Kesalehan yang Kaffah

Oleh Buya H. Mas’oed Abidin


إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (Q.S. Al Bayyinah: 7)

Dalam Al Qur’an sering kita dapati kata iman yang senantiasa dengan kata amal shaleh. Penggandaan kedua kata ini bukan tidak memiliki makna yang berarti, bahkan sebaliknya mengandung pengertian yang amat dalam.

Keimanan tidak pernah terpisah dari prilaku amal shaleh. Orang-orang yang benar-benar beriman akan selalu mengaplikasikan keimanannya dengan mengerjakan amal shaleh. Lebih lanjut Rasulullah dalam beberapa hadisnya menerangkan prilaku orang-orang yang beriman, di antaranya

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menghormati tamunya”. (H.R. Muslim)

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia tidak menyakiti tetangganya (HR. Bukhari & Muslim)

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik-baik atau diam (HR. Bukhari & Muslim)

Ketiga hadis di atas seolah mengindikasikan bahwa tanpa amal shaleh, iman seseorang belumlah sempurna. Sebab iman tidak hanya berucap dengan lisan, dan teryakini dalam hati, tapi lebih dari itu harus pula diaplikasikan dalam perbuatan amal shaleh.

Hubungan antara iman dan amal shaleh ini tampak jelas dalam firman Allah SWT -surat Al Baqarah ayat 2 & 3-, bahwa orang yang bertaqwa adalah mereka yang beriman kepada Yang Ghaib (Allah), mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Allah berikan kepada mereka. Pada ayat ini, perbuatan amal shaleh seperti shalat: shalat yang merupakan amal shaleh terhadap Allah dan menafkahkan harta yang merupakan amal shaleh terhadap sesama manusia, terlaksana setelah seseorang beriman kepada Yang Ghaib (Allah). Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa iman yang benar adalah yang senantiasa diiringi dengan perbuatan amal shaleh.

Adapun orang yang mengerjakan amal shaleh dinamakan orang yang shaleh. Sementara prilaku amal shaleh tersebut kita kenal dengan istilah keshalehan. Istilah keshalehan pada akhir-akhir ini telah berkembang secara dikotomis. Ada yang mengistilahkannya dengan keshalehan ritual, dan ada pula yang mengistilahkannya dengan keshalehan sosial. Jadi di dalam Islam seolah­-olah memang ada dua macam bentuk keshalehan.

Keshalehan ritual mereka identikkan dengan prilaku amal shaleh yang berhubungan dengan ibadah mahdhah, yakni ibadah yang semata-mata langsung berhubungan dengan Allah (hablun minallah), seperti shalat, puasa dan haji. Adapun istilah keshalehan sosial identik dengan prilaku seseorang yang mengerjakan amal shaleh yang berhubungan dengan mu‘amalah terhadap sesama manusia (hablun minannas), seperti kepedulian sosial, menyantuni anak yatim dan fakir miskin, suka menolong. mengayomi masyarakat dan sebagainya.

Padahal dalam Al Qur’an -Al Baqarah 2 & 3- sebagaimana yang diuraikan di atas, bahwasanya Allah SWT tidak membeda-bedakan perbuatan amal shaleh dalam prioritas tertentu. baik amal shaleh dalam kaitannya dengan hablun minallah ataupun amal shaleh dalam kaitannya dengan hablun minannas. Karena amal shaleh yang sebenarnya adalah keseimbangan antara keduanya.

Munculnya dikotomi dalam istilah keshalehan ini memang bermula dari fenomena kehidupan keberagamaan kaum muslimin sendiri. Di mana sering dijumpai sekelompok orang yang tekun beribadah, hidup da]am kezuhudan, bahkan ada yang berkali-kali menunaikan ibadah haji, namun kurang peduli akan keadaan dan nasib masyarakat dan saudara-saudaranya yang ada di sekelilingnya. Hatinya tidak tergerak untuk membantu saudara-saudaranya yang lemah (dhu ‘afa’), tertindas. Tidak turut serta menegakkan amar ma’ruf-nahi munkar, seolah-olah ibadah yang ia kerjakan yang penting untuk dan demi dirinya sendiri. Dan seolah-olah Islam hanya mengajarkan umatnya untuk bermu ‘amalah kepada Allah belaka.

Sebaliknya. sering juga dijumpai di antara kaum muslimin yang memiliki kepedulian terhadap masalah-masalah umat, memperhatikan hak-hak sesamanya, senantiasa berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan lslami, namun terkesan mengabaikan ibadah mahdhah (ritual) nya.

Di lain hal terkadang tidak jarang pula kita lihat ketidak harmonisan sikap dan hubungan antara kedua kelompok di atas, di mana masing-masing bersikap sinis satu sama lain. Masing-masing mengklaim bahwa amal shaleh yang mereka lakukanlah yang lebih utama.

Dalam hal ini. Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah dalam bukunya I’dad al Shabirin wa dzakirat al Syakirin, mengingatkan agar supaya suatu kelompok janganlah terlalu bangga dengan ibadah dan amal shaleh yang mereka kerjakan, serta menyatakan bahwa merekalah yang paling utama dalam menjalankan sunnah Nabi ketimbang kelompok lain. Kata beliau selanjutnya.

“Jika para mujahid dan orang~orang yang terjun ke medan perang berhujjah bahwa merekalah kelompok ‘yang paling utama, maka kelompok orang-orang yang berilmu juga berhak untuk berhujjah seperti itu. Jika orang-orang yang berzuhud dan meninggalkan keduniawian berhujjah bahwa inilah kelebihan Rasul yang mereka teladani. maka orang-orang yang aktif menekuni keduniaan, mengurusi masyarakat, pemerintahan, memimpin rakyat, melaksanakan perintah-Nya dalam menegakkan agama-Nya juga berhak untuk berhujjah. Jika orang miskin yang sabar berhujjah bahwa mereka mengikuti sifat mulia Nabi, maka orang kaya yang bersyukur juga berhak untuk berhujjah seperti itu…”

Sehingga Ibnu Qayyim berkata. “Yang paling berhak atas diri Rasulullah dalam meneladaninya adalah orang yang paling mengetahui sunnah beliau dan kemudian mengamalkannya”.

Dari ungkapan Ibnu Qayyim di atas tersirat sebuah pengertian bahwa ibadah dan amal shaleh bukan sekedar mu‘amalah ma‘allah semata, atau sebaliknya mu’amalah ma‘annas saja. Melainkan merupakan mu‘amalah yang kaaffah (totalitas), baik terhadap Allah maupun sesama makhluk. Sehingga keshalehan dalam Islam haruslah komplit, meliputi kedua aspek keshalehan tersebut. yakni keshalehan ritual (Hablun Minallah) dan keshalehan sosial (Hablun Minannas).

Gambaran komplit tentang keshalehan yang kaaffah ini dapat dilihat dari ibadah shalat yang dapat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan munkar.

Begitu pula ibadah puasa yang mendidik seseorang untuk bersikap toleran dan peduili terhadap kesusahan orang lain. Kedua contoh ibadah tersebut -sholat dan puasa- mengandung dua aspek keshalehan sekaligus, baik aspek ritual maupun sosial.

Keshalehan yang kaaffah ibarat air yang bersih dan suci, yang di dalam istilah fiqih adalah air yang “Thaahirun linafsihi wa muthahhirun lighairihi” (Suci bagi dzatnya sendiri dan mensucikan bagi yang lainnnya). Air ini tidak hanya hersih. tapi juga dapat digunakan untuk berthaharah (bersuci) seperti wudlu misalnya. Dan tidak semua air bersih dapat digunakan untuk berthaharah, seperti air kelapa, air teh dan sebagainya.

Untuk itu selayaknyalah setiap muslim meraih predikat keshalehan yang kaffah ini, sehingga ia tidak hanya shaleh secara ritual, dalam artian taat beribadah kepada Allah. Namun ia juga shaleh secara sosial, dalam artian senantiasa beramal shaleh terhadap sesamanya. Sehingga ia mampu menciptakan kemaslahatan bagi sesama. Ia disamping mampu menasehati dirinya sendiri, juga mampu menasehati orang lain. Namun jangan sampai hanya rnampu menasehati orang lain, tetapi tidak mampu menasehati diri sendiri.

­Allah SWT berfirman: “Mereka diliputi kehinaan di mana saja rnereka berada, kecuali jiika mereka berpegang kepada tali (agarna) Allah (Hablun Minallah) dan tali (perjanjian) dengan manusia (Hablun Minannas)…” (Q.S. Ali Imran: 112)

Shadaqallah …Allahu A’lam

Categories: Buya Masoed Abidin, dakwah ilaa Allah, HAM, Hijrah, Pendidikan, Surau, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: