Iqra’ (Perintah Pertama Kepada Nabi saw.)

Oleh Buya H. Mas’oed Abidin

 

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَق َ(1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَق ٍ(2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ(3)الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ(5)

‘Iqra’ (bacalah) denqan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Iqra’ (bacalah), dan Tuhanmu lah yang Paling Pemurah, sang Mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia Mengajarkan kepada manusia apa sang tidak diketahuinya. (Q. Al ‘Alaq: 1-5)

Di saat usia Rasulullah SAW. hampir mencapai empat puluh tahun, beliau menyaksikan kondisi masyarakatnya yang sangat memprihatinkan. Hidup dalam kejahiliyahan dan kemusyrikan. Dalam kondisi seperti itu Rasulullah mengambil keputusan -dengan petunjuk ilham ilahi- untuk membentang jarak dan kehidupan ramai. Beliau memilih suatu gua yang tidak terlalu besar, yang panjangnya empat hasta dan lebarnya antara tiga perempat hingga satu hasta. dan yang jaraknya kira-kira dua mu dari Makkah, yaitu gua Hira di Jahal Nur.

Pilihan Rasulullah untuk mengasingkan diri ini termasuk satu sisi dan ketentuan Allah atas diri beliau sebagai langkah persiapan untuk menerima urusan besar Yang sedang ditunggunya. Ruh manusia manapun yang realitas kehidupamwa akan disusupi suatu pengaruh dan dibawa ke arah lain. maka ruh itu harus dibuat kosong dan dengan mengasingkan diri untuk beberapa saat. dipisahkan dan herbagai kesibukan duniawi dan gejolak kehidupan serta kebisingan manusia yang membuatnya sibuk pada urusan kehidupan.

Di gua Hira inilah wahyu Allah SWT pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, yaitu firman Allah yang diawali dengan perintah untuk membaca (iqra’ bacalah).

Fi’l amar (kalimat perintah) iqra bacalah dalam firman Allah di atas. tidak dijelaskan obyek (maf ‘ul bih) nya. Hal ini dalam tinjauan ilmu Nahwu berarti bahwa perintah tersebut tidak ditujukan pada obyek tertentu. akan tetapi memiliki makna yang bersifat umum. Sedangkan menurut ilmu balaghah. kalimat perintah ini tidak bersifat mutlaq. tetapi mu qayyat (bersyarat). Maksudnya bahwa perintah iqra (membaca) pada konteks ayat bukanlah membaca yang bebas nilai, tetapi harus ber bismirab alladzi khalaq (dengan nama Tuhan yang Maha Menciptakan). Inilah yang membedakan antara membaca yang bernilai ibadah dengan membaca yang penuh kesia-siaan.

Makna iqra’ ditafsirkan dengan bermacam ragam makna oleh para mufassirin (ulama tafsir). Dalam buku I Panduan Berislam. paket Marifàt (DDP HIDAYATULLAH) disebutkan pendapat Buya H. Abdul Malik Ahmad yang menafsirkan perintah iqra ‘sebagai berikut. Bahwa perintah iqra (bacalah) menghendaki perpindahan dan pasif menjadi aktif dan diam kepada bergerak. yaitu; “Bacalah yang tertulis, sehingga pengetahuan dan keahlian bertambah. Bacalah yang didiktekan, diajarkan oleh utusan Tuhan. Sampai kamu sendiri mengerti dan yang mendengar memahami. Bacalah yang termaktub dalam rahasia alam yang beraneka warna, agar kamu jadi sadar dan mendapat sinar iman.”

Jadi membaca itu ada proses timbal balik antara individu secara total dengan informasi simbolik yang dibaca. Artinya. seseorang yang membaca akan memperoleh ilmu. Membaca Al-Qur’an berarti menimba ilmu dani Al Qur’an. Membaca alam berarti menggali pengetahuan dan alam. Jadi, membaca tidak sekedar melihat atau mengeja bacaan tanpa mengetahui arti.

Dan bendasarkan beberapa pendapat dan para ulama tafsir tentang makna perintah iqra’ dapatlah disimpulkan bahwa. makna perintah iqra’ (membaca) tersebut mengandung beberapa pengertian; Pertama, bacalah ayat-ayat Allah sebagai kalamullah yang termaktub dalam Al Qur’anul Karim (al Aayaat al Qauliyyah). Kedua,      bacalah ayat-ayat Allah yang tercipta dan terbentang di alam semesta (al  Aayaat al Kauniyah).

Dalam Al Qur’an terdapat ratusan ayat yang meme-rintahkan manusia agar melihat. memperhatikan. memikirkan. merenungkan dan perintah-perintah yang semakna dan in-heren dengan perintah “membaca”. Dan demi terlaksananya perintah ini, maka Allah membekali manusia dengan beberapa instrumen. yang menjadi alat bagi mereka utuk memperoleh pengetahuan. Instrumen tersebut antara lain:

Pancaindra, fungsi pancaindra manusia yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba menempati posisi yang sangat penting bagi manusia dan sangat berguna untuk menangkap pesan tentang benda-benda dan keadaan yang ada dilingkungan sekelilingnya.

Akal, akal yang dimaksud di sini adalah akal yang berfungsi pada tataran rasionalitas. Akal memiliki kemampuan untuk mengumpulkan data, menganalisa, mengolah dan membuat kesimpulan dari yang telah tertangkap dan diinformasikan oleh pancaindra.

Intuisi atau ilham, intuisi atau ilham didapat tanpa melalui proses penalaran tertentu. Tidak semua orang bisa mendapatkan kemampuan intuitif dan ilham. Pada umumnya yang memperolehnya adalah orang-orang yang melakukan musyahadah melalui kontemplasi (perenungan), ibadah dan taqarrub (inendekatkan diri kenada Allah SWT.

Wahyu, kemampuan yang dimiliki manusia sangatlah terbatas. Hal Yang bersifat fisik saja masih banyak yang menjadi misteri bagi manusia, apatah yang bersifat non-fisik dan irrasional (tak dapat dicapai oleh akal).

Wahyu membimbing manusia, agar tidak tertipu oleh indra dan akalnya yang terbatas itu. Wahyu memberikan kepastian akar akal manusia tidak berkelana tanpa arab yang menjadikannya tersesat dan kebenaran yang sesungguhnya. Wahyu adalah pengetahuan dan kebenaran tertinggi. karena ia datang dan Dzat Yang Maha Tinggi. Yang Maha Tahu segala rahasia alam semesta ini. Wahyu Allah adalah kebenaran yang bersifat mutlaq.

Catatan akhir. seiring dengan berkembangnya budaya dan peradaban manusia yang diistilahkan banyak orang dan para ahli dengan zaman modern dan era globalisasi, situasi dan kondisi masyarakat pun mengalami perubahan yang sangat drastis. Tuntutan hidup dalam segala aspek kehidupan harus mereka hadapi. Sehingga keperluan manusia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi tak terelakkan lagi. Sebagai salah satu sarana yang dapat mengantarkan mereka pada pengetahuan dan penguasaan IPTEK- yang telah terlanjur menjadi prasyarat imperatif bagi perkembangan zaman dan bagi inovasi peradaban semua ras manusia- adalah dengan belajar. Allahu a ‘lam bishawab.

Categories: Buya Masoed Abidin, Dakwah Komprehensif, HAM, Hijrah | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: