Archive for Tulisan Buya

Pendidikan Berbasis Kualitas Madani di Sumatera Barat

 

STRATEGI PEMBANGUNAN PENDIDIKAN YANG BERKUALITAS DAN MADANI

DI Sumatera Barat

 

Oleh,

h. mas’oed abidin

Direktur PPIM/Ketua MUI Sumbar Bidang Dakwah

 

Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan Suatu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. (UUD-45)

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk mempunyai kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”, dan

“Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab, serta

berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”.

(UU No. 20 th 2003, Sistem Pendidikan Nasional)

 

Mukaddimah

Sudah lama kita mendengar ungkapan, “jadilah kamu berilmu yang mengajarkan ilmunya (’aaliman), atau belajar (muta’alliman), atau menjadi pendengar (mustami’an), dan jangan menjadi kelompok keempat (rabi’an), yakni tidak tersentuh proses belajar mengajar dan enggan pula untuk mendengar. Kemulian pengabdian seorang pendidik terpancar dari keikhlasan membentuk anak manusia menjadi pintar, berilmu, berakhlak dan pengamal  ilmu yang menjelmakan kebaikan pada diri, kerluarga, dan di tengah umat kelilingnya.

Namun sekarang, kita menatap fenomena mencemaskan. Penetrasi bahkan infiltrasi budaya asing ternyata berkembang pesat. Pengaruhnya tampak pada perilaku  pengagungan materia secara berlebihan (materialistik) dan kecenderungan memisah kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik). Kemudian berkembang pula pemujaan kesenangan indera dengan mengejar kenikmatan badani (hedonistik). Hakekatnya, telah terjadi penyimpangan perilaku yang sangat jauh dari budaya luhur – adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah-. Kesudahannya, rela atau tidak, pasti mengundang kriminalitas, sadisme, dan krisis secara meluas.

Pergeseran paradigma materialistic acapkali menjadikan para pendidik (murabbi) tidak berdaya menampilkan model keteladanan. Ketidakberdayaan itu, menjadi penghalang pencapaian hasil membentuk watak anak nagari. Sekaligus, menjadi titik lemah penilaian terhadap murabbi bersangkutan.[1] Tantangan berat ini hanya mungkin dihadapi  dengan menampilkan keterpaduan dalam proses pembelajaran  dan pengulangan contoh baik (uswah) terus menerus. Jati diri bangsa terletak pada peran maksimal ibu bapa – yang menjadi kekuatan inti masyarakat – dalam rumah tangga.[2] Pekerjaan ini memerlukan ketaletenan dengan semangat dan cita-cita yang besar ditopang kearifan. Kedalaman pengertian serta pengalaman di dalam membaca situasi dan upaya menggerakkan masyarakat sekitar yang mendukung proses pendidikan. Usaha berkesinambungan mesti sejalan dengan,

a.      pengokohan lembaga keluarga (extended family), 

b.      pemeranan peran serta masyarakat secara pro aktif,

c.       menjaga kelestarian adat budaya (hidup beradat).

Setiap generasi yang dilahirkan dalam satu rumpun bangsa (daerah) wajib tumbuh menjadi,

a.        Kekuatan yang peduli dan pro-aktif dalam menopang pembangunan bangsanya.

b.        Mempunyai tujuan  yang jelas, menciptakan kesejahteraan yang adil merata melalui program-program pembangunan.

c.         Sadar manfaat pembangunan merata dengan,

1.      prinsip-prinsip jelas,

2.      equiti yang berkesinambungan,

3.      partisipasi tumbuh dari bawah dan datang dari atas,

4.      setiap individu di dorong maju

5.      merasa aman yang menjamin kesejahteraan.[3]

 

 

 

Menghadapi Arus Kesejagatan

Kesejagatan (global) yang deras secara dinamik perlu dihadapi dengan penyesuaian kadar apa yang di kehendaki. Artinya, arus kesejagatan tidak boleh mencabut generasi dari akar budaya bangsanya. Sebaliknya, arus kesejagatan itu mesti dirancang dapat ditolak mana yang tidak sesuai.[4]

Abad keduapuluhsatu (alaf baru) ini ditandai mobilitas serba cepat dan modern.  Persaingan keras dan kompetitif seiring dengan laju informasi dan komunikasi serba efektif tanpa batas. Bahkan, tidak jarang membawa pula limbah budaya ke barat-baratan, menjadi tantangan  yang tidak mudah dicegah. Menjadi pertanyaan, apakah siap mengha­dapi perubahan cepat penuh tantangan, tanpa kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM)  berkualitas yang berani  melawan terjangan globalisasi itu?”

Semua elemen masyarakat berkewajiban menyiapkan generasi yang mampu bersaing di era tantangan sosial budaya, ekonomi, politik, menyangkut semua aspek kehidupan manusia. Globalisasi membawa perubahan perilaku, terutama terhadap generasi muda. Jika tidak mempunyai kekuatan ilmu, akidah dan budaya luhur, akan terancam menjadi generasi buih, sewaktu-waktu terhempas di karang dzurriyatan dhi’afan, menjadi “X-G” atau the loses generation.

Membiarkan diri terbawa arus deras perubahan sejagat tanpa memperhitungkan jati diri akhirnya menyisakan malapetaka.[5] Pemahaman ini, perlu ditanamkan dikala   melangkah ke alaf baru. Kelemahan mendasar terdapat pada melemahnya jati diri. Dapat terjadi karena kurangnya komitmen kepada nilai luhur agama (syarak) yang menjadi anutan bangsa.[6]

Lemahnya jati diri akan dipertajam oleh tindakan isolasi diri lantaran kurang kemampuan dalam penguasaan “bahasa dunia” (politik, ekonomi, sosial, budaya). Ujungnya, generasi bangsa menjadi terjajah di negerinya sendiri. Mau tidak mau, tertutup peluang berperan serta dalam kesejagatan.[7] Kurang percaya diri lebih banyak disebabkan oleh,

a.         Lemah penguasaan teknologi dasar yang menopang perekonomian bangsa,

b.         Lemah minat menuntut ilmu.

 

 

Hilangnya Akhlak Menjadikan SDM Lemah

Penyimpangan perilaku menjadi ukuran moral dan akhlak. Hilang kendali menjadi salah satu penyebab lemahnya ketahanan bangsa. Yang merasakan akibatnya, terutama tentulah generasi muda, lantaran rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan.

Hapusnya panutan dan impotensi tokoh pemangku adat dalam mengawal budaya syarak, dan pupusnya wibawa ulama menjaga syariat agama, memperlemah daya saing anak nagari. Lemahnya tanggung jawab masyarakat, akan berdampak dengan terbiarkan kejahatan meruyak secara meluas. Interaksi nilai budaya asing yang bergerak kencang tanpa kendali, akan melumpuhkan kekuatan budaya luhur anak nagari. Bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi bisnis. Akibatnya,  profesi guru (murabbi) mulai dilecehkan.

Hilang keseimbangan telah mendatangkan frustrasi sosial yang parah. Tatanan bermasyarakat tampil dengan berbagai kemelut. Krisis nilai akan menggeser akhlak dan tanggungjawab moral sosial ke arah tidak acuh (permisiveness). Dan bahkan, terkesan toleran terhadap perlakuan maksiat, aniaya dan durjana. Konsep kehidupan juga mengalami krisis dengan pergeseran pandang (view) terhadap ukuran nilai. Sehingga, tampil pula krisis kridebilitas dalam bentuk erosi kepercayaan. Peran orang tua, guru dan pengajar di mimbar kehidupan  mengalami kegoncangan wibawa. Giliran berikutnya, lembaga-lembaga masyarakat berhadapan dengan krisis tanggung jawab kultural yang terkekang sistim dan membelenggu dinamika. Orientasi kepentingan elitis sering tidak populis dan tidak demokratis. Dinamika perilaku mempertahankan prestasi menjadi satu keniscayaan beralih ke orientasi prestise dan keijazahan. Tampillah krisis solidaritas.

Kesenjangan sosial, telah mempersempit kesempatan mendapatkan pendidikan dan pekerjaan secara merata. Idealisme pada generasi muda tentang masa datang mereka, mulai kabur.

Perjalanan budaya (adat) terkesan mengabaikan nilai agama (syarak). Pengabaian ini pula yang mendatangkan penyakit sosial yang kronis, di antaranya kegemaran berkorupsi. Adalah suatu keniscayaan belaka, bahwa masa depan sangat banyak ditentukan oleh kekuatan budaya yang dominan. Sisi lain dari era kesejagatan adalah perlombaan mengejar kemajuan seperti pertumbuhan ekonomi dan komunikasi untuk menciptakan kemakmuran. Lemahnya syarak (aqidah tauhid) di tengah mesyarakat serta merta mencerminkan perilaku tidak Islami yang senang melalaikan ibadah.

Generasi Penyumbang

Membentuk generasi penyumbang dalam bidang pemikiran (aqliyah), ataupun pembaharuan (inovator) harus menjadi sasaran perioritas.[8]                

Keberhasilan akan selalu ditentukan oleh adanya keunggulan pada institusi di bidang pendidikan. Pendidikan ditujukan untuk membentuk generasi yang menguasai pengetahuan dengan kemampuan dan pemahaman mengidentifikasi masalah yang dihadapi. Seterusnya, mengarah kepada kaderisasi diiringi oleh penswadayaan kesempatan-kesempatan yang ada.[9] Generasi baru yang mampu mencipta akan menjadi syarat utama keunggulan. Kekuatan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada.

Generasi muda harus menjadi aktor utama dalam pentas kesejagatan. Mereka mesti dibina dengan budaya kuat yang berintikan nilai-nilai dinamik” dan relevan dalam kemajuan di zaman itu. Generasi masa depan yang diminati, lahir dengan budaya luhur (tamaddun) berlandaskan tauhidik, kreatif dan dinamik. Maka, strategi pendidikan mesti mempunyai utilitarian ilmu berasas epistemologi Islam yang jelas. Sasarannya, untuk membentuk generasi yang tumbuh dengan tasawwur (world view) yang integratik dan umatik sifatnya. Artinya, generasi yang bermanfaat untuk semua, terbuka dan transparan. Generasi sedemikian hanya dapat dikembangkan melalui pendidikan akhlak, budi pekerti dan penguasaan ilmu pengetahuan. Maka akhlak karimah adalah tujuan sesungguhnya dari proses pendidikan, dan menjadi wadah diri dalam menerima ilmu-ilmu lainnya, karena pada akhirnya ilmu yang benar, akan membimbing umat ke arah amal karya, kreasi, inovasi, motivasi yang baik (shaleh). Dengan demikian, diyakini bahwa akhlak adalah jiwa pendidikan, inti ajaran agama, buah dari keimanan.

Generasi penerus harus taat hukum. Upaya ini dilakukan dengan memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga. Mengokohkan peran orang tua, ibu bapak, dan memungsikan peranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif. Memperkaya warisan budaya dilakukan dengan menanamkan sikap setia, cinta dan rasa tanggung jawab, sehingga patah tumbuh hilang berganti. Menanamkan aqidah shahih (tauhid) dengan istiqamah pada agama Islam yang dianut. Menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur. Apabila sains dipisah dari aqidah syariah dan akhlak, niscaya yang akan lahir saintis tak bermoral agama. Kesudahannya, ilmu banyak dengan iman yang tipis, berujung dengan sedikit kepedulian di tengah bermasyarakat.

Langkah-langkah ke arah pembentukan generasi mendatang sesuai bimbingan Kitabullah QS.3:102 mesti dipandu pada jalur pendidikan, formal atau non formal. Mencetak anak bangsa yang pintar dan bertaqwa (QS.49:13), oleh para pendidik (murabbi) yang berkualitas pula. Keberhasilan gerakan dengan pengorganisasian (nidzam) yang rapi. Menyiapkan orang-orang (SDM) yang kompeten, dengan peralatan memadai. Penguasaan kondisi umat, dengan mengenali permasaalahan keumatan. Mengenali tingkat sosial dan  budaya daerah, hanya dapat di baca dalam peta dakwah yang bagaimanapun kecilnya, memuat data-data tentang keadaan umat yang akan diajak berperan tersebut. Disini terpampang langkah pendidikan yang strategis itu.

Di samping itu perlu pula menanamkan kesadaran serta tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah. Sikap penyayang dan adil, akan dapat  memelihara hubungan harmonis dengan alam, sehingga lingkungan ulayat dan ekosistim dapat terpelihara. Melazimkan musyawarah dengan disiplin, akan menjadikan masyarakat teguh politik dan kuat dalam menetapkan posisi tawar. Kukuh ekonomi serta bijak memilih prioritas pada yang hak, menjadi identitas generasi yang menjaga nilai puncak budaya Islami  yang benar. Sesuatu akan selalu indah selama benar. Semestinya disadari bahwa budaya adalah wahana kebangkitan bangsa. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya.

 

Penguatan Nilai Budaya (tamaddun)

Madani mengandung kata maddana al-madaina atau banaa-ha, artinya membangun atau hadhdhara, maknanya memperadabkan dan tamaddana artinya menjadi beradab dengan hidup berilmu (rasio), mempunyai rasa (arif, emosi) secara individu dan kelompok mempunyai kemandirian (kekuatan dan kedaulatan) dalam tata ruang, peraturan dan perundangan yang saling berkaitan.(Al Munawwir, 1997:1320, dan Al-Munjid, al-Mu’ashirah, 2000:1326-1327). Masyarakat  madani (al hadhariyyu) adalah masyarakat berbudaya yang maju, modern, berakhlak dan mempunyai peradaban melaksanakan ajaran agama (syarak) dengan benar. Masyarakat  madani (tamaddun) adalah masyarakat berbudaya dan berakhlaq. Akhlaq adalah melaksanakan ajaran agama (Islam). Memerankan nilai-nilai tamaddun — agama dan adat budaya — di dalam tatanan kehidupan masyarakat, menjadi landasan kokoh meletakkan dasar pengkaderan (re-generasi) agar tidak terlahir generasi yang lemah. Kegiatan utama diarahkan kepada kehidupan sehari-hari. [10]

Keterlibatan generasi muda pada aktifitas-aktifitas lembaga agama dan budaya, dan penjalinan hubungan erat yang timbal balik antara badan-badan kebudayaan di dalam maupun di luar daerah , menjadi pendorong lahirnya generasi penyumbang yang bertanggung jawab.[11] Generasi penyumbang (inovator) sangat perlu dibentuk dalam kerangka pembangunan berjangka panjang. Bila terlupakan, yang akan lahir adalah generasi pengguna (konsumptif) yang tidak bersikap produktif, dan akan menjadi benalu bagi bangsa dan negara.[12]

Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus didalam membentuk SDM, maka di samping kurikulum ilmu terpadu dan holistik, sangat perlu dirancang kualita pendidik (murabbi) yang sejak awal mendapatkan pembinaan terpadu. Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik, dan bukan utopis.

Keberhasilan perkembangan generasi penerus ditentukan dalam  menumbuhkan sumber daya manusia yang handal. Mereka, mesti mempunyai daya kreatif dan ino­vatif, dipadukan dengan kerja sama berdisiplin, kritis dan dinamis. Mempunyai vitalitas tinggi, dan tidak mudah terbawa arus. Generasi yang sanggup menghadapi realita baru, dengan memahami nilai‑nilai budaya luhur. Selalu siap bersaing dalam basis ilmu pengetahuan dengan jati diri yang jelas dan sanggup menjaga destiny, mempunyai perilaku berakhlak. Berpegang teguh kepada nilai-nilai mulia iman dan taqwa, mempunyai motivasi yang bergantung kepada Allah, yang patuh dan taat beragama. Mereka, akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan. Memahami dan mengamalkan nilai‑nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, memberikan motivasi emansipatoris dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik‑material, tanpa harus mengorbankan nilai‑nilai kemanusiaan. Semestinya dipahami bahwa kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) dengan basis iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat. Hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional. Karena itu, perlulah domein ruhiyah itu dibangun dengan sungguh-sungguh;  

a.      pemantapan metodologi,

b.      pengembangan program pendidikan,

c.       pembinaan keluarga, institusi, dan  lingkungan,

d.      pemantapan aqidah (pemahaman aktif ajaran Agama)

 

Membentuk Sumber Daya Manusia  berkualitas

Kita berkewajiban membentuk SDM menjadi sumber daya umat (SDU) yang berciri kebersamaan dengan nilai asas “gotong royong”, berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas. Beberapa model dapat dikembangkan di kalangan para pendidik. Antara lain, pemurnian wawasan fikir disertai  kekuatan zikir, penajaman visi, perubahan melalui ishlah atau perbaikan. Mengembangkan keteladanan (uswah hasanah) dengan sabar, benar, dan memupuk rasa kasih sayang melalui pengamalan warisan spiritual religi serta menguatkan solidaritas beralaskan iman dan adat istiadat luhur.  “Nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”. Akhirnya, intensif menjauhi kehidupan materialistis, “dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.

Para pendidik (murabbi) adalah bagian dari suluah bendang dengan uswah hidup mempunyai sahsiah[13] (شخصية) bermakna pribadi yang melukiskan sifat individu mencakup gaya hidup, kepercayaan, kesadaran beragama dan harapan, nilai, motivasi, pemikiran, perasaan,  budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak akan mampu menghadirkan kesan positif masyarakat Nagari. Faktor kepribadian tetap diperlukan dalam proses pematangan sikap perilaku anak didik yang mencerminkan  watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seseorang.[14] Ciri kepribadian syarak yang mesti ditanamkan merangkum sifat-sifat,

1.      Sifat Ruhaniah dan Akidah, mencakup ;

a.      keimanan yang kental kepada Allah yang Maha Sempurna,

b.      keyakinan mendalam terhadap hari akhirat, dan

c.       kepercayaan kepada seluruh asas keimanan (arkan al iman) yang lain.

2.      Sifat-Sifat Akhlak, tampak di dalam perilaku;

a.  Benar, jujur, menepati janji dan amanah.

b.  Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan,

c.   Tawadhu’, sabar, tabah dan cekatan,

d.  Lapang dada – hilm –, pemaaf dan toleransi.

e.   Bersikap ramah, pemurah, zuhud dan berani bertindak.

3.    Sifat Mental, Kejiwaan dan Jasmani, meliputi,

  3.1. Sikap Mental,

a.      Cerdas — pintar teori, amali dan sosial –, menguasai spesialisasi (takhassus),

b.      Mencintai bidang  akliah yang sehat, fasih,  bijak penyampaian.

c.       Mengenali ciri, watak, kecenderungan masyarakat Nagari

3.2. Sifat Kejiwaan,

a.      emosi terkendali, optimis dalam hidup, harap kepada Allah,

b.      Percaya diri dan mempunyai kemauan yang kuat.

c.       Lemah lembut dan baik dalam pergaulan dengan masyarakat.

3.3. Sifat Fisik,

a.      mencakup sehat tubuh,

b.      berpembawaan menarik, bersih,

c.       rapi (kemas) dan menyejukkan.

Satu daftar senarai panjang menerangkan sikap pendidik adalah berkelakuan baik (penyayang dan penyabar), berdisiplin baik, adil dalam menerapkan aturan. Memahami masalah dengan amanah dan mampu memilah intan dari kaca. Mempunyai kemauan yang kuat serta bersedia memperbaiki kesalahan  dengan sadar. Selanjutnya tidak menyimpang dari ruh syari’at. Maknanya, mampu melakukan strukturisasi ruhaniyah. Para murabbi dapat mewujudkan delapan tanggung jawab dalam hidup;

1)      Tanggungjawab terhadap Allah, dengan keyakinan iman dan kukuh ibadah bersifat istiqamah, iltizam beramal soleh dengan rasa khusyuk dalam mencapai derajat taqwa dan mengagungkan syiar Islam dengan perilaku beradat dan beradab.

2)      Tanggungjawab terhadap Diri, mengupayakan keselamatan diri sendiri, baik aspek fisik, emosional, mental maupun moral, bersih dan mampu berkhidmat kepada Allah, masyarakat dan negara.

3)      Tanggungjawab terhadap Ilmu, menguasai ilmu takhassus secara mendalam dan menelusuri dimensi spiritualitas Islam dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan untuk tujuan kemanusiaan dan kesejahteraan umat manusia.

4)      Tanggungjawab terhadap Profesi, tidak bertingkah laku yang menghilangkan kepercayaan orang ramai dan dapat memelihara maruah diri dengan amanah.

5)      Tanggungjawab terhadap Nagari, mengutamakan keselamatan anak Nagari dan memfungsikan lembaga-lembaga pendidikan (surau) dengan ikhlas.

6)      Tangungjawab Terhadap Sejawat, menghindari tindakan yang mencemarkan sejawat dengan berusaha sepenuh hati mengedepankan kemajuan social hanya karena Allah.

7)      Tanggungjawab terhadap Masyarakat dan Negara, tidak merusak kepentingan masyarakat atau negara dan selalu menjaga kerukunan bernegara di bawah syari’at Allah.

8)       Tanggung jawab kepada Rumah Tangga dan Ibu Bapa, dengan menghormati tanggungjawab utama ibu bapa dengan mewujudkan hubungan mesra dan kerjasama yang erat di antara institusi pendidikan dengan rumahtangga.

Menghidupkan Partisipasi Umat 

Umat mesti mengantisipasi berbagai krisis dengan kekuatan agama dan budaya (adat dan syarak) agar tidak menjadi kalah di tengah era persaingan. Memantapkan watak terbuka dan pendidikan akhlak berlandaskan ajaran tauhid. Mengamalkan nilai-nilai amar makruf nahi munkar seperti tertera dalam QS.31, Lukman:13-17.  Menghadapi degradasi akhlak dapat dilakukan berbagai program, antara lain ;

1.  Integrasi Akhlak yang kuat dengan menanamkan penghormatan terhadap orang tua. Mempunyai adab percakapan di tengah pergaulan, serta pendalaman ajaran agama (tafaqquh fid-diin). Berpijak kepada nilai-nilai Islam yang universal (tafaqquh fin-naas), akan membawa masyarakat memperhatikan masalah sosial (umatisasi) dengan teguh. Menetapkan kepentingan bersama dengan ukuran taqwa, responsif dan kritis dalam mengenali kehidupan duniawi yang bertaraf perbedaan. Tahap selanjutnya mendorong kepada penguasaan ilmu pengetahuan. Kaya dimensi dalam pergaulan bersama mencercahkan rahmatan lil ‘alamin pada seluruh aspek kehidupan.

2.  Kekuatan Ruhiyah. Ketahanan umat, bangsa dan daerah terletak pada kekuatan ruhiyah dengan iman taqwa dan siasah kebudayaan. Intinya adalah tauhid. Implementasinya akhlak. Umat kini akan menjadi baik dan berjaya, apabila sebab-sebab kejayaan umat terdahulu dikembalikan. Bertindak atas dasar anutan yang kuat, yakni “memulai dari diri sendiri, mencontohkannya kepada masyarakat lain“, (Al Hadist).

3.  Jalinan Kerjasama yang kuat rapi – network, nidzam – antara lembaga perguruan secara akademik  dengan meningkatkan pengadaan pengguna fasilitas.

a.      Mendorong pemilikan jati diri berbangsa dan bernegara.

b.      Memperkokoh interaksi kesejagatan dengan melakukan penelitian bersama, penelaahan perubahan-perubahan di desa dan kota, antisipasi arus kesejagatan dengan  penguatan jati diri generasi.

c.       Pengoperasionalan hasil-hasil penelitian,

d.      Meningkatkan kerja sama berbagai instansi yang dapat menopang peningkatan kesejahteraan.[15]

 

Menggali ekoteknologi dengan kearifan yang ramah lingkungan. Menanam keyakinan actual, bahwa yang ada sekarang adalah milik generasi mendatang. Keyakinan ini menumbuhkan penyadaran bahwa beban kewajiban generasi  adalah memelihara dan menjaga untuk diwariskan kepada gererasi pengganti, secara berkesinambungan, lebih baik dan lebih sempurna.[16] Aktifitas ini akan memacu peningkatan daya kinerja di berbagai bidang garapan melalui,

a.      rancangan pembangunan pendidikan arus bawah,

b.      mempertajam alur pemikiran melalui pendidikan dengan pendekatan holistik (holistic approach) menurut cara yang tepat.

Allah mengingatkan, apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi (QS.7,al-A’raf:96). Artinya, mengajak Umat mempelajari dan mengamalkan iman dan taqwa (tuntutan syarak sesuai ajaran Islam). Selanjutnya, menggiatkan penyebaran dan penyiaran dakwah, untuk mencapai keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia.

           

Di bawah Konsep Redha Allah

Setiap Muslim harus melakukan perbaikan (ishlah) pada dua sisi. Dimulai dengan, ishlah an-nafsi, yaitu perbaikan kualitas diri sendiri, sebagaimana arahan Rasulullah, “Mulailah dari diri kamu kemudian lanjutkan kepada keluargamu” (Al Hadist), selanjutnya islah al-ghairi yaitu perbaikan kualitas lingkungan menyangkut masalah hubungan sosial masyarakat, sosial ekonomi, kebudayaan dan pembinaan alam lingkungan yang dikenal sebagai sustainable development atau pengembangan berkesinambungan.

Langkah awal yang harus ditempuh adalah menanamkan kesadaran tinggi tentang perlunya perubahan dan dinamik yang futuristik. Penggarapan secara sistematik dengan pendekatan proaktif, untuk mendorong terbangunnya proses  pengupayaan (the process of empowerment), umat membangun dan memelihara akhlak.

Melaksanakan tugas dakwah terus menerus dengan petunjuk yang lurus (QS.Al-Ahzab, 33 : 45-46) dibuktikan dengan beribadah kepada Allah. Mengawal generasi Agam tetap beragama, dan tidak musyrik. Mengingatkan selalu untuk bersiap kembali kepada-Nya (QS.Al Qashash, 28 : 87). Setiap muslim hakikinya adalah umat dakwah pelanjut Risalah Rasul yakni Islam. Dari sini, berawal gerakan syarak mangato adat memakai, artinya hidup dan bergaul dengan meniru watak pendakwah pertama, Muhammad Rasulullah SAW. Meneladani pribadi Muhammad SAW untuk membentuk effectif leader di medan dakwah dalam menuju inti agama Islam (QS. Al Ahzab, 33 : 21). Dakwah selalu akan berkembang sesuai variasi zaman yang senantiasa berubah.

Tahapan berikutnya perencanaan terarah, untuk mewujudkan keseimbangan antara  minat dan keterampilan dengan strategi (siyasah) yang jelas. Aspek pelatihan menjadi faktor utama pengupayaan. Konsep-konsep visi, misi, memang sering terbentur oleh lemahnya metodologi dalam operasional (pencapaian). Maka dalam tahap pelaksanaan  mesti diupayakan secara sistematis (the level of actualization).

Menetapkan langkah ke depan pembinaan human capital dengan keluasan ruang gerak mendapatkan pendidikan. Pembinaan generasi muda yang akan mewarisi pimpinan berkualitas wajib mempunyai jati diri, padu dan lasak, integreted inovatif. Langkah yang dapat dilakukan adalah mengasaskan agama dan akhlak mulia sebagai dasar pembinaan. Langkah drastik berikutnya mencetak ilmuan beriman taqwa seiring dengan pembinaan minat dan wawasan. Generasi muda ke depan mesti menyatukan akidah, budaya dan bahasa bangsa, untuk dapat mewujudkan masyarakat madani yang berteras keadilan sosial yang terang. Strategi pendidikan yang madani (maju, dan berperadaban) menjadi satu nikmat yang wajib dipelihara, agar selalu bertambah.

Perlu ada kepastian dari pemerintah daerah  satu political action yang mendorong pengamalan ajaran Agama (syarak) Islam, melalui jalur pendidikan formal dan non-formal secara nyata, akan sangat menentukan dalam membentuk generasi muda masa datang. Ajaran tauhid mengajarkan agar kita menguatkan hati, karena Allah selalu beserta orang yang beriman.

Dengan bermodal keyakinan tauhid ini, niscaya generasi terpelajar akan bangkit dengan pasti dan sikap yang positif.

a.         Menjadi sumber kekuatan dalam proses pembangunan

b.         Menggerakkan  integrasi aktif,

c.         Menjadi subjek dan penggerak pembangunan nagari dan daerahnya sendiri.[17]

Semoga Allah memberi kekuatan memelihara amanah bangsa ini dan senantiasa meredhai. Amin.

 



Catatan

[1]    Pepatah Arab meyebutkan     لا تنه عن خلق وتأتي مثله عار عليك اذا فعلت عظيم     artinya,  Jangan lakukan perbuatan yang anda tegah, karena perbuatan demikian aibnya amatlah parah.

[2]   Lihat QS.66:6 bandingkan dengan QS.5:105.            

[3]    Lihat QS.4:58, selanjutnya dasar equiti (keadilan) adalah bukti ketaqwaan (QS.5:8)

[4]    Lihat QS.3:145 dan 148, lihat juga QS.4:134, dan bandingkan QS.28:80.

[5]    Lihat QS.30:41

[6]    Melemahnya jati diri tersebab lupa kepada Allah atau hilangnya aqidah tauhid, lihat QS.9:67, lihat juga QS:59:19.

[7]    Lihat QS.9:122, supaya mendalami ilmu pengetahuan dan menyampaikan peringatan kepada umat supaya dapat menjaga diri (antisipatif).

[8]    QS.3:139 menyiratkan optimisme besar untuk penguasaan masa depan. Masa depan – al akhirah – ditentukan oleh aktifitas amaliyah (QS.6:135) bandingkan dengan QS.11:93 dan QS.11:121, bahwa kemuliaan (darjah) sesuai dengan sumbangan hasil usaha.

[9]    Lihat QS.9:105, amaliyah khairiyah akan menjadi bukti ditengah kehidupan manusia (dunia).  

[10]   Lihat QS.4:9, mengingatkan penanaman budaya taqwa dan perkataan (perbuatan) benar.

[11]   Generasi yang tumbuh dalam persatuan yang kokoh kuat dengan I’tisham kepada Allah dan menjauhi  setiap perpecahan (lihat QS.3:103, perbandingkan QS.4:145-146, sesuai QS.22:78).

[12]   Lihat QS.28:83.

[13]  Syakhshiyah didifinisikan sebagai organisasi dinamik sesuatu sistem psyikofisikal di dalam diri seorang yang menentukan tingkah laku dan fikirannya yang khusus.  Sistem psyikofisikal merangkum segala unsur-unsur psikologi seperti tabiat, sikap, nilai, kepercayaan dan emosi, bersama dengan unsur-unsur fisikal seperti bentuk tubuh, saraf, kelenjar, wajah dan gerak gerik seseorang (G.W Allport, dalam ”Pattern and Growth in Personality”, lihat juga, Mok Soon Sang, 1994:1).

[14]   Syakhshiyah mempunyai tiga ciri keunikan dengan arti kebolehan  atau kemampuan untuk berubah dan di ubah; sebagai hasil pembelajaran atau pengalaman dan organisasi. Maka syakhshiyah bukan  sekadar himpunan tingkahlaku, tetapi melibatkan corak tindakan dan operasi yang bersifat konsisten.

[15]  Lihat QS.6:54 dan QS.16:97, bandingkan QS.25:70-71.

[16]  Lihat QS.19:40, dan QS.21:105, pewaris bumi adalah hamba Allah yang shaleh (baik), bandingkan dengan QS.7:128.

[17]  wa man yattaqillaha yaj’allahuu makhrajan”(QS.65:2-3) Lihat pula QS.3:160, dan QS.47:7.

Comments (2)

Infokom

Berapa pokok pikiran dalam Studi Penyusunan Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Komunikasi dan Informatika, Tahun 2010-2014, bertempat di Bedu Ata Meeting Room, The Ambacang Hotel, Jalan Bundo Kanduang, Padang, pada hari Senin, tanggal 16 Juni 2008.

Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

1.         Mensosialisasikan bukti-bukti tentang pelaksanaan dan cita-cita bernegara dalam bingkai NKRI, yang dicetuskan pada Proklamasi 17 Agustus 1945, di mana jelas diserap oleh masyarakat luas bahwa pelaksanaan pembangunan, telah dikerjakan oleh tenaga-tenaga yang dinamik, dan ahli, dikonsolidasi mendjadi kesatuan tenaga membangun.

2.         Pembangunan itu dikerjakan secara rasionil menurut suatu rencana yang tepat urutan dan susunannya, dan dengan tekad yang kuat, kemauan jang jujur. Semangat nasionalis yang didukung oleh keyakinan agama yang berpegang kepada Pancasila tidak sanggup melaksanakan pembangunan secara rasionil dan terencana, niscaya satu ketika, kaum lain yang tidak memiliki jiwa nasionalis dan agamis akan mengambil peran membangun negeri ini.

3.         Memperhatikan perkembangan politik dunia di masa lampau, maka peran pemuda sekarang, dan yang akan dating di dalam kancah pembangunan bangsa semestinya menjadi insane Indonesia yang  bertanggung jawab di masa datang, dapat mengambil pelajaran dari kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi di masa lalu. Peran infokom krusial di sini.

4.         Kesalahan-kesalahan dan kekurangan-kekurangan di masa lalu hendaklah membuka pikiran untuk mendapatkan kembali jalan yang benar, yang disinari oleh pelita Pancasila. Kesalahan yang terutama telah dan pernah dilakukan oleh pemimpin-pemimpin rakyat ialah telah menjadikan Pancasila sebagai lip-service belaka.

5.         Meraih cita-cita pembangunan tidaklah tugas ringan, karena main stream pembangunan adalah untuk membangun Indonesia jang adil dan makmur. Hingga saat ini, negara kita masih berpegang kepada Pancasila sebagai bimbingan dalam melaksanakan tugas yang berat itu. Dalam masa-masa pertama, dalam menegakkan dan membela kemerdekaan, semua komponen dan lapisan rakyat Indonesia berpegang kepada Pancasila dengan hati jang murni, kecuali hanya golongan P.K.I. jang menikam dari belakang dengan bermacam pemberontakan di antaranya Madiun.

6.         Membangun berlandaskan alas filosofi bernegara yakni Pancasila, bermakna segala tindakan dikemudikan oleh kepentingan nasional Konsekwensinya, kepentingan golongan dan pribadi terletak di belakang.

7.         Dalam masa-masa tujuh dasawarsa yang panjang, setelah Indonesia merdeka, bersatu dan berdaulat terlaksana, kadangkala generasi bangsa lupa bahwa periode ini baru pada permulaan, dan bangsa belum sampai kepada tujuan. Saat-saat ini adalah masa yang paling tepat untuk memulai dan atau pembangunan Indonesia jang adil dan makmur dengan segala tenaga jang ada pada kita. Namun, dalam masa aitu pula, terlihat adanya penjelewengan dari Pancasila mulai terjadi, sehingga berbagai kemelut social politik berkembang dengan pesat. Tampak nyata, bahwa  kepentingan negara dan masjarakat sering dibelakangkan dari kepentingan partai dan peribadi.

8.         Selain dari itu pemimpin-pemimpin partai lupa bahwa demokrasi tidak lahir begitu saja dengan telah diproklamirkan dan dituliskan dalam suatu piagam, melainkan mesti dihidupkan sungguh-sungguh dalam asuhan dan latihan. Di sini tugas berat semua elemen bangsa, dan peran itu akan terasa ringan bila Infokom berperan baik. Berlakunya low enforcment dalam negara menjadi pendukung utama bagi terlaksananya kehidupan berdemokrasi yang baik. Demokrasi hanya bisa terjamin dalam negara hukum. Tiap-tiap tindakan yang melakukan hukum sendiri adalah anarchi, bertentangan dengan sifat-sifat demokrasi.

9.         Semua generasi anak bangsa mesti mengetahui dan atau menginsafi benar-benar, bahwa demokrasi yang meluap-luap tanpa rambu-rambu filosofi berengara akan menjadi anarki, dan demokrasi akan tersingkir oleh pemahaman idea permissivisness. Demokrasi ada hukumnya, ada aturannya tentang mencapai kekuasaan. Demokrasi menghendaki aturan dan keadaan yang teratur, bukanlah rebutan kekuasaan dengan jalan serampangan saja. Bila kondisi ini terjadi, maka cita-cita mencapai Indonesia jang adil dan makmur di bawah lindungan dan rahmat Allah Tuhan yang Maha Esa malahan akan bertambah djauh. Aktivita berbegara hanya akan terpusat kepada “show”, pertundjukan kemegahan dan kebesaran yang kosong. Pada masa itu, akan terjadi demokrasi yang seharusnya dijiwai oleh Pancasila akan hilang samasekali, dan mau tidak mau akan digantikan oleh kultus perseorangan. Inflasi pasti meradjalela, ekonomi akan meluncur terus menerus dengan tidak ada remnya. Negara tentu akan menuju kebangkrutan. Di sini peran sentral dapat di ambil oleh infokom.

10.  Infokom mestinya berperan sebagai pusat informasi, yang memberi kekuatan kepada pembentukan “disiplin bangsa” dalam NKRI, dengan mensosialisasikan disiplin diri (zelf-disiplin), menjadi bangsa yang mengenal harkat dirinya, mengerti akan kecakapan yang dipunyai, dan tahu akan batas kesanggupannya. Dalam tatanan global yang modern, setidaknya ada tiga macam sikap kepemimpinan, (a). a h l i dalam bidangnya, (b). mengerti perkembangan politik dan sistim bernegara, (c). menyiapkan pemimpin dan pejabat Negara (states-man) yang akan menjalankan dan memimpin politik negara  dengan penuh tanggung jawab.

 

Masa pembangunan  era otonomi

1)     Perkembangan era politik seringkali  tajam dan runcing dalam perdebatan, dengan pendirian sangat subjektif, menentang segala yang berlawanan dengan kejakinan politiknya. Adalah tugas infokom meluruskan pandangan terutama tertuju kepada negara, mencari jalan bagaimana mengemudikan negara dengan sebaik-baiknya melalui gelombang dan karang dalam pertentangan politik. Infokom tidak bvoleh runcing pula dalam penyajiannya, tetapi tegas dan bidjaksana, bahkan perlu suggestif mempengaruhi generasi bangsa untuk tetap berada pada jalur cita-cita bernegara. Kareba itu infokom di dalam alur pemerintahan tidak cukup kiranya mengetahui dan mempunyai pendirian politik saja, tetapi harus pula mempunyai pengetahuan mendasar dalam hal pemerintahan, negeri dan daerahnya. Infokom harus menjadi penggerak kepada perwujudan cita-cita the right man on the right place.

2)     Rakyat perlu di didik mengerti akan kewajiban dan tanggung jawab sebagai wagra negara. Rakyat tidak semata berguna untuk mendapatkan sejumlah suara mendukung. Namun, rakyat menjadi pemilik kedaulatan dalam arti bertanggung jawab sesuai dengan ukuran kekuasaan yang diwakilkan oleh mereka. Kedaulatan rakyat tidak saja menghendaki kekuasaan yang dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan cara bermusyawarat, melainkan menghendaki juga tanggung jawab rakyat jang seukuran dengan kekuasaan yang dilakukan itu. Dan tak dapat disangkal bahwa dalam daerah tanggung jawab pasti banyak terdapat kekurangan, maka pemerintahan negeri melalui infokom harus berjalan dengan se-efektif-efektifnya.

3)     Infokom mempunyai kemestian menumbuhkan kesadaran (keinsafan) bernegara di tengah masyarakat bangsa, sehingg kedudukan negara kita di mata dunia kelihatan kokoh. Ada beberapa beban utama yang tidak mungkin dilalaikan, (a). k e i n s j a f a n  n a s i o n a l  yang ada di dalam diri satu  satu bangsa yang merdeka dan berdaulat, akan melahirkan tanggung jawab dan  kewajiban bersama untuk mempertahankan kemerdekaan tanah air dengan segala jiwa dan raga. Kesadaran nasional ini mestinya menjadi kebanggaan dan bahkan  menjadi pendorong untuk mengobarkan semangat kebangsaan yang muaranya tentu adalah keinginan dan keikhlasan berkorban untuk bangsa dan negaranya.  Dengan keinsafan nasional seorang akan terhindar dari mengorbankan negaranya untuk kepentingan diri sendiri. (b).  k e i n s a f a n  b e r n e g a r a  yaitu pengertian bahwa kita yang mempunyai negara, yang ada hukumnya, ada peraturannya dan memunyai susunannya yang tertentu. Berbagai-bagai tindakan yang merugikan negara, memberi keyakinan kepada kita, bahwa keinsafan itu belum merata dan belum cukup mendalam. Sering-sering orang tak dapat membedakan partai dari negara, menyangka bahwa negara itu dalam hidupnya sama saja dengan partai atau perkumpulan. Negara adalah satu badan di mana orang tidak merdeka keluar masuk menjadi warganya. Ini tugas Infokom.

Comments

Menyikapi Perubahan

Menyikapi Setiap Perubahan

di dalam Mengarungi Kehidupan

Oleh : H Mas’oed Abidin

Dalam arena kehidupan di dunia ini kita akan selalu berhadapan dengan “perubahan”. Dunia atau alam selalu berubah, seiring dengan ketentuan Allah Maha Pencipta alam semesta (Khaliqul ‘Alam), sebagai satu undang-undang baja yang dikenal dengan natuur-wet atau sunnatullah itu.

Orang yang berhikmat sering mengatakan, bahwa tidak ada kekal di dalam kehidupan yang selalu berubah, dan yang tetap kekal hanyalah perubahan itu sendiri. Pandangan yang arif ini mendorong manusia, siapapun dan di manapun dia berada, semestinya siap menghadapi setiap perubahan yang terjadi di dalam perjalanan kehidupannya.

Fenomena Global dapat mencemaskan Kehidupan

Di tengah kehidupan kini, kita dapat merasakan ada satu fenomena yang cukup mendatangkan kecemasan. Di antaranya, dengan mudah telah terjadi infiltrasi budaya asing yang makin lama makin terasa berat menghimpit. Pengaruhnya dirasakan berlaku pada perilaku pergaulan di tengah masyarakat ramai. Pengagungan kekuatan materi secara berlebihan (materialistic) adalah satu dari perubahan perilaku yang sangat kentara. Di samping itu, mulai pula tumbuh kecenderungan watak untuk memisahkan kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik).

Fenomena perubahan perilaku di dalam menyikapi kehidupan tersebut tidak hanya berhenti di sana. Tumbuh pula pemujaan kesenangan indera semata mengejar kenikmatan badani (hedonistik), yang di dalam ajaran agama Islam (syarak) disebut ittiba’ syahawat atau memperturutkan dorongan syahwat belaka. Manakala sikap hidup seperti itu telah mengakar di dalam kehidupan, tentulah kebiasaan hidup (life-style) sedemikian akan menjadi susah untuk menghindar. Secara hakikinya, fenomena kesejagatan (global life-style) seperti disebutkan itu, bila tidak disikapi dengan arif, tentulah akan membawa perilaku umat menjauh dari nilai-nilai budaya luhur.

Daerah kita di Sumatera Barat yang berada di dalam tatanan masyarakat adat Minangkabau, terlihat pula kaidah-kaidah – adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah -, mulai terabaikan. Pengabaian kaidah kehidupan luhur, beradat dan beragama ini akan menyajikan sikap hidup yang lemah dan hilangnya daya saing. Keadaan itu akan makin parah, oleh tumbuhnya kemalasan menambah ilmu, dan enggan berprestasi. Akhirnya, rela atau tidak, individu dan masyarakat menjadi jauh tertinggal.

Paradigma giat merantau dalam menuntut ilmu[1], mulai pula bergeser kepada semata menumpuk materi, mengabaikan ilmu dan keterampilan. Tampil ketidakberdayaan pada generasi bangsa. Ketertinggalan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan lemah minat menyerap informasi dan komunikasi adalah bentuk lain dari akibat pengabaian nilai-nilai luhur dalam kehidupan. Kondisi ini telah menjadi penghalang pencapaian keberhasilan di segala bidang. Hilang network, menjadi titik lemah penilaian terhadap generasi bangsa di setiap masa, dan situasi tersebut telah ikut mengundang maraknya kriminalitas, sadisme, dan krisis secara meluas.[2] Semuanya itu telah dan akan selalu terjadi dikarenakan ketidak siapan individu atau masyarakaat menghadapi setiap perubahan.

Tantangan berat dalam setiap perubahan musim dan masa hanya dapat diatasi dengan kejelian menangkap peluang. Memacu peningkatan kualitas diri, mendorong ke proses pembelajaran terpadu (integrated) adalah satu upaya intensif di dalam memaknai kesiapan menghadapi setiap perubahan. Memacu diri memasuki pendidikan di berbagai bidang keahlian kingga ke tingkat perguruan tinggi, dan kemudian melaksanakan contoh baik (uswah) dalam berkarya, serta mengamalkan akhlak agama (syari’at, etika religi) dan memakaikan nilai luhur adat istiadat di Minangkabau, sesungguhnya adalah satu bentuk positif dari sikap individu dan masyarakat di dalam mengarungi setiap perubahan cuaca dan perkisaran musim di dalam kehidupan.

Berpirau di tengan  Arus Kesejagatan

Arus kesejagatan (globalisasi) yang deras secara dinamik perlu dihadapi dengan penyesuaian-penyesuaian. Artinya, arus kesejagatan tidak boleh mencerabut diri generasi dari akar budaya bangsanya. Arus kesejagatan (globalisasi) yang membawa perubahan itu mesti dirancang untuk dapat ditolak mana yang tidak sesuai, dan dipakai mana yang baik.[3]

Tidak boleh ada kelalaian dan berpangku tangan di tengah mobilitas serba cepat, dan modern.  Persaingan tajam yang kompetitif, tidak dapat dielakkan, ketika laju informasi dan komunikasi efektif tanpa batas. Kita tidak boleh berpangku tangan di tengah pelayaran, ketika badai dating menerjang. Pertanyaannya, apakah kini siap mengha­dapi perubahan cepat penuh tantangan?.

Tanpa kesiapan kualitas internal intelektual (raso jo pareso) dan kekuatan eksternal fisikal (sehat bergiizi) dari Sumber Daya Manusia (SDM) yang sedia berkarya dengan menerapkan ilmu, dengan kekuatan budaya, teguh (istiqamah) beragama, maka terjangan globalisasi itu, amat sulit dihadapi.

Menyikapi badai kesejagatan yang menyangkut semua sisi kehidupan di dalam tatanan  bermasyarakat, semestinya dihadapi dengan kemampuan berkayuh dan bersaing dalam tantangan sosial budaya, ekonomi, politik di era ini. Globalisasi akan mengait ke semua aspek kehidupan manusia. Salah satu kekuatan untuk menghadapinya, dengan atau melalui penguasaan iptek, ICT dan mengamalkan akhlak yang teguh.

Hilangnya Akhlak Menjadikan SDM Lemah

Perilaku individu dan masyarakat, selalu menjadi ukuran tingkatan moral dan akhlak. Hilang kendali menjadi salah satu penyebab lemahnya ketahanan bangsa. Hapusnya panutan, lemahnya peran tokoh, dan pemangku adat dalam mengawal budaya syarak, serta pupusnya wibawa keilmuan di dalam mengamalkan syariat agama Islam, selama ini, telah memperlemah daya saing