Pengembangan Pariwisata Berbasis Nagari di Sumbar

Nagari

Pariwisata Sumbar Berbasis Nagari
Antara Potensi dan Nilai-nilai
Adat dan Agama

Oleh Buya H. Mas’oed Abidin

Pendahuluan

Dari mana akan kita mulai ???

Pertanyaan ini mengusik kita untuk mendahului.

Padahal sebelumnya, kita sudah berada di depan.
Tapi tidak pernah mencapai garis finish.

Allah telah mentakdirkan kita sebagai satu kaum yang menempati dataran tinggi dan dataran rendah.

Berbukit, berlurah, dihiasi tebing dan munggu.
Sungainya mengalir melingkar membalut negeri, seperti Batang Sianok diam – diam mengalir terus. Ditingkah gemercik air menimpa dedaunan di pagi hari.
Juga sungai-sungai besar, seperti Batang Masang, Batang Sinamar, Hulu Batang Kampar, Pertemuan Lolo di Pasaman Timur dan segitiga perbatasan 50 Kota, Pasaman dan Muara Mahat.

Airnya tetap mengalir terus. Bila hujan tidak turun, embun tetap menyuburkan tanah.

Di kelilingnya didapati sawah berjenjang, ladang berbintalak.
Diapit gunung menjulang tinggi, di kawal Singgalang dan Merapi. Sago, Tandikat, Talang dan Talamau. Indah menjulang.

Danau Maninjau airnya biru, tampak nan dari Embun Pagi..
Singkarak luas beriak, kadang berombak kecil memecah ke tepi danau, di Ombilin, Sumpur, dan tepian Singkarak.

Danau Di Atas dan Danau Di Bawah, sikembar biru yang mengasyikkan bagi mata yang memandang.
Sungguhpun risau sering mengganggu, kampung halaman selalu menanti.
Indah sekali !!!

Lautnya, jangan disebut lagi. Yang tenag menghempas pantai, ada di Sasak dan Air Bangis. Yang menggila menghempas pulau ada di Mentawai. Berpuluh pulau mengitari.
Pantai Cerocok, Pantai Padang, Pantai Mandeh, Pantai Tiku dan Pariaman siap pula menanti.

Alam yang indah karunia Ilahi ini, seakan “qith’ah minal jannah fid-dunya”, sepotong sorga tercampak kebumi.
Mengundang orang yang datang berdecak kagum.

Keindahan alam ini, bertambah cantik, karena ada pagar adat yang kuat dan agama yang kokoh.

Tampak dalam tata pergaulan dan sikap laku sejak dahulu.
Masyarakatnya ramah. Peduli dengan anak dagang.
Pendidikannya maju.

Dengan negeri ribuan dokter, dan para ahli.

Di dataran tingginya, ditemui pula Parabek dan Canduang.
Tempat bermukim para penuntut ilmu dari seluruh penjuru. Dulu…
Bahkan dari Malaysia, Brunei, Thailand dan Pattani.

Di samping dari seluruh Nusantara, bahkan dari Aceh, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.

Di sini pula didapati satu-satunya Kwik School, sekolah guru, kata orang doeloe, yang melahirkan banyak pujangga dan pendidik. Termasuk St. Takdir Alisyahbana dan Asrul Sani yang terkenal itu.

Dari halamannya tempat bermain para cendekiawan, Agus Salim, Hatta, Syahrir, Natsir, Assaat, Rasyid Manggis, Rosihan Anwar, Muhamad Yamin, Adinegoro, dan sederetan nama yang panjang, yang dikenal menjadi negarawan yang diakui.

Dan ini adalah bahagian dari kaba itu.

Bila kaba ini ingin di lanjutkan pula.
Yang bersua adalah hidup anak negeri berpagarkan nilai-nilai.

Nilai-nilai Adat dan Syarak.

Sebagai masyarakat beradat dengan pegangan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat itu yang telah memberikan pelajaran-pelajaran besar. Antara lain:

1). Bekerja:

Ka lauik riak mahampeh. Ka karang rancam ma-aruih.
Ka pantai ombak mamacah. Jiko mangauik kameh-kameh.
Jiko mencancang, putuih – putuih. Lah salasai mangko-nyo sudah.

Artinya setiap yang dilakukan haruslah program oriented.
Sama sekali bukanlah kemauan perseorangan (orientasi personal) semata.
Sejak dari perencanaan hingga sasaran yang hendak dicapai terpolarisasi melalui persilangan pendapat masyarakat ditempat mana program itu akan dilaksanakan.

2). Caranya:
Senteng ba-bilai, Singkek ba-uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo.

Artinya, ada kesamaan visi dan kesediaan kontrol.

Anggang jo kekek cari makan, Tabang ka pantai kaduo nyo, Panjang jo singkek pa uleh kan, mako nyo sampai nan di cito,

Artinya, harus dihidupkan kerja sama, tidak hanya sebatas sama bekerja.

Adat hiduik tolong manolong, Adat mati janguak man janguak, Adat isi bari mam-bari, Adat tidak salang ma-nyalang,

Maknanya, kesediaan investasi mensukseskan misi yang ada pada visi yang sama.

• Karajo baiak ba-imbau-an, Karajo buruak bahambau-an.

Tiada lain yang diminta adalah terjalinnya network yang sempurna.

• Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang, Satitiak jadikan lauik, Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru.

Dipastikan adanya satu kearifan, membaca setiap perubahan dalam membuat satu estimasi.

• Jiko mangaji dari alif, Jiko babilang dari aso, Jiko naiak dari janjang, Jiko turun dari tanggo.

Adanya prinsip taat asas, dan terjaminnya law enforcement, pelaksanaan program pada koridor yang tepat.

• Pawang biduak nak rang Tiku, Pandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Di sinan api mangko hiduik

Dituntut adanya kesepahaman akan adanya keberagaman usaha, yang satu sama lain terikat, terkait dan saling mendukung, serta sustainable.

Handak kayo badikik-dikik, Handak tuah batabua urai, Handak mulia tapek-i janji, Handak luruih rantangkan tali, Handak buliah kuat mancari, Handak namo tinggakan jaso, Handak pandai rajin balaja.

Kaedah ini tiada lain adalah penerapan dinamika kehidupan masyarakat yang inovatif, kreatif, yang sangat diperlukan untuk pengembangan daerah dalam menggali potensinya.

• Dek sakato mangkonyo ado, Dek sakutu mangkonyo maju, Dek ameh mangkonyo kameh, Dek padi mangkonyo manjadi.

Arti yang lebih menukik adalah kooperatif.
Maka sikap koperatif ini adalah warisan budaya Minangkabau.

Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu, Nan gurun buek kaparak. Nan bancah jadikan sawah, Nan munggu pandam pakuburan, Nan gauang katabek ikan, Nan padang kubangan kabau, Nan rawang ranangan itiak.

Makna yang lebih dalam adalah berlakunya prinsip-prinsip ekonomi pembangunan secara makro dan mikro, dengan berwawasan lingkungan.

• Alah bakarih samporono, Bingkisan rajo Majopahik, Tuah basabab bakarano, Pandai batenggang di nan rumik.

Modal utama untuk siap bersaing dan bertanding disaat AFTA-2003, persaingan global dan akan diterapkannya borderless-community system itu

Latiak-latiak tabang ka Pinang. Hinggok di Pinang duo-duo, Satitiak aie dalam piriang, Sinan bamain ikan rayo.

Ada suatu unggulan yang sangat spesifik dan mendorong kepada optimisme yang tinggi.
Lebih egaliter, tak pernah mau dikalahkan.
Konsekwensinya, adalah siap tampil dengan keungulan.
Tidak hanya semata tampil beda.

3). Kemakmuran :

Rumah gadang gajah maharam, Lumbuang baririk di halaman, Rangkiang tujuah sajaja. Sabuah si bayau-bayau, Panenggang anak dagang lalu. Sabuah si Tinjau lauik, Birawati lumbuang nan banyak, Makanan anak kamanakan.

Makmur tidak milik satu orang.
Kemakmuran akan terpelihara bila keamanan terjamin.
Semua orang dapat menimati kemakmuran secara patut dan pantas dalam keserta-mertaan. Dalam pengembangan setiap usaha, sangat diperlukan pemerataan penghasilan.

Manjilih ditapi aie, Mardeso di paruik kanyang.

4). Perhatian dengan penuh kehati-hatian sangatlah penting.

Ingek sabalun kanai, Kulimek balun abih,
Ingek-ingek nan ka-pai. Agak-agak nan ka-tingga.

Bila diunut sejak awal, jelas di sini ada satu mental climate yang subur.
Bila pandai menggunakannya dengan tepat, akan banyak sekali membantunya dalam usaha membangun anak nagari dan kampung halaman.

Lah masak padi ‘rang singkarak, masaknyo batangkai-tangkai, satangkai jarang nan mudo. Kabek sabalik buhua sontak, Jaranglah urang nan ma-ungkai, Tibo nan punyo rarak sajo.

Artinya diperlukan orang-orang yang ahli dibidangnya untuk menatap setiap peradaban yang tengah berlaku.

Melupakan atau mengabaikan ini, lantaran menganggap sebagai barang kuno, yang harus dimasukkan kedalam museum, di zaman modernisasi sekarang, ini berarti satu kerugian.

Sebab berarti mengabaikan satu partner “yang amat berguna” dalam pembangunan masyarakat dan negara.

Nilai Agama

“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka ? (Pada hal), Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri mereka sendiri.
Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-olokkannya” (QS.30, Ar-Rum, ayat 9-10).

Sekarang, kita tengah menyaksikan satu kondisi terjadinya pergeseran pandangan masyarakat dunia dewasa ini.

Maka masyarakat Minang, khususnya di Luhak Agam yang umatnya seratus prosen Islam wajib berperan aktif ke depan.

Dengan upaya menjadikan firman Allah sebagai aturan kehidupan.

Melaksanakan secara murni konsep agama dalam setiap perubahan. Agar peradaban kembali gemerlapan.

Berpaling dari sumber kekuatan murni, Kitabullah dan Sunnah Rasul, dengan menanggalkan komitmen prinsip syar’i dan akhlak Islami, akan berakibat fatal untuk Ranah Bundo yang didiami banyak umat Islam, dan bahkan mengundang benaca bagi penduduk bumi.

Pada gilirannya umat Islam akan menjadi santapan konspirasi dari kekuatan asing.

Konsekwensinya adalah wilayah yang sudah terpecah akan sangat mudah untuk dikuasai.

Kembali kepada watak Islam tidak dapat ditawar-tawar lagi.
Bila kehidupan manusia ingin diperbaiki.
Dan bila pariwisata akan di benahi di ranah ini.

Tuntutan kedepan agar umat lahir kembali dengan iman dan amal nyata dalam ikatan budaya (tamaddun).

• Tatanan masyarakat harus dibangun diatas landasan persatuan (QS.al-Mukminun:52).
• Mayarakat mesti ditumbuhkan dibawah naungan ukhuwwah (QS.al-Hujurat:10).
• Anggota masyarakatnya didorong hidup dalam prinsip ta’awunitas (kerjasama) dalam al-birri (format kebaikan) dan ketakwaan (QS.al-Maidah:2).
• Hubungan bermasyarakat didasarkan atas ikatan mahabbah (cinta kasih), sesuai sabda Rasul: “Tidak beriman seorang kamu sebelum mencintai orang lain seperti menyayangi diri sendiri”.
• Setiap masalah diselesaikan dengan musyawarah (QS.asy-Syura:38).
• Tujuan akhirnya, penjelmaan satu tatanan masyarakat yang pantang berpecah belah (QS.Ali Imran:103).

Rahasia keberhasilan adalah “tidak terburu-buru” (isti’jal) dalam bertindak.
Tidak memetik sebelum ranum.
Tidak membiarkan jatuh ke tempat yang dicela.
Kepastian amalan adanya husnu-dzan (sangka baik) sesama umat.

Mengiringi semua itu adalah tawakkal kepada Allah.

Dalam tatanan berpemerintahan, kekuasaan akan berhasil jika menyentuh hati nurani rakyat banyak, sebelum kekuasaan itu menjejak bumi.

Ukurannya adalah adil dan tanggap terhadap aspirasi yang berkembang.

Takarannya adalah kemashlahatan umat banyak.

Kemasannya adalah jujur secara transparan.

Kekuatan hati (dhamir) penduduk (rakyat) terletak pada ditanamkannya kecintaan yang tulus.

Menghidupkan energi ruhanik lebih didahulukan sebelum menggerakkan fisik umat.
Titik lemah umat karena hilangnya akhlaq, moralitas Islami.

Enggan memahami syari’at, berakibat hilangnya kecintaan (kesadaran) terhadap Islam.
Lahirnya radikalisme, berlebihan dalam agama, menghapuskan watak Islam.

Tidak menghormati hubungan antar manusia, merupakan kebodohan pengertian terhadap prinsip sunnah.
Akibatnya adalah tindakan merusak (anarkis).

Potensi Pariwisata Di Sumatera Barat

1. Keindahan Alamnya sangat potensial. Indah. Sangat indah.
Menjadi alat promosi pariwisata internasional.
Sudahkah dicatatkan sebagai trade mark ???

2. Adatnya kokoh. Contoh di Luhak nan Tigo.
Masih tersimpan dalam prilaku empat jinih di nagari.
Masihkah masyarakat Minang tahu di nan ampek ???

3. Agamanya kuat. Banyak sekolah, madrasah yang berkualitas.
Sebab promosinya sudah lama dikenal.
Problematikanya, kenyataan bahwa jalinan ini mulai mengendur.
Karena pergeseran nilai-nilai.
Akibatnya, kita kehilangan salah satu asset yang amat potensial.
Apa upaya mendudukkannya kembali ???

4. Rakyatnya rajin. Bagaimana memelihara dan memacunya ???

5. Setiap daerah memiliki keunggulan. Dari segi makanan, ada Rinuak Maninjau, Bilih Singkarak, Sanjai Bukittinggi, Pisang Pasaman, Daun Kahwa dari Pagadih, Randang Koto Tuo, Kue Kacang dari Biaro, Sarang Balam dari Batagak, Bika dari Batu Palano, Kue Sangko dari Sungai Puar, Saka Lawang dan Sungai Landir, Nasi Kapau dari Tilkam. Banyak sekali potensi yang bisa dijual. Siapakah yang menjualnya sekarang ???

6. Setiap desa ada produk. Jauh sebelum Jepang menerapkan “one village one product”.
Sudah terkenal Tenunan Pandai Sikek (Batagak), Kerajinan emas (Guguak Tinggi,
Guguak Randah), Silver Work (Kotogadang), Konveksi (IV Angkat), Kerajinan Besi
(Sungai Puar), Tarawang (IV Angkat), Suji (Kamang dan Tilatang).
Tugas kedepan, adalah mebuat perubahan program dari memperdayakan kepada
memberdayakan.

Mampukah kita ???

Kesimpulan

Pariwisata, mengundang orang untuk melihat apa yang tidak ada pada mereka.

Pariwisata yang berhasil adalah yang menyajikan produk wisata yang bisa mengasilkan pendapatan anak nagari.
Mendorong mereka untuk hidup, dan memberi hidup.

Pariwisata menyajikan produk yang belum atau tidak dimiliki orang lain (produk unggulan).

Semuanya itu, memerlukan kesiapan-kesiapan antara lain ;

1. Melibatkan seluruh unsur anak nagari berprilaku yang menarik.

2. Melibatkan kembali semua anak nagari memakaikan adat dan agama yang terjalin erat
dan rapi.
Sehingga menjadi bahan penelitian bagi orang lain. Contoh dinegeri orang,
seperti di Bali, Brunei, Malaysia, India, yang melaksanakan apa yang kita sebutkan
“indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan”, yaitu budaya dan tamaddun.

3. Pariwisata yang akan lama bertahan dimasa mendatang, di abad keduapuluh satu ini,
adalah wisata budaya, alam, spiritual, ilmu pengetahuan, di samping situs-situs peninggalan
lama.
Di Luhak Nan Tigo, Pasaman, Lunang dan Darmasraya masih tersimpan semuanya itu.
Lebih jauh, akan lahir dengan sendirinya para peneliti, kolektor potensi-potensi budaya
tersebut.

4. Latihan pemandu wisata, yang beradat dan beragama menjadi satu yang sangat utama
sebagai pendukung pariwisata di Sumatera Barat, Ranah Budaya Minangkabau.

5. Event-event Internasional,
• Pertemuan pelukis sketsa Manca Negara dikaki Merapi, Singgalang,
Embun Pagi Danau Maninjau, Singkarak, Danau Kembar, Mentawai dan lainnya.
• Pencak Silat Harimau Campo Luhak Agam,
• Layang-layang seperti Jepang atau Thailand,
• Festival tari, folk-lore, dan sejenisnya.

Dan banyak lagi yang bisa digali secara kreatif.

Akhirulkalam, gagasan ini sesungguhnya bisa dikembangkan dalam scope yang lebih luas di seluruh daerah Minangkabau, sebagai asset pariwisata Sumatera Barat.

Insya Allah. Menyambut VIY 2008 dan sepanjang tahun-tahun sesudahnya.

Wabillahit taufiq wal hidayah.

Categories: ABS-SBK, Ekonomi anak nagari, Masyarakat Adat, Minangkabau, Nagari, Pariwisata Sumbar, Surau, Tulisan Buya | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: