Pesan Rang Gaek

Pesan Rang Gaek

Kasuri Tuladan Kain, Kacupak Tuladan Batuang
Falsafah Pakaian Pangulu
Untua Dipakai Hiduik Banagari

Disampaikan oleh Buya H. Mas’oed Abidin

Sakapua Siriah, Pengantar kata

Kaganti siriah nan sakapua –
umpamo rokok nan sabatang –
tacinto bajawek tangan –
jo diri dunsanak nan basamo –
kok untuang pambari Allah –
kasuri tuladan kain –
kacupak taladan batuang –

Ibdonesianya,
Akan ganti sekapur sirih, umpama rokok yang sebatang, maksud hendak berjabatan tangan, dengan masing-masing diri dunsanak bersama Jika ada untung pemberian Allah, akan menjadi suri teladan kain, menjadi cupak teladan acuan bersama.

Tulisan nan ambo buekko –
sabab ba alah dek baitu –
aluran badan diri ambo –
tantangan tulih manulih –
aka singkek pandapek kurang –
ilimu di tuhan tasimpan nyo –
tapi samantangpun baitu –
bapalun paham nan haluih –
dek ujuik manantang bana –
jan kalah sabalun parang –
dipabulek hati nurani –
untuang tasarah bagian –
walau ka angok angok ikan –
bogo ka nyawo nyawo patuang –
patah kapak batungkek paruah –
namun nan niaik dalam hati –
mungkasuik tatap basampaian –

Jika di ungkapkan dalam bahasa Indonesia, isinya kira-kira sebagai berikut ; (Tulisan yang hamba bikin ini, sebab karenanya, setentang badan diri, sehubungan tulis menulis, akal masih pendek dan pendapat masih kurang, ilmu di Tuhan tersimpannya.

Tapi, sungguhpun demikian, bersimpul keinginan yang halus, karena ingin mengujudkan yang benar, agar jangan kalah sebelum perang, di bulatkan hati nurani, untuang terserah pada bagian (nasib).

Walau sangat susak sebagai ikan bernafas, walau dalam keadaan sulit bernafas sekalipun, patah sayap bertongkat paruh, namun yang tersirat di dalam hati, maksud tetap akan disampaikan).

Dalam ungkapan bahasa budaya Minangkabau ini, tampak jelas bahwa ada ada pengakuan dan sekaligus rasa tawadhu’ atau tidak menyombongkan diri, bahwa sebagai manusia ilmu tetap kurang.

Yang maha berilmu itu hanya Allah semata sebagai di ungkapkan “aka singkek pandapek kurang – ilimu di tuhan tasimpan nyo – artinya, akal masih pendek dan pendapat masih kurang, ilmu di Tuhan tersimpannya.”

Pengakuan terhadap kekurangan diri ini menjadikan seseorang tetap berupaya untuk maju.

Dorongan untuk berbuat lebih baik itu, terungkap di dalam kalimat “tapi samantangpun baitu – bapalun paham nan haluih – dek ujuik manantang bana – jan kalah sabalun parang – jan kalah sabalun parang – dipabulek hati nurani – untuang tasarah bagian –.

Maknanya sungguhpun banyak kekuarangan dan keterbatasan yang dipunyai, ada bersimpul keinginan yang halus yang ternukil dalam nurani, karena ingin mengujudkan yang benar, agar jangan kalah sebelum perang, di bulatkan hati nurani, untung terserah pada bagian (nasib)”.

Di sini kita lihat ada pemahaman dan tekad yang bulat hendak meraih keberhasilan mesti diikuti oleh tawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kesadaran akan kekurangan diri, manakala memiliki tekad kuat di dalam hati, diiringi dengan usaha sekuat tenaga untuk meujudkan keinginan hati tersebut, serta dipandu oleh tawakkal kepada Allah, adalah modal utama untuk maju.

Di sini terletak nilai kearifan lokal Minangkabau, agar setiap generasi itu memikili cita-cita tinggi, rajin bekerja, dan bertawakkal kepada Allah.

Di cubo juo bagulambek –
hanyo harapan dari ambo –
kapado dunsanak bakuliliang –
kok basuo kalimaik nan ndak jaleh –
titiak jo koma nan salah latak –
usah dicacek langkah sumbang –
sabab baitu kato ambo –
dalam diri ambolah yakin –
sadonyo dunsanak nan datangko –
tantu bakandak tabu nan manih –
kok tabu tibarau tasuo –
itu nan ado diambo –
pado manjadi upek puji –
jan jatuah dihimpok janjang –
nak jan mambarek ka akiraik –
ambo nak mintak di ma’afkan.

Indonesianya
(Dicoba pelan-pelan berangsur-angsur, menjadi harapan dari hamba, kepada dunsanak sekeliling, jika bertemu kalimat yang tidak jelas, titik dan koma salah letak, janganlah di cari langkah yang sumbang letaknya.

Sebab demikian harapan hamba, dalam diri hamba ada keyakinan, bahwa semua dunsanak yang datang ini, tentu semua berkehendak tebu yang manis.

Kalau tebu tibarau, yang tersua, karena itulah yang ada pada hamba.

Daripada menjadi umpat puji, agar jangan jatuh ditimpa tangga, agar jangan memberati di akhirat, hamba lebih dahulu hendak meminta dimaafkan).

Dalam bertutur kata ada kaidah di Minangkabau “bakato di bawah-bawah” yang mengandung makna ada keharusan tidak boleh membanggakan diri.

Kearifan ini adalah termasuk ajaran syarak, yaitu “kullu dzi ‘ilmin ‘alimun” artinya setiap yang berilmu, masih ada yang lebih berilmu.

Dalam ungkapan keseharian kini disebutkan, di atas langit masih ada langit.
Takabur dan menyombongkan diri satu sikap tercela di dalam tata pergaulan Masyarakat Adat.

Sikap tawadhu’ atau tidak menyombongkan diri itu, terlihat dari cara berucap dan menyampaikan maksud tujuan.

Di sini kita melihat kekuatan kata di Minangkabau itu.

Seperti di ungkapkan di atas, kita belum tentu dapat memenuhi kehendak semua orang. Walau semua orang yang datang mengharapkan sesuatu yang menyenangkan dan memuaskan hatinya.

Seperti di ungkapan “sadonyo dunsanak nan datangko – tantu bakandak tabu nan manih”

Adalah satu keniscayaan bahwa semua semua berkehendak tebu yang manis.

Namun dalam realita kehidupan, tidak semuanya manis.
Ada juga yang hambar tidak berasa.

Di sinilah terletak kearifan itu, bahwa “ kok tabu tibarau tasuo – itu nan ado diambo –.
Kalau tebu tibarau, yang tersua, karena itulah yang ada pada hamba.

Agar tida terjadi umpatan, yang dapat berakibat kepada putusnya hubungan atau rusaknya kekeluargaan dan kekerabatan, maka rela dan maaf sangat diperlukan.

Umumnya orang akan memulai pembicaraannya dengan kalimat seperti di ungkapan ini, “pado manjadi upek puji – jan jatuah dihimpok janjang – nak jan mambarek ka akiraik – ambo nak mintak di ma’afkan”.

Kemaafan berkaitan erat dengan kebahagiaan di dunia, karena hubungan silaturahim tetap baik, dan di akhirat juga mendapatkan pahala.

Kalimat ini, menjadi bukti bahwa di dalam bertutur kata, orang Minangkabau tidak semata memikirkan wujud duniawi semata, tapi juga berfikir untuk kehidupan akhiratnya.

(bersambung Insya Allah)

Wassalamu’alaikum Wa rahmatullahi wa barakatuh.

Categories: Adat Basandi Syarak, Bahaso Minangkabau, Masyarakat Adat, Pesan Rang Gaek, Tulisan Buya | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Pesan Rang Gaek

  1. Pingback: BUYA H.MAS’OED ABIDIN’s Weblog, “Pesan Rang Gaek” « blog Buya Mas’oed Abidin

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: