutnya, “Ilmu-ilmu pengetahuan bumi moderen telah membuktikan bahwa gunung-gunung memiliki akar-akar yang dalam di bawah permukaan tanah.”

“ dan Dia MENANCAPKAN (mengukuhkan) gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak GONCANG bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk,” (QS.16, An Nahl : 15).

Para ilmuan peneliti menyimpulkan bahwa, “Gunung-gunung memainkan peranan penting dalam membuat kestabilan pada kerak bumi.”
Lebih jauh dinyatakan bahwa, “Seperti halnya teori moderen mengenai lapisan tektonik menyatakan bahwa gunung-gunung bekerja sebagai stabilisator-stabilisator bagi bumi baru saja mulai dipahami dalam kerangka kerja mengenai lapisan tektonik sejak akhir 1960-an”

ALQURAN JELASKAN PERGERAKAN AWAN
Di saat terjadi gempa di Sumbar, banyak orang menyaksikan keajaiban di langit, tampak awan bertuliskan kata Allah atau Muhammad.

Perlu dipahami bahwa ;
a. Alam ada dalam kuasa Allah.
b. Tidak pula ada mistik-mistik-kan.
c. Cerdaslah menatap awan.

” Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya ….” (QS.24, an-Nuur : 43).

Kekuasaan Allah terlihat jelas ketika awan-awan bergerak perlahan-lahan.
Ditiup angin. Kemudian, Dia menggabungkan mereka bersama-sama.

Awan-awan dalam formasi menggunung (masif) mulai membentuk manakala angin mendorong gumpalan-gumpalan kecil awan putih menuju suatu area dimana awan-awan itu bertemu.
Kemudian, masuk ke dalam satu susunan.
Bergabung : Awan kecil bergabung membentuk awan lebih besar, berbagai formasi.
Bertimbun : Awan-awan kecil bergabung, membubung tinggi, lebih besar ke atas… disebabkan badan awan bertumbuh vertikal, sehingga awan tersusun makin tinggi .. Selanjutnya, engkau melihat hujan turun dari celah-celahnya. Ketika titik-titik air menjadi terlalu berat bagi pembubungan untuk mendukungnya, air mulai turun dari awan sebagai hujan, salju, dsb.

“…Dan Dia menurunkan SALJU dari gunung-gunung di langit, maka Dia menimpakan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan
Dia menghindarkannya dari siapa yang dikehendaki-Nya.
Hampirlah sinar kilat itu menghilangkan penglihatan.”

Ahli-ahli meteorologi telah menemukan bahwa awan-awan yang menggunung, dan hujan salju, mencapai suatu ketinggian 25.000 hingga 30.000 ft (+/- 6 hingga 8 km).

Awan-awan menjadi beraliran listrik ketika salju jatuh melalui suatu wilayah dalam awan yang yang berisi serpihan-serpihan kristal-kristal es super dingin… Salju, dengan tegangan yang negatif, jatuh melalui bagian bawah awan ini menjadi bermuatan negatif. Muatan negatif ini dinetralkan ke tanah jadi kilat.

HEMAT DALAH SIKAP JIWA ORANG PERCAYA (BERIMAN).
Boros (= israaf) sama artinya dengan melakukan sesuatu tidak dalam rangka ketaatan. Boros dan melampaui batas adalah penyakit rohani yang sangat merusak bangsa.


FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB BOROS ;
1. Latar belakang keluarga.
2. Keluasan rezki diperoleh setelah Kesempitan.
a. Lupa kepada kesulitan yang pernah ada,
b. Tidak mampu bersikap sabar,
c. Tidak mampu bersikap Tawassuh (pertengahan) dan
I’tidaal (seimbang) dalam menggunakan pemberian Allah melalui alam
d. Bersikap tabzir (menyia-nyiakan harta).

Amr bin Auf r.a meriwayatkan Rasulullah bersabda: “Demi Allah,
bukanlah kefaqiran yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi aku khawatir
jika dunia telah dihamparkan kepada kalian sebagaimana dihamparkan
kepada umat terdahulu, kemudian kalian akan saling berlomba, sehingga
akhirnya hal itu akan membinasakan kalian sebagaimana telah
membinasakan mereka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

3. Lalai terhadap dahsyatnya hari kiamat.
4. Lalai terhadap realitas kaum muslimin.
Disebabkan beberapa faktor ;
a. ‘beku’ perasaanya,
b. ‘mati’ rasa belas kasihannya,
c. Hilang rasa ukhuwwah tidak memikirkan kondisi saudaranya.

DAMPAK BURUK DARI TIDAK HEMAT ATAU BOROS.
a. Timbul penyakit fisik.
b. Hati jadi Kesat), Beku berfikir, malas Ibadah.
c. Meningkatnya Nafsu Syahwat
d. Tidak mampu menghadapi ujian dan kesulitan.
e. Lenyap Sifat sosial dan solidaritas sesama.
f. Mudah terjerumus mencari jalan yang Haram.
Rasulullah SAW bersabda : “Akan datang kepada manusia suatu masa,
di mana kala itu seseorang tidak lagi mempedulikan darimana ia
mendapatkan hartanya, apakah halal atau haram.” (HR. An Nasa’i)
g. Tidak dicintai Allah.
Menjadi teman Syaithan.
« …. dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. »

(QS.6, Al An’am : 141).

« Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara
syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. »
(Q.S. Al Israa’ : 26-27)

SALAH MEMANFAATKAN POTENSI ALAM, ENERGI ALAM MELEDAK.
Kekuasaan Allah sangat ilmiah, dan sangat jelimet penuh perhitungan ;

”dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya, dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan — Yang dimaksud berpasang-pasangan, ialah jantan dan betina, pahit dan manis, putih dan hitam, besar kecil dan sebagainya. –, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS.13, ar Ra’ad : 3).

Lebih menakjubkan ayat Alquran yang menyebutkan,
” Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak (berkilauan).” (QS.55, ar Rahman : 37).

Renungkan hasil pandangan ilmu pengetahuan moderen. Ketika gambar direkam dari Teleskop Ruang Angkasa NASA dari “Cat’s Eye Nebula”, sebuah ledakan bintang 3.000 tahun cahaya, Alquran menyebut :menjadi mawar merah seperti minyak (berkilauan).

” Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Tigapuluh tiga kali kalimat yang sama ini di ulang, agar manusia tidak sempat melupakan nikmat Allah.
Lalai dan sombong dari mengingat kuasa Allah adalah satu mental attitude (karakter) yang menjadi penyebab datangnya bencana.

KAUSALITA ANTARA ALAM DAN MENTALITA MANUSIA.
1. ADA HUKUM KAUSAL ANTARA SIKAP JIWA DAN BENCANA.
Apapun yang menimpa kamu berupa sayyiatin (bencana dan kekurangan),
tersebab kelalaian diri sendiri. Manusia wajib berhati-hati dalam hidup di alam.

2. HARTA DAN KELUARGA TIDAK MAMPU MENOLAK BENCANA DARI ALLAH.
Sikap durhaka dan sombong dalam menjaga dan memelihara alam, akan
mengundang bencana.

3. MENCARI SIHIR, MAGIS, PARANORMAL AKAN MENGUNDANG BENCANA.
Sejarah Fir’aun berulang lagi di zaman modern. Ilmu eksakta ditinggalkan,
berpindah kepada sihir dan kekuatan magis. Akhirnya, mereka karam.

4. UMAT LALAI IBADAH, LIDAH BERAT SEBUT ASMA ALLAH, BENCANA MELANDA.
a. keimanan tipis,
b. pesan agama mulai melemah,
c. melampaui batas menggunakan potensi dan alam, adalah penyebab
utama siksaan hidup yang menyerang penduduk negeri.

5. MENJAUHI PERINTAH AGAMA, MERUSAK ALAM, MENGUNDANG BENCANA.
a. kezaliman yang terjadi akan mendorong sikap aniaya.
b. terlambat sadar akan menenggelamkan kedasar laut.

” hingga ketika Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah
dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang
dipercayai oleh Bani Israil, dan saya Termasuk orang-orang yang
berserah diri (kepada Allah)”. Apakah sekarang (baru kamu percaya),
Padahal Sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu
Termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.”
(QS.10, Yunus : 90-91).

6. BISIKAN NURANI RAKYAT KECIL BERMUNAJAT IKHLAS, DIJAWAB ALLAH.
Inilah bentuk kausalita antara jiwa dan perubahan pada fenomena alam.
a. Allah perkenankan permohonan umat tertindas.
b. Bertubi-tubi azab menimpa,
c. Bencana akan melanda dalam negeri. Kemarau panjang dan
kurangnya makanan pokok dan buah-buahan.

” dan Sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir’aun dan) kaumnya
dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan
buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran.”
(QS. 7, al A’raaf : 130).

7. MEMPEROLOK-OLOK KEKUASAAN ALLAH, JUGA MENGUNDANG BENCANA.
a. Ketika kesempitan berganti dengan kemakmuran, mereka menjadi
sombong diri.
b. Ketika keberhasilan diraih, mereka berkata :
“Itu adalah karena (usaha) kami”.
c. Ketika ditimpa kesusahan, mereka lemparkan kesialan itu kepada
ketidak mampuan agama. Bencana taufan (banjir), hama belalang,
kutu, katak dan air minum berubah menjadi darah.

” Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak
dan darah — air minum mereka berubah menjadi darah.– sebagai bukti
yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah
kaum yang berdosa.”(QS.7 : 133)

” Kemudian Kami menghukum mereka, Maka Kami tenggelamkan mereka
di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka
adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu.”
(QS.7, al A’raf : 136).

Akhirnya, hancur semua yang telah dibangun.

8. LUPA AKAN KEKUASAAN ALLAH, AKAN MENDAPAT LAKNAT DAN KUTUKAN.
” dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula)
di hari kiamat. la’nat itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan.”

(QS.11, Hud : 99).

Merusak potensi dan energi alam (bersikap durhaka) akan keluar dari keindahan serta perbendaharaan kekayaan alam, akhirnya akan menjadi musuh kehidupan.

Pelajaran besar dari wahyu, umat manusia mesti memahami hukum kausalita yang ditetapkan Allah SWT bertalian dengan sikap jiwa dan fenomena alam.
“Maka Kami keluarkan Fir’aun dan kaumnya dari taman-taman dan mata air, dan (dari) perbendaharaan dan kedudukan yang mulia. — Dengan pengejaran Fir’aun dan kaumnya untuk menyusul Musa dan Bani Israil, Maka mereka telah ke luar dari negeri mereka dengan meninggalkan kerajaan, kebesaran, kemewahan dan sebagainya. — ” (QS. 26, asy-Syuraa : 57-58).

KESIMPULAN :
I. Umat dakwah mesti mempelajari peristiwa alam dengan cara sikap positif.
a. Tidak mengulangi kesalahan dan kenaifan umat terdahulu,
agar terhindar dari musibah yang disebabkan meledaknya energi alam,
b. Jeli dan arif memahami fenomena alam dengan energi dan potensi alam
sebagai anugeran Allat SWT,
c. Kemauan yang sungguh mengamalkan bimbingan dan tuntunan Allah dengan
beragama secara kaffah.

II. Menjaga Alam dengan menjaga Kesuburan Nafs sangat di anjurkan;
a. dengan ibadah teratur,
b. memperbanyak zikrullah, membaca al-Qur’an, melakukan shalat sunnat
malam (tahajjud),
c. hidup dengan menghindari yang diharamkan.

III. Melakukan tazkiyah nafs didukung oleh himmah (minat) yang kuat,
a. niat yang tulus, keyakinan yang benar dengan cara yang benar,
b. khusyuk (fokus) didalam pemanfaatan sumber dan potensi energi alam,
c. memiliki kesadaran ruhani,
d. menjaga garis-garis yang telah ditetapkan Allah untuk alam ini.

Kita memerlukan zikir, supaya Allah selalu bersama kita dalam menuju
redhaNya. Keseimbangan ilmu dan zikir muthlak dalam perjalan hidup
manusia.
Hakikatnya tidak akan ada perjalanan kehidupan, melainkan dengan
keduanya.

IV. Membersihkan diri (muhasabah) dan merawat hati dilakukan dengan
membersihkan niat, akidah dan ibadah yang wajib didukung ilmu.
a. Tidak berlaku sebuah amal tanpa ilmu.
Tidak berarti setumpuk ilmu, tanpa diamalkan.
b. Kesadaran, hanya Allah semata yang punya kebesaran.
c. Menjaga energi alam adalah tugas yang mulia.

Al Quran menyatakan peran agama multi-fungsi, yakni mengeluarkan manusia dari sisi gelap kealam terang cahaya (nur, hidayah, iman dan peradaban).

Membentuk masyarakat mestilah dengan basis ilmu pengetahuan, basis budaya –saling menghargai dalam satu keluarga bangsa –, dan agama – menjaga ibadah, akhlaq dan akidah shahihah–.

1. Nilai etika reliji (akhlaq mulia) melahirkan masyarakat proaktif dalam menyikapi
dan menghadapi perubahan alam.
2. Kehidupan ditengah alam adalah satu realitas yang mesti diterima sebagai
satu sunnatullah dan disambut dengan usaha.
3. Hidup dan kehidupan ditandai dengan selalu melakukan perbaikan dengan
menjaga peningkatan mutu diri dan masyarakat.

Di sinilah peran terbesar umat dakwah untuk ikut aktif menata ulang masyarakat dengan nilai-nilai kehidupan berketuhanan dan bertamaddun itu.

Wabillahitaufiq wal hidayah

Comments

Tuntunan Akhlak dalam Ajaran Islam

Tuntunan Akhlak, Ajaran Islam

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Ajaran Islam sangat banyak memberikan dorongan kepada sikap-sikap untuk maju.
Kemajuan materi (madiyah) akan terpacu oleh akhlak manusia yang menggenggam materi tersebut.

Akhlak, konsep abadi dari Khalik Maha Pencipta muthlak mestinya dilakukan makhluk manusia yang telah diciptakan.
Premis ini, memberikan suatau kenyataan bahwa makhluk manusia mesti terikat erat dengan Khalik sang Pencipta.

Akhlak adalah jembatan yang mendekatkan makhluk dengan Khaliknya.
Menjadi parameter menilai sempurna atau tidaknya ihsan Muslim itu. Melaksanakan agama sama artinya dengan ber akhlak sesuai dengan tuntunan agama Islam.
Karena itu, agama bukanlah sebuah beban, melainkan adalah sebuah identitas (cirri, shibgah).

Membebaskan diri dari ketentuan Maha Pencipta, atau membebaskan manusia dari nilai-nilai agama (seperti free of values yang banyak dipahami oleh masyarakat liberalistik) akan berakibat makhluk manusia menjadi makhluk yang tidak punya makna.
Semestinya agama harus dilihat sebagai satu kebutuhan utama.

Betapapun kebutuhan materi telah dapat dipenuhi, suasana hidup akan selalu hambar dan gersang manakala kebutuhan ruhanik (immaterial, spirituil) tidak diperhatikan.
Selalu akan tampak bahwa manusia tanpa agama sama saja dengan makhluk yang bukan manusia.
Perikehidupan tanpa bimbingan agama, artinya sama dengan peri kehidupan tidak berperikemanusiaan.

Para Nabi dan Rasul yang diutus kepada manusia bertugas memberikan tuntunan akhlak dalam semua prilaku kehidupan.
Rujukan dari tuntunan akhlak adalah wahyu Allah.
Semua bimbingan yang terdapat pada semua kitabsuci samawi menekankan kepada terpeliharanya adab pergaulan antar manusia dan sesama makhluk. Tatanan adab pergaulan dimasud selalu di ikat dengan hubungan kasih (mahabbah) dengan Khalik Maha Pencipta, yang disebut dengan ibadah.

Tuntunan akhlak dan ibadah bukanlah sebatas teori, tetapi semua prilaku pada seluruh tingkat pelaksanaan hubungan kehidupan.
Terlihat nyata dalam bentuk prilaku, contoh dan uswah.

Firman Allah menyebutkan “Sesungguhnya telah ada bagi kamu pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik (uswah hasanah), yaitu bagi orang yang mengharap[kan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS.33, al Ahzab : 21).

Rasulullah SAW menyebutkan satu tugas risalahnya sebagai “Hanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (al Hadist).

Pentingnya akhlak di ungkap banyak penyair (ahli hikmah) “innama umamul akhlaqu maa baqiyat, wa inhumu dzahabat akhlaquhum dzahabuu”, yang di artikan, “tegak rumah karena sendi, sendi hancur rumah binasa. Tegaknya bangsa karena berbudi, budi hancur luluhlah bangsa”.

Masyarakat Minangkabau dengan falsafah “adat basabdi syarak, syarak basandi kitabullah”, sangat banyak menampilkan pepatah, pribahasa yang mengandung ajaran tentang akhlak ini.

Seperti disebutkan, “Nan kuriak kundi, nan sirah sago, nan baiak budi, nan indah baso”, atau “Bahaso manunjuakkan banso” artinya bahasa menunjukkan bangsa, yakni baik buruk perangai (akhlak) menunjukkan tinggi rendahnya asal keturunan (bangsa).

Akhlak Budi Pekerti, tidak dapat dilupakan selamanya.
Akan selalu hidup dan disebut-sebut, walaupun sipelakunya sudah tiada.
“Utang ameh buliah dibaia, utang budi dibao mati”.

Comments

Pengembangan Pariwisata Berbasis Nagari di Sumbar

Nagari

Pariwisata Sumbar Berbasis Nagari
Antara Potensi dan Nilai-nilai
Adat dan Agama

Oleh Buya H. Mas’oed Abidin

Pendahuluan

Dari mana akan kita mulai ???

Pertanyaan ini mengusik kita untuk mendahului.

Padahal sebelumnya, kita sudah berada di depan.
Tapi tidak pernah mencapai garis finish.

Allah telah mentakdirkan kita sebagai satu kaum yang menempati dataran tinggi dan dataran rendah.

Berbukit, berlurah, dihiasi tebing dan munggu.
Sungainya mengalir melingkar membalut negeri, seperti Batang Sianok diam - diam mengalir terus. Ditingkah gemercik air menimpa dedaunan di pagi hari.
Juga sungai-sungai besar, seperti Batang Masang, Batang Sinamar, Hulu Batang Kampar, Pertemuan Lolo di Pasaman Timur dan segitiga perbatasan 50 Kota, Pasaman dan Muara Mahat.

Airnya tetap mengalir terus. Bila hujan tidak turun, embun tetap menyuburkan tanah.

Di kelilingnya didapati sawah berjenjang, ladang berbintalak.
Diapit gunung menjulang tinggi, di kawal Singgalang dan Merapi. Sago, Tandikat, Talang dan Talamau. Indah menjulang.

Danau Maninjau airnya biru, tampak nan dari Embun Pagi..
Singkarak luas beriak, kadang berombak kecil memecah ke tepi danau, di Ombilin, Sumpur, dan tepian Singkarak.

Danau Di Atas dan Danau Di Bawah, sikembar biru yang mengasyikkan bagi mata yang memandang.
Sungguhpun risau sering mengganggu, kampung halaman selalu menanti.
Indah sekali !!!

Lautnya, jangan disebut lagi. Yang tenag menghempas pantai, ada di Sasak dan Air Bangis. Yang menggila menghempas pulau ada di Mentawai. Berpuluh pulau mengitari.
Pantai Cerocok, Pantai Padang, Pantai Mandeh, Pantai Tiku dan Pariaman siap pula menanti.

Alam yang indah karunia Ilahi ini, seakan “qith’ah minal jannah fid-dunya”, sepotong sorga tercampak kebumi.
Mengundang orang yang datang berdecak kagum.

Keindahan alam ini, bertambah cantik, karena ada pagar adat yang kuat dan agama yang kokoh.

Tampak dalam tata pergaulan dan sikap laku sejak dahulu.
Masyarakatnya ramah. Peduli dengan anak dagang.
Pendidikannya maju.

Dengan negeri ribuan dokter, dan para ahli.

Di dataran tingginya, ditemui pula Parabek dan Canduang.
Tempat bermukim para penuntut ilmu dari seluruh penjuru. Dulu…
Bahkan dari Malaysia, Brunei, Thailand dan Pattani.

Di samping dari seluruh Nusantara, bahkan dari Aceh, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.

Di sini pula didapati satu-satunya Kwik School, sekolah guru, kata orang doeloe, yang melahirkan banyak pujangga dan pendidik. Termasuk St. Takdir Alisyahbana dan Asrul Sani yang terkenal itu.

Dari halamannya tempat bermain para cendekiawan, Agus Salim, Hatta, Syahrir, Natsir, Assaat, Rasyid Manggis, Rosihan Anwar, Muhamad Yamin, Adinegoro, dan sederetan nama yang panjang, yang dikenal menjadi negarawan yang diakui.

Dan ini adalah bahagian dari kaba itu.

Bila kaba ini ingin di lanjutkan pula.
Yang bersua adalah hidup anak negeri berpagarkan nilai-nilai.

Nilai-nilai Adat dan Syarak.

Sebagai masyarakat beradat dengan pegangan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat itu yang telah memberikan pelajaran-pelajaran besar. Antara lain:

1). Bekerja:

Ka lauik riak mahampeh. Ka karang rancam ma-aruih.
Ka pantai ombak mamacah. Jiko mangauik kameh-kameh.
Jiko mencancang, putuih – putuih. Lah salasai mangko-nyo sudah.

Artinya setiap yang dilakukan haruslah program oriented.
Sama sekali bukanlah kemauan perseorangan (orientasi personal) semata.
Sejak dari perencanaan hingga sasaran yang hendak dicapai terpolarisasi melalui persilangan pendapat masyarakat ditempat mana program itu akan dilaksanakan.

2). Caranya:
Senteng ba-bilai, Singkek ba-uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo.

Artinya, ada kesamaan visi dan kesediaan kontrol.

Anggang jo kekek cari makan, Tabang ka pantai kaduo nyo, Panjang jo singkek pa uleh kan, mako nyo sampai nan di cito,

Artinya, harus dihidupkan kerja sama, tidak hanya sebatas sama bekerja.

Adat hiduik tolong manolong, Adat mati janguak man janguak, Adat isi bari mam-bari, Adat tidak salang ma-nyalang,

Maknanya, kesediaan investasi mensukseskan misi yang ada pada visi yang sama.

• Karajo baiak ba-imbau-an, Karajo buruak bahambau-an.

Tiada lain yang diminta adalah terjalinnya network yang sempurna.

• Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang, Satitiak jadikan lauik, Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru.

Dipastikan adanya satu kearifan, membaca setiap perubahan dalam membuat satu estimasi.

• Jiko mangaji dari alif, Jiko babilang dari aso, Jiko naiak dari janjang, Jiko turun dari tanggo.

Adanya prinsip taat asas, dan terjaminnya law enforcement, pelaksanaan program pada koridor yang tepat.

• Pawang biduak nak rang Tiku, Pandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Di sinan api mangko hiduik

Dituntut adanya kesepahaman akan adanya keberagaman usaha, yang satu sama lain terikat, terkait dan saling mendukung, serta sustainable.

Handak kayo badikik-dikik, Handak tuah batabua urai, Handak mulia tapek-i janji, Handak luruih rantangkan tali, Handak buliah kuat mancari, Handak namo tinggakan jaso, Handak pandai rajin balaja.

Kaedah ini tiada lain adalah penerapan dinamika kehidupan masyarakat yang inovatif, kreatif, yang sangat diperlukan untuk pengembangan daerah dalam menggali potensinya.

• Dek sakato mangkonyo ado, Dek sakutu mangkonyo maju, Dek ameh mangkonyo kameh, Dek padi mangkonyo manjadi.

Arti yang lebih menukik adalah kooperatif.
Maka sikap koperatif ini adalah warisan budaya Minangkabau.

Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu, Nan gurun buek kaparak. Nan bancah jadikan sawah, Nan munggu pandam pakuburan, Nan gauang katabek ikan, Nan padang kubangan kabau, Nan rawang ranangan itiak.

Makna yang lebih dalam adalah berlakunya prinsip-prinsip ekonomi pembangunan secara makro dan mikro, dengan berwawasan lingkungan.

• Alah bakarih samporono, Bingkisan rajo Majopahik, Tuah basabab bakarano, Pandai batenggang di nan rumik.

Modal utama untuk siap bersaing dan bertanding disaat AFTA-2003, persaingan global dan akan diterapkannya borderless-community system itu

Latiak-latiak tabang ka Pinang. Hinggok di Pinang duo-duo, Satitiak aie dalam piriang, Sinan bamain ikan rayo.

Ada suatu unggulan yang sangat spesifik dan mendorong kepada optimisme yang tinggi.
Lebih egaliter, tak pernah mau dikalahkan.
Konsekwensinya, adalah siap tampil dengan keungulan.
Tidak hanya semata tampil beda.

3). Kemakmuran :

Rumah gadang gajah maharam, Lumbuang baririk di halaman, Rangkiang tujuah sajaja. Sabuah si bayau-bayau, Panenggang anak dagang lalu. Sabuah si Tinjau lauik, Birawati lumbuang nan banyak, Makanan anak kamanakan.

Makmur tidak milik satu orang.
Kemakmuran akan terpelihara bila keamanan terjamin.
Semua orang dapat menimati kemakmuran secara patut dan pantas dalam keserta-mertaan. Dalam pengembangan setiap usaha, sangat diperlukan pemerataan penghasilan.

Manjilih ditapi aie, Mardeso di paruik kanyang.

4). Perhatian dengan penuh kehati-hatian sangatlah penting.

Ingek sabalun kanai, Kulimek balun abih,
Ingek-ingek nan ka-pai. Agak-agak nan ka-tingga.

Bila diunut sejak awal, jelas di sini ada satu mental climate yang subur.
Bila pandai menggunakannya dengan tepat, akan banyak sekali membantunya dalam usaha membangun anak nagari dan kampung halaman.

Lah masak padi ‘rang singkarak, masaknyo batangkai-tangkai, satangkai jarang nan mudo. Kabek sabalik buhua sontak, Jaranglah urang nan ma-ungkai, Tibo nan punyo rarak sajo.

Artinya diperlukan orang-orang yang ahli dibidangnya untuk menatap setiap peradaban yang tengah berlaku.

Melupakan atau mengabaikan ini, lantaran menganggap sebagai barang kuno, yang harus dimasukkan kedalam museum, di zaman modernisasi sekarang, ini berarti satu kerugian.

Sebab berarti mengabaikan satu partner “yang amat berguna” dalam pembangunan masyarakat dan negara.

Nilai Agama

“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka ? (Pada hal), Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri mereka sendiri.
Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-olokkannya” (QS.30, Ar-Rum, ayat 9-10).

Sekarang, kita tengah menyaksikan satu kondisi terjadinya pergeseran pandangan masyarakat dunia dewasa ini.

Maka masyarakat Minang, khususnya di Luhak Agam yang umatnya seratus prosen Islam wajib berperan aktif ke depan.

Dengan upaya menjadikan firman Allah sebagai aturan kehidupan.

Melaksanakan secara murni konsep agama dalam setiap perubahan. Agar peradaban kembali gemerlapan.

Berpaling dari sumber kekuatan murni, Kitabullah dan Sunnah Rasul, dengan menanggalkan komitmen prinsip syar’i dan akhlak Islami, akan berakibat fatal untuk Ranah Bundo yang didiami banyak umat Islam, dan bahkan mengundang benaca bagi penduduk bumi.

Pada gilirannya umat Islam akan menjadi santapan konspirasi dari kekuatan asing.

Konsekwensinya adalah wilayah yang sudah terpecah akan sangat mudah untuk dikuasai.

Kembali kepada watak Islam tidak dapat ditawar-tawar lagi.
Bila kehidupan manusia ingin diperbaiki.
Dan bila pariwisata akan di benahi di ranah ini.

Tuntutan kedepan agar umat lahir kembali dengan iman dan amal nyata dalam ikatan budaya (tamaddun).

• Tatanan masyarakat harus dibangun diatas landasan persatuan (QS.al-Mukminun:52).
• Mayarakat mesti ditumbuhkan dibawah naungan ukhuwwah (QS.al-Hujurat:10).
• Anggota masyarakatnya didorong hidup dalam prinsip ta’awunitas (kerjasama) dalam al-birri (format kebaikan) dan ketakwaan (QS.al-Maidah:2).
• Hubungan bermasyarakat didasarkan atas ikatan mahabbah (cinta kasih), sesuai sabda Rasul: “Tidak beriman seorang kamu sebelum mencintai orang lain seperti menyayangi diri sendiri”.
• Setiap masalah diselesaikan dengan musyawarah (QS.asy-Syura:38).
• Tujuan akhirnya, penjelmaan satu tatanan masyarakat yang pantang berpecah belah (QS.Ali Imran:103).

Rahasia keberhasilan adalah “tidak terburu-buru” (isti’jal) dalam bertindak.
Tidak memetik sebelum ranum.
Tidak membiarkan jatuh ke tempat yang dicela.
Kepastian amalan adanya husnu-dzan (sangka baik) sesama umat.

Mengiringi semua itu adalah tawakkal kepada Allah.

Dalam tatanan berpemerintahan, kekuasaan akan berhasil jika menyentuh hati nurani rakyat banyak, sebelum kekuasaan itu menjejak bumi.

Ukurannya adalah adil dan tanggap terhadap aspirasi yang berkembang.

Takarannya adalah kemashlahatan umat banyak.

Kemasannya adalah jujur secara transparan.

Kekuatan hati (dhamir) penduduk (rakyat) terletak pada ditanamkannya kecintaan yang tulus.

Menghidupkan energi ruhanik lebih didahulukan sebelum menggerakkan fisik umat.
Titik lemah umat karena hilangnya akhlaq, moralitas Islami.

Enggan memahami syari’at, berakibat hilangnya kecintaan (kesadaran) terhadap Islam.
Lahirnya radikalisme, berlebihan dalam agama, menghapuskan watak Islam.

Tidak menghormati hubungan antar manusia, merupakan kebodohan pengertian terhadap prinsip sunnah.
Akibatnya adalah tindakan merusak (anarkis).

Potensi Pariwisata Di Sumatera Barat

1. Keindahan Alamnya sangat potensial. Indah. Sangat indah.
Menjadi alat promosi pariwisata internasional.
Sudahkah dicatatkan sebagai trade mark ???

2. Adatnya kokoh. Contoh di Luhak nan Tigo.
Masih tersimpan dalam prilaku empat jinih di nagari.
Masihkah masyarakat Minang tahu di nan ampek ???

3. Agamanya kuat. Banyak sekolah, madrasah yang berkualitas.
Sebab promosinya sudah lama dikenal.
Problematikanya, kenyataan bahwa jalinan ini mulai mengendur.
Karena pergeseran nilai-nilai.
Akibatnya, kita kehilangan salah satu asset yang amat potensial.
Apa upaya mendudukkannya kembali ???

4. Rakyatnya rajin. Bagaimana memelihara dan memacunya ???

5. Setiap daerah memiliki keunggulan. Dari segi makanan, ada Rinuak Maninjau, Bilih Singkarak, Sanjai Bukittinggi, Pisang Pasaman, Daun Kahwa dari Pagadih, Randang Koto Tuo, Kue Kacang dari Biaro, Sarang Balam dari Batagak, Bika dari Batu Palano, Kue Sangko dari Sungai Puar, Saka Lawang dan Sungai Landir, Nasi Kapau dari Tilkam. Banyak sekali potensi yang bisa dijual. Siapakah yang menjualnya sekarang ???

6. Setiap desa ada produk. Jauh sebelum Jepang menerapkan “one village one product”.
Sudah terkenal Tenunan Pandai Sikek (Batagak), Kerajinan emas (Guguak Tinggi,
Guguak Randah), Silver Work (Kotogadang), Konveksi (IV Angkat), Kerajinan Besi
(Sungai Puar), Tarawang (IV Angkat), Suji (Kamang dan Tilatang).
Tugas kedepan, adalah mebuat perubahan program dari memperdayakan kepada
memberdayakan.

Mampukah kita ???

Kesimpulan

Pariwisata, mengundang orang untuk melihat apa yang tidak ada pada mereka.

Pariwisata yang berhasil adalah yang menyajikan produk wisata yang bisa mengasilkan pendapatan anak nagari.
Mendorong mereka untuk hidup, dan memberi hidup.

Pariwisata menyajikan produk yang belum atau tidak dimiliki orang lain (produk unggulan).

Semuanya itu, memerlukan kesiapan-kesiapan antara lain ;

1. Melibatkan seluruh unsur anak nagari berprilaku yang menarik.

2. Melibatkan kembali semua anak nagari memakaikan adat dan agama yang terjalin erat
dan rapi.
Sehingga menjadi bahan penelitian bagi orang lain. Contoh dinegeri orang,
seperti di Bali, Brunei, Malaysia, India, yang melaksanakan apa yang kita sebutkan
“indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan”, yaitu budaya dan tamaddun.

3. Pariwisata yang akan lama bertahan dimasa mendatang, di abad keduapuluh satu ini,
adalah wisata budaya, alam, spiritual, ilmu pengetahuan, di samping situs-situs peninggalan
lama.
Di Luhak Nan Tigo, Pasaman, Lunang dan Darmasraya masih tersimpan semuanya itu.
Lebih jauh, akan lahir dengan sendirinya para peneliti, kolektor potensi-potensi budaya
tersebut.

4. Latihan pemandu wisata, yang beradat dan beragama menjadi satu yang sangat utama
sebagai pendukung pariwisata di Sumatera Barat, Ranah Budaya Minangkabau.

5. Event-event Internasional,
• Pertemuan pelukis sketsa Manca Negara dikaki Merapi, Singgalang,
Embun Pagi Danau Maninjau, Singkarak, Danau Kembar, Mentawai dan lainnya.
• Pencak Silat Harimau Campo Luhak Agam,
• Layang-layang seperti Jepang atau Thailand,
• Festival tari, folk-lore, dan sejenisnya.

Dan banyak lagi yang bisa digali secara kreatif.

Akhirulkalam, gagasan ini sesungguhnya bisa dikembangkan dalam scope yang lebih luas di seluruh daerah Minangkabau, sebagai asset pariwisata Sumatera Barat.

Insya Allah. Menyambut VIY 2008 dan sepanjang tahun-tahun sesudahnya.

Wabillahit taufiq wal hidayah.

Comments

Memperkuat Posisi Nagari, dalam Syarak Mangato Adat Mamakai

Nagari

MEMPERKUAT POSISI NAGARI
DALAM MENJALANKAN
SYARAK MANGATO ADAT MAMAKAI

Oleh : H. Mas’oed Abidin

UPAYA untuk memperkuat posisi Nagari, secara syarak banyak tuntutan yang mestinya dilakukan, diantaranya mengetahui kelemahan dan kemampuan yang dimiliki oleh nagari itu. Selain itu diperlukan pula upaya pemetaan tata ruang yang jelas terhadap langkah-langkah yang perlu dilakukan. Untuk lebih jelasnya, kita lihat bahasan berikut ini.
1. MENGGALI POTENSI NAGARI
TUGAS kembali ke Pemerintahan Nagari, sesungguhnya adalah menggali kembali potensi dan asset nagari – yang terdiri dari budaya, harta, manusia, dan agama anutan anak nagari –, karena apabila tidak digali, akan mendatangkan kesengsaraan baru bagi masyarakat nagari itu. Kerja ini semestinya dimulai dengan menghimpun dan memanggil potensi yang ada dalam unsur manusia di dalam masyarakat nagari.
Kesadaran akan benih-benih kekuatan yang ada dalam diri masing-masing digerakkan dan dikembangkan dengan cara-cara yang lazim dan tidak terpaksa, yaitu melalui ; observasinya dipertajam, daya pikirnya ditingkatkan, daya geraknya didinamiskan , daya ciptanya diperhalus, daya kemauannya dibangkitkan, kemudian menumbuhkan dan mengembalikan kepercayaan kepada diri sendiri.
Handak kayo badikik-dikik, Handak tuah batabua urai,
Handak mulia tapek-i janji, Handak luruih rantangkan tali,
Handak buliah kuat mancari, Handak namo tinggakan jaso,
Handak pandai rajin balaja.
Dek sakato mangkonyo ado, Dek sakutu mangkonyo maju,
Dek ameh mangkonyo kameh, Dek padi mangkonyo manjadi.”.

Tujuannya harus sampai kepada taraf yang memungkinkan untuk mampu berdiri sendiri dan membantu nagari tetangga secara selfless help, dengan memberikan bantuan dari rezeki yang telah kita dapatkan tanpa mengharap balas jasa, “Pada hal tidak ada padanya budi seseorang yang patut dibalas, tetapi karena hendak mencapai keredhaan Tuhan-Nya Yang Maha Tinggi”. (Q.S. Al Lail, 19 - 20).
Walaupun di depan mata terpampang jelas ada kendala-kendala, namun optimisme banagari mesti selalu dipelihara ;
“Alah bakarih samporono, Bingkisan rajo Majopahik,
Tuah basabab bakarano, Pandai batenggang di nan rumik”.

Sebagai masyarakat nagari yang hidup dengan pegangan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat akan dipertajam makna dan fungsinya oleh kuatnya peran surau yang memberikan pelajaran-pelajaran sesuai dengan syara’ itu, antara lain dapat di ketengahkan ;
1. Mengutamakan prinsip hidup berkeseimbangan
Hukum Syara’ menghendaki keseimbangan antara perkembangan hidup rohani dan jasmani. “Sesungguhnya jiwamu (rohani-mu) berhak atas kamu (supaya kamu pelihara) dan badanmu (jasmanimu) berhak atasmu supaya kamu pelihara” (Hadist).
Keseimbangan akan tampak dalam mewujudkan kemakmuran di ranah ini,
“Rumah gadang gajah maharam,
Lumbuang baririk di halaman,
Rangkiang tujuah sajaja,
Sabuah si bayau-bayau,
Panenggang anak dagang lalu,
Sabuah si Tinjau lauik,
Birawati lumbuang nan banyak,
Makanan anak kamanakan.

Manjilih ditapi aie,
Mardeso di paruik kanyang”.

Sesuai bimbingan syara’, “Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya” (Hadist).

2. Kesadaran kepada luasnya bumi Allah, merantaulah !
Allah telah menjadikan bumi mudah untuk digunakan. Maka berjalan atau merantau di atas permukaan bumi, dan makanlah dari rezekiNya dan kepada Nya tempat kembali, telah lama menjadi pegangan hidup anak nagari di Minangkabau. “Maka berpencarlah kamu diatas bumi, dan carilah karunia Allah dan (di samping itu) banyaklah ingat akan Allah, supaya kamu mencapai kejayaan”, (QS.62, Al Jumu’ah : 10).
Agar supaya “jangan tetap tertinggal dan terkurung dalam lingkungan yang kecil”, dan sempit (QS.4, An Nisak : 97).
Karatau madang di hulu babuah babungo balun.
Marantau buyuang dahulu di rumah paguno balun.

3. Mencari nafkah dengan “usaha sendiri”
Memiliki jati diri, self help dengan tulang delapan kerat sekalipun “lebih terhormat”, daripada meminta-minta dan menjadi beban orang lain, “Kamu ambil seutas tali, dan dengan itu kamu pergi kehutan belukar mencari kayu bakar untuk dijual pencukupkan nafkah bagi keluargamu, itu adalah lebih baik bagimu dari pada berkeliling meminta-minta”. (Hadist).
` Pemahaman hadist ini melahirkan sikap kemandirian, bahwa setiap anak nagari paling berkepentingan memajukan nagarinya. Nagari yang maju berkewajiban membantu kemajuan nagari tetangga, karena telah diikat oleh kaedah barek sapikua, riangan sajinjiang (mutual help), dan karena setiap nagari tetangga telah dipertautkan oleh pengalaman sejarah adaik salingka nagari dan kekerabatan.
Maka membiarkan diri hidup di dalam kemiskinan tanpa berupaya adalah salah , “Kefakiran (kemiskinan) membawa orang kepada kekufuran (ke-engkaran)” (Hadist).
4. Tawakkal dengan bekerja dan tidak boros.
Tawakkal, bukan “hanya menyerahkan nasib” dengan tidak berbuat apa-apa, “Bertawakkal lah kamu, seperti burung itu bertawakkal” (Atsar dari Shahabat). Tak ada kebun tempat bertanam, tak ada pasar tempat berdagang. Tak kurang, setiap pagi terbang meninggalkan sarangnya dalam keadaan lapar, dan setiap sore kembali dalam keadaan “kenyang”. Ditanamkan pentingnya kehati-hatian,
“Ingek sa-balun kanai,
Kulimek sa-balun abih,
Ingek-ingek nan ka-pai,
Agak-agak nan ka-tingga”.

5. Kesadaran kepada ruang dan waktu
Peredaran bumi, bulan dan matahari, pertukaran malam dan siang, menjadi bertukar musim berganti bulan dan tahun, “Kami jadikan malam menyelimuti kamu (untuk beristirahat), dan kami jadikan siang untuk kamu mencari nafkah hidup”. (QS.78, An Naba’ : 10-11), dan menanamkan kearifan akan adanya perubahan-perubahan.
Yang perlu dijaga ialah supaya dalam segala sesuatu harus pandai mengendalikan diri, agar jangan melewati batas, dan berlebihan,
“Ka lauik riak mahampeh,
Ka karang rancam ma-aruih,
Ka pantai ombak mamacah.
Jiko mangauik kameh-kameh,
Jiko mencancang, putuih – putuih,
Lah salasai mangko-nyo sudah”.

Artinya bekerja sepenuh hati, dengan mengerahkan semua potensi yang ada, dengan tidak menyisakan kelalaian ataupun ke-engganan.
Tidak berhenti sebelum sampai, dan tidak berakhir sebelum benar-benar sudah.

2. KONSEP TATA RUANG YANG JELAS
NAGARI di Minangkabau berada di dalam konsep tata ruang yang jelas,
Basasok bajarami,
Bapandam bapakuburan,
Balabuah batapian,
Barumah batanggo,
Bakorong bakampuang,
Basawah baladang,
Babalai bamusajik.
Ba-balai (balairuang atau balai-balai adat) tempat musyawarah dan menetapkan hukum dan aturan.
“ Balairuang tampek manghukum,
ba-aie janieh basayak landai,
aie janiah ikan-nyo jinak,
hukum adie katonyo bana,
dandam agiae kasumaik putuih,
hukum jatuah sangketo sudah”.

Ba-musajik atau ba-surau tempat beribadah.
“Musajik tampek ba ibadah,
tampek balapa ba ma’ana,
tampek balaja al Quran 30 juz,
tampek mangaji sah jo batal” ,

Artinya menjadi pusat pembinaan umat untuk menjalin hubungan bermasyarakat yang baik (hablum-minan-naas) dan terjaminya pemeliharaan ibadah dengan Khalik (hablum minallah), maka adanya balairuang dan musajik (surau) ini menjadi lambang utama terlaksananya hukum dalam “adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah., syara’ mangato adat nan kawi syara’ nan lazim”.
Kedua lembaga ini – balai adat dan surau – keberadaannya tidak dapat dipisah dan dibeda-bedakan.
“Pariangan manjadi tampuak tangkai,
pagarruyuang pusek Tanah Data,
Tigo luhak rang mangatokan.
Adat jo syara’ jiko bacarai,
bakeh bagantuang nan lah sakah,
tampek bapijak nan lah taban”.

Apabila kedua konsep yang membentuk prilaku anak nagari di Minangkabau ini, yakni adat dan syarak telah berperan sempurna, maka akan ditemui di kelilingnya tampilan kehidupan masyarakat yang memiliki akhlak perangai terpuji dan mulia atau memiliki akhlakul-karimah.
“Tasindorong jajak manurun,
tatukiak jajak mandaki,
adaik jo syara’ kok tasusun,
bumi sanang padi manjadi”.

Konsep tata-ruang yang memungkinkan umat dibentuk prilakunya ini adalah salah satu kekayaan budaya yang sangat berharga di nagari dan bukti idealisme nilai budaya di Minangkabau, termasuk di dalam mengelola kekayaan alam dan pemanfaatan tanah ulayatnya.
“Nan lorong tanami tabu,
Nan tunggang tanami bambu,
Nan gurun buek kaparak,
Nan bancah jadikan sawah,
Nan munggu pandam pakuburan,
Nan gauang katabek ikan,
Nan padang kubangan kabau,
Nan rawang ranangan itiak”.

Tata ruang yang jelas memberikan posisi peran pengatur, pemelihara dan pendukung sistim banagari yang terdiri dari orang ampek jinih yaitu, ninik mamak , alim ulama , cerdik pandai , urang mudo , bundo kanduang .
3. WILAYAH KESEPAKATAN
Dengan demikian, nagari di Minangkabau tidak hanya sebatas pengertian ulayat hukum adat namun yang lebih mengedepan dan paling utama adalah wilayah kesepakatan antar berbagai komponen masyarakat di dalam nagari dengan spiritnya adalah ;
a. Kebersamaan (sa-ciok bak ayam sa-danciang bak basi), ditemukan dalam pepatah
“Anggang jo kekek cari makan,
Tabang ka pantai kaduo nyo,
Panjang jo singkek pa uleh kan,
mako nyo sampai nan di cito.”
b. Keterpaduan (barek sa-pikua ringan sa-jinjiang) yang diperlihatkan dalam kaedah,
“Adat hiduik tolong manolong,
Adat mati janguak man janguak,
Adat isi bari mam-bari,
Adat tidak salang ma-nyalang”.
Basalang tenggang, yakni saling meringankan dengan kesediaan memberi dukungan terhadap pencapaian derajat kehidupan dengan “Karajo baiak ba-imbau-an, Karajo buruak bahambau-an”.
c. Musyawarah (bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mupakat), dalam kerangka “Senteng ba-bilai, Singkek ba-uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo”
d. Keimanan kepada Allah SWT menjadi pengikat spirit yang menjiwai sunnatullah dalam setiap gerak mengenal alam keliling,
“Panggiriak pisau sirauik,
Patungkek batang lintabuang,
Satitiak jadikan lauik,
Sakapa jadikan gunuang,
Alam takambang jadikan guru ”.

Alam ini telah diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan mengandung faedah kekuatan dan khasiat yang diperlukan untuk memperkembang dan mempertinggi mutu hidup jasmani manusia, dengan keharusan berusaha membanting tulang dan memeras otak untuk mengambil sebanyaknya faedah dari alam sekelilingnya agar dinikmati sambil mensyukuri dengan beribadah kepada Ilahi.
e. Kecintaan kenagari adalah perekat yang dibentuk oleh perjalanan waktu dan pengalaman sejarah. Menjaga anak nagari dari pada melewati batas-batas yang patut dan pantas agar tidak terbawa hanyut materi dan hawa nafsu yang merusak, adalah satu bentuk persembahan manusia kepada Maha Pencipta, dan satu pola hidup yang mempunyai keseimbangan antara kemajuan dibidang rohani dan jasmani.
“Jiko mangaji dari alif,
Jiko babilang dari aso,
Jiko naiak dari janjang,
Jiko turun dari tango”.

Pengkajian lebih mendalam membuktikan bahwa kecintaan kepada nagari itu tumbuh dari sistem dan pola yang telah ditanamkan oleh adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah di dalam mewujudkan Mulkiyah Allah di Bumi yang merujuk kepada Sunnah.
Kecintaan kepada nagari, adalah bagian dari kecintaan kepada Allah (mahabbatullah) mesti dibangun dan ditegakkan dengan sistem kooperatif melalui lembaga musyawarah (kelembagaan syura) di nagari-nagari, yakni musyawarah sesama orang beriman dan bertaqwa.

Setiap kamu adalah pemimpin – penggembala – dan setiap kamu akan ditanyai tentang rakyatnya, maka imam adalah pemimpin dan dia ditanyai tentang rakyat yang di pimpinnya. (HR.Muttafaq ‘alaihi).

Tidak ada kamus di dalam Kitabullah (Alquran) musyawarah untuk menetapkan hal yang bertalian keperluan sesama mukmin mesti merujuk kepada konsepsi kuffar.
Sikap hidup (attitude towards life) ini menjadi sumber pendorong kegiatan anak nagari dibidang ekonomi, dengan tujuan utama terpenuhinya keperluan hidup jasmani (material needs).
Hasilnya tergantung kepada dalam atau dangkalnya sikap hidup tersebut berurat dalam jiwa masyarakat nagari dan sangat ditentukan juga oleh tingkat kecerdasan anak nagari yang telah dicapai.

Wahai orang-orang yang beriman janganlah engkau ambil menjadi orang kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu, karena mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa-apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan ayat-ayat Kami, jika kamu mau memahaminya. (QS.3, ali Imran : 118).
Inilah prinsip utama adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah itu.
Non kooperatif sesama muslim akan membuka peluang untuk adanya tawar menawar antara mukmin dan kafir. Dalam hubungan ini, peran dan fungsi surau amat menentukan pula.

Comments (1)

Kembali ke Surau, Membina Umat.

KEMBALI KE SURAU MEMBINA UMAT

Oleh H Mas’oed Abidin

Umat Islam di Ranah Minangkabau menjadikan surau sarana perguruan membina anak nagari.

Fungsinya tidak semata menjadi tempat ibadah mahdhah (shalat, tadarus, dan pengajian majlis ta’lim).

Menjadi tempat tumbuh lembaga perguruan anak nagari yang dimulai dari akar rumput.

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَافَةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوْا فِي الدِّيْنِ وَ لِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوْا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يِحْذَرُوْنَ.
Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya, apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS.IX, at Taubah, ayat 122).

Kekuatan surau adalah kuatnya jalinan hubungan masyarakat saling menguntungkan (symbiotic relationship).
Sanggup menjadi pusat kekuatan perlawanan membisu (silent opposition) terhadap penjajah.

وَمَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا، فَهُوَ فِي سَبِيْلِ اللهِ (متفق عليه)
Siapapun yang berjuang untuk meninggikan kalimat Allah — kalimatulli hiyal ‘ulya –, dan mereka mati dalam perjuangan itu, maka sungguh dia sudah berada dalam jihad fii sabilillah. (HR.Muttafaq ‘alaihi)

Musajik tampek ba ibadah,
tampek balapa ba ma’ana,
tampek balaja Alquran 30 juz,
tampek mangaji sah jo batal” ,

Artinya, Masjid dan Surau menjadi pusat pembinaan umat untuk menjalin hubungan bermasyarakat yang baik (hablum-minan-naas) dan terjaminya pemeliharaan ibadah dengan Khalik (hablum minallah).

Adanya balairuang dan musajik (surau) ini menjadi lambang utama terlaksananya hukum

Surau dan Balerong (=balai ruang yang tidak memiliki kamar, sama halnya dengan surau dan masjid), di dalam “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah., syarak mangato adat nan kawi syarak nan lazim”, adalah sarana penting.

Kedua lembaga ini –-balai adat dan surau-– keberadaannya tidak dapat dipisah dan dibeda-bedakan.

Pariangan manjadi tampuak tangkai,
Pagaruyuang pusek Tanah Data,
Tigo luhak rang mangatokan.
Adat jo syarak jiko bacarai,
bakeh bagantuang nan lah sakah,
tampek bapijak nan lah taban.

Alam Minangkabau belum lengkap kalau tidak mempunyai Masjid (musajik) atau surau tempat beribadah.

Identitas surau sesuai personifikasi pemimpinnya.
Surau adalah pusat pembinaan umat, untuk menjalin hubungan bermasyarakat yang baik (hablum-minan-naas).
Terjamin pula ibadah dengan Khalik (hablum minallah).

Adanya balairuang dan musajik (surau) ini menjadi lambang utama terlaksananya hukum dalam “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah., syarak mangato adat nan lazim syarak nan kawi (qawiy = kuat).

يأيُّها الناسُ إنا خلقنَاكم مِن ذكرٍ و أنثَى و جَعلْناكمْ شُعوبًا و قَبَائِلَ لِتَعارَفوا إنَّ أكْرمَكمْ عندَ اللهِ أتقَاكم إن الله عليْم خبيرٌ
Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsa-bangsa) dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …. (QS.49, al Hujurat : 13)

Apabila sarana-sarana ini berperan sempurna, masyarakat kelilingnya hidup dengan akhlak terpuji. Perangai mulia berakhlakul-karimah. “Adaik jo syarak kok tasusun, bumi sanang padi manjadi”.

IHWAL SURAU
Surau amat sesuai menjadi pusat pembinaan umat.

Surau adalah satu anak tangga dari jenjang bermasyarakat di nagari yang teguh melaksanakan prinsip musyawarah (demokrasi).
Surau adalah pondasi dasar dan utama dalam menerapkan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

Dukungan masyarakat adat dan kesepakatan tungku tigo sajarangan, bundo kanduang dan rang mudo, menjadi penggerak utama mewujudkan tatanan sistim di nagari.
Konsepnya tumbuh dari akar nagari sendiri.

Masyarakat Minangkabau yang beradat-beragama selalu ingat kepada hidup sebelum mati dan hidup sesudah mati.

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَ مِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُوْنَهُ مِنْ أَمْرِاللهِ إِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَ إِذَا أَرَادَ اللهُ بِقَوْمٍ سُوْءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُوْنِهِ مِنْ وَالٍ.
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS.Ar-Ra’du : 11)

Peran dakwah di Ranah Minangkabau sekarang ini adalah menyadarkan umat dalam membentuk diri mereka sendiri.

Kenyataan sosial terhadap anak nagari diawali dengan mengakui keberadaan puncak-puncak kebudayaan mereka, dan mendorong kepada satu bentuk kehidupan bertanggung jawab. Inilah tuntutan Dakwah Ila-Allah.

Seruan atau ajakan kepada Islam yang diberikan Khaliq untuk manusia, yang sangat sesuai dengan fithrah manusia itu.
Islam adalah agama Risalah, dan penyiarannya dilanjutkan oleh dakwah.

Di Ranah Minangkabau tempat nya adalah surau atau masjid.
Keberhasilan suatu upaya dakwah (gerak dakwah) memerlukan pengorganisasian (nidzam).

Perangkat organisasi surau, selain orang-orang, adalah juga peralatan dakwah dan penguasaan kondisi umat, tingkat sosialnya dan budaya yang melekat pada tata pergaulan mereka yang dapat dibaca dalam peta dakwah.

Bimbingan syarak mengatakan al haqqu bi-laa nizham yaghlibuhu al baathil bin-nizam. Artinya, tanpa mengindahkan pengaturan (organisasi) selalu akan kalah oleh kebatilan yang terorganisir.

Pekerjaan mengajak manusia akan berhasil dengan ilmu, hikmah, akhlak dan menyeru kejalan Allah, dengan petunjuk yang lurus. Maka, da’iya (Imam khatib di Nagari) adalah pewaris tugas Nabi Muhammad Rasulullah S.A.W.

وما أرْسَلْنَاك إلاَّ كافةً للناس بشيرًا و نذيرًا ولَكنَّ أكْثرَ النَّاسِ لا يعْلَموْن
Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (QS. Saba’, 34 : 28).

Menghidupkan surau (masjid) dalam masa ini adalah menetapkan visi untuk menentukan program pembinaan di tengah anak nagari yang akan mendukung percepatan pembangunan nagari itu.

Koordinasi akan mempertajam faktor pendukungnya.

يأيُّها النبيُّ إنا أرْسلْناكَ شاهدًا و مُبشّرًا و نذيْرًا. و داعيًا إلى اللهِ بإذْنِهِ و سرَاجًا منيْرًا. و بَشِّرِ الْمُؤمنِيْنَ بأنَّ لَهمْ مِن اللهِ فضْلاً كبيرًا
Hai Nabi sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mu’min bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah. (QS.Al-Ahzab, 33 : 45-47).

Kaedah syarak akan mendorong keberhasilan dakwah menghidupkan adagium adat basandi syarak syara; basandi Kitabullah.

Aktualisasi Kitabullah (nilai-nilai Alqurani) hanya dapat dilihat melalui gerakan amal nyata yang terus menerus terkait dengan seluruh segi kehidupan anak nagari, seperti kemampuan bergaul, mencintai, berkhidmat, menarik, mengajak (dakwah), merapatkan potensi barisan (shaff) mengerjakan amal-amal Islami secara jamaah.

ولا يصدُّنَّك عنْ آياتِ اللهِ بعدَ إذْ أُنْزِلتْ إليْكَ وادْعُ إلى ربِّكَ ولا تكوْننَّ من المُشرِكيْنَ. ولا تدْعُ مع اللهِ إلها آخرَ لا إله إلاَّ هو كُلُّ شيءٍ هالكٌ إلاَّ وجهَهُ له الحُكْمُ و إليهِ تُرجَعُون.
Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. BagiNyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (QS.Al Qashash, 28 : 87)

Tugas ini menjadi tugas para Rasul. Umat sekarang menjadi penerus dakwah sepanjang masa.

Terlaksananya tugas-tugas dakwah dengan baik akan menjadikan umat Islam mampu menjawab harapan masyarakat dunia.

Maka perlu setiap Da’iya – Imam, Khatib, Urang Siak, Tuanku, alim ulama suluah bendang di nagari-nagari — meneladani pribadi Muhammad SAW

لَقَدْ كانَ لكُمْ فِي رَسُوْل اللهِ أُسْوةٌ حسنةٌ لِمنْ كان يَرْجوا اللهَ و اليومَ الآخرَ وذكرَ الله كثِيْرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab, 33 : 21)

Contoh di dalam membentuk effectif leader menuju kepada inti dan isi Agama Islam (tauhid). قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ “Katakanlah bahwa berimanlah kepada Allah dan istiqamah, tetap pendirian.
و خَالِقِ النَّاسَ بِخُلْقٍ حَسَنٍ “ Diciptakan manusia dengan perangai yang baik (terpuji)”.

Umat kini akan menjadi baik dan berjaya, bila sebab-sebab kejayaan umat terdahulu dikembalikan.

إلَهِي أنْتَ مَقْصُودِي ورِضَاكَ مَطْلُوبِ
Tuhanku, Engkau semata tujuan hidupku. Dan keredhaan-Mu semata pula yang aku tuntut.

Kita mestinya bertindak atas dasar syarak ini.
Mencari redha Allah, dan mengajak orang lain untuk menganutnya. Allah menghendaki kelestarian Agama dengan mudah, luwes, elastis, tidak beku dan tidak berlaku bersitegang.

Usaha ini akan menjadi gerakan antisipatif terhadap arus globalisasi negatif abad sekarang. Mengembangkan surau berorientasi kepada mutu.
Sehingga pembinaan surau berkembang menjadi center of exellence, yang menghasilkan generasi berparadigma ilmu komprehensif.

Terintegrasinya pengetahuan agama, budi akhlaq dan keterampilan (memasak, menjahit, mengaji, bersilat) yang mendorong anak surau sanggup hidup mandiri.

Peran surau menghidupkan adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah menjadi tugas setiap insan anak nagari yang telah terikat dalam “umat dakwah” menurut Kitabullah – yakni nilai-nilai Alqurani di bawah konsep mencari ridha Allah.

ولتَكُن مِّنْكم أمةٌ يدْعوْنَ إلى الخيْرِ و يأْمروْنَ بِالمعْرُوفِ و ينهوْن عنِ المنْكر و أولئِك همُ المفْلحُون.
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.(QS. Ali Imran, 3 : 104 )

Peningkatan kualitas pembinaan umat melalui surau dapat dicapai. Organisasi suaru lebih menjadi viable –dapat hidup terus, berjalan tahan banting, bergairah, aktif dan giat-– menurut permintaan zaman, dan durable –-yakni dapat tahan lama-– seiring perubahan dan tantangan zaman. Peran serta masyarakat adalah menerapkan manajemen mengelola surau lebih accountable dari segi keuangan maupun organisasi.

Kitabullah mendeskripsikan agama Islam adalah sempurna, utuh dan di ridhai. Melalui peningkatan ini, sumber finansial masyarakat dapat dipertanggungjawabkan secara lebih efisien.

Setiap Muslim, dengan nilai-nilai Kitabullah wajib mengemban missi mulia yaitu merombak kekeliruan ke arah kebenaran secara hakiki di dalam “perjalanan kepada kemajuan (al madaniyah)”.

MENINGKATKAN MUTU ANAK NAGARI

Meningkatkan Mutu SDM anak nagari melalui kerja keras.
Menguatkan potensi yang sudah ada melalui program unggulan, kaderisasi. Menumbuhkan SDM nagari yang sehat dengan gizi cukup.
Meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (terutama terapan). Peningkatan peran serta masyarakat mengelola surau.

Sistim terpadu menjadi bagian integral dari masyarakat Muslim di Ranah Minangkabau.

Ajaran syarak Islam mampu memberikan jalan keluar (solu¬si) terhadap problematika sosial umat manusia.

Keyakinan kepada agama Islam (di dalam syarak disebut aqidah Islamiyah) menjadi landasan berpijak.

Motivasi untuk berbuat dan berharap pada setiap yang mempercayainya. Keyakinan tauhid itu terhunjam dan berurat berakar di dalam hati manusia. Dengannya mampu menangkap tanda tanda zaman, perubahan sosial, politik, ekonomi dan perkisaran masa di sekitarnya.

Mampu membaca zeitgeist tanda tanda zaman karena beriman kepada Allah.
Perbedaan pemikiran dikuatkan dzikrullah dengan pemikiran bertumpu paham kebendaan, seperti positivisme dzikrullah dan apatisme thagut (syaithaniyah).

Apatisme dalam perubahan sosial, politik dan ekonomi tersebut adalah selemah lemah iman (adh’aful iman).

Sikap diam (apatis) dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi hanya dapat dihilangkan dengan,
• mengerjakan sesuatu yang dapat dikerjakan,
artinya berbuat sesuai kemampuan,
• jangan membiarkan diri terkurung kepada pemikiran
yang tidak mungkin dikerjakan,
• memulai dengan apa yang ada,
karena dengan yang ada itu sudah dapat memulai sesuatu,
• jangan berpangku tangan dengan menghitung orang yang lalu lalang,
dan membiarkan diri ketinggalan.

Konsep ini adalah amanat syarak (Islam) dalam menghadapi perubahan sosial, politik dan ekonomi.

Betapa kecil pun perubahan tidak boleh dinanti tanpa kesiapan. Namun, selalu memanfaatkan hubungan diri (kemampuan anak nagari) dengan kehidupan dunia luar di sekitarnya.

Sikap hidup menjemput bola adalah sikap hidup sesuai ajaran Islam. Bergerak, berusaha, proaktif dan inovatif adalah cara-cara paling tepat mengantisipasi selemah lemah iman. Kata kunci perubahan sosial, politik dan ekonomi yang dikembangkan syarak (agama Islam) melalui tiga cara hidup, yakni,
• bantu dirimu sendiri (self help),
• bantu orang lain (self less help), dan
• saling membantu dalam kehidupan ini (mutual help),

Konsep hidup ini mengajarkan seseorang untuk tidak mesti selalu tergantung kepada orang lain.

Ketergantungan menempatkan orang terbawa kemana mana.
Menjadi tak berdaya di tangan yang menjadi tempat bergantung. Mengokohkan perpegangan agama dan pemahaman syarak menjadi kerja paling utama.

و مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
Barangsiapa yang Allah SWT kehendaki akan kebaikan, maka Allah SWT akan menakdirkannya tahu akan urusan agamanya. (HR.Muttafaq ‘Alaih dari hadist Mu’awiyah).

Dengan demikian, anak nagari menjadi sehat rohani.
Terjaga dengan norma-norma adat.
Sehingga anak nagari menjadi masyarakat beradat yang beragama (Islam).

Menggali potensi SDA di nagari diselaraskan dengan perkembangan global yang tengah berlaku.
Memperkuat ketahanan ekonomi rakyat.
Membangun kesejahteraan dimulai dari pembinaan unsur manusianya, dari self help (menolong diri sendiri) kepada mutual help.

Ihsan berbuat baik dan ta’awun tolong menolong sesuai dengan anjuran Islam. Bantu membantu, ta’awun, mutual help dalam rangka pembagian pekerjaan (division of labour) menurut keahlian masing-masing ini, akan mempercepat proses mempertinggi mutu yang dihasilkan. Itulah taraf ihsan yang hendak dicapai.

Zakat sebagai sarana pembersih harta dan upaya memperkuat paradigma umat

Di samping itu, zakat dapat dijadikan penopang ekonomi anak nagari melalui pelatihan bagaimana memanfaatkan dan mengelola zakat secara benar. Tidak semata konsumsi sesaat. Zakat dijadikan modal usaha dari kalangan dhu’afak di dalam negeri.

Pesan Rasulullah SAW, memang mengajarkan penyesuaian untuk mencapai kehidupan dunia yang sejahtera, tanpa melupakan kehidupan akhirat tempat manusia akan kembali.

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ (رواه مسلم)
Kamu lebih memahami dengan urusan-urusan dunia kamu. (HR.Muslim)

Di Minangkabau teradisi masyarakat selalu seiring sejalankan dengan perlakuan ibadah.
Sebenarnya, acara tersebut dapat bernilai positif. Terutama apabila tidak di campur aduk dengan perbuatan yang terlarang oleh ajaran Islam.

Pembauran di Minangkabau dimulai dengan menjalin keharmonisan hubungan antar keluarga di nagari, dengan saling peduli, akan memberi sumbangan besar mempererat silaturrahmi.

Ikatan persaudaraan adalah modal besar dalam membangun nagari.
Buhul ikatan itu berawal dari kuatnya hubungan bermasyarakat.
Darinya lahir tanggung jawab bersama didasari kebersihan hati dan wajah berseri.

Di tengah perubahan zaman, nilai luhur yang di kandung telah mulai terjadi pencampur bauran antara hak dan bathil di mana-mana.
Antara suruh dan tegah jadi kabur.
Ibadah dan maksiat campur baur.
Sangat mencemaskan.

Keadaan mencemaskan ini mulai terjadi di nagai-nagari di Ranah Bundo.
Abih gali dek galitik.
Yang tadinya pantang larangan, kini jadi biasa.
Malahan menjadi kesukaan.

Orang banyak menyebut sakali aie gadang sakali tapian barubah. Artinya sekali air besar, tepian lama dihanyutkannya.
Tampaknya, budaya kita sedang mengalami penetrasi budaya orang lain. Acara balimau itupun menjauh pula dari nilai adat dan syarak.

Hura-hura dan huru-huru mulai mucul di mana-mana karena lemahnya panggilan peran surau.
Nilai harkat diri sangat tipis.
Larangan adat dan agama mulai dilanggar.
Aturan beradat tidak tampak.
Kerusakan datang mengancam.
Nilai budaya Minang mulai tergugat.
Mulailah terasa hilangnya norma-norma yang baik.

Ranah Minang, seakan tidak lagi hidup dalam keindahan kultur budaya. Masyarakat mulai larut dalam hubungan tak berbudaya.

Syarak sebenarnya telah mengingatkan agar perbuatan meniru hal yang tidak baik itu dijauhi.
Rasulullah SAW telah mengingatkan kita semua,

لاَ تَكُوْنُوْا إمَّعَةً يَقُوْلُ: أَنَا مَعَ النَّاسِ، إِنْ أَحْسَنُوْا أَحْسَنْتُ، و إنْ أسَاءُوا أسأْتُ، لَكِنْ وَطِّنُوا أنْفُسَكُمْ إنْ أحْسَنَ النَّاسُ أنْ تُحْسِنُوا، و إن أسَاءُوا أَلاَّ تَظْلِمُوا. (رواه الترمذي)
Janganlah kalian menjadi seperti bunglon yang berkata, aku bersama orang-orang, jika mereka baik, maka akupun baik pula. Dan jika mereka buruk akhlaknya, maka akhlakku pun buruk pula. Akan tetapi tanamkanlah sikap pada diri kalian; jika mereka baik, hendaklah kalian selalu baik; dan jika mereka buruk akhlaknya, maka janganlah kalian ikut berbuat berbuat dzalim (artinya ikut pula berbuat buruk).

Maka, perlu upaya keras semua pihak mencegah generasi kedepan terperangkap perbuatan maksiyat.

Di antara yang dapat dikerjakan oleh anak nagari adalah membersihkan halaman rumah, masjid dan surau, serta membuat sesuatu yang baik dan bermanfaat untuk kehidupan anak nagari. Keteraturan adalah satu nikmat dari Ramadhan yang dinantikan tiap tahun.

Orang Minangkabau di Sumatera Barat yang menanggalkan budayanya, akan mewarisi generasi rapuh.
Jiwanya akan mati.
Akibatnya, kehidupan tidak lagi beralas adat yang tak lekang karena panas tak lapuk karena hujan.

Bila kondisi itu tidak di awasi, rela ataupun tidak, jalan di alih urang lalu, tepian di aliah urang mandi akan menjadi kenyataan. Minangkabau akhirnya tersisa dalam nostalgia.

Hidup kedepan akan dikuasai oleh yang teguh pada puncak budayaannya. Tak mudah di sangkal bahwa puncak kebudayaan adalah warna kehidupan kaum (bangsa).

Nilai budaya dalam tatanan kehidupan aktif merupakan aset bernilai tinggi untuk di persandingkan pada era kesejagatan (globalisasi).

Satu generasi bangsa akan hilang, karena lemahnya nilai-nilai budaya.
Selain itu, akan membuka peluang untuk dijajah oleh budaya lain yang lebih kuat. Mau tidak mau, generasi yang lemah budaya nyaris diperebutkan orang lain. Untuk kemudian dikuasai dan dihalau kian kemari di dalam persaingan bebas yang keras.

Generasi lemah iman dan lemah tamaddun akan tergilas habis. Dalam alam global yang kejam ini, generasi yang lemah akan ditelan oleh yang kuat.

Kemampuan memelihara nilai-nilai budaya bangsa perlu diperkuatkan.
Bimbingan syarak, sesuai sabda Rasulullah SAW menuntunkan prilaku indah sebagai berikut;

إِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، وَطَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ، نَظِيْفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ، فَنَظِّفُوْا أَفْنِيِتَكُمْ وَلاَ تَتَشَبَّهُوا بِاليَهُوْدِ (رواه الترمذ)
Artinya, “ Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai yang keindahan, baik dan menyukai kebaikan, bersih serta menyukai kebersihan. Oleh karena itu, bersihkanlah halaman rumah kalian dan jangan kalian menyerupai yahudi.” (HR. Tirmidzi).

Wassalamu’alaiku Warahmatullahi Wa Barakatuh,

Comments

« Previous entries