Tuntunan Akhlak dalam Ajaran Islam

Tuntunan Akhlak, Ajaran Islam

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Ajaran Islam sangat banyak memberikan dorongan kepada sikap-sikap untuk maju.
Kemajuan materi (madiyah) akan terpacu oleh akhlak manusia yang menggenggam materi tersebut.

Akhlak, konsep abadi dari Khalik Maha Pencipta muthlak mestinya dilakukan makhluk manusia yang telah diciptakan.
Premis ini, memberikan suatau kenyataan bahwa makhluk manusia mesti terikat erat dengan Khalik sang Pencipta.

Akhlak adalah jembatan yang mendekatkan makhluk dengan Khaliknya.
Menjadi parameter menilai sempurna atau tidaknya ihsan Muslim itu. Melaksanakan agama sama artinya dengan ber akhlak sesuai dengan tuntunan agama Islam.
Karena itu, agama bukanlah sebuah beban, melainkan adalah sebuah identitas (cirri, shibgah).

Membebaskan diri dari ketentuan Maha Pencipta, atau membebaskan manusia dari nilai-nilai agama (seperti free of values yang banyak dipahami oleh masyarakat liberalistik) akan berakibat makhluk manusia menjadi makhluk yang tidak punya makna.
Semestinya agama harus dilihat sebagai satu kebutuhan utama.

Betapapun kebutuhan materi telah dapat dipenuhi, suasana hidup akan selalu hambar dan gersang manakala kebutuhan ruhanik (immaterial, spirituil) tidak diperhatikan.
Selalu akan tampak bahwa manusia tanpa agama sama saja dengan makhluk yang bukan manusia.
Perikehidupan tanpa bimbingan agama, artinya sama dengan peri kehidupan tidak berperikemanusiaan.

Para Nabi dan Rasul yang diutus kepada manusia bertugas memberikan tuntunan akhlak dalam semua prilaku kehidupan.
Rujukan dari tuntunan akhlak adalah wahyu Allah.
Semua bimbingan yang terdapat pada semua kitabsuci samawi menekankan kepada terpeliharanya adab pergaulan antar manusia dan sesama makhluk. Tatanan adab pergaulan dimasud selalu di ikat dengan hubungan kasih (mahabbah) dengan Khalik Maha Pencipta, yang disebut dengan ibadah.

Tuntunan akhlak dan ibadah bukanlah sebatas teori, tetapi semua prilaku pada seluruh tingkat pelaksanaan hubungan kehidupan.
Terlihat nyata dalam bentuk prilaku, contoh dan uswah.

Firman Allah menyebutkan “Sesungguhnya telah ada bagi kamu pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik (uswah hasanah), yaitu bagi orang yang mengharap[kan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS.33, al Ahzab : 21).

Rasulullah SAW menyebutkan satu tugas risalahnya sebagai “Hanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (al Hadist).

Pentingnya akhlak di ungkap banyak penyair (ahli hikmah) “innama umamul akhlaqu maa baqiyat, wa inhumu dzahabat akhlaquhum dzahabuu”, yang di artikan, “tegak rumah karena sendi, sendi hancur rumah binasa. Tegaknya bangsa karena berbudi, budi hancur luluhlah bangsa”.

Masyarakat Minangkabau dengan falsafah “adat basabdi syarak, syarak basandi kitabullah”, sangat banyak menampilkan pepatah, pribahasa yang mengandung ajaran tentang akhlak ini.

Seperti disebutkan, “Nan kuriak kundi, nan sirah sago, nan baiak budi, nan indah baso”, atau “Bahaso manunjuakkan banso” artinya bahasa menunjukkan bangsa, yakni baik buruk perangai (akhlak) menunjukkan tinggi rendahnya asal keturunan (bangsa).

Akhlak Budi Pekerti, tidak dapat dilupakan selamanya.
Akan selalu hidup dan disebut-sebut, walaupun sipelakunya sudah tiada.
“Utang ameh buliah dibaia, utang budi dibao mati”.

Categories: ABS-SBK, Buya Masoed Abidin, Education, Komentar, Masyarakat Adat, Minangkabau, Politics | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: