Memulai Hidup dengan Langkah Baru

Oleh : Buya H. Mas’oed Abidin

“Bila enqkau berpulang ke alam baqa’ tanpa membawa bekal taqwa, sedang engkau melihat orang-orang lain membawanya pada hari penghimpunan,  pastilah engkau menyesal karena tidak seperti mereka. Mereka pulang  mempunyai persiapan sedang engkau tidak memiliki apapun ”. (Imam Ibnu Qayyim of Jauziyah dalam kitabnya Al Fawaid)

Al Hitami, pujangga sufi kelahiran Spanyol mengungkapkan dengan puitis bahwa, “Hidup itu ibarat tidur, sedang mati seolah bangun berbaur.” Pernyataan Al Hitami berisi wasiat, bahwa apapun yang sedang kita peroleh dalam hidup ini tak boleh disikapi dengan sombong atau lupa daratan dengan akibat meninggalkan kerabat dan sahabat.

Sebaiknya, bila sedang dirundung malang, mesti bersabar dengan tetap harus berusaha dan tidak boleh berputus asa. Sebenarnya rotasi kehidupan itu ibarat perputaran roda. Ketika sedang berada dibagian atas jangan merasa lebih, dan pula ketika berada di bawah jangan terlalu bersedih hati.

Menurut  akidah Islamiyah, hidup yang kini dijalani bukan hidup paripurna. Masih akan ditempuh sesi berikutnya. Yakni hidup sesudah mati. Satu kehidupan kekal abadi. Di akhirat kelak. Firman Allah SWT: “Mengapa kamu sekalian ingkar kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan­Nya kembali, kemudian kepada-Nya lah kamu dikembalikan”. (Q.S. Al-Baqarah: 28)

Semua yakin bahwa mati itu pasti akan datang. Cepat atau lambat. Tidak membedakan status sosial, ekonomi ataupun usia. Telah banyak orang kaya dihampiri malaikat Izrail. Tidak sedikit yang masih muda belia tiba-tiba meninggal. Kematian akan mendatangi segala umur dan semua lapisan di semua tempat. Firman Allah SWT: “Dimana saja kamu berada, kematian pasti akan menjumpai kamu, kendatipun kamu berada di benteng yang tinggi dan kokoh”. (Q.S An-Nisa’:78)

Seorang muslimin tidak seharusnya takut akan kematian. Kematian adalah awal dari sebuah kebahagiaan yang telah dijanjikan oleh Allah  bagi yang benar beriman dan banyak melakukan kebajikan. Walaupun bagi yang ingkar dan tidak memiliki bekal kebajikan, mati sangat ditakuti, karena selain harus bercerai dengan istri, berpisah dengan keluarga, dan melepaskan semua harta, berarti pula mereka mula merasakan penderitaan akibat siksaan yang berkepanjangan. Na ‘uzubillah.

Mari kita perhatikan tuntunan Rasulullah SAW berikut ini: “Pergunakanlah lima masa sebelum datang lima masa: pergunakanlah masa sehatmu sebelum datang sakitmu, pergunakanlah masa senggangmu sebelum datang masa sibukmu, pergunakanlah masa mudamu sebelum datang masa tuamu, pergunakanlah masa kayamu, sebelum datang masa kefakiranmu dan pergunakanlah masa hidupmu sebelum datang saat kematianmu”. (HR. Al Baihaqi)

Mulailah hidup dengan langkah yang baru, dengan energi dan semangat yang baru. Tinggalkan masa lalu yang kurang bermanfaat. Teruslah berjalan dengan menelusuri lorong-lorong kehidupan yang menuju ke kampung akhirat.

Umur yang dianugerahkan Allah hendaknya dimanfaatkan dengan baik dengan beramal dan beribadah. Manusia dijadikan untuk mengabdi kepada Allah SWT. Pergunakanlah waktu dengan baik. Allah bersumpah demi waktu.

وَالْعَصْرِ -إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ -إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Q.S. Al-’Ashr:1-3)

Waktu amat penting dan harus diperhatikan oleh manusia. Jika tak ada waktu, tidak akan ada perjalanan umur manusia. Malik bin Nabi mengungkap di dalam bukunya Syuruth An Nahdhah (Syarat-syarat Kebangkitan): “Waktu adalah sungai yang mengalir ke seluruh penjuru sejak dahulu kala, melintas pulau, kota, dan desa, membangkitkan semangat atau menina bobokkan manusia. Waktu diam seribu hasa, sampai-sampai manusia tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya, walaupun segala sesuatu -selain Allah- tidak akan mampu melepaskan diri darinya”. Maka, tidak memperhatikan waktu dan umur, akan membuat kehidupan sia-sia. Waktu sangatlah terbatas. Jika waktu telah berakhir (berlalu), ia tak akan bisa diganti atau kembali.

Sayidina Ali bin Ahi Thalib pernah berkata: “Rezki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat diharapkan perolehannya lebih banyak di hari esok, tetapi waktu yang berlalu hari ini, tidak mungkin kembali esok. Artinya, dalam menjalani kehidupan haruslah dengan penuh keimanan serta ketaqwaan kepada Allah SWT. Perbanyaklah amal shaleh. Jika umur atau perjalanan hidup tidak diisi taqwa, hidup akan hampa, tidak bermakna dan sia-sia. Dalam peredaran waktu terdapat kewajiban dan tanggung jawab. Manusia berkewajiban menggunakan kesempatan dan mengatur waktunya dengan baik.

Dalam Islam, setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya. Akibat buruk dan baik adalah buah perilakunya sendiri. Al Qur’an menyatakan : “Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seseorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain. Dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.“ (Q.S Al-Israa’: 15)

Di dalam Al-Quran kita temukan kisah tentang Luqman yang menasehati anaknya tentang kewajiban-kewajiban utama manusia. Ada tiga kewajiban manusia yang harus ia penuhi.

1.      Kewajiban manusia kepada Allah . (Q.S Luqman:13)

2.      Kewajiban anak kepada orang tua (Q.S. Luqman: 14)

3.      Kewajiban manusia kepada sesamanya (Q.S. Luqman:18 – 19)

Asy Syahid Hasan Al-Bana dalam “Hadits Tsulatsa”, yang disusun Ahmad Isa ‘Asyur Asy-Syahid, mengajari cara membagi waktu dalam rangka melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab. “Allah SWT telah memerintahkan kita untuk menggunakan waktu dalam empat hal”.

1.      Dalam hal yang dapat menyelamatkan agama kita, yaitu berupa ketaatan kepada Allah, manusia wajib menjaga waktunya.. Ini pun terbagi dua: (a). yang difardhukan oleh Allah seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan seterusnya. (b). yang dianjurkan oleh Allah berupa amalan-amalan nafilah (sunnah), seperti tilawatil Qur’an, sedekah, zikir, dan membaca shalawat nabi.

2.      Dalam hal-hal yang memberikan manfaat kepada kita, yakni untuk mencari rezki yang halal untuk keperluan kita dan keluarga yang kita tanggung, maka wajib memanfaatkan waktunya. Jika hal itu dilakukan dengan ikhlas, maka akan menjadi amal ibadah.

3.      Dalam hal yang mendatangkan manfaat kepada orang lain, merupakan bagian dari silaturrahim dalam bentuk pendekatan (qurbah/taqarrub) diri yang paling agung, maka manusia berkewajiban menyediakan waktunya.

4.      Dalam hal yang dapat memberi ganti atas sesuatu yang hilang dari kita, yaitu waktu istirahat, manusia wajib menggunakan waktunya. Sediakan waktu khusus untuk dapat memperbaharui dan menyegarkan kembali semangat dengan istirahat (irhanaa ya Bilaal bis-shalah), seperti berolah raga, berwisata (siruu fil-ardhi) dengan cara bermanfaat dan positif.

Dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Dzar Al Ghifari, Rasulullah SAW bersabda: “Yang berakal selama akalnya belum terkalahkan oleh hawa nafsunya, berkewajiban mengatur waktu-waktunya. Ada waktu yang digunakan untuk bermunajat dengan Tuhannya. Ada waktu yang digunakan untuk melakukan introspeksi (menghitung diri). Ada waktu yang digunakan untuk memikirkan ciptaan Allah (belajar). Ada pula waktu yang digunakan khusus untuk diri (dan keluarga) guna memenuhi keperluan makan dan minum.” (Diriwayatkan oleh lbnu Hibban).

Kita memasuki tahun 2011, awal tahun yang baru. Tahun yang lalu sudah menjadi masa yang lalu, tidak akan terbentang lagi sebagai masa depan. Tahun-tahun selanjutnya adalah tahun yang lain, menjadi kelanjutan dari perjalanan umur, jika Allah masih memberikan jatah hidup kepada kita.

Sekilas, masuknya tahun baru berarti bertambahlah umur kita satu tahun, Al hamdulilah. Kita patut bersyukur karena Allah telah memperpanjang umur kita. Namun, jika kita menyimak ungkapan bijak, “Umurku berkurang setiap hari.. .Sedang dosa terus bertambah… Bagaimana mungkin aku bisa memikulnya…”

Memasuki tahun baru berarti sisa umur kita makin berkurang. Otomatis, maut semakin dekat dan kita tidak tahu kapan berakhir. Sebelum umur berakhir, akal sehat yang bersandar kepada iman akan bangkit untuk semakin memacu diri dalam mengisi sisa umur dengan amal shaleh dan ketaqwaan.

Akal sehat dan iman taqwa memandu kita agar sisa umur tak sia-sia dan hidup tak boleh rugi.

Semoga Allah meridhai kita, Amin.

Allahu a ‘lam bishawab.

Categories: Buya Masoed Abidin, dakwah ilaa Allah, Education, Komentar, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: