Hematlah Energi yang disediakan Alam secara terbatas

HEMATLAH DENGAN ENERGI YANG TERSEDIA DI ALAM SEMESTA
SEBAGAI PENGAMALAN DARI AJARAN ISLAM DAN ETIKA RELIGI

Oleh : H. Mas’oed Abidin

ALAM TUNDUK PADA KEKUASAAN ALLAH
Firman Allah menyebutkan, “Sesungguhnya pada langit dan bumi terdapat tanda-tanda…”

” Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman.” (QS.45, al Jatsiyah : 3).

Manusia – penduduk bumi -, yang disebut khalifah – penguasa, pengelola, penerima amanah sebagai penjaga dan pembaharu dari alam yang telah diciptakan Allah untuk makhluk ini –, wajib menjaga agar alam itu tetap lestari.

Salah kelola alam adalah kesalahan (dosa) besar yang mengakibatkan bencana karena energi alam tidak termanfaatkan.
Hal ini lebih awal dirasakan oleh manusia.
” dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan dan mereka di liputi oleh (azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya. ” (QS.45, al Jatsiyah : 33).

BUMI DAN LANGIT SATU DAN LAINNYA TERKAIT
Ilmu pengetahuan kosmologi moderen, secara observasi maupun teori, menunjukkan dengan jelas bahwa, pada suatu ketika dalam waktu, keseluruhan alam semesta adalah tak sesuatupun melainkan sebuah AWAN BERUPA ASAP, yaitu sebuah komposisi padatan tinggi yang gelap dan gas yang panas.

Hal ini amatlah jelas sesuai dengan firman Allah didalam Alquran menyebutkan,
…. dan kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. (QS.41, Fush-shilat : 11).

Sekaligus ayat ini menjelaskan kepada manusia bahwa ”alam patuh kepada perintah dan hukum Allah”

Alam dijadikan lengkap dengan sumber energi.
Terbatas.
Di antaranya air.
“ dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga mau beriman – percaya akan kekuasaan Allah –?” (QS.21, al Anbiya’ : 30).

Persoalan mendasar adalah ;
1. Sikap jiwa (mental attitude) yang wajib dipunyai dalam mengaji fenomena alam
2. Iman – percaya –, dengan yakin terhadap kekuasaan dan keesaan Allah Khaliqul Alam.
3. ”Air merupakan unsur utama dari benda hidup.”. Dari 50 hingga 90 persen dari berat organisme hidup adalah air.”

Allah telah membangun langit itu, dan dia pula yang meluaskannya.
Alam tidak terjadi dengan sendirinya.
Dia dijadikan dan tunduk kepada aturan baku yang telah ditetapkan oleh pencitanya.
Para ilmuan berkata,”pengetahuan kami mengenai ekspansi alam semesta masih sangat terbatas”.

Dengan wahyu Allah pengetahuan lebih meningkat.
Manusia mesti mengelola dan menghadapi fenomena alam sesudah dan sebelum terjadi, dengan mudah dipelajari bahwa alam berjalan dengan aturan baku (sunnatullah – natuurwet) itu.
Dan Allah berfirman,
” dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. masing-masing dari keduanya itu BERENANG di dalam GARIS EDAR-nya. ” (QS.21, al Anbiyak : 33).

ANGIN ADALAH SUMBER ENERGI YANG PALING BERHARGA.
” dan Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa berita (kabar) gembira, dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (yakni hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang bersih, ” (QS.25, al Furqan : 48).

” dan Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman, angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Anbiya’ : 81).

Angin adalah sumber energi.
1. Dengan energi itu, aman berjalan di daratan terbuka– tidak perlu AC dan freon yang membuat lapisan ion menipis, penyebab pemanasan global –.

2. Dengan angin memudahkan (berlayar) di lautan, meluncurkan bahtera membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik.

Sumber energi tidak akan mendatangkan manfaat, ketika ;
a. tidak mau menjaga alam sebagai sumber energi.
b. enggan mengelola kelestarian di alam ini.

Bukti dan tanda kekuasan Allah, dikirim angin sebagai pembawa berita gembira.
Awan tebal ditiup angin, lalu hujan turun, menjadi rahmat Allah dengan tumbuhnya biji-bijian yang disemai, menghijaukan tanaman, mengganti putik menjadi buah, dan seterusnya.

Ketika alam dirusak, maka air hujan yang turun berubah menjadi banjir, membawa petaka. Angin bertiup kencang, tanpa penghalang kayu di hutan, ikut menghancurkan rumah dan bangunan.

Perintah kepada manusia pandailah menjaga alam, dan hematlah menggunakan energi yang disediakan oleh alam itu.
” dan Allah Dia-lah Yang mengirimkan angin ; lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu kesuatu negeri yang mati lalu Kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu.” (QS. 35, Fathir : 9).

AIR ADALAH SUMBER ENERGI KEHIDUPAN
Allah mengumpamakan yang benar dan yang bathil dengan air dan buih. Buih akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya. Namun, air yang memberi manfaat kepada manusia akan tetap ada di bumi. Memberikan perbandingan antara logam yang mencair dalam air dan buihnya. Buih akan lenyap dan tidak ada gunanya bagi manusia –.”

Kejadian alam semesta tergantung kepada kekuasaan Allah SWT.
” dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa ” (QS. 51, adz-Dzariyat : 47).

“Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemu-lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan.” (QS. 54, al Qamar : 12).

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir)” (QS.15, al Hijr : 45).

Umat manusia sekarang mesti;
a. menjaga potensi energi yang ada dalam air,
b. mengolahnya dengan sebaiknya.
c. Air sumber energi terbarukan, jika kita pandai memanfaatkannya.

ALAM TUNDUK KEPADA KETENTUAN HUKUM ALLAH DAN WAKTU
” Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan MENUNDUKKAN matahari dan bulan, MASING-MASING BERJALAN MENURUT WAKTU YANG DITENTUKAN. Ingatlah, Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. 39, az-Zumar : 5).

GUNUNG-GUNUNG MENJADI PASAK BUMI
” Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?,” (QS. 78, an Naba’ : 6-7).

Ilmu pengetahuan moderen telah membuktikan bahwa, “Gunung-gunung memiliki akar-akar yang menjuntai ke bawah.”
Selanjutnya, “Ilmu-ilmu pengetahuan bumi moderen telah membuktikan bahwa gunung-gunung memiliki akar-akar yang dalam di bawah permukaan tanah.”

“ dan Dia MENANCAPKAN (mengukuhkan) gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak GONCANG bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk,” (QS.16, An Nahl : 15).

Para ilmuan peneliti menyimpulkan bahwa, “Gunung-gunung memainkan peranan penting dalam membuat kestabilan pada kerak bumi.”
Lebih jauh dinyatakan bahwa, “Seperti halnya teori moderen mengenai lapisan tektonik menyatakan bahwa gunung-gunung bekerja sebagai stabilisator-stabilisator bagi bumi baru saja mulai dipahami dalam kerangka kerja mengenai lapisan tektonik sejak akhir 1960-an”

ALQURAN JELASKAN PERGERAKAN AWAN
Di saat terjadi gempa di Sumbar, banyak orang menyaksikan keajaiban di langit, tampak awan bertuliskan kata Allah atau Muhammad.

Perlu dipahami bahwa ;
a. Alam ada dalam kuasa Allah.
b. Tidak pula ada mistik-mistik-kan.
c. Cerdaslah menatap awan.

” Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya ….” (QS.24, an-Nuur : 43).

Kekuasaan Allah terlihat jelas ketika awan-awan bergerak perlahan-lahan.
Ditiup angin. Kemudian, Dia menggabungkan mereka bersama-sama.

Awan-awan dalam formasi menggunung (masif) mulai membentuk manakala angin mendorong gumpalan-gumpalan kecil awan putih menuju suatu area dimana awan-awan itu bertemu.
Kemudian, masuk ke dalam satu susunan.
Bergabung : Awan kecil bergabung membentuk awan lebih besar, berbagai formasi.
Bertimbun : Awan-awan kecil bergabung, membubung tinggi, lebih besar ke atas… disebabkan badan awan bertumbuh vertikal, sehingga awan tersusun makin tinggi .. Selanjutnya, engkau melihat hujan turun dari celah-celahnya. Ketika titik-titik air menjadi terlalu berat bagi pembubungan untuk mendukungnya, air mulai turun dari awan sebagai hujan, salju, dsb.

“…Dan Dia menurunkan SALJU dari gunung-gunung di langit, maka Dia menimpakan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan
Dia menghindarkannya dari siapa yang dikehendaki-Nya.
Hampirlah sinar kilat itu menghilangkan penglihatan.”

Ahli-ahli meteorologi telah menemukan bahwa awan-awan yang menggunung, dan hujan salju, mencapai suatu ketinggian 25.000 hingga 30.000 ft (+/- 6 hingga 8 km).

Awan-awan menjadi beraliran listrik ketika salju jatuh melalui suatu wilayah dalam awan yang yang berisi serpihan-serpihan kristal-kristal es super dingin… Salju, dengan tegangan yang negatif, jatuh melalui bagian bawah awan ini menjadi bermuatan negatif. Muatan negatif ini dinetralkan ke tanah jadi kilat.

HEMAT DALAH SIKAP JIWA ORANG PERCAYA (BERIMAN).
Boros (= israaf) sama artinya dengan melakukan sesuatu tidak dalam rangka ketaatan. Boros dan melampaui batas adalah penyakit rohani yang sangat merusak bangsa.


FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB BOROS ;
1. Latar belakang keluarga.
2. Keluasan rezki diperoleh setelah Kesempitan.
a. Lupa kepada kesulitan yang pernah ada,
b. Tidak mampu bersikap sabar,
c. Tidak mampu bersikap Tawassuh (pertengahan) dan
I’tidaal (seimbang) dalam menggunakan pemberian Allah melalui alam
d. Bersikap tabzir (menyia-nyiakan harta).

Amr bin Auf r.a meriwayatkan Rasulullah bersabda: “Demi Allah,
bukanlah kefaqiran yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi aku khawatir
jika dunia telah dihamparkan kepada kalian sebagaimana dihamparkan
kepada umat terdahulu, kemudian kalian akan saling berlomba, sehingga
akhirnya hal itu akan membinasakan kalian sebagaimana telah
membinasakan mereka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

3. Lalai terhadap dahsyatnya hari kiamat.
4. Lalai terhadap realitas kaum muslimin.
Disebabkan beberapa faktor ;
a. ‘beku’ perasaanya,
b. ‘mati’ rasa belas kasihannya,
c. Hilang rasa ukhuwwah tidak memikirkan kondisi saudaranya.

DAMPAK BURUK DARI TIDAK HEMAT ATAU BOROS.
a. Timbul penyakit fisik.
b. Hati jadi Kesat), Beku berfikir, malas Ibadah.
c. Meningkatnya Nafsu Syahwat
d. Tidak mampu menghadapi ujian dan kesulitan.
e. Lenyap Sifat sosial dan solidaritas sesama.
f. Mudah terjerumus mencari jalan yang Haram.
Rasulullah SAW bersabda : “Akan datang kepada manusia suatu masa,
di mana kala itu seseorang tidak lagi mempedulikan darimana ia
mendapatkan hartanya, apakah halal atau haram.” (HR. An Nasa’i)
g. Tidak dicintai Allah.
Menjadi teman Syaithan.
« …. dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. »

(QS.6, Al An’am : 141).

« Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara
syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. »
(Q.S. Al Israa’ : 26-27)

SALAH MEMANFAATKAN POTENSI ALAM, ENERGI ALAM MELEDAK.
Kekuasaan Allah sangat ilmiah, dan sangat jelimet penuh perhitungan ;

”dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya, dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan — Yang dimaksud berpasang-pasangan, ialah jantan dan betina, pahit dan manis, putih dan hitam, besar kecil dan sebagainya. –, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS.13, ar Ra’ad : 3).

Lebih menakjubkan ayat Alquran yang menyebutkan,
” Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak (berkilauan).” (QS.55, ar Rahman : 37).

Renungkan hasil pandangan ilmu pengetahuan moderen. Ketika gambar direkam dari Teleskop Ruang Angkasa NASA dari “Cat’s Eye Nebula”, sebuah ledakan bintang 3.000 tahun cahaya, Alquran menyebut :menjadi mawar merah seperti minyak (berkilauan).

” Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Tigapuluh tiga kali kalimat yang sama ini di ulang, agar manusia tidak sempat melupakan nikmat Allah.
Lalai dan sombong dari mengingat kuasa Allah adalah satu mental attitude (karakter) yang menjadi penyebab datangnya bencana.

KAUSALITA ANTARA ALAM DAN MENTALITA MANUSIA.
1. ADA HUKUM KAUSAL ANTARA SIKAP JIWA DAN BENCANA.
Apapun yang menimpa kamu berupa sayyiatin (bencana dan kekurangan),
tersebab kelalaian diri sendiri. Manusia wajib berhati-hati dalam hidup di alam.

2. HARTA DAN KELUARGA TIDAK MAMPU MENOLAK BENCANA DARI ALLAH.
Sikap durhaka dan sombong dalam menjaga dan memelihara alam, akan
mengundang bencana.

3. MENCARI SIHIR, MAGIS, PARANORMAL AKAN MENGUNDANG BENCANA.
Sejarah Fir’aun berulang lagi di zaman modern. Ilmu eksakta ditinggalkan,
berpindah kepada sihir dan kekuatan magis. Akhirnya, mereka karam.

4. UMAT LALAI IBADAH, LIDAH BERAT SEBUT ASMA ALLAH, BENCANA MELANDA.
a. keimanan tipis,
b. pesan agama mulai melemah,
c. melampaui batas menggunakan potensi dan alam, adalah penyebab
utama siksaan hidup yang menyerang penduduk negeri.

5. MENJAUHI PERINTAH AGAMA, MERUSAK ALAM, MENGUNDANG BENCANA.
a. kezaliman yang terjadi akan mendorong sikap aniaya.
b. terlambat sadar akan menenggelamkan kedasar laut.

” hingga ketika Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah
dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang
dipercayai oleh Bani Israil, dan saya Termasuk orang-orang yang
berserah diri (kepada Allah)”. Apakah sekarang (baru kamu percaya),
Padahal Sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu
Termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.”
(QS.10, Yunus : 90-91).

6. BISIKAN NURANI RAKYAT KECIL BERMUNAJAT IKHLAS, DIJAWAB ALLAH.
Inilah bentuk kausalita antara jiwa dan perubahan pada fenomena alam.
a. Allah perkenankan permohonan umat tertindas.
b. Bertubi-tubi azab menimpa,
c. Bencana akan melanda dalam negeri. Kemarau panjang dan
kurangnya makanan pokok dan buah-buahan.

” dan Sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir’aun dan) kaumnya
dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan
buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran.”
(QS. 7, al A’raaf : 130).

7. MEMPEROLOK-OLOK KEKUASAAN ALLAH, JUGA MENGUNDANG BENCANA.
a. Ketika kesempitan berganti dengan kemakmuran, mereka menjadi
sombong diri.
b. Ketika keberhasilan diraih, mereka berkata :
“Itu adalah karena (usaha) kami”.
c. Ketika ditimpa kesusahan, mereka lemparkan kesialan itu kepada
ketidak mampuan agama. Bencana taufan (banjir), hama belalang,
kutu, katak dan air minum berubah menjadi darah.

” Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak
dan darah — air minum mereka berubah menjadi darah.– sebagai bukti
yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah
kaum yang berdosa.”(QS.7 : 133)

” Kemudian Kami menghukum mereka, Maka Kami tenggelamkan mereka
di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka
adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu.”
(QS.7, al A’raf : 136).

Akhirnya, hancur semua yang telah dibangun.

8. LUPA AKAN KEKUASAAN ALLAH, AKAN MENDAPAT LAKNAT DAN KUTUKAN.
” dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula)
di hari kiamat. la’nat itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan.”

(QS.11, Hud : 99).

Merusak potensi dan energi alam (bersikap durhaka) akan keluar dari keindahan serta perbendaharaan kekayaan alam, akhirnya akan menjadi musuh kehidupan.

Pelajaran besar dari wahyu, umat manusia mesti memahami hukum kausalita yang ditetapkan Allah SWT bertalian dengan sikap jiwa dan fenomena alam.
“Maka Kami keluarkan Fir’aun dan kaumnya dari taman-taman dan mata air, dan (dari) perbendaharaan dan kedudukan yang mulia. — Dengan pengejaran Fir’aun dan kaumnya untuk menyusul Musa dan Bani Israil, Maka mereka telah ke luar dari negeri mereka dengan meninggalkan kerajaan, kebesaran, kemewahan dan sebagainya. — ” (QS. 26, asy-Syuraa : 57-58).

KESIMPULAN :
I. Umat dakwah mesti mempelajari peristiwa alam dengan cara sikap positif.
a. Tidak mengulangi kesalahan dan kenaifan umat terdahulu,
agar terhindar dari musibah yang disebabkan meledaknya energi alam,
b. Jeli dan arif memahami fenomena alam dengan energi dan potensi alam
sebagai anugeran Allat SWT,
c. Kemauan yang sungguh mengamalkan bimbingan dan tuntunan Allah dengan
beragama secara kaffah.

II. Menjaga Alam dengan menjaga Kesuburan Nafs sangat di anjurkan;
a. dengan ibadah teratur,
b. memperbanyak zikrullah, membaca al-Qur’an, melakukan shalat sunnat
malam (tahajjud),
c. hidup dengan menghindari yang diharamkan.

III. Melakukan tazkiyah nafs didukung oleh himmah (minat) yang kuat,
a. niat yang tulus, keyakinan yang benar dengan cara yang benar,
b. khusyuk (fokus) didalam pemanfaatan sumber dan potensi energi alam,
c. memiliki kesadaran ruhani,
d. menjaga garis-garis yang telah ditetapkan Allah untuk alam ini.

Kita memerlukan zikir, supaya Allah selalu bersama kita dalam menuju
redhaNya. Keseimbangan ilmu dan zikir muthlak dalam perjalan hidup
manusia.
Hakikatnya tidak akan ada perjalanan kehidupan, melainkan dengan
keduanya.

IV. Membersihkan diri (muhasabah) dan merawat hati dilakukan dengan
membersihkan niat, akidah dan ibadah yang wajib didukung ilmu.
a. Tidak berlaku sebuah amal tanpa ilmu.
Tidak berarti setumpuk ilmu, tanpa diamalkan.
b. Kesadaran, hanya Allah semata yang punya kebesaran.
c. Menjaga energi alam adalah tugas yang mulia.

Al Quran menyatakan peran agama multi-fungsi, yakni mengeluarkan manusia dari sisi gelap kealam terang cahaya (nur, hidayah, iman dan peradaban).

Membentuk masyarakat mestilah dengan basis ilmu pengetahuan, basis budaya –saling menghargai dalam satu keluarga bangsa –, dan agama – menjaga ibadah, akhlaq dan akidah shahihah–.

1. Nilai etika reliji (akhlaq mulia) melahirkan masyarakat proaktif dalam menyikapi
dan menghadapi perubahan alam.
2. Kehidupan ditengah alam adalah satu realitas yang mesti diterima sebagai
satu sunnatullah dan disambut dengan usaha.
3. Hidup dan kehidupan ditandai dengan selalu melakukan perbaikan dengan
menjaga peningkatan mutu diri dan masyarakat.

Di sinilah peran terbesar umat dakwah untuk ikut aktif menata ulang masyarakat dengan nilai-nilai kehidupan berketuhanan dan bertamaddun itu.

Wabillahitaufiq wal hidayah

Categories: ABS-SBK, Buya Masoed Abidin, Education, Ekonomi anak nagari, Energi, Globalisasi, HAM, Iptek, Kekayaan alam, Komentar, Masyarakat Adat, Minangkabau, Pendidikan, Politics | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: