Archive for Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Amar Makruf Nahi Munkar

Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Amar Makruf Nahi Munkar

Oleh : H Mas’oed Abidin

Dewan Dakwah mengutamakan amar makruf nahi munkar berbentuk reaksi, sosial kontrol sering pula dengan kepeloporan.

Ditujukan terhadap hal hal yang tidak sesuai dengan ajaran agama, disikapi secara reaktif bil-hikmah.

Artinya, Dewan Dakwah selalu mendukung pemikiran pemikiran baru jika bermanfaat dan tidak membingungkan umat, apalagi sampai menggoyang Aqidah.

Maka wajar saja, jika di samping kegiatan sosial, Dewan Dakwah juga mengikuti perkembangan politik, terutama yang berkaitan dengan agama.

Para pemimpin yang menggerakkan Dewan Dakwah sangat arif dalam membaca arus yang tengah berkembang.
Baik arus politik maupun sosial budaya.

Persepsi dan image buruk terhadap partai politik yang terbentuk pada zaman Orde Lama sebagai penyebab instabilitas semakin kental di zaman Orde Baru.

Persepsi tersebut telah dijadikan senjata propaganda sistematis untuk meminggirkan peran partai dalam percaturan politik nasional.

Sebagai gantinya penguasa dan meliter menjadikan Golkar sebagai mesin politik baru, yang sepanjang sejarah Orde Baru tidak mau menyebut dirinya partai.

Upaya peminggiran partai ini diawali ketika Pemerintah mengajukan 3 Rancangan Undang-undang politik yaitu RUU tentang partai politik, RUU sistem Pemilu dan RUU politik dalam legislatif.

Menyadari besarnya ancaman ketiga RUU itu terhadap eksistensi partai, anggota DPR waktu itu berusaha menggagalkan usaha pemerintah ini.

Namun tanpa sepengetahuan mereka, pada bulan Juli 1967, Soeharto melakukan negosiasi politik dengan para pimpinan partai yang hasilnya dikemudian hari dikenal dengan “konsesus nasional”.

Pertama, pemilihan akan dilaksanakan dengan sistem list (daftar) sebagaimana yang dikehendaki pimpinan partai.

Kedua, keanggotaan DPR diperbesar dari 347 orang menjadi 460 orang.

Ketiga, pemerintah berhak mengangkat 100 orang anggota DPR (75 mewakili kepentingan militer dan 25 mewakili kepentingan sipil non partai).
Dan mengangkat sepertiga anggota MPR.

Keempat, anggota ABRI melepaskan hak pilih mereka dalam pemilihan umum.

Konsesus yang mengubah peta politik parle-menter Indonesia ini meski jelas merugikan partai.

Sungguhpun begitu, tetap diterima oleh sebahagian para pimpinan partai karena mereka optimis akan memenangkan pemilihan umum.

Konsesus ini telah menimbulkan kemarahan banyak para politisi partai di DPR. Akibatnya, selama tahun 1967-1968 Soeharto mengeluarkan mereka dari legislatif dan menggantikannya dengan orang-orang-nya.

Masih dalam rangka melumpuhkan partai, keluarlah Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 12 tahun 1969 dan Peraturan Pemerintah No. 6 tahun 1970 yang intinya melarang pegawai negeri menjadi anggota partai politik.

Dan menetapkan pegawai-pegawai negeri harus memiliki monoloyalitas (kesetiaan tunggal) kepada pemerintah.
Dalam hal ini memilih Golkar.

Mereka yang bersikeras menjadi anggota Partai Politik, apalagi menjadi pengurusnya, harus rela keluar sebagai pegawai negeri.

Arus mencemaskan di bidang budaya berupa derasnya kebangkitan nativisme yakni kepercayaan dan anutan anutan yang dianggap dari nenek moyang yang dilestarikan secara turun temurun.

Kebangkitan kepercayaan dan pelestarian anutan nenek-moyang ini, yang bila dilihat bertolak belakang dengan ketentuan ayat-1 dari pasal 29 UUD 1945, yang menyatakan bahwa Indonesia memiliki keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa, ternyata mempunyai korelasi dengan proses sekularisasi atau spatialisasi pada kehidupan kemasyarakatan.

Proses modernisasi dibarengi dengan industrialisasi, urbanisasi, sekularisasi, secara besar besaran membawa perubahan sangat berarti dalam semua dampak sosio politiknya.
Telah menyebabkan makin cairnya pandangan ideologis umat dan bangsa.

Masyarakat industri, memang memiliki kecenderungan untuk mengalami sekularisasi.
Suatu upaya, yang memisahkan sektor sektor sosial budaya dari dominasi agama.

Sekularisasi yang berpangkal dari faham sekularisme materialisme berkembang lebih cepat pada ma¬syarakat indusri.
Sekularisme cenderung untuk meniadakan peranan agama.
Sekalipun kemungkinan bahwa agama sekedar mempunyai tempat dan kotak, berupa spatialisai agama, hanya memerani bidang “Rohaniah”.

Namun katanya sangat impoten sangat berperan dalam bidang kemasyarakatan yang lain.

Suatu kekhawatiran terbesar umat Islam dan bangsa Indonesia masa kini dan mendatang, adalah timbulnya masyarakat yang dikotakkan kedalam kelas kelas, berdasar kepentingan dan penguasaan ekonomi yang berbeda.

Dan, mungkin sekali saling bertentangan.
Kecenderungan kearah pengkelasan dalam masyarakat terlihat semakin meningkat pada tiga dasawarsa terakhir.

Berakibat kepada beban dakwah umat Islam menjadi semakin berat.
Dakwah Islam tidak semata harus menghadapi pemudaran dan pendangkalan nilai nilai agama.
Tetapi, dipaksa mesti juga berhadapan dengan fragmentasi sosial ke dalam kelas kelas ekonomi, pemilikan, dan materi.

Kebijakan perjuangan Islam menjadi bersifat ganda.
Di satu pihak, umat Islam mempunyai tugas nasional.
Mencegah pengkelasan masyar¬akat yang diakibatkan oleh sistem politik yang pragmatis.
Menerapkan secara aktual ekonomi berbasis kerakyatan.

Di lain pihak, umat Islam ingin mencegah sekularisasi.

Tugas ganda ini bertumpu pada keyakinan bahwa Islam sebagai agama dan pandangan hidup, harus mencegah pengkelasan masyarakat.

Pengkelasan masyarakat secara pasti mengarah dan berdampak kepada sekularisasi kehidupan.

Arus dari aliran spiritualisme nativisme sampai batas tertentu mempunyai raison d’etre.
Berhubung masyarakat industri selalu mempunyai ke cenderungan alienasi, yang diduganya dapat di tolong oleh spiritualisme yang merupakan terapi psikologis.

Spritualisme dianggap sampah masyarakat perasaan tidak aman warga masyarakat Industrial.
Lahir pula masyarakat dengan ilmu yang banyak diatas alas keimanan yang tipis. Too much science, too little faith.

Usaha yang perlu dijalankan untuk mengatasi gejala sekularisme dan nativisme dapat bersifat teoritik dan empirik.

Menghadapi sekularisme, secara teoritik Islam sudah mempunyai khasanah pustaka yang cukup luas.
Tinggal memasyarakatkannya, dan mengaktualisasikannya.

Dengan demikian garis besar upaya mencegah sekularisme ialah pengintregasian ilmu ilmu secara teoritk dalam sistem keagamaan.

Secara empirik, penanggulangan sekularisme adalah pengintregasian sistem budaya dalam sistem sosial dengan ajaran agama.

Tugas dakwah dalam menghadapi sekularisme menjadi sangat penting.

Nativisme, dapat dihadapi dengan ketinggian spiritualisme Islam.
Maka, secara teoritik sebenarnya, ajaran Islam dengan mudah dapat mengatasinya.

Dalam menghadapi sekularisme dan nativisme, persoalan yang tersulit adalah masalah kelem bagaan.

Senyatanya umat Islam cukup memiliki berbagai sumber daya, lembaga dan sumber ideologis bila mau berpedoman dari Risalah agama.

Masalahnya kini adalah usaha berketerusan memanfaatkan dan mengarahkan dakwah di bidang sosial budaya.
Guna menahan arus sekularisme.

Pada dasarnya nativisme timbul dari kepercayaan terhadap “warisan nenek moyang”.
Ditopang kesederhanaan berfikir.
Sama sekali bukan dikarenakan sifat sifat tercela yang membuat mereka terjauh dari cahaya ilahi (Aqidah tauhid).

Tidak semua warisan nenek moyang mesti ditinggalkan, ada yang masih bisa dipakai selama tidak berten¬tangan dengan aqidah Islamiyah.
Warisan nenek moyang yang sesuai dengan Islam dapat dilestarikan.
Bahkan dapat dikembangkan secara baik baik, mengharapkan kembali ruhul Islam.

Persoalan sekularisme dan nativisme menjadi makin kompleks, karena adanya jalinan kerjasama antara dua kekuatan sosial budaya.
Kerjasama ini terjadi karena mereka mempunyai kepentingan yang sama.

Keuntungan politik yang diperoleh nativisme selama ini, mempunyai latar belakang sosial dan sejarah.

Nativisme kebanyakan didukung oleh kebanyakan keturunan para priyayi (aristokrat), yang kemudian menjadi birokrat.

Secara historis pernah dalam masa yang panjang telah mempunyai jarak dengan budaya Islam.

Melalui dakwah yang intensif akan terpintal tali jarak sosial antara priyayi dan santri yang semakin dekat.
Kondisi ini dapat diharapkan membawa perkembangan sejarah sendiri.
Pada ujungnya akan cenderung untuk menyusutkan dukungan priyayi birokrat kepada nativisme.

Proses yang natural ini, akan terjadi sesudah masa generasi yang sekarang berada dalam birokrasi itu, berakhir.
Proses sejarah ini bisa dipercepat, dengan dakwah yang lebih intensif.
Karena itu perlu di tumbuhkan potensi umat.

Unsur-unsur yang ingin memojokkan umat Islam kini sedang bekerja keras. Kekuatan-kekuatan asingpun telah bermain.

Kita harus memperhatikan berbagai kegiatan yang ingin memojokkan umat Islam dengan cermat dan teliti.
Sehingga, maksud mereka yang sebenarnya jangan sempat terbuka lebar.
Jangan sampai terulang peristiwa masa lalu yang menyakitkan.
Mereka yang “bermain,” kita sama kita sesama antara umat Islam dengan penguasa menjadi jauh.

Dan akhirnya bukan saja kehidupan berbangsa terganggu, bahkan integrasi bangsa pun terancam.
Tanda-tanda disintegrasi bangsa sudah mulai ada yang melihatnya.

CR Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir dalam Dakwah Komprehensif pada bagian Gerak Langkah Dakwah Ilaa Allah oleh H. Mas’oed Abidin

Comments (1)

Menjadi Opsir Lapangan, Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Membentuk Opsir Lapangan

Tuntutan zaman terus bergulir.
Perubahan zaman dengan segala akibatnya merupakan satu undang undang baja sejarah sebagai bagian dari “Sunnatullah”.

Maka yang sangat dibutuhkan untuk menggerakkan dakwah adalah teoritikus yang tajam, dan effektif.
Di samping itu, yang dihajatkan benar dalam pembinaan umat adalah, “opsir lapangan” yang bersedia dan pandai ber-kecimpung di tengah tengah umat.

Memang diperlukan para ilmuan atau sarjana yang berpengalaman.
Tetapi yang paling dihajatkan bukan semata mata sarjana yang “melek buku tetapi buta masyarakat”.

Kemahiran membaca “kitab masyarakat” tidak dapat diperoleh dalam ruang kuliah dan perpustakaan semata.

Karenanya, perlu di introdusir ke tengah masyarakat.
Untuk bisa berperan dalam menggiring dan mengawal umat, agar turut aktif bersama-sama, dalam menghadapi setiap persoalan.
Selalu mencoba mengatasi persoalan dari kehidupan umat di pelbagai bidang.
Sehingga melalui introdusir itu, dapat merasakan denyut jantung umat.

Lambat laun berurat pada hati umat itu.
Makin pagi makin baik….”, kata Bapak Mohamad Natsir.

Di tengah masyarakat yang hidup akan dapat berlangsung proses timbang terima kepemimpinan secara berangsur angsur.

Di kala itu, akan berlangsung suatu estafetta alamiah.
Antara pemimpin yang akan pergi dan yang akan menyambung.
Dalam suatu proses patah tumbuh hilang berganti.
Kesudahannya yang dapat mencetuskan api adalah batu api juga.

Inilah kewajiban setiap kepala keluarga, yang disebut pemimpin.
Justru di saat serba sulit itulah umat menghajatkan para pemimpin mereka.

Umat dapat tetap merasakan bahwa pemimpin mereka selalu berada di tengah tengah mereka.
Di dalam keadaan suka maupun dalam duka.
Arti yang lebih mendalam, adalah tetap bersama sama menghadapi persoalan.

Kunci keberhasilan pemimpin adalah, tetap berjalan dijalan Allah.
Selain itu, berkemampuan meng-identifikasi permasalahan umat.

Kadar seorang pemimpin selalu teguh dan setia, dalam tujuan pembinaan jamaah.

Dalam upaya meningkatkan kinerja, da’i harus berinteraksi dengan lingkungan secara aktif.
Siap melakukan dan menerima perubahan dalam tindakan yang benar.
Segala tindakan dan perbuatan akan selalu disaksikan oleh Allah, Rasul dan semua orang beriman.

Tentulah da’i sebagai pemimpin ditengah jamaahnya tidak boleh hidup dalam kekosongan.
Dia akan menjadi sumber manfaat bagi umat binaan.

Syarat utama menjadi muslim adalah bermanfaat terhadap orang lain.
Diantara bimbingan Rasulullah SAW mengingatkan,
Artinya, “seluruh makhluk adalah keluarga Allah, yang disayang olehnya yang bermanfaat untuk sesamanya”.(Sahih Muslim).

Golongan bukan tujuan.
Kelompok hanya sekedar sarana untuk mencapai tujuan.
Maka tugas kita adalah menebarkan kasih sayang, yang tampak dalam pelaksanaan amar makruf (sosial support) dan nahi munkar (sosial kontrol).
Artinya, “Sayangilah yang di bumi, niscaya kamu akan disayangi oleh yang di langit” (Musnad Tirmidzi).

Kepentingan kelompok harus tunduk kepada ke maslahatan umat.
Da’i sebagai kader perjuangan ditengah umat binaan tidak boleh mengurung diri.
Mengisolasi diri akan berdampak kepada terjauh dari sikap objektif.
Akibatnya akan menjadikan diri seorang yang lebih mementingkan golongan.
Mementingkan kelompok semata akan sama hal nya dengan membangun rumah untuk kepentingan rumah.

Masyarakat lingkungan adalah media satu-satunya tempat beroperasi para da’i di lapangan dakwah sepanjang hidup.

Perlulah diingat, bahwa “yang banyak diperhatikan umat adalah yang paling banyak memperhatikan kepentingan umatnya”.

Konsekwensinya setiap kader pemimpin umat harus siap menerima segala cobaan dari Allah.
Da’i harus punya kesadaran iman yang kokoh terhadap kekuasaan Allah, dan keyakinan kepada alam gaib akhirat tempat kembali seluruh kehidupan.

Kepercayaan kepada Allah secara benar akan menyelamatkan dari kesiasiaan berpikir terhadap sesuatu yang diluar wilayah ke mampuan rasio.
Rujukan keyakinan itu sesuai dengan bimbingan Al Quran dan Al-Hadist.

Alam semesta yang memiliki dimensi ruang, waktu, volume adalah milik Allah.
Kesemestaan alam berguna untuk sebesar manfaat bagi manusia.
Karena itu, da’i harus memiliki ilmu pengetahuan yang me madai dan tidak menjadikan dirinya tertutup, pasif atau mengisolasi diri.
Da’i, mestinya selalu aktif.

Pengetahuan Internasional penting untuk menunjang gerak dakwah dan harakah Islamiyah secara global.
Karena, umat Muslim ada di mana-mana.
Pengetahuan ini mendorong melakukan amar makruf, social support untuk menegakkan kebenaran.
Seiring dengan itu ada komitmen tegas terhadap nahi munkar, social control menghadapi kemungkaran.

Setiap da’i tahu bahwa seluruh dunia adalah tempat berkarya dan beramal.
Artinya “Dijadikan untukku seluruh punggung bumi untuk masjid (tempat berswujud, mengabdi) dan sebagai tempat yang bersih (bersuci)”. (Sahih Muslim, Sunan Abu Daud, Tirmidzi, an-Nasa-I, Ibnu Majah, Ad-Daramy dan Imam Ahmad bin Hanbal)

Sebagai kader pemimpin umat, mestilah da’i mempersiapkan diri dengan pengetahuan, yang akan menambah bekal kesadaran lokal, dengan mengenal;
(a) keadaan masyarakat binaan, aspek geografi, demografi,
(b) sejarah, latar belakang masyarakat, kondisi sosial, ekonomi,
(c) budaya, adat-istiadat.

Karena secara natural alamiah, setiap tanah ditumbuhi tanaman khas.
Pengetahuan lokal berguna memperbaiki masyarakat dengan semangat ihsan.
Dengan berbekal pengetahuan-pengetahuan tersebut akan mampu membuat analisis, kemudian akan menyajikan alternatif-alternatif.

Teori-teori yang khayali adalah angan-angan semata.
Masyarakat memerlukan kenyataan yang menyentuh kehidupan secara langsung.
Tujuan akhir menghapuskan ketidak seimbangan serius melalui pendidikan dan prinsip-prinsip Islami.

Bagi lingkungan masyarakat Islam umumnya, boleh saja disajikan berbagai hidangan, akan tetapi syarat hukumnya sama sekali tidak boleh dilupakan, yaitu semuanya mesti halal. Disini terlihat keseriusan dakwah dan pelayan umat.

Da’i adalah pemimpin di tengah kaumnya.
Artinya “Pemimpin bangsa (kaum) adalah pelayan mereka” (Sunan ad-Dailamy dan at-Thabarani).

Seorang da’i mesti menempatkan diri ditengah masyarakat dengan orientasi pengabdian yang luhur.
Sebisanya, sanggup menawarkan alternatif keumatan, dalam menjawab masalah umat dikelilingnya.

Sebagai pemimpin yang membina masyarakat dengan penuh perhatian dan keikhlasan.
Maka, keberadaannya di tengah umat menjadi perhatian dan selanjutanya akan mendapatkan dukungan masyarakat kelilingnya.

Tindakan awal yang akan menopang keberhasilan dakwah para da’i secara individu adalah dengan menguasai pengetahuan.
Minimal tentang kejadian sekitar.
Karenanya, da’i perlu mendapatkan supply informasi secara lokal dan nasional, yang amat berguna dalam menggerakkan umatnya agar mampu berpartisipasi pada setiap perubahan.

Para du’at perlu pula aktif dalam setiap pertemuan-pertemuan yang bertujuan menopang keberhasilan dakwah dan memelihara kesinambungan halaqah dan usrah.

Akhlak karimah, menopang keberhasilan da’i dalam setiap dakwah praktis, menyangkut keseharian umat seperti, kelahiran, perkawinan, dikala sakit dan kematian.
Paham benar tentang tantangan dimedan dakwah yang sangat banyak, namun uluran tangan yang didapat hanya sedikit.

Pemahaman sedemikian akan mampu mengatasi situasi dengan bermodalkan kesadaran.
Manfaatkan jalinan hubungan yang sudah lama terbina.

Suatu gerakan dakwah akan menjadi lemah bila tidak mampu berfungsi seperti sarang lebah atau kerajaan semut penuh vitalitas, enerjik, dan bernilai manfaat sesama masyarakatnya.

Secara Nasional mesti tertanam komitmen fungsional bermutu tinggi.
Memiliki kemampuan penyatuan konsep-konsep, alokasi sumber dana, perencanaan kerja secara komprehensif, akan mendorong terbentuknya center of excelences.

Pada ujungnya, tentulah tidak dapat ditolak suatu realita objektif bahwa, ” jika da’i banyak akan lebih banyak umat Islam yang dipimpin”.

Bila umat Islam banyak membaca, maka umat Islam akan memimpin dunia, sesuai isi firman Allah didalam al Quran Surah-96, al-‘Alaq, ayat:1-5.

Akhirnya, “Siapa yang paling banyak bisa menyelesaikan persoalan masyarakat, pastilah akan berpeluang banyak untuk mengatur masyarakat itu.”
Jujur dan Objektif sangatlah perlu.

Para da’I yang memiliki sikap jujur dan objektif dalam meng ambil pelajaran berguna, akan berkemampuan sanggup melihat diri dari dalam.
Rela menerima kritik konstruktif dari umat binaan, akan menanamkan kepercayaan diri dan mendorong untuk melakukan identifikasi kekurangan.

Kerelaan merupakan latihan internal untuk membentuk kejujuran.
Tidak jujur kepada diri, tentulah tidak dapat melatih diri kepada yang benar. Mampu melihat tambah kurang, terbuka untuk kompensasi dan ekualitas.

Bila dilakukan identifikasi kelemahan-kelemahan, umumnya timbul karena hilangnya komitmen mendasar.

Da’i adalah bagian dari gerakan dakwah dan produk dari dakwah.
Sebagai produk dakwah, maka da’i harus bersedia menghadapi aksi reaksi dalam nuansa konfrontatif maupun reformatif, termasuk dalam bidang budaya, politik sosial ekonomi.

Mengantisipasi keterbelakangan dengan konsep fikrah aktifitas terencana dengan kemampuan analisis.

Dalam pengalaman dakwah kemajuan selalu dihalangi kelemahan yang dimiliki. Keterbelakangan adalah penyakit yang melanda setiap orang.
Berbuat dengan keyakinan bahwa sukses hanya dari Allah’ akan melahirkan sikap tetap berusaha di jalan Allah.

Kesudahannya, rela mengakui kesalahan dan bersedia memperbaiki kekeliruan.
Suprioritas tergantung kepada ideologi wahyu bukan oleh superioritas manusianya.

Rusaknya da’i dalam dakwah selama ini karena melaksanakan pesan sponsor diluar ketentuan wahyu agama.
Perjuangan menghadapi kemunduran dakwah selalu dibarengi oleh kelemahan klasik kekurangan dana, tenaga, dan hilangnya kebebasan gerak.
Koreksian perlu dilakukan melalui kaji ulang dalam membudayakan konsultasi dan musyawarah untuk setiap masalah umat yang dihadapi.

Partisipasi aktif dalam mengambil dan melaksanakan keputusan akan mendorong kepada hidupnya jamaah.
Terpelihara semangat tim atau nidzam.

Akhirnya, dapatlah dibuktikan bahwa kerjasama lebih baik dari sendiri.
Kenyataan dalam perjalanan dakwah adalah ”al haqqu bi laa nidzaam, yaghlibuhul-bathil bi an-nidzam” artinya, sesuatu kebenaran yang tidak terorganisir, berpeluang abesar untuk dikalahkan oleh yang bathil, tetapi teratur.

Ungkapan ini senyatanya mengandung makna yang dalam.
Artinya juga adalah, pemain terbaik yang kehilangan semangat tim yang utuh selalu akan dikalahkan oleh pemain-pemain kurang bermutu tetapi memiliki semangat tim yang teratur.

Karena itu, libatkanlah seluruh potensi umat.
Pemeranan perempuan, anak-anak dan kalangan dhu’afak, sangat mendukung gagasan dan gerak dakwah.

Adanya ungkapan, “Innama tunsharuuna wa tur-zaquuna bi dhu’afaa-i-kum”, adalah mempunyai makna bahwa, kamu hanya akan terbantu oleh kalangan lemah diantara kamu.

Maka, perlibatan mereka pada program-program pembinaan dan dalam gerakan dakwah, seharusnya dijadikan prioritas.
Perang tidak akan dapat di menangkan manakala lebih dari 50 % kekuatan tidak di ikut sertakan.

Menghindari kepemimpinan otoriter berarti menjaga jiwa umat agar tidak mati. Masyarakat yang mati jiwa akan sulit diajak berpartisipasi dan akan ke hilangan semangat kolektifitas.

Bahaya dalam membina masyarakat adalah membiarkan umat mati di tangan pemimpin.
Tugas pemimpin menghidupkan umat.

Umat yang berada di tangan pemimpin otoriter dengan meninggalkan prinsip musyawarah sama halnya dengan menyerahkan mayat ke tangan orang yang memandikannya.

Karena itu, hidupkan lembaga dakwah sebagai institusi penting dalam masyarakat.

Fungsi yang selamanya tergantung kepada orang seorang akan menghilangkan kestabilan.
Kurangnya perencanaan akan menghapus semangat kelompok dan padamnya inisiatif.
Tujuan institusi menghidupkan dakwah.
Menggerakkan institusi dakwah bukan sekedar mengumpulkan materi.

Kewajiban yang teramat krusial adalah, menghidupkan ketahanan umat baik secara nasional maupun regional.

Sosialisasi mempertemukan pemikiran dan informasi, konsultasi dan formulasi strategi serta koordinasi di era globalisasi memasuki millenium ketiga menjadi tugas utama setiap da’i dalam menapak perubahan cepat dan drastis.

Di alaf baru, millenium ketiga, setiap hari akan terasa dunia se- makin mengecil. Tugas kita termasuk membuat rencana.
Membuat rencana kerja agar dakwah tidak dikelola secara krisis dan darurat. Tetapi, dakwah merupakan suatu pekerjaan rutin.

Kesalahan dalam membuat rencana, maka tujuan dakwah menjadi kabur.
Salah menempatkan sumber daya yang ada akan berakibat kesalahan prioritas.

Perencanaan matang menjadikan gerakan dakwah berangkat dari hal yang logis (ma’qul, rasionil), selanjutnya sasaran dakwah dapat diterima oleh semua pihak. Karena, dakwah bukan kerja part-time sambilan dan sukarela bagi yang giat dan aktif saja.
Tetapi harus menjadi tugas full-time dari seluruh spesialis ditengah masyarakat.

Dakwah mesti ditunjang oleh sarjana-sarjana spesialis, pedagang spesialis, birokrat spesialis, sehingga dapat disajikan sebagai suatu social action.
Maka sangat diperlukan generalitas murni dan meyakinkan secara rasionil tentang keindahan Islam.

Memahami fenomena besar dan menarik dari perkembangan globalisasi akan membuka peluang perkembangan Islam.

Mayoritas ilmuan pemimpin dunia secara universal mulai membaca tanda-tanda zaman, zeit-geist untuk siap menerima kembali per-adaban Islam sebagai alternatif untuk mewujudkan keselamatan didunia.

Dakwah kedepan adalah dakwah global.
Gerakan dakwah partial tujuannya adalah Islamisasi masyarakat Islam.
Lebih umum, tujuan dakwah secara global adalah membangun, berkorban, mendidik, mengabdi, membimbing kepada yang lebih baik.

Tugas yang tak boleh diabaikan dalam mencapai tujuannya adalah berupaya merobah imej dari konfrontatif kepada kooperatif.

Akhirnya dapat dimengerti bahwa kebajikan hanya akan ada pada hubungan yang terang dan transparan, sederhana dan tidak saling curiga.

Masyarakat akan pecah dan rugi karena hidup dalam kancah saling mencurigai. Gila kekuasaan akan berakibat berebut kekuasaan.
Ujungnya, masyarakat jadi terkoyak-koyak..

Nawaitu bekerja tidak untuk mencari sukses, atau hanya asal bekerja, sudah semestinya diubah.
Yang mesti ditampilkan adalah amal karya bermutu di tengah percaturan kesejagatan (globalisasi).

Bila dalam setiap pemilihan barang-barang, kita selalu cenderung untuk memilih produk berkualitas, maka sudah semestinya dalam menampilkan setiap amal-karya, ukurannya haruslah pula kepada kualitas juga.

Semakin kecil kesalahan akan semakin besar keberhasilan dalam menyampaikan risalah dakwah.
Maka tidak dapat ditolak, kemestian menggunakan semua adab-adab Islam menurut bingkai Al Quran dan Al-Hadist untuk menghadapi semua persoalan hidup manusia yang akan menjamin sukses dalam segala hal.

Seorang pemimpin perlu mengetengahkan, formula ukhuwah antar organisasi Islam, supaya dapat berjalan lebih baik dari keadaan sekarang.

Bila selama ini ukhuwah itu diartikan secara statis, dan sering dikaitkan dengan status, maka di masa datang tanggung jawab dakwah adalah mengembangkannya menjadi fungsional.

Re-fungsionalisasi organisasi formal yang andal, sangat berguna sebagai alat perjuangan.

Sistem komunikasi dan koordinasi antar organisasi Islam non formal, lebih di utamakan pada peningkatan pola pembinaan dan kaderisasi pimpinan organisasi non formal yang ada.

Sebagai alat perjuangan, maka organisasi Islam harus memerankan fungsinya dengan jelas dalam gerak dakwahnya, antara lain,

 pengikat umat menjadi jamaah yang lebih kuat, se¬hingga merupakan kekuatan sosial yang efektif,

 media pengembangan dan pemasyarakatan budaya Islami,

 media pendidikan dan pembinaan umat untuk mencapai derajat pribadi taqwa,

 merencanakan dan melaksanakan kegiatan dakwah Islamiyah.

 media pengembangan minat mengenai aspek kehidupan tertentu, ekonomi, sosial, budaya, dan politik dalam rangka mengembangkan tujuan kemasyarakatan yang adil dan sejahtera.

Begitulah semestinya peranan lembaga-lembaga dakwah dalam menapak alaf baru, atau millenium ketiga.

CR. Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir dalam “Dakwah Komprehensif”, Bagian Gerak dan Langkah Dakwah Ilaa Allah, oleh H.Mas’oed Abidin

Comments

Membina Kader, Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Membina Kader

Dalam menghimpun kembali potensi umat dalam satu keluarga besar yang sudah lama bercerai berai, harus dengan kerja keras.
Pembinaan semestinya dilakukan tahap demi tahap.
Bentuk kegiatannya terus menerus.
Di antaranya melalui Kegiatan Konservasi.

Melalui kegiatan ini diupayakan mencari, dan meng ajak kembali semua tokoh-tokoh dan pemimpin umat.
Terutama yang merupakan stok lama, dari kalangan keluarga besar pada seluruh tingkatan.
Usaha konservasi tidak boleh terhenti, sampai selesai.
Agar tidak terjadi proses pembusukan.

Sementara, terlihat bahwa proses pembusukan ini sering menggejala pada sebahagian anggota keluarga yang sempat uzlah atau terbawa hanyut bersama arus zaman.

Kegiatan konservasi perlu diikuti dengan kegiatan Re-Integrasi.
Upaya yang semula berupa kegiatan konservasi pasif, semestinya dilanjutkan dengan usaha re-integrasi aktif.
Tujuannya untuk menghimpun kembali anggota keluarga yang sudah berserakan.

Pada periode ini akan ada yang mengeluh.
Apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur.
Sepertinya mereka sedang menunggu gong perubahan.
Padahal gong yang ditunggu-tunggu belum tentu kapan pula akan berbunyi.
Dan belum pula terang, siapa yang akan memukul gong tersebut.

Karena itu upaya re-integrasi mesti jalan terus.
Usaha ini meliputi tiga bidang re-integrasi umat. re-integrasi pemimpin dan re-integrasi kader.

(1). Re-integrasi umat.
Akibat korban politik, “orde lama dan juga orde baru”, atau orde laba, yang paling dirasakan oleh umat adalah penderitaan kehidupan rohani.
Penderitaan kehidupan materi berbentuk krisis ekonomi dan moneter, telah melahirkan kelumpuhan fisik umat dimana-mana.

Pada hari ini penderitaan dan krisis kehidupan materi pada sebagian kecil umat golongan menengah keatas tidak sangat dirasakan.
Beban penderitaan kehidupan rohani terasa semakin parah justru terutama di kalangan menengah keatas itu.

Usaha untuk membangun potensi mayoritas umat semakin berat.
Kemana obatnya hendak dicari?
Sebetulnya, obat penyembuhannya tidak perlu dicari kemana-mana.
Salah satu obat penderitaan rohani adalah dengan meluruskan niat.
Bersedia kembali kepada tuntunan agama.

Namun perlu diingat bahwa nawaitu orang yang berpindah perahu, dengan anggapan bahwa perahu yang dahulu sudah kandas, tentu jauh berbeda, dengan nawaitu orang yang juga telah berpindah perahu, tetapi masih mau terikat kepada memikirkan nasib umat.
Biarlah bertukar lambang asal tidak bertukar jiwa.
Insya Allah ia tidak akan bernafas keluar badan.
Tidak pula asal bergayut pada sembarang kenderaan untuk sampai di tujuan.

(2). Re-integrasi pemimpin.
Pemimpin umat masih banyak.
Yang mulai langka adalah pemimpin panutan.
Begitu pula halnya akan ulama.

Ulama tidak langka, tapi yang langka adalah ulama yang memiliki kharismatik.
Kharisma seorang ulama atau pemimpin, antara lain ditentukan oleh :
Satu kata dengan perbuatan, punya prinsip dan pendirian hidup.
Kemudiannya, selalu berorientasi kepada kebenaran, dan selalu memikirkan nasib umat.

Demikian, di antara pegangan yang dipesankan Bapak Mohamad Natsir kepada da’i di medan dakwah.

Pemimpin yang dibutuhkan di setiap zaman adalah yang mampu melakukan re-integrasi umat ini. Mampu pula tampil sebagai konseptor, organisator.
Sebagai pemimpin, akan memikul beban pula selaku administrator, yang menjadi penggerak dan penyan dang pikulan.

Setidak-tidaknya pengumpul dana.
Dalam situasi seperti sekarang ini, pemimpin yang sangat diperlukan adalah pimpinan kolektif. Bukan pimpinan yang terletak pada satu tangan.
Begitu pesan Bapak Mohamad Natsir.

(3). Re-integrasi kader.
Pada setiap zaman ada rijalnya.
Bagaikan pertunjukan seni pentas, babak demi babak akan beralih.
Pemain bisa berganti.
Bahan cerita selalu bertukar.
Namun, khittah tidak boleh berobah.

Mempersiapkan kader sebagai pemain di pentas sejarah segera perlu dilakukan melalui lima garapan.

Usaha yang mestinya ditekuni dalam kerangka ini, adalah;
(1) Mempersiapkan jiwa kader (sejak dini)
(2) Melengkapkan pengalaman mereka
(3) Mencetuskan cita-cita
(4) Menggerak kan dinamika
(5) Menghidupkan self disiplin berlandas-kan iman dan taqwa.

Sungguhpun kerja sedemikian ini bukanlah kerja ringan.
Karenanya, tidak boleh dicecerkan.


CR. Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir dalam Dakwah Komrehensif, Bagian dari Gagasan dan Gerah Dakwah, oleh H. Mas’oed Abidin

Comments

Bagian dari Perjalan Sejarah Bangsa, Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Bahagian Dari Sejarah Bangsa

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Pertemuan hati dengan hati memegang peranan penting.
Diwujudkan secara nyata dalam menilai setiap situasi.

Sesudah Masyumi membubarkan diri, rehabilitasinya tidak diizinkan pemerintah sampai ke zaman Orde Baru, bahkan di era Reformasi.
Sangatlah wajar jika sebagian besar tokoh Masyumi di pusat dan di daerah-daerah seluruh Indonesia ikut mendirikan dan memelihara keberadaan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.

Sejak tahun 1967 sampai 1993, organisasi Dewan Dakwah ini dipimpin Bapak Mohamad Natsir, yang pernah memimpin Masyumi selama beberapa periode. Karena itu muncul anggapan, Dewan Dakwah adalah penerus Masyumi.

Masyumi sebagai satu partai politik Islam yang pernah hidup di Indonesia memiliki asas dan tujuan perjuangan yang jelas.
Terlihat dalam Tafsir Asasnya yang menjadi Program Perjuangannya.

Melihat perjuangan Masyumi sebagai Partai Politik Islam, dan kemudian tertanam anggapan bahwa Dewan Dakwah adalah pelanjut Masyumi, tidak sepenuhnya tepat.

Masyumi itu partai politik, sedang Dewan Dakwah adalah satu gerakan dakwah Islamiyah yang komprehensif.

Peran Dakwah menjangkau seluruh aspek kehidupan manusia dalam upaya menjadikan, “umat yang berbahagia di dunia dan berbahagia di akhirat dan terhindar dari siksaan neraka, dengan izin Allah“.

Dewan Dakwah tidak punya anggota yang terdaftar.
Karena bukan organisasi massa dan tidak pula organisasi politik.
Tetapi, simpatisannya banyak sekali.
Itu semua hanya lantaran orang orang Masyumi tidak boleh berpolitik.
Masak kami mau diam saja? Kata bapak DR. Anwar Harjono, SH.

Andaikata boleh berpolitik, akan kami dirikan partai politik.
Karena tidak boleh, maka kami terjun ke dunia dakwah.
Jadi, walaupun orangnya sama, peran mereka sudah berbeda.

Sangat wajar, bila pimpinan dan keluarga besar Bulan Bintang yang telah menjadi keluarga besar Dewan Dakwah tidak menginginkan agar keluarga besarnya buta politik.

Pada hakekatnya politik adalah seni mengatur masyarakat.
Kehidupan politik sering ditandai dengan konflik kepentingan antara kelompok masyarakat.

Umumnya politik berusaha untuk merealisasikan gagasan ideologi, menjadi realitas sosial yang ideal, menurut wawasan masing masing.
Kepentingan yang dimaksud dapat bersifat politis, ekonomis, kultural, maupun ideologis.

Bila diperhatikan, perjuangan politik umat Islam di Indonesia tampak peranan dari politik Islam yang mengalami penurunan secara konstan.
Keadaan itu, sebagai akibat kelemahan internal dalam tubuh umat.
Atau, karena mengalami penurunan efektivitas peran, sebagai akibat “erosi fungsional”.

Penurunan kualitas umat juga dikarenakan faktor ikatan jamaah, unsur kepemimpinan, dan melemahnya ukhuwah.

Faktor eksternal, utamanya diakibatkan oleh perekayasaan sosial dan politik dari pihak penguasa.
Kecendrungan erosi fungsional dan mengakarnya sifat ketergantungan serta “hanyut arus” lebih menonjol lagi.
Terutama dalam dua dasawarsa terakhir ini.
Bisa jadi karena perekayasaan politik yang datang dari luar.

Perekayasaan politik oleh pihak-pihak yang selalu berupaya melumpuhkan peranan politik rakyat dan umat Islam khususnya, terasa amat efektif sejak beberapa dasawarsa terakhir.

Kenyataan pula, proses pembangunan yang sangat berorientasi pada aspek ekonomi dan sangat pragmatik, secara langsung maupun tidak langsung, berpengaruh pada proses penumpulan pandangan ideologis masyarakat Indonesia.

Banyak daerah di Indonesia, yang pada zaman demokrasi parlementer didominasi oleh kekuatan politik Islam seperti Sumbar, Jabar, Sulsel, dan Kalsel, kini telah diwarnai kekuatan politik lain.

Secara sangat singkat kemorosotan peran politik Islam dalam sejarah Indonesia dapat dilukiskan dalam beberapa era yang pernah dilampauinya.

Saham kehidupan politik demokratik umat Islam sebenarnya dapat mengambil peranan politik secara representatif.

Tetapi kesempatan itu tidak pernah ada, juga tidak di masa Orde Baru.
Pada masa sebelum kelumpuhan kekuasaan Soekarno, partai politik Islam Masyumi sudah menuntut demokratisasi pemerintah-an dalam arti yang seluas-luasnya.

Demokrasi ini merupakan hasil perjuangan manusia seluruh dunia sepanjang sejarah.

Dalam era 1959 1965 peranan politik umat dan organisasi-organisasi Islam terpaksa didesak ke pinggir.
Demokrasi Terpimpin ala Soekarno telah menggeser kekuatan politik Islam.
Antara lain dengan pembubaran Masyumi.

Lebih jauh ditampilkan anggapan bahwa paham Bapak Mohamad Natsir tentang demokrasi, sangat bertolak belakang dengan demokrasi terpimpin yang akan diterapkan menurut “konsepsi Soekarno”.

Pak Syafruddin pernah mengingatkan ; “bahaya yang sebesar-besarnya yang mengancam negara Republik Indonesia, yakni bila demokrasi tenggelam dalam koalisi dan koalisi dimakan oleh anarki, dan anarki diatasi oleh golongan-golongan yang bersenjata dan oleh golongan-golongan yang menguasai golongan yang bersenjata itu”.

Bapak Mohamad Natsir juga bertanya, “apakah penegak demokrasi akan dapat mengembalikan kepercayaan yang ketika itu sedang goncang”

Selanjutnya kata Bapak Mohamad Natsir, “demokrasi yang harus ditegakkan ialah yang tidak mengambang, yang tidak menghasilkan kekacauan dan anarki, tetapi yang terpimpin, terbimbing oleh nilai-nilai moral dan nilai-nilai hidup yang tinggi”.

Mohammad Hatta berkeyakinan bahwa fondasi Demokrasi di Indonesia sudah cukup solid, karena di dukung oleh kombinasi organik tiga kekuatan sosial-religius, yang sudah mengakar di sebagian besar masyarakat kita.

Bila Demokrasi lenyap maka lenyaplah Indonesia merdeka.
Begitu prinsip Pak Hatta.

Bila pembangunan ekonomi pada masa Demokrasi Pancasila dinilai berhasil, maka pembangunan politik menurut banyak pengamat berjalan agak lambat.

Dua puluh tahun pertama pelaksanaan Demokrasi Pancasila sering terlihat bercirikan sikap otoriter sebagai warisan priode sebelumnya, masih dirasakan. Mungkin, disebabkan upaya mempertahankan stabilitas politik untuk pembangunan ekonomi.

Beberapa tahun terakhir, kelonggaran politik makin dirasakan.
Sekalipun masih jauh dari pelaksanaan sesungguhnya dari sistim Demokrasi Pancasila yang semestinya harus, menghormati kedaulatan rakyat.

Kritik terhadap pelaksanaan Demokrasi Pancasila, ialah longgarnya sistem kontrol sangat kentara tampil dalam birokrasi, hingga korupsi dan kolusi mencapai titik terparah sepanjang titik sejarah kontemporer Indonesia.

Bila kondisi semacam ini semakin menjamur, menurut pendapat berbagai kalangan, tidak mustahil bangsa ini akan keropos pada ahkirnya.
Terbukti di antaranya pada prolog era Reformasi.

Pada zaman Demokrasi Terpimpin, keragaman ideologi partai-partai terus di pertahankan. Gejala seperti ini juga tampak pada era reformasi.

Pada pelaksanaan Pemilihan Umum Juni 1999, Indonesia masuk kembali kedalam sistim multi partai, dengan 48 partai peserta Pemilihan Umum.
Kondisi ini dianggap sebagai suatu konsekwensi riil, dari tuntutan era reformasi, setelah lengsernya Presiden Soeharto.

Tuntutan demokratisasi dan Hak Asasi Manusia, yang tidak terlaksana pada masa Orde Baru, harus pula dilihatkan dengan lahirnya banyak partai politik.
Yang besar massanya ataupun yang gurem, semua berlomba untuk tampil. Sebuah euforia yang sangat menarik.

Pada Demokrasi Terpimpin zaman Nasakom dibawah kekuasaan Presiden Soekarno dibedakan antara partai yang “progressif revolusioner” dan yang “kontra revolusioner”.
Pembedaan dilakukan oleh ke kuasaan pemerintah.
Maka pada era reformasi rakyat yang membuat pemilahan.

Partai peserta pemilihan umum diberi kategori sebagai partai reformis dan partai-partai pendukung status quo.
Partai pendukung status quo dianggap masih memihak kepada Orde Baru, yang telah berkuasa selama 32 tahun (1966-1998).

Ketika Era Orde Baru, di masa kekuasaan Soeharto dinilai banyak melakukan Korupsi Kolusi dan Nepotisme.
Kondisi ini sesungguhnya mernjadi hujatan yang amat mengena, pada saat bergulirnya era reformasi.

Semasa pemerintahan Presiden Soekarno, yang dikenal mulai akrab dengan PKI pimpinan D.N.Aidit, maka Partai Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI), yang dikenal sangat menentang pelaksanaan Demokrasi Terpimpin, dikategorikan sebagai “partai yang kontra revolusi”.

Keterlibatan tokoh-tokoh pimpinan dari kedua partai, Masyumi dan PSI, seperti Mohamad Natsir, Syafroeddin Prawiranegara, Boerhanoeddin Harahap, Soemitro Djojohadikoesoemo, Mr. Assaat, Buya K.H.A.Malik Ahmad, Mohammad Syafe’i pimpinan INS Kayu Tanam.
Dijadikan alasan tematik kontra revolusi dan kelompok pemberontak yang sangat berbahaya bagi bangsa Indonesia.

Kebetulan saja memang, para pemimpin dari kedua partai politik dimaksud, memang ikut secara aktif didalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).
Akibatnya, semakin disudutkannya posisi kedua partai dimaksud.

Di dalam pandangan pemerintahan Orde Lama di bawah kekuasaan otoriter Soekarno, kedua partai dan tokoh-tokohnya mesti diamankan dalam tahanan. Akhirnya, tanpa adanya pembelaan, Masyumi dan juga terhadap Partai Sosialis Indonesia (PSI) mesti menerima hukuman, dibubarkan.

Partai Masyumi sebagai kekuatan umat Islam terbesar di masa pemilihan umum 1955 terpaksa harus menerima perintah pembubaran dirinya pada tanggal 15 Agustus 1960 dengan Penetapan Presiden No.200/1960”.

Dalam waktu tigapuluh hari sesudah Penetapan Presiden No.200/1960 itu, pimpinan Partai Masyumi harus menyatakan partainya bubar.
Kalau tidak, Masyumi akan dinyatakan sebagai “partai terlarang”.

Maka, bubarnya partai Masyumi dirasakan sebagai korban politik orde lama.

Bila ditilik dalam pelaksanaan undang-undang secara yuridis formil dan yuridis materil sekarang, Partai Masyumi sama sekali tidak beralasan untuk dibubarkan.
Dimasa pemerintahan Soeharto, atau era Orde Baru, secara logika politik, seharusnya Partai Masyumi dan PSI yang dengan jelas menjadi lawan Orde Lama, mestinya direhabilitir.

Apalagi, kalau melihat prinsip partai Masyumi serta garis kejuangan para pemimpin umat yang memimpin partai Islam terbesar ini.
Sejak masa lalu secara tegas sangat menentang Komunis.

Pemerintahan Orde Baru juga hadir seiring dengan partai komunis dibubarkan. Pemerintahan yang disebut sebagai anti komunis.
Semestinya rehabilitasi partai Masyumi ini harus sudah ada di masa pemerintahan Orde Baru.

Ironisnya, para pemimpin Masyumi masih tetap disingkirkan.
Berbagai intimidasi selalu diarahkan kepada pemimpin umat Islam.
Di antaranya Petisi 50 dijadikan sebagai alat rekayasa pelumpuhan potensi politik umat Islam.

Sejak peristiwa itu, sebenarnya di dalam tubuh umat dan bangsa sudah tumbuh bibit perlawanan.
Sungguhpun di antara umat dan pemimpin masih ada yang sanggup bertahan.
Hal itu karena masih tersisanya anti toxin di dalam urat nadi umat.
Anti toxin itu adalah keyakinan hidup, dengan berwawasan Iman dan Islam. Cintakan persatuan dan anti komunisme yang tidak pernah kendor.

Memang ada juga sebahagian umat yang menghadapinya dengan pengendapan secara pasif.
Berbentuk ‘uzlah sambil menunggu masa berubah.
Karena adanya keyakinan, bahwa per-ubahan itu pasti datang, sebagai suatu sunnatullah.
Hanya menunggu waktu ketika.

Kondisi ini sebenarnya telah ikut menguatkan diri umat.
Tumbuhnya disiplin dari dalam.
Tidak hanya sekedar tumbuh paksa dari luar, seperti disiplin itik pulang petang. Berbaris patuh teratur di bawah komando sebilah ranting.

Disiplin paksaan, seperti sudah lama kentara diterapkan sejak masa Demokrasi Terpimpin, tidak bermakna apa-apa terhadap ruh umat.

Dalam kemasan demi stabilitas keamanan, berulang juga pada era Orde Baru, selama 32 tahun pemerintahan Soeharto memerintah.
Bila kita amati kondisi umat pada dua era pemerintahan Orde Baru dan lama, atau orde bala ini, sasaran dan akibat yang dirasakan tetap sama.
Yaitu meminggirkan umat Islam sebagai suatu kekuatan politik di Indonesia.

Sebenarnya secara kuantita jumlah umat Islam masih sangat dominan.
Namun dalam kenyataan diarena politik Indonesia sejak masa Orde lama telah terjadi adu kekuatan.
Pertama antara komunis, selanjutnya dengan sekuler dan Islam-phobia.
PKI yang berhasil melakukan infiltrasi cukup jauh ke dalam tubuh PNI (PNI kiri) dengan menguasai Front Nasional di satu pihak dan TNI AD di lain pihak, telah memberikan peluang kepada pihak komunis untuk menjadi pemenang.

Sepeninggal pemerintahan Soekarno, perlawanan yang dihadapkan kepada umat Islam tetap berlangsung terencana, dan dirancang secara apik oleh kelompok phobia Islam.

Kelompok salibiyah serta kalangan sekuler yang merasa tidak senang kepada peranan pemimpin-pemimpin Islam di Republik ini, ikut berperan mengambil dan memanfaatkan kesempatan.

Berbagai semboyan untuk menyudutkan kelompok Islam dengan tuduhan extrem kanan, fundamentalis, hijau royo-royo, secara sistematis ditampilkan.
Jargon-jargon tersebut sebenarnya tidak lebih hanya pelampiasan kecemasan yang mendalam terhadap umat Islam.

Kecemasan mereka ini juga terlihat kepada sangat ditakuti berperannya ICMI dan Dewan Dakwah.

Kadangkala, Dewan Dakwah dan ICMI dianggap sebagai wadah kebangkitan serta pusat kekuatan umat Islam.
Kondisi dan penilaian seperti ini, merupakan salah satu bukti paling nyata, adanya kelompok phobia Islam di negeri ini.

Era Reformasi telah melahirkan banyak partai-partai.
Termasuk partai yang berani menyatakan prinsip berasas Islam.
Kehadiran partai-partai itu, malah tetap dilihat sebagai bahaya.
Aliran politik Islam tetap dicurigai, dengan membawa kecemasan tersendiri.
Para politisi nasionalis yang bernafas dengan keterikatan paham liberalisme ala barat dan dalih demokratisasi, mulai menghembuskan nafasnya dalam slogan Islam Yes, Partai Islam No.

Bahkan, tatkala pimpinan umat yang ada dalam Majlis Ulama Indonesia (MUI) dan Dewan Dakwah menyerukan kepada umat Islam di Indonesia untuk tetap memilih calon-calon legislatif yang se-Aqidah, se-iman atau yang sama beragama Islam, maka seruan tersebut telah dinilai tidak proporsional.

Seruan pemimpin umat Islam dianggap sangat meresahkan.
Bahkan malah dianggap membahayakan bagi kelangsungan kehidupan bernasional. Sungguh sangat aneh.

Bila di zaman Soekarno sengaja dilahirkan ber-bagai usaha dengan menampilkan kekuatan penyeimbang terhadap kekuatan politik Islam.
Kemudian, berkesudahan pada arena adu kekuatan politik di Front Nasional dalam format Nasakom.
Kenyataannya, tampilan tersebut baru berhenti setelah terjadi peralihan kekuatan, karena meledaknya peristiwa G 30 S/PKI.

Maka, merupakan hal yang wajar saja bila perjuangan memperoleh kekuasaan merupakan fenomena politik yang paling menonjol dalam masyarakat.
Karena porsi kekuasaan yang diperoleh setiap kekuatan sosial masyarakat akan berujung pada menerjemahkan semua cita citanya menjadi kenyataan konkrit.

Dengan kata lain, setiap kelompok sosial politik, lewat kekuasaan yang diperoleh, selalu berusaha melakukan alokasi otoritatif nilai nilai yang diyakininya.

Demikianlah yang telah terjadi semenjak tahun 1960-1966-1998 di kala gerak dakwah mulai di kebiri.

Di awali dengan menyuntikkan serum NASAKOM, kemudian ASAS TUNGGAL ke dalam pembuluh darah umat secara paksa di bawah resep Demokrasi Panca Sila.
Demokratisasi dan stabilitas dengan bungkus dan kemasan hak-hak asasi manusia, sangat banyak dijadikan alat penekan. ‘
Hal tersebut sangat berpengaruh bagi pelemahan peranan politik umat Islam sejak masa Demokrasi Terpimpin.

Akibat langsung yang dirasakan adalah, banyaknya pemimpin umat yang senyatanya menduduki pucuk pimpinan partai Islam ditangkap, ditahan dan dipenjarakan.

Di antaranya Bapak Mohammad Natsir dan Boerhanoeddin Harahap yang berada dalam tahanan dari tahun 1961 hingga 1967.
Bapak Prawoto Mangkusasmito, Mohammad Roem, M.Yunan Nasution, E.Z. Muttaqin dan KH Isa Anshary, ditahan pula di Madiun pada tahun 1962.
Demikian pula terhadap Ghazali Sjahlan, Jusuf Wibisono, Mr. Kasman Singodimejo di Sukabumi.
Dan juga penangkapan, penyiksaan, penahanan terhadap S. Soemarsono, A. Mukti, Djanamar Adjam, KH.M. Syaaf dan lainnya.
Kebanyakannya adalah pemimpin bekas partai Masyumi.

Pemimpin-pemimpin kecil di daerah-daerah juga ikut merasakan tekanan-tekanan. Dijauhi dan dikucilkan.

Suatu dinamika perjalanan sejarah perpolitikan di Indonesia.
Banyak partai yang telah membubarkan dirinya karena berseberangan dengan kebijaksanaan pemerintah Soekarno.
Dianggap juga berlawanan dengan Pemerintahan Orde Baru.

Diyakini pula, sebagai partai, maka umat Islam yang sangat menentang keras komunisme di Indonesia, namun tetap dianggap tidak sejalan dengan Orde Baru.
Padahal, kalau melihat perjalanan sejarah pemerintahan Orde Baru, tatkala memulai langkah pembangunan dengan menghapuskan semua paham politik komunis di Indonesia.

Semestinya, partai-partai politik yang Islam yang konsekwen itu sudah mendapatkan angin politik yang segar.
Seharusnya pula dalam perhitungan di atas kertas, Masyumi tentu bisa di rehabilitir kembali.
Alasannya sangat rasionil.
Dan, semestinya menjadi pertimbangan.
Karena, satu-satunya partai politik di Indonesia yang sejak awal berdirinya menentang paham komunisme adalah Masyumi.
Dan teman yang paling setia dalam menegakkan azas-azas berbangsa atau bernegara adalah umat Islam.

Akan tetapi, yang terjadi lain dari perhitungan.

Keluarga besar Bulan Bintang atau yang sedari dulunya akrab disebut simpatisan Masyumi telah terlanjur disebut “kontra revolusi”.
Bahkan sejak dahulu pula, di zaman Demokrasi Terpimpin atau Orde Lama telah dinamakan bekas “partai yang dilarang”.
Pemberian cap gelaran ini berjalan terus hingga berpuluh tahun.

Walaupun zaman telah berganti dengan Orde Baru, kekuatan umat Islam tetap didorong kepinggiran arena percaturan politik bangsa.
Rehabilitasi Masyumi, sampai hari ini tampaknya tetap sesuatu yang mustahil.

Beberapa pertanyaan seringkali tampil kepermukaan,
apakah rasa nasionalisme pimpinan Masyumi itu, terutama Natsir, diragukan ?

Atau, masihkah di ragukan sikap demokratisnya Natsir ?
Sudah luas dimaklumi pandangan dan pemikiran Natsir tentang “nasionalisme” dan “demokrasi”, kadangkala seiring-sejajar dengan pemikiran Barat modern.

Bahkan, sering pula ditakuti oleh orang-orang yang datang dari barat.
Bapak Mohamad Natsir menilai, nasionalisme dengan pandangan dan anggapan yang wajar.

Nasionalisme sebagai fithrah manusia untuk mencintai tanah air yang diyakini sebagai anugerah (rahmat) Allah.
Agama Islam mengajarkan agar umatnya menjaga tanah airnya sebagai suatu suruhan Agama Islam.

Nasionalisme menurut Natsir, harus mendapatkan nafas keagamaan agar tidak menimbulkan perasaan ta’ashub dan chauvinisme.
Karena itu, sejak muda, Natsir terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia menerima pandangan dalam perjuangan pembentukan sebuah negara bangsa (nation-state) adalah suatu keharusan.
Ia adalah sebuah alat yang perlu untuk merealisasikan ajaran-ajaran Islam kedalam situasi konkrit.

Bapak Mohamad Natsir sendiri memang menganut keyakinan bahwa politik harus ditundukkan kepada etika yang tinggi.

Dengan cara itu, keinginan untuk berkuasa sendiri dan “menghabisi” orang-orang tak sepaham dengan menghalalkan segala cara, harus dihindari jauh-jauh.

Salah paham terhadap Masyumi dan Dewan Dakwah memang selalu ada.
Tujuan Masyumi dalam anggaran dasarnya, memperjuangkan terlaksananya ajaran dan hukum Islam dalam kehidupan orang seorang, masyarakat, dan negara Republik Indonesia menuju keridhaan Allah.

Di samping itu dalam pandangan politiknya, Masyumi sangat konsekwen menentang komunisme dalam segala bentuk.
Dalam pandangan terakhir ini sangat sejalan dengan langkah awal Orde Baru.

Dalam perjalanan sejarah masa Orde Baru, pemerintah sangat mengutamakan kepada stabilitas keamanan.
Dengan banyak menerapkan dwifungsi ABRI.
Kondisi ini sangat dirasakan dalam berbagai sektor lembaga pemerintahan.

Dalam era “Orde Baru” peran politik Islam menjadi makin lemah.
Umat Islam dan sektor sipil pada umumnya tidak lagi mempunyai peranan dalam proses pengambi¬lan keputusan di Indonesia.

Semakin jelas kekuasaan hampir secara penuh dipegang oleh golongan birokrat baik sipil maupun militer, terutama melalui Golkar.

Dua partai lainnya hanya berfungsi sejauh tidak menggangu sistem yang telah diciptakan.
Beberapa ciri utama Orba terlukiskan dalam berbagai fenomena,

Pertama, Peranan militer sudah melimpah di-berbagai bidang, terutama dibidang politik dan birokrasi.
Dan jabatan jabatan, sejak dari bupati sampai gubernur dan sel sel birokrasi penting telah diisi oleh militer.

Kedua, Kekuasaan negara dibidang ekonomi adalah besar, di samping itu, sektor swasta sangat kentara dimonopoli oleh pemilik pemilik modal kuat dengan elite politik sebagai pelindungnya .

Ketiga, Tidak saja Golkar dan Parpol, melainkan juga seluruh organisasi massa, termasuk organisasi organisasi keagamaan yang harus berazas tunggal.
Yaitu asas tunggal Pancasila.

Dan, lebih jauh lagi Pancasila itu sakti dan sakral.
Mesti dicantumkan dalam setiap asas dan dasar suatu organisasi.
Walaupun kenyataannya, sering ditemui yang men-cantumkan asas Pancasila itu, berkelakuan politik yang bertentangan dengan Pancasila sendiri.
Seperti dalam contohnya, menjadikan organisasinya sebagai sarang dari kolusi dan korupsi.

Akibat langsung dirasakan bahwa pemaksaan kehendak kepada rakyat kecil, dirasakan telah menjauhkan masyarakat dari pemerintahnya.

Pada situasi seperti ini, Pancasila hanya seakan sebagai mantel.
Tidak lagi dijadikan falsafah hidup yang semestinya direalisasikan dalam kehidupan berbangsa.

Sangatlah ironis, bahwa organisasi agama juga tidak diperbolehkan berazaskan agamanya.
Ini telah menunjukkan bahwa para penentu proses sosial secara sadar atau tidak telah bertekad memasuki full grown sekularisme.

Keempat, dalam bidang agama di tingkat massa rakyat dan jabatan jabatan strategis di berbagai Departemen dan Pemerintah Daerah terasa dominasi golongan minoritas tertentu yang mengganggu rasa keadilan masyarakat luas.

Kelima, adanya usaha de-Islamisasi.
Pada era reformasi, yang di ubah barulah kulit pembungkus.
Esensi kekuasaan masih akan bertahan pada kelompok yang mengandalkan kekuatan besar, mungkin masih menjauh dari kebenaran dan keadilan.
Kekuatan Islam masih sangat dicemaskan.

Status quo kekuasaan baru masih tetap menjadi bahaya latent terhadap umat Islam.

Pada akhirnya, pendekatan pendekatan security terasa sangat menonjol, sehingga rasa tanggung jawab dan partisipasi masyarakat menjadi terhambat.

CR Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir dalam “Dakwah Komprehensif”, Bagian Gerak Langkah Dakwah Membangun Negeri, oleh HMas’oed Abidin

Comments (1)

Hidupkan Dakwah Bangun Negeri (Bagian ke-II)

Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Membentuk Perwakilan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia
Sumatera Barat, selangkah Menuju Rumah Sakit Islam Ibnu Sina

HIDUPKAN DAKWAH,
BANGUN NEGERI

Oleh : H Mas’oed Abidin

Dewan Dakwah yang baru berumur lima belas bulan (27 Februari 1967-15 Juni 196 8) pada saat itu, merupakan satu lembaga dakwah yang sangat dihar¬apkan sebagai tumpuan pembentengan aqidah umat.

Bapak DR. Mohamad Natsir dalam pertemuan dengan ahlul qurba yang merupakan inner circle perjuangan Islam dan dalam upaya mengangkat harga diri umat di daerah selalu mendengar keluhan tentang pesatnya gerakan misionaris.

Lebih-lebih sejak masa orde lama telah terkondisi seakan dibuka peluang kepada gerakan missionaris atas dukungan orang-orang komunis (PKI).
Bahkan setelah PKI dihapuskan sebagai satu-saatunya tuntutan hati nurani rakyat ditahun 1966, orang-orang Komunis yang lari ketakutan mencoba berlindung di balik dinding lonceng-lonceng gereja, setidak-tidaknya inilah yang terjadi di Pasaman Barat.

Kondisi Masyarakat yang runyam ini, menurut Bapak DR. Mohamad Natsir hanya mungkin diperbaiki dengan amal nyata.
Bukan hanya dengan semboyan-semboyan yang kadang kala bisa memancing sikap apatime masyarakat atau perlawanan terhadap kebijakan penguasa di daerah.

Karenanya Bapak DR. Mohamad Natsir selalu me-nasehatkan supaya kaedah yang selama ini telah dimiliki oleh umat Islam yaitu ukhuwah dan persatuan mesti dihidupkan kembali.

Di antaranya, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DEWAN DAKWAH) Perwakilan di daerah Tk.I propinsi Sumatera Barat, yang diresmikan sendiri oleh Bapak DR. Mohamad Natsir di Gedung Nasional Bukittinggi, pada tanggal 15 Juli 1968.

Pertemuan bersejarah ini dihadiri oleh hampir seluruh ulama Sumatera Barat, yang sejak dari awal memang telah tergabung di dalam Majelis Ulama Sumatera Barat.

Bahkan juga dihadiri oleh para ninik mamak, pemangku adat.
Diikuti pula oleh seluruh pemuka masyarakat, dari berbagai lapisan, bahkan dari desa-desa terpencil.

Para undangan, sengaja datang berduyun-duyun menyambut kehadiran pemimpin pulang.

Antusias hadirin waktu itu terlihat secara spontan.
Tidak ada satu kursi pun yang kosong.
Tidak ada tempat yang lowong yang tak diisi.
Malahan banyak para hadirin yang hanya bias berdiri, atau hanya dapat duduk di lantai.

Resminya Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DEWAN DAKWAH) Perwakilan Sumatera Barat, sebagai perwakilan pertama di daerah di luar DKI Jakarta.

Programnya adalah mewujudkan lima program pokok dakwah komprehensif di Sumatera Barat.

Di antaranya, membangun Rumah Sakit Islam, sebagai antisipasi terhadap gerakan pemurtadan yang dilakukan oleh pihak Salibiyah.

Kepengurusan pertama dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DEWAN DAKWAH) di Sumatera Barat, dinakhodai oleh ulama-ulama kharismatik seperti Buya H. Mansur Daud Dt. Palimo Kayo bekas Duta besar RI di Irak.

Buya Datuk adalah bekas Ketua Umum Masyumi Sumatera Tengah.
Pada tahun 1968 Buya Datuk Palimo Kayo telah menduduki jabatan sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Sumatera Barat.

Kepengurusan Dewan Dakwah Sumatera Barat ini diperkuat oleh Buya Haji Nurman, Buya Haji Anwar, Buya Haji Marzuki Bakri Datuk Rajo Sampono, Buya Fachruddin Hs. Datuk Majo Indo.

Dari kalangan muda seperti Mazni Salam Datuk Paduko Intan, Djoefry Sulthany, Muhammad Sa’id Tuanku Sulaiman (kemudian menyandang gelar sako Datuk Tan Kabasaran), Chazanatul Israr, Ibu Ratnasari, dan Asma Malim dan lain-lain.

Kenyataannya, memang penggerak pertama Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DEWAN DAKWAH) di Sumatera Barat adalah Keluarga Besar Bulan Bintang.

Tidak pula dapat dibantah bahwa mereka adalah orang-orang yang aktif dalam setiap gerak perjuangan Agama dan Bangsa.

Sejak masa yang jauh.
Dalam jalan panjang yang telah ditempuh sejarah daerah ini, sebelum Republik Indonesia diproklamirkan, mereka telah dikenal sebagai pejuang gigih.
Malah, di antaranya ada yang berada pada barisan Perintis Kemerdekaan.

Akan tetapi masih ada saja kalangan yang berpandangan sinis.
Membandingkan, bahwa diantara pengurus-pengurus pertama Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumatera Barat yang diresmikan oleh Bapak DR. Mohammad Natsir tersebut oleh sebagian kalangan dicap sebagai bekas pemberontak PRRI. Atau setidak-tidaknya simpatisan PRRI.

Keberadaan Keluarga Bulan Bintang dan bekas PRRI di Sumatera Barat waktu itu sebagai jawaban dan konsekwensi logis dari anti Komunis.

Keluarga Bulan Bintang dan PRRI jelas-jelas merupakan satu kelompok yang memiliki ciri-ciri khas (mumayizat) sebagai kelompok anti Komunis.
Jauh sebelum adanya angkatan ’66 atau bangkitnya orde baru.

Selama 41 tahun Dewan Dakwah berkiprah dengan langkah yang pasti dan sangat konsistern.
Kiprah dakwahnya terlihat dalam semboyan dan gerakan Risalah Memulai Dakwah Melanjutkan.

BAI’ATUL QURBA

Bai’atul Qurba atau bai’at kekeluargaan adalah kelanjutan pesan dari “pemimpin”. Memang inilah bukti yang nyata dari kebenaran Firman Allah Subhanahu wa ta’ala :
“Dan orang-orang yang bekerja sungguh-sungguh pada (jalan) kami, sesungguhnya kami akan pimpin mereka di jalan-jalan kami: dan sesunggunya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebaikan” (Al-Ankabut 69).

Dakwah bukanlah kepintaran baru.
Tidak pula rahasia yang pakai patent, tak boleh dicontoh ditiru.
Kepandaian yang sudah lama ada, terbuka bagi siapapun untuk mempelajarinya. Asal saja orang dapat merasakan nilai dan kepentingannya, mempunyai daya inisiatif dan imagination (daya cipta), tentu akan dapat mempergunakannya.

Begitu pula, kepintaran membina masyarakat dari bawah. Kepandaian-kepandaian ini sederhana sekali.
Mengajarkan umat mengolah halaman keliling sebagai tempat yang menghasilkan, sehingga terbentuk kemandirian, tidak tergantung kepada menengadahkan tangan pada orang lain.

Membangun ekonomi dari bawah.
Begitu pulalah proses mempertinggi kesejahteraan hidup, yang bernama proses pembangunan ekonomi itu.

Procesnya bisa dipercepat, tetapi dia mempunyaii undang-undang bajanya sendiri, yang tak dapat tidak, harus dijalani.
Ini seringkali pada umumnya, dilupakan orang, dengan segala akibat yang mengecewakan.

Daerah tempat kita bekerja itu terkenal sebagai daerah yang kaya dengan sumber alam.

Tetapi kecenderungan penduduknya, di bidang ekonomi ialah kepada mencahari nafkah dengan memindah-mindahkan barang dari satu tempat ke tempat yang lain. Adapun menghasilkan barang belum cukup mendapat perhatian.
Padahal sumber kemakmuran yang asasi adalah produksi, yakni menghasilkan barang. Ini seringkali “dilupakan” pula.

Latar belakang dari usaha kita ini ialah merombak tradisi pikiran tersebut dan membuka jalan baru.
Memulai dari urat masyarakat itu sendiri.
Dengan cara-cara yang praktis.

Amaliyah sepadan dengan kekuatan mereka.
Serentak disertai dengan membangun jiwa dan peribadi mereka.
Sebagai satu umat yang mempunyai wijhah.
Memiliki falsafah dan tujuan hidup yang nyata.
Masyarakat yang mempunyai shibgah, corak kepri-badian yang terang.

Dalam rangka yang agak luas, dengan istilah yang gagah, dinamakan “satu aspek dari Social Reform”.
Begitulah hakekatnya.

Kalau sekedar soal mencari kaya, rasanya orang Minang tak usah payah-payah benar mengajarnya lagi.
Pada umumnya, mereka cukup mempunyai inteligensi dan daya gerak. Juga kalau sekedar memperpesat kegiatan produksi yang ekffektif di Minangkabau, dalam arti ekonomis semata-mata, tidak usaha payah-payah benar.

Tetapi seringkali, nasib kita tak ubah dari nasib induk ayam menetaskan telor itik. Sebab itu, pekerjaan ini mempunyai aspek lain, dan menafaskan jiwa lain.
Kita berusaha di urat masyarakat.

Menumbuhkan kekuatan terpendam dikalangan yang lemah.
Kita ingin berhubungan dengan para dhu’afa dalam bentuk yang lain dari pada ; “meminta nasi bungkus”.

Selain daripada itu pekerjaan kita ini adalah di dukung oleh cita-cita hendak menjelmakan tata-cara hidup kemasyarakatan yang berdasarkan :

a. hidup dan memberi hidup, (ta’awun) bukan falsafah berebut hidup;

b. tanggung jawab tiap-tiap anggota masyarakat atas kesejahteraan lahir batin dari masyarakat sebagai keseluruhan dan sebaliknya (takaful dan tadhamun);

c. keragaman dan ketertiban yang bersumber kepada disiplin jiwa dari alam, bukan lantaran penggembalaan dari luar;

d. ukhuwwah yang ikhlas, bersendikan Iman dan Taqwa ;

e. keseimbangan (tawazun) antara kecerdasan otak dan kecakapan tangan, antara ketajaman akal dan ketinggian akhlak, antara amal dan ibadah, antara ikhtiar dan do’a.

Ini wijhah yang hendak di tuju.

Ini pula shibghah yang hendak di pancangkan

Tidak seorangpun yang berpikiran sehat di negeri ini yang akan keberatan terhadap penjelmaan masyarakat yang semacam itu.
Suatu bentuk dan susunan hidup berjama’ah yang diredhai Allah yang dituntut oleh “syari’at” Islam, sesuai dengan Adat basandi Syara’ dan Syara’ nan basandi Kitabullah.

Kita sekarang merintis, merambah jalan guna menjelmakan hidup berjama’ah sedemikian yang belum kunjung terjelma di negeri kita ini, kecuali dalam khotbah alim-ulama, pepatah petitih ahli adat, dan pidato para cerdik cendekia.

Kita rintiskan dengan cara dan alat-alat sederhana tetapi dengan api cita-cita yang berkobar-kobar dalam dada kita masing-masing.
Ini nawaitu kita dari semula.
Kita jagalah agar api nawaitu jangan padam atau berubah di tengah jalan.

Demikian antara lain pesan Bapak DR.Mohamad Natsir, dalam setiap pertemuan beliau dengan umat di Sumatera Barat.

Nilai amal, besar atau kecil, terletak dalam niat yang menjadi motif untuk melakukannya.

Tinggi atau rendahnya nilai hasil yang dicapai sesuai pula dengan tinggi atau rendahnya mutu niat orang yang mengejar hasil itu.

Amal yang sudah maupun yang akan datang akan kering dan hampa, sekiranya amal lahirnya dilakukan, tetapi tujuan nawaitunya di anjak.
Hindarilah, jangan sampai kehilangan nawaitu di tengah jalan,

Andaikata kelihatan tanda-tanda akan kehilangan nawaitunya, maka kewajiban adalah memanggil kembali.
Agar jangan sampai terseret hanyut oleh arus pengejaran benda yang berserak bertebaran semata.
Bila cepat terpintasi, Insya Allah, umat akan masuk shaf kembali.

Keadaan masing-masing tidak banyak berbeda dari keadaan umat yang hendak di rintiskan jalannya itu.
Sebab masing-masing kita adalah sebahagian dari mereka juga.

Maka tidaklah salah, berkat kemurahan Ilahi akan turut merasakan bahagia tertinggi, apabila dapat melihat ribuan dapur berasap karenanya.
Sedikit sama di cacah, banyak sama di lapah.

Tak ada bahagia dalam ke-kenyangan sepanjang malam, bila si-jiran setiap akan tidur diiringi lapar.
Dalam rangka inilah harus dipahamkan apa yang terkandung dalam kalimat-kalimat sederhana dari “bai’atul qurba”, bai’at kekeluargaan yang hendak di- ikrarkan ini. Membangun amal jama’ie, termasuk Rumah Sakit Islam Ibnu Sina di Sumatera Barat.

Tekad ini yang akan membimbing kita dalam menerjemahkan bai’atul qurba ini ke dalam amal dan perbuatan, yang ditujukan kepada keridhaan Allah jua.

Begitu Pak Natsir mulai merintiskan melalui rintisan qalbu, sebagai landasan ibadah rohani.

B i s m i l l a h !

Dari sini kita mulai !

Semakin dipelajari, semakin nampak persoalan-persoalan yang dihadapi, semakin terasa kesulitan yang harus dilalui.

Semuanya dilalui dengan memperoleh ber-bagai pengalaman-pengalaman berharga yang mahal, disirami dengan keringat dan air mata, sehingga dengan demikian itu tumbuhlah dalam hati ;

“rasa berpantang putus asa,
bertawakkal dalam melakukan kewajiban,
sepenuh hati, jangan setengah-setengah,
dengan tekad,
tidak terhenti sebelum sampai,
yang ditujukan kepada keridhaan Allah jua”.

Prinsip ini mengawali berdirinya Balai Kesehatan Ibnu Sina di Bukittinggi, walau pada mulanya hanya sekedar akan bernama Balai Kesehatan Dakwah di Sumatera Barat.

Namun, karena mengerjakan sesuatu tidak setengah-setangah, selalu dengan tekad sepenuh hati, maka Balai Kesehatan Ibnu Sina oleh Yayasan Rumah Sakit Islam (YARSI) Sumatera Barat, menjadi cikal bakal lahirnya Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Yarsi Sumbar, hingga hari ini.

Insya Allah, hingga akhir masa. 


CR. Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir dalam Dakwah Komprehensif, dibawah judul “Hidupkan Dakwah Bangun Negeri”, Bagian ke II, oleh Buya H Mas’oed Abidin

Comments (1)

Hidupkan Dakwah Bangun Negeri

Gagasan Menghidupkan
KIPRAH DAKWAH

“PEMIMPIN PULANG” …..,

Oleh : H. Mas’oed Abidin

14 JUNI 1968, udara pagi yang cerah di Lapangan Udara Tabing Padang, pintu gerbang ranah Minang, kembali hidup. Setelah hampir satu dasawarsa berada dalam cengkeraman “Orde Lama” merasa terbebas dari rasa tertekan dan hilangnya harga diri.

Hari itu, baru 2 tahun setelah “Orde Baru” di-canangkan dibawah kepemimpinan Soeharto, setelah lahir TRITURA, massa rakyat sangat mendambakan suasana baru. Masyarakat mulai bernafas baru, terbebas dari segala macam tekanan yang selama ini terasa berat menghimpit. Terutama dirasa berada dibawah sistem komunis PKI.

Sekarang, ditahun 1968 masyarakat ter-panggil kembali untuk membangun kampung halaman.

Jam menunjukkan jarum waktu 08.15 WIB pagi itu, disaat pesawat Electra GIA mencecah landasan dengan mulus.

Membawa di dalamnya Bapak DR. Mohamad Natsir dan Umi Nahar, yang berkunjung ke Sumatera Barat atas undangan Gubernur Sumbar Prof. Harun Zain dan Walikota Padang Kolonel Maritim Akhirul Yahya.

Pemimpin Pulang, Bapak DR. Mohamad Natsir melangkah dengan kepada tegak.

Dengan kecerahan menatap kedepan.
Menyiratkan optimisme yang tinggi.
Tumbuhkan pembangunan masyarakat Sumatera Barat di Ranah Minang.
Inilah tugas berat kedepan.

Beliau pulang, diundang melanjutkan perjuangan.
Dalam rangka merangsang semangat umat yang tadinya telah hampir padam untuk bersama membangun kampung halaman.

Bapak Gubernur Harun Zain, menyebut dengan kata kunci yang pas “mengangkat harga diri” masyarakat Minang.

Program ini, bukan program dadakan.
Sebagai-mana lazimnya mengambil hati orang pusat.
Sama sekali tidak.

Bahkan semua pihak sangat menyadari, bahwa tidak akan ada satupun rencana pembangnunan bisa jalan, manakala masyarakat diam apatis.

Beliau disambut dengan panggilan “orang tua kita”.
Hampir seluruh daerah Tingkat II dalam daerah Sumatera Barat sempat didatangi Bapak DR. Mohamad Natsir.

Dalam setiap pembicaraan dengan umat, tujuannya hanya satu.
Mendorong umat memulai kembali membangun negeri yang bermuara dari lubuk hati. 

TASYAKUR NIKMAT

Saat itu, kita sedang berada dalam suasana tasyakur nikmat.
Kalaulah tidak lantaran Karunia Ilahi, tidaklah terbayang sama sekali, bahwa kita akan dapat mencapai apa yang tercapai sampai sekarang ini.

Apalagi, bila kita mengingat kembali betapa besar-nya kesulitan yang harus kita lalui.
Disertai pula dengan banyaknya intimidasi dan tekanan-tekanan yang pernah dirasakan.

Di samping besarnya kecurigaan yang sudah ditimpakan kepada umat Islam, di daerah ini.
Terutama di dalam mengangkat amal-amal khirat untuk umat ini.

Maka peristiwa pagi itu, tidak dapat tidak merupakan lembaran baru dari umat di ranah ini.

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamien ….,

Inilah bukti yang nyata dari kebenaran Firman Ilahi itu.
“Jika kamu mensyukuri maka AKU akan menam-bahnya untuk kamu. Dan, jika kamu menolak, maka sesungguhnya azab KU sangat pedih”.

Kalau hari itu, di kala kedatangan Bapak DR. Mohamad Natsir pulang ke Padang, suasana kita tengah memperingati 5 tahun usianya Yayasan Kesejahteraan.

Senyatanya hakekat dari amal usahanya sudah lebih tua dari usianya sendiri.

Idea atau pemikiran pengembangan amal umat itu, sudah mulai digulirkan sejak berapa tahun sebelum amal itu bernama Yayasan Kesejahteraan.

Titik tolak dari usaha ini berasal dari pertemuan pemimpin umat di Padang Sidempuan.
Dalam pertemuan sekembali dari suasana sulit, dan bahkan selalu diawasi gerak langkah, para pemimpin umat telah menggariskan langkah-langkah untuk membangun kembali Sumatera Barat.

Ranah Bundo, atau ranah Minang, diakui secara nyata, baru saja keluar dari situasi per-golakan daerah.
Orang, masih takut-takut.

Pergolakan, memang membekaskan luka-luka yang terkoyak oleh perang saudara. Semasa rezim Soekarno, luka itu sangat dalam dirasa selang 2½ tahun lamanya. Banyak luka yang harus ditambal.
Banyak sakit yang harus diobati.
Banyak pula keruntuhan yang harus dibangun.

Menghidupkan kembali api “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”, yang telah mulai digerogoti dari banyak penjuru.
Langkah-langkah yang digariskan itu, tersimpul erat kepada bagaimana menghadapi:

• penyaluran tenaga-tenaga terpelanting, baik ia rakyat pengungsi yang kehilangan sumber hidup, maupun mahasiswa pelajar yang terputus pelajarannya.

• perumahan rakyat yang hangus terbakar

• sumber ekonomi rakyat desa yang tertutup jalan

• luka hati rakyat yang merasa kehilangan tempat mengadu

• kehancuran pendidikan agama.

Jauh sebelum pemimpin pulang, bulan Nopember 1961, telah berlangsung satu pertemuan di Medan.
Pertemuan itu, dipelopori oleh Bapak DR. Mohamad Natsir, Brigjen A.Thalib, Dr. Darwis, Mawardi Noor.

Dari pertemuan itu lahir satu pandangan yang sama.
Bahwa, upaya untuk membangun kembali Sumatera Barat waktu itu harus dengan menggerakkan anak kemenakan putera Minang dan daerah, yang banyak jumlahnya dan bertebaran diperantauan.

Sebagai wadahnya diambillah kebijaksanaan membentuk yayasan yang bernama Yayasan Tunas Harapan.

Kemudian berubah menjadi Yayasan Harapan Umat.
Sejak awal berdirinya diketuai oleh Mr. Ezziddin.

Dalam pada itu, sebagian di antara keluarga Qurba, sudah bertekad pula untuk tinggal di daerah Sumatera Barat, membangun negeri.

Keluarga Qurba, adalah keluarga dekat, yang selalu merasa keterdekatan hati dengan keluarga di kampung halaman.
Sungguhpun setiap saat hidup dan penghidupan mereka banyak dihabiskan di rantau.

Merantau, bagi keluarga Qurba, sama sekali bukan melarikan diri.
Tidak pula menyingkir karena dendam atau benci.
Merantau, hanyalah semata pengamalan dari kaedah pepatah di Ranah Bundo

“Karatau madang dihulu, babuah babungo balun.
Marantau buyuang dahulu, (disaat) dirumah (kampung halaman) paguno balun”.

Walaupun segala akibat harus dilalui, tekad hanya satu.
Berusaha dengan sepenuh hati menurut kemampuan yang ada.
Sesuai dengan kondisi dan situasi yang sedang dialami pada tiap-tiap waktu itu.

Dengan bantuan dari keluarga Bulan Bintang dan dari para perantauan di Pekanbaru, Medan, Padang Sidempuan dan Jakarta, akhirnya terwujudkan juga cita-cita.

Seberat-berat apapun beban dipundak, niscaya akan dirasakan ringan, selama dipakaikan kaedah “berat sepikul ringan sejinjing”.

Langkah pertama, kaum ibu yang sejak lama ter-gabung dalam amal Muslimat Keluarga Besar Bulan Bintang, di antaranya digerakkan oleh Saudara Syarifah Dinar dan Asma Malim, telah berhasil menghimpunkan bingkisan-bingkisan mawaddah fil qurba berupa kain, pakaian dan uang.

Mawaddah fil qurba, dijadikan semacam jembatan serasa sepenanggungan, sebagai inti dari mengamalkan adat nan basandi syarak, syarak basandi Kitabullah juga.

Bingkisan yang sudah dikumpul langsung diantarkan kepada para keluarga korban perjuangan di beberapa tempat terserak yang dapat dicapai di Sumatera Barat. Terjalinlah kembali ta’ziyah fil qurba dengan surat pengantar Bapak DR. Mohamad Natsir.

Dengan pedoman yang digariskan secara rinci oleh Bapak DR. Mohamad Natsir untuk maksud mengumpulkan kerikil-kerikil ter-pelanting akibat pergolakan.

Maka amal-amal nyata yang telah mulai digerakkan itu, dilanjutkan kearah mencari lapangan pekerjaan bagi tenaga-tenaga terpelanting tersebut.

Tentu, disesuaikan menurut bakat dan kemampuan mereka masing-masing juga. Umumnya usaha ini menemui berbagai kesulitan. Secara psikologis, umat masih diliputi oleh rasa takut.

Alasan yang sering terdengar tampil adalah demi menjaga keamanan diri yang bersangkutan.
Akibatnya banyak amalan yang tak berani muncul.

Namun demikian, dalam jumlah yang sangat sedikit, dapat juga berhasil.
Hasil ini pada umumnya adalah karena “faktor hubungan” keluarga dan famili antara yang “menerima” dan yang “memberi”.

Dalam kaedah “singkek uleh mauleh kurang tukuak manukuak”.

Didorong rasa tanggung jawab terhadap kampung halaman, yang baru keluar dari kancah pergolakkan, maka putera yang benar cinta kampung halaman negerinya, pastilah ingin turun tangan membangun kembali kampung negerinya itu.

Usaha kearah itu dengan menumbuhkan perhatian menggerakkan perantau- perantau.
Guna menyalurkan bantuannya untuk mendorong kembali kehidupan rakyat.

Kerja yang tidak kecil artinya, adalah menghubungi mereka serta memanggil hati mereka, dalam berusaha membangun kampung dan negeri dari tanah perantauan.

Lebih jauh yang diniatkan adalah timbulnya “percaya diri” (self confidence) dalam arti strategi yang menyatu, yaitu “strategi harga diri” yang lebih sering disebut oleh Bapak DR. Mohamad Natsir dengan izzatun nafsi sebagai buah nyata dari pan-dangan hidup ajaran tauhid (Tauhidic Weltans-chaung).

Melanjutkan usaha ini Bapak DR. Mohamad Natsir terus menerus membekali dengan pedoman dan petunjuk-petunjuk.
Hal tersebut telah digoreskan Beliau, lama sekali.
Walau di saat diri Beliau tengah berada dalam karantina politik dari rezim “orde lama”.
Garisan yang sebenarnya merupakan pandangan bersama para pemimpin-pemimpin umat yang lainnya juga.

Sebenarnya, dalam setiap menentukan sikap para pemimpin umat itu, tidak pernah meninggalkan prinsip musyawarah.
Begitu selalu dilakukan dengan Bapak Syafruddin Prawiranegara, Bapak Burhanuddin Harahap, Buya Duski Samad, dan lain-lainnya.

Ide membangun dari rantau yang diketengahkan Bapak DR. Mohamad Natsir disambut baik.
Tidak hanya para dermawan, dengan menyanggupi untuk membantu melapangkan jalan dalam usaha-usaha yang tengah dilakukan.
Tetapi juga oleh para pemikir, pengetua kampung halaman.

Sehingga dengan nyata melahirkan pusat pemikir dan penggerak kampung halaman dari rantau.
Yang setiap masa bisa dikembangkan sesuai kebutuhan, baik secara partial maupun global.
Tumbuhlah semacam center of exelence untuk Ranah Minang.

Adalah suatu keniscayaan belaka, bahwa “mencapai kemakmuran rakyat banyak ditentukan kepada kerajinan tangan dan usaha rumah tangga”.
Memulai program sederhana melalui keterampilan tangan (handy-craft), perindustrian tikar mendong ataupun persuteraan.
Ditumbuhkan melalui beberapa program latihan dan pengenalan.
Idea ini mulai dilaksanakan tahun 1962.

Awal tahun 1963, selesai masa pelajaran, beberapa tenaga terlatih pulang ke kampung masing-masing.
Mereka pulang, dengan dibekali amanat.
Supaya kepandaian praktis yang telah diperdapat, hendaklah membekali diri dan untuk meningkatkan mutu masyarakat.

Di kala itu Bapak DR. Mohamad Natsir sudah pindah ke Batu, Malang.

Merencana sambil tasyakur nikmat atas bebasnya Ibu Hajjah Rahmah El Yunusiyah di Padang Panjang dari karantina politik orde lama, telah mempertemukan teman, guru dan bekas murid.

Lazimnya, pertemuan dikalangan keluarga seperti itu, telah membuahkan ke-sepakatan dari hati ke hati untuk kemudian dipindahkan ketangan.
Berbentuk amal nyata.
Beberapa ilmu pengetahuan praktis yang telah didapat di Jawa Barat, yakni sutera alam dan tikar mendong harus dikembangkan di Sumatera Barat, melalui kursus-kursus dan latihan-latihan.

Pertama kalinya dilakukan pada tanggal 15 April sampai dengan 15 Mei 1963 di Balingka, dengan diikuti oleh 20 orang ibu-ibu Muslimah.

Dari sini, kelak tumbuh ber-kecambah membentuk Badan Penyantun terutama bagi menyambut lahirnya dan menjadi penggerak untuk percepatan pembangunan serta perwujudan idea Rumah Sakit Islam Ibnu Sina, YARSI Sumatera Barat.

Bayangan masa depan yang menyeruak penuh harapan di antara tekanan diktator yang dikendalikan oleh PKI dimasa lalu, tetap merayap dari sudut ke sudut hati umat.
Perasaan dan pengalaman itu melecut semua untuk membentuk masa depan yang lebih aman dan tenteram.
Walaupun juga barangkali dirasakan, bahwa di antara hal-hal itu ada yang demikian barunya.
Sehingga sukar.
Malah rasa-rasa tak mungkin dapat mencapainya.
Akan tetapi, gerakkan tangan, Allah akan turunkan rezeki.

Semboyan amalan kita ialah :
• Yang m u d a h sudah dikerjakan orang
• Yang s u k a r kita kerjakan sekarang
• Yang tak mungkin kita kerjakan besok
• Dengan mengharapkan hidayat Ilahi

“Katakanlah: Wahai kaumku, berbuatlah kamu sehabis-habis kemampuan-mu, akupun berbuat” !

Itulah bunyi semboyan yang menjadi pesan Bapak DR. Mohamad Natsir dalam pedoman pemulihan tenaga terpelanting, sedari dulu di pertengahan November 1961.

Usaha-usaha mempelajari pengetahuan praktis itu, tidaklah hanya dicukupkan dengan apa yang telah dilaku-kan oleh rombongan pria.

Akan tetapi, kalangan perempuan merasakan pula pentingnya dipelajari dalam mempertinggi kesejahteraan hidup di rumah tangga.

Hubungan kerjasama sesama keluarga mesti ditingkatkan.

Pemeliharaan hubungan melalui beragam usaha seperti yang telah dilakukan oleh Djanamar Adjam dengan H.M. Miftah sekeluarga di Pasar Minggu, sejak November 1963, dengan memperkenalkan cara pembibit-an dan penanaman Tanaman Holtikultura, telah membawa perubahan baru bagi kehidupan pertanian di desa.

Termasuk juga pembekalan dengan pengetahuan penganyaman topi bambu di desa Cangkok Tangerang.
Demikian pula mempelajari penanaman padi dan jagung ke Lembaga Padi dan Jagung di Bogor.

Bagi kalangan “bundo kanduang” kaum ibu di desa-desa yang selalu bergeluit dengan pertanian dan pengolahan alam, maka, pengetahuan sederhana yang disebutkan itu sangat penting dikembangkan.

Tentunya, melalui latihan-latihan praktis.

Pengenalan bibit harapan, penggunaan pupuk yang tepat, percobaan penanaman pertama, sampai kepada praktik pembibitan sayur mayur dimulai dari penanaman bibit “bayam hikmat” (bapinas astunensis) yang dikirimkan dari wisma peristirahatan Ashhabul qafash, di tengah mana Bapak DR. Mohamad Natsir ditahan di Rumah Tahanan Militer di Jakarta.

Disemai tanamkan pula dilingkungan keluarga.

Maka tidaklah salah, mungkin berkat kemurahan Ilahi, “bibit yang halus” yang disemaikan dengan baik, dipelihara dengan tekun dan sabar, akan memberikan hasil yang baik dan bermanfaat.
Apalagi bila disimak pesan yang menyertai di secarik kertas kecil dari balik dinding tahanan pada Desember 1963.

Pesan itu tertuilis, “sesudah dipotong makin bercabang”.
Suatu kata bersayap, berisikan ajakan yang selalu dirasa nikmat oleh setiap keluarga yang menerima.
Sebagai amanat yang harus dipelihara dalam kerangka “bai’atul qurba’ itu.

Salah seorang dari keluarga besar, bernama Buya Haji Bakri Suleman dari keluarga bangsawan Rokan Kabupaten Kampar di Pekanbaru mengungkapkan pesan pemimpin ini dengan pengertian “kuunuu ..bayaaman..”,

Semboyan amal ini merupakan buhul makin erat, setiap saat menjadi pendorong untuk mengangkat amal-amall nyata betapapun beratnya.
Kelak dikemudian hari, Buya Haji Bakri Suleman, bersama dengan teman-teman beliau, seperti Haji Zaini Kunin, Haji Rawi Kunin, Soeman Hs, Ibu Hajjah Syamsidar Yahya, Syamsidar Djoefri, Tengku Djalil, Ibu Hajjah Khadijah Ali, Haji Moeslim Roesli, Dr, Haji Rasanuddin, Moeslim Kawi, dan banyak lagi lainnya.

Dengan mengamalkan falsafah “sesudah dipotong makin berkecambah”, maka tenaga-tenaga tersebut itu, kemudian hari dapat menelorkan amal khairat yang nyata di Pekanbaru dan daerah Riau.

Di antara amal itu adalah, Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Riau yang melahirkan Universitas Islam Riau (UIR).
Mempelopori mandirikan masjid-masjid, membentuk Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Perwakilan di Propinsi Riau.

Para pemimpin umat yang melanjutkan cita-cita Bapak DR. Mohamad Natsir ini sangat banyak bertebaran, dimana-mana.

Di Propinsi Riau umpamanya perhatian tertuju kepada keadaan suku terasing, seperti Suku Sakai dan Suku Laut yang terdapat dipropinsi tersebut.

Di Sumatera Barat perhatian sama darahkan ke Kepulauan Mentawai.
Begitu pula, ikut aktif dalam mendirikan Rumah Sakit Islam IBNU SINA Yarsi Riau, setelah berdiri di Sumatera Barat Yayasan Rumah Sakit Islam yang melahirkan Rumah Sakit Islam IBNU SINA di Bukittinggi. Semuanya, berupa amal-amal khairat yang nyata dan telah dinikmati oleh umat keberadaannya.

Pada pertengahan tahun 1968, selama hampir satu bulan Bapak DR. Mohamad Natsir selaku Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia berkeliling di Sumatera Barat (15 Juni - 15 Juli 1968).

Beliau berkeliling mendatangi jama’ah hampir pada setiap daerah tingkat II.
Sejak dari Pesisir Selatan hingga Pasaman, mulai dari Padang hingga Talawi dan Sijunjung.
Menghidupkan kembali jiwa yang telah diam hampir mati dan mata yang kuyu tanpa harapan.

Melalui taushiah yang amat berharga, secara berangsur tetapi pasti, harapan umat kembali menggeliat hidup menyambut himbauan “pemimpin pulang”.

Bapak DR. Mohamad Natsir, pemimpin pemandu umat Islam Indonesia, adalah bekas Perdana Menteri Pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang di kenal dengan “mosi integral Natsir”.

Beliau termasuk pendiri Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, disamping telah lama terpilih sebagaii Wakil Presiden Muktamar Alam Islami.

Beliau juga adalah bekas Ketua Umum Partai Masyumi yang telah dibubarkan oleh pemerintahan Presiden Soekarno pada tahun 1960.

Lepas dari segala atribut yang melekat pada diri Bapak DR. Mohamad Natsir itu, beliau diranah Minang ini adalah ninik mamak, yang bergelar sako Datuk Sinaro Panjang, dari Maninjau.

Walaupun beliau dilahirkan ke bumi di dusun kecil Jembatan Berukir Batu Begirik Alahan Panjang Desa Tigo Sepakat Lembah Gumanti di Kabupaten Solok.

Dalam setiap pertemuan, baik di tanah lapang ataupun di ruang-ruang sekolah dan masjid-masjid yang Beliau datangi, selalu berpesan supaya setiap pribadi pemimpin selalu memiliki sikap teguh (istiqamah) dalam pendirian.

Di saat para pemimpin pejuang beranjak pulang kembali dari jihadnya.
Mesti kembali lagi berjuang menghidupkan jiwa umat.
Agar jiwa umat selalu terjaga ruhnya tetap hidup. Bapak DR. Mohamad Natsir, telah pula mengingatkan dengan ungkapan yang teramat politis dan puitis, tentang kriteria pemimpin yang pulang itu.

“Empat cara, pulang bagi Pemimpin dari Perjuangan.
Dia pulang dengan kepala tegak, membawa hasil perjuangan.”

Maka dia harus bersyukur kepada Allah, dengan selalu berupaya tidak pernah berhenti menjaga umat tetap berada pada garis perjuangannya.

Dia, sebagai pemimpin tidak boleh berhenti.
Ada pula, pemimpin yang senyatanya,

“Dia pulang dengan kepala tegak,
tapi tangan di belenggu musuh untuk calon penghuni terungku (tempat pembakaran),
atau lebih dari itu,
riwayatnya akan menjadi pupuk penyubur tanah
Perjuangan bagi para Mujahidin seterusnya”.

Seorang pemimpin penjuang, semestinya memiliki kerelaan tinggi, berkorban diri untuk kepentingan umatnya.
Bukan sebaliknya, minta di sanjung oleh umat yang di pimpinnya.
Tidak jarang, seorang pejuang pemimpin harus menyerahkan jasadnya. Namun, rohnya tetap hidup dan menghidupi jiwa umat yang di pimpinnya.

Dalam konsep pembinaan umat yang selalu diketengahkan oleh Bapak DR. Mohamad Natsir adalah, untuk membina umat mesti awalnya di-dahului oleh keinginan dan kemampuan pemimpin untuk membina sikap diri pribadinya. Karena, pemimpin akan tampil sebagai panutan dari masyarakat yang akan dipimpinnya. Walau kenyataannya pemimpin tersebut harus berkorban demi umat yang dipimpinnya.
Karena itu, ada pemimpin,

“Dia pulang.
Tapi yang pulang hanya namanya.
Jasadnya sudah tinggal di Medan Jihad.

Sebenarnya, di samping namanya,
juga turut pulang ruh-nya yang hidup,
dan meng-hidupkan ruh umat sampai tahun berganti musim,
serta mengilhami para pemimpin yang akan tinggal di belakangnya”.

Tentu, bukanlah pemimpin sejati, yang pulang dengan menyerah kalah.
Atau menjadi pengikut arus tasyabbuh, ber-lindung pada hilalang sehelai, karena mendandani diri sendiri.

Lebih parah lagi kalau terjadi pencampur bauran haq dan bathil, sehingga jiwa umat jadi mati.

Pemimpin sedemikian, kata Bapak DR. Mohamad Natsir, serupa dengan;

”Dia pulang dengan tangan ke atas,
kepalanya terkulai, hatinya menyerah kecut kepada musuh
yang memusuhi Allah dan Rasul.

Yang pulang itu jasadnya, yang satu kali juga akan hancur.
Nyawanya mematikan ruh umat buat zaman yang panjang.

Entah pabila umat itu akan bangkit kembali,
mungkin akan diatur oleh Ilahi dengan umat yang lain, yang lebih baik,
nanti……..
Ia “Pemimpin” dengan tanda kutip.”

Namun, ada juga pemimpin pejuang yang tidak pernah pulang dari medan jihadnya.
Mereka adalah para nakhoda pembawa bahtera.

“Adakalanya ada nakhoda berpirau melawan arus.
Tapi berpantang ia bertukar haluan, berbalik arah.
Ia belum pulang.”

Berpirau artinya maju.
Maju menyongsong angin dan arus.

Waktu berpirau, perahu dikemudikan sedemikian rupa, sehingga angin dan gulungan ombak tidak me-mukul tepat depan.
Tetapi menyerong.
Adapun haluan pelayaran tetap kearah tujuan yang telah ditentukan.
Tidak berkisar.

Dalam suasana sulit sekalipun, pemimpin umat harus bisa istiqamah mencapai arah dan tujuannya.
Walaupun untuk itu dia terpaksa melawan arus dan gelombang..

Pesan ini disampaikan beliau sudah lama sekali.
Tetapi selalu, dan selalu terasa baru.
Diketengahkan dalam satu ungkapan indah, pada ketika yang panjang di Medan Djihad, 24 Agustus 1961/ Maulid 1381.
Tepatnya, setahun setelah Masyumi membubarkan diri.

Demikianlah suatu sunnatullah.
Bahwa di pundak pejuang ada beban yang mesti dipikul dan untuk selalu di ingat oleh pemimpin pejuang.

Ranah Minang di kala itu sedang diuji coba oleh misi baptis melalui pendirian Rumah Sakit Baptis di Bukittinggi dengan iming-iming membantu kesehatan penduduk yang lemah.

Dukungan beberapa oknum pihak penguasa di antaranya kalangan tentara telah memberi angin seakan program Baptis itu tidak mungkin dihalangi.
Alasannya, menurut mereka yang mendukung, sangat sederhana, karena pihak Baptis berusaha dalam “menyiapkan sarana pokok yang memang dibutuhkan masyarakat yang tengah sakit badan maupun perasaan”.

Ninik mamak alim ulama sudah bicara.
Namun gaungnya ibarat sipongang dalam ngarai.
Seakan tak ada yang mau menyahuti.

Kata tak berjawab, dan gayung tak pernah disambut.
Artinya, dianggap sebagai angin lalu.
Tidak hanya di Bukittinggi.

Bahkan gerakan Kristenisasi “Salibiyah” terasa juga di daerah-daerah pinggiran seperti Pasaman Barat (Kinali).
Daerah yang sejak tahun 1950 telah diberikan hak ulayatnya oleh ninik mamak Pasaman kepada Pemerintah Daerah Sumatera Tengah, menjadi tempat bermukimnya para transmigrasi.

Ibarat pepatah yang menyebut dalam kata bersayap menumpang riak dengan gelombang di tengah alunan pesatnya pembangunan dan pengembangan daerah-daerah, secepat itu pula gerakan kristenisasi menyertai.
Na’udzubillah.

Kondisi ini terasakan pahit oleh masyarakat yang merasa dirinya kalah.
Dan selalulah terlihat sikap putus asa berpangku tangan dengan mengambil posisi lebih baik mengalah.
Bila ini diteruskan bisa-bisa terjadi jalan di alih orang lalu atau tepian dialih orang yang pergi mandi.

Bahayanya, masyarakat jadi dongkol dan berpangku tangan.
Suatu pengalaman pahit, tetapi sangat berharga didalam mengembalikan sikap arif dan penuh kehati-hatian.

Karena itu khusus untuk daerah Sumatera Barat kehadiran Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DEWAN DAKWAH) di sambut sebagai suatu wadah tempat umat menggantungkan harapan.

Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia diharapkan sebagai badan “yang akan mampu menjawab tantangan”, karena dianggap sangat istiqamah sebagai kekuatan anti Komunis di Indonesia.

Keberadaanya diterima oleh kalangan tua dan muda.
Suatu kekuatan baru dalam memelihara kerukunan umat dan kejayaan agama.
Hanya sebahagian kalangan non Islam yang amat meragukan keberadaan Dewan Dakwah.

Mereka cemas seakan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia akan menggerakkan kembali pergolakan di daerah.
Mencungkil kembali luka lama yang mulai bertaut.

Namun Bapak DR. Mohamad Natsir menasehatkan gubahlah dunia dengan amalmu dan hidupkan dakwah bangun negeri

Jadi, programnya jelas,
“menghidupkan dakwah membangun negeri”. 

CR. Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir dalam Dakwah Komprehensif, bagian I “Hidupkan Dakwah Bangun Negeri” oleh Buya H.Mas’oed Abidin

Comments

Mengawal Posisi Umat, Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Dakwah Mohamad Natsir Mengawal Posisi Umat
PEMBINAAN DAN PEMBELAAN

Gerakan Dakwah sadar ada kewajiban untuk melanjutkan tugas risalah Islamiyah yang dibawa Rasulullah SAW. Melalui kewajiban dakwah dikandung tujuan mulia. Menciptakan rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil ‘alamin). Sudah menjadi tabi’at pembawaan, setiap risalah pasti menghadapi tantangan.

Dalam menghadapi tantangan perlu kesiapan untuk bisa memberikan jawaban sewaktu-waktu. Karena itu tugas dakwah senantiasa mengandung dua sisi yang krusial dan penting, bina’an wa difa’an, membina dan mempertahankan. Membina yang sudah muslim sejak lahir, atau yang baru masuk Islam adalah tugas Dakwah Islamiyah.

Membela Islam dan umatnya dari mereka yang tidak senang melihat kemajuan umat Islam atau yang melihat Islam sebagai rivalnya.

Dakwah Islam berpedoman kepada Risalah Rasulullah menuntut adanya gerakan berkesinambungan. Pada gilirannya pula perlu pengorganisasian gerak.

Suatu gagasan bisa diwujudkan secara nyata (aktual) hanyalah karena adanya nidzam yang terang dan teratur rapi. Nidzam ini merupakan perangkat utama dalam rangkaian harakah dakwah ilaa Allah.

Mohamad Natsir mengingatkan, bila organisasi cara modern belum mampu diwujudkan, langkah pertama mesti dijaga adalah “berupaya mengokohkan dan selalu meningkatkan persaudaraan”.
Kunci keberhasilan terletak pada upaya bersama, “membulatkan persaudaraan” itu.
Usaha ini menjadi gerakan antisipatif terhadap arus globalisasi negatif di abad sekarang.

Penyatuan gerak dan program terpadu wajib dibangun dengan koordinasi.

Seiring perkembangan zaman, kajian-kajian terus menerus dan komprehensif mesti dihidupkan. Mencetak tenaga-tenaga muda yang cerdas, berkemauan kuat, ihklas dan trampil, mesti segera dilakukan dalam program kadernisasi.

Menghidupkan gerakan masyarakat bersama (Social Movement) dalam bentuk Forum Kerjasama Umat menjadi sangat strategis. Dari sini dapat dicanangkan kesadaran menghapus kemaksiatan dan berlomba menjadikan negeri bersih melalui bimbingan dakwah agar umat berperangai mulia terpuji dan selalu memelihara nilai-nilai Islami.

Pembinaan kerjasama dengan lembaga dakwah yang ada dalam memerangi kemiskinan, dan bahaya pemurtadan, menjadi salah satu tuntutan di zaman ini. Perlu ada pusat pengumpul dan penjaji informasi tentang bahaya dan perusakan nilai-nilai akidah dan budaya yang terjadi di daerah-daerah.

Suatu kemestian membentuk Litbang Dakwah yang memberikan saran-saran positif mendukung gerakan mendidik umat bersatu mewujudkan kesepakatan dalam ;
• Pemantauan upaya-upaya permutadan.
• Antisipasi terhadap ajaran sesat.
• Mensosialisasikan hasil-hasil pertemuan.
• Mengukuhkan fatwa agama Islam kepada seluruh masyarakat dan pemerintah.
• Mempertegas hubungan mekanisme kerja lembaga-lembaga dakwah yang ada.
• Mendukung dan memberi saran untuk pembangunan kehidupan bernegara secara holistik dalam panduan syariat Islam.
• Menyiapkan konsep-konsep kotbah, sharing informasi pembangunan akhlak umat.
• Berupaya dengan semua pihak untuk menutup peluang tumbuhnya prilaku maksiat dalam bentuk apapun pada kehidupan generasi muda di tanah air.

Di sini terletak kekuatan meraih kemenangan. Perlu diingat bahwa, kemenangan adalah kelanjutan dan buah dari jihad.

Seperti beras menjadi buahnya batang padi. Tentu akan mustahil bila tiada orang menanam padi akan bisa saja ditemukan beras.

Mustahil pula manusia yang tidak mau berjihad, akan mendapatkan saja kemenangan.
Umat mesti digerakkan untuk menyingsingkan lengan baju. Bekerja sungguh-sungguh. Merampungkan sekian banyak bengkalai yang belum jadi.

Permulaan jihad adalah menghapus enggan dan lalai.

Firman Allah memerintahkan untuk, ” Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, Maka Dialah Sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong.” (QS.22,Al-Hajj, 78 )

Dakwah bergerak dalam kerangka jihad fii-sabilillah dengan menghidupkan giat dan sabar untuk memikul tugas kewajiban. Dari sini lahir tuntutan perlunya berorganisasi agar dapat menyalakan semangat berjihad.

Secara umum, institusi berjamaah dalam kalangan umat Islam Indonesia telah berkembang lama dalambentuk organisasi formal dan non formal.

Organisasi formal jelas strukturnya. Eksistensi formal organisasi dan statusnya diakui oleh berbagai kalangan dalam dan di luar organisasi itu. Kegiatan utama himpunan anggo¬tanya, dapat berciri vertikal atau horisontal, integral atau sektoral.

Organisasi non formal, terlihat pada ikatan jamaah anggotanya yang bersifat tidak formal yang terbentuk karena kesatuan idea atau kesamaan kegiatan.

Dok.HMA.
PARA DU’AT, IMAM KHATIB DAN PEMUKA MASYARAKAT TEKUN MENDENGAR TAUSHIYAH BAPAK MOHAMAD NATSIR DI ISLAMIC CENTER PADANG .

Kepemimpinan lebih bersifat fungsional. Jamaah dan anggotanya bersifat terbuka, heterogen dan non afilia¬tif.

Di antara anggotanya ada yang eksplisit sebagai jamaah masjid, jamaah kampus, jamaah pengajian, majlis ta’lim. Walau tidak sebagai jamaah, kegiatannya masih Islami, seperti kegiatan sosial ekonomi, arisan, koperasi, paguyuban, budaya dan seni, yang tetap dijiwai ajaran Islam.

Keadaan organisasi Islam non formal, seperti jamaah mesjid tersebut tumbuh dengan sifat amat heterogen. Tampak pada jamaahnya bercampur beragam dalam umur, tidak tua dan muda, tidak pula kepada tingkat pengetahuan. Berbaur antara awam dan intelektual. Hubungan-hubungan berdasar ikatan paternalistik yang sering menyebabkan ikatannya dirasakan longgar.

Syarat utama menjadi muslim yang baik adalah bermanfaat terhadap orang lain.
Seluruh makhluk hakikatnya adalah keluarga Allah, yang disayangi Allah adalah yang bermanfaat sesama.

الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوْا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمُ اللهُ مَنْ فِي السَّماَءِ. (رواه أبو داود)
Orang-orang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang, maka sayangilah penduduk bumi agar yang di langit ikut pula menyayangimu. (HR.Abu Daud).

Perlu diingat, yang paling banyak diperhatikan umat hanya yang paling banyak memperhatikan kepentingan umatnya itu.

Konsekwensinya, setiap da’i harus siap untuk menerima segala cobaan dari Allah dalam menjaga umatnya.
” Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan Rasul) dan Sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya?”. (QS.12,Yusuf:109).

Masyarakat dan lingkungan adalah satunya lapangan operasinya para da’i, tempat berdakwah sepanjang hidup.

Pentingnya organisasi sebagai alat perjuangan terbukti dalam lintasan sejarah.
Juga dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia secara sahih.

Perjuangan bangsa Indonesia diwarnai pergerakan organisasi kemasyarakatan. Baik itu di bidang politik dan non politik. 

(Tulisan ini bagian dari Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir, Dakwah Komprehensif, dihimpun H.Mas’oed Abidin, bukubyha@masoedabidin.com)

Comments (1)