Hijrah spiritual kedua adalah hijrah kepada Rasulullah SAW.

Hijrah Spritual

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

“Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dan Allah untukmu.”  (Q.S. Adz Zariyat : 50)

Menurut Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Hijrah ada dua macam: Hijrah fisik, yakni hijrah dan sebuah negeri ke negeri lain dan Hijrah spiritual, yakni hijrahnya hati manusia kepada Allah dan Rasul-Nya.

Hijrah spiritual yang dimaksud dengan perjalanan kembalinya seorang hamba dengan penuh ketataan (itha’ah) kepada Allah dan rasul-Nya adalah sebuah penjalanan yang harus ditempuh oleh setiap hamba. Karena hanya dengan kembali kepada Allah dan rasul-Nya ia terjamin dan azab yang mengancamnya. Disamping hijrah inilah yang dituntut dan diinginkan oleh Sang Pencipta dan hamba-hamba-Nya.

Hijrah spiritual pertama; Hijrah ‘dar’ dan ‘menuju’ Allah SWT (Firaarminallah wa firaar ilallah)

Ada dua unsur yang terkandung di dalam hijrah; ‘dari’ (permulaan) dan ‘menuju’ (tujuan). Yang dimaksud firaar minallah adalah suatu keyakinan bahwa segala sesuatu berawal dan berasal dar dan atas kehendak Allah yang Maha Esa. dan mengimani bahwa segala taqdir berasal dar Allah. Sebab segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah pasti akan terjadi. Dan segala sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Allah, maa tidak akan pemah terjadi. Inilah yang dikatakan hijrah dan Allah menuju Allah. Di dalam hijrah ini tendapat unsur tauhid Rubuhiyy’ah.

Bentuk hijrah firaar minallah ini dapat kita tauladani dar kehidupan Rasulullah SAW, diantaranya ialah yang dapat kita temukan dalam do’a-do’a beliau.

Diantara do’a-do’a beliau adalah:Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasai, dan Ibnu Majah, dan Saiydah ‘Aisyah r.a bahwa Rasulullah SAW pernah bendo’a di waktu sedang sujud: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan dengan ridha-Mu dari murka-Mu, (aku berlindung kepada-Mu) dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu, dan aku memohon penlindungan dengan-Mu dari-Mu. Aku tidak menghitung jumlah pujian yang aku sampaikan kepada-Mu sebagaimana Engkau memuji Dzat-Mu sendiri”

Diriwayatkan dan Al Barra’ ibn ‘Azib, dia berkata Rasulullah SAW bersabda: “Jika kamu menghampiri tempat pembaringanmu. maka berwudhu’lah (terlebih dahulu) sebagaimana kamu berwudhu’ untuk shalat. Setelah itu berbaringlah kamu di atas sisi tubuh yang sebelah kanan. Ke-mudian berdo’a: “Ya Allah, sesungguhnya aku telah menye-rahkan jiwaku kepada-Mu, menghadapkan wajahku kepada-Mu, menggantungkan urusanku kepada­Mu dan mengem-balikan diriku kepada-Mu. Tidak ada tempat kembali dan tempat menyelamatkan diri dari-Mu kecuali kepada-Mu.“(HR. Bukhari)

Sesungguhnya firaar ilallah lah adalah mengandung pengertian bahwa seseorang hanya mengesakan Allah ketika mencari sesuatu dan ketika mengerjakan sesuatu sehiggga semua yang ia lakukan mempunyai nilai ketaatan dan ibadah kepada Allah.

Oleh karena itu hendaklah seseorang berhijrah dan mahabbah (kecintaan) kepada selain Allah menuju mahabbah kepada Allah SWT. Hendaklah seseorang hijrah dar penghambaan terhadap selain Allah menuju penghambaan kepada Allah. Hendaklah seseorang hijrah dan khauf (merasa takut), raja’ (mengharap) dan tawakkal (berserah diri) kepada selain Allah menuju hijrah merasa takut, mengharnap dan berserah diri kepada Allah semata. Hendaklah seseorang hijrah dan berdo’a, meminta, tunduk, dan merendah kepada selain Allah menuju hijrah untuk berdo’a, meminta, tunduk dan merendah hanya kepada Allah t’ala. Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan firaar ilallah (hijrah kepada Allah), sebagaimana firman Allah dalam surat Adz-Dzaariyat ayat 50. Dan di dalam firaar ilaallah ini terkandung unsur tauhid ilahiyyah.

Sesungguhnya hijrah kepada Allah mengandung dua pengertian: Pertama, hijrah dan sesuatu yang tidak disenangi oleh Allah. Kedua, mendatangi sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh-Nya. Sedangkan pangkal dar dua pengertian hijrah pada Allah dimaksud adalah rasa cinta dan benci; cinta untuk mengerjakan sesuatu yang diridhai Allah dan benci terhadap sesuatu yang dilarang Allah.

Orang yang hijrah dari sesuatu menuju sesuatu harus lebih mencintai sesuatu yang akan dia tuju dari pada yang akan dia tinggalkan. Oleh karena itu seseorang wajib untuk berhijrah kepada Tuhannya setiap saat hingga ajal menjemputnya. Disinilah diperlukannya sikap istiqamah.

“Amal ibadah yang paling dicintai Allah adalah yang selalu kontinu (terus ­menerus dilakukan) meskipun sedikit“(H.R. Saiydah ‘Aisyah)

Mengenang peristiwa Hijrah dalam rangka menyambut Tahun Baru Hijriyah 1432

Hijrah kepada Rasulullah SAW adalah ketaatan dalam melaksanakan sunnah Rasulullah SAW yang diwu-judkan dalam kehidupan sehari-hari, mencontoh keteladanan akhlaq beliau yang mulia, sehingga kita merasakan seakan kita hidup bersama dan dengan Rasulullah SAW. Salah satu corak kepribadian dan gaya kehidupan beliau yang harus kita contoh adalah sebagaimana yang kita dapati dalam ungkapan penuh hikmah Syeikh Ja’far Al Barzanjy dalam buku monumentalnya Al-Barzarjie;

“Nabi SAW adalah seorang yang sangat pemalu dan tawadhu’, mau memperbaiki sandalnya, menambal dan menjahit pakaiannya, memeras susu kambingnya serta melayani keluarganya dengan cara yang baik. Beliau suka kepada orang-orang fakir dan miskin, suka duduk-duduk bersama mereka, sering mengunjungi mereka yang sakit serta mengantar jenazah mereka. Beliau sama sekali tidak mau meremehkan orang fakir yang sangat menderita dan dikecam kefakiran. Beliau duduk gentar menghadapi pura raja, beliau marah karena Allah dan ridha semata-mata karena ridha Allah. Beliau pernah menyelipkan batu di perutnya untuk mengurangi rasa lapar, meskipun beliau telah dianugerahi segala kunci kekayaan bumi. Beliau senantiasa mempersedikit perkataan yang tidak bermanfaat dan selalu memulai mengucapkan salam jika bertemu dengan seseorang. Beliau suka bergaul dengan orang-orang yang berbudi mulia dan memuliakan orang-orang yang terhormat. Beliau suka bergurau (‘bercanda,) tetapi tidak mengatakan sesuatu kecuahiperkataan yang benar yang disukaiAllah Ta ‘ala dan yang diridhai-Nya.

 

Wassalam

Buya H. Mas’oed Abidin

Categories: ABS-SBK, Amar Makruf Nahi Munkar, Buya Masoed Abidin, Education, Hijrah, Komentar, Komentar Buya, Pendidikan, Surau, Tauhid | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: