Menyikapi Perubahan

Menyikapi Setiap Perubahan

di dalam Mengarungi Kehidupan

Oleh : H Mas’oed Abidin

Dalam arena kehidupan di dunia ini kita akan selalu berhadapan dengan “perubahan”. Dunia atau alam selalu berubah, seiring dengan ketentuan Allah Maha Pencipta alam semesta (Khaliqul ‘Alam), sebagai satu undang-undang baja yang dikenal dengan natuur-wet atau sunnatullah itu.

Orang yang berhikmat sering mengatakan, bahwa tidak ada kekal di dalam kehidupan yang selalu berubah, dan yang tetap kekal hanyalah perubahan itu sendiri. Pandangan yang arif ini mendorong manusia, siapapun dan di manapun dia berada, semestinya siap menghadapi setiap perubahan yang terjadi di dalam perjalanan kehidupannya.

Fenomena Global dapat mencemaskan Kehidupan

Di tengah kehidupan kini, kita dapat merasakan ada satu fenomena yang cukup mendatangkan kecemasan. Di antaranya, dengan mudah telah terjadi infiltrasi budaya asing yang makin lama makin terasa berat menghimpit. Pengaruhnya dirasakan berlaku pada perilaku pergaulan di tengah masyarakat ramai. Pengagungan kekuatan materi secara berlebihan (materialistic) adalah satu dari perubahan perilaku yang sangat kentara. Di samping itu, mulai pula tumbuh kecenderungan watak untuk memisahkan kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik).

Fenomena perubahan perilaku di dalam menyikapi kehidupan tersebut tidak hanya berhenti di sana. Tumbuh pula pemujaan kesenangan indera semata mengejar kenikmatan badani (hedonistik), yang di dalam ajaran agama Islam (syarak) disebut ittiba’ syahawat atau memperturutkan dorongan syahwat belaka. Manakala sikap hidup seperti itu telah mengakar di dalam kehidupan, tentulah kebiasaan hidup (life-style) sedemikian akan menjadi susah untuk menghindar. Secara hakikinya, fenomena kesejagatan (global life-style) seperti disebutkan itu, bila tidak disikapi dengan arif, tentulah akan membawa perilaku umat menjauh dari nilai-nilai budaya luhur.

Daerah kita di Sumatera Barat yang berada di dalam tatanan masyarakat adat Minangkabau, terlihat pula kaidah-kaidah – adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah -, mulai terabaikan. Pengabaian kaidah kehidupan luhur, beradat dan beragama ini akan menyajikan sikap hidup yang lemah dan hilangnya daya saing. Keadaan itu akan makin parah, oleh tumbuhnya kemalasan menambah ilmu, dan enggan berprestasi. Akhirnya, rela atau tidak, individu dan masyarakat menjadi jauh tertinggal.

Paradigma giat merantau dalam menuntut ilmu[1], mulai pula bergeser kepada semata menumpuk materi, mengabaikan ilmu dan keterampilan. Tampil ketidakberdayaan pada generasi bangsa. Ketertinggalan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan lemah minat menyerap informasi dan komunikasi adalah bentuk lain dari akibat pengabaian nilai-nilai luhur dalam kehidupan. Kondisi ini telah menjadi penghalang pencapaian keberhasilan di segala bidang. Hilang network, menjadi titik lemah penilaian terhadap generasi bangsa di setiap masa, dan situasi tersebut telah ikut mengundang maraknya kriminalitas, sadisme, dan krisis secara meluas.[2] Semuanya itu telah dan akan selalu terjadi dikarenakan ketidak siapan individu atau masyarakaat menghadapi setiap perubahan.

Tantangan berat dalam setiap perubahan musim dan masa hanya dapat diatasi dengan kejelian menangkap peluang. Memacu peningkatan kualitas diri, mendorong ke proses pembelajaran terpadu (integrated) adalah satu upaya intensif di dalam memaknai kesiapan menghadapi setiap perubahan. Memacu diri memasuki pendidikan di berbagai bidang keahlian kingga ke tingkat perguruan tinggi, dan kemudian melaksanakan contoh baik (uswah) dalam berkarya, serta mengamalkan akhlak agama (syari’at, etika religi) dan memakaikan nilai luhur adat istiadat di Minangkabau, sesungguhnya adalah satu bentuk positif dari sikap individu dan masyarakat di dalam mengarungi setiap perubahan cuaca dan perkisaran musim di dalam kehidupan.

Berpirau di tengan  Arus Kesejagatan

Arus kesejagatan (globalisasi) yang deras secara dinamik perlu dihadapi dengan penyesuaian-penyesuaian. Artinya, arus kesejagatan tidak boleh mencerabut diri generasi dari akar budaya bangsanya. Arus kesejagatan (globalisasi) yang membawa perubahan itu mesti dirancang untuk dapat ditolak mana yang tidak sesuai, dan dipakai mana yang baik.[3]

Tidak boleh ada kelalaian dan berpangku tangan di tengah mobilitas serba cepat, dan modern.  Persaingan tajam yang kompetitif, tidak dapat dielakkan, ketika laju informasi dan komunikasi efektif tanpa batas. Kita tidak boleh berpangku tangan di tengah pelayaran, ketika badai dating menerjang. Pertanyaannya, apakah kini siap mengha­dapi perubahan cepat penuh tantangan?.

Tanpa kesiapan kualitas internal intelektual (raso jo pareso) dan kekuatan eksternal fisikal (sehat bergiizi) dari Sumber Daya Manusia (SDM) yang sedia berkarya dengan menerapkan ilmu, dengan kekuatan budaya, teguh (istiqamah) beragama, maka terjangan globalisasi itu, amat sulit dihadapi.

Menyikapi badai kesejagatan yang menyangkut semua sisi kehidupan di dalam tatanan  bermasyarakat, semestinya dihadapi dengan kemampuan berkayuh dan bersaing dalam tantangan sosial budaya, ekonomi, politik di era ini. Globalisasi akan mengait ke semua aspek kehidupan manusia. Salah satu kekuatan untuk menghadapinya, dengan atau melalui penguasaan iptek, ICT dan mengamalkan akhlak yang teguh.

Hilangnya Akhlak Menjadikan SDM Lemah

Perilaku individu dan masyarakat, selalu menjadi ukuran tingkatan moral dan akhlak. Hilang kendali menjadi salah satu penyebab lemahnya ketahanan bangsa. Hapusnya panutan, lemahnya peran tokoh, dan pemangku adat dalam mengawal budaya syarak, serta pupusnya wibawa keilmuan di dalam mengamalkan syariat agama Islam, selama ini, telah memperlemah daya saing generasi bangsa.

Lemahnya tanggung jawab masyarakat, juga berdampak kepada tindak kejahatan yang meruyak secara meluas. Interaksi nilai budaya asing yang bergerak kencang, telah ikut melumpuhkan kekuatan budaya luhur di nagari Dalam struktur kekerabatan, terasalah pagar adat budaya mulai melemah. Fungsi lembaga pendidikan mulai bergeser ke bisnis. Dan, generasi mulai malas menambah ilmu.

Hilang keseimbangan dapat mengundang frustrasi sosial yang parah. Ketika itu terjadi, masyarakat banyak akan menuai berbagai kemelut. Krisis nilai terjadi di kala akhlak bergeser dari tanggungjawab moral sosial dan mengarah ke tidak acuh (permisiveness).

Di saat itu, perilaku maksiat, aniaya dan durjana, mulai payah membendung. Pergaulah di tengah kehidupan juga akan mengalami gesekan-gesekan. Dalam menerapkan ukuran nilai, akan terjadi pergeseran tajam. Ini amat membahayakan. Krisis kridebilitas dan erosi kepercayaanjadi sulit dihindari. Peran orang tua dan pimpinan, di mimbar kehidupan pasti akan mengalami kegoncangan wibawa.

Membiarkan diri terbawa arus deras perubahan sejagat tanpa memperhitungkan jati diri, akan menyisakan malapetaka budaya.[4] Bahaya mengancam ketika lemahnya jati diri. Keadaan ini terjadi karena kurang komitmen kepada nilai luhur, nilai agama (syarak), yang sejak lama sesungguhnya telah menjadi anutan bangsa.[5]

Lemahnya jati diri dipertajam tindakan isolasi diri, dan tidak mampu menguasai “bahasa dunia” dalam politik dan ekonomi, menjauh dari pemahaman dan pengamalan agama di dalam tatanan social, serta  budaya. Generasi bangsa mulai di jajah budaya asing di negerinya sendiri. Tertutuplah peluang peran-serta dalam kesejagatan.[6]

Hilangnya percaya diri, lebih banyak disebabkan oleh lemahnya penguasaan teknologi dasar penopang perekonomian bangsa, dan lemah pula minat menuntut ilmu.

Kesenjangan sosial dan kemiskinan telah mempersempit peluang pendidikan dan kesempatan mendapatkan pekerjaan secara merata. Idealisme generasi muda tentang masa depan mulai kabur. Berawal dari terseoknya perjalanan budaya (adat) dengan mengabaikan nilai agama (syarak). Penyakit sosial yang kronis, mulai menggerogoti sendi-sendi kehidupan, di antaranya kegemaran berkorupsi. Lemahnya syarak (aqidah tauhid) di tengah mesyarakat menjadi cerminan perilaku yang tidak Islami. Umat mulai senang melalaikan ibadah.

Mengoptimalisasikan Peran Keluarga 

Jati diri bangsa dibentuk oleh kuatnya peranan ibu bapa di rumah tangga, yang menjadi kekuatan inti dalam masyarakat.[7] Semangat dan dorongan cita-cita besar, kekayaan kearifan, dimulai menanam di persemaian keluarga (extended family).

Kedalaman pengertian dan pengamalan perilaku beradat dan beragama, kejelian melihat perubahan situasi – alun bakilek alah ta kalam -, mendorong minat lebih kuat untuk meraih pendidikan tinggi. Untuk itu, perlu di dahulukan melakukan penguatan lembaga keluarga (extended family), dan pemeranan peran serta masyarakat secara pro aktif, “singkek ba uleh, kurang ba tukuak” serta peneguhan komitmen menjaga perilaku hidup beradat berbudaya.

Setiap generasi yang lahir di satu rumpun bangsa (daerah) wajib dijadikan  kekuatan yang peduli dan pro-aktif dalam menopang pembangunan bangsa. Wajib pula menjadi kekuatan mewujudkan kesejahteraan yang adil merata dalam program-program pembangunan. Setiap individu masyarakat di Sumatera Barat mesti sadar akan manfaat menjadi penggerak pembangunan dengan jelas berkesinambungan, menggerakkan partisipasi yang tumbuh dari bawah dan di payung dari atas. Setiap individu di dorong untuk maju, rasa aman yang menjamin kesejahteraan.[8] Di samping itu ada pula kewajiban nyang tidak boleh terabaikan, yaitu membuat generasi penerus yang sadar dan taat hukum.

Upaya ini dapat dilakukan dengan memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga, melalui pemeranan orang tua, ibu bapak, ninik mamak, unsur masyarakat dalam kekerabatan adat Minangkabau, yang lebih efektif.

Generasi Penyumbang

Membentuk generasi penyumbang (innovator) dalam bidang pemikiran (aqliyah) harus menjadi sasaran utama.[9] Keberhasilan didapat dengan keunggulan institusi di bidang pendidikan. Pendidikan ditujukan untuk membentuk generasi yang menguasai pengetahuan, dengan kemampuan identifikasi masalah yang dihadapi, mengarah kepada kaderisasi, dengan penswadayaan kesempatan-kesempatan yang ada.[10]

Generasi baru mesti dibentuk melalui perguruan tinggi dengan kemampuan mampu mencipta, sebagai syarat utama keunggulan. Masa kekinian dapat kita lihat Korea di mana lebih 90% penduduknya berpendidikan Perguruan Tinggi. Pada masa silam, Cordova dan Toledo dapat dijadikan kaca banding sebagai gudang ilmu dan kemajuan. Kekuatan peran ilmu pada dua kondisi yang berbeda jauh itu, satu di barat (Eropah) dan satu di timur (Korea dan Jepang) dapat meracik bukti-bukti sejarah secara nyata.

Kekuatan budaya dalam masyarakat akan menyatukan semua potensi yang ada. Tidak dapat tidak, generasi muda berilmu harus menjadi aktor utama di pentas kesejagatan. Mereka mesti dibina dengan budaya kuat yang berintikan nilai-nilai dinamik” dan relevan dalam kemajuan di masa ini. Mesti memiliki budaya luhur (tamaddun), bertauhid, kreatif dan dinamik.

Pendidikan dengan Penguatan Nilai Budaya (tamaddun)

Masyarakat  maju yang tamaddun, adalah masyarakat berbudaya dan berakhlaq. Akhlaq adalah melaksanakan ajaran agama (Islam). Memerankan nilai-nilai tamaddun — agama dan adat budaya — di dalam tatanan kehidupan masyarakat, menjadi landasan kokoh meletakkan dasar pengkaderan (re-generasi).

Pengkaderan melalui strategi pendidikan mesti berasas akidah agama (Islam) yang jelas tujuannya. Membuat generasi dengan tasawwur (world view) yang integratik dan umatik, sifatnya bermanfaat untuk semua, terbuka dan transparan.

Generasi bangsa dapat berkembang dengan pendidikan akhlak, budi pekerti dan penguasaan ilmu pengetahuan. Akhlak karimah adalah tujuan sebenar dari proses pendidikan. Akhlak adalah wadah diri menerima ilmu-ilmu yang benar, membimbing umat ke arah amal karya, kreasi, inovasi, motivasi yang shaleh. Sesungguhnya akhlak adalah jiwa pendidikan, inti ajaran agama, buah dari keimanan.

Apabila sains dipisah dari aqidah syariah dan akhlak, akan lahirlah saintis tak bermoral agama, dengan ilmunya banyak, tetapi imannya tipis, dengan kepedulian di tengah bermasyarakat sangat sedikit. Ilmu tanpa agama lebih menjauhkan kesadaran tanggung jawab akan hak dan kewajiban asasi individu secara amanah, sebagai nilai puncak budaya Islami yang sahih.

Sikap penyayang dan adil, mengikat hubungan harmonis dengan lingkungan, ulayat, dan ekosistim, menjadi lebih indah dan sempurna. Sesuatu akan selalu indah selama benar. Budaya berakhlak mulia adalah wahana kebangkitan bangsa. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya. Memperkaya warisan budaya dengan aqidah tauhid, istiqamah pada syari’at agama Islam, akan menularkan ilmu pengetahuan yang segar, dengan tradisi luhur. [11]

Siapkan  Diri Menjadi Sumber Daya Berkualitas

Kita wajib membentuk sumber daya umat (SDU) yang berciri kebersamaan dengan nilai asas “gotong royong“, berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas. Beberapa model dapat dikembangkan di kalangan generasi masa depan. Antara lain, pemurnian wawasan fikir disertai kekuatan zikir, penajaman visi, melalui melalui gerakan pendidikan tinggi.

Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus di dalam membentuk SDM, maka di samping kurikulum ilmu terpadu dan holistik, perlu dirancang kualita murabbi yang sedari awal dibina terpadu, dengan metodologis berasas tamaddun yang holistik. Kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) berasas iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat.

Hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional. Maka, perlu domein ruhiyah itu dibangun dengan sungguh-sungguh.

Membangun Sahsiah Keperibadian

Generasi bangsa mesti hidup mempunyai sahsiah[12] (شخصية) yang baik. Sahsiah atau keperibadian terpuji melukiskan sifat yang mencakup gaya hidup, kepercayaan, kesadaran beragama dan harapan, nilai, motivasi, pemikiran, perasaan,  budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak, akan mampu menghadirkan kesan positif dalam masyarakat bangsa dan Negara.

Faktor kepribadian tetap diperlukan dalam proses pematangan perilaku yang mencerminkan watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seseorang.[13] Ciri kepribadian yang mesti ditanamkan merangkum sifat-sifat,

1.      Sifat Ruhaniah dan Akidah, mencakup ;

a.       keimanan yang kental kepada Allah yang Maha Sempurna,

b.      keyakinan mendalam terhadap hari akhirat, dan

c.       kepercayaan kepada seluruh asas keimanan (arkan al iman) yang lain.

2.      Sifat-Sifat Akhlak, tampak di dalam perilaku;

a.   Benar, jujur, menepati janji dan amanah.

b.  Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan,

c.   Tawadhu’, sabar, tabah dan cekatan,

d.  Lapang dada – hilm –, pemaaf dan toleransi.

e.   Bersikap ramah, pemurah, zuhud dan berani bertindak.

3.    Sifat Mental, Kejiwaan dan Jasmani, meliputi,

  3.1. Sikap Mental,

a.       Cerdas teori, amali, dan sosial, menguasai hal takhassus,

b.      Mencintai bidang  akliah yang sehat, fasih,  bijak penyampaian.

c.       Mengenali ciri, watak, kecenderungan masyarakat Nagari

3.2. Sifat Kejiwaan,

a.       emosi terkendali, optimis dalam hidup, harap kepada Allah,

b.      Percaya diri dan mempunyai kemauan yang kuat.

c.       Lemah lembut dan baik dalam pergaulan dengan masyarakat.

3.3. Sifat Fisik,

a.       sehat tubuh,

b.      berpembawaan menarik, bersih, rapi (kemas)

c.       penampilan watak menyejukkan.

Semua sikap utama itu dapat dibentuk melalui pendidikan, dan mengamalkan agama dengan benar, dan tidak menyimpang dari ruh syari’at. Maknanya, dengan pendidikan dan pelatihan-pelatihan, akan terbentuk kemampuan melakukan strukturisasi ruhaniyah dalam upaya membuat generasi yang bertanggung jawab.

Menetapkan Langkah ke Depan 

Pembinaan generasi muda yang akan mewarisi pimpinan berkualitas wajib mempunyai jati diri, padu dan lasak, integreted inovatif. Langkah yang dapat dilakukan adalah mengasaskan agama dan akhlak mulia sebagai dasar pembinaan. Langkah drastik berikutnya mencetak ilmuan beriman taqwa seiring dengan pembinaan minat dan wawasan untuk mewujudkan delapan tanggung jawab hidup;

1)     Tanggungjawab terhadap Allah, dengan iman kukuh, dan ibadah istiqamah.

2)     Tanggungjawab terhadap Diri, baik dari aspek fisik, emosional, mental maupun moral, dan mampu berkhidmat kepada Allah, masyarakat dan negara.

3)     Tanggungjawab terhadap Ilmu, menguasai ilmu mendalam dan menelusuri dimensi spiritualitas Islam dalam ilmu pengetahuan untuk tujuan kesejahteraan manusia.

4)     Tanggungjawab terhadap Profesi, yang selalu menjaga kepercayaan dan memelihara maruah diri dengan amanah.

5)     Tanggungjawab terhadap Nagari dan Daerah, menjaga keselamatan dengan ikhlas.

6)     Tangungjawab Terhadap Sejawat, menghindari tindakan yang mencemarkan, dan selalu menjaga kemajuan bersama karena Allah.

7)     Tanggungjawab terhadap Bangsa  dan Negara, menjaga kerukunan dalam berbangsa dabn bernegara dengan mengamalkan syari’at Allah.

8)     Tanggung jawab kepada Rumah Tangga dan Ibu Bapa, mewujudkan hubungan mesra dan kerjasama yang erat di antara institusi pendidikan dengan rumahtangga.

Generasi ke depan mesti menyatukan akidah, budaya dan bahasa bangsa, untuk dapat mewujudkan masyarakat maju, berteras keadilan sosial yang terang. Strategi pendidikan maju, dan berperadaban, menjadi satu nikmat yang wajib dipelihara, agar selalu bertambah.

Kesimpulannya ;

Ajaran tauhid mengajarkan, agar kita senantiasa menguatkan hati dengan iman dan taqwa, serta berperilaku dengan akhlak mulia. Ketahuilah, bahwa Allah selalu beserta orang yang beriman. Dengan bermodal keyakinan tauhid ini, generasi terpelajar mesti bangkit dengan pasti dan sikap yang positif.

a.         Menjadi sumber kekuatan dalam proses pembangunan

b.         Menggerakkan  integrasi aktif,

c.          Menjadi subjek dan penggerak pembangunan nagari dan daerahnya sendiri.[14]

Sebagai penutup, mari kita lihat perubahan di tengah arus globalisasi ini sebagai satu ujian, yang mendorong kita untuk selalu dapat berbuat lebih baik.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:     إِذَا َكثُرَتْ ذُنُوْبُ الْعَبْدِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ مَا يُكَفِّرُهَا مِنَ العَمَلِ ابْتَلاَهُ الله عَزَّ وَ جَلَّ بِالْحُزْنِ لِيُكَفِّرَهَا عَنْهُ (رواه أحمد)

Jika dosa manusia sudah terlalu banyak, sementara tidak ada lagi amal yang bisa menghapuskannya. Maka Allah SWT menguji mereka dengan berbagai kesedihan, supaya dosa-dosa mereka terhapus. (HR. Ahmad [24077]. [15]

Ketika bangsa ini sedang meniti cobaan demi cobaan, di tengah arus kesejagatan yang melanda, mari tanamkan keyakinan kuat, bahwa di balik itu semua, pasti ada tangan kekuasaan Allah SWT, yang sedang merancang sesuatu yang lebih baik untuk kita,  sesudahnya ……. , (inna ma’al ‘ushry yusraa).

Sebagai bangsa kita mesti sadar bahwa apapun yang terjadi di alam ini adalah atas kehendak dan izin Allah Yang Maha Kuasa. Maka sikap terbaik dalam menghadapi ujian demi ujian ini, adalah sabar pada terpaan awal kejadian dengan ridha.[16]

Mari kita tingkatkan kekuatan iman dan taqwa. Amalkan akhlak mulia sesuai adat istiadat bersendi syarak.  Jaga ibadah dengan teratur, dan menguatkan diri sambil berdoa ;

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الرِّضَى بَعْدَ القَضَى

“Duhai Allah, hamba mohon kepada-Mu sikap ridha dalam menerima ketentuan-Mu”

 

Semoga Allah memberi kekuatan memelihara amanah bangsa ini dan senantiasa mendapatkan redha-Nya. A m i n.


Catatan Akhir

[1]     Karatau madang di ulu, babuah babungo balun, marantaulah buyuang dahulu, dek di rumah paguno balun.” Dan pelajaran yang berisi, “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang kemudian”, telah mulai hilang, sehingga generasi sekarang tumbuh menjadi generasi instant yang malas. Satu kekayaan merantau, di bawah tahun 1970-an, umumnya generasi Minang merantau untuk menuntut ilmu dengan kerja sambilan berdagang, agar terbentuk peribadi mandiri yang tidak memberati orang lain. Sekarang, kondisi seperti itu, menurun tajam.

[2]     Pepatah Arab meyebutkan     لا تنه عن خلق وتأتي مثله عار عليك اذا فعلت عظيم     artinya,  Jangan lakukan perbuatan yang anda tegah, karena perbuatan demikian aibnya amatlah parah.

[3]    Lihat QS.3:145 dan 148, lihat juga QS.4:134, dan bandingkan QS.28:80.

[4]    Lihat QS.30:41

[5]     Melemahnya jati diri tersebab lupa kepada Allah atau hilangnya aqidah tauhid, lihat QS.9:67, lihat juga QS:59:19.

[6]     Lihat QS.9:122, supaya mendalami ilmu pengetahuan dan menyampaikan peringatan kepada umat supaya dapat menjaga diri (antisipatif).

[7]     Lihat QS.66:6 bandingkan dengan QS.5:105.          

[8]     Lihat QS.4:58, selanjutnya dasar equiti (keadilan) adalah bukti ketaqwaan (QS.5:8)

[9]     QS.3:139 menyiratkan optimisme besar untuk penguasaan masa depan. Masa depan – al akhirah – ditentukan oleh aktifitas amaliyah (QS.6:135) bandingkan dengan QS.11:93 dan QS.11:121, bahwa kemuliaan (darjah) sesuai dengan sumbangan hasil usaha.

[10]   Lihat QS.9:105, amaliyah khairiyah akan menjadi bukti ditengah kehidupan manusia (dunia).      

[11]   Lihat QS.4:9, mengingatkan penanaman budaya taqwa dan perkataan (perbuatan) benar.

[12] Syakhshiyah didifinisikan sebagai organisasi dinamik sesuatu sistem psyikofisikal di dalam diri seorang yang menentukan tingkah laku dan fikirannya yang khusus.  Sistem psyikofisikal merangkum segala unsur-unsur psikologi seperti tabiat, sikap, nilai, kepercayaan dan emosi, bersama dengan unsur-unsur fisikal seperti bentuk tubuh, saraf, kelenjar, wajah dan gerak gerik seseorang (G.W Allport, dalam ”Pattern and Growth in Personality”, lihat juga, Mok Soon Sang, 1994:1).

[13]    Syakhshiyah mempunyai tiga ciri keunikan dengan arti kebolehan  atau kemampuan untuk berubah dan di ubah; sebagai hasil pembelajaran atau pengalaman dan organisasi. Maka syakhshiyah bukan  sekadar himpunan tingkahlaku, tetapi melibatkan corak tindakan dan operasi yang bersifat konsisten.

[14]  wa man yattaqillaha yaj’allahuu makhrajan”(QS.65:2-3) Lihat pula QS.3:160, dan QS.47:7.

[15]  Berkata Imam al-Mundziri, rawi-rawinya terpercaya, lihat Kanzul Ummal Imam al-Hindi, nomor: 6787, Faidhul Qadir Imam al-Manawi nomor hadits: 838)

[16] Dalam riwayat Imam Ahmad dilaporkan, bahwa ridha terhadap qadha’, tawakkal setelah berusaha, syukur menghadapi nikmat, dan sabar atas bala’ (mushibah) adalah tuntunan para Nabi (Syara’a man qablana) yang tetap dipelihara oleh Islam dan selalu ditekankan oleh Rasulullah SAW dalam setiap tindakan keseharian.

 

 

 

 

 

 

                                                 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto Buya

 

 

 

 

Categories: Adat Basandi Syarak, Buya Masoed Abidin, Education, Ekonomi anak nagari, Komentar, Komentar Buya, Masyarakat Adat, Minangkabau, Surau, Tulisan Buya | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: