PAUD

Pengebangan Moral dan Nilai Agama dalam PAUD

Pengembangan Moral dan Nilai- Nilai Agama Dalam pendidikan anak usia dini (paud)[1]


H. Mas’oed Abidin[2]

 

Mukaddimah

Sudah lama kita mendengar ungkapan, “jadilah kamu berilmu yang mengajarkan ilmunya, atau belajar (muta’alliman), atau menjadi pendengar (mustami’an). Dan, jangan menjadi kelompok keempat, yang tidak memiliki aktifitias keilmuan sama sekali. Yakni, tidak mengajar, tidak pula belajar, serta enggan untuk mendengar”.

Peran Guru di tengah umat dan anak didiknya, adalah sesuatu pengabdian mulia, dan tugas sangat berat. Mereka adalah pelopor pembangunan (agent of changes). Bekal utamanya adalah keyakinan  dan keimanan kepada Allah SWT, hidup beradat,  berakhlaq mulia. Inilah, yang menjadi program utama di dalam pendidikan anak usia dini (PAUD). Tugas itu berat. Umat hanya mungkin dibentuk melalui satu proses pembelajaran, dengan pengulangan terus menerus (kontiniutas), pencontohan (uswah) yang baik. Pekerjaan ini memerlukan ketaletenan dan semangat yang prima.

Kemuliaan seorang guru (pendidik) terpancar dari keikhlasan membentuk umat dan anak manusia menjadi pintar, beriman, berakhlaq, berilmu, mengamalkan ilmunya, untuk kebaikan diri sendiri, keluarga, dan kemaslahatan umat, di kelilingnya, serta mempunyai ibadah yang teratur, shaleh pribadi, dan shaleh social, dengan tauhid yang istiqamah.

Keberhasilan murabbi (guru) akan banyak didukung oleh kearifan, yang dibangun oleh kedalaman pengertian, pengalaman dalam membaca situasi, serta upaya dan kondisi yang kondusif di sekitarnya.

tantangan di  abad ke 21

Abad ini ditandai oleh, (a). mobilitas serba cepat dan modern, (b). persaingan keras dan kompetitif, (c). komunikasi serba efektif, dalam satu global village, dan (d). Akibatnya,  banyak ditemui limbah budaya kebaratan (westernisasi).

Alaf baru ini  hadir dengan cabaran global yang menuntut keteguhan, dalam menghadapi tantangan yang berjibun banyaknya, di antaranya infiltrasi budaya sekularis  yang menjajah mentalitas manusia, the globalization life style meniru sikap yahudi, suburnya budaya lucah (sensate culture), menjauh dari adat budaya luhur, pemujaan nilai rasa panca indera, menonjolkan keindahan sensual, erotik, seronok, ganas semata mengejar kesenangan badani, kebiasaan miras, pergaulan bebas, kecanduan madat dan narkoba.

Menghadapi tantangan ini, semua elemen masyarakat berkewajiban memper­siapkan generasi yang siap bersaing dalam era global terse­but, dengan sibghah yang nyata, melalui pendidikan anak pada usia dini.

Penyimpangan perilaku menjadi ukuran atas kemunduran moral dan akhlak. Hilangnya kendali para remaja, berakibat ketahanan bangsa akan lenyap dengan lemahnya remaja.

Penyebab utama di antaranya, rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan,  hilangnya tokoh panutan, berkembangnya kejahatan di kalangan orang tua, luputnya tanggung jawab lingkungan dan masyarakat, impotensi di kalangan pemangku adat, hilangnya wibawa ulama, dan suluah bendang di nagari, bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi bisnis, dan profesi da’i, guru, dan suluah bendang, dilecehkan.

Perilaku umat juga berubah

Interaksi dan ekspansi kebudayaan dari luar, bergerak secara meluas. Pengaruh budaya asing berkembang pesat, seperti pengagungan materia secara berlebihan (materialistik), pemisahan kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik), pemujaan kesenangan indera mengejar kenikmatan badani (hedonistik).

Perilaku di atas merupakan penyimpangan sangat jauh dari budaya luhur. Pada akhirnya, melahirkan Kriminalitas, perilaku Sadisme, dan Krisis moral, secara meluas.

Perubahan dalam hidup beradat juga telah merambah Minangkabau. 

Adat ndak dipacik arek, agamo ndak dipagang taguah.

Fakta menunjukkan bahwa adat tidak berdampak banyak terhadap generasi muda. Tempat bertanya tidak ada, Sudah banyak yang tidak mengerti adat. Karena itu, generasi muda di Nagari mulai kebingungan.

Manakala problematika sosial ini lupa mengantisipasi melalui gerakan dakwah, melalui Pendidikan Anak Usia Dini berbasis aqidah, maka arus globalisasi ini membawa perubahan yang negatif.

Hilangnya keseimbangan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, yang menyebabkan timbulnya berbagai krisis.

Perilaku luhur akan bergeser, dan menipisnya ukhuwah, serta berkembangnya perbuatan maksiat. Maka sekolah atau pendidikan berbasis aqidah, mesti menjadi cerminan idealitas masyarakat yang mempertahankan pembelajaran budi akhlak.

Pergeseran budaya akan terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, seperti kegemaran berkorupsi, aqidah tauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, serta suka melalaikan ibadah.

Salah satu solusi untuk mengatasi problematika keumatan ini, adalah dengan melaksanakan pendidikan aqidah pada anak usia dini (PAUD), dengan menambah ilmu, menguatkan amal, menanamkan akhlak, menjaga ibadah dan karakter umat, dengan berpedoman wahyu Allah SWT.

Pendidikan aqidah dan akhlaq, membawa umat kepada bertaqwa. Janji Allah SWT sangat tepat, ” apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi. (QS.7,al-A’raf:96).

Menghidupkan Antisipasi Umat

Umat mesti diajak mengantisipasi perkembangan global agar tidak menjadi kalah. Dalam persaingan dimaksud, beberapa upaya mesti disejalankan dengan ;

a.       Memantapkan watak terbuka,

b.      Pendidikan aqidah tauhid,

c.       Mengamalkan nilai-nilai amar makruf nahi munkar,

d.      Integrasi moral yang kuat,

e.       Memiliki penghormatan terhadap orang tua,

f.        Mempunyai adab percakapan di tengah pergaulan,

g.       Pendalaman ajaran agama tafaqquh fid-diin, berpijak pada nilai-nilai ajaran Islam yang universal tafaqquh fin-naas.

h.      Perhatian besar terhadap masalah sosial atau umatisasi,

i.         Memacu penguasaan ilmu pengetahuan,

j.         Kaya dimensi dalam pergaulan rahmatan lil ‘alamin,

k.       Iman dan ibadah, menjadi awal dari ketahanan bangsa.

 

Ketahanan umat dan bangsa, pada umumnya terletak pada kekuatan ruhaniyah, keyakinan agama dengan iman taqwa dan siasah kebudayaan.

Intinya adalah tauhid. Implementasinya akhlaq.

Program pendidikan anak usia dini (PAUD) dapat dilakukan dengan nuansa surau. Surau adalah suatu institusi yang khas dalam masyarakat Minangkabau. Fungsinya bukan sekedar tempat sholat. Juga sebagai tempat pendidikan dan tempat mendapat pengajaran bagi anak muda. Banyak tokoh-tokoh besar di Minangkabau lahir dari surau. Pengelolaan pendidikan bernuansa surau, pada masa sekarang bisa dihidupkan kembali. Esensi dan semangatnya lewat menggerakkan kebersamaan anak Nagari.

Para pendidik mesti tampil mengambil peran, karena  ada gejala, adat tidak memberi pengaruh yang banyak terhadap generasi muda di Minangkabau, dan adanya tendensi bahwa generasi tua, terlihat kurang pula memberikan suri teladan.

Akibatnya, generasi muda jadi bersikap apatis terhadap adat itu sendiri.

Peran para pendidik mesti membentuk watak Generasi Sumatera Barat, sesuai petatah yang berbunyi, “Indak nan merah pado kundi, indak nan bulek pado sago, Indak nan indah pado budi,  indak nan elok pado baso. Anak ikan dimakan ikan,  gadang di tabek anak tanggiri, ameh bukan pangkaik pun bukan, budi sabuah nan diharagoi. Dulang ameh baok balaie, batang bodi baok pananti, utang ameh buliah bababie,  utang budi dibaok mati.”

Ada enam unsur yang diperlukan untuk membentuk masyarakat yang mandiri dan berprestasi, melalui harakah dakwah, dalam pendidikan bernuansa surau ;  

1. IMAN, 2. ILMU, 3. Kerukunan, Ukhuwah dan Interaksi,  4. Akhlaq, Moralitas sebagai Kekuatan Ruhiyah, 5. Badunsanak, sikap Gotong royong (Ta’awun), 6. Menjaga Lingkungan sebagai Social Capital, menerapkan Eko Teknologi.

Kegiatan Pendidikan Anak Usia DINI (PAUD), mesti dijadikan upaya pembinaan karakter anak, dengan berbasis nilai-nilai agama, yang akan menjadi pagar adat dan syarak, dalam menghadapi krisis identitas, sebagai  akibat dari perubahan dalam nilai – nilai adat.

mengajak, mendidik,  dan mengamalkan Islam

Peran Guru atau Murabbi dalam mendidik anak sejak usia dini adalah ibarat Suluah Bendang di  tengah umat, yang dilaksanakan dengan keikhlasan sebagai satu pengabdian mulia dan tugas berat.

Keikhlasan membentuk umat jadi pintar, beriman, berakhlaq, berilmu, beramal baik, membina diri, kemashlahatan umat, dan keluarga, menjadi panutan dan ikutan, ibadahnya teratur, shaleh peribadi dan sosial, beraqidah tauhid yang shahih dan istiqamah.

Pendidikan anak sejak usia dini ini, tidak terlepas dari upaya menyiapkan satu generasi yang beradab, berakhlaq, berakidah dan berprestasi, melalui ;

Ø Membudayakan Wahyu Al Quran dalam memakaikan adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah, melalui pendidikan dan pelatihan-pelatihan,

Ø Implementasinya, dalam perilaku anak berakidah, dan berakhlaq, dalam kerangka lebih luas, menghidupkan dakwah membangun negeri.

Perintah untuk melaksanakan tugas-tugas da’wah itu, secara kontinyu atau terus menerus, dan sambung bersambung.

 

Pelaksana Dakwah adalah setiap Muslim

Setiap mukmin adalah umat da’wah pelanjut Risalah Rasulullah yakni Risalah Islam. Umat dan para murabbi (pendidik) mesti berupaya sekuat tenaga untuk meneladani pribadi Muhammad SAW, dalam membentuk effectif leader dengan mengamalkan inti dan isi Agama Islam, yakni akhlaq Islami, Aqidah tauhid yang shahih, kesalehan, dan keyakinan kepada hari akhirat, ”Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab, 33 : 21).

Islam Mendidikkan Kepribadian

Uswah atau contoh tauladan terpuji, melukiskan kesan positif dalam mayarakat. Alat canggih teknologi modern tidak dapat mengambilalih peran orang tua dalam uswah. Faktor manusia tetap diperlukan dalam proses pematangan sikap pribadi seseorang anak, sejak usia dini, dengan menanamkan laku perangai (syahsiah), yang mencerminkan  watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seorang[3]

Sahsiyah Murabbi membawa Keberhasilan Pendidikan ISLAM

Tidak diragukan lagi bahwa guru – murabbi, muallim, – yang punya kepribadian baik serta uswah hidup yang terpuji akan mampu melukiskan kesan positif dalam diri anak didik mereka.

Alat teknologi modern walau bagaimanapun canggihnya tidak akan dapat mengambil alih peranan guru. Faktor manusia tetap diperlukan dalam proses pembentukan dan pematangan sikap pribadi para anak didik dan menanamkan laku perangai — syahsiah — murid. Tegasnya sahsiah mencerminkan  watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seseorang [4]

Ciri Utama atau Syahsiah (شخصية) itu bermakna pribadi atau personality, yang  menggambarkan sifat individu yang merangkum padanya gaya hidup, kepercayaan, harapan, nilai, motif, pemikiran, perasaan,  budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak seseorang.[5]

Banyak kajian telah dibuat tentang sifat-sifat yang perlu ada pada seorang guru (murabbi, mu’allim) yang baik dan akan menghasilkan kesan mendalam pada proses pengajaran yang mereka sampaikan.[6] Karena itu, sifat dan ciri guru muslim hendaklah merangkum :

    A.  Sifat Ruhaniah dan Akidah

1.      Keimanan yang kental kepada Allah yang Maha Sempurna

2.      Keyakinan mendalam terhadap hari akhirat, hari berbangkit dan hari pembalasan

3.      Kepercayaan kepada seluruh para Rasul di iringi dengan sifat dan asas keimanan (arkan al iman) yang lain.

    B.   Sifat-Sifat Akhlak

1.      Benar dan jujur

2.      Menepati janji dan Amanah

3.      Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan

4.      Merendah diri – tawadhu’ –

5.      Sabar, tabah dan cekatan

6.      Lapang dada – hilm –, Pemaaf dan toleransi

7.      Menyayangi murid, mengutamakan kepentingan orang banyak dengan  sikap pemurah, zuhud dan berani bertindak.

    C.  Sifat Mental, Kejiwaan dan Jasmani

1. Sikap Mental

·         Cerdas (Kepintaran teori, amali dan sosial), menguasai mata anak didikan  takhassus

·         Luas pengetahuan umum dan  ilmiah yang sehat

·         Mengenal ciri, watak, kecenderungan dan keperluan murid, fasih, bijak dan cakap di dalam penyampaian

2. Sifat Kejiwaan

·         Tenang dengan emosi mantap terkendali, optimistik dalam hidup, penuh harap kepada Allah dan tenang jiwa bila mengingatiNya.

·         Percaya diri dan mempunyai kemauan yang kuat, lemah lembut dan baik dalam pergaulan

·         Berfikiran luas dan mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat

3.  Sifat Fisik

·         Sehat tubuh dan badan dari penyakit menular

·         Berperawakan menarik, bersih, rapi (kemas) dan menyejukkan.

 

Berapa penilitian di beberapa negara maju terdapat daftar sikap yang diinginkan ada pada para murabbi (guru)  :

·         Berkelakuan baik (penyayang dan penyabar), mampu menguraikan anak didikan dengan jelas, berdisiplin, amanah dan menunaikan janji,

·         Mempunyai sahsiah yang dihormati, berkemauan yang kuat, berbakat kepimpinan yang tinggi, berpengetahuan umum yang luas, bersikap menarik dan bersuara yang merangkul dan mendidik,

·         Pandai memberi nasihat, simpati terhadap kelemahan murid, pandai memilih kata-kata, tanggap dengan suasana murid di rumah, dan mengujudkan sikap kerjasama, serta  bersemangat riadah dan kedisiplinan

Guru muslim (murabbi) yang mempunyai sahsiah yang baik ialah guru yang mengamalkan etika keguruan Islam yang standard dan mempunyai personaliti yang baik.

Etika Guru Muslim

Etika pendidik Islam yang profesial, memiliki beberapa tanggung jawab yang dapat diawali oleh kemauan dari dalam diri guru dan kemudian dapat ditukuk tambah oleh khalayak pendidik dan dihayati sebagai suatu etika profesi keguruan, antara lain ;   

1. Tanggungjawab Terhadap Allah

Etika guru muslim terhadap Allah ialah :

1.      Senantiasa memantapkan keyakinan kepada Allah dengan ibadah.

2.      Bersifat istiqamah, dengan semangat berbakti dan beramal soleh.

3.      Wajib menghayati rasa khusyuk, takut dan harap kepada Allah, dan selalu bersyukur kepada Allah di samping selalu berdoa kepadaNya dengan membaca ayat-ayat Allah dan merendahkan diri kehadratNya.

 2. Tanggungjawab Terhadap Diri

1.      Guru muslim hendaklah memastikan keselamatan diri sendiri, mencakup aspek fisik, emosional, mental maupun moral, bersih diri, pakaian, dan tempat tinggal.

2.      Memahami kekuatan dan kelemahan diri untuk boleh dimanfaatkan serta ditingkatkan dari segenap aspek dan dapat berkhidmat sebanyak mungkin kepada Allah, masyarakat dan negara.

3.      Melibatkan diri dengan program dan agenda yang dapat meningkatkan kualiti profesi seorang guru.

3. Tanggungjawab Terhadap Ilmu

1.      Memastikan penguasaan ilmu takhassus secara mantap dan mendalam, bercita dan berbuat — iltizam — dengan amanah ilmiah.

2.      Sunguh-sungguh mengamalkan ilmu yang dimiliki dan mengembangkan untuk dianak didiki, dan selalu mengikuti perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan terbaru dalam rangkaian pembelajaran ilmu berkaitan.

3.      Sepanjang masa menelusuri sudut atau dimensi spirituality Islam dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan.

4. Tanggungjawab terhadap Profesi

1.      Seorang guru tidaklah boleh bertingkah laku yang mencemarkan sifat profesinya yang berakibat kurangnya kepercayaan orang ramai terhadap profesi perguruan.

2.      Guru bertugas sebagai pengganti ibu bapa dalam usaha membentuk tingkah laku anak didiknya ke arah sikap perangai yang diterima oleh masyarakat, dan menumpukan perhatian terhadap keperluan setiap anak didiknya.

3.      Dia haruslah mendidik dan mengambil tindakan secara adil terhadap semua anak didik, tanpa membedakan tempat asal keluarga, intelek, akademik dan status-status lain.

5. Tanggungjawab Terhadap anak didik

1.      Guru muslim hendaklah lebih mengutamakan kebajikan dan keselamatan anak didiknya.

2.      Bersikap adil terhadap, tanpa membedakan faktor-faktor jasmani, mental, emosi, politik, ekonomi, sosial, keturunan dan agama anak didiknya.

3.      Menampilkan suatu cara pakaian, pertuturan dan tingkah laku yang dapat memberikan contoh yang baik kepada anak didiknya.

6. Tangungjawab Terhadap Rekan Sejawat

1.      Guru muslim senantiasa berusaha dengan sepenuhnya menunaikan tanggungjawab dengan rajin dan bersungguh-sungguh dan mengekalkan kemajuan ikhtisas dan sosial.

2.      Senantiasa bersedia membantu rekan sejawat terutamanya mereka yang baru dalam profesi perguruan.

3.      Mawas diri dan tidak mencemarkan nama baik profesi pendidik.

7. Tanggungjawab terhadap masyarakat dan Negara

1.      Mengelakkan diri daripada meyebarkan sesuatu ajaran yang dapat  merusak kepentingan anak didik, masyarakat atau negara, ataupun yang dapat  bertentangan dengan aturan bernegara.

2.      Memupuk dalam diri setiap anak didik sikap dan nilai yang dapat  membantu dan membimbing mereka untuk menjadi warga negara yang taat setia, bertanggungjawab dan berguna, menghormati orang-orang yang lebih tua dan menghormati adanya perbedaan kebudayaan, keturunan dan agama.

3.      Menghormati masyarakat tempat mereka berkhidmat dan memenuhi segala tanggungjawab sebagai seorang warganegara dan senantiasa sanggup mengambil bahagian dalam sebarang kegiatan masyarakat. Berpegang kepada tingkah laku yang sopan yang diterima oleh masyarakat dan menjalani kehidupan harian dengan baik.

8. Tanggungjawab Terhadap Ibu Bapa dan rumah tangga

1.      Menghormati tanggungjawab utama ibu bapa terhadap anak-anak mereka.

2.      Berusaha mewujudkan hubungan mesra dan kerjasama yang erat di antara institusi pendidikan dengan rumahtangga.

3.      Menganggap semua maklumat yang diberikan oleh ibu bapa mengenai keadaan rumahtangga atau anak mereka sebagai sulit dan tidak akan membocorkannya kepada sesiapa kecuali kepada mereka yang berhak mengetahuinya.

Keberhasilan Pendidikan Islam

Meskipun ciri dan sahsiah guru yang baik telah dicapai namun itu tidak pula bermakna pengajaran mereka dengan sendirinya berkesan.

Pengajaran yang disampaikan oleh guru akan berkesan atau tidak, amat bergantung kepada beberapa faktor yang berkaitan degan proses belajar dan mengajar yang menjadi hubungan erat antara guru dan anak didiknya.

Tantangan yang dihadapi oleh para guru dalam mengajar murid-murid  zaman ini bukanlah suatu yang mudah. Guru berhadapan dengan kenakalan remaja yang semakin serius. Ibu bapa harus ikut serta dalam memudahkan kerja guru-guru di sekolah.

Masyarakat juga wajib memainkan peranan sebagai pendukung keberhasilan guru dalam pembelajaran terhadap murid-murid mereka. Tanpa kerjasama semua pihak proses pendidikan tidak akan berjaya menghasilkan generasi  yang baik.

            Membentuk Generasi Masa Depan

Perkembangan kedepan banyak ditentukan oleh peranan generasi penerus dengan ruang interaksi yang jelas. Pendidik harus menjadi agen sosialisasi yang menggerakkan kehidupan masa depan lebih baik. Kita memerlukan generasi yang handal, dengan beberapa sikap;

a.      individu yang berakhlak, berpegang pada nilai-nilai mulia iman dan taqwa, daya kreatif dan inno­vatif, dipadukan dengan kerja sama berdisiplin, kritis dan dinamis, memiliki vitalitas tinggi, tidak mudah terbawa arus, sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan.

b.      memahami nilai‑nilai budaya luhur, punya jati diri yang jelas, generasi  yang menjaga destiny, motivasi yang bergantung kepada Allah, yang patuh dan taat beragama akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan,

c.        memahami dan mengamalkan nilai‑nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, mempunyai motivasi dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik‑material, tanpa harus mengorbankan nilai‑nilai kemanusiaan.

Kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) dengan basis iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat. Hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional.

Pendidikan anak usia dini, akan berperan membentuk mental umat – dengan FAST -, satu ranah ruhani yang memiliki kekuatan ;

q  Fathanah (Ilmiah),

q  Amanah (jujur),

q  Amaliyah (transparan),

q  Shiddiq (lurus),

q  Shaleh (Yakin terhadap akhirat),

q  Setia (ukhuwah mendalam),

q  Tabligh (Dialogis),

q  Tauhid (Percaya kepada Allah),

q  Taat (Disiplin),

Generasi baru harus mampu mencipta, menjadi syarat utama keunggulan. Keutuhan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada.

Generasi muda harus dibina menjadi umat dakwah, dengan memiliki budaya yang kuat berintikan nilai-nilai dinamik yang relevan dengan realiti kemajuan di era globalisasi, yakni nilai-nilai agama Islam.

Generasi masa depan (era globalisasi) mesti Memiliki ; budaya luhur (tamaddun), berpaksikan tauhidik, kreatif dan dinamik, memiliki utilitarian ilmu berasaskan epistemologi Islam yang jelas, tasawwur (world view) yang integratik dan umatik sifatnya (bermanfaat untuk semua, terbuka dan transparan).

Pendidikan dikembangkan sejak usia dini si anak, dengan menekankan pada pendidikan akhlak, budi pekerti, dengan tujuan yang jelas ;

ü  Menghambat gerakan-gerakan yang  merusak Islam.

ü  Menimbulkan keinsafan tentang perlunya adil sesuai syara’ Islam.

ü  Melahirkan masyarakat penyayang yang tidak aniaya satu sama lain.

ü Menanamkan tata kehidupan saling kasih mengasihi dan beradab sopan. Akhlak karimah  adalah tujuan sesungguhnya dari proses pendidikan, dan menjadi wadah dalam menerima ilmu lainnya, dan membimbing umat kearah amal karya, kreasi, inovasi, motivasi yang shaleh (baik).

Akhlak, adalah jiwa pendidikan, Inti ajaran  Agama, dan  buah keimanan.

Bahasa Dakwah adalah Bahasa Kehidupan

Mendidik tidak dapat dipisah dari satu gerakan dakwah. Menggalang saling pengertian, koordinasi sesamanya mempertajam faktor-faktor pendukungnya, membuka pintu dialog persaudaraan (hiwar akhawi), untuk membentuk efektif leader, mencontoh peribadi Rasulullah SAW, menjadi satu kunci keberhasilan da’wah Risalah.

Aktualisasi dari nilai-nilai Al-Qur’an itu, hanya bisa diwujudkan dengan gerakan amal nyata yang berkesinambungan (kontinyu), dalam seluruh aktivitas kehidupan manusia, melalui kemampuan bergaul, mencintai, berkhidmat, menarik, mengajak (da’wah) , merapatkan potensi barisan (shaff), mengerjakan amal-amal Islami secara bersama-sama (jamaah).

Setiap Muslim harus melakukan perbaikan (ishlah) kualitas diri sendiri, sebagaimana arahan Rasulullah “Mulailah dari diri kamu kemudian lanjutkan kepada keluargamu dan kepada lingkunganmu” (Al Hadist), dan perbaikan kualitas lingkungan, keluarga, hubungan sosial masyarakat, sosial ekonomi, kebudayaan dan pembinaan alam lingkungan yang berkesinambungan.

Pendidikan usia dini ini tidak akan berhenti dan akan berkembang terus sesuai dengan variasi zaman yang senantiasa berubah, dengan tujuan utama membentuk generasi pintar, berilmu, dan berbudaya dengan akhlaq karimah.

Pengembangan pendidikan berkualitas (quality oriented), akan mendorong lahirnya umat yang mempunyai ilmu yang komprehensif, yakni pengetahuan agama plus keterampilan, dengan aqidah tauhid yang istiqamah.

Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan sumber-sumber belajar di dalam masyarakat menjadi bagian integral dari masyarakat Muslim secara keseluruhan.

Dengan pengembangan dakwah ini, maka surau dan masjid, dapat menjadi core, atau inti, mata dan pusat dari learning society, masyarakat belajar. Sasarannya, agar lahir umat dakwah yang terdidik, berkualitas, capable, fungsional, integrated di tengah masyarakatnya.

Setiap Muslim harus ‘arif, dalam menangkap setiap pergeser­an yang terjadi karena perubahan zaman ini, juga menjanjikan peluang‑peluang yang ada, sehingga memiliki visi jauh ke depan dalam percaturan hidup dunia (Q.S. 28: 77).

Kekuatan Tauhid

Paradigma tauhid, laa ilaaha illa Allah, mencetak manusia menjadi ‘abid (yang mengabdi kepada Allah) dalam arti luas mampu melaksanakan ajaran syar’iy mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasul Allah, menjadi manusia mandiri (self help), sesuai eksistensi manusia itu di jadikan.[7] Manusia pengabdi (‘abid) adalah manusia yang tumbuh dengan aqidah Islamiyah yang kokoh.

Aqidah Islamiah adalah sendi fundamental dinul Islam, Aqidah adalah langkah awal untuk menjadi muslim. Aqidah adalah keyakinan bulat, tanpa ragu dan bimbang,  Aqidah membentuk watak manusia Patuh dan taat,  sebagai bukti penyerahan total kepada Allah.

       Aqidah menuntun hati manusia kepada pembenaran  kekuasaan tunggal Allah secara absolut. Aqidah ini membimbing hati manusia merasakan nikmat rasa aman dan tentram dalam mencapai Nafsul Mutmainnah dengan segala sifat-sifat utama.[8]

Manusia berjiwa bersih (muthmainnah) selalu memenuhi janjinya terhadap Allah, dan melaksanakan semua perintah Allah secara konsekwen.[9]

Konsistensi, atau ke-istiqamah-an membentuk manusia patuh dan taat dalam mengamalkan syari’at Islam secara tidak terputus ibarat akar dengan pohonnya.[10]  Maka hakikinya tanpa aqidah tidak ada artinya seorang muslim. Aqidah Islamiyah ialah Iman kepada Allah dengan mengakui eksistensiNya (wujudNya).

Ibadah bermakna secara konsisten penuh keikhlasan melaksanakan perintah-perintah Allah tanpa reserve. Konsistensi aqidah tauhid bersedia meninggalkan apa saja bentuk larangan dari Allah, dengan sikap ketaatan dan disiplin diri, karena mencari redha Allah.

Sikap tawakkal adalah konsekwensi dari ikhtiar dan usaha sesuai keyakinan tauhid.

Tawakkal dan ikhtiar usaha selalu jalan seiring.

Keduanya berjalin berkulindan merupakan mekanisme terpadu dalam kerangka kekuasaan Allah Yang Maha Agung.

Keyakinan tauhid mengajarkan kesadaran mendalam bahwa Allah selalu ada di samping manusia.

Keyakinan tauhid mampu menepis rasa takut dan menghapus gentar dalam menghadapi resiko hidup. Hilangnya aqidah tauhid melahirkan fatalistis atau bersikap apatis dan pesimis.

Keyakinan tauhid, adalah kekuatan besar dari energi ruhaniah yang mendorong manusia untuk hidup inovatif.

Membangun SDM menjadi SDU

Kita berkewajiban membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi Sumber Daya Umat (SDU) yang berciri kebersamaan dengan nilai berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas. 

Beberapa model perlu dikembangkan di kalangan para pendidik, seperti ; pemurnian wawasan fikir, kekuatan zikir, penajaman visi, perubahan melalui ishlah atau perbaikan, mengembangkan keteladanan uswah hasanah, sabar, benar, memupuk rasa kasih sayang, dan pendalaman spiritual religi.

Menguatkan solidaritas beralaspijak kepada iman dan adat istiadat luhur, “nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”. Intensif menjauhi kehidupan materialistis, “dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.

Khatimah

1.      Menetapkan langkah kedepan ;

a.           pembinaan human capital dengan keluasan ruang gerak mendapatkan pendidikan,

b.           pembinaan generasi yang memiliki jati diri, padu dan lasak, integreted inovatif.

c.            mengasaskan agama dan akhlak sebagai dasar pendidikan pada anak sejak usia dini.

d.           mencetak anak-anak muslim berilmu yang benar, beriman taqwa.

e.           membina wawasan yang menyatu dengan akidah, budaya bangsa, dan bahasa.

f.             mewujudkan masyarakat yang berasas keadilan sosial yang jelas.

2.      Mengokohkan pegangan umat dengan keyakinan dasar Islam sebagai suatu cara hidup yang komprehensif.

3.      Menyebarkan budaya wahyu di atas kemampuan  akal.

4.       Meyakini Peran krusial Ajaran Islam, bahwa kemenangan hanya disisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS.8, Al-Anfal : 9-10).

5.      Generasi penerus harus taat hukum, dapat dilakukan dengan cara ;

a.      memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga,

b.      memperkokoh peran orang tua, ibu bapak ,

c.       pemeranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif,

d.      memperkaya warisan budaya, setia, cinta dan rasa tanggung jawab patah tumbuh hilang berganti

e.      menanamkan aqidah shahih (tauhid), dan istiqamah pada agama yang dianut,

f.        menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur.

g.      menanamkan kesadaran, tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah

h.      penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam

i.        melazimkan musyawarah dengan disiplin, sebagai nilai puncak budaya Islam  yang benar.

Budaya adalah wahana kebangkitan bangsa. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya. Sesuatu akan selalu indah selama benar. Demikianlah semoga Allah senantiasa Meridhai.

 Padang, 12 Januari 2008.



[1]   Disampaikan dalam Pelatihan Pendidikan PAUD se Sumatera Barat, pada tanggal 9 s/d. 13 Januari 2008, di Gedung Pusdiklat Bhakti Bunda Sumatera Barat, di Jl. Asahan No.2, Komplek GOR H. Agus Salim, Padang., Sumatera Barat.

[2]   Ketua Umum BAZ Sumbar, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumbar, Wakil Ketua Dewan Penasehat MUI Sumbar, dalam Pelatihan Pendidikan PAUD di Sumatera Barat, pada tanggal 1 s/d. 4 September 2007, di Kompleks Sekolah ITI/INS Kayu Tanam 1926, di Jl. Raya Padang Bukit Tinggi, Km.53, Kayutanam – 25585, Sumatera Barat.

[3]   Sahsiah mempunyai tiga ciri utama. Pertama ialah keunikan dengan maksud tersendiri. Kedua  kebolehan  atau kemampuannya untuk berubah dan diubah; sebagai hasil pembelajaran atau pengalaman. Ketiga ialah organisasi. Dengan perkataan  lain  ia bukan  sekadar himpunan tingkahlaku  sebaliknya ia melibatkan corak tindakan dan operasi yang bersifat konsisten.

[4]   Sahsiah mempunyai tiga ciri utama. Pertama ialah keunikan dengan maksud tersendiri. Kedua  kebolehan  atau kemampuannya untuk berubah dan diubah; sebagai hasil pembelajaran atau pengalaman. Ketiga ialah organisasi. Dengan perkataan  lain  ia bukan  sekadar himpunan tingkahlaku  sebaliknya ia melibatkan corak tindakan dan operasi yang bersifat konsisten.

[5]  G.W Allport dalam bukunya ”Pattern and Growth in Personality”, mendifinisikan sahsiah sebagai organisasi dinamik sesuatu sistem psikofisikal di dalam diri seorang individu yang menentukan tingkah laku dan fikirannya yang khusus.  Sistem psikofisikal merangkumi segala-gala unsur-unsur psikologi seperti tabiat, sikap, nilai, kepercayaan dan emosi, bersama dengan unsur-unsur fisikal seperti bentuk tubuh badan, urat saraf, kelenjar, wajah dan gerak gerik seseorang ( Mok Soon Sang, 1994:1).

[6]  Menurut Prof Omar al-Toumi al-Syibani

[7]  Lihat QS.adz-Dzariat, : 57.

[8]  Lihat QS.89:27, dan  QS.13:20-24

[9]  Sesuai bimbingan dalam  QS.6:82.

[10]  Lihat QS.14:24-25.

Categories: Buya Masoed Abidin, Education, Komentar, Masyarakat Adat, PAUD, Pendidikan, Strategi Pendidikan Madani, Surau | Leave a comment

Pendidikan Berbasis Kualitas Madani di Sumatera Barat

 

STRATEGI PEMBANGUNAN PENDIDIKAN YANG BERKUALITAS DAN MADANI

DI Sumatera Barat

 

Oleh,

h. mas’oed abidin

Direktur PPIM/Ketua MUI Sumbar Bidang Dakwah

 

Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan Suatu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. (UUD-45)

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk mempunyai kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”, dan

“Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab, serta

berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”.

(UU No. 20 th 2003, Sistem Pendidikan Nasional)

 

Mukaddimah

Sudah lama kita mendengar ungkapan, “jadilah kamu berilmu yang mengajarkan ilmunya (‘aaliman), atau belajar (muta’alliman), atau menjadi pendengar (mustami’an), dan jangan menjadi kelompok keempat (rabi’an), yakni tidak tersentuh proses belajar mengajar dan enggan pula untuk mendengar. Kemulian pengabdian seorang pendidik terpancar dari keikhlasan membentuk anak manusia menjadi pintar, berilmu, berakhlak dan pengamal  ilmu yang menjelmakan kebaikan pada diri, kerluarga, dan di tengah umat kelilingnya.

Namun sekarang, kita menatap fenomena mencemaskan. Penetrasi bahkan infiltrasi budaya asing ternyata berkembang pesat. Pengaruhnya tampak pada perilaku  pengagungan materia secara berlebihan (materialistik) dan kecenderungan memisah kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik). Kemudian berkembang pula pemujaan kesenangan indera dengan mengejar kenikmatan badani (hedonistik). Hakekatnya, telah terjadi penyimpangan perilaku yang sangat jauh dari budaya luhur – adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah-. Kesudahannya, rela atau tidak, pasti mengundang kriminalitas, sadisme, dan krisis secara meluas.

Pergeseran paradigma materialistic acapkali menjadikan para pendidik (murabbi) tidak berdaya menampilkan model keteladanan. Ketidakberdayaan itu, menjadi penghalang pencapaian hasil membentuk watak anak nagari. Sekaligus, menjadi titik lemah penilaian terhadap murabbi bersangkutan.[1] Tantangan berat ini hanya mungkin dihadapi  dengan menampilkan keterpaduan dalam proses pembelajaran  dan pengulangan contoh baik (uswah) terus menerus. Jati diri bangsa terletak pada peran maksimal ibu bapa – yang menjadi kekuatan inti masyarakat – dalam rumah tangga.[2] Pekerjaan ini memerlukan ketaletenan dengan semangat dan cita-cita yang besar ditopang kearifan. Kedalaman pengertian serta pengalaman di dalam membaca situasi dan upaya menggerakkan masyarakat sekitar yang mendukung proses pendidikan. Usaha berkesinambungan mesti sejalan dengan,

a.      pengokohan lembaga keluarga (extended family), 

b.      pemeranan peran serta masyarakat secara pro aktif,

c.       menjaga kelestarian adat budaya (hidup beradat).

Setiap generasi yang dilahirkan dalam satu rumpun bangsa (daerah) wajib tumbuh menjadi,

a.        Kekuatan yang peduli dan pro-aktif dalam menopang pembangunan bangsanya.

b.        Mempunyai tujuan  yang jelas, menciptakan kesejahteraan yang adil merata melalui program-program pembangunan.

c.         Sadar manfaat pembangunan merata dengan,

1.      prinsip-prinsip jelas,

2.      equiti yang berkesinambungan,

3.      partisipasi tumbuh dari bawah dan datang dari atas,

4.      setiap individu di dorong maju

5.      merasa aman yang menjamin kesejahteraan.[3]

 

 

 

Menghadapi Arus Kesejagatan

Kesejagatan (global) yang deras secara dinamik perlu dihadapi dengan penyesuaian kadar apa yang di kehendaki. Artinya, arus kesejagatan tidak boleh mencabut generasi dari akar budaya bangsanya. Sebaliknya, arus kesejagatan itu mesti dirancang dapat ditolak mana yang tidak sesuai.[4]

Abad keduapuluhsatu (alaf baru) ini ditandai mobilitas serba cepat dan modern.  Persaingan keras dan kompetitif seiring dengan laju informasi dan komunikasi serba efektif tanpa batas. Bahkan, tidak jarang membawa pula limbah budaya ke barat-baratan, menjadi tantangan  yang tidak mudah dicegah. Menjadi pertanyaan, apakah siap mengha­dapi perubahan cepat penuh tantangan, tanpa kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM)  berkualitas yang berani  melawan terjangan globalisasi itu?”

Semua elemen masyarakat berkewajiban menyiapkan generasi yang mampu bersaing di era tantangan sosial budaya, ekonomi, politik, menyangkut semua aspek kehidupan manusia. Globalisasi membawa perubahan perilaku, terutama terhadap generasi muda. Jika tidak mempunyai kekuatan ilmu, akidah dan budaya luhur, akan terancam menjadi generasi buih, sewaktu-waktu terhempas di karang dzurriyatan dhi’afan, menjadi “X-G” atau the loses generation.

Membiarkan diri terbawa arus deras perubahan sejagat tanpa memperhitungkan jati diri akhirnya menyisakan malapetaka.[5] Pemahaman ini, perlu ditanamkan dikala   melangkah ke alaf baru. Kelemahan mendasar terdapat pada melemahnya jati diri. Dapat terjadi karena kurangnya komitmen kepada nilai luhur agama (syarak) yang menjadi anutan bangsa.[6]

Lemahnya jati diri akan dipertajam oleh tindakan isolasi diri lantaran kurang kemampuan dalam penguasaan “bahasa dunia” (politik, ekonomi, sosial, budaya). Ujungnya, generasi bangsa menjadi terjajah di negerinya sendiri. Mau tidak mau, tertutup peluang berperan serta dalam kesejagatan.[7] Kurang percaya diri lebih banyak disebabkan oleh,

a.         Lemah penguasaan teknologi dasar yang menopang perekonomian bangsa,

b.         Lemah minat menuntut ilmu.

 

 

Hilangnya Akhlak Menjadikan SDM Lemah

Penyimpangan perilaku menjadi ukuran moral dan akhlak. Hilang kendali menjadi salah satu penyebab lemahnya ketahanan bangsa. Yang merasakan akibatnya, terutama tentulah generasi muda, lantaran rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan.

Hapusnya panutan dan impotensi tokoh pemangku adat dalam mengawal budaya syarak, dan pupusnya wibawa ulama menjaga syariat agama, memperlemah daya saing anak nagari. Lemahnya tanggung jawab masyarakat, akan berdampak dengan terbiarkan kejahatan meruyak secara meluas. Interaksi nilai budaya asing yang bergerak kencang tanpa kendali, akan melumpuhkan kekuatan budaya luhur anak nagari. Bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi bisnis. Akibatnya,  profesi guru (murabbi) mulai dilecehkan.

Hilang keseimbangan telah mendatangkan frustrasi sosial yang parah. Tatanan bermasyarakat tampil dengan berbagai kemelut. Krisis nilai akan menggeser akhlak dan tanggungjawab moral sosial ke arah tidak acuh (permisiveness). Dan bahkan, terkesan toleran terhadap perlakuan maksiat, aniaya dan durjana. Konsep kehidupan juga mengalami krisis dengan pergeseran pandang (view) terhadap ukuran nilai. Sehingga, tampil pula krisis kridebilitas dalam bentuk erosi kepercayaan. Peran orang tua, guru dan pengajar di mimbar kehidupan  mengalami kegoncangan wibawa. Giliran berikutnya, lembaga-lembaga masyarakat berhadapan dengan krisis tanggung jawab kultural yang terkekang sistim dan membelenggu dinamika. Orientasi kepentingan elitis sering tidak populis dan tidak demokratis. Dinamika perilaku mempertahankan prestasi menjadi satu keniscayaan beralih ke orientasi prestise dan keijazahan. Tampillah krisis solidaritas.

Kesenjangan sosial, telah mempersempit kesempatan mendapatkan pendidikan dan pekerjaan secara merata. Idealisme pada generasi muda tentang masa datang mereka, mulai kabur.

Perjalanan budaya (adat) terkesan mengabaikan nilai agama (syarak). Pengabaian ini pula yang mendatangkan penyakit sosial yang kronis, di antaranya kegemaran berkorupsi. Adalah suatu keniscayaan belaka, bahwa masa depan sangat banyak ditentukan oleh kekuatan budaya yang dominan. Sisi lain dari era kesejagatan adalah perlombaan mengejar kemajuan seperti pertumbuhan ekonomi dan komunikasi untuk menciptakan kemakmuran. Lemahnya syarak (aqidah tauhid) di tengah mesyarakat serta merta mencerminkan perilaku tidak Islami yang senang melalaikan ibadah.

Generasi Penyumbang

Membentuk generasi penyumbang dalam bidang pemikiran (aqliyah), ataupun pembaharuan (inovator) harus menjadi sasaran perioritas.[8]                

Keberhasilan akan selalu ditentukan oleh adanya keunggulan pada institusi di bidang pendidikan. Pendidikan ditujukan untuk membentuk generasi yang menguasai pengetahuan dengan kemampuan dan pemahaman mengidentifikasi masalah yang dihadapi. Seterusnya, mengarah kepada kaderisasi diiringi oleh penswadayaan kesempatan-kesempatan yang ada.[9] Generasi baru yang mampu mencipta akan menjadi syarat utama keunggulan. Kekuatan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada.

Generasi muda harus menjadi aktor utama dalam pentas kesejagatan. Mereka mesti dibina dengan budaya kuat yang berintikan nilai-nilai dinamik” dan relevan dalam kemajuan di zaman itu. Generasi masa depan yang diminati, lahir dengan budaya luhur (tamaddun) berlandaskan tauhidik, kreatif dan dinamik. Maka, strategi pendidikan mesti mempunyai utilitarian ilmu berasas epistemologi Islam yang jelas. Sasarannya, untuk membentuk generasi yang tumbuh dengan tasawwur (world view) yang integratik dan umatik sifatnya. Artinya, generasi yang bermanfaat untuk semua, terbuka dan transparan. Generasi sedemikian hanya dapat dikembangkan melalui pendidikan akhlak, budi pekerti dan penguasaan ilmu pengetahuan. Maka akhlak karimah adalah tujuan sesungguhnya dari proses pendidikan, dan menjadi wadah diri dalam menerima ilmu-ilmu lainnya, karena pada akhirnya ilmu yang benar, akan membimbing umat ke arah amal karya, kreasi, inovasi, motivasi yang baik (shaleh). Dengan demikian, diyakini bahwa akhlak adalah jiwa pendidikan, inti ajaran agama, buah dari keimanan.

Generasi penerus harus taat hukum. Upaya ini dilakukan dengan memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga. Mengokohkan peran orang tua, ibu bapak, dan memungsikan peranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif. Memperkaya warisan budaya dilakukan dengan menanamkan sikap setia, cinta dan rasa tanggung jawab, sehingga patah tumbuh hilang berganti. Menanamkan aqidah shahih (tauhid) dengan istiqamah pada agama Islam yang dianut. Menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur. Apabila sains dipisah dari aqidah syariah dan akhlak, niscaya yang akan lahir saintis tak bermoral agama. Kesudahannya, ilmu banyak dengan iman yang tipis, berujung dengan sedikit kepedulian di tengah bermasyarakat.

Langkah-langkah ke arah pembentukan generasi mendatang sesuai bimbingan Kitabullah QS.3:102 mesti dipandu pada jalur pendidikan, formal atau non formal. Mencetak anak bangsa yang pintar dan bertaqwa (QS.49:13), oleh para pendidik (murabbi) yang berkualitas pula. Keberhasilan gerakan dengan pengorganisasian (nidzam) yang rapi. Menyiapkan orang-orang (SDM) yang kompeten, dengan peralatan memadai. Penguasaan kondisi umat, dengan mengenali permasaalahan keumatan. Mengenali tingkat sosial dan  budaya daerah, hanya dapat di baca dalam peta dakwah yang bagaimanapun kecilnya, memuat data-data tentang keadaan umat yang akan diajak berperan tersebut. Disini terpampang langkah pendidikan yang strategis itu.

Di samping itu perlu pula menanamkan kesadaran serta tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah. Sikap penyayang dan adil, akan dapat  memelihara hubungan harmonis dengan alam, sehingga lingkungan ulayat dan ekosistim dapat terpelihara. Melazimkan musyawarah dengan disiplin, akan menjadikan masyarakat teguh politik dan kuat dalam menetapkan posisi tawar. Kukuh ekonomi serta bijak memilih prioritas pada yang hak, menjadi identitas generasi yang menjaga nilai puncak budaya Islami  yang benar. Sesuatu akan selalu indah selama benar. Semestinya disadari bahwa budaya adalah wahana kebangkitan bangsa. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya.

 

Penguatan Nilai Budaya (tamaddun)

Madani mengandung kata maddana al-madaina atau banaa-ha, artinya membangun atau hadhdhara, maknanya memperadabkan dan tamaddana artinya menjadi beradab dengan hidup berilmu (rasio), mempunyai rasa (arif, emosi) secara individu dan kelompok mempunyai kemandirian (kekuatan dan kedaulatan) dalam tata ruang, peraturan dan perundangan yang saling berkaitan.(Al Munawwir, 1997:1320, dan Al-Munjid, al-Mu’ashirah, 2000:1326-1327). Masyarakat  madani (al hadhariyyu) adalah masyarakat berbudaya yang maju, modern, berakhlak dan mempunyai peradaban melaksanakan ajaran agama (syarak) dengan benar. Masyarakat  madani (tamaddun) adalah masyarakat berbudaya dan berakhlaq. Akhlaq adalah melaksanakan ajaran agama (Islam). Memerankan nilai-nilai tamaddun — agama dan adat budaya — di dalam tatanan kehidupan masyarakat, menjadi landasan kokoh meletakkan dasar pengkaderan (re-generasi) agar tidak terlahir generasi yang lemah. Kegiatan utama diarahkan kepada kehidupan sehari-hari. [10]

Keterlibatan generasi muda pada aktifitas-aktifitas lembaga agama dan budaya, dan penjalinan hubungan erat yang timbal balik antara badan-badan kebudayaan di dalam maupun di luar daerah , menjadi pendorong lahirnya generasi penyumbang yang bertanggung jawab.[11] Generasi penyumbang (inovator) sangat perlu dibentuk dalam kerangka pembangunan berjangka panjang. Bila terlupakan, yang akan lahir adalah generasi pengguna (konsumptif) yang tidak bersikap produktif, dan akan menjadi benalu bagi bangsa dan negara.[12]

Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus didalam membentuk SDM, maka di samping kurikulum ilmu terpadu dan holistik, sangat perlu dirancang kualita pendidik (murabbi) yang sejak awal mendapatkan pembinaan terpadu. Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik, dan bukan utopis.

Keberhasilan perkembangan generasi penerus ditentukan dalam  menumbuhkan sumber daya manusia yang handal. Mereka, mesti mempunyai daya kreatif dan ino­vatif, dipadukan dengan kerja sama berdisiplin, kritis dan dinamis. Mempunyai vitalitas tinggi, dan tidak mudah terbawa arus. Generasi yang sanggup menghadapi realita baru, dengan memahami nilai‑nilai budaya luhur. Selalu siap bersaing dalam basis ilmu pengetahuan dengan jati diri yang jelas dan sanggup menjaga destiny, mempunyai perilaku berakhlak. Berpegang teguh kepada nilai-nilai mulia iman dan taqwa, mempunyai motivasi yang bergantung kepada Allah, yang patuh dan taat beragama. Mereka, akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan. Memahami dan mengamalkan nilai‑nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, memberikan motivasi emansipatoris dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik‑material, tanpa harus mengorbankan nilai‑nilai kemanusiaan. Semestinya dipahami bahwa kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) dengan basis iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat. Hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional. Karena itu, perlulah domein ruhiyah itu dibangun dengan sungguh-sungguh;  

a.      pemantapan metodologi,

b.      pengembangan program pendidikan,

c.       pembinaan keluarga, institusi, dan  lingkungan,

d.      pemantapan aqidah (pemahaman aktif ajaran Agama)

 

Membentuk Sumber Daya Manusia  berkualitas

Kita berkewajiban membentuk SDM menjadi sumber daya umat (SDU) yang berciri kebersamaan dengan nilai asas “gotong royong”, berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas. Beberapa model dapat dikembangkan di kalangan para pendidik. Antara lain, pemurnian wawasan fikir disertai  kekuatan zikir, penajaman visi, perubahan melalui ishlah atau perbaikan. Mengembangkan keteladanan (uswah hasanah) dengan sabar, benar, dan memupuk rasa kasih sayang melalui pengamalan warisan spiritual religi serta menguatkan solidaritas beralaskan iman dan adat istiadat luhur.  “Nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”. Akhirnya, intensif menjauhi kehidupan materialistis, “dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.

Para pendidik (murabbi) adalah bagian dari suluah bendang dengan uswah hidup mempunyai sahsiah[13] (شخصية) bermakna pribadi yang melukiskan sifat individu mencakup gaya hidup, kepercayaan, kesadaran beragama dan harapan, nilai, motivasi, pemikiran, perasaan,  budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak akan mampu menghadirkan kesan positif masyarakat Nagari. Faktor kepribadian tetap diperlukan dalam proses pematangan sikap perilaku anak didik yang mencerminkan  watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seseorang.[14] Ciri kepribadian syarak yang mesti ditanamkan merangkum sifat-sifat,

1.      Sifat Ruhaniah dan Akidah, mencakup ;

a.      keimanan yang kental kepada Allah yang Maha Sempurna,

b.      keyakinan mendalam terhadap hari akhirat, dan

c.       kepercayaan kepada seluruh asas keimanan (arkan al iman) yang lain.

2.      Sifat-Sifat Akhlak, tampak di dalam perilaku;

a.  Benar, jujur, menepati janji dan amanah.

b.  Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan,

c.   Tawadhu’, sabar, tabah dan cekatan,

d.  Lapang dada – hilm –, pemaaf dan toleransi.

e.   Bersikap ramah, pemurah, zuhud dan berani bertindak.

3.    Sifat Mental, Kejiwaan dan Jasmani, meliputi,

  3.1. Sikap Mental,

a.      Cerdas — pintar teori, amali dan sosial –, menguasai spesialisasi (takhassus),

b.      Mencintai bidang  akliah yang sehat, fasih,  bijak penyampaian.

c.       Mengenali ciri, watak, kecenderungan masyarakat Nagari

3.2. Sifat Kejiwaan,

a.      emosi terkendali, optimis dalam hidup, harap kepada Allah,

b.      Percaya diri dan mempunyai kemauan yang kuat.

c.       Lemah lembut dan baik dalam pergaulan dengan masyarakat.

3.3. Sifat Fisik,

a.      mencakup sehat tubuh,

b.      berpembawaan menarik, bersih,

c.       rapi (kemas) dan menyejukkan.

Satu daftar senarai panjang menerangkan sikap pendidik adalah berkelakuan baik (penyayang dan penyabar), berdisiplin baik, adil dalam menerapkan aturan. Memahami masalah dengan amanah dan mampu memilah intan dari kaca. Mempunyai kemauan yang kuat serta bersedia memperbaiki kesalahan  dengan sadar. Selanjutnya tidak menyimpang dari ruh syari’at. Maknanya, mampu melakukan strukturisasi ruhaniyah. Para murabbi dapat mewujudkan delapan tanggung jawab dalam hidup;

1)      Tanggungjawab terhadap Allah, dengan keyakinan iman dan kukuh ibadah bersifat istiqamah, iltizam beramal soleh dengan rasa khusyuk dalam mencapai derajat taqwa dan mengagungkan syiar Islam dengan perilaku beradat dan beradab.

2)      Tanggungjawab terhadap Diri, mengupayakan keselamatan diri sendiri, baik aspek fisik, emosional, mental maupun moral, bersih dan mampu berkhidmat kepada Allah, masyarakat dan negara.

3)      Tanggungjawab terhadap Ilmu, menguasai ilmu takhassus secara mendalam dan menelusuri dimensi spiritualitas Islam dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan untuk tujuan kemanusiaan dan kesejahteraan umat manusia.

4)      Tanggungjawab terhadap Profesi, tidak bertingkah laku yang menghilangkan kepercayaan orang ramai dan dapat memelihara maruah diri dengan amanah.

5)      Tanggungjawab terhadap Nagari, mengutamakan keselamatan anak Nagari dan memfungsikan lembaga-lembaga pendidikan (surau) dengan ikhlas.

6)      Tangungjawab Terhadap Sejawat, menghindari tindakan yang mencemarkan sejawat dengan berusaha sepenuh hati mengedepankan kemajuan social hanya karena Allah.

7)      Tanggungjawab terhadap Masyarakat dan Negara, tidak merusak kepentingan masyarakat atau negara dan selalu menjaga kerukunan bernegara di bawah syari’at Allah.

8)      Tanggung jawab kepada Rumah Tangga dan Ibu Bapa, dengan menghormati tanggungjawab utama ibu bapa dengan mewujudkan hubungan mesra dan kerjasama yang erat di antara institusi pendidikan dengan rumahtangga.

Menghidupkan Partisipasi Umat 

Umat mesti mengantisipasi berbagai krisis dengan kekuatan agama dan budaya (adat dan syarak) agar tidak menjadi kalah di tengah era persaingan. Memantapkan watak terbuka dan pendidikan akhlak berlandaskan ajaran tauhid. Mengamalkan nilai-nilai amar makruf nahi munkar seperti tertera dalam QS.31, Lukman:13-17.  Menghadapi degradasi akhlak dapat dilakukan berbagai program, antara lain ;

1.  Integrasi Akhlak yang kuat dengan menanamkan penghormatan terhadap orang tua. Mempunyai adab percakapan di tengah pergaulan, serta pendalaman ajaran agama (tafaqquh fid-diin). Berpijak kepada nilai-nilai Islam yang universal (tafaqquh fin-naas), akan membawa masyarakat memperhatikan masalah sosial (umatisasi) dengan teguh. Menetapkan kepentingan bersama dengan ukuran taqwa, responsif dan kritis dalam mengenali kehidupan duniawi yang bertaraf perbedaan. Tahap selanjutnya mendorong kepada penguasaan ilmu pengetahuan. Kaya dimensi dalam pergaulan bersama mencercahkan rahmatan lil ‘alamin pada seluruh aspek kehidupan.

2.  Kekuatan Ruhiyah. Ketahanan umat, bangsa dan daerah terletak pada kekuatan ruhiyah dengan iman taqwa dan siasah kebudayaan. Intinya adalah tauhid. Implementasinya akhlak. Umat kini akan menjadi baik dan berjaya, apabila sebab-sebab kejayaan umat terdahulu dikembalikan. Bertindak atas dasar anutan yang kuat, yakni “memulai dari diri sendiri, mencontohkannya kepada masyarakat lain“, (Al Hadist).

3.  Jalinan Kerjasama yang kuat rapi – network, nidzam – antara lembaga perguruan secara akademik  dengan meningkatkan pengadaan pengguna fasilitas.

a.      Mendorong pemilikan jati diri berbangsa dan bernegara.

b.      Memperkokoh interaksi kesejagatan dengan melakukan penelitian bersama, penelaahan perubahan-perubahan di desa dan kota, antisipasi arus kesejagatan dengan  penguatan jati diri generasi.

c.       Pengoperasionalan hasil-hasil penelitian,

d.      Meningkatkan kerja sama berbagai instansi yang dapat menopang peningkatan kesejahteraan.[15]

 

Menggali ekoteknologi dengan kearifan yang ramah lingkungan. Menanam keyakinan actual, bahwa yang ada sekarang adalah milik generasi mendatang. Keyakinan ini menumbuhkan penyadaran bahwa beban kewajiban generasi  adalah memelihara dan menjaga untuk diwariskan kepada gererasi pengganti, secara berkesinambungan, lebih baik dan lebih sempurna.[16] Aktifitas ini akan memacu peningkatan daya kinerja di berbagai bidang garapan melalui,

a.      rancangan pembangunan pendidikan arus bawah,

b.      mempertajam alur pemikiran melalui pendidikan dengan pendekatan holistik (holistic approach) menurut cara yang tepat.

Allah mengingatkan, apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi (QS.7,al-A’raf:96). Artinya, mengajak Umat mempelajari dan mengamalkan iman dan taqwa (tuntutan syarak sesuai ajaran Islam). Selanjutnya, menggiatkan penyebaran dan penyiaran dakwah, untuk mencapai keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia.

           

Di bawah Konsep Redha Allah

Setiap Muslim harus melakukan perbaikan (ishlah) pada dua sisi. Dimulai dengan, ishlah an-nafsi, yaitu perbaikan kualitas diri sendiri, sebagaimana arahan Rasulullah, “Mulailah dari diri kamu kemudian lanjutkan kepada keluargamu” (Al Hadist), selanjutnya islah al-ghairi yaitu perbaikan kualitas lingkungan menyangkut masalah hubungan sosial masyarakat, sosial ekonomi, kebudayaan dan pembinaan alam lingkungan yang dikenal sebagai sustainable development atau pengembangan berkesinambungan.

Langkah awal yang harus ditempuh adalah menanamkan kesadaran tinggi tentang perlunya perubahan dan dinamik yang futuristik. Penggarapan secara sistematik dengan pendekatan proaktif, untuk mendorong terbangunnya proses  pengupayaan (the process of empowerment), umat membangun dan memelihara akhlak.

Melaksanakan tugas dakwah terus menerus dengan petunjuk yang lurus (QS.Al-Ahzab, 33 : 45-46) dibuktikan dengan beribadah kepada Allah. Mengawal generasi Agam tetap beragama, dan tidak musyrik. Mengingatkan selalu untuk bersiap kembali kepada-Nya (QS.Al Qashash, 28 : 87). Setiap muslim hakikinya adalah umat dakwah pelanjut Risalah Rasul yakni Islam. Dari sini, berawal gerakan syarak mangato adat memakai, artinya hidup dan bergaul dengan meniru watak pendakwah pertama, Muhammad Rasulullah SAW. Meneladani pribadi Muhammad SAW untuk membentuk effectif leader di medan dakwah dalam menuju inti agama Islam (QS. Al Ahzab, 33 : 21). Dakwah selalu akan berkembang sesuai variasi zaman yang senantiasa berubah.

Tahapan berikutnya perencanaan terarah, untuk mewujudkan keseimbangan antara  minat dan keterampilan dengan strategi (siyasah) yang jelas. Aspek pelatihan menjadi faktor utama pengupayaan. Konsep-konsep visi, misi, memang sering terbentur oleh lemahnya metodologi dalam operasional (pencapaian). Maka dalam tahap pelaksanaan  mesti diupayakan secara sistematis (the level of actualization).

Menetapkan langkah ke depan pembinaan human capital dengan keluasan ruang gerak mendapatkan pendidikan. Pembinaan generasi muda yang akan mewarisi pimpinan berkualitas wajib mempunyai jati diri, padu dan lasak, integreted inovatif. Langkah yang dapat dilakukan adalah mengasaskan agama dan akhlak mulia sebagai dasar pembinaan. Langkah drastik berikutnya mencetak ilmuan beriman taqwa seiring dengan pembinaan minat dan wawasan. Generasi muda ke depan mesti menyatukan akidah, budaya dan bahasa bangsa, untuk dapat mewujudkan masyarakat madani yang berteras keadilan sosial yang terang. Strategi pendidikan yang madani (maju, dan berperadaban) menjadi satu nikmat yang wajib dipelihara, agar selalu bertambah.

Perlu ada kepastian dari pemerintah daerah  satu political action yang mendorong pengamalan ajaran Agama (syarak) Islam, melalui jalur pendidikan formal dan non-formal secara nyata, akan sangat menentukan dalam membentuk generasi muda masa datang. Ajaran tauhid mengajarkan agar kita menguatkan hati, karena Allah selalu beserta orang yang beriman.

Dengan bermodal keyakinan tauhid ini, niscaya generasi terpelajar akan bangkit dengan pasti dan sikap yang positif.

a.         Menjadi sumber kekuatan dalam proses pembangunan

b.         Menggerakkan  integrasi aktif,

c.         Menjadi subjek dan penggerak pembangunan nagari dan daerahnya sendiri.[17]

Semoga Allah memberi kekuatan memelihara amanah bangsa ini dan senantiasa meredhai. Amin.

 



Catatan

[1]    Pepatah Arab meyebutkan     لا تنه عن خلق وتأتي مثله عار عليك اذا فعلت عظيم     artinya,  Jangan lakukan perbuatan yang anda tegah, karena perbuatan demikian aibnya amatlah parah.

[2]   Lihat QS.66:6 bandingkan dengan QS.5:105.            

[3]    Lihat QS.4:58, selanjutnya dasar equiti (keadilan) adalah bukti ketaqwaan (QS.5:8)

[4]    Lihat QS.3:145 dan 148, lihat juga QS.4:134, dan bandingkan QS.28:80.

[5]    Lihat QS.30:41

[6]    Melemahnya jati diri tersebab lupa kepada Allah atau hilangnya aqidah tauhid, lihat QS.9:67, lihat juga QS:59:19.

[7]    Lihat QS.9:122, supaya mendalami ilmu pengetahuan dan menyampaikan peringatan kepada umat supaya dapat menjaga diri (antisipatif).

[8]    QS.3:139 menyiratkan optimisme besar untuk penguasaan masa depan. Masa depan – al akhirah – ditentukan oleh aktifitas amaliyah (QS.6:135) bandingkan dengan QS.11:93 dan QS.11:121, bahwa kemuliaan (darjah) sesuai dengan sumbangan hasil usaha.

[9]    Lihat QS.9:105, amaliyah khairiyah akan menjadi bukti ditengah kehidupan manusia (dunia).  

[10]   Lihat QS.4:9, mengingatkan penanaman budaya taqwa dan perkataan (perbuatan) benar.

[11]   Generasi yang tumbuh dalam persatuan yang kokoh kuat dengan I’tisham kepada Allah dan menjauhi  setiap perpecahan (lihat QS.3:103, perbandingkan QS.4:145-146, sesuai QS.22:78).

[12]   Lihat QS.28:83.

[13]  Syakhshiyah didifinisikan sebagai organisasi dinamik sesuatu sistem psyikofisikal di dalam diri seorang yang menentukan tingkah laku dan fikirannya yang khusus.  Sistem psyikofisikal merangkum segala unsur-unsur psikologi seperti tabiat, sikap, nilai, kepercayaan dan emosi, bersama dengan unsur-unsur fisikal seperti bentuk tubuh, saraf, kelenjar, wajah dan gerak gerik seseorang (G.W Allport, dalam ”Pattern and Growth in Personality”, lihat juga, Mok Soon Sang, 1994:1).

[14]   Syakhshiyah mempunyai tiga ciri keunikan dengan arti kebolehan  atau kemampuan untuk berubah dan di ubah; sebagai hasil pembelajaran atau pengalaman dan organisasi. Maka syakhshiyah bukan  sekadar himpunan tingkahlaku, tetapi melibatkan corak tindakan dan operasi yang bersifat konsisten.

[15]  Lihat QS.6:54 dan QS.16:97, bandingkan QS.25:70-71.

[16]  Lihat QS.19:40, dan QS.21:105, pewaris bumi adalah hamba Allah yang shaleh (baik), bandingkan dengan QS.7:128.

[17]  wa man yattaqillaha yaj’allahuu makhrajan”(QS.65:2-3) Lihat pula QS.3:160, dan QS.47:7.

Categories: Adat Basandi Syarak, Buya Masoed Abidin, Education, Komentar, Komentar Buya, Masyarakat Adat, Minangkabau, PAUD, Pendidikan, Surau, Tauhid, Tulisan Buya | 2 Comments

Akidah Tauhid dan Akhlak Qurani adalah Ruh Pengembangan Madrasah atau Pesantren

Akidah Tauhid dan Akhlak Qurani

Ruh Dakwah Pendidikan, Strategi Menghidupkan

Pembinaan Madrasah, di Sumatera Barat

Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

 

Pendahuluan                                                                 

Upaya dan usaha umat Islam di Sumatera Barat di dalam menghidupkan perguruan Islam yang disebut Madrasah (kini lazim disebut Pesantren) sepanjang sejarah pendidikan Islam di Indonesia.

Khusus untuk daerah Minangkabau, Provinsi Sumatera Barat, upaya itu tampak jelas sejak dari mula pendiriannya oleh ulama di nagari dan masyarakat selingkarannya. Demikian pula dengan pengembangan madrasah-madrasah itu, sejak dari surau, mulai dari wirid ke madrasah, sampai ke perguruan tinggi, selalu dengan perlibatan dan pemberdayaan semua potensi masyarakat, sejak dari kampong sampai ke rantau.

Usaha-usaha terpadu ini, telah melahirkan berbagai tingkat pendidikan, sejak dari tingkat awaliyah, ibtidaiyah, tsanawiyah, ‘aliyah, hingga ketingkat kulliyah. Hasilnya, hingga saat ini, kita temui sebagai upaya bersama masyarakat, yang sesungguhnya sudah melalui rentang waktu yang panjang.

Selama dua abad sampai sekarang, sejak kembalinya tiga serangkai ulama zuama Minangkabau (1802), yaitu Haji Miskin di Pandai Sikek, Luhak Agam, Haji Abdur Rahman, di Piobang, Luhak Limopuluah, dan Haji Muhammad Arief, di Sumanik, Luhak nan Tuo, Tanah Datar, lazim dikenal bergelar Tuanku Lintau. Ketiga mujahid dakwah ini telah membawa penyadaran pemikiran dan memacu semangat umat mengamalkan agama Islam yang benar di dalam kehidupan beradat di Minangkabau. Jalan yang mesti ditempuh adalah menggiatkan masyarakat menuntut ilmu.

Perkembangan Intelektual Pengujung Abad ke-19

Sumatera Barat menandai satu masa perkembangan sosial dan intelektual yang deras dipengujung abad ke 19. Diawali pulangnya putra-putra Minangkabau dari menimba ilmu di Mekah.

Mereka membawa ruh pembaharuan pendidikan Islam sebagaimana digerakan Muhammad Abduh dan Jamaluddin al-Afghani dari Mesir. Ruh pendidikan madrasah di Minangkabau itu, tidak dapat dilepaskan dari pelajaran-pelajaran yang diberikan seorang pelopor gerakan pembaruan di Minangkabau yang banyak menyebarkan pikirannya dari Mekah pada awal abad ke-20 Beliau adalah Syekh Ahmad Khatib EL Minangkabawy (1855)[1], turunan dari seorang hakim gerakan Paderi yang sangat anti penjajahan Belanda. [2]

Di samping itu ada seorang pembaru yang tidak dapat dilupakan, walau lebih dikenal di tanah serantau, yaitu Syekh Taher Djalaluddin (1869-1956)[3]. Syekh Taher Djalaluddin terbilang seorang tertua dan pelopor ajaran Ahmad Khatib di Minangkabau dan di tanah Melayu. Dia juga adalah guru kalangan pembaru Minangkabau. Pengaruhnya tersebar pada murid-muridnya melalui majalah Al-Imam dan melalui sekolah yang didirikannya di Singapura bersama Raja Ali Haji bin Ahmad pada tahun 1908. Sekolah yang bernama Al-Iqbal al-Islamiyah, menjadi model Sekolah Adabiyah yang didirikan oleh Haji Abdullah Ahmad di Padang pada tahun 1908.

Ulama-ulama Minangkabau itu, di antaranya Muhammad Djamil Djambek atau Inyik Djambek (1860-1947)[4], M. Thaib Umar di Sungayang (1874-1920), Haji Abdul Karim Amarullah atau Inyik Rasul (1879-1945)[5], Haji Abdullah Ahmad (1878 – 1933)[6], dan Syekh Ibrahim Musa[7]. Mereka menyebarkan peranannya dalam mendirikan lembaga pendidikan Islam yang bersifat modern.

Nafas yang ditiupkan oleh ruh dakwah pendidikan membawa satu perubahan besar dan signifikan di masanya. Para ulama suluah bendang di nagari memasuki era baru. Mereka menjadi kelompok pembaru di sisi ehidupan sosial masyarakat. Di antaranya Zainuddin Labai al-Yunusi (1890- 1934)[8] di Padangpanjang.  

Madrasah dan Surau Mengawal Ruhul Islam

Umumnya para murid bekas ulama-ulama tersebut kemudian menjadi pelopor pembaruan pemikiran Islam di Ranah Minang melalui surau. Keadaan ini bergerak terus, sesuai dinamika dan tuntutan zaman, hingga ke masa pergerakan kemerdekaan.

Madrasah telah menjadi markas pergerakan bawah tanah (silent operation) menentang kaum penjajah, sehingga berakibat semua gerak dan geliatnya selalu dicurigai oleh penguasa penjajahan semasa. Dicatat oleh sejarah bahwa benang merah yang dipunyai para pejuang adalah terpelajar, beragama yang taat dan peribadi mandiri.

Dari surau penguatan madrasah dimulai. Orientasi pendidikan ditekankan pada penanaman aqidah. Didukung dengan ilmu‑ilmu agama, pembinaan fisik, dan mental (melalui latihan silat), pelajaran kesenian dan ketrampilan. Lulusan surau ideal inilah kombinasi ulama, pejuang, jiwa seni, mandiri dan terampil.

Setelah masuknya pendidikan modern awal abad ke 20 (1929) surau berkembang dengan sistem klasikal. Contohnya Madrasah Irsyadin Naas (MIN), Perguruan Diniyah Puteri, Thawalib dan Perguruan Muhammadiyah.

Berurat ke  Hati  Masyarakat

Para pemuka masyarakat di masa itu umunya jebolan madrasah. Mereka memiliki pikiran maju rasional dan cinta tanah airnya. Sesuai bimbingan agama Islam yang diterima dari pelajaran surau dan madrasah. Para thalabah lulusan madrasah Thawalib dan pendidikan sistim surau, umumnya berkiprah di kampung halaman setelah selesai menuntut ilmu, dengan mendirikan sekolah-sekolah agama, bersama-sama dengan masyarakat, memulainya dari akar rumput.

Pemberdayaan potensi masyarakat digerakkan secara maksimal dan terpadu untuk menghidupkan pendidikan Islam. Untuk mencerdaskan umat dan menanamkan budi pekerti (akhlak Islami). Seiring pula dengan berlakunya kaedah adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah, para ulama adalah tempat meminta kata putus (bamuti).[9]

Pandangan dan pemahaman para lulusan madrasah sangat nyata berbeda dengan anutan jebolan sekolah gubernemen di masa penjajahan. Maka tidak jarang terjadi di masa itu, ada pandanagan dan anggapan pemisah antara kaum ulama (santri, urang siak, mualim, urang surau) yang bersekolah di madrasah dengan kalangan ambtenaren berdasi berpentalon.

Perbedaan tajam itu, berakibat kepada perlakuan pemerintah masa itu, dalam melihat dan menilai madrasah, sebagai lembaga pendidikan kelas dua, bahkan terkesan berlawanan dengan pihak pemerintah. 

Di masa perjalanan kemerdekaan, dan pembangunan sentralistik madrasah mengalami pembedahan-pembedahan pula pada tubuhnya.

Dekat Mendekati

Pada dua decade 1970 pemerintah mulai membuka akses lebih besar ke dunia pendidikan madrasah Islam, dengan mulai melakukan rekonsiliasi dengan Islam melalui dekat mendekati dan penyesuaian penyesuaian (rapprochement). Terjadi penyeragaman. Ciri khas dari Madrasah mulai tiada.

Konsekwensinya, pendidikan dan program madrasah disejajarkan dan bergayut kepada pemerintah, maka akibat yang terasa adalah kurangnya kemandirian perguruan madrasah dinagari-nagari dan dampak negatifnya potensi masyarakat melemah.

Padahal pada awal keberadaan madrasah itu, sejak abad 18 sebagai kita sebut di atas para ulama penggagas dan pengasuh madrasah memiliki jalinan hubungan yang kuat dengan masyarakat. Ada suatu hubungan saling menguntungkan (symbiotic relationship). Sehingga madrasah menjadi kekuatan perlawanan membisu (silent opposition) dan respon pemimpin serta komunitas Muslim terhadap penjajahan.

Merosotnya peran kelembagaan pendidikan madrasah di Minangkabau dalam bentuk surau, telah mendorong pengasuh untuk mengadopsi sistim pendidikan seperti perguruan tradisional di Jawa.

Akibatnya, pemeranan masyarakat dan lingkungan di dalam menghidupkan kembali ruh pendidikan madrasah, khususnya dalam bidang dana dan daya (tenaga pengajar) menjadi kurang.

Madrasah hanya dapat hidup dengan dukungan pemilik badan pengasuh madrasah, serta pendapatan-pendapatan madrasah itu sendiri. Keadaan ini menjadi lebih berat, ketika madrasah menjadi anak tiri pemerintah seperti di masa lalu.

Ironisnya masyarakat lingkungan tidak pula mengaggap madrasah sebagai anak kandungnya lagi.

Sering terjadi madrasah lahir dan tumbuh sebagai anak yatim di lingkungan masyarakat yang melahirkan madrasah itu.

Peran serta masyarakat mesti ditumbuhkan kembali di dalam peningkatan manajemen pendidikan yang lebih accountable dari segi keuangan maupun organisasi, sehingga sumber finansial masyarakat dipertanggung jawabkan lebih efisien dan kualitas pendidikan – quality oriented – yang mendorong madrasah menjadi lembaga center of excellence.

Tantangan kesejagatan yang deras kini berupa materialistis, sekularistis, hedonistic dan hilangnya budaya luhur, menuntut agar Madrasah dapat menghasilkan anak didik berparadigma ilmu yang komprehensif, yakni pengetahuan agama plus keterampilan. Konsekwensinya sistim pendidikan Islam tidak boleh terpisah. Mesti menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Muslim keseluruhan.

Perlu penerapan nilai-nilai agama dan ibadah.

Penguatan perilaku beradat.

Pengintegrasian iptek, imtaq dan akhlaq.

Melalui pengembangan ini madrasah akan menjadi pusat membangun sahsiah generasi dengan sifat-sifat ruhaniah yang halus, dan sifat-sifat akhlaq yang mulia.

Secara ideal, peran madrasah adalah perwujudan dari tujuan pendidikan nasional yang “Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab, serta berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”. (UU No. 20 th 2003, Sistem Pendidikan Nasional).

Dengan terjaganya ruh dakwah dan pendidikan, maka madrasah akan lebih mudah mencapai sasarannya. Membuat anak didik menjadi terdidik, berkualitas, capable, fungsional, integrated ditengah masyarakatnya. Inilah hakikat dari dakwah bil hal.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk mempunyai kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Pendidikan dan peran dakwah

Peran da’wah di Minangkabau adalah menyadarkan umat akan peran  membentuk diri mereka sendiri, إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ  “Sesungguhnya Allah tidak akan merobah nasib satu kaum, hingga kaum itu sendiri yang berusaha merobah sikap mereka sendiri.”

Dalam kenyataan social dalam kehidupan anak nagari wajib diakui keberadaan mereka dengan menjunjung tinggi puncak-puncak kebudayaan mereka, menyadari potensi besar yang dimiliki akan mendorong kepada satu bentuk kehidupan bertanggung jawab.

Inilah tuntutan terhadap Da’wah Ilallah, yakni seruan kepada Islam — agama yang diberikan Khaliq untuk manusia –, yang penyiarannya dilanjutkan oleh da’wah, untuk kesejahteraan hidup manusia. Risalah merintis, da’wah dan pendidikan melanjutkan

Kewajiban Membangun Generasi Penyumbang (innovator)

        UUD 1945 meletakkan kewajibkan kepada Pemerintah untuk mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistim pendidikan Nasional yang meningkatkan Keimanan dan Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan demikian ada kewajiban membentuk generasi penyumbang dalam bidang pemikiran (aqliyah), ataupun pembaharuan (inovator) harus menjadi sasaran perioritas.[10]

          Keberhasilan akan selalu ditentukan oleh adanya keunggulan pada institusi di bidang pendidikan. Pendidikan ditujukan untuk membentuk generasi yang menguasai pengetahuan dengan kemampuan dan pemahaman mengidentifikasi masalah yang dihadapi. Seterusnya, mengarah kepada kaderisasi diiringi oleh penswadayaan kesempatan-kesempatan yang ada. Generasi baru yang mampu mencipta akan menjadi syarat utama keunggulan. Kekuatan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada.

Generasi penerus harus taat hukum. Upaya ini dilakukan dengan memulai dari lembaga pendidikan (madrasah), masyarakat lingkungan, keluarga dan rumah tangga. Memungsikan peranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif. Memperkaya warisan budaya dengan menanamkan sikap setia, cinta dan rasa tanggung jawab, sehingga patah tumbuh hilang berganti.

Menanamkan aqidah shahih (tauhid) dengan istiqamah pada agama Islam yang dianut. Menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur. Apabila sains dipisah dari aqidah syariah dan akhlak, niscaya yang akan lahir saintis tak bermoral agama. Kesudahannya, ilmu banyak dengan iman yang tipis, berujung dengan sedikit kepedulian di tengah bermasyarakat.

Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus didalam membentuk SDM, maka di samping kurikulum ilmu terpadu dan holistik, sangat perlu dirancang kualita pendidik (murabbi) yang sejak awal mendapatkan pembinaan terpadu. Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik, dan bukan utopis.

Membentuk Sumber Daya Manusia  berkualitas

Kita berkewajiban membentuk SDM menjadi sumber daya umat (SDU) yang berciri kebersamaan dengan nilai asas “gotong royong”, berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas.

Beberapa model dapat dikembangkan. Pemurnian wawasan fikir disertai  kekuatan zikir, penajaman visi, perubahan melalui ishlah atau perbaikan. Mengembangkan keteladanan (uswah hasanah) dengan sabar, benar, dan memupuk rasa kasih sayang melalui pengamalan warisan spiritual religi serta menguatkan solidaritas beralaskan iman dan adat istiadat luhur. 

“Nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”. Intensif menjauhi kehidupan materialistis, sebagai upaya menghadapi tantangan global.  dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.

Para pendidik (murabbi) adalah bagian dari suluah bendang dengan uswah hidup mempunyai sahsiah[11] (شخصية) bermakna pribadi yang melukiskan sifat individu mencakup gaya hidup, kepercayaan, kesadaran beragama dan harapan, nilai, motivasi, pemikiran, perasaan,  budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak akan mampu menghadirkan kesan positif masyarakat Nagari.

Faktor kepribadian tetap diperlukan dalam proses pematangan sikap perilaku anak didik yang mencerminkan  watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seseorang.[12]

Ciri kepribadian syarak yang mesti ditanamkan merangkum sifat-sifat,

1.      Sifat Ruhaniah dan Akidah, mencakup ;

a.      keimanan yang kental kepada Allah yang Maha Sempurna,

b.     keyakinan mendalam terhadap hari akhirat, dan

c.       kepercayaan kepada seluruh asas keimanan (arkan al iman).

2.      Sifat-Sifat Akhlak, tampak di dalam perilaku;

a.  Benar, jujur, menepati janji dan amanah.

b. Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan,

c.   Tawadhu’, sabar, tabah dan cekatan,

d. Lapang dada – hilm –, pemaaf dan toleransi.

e.  Bersikap ramah, pemurah, zuhud dan berani bertindak.

3.    Sifat Mental, Kejiwaan dan Jasmani, meliputi,

  3.1. Sikap Mental,

a.      Cerdas, pintar, menguasai spesialisasi (takhassus),

b.     Mencintai bidang akliah yang sehat, fasih,  bijak.

c.       Mengenali ciri, watak, kecenderungan masyarakat.

3.2. Sifat Kejiwaan,

a.      emosi terkendali, optimis hidup, harap kepada Allah,

b.     Percaya diri dan mempunyai kemauan yang kuat.

c.       Lemah lembut, baik dalam pergaulan dengan masyarakat.

3.3. Sifat Fisik,

a.      mencakup sehat tubuh,

b.     berpembawaan menarik, bersih,

c.       rapi (kemas) dan menyejukkan.

Senarai panjang menerangkan sikap pendidik berkelakuan baik, penyayang dan penyabar, berdisiplin baik, adil menerapkan aturan.

Mampu melakukan strukturisasi ruhaniyah. Murabbi dapat mewujudkan delapan tanggung jawab dalam hidup;

1)      Tanggungjawab terhadap Allah, dengan keyakinan iman dan kukuh ibadah istiqamah, beramal soleh dengan khusyuk dalam mencapai derajat taqwa dan mengagungkan syiar Islam dengan perilaku beradat dan beradab.

2)      Tanggungjawab terhadap Diri, mengupayakan keselamatan diri sendiri, baik aspek fisik, emosional, mental maupun moral, bersih dan mampu berkhidmat kepada Allah, masyarakat dan negara.

3)      Tanggungjawab terhadap Ilmu, menguasai ilmu secara mendalam dan menelusuri dimensi spiritualitas Islam dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan untuk tujuan kemanusiaan dan kesejahteraan umat manusia.

4)      Tanggungjawab terhadap Profesi, tidak bertingkah menghilangkan kepercayaan orang ramai dan dapat memelihara maruah dengan amanah.

5)      Tanggungjawab terhadap Nagari, mengutamakan keselamatan anak Nagari dan memfungsikan lembaga-lembaga pendidikan (surau) dengan ikhlas.

6)      Tangungjawab Terhadap Sejawat, menghindari mencemarkan sejawat dan berusaha sepenuh hati mengedepankan kemajuan social karena Allah.

7)      Tanggungjawab terhadap Masyarakat dan Negara, tidak mengabaikan kepentingan masyarakat atau negara dan selalu menjaga syari’at Allah.

8)      Tanggung jawab kepada Rumah Tangga dan Ibu Bapa, dengan menghormati tanggungjawab utama ibu bapa dengan mewujudkan hubungan mesra dan kerjasama yang erat di antara institusi pendidikan dengan rumahtangga.

 

Kesimpulannya,

1.      Ruh pendidikan madrasah afalah aqidah tauhid dan akhlaqul karimah. Pemetaannya  akan berhasil di lapangan pendidikan dengan kesepakatan pelaksana-pelaksananya. Perlu digalang saling pengertian, koordinasi sesame, mempertajam faktor-faktor pendukung, membuka pintu dialog persaudaraan.

2.      Ukuran madrasah berkualitas adalah kemampuan menampilkan nilai-nilai Al-Qur’an dengan gerak amal nyata yang terus menerus, dibuktikan dalam seluruh aktivitas kehidupan, dengan kemampuan bergaul, mencintai, berkhidmat, mengajak (da’wah), merapatkan potensi barisan dalam mengerjakan amal-amal Islami secara bersama-sama, sehingga berbuah pengamalan agama yang mendunia.

3.      Setiap generasi Muslim yang ditempa di Madrasah mampu mengamalkan nilai-nilai Al Qur’an, dan wajib mengemban missi yang berat dan mulia, yaitu merombak kekeliruan ke arah kebenaran. Inilah yang harus selamanya dijaga menjadi ruh dari pembinaan madrasah.

4.      Pembinaan Madrasah berkualitas dan mandiri berkehendak kepada gerak yang kontinyu, utuh dan terprogram. Hasilnya tidak mungkin diraih dengan kerja sambilan. Karena buah yang dipetik adalah sesuai dengan bibit yang ditanam, sesuai natuur-wet (sunnatullah, = undang-undang alami).

5.      Madrasah adalah perangkat seutuhnya menuju kepada kemajuan. Di tengah tantangan berjibun ini, kerjakan sekarang mana yang dapat, mulailah dengan apa yang ada, karena yang ada itu sebenarnya sudah amat cukup untuk memulai. Tumbuhkan kesadaran keumatan yang kolektif. Setiap Muslim harus memulai melakukan perbaikan (ishlah) di bidang Da’wah dan Pendidikan. Kerja ini tidak akan pernah berhenti, dan akan berkembang terus sesuai dengan variasi zaman yang selalu berubah. Tujuan harus tetap menuju redha Allah. Inilah ruhnya Madrasah.

 

Wabillahitaufiq wal hidayah,

Padang, 25 Jumadil Akhir 1429 H / 29 Juni 2008 M.

 

 

 

 

 

  



Catatan Akhir :

 

[1] Ahmad Khatib dilahirkan di Bukittinggi, pada tahun 1855, oleh ibu bernama Limbak Urai, saudara dari Muhammad Shaleh Datuk Bagindo, Laras, Kepala Nagari Ampek Angkek berasal dari Koto Tuo Balaigurah, Kecamatan Ampek Angkek Candung. Ayahnya adalah Abdullatief Khatib Nagari, saudara dari Datuk Rangkayo Mangkuto, Laras, Kepala Nagari Kotogadang, Kecamatan IV Koto, di seberang ngarai Bukittinggi. Ahmad Khatib anak terpandang, dari keluarga berlatar belakang agama dan adat yang kuat, generasi pejuang Paderi, dari keluarga Pakih Saghir dan Tuanku nan Tuo.

[2]  Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942,Jakarta, LP3ES, 1980, hal.38 

[3] Pada masa mudanya dia dipanggil Muhammad Taher bin Syekh Muhamad, lahir di Ampek Angkek tahun 1869, anak dari Syekh Cangking, cucu dari Faqih Saghir yang bergelar Syekh Djalaluddin Ahmad Tuanku Sami’, pelopor kembali ke ajaran syariat bersama Tuanku Nan Tuo. Mata rantai para ulama ini pada hakikatnya ikut menjadi pengawal ruh dakwah pendidikan di madrasah-madrasah di Minangkabau, Sumatera Barat di zamannya. Mulai tahun 1900, Syekh Taher Djalaluddin menetap di Malaya, dan diangkat menjadi Mufti Kerajaan Perak. Eratnya hubungan Syekh Taher Djalaluddin dengan Al-Azhar di Kairo, maka dia menambahkan al-Azhari di belakang namanya.

[4] Syekh Djamil Djambek dilahirkan di Bukittinggi pada tahun 1860 , anak dari Muhammad Saleh Datuk Maleka, Kepala Nagari Kurai. Ibunya berasal dari Betawi. Syekh Djamil Djambek meninggal  tahun 1947 di Bukittinggi.

[5]  Haji Rasul lahir di Sungai Batang, Maninjau, tahun 1879, anak seorang ulama Syekh Muhammad Amarullah gelar Tuanku Kisai. Pada 1894, pergi ke Mekah, belajar selama 7 tahun. Sekembali dari Mekah, diberi gelar Tuanku Syekh Nan Mudo. Kemudian kembali bermukim di Mekah sampai tahun 1906, memberi pelajaran di Mekah, di antara murid-muridnya termasuk Ibrahim Musa dari Parabek, yang menjadi seorang pendukung terpenting dari pembaruan pemikiran Islam di Minangkabau. Haji Rasul meninggal di jakarta 2 Juni 1945

[6]  Haji Abdullah Ahmad lahir di Padang Panjang pada tahun 1878, anak dari Haji Ahmad, seorang ulama dan pedagang. Ibunya berasal dari Bengkulu, masih trah dari pengikut pejuang Sentot Ali Basyah. Untuk mengetahui biografi menarik lebih lanjut tentang tokoh-tokoh ini, lihat Tamar Djaja, Pustaka Indonesia: Riwayat Hidup Orang-Orang Besar Tanah Air. Bulan Bintang Jakarta, 1966.

[7] Syekh Ibrahim Musa dilahirkan di Parabek, Bukittinggi pada tahun 1882. Setelah belajar pada beberapa perguruan, pada umur 18 tahun ia berangkat ke Mekah dan belajar di negeri itu selama 8 tahun. Ia kembali ke Minangkabau pada tahun 1909 dan  mulai mengajar pada tahun 1912. kemudian ia berangkat lagi ke Mekah pada tahun berikutnya dan kembali pada tahun 1915. Saat itu ia telah mendapat gelar Syekh Ibrahim Musa atau Inyiak Parabek sebagai pengakuan tentang agama. Syekh Ibrahim Musa tetap diterima oleh golongan tradisi, walaupun ia membantu gerakan pembaruan. Ia menjadi anggota dua organisasi Kaum Muda dan kaum Tua, yaitu Persatuan Guru Agama Islam (PGAI) dan Ittihadul Ulama.

[8] Zainuddin Labai al-Yunusi lahir di Bukit Surungan Padang Panjang pada tahun 1890. Ayahnya bernama Syekh Muhammad Yunus. Zainuddin Labai adalah seorang auto-didact, yang mempelajari ilmu dan agama dengan tenaga sendiri. Pengetahuannya banyak diperolehnya dengan membaca dan kemampuan dalam bahasa-bahasa Inggris, Belanda dan Arab yang dikuasainya. Koleksi bukunya meliputi buku-buku bermacam bidang seperti aljabar, ilmu bumi, kimia dan agama. Enam tahun membantu Syekh Haji Abbas, seorang ulama di Padang Japang, Payakumbuh dalam bidang kegiatan praktis. Dalam tahun 1913, Zainuddin memilih Padang Panjang sebagai tempat tinggalnya. Ia memulai mengajar di Surau Jembatan Besi, bersama Rasul dan  Haji Abdullah Ahmad. Zainuddin Labai termasuk seorang yang mula-mula mempergunakan sistem kelas dengan kurikulum teratur yang mencakup pengetahun umum seperti bahasa, matematika, sejarah, ilmu bumi di samping pelajaran agama. Ia pun mengorganisir sebuah klub musik untuk murid-muridnya, yang pada saat itu kurang diminati oleh kalangan kaum agama. Ia seorang yang produktif dalam menulis buku teks tentang fikh dan tatabahasa Arab untuk sekolahnya. Ia memimpin majalah Al-Munir di Padang Panjang. Zainuddin Labai adalah seorang termuda di antara tokoh pembaru pemikiran Islam  di Minangkabau. Ia termasuk seorang anggota pengurus Thawalib dan mendirikan pula perkumpulan Diniyah pada tahun 1922 dengan tujuan bersama-sama membina kemajuan sekolah itu.

[9] Semuanya didorong oleh pengamalan Firman Allah, 

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَولأ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

  Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya, apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.QS.IX, at Taubah, ayat 122.   

[10] QS.3:139 menyiratkan optimisme besar untuk penguasaan masa depan. Masa depan – al akhirah – ditentukan oleh aktifitas amaliyah (QS.6:135) bandingkan dengan QS.11:93 dan QS.11:121, bahwa kemuliaan (darjah) sesuai dengan sumbangan hasil usaha.

[11] Syakhshiyah didifinisikan sebagai organisasi dinamik sesuatu sistem psyikofisikal di dalam diri seorang yang menentukan tingkah laku dan fikirannya yang khusus.  Sistem psyikofisikal merangkum segala unsur-unsur psikologi seperti tabiat, sikap, nilai, kepercayaan dan emosi, bersama dengan unsur-unsur fisikal seperti bentuk tubuh, saraf, kelenjar, wajah dan gerak gerik seseorang (G.W Allport, dalam ”Pattern and Growth in Personality”, lihat juga, Mok Soon Sang, 1994:1).

[12] Syakhshiyah mempunyai tiga ciri keunikan dengan arti kebolehan  atau kemampuan untuk berubah dan di ubah; sebagai hasil pembelajaran atau pengalaman dan organisasi. Maka syakhshiyah bukan  sekadar himpunan tingkahlaku, tetapi melibatkan corak tindakan dan operasi yang bersifat konsisten.

Categories: Adat Basandi Syarak, Amar Makruf Nahi Munkar, Buya Masoed Abidin, Iptek, Komentar, Masyarakat Adat, Minangkabau, Nagari, PAUD, Pendidikan, Politics, Sejarah, Surau, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

Nilai-Nilai Agama Islam dalam Muatan Ajar di Sekolah-Sekolah, melihat seabad perjalanan hari Kebangkitan Nasional.


NILAI AGAMA ISLAM DAN MUATAN LOKAL
DI SUMATERA BARAT

Oleh; H. MAS’OED ABIDIN

Visi Misi Pendidikan Indonesia ;
Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan Suatu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. (UUD-45)

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk mempunyai kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”, dan
“Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab, serta
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”.
(UU No. 20 th 2003, Sistem Pendidikan Nasional)

MUKADDIMAH

Nilai-nilai agama Islam mendorong ke penguasaan ilmu pengetahuan, seperti adanya anjuran, “jadilah kamu berilmu yang mengajarkan ilmunya (‘aaliman), atau belajar (muta’alliman), atau menjadi pendengar (mustami’an), dan jangan menjadi kelompok keempat (rabi’an). Anjuran ini mengingatkan pentingnya menjaga proses dan kegiatan belajar mengajar. Pendidikan dan menuntut ilmu adalah satu kewajiban asasi anak manusia.

Dengan ilmu, seseorang akan mengabdikan kehidupannya dengan ikhlas, cerdas, pintar, dan berakhlak, serta berkarya baik (shaleh).
Dengan ilmu dapat dijelmakan hasanah pada diri, kerluarga, dan di tengah umat di kelilingnya.
Pengamalan agama di bidang pendidikan, bertujuan membentuk sumber daya manusia pintar, cekatan, berilmu, mampu, kreatif dan produktif, kait berkait dengan peningkatan kemampuan masyarakat dari sisi ekonomi, mendorong partisipasi di dalam menjelmakan kebaikan untuk diri, keluarga, kemaslahatan dan kemajuan generasi bangsa pada umumnya.

Tujuan ini dapat diraih dengan program pendidikan dan proses pembelajaran terpadu, terintegrasi antara konsep dan aplikasi, disertai peningkatan kesadaran seluruh masyarakat.

Pekerjaan ini perlu semangat (spirit) dan kearifan (political will) di dalam penguatan jaringan pengertian (networking) dan tatanan pendidikan di antara individu, kelompok keluarga, dan lembaga pendidikan.

Bimbingan agama menyebutkan, “menuntut ilmu adalah wajib, bagi setiap lelaki dan perempuan muslim” (Al-Hadist).

Dan pesan Rasul SAW juga mengingatkan, “siapa yang inginkan mendapat keberhasilan di dunia, hanya didapat dengan ilmu, dan siapa yang inginkan akhirat juga dengan ilmu, dan siapa yang inginkan keduanya juga dengan ilmu” (Al-Hadist).

MENGHADAPI FENOMENA GLOBAL

Di tengah kehidupan kini, terasa ada satu fenomena kecintaan budaya luar (asing) menghimpit.

Pengaruhnya ke perubahan perilaku masyarakat, antara lain pengagungan materi (materialistic) secara berlebihan, amat kentara.
Kecenderungan memisah kehidupan dari supremasi agama (sekularistik) makin kuat.
Pemujaan kesenangan indera dan kenikmatan badani (hedonistik), susah dihindari. Hakikinya, perilaku umat mulai menjauh dari nilai-nilai budaya luhur dan nilai-nilai agama.

Sungguhpun masyarakat Sumatera Barat umumnya mempunyai kaedah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, namun terasa mulai terabaikan. Akibatnya terasakan ke cara pemenuhan kebutuhan masyarakat mulai payah, beriring dengan malas menambah ilmu, dan enggan berprestasi.

Hal inilah pada akhirnya mudah mengundang suburnya kriminalitas, sadisme, dan krisis secara meluas.

Pergeseran budaya dengan mengabaikan nilai-nilai agama membuat penyakit sosial jadi kronis, gemar berkorupsi, lemah aqidah, tipis tauhid, lalai ibadah dan berperilaku tidak Islami.

Paradigma giat merantau dan badagang sambil menuntut ilmu , bergeser ke menumpuk materi dengan mengabaikan ilmu serta lalai menguasai keterampilan. Ketidakberdayaan generasi tampil dari ketertinggalan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta lemah minat menyerap informasi dan komunikasi.
Ketertingalan ini pula yang menjadi penghalang pencapaian keberhasilan di segala bidang.
Hilang network, menjadi titik lemah penilaian terhadap generasi bangsa.

Tantangan ini mesti diatasi dengan kejelian menangkap peluang, memadukan nilai-nilai agama Islam ke penguasaan ilmu pengetahuan.
Nilai-nilai agama memacu peningkatan kualitas diri.
Penerapan nilai-nilai Islam diujudkan melalui proses pembelajaran terpadu (integrated), hingga ke tingkat perguruan tinggi.
Penekanan kepada uswah (contoh tauladan), akhlak agama (etika religi), ibadah (syari’at), serta nilai luhur adat istiadat Minangkabau, menjadi kekuatan dari kearifan lokal.

Tidak boleh ada kelalaian dan kemalasan di tengah mobilitas serba cepat, dan modern.
Persaingan tajam dan keras, tidak dapat dielakkan dari laju informasi dan kencangnya komunikasi tanpa batas.

Kemampuan bersaing dalam tantangan sosial budaya, ekonomi, politik, di era globalisasi mengait ke semua aspek kehidupan. Imbasannya akan teratas dengan menguasai iptek, ICT dan akhlak yang teguh.

Integrasi akhlak yang kuat dari pendalaman ajaran agama (tafaqquh fid-diin) sejalan dengan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Islam yang universal (tafaqquh fin-naas) dalam masalah sosial (umatisasi), tampak di dalam kebersamaan sebagai buah dari taqwa, dan berperilaku responsif serta kritis menatap perkisaran zaman. Pendidikan dengan materi pembelajaran yang padu antara nilai-nilai etika religi (akhlak mulia) dengan konsep ilmu pengetahuan akan memberi kekuatan kepada generasi terdidik untuk dengan mudah menggeluti kehidupan duniawi bertaraf perbedaan, memiliki kaya dimensi dalam pergaulan rahmatan lil ‘alamin di seluruh nagari dan di tengah bangsa-bangsa.

Ketahanan umat, bangsa dan daerah, ada pada kekuatan ruhaniyah dengan iman dan siasah kebudayaan.
Intinya tauhid.
Pengamalan ajaran syarak (agama Islam), implementasinya ada pada akhlak. Aplikasinya mampu menata kehidupan berperilaku dengan adat istiadat dalam lingkaran nagari.

Generasi Sumatera Barat secara menyeluruh akan menjadi baik, jika mampu mengembalikan nilai-nilai etika adat (ABS-SBK) dan nilai-nilai agama Islam.
Dalam hubungan bermasyarakat, dapat dilakukan dengan “memulai dari diri sendiri, mencontohkannya kepada masyarakat lain”, (Al Hadist).
Inilah cara pendidikan yang tepat.

Bimbingan Allah SWT dalam Alquran menjelaskan, “ bila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan dari langit dan di bumi (QS.7,al-A’raf:96).

Penguatan dan penyebaran informasi dan komunikasi, dimulai dari pendidikan dan pembelajaran yang terpadu.

Beberapa contoh Nilai-Nilai Agama dalam Ilmu Pengetahuan.

1. Nilai-nilai agama Islam mengarahkan perhatian kepada alam sekeliling yang merupakan sumber kehidupan bagi manusia.
Diarahkan pandangan dan penelitian kepada alam tumbuh-tumbuh yang indah, berbagai warna, menghasilkan buah bermacam rasa.
” Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.”

2. Nilai agama Islam juga mengarahkan perhatian memahami alam hewan dan ternak, yang serba guna, dapat dijadikan kendaraan pengangkutan barang, serta dagingnya sumber gizi, dapat dimakan, kulitnya dipakai sebagai sandang. Dengan pembelajaran itu, manusia dapat menjaga, memeliharanya sebagai anugerah Allah.
“Dia telah menciptakan binatang ternak untukmu, padanya ada bulu (kulit) yang menghangatkan, dan berbagai-bagai manfa’at, dan sebagiannya kamu makan” (QS.16, An Nahl : 5).

3. Nilai-nilai agama Islam juga mengarahkan ke perbendaharaan bumi yang berisi logam yang mempunyai kekuatan besar dan banyak manfaat.
Dengan demikian lahir beragam ilmu bertalian dengan pengolahan, pemeliharaan, eksplorasi hasil tambang, mineral, ataupun penjagaan sumber-sumber hayati baik flora dan fauna.
“Dan Dia telah menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu dimudahkan untukmu dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi kaum yang memahaminya.
Dan Dia menundukkan pula apa-apa yang Dia ciptakan untukmu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mau mengambil pelajaran”
(QS.16, An Nahl : 12-13).

4. Diarahkan pula perhatian ke lautan samudera yang terhampar luas, berisikan ikan dan berdaging segar, dan perhiasan yang dapat dipakai, permukaannya dapat diharungi dengan kapal-kapal; supaya kamu dapat mencari karunia-Nya (karunia Allah).
Demikian itu, tiada lain supaya manusia pandai bersyukur, pandai menjaga dan memelihara, di samping memanfaatkan untuk kemashlahatan umat manusia jua.

5. Demikian pula diarahkan perhatian ke bintang di langit, yang dapat digunakan sebagai petunjuk-petunjuk jalan, penentuan arah bagi musafir”.

6. Dibangkitkan kesadaran kepada ruang dan waktu (space and time consciousness) kepada peredaran bumi, bulan dan matahari. Pertukaran malam dan siang dan pertukaran musim, yang memudahkan perhitungan bulan dan tahun, antara lain juga saat untuk menunaikan rukun Islam yang kelima kepada kepentingannya waktu, yang kita pasti merugi bila tidak diisi dengan amal perbuatan.

7. Di jadikan malam menyelimuti kamu (untuk beristirahat), dan kami jadikan siang untuk mencari nafkah hidup. Malam itu disebut sebagai pakaian, karena malam itu gelap menutupi jagat sebagai pakaian menutupi tubuh manusia.
Artinya mengajarkan manusia tidak boleh lalai dalam memanfaatkan waktu dengan baik.

8. Ditanamkan kesadaran pembelajaran betapa luasnya bumi Allah. Dianjurkan supaya jangan tetap tinggal terkurung dalam lingkungan yang kecil, dan sempit, terjadilah emigrasi, transmigrasi, mobilitas vertikal dan horizontal, transportasi dan komunikasi. .

9. Allah SWT menciptakan bumi jadi mudah untuk digunakan. Beredarlah di atas permukaan bumi, makanlah rezeki dariNya dan kepadaNya tempat kembali.

10. Kalau dihitung segala ni’mat Allah, tidak mampu manusia menghitungnya.

Nilai-nilai agama itu bermuatan pembelajaran karakter agar manusia terdidik menjadi insan yang pandai mengendalikan diri, tidak boros, dan tidak melewati batas, dan tidak berlebihan“.

Nilai-nilai agama Islam bermuatan pembelajaran bahwa alam di tengah mana manusia berada, tidak diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan sia-sia. Di dalamnya terkandung faedah kekuatan, dan khasiat yang diperlukan manusia mempertinggi dan memperkembang mutu hidup jasmani dan rohaninya.

Manusia diharuskan membanting tulang dan memeras otak untuk mengambil sebanyak-banyak faedah alam sekelilingnya, menikmatinya, sambil mensyukurinya, beribadah kepada Ilahi.

Manusia harus menjaga diri dari perbuatan yang melanggar batas-batas kepatutan dan kepantasan.

Manusia mesti menjaga diri agar tidak dibawa hanyut materi dan hawa nafsu yang merusak.
Sikap itu lahir dari proses pembelajaran dari materi ajar yang berisi muatan nilai-nilai agama Islam.

Manusia dikenalkan dengan bentuk persembahan manusia kepada Maha Pencipta, yang menghendaki keseimbangan antara kemajuan di bidang rohani dan jasmani.

Hasil nyata dorongan tersebut tergantung dalam atau dangkalnya sikap hidup yang dibentuk oleh pendidikan sesuai materi ajar yang digunakan.

Materi bermuatan nilai-nilai agama Islam akan berurat berakar di jiwa umat, yang pada gilirannya mendorong pemupukan tingkat kecerdasan yang dicapai dan keadaan umum di mana mereka berada.

Sebagai masyarakat adat dengan pegangan adat bersendi syariat dan syariat bersendikan Kitabullah, maka kaedah adat memberi pelajaran-pelajaran antara lain:

1. Bekerja:
Ka lauik riak mahampeh
Ka karang rancam ma-aruih
Ka pantai ombak mamacah
Jiko mangauik kameh-kameh
Jiko mencancang, putuih – putuih
Lah salasai mangko-nyo sudah

Bekerja sepenuh hati, dengan mengerahkan semua potensi yang ada.
Bila mengerjakan sesuatu tidak lalai ataupun enggan.
Tidak berhenti sebelum sampai Tidak berakhir sebelum benar-benar sudah.

2. Mempedulikan tata cara atau prosedur:

Senteng ba-bilai,
Singkek ba-uleh
Ba-tuka ba-anjak
Barubah ba-sapo

Anggang jo kekek cari makan,
Tabang ka pantai kaduo nyo,
Panjang jo singkek pa uleh kan,
mako nyo sampai nan di cito,

Adat mati janguak man janguak,
Adat isi bari mam-bari,
Adat tidak salang ma-nyalang,
Karajo baiak ba-imbau-an,
Karajo buruak bahambau-an,

Panggiriak pisau si rauik,
Patunggkek batang lintabung,
Salodang ambiak ka nyiru.
Setitiak jadikan lauik,
Sakapa (sekepal) jadikan gunuang,
Alam takambang jadi guru.

Belajar kepada alam, mengambil pelajaran dari perjalanan hidup yang tengah diharungi. Seiring bidal dengan pantun;

Biduak dikayuah manantang ombak,
Laia di kambang manantang angin,
Nangkodoh ingek kamudi,
Padoman nan usah dilupokan.

Pawang biduak nan rang Tiku,
Pandai mandayuang manalungkuik,
Basilang kayu dalam tungku,
Disinan api mangko hiduik.

Musyawarah adalah inti ajaran Islam.
Tidak boleh membiarkan umat dan generasi meninggalkan prinsip musyawarah. Sikap hati-hati sangat dituntut dipunyai oleh setiap orang sesuai nilai-nilai Islam. Kehati-hatian dalam bertindak pertanda kejernihan berfikir, dan langkah awal meraih keberhasilan dalam segala hal.

Jiko mangaji dari alif,
Jiko babilang dari aso,
Jiko naiak dari janjang,
Jiko turun dari tanggo.

Pemahaman adat bersendi syarak dan syari’at bersendi Kitabullah mesti ditanamkan.
Umat Islam mesti hidup dengan kecerdasan (rasyid) berpegang kuat ke ajaran Alquran dan sunnah Rasul Allah.
Sadar iman dibuktikan dengan benci kepada dosa dan maksiyat.
Umat akan menjadi lebih kuat, dengan kecerdasan dan iman yang kokoh.

Pendidikan harus dilakukan sungguh-sungguh sebagai anugerah Allah.
Karakter dan moralitas hidup berbangsa akan tampak dalam cinta persaudaraan dan kuat persatuannya.
Sikap jiwa atau karakter umat mesti dibangun untuk menempuh kehidupan yang dikaitkan dengan arif dalam bertindak dan memilih.

Hendak kaya, badikit-dikit (hemat)
Hendak tuah, bertabur urai (penyantun)
Hendak mulia, tepati janji (amanah)
Hendak lurus, rentangkan tali (mematuhi peraturan)
Hendak beroleh, kuatlah mancari (etos kerja yang tinggi)
Hendak nama, tinggalkan jasa (berbudi daya)
Hendak pandai, rajin belajar (rajin dan berinovasi)
Karena sekata, makanya ada (rukun dan partisipatif)
Karena sekutu makanya maju (memelihara mitra usaha)
Karena emas semua kemas (perencanaan masa depan)
Karena padi makanya manjadi (pelihara sumber ekonomi)

Nilai-nilai Islam mengajarkan bahwa bumi Allah yang terbentang luas ini, menuntut sikap bersungguh-sungguh dalam mengolah dan mengelolanya, dengan rajin dan pintar.

Tantangan berat di manapun akan mampu diatasi oleh generasi terdidik dengan muatan nilai-nilai agama dalam proses pembelajarannya.
Kemampuan itu tumbuh karena mencari redha Allah.
Dengannya, pendapatan meningkat, dan kesejahteraan terbuka luas. Peluang usaha dan mobilitas terjaga dengan kebersamaan.

Nan lorong tanami tabu,
Nan tunggang tanami bambu,
Nan gurun buek kaparak
Nan bancah jadikan sawah,
Nan munggu pandan pakuburan,
Nan gauang katabek ikan,
Nan padang kubangan kabau,
Nan rawang ranangan itiak.

Pemanfaatan alam yang terbatas di ranah ini, menjadi lebih bermanfaat bila mampu menata dengan baik serta menempatkan sesuatu menurut keadaan dan musim, serta tidak merusak alam lingkungan.

Alah bakarih samporono,
Bingkisan rajo Majopahik,
Tuah basabab bakarano,
Pandai batenggang di nan rumik.
Sudah berkeris sempurna, bingklisan raja Majapahit, Tuah bersebab berkarena, pandai bertenggang pada yang runmit.
Latiak-latiak tabang ka Pinang
Hinggok di Pinang duo-duo,
Satitiak aie dalam piriang,
Sinan bamain ikan rayo.

“Letih-letik (sejenis burung pipit) terbang ke Pinang, hinggap di Pinang dua-dua, Setitik air dalam pirin, di sana bermain ikan raya (sejenis ikan nila)”

3. Berorientasi kepada kemakmuran

Rumah gadang gajah maharam,
Lumbuang baririk di halaman,
Rangkiang tujuah sajaja,
Sabuah si bayau-bayau,
Panenggang anak dagang lalu,
Sabuah si Tinjau Lauik,
Birawati lumbuang nan banyak,
Makanan anak kamanakan.

4. Bersikap hati-hati dan penuh perhitungan:

Ingek sabalun kanai,
Kulimek balun abih,
Ingek-ingek nan ka-pai
Agak-agak nan ka-tingga.

Setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pendidikan membangun umat lahir dan batin material dan spiritual, pasti akan menemui di dalam nilai-nilai Islam itu satu iklim (mental climate) yang subur.

Intinya, diperlukan orang-orang yang ahli di bidangnya untuk menatap setiap perubahan yang berlaku.

Mengabaikan nilai-nilai agama Islam ini, di zaman modernisasi sekarang ini berarti satu kerugian. Berarti mengabaikan satu partner “yang amat berguna” dalam pembangunan masyarakat dan negara.

Membangun kesejahteraan bertitik-tolak pada pembinaan unsur manusianya. Masalah perilaku umat mesti dibimbing oleh ajaran (syari’at) agama yang haq. Sesuai dengan syarak mengata, maka adat atau perilaku memakaikan.

Tasindorong jajak manurun,
tatukiak jajak mandaki,
adaik jo syarak kok tasusun,
bumi sanang padi manjadi.

Apabila adat dan syarak tersusun dengan baik, masyarakat akan tenteram (bumi senang, padi menjadi).
Kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi aman dan damai.
Perekonomian masyarakat akan berkembang.

HILANGNYA AKHLAK MENJADIKAN SDM LEMAH
Perilaku individu dan masyarakat, selalu menjadi ukuran tingkatan moral dan akhlak.
Hilang kendali menjadikan ketahanan bangsa kemah.
Hilangnya panutan pengawal budaya dan pupusnya wibawa keilmuan mengamalkan nilai-nilai agama Islam, menjadikan daya saing anak nagari menjadi lemah.

Lemahnya tanggung jawab masyarakat, berdampak kepada meluasnya tindak kejahatan.
Hilang keseimbangan, enggan berusaha telah melebarkan frustrasi sosial dalam menghadapi berbagai kemelut.
Krisis nilai karena bergeser akhlak, menjadikan tanggung jawab moral mengarah ke tidak acuh (permisiveness).
Perilaku maksiat, aniaya dan durjana, payah membendung.
Pergaulan masyarakat mengalami gesekan-gesekan.

Sikap penyayang dan adil, sesungguhnya yang jadi pengikat hubungan harmonis dengan lingkungan, ulayat, dan ekosistim lebih sempurna.

Sesuatu akan selalu indah selama benar.
Budaya berakhlak mulia adalah wahana kebangkitan bangsa.
Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya. Memperkaya warisan budaya dengan aqidah tauhid, istiqamah pada syari’at agama Islam, akan menularkan ilmu pengetahuan yang segar, dengan tradisi luhur.

MEMBENTUK SUMBER DAYA MANUSIA BERKUALITAS
Kita wajib membentuk sumber daya umat yang memiliki nilai asas berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas.

Bila pendidikan telah menjadi modus operandus membentuk SDM, maka kurikulum ilmu terpadu dan holistik, perlu disejalankan dengan metodologis madani (tamaddun) yang berprestasi di Sumatera Barat.

Kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) berasas iman dan taqwa akan membuat ketahanan umat.
Hubungan ruhaniyah ini lebih lama bertahan dari hanya hubungan structural. Domein ruhiyah perlu dibangun sungguh-sungguh.

SIMPULAN MENGUATKAN LEMBAGA PENDIDIKAN
Tujuan pendidikan secara sederhana adalah membina anak didik agar memiliki pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang baik sehingga sanggup menghadapi tantangan hidupnya di masa yang akan datang dengan kecerdasan yang dimilikinya.

Pada saat ini lembaga pendidikan kita belum dapat menghasilkan apa yang diharapkan karena proses pendidikan belum berjalan dengan benar. Di antaranya ;

• Pendidikan terlalu akademis, kurang menghubungkannya dengan kenyataan dalam kehidupan.

• Pendidikan masih saja menekankan pada jumlah informasi yang dapat dihafal, bukan bagaimana menggunakan informasi untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

• Pendidikan kurang menekankan pada berfikir kritis dan kreatif.

• Pendidikan kurang memberi tekanan pada pembentukan nilai dan sikap yang mencerminkan agama dan budaya serta etos kerja yang baik.
• Orientasi pendidikan pada lulus ujian dan ijazah, bukan pada kemampuan nyata yang dimiliki.

Kepastian kebijakan pemerintah daerah, dengan satu political action yang mendorong pengajaran Nilai-Nilai Agama Islam melalui jalur pendidikan formal dan non-formal.
Political will ini sangat menentukan dalam membentuk generasi masa datang yang kuat.

Beberapa langkah nyata dapat ditempuh ;
a. Memperbaiki proses belajar mengajar sehingga tekanan tidak lagi hanya pada penguasaan jumlah informasi, tetapi bagaimana mencari dan mengolah informasi secara kritis dan kreatif, pembentukan kepribadian dan sikap yang baik.

b. Sekolah perlu memiliki perpustakaan yang menyediakan sumber belajar yang lengkap untuk memperluas wawasan siswa dan tidak mencukupkan hanya pada buku teks.

c. Keberhasilan sekolah di ukur dari kemampuan siswanya memenuhi standar

d. Dorong sekolah untuk bersaing secara sehat dengan mengutamakan mutu.

e. Perlu pembudayaan nilai-nilai budaya Minangkabau yang berakar ke Islam dalam keseharian di sekolah oleh seluruh warga tanpa kecuali.

Pemerintah daerah perlu mengontrol pertumbuhan sekolah swasta melalui penetapan standar yang ketat.

Sosialisasi pengetatan standar mutu sekolah-sekolah secara terus menerus, mesti dilakukan secara konsisten.

Mengembangkan keteladanan (uswah hasanah) dengan sabar, benar, dan memupuk rasa kasih sayang melalui pengamalan warisan spiritual religi.

Menguatkan solidaritas beralaskan iman dan adat istiadat luhur.
“Nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”.

Pendidikan generasi bangsa harus mampu melakukan strukturisasi ruhaniyah dalam upaya mencetak generasi yang bertanggung jawab, dengan mengajarkan nilai-nilai agama Islam.

Strategi pendidikan maju, dan berperadaban, menjadi satu nikmat yang wajib dipelihara, agar selalu bertambah.

KHULASAHNYA ;

Nilai-nilai Ajaran Tauhid senantiasa menguatkan hati, dengan kekuatan iman dan taqwa, bersikap madani dan mandiri, serta berperilaku akhlak mulia dengan meraih prestasi.
Modal keyakinan tauhid memacu generasi terpelajar untuk bangkit dengan sikap positif.

a. Menjadi sumber kekuatan dalam proses pembangunan
b. Menggerakkan integrasi aktif,
c. Menjadi subjek dan penggerak pembangunan daerah dan bangsanya.

Sebagai penutup, mari kita lihat perubahan di tengah arus globalisasi hanya sebagai satu ujian, yang mendorong kita untuk selalu dapat berbuat lebih baik.

Ketika bangsa sedang meniti cobaan demi cobaan yang melanda, mari tanamkan keyakinan kuat, bahwa di balik itu, pasti ada tangan kekuasaan Allah SWT, yang sedang merancang sesuatu yang lebih baik untuk kita, inna ma’al ‘ushry yusraa.

Sebagai bangsa kita mesti sadar bahwa apapun yang terjadi di alam ini adalah atas kehendak dan izin Allah Yang Maha Kuasa.

Sikap terbaik dalam menghadapi ujian demi ujian, adalah sabar pada terpaan awal kejadian dengan ridha.

Tingkatkan kekuatan iman dan taqwa.
Amalkan akhlak mulia sesuai adat istiadat bersendi syarak.
Dijaga ibadah dengan teratur.
Kuatkan diri dengan berdoa.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الرِّضَى بَعْدَ القَضَى
“Duhai Allah, hamba mohon kepada-Mu sikap ridha dalam menerima ketentuan-Mu”

Semoga Allah memberi kekuatan memelihara amanah bangsa ini dan senantiasa mendapatkan redha-Nya. A m i n.

Padang, di se abad Hari Kebangkitan Nasional, dan Pendidikan Nasional, Mei 2008.

Categories: Adat Basandi Syarak, Buya Masoed Abidin, Education, Komentar, Masyarakat Adat, Minangkabau, PAUD, Pendidikan, Politics, Strategi Pendidikan Madani, Surau | 3 Comments

Strategi Pembangunan Pendidikan yang Berkualitas dan Madani

STRATEGI PEMBANGUNAN PENDIDIKAN YANG BERKUALITAS DAN MADANI
DI SUMATERA BARAT

Oleh,
H. MAS’OED ABIDIN

Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau
Wakil Ketua Dewan Penasehat MUI Sumbar
Ketua Umum Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM)
Provinsi Sumatera Barat

Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem
pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan
kepada Tuhan yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. (UUD-45)
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk mempunyai kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”, dan
“Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab,
serta berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa”.
(UU No. 20 th 2003, Sistem Pendidikan Nasional)

MUKADDIMAH

Kemulian pengabdian seorang pendidik terpancar dari keikhlasan membentuk anak manusia menjadi pintar, berilmu, berakhlak dan pengamal ilmu yang menjelmakan kebaikan pada diri, kerluarga, dan di tengah umat kelilingnya.

Namun sekarang, kita menatap fenomena mencemaskan. Penetrasi bahkan infiltrasi budaya asing ternyata berkembang pesat. Pengaruhnya tampak pada perilaku pengagungan materia secara berlebihan (materialistik) dan kecenderungan memisah kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik). Kemudian berkembang pula pemujaan kesenangan indera dengan mengejar kenikmatan badani (hedonistik).

Hakekatnya, telah terjadi penyimpangan perilaku yang sangat jauh dari budaya luhur – adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah-. Kesudahannya, rela atau tidak, pasti mengundang kriminalitas, sadisme, dan krisis secara meluas.

Pergeseran paradigma materialistic acapkali menjadikan para pendidik (murabbi) tidak berdaya menampilkan model keteladanan. Ketidakberdayaan itu, menjadi penghalang pencapaian hasil membentuk watak anak nagari. Sekaligus, menjadi titik lemah penilaian terhadap murabbi bersangkutan.

Tantangan berat ini hanya mungkin dihadapi dengan menampilkan keterpaduan dalam proses pembelajaran dan pengulangan contoh baik (uswah) terus menerus.

Jati diri bangsa terletak pada peran maksimal ibu bapa – yang menjadi kekuatan inti masyarakat – dalam rumah tangga.

Pekerjaan ini memerlukan ketaletenan dengan semangat dan cita-cita yang besar ditopang kearifan.

Kedalaman pengertian serta pengalaman di dalam membaca situasi dan upaya menggerakkan masyarakat sekitar yang mendukung proses pendidikan.

Usaha berkesinambungan mesti sejalan dengan,
a. pengokohan lembaga keluarga (extended family),
b. pemeranan peran serta masyarakat secara pro aktif,
c. menjaga kelestarian adat budaya (hidup beradat).

Setiap generasi yang dilahirkan dalam satu rumpun bangsa (daerah) wajib tumbuh menjadi,
a. Kekuatan yang peduli dan pro-aktif dalam menopang
pembangunan bangsanya.
b. Mempunyai tujuan yang jelas, menciptakan kesejahteraan
yang adil merata melalui program-program pembangunan.
c. Sadar manfaat pembangunan merata dengan,
1. prinsip-prinsip jelas,
2. equiti yang berkesinambungan,
3. partisipasi tumbuh dari bawah dan datang dari atas,
4. setiap individu di dorong maju
5. merasa aman yang menjamin kesejahteraan.

MENGHADAPI ARUS KESEJAGATAN
Kesejagatan (global) yang deras secara dinamik perlu dihadapi dengan penyesuaian kadar apa yang di kehendaki.

Artinya, arus kesejagatan tidak boleh mencabut generasi dari akar budaya bangsanya.

Sebaliknya, arus kesejagatan itu mesti dirancang dapat ditolak mana yang tidak sesuai.

Abad keduapuluhsatu (alaf baru) ini ditandai mobilitas serba cepat dan modern. Persaingan keras dan kompetitif seiring dengan laju informasi dan komunikasi serba efektif tanpa batas.

Bahkan, tidak jarang membawa pula limbah budaya ke barat-baratan, menjadi tantangan yang tidak mudah dicegah.

Menjadi pertanyaan, apakah siap mengha¬dapi perubahan cepat penuh tantangan, tanpa kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas yang berani melawan terjangan globalisasi itu?”

Semua elemen masyarakat berkewajiban menyiapkan generasi yang mampu bersaing di era tantangan sosial budaya, ekonomi, politik, menyangkut semua aspek kehidupan manusia.

Globalisasi membawa perubahan perilaku, terutama terhadap generasi muda.

Jika tidak mempunyai kekuatan ilmu, akidah dan budaya luhur, akan terancam menjadi generasi buih, sewaktu-waktu terhempas di karang dzurriyatan dhi’afan, menjadi “X-G” atau the loses generation.

Membiarkan diri terbawa arus deras perubahan sejagat tanpa memperhitungkan jati diri akhirnya menyisakan malapetaka.

Pemahaman ini, perlu ditanamkan di kala melangkah ke alaf baru.

Kelemahan mendasar terdapat pada melemahnya jati diri.
Kelemahan ini dapat terjadi karena kurangnya komitmen kepada nilai luhur agama (syarak) yang menjadi anutan bangsa.

Lemahnya jati diri akan dipertajam oleh tindakan isolasi diri lantaran kurang kemampuan dalam penguasaan “bahasa dunia” (politik, ekonomi, sosial, budaya).

Ujungnya, generasi bangsa menjadi terjajah di negerinya sendiri. Mau tidak mau, tertutup peluang berperan serta dalam kesejagatan. Kurang percaya diri lebih banyak disebabkan oleh,
a. Lemah penguasaan teknologi dasar yang menopang
perekonomian bangsa,
b. Lemah minat menuntut ilmu.

HILANGNYA AKHLAK MENJADIKAN SDM LEMAH

Penyimpangan perilaku menjadi ukuran moral dan akhlak.
Hilang kendali menjadi salah satu penyebab lemahnya ketahanan bangsa.

Yang merasakan akibatnya, terutama tentulah generasi muda, lantaran rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan.

Hapusnya panutan dan impotensi tokoh pemangku adat dalam mengawal budaya syarak, dan pupusnya wibawa ulama menjaga syariat agama, memperlemah daya saing anak nagari.

Lemahnya tanggung jawab masyarakat, akan berdampak dengan terbiarkan kejahatan meruyak secara meluas.

Interaksi nilai budaya asing yang bergerak kencang tanpa kendali, akan melumpuhkan kekuatan budaya luhur anak nagari.
Bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi bisnis.
Akibatnya, profesi guru (murabbi) mulai dilecehkan.

Hilang keseimbangan telah mendatangkan frustrasi sosial yang parah.
Tatanan bermasyarakat tampil dengan berbagai kemelut.
Krisis nilai akan menggeser akhlak dan tanggungjawab moral sosial
ke arah tidak acuh (permisiveness).
Dan bahkan, terkesan toleran terhadap perlakuan maksiat, aniaya dan durjana.

Konsep kehidupan juga mengalami krisis dengan pergeseran pandang (view) terhadap ukuran nilai.
Sehingga, tampil pula krisis kridebilitas dalam bentuk “erosi kepercayaan”. Peran orang tua, guru dan pengajar di mimbar kehidupan mengalami kegoncangan wibawa.

Giliran berikutnya, lembaga-lembaga masyarakat berhadapan dengan krisis tanggung jawab kultural yang terkekang sistim dan membelenggu dinamika.

Orientasi kepentingan elitis sering tidak populis dan tidak demokratis.
Dinamika perilaku mempertahankan prestasi menjadi satu keniscayaan beralih ke orientasi prestise dan keijazahan.
Tampillah krisis solidaritas.

Kesenjangan sosial, telah mempersempit kesempatan mendapatkan pendidikan dan pekerjaan secara merata.
Idealisme pada generasi muda tentang masa datang mereka, mulai kabur.

Perjalanan budaya (adat) terkesan mengabaikan nilai agama (syarak).

Pengabaian ini pula yang mendatangkan penyakit sosial yang kronis,
di antaranya kegemaran berkorupsi.

Adalah suatu keniscayaan belaka, bahwa masa depan sangat banyak ditentukan oleh kekuatan budaya yang dominan.

Sisi lain dari era kesejagatan adalah perlombaan mengejar kemajuan seperti pertumbuhan ekonomi dan komunikasi untuk menciptakan kemakmuran.

Lemahnya syarak (aqidah tauhid) di tengah mesyarakat serta merta mencerminkan perilaku tidak Islami yang senang melalaikan ibadah.

GENERASI PENYUMBANG

Membentuk generasi penyumbang dalam bidang pemikiran (aqliyah), ataupun pembaharuan (inovator) harus menjadi sasaran perioritas.

Keberhasilan akan selalu ditentukan oleh adanya keunggulan pada institusi di bidang pendidikan.

Pendidikan ditujukan untuk membentuk generasi yang menguasai pengetahuan dengan kemampuan dan pemahaman mengidentifikasi masalah yang dihadapi.

Seterusnya, mengarah kepada kaderisasi diiringi oleh penswadayaan kesempatan-kesempatan yang ada.

Generasi baru yang mampu mencipta akan menjadi syarat utama keunggulan.

Kekuatan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada.

Generasi muda harus menjadi aktor utama dalam pentas kesejagatan.
Mereka mesti dibina dengan budaya kuat yang berintikan “nilai-nilai dinamik” dan relevan dalam kemajuan di zaman itu.

Generasi masa depan yang diminati, lahir dengan budaya luhur (tamaddun) berlandaskan tauhidik, kreatif dan dinamik.

Maka, strategi pendidikan mesti mempunyai utilitarian ilmu berasas epistemologi Islam yang jelas.

Sasarannya, untuk membentuk generasi yang tumbuh dengan tasawwur (world view) yang integratik dan umatik sifatnya.

Artinya, pendidikan mengarah kepada membentuk generasi yang bermanfaat untuk semua, terbuka dan transparan.

Generasi sedemikian hanya dapat dikembangkan melalui pendidikan akhlak, budi pekerti dan penguasaan ilmu pengetahuan.

Maka akhlak karimah adalah tujuan sesungguhnya dari proses pendidikan, dan menjadi wadah diri dalam menerima ilmu-ilmu lainnya, karena pada akhirnya ilmu yang benar, akan membimbing umat ke arah amal karya, kreasi, inovasi, motivasi yang baik (shaleh).

Dengan demikian, diyakini bahwa akhlak adalah jiwa pendidikan, inti ajaran agama, buah dari keimanan.

Generasi penerus harus taat hukum.
Upaya ini dilakukan dengan memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga.

Mengokohkan peran orang tua, ibu bapak, dan memungsikan peranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif.

Memperkaya warisan budaya dilakukan dengan menanamkan sikap setia, cinta dan rasa tanggung jawab, sehingga patah tumbuh hilang berganti.

Menanamkan aqidah shahih (tauhid) dengan istiqamah pada agama Islam yang dianut.

Menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur.

Apabila sains dipisah dari aqidah syariah dan akhlak, niscaya yang akan lahir saintis tak bermoral agama.
Kesudahannya, ilmu banyak dengan iman yang tipis, berujung dengan sedikit kepedulian di tengah bermasyarakat.

Langkah-langkah ke arah pembentukan generasi mendatang sesuai bimbingan Kitabullah QS.3:102 mesti dipandu pada jalur pendidikan, formal atau non formal.

Mencetak anak bangsa yang pintar dan bertaqwa (QS.49:13), oleh para pendidik (murabbi) yang berkualitas pula. Keberhasilan gerakan dengan pengorganisasian (nidzam) yang rapi.

Menyiapkan orang-orang (SDM) yang kompeten, dengan peralatan memadai.

Penguasaan kondisi umat, dengan mengenali permasaalahan keumatan.

Mengenali tingkat sosial dan budaya daerah, hanya dapat di baca dalam peta dakwah yang bagaimanapun kecilnya, memuat data-data tentang keadaan umat yang akan diajak berperan tersebut.

Di sini terpampang langkah pendidikan yang strategis itu.

Di samping itu perlu pula menanamkan kesadaran serta tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah.

Sikap penyayang dan adil, akan dapat memelihara hubungan harmonis dengan alam, sehingga lingkungan ulayat dan ekosistim dapat terpelihara.

Melazimkan musyawarah dengan disiplin, akan menjadikan masyarakat teguh politik dan kuat dalam menetapkan posisi tawar.

Kukuh ekonomi serta bijak memilih prioritas pada yang hak, menjadi identitas generasi yang menjaga nilai puncak budaya Islami yang benar.

Sesuatu akan selalu indah selama benar.
Semestinya disadari bahwa budaya adalah wahana kebangkitan bangsa.
Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya.

PENGUATAN NILAI BUDAYA (TAMADDUN)
Madani mengandung kata maddana al-madaina atau banaa-ha, artinya membangun atau hadhdhara, maknanya memperadabkan dan tamaddana artinya menjadi beradab dengan hidup berilmu (rasio), mempunyai rasa (arif, emosi) secara individu dan kelompok mempunyai kemandirian (kekuatan dan kedaulatan) dalam tata ruang, peraturan dan perundangan yang saling berkaitan.(Al Munawwir, 1997:1320, dan Al-Munjid, al-Mu’ashirah, 2000:1326-1327).

Masyarakat madani (al hadhariyyu) adalah masyarakat berbudaya yang maju, modern, berakhlak dan mempunyai peradaban melaksanakan ajaran agama (syarak) dengan benar.

Masyarakat madani (tamaddun) adalah masyarakat berbudaya dan berakhlaq. Akhlaq adalah melaksanakan ajaran agama (Islam).

Memerankan nilai-nilai tamaddun — agama dan adat budaya — di dalam tatanan kehidupan masyarakat, menjadi landasan kokoh meletakkan dasar pengkaderan (re-generasi) agar tidak terlahir generasi yang lemah. Kegiatan utama diarahkan kepada kehidupan sehari-hari.

Keterlibatan generasi muda pada aktifitas-aktifitas lembaga agama dan budaya, dan penjalinan hubungan erat yang timbal balik antara badan-badan kebudayaan di dalam maupun di luar daerah , menjadi pendorong lahirnya generasi penyumbang yang bertanggung jawab.

Generasi penyumbang (inovator) sangat perlu dibentuk dalam kerangka pembangunan berjangka panjang.

Bila terlupakan, yang akan lahir adalah generasi pengguna (konsumptif) yang tidak bersikap produktif, dan akan menjadi benalu bagi bangsa dan negara.

Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus didalam membentuk SDM, maka di samping kurikulum ilmu terpadu dan holistik, sangat perlu dirancang kualita pendidik (murabbi) yang sejak awal mendapatkan pembinaan terpadu.

Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik, dan bukan utopis.

Keberhasilan perkembangan generasi penerus ditentukan dalam menumbuhkan sumber daya manusia yang handal.

Mereka, mesti mempunyai daya kreatif dan ino¬vatif, dipadukan dengan kerja sama berdisiplin, kritis dan dinamis.
Mempunyai vitalitas tinggi, dan tidak mudah terbawa arus.

Generasi yang sanggup menghadapi realita baru, dengan memahami nilai nilai budaya luhur.

Selalu siap bersaing dalam basis ilmu pengetahuan dengan jati diri yang jelas dan sanggup menjaga destiny, mempunyai perilaku berakhlak.

Berpegang teguh kepada nilai-nilai mulia iman dan taqwa, mempunyai motivasi yang bergantung kepada Allah, yang patuh dan taat beragama.

Mereka, akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan.
Memahami dan mengamalkan nilai nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, memberikan motivasi emansipatoris dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik material, tanpa harus mengorbankan nilai nilai kemanusiaan.

Semestinya dipahami bahwa kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) dengan basis iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat.

Hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional. Karena itu, perlulah domein ruhiyah itu dibangun dengan sungguh-sungguh;

a. pemantapan metodologi,
b. pengembangan program pendidikan,
c. pembinaan keluarga, institusi, dan lingkungan,
d. pemantapan aqidah (pemahaman aktif ajaran Agama)

MEMBENTUK SUMBER DAYA MANUSIA BERKUALITAS

Kita berkewajiban membentuk SDM menjadi sumber daya umat (SDU) yang berciri kebersamaan dengan nilai asas “gotong royong”, berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas. Beberapa model dapat dikembangkan di kalangan para pendidik.

Antara lain, pemurnian wawasan fikir disertai kekuatan zikir, penajaman visi, perubahan melalui ishlah atau perbaikan.

Mengembangkan keteladanan (uswah hasanah) dengan sabar, benar, dan memupuk rasa kasih sayang melalui pengamalan warisan spiritual religi serta menguatkan solidaritas beralaskan iman dan adat istiadat luhur.
“Nan kuriak kundi nan sirah sago,
nan baik budi nan indah baso”.

Akhirnya, intensif menjauhi kehidupan materialistis, “dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.

Para pendidik (murabbi) adalah bagian dari suluah bendang dengan uswah hidup mempunyai sahsiah (شخصية) bermakna pribadi yang melukiskan sifat individu mencakup gaya hidup, kepercayaan, kesadaran beragama dan harapan, nilai, motivasi, pemikiran, perasaan, budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak akan mampu menghadirkan kesan positif masyarakat Nagari.

Faktor kepribadian tetap diperlukan dalam proses pematangan sikap perilaku anak didik yang mencerminkan watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seseorang.

Ciri kepribadian syarak yang mesti ditanamkan merangkum sifat-sifat,
1. Sifat Ruhaniah dan Akidah, mencakup ;
a. keimanan yang kental kepada Allah yang Maha Sempurna,
b. keyakinan mendalam terhadap hari akhirat, dan
c. kepercayaan kepada seluruh asas keimanan (arkan al iman) yang lain.

2. Sifat-Sifat Akhlak, tampak di dalam perilaku;
a. Benar, jujur, menepati janji dan amanah.
b. Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan,
c. Tawadhu’, sabar, tabah dan cekatan,
d. Lapang dada – hilm –, pemaaf dan toleransi.
e. Bersikap ramah, pemurah, zuhud dan berani bertindak.

3. Sifat Mental, Kejiwaan dan Jasmani, meliputi,
3.1. Sikap Mental,
a. Cerdas — pintar teori, amali dan sosial –,
menguasai spesialisasi (takhassus),
b. Mencintai bidang akliah yang sehat, fasih,
bijak penyampaian.
c. Mengenali ciri, watak, kecenderungan masyarakat Nagari

3.2. Sifat Kejiwaan,
a. emosi terkendali, optimis dalam hidup, harap kepada Allah,
b. Percaya diri dan mempunyai kemauan yang kuat.
c. Lemah lembut dan baik dalam pergaulan dengan masyarakat.

3.3. Sifat Fisik,
a. mencakup sehat tubuh,
b. berpembawaan menarik, bersih,
c. rapi (kemas) dan menyejukkan.

Satu daftar senarai panjang menerangkan sikap pendidik adalah berkelakuan baik (penyayang dan penyabar), berdisiplin baik, adil dalam menerapkan aturan.

Memahami masalah dengan amanah dan mampu memilah intan dari kaca.

Mempunyai kemauan yang kuat serta bersedia memperbaiki kesalahan dengan sadar.

Selanjutnya tidak menyimpang dari ruh syari’at.
Maknanya, mampu melakukan strukturisasi ruhaniyah.

Para murabbi dapat mewujudkan delapan tanggung jawab dalam hidup;
1). Tanggungjawab terhadap Allah, dengan keyakinan iman
dan kukuh ibadah bersifat istiqamah, iltizam beramal soleh
dengan rasa khusyuk dalam mencapai derajat taqwa dan
mengagungkan syiar Islam dengan perilaku beradat dan beradab.

2). Tanggungjawab terhadap Diri, mengupayakan keselamatan diri,
baik aspek fisik, emosional, mental maupun moral,
bersih dan mampu berkhidmat kepada Allah,
masyarakat dan negara.

3). Tanggungjawab terhadap Ilmu, menguasai ilmu takhassus
secara mendalam dan menelusuri dimensi spiritualitas Islam
dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan untuk
tujuan kemanusiaan dan kesejahteraan umat manusia.

4). Tanggungjawab terhadap Profesi, tidak bertingkah laku yang
menghilangkan kepercayaan orang ramai dan dapat
memelihara maruah diri dengan amanah.

5). Tanggungjawab terhadap Nagari, mengutamakan
keselamatan anak Nagari dan memfungsikan lembaga
lembaga pendidikan (surau) dengan ikhlas.

6). Tangungjawab Terhadap Sejawat, menghindari tindakan yang
mencemarkan sejawat dengan berusaha sepenuh hati
mengedepankan kemajuan social hanya karena Allah.

7). Tanggungjawab terhadap Masyarakat dan Negara,
tidak merusak kepentingan masyarakat atau negara dan
selalu menjaga kerukunan bernegara di bawah syari’at Allah.

8). Tanggung jawab kepada Rumah Tangga dan Ibu Bapa,
dengan menghormati tanggungjawab utama ibu bapa
dengan mewujudkan hubungan mesra dan kerjasama
yang erat di antara institusi pendidikan dengan rumahtangga.

MENGHIDUPKAN PARTISIPASI UMAT

Umat mesti mengantisipasi berbagai krisis dengan kekuatan agama dan budaya (adat dan syarak) agar tidak menjadi kalah di tengah era persaingan.

Memantapkan watak terbuka dan pendidikan akhlak berlandaskan ajaran tauhid. Mengamalkan nilai-nilai amar makruf nahi munkar seperti tertera dalam QS.31, Lukman:13-17.

Menghadapi degradasi akhlak dapat dilakukan berbagai program.

Antara lain ;
1. INTEGRASI AKHLAK yang kuat dengan menanamkan penghormatan
terhadap orang tua.
Mempunyai adab percakapan di tengah pergaulan.
Pendalaman ajaran agama (tafaqquh fid-diin).
Berpijak kepada nilai-nilai Islam yang universal (tafaqquh fin-naas).
Membawa masyarakat memperhatikan masalah sosial (umatisasi)
dengan teguh.
Menetapkan kepentingan bersama dengan ukuran taqwa,
responsif dan kritis dalam mengenali kehidupan duniawi yang bertaraf
perbedaan.

Tahap selanjutnya mendorong kepada penguasaan ilmu pengetahuan.
Kaya dimensi dalam pergaulan bersama mencercahkan rahmatan lil ‘alamin
pada seluruh aspek kehidupan.

2. KEKUATAN RUHIYAH.
Ketahanan umat, bangsa dan daerah terletak pada kekuatan ruhiyah
dengan iman taqwa dan siasah kebudayaan.
Intinya adalah tauhid.
Implementasinya akhlak.
Umat kini akan menjadi baik dan berjaya,
apabila sebab-sebab kejayaan umat terdahulu dikembalikan.
Bertindak atas dasar anutan yang kuat,
yakni “memulai dari diri sendiri, mencontohkannya kepada
masyarakat lain”, (Al Hadist).

3. JALINAN KERJASAMA yang kuat rapi – network, nidzam –
antara lembaga perguruan secara akademik,
dengan meningkatkan pengadaan pengguna fasilitas.

a. Mendorong pemilikan jati diri berbangsa dan bernegara.
b. Memperkokoh interaksi kesejagatan dengan melakukan
penelitian bersama, penelaahan perubahan-perubahan di desa
dan kota, antisipasi arus kesejagatan dengan
penguatan jati diri generasi.
c. Pengoperasionalan hasil-hasil penelitian,
d. Meningkatkan kerja sama berbagai instansi yang dapat
menopang peningkatan kesejahteraan.

Menggali ekoteknologi dengan kearifan yang ramah lingkungan.

Menanam keyakinan actual, bahwa yang ada sekarang adalah milik generasi mendatang.

Keyakinan ini menumbuhkan penyadaran bahwa beban kewajiban generasi adalah memelihara dan menjaga untuk diwariskan kepada gererasi pengganti, secara berkesinambungan, lebih baik dan lebih sempurna.

Aktifitas ini akan memacu peningkatan daya kinerja di berbagai bidang garapan melalui,
a. rancangan pembangunan pendidikan arus bawah,
b. mempertajam alur pemikiran melalui pendidikan dengan
pendekatan holistik (holistic approach) menurut cara yang tepat.

Allah mengingatkan, apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi (QS.7,al-A’raf:96).

Artinya, mengajak Umat mempelajari dan mengamalkan iman dan taqwa (tuntutan syarak sesuai ajaran Islam).

Selanjutnya, menggiatkan penyebaran dan penyiaran dakwah, untuk mencapai keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia.

DI BAWAH KONSEP REDHA ALLAH

Setiap Muslim harus melakukan perbaikan (ishlah) pada dua sisi. Dimulai dengan, ishlah an-nafsi, yaitu perbaikan kualitas diri sendiri, sebagaimana arahan Rasulullah, “Mulailah dari diri kamu kemudian lanjutkan kepada keluargamu” (Al Hadist).

Selanjutnya islah al-ghairi yaitu perbaikan kualitas lingkungan menyangkut masalah hubungan sosial masyarakat, sosial ekonomi, kebudayaan dan pembinaan alam lingkungan yang dikenal sebagai sustainable development atau pengembangan berkesinambungan.

Langkah awal yang harus ditempuh adalah menanamkan kesadaran tinggi tentang perlunya perubahan dan dinamik yang futuristik.

Penggarapan secara sistematik dengan pendekatan proaktif, untuk mendorong terbangunnya proses pengupayaan (the process of empowerment), umat membangun dan memelihara akhlak.

MELAKSANAKAN TUGAS DAKWAH terus menerus dengan petunjuk yang lurus (QS.Al-Ahzab, 33 : 45-46) dibuktikan dengan beribadah kepada Allah.

Mengawal generasi Sumbar yang tetap kuat melaksanakan ajaran agama Islam secara kaffah.

Menjauhi pikiran, konsep dan ajakan yang mengarah atau membawa kepada sikap musyrik.

Mengingatkan selalu untuk bersiap kembali kepada-Nya (QS.Al Qashash, 28 : 87).

Setiap muslim hakikinya adalah umat dakwah pelanjut Risalah Rasul yakni Islam.

Dari sini, berawal gerakan syarak mangato adat memakai, artinya hidup dan bergaul dengan meniru watak pendakwah pertama, Muhammad Rasulullah SAW.

Meneladani pribadi Muhammad SAW untuk membentuk effectif leader di medan dakwah dalam menuju inti agama Islam (QS. Al Ahzab, 33 : 21).

Dakwah selalu akan berkembang sesuai variasi zaman yang senantiasa berubah.

Tahapan berikutnya perencanaan terarah, untuk mewujudkan keseimbangan antara minat dan keterampilan dengan strategi (siyasah) yang jelas.

Aspek pelatihan menjadi faktor utama pengupayaan. Konsep-konsep visi, misi, memang sering terbentur oleh lemahnya metodologi dalam operasional (pencapaian).

Maka dalam tahap pelaksanaan mesti diupayakan secara sistematis (the level of actualization).

Menetapkan langkah ke depan pembinaan human capital dengan keluasan ruang gerak mendapatkan pendidikan.

Pembinaan generasi muda yang akan mewarisi pimpinan berkualitas wajib mempunyai jati diri, padu dan lasak, integreted inovatif.

Langkah yang dapat dilakukan adalah mengasaskan agama dan akhlak mulia sebagai dasar pembinaan.

Langkah drastik berikutnya mencetak ilmuan beriman taqwa seiring dengan pembinaan minat dan wawasan.

Generasi muda Sumbar ke depan mesti menyatukan akidah, budaya dan bahasa bangsa, untuk dapat mewujudkan masyarakat madani yang berteras keadilan sosial yang terang.

Strategi pendidikan yang madani (maju, dan berperadaban) menjadi satu nikmat yang wajib dipelihara, agar selalu bertambah.

Perlu ada kepastian dari pemerintah daerah dengan satu political action yang jelas tegas berkelanjutan, untuk mendorong pengamalan ajaran Agama (syarak) Islam, melalui jalur pendidikan formal dan non-formal secara nyata.

Political will, akan sangat menentukan dalam membentuk generasi muda Sumbar yang kuat dan berjaya di masa datang.

Ajaran tauhid mengajarkan agar kita menguatkan hati, karena Allah selalu beserta orang yang beriman.

Dengan bermodal keyakinan tauhid ini, niscaya generasi terpelajar akan bangkit dengan pasti dan sikap yang positif.
a. Menjadi sumber kekuatan dalam proses pembangunan
b. Menggerakkan integrasi aktif,
c. Menjadi subjek dan penggerak pembangunan nagari
dan daerahnya sendiri.

Semoga Allah memberi kekuatan memelihara amanah bangsa ini dan senantiasa meredhai.

Amin.

Wabillahit-taufiq wal hidayah,

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi wa barakatuh.

Categories: Masyarakat Adat, PAUD, Strategi Pendidikan Madani, Tulisan Buya | 1 Comment

Pengembangan Moral dan Nilai-Nilai Islam pada PAUD

PENGEMBANGAN MORAL DAN NILAI- NILAI AGAMA ISLAM
PADAPENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)

H. Mas’oed Abidin

MUKADDIMAH

Sudah lama kita mendengar ungkapan, “jadilah kamu berilmu yang mengajarkan ilmunya, atau belajar (muta’alliman), atau menjadi pendengar (mustami’an). Dan, jangan menjadi kelompok keempat, yang tidak memiliki aktifitias keilmuan sama sekali. Yakni, tidak mengajar, tidak pula belajar, serta enggan untuk mendengar”.

Peran Guru di tengah umat dan anak didiknya, adalah sesuatu pengabdian mulia, dan tugas sangat berat. Mereka adalah pelopor pembangunan (agent of changes).

Bekal utamanya adalah keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT, hidup beradat, berakhlaq mulia.
Inilah, yang menjadi program utama di dalam pendidikan anak usia dini (PAUD). Tugas itu berat.

Umat hanya mungkin dibentuk melalui satu proses pembelajaran, dengan pengulangan terus menerus (kontiniutas), pencontohan (uswah) yang baik. Pekerjaan ini memerlukan ketaletenan dan semangat yang prima.

Kemuliaan seorang guru (pendidik) terpancar dari keikhlasan membentuk umat dan anak manusia menjadi pintar, beriman, berakhlaq, berilmu, mengamalkan ilmunya, untuk kebaikan diri sendiri, keluarga, dan kemaslahatan umat, di kelilingnya, serta mempunyai ibadah yang teratur, shaleh pribadi, dan shaleh social, dengan tauhid yang istiqamah.

Keberhasilan murabbi (guru) akan banyak didukung oleh kearifan, yang dibangun oleh kedalaman pengertian, pengalaman dalam membaca situasi, serta upaya dan kondisi yang kondusif di sekitarnya.

TANTANGAN DI ABAD KE 21

Abad ini ditandai oleh,
(a). mobilitas serba cepat dan modern,
(b). persaingan keras dan kompetitif,
(c). komunikasi serba efektif, dalam satu global village, dan

Akibat yang sangat dirasakan adalah generasi kini banyak bergelimang di dalam selokan limbah budaya kebaratan (westernisasi).

Alaf baru ini hadir dengan cabaran global yang menuntut keteguhan, dalam menghadapi tantangan yang berjibun banyaknya

Di antara tantangan tantangan itu, adalah infiltrasi budaya sekularis yang sudah menjajah mentalitas manusia.
Di sampingnya ada pula the globalization life style meniru sikap yahudi, dibumbui oleh pemupukan suburnya budaya lucah (sensate culture), dengan memanfaatkan sarana ICT (informasi, komunikasi dan teknologi).

Akibat yang dirasakan adalah, menjauhnya generasi bangsa dari adat budaya luhur, berpindah ke pemujaan nilai rasa panca indera, yang menonjolkan keindahan sensual, erotik, seronok, ganas.

Tujuan yang banyak diminati hanya semata mengejar kesenangan badani.

Dalam pergaulan keseharian, terutama di kalangan remaja yang mulai kehilangan fondasi budaya dan kekuatan akidah agama, tumbuh subur kebiasaan miras — bahkan sampai menelan korban berpuluh orang dalam keadaan mabuk, pingsan bahkan wafat –.

Selain itu, terlihat pula menjamurnya sarana yang menumbuh suburkan pergaulan bebas, akhirnya menjurus ke kecanduan madat dan narkoba.

Menghadapi tantangan ini, semua elemen masyarakat berkewajiban mempersiapkan generasi yang sanggup bersaing dalam era global tersebut.

Generasi dimaksud mesti tampil dengan sibghah yang nyata.
Pembentukannya dilakukan melalui pendidikan anak pada usia dini.

Penyimpangan perilaku telah menjadi ukuran atas kemunduran moral dan akhlak.

Hilangnya kendali para remaja, berakibat ketahanan bangsa akan lenyap dengan lemahnya remaja.

Penyebab utama di antaranya, rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan, hilangnya tokoh panutan, berkembangnya kejahatan di kalangan orang tua

Selain itu, juga karena luputnya tanggung jawab lingkungan dan masyarakat dalam menjaga perkembangan kejiwaan generasi pengganti.

Hal ini terjadi, juga disebabkan impotensi peran di kalangan pemangku adat, hilangnya wibawa ulama dan pudurnya suluah bendang di nagari

Tidak dapat dimungkiri bahwa, bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi bisnis, dan melemahnya profesi da’i dan guru karena kurang diminati dan tidak diperhatikan sungguh-sungguh, baik oleh kalangan pemerintah ataupun oleh masyarakat sendiri.

Akibat lanjutannya adalah suluah bendang (suluh benderang) yang akan menerangi masyarakat itu mulai dipandang leceh, sebelah mata.
Gelaran pahlawan tanpa jasa, mulai beringsut mundur menjadi tanpa perhatian.

PERILAKU UMAT JUGA BERUBAH
Interaksi dan ekspansi kebudayaan dari luar, bergerak secara meluas.

Pengaruh budaya asing berkembang pesat, seperti pengagungan materia secara berlebihan (materialistik), pemisahan kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik), pemujaan kesenangan indera mengejar kenikmatan badani (hedonistik).

Perilaku di atas merupakan penyimpangan sangat jauh dari budaya luhur. Pada akhirnya, melahirkan Kriminalitas, perilaku Sadisme, dan Krisis moral, secara meluas.

Perubahan dalam hidup beradat juga telah merambah Minangkabau.
Adat ndak dipacik arek, agamo ndak dipagang taguah.

Fakta menunjukkan bahwa adat tidak berdampak banyak terhadap generasi muda.

Tempat bertanya tidak ada, Sudah banyak yang tidak mengerti adat. Karena itu, generasi muda di Nagari mulai kebingungan.

Manakala problematika sosial ini lupa mengantisipasi melalui gerakan dakwah, melalui Pendidikan Anak Usia Dini berbasis aqidah, maka arus globalisasi ini membawa perubahan yang negatif.

Hilangnya keseimbangan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, yang menyebabkan timbulnya berbagai krisis.

Perilaku luhur akan bergeser, dan menipisnya ukhuwah, serta berkembangnya perbuatan maksiat.

Maka sekolah atau pendidikan berbasis aqidah, mesti menjadi cerminan idealitas masyarakat yang mempertahankan pembelajaran budi akhlak.

Pergeseran budaya akan terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, seperti kegemaran berkorupsi, aqidah tauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, serta suka melalaikan ibadah.

Salah satu solusi untuk mengatasi problematika keumatan ini, adalah dengan melaksanakan pendidikan aqidah pada anak usia dini (PAUD).

Para pendidik dan pengelola program PAUD, mesti berakar ke jantung umat. Mereka wajib menambah ilmu, menguatkan amal, menanamkan akhlak, menjaga ibadah dan karakter umat, dengan berpedoman wahyu Allah SWT.

Pendidikan aqidah dan akhlaq akan membawa umat kepada bertaqwa.

Janji Allah SWT sangat tepat, ” apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi.“ (QS.7,al-A’raf:96).

MENGHIDUPKAN ANTISIPASI UMAT
Umat mesti diajak mengantisipasi perkembangan global agar tidak menjadi kalah.

Dalam persaingan dimaksud, beberapa upaya mesti disejalankan dengan ;
a. Memantapkan watak terbuka,
b. Pendidikan aqidah tauhid,
c. Mengamalkan nilai-nilai amar makruf nahi munkar,
d. Integrasi moral yang kuat,
e. Memiliki penghormatan terhadap orang tua,
f. Mempunyai adab percakapan di tengah pergaulan,
g. Pendalaman ajaran agama tafaqquh fid-diin,
berpijak pada nilai-nilai ajaran Islam yang universal tafaqquh fin-naas.
h. Perhatian besar terhadap masalah sosial atau umatisasi,
i. Memacu penguasaan ilmu pengetahuan,
j. Kaya dimensi dalam pergaulan rahmatan lil ‘alamin,
k. Iman dan ibadah, menjadi awal dari ketahanan bangsa.

KETAHANAN UMAT DAN BANGSA, PADA UMUMNYA TERLETAK PADA KEKUATAN RUHANIYAH, KEYAKINAN AGAMA DENGAN IMAN TAQWA DAN SIASAH KEBUDAYAAN.

INTINYA ADALAH TAUHID. IMPLEMENTASINYA AKHLAQ.

Program pendidikan anak usia dini (PAUD) dapat dilakukan dengan nuansa surau.

Surau adalah suatu institusi yang khas dalam masyarakat Minangkabau.

Fungsinya bukan sekedar tempat sholat. Juga sebagai tempat pendidikan dan tempat mendapat pengajaran bagi anak muda. Banyak tokoh-tokoh besar di Minangkabau lahir dari surau.

Pengelolaan pendidikan bernuansa surau, pada masa sekarang bisa dihidupkan kembali.
Esensi dan semangatnya lewat menggerakkan kebersamaan anak Nagari.

Para pendidik mesti tampil mengambil peran, karena ada gejala, adat tidak memberi pengaruh yang banyak terhadap generasi muda di Minangkabau, dan adanya tendensi bahwa generasi tua, terlihat kurang pula memberikan suri teladan.

Akibat melemahnya peran orang tua, dapat menjadikaan generasi muda bersikap apatis terhadap adat itu sendiri.

Peran para pendidik mesti membentuk watak Generasi Sumatera Barat, sesuai petatah yang berbunyi,

“Indak nan merah pado kundi,
indak nan bulek pado sago,
Indak nan indah pado budi,
indak nan elok pado baso.

Anak ikan dimakan ikan,
gadang di tabek anak tanggiri,
ameh bukan pangkaik pun bukan,
budi sabuah nan diharagoi.

Dulang ameh baok balaie,
batang bodi baok pananti,
utang ameh buliah bababie,
utang budi dibaok mati.”

Enam unsur sangat perlu diperhatikan untuk membentuk masyarakat yang mandiri dan berprestasi, melalui harakah dakwah, dalam pendidikan bernuansa surau ;
1. IMAN,
2. ILMU,
3. Kerukunan, Ukhuwah dan Interaksi,
4. Akhlaq, Moralitas sebagai Kekuatan Ruhiyah,
5. Badunsanak, sikap Gotong royong (Ta’awun),
6. Menjaga Lingkungan sebagai Social Capital, menerapkan Eko Teknologi.

Kegiatan Pendidikan Anak Usia DINI (PAUD), mesti dijadikan upaya pembinaan karakter anak, dengan berbasis nilai-nilai agama, yang nanti akan menjadi pagar adat dan syarak, dalam menghadapi krisis identitas, sebagai akibat dari perubahan dalam nilai – nilai adat.

MENGAJAK, MENDIDIK, DAN MENGAMALKAN ISLAM
Peran Guru atau Murabbi dalam mendidik anak sejak usia dini adalah ibarat Suluh Benderang di tengah umat.
Tugasnya mesti dilaksanakan dengan keikhlasan sebagai satu pengabdian mulia dan tugas berat.

Keikhlasan membentuk umat jadi pintar, beriman, berakhlaq, berilmu, beramal baik, membina diri, kemashlahatan umat, dan keluarga, menjadi panutan dan ikutan, ibadahnya teratur, shaleh peribadi dan sosial, beraqidah tauhid yang shahih dan istiqamah.

Pendidikan anak sejak usia dini ini, tidak terlepas dari upaya menyiapkan satu generasi yang beradab, berakhlaq, berakidah dan berprestasi, melalui ;

a. Membudayakan Wahyu Al Quran dalam memakaikan adat basandi syarak
dan syarak basandi kitabullah, melalui pendidikan dan pelatihan,
b. Implementasinya, dalam perilaku anak berakidah, dan berakhlaq,
dalam kerangka lebih luas, menghidupkan dakwah membangun negeri.

Perintah untuk melaksanakan tugas-tugas da’wah itu, secara kontinyu atau terus menerus, dan sambung bersambung.

PELAKSANA DAKWAH ADALAH SETIAP MUSLIM
Setiap mukmin adalah umat da’wah pelanjut Risalah Rasulullah yakni Risalah Islam.

Umat dan para murabbi (pendidik) mesti berupaya sekuat tenaga untuk meneladani pribadi Muhammad SAW, dalam membentuk effectif leader dengan mengamalkan inti dan isi Agama Islam, yakni akhlaq Islami, Aqidah tauhid yang shahih, kesalehan, dan keyakinan kepada hari akhirat,

”Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab, 33 : 21).

ISLAM MENDIDIKKAN KEPRIBADIAN
USWAH atau contoh tauladan terpuji, melukiskan kesan positif dalam mayarakat.

Alat canggih teknologi modern tidak dapat mengambilalih peran orang tua dalam uswah.

Faktor manusia tetap diperlukan dalam proses pematangan sikap pribadi seseorang anak, sejak usia dini, dengan menanamkan laku perangai (syahsiah), yang mencerminkan watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seorang

SAHSIYAH MURABBI MEMBAWA KEBERHASILAN PENDIDIKAN ISLAM
Tidak diragukan lagi bahwa guru — murabbi, muallim, – yang punya kepribadian baik serta uswah hidup yang terpuji akan mampu melukiskan kesan positif dalam diri anak didik mereka.

Alat teknologi modern walau bagaimanapun canggihnya tidak akan dapat mengambil alih peranan guru.

Faktor manusia tetap diperlukan dalam proses pembentukan dan pematangan sikap pribadi para anak didik dan menanamkan laku perangai — syahsiah — murid.

Tegasnya sahsiah mencerminkan watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seseorang

CIRI UTAMA ATAU SYAHSIAH (شخصية) ITU BERMAKNA PRIBADI ATAU PERSONALITY, YANG MENGGAMBARKAN SIFAT INDIVIDU YANG MERANGKUM PADANYA GAYA HIDUP, KEPERCAYAAN, HARAPAN, NILAI, MOTIF, PEMIKIRAN, PERASAAN, BUDI PEKERTI, PERSEPSI, TABIAT, SIKAP DAN WATAK SESEORANG.

Banyak kajian telah dibuat tentang sifat-sifat yang perlu ada pada seorang guru (murabbi, mu’allim) yang baik dan akan menghasilkan kesan mendalam pada proses pengajaran yang mereka sampaikan.

Karena itu, sifat dan ciri guru muslim hendaklah merangkum :

A. SIFAT RUHANIAH DAN AKIDAH
1. Keimanan yang kental kepada Allah yang Maha Sempurna
2. Keyakinan mendalam terhadap hari akhirat, hari berbangkit
dan keyakinan akan adanya hari pembalasan
3. Kepercayaan kepada seluruh para Rasul di iringi dengan sifat,
dan asas menjalankan keimanan (arkan al iman) yang lain.

B. SIFAT-SIFAT AKHLAK
1. Benar dan jujur
2. Menepati janji dan Amanah
3. Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan
4. Merendah diri – tawadhu’ –
5. Sabar, tabah dan cekatan
6. Lapang dada – hilm –, Pemaaf dan toleransi
7. Menyayangi murid, mengutamakan kepentingan orang banyak dengan sikap pemurah, zuhud dan berani bertindak.

C. SIFAT MENTAL, KEJIWAAN DAN JASMANI
1. SIKAP MENTAL
• Cerdas (Kepintaran teori, amali dan sosial),
menguasai mata pelajaran,dan memahami anak didikan dengan khusus.
• Luas pengetahuan umum dan ilmiah yang sehat
• Mengenal ciri, watak, kecenderungan dan keperluan murid, fasih, bijak,
dan cakap di dalam penyampaian

2. SIFAT KEJIWAAN
• Tenang dengan emosi mantap terkendali, optimistik dalam hidup,
penuh harap kepada Allah dan tenang jiwa bila mengingatiNya.
• Percaya diri dan mempunyai kemauan yang kuat,
lemah lembut dan baik dalam pergaulan
• Berfikiran luas dan mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat

3. SIFAT FISIK
• Sehat tubuh dan badan dari penyakit menular
• Berperawakan menarik, bersih, rapi (kemas) dan menyejukkan.

Berapa penilitian di beberapa negara maju terdapat daftar sikap yang diinginkan ada pada para murabbi (guru) :
• Berkelakuan baik (penyayang dan penyabar), mampu menguraikan kepada anak
didik dengan jelas, berdisiplin, amanah dan menunaikan janji,

• Mempunyai sahsiah yang dihormati, berkemauan yang kuat, berbakat, dan
berjiwa kepimpinan yang tinggi, berpengetahuan umum yang luas, bersikap
menarik dan bersuara yang merangkul dan mendidik,

• Pandai memberi nasihat, simpati terhadap kelemahan murid, pandai memilih
kata-kata, tanggap dengan suasana murid di rumah, dan mengujudkan sikap
kerjasama, serta bersemangat riadah dan kedisiplinan

Guru muslim (murabbi) yang mempunyai sahsiah yang baik ialah guru yang mengamalkan etika keguruan Islam yang standard dan mempunyai personaliti yang baik.

ETIKA GURU MUSLIM
Etika pendidik Islam yang profesial, memiliki beberapa tanggung jawab yang dapat diawali oleh kemauan dari dalam diri guru dan kemudian dapat ditukuk tambah oleh khalayak pendidik dan dihayati sebagai suatu etika profesi keguruan
Di antara lain, sebagai berikut ;
1. TANGGUNGJAWAB TERHADAP ALLAH
Etika guru muslim terhadap Allah ialah :
1. Senantiasa memantapkan keyakinan kepada Allah dengan ibadah.
2. Bersifat istiqamah, dengan semangat berbakti dan beramal soleh.
3. Wajib menghayati rasa khusyuk, takut dan harap kepada Allah,
dan selalu bersyukur kepada Allah di samping selalu berdoa
kepadaNya dengan membaca ayat-ayat Allah dan merendahkan
diri kehadratNya.

2. TANGGUNGJAWAB TERHADAP DIRI
1. Guru muslim hendaklah memastikan keselamatan diri sendiri,
mencakup aspek fisik, emosional, mental maupun moral,
bersih diri, rapi pakaian, dan tempat tinggal.

2. Memahami kekuatan dan kelemahan diri untuk boleh
dimanfaatkan serta ditingkatkan dari segenap aspek
dan dapat berkhidmat sebanyak mungkin kepada Allah,
masyarakat dan negara.

3. Melibatkan diri dengan program dan agenda yang dapat
meningkatkan kualitas profesional seorang guru.

3. TANGGUNGJAWAB TERHADAP ILMU
1. Memastikan penguasaan ilmu takhassus secara mantap
dan mendalam, bercita dan berbuat — iltizam — dengan
amanah ilmiah.

2. Sunguh-sungguh mengamalkan ilmu yang dimiliki dan
mengembangkan untuk di ikuti oleh anak didik,
dan selalu mengikuti perkembangan teknologi dan ilmu
pengetahuan terbaru dalam rangkaian pembelajaran
ilmu-ilmu yang berkaitan.

3. Sepanjang masa menelusuri sudut atau dimensi
spirituality Islam dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan.

4. TANGGUNGJAWAB TERHADAP PROFESI
1. Seorang guru tidaklah boleh bertingkah laku yang
mencemarkan sifat profesinya yang berakibat kepada hilang
atau kurangnya kepercayaan orang ramai terhadap
profesi perguruan.

2. Guru bertugas sebagai pengganti ibu bapa dalam usaha
membentuk tingkah laku anak didiknya ke arah sikap
perangai yang diterima oleh masyarakat, dan
menumpukan perhatian terhadap keperluan setiap
anak didiknya.

3. Dia haruslah mendidik dan mengambil tindakan secara adil
terhadap semua anak didik, tanpa membedakan tempat asal,
keluarga, intelek, akademik dan status-status lain.

5. TANGGUNGJAWAB TERHADAP ANAK DIDIK
1. Guru muslim hendaklah lebih mengutamakan kebajikan,
dan keselamatan anak didiknya.

2. Bersikap adil terhadap, tanpa membedakan faktor-faktor jasmani,
mental, emosi, politik, ekonomi, sosial, keturunan,
dan agama anak didiknya.

3. Menampilkan suatu cara pakaian, pertuturan dan tingkah laku
yang dapat memberikan contoh yang baik kepada anak didiknya.

6. TANGUNGJAWAB TERHADAP REKAN SEJAWAT
1. Guru muslim senantiasa berusaha dengan sepenuhnya
menunaikan tanggungjawab dengan rajin dan
bersungguh-sungguh dan mengekalkan
kemajuan ikhtisas dan sosial.

2. Senantiasa bersedia membantu rekan sejawat
terutamanya mereka yang baru dalam profesi perguruan.

3. Mawas diri dan tidak mencemarkan nama baik profesi pendidik.

7. TANGGUNGJAWAB TERHADAP MASYARAKAT DAN NEGARA
1. Mengelakkan diri daripada meyebarkan sesuatu ajaran
yang dapat merusak kepentingan anak didik,
masyarakat atau negara, ataupun yang dapat bertentangan
dengan aturan bernegara.

2. Memupuk dalam diri setiap anak didik sikap dan nilai
yang dapat membantu dan membimbing mereka untuk
menjadi warga negara yang taat setia, bertanggungjawab,
dan berguna, menghormati orang-orang yang lebih tua dan
menghormati adanya perbedaan kebudayaan, keturunan dan agama.

3. Menghormati masyarakat tempat mereka berkhidmat dan
memenuhi segala tanggungjawab sebagai seorang warganegara
dan senantiasa sanggup mengambil bahagian
dalam sebarang kegiatan masyarakat.
Berpegang kepada tingkah laku yang sopan yang diterima
oleh masyarakat dan menjalani kehidupan harian dengan baik.

8. TANGGUNGJAWAB TERHADAP IBU BAPA DAN RUMAH TANGGA
1. Menghormati tanggungjawab utama ibu bapa
terhadap anak-anak mereka.

2. Berusaha mewujudkan hubungan mesra dan kerjasama
yang erat di antara institusi pendidikan dengan rumahtangga.

3. Menganggap semua maklumat yang diberikan oleh ibu bapa
mengenai keadaan rumahtangga atau anak mereka
sebagai suatu hal akan diperbaiki dalam diri anak didiknya,
dan tidak akan membocorkannya kepada sesiapa
kecuali kepada mereka yang berhak mengetahuinya saja.

KEBERHASILAN PENDIDIKAN ISLAM
Meskipun ciri dan sahsiah guru yang baik telah dicapai namun itu tidak pula bermakna pengajaran mereka dengan sendirinya berkesan.

Pengajaran yang disampaikan oleh guru akan berkesan atau tidak, amat bergantung kepada beberapa faktor yang berkaitan degan proses belajar dan mengajar yang menjadi hubungan erat antara guru dan anak didiknya.

Tantangan yang dihadapi oleh para guru dalam mengajar murid-murid zaman ini bukanlah suatu yang mudah.

Guru juga berhadapan dengan kenakalan remaja yang semakin serius di lingkungan sekolahnya.
Ibu bapa mesti ikut serta dalam memudahkan kerja guru-guru di sekolah itu.

Masyarakat juga wajib memainkan peranan sebagai pendukung keberhasilan guru dalam pembelajaran terhadap murid-murid mereka.
Tanpa kerjasama semua pihak proses pendidikan tidak akan berjaya menghasilkan generasi yang baik.

MEMBENTUK GENERASI MASA DEPAN
Perkembangan kedepan banyak ditentukan oleh peranan generasi penerus dengan ruang interaksi yang jelas.

Pendidik harus menjadi agen sosialisasi yang menggerakkan kehidupan masa depan lebih baik. Kita memerlukan generasi yang handal, dengan beberapa sikap;

a. individu yang berakhlak, berpegang pada nilai-nilai mulia iman dan taqwa, daya kreatif dan inno¬vatif, dipadukan dengan kerja sama berdisiplin, kritis dan dinamis, memiliki vitalitas tinggi, tidak mudah terbawa arus, sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan.

b. memahami nilai nilai budaya luhur, punya jati diri yang jelas, generasi yang menjaga destiny, motivasi yang bergantung kepada Allah, yang patuh dan taat beragama akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan,

c. memahami dan mengamalkan nilai nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, mempunyai motivasi dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik material, tanpa harus mengorbankan nilai nilai kemanusiaan.

Kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) dengan basis iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat.

Hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional.

Pendidikan anak usia dini, akan berperan membentuk mental umat – dengan FAST -, satu ranah ruhani yang memiliki kekuatan ;
 Fathanah (Ilmiah),
 Amanah (jujur),
 Amaliyah (transparan),
 Shiddiq (lurus),
 Shaleh (Yakin terhadap akhirat),
 Setia (ukhuwah mendalam),
 Tabligh (Dialogis),
 Tauhid (Percaya kepada Allah),
 Taat (Disiplin),

Generasi baru harus mampu mencipta, menjadi syarat utama keunggulan. Keutuhan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada.

Generasi muda harus dibina menjadi umat dakwah, dengan memiliki budaya yang kuat berintikan nilai-nilai dinamik yang relevan dengan realiti kemajuan di era globalisasi, yakni nilai-nilai agama Islam.

Generasi masa depan (era globalisasi) mesti Memiliki ; budaya luhur (tamaddun), berpaksikan tauhidik, kreatif dan dinamik, memiliki utilitarian ilmu berasaskan epistemologi Islam yang jelas, tasawwur (world view) yang integratik dan umatik sifatnya (bermanfaat untuk semua, terbuka dan transparan).

Pendidikan dikembangkan sejak usia dini si anak, dengan menekankan pada pendidikan akhlak, budi pekerti, dengan tujuan yang jelas ;
a. Menghambat gerakan-gerakan yang merusak Islam.
b. Menimbulkan keinsafan tentang perlunya adil sesuai syara’ Islam.
c. Melahirkan masyarakat penyayang yang tidak aniaya satu sama lain.
d. Menanamkan tata kehidupan saling kasih mengasihi dan beradab sopan.

Akhlak karimah adalah tujuan sesungguhnya dari proses pendidikan, dan menjadi wadah dalam menerima ilmu lainnya, dan membimbing umat kearah amal karya, kreasi, inovasi, motivasi yang shaleh (baik).

AKHLAK, ADALAH JIWA PENDIDIKAN, INTI AJARAN AGAMA, DAN BUAH KEIMANAN.

BAHASA DAKWAH ADALAH BAHASA KEHIDUPAN
Mendidik tidak dapat dipisah dari satu gerakan dakwah.

Dalam menggerakkan dakwah diperlukan menggalang saling pengertian, koordinasi sesamanya mempertajam faktor-faktor pendukungnya, membuka pintu dialog persaudaraan (hiwar akhawi), untuk membentuk efektif leader, mencontoh peribadi Rasulullah SAW, menjadi satu kunci keberhasilan da’wah Risalah.

Aktualisasi dari nilai-nilai Al-Qur’an itu, hanya bisa diwujudkan dengan gerakan amal nyata yang berkesinambungan (kontinyu), dalam seluruh aktivitas kehidupan manusia, melalui kemampuan bergaul, mencintai, berkhidmat, menarik, mengajak (da’wah) , merapatkan potensi barisan (shaff), mengerjakan amal-amal Islami secara bersama-sama (jamaah).

Setiap Muslim harus melakukan perbaikan (ishlah) kualitas diri sendiri, sebagaimana arahan Rasulullah “Mulailah dari diri kamu kemudian lanjutkan kepada keluargamu dan kepada lingkunganmu” (Al Hadist), dan perbaikan kualitas lingkungan, keluarga, hubungan sosial masyarakat, sosial ekonomi, kebudayaan dan pembinaan alam lingkungan yang berkesinambungan.

Pendidikan usia dini ini tidak akan berhenti dan akan berkembang terus sesuai dengan variasi zaman yang senantiasa berubah, dengan tujuan utama membentuk generasi pintar, berilmu, dan berbudaya dengan akhlaq karimah.

Pengembangan pendidikan berkualitas (quality oriented), akan mendorong lahirnya umat yang mempunyai ilmu yang komprehensif, yakni pengetahuan agama plus keterampilan, dengan aqidah tauhid yang istiqamah.

Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan sumber-sumber belajar di dalam masyarakat menjadi bagian integral dari masyarakat Muslim secara keseluruhan.

Dengan pengembangan dakwah ini, maka surau dan masjid, dapat menjadi core, atau inti, mata dan pusat dari learning society, masyarakat belajar. Sasarannya, agar lahir umat dakwah yang terdidik, berkualitas, capable, fungsional, integrated di tengah masyarakatnya.

Setiap Muslim harus ‘arif, dalam menangkap setiap pergeser¬an yang terjadi karena perubahan zaman ini, juga menjanjikan peluang peluang yang ada, sehingga memiliki visi jauh ke depan dalam percaturan hidup dunia (Q.S. 28: 77).

KEKUATAN TAUHID
Paradigma tauhid, laa ilaaha illa Allah, mencetak manusia menjadi ‘abid (yang mengabdi kepada Allah) dalam arti luas mampu melaksanakan ajaran syar’iy mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasul Allah, menjadi manusia mandiri (self help), sesuai eksistensi manusia itu di jadikan.

Manusia pengabdi (‘abid) adalah manusia yang tumbuh dengan aqidah Islamiyah yang kokoh.

AQIDAH ISLAMIAH ADALAH SENDI FUNDAMENTAL DINUL ISLAM, AQIDAH ADALAH LANGKAH AWAL UNTUK MENJADI MUSLIM. AQIDAH ADALAH KEYAKINAN BULAT, TANPA RAGU DAN BIMBANG, AQIDAH MEMBENTUK WATAK MANUSIA PATUH DAN TAAT, SEBAGAI BUKTI PENYERAHAN TOTAL KEPADA ALLAH.

Aqidah menuntun hati manusia kepada pembenaran kekuasaan tunggal Allah secara absolut.

Aqidah ini membimbing hati manusia merasakan nikmat rasa aman dan tentram dalam mencapai Nafsul Mutmainnah dengan segala sifat-sifat utama.

Manusia berjiwa bersih (muthmainnah) selalu memenuhi janjinya terhadap Allah, dan melaksanakan semua perintah Allah secara konsekwen.

Konsistensi, atau ke-istiqamah-an membentuk manusia patuh dan taat dalam mengamalkan syari’at Islam secara tidak terputus ibarat akar dengan pohonnya.
Maka hakikinya tanpa aqidah tidak ada artinya seorang muslim.

Aqidah Islamiyah ialah Iman kepada Allah dengan mengakui eksistensiNya (wujudNya).

Ibadah bermakna secara konsisten penuh keikhlasan melaksanakan perintah-perintah Allah tanpa reserve.

Konsistensi aqidah tauhid bersedia meninggalkan apa saja bentuk larangan dari Allah, dengan sikap ketaatan dan disiplin diri, karena mencari redha Allah.

Sikap tawakkal adalah konsekwensi dari ikhtiar dan usaha sesuai keyakinan tauhid.

Tawakkal dan ikhtiar usaha selalu jalan seiring.
Keduanya berjalin berkulindan merupakan mekanisme terpadu dalam kerangka kekuasaan Allah Yang Maha Agung.

Keyakinan tauhid mengajarkan kesadaran mendalam bahwa Allah selalu ada di samping manusia.

Keyakinan tauhid mampu menepis rasa takut dan menghapus gentar dalam menghadapi resiko hidup.

Hilangnya aqidah tauhid melahirkan fatalistis atau bersikap apatis dan pesimis.
Keyakinan tauhid, adalah kekuatan besar dari energi ruhaniah yang mendorong manusia untuk hidup inovatif.

MEMBANGUN SDM MENJADI SDU
Kita berkewajiban membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi Sumber Daya Umat (SDU) yang berciri kebersamaan dengan nilai berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas.

Beberapa model perlu dikembangkan di kalangan para pendidik, seperti ; pemurnian wawasan fikir, kekuatan zikir, penajaman visi, perubahan melalui ishlah atau perbaikan, mengembangkan keteladanan uswah hasanah, sabar, benar, memupuk rasa kasih sayang, dan pendalaman spiritual religi.

Menguatkan solidaritas beralaspijak kepada iman dan adat istiadat luhur, “nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”. Intensif menjauhi kehidupan materialistis, “dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.

KHATIMAH

1. Menetapkan langkah kedepan ;
a. pembinaan human capital dengan keluasan ruang gerak mendapatkan pendidikan,
b. pembinaan generasi yang memiliki jati diri, padu dan lasak, integreted inovatif.
c. mengasaskan agama dan akhlak sebagai dasar pendidikan pada anak sejak usia dini.
d. mencetak anak-anak muslim berilmu yang benar, beriman taqwa.
e. membina wawasan yang menyatu dengan akidah, budaya bangsa, dan bahasa.
f. mewujudkan masyarakat yang berasas keadilan sosial yang jelas.

2. Mengokohkan pegangan umat dengan keyakinan dasar Islam sebagai suatu cara hidup yang komprehensif.

3. Menyebarkan budaya wahyu di atas kemampuan akal.

4. Meyakini Peran krusial Ajaran Islam, bahwa kemenangan hanya disisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS.8, Al-Anfal : 9-10).

5. Generasi penerus harus taat hukum, dapat dilakukan dengan cara ;
a. memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga,
b. memperkokoh peran orang tua, ibu bapak ,
c. pemeranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif,
d. memperkaya warisan budaya, setia, cinta dan rasa tanggung jawab patah tumbuh hilang berganti
e. menanamkan aqidah shahih (tauhid), dan istiqamah pada agama yang dianut,
f. menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur.
g. menanamkan kesadaran, tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah
h. penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam
i. melazimkan musyawarah dengan disiplin, sebagai nilai puncak budaya Islam yang benar.

Budaya adalah wahana kebangkitan bangsa.

Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya.
Sesuatu akan selalu indah selama benar.

Demikianlah semoga Allah senantiasa Meridhai.

Wabillahit taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wa barakatuh,

Categories: Adat Basandi Syarak, Komentar Buya, Masyarakat Adat, PAUD, Tulisan Buya | 2 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,242 other followers