Peranan Generasi Muda Dalam Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, di Sumatera Barat

PERANAN GENERASI MUDA DALAM
ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH
MENGHADAPI TANTANGAN DAN PERUBAHAN ZAMAN DI SUMATRA BARAT

OLEH : H. MAS’OED ABIDIN

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه ، لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه، مخلصين له الدين ولو كره الكافرون. وأزكى صلوات الله وتسليماته على سيدنا وإمامنا، وأسوتنا وحبيبنا محمد صلى الله عليه وسلم واله ورضي الله عن أصحابه، ومن سار على ربهم إلى يوم الدين. أما بعد ،،،،،

Segala puji diperuntukkan kepada Allah S.W.T.
Selawat dan salam bagi Baginda Rasulullah SAW. Kepada beliau telah diberikan wahyu, yang mengajar berbagai program ilmu, meningkatkan pengetahuan dan pengalaman dalam aspek-aspek tertentu mengenai Islam dan kehidupan

MUKADDIMAH
Pemuda adalah kelompok besar di tengah satu bangsa, mempunyai tugas dan memikul amanah besar menjadi pelopor perubahan (agent of changes), dengan bekal keyakinan iman kepada Allah, maka semestinya tumbuh menjadi kekuatan,
إنهم فتية آمنوا بربهم وزدناهم هدى
Merekalah para pemuda yang penuh dengan keimanan kepada Allah dan Allah lengkapkan (kuatkan) mereka lagi dengan hidayah. (QS.al Kahfi)

Pemuda dan pemudi yang memiliki kejernihan akal budi dalam menghadapi tantangan kontemporer, mesti berbekal jati diri sesuai fitrah menurut bimbingan Allah. Tantangan kontemporer antara lain penetrasi budaya dan sekularisme yang menjajah mentalitas manusia di abad ini.

Di samping itu, meniru gaya hidup global (the globalization life style) dan nyatanya telah didominasi sikap yahudi seperti pergaulan bebas, kecanduan madat dan miras, serta budaya lucah (sensate culture) dengan hanya memuja nilai rasa panca indera, menonjolkan keindahan sebatas yang di lihat (ditonton), di dengar, di rasa, di sentuh, di cicipi, bertumpu kepada sensual, erotik, seronok, hedonis atau ganas, mengutamakan kesenangan badani (jasmani) belaka.

GAYA HIDUP GLOBALISASI
Masalah besar hari ini, terjadinya interaksi dan ekspansi kebudayaan secara meluas melalui media informasi dan pengagungan materi (materialistik) secara berlebihan, dan perilaku yang menjauhi supremasi agama (sekularistik), sehingga kehidupan manusia tumbuh dengan memuja kenikmatan badani (hedonistik), sehingga menyimpang jauh dari budaya luhur, serta merta telah memunculkan Kriminalitas, Sadisme, Krisis moral secara meluas.

Dunia pendidikan digoncang pula oleh fenomena vandalistik, seperti tawuran pelajar, kebiasaan a-susila di kalangan remaja, maraknya pornografis dan pornoaksi yang sulit di bendung.
Para cendekiawan mulai meminati kehidupan non-science, asyik mencari kekuatan gaib, rajin belajar sihir, menguasai kekuatan jin, bertapa ketempat angker, menyelami black-magic, mempercayai mistik, dan kegiatan irrasionil lainnya.

Para remaja mulai dibalut sensate-culture dengan pola hedonistic, premanisme dengan gaya hidup konsumeristis, rakus, boros, modis yang kebaratan, bebas sex, ittiba’ syahawat (menurutkan hobi dan syahawat) serta sikap individualistik, karena lepas dari kawalan agama dan adat luhur.
Maka, tampillah gaya permissiveness dan anarkis yaitu berbudaya nan lamak di salero (sensete culture).

Orientasi budaya terfokus kepada hiburan, akibatnya grand norms dan grand ideas di tengah masyarakat mulai lepas kendali. Pengawalan syarak dan adat mulai tercerabut dari nilai normative yang luhur sehingga seni bergeser kearah sensual, erotik, horor, ganas, melahirkan klub-klub hiburan, kasino dan panti pijat.

MENGHADAPI TANTANGAN KONTEMPORER
Orang Minangkabau terkenal kuat agamanya dan kokoh adatnya. Seorang pemangku adat Minangkabau di mana saja berdiam tidak akan senang di sebut tidak beragama, dan seorang alim betapapun modernnya tidak menerima jika dikatakan dia tidak beradat.

Orang yang tidak beradat dan tidak beragama, sama kedudukannya dengan orang tidak berbudi pekerti, di sebutkan indak tahu di nan ampek.

Adat Minangkabau dinamis, menampakkan raso (hati, arif, intuitif) dan pareso (akal, rasio, logika), hasil nyata dari alam takambang jadi guru, makin kokoh dengan keyakinan yang diisi oleh agama Islam yang benar (haq dari Rabb).

Dalam menghadapi tantangan kontemporer, perubahan tata pergaualan dunia, generasi Minangkabau dengan filosofi adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah mesti bertumpu kepada istiqamah (konsistensi).

Fatwa adat menyebutkan, “Alang tukang tabuang kayu, Alang cadiak binaso adat, Alang alim rusak agamo, Alang sapaham kacau nagari. Dek ribuik kuncang ilalang, Katayo panjalin lantai, Hiduik jan mangapalang, Kok tak kayo barani pakai. Baburu kapadang data, Dapeklah ruso balang kaki, Baguru kapalang aja, Bak bungo kambang tak jadi”.

Kalangan Remaja dan para pemuda yang terdidik (el-fataa) khususnya dan umat Islam, wajib mengukuhkan ukhuwah dan semangat persaudaraan (ruh al ukhuwwah) yang terjalin baik, guna dijadikan senjata ampuh menghadapi tantangan kontemporer.

Persaudaraan tidak dapat di raih dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak.
Tamak dan loba dalam tatanan ekonomi akan mempertajam permusuhan antara dhu’afak dengan kapitalis. Bakhil akan meruntuhkan perasaan persaudaraan dan perpaduan.

Setiap Muslim wajib mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian dan membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya.

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah) kepada berbagai kegelapan.

MENYIKAPI PERUBAHAN ZAMAN
Arus globalisasi dapat menumpangkan riak pada gelombang seperti penetrasi budaya dari luar. Apabila pagar budaya kita lemah, niscaya akan terjadi jalan di alieh urang lalu.

Di samping itu, infiltrasi dari luar acap kali pula berdampak perubahan perilaku anak nagari (masyarakat, praktek pemerintahan, pengelolaan wilayah dan asset, serta perkembangan norma lebih mengedepan -kan perebutan prestise, materialistis dan individualistik sehingga kepentingan bersama masyarakat terabaikan.

Karenanya, bukan kemustahilan bila idealisme kebudayaan Minangkabau menjadi sasaran cercaan, serta upaya kebersamaan (kolektifiteit) menjadi kurang dibanding prestasi individual.

Secara jujur, kita harus mengakui bahwa adat tidak mungkin lenyap, manakala orang Minangkabau memahami dan mengamalkan fatwa adatnya.

“Kayu pulai di Koto alam, batangnyo sandi ba sandi, Jikok pandai kito di alam, patah tumbuah hilang baganti”, artinya secara alamiah (natuurwet) adat itu akan selalu ada dalam prinsip jikalau patah akan tumbuh (maknanya hidup dan dinamis).
Mengikuti perputaran masa yang tidak mengenal kosong, dan setiap kekosongan akan selalu terisi, dengan dinamika akal dan kekuatan ilmu (raso jo pareso) dengan sendi keyakinan maka yang hilang akan berganti.

Di sini kita menemui kearifan menangkap perubahan yang terjadi, “sakali aie gadang, sakali tapian baralieh, sakali tahun baganti, sakali musim bakisa” lebih komprehensif bahwa perubahan tidak mengganti sifat adat, sungguhpun penampilannya di alam nyata mengikut zaman dan waktu.
“Kalau di balun sabalun kuku, kalau dikambang saleba alam, walau sagadang biji labu, bumi jo langit ado di dalam”.

Keistimewaan adat ada pada falsafah adat mencakup isi yang luas, ibarat biji (tampang) manakala ditanam, dipelihara, tumbuh dengan baik, semua bagiannya (urat, batang, kulit, ranting, dahan, pucuk, yang melahirkan pula tampang-2 baru sesuai dengan buahnya) menjadi satu kesatuan besar dan berguna apabila terletak pada tempat dan waktu yang tepat.

Perputaran harmonis dalam “patah tumbuh hilang berganti”, menjadi sempurna dalam “adat di pakai baru, kain dipakai usang”.

Maknanya adat tidak mesti mengalah kepada yang tidak sejalan, akan tetapi yang datang seharusnya menyesuaikan dengan adat yang ada.

Adat adalah aturan satu suku bangsa, menjadi pagar keluhuran tata nilai yang dipusakai, tanggungjawab kuat untuk diri dan masyarakat kini dalam mengawal generasi yang akan datang.

MEMBINA PERIBADI BERADAT DI MINANGKABAU
Telah sejak lama menjadi pekerjaan utama anak nagari, di mulai dari penyiapan sarana surau menjadi lembaga pendidikan anak nagari di dusun (nagari) dan taratak (kota), sampai kepada mencari pasangan dan menerima urang sumando, menjadi cerminan dari tatanan masyarakat kuat (mandiri) berakhlaq dan paham syarak.

Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, Kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek, dan Nak urang Koto Hilalang, nak lalu ka Pakan Baso, malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso.

Membina masyarakat dengan memahamkan adat, yang menjangkau pikiran dan rasa yang dipunyai setiap diri, kemudian di bimbing oleh agama yang mengisi keyakinan sahih (Islam), menanam rasa malu (haya’), raso dan pareso, iman kepada Allah, yakin kepada hari akhirat, mengenal hidup akan mati

Sejak dini dipaancangkan benteng aqidah (tauhid) dari rumah tangga dan lingkungan (surau) menjadi gerakan mencerdaskan umat, sesuai pantun adat di Minangkabau,

“Indak nan merah pado kundi, indak nan bulek pado sago, Indak nan indah pado budi, indak nan indah pado baso”,

“Anak ikan dimakan ikan, gadang di tabek anak tanggiri, ameh bukan pangkaik pun bukan, budi sabuah nan di haragoi”,

“Dulang ameh baok ba –laia, batang bodi baok pananti, utang ameh buliah di baie, utang budi di baok mati”,

“Pucuak pauh sadang tajelo, panjuluak bungo galundi, Nak jauah silang sangketo, Pahaluih baso jo basi”,

“Anjalai tumbuah di munggu, sugi-sugi di rumpun padi, nak pandai rajin baguru, nak tinggi naiakkan budi”.

Dengan mengamalkan Firman Allah:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama (syariat, syarak) dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya (dengan cara-cara mengamalkannya pada setiap perilaku dan tindakan dengan kehidupan beradat), apabila mereka telah kembali kepadanya – kekampung halamannya –, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS.IX, at Taubah, ayat 122).

Alangkah indahnya satu masyarakat yang memiliki adat yang kokoh dan agama (syarak) yang kuat, yang tidak bertentangan satu dan lainnya, malahan yang satu bersendikan yang lainnya, dimana hidup mengamalkan “kokgadang indak malendo, kok cadiek indak manjua, tibo di kaba baik baimbauan, tibo di kaba buruak ba hambauan”.

Alangkah indahnya masyarakat yang hidup dalam rahmat kekeluargaan kekerabatan dengan benteng aqidah yang kuat, berusaha baik di dunia fana dan membawa amal shaleh kealam baqa.

Labuah nan pasa terbentang panjang, tepian tempat mandi terberai (terserak dan terdapat) di mana-mana, gelanggang untuk yang muda-muda serta tempat sang juara (yang mempunyai keahlian, prestasi) dapat mengadu ketangkasan secara sportif berdasarkan adat main “kalah menang” (rules of game).

Masyarakatnya hidup aman dan makmur, dengan anugerah alam dan minat seni yang indah.

“Rumah gadang basandi batu, atok ijuak dindiang ba ukie, cando bintangnyobakilatan, tunggak gaharu lantai candano, taralinyo gadiang balariak, bubungan burak katabang, paran gambaran ula ngiang, bagaluik rupo ukie Cino, batatah dengan aie ameh, salo manyalo aie perak, tuturan kuro bajuntai, anjuang batingkek ba alun-alun, paranginan puti di sinan,

Lumbuang baririk di halaman, rangkiang tujuah sa jaja, sabuah si Bayau-bayau, panenggang anak dagang lalu, sabuah si Tinjau Lauik, panengggang anak korong kampuang, birawari lumbuang nan banyak, makanan anak kamanakan”.

Artinya, ada perpaduan ilmu rancang, seni ukir, budaya, material, mutu, keyakinan agama yang menjadi dasar rancang bangun berkualitas punya dasar social, cita-cita keperibadian, masyarakat dan idea ekonomi yang tidak mementingkan nafsi-nafsi, tapi memperhatikan pula ibnusabil (musafir, anak dagang lalu) dan anak kemenakan di korong kampung.
“Nan elok di pakai, nan buruak di buang, usang-usang di pabaharui, lapuak-lapuak di kajangi”, maknanya sangat selektif dan moderat.

Kitabullah yakni Alquran “mengeluarkan manusia dari sisi gelap kealam terang cahaya (nur)” dengan aqidah tauhid. Di dalam masyarakat Minangkabau hidup menjadi beradab (madani) dengan spirit kebersamaan (sa-ciok bak ayam sa-danciang bak basi),

Sesuai pepatah “Anggang jo kekek cari makan, Tabang ka pantai kaduo nyo, Panjang jo singkek pa uleh kan, mako nyo sampai nan di cito”, diperkuat dengan keterpaduan (barek sa-pikua ringan sa-jinjiang).
“Adat hiduik tolong manolong, Adat mati janguak man janguak, Adat isi bari mam-bari, Adat tidak salang ma-nyalang”, nyata pada tangga musyawarah (bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mupakat), dalam kerangka “Senteng ba-bilai, Singkek ba-uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo” dalam menerjemahkan iman kepada Allah SWT dan menjadi pengikat spirit sunnatullah dalam setiap gerak.

Dalam Fatwa adat di sebut tanggung jawab masyarakat adat menjaga ketaatan hukum dan memelihara keteraturan sebagai ciri utama masyarakat bersyukur, yang berbuat menurut aturan dan undang-undang.

“Nan babarih babalabeh, nan ba-ukua nan ba jangko, Mamahek manuju barih, Tantang bana lubang katabuak. Manabang manuju pangka, Malantiang manuju tangkai, Tantang bana buah ka rareh. Kok manggayuang iyo bana putuih, Kok ma-umban iyo bana rareh.”

Artinya, setiap pekerjaan mesti sesuai dengan aturan dan tidak boleh ada bengkalai. Ada aturan sesuai garis sunnatullah, agar terlaksana dengan baik. Dengan mendalami ilmu, lahirlah rasa khasyyah (takut) dan takwa kepada Allah dengan melahirkan watak menjauhi rasa takabbur, kufur dan bangga diri dengan merendahkan orang lain.

Seorang Muslim merasakan nilai-nilai aqidah dan penghayatan didalam kehidupan menjadi satu yang wajib. Al-Sunnah telah memberikan perhatian mendalam kepada masalah nilai aqidah, seperti sabda Nabi SAW:

ذاق طعام الا يمان من رضي بالله ربا وبا لا سلا م دينا وبمحمد رسولا.
Yang merasakan lazatnya iman adalah orang yang redha terhadap Allah sebagai Tuhannya, dan redha terhadap Islam sebagai agamanya dan redha terhadap Muhammad sebagai Rasul.

Menanamkan mahabbah (kasih sayang) sesama, sesuai sabda Rasulullah SAW :

ثلاث من كن فيه وجد طعم الايمان : من كان الله ورسوله احب اليه مما سواهما, ومن احب عبدا لا يحبه الا الله, ومن يكره ان يعود فى الكفر بعد ان انقذه الله منه كما يكره ان يلقى فى النار.

Ada tiga perkara, barangsiapa terdapat pada dirinya, maka dia akan merasakan lazatnya keimanan : Orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada selain keduanya, orang yang mencintai seorang hamba hanya karena Allah, dan orang yang benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana dia benci untuk dilempar ke dalam neraka.

Generasi Minangkabau yang beradat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah berpandangan luas dan menghormati hak-hak asasi manusia secara integratik dan umatik sifatnya, yakni bermanfaat untuk semua, terbuka transparan, namun teguh, bertanggung jawab, dan kesatria.

“Kok di pakok urang banda sawah, Di aliehnyo lantak pasupadanan,
Busuangkan dado padek-padek, Paliekkan buyuang laki-laki,
Jan takuik tanah tasirah, Aso hilang duo tabilang,
Sabalun aja bapantang mati, Namun di dalam kabanaran,
Bago di pancuang lihie putuih, Satapak jan namuah suruik.”

Kekuatan taqarrub ila Allah inilah kekuatan mujahid di jalan Allah, yang mesti di warisi generasi muda Islam. Dan inilah buah dari tauhid uluhiyah. Allah SWT telah menyediakan alam sebagai sumber daya (material resources) bagi manusia yang hidup di alam (bumi) ini.

Alam memang tidak menyiapkan segalanya serba jadi (ready to used).
Alam perlu diolah oleh tangan manusia, sehingga dapat mendatangkan nilai lebih dan nilai guna yang optimal bagi manusia. Untuk itu, manusia memerlukan alat dan ilmu. Supaya kita dapat serta merta merealisasikan hikmatnya.

Di dalam Islam, setiap insan didorong agar memiliki ilmu pengetahuan yang cukup dan memadai. “Siapa yang menginginkan dunia dia peroleh dengan ilmu, sesiapa yang inginkan (kebahagiaan) akhirat juga dengan ilmu, bahkan yang menginginkan keduanya, juga hanya dengan ilmu”.

Menuntut ilmu adalah kewajiban asasi setiap Muslim, karena pengetahuan manusia sedikit sekali …,
يَسْئَلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَ مَا أُوْتِيْتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيْلاً.
dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh . Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (QS.17, al Isra’ : 85).

Kesediaan membuat sesuatu yang lebih baik untuk masa dating secara madiyah (material) maupun ruhaniyah (spiritual) diringi dengan keteguhan pendirian menjauhi segala bentuk kemungkaran dan berharap supaya dihindarkan dari azab neraka, akan berperan didalam hidup berakhlak karimah, dengan mengutamakan kesopanan pergaulan dan memakaikan rasa malu.

Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek. Apabila malu sudah hilang, tidak ada lagi yang mengikat seseorang untuk berbuat seenak hatinya.

Anak urang Koto Hilalang, Handak lalu ka Pakan Baso, malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso.

HILANG DAYA SAING
Merosotnya peran kelembagaan adat dan syarak membina anak nagari di Minangkabau terkait pada kurang berfungsinya lembaga pendidikan anak nagari (surau) dan rapuhnya pagar adat dalam kekerabatan, hilang prinsip musyawarah dan mufakat.

Surau adalah pusat pembinaan kecerdasan anak nagari perlu dipelihara. Dinamika kehidupan hanya dapat dibangun dengan budi akal yang jernih serta budi pekerti yang luhur.

Umat Islam di Minangkabau yang ingin bersanding di tengah perubahan wajib peka, mempunyai sense of belonging terhadap harakah Islamiya di nagai-nagari.

Penguatan masyarakat mandiri yang madani di Ranah Bundo dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tidak boleh dilalaikan.

Alangkah indahnya masyarakat adat, jika padi manjadi, jaguang maupiah, menara masjid menjulang keangkasa, “musajik tampek ba ibadah, tampek ba lapa ba makna, tampek baraja Alquran 30 juz, tampek mangaji salah jo batal”.

Balai permusyawaratan terpancang kokoh di bumi, (balairung atau balai adat) tempat musyawarat dan menetapkan hukum dan aturan “balairuang tampek manghukum, ba aie janiah ba sayak landai, aie janieh ikannyo jinak, hukum adil katonyo bana, dandam agieh kasumaik putuih, hukum jatuah sangketo sudah”, jenjang musyawarat terpelihara dengan baik.

Ketepatan bertindak adalah warisan masyarakat berbudaya, maju, mengutamakan ilmu pengetahuan, dan toleran dalam pergaulan.

“Pawang biduak nak rang Tiku, Pandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Di sinan api mangko hiduik”.

Kitabullah yang menjadi landasan dari syarak mangato adat memakai, menjelaskan tentang penghormatan terhadap perbedaan itu,
يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berkabilah-kabilah (bangsa-bangsa)dan berpuak-puak (suku-suku) supaya kamu saling kenal mengenal …”, (QS.49, al Hujurat : 13).

Apabila anak nagari di biarkan terlena dengan apa yang dibuat orang lain, dan lupa membenah diri dan kekuatan ijtima’i (kebersamaan), tentulah umat Islam ini akan di jadikan jarum kelindan oleh orang lain di dalam satu pertarungan gazwul fikri.

“Pariangan manjadi tampuak tangkai, Pagarruyuang pusek Tanah Data, Tigo Luhak rang mangatokan. Adat jo syarak jiko bacarai, bakeh bagantuang nan lah sakah, tampek bapijak nan lah taban”.

Apabila kedua sarana ini berperan sempurna, maka di kelilingnya tampil kehidupan masyarakat yang berakhlaq perangai terpuji dan mulia (akhlaqul-karimah) itu. “Tasindorong jajak manurun, tatukiak jajak mandaki, adaik jo syarak kok tasusun, bumi sanang padi manjadi”.

Kekuatan tamaddun dan tadhamun (budaya) dari syarak (Islam) menjadi rujukan pemikiran, pola tindakan masyarakat berbudaya yang terbimbing dengan sikap tauhid (aqidah kokoh), kesabaran (teguh sikap jiwa) yang konsisten, keikhlasan (motivasi amal ikhtiar), tawakkal (penyerahan diri secara bulat) kepada kekuasaan Allah.

Ciri utama (sibghah, identitas) iman dan takwa secara nyata relevan diperlukan setiap masa, dalam menata sisi-sisi kehidupan kini dan masa depan.

Suatu individu atau kelompok masyarakat yang kehilangan pegangan hidup (aqidah dan adat), walau secara lahiriyah kaya materi namun miskin mental spiritual, akan terperosok kedalam tingkah laku yang menghancurkan nilai fithrah itu.

PERAN GENERASI MUDA MINANGKABAU
Remaja masa depan di era globalisasi, wajib lahir dengan budaya luhur (tamaddun) yang berpaksikan tauhidik. Artinya generasi Minangkabau memiliki daya inovasi dan daya kreasi yang tinggi, ditupang oleh tamaddun yang luhur .

Cahaya akal mesti diletakkan di bawah naungan payung wahyu agar berpadu kepintaran dengan kebijaksanaan, pengetahuan dengan hidayah. Dengan demikian rahmat dan barakah dapat diraih. Ihsan dan kasih sayang dapat dicapai.

Dengan ilmu yang berteraskan iman, para pemimpin dan aktivis muda Islam di nagari-nagari akan dapat merumus fikrah harakiah untuk merancang gerak menyatakan visi dan misi di dalam menegakkan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah di Minangkabau.

Generasi Minangkabau sewajarnya menjadi generasi dinamik yang tumbuh dengan kejelian akal fikir disertai kejernihan budi pekerti.

“Pucuak pauah sadang tajelo, Panjuluak bungo galundi, Nak jauh silang sangketo, Pahaluih baso juo basi. Anjalai tumbuah di munggu, Sugi-sugi di rumpun padi, Nak pandai sungguah baguru, Nak tinggi naiakkan budi.”

Generasi muda di Sumatra Barat memiliki tanggung jawab masa lalu yakni kewajiban terhadap budaya luhur para leluhur (cultural base). Mempunyai tanggung jawab masa kini yaitu kewajiban terhadap diri dan masyarakat dengan menata kehidupan berlandaskan norma-norma adat dan syarak (religious base).

Memiliki kewajiban masa depan yang hanya dapat diraih dengan keberhasilan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge base). Ketiga asas (basis) tersebut tampak dalam kualitas kepribadian generasi Minangkabau,

“Basilek di ujuang muluik, Malangkah di pangka karih, Bamain di ujuang padang. Tahan di keih kato putuih, Tahu di kilek dengan bayang, Tahu di gelek kato habih. Tahu di rantiang kamalantiang, Tahu di dahan nan ka mahimpok.” Artinya, mendidik dan melatih kader pimpinan.

Mengatasi kurenah dan perbedaan pendapat untuk memenangkan pertarungan menumpas kebatilan.

Para pejuang muda Islam, terutama generasi muda perlu iltizam harakah atau gerakan saciok bak ayam sa danciang bak basi. Mengedepankan manhaj haraki yakni lazim dipakai dengan program bulek aie dek pambuluah bulek kato kamupakaik.

Mengamalkan budaya amal jama’i yaitu kok gadang indak malendo, kok cadiek indak manjua, tibo di kaba baik bahimbauan, tibo di kaba buruak bahambauan. Zaman menjadi lone ranger dan alam one man show sewajarnya sudah berakhir.

Pendekatan haraki (social movement) menangani isu perubahan global, sakali aie gadang, sakali tapian barubah, sakali tahun baganti, sakali musim bakisa, mesti dilaksanakan dengan tanggungjawab nan elok dipakai, nan buruak dibuang. Kepimpinan bukan ghanimah mengaut keuntungan diri sendiri.

Kepemimpinan adalah amanah dan tanggungjawab di dalam adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah adalah,

“Manyuruah babuek baik, malarang babuek jahek,Mahirik mambantang, manunjuak ma-ajari. Managua manyapo. Tadorong mahelo, talompek manyentak, Gawa ma-asak, ma asak lalu ka nan bana. Tak ado karuah nan tak janieh. Tak ado karuik nan tak salasai.

Sesungguhnya adalah satu gerakan masyarakat bersama atau harakah Islamiyah mengangkat umat di nagari mencapai kejayaan hidup sesuai syarak (Islam). Kreativiti dan inovasi sebagaimana dimaklumi bersama berkait rapat dengan berbagai bidang dakwah.

Antaranya pengurusan sumber manusia, komunikasi, percetakan elektronik, e-book, e-newspaper, video conferencing, virtual school, universiti maya dan sebagainya.

Para ilmuan muda, cendikiawan atau suluah bendang di nagari perlu meningkatkan kualitas kepimpinan dengan kemahiran tanzim Islami.
Teguh ubudiyyah dan zikrullah.
Mahir merancang dan mengurus, seiring dengan melatih dan membimbing. Memelihara kesinambungan proses mengajar dan belajar di tengah anak nagari.

Generasi muda yang terdidik dengan paksi Islam – Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah –, mampu menilai teknologi maklumat, mahir bergaul dan berkomunikasi, sebagai bekal di dalam menghadapi dan menyelesaikan konflik, yang kesudahannya menarik minat dan dukungan umat banyak, serta mahir berpolitik, menguasai bahasa, falsafah dan sejarah.

Akhirnya, kreativitas didukung keikhlasan mencari redha Allah. Generasi muda masa kini mesti memiliki utilitarian ilmu. berasaskan epistemologi Islam yang jelas, dalam kata adat disebutkan, “Iman nan tak buliah ratak, kamudi nan tak buliah patah, padoman indak buliah tagelek, haluan nan tak buliah barubah”.

Generasi masa datang mesti memiliki pemahaman luas dengan tasawwur (world view). “Kalau tak tasuo di jalannyo, namuah ba pua-pua dagiang, namuah bakacau-kacau darah, tando sabana laki-laki.”

Dalam kondisi kritis sekalipun, generasi Minangkabau selalu awas dan berhati-hati, “Bakato sapatah dipikiri, Bajalan salangkah maliek suruik, Mulik tadorong ameh timbangannyo, Kaki tataruang inai padahannya, Urang pandorong gadang kanai, Urang pandareh ilang aka.”

MEMAHAMI SYARAK MANGATO ADAT MEMAKAI
Masyarakat adat bersendikan Kitabullah, memahami bahwa kaedah adat dipertajam makna dan fungsinya oleh kuatnya peran syariat. Tauhid mendorong manusia memaksimalkan seluruh daya pikir, daya cipta, daya upaya, menjadi modal dasar untuk menata kehidupan dengan mendorong karya amal manusia lahir bathin.

Motivasi berawal dari paradigma tauhid yang benar. Menempatkan tauhid sebagai landasan berpikir, beramal, bertindak, dalam seluruh aspek kehidupan, politik, ekonomi, sosial budaya, akan menjalin hubungan vertikal yang langgeng antara makhluk dengan Khalik, tampak pada perilaku ikhlas, tawadhuk, tawakkal mencari redha Allah.

Hasil utama dari syarak mangato adat memakai adalah wujudnya “rahmatan lil-‘alamin”, yakni tatanan kebahagian dan rahmat untuk seluruh alam ini.

1. Mengutamakan prinsip hidup berseimbang
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan jika kamu menghitung-hitung ni’mat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi maha Penyayang” (QS.16, An Nahl : 18).

2. Allah telah menjadikan bumi mudah untuk di gunakan. Maka berjalanlah di atas permukaan bumi, dan makanlah dari rezekiNya dan kepada Nya lah tempat kamu kembali. (QS.62, Al Jumu’ah : 10).

Merantau di Minangkabau adalah sesuatu pelajaran dalam perjalanan hidup, “Karatau madang di hulu babuah babungo balun. Marantau buyuang dahulu di rumah paguno balun. Akan tetapi, selalu ditanamkan pentingnya kehati-hatian, “Ingek sa-balun kanai, Kulimek sa-balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai, Agak-agak nan ka-tingga”.

3. Mencari nafkah dengan “usaha sendiri”, dengan tulang delapan kerat dan cara amat sederhana sekalipun “lebih terhormat”, daripada meminta-minta dan menjadi beban orang lain.

Membiarkan diri hidup dalam kemiskinan tanpa berupaya adalah salah , “Kefakiran (kemiskinan) membawa orang kepada kekufuran (ke-engkaran)” (Hadist).

4. Tawakkal dan tidak boros adalah satu bentuk keseriusan dan tidak “hanya menyerahkan nasib” tanpa berbuat apa-apa, “Bertawakkal lah kamu, seperti burung itu bertawakkal” (Atsar dari Shahabat). Artinya, pemahaman syarak menanamkan dinamika hidup yang tinggi.

5. Kesadaran kepada ruang dan waktu. “Kami jadikan malam menyelimuti kamu (untuk beristirahat), dan kami jadikan siang untuk kamu mencari nafkah hidup”. (QS.78, An Naba’ : 10-11)

6. Arif akan adanya perubahan-perubahan dengan pandai mengendalikan diri, agar jangan melewati batas, dan berlebihan.
“Ka lauik riak mahampeh, Ka karang rancam ma-aruih, Ka pantai ombak mamacah. Jiko mangauik kameh-kameh, Jiko mencancang, putuih – putuih, Lah salasai mangko-nyo sudah”.

7. Pemahaman syarak menekankan kepada kehidupan yang dinamis, mempunyai martabat (izzah diri), bekerja sepenuh hati, menggerakkan semua potensi yang ada, dengan tidak menyisakan kelalaian ataupun ke-engganan. Tidak berhenti sebelum sampai. Tidak berakhir sebelum benar-benar sudah.

KONSEP TATA-RUANG
Adalah salah satu kekayaan budaya yang sangat berharga di nagari dan bukti idealisme nilai budaya di Minangkabau, termasuk di dalam mengelola kekayaan alam dan pemanfaatan tanah ulayat.

“Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu,
Nan gurun buek kaparak, Nan bancah jadikan sawah,
Nan munggu pandam pakuburan, Nan gauang katabek ikan,
Nan padang kubangan kabau, Nan rawang ranangan itiak”.

Tata ruang yang jelas memberikan posisi peran pengatur, pemelihara. Pendukung sistim banagari yang terdiri dari orang ampek jinih, yang terdiri dari ninikmamak (yakni penghulu pada setiap suku, yang sering juga disebut ninikmamak nan gadang basa batuah, atau nan di amba gadang, nan di junjung tinggi, sebagai suatu legitimasi masyarakat nan di lewakan)

Berikutnya, alim ulama (juga disebut dengan panggilan urang siak, tuanku, bilal, katib nagari atau imam suku, dll dalam peran dan fungsinya sebagai urang surau pemimpin agama Islam ditengah denyut nadi kehidupan masyarakat (anak nagari).

Selanjutnya, cerdik pandai (dapat saja terdiri dari anak nagari yang menjabat jabatan pemerintahan, para ilmuan, perguruan tinggi, hartawan, dermawan).

Kemudian, urang mudo (yakni para remaja, angkatan muda, yang dijuluki dengan nan capek kaki ringan tangan, nan ka disuruah di sarayo).

Dan Bundo Kanduang di Minangkabau, adalah menjadi “limpapeh rumah nan gadang, umbun puruak pegangan kunci, pusek jalo kumpulan tali, sumarak dalam nagari, nan gadang basa batuah”).

Dukungan masyarakat adat dan kesepakatan tungku tigo sajarangan yang terdiri dari ninikmamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang dan kalangan rang mudo, menjadi penggerak utama mewujudkan tatanan sistim di nagari. Terutama dalam menerjemahkan peraturan daerah kembali kepemerintahan nagari.

Hakekatnya, anak nagari sangat berkepentingan dalam merumuskan nagarinya. Konsep ini mesti tumbuh dari akar nagari itu sendiri.
Tidak suatu pemberian dari luar.

“Lah masak padi ‘rang Singkarak, masaknyo batangkai-tangkai, satangkai jarang nan mudo, Kabek sabalik buhul sintak, Jaranglah urang nan ma-ungkai, Tibo nan punyo rarak sajo”, artinya diperlukan orang-orang yang ahli dibidangnya, terutama dalam menatap setiap perubahan peradaban yang tengah berlaku. Hal ini perlu dipahami, supaya jangan tersua “ibarat mengajar kuda memakan dedak”.

MEMPERKUAT POSISI NAGARI

Tugas kembali kenagari adalah menggali potensi dan asset nagari yang terdiri dari budaya, harta, manusia, dan agama anutan anak nagari. Apabila tidak digali, akan mendatangkan kesengsaraan baru bagi masyarakat nagari. Dimulai dengan memanggil potensi yang ada dalam unsur manusia, masyarakat nagari.

Menggali kesadaran akan benih-benih kekuatan yang ada dalam diri masing-masing. Kemudian observasinya dipertajam, daya pikirnya ditingkatkan, daya geraknya didinamiskan , daya ciptanya diperhalus, daya kemauannya dibangkitkan. Upaya ini akan berhasil dengan menumbuhkan atau mengembalikan kepercayaan kepada diri sendiri.

Kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan “nawaitu” dalam diri masing-masing, untuk membina umat dalam masyarakat di nagari harus diketahui pula kekuatan-kekuatan.
“Latiak-latiak tabang ka Pinang,
Hinggok di Pinang duo-duo,
Satitiak aie dalam piriang,
Sinan bamain ikan rayo”.

Teranglah sudah, bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat nagari lahir dan batin, material dan spiritual pasti akan menemui disini iklim (mental climate) yang subur.

Apabila pandai menggunakan dengan tepat akan banyak membantu usaha pembangunan itu. Melupakan atau mengabaikan ini, adalah satu kerugian. Berarti mengabaikan satu partner “yang amat berguna” dalam pembangunan masyarakat dan negara.

Maka “Kembali ke Nagari“, menurut hemat saya, semestinya lebih dititik beratkan kepada kembali banagari dalam makna kebersamaan dan mengenali alam keliling.

“Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang, Satitiak jadikan lauik, Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru ” .

Melahirkan sikap cinta ke nagari, menjadi perekat pengalaman sejarah, melahirkan sikap positif menjaga batas-batas patut dan pantas, sehingga terbentuk umat utama yang kuat dengan sehat fisik, sehat jiwa, sehat pemikiran, dan sehat social, ekonomi, pendidikan mengambil bentuk pemikiran konstruktif (amar makruf) dan meninggalkan pemikiran destruktif (nahyun ‘anil munkar) menurut tata cara hidup yang diajarkan agama Islam (syarak), yakni berdikari membantu diri sendiri (self help), membantu dengan ikhlas karena Allah SWT (selfless help), dan saling bekerjasama membantu satu sama lain (mutual help).

Setiap muslim selalu berhati-hati dan tidak cepat mempercayai suatu berita yang sumbernya diragukan dan datang dari kelompok fasik yang suka memancing tumbuhnya kemelut. Sikap tabayun dalam menerima berita mesti selalu dipakai, agar tidak silap menetapkan amar putusan yang menyisakan penyesalan.

Meninggalkan tabayun memancing lahirnya tindakan zalim atau aniaya.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (QS. al-Hujurat : 6).

Perbuatan ‘aku isme” atau “ananiyah” akan menyuburkan tafarruq dan tanazu’, maka perlu diajarkan cara-cara pembinaan hidup bermasyarakat itu.

KHULASAH
MENAMPILKAN PROGRAM UMATISASI

Menghadapi tantangan kontemporer yang sedang menjajah hati budi umat khusus di Minangkabau (Sumatra Barat), dapat dilakukan dengan berapa agenda kerja,

1. Mengokohkan pegangan umat dengan keyakinan dasar Islam sebagai suatu cara hidup yang komprehensif.

2. Menyebarkan budaya wahyu di atas kemampuan akal.
a. Memperbanyak program meningkatkan hubungan umat dengan Alquran.
b. Melipatgandakan pengaruh sunnah Rasulullah dalam masyarakat.
c. Meningkatkan pengetahuan umat mengenai sirah Rasulullah SAW.
d. Menyuburkan amalan ruhaniah yang positif
e. Proaktif membangun masyarakat dengan bekalan tauhid ibadah.

3. Memperluas penyampaian fiqh Islam dalam aspek-aspek sosio politik, ekonomi, komunikasi, pendidikan dan lain-lain.

4. Menghidupkan semangat jihad di jalan Allah.
a. Menggali sejarah kejayaan masa silam.
b. Menanam semangat kepahlawanan menghadapi musuh-musuh Islam.
c. Menyebarluaskan agenda musuh yang melemahkan umat Islam di seluruh dunia.
d. Menyebarluaskan bahaya sekularis, materialisme, kapitalisme dan westernisasi.
e. Mengkritik rasialis dan assabiah jahiliyyah dengan hujjah Islam yang benar.
f. Menentang aliran pemurtadan terhadap intelektual, pakar budaya, sasterawan dan wartawan yang merugikan Islam.

5. Meningkatkan program menguatkan peran muslimat dalam membentuk sejarah gemilang di zaman silam.

6. Menampilkan sistem pendidikan Islam melawan aliran pendidikan sekular.
a. Memperbanyakkan program mengasuh dan mendidik generasi baru dan remaja Islam agar tidak dapat dimusnahkan oleh sekularisme dan budaya porno kebaratan.
b. Menggandakan usaha melahirkan wartawan dan penulis Islam dalam berbagai lapangan media.

7. Menggandakan bilangan ulama suluah bendang di nagari.

8. Melahirkan pendakwah Rabbani melalui pembinaan pusat-pusat pengajian tinggi (ma’hadul ‘aliy) dan institut perkaderan Imamah dan Ulama suluah bendang di nagari.

9. Penting sekali dilakukan usaha pembentukan da’iya, imam khatib, para mu’allim dan tuangku di nagari-nagari pada saat kembali ke surau.
a. Memberikan bekal yang cukup melalui pelatihan dan pembekalan ilmu yang memadai.
b. Membuatkan anggaran belanja yang memadai di daerah-daerah menjadi sangat penting di dalam mendukung satu usaha yang wajib.
c. Meningkatkan keselarasan, kesatuan, kematangan dan keupayaan haraki Islami.

10. Menjalin dan membuat kekuatan bersama untuk menghambat gerakan-gerakan yang merusak Islam.
a. Mengukuhkan pergerakan umat dalam memerangi semangat anti agama, anti keadilan, dan demokrasi.
b. Meningkatkan budaya syura dalam masyarakat, untuk mengelak dari cara-cara imperialisme masuk kedalam masyarakat di era kebebasan.
c. Meningkatkan kesadaran dan keinsafan tentang hak asasi manusia, hak-hak sipil (madani) dan politik untuk seluruh rakyat.
d. Meningkatkan keinsafan mempunyai undang-undang yang adil sesuai syarak.
e. Memastikan kehadiran media massa yang bebas, sadar, amanah, beretika dan profesional agar umat tidak mudah dimangsa oleh penjajah baru, baik dari kalangan bangsa sendiri atau orang luar.
f. Memastikan pemimpin umat dan negara terdiri dari kalangan orang yang bertaqwa, berakhlak dan bersih dari penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan diri, keluarga dan kelompoknya.

11. Menimbulkan keinsafan mendalam di kalangan rakyat tentang perlunya penghakiman yang adil. Kehakiman yang adil adalah tuntutan Islam.

12. Meningkatkan program untuk melahirkan masyarakat penyayang yang tidak aniaya satu sama lain. Menanamkan tata kehidupan saling kasih mengasihi dan beradab sopan sesuai adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah.

Generasi muda Islam, mesti meniru kehidupan lebah, yang kuat persaudaraannya, kokoh organisasinya, berinduk dengan baik, terbang bersama membina sarang, dan baik hasil usahanya serta dapat dinikmati oleh lingkungannya.

Daftar Pustaka
1. Al Quranul Karim,
2. Al-Ghazali, Majmu’ Al-Rasail, Beirut, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1986,
3. Al-Falimbangi, ‘Abd al-Samad, Siyarus-Salikin,
4. Ibn ‘Ajibah, Iqaz al-Himam,
5. Lu’Lu’wa al-Marjan, hadist-hadis riwayat Bukhari, Muslim, Tarmizi dan Nasa^i.
6. Sa’id Hawa, Tarbiyatuna Al-Ruhiyah,
7. Sahih al-Bukhari, Kitab al-Da’awat,
8. Sorokin, Pitirim, “The Basic Trends of Our Time”, New Haven, College & University Press, 1964, hal.17-18.

Wassalamu ‘alaikum Wa Rahmatullahi Wa barakatuh,

H. MAS’OED ABIDIN
bin H.Zainal Abidin bin Abdul Jabbar Imam Mudo

LAHIR TANGGAL : 11 Agustus 1935 di Kotogadang, Bukittinggi,
JABATAN :
Direktur Eksekutif Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau (PPIM) s/d 2007, Ketua Umum Badan Amil Zakat (BAZ) Provinsi Sumbar s/d 2008,
Wakil Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumbar di Padang s/d 2008, Ketua MUI Sumbar Membidangi Dakwah s/d 2007,
Sekretaris Dewan Pembina ICMI Orwil Sumbar s/d 2007.
Wakil Ketua Dewan Penasehat MUI Sumbar 2008 – sekarang,
Ketua Umum Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Prov.Sumbar, 2008 – sekarang.

ALAMAT :
Jalan Pesisir Selatan V/496 Siteba Padang (KP – 25146),
Tel : 0751-7052898, Fax/Tel: 0751-7058401.

Buku yang sudah diterbitkan ;
1. Islam Dalam Pelukan Muhtadin MENTAWAI, DDII Pusat, Percetakan ABADI, Jakarta – 1997.
2. Dakwah Awal Abad, Pustaka Mimbar Minang, Padang – 2000.
3. Problematika Dakwah Hari Ini dan Esok, Pustaka Mimbar Minang, Padang – 2001.
4. Suluah Bendang, Berdakwah di tengah tatanan Adat basandi syarak, Syarak Basandi Kitabullah di Minangkabau, Pustaka Mimbar Minang, Padang – 2002.
5. Pernik Pernik Ramadhan, Pustaka Mimbar Minang, Padang – 2002.
6. Surau Kito, PPIM Padang, 2006.
7. Implementasi ABS SBK, PPIM, 2004.
8. Silabus Surau, PPIM – 2004,
9. Adat dan Syarak di Minangkabau, PPIM – 2004,
10. Ensilkopedi Minangkabau, Kontributor, Penanggung Jawab, PPIM – 2005.

Dalam proses Pencetakan ;
1. Taushiyah DR. Mohammad Natsir, Pusataka Mimbar Minang, Padang.
2. Dakwah Komprehensif, DDII Pusat, Media Dakwah, Jakarta.

Web-site : http://www.masoedabidin@yahogroups.com
Mail to : masoedabidin@yahoo.com
masoedabidin@hotmail.com
buyamasoedabidin@gmail.com
Berkata Nabi SAW,
“Tidak masuk sorga hingga kamu beriman. Dan tidak beriman kalian, sehingga saling menyayangi.
Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu, apabila kamu kerjakan akan terjalin kasih sayang sesama kamu .. ??? Tebarkan salam di antara kalian.

Categories: Adat Basandi Syarak, Tulisan Buya | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: