Menjadi Opsir Lapangan, Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Membentuk Opsir Lapangan

Tuntutan zaman terus bergulir.
Perubahan zaman dengan segala akibatnya merupakan satu undang undang baja sejarah sebagai bagian dari “Sunnatullah”.

Maka yang sangat dibutuhkan untuk menggerakkan dakwah adalah teoritikus yang tajam, dan effektif.
Di samping itu, yang dihajatkan benar dalam pembinaan umat adalah, “opsir lapangan” yang bersedia dan pandai ber-kecimpung di tengah tengah umat.

Memang diperlukan para ilmuan atau sarjana yang berpengalaman.
Tetapi yang paling dihajatkan bukan semata mata sarjana yang “melek buku tetapi buta masyarakat”.

Kemahiran membaca “kitab masyarakat” tidak dapat diperoleh dalam ruang kuliah dan perpustakaan semata.

Karenanya, perlu di introdusir ke tengah masyarakat.
Untuk bisa berperan dalam menggiring dan mengawal umat, agar turut aktif bersama-sama, dalam menghadapi setiap persoalan.
Selalu mencoba mengatasi persoalan dari kehidupan umat di pelbagai bidang.
Sehingga melalui introdusir itu, dapat merasakan denyut jantung umat.

Lambat laun berurat pada hati umat itu.
Makin pagi makin baik….”, kata Bapak Mohamad Natsir.

Di tengah masyarakat yang hidup akan dapat berlangsung proses timbang terima kepemimpinan secara berangsur angsur.

Di kala itu, akan berlangsung suatu estafetta alamiah.
Antara pemimpin yang akan pergi dan yang akan menyambung.
Dalam suatu proses patah tumbuh hilang berganti.
Kesudahannya yang dapat mencetuskan api adalah batu api juga.

Inilah kewajiban setiap kepala keluarga, yang disebut pemimpin.
Justru di saat serba sulit itulah umat menghajatkan para pemimpin mereka.

Umat dapat tetap merasakan bahwa pemimpin mereka selalu berada di tengah tengah mereka.
Di dalam keadaan suka maupun dalam duka.
Arti yang lebih mendalam, adalah tetap bersama sama menghadapi persoalan.

Kunci keberhasilan pemimpin adalah, tetap berjalan dijalan Allah.
Selain itu, berkemampuan meng-identifikasi permasalahan umat.

Kadar seorang pemimpin selalu teguh dan setia, dalam tujuan pembinaan jamaah.

Dalam upaya meningkatkan kinerja, da’i harus berinteraksi dengan lingkungan secara aktif.
Siap melakukan dan menerima perubahan dalam tindakan yang benar.
Segala tindakan dan perbuatan akan selalu disaksikan oleh Allah, Rasul dan semua orang beriman.

Tentulah da’i sebagai pemimpin ditengah jamaahnya tidak boleh hidup dalam kekosongan.
Dia akan menjadi sumber manfaat bagi umat binaan.

Syarat utama menjadi muslim adalah bermanfaat terhadap orang lain.
Diantara bimbingan Rasulullah SAW mengingatkan,
Artinya, “seluruh makhluk adalah keluarga Allah, yang disayang olehnya yang bermanfaat untuk sesamanya”.(Sahih Muslim).

Golongan bukan tujuan.
Kelompok hanya sekedar sarana untuk mencapai tujuan.
Maka tugas kita adalah menebarkan kasih sayang, yang tampak dalam pelaksanaan amar makruf (sosial support) dan nahi munkar (sosial kontrol).
Artinya, “Sayangilah yang di bumi, niscaya kamu akan disayangi oleh yang di langit” (Musnad Tirmidzi).

Kepentingan kelompok harus tunduk kepada ke maslahatan umat.
Da’i sebagai kader perjuangan ditengah umat binaan tidak boleh mengurung diri.
Mengisolasi diri akan berdampak kepada terjauh dari sikap objektif.
Akibatnya akan menjadikan diri seorang yang lebih mementingkan golongan.
Mementingkan kelompok semata akan sama hal nya dengan membangun rumah untuk kepentingan rumah.

Masyarakat lingkungan adalah media satu-satunya tempat beroperasi para da’i di lapangan dakwah sepanjang hidup.

Perlulah diingat, bahwa “yang banyak diperhatikan umat adalah yang paling banyak memperhatikan kepentingan umatnya”.

Konsekwensinya setiap kader pemimpin umat harus siap menerima segala cobaan dari Allah.
Da’i harus punya kesadaran iman yang kokoh terhadap kekuasaan Allah, dan keyakinan kepada alam gaib akhirat tempat kembali seluruh kehidupan.

Kepercayaan kepada Allah secara benar akan menyelamatkan dari kesiasiaan berpikir terhadap sesuatu yang diluar wilayah ke mampuan rasio.
Rujukan keyakinan itu sesuai dengan bimbingan Al Quran dan Al-Hadist.

Alam semesta yang memiliki dimensi ruang, waktu, volume adalah milik Allah.
Kesemestaan alam berguna untuk sebesar manfaat bagi manusia.
Karena itu, da’i harus memiliki ilmu pengetahuan yang me madai dan tidak menjadikan dirinya tertutup, pasif atau mengisolasi diri.
Da’i, mestinya selalu aktif.

Pengetahuan Internasional penting untuk menunjang gerak dakwah dan harakah Islamiyah secara global.
Karena, umat Muslim ada di mana-mana.
Pengetahuan ini mendorong melakukan amar makruf, social support untuk menegakkan kebenaran.
Seiring dengan itu ada komitmen tegas terhadap nahi munkar, social control menghadapi kemungkaran.

Setiap da’i tahu bahwa seluruh dunia adalah tempat berkarya dan beramal.
Artinya “Dijadikan untukku seluruh punggung bumi untuk masjid (tempat berswujud, mengabdi) dan sebagai tempat yang bersih (bersuci)”. (Sahih Muslim, Sunan Abu Daud, Tirmidzi, an-Nasa-I, Ibnu Majah, Ad-Daramy dan Imam Ahmad bin Hanbal)

Sebagai kader pemimpin umat, mestilah da’i mempersiapkan diri dengan pengetahuan, yang akan menambah bekal kesadaran lokal, dengan mengenal;
(a) keadaan masyarakat binaan, aspek geografi, demografi,
(b) sejarah, latar belakang masyarakat, kondisi sosial, ekonomi,
(c) budaya, adat-istiadat.

Karena secara natural alamiah, setiap tanah ditumbuhi tanaman khas.
Pengetahuan lokal berguna memperbaiki masyarakat dengan semangat ihsan.
Dengan berbekal pengetahuan-pengetahuan tersebut akan mampu membuat analisis, kemudian akan menyajikan alternatif-alternatif.

Teori-teori yang khayali adalah angan-angan semata.
Masyarakat memerlukan kenyataan yang menyentuh kehidupan secara langsung.
Tujuan akhir menghapuskan ketidak seimbangan serius melalui pendidikan dan prinsip-prinsip Islami.

Bagi lingkungan masyarakat Islam umumnya, boleh saja disajikan berbagai hidangan, akan tetapi syarat hukumnya sama sekali tidak boleh dilupakan, yaitu semuanya mesti halal. Disini terlihat keseriusan dakwah dan pelayan umat.

Da’i adalah pemimpin di tengah kaumnya.
Artinya “Pemimpin bangsa (kaum) adalah pelayan mereka” (Sunan ad-Dailamy dan at-Thabarani).

Seorang da’i mesti menempatkan diri ditengah masyarakat dengan orientasi pengabdian yang luhur.
Sebisanya, sanggup menawarkan alternatif keumatan, dalam menjawab masalah umat dikelilingnya.

Sebagai pemimpin yang membina masyarakat dengan penuh perhatian dan keikhlasan.
Maka, keberadaannya di tengah umat menjadi perhatian dan selanjutanya akan mendapatkan dukungan masyarakat kelilingnya.

Tindakan awal yang akan menopang keberhasilan dakwah para da’i secara individu adalah dengan menguasai pengetahuan.
Minimal tentang kejadian sekitar.
Karenanya, da’i perlu mendapatkan supply informasi secara lokal dan nasional, yang amat berguna dalam menggerakkan umatnya agar mampu berpartisipasi pada setiap perubahan.

Para du’at perlu pula aktif dalam setiap pertemuan-pertemuan yang bertujuan menopang keberhasilan dakwah dan memelihara kesinambungan halaqah dan usrah.

Akhlak karimah, menopang keberhasilan da’i dalam setiap dakwah praktis, menyangkut keseharian umat seperti, kelahiran, perkawinan, dikala sakit dan kematian.
Paham benar tentang tantangan dimedan dakwah yang sangat banyak, namun uluran tangan yang didapat hanya sedikit.

Pemahaman sedemikian akan mampu mengatasi situasi dengan bermodalkan kesadaran.
Manfaatkan jalinan hubungan yang sudah lama terbina.

Suatu gerakan dakwah akan menjadi lemah bila tidak mampu berfungsi seperti sarang lebah atau kerajaan semut penuh vitalitas, enerjik, dan bernilai manfaat sesama masyarakatnya.

Secara Nasional mesti tertanam komitmen fungsional bermutu tinggi.
Memiliki kemampuan penyatuan konsep-konsep, alokasi sumber dana, perencanaan kerja secara komprehensif, akan mendorong terbentuknya center of excelences.

Pada ujungnya, tentulah tidak dapat ditolak suatu realita objektif bahwa, ” jika da’i banyak akan lebih banyak umat Islam yang dipimpin”.

Bila umat Islam banyak membaca, maka umat Islam akan memimpin dunia, sesuai isi firman Allah didalam al Quran Surah-96, al-‘Alaq, ayat:1-5.

Akhirnya, “Siapa yang paling banyak bisa menyelesaikan persoalan masyarakat, pastilah akan berpeluang banyak untuk mengatur masyarakat itu.”
Jujur dan Objektif sangatlah perlu.

Para da’I yang memiliki sikap jujur dan objektif dalam meng ambil pelajaran berguna, akan berkemampuan sanggup melihat diri dari dalam.
Rela menerima kritik konstruktif dari umat binaan, akan menanamkan kepercayaan diri dan mendorong untuk melakukan identifikasi kekurangan.

Kerelaan merupakan latihan internal untuk membentuk kejujuran.
Tidak jujur kepada diri, tentulah tidak dapat melatih diri kepada yang benar. Mampu melihat tambah kurang, terbuka untuk kompensasi dan ekualitas.

Bila dilakukan identifikasi kelemahan-kelemahan, umumnya timbul karena hilangnya komitmen mendasar.

Da’i adalah bagian dari gerakan dakwah dan produk dari dakwah.
Sebagai produk dakwah, maka da’i harus bersedia menghadapi aksi reaksi dalam nuansa konfrontatif maupun reformatif, termasuk dalam bidang budaya, politik sosial ekonomi.

Mengantisipasi keterbelakangan dengan konsep fikrah aktifitas terencana dengan kemampuan analisis.

Dalam pengalaman dakwah kemajuan selalu dihalangi kelemahan yang dimiliki. Keterbelakangan adalah penyakit yang melanda setiap orang.
Berbuat dengan keyakinan bahwa sukses hanya dari Allah’ akan melahirkan sikap tetap berusaha di jalan Allah.

Kesudahannya, rela mengakui kesalahan dan bersedia memperbaiki kekeliruan.
Suprioritas tergantung kepada ideologi wahyu bukan oleh superioritas manusianya.

Rusaknya da’i dalam dakwah selama ini karena melaksanakan pesan sponsor diluar ketentuan wahyu agama.
Perjuangan menghadapi kemunduran dakwah selalu dibarengi oleh kelemahan klasik kekurangan dana, tenaga, dan hilangnya kebebasan gerak.
Koreksian perlu dilakukan melalui kaji ulang dalam membudayakan konsultasi dan musyawarah untuk setiap masalah umat yang dihadapi.

Partisipasi aktif dalam mengambil dan melaksanakan keputusan akan mendorong kepada hidupnya jamaah.
Terpelihara semangat tim atau nidzam.

Akhirnya, dapatlah dibuktikan bahwa kerjasama lebih baik dari sendiri.
Kenyataan dalam perjalanan dakwah adalah ”al haqqu bi laa nidzaam, yaghlibuhul-bathil bi an-nidzam” artinya, sesuatu kebenaran yang tidak terorganisir, berpeluang abesar untuk dikalahkan oleh yang bathil, tetapi teratur.

Ungkapan ini senyatanya mengandung makna yang dalam.
Artinya juga adalah, pemain terbaik yang kehilangan semangat tim yang utuh selalu akan dikalahkan oleh pemain-pemain kurang bermutu tetapi memiliki semangat tim yang teratur.

Karena itu, libatkanlah seluruh potensi umat.
Pemeranan perempuan, anak-anak dan kalangan dhu’afak, sangat mendukung gagasan dan gerak dakwah.

Adanya ungkapan, “Innama tunsharuuna wa tur-zaquuna bi dhu’afaa-i-kum”, adalah mempunyai makna bahwa, kamu hanya akan terbantu oleh kalangan lemah diantara kamu.

Maka, perlibatan mereka pada program-program pembinaan dan dalam gerakan dakwah, seharusnya dijadikan prioritas.
Perang tidak akan dapat di menangkan manakala lebih dari 50 % kekuatan tidak di ikut sertakan.

Menghindari kepemimpinan otoriter berarti menjaga jiwa umat agar tidak mati. Masyarakat yang mati jiwa akan sulit diajak berpartisipasi dan akan ke hilangan semangat kolektifitas.

Bahaya dalam membina masyarakat adalah membiarkan umat mati di tangan pemimpin.
Tugas pemimpin menghidupkan umat.

Umat yang berada di tangan pemimpin otoriter dengan meninggalkan prinsip musyawarah sama halnya dengan menyerahkan mayat ke tangan orang yang memandikannya.

Karena itu, hidupkan lembaga dakwah sebagai institusi penting dalam masyarakat.

Fungsi yang selamanya tergantung kepada orang seorang akan menghilangkan kestabilan.
Kurangnya perencanaan akan menghapus semangat kelompok dan padamnya inisiatif.
Tujuan institusi menghidupkan dakwah.
Menggerakkan institusi dakwah bukan sekedar mengumpulkan materi.

Kewajiban yang teramat krusial adalah, menghidupkan ketahanan umat baik secara nasional maupun regional.

Sosialisasi mempertemukan pemikiran dan informasi, konsultasi dan formulasi strategi serta koordinasi di era globalisasi memasuki millenium ketiga menjadi tugas utama setiap da’i dalam menapak perubahan cepat dan drastis.

Di alaf baru, millenium ketiga, setiap hari akan terasa dunia se- makin mengecil. Tugas kita termasuk membuat rencana.
Membuat rencana kerja agar dakwah tidak dikelola secara krisis dan darurat. Tetapi, dakwah merupakan suatu pekerjaan rutin.

Kesalahan dalam membuat rencana, maka tujuan dakwah menjadi kabur.
Salah menempatkan sumber daya yang ada akan berakibat kesalahan prioritas.

Perencanaan matang menjadikan gerakan dakwah berangkat dari hal yang logis (ma’qul, rasionil), selanjutnya sasaran dakwah dapat diterima oleh semua pihak. Karena, dakwah bukan kerja part-time sambilan dan sukarela bagi yang giat dan aktif saja.
Tetapi harus menjadi tugas full-time dari seluruh spesialis ditengah masyarakat.

Dakwah mesti ditunjang oleh sarjana-sarjana spesialis, pedagang spesialis, birokrat spesialis, sehingga dapat disajikan sebagai suatu social action.
Maka sangat diperlukan generalitas murni dan meyakinkan secara rasionil tentang keindahan Islam.

Memahami fenomena besar dan menarik dari perkembangan globalisasi akan membuka peluang perkembangan Islam.

Mayoritas ilmuan pemimpin dunia secara universal mulai membaca tanda-tanda zaman, zeit-geist untuk siap menerima kembali per-adaban Islam sebagai alternatif untuk mewujudkan keselamatan didunia.

Dakwah kedepan adalah dakwah global.
Gerakan dakwah partial tujuannya adalah Islamisasi masyarakat Islam.
Lebih umum, tujuan dakwah secara global adalah membangun, berkorban, mendidik, mengabdi, membimbing kepada yang lebih baik.

Tugas yang tak boleh diabaikan dalam mencapai tujuannya adalah berupaya merobah imej dari konfrontatif kepada kooperatif.

Akhirnya dapat dimengerti bahwa kebajikan hanya akan ada pada hubungan yang terang dan transparan, sederhana dan tidak saling curiga.

Masyarakat akan pecah dan rugi karena hidup dalam kancah saling mencurigai. Gila kekuasaan akan berakibat berebut kekuasaan.
Ujungnya, masyarakat jadi terkoyak-koyak..

Nawaitu bekerja tidak untuk mencari sukses, atau hanya asal bekerja, sudah semestinya diubah.
Yang mesti ditampilkan adalah amal karya bermutu di tengah percaturan kesejagatan (globalisasi).

Bila dalam setiap pemilihan barang-barang, kita selalu cenderung untuk memilih produk berkualitas, maka sudah semestinya dalam menampilkan setiap amal-karya, ukurannya haruslah pula kepada kualitas juga.

Semakin kecil kesalahan akan semakin besar keberhasilan dalam menyampaikan risalah dakwah.
Maka tidak dapat ditolak, kemestian menggunakan semua adab-adab Islam menurut bingkai Al Quran dan Al-Hadist untuk menghadapi semua persoalan hidup manusia yang akan menjamin sukses dalam segala hal.

Seorang pemimpin perlu mengetengahkan, formula ukhuwah antar organisasi Islam, supaya dapat berjalan lebih baik dari keadaan sekarang.

Bila selama ini ukhuwah itu diartikan secara statis, dan sering dikaitkan dengan status, maka di masa datang tanggung jawab dakwah adalah mengembangkannya menjadi fungsional.

Re-fungsionalisasi organisasi formal yang andal, sangat berguna sebagai alat perjuangan.

Sistem komunikasi dan koordinasi antar organisasi Islam non formal, lebih di utamakan pada peningkatan pola pembinaan dan kaderisasi pimpinan organisasi non formal yang ada.

Sebagai alat perjuangan, maka organisasi Islam harus memerankan fungsinya dengan jelas dalam gerak dakwahnya, antara lain,

 pengikat umat menjadi jamaah yang lebih kuat, se¬hingga merupakan kekuatan sosial yang efektif,

 media pengembangan dan pemasyarakatan budaya Islami,

 media pendidikan dan pembinaan umat untuk mencapai derajat pribadi taqwa,

 merencanakan dan melaksanakan kegiatan dakwah Islamiyah.

 media pengembangan minat mengenai aspek kehidupan tertentu, ekonomi, sosial, budaya, dan politik dalam rangka mengembangkan tujuan kemasyarakatan yang adil dan sejahtera.

Begitulah semestinya peranan lembaga-lembaga dakwah dalam menapak alaf baru, atau millenium ketiga.

CR. Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir dalam “Dakwah Komprehensif”, Bagian Gerak dan Langkah Dakwah Ilaa Allah, oleh H.Mas’oed Abidin

Categories: Buku Buya, Dakwah Komprehensif, Mohamad Natsir, Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: