KEJUJURAN, Modal Utama dalam Membina Ummat

Hikmah Jum’at ;
عَليَْكم بالصِّدْقِ فَإنَّ الصِّدْقَ يَهْدى إِلى البِرِّ،
وَ البِرُّ يَهْدى إلى الجَنَّةِ،
وما يَزَال الرَّجُلُ يَصْدِقُ و يَسْحَرَّى الصِّدْقَ حَتى يُكْتَبُ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا

و إِيَّاكُمْ و الكَذِبَ فإنَّ الكَذِبَ يَهْدِى إلى الفُجُوْرِ و إنَّ الفُجُوْر يَهْدِى إلى النَّارِ
وَمَا يَزَالُ العَبْدُ يَكْذِبُ وَ يَسْحَرُّ الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ الكَذَّابًا

“ Hendaklah kamu semua bersikap jujur,
karena kejujuran membawa kepada kebaikan,
dan kebaikan membawa ke sorga.
Seorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran
akan ditulis (dicatat) oleh Allah sebagai orang yang jujur (shidiq).

Dan jauhilah sifat bohong, karena kebohongan membawa kepada kejahatan,
dan kejahan membawa ke neraka.
Orang yang selalu berbohong dan mencari-cari kebohongan,
akan ditulis (dicatat) oleh Allah sebagai pembohong (kadzdzab).
(H.R. Bukhari)

Salah satu dari moral utama seorang manusia adalah kejujuran.
Kejujuran adalah dasar (fundament, asas, sendi) dalam pembinaan umat
dan modal utama menciptakan kebahagiaan di tengah masyarakat.

Kejujuran menyangkut segala urusan kehidupan dan kepentingan orang banyak.
Kepada semua manusia Allah SWT telah memerintahkan
agar selalu mempunyai perilaku dan sifat jujur ini.

Rasulullah SAW adalah contoh terbaik.
Rasulullah adalah seorang yang memiliki pribadi utama dalam hal kejujuran.
Kejujuran adalah akhlak utama para nabi dan rasul.
Demikian pula akhlak para generasi pertama dan utama umat ini,
mereka senantiasa berpegang teguh kepada kebenaran
dan kejujuran dalam segala aspek kehidupan.
Tidak hanya dalam urusan kemasyarakatan, dan bernegara,
tetapi juga di dalam kehidupan keluarga dan rumah tangga,
termasuk pergaulan dengan anak-anak cucu dan kerabat mereka.

Abu Hurairah r.a meriwayatkan sebuah hadits Rasulullah SAW.
Beliau bersabda:
“Barangsiapa yang berkata kepada seorang anak,
“Mari nak, ambillah kurma ini”,
lalu dia tidak memberikannya,
maka ia telah mendustainya.”
(HR. Ahmad)

Hadist ini melihatkan kepada kita,
betapa sebuah janji yang telah dijanjikan,
manakala dibelokkan atau tidak dilaksanakan,
sesungguhnya kejujuran itu telah rusak,
bahkan punah dan melahirkan bencana atau kemelut.

Dengan tuntunan seperti itu,
Rasulullah SAW hendak memberi pelajaran
kepada para orang tua dan para pendidik,
supaya mereka menanamkan sifat utama ini
kepada anak-anaknya semenjak kecil.
Sehingga ketika mereka menjadi dewasa
mereka tetap memiliki watak dan kebiasaan ini.

Melalui cara ini diharapkan kelak
akan lahir generasi Islam yang utama,
yang akan memberikan kebahagiaan hidup
dan membangkitkan kesadaran berbangsa.

Islam menaruh perhatian serius terhadap moral terpuji ini.
Islam selalu mengajak dan mendorong manusia agar memiliki watak ini,

Sebaliknya Islam tidak menyukai
dan bahkan memperingatkan manusia agar menjauhi dusta
menjauhi ketidak jujuran.
Dusta adalah merupakan salah satu perangai yang bernilai rendah dan tercela.
Dusta, menjadikan hukum-hukum rusak binasa,
Dusta, menjadikan kehormatan terinjak-injak
dan dusta pula yang menyebabkan berbagai kejahatan merajalela.

Berita bohong sering mengakibatkan
terputusnya hubungan persaudaraan
menimbulkan konflik yang tidak menguntungkan
dalam hubungan sesama manusia.

Isu atau berita bohong tidak sedikit yang telah membuat
seseorang kehilangan harga dirinya.

Satu di antara bukti bahwa agama Islam sangat mencela dusta adalah
bahwa Islam sangat mencela saksi palsu
yang dapat mengakibatkan hukum dapat diperjual belikan.

Menurut ajaran Islam,
saksi palsu adalah salah satu bagian dari kesalahan sangat besar,
berakibat sangat fatal dan termasuk dosa besar.

Kesaksian dusta sering diperbuat seseorang karena beberapa sebab.
Antara lain karena hubungan yang tidak baik,
atau karena terlalu membenci seseorang (lawan ataupun bekas kawan),
atau karena takut kepada atasan,
atau karena ada udang di balik batu.

Demi menegakkan kebenaran dan kedamaian di muka bumi ini,
Tuhan memerintahkan kepada kita menjadi saksi yang jujur dan adil,
dan mengutamakan penegakan kebenaran.

Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman,
jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan,
menjadi saksi karena Allah
biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapakmu dan kaum kerabatmu.
Jika ia kaya ataupun miskin,
maka Allah lebih tahu kemaslahatannya.
Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu
karena ingin menyimpang dari kebenaran,
dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata)
atau enggan menjadi saksi,
maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui
akan segala apa yang kamu kerjakan.”
(Q.S. An Nisaa’: 135)

Menjadi orang yang jujur merupakan pilihan yang sungguh berat sekali
di tengah arus budaya yang penuh dengan kepalsuan,
penuh kedustaan, kemunafikan dan ketidak-jujuran,
di mana sangat sulit mencari orang yang dapat dipegang kata dan janjinya.

Kejujuran tidak hanya mencerminkan integritas kepribadian seseorang,
tetapi juga menjadi pesona bagi sesama
dan menjadi penyebab datangnya ketenangangan bagi pelakunya.

Dalam hadits-hadits Rasulullah SAW,
kita akan mendapatkan petuah
tentang betapa berartinya makna sebuah kejujuran.

Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk meninggalkan apa yang kita ragukan
dan menganjurkan untuk mengerjakan apa yang kita yakini.

Kejujuran akan menimbulkan ketenangan jiwa
sedangkan dusta selalu saja membuat jiwa pelakunya bimbang dan goncang.

Maka tidak aneh,
bila sering dijumpai orang yang memiliki harta benda,
kekayaan berlimpah
namun ia tidak pernah menemui kebahagiaan dan ketenangan jiwa,
karena,
mungkin sekali harta benda yang melimpah ruah itu
dihasilkan dari jalan yang tidak benar atau dari hasil ketidak-jujuran.

Sikap dusta (bohong) sangat berbahaya.
Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya Muhammad SAW
mengingatkan kita para hamba dan umatnya
untuk senantiasa memelihara dan menjaga sifat yang mulia ini,
yakni sifat kejujuran atau shiddiq.

Tidak ada makna kehidupan, jika tidak dihiasi dengan kejujuran.
Tidak berfaedah harta berlimpah,
jika semua harta itu tidak berasal dari tetesan keringat kejujuran.
Maka, tanamkanlah kejujuran dalam diri kita,
karena kejujuran adalah salah satu pondasi utama dalam membangun bangsa.

Betapapun besarnya sebuah bangsa,
jika kejujuran di tangan pemimpin dan di tengah rakyatnya telah sirna,
maka hancurlah bangsa itu.

Wabillahit taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa barakatuh,
Buya H. Masoed Abidin

Categories: Amar Makruf Nahi Munkar, Buya Masoed Abidin, dakwah ilaa Allah, Komentar Buya, Minangkabau, Surau, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: