Zaman Berubah Musim Berganti

 

Kader

Zaman terus beredar dan tiap-tiap zaman dan rijalnya.
Babakan pentas bisa beralih, pemainnya bisa berganti. jalan cerita sudah wajar pula menghendaki peralihan babak dan penggantian pemain sesuatu waktu.
Memang itulah yang menjadi latar belakang pikiran kita, dalam usaha pembinaan ummat yang akan  lebih panjang  umurnya dari pada usia seseorang pemimpin sesuatu waktu.

Maka yang tidak boleh tidak kita lakukan menjadi suatu “conditiosine quanon”, ialah meletakkan dasar bagi kontinuiteit aqidah dan qaidah, diatas mana khittah harus didasarkan.

Satu-satunya jalan itu, ialah ;
Membimbing dan mempersiapkan tunas-tunas muda dari generasi yang akan menyambung permainan di pentas sejarah.
Mempersiapkan jiwa mereka, melengkapkan pengetahuan dan pengalaman mereka, mencetuskan api cita-cita mereka, menggerakkan dinamik mereka, menghidupkan “zelf – disiplin” mereka yang tumbuh dari Iman dan Taqwa.
Bukanlah itu suatu pekerjaan tersambil, sekedar pengisi-pengisi waktu yang kebetulan berlebih.

Tempo-tempo ini adalah pekerjaan yang “masuk agenda”, yang untuknya harus disediakan waktu, harus dilakukan dengan sadar dan pragmatis.
Dalam rangka ini ada dua hal yang perlu diperhatikan;

(A). Mereka dari generasi baru itu telah beruntung mendapat kesempatan yang lebih luas dibidang menuntut ilmu, baik ilmu jiwa duniawi ataupun ukhrawi, dari pada mereka dari angkatan 25 (duapuluh lima-an) dulu, syukur.
Tapi dasar Iman dan Taqwa yang merupakan sumber kekuatan dan pedoman akhlaq dan karakter menjadi bekal yang tidak boleh tidak harus mereka miliki untuk menjalankan tugas – yang akan mereka jalankan itu.
Ini hanya dapat dicapai dengan r i a d a h  dalam arti yang luas.
(Disinilah terletaknya fungsi yang khusus dari Masjid menjadi lembaga risalah yang hidup dan dinamis menjadi pusat pembinaan ummat dan pembentukan kader).
Apa yang kita lihat dan rasakn dalam “keadaan” sekarang ini, cukuplah kiranya menjadi peringatan bagi kita, betapa pentingnya meletakkan “dasar jiwa” bagi para calon pemimpin ummat.
Banyak orang yang tadinya bertolak dari rumah dengan niat dan semboyan hendak menegakkan panji-panji “kalimat ilahi”, akan tetapi lantaran  dasar yang tidak kuat ditengah perjalanan, tertempuh jalan yang disebut “tujuan menghalalkan semua cara”.
Lupa mereka bahwa panji-panji Kalimat Allah itu tidak dapat berkibar bila dalam perjalanan dia terus diinjak-injak oleh kaki yang membawanya sendiri.

(B). Fakultas dari bermacam-macam jurusn sudah ada yang mempersiapkan mereka untuk jadi “sarjana”.
Kita menghajatkan teoritis yang tajam dan efektif.
Di samping itu yang dihajatkan dalam pembinaan ummat ialah “opsir lapangan” yang bersedia dan pandai berkecimpung di tengah-tengah ummat.
Kalaupun dihajatkan sarjana-sarjana, yang diperlukan bukan semata-mata sarjana yang “melek buku” tetapi “buta masyarakat”.
Sedangakn kemahiran membaca “kitag masyarakt” itu tidak dapat diperoleh dalam ruang kuliah dan perpustakaan semata-mata.
Oleh karena itu mereka perlu di-introdusir ke tengah-tengah ummat dan turut aktif bersama-sama menghadapi dan mencoba mengatasi persoalan dari kehidupan ummat dipelbagai bidang.
Sehingga mereka dapat merasakan denyutan jantung ummat, dan lambat laun berurat pada hati ummat itu.
Makin pagi makin baik ……,
(Banyak dari antara gejala dari keadaan sekarang ini yang dapat dielakkan tadinya, kalau tidaklah terlampau banyak kita mempunyai  “salon politik” yang menjadikan pemimpin amateur).

Maka di tengah-tengah masyarakat yang hidup itulah dapat berlaku proses “timbang terima” secara berangsur-angsur, antara yang akan pergi dan yang akan menyambung, patah tumbuh hilang berganti.
Sebab kesudahannya, yang dapat mencetuskan “api” ialah batu api juga.

Konsolidasi & Polarisasi
Tenaga-tenaga yang sudah dikumpulkan kembali secara selektif, usaha-usaha lama yang tlah digiatkan lagi,
kegiatan-kegiatan baru dalam pelbagai bentuk yang sudah tumbuh dengan spontan dimana-mana itu.
hanya akan dapat bertahan lama dan akan lebih efektif apabila semua itu di konsolidir dengan menyatukan aqidah dan qaidah, menyesuaikan langkah dalam suatu strategi yang sama.
Kalau tidak, kegiatan lokal dan regional itu bisa jadi “mangsa” atau terdesak dalam kompetisi antara bermacam-macam kekuatan dan aliran-aliran yang sama berkompetisi dengan kita, sudah  sama-sama kita ketahui masing-masingnya sudah dipolarisasi dalam organisasi masing-masing yang utuh.
Teranglah bahwa usaha integrasi harus diiringi segera oleh polarisasi melalui koordinasi kegiatan-kegiatan yang sejenis.
Ada lembaga-lembaga, yayasan-yayasan dibidang sosial, dakwah dan kebudayaan yang diselenggarakan oleh para keluarga.
Lembaga dan badan-badan itu perlu disatukan langkahnya, diadakan di antaranya pembagian lapangan, kerja sama, saling bantu membantu, dan yang utama disatukan faham mereka, strategi yang akan ditempuh.
Di antara keluarga kita cukup banyak menulis, yang penanya subur dan bermutu, mereka perlu diketemukan antara satu sama lain.
Kalau  belum bisa dalam bentuk  organisasi yang formil, dengan mengadakan diskusi (seminar), dan pertemuan se waktu-waktu guna pembahas persoalan yang timbul dalam bidang mereka, dan guna menyesuaikan langkah  serta pedoman dalam rangka tujuan dan mengisi “accu”  ummat.
Banyak sekolah-sekolah menengah dan fakultas-fakultas bertebaran dibeberapa tempat, dan diselenggarakan oleh keluarga kita.
Cara bekerjanya taman-taman pendidikan itu perlu  disesuaikan dengan tujuan untuk  membina kader dalam arti yang sebenarnya, tidak sekedar penambah banyak orang yang bergelar sarjana.

Ini perlu peninjauan dan penjelajahan bersama antara pemimpin-pemimpin instelling-instelling tersebut.
Perlu kontak, perlu mempool keahlian dan pengalaman.
Bagaimana sebenarnya agar menghidupkan masjid menjadi pusat pembinaan ummat yang efektif, agar jangan asal ramai  orang bershalat jamaah  saja.
Ini perlu kepada koordinasi. Dan begitulah seterusnya.
Kalau re-integrasi dibidang kepala keluarga seperti dimaksud dalam paal terdahlu bis dinamakan reintegrasi secara vertikal (taushiyatul khamsah bab 1 dan 2), maka reintegrasi dari kegiatan yang sejenis  ini bisa dinamakan reintegrasi horizontal.

Kedua-duanya dilakukan sejalan, dan kedua-keduanya menuju kepada konsolidasi dan polarisasi keseluruhannya, yakni adanya potensi yang riil tersusun dan aktif dalam wijhah, khittah dan strategi yang satu.
Formilnya tenaga-tenaga itu kalau perlu biar bersifat lokal atau regional akan tetapi hakikatnya ;

Ini semua memerlukan tenaga yang khusus, dan pembagian tugas menurut bidang masing-masing.
Segala sesuatu di selenggarakan tanpa gembar-gembor, semuanya legal bersumber kepada hak-hak azasi yang juga dijamin oleh Undang-Undang Dasar Negara.
Taushiatul Khamsah

Kalau kita memperhatikan risalah “At Taushiatul Khamsah”, oleh Al Ustadz ABU LIHJAH, teranglah yang pertama-tama dimaksudkan olehnya ialah :
Konservasi – yakni menghimpunkan atau pemeliharan apa yang ada
Maksud konversi itu untuk membukakan jalan bagi re-integrasi yakni “menghimpun yang tadinya berserakan”.
 
Re-integrasi hanya akan bermanfaat apabila disusuli oleh konsolidasi, penyatuan bagi apa yang sudah dihimpun.
Bila konsolidasi sudah terjelma, segala langkah dapat diajukan secara tertib, dalam konfrontasi terhadap pelbagai peristiwa dan keadaan.
Begitu intisari dari “At Taushiatul Khamsah”, ….

Sekarang sudah sekian masa yang lewat, sudah patut pula dibuat sekedar balans
Alhamdulillah, konservasi itu sampai sekrang berhasil juga. Pada umumnya tidak mengecewakan.

Terutama ialah berkat adanya “anti toxine” lama yang masih mengalir pada jamaah-jamaah utuh.
Bisa timbul pertanyaan ; “apakah “utuh” itu ?
Artinya bukan sekedar tidak masuk jamaah lain-lain?
Jika pada umumnya demikian, ini barulah “taraf minimal” sifatnya baru negatif. Sudah tentu proses konservasi tidak boleh berhenti disitu.
Pisang juga kalau diperam lama-lama, walaupun tidak akan berobah menjadi mangga, dia akan ranum, cair tidak bisa dipergunakan lagi.
Kalau kita memperhatikan dengan tajam, tak dapat disangkal, bahwa dikalangan jamaah, sudah juga ada mulai kelihatan gejala-gejala “ranun” itu.
Ada yang “uzlah”pasif
Ada yang mungkin dengan tidak sudah kian lama kian hanyut, atau mereka terlihat dalam arus maksiat 100%.
Ada yang hanya mengeluh;
Yah, apa boleh buat, apa boleh di bikin dalam keadaan seperti sekarang ini.
Lalu menunggu perkembangan keadaan. Kalau-kalau keadaan akan berubah.
Seolah-olahnya nanti itu, akan kedengaran semacam gong besar, menandakan “keadaan sudah berubah”.
Sedangkan, andaikatapun akan ada kejadian semacam itu, belum tentu pula olehnya apa yang seharusnya diperbuatnya disaat itu selain dari pada terkejut.

Memang zaman itu akan berubah juga, dengan atau tanpa kita.
Soalnya ialah apakah perubahan itu akan menguntungkan kita atau akat merugikan kita.
Ini tentulah akan bergantung kepada :
Apakah kita memasukkan andil kedalam zaman itu dari sekarang atau tidak.
Oleh karena itu dari konservasi pasif, kita harus meningkat kepada re-integrasi yang aktif.
 
Re-integrasi dalam tiga bidang :
(1). bidang ummat,
(2). bidang pemimpin,
(3). bidang kader.

Risalah Alif-baa-taa, sudah mengemukakan sebahagian dari usaha re-integrasi ummat yang dipancarkan dari “lembaga risalah” warisan Rasul.
 
Re-integrasi dalam bentuk ini, adalah hal yang primer, dan tidak boleh tidak. Baik untuk jangka  pendek maupun dalam jangka panjang, dalam suasana keadaan bagaimana pun coraknya, walaupun sudah ada juga di samping itu bentuk dan saluran-saluran lain.

Dia merupakan generator yang memancarkan aliran listrik, untuk penggerakkan lain-lain saluran itu.
Jangan kita lupakan bahwa yang paling  menderita kerusakan oleh keadaan yang sekarang ini, bukanlah kehidupan materi, tetapi kehidupan rohani.
Sejarah cukup membuktikan bahwa kendatipun keadaan pada suatu waktu pulih dalam bentuk lahirnya, tetapi masih panjang sekali masa yang diperlukan lagi, untuk pemulihan kesehatan dan kemantapan rohani itu.
Untuk merawat luka “kehidupan rohani” itu,  kemanakan lagi akan di cari obatnya, selain daripada kepada “lembaga risalah” yang hidup dan dapat memancarkan ….?

ASPEK EKONOMI
Aspek hidup ekonomi seseorang atau suatu masyrakat tidak terlepas dari aspek hidup yang lain. Dengan demikian, usaha memperbaiki kehidupan ekonomi, di samping mempertimbangkan faktor faktor ekonomi, juga tidak kalah pentingnya dengan faktor-faktor   non   okonomi.

Usaha perbaikan ekonomi dalam masyarakat liberal lebih ditujukan untuk memperbaiki proses kegiatan ekonomi itu sendiri, yaitu siklus produksi   distribusi   konsumsi, yang ditekan terutama pada teknis ekonomis.
Sebaliknya, pada sistim ekonomi sosialis perbaikan lebih diarah¬kan pada masyarakat di mana kegiatan ekonomi berlangsung.

Namun demikian pengertian masyarakat di sini adalah pengertian kesatuan kolektif komunitas, sehingga harkat manusia menjadi individu kerap kali dilupakan dan dikorbankan.

Dua pendekatan pengembangan tersebut menghasilkan pola perkembangan yang berbeda.
Ekonomi liberal atau kapitalstik, yang berorentasi pada komponen modal/pengusaha, mampu menghasilkan perkembangan ekonomi yang relatif cepat tetapi disertai dengan ketidakadilan ekonomi.
Sebaliknya, sistim ekonomi sosialis secara teoritik mampu melahirkan aspek keadilan ekonomi, tetapi perkembangan tekah menempatkan elite penguasa menjadi pendominasi perencanaan, pelaksanaan dan penikmatan hasil   hasil ekomomi.

Tujuan   tujuan ekonomi yang ingin dicapai oleh setiap bangsa pada prinsipnya sama, yaitu:
(a). mewujudkan perkembangan ekonomi:
(b). keadilan ekonomi dalam semua tahapan kegiatannya, produksi, distribusi , dan konsumsi: dan yang sebenarnya merupakan tujuan antara atau pendukung bagi tercapainya dua tujuan tersebut ialah stabilitas ekonomi, baik, baik stabilitas kesempatan kerja, stabilitas harga, maupun keamanan ekonomi, termasuk jaminan hidup warga masyarakat dihari tua.

Tujuan   tujuan ekonomi ini dalam prktek sukar dicapai secara bersamaan. Hingga saat ini belum ada konsep teoritik yang mantap untuk dapat mengembangkan ekonomi ekonomi atau bangsa yang secara berimbang mencapai tingkat pertumbuhan yang cepat sekaligus dengan tingkat keadilan ekonominya.

Dari sisi lain, kalau kemerosotan ekonomi suatu masyarakat atau bangsa terjadi,baik berupa tingkat inflasi yang tinggi maupun rusaknya sektor produksi pertanian akibat bencana alam, ataupun karena sebab lain, biasanya yang paling dahulu merasakan akibatnya dan yang paling parah keadaanya adalah masyarakat lapisan bawah, yang miskin dan lemah. Ini terjadi baik di negara sosialis.

Di negara kapitalis, karena modal begitu dominan posisinya, maka kelompok yang bermodal tidak mampu melakukan kegiatan okonomi secara bebas. Di negara sosialis, yang umumnya pemerintahannya bersifat otoiter, masyarakat miskin tidak dapat bertindak menjadi subjek yang menentukan, melainkan menjadi objek pelaksana kegiatan ekonomi.

Islam yang berdasarkan diri pada prinsip persamaan kedudukan,prinsif keadilan tuntutan jaminan sosial yang jelas, prinsip perimbangan antara hak dan kewajiban,serta tuntutan hidup tolong   menolong, memungkinkan dikurangi penderitaankaum lemah dalam menghadapi goncangan ekonomi. Dengan mengembangkan sikap kebersamaan dalam menikmati keuntungan dan menaggung kerugian (profit sharing dan risk sharing) dalam berbagai kegiatan ekonomi,baik dalam fungsinya menjadi produsen, distributor, maupun menjadi konsumen, keserasian hubungan antara unit unit ekonomi dalam masyarakat dapat dijamin.

Dari sisi lain, dapat dilihat bahwa kalau sistem ekonomi kapitalistik lebih “berpihak” pada pemilik modal (pengusaha), sementara sistem ekonomi sosialistik lebih “berpihak” pada buruh, tidak mungkinkah “sistem ekonomi yang Islami” mempunyai potensi untuk menyeimbangkan pemihakan tersebut bukan saja pada pengusaha dan buruh, tetapi terutama uga pada konsumen? Jawaban jawaban filositik teoritik mungkin pernah dilontarkan dan cukup meyakinkan kebenarannya. Namun, secara operasional empirik perlu pengembangan  lebih lanjut.

Kondisi perekonomian Indonesia, setelah periode menikmati manisnya minyak bumi mendekati penghujungnya, mulai menghadapi permasalahan yang cukup serius karena sumber utama devisa negara tersebut makin menyusut jumlah-nya. Di sisi lain, upaya mwendapatkan devisa non minyak belum menunjukkan hasil yang memuaskan.
Sementara itu, kegiatan perekonomian di dalam negeri sendiri makin terasa lesu, baik karena pengaruh resesi dunia maupun menjadi akibat faktor faktor internal sendiri. Kecenderungan yang demikian itu, menyebabkan sebagian pengamat pesimistik memandang perkembangan ekonomi Indonesia.

Walaupun problema problema yang mengakibatkan lambannya perkembangan ekonomi dapat berbeda antara satu negara dengan negara lain, tetapi kesamaan umum tetap ada yaitu bahwa di dalamnya terkait variabel variabel ekonomis maupun non ekonomis.

Kedua variabel pokok ini harus dilihat baik melalui pendekatan statis maupun pendekatan dinamis, sehingga dapat melahirkan pemahaman yang menyeluruh dan terpadu.
Setidak tidaknya ada lima permasalahan pokok yang dihadapi perekonomian Indonesia yaitu: masalah modal, masalah tenaga kerja, kejujuran pelaku kegiatan ekonomi.
Dua permasalahan yang terakhir termasuk problema non ekonomis.
  
Masalah permodalan.
Masalah permodalan menyangkut keterbatasan sumber modal baik dari dalam maupun dari luar negeri. Selain dari itu, daya serap investasipun terbatas juga karena sempitnya pasaran hasil produksi, baikunuk ekspor maupun [asaran dalam negeri. Permasalahan ini diperberat lagi dengan efisiensi pemanfaatan modal yang rendah dan arah investasi yang kerap kali tidak disertai dengan perencanaan yang matang. Akibatnya, angka cor (capital out put ratio) tinggi dan matarantai pengaruh ke muka dan ke belakang kecil, backward and foreward linkage terbatas.

Masalah ketenagakerjaan.
Melihat fenomena ketenagakerjaan di Indonesia, terdapat semacam paradoksal, yakni di atu fihak pengangguran makin membengkak tetapi di fihak lain dirasakan kebutuhan akan tebnaga kerja tertentu, terutama tenaga ahli dan menengah. Hal ini terjadi karena jumlah tenaga kerja kasar dan tidak terlatih (non profesional) amat banyak, sebaliknya tenaga ahli dan terlatih amat terbatas, kecuali untuk bidang tertentu.

 
Kerawanan tenagakerja ini makin diperberat dengan dua hal, yaitu :
(1) meningkatnya perkembangan sektor sektor ekonomi dengan teknologi tinggi (yang sebenarnya dapat dicapai dengan teknologi yang lebih rendah), dan
(2) sikap angkatan kerja yang statis, etos kerjayang rendah, dan langkanya motivasi wiraswasta.

Masalah keadilan ekonomi.
Sekalipun peranan pemerintah dalam bidang ekonomi, terutama sejak 1967, cukup dominan, tetapi kebebasan bersaing sektor swasta makin tajam.
Di satu fihak, perkembangan ekonomi dapat dipercepat karena fihak swasta domestik maupun asing yang bermodal kuat mampu mendirikan berbagi alat produksi dalam skala besar, teknologi canggih, efisiensi tinggi, yang memungkinkan kualitas produksi meningkat, hingga keuntungan yang diperoleh menjadi besar.

Di fihak lain, sektor sektor ekonomi yang menyangkut hajat hidup rakyat banyak makkin melemah, terutama sektor informal. Kerajinan rumah tangga di desa, industri kecil di kota, transportasi non mesin sebagian bangkrut. Fenomena yang ironi terlihat: yang besar makin kuat sementara yang kecil makin lumpuh atau mati.

Keterbatasan lapangan kerja di pedesaan mengakibatkan meningkatnya secara besar besaran urbanisasi, yang bukan saja menambah pengangguran di kota dan di desa, tetapi juga timbulnya dampak sosial yang negatif.
Upaya pemerintah meningkatkan keadilan ekonomi dengan mencanangkan delapan jalur pemerataan, rupanya menitikberatkan pada pertimbangan ekonomi, terutama yang berorientasi pada pertumbuhan.

Walaupun telah diakui banyak segi kelemahannya, masih juga dilaksanakan di Indonesia. Sementara itu isue “keadilan sosial” atau “emansipasi sosial” menjadi strategi alternatif, walaupun telah mendapat pasaran di forum kajian teoritik (di berbagai forum akademik) rupanya belum mendapat pasaran dalam praktek.  

Dengan menyusutnya secara tajam sumber modal yang dikuasai pemerintah khususnya dari hasil minyak bumi sejak tahun 1982, peranan swasta bermodal besar semakin dominan, situasi liberal yang kapitalistik makin mendapat angin, sehingga kegiatan ekonomi lemah, termasuk koperasi, semakin memburuk.

Sinyaleman sistem ekonomi Indonesia lebih condong ke ekonomi kapitalistik makin mendapat pembuktian empirik yang valid dengan fenomena fenomena ekonomi di atas. Kalau dimulai tahun 1967 sektor ekonomi modern menjadi pelopor perkembangan ekonomi, maka semenjak 1982 sektor modern inipun mengalami kesuraman menjadimana halnya sektor ekonomi yang telah tersingkir dan dikalahkan oleh sektor ekonomi modern tersebut.

Problematika ekonomi Indonesia yang kompleks tersebut, yang memprihatinkan seluruh bangsa Indonesia terutama golongan menengah dan bawah, sebenarnya hampir identik dengan problematika ekonomi ummat Islam.

Ummat Islam, di samping merupakan bagian mayoritas rakyat Indonesia, hampir semuanya menduduki strata sosial ekonomi menengah bawah  dan bawah. Sektor ekonomi informal,terutama, dilakukan oleh ummat Islam. Sebaliknya pada sektor ekonomi kuat dan menengah kuat justru ummat Islam merupakan minoritas dan tidak berperan menentukan. Fihak yang paling berperan justru pengusaha pengusaha non pribumi baik WNI maupun WNA yang menguasai matarantai ekonomi yang tidak terputuskan sejak dari impor sampai ke pedesaan, dan dari pedesaan sampai ke eksport.

Di sisi lain dapat dilihat bahwa sektor pemerintah memegang peranan yang cukup besar dalam perekonomian, baik menjadi konsumen berbagai hasil produksi maupun menjadi produsen barang barang penting bagi kebutuhan rakyat banyak.
Dalam kaitan ini, baik pemborong yang mensuplai kebutuhan pemerintah maupun penyalur hasil produksi pemerintah hampir seluruhnya dinikmati oleh pengusaha menengah kuat dan kuat, terutama yang memiliki hubungan yang akrab dengan pejabat yang berwenang.

Suatu hal yang menimbulkan rasa syukur, ialah bahwa berkat latihan-latihan mental dan amal semenjak dahulu itu, dibeberapa tempat masih ada anggota-anggota (jamaah) yang menerjunkan diri dalam penyelenggaraan bermacam-macam amal, dibidang pendidikan, dakwah dan lain-lain amal sosial. Kebanyakan bersifat lokal.

Yang diperlukan bagi mereka ialah ;
(1). perhatian dari pada kepala keluarga (jamaah), dorongan dan tempo-tempo juga tuntunan.
(2). hubungan antara satu kegiatan lokal dengan kegiatan lokal lainnya walaupun berupa “hubungan moril”.
(3). menduduk-kan “nawaitu”nya,
Yang tersebut belakangan ini, “menduduk-kan nawaitu-nya” penting sekali artinya dalam rangka re-integrasi dan konsolidasi.
Sebab besar bedanya antara seseorang yang melakukan sesuatu kegiatan dengan alam pikiran, bahwa dia sudah pindah perahu, lantaran menganggap bahwa perahunya yang lama sudah kandas,   dengan seseorang yang  melaksanakan kegiatannya, walaupun  sama jenisnya, tetapi dengan niat dan pengertian bahwa dengan cara itu dia melaksanakan bidang kesatu da kedua dari pasal tiga qanun asasinya.

Yang pertama merasa,  dia sudah pindah ke alam lain sama sekali, dimana juga dirasanya tidak ada resiko.

Yang kedua merasa, masih merasa  dalam alam yang lama, sedang melanjutkan amal usaha dalam rangka yang lama itu, walaupun sebahagian seberapa yang mungkin menurut ruang dan waktu.

Pada umumnya, mendudukkan niat-memperbaharui dan menyegarkan aqidah dan qaidah suatu partai politik, dalam arti yang lazim. Dia adalah lebih dari di-ikat oleh kesatuan  idea dibidang politik, akan tetapi juga dan terutama oleh tali ukhuwwah yang berurat pada  keimanan.

Yang tidak boleh bergerak itu ialah dan hanyalah satu bentuk atau forum dari sudut yang mengenai praktis politik.

Tapi bagaimana orang akan biasa akan meniadakan tubuh jamaah sendiri, sedang dia ini berakar  dalam kalbu masing-masing anggota  keluarganya.
Yang perlu terus kita usahakan ialah menghidup  suburkan rasa dan  kesadaran ke jamaah-an ini di antara para keluarga.

Aspek Ilmu dan Teknologi
Manusia diciptakan Allah menjadi makhluk yang paling baik strukturnya, paling mulia, melebihi dan mengatasi makhluk yang lain (At Tien:4, Al Isra’:70). Namun, kemudian menjadian mereka muncul menjadi makhluk yang bersegi negatif, bodoh, zalim dan kikir (Al Ahzab:72, Al Isra’:100), atau bahkan paling hina (At Tien:5). Dengan demikian, manusia asalnya adalah makhluk yang potensial paling unggul, termulia, namun dalam pertumbuhannya belum tentu demikian.

Oleh karenanya, ada semacam kewajiban yang inheren dalam diri manusia, yaitu mengaktualkan keunggulan kwalitas tersebut, baik segi fisik, mental, intelektual, maupun spiritualnya. Aktualisasi potensi diri menjadi makhluk yang paling superior tersebut merupakan salah satu fungsi kodrati manusia, suatu proses “ihsanisasi”.
Fungsi kodrati manusia yang lain adalah fungsi “pengabdian” (adz Dzariat:56, Al Bayyinah:5), yang disamping berdimensi transendental (ibadah khusus), juga tercer¬min dalam dimensi horisontal, yaitu pengabdian kepada sesama manusia dengan amal shalih (ibadah umum). “Kekhalifahan” adalah fungsi kodrati yang lain (Al Bawarah:30, Al An’am:165), yaitu menjadi wakil Allah dalam mengelola dan mengatur kehidupan di dunia agar tercipta harmoni dan kesejahteraan di bawah ridho Nya. Fungsi kodrati yang lain adalah “kerisalahan” (Ali Imran:104, Al Maidah:67), menyampaikan kebenaran dienul Islam menjadi pedoman hidup manusia untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan.

Bagaimana manusia dapat menunaikan keempat fungsi kodrati tersebut (ihsanisasi, pengabdian, kekhalifahan, dan kerisalahan), manusia dengan kemampuan fisik, intelek¬tual dan mentalnya membutuhkan “jalan kebenaran” yang bersumber pada kebenaran hakkiki. Sumber kebenaran yang mutlak  hanyalah datang dari Allah semata.

Untuk dapat menangkap kebenaran tersebut kepada manusia tersedia dua ‘jalur’, yaitu wahyu dan ayat kauniah, manusia membutuhkan interpretasi terhadap keduanya. Interpretasi terhadap wahyu (Qur’an dan Sunah) sering dikenal menjadi “tafsir”, sementara interpretasi terhadap fenomena fenomena kauniah dikenal menjadi “ilmu pengetahuan”.

Ilmu dan teknologi berkembang didorong oleh kebutuhan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, untuk dapat mempertahankan eksistensinya yaitu berinteraksi secara harmoni dengan lingkungan alamnya.

Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia mampu memperoleh kemudahan kemudahan dalam melakukan kehidepan sehari hari, dalam memenuhi fungsi hidupnya. Dengan ungkapan lain, makna dikembangkan ilmu dan teknologi oleh manusia (aspek aksiologis ilmu dan teknologi) ialah menjadi alat agar manusia dapat memenuhi misi atau makna kehidupannya di dunia.

Perkembangan ilmu, serta teknologi yang menyertainya dicapai manusia melalui matarantai yang panjang dari upaya manusia untuk dengan kemampuan “interpretasi ayat kauniah” nya yang berupa kemampuan observasi, abstraksi, pengkajian dan eksperimentasi mereka. Perkembangan ilmu dan teknologi yang dicapai oleh ummat manusia hingga saat ini telah mendorong ‘loncatan peradaban’ yang mencengangkan.

Perkembangan ini sedemikian menyilaukan ummat manusia sehingga menggeser persepsi mereka tentang ilmu dan teknologi, yang semula menjadi alat untuk berinteraksi dengan lingkungan alaminya, menjadi sesuatu yang lebih dari itu. Ilmu dan teknologi seringa dipandang menjadi yang mampu memecahkan segalanya, lahirlah rasionalisme. Ilmu dan teknologi seolah menjadi “tuhan”.

Di sisi lain, disadari pula bahwa perkembangan ilmu dan teknologi tidak hanya berkembag oleh kemampuan rasional manusia saja, akan tetapi dipengaruhi pula oleh corak pemikiran filsafati (pandangan budaya, keyakinan dan agama) para pengembangnya. Dengan demikian, perkembangan ilmu dan teknologi taklah netral, tetapi diwarnai pula oleh presuposisi presuposisi tertentu.

Hal ini akan semakin nyata dirasakan pada spektrum ilmu ilmu sosial. Pertanyaan ini cukup bermakna mengingat ilmu dan teknologi yang dimiliki manusia saat ini dikembangkan dengan kurang memperhatikan nilai nilai moralitas kemanusiaan, nilai nilai keagamaan. 

Bagi bangsa Indonesia yang juga berarti bagi ummat Islam, perkembangan ilmu dan teknologi juga menunjukkan permasalahan tesendiri, yaitu kenyataan ketinggalan dan sifat ketergantungan yang berkepanjangan tehadap dunia barat.

Di samping itu, proses alih iptek (transfer of     science dan technology) yang kita lakukan berlangsung tanpa sandaran etis yang kuat, sehingga proses ahli iptek tersebut kadang kadang secara sadar atau tidak disertai pula alih nilai (transfer of value) Barat, yang dalam beberapa hal bukan saja bertentangan dengan nilai nilai budaya bangsa, terutama bertentangan dengan nilai nilai Islam.
Efek samping lain proses alih iptek seperti disebutkan diatas juga tidak menjamin terpecahkannya secara memadai permasalahan utama yang dihadapi bangsa Indonesia sendiri, seperti : kemiskinan, defisiensi pendidikan, defisiensi gizi dan kesehatan, kelangkaan kesempatan kerja, dan menjadinya. Hal ini terjadi karena paket paket teknologi yang ditransfer pada umumnya dirancang untuk menghadapi problematika kehidupan masyarakat maju dan sekularistik, yang berbeda dengan problema sosial budaya bangsa Indonesia dan ummat Islam didalamnya.
Kenyataan tentang perkembangan ilmu dan teknologi diatas dapat menimbulkan dilema etis bangsa Indonesia, terutama kaum muslim dan cendekiawannya. Disatu sisi, bagaimanapun juga ilmu dan teknologi akan selau berkembang, karena perkembangannya sendiri adalah suatu sunatullah.

Tanpa mengikuti dan menggunakan kemajuan ilmu dan teknologi, ummat Islam akan terbelakang dan akan inferior dalam perkembangan budayanya. Akan tetapi di sisi lain, kemajuan yang dicapai oleh ilmu dan teknologi itu tanpa sandaran etis yang kuat akan dapat menjerumuskan ummat pada kehidupan yang materialistik.
Ilmu dan teknologi, menurut pandangan Islam, mestinya dikembangkan dan diperuntukkan bagi pemenuhan fungsi fungsi koderati manusia di atas.

Bagaiman dengan ilmu dan teknologinya manusia mampu mengaktualisasikan dirinya menjadi makhluk yang termulia, menajdi wakil Allah dalam mengelola dunia, membudayakan manusia sesuai dengan ketinggian dengan martabatnya dihadapan Allah. Ilmu dan teknologi mestinya dimanfaatkan manusia untuk menunaikan tugas kerisalahannya dan menyingkatkan pengabdiannya terhadap sesama manusia menjadi manifestasi pengabdiannya kepada Al Khalik.

Dari uraian di atas, dapat diidentifikasi permasala¬han yang dihadapi ummat Islam Indonesia, khususnya kelompok cendekiawannya, dibidang ilmu dan teknologi menjadi

(1) Bagaimana ummat Islam dapat mendudukkan kembali fungsi ilmu dan teknologi menjadi sarana manusia untuk menunaikan fungsi fungsi kodratinya menjadi hamba Allah ? Dan bagaimana cendekiawan muslim mampu mengambangkan ilmu dan teknologi tanpa terjerumus pada pola berfikir materialistik dan sekularistik ?

(2) Bagaimanakah ummat Islam mampu menguraikan ketinggalan dan ketergantungannya di bidang ilmu dan teknologi dari dunia barat ? Dan bagaimana proses alih ilmu dan alih teknologi dapat berlangsung tanpa menimbulkan efek negatif alih nilai dan budaya barat? 

Sesungguhnya kita masih banyak  mempunyai saluran tenaga.
Saluran-saluran lama dan saluran-saluran baru…
Dan bisa pula ditambh dengan yang paling baru lagi.
Di antara saluran-saluran yang lama, ada yang sudah lumpuh. Tapi masih ada kerangkanya, dan masih ada pusatnya, walaupun sudah sama-sama lumpuh. Pesat jalannya dengan lambang lain.

Mengenai ini perlu diajari dan diusahakan bagaiaman menggiatkan lagi yang sudah lumpuh.
Di samping itu dimana  pertukaran lambang, yang bertukar hanyalah lambangnya bukanlah jiwanya.

Untuk itu re-integrasi dikalangan para kepala keluarga tadinya merupakan syarat muthlak.
Sudah dapat dimaklumi, bukan sebanyak itu para kepala keluarga tadinya, tentu ada yang sudah lama lucutnya, atau lumpuh atau mulai ranum. Ada pula yang baru sekarang banyak kukunya yang sebenarnya.

Kalau dia dahulu menjadi kepala keluarga dengan “tanda kutip”, dia sebetulnya benar-benar menjadi kepala keluarga, yang bernafas keluar badan. Kalaupun sekarang dia tidak terang-terang menentan, tetapi dari langkah lakunya dan ucapannya dia bukan keluarga lagi.

Berada dalam keadaan semacam ini, maka usaha re-integrasi dibidang ini, kita harus mulai dari alif-baa-taa.

Mulailah dari teras yang tetap segar tandanya mereka sudah lulus ujian, sudah berjalan dengan tertib, berangsur-angsur, yang dengan izin Allah lebih baik dari yang tidak ada lagi itu.

Dan jika mereka yang sudah lemah-lemah lutut itu sekarang ini, sudah melihat perkembangan menuju kearah yang agak menggembirakan dan memberi harapan, nanti akan kembali.

Kita boleh coba mengobati lutut mereka yang lemah itu, tapi jangan kita  paksa-paksakan. Nanti kita kecewa, dan mereka sendiripun  kesal.
Adapun bekas golongan kepala keluarga dengan “tanda kutip” itu, terbaik-baik saja kita dalam pergaulan sehari-hari, menjadimana juga kita berbaik-baik dalam pergaulan sehari-hari dengan sesama manusia, walaupun berlainan jamaahnya.
Akan tetapi kalau sudah, mengenai hal-hal yang mengenai risalah kita, disitu ada garis demokrasi yang tajam dan kita harus mampu bersikap ;
“ Jangan kawan-kawan turut keluar bersama kami sama sekali” …..,
Mengenai hal yang semacam ini, akan berfaedah sekali bila kita memperhatikan kembali, antara lain Surat At Taubah ayat 60 – 99 ….., dimana kita dapat berkenalan semacam corak manusia.

Silahkan ulangi mentelaahnya,
kemudian teruskan pada ayat 100 dan seterusnya ….,
 
Re-integrasi pada niveau kepala keluarga adalah integrasi selectif. Sesungguhnya hikmah Allah menurunkan sesuatu ujian, adalah guna seleksi.
Bukan untuk satu neveau golongan saja.
bukanlah keseluruhannya bisa diganti dengan ummat yang lebih baik,
Maka perlulah sekali para kepala keluarga mengadakan silaturahmi sewaktu-waktu.

Dalam silaturahmi itu terutama dapatlah diperbaharui ikatan ukhuwwah yang menjasdi salah satu sumber kekuatan lahir dan batin, dimana pula dapat dibuat inventarisasi dari tenaga-tenaga yang ada, baik yang berupa faktor-faktor objektif ataupun faktor-faktor subjektif.

Dapat saling lengkap melengkapi suatu fakta dan data yang perlu sama diketahui.
Mungkin pula atas penilaian bersama itu dapat disusun satu  daftar usaha, untuk jangka pendek dan jangka panjang.
Satu dan lainnya dengan semboyan dan tekad;
“ yang sulit kita kerjakan sekarang,
“ yang tak mungkin, kita kerjakan berseok …
Insya Allah,
“ yang mudah sudah banyak orang lain mengerjakannya
Jangan tinggalkan semuanya bila sebelum semua dapat dilaksanakan.
Dalam silaturahmi, antara lain dapat dibuat balans dari usaha yang sudah dilakukan dan yang belum dapat dilakukan.
Dan di coba lagi maju selangkah,
dan begitu seterusnya ……
Pendeknya satu dan lainnya, sudah sama kita fahami.
Tak  perlulah disini “orang tua diajar pula memakan bubur lagi”.
Pokoknya, Re-integrasi keluarga menghendaki re-integrasi kepala keluarga yang selektif.
 
Re-integrasi aktif menghendaki aktiviteit.
Aktivited menghendaki bimbingan.
Rencana harus berdasarkan penilaian fakta dan data yang up to date, dan tepat.
Bimbingan harus berdasarkan rencana,
Ini semuanya menghendaki adanya pengumpulan fakta dan data  yang dapat dipertanggung jawaban dalam silaturahmi  lokal,
interlokal (dan sentral dimana bisa) …..

Akhirul kalam
Sekianlah beberapa pokok pikiran mengenai re-integrasi dalam tiga bidang itu, menjadi landasan dari taraf-taraf selanjutnya konsolidasi, polarisasi dalam rangka taushiyatul khamsah.
Adapun tafsir dari taushiyatul khamsah adalah tanfiznya.
Kata Saidina Umar bin Khatab R.A. tidak ada faedahnya suatu pemikiran selama tidak ada pelaksanannya.
Maka tanfiz berkehendak kepada ; program, pembagian tugas-tugas, pelaksanaan, balans, program lagi ….., dan begitu seterusnya.
Tak usah ditegaskan lagi bahwa ini berkehendak kepada pengkhidmatan dalam bermacam bentuk ; daya cipta, waktu, keringat, harta (untuk tidak menyebutkan bentuk-bentuk yang lebih dari pada itu dulu).
Ini sudah menjasdi sunnatullah,
laa tabdila likhalqillah …..,
Mudah-mudahan tidaklah kita akan masuk golongan yang pernah disentil oleh seorang penyair ;
“  kejayaan jua yang kau  idamkan,
jalan mencapainya kau tempuh tidak,
Betapakah kapal akan berlayar ditanah kering.
Bismillah …..

 

 

Categories: Amar Makruf Nahi Munkar, Buya Masoed Abidin, Education, Ekonomi anak nagari, Iptek, Komentar, Masyarakat Adat, Politics, Surau, Tauhid | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Zaman Berubah Musim Berganti

  1. Artikel di Blog ini bagus dan berguna bagi para pembaca.Anda bisa lebih mempromosikan artikel anda di http://www.infogue.com dan jadikan artikel anda topik yang terbaik bagi para pembaca di seluruh Indonesia.Telah tersedia plugin/widget.Kirim artikel dan vote yang terintegrasi dengan instalasi mudah dan singkat.Salam Blogger!!!

    http://nasional.infogue.com/
    http://nasional.infogue.com/zaman_berubah_musim_berganti

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: