Napak Tilas Peristiwa Hijrah dari Makkah ke Madihah

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ(41)الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ(42)

“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pusti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adulah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakal.” (Q.S. An Nahl: 41-42)

Pada hari Kamis tanggal 26 Safar tahun 14 dari nubuwah, bertepatan dengan tanggal 12 September 622 M atau kira-kira selang dua bulan setengah setelah Baiat Aqabah Kubra di Darun Dakwah diadakan pertemuan tertutup yang dihadiri para wakil dan setiap kabilah Quraisy. (Mengenai hari, tanggal dan tahun banyak pendapat dan termasuk pula pendapat tentang kapan dilaksanakannya hijrah dan tibanya Rasulullah SAW di Quba dan memasuki Madinah, pen). Tampak hadir saat itu para orang-orang penting dan seluruh kabilah Quraisy, diantaranya: Abu Jalil bin Hisyam, dari kabilah Bani Makhzum,       Jubair bin Muth’im dan Thu’aimah bin Ady’ serta al Harits bin Amir dari Bani Naufal bin Abdi Manaf,    Syaibah dan Utbah, anak Rabi’ah serta Abu Sufyan bin Harb dari Bani Syams bin Abdi Manaf,          An Nadhr bin Al Harits dari Bani Abdid Dar (pernah melempar Rasulullah dengan isi perut binatang), Abul Bakhtary bin Hisyam, Zam’ah bin Al Aswad dan Hakim bin Hizam dari Bani Asad bin Abdul Uzza,      Nubih dan Munabbih, anak Al Hajjaj dari Bani Sahm,           Umayyah bin Khalaf dari Bani Jumah dan Undangan perorangan, Abu Lahab serta seorang tamu tak diundang yang mengaku berasal dan Najd (Diantara ulama tarikh mengatakan bahwa tamu tak diundang itu adalah Iblis yang berbentuk manusia dan ada juga yang tidak menyebutkan kehadiran Abu Lahab dalam pertemuan ini).

Inti permasalahan yang mereka bicarakan adalah bahwa mereka ingin menyingkirkan bahaya yang mengancam eksistensi mereka. Dan ancaman itu bersumber dan pembawa panji dakwah Islam, tak lain adalah Muhammad SAW.

Banyak pendapat dan usulan yang diajukan peserta rapat dalam mencari cara  efektif dan jalan keluar untuk “menghabisi” orang yang dianggap paling berbahaya ini. Setelah berpikir keras dan di saat berbagai usulan dan cara pemecahan mulai disampaikan. tenjadi perdebatan yang cukup alot. Rapat dibuka o]eh Abu Jahal. Sebagai kata pengatar dan pembuka rapat ia berkata: “Hari ini, para pemuka dan ketua dan kabilah-kabilah Arab dan para pemimpin Quraisy serta para pembesar dan tiap-tiap suku bangsa Quraisy harus mengambil keputusan yang sesung-guhnya, cara apa yang hendak kita jalankan untuk memus-nahkan pergerakan Muhammad yang sedang menyala-nyala di segenap penjuru daerah Hijaz ini?  Rapat hari ini adalah rapat kita yang terkhir untuk memecahkan soal ini. Marilah soal ini kita penbincangkan bersama-­sama sebelum kita mengambil suatu keputusan yang pasti!“

Abul Aswad berkata, “Kita usir dan enyahkan dia dari tengah kita. Setelah itu kita tidak ambil pusing ke mana ia akan pergi dan bagaimana nasibnya. Kita tangani urusan kita sendiri dan kita galang persatuan seperti dulu lagi. Usulan ini disambung dengan usulan Abu Bakhtary “Masukkan dia ke dalam kerangkeng besi, tutup pintunya rapat-rapat, kemudian biarkan dia seperti nasib yang dialami para penyair sebelumnya (Zuhair dan An Nabighah) hingga meninggal dunia.”

Setelah dua usulan ini dan usulan dan peserta rapat lainnya ditolak, maka ada satu usulan lagi yang akhirnya diterima oleh peserta rapat. Usulan itu disampaikan oleh Abu Jahal la‘natullah alaih -versi lain mengatakan usulan ini disampaikan oleh Abu Lahab. Dia berkata, “Menurutku, kita tunjuk seorang yang gagah perkasa, berdarah bangsawan dan biasa menjadi penengah dari setiap kabilah. Masing-masing pemuda kita beri pedang yang tajam, lalu mereka harus mengepungnya, kemudian menebas Muhammad dengan sekali. tebasan, layaknya tebasan satu orang hingga ia meninggal. Dengan begitu kita bisa merasa tenang dari gangguannya. Jika mereka berbuat seperti itu, maka darahnya bercecer dari semua kabilah, sehingga Bani Abdi Manaf tidak akan sanggup memerangi semua kaumnya, dan dengan lapang dada mereka akan menerima keadaan ini dan kita pun menerimanya.”

Sebagaimana yang telah dirancang, rencana jahat itu akan dilaksanakan pada tengah malam. Tetapi Allah Al Hafidz, Yang Maha Memelihara, Menjaga dan Melindungi Nabi dan Rasulnya, Muhammad SAW. Firman Allah SWT surat Al Anfal :30

Malaikat Jibril menyampaikan perintah Allah bahwa Allah memerintahkan beliau berangkat hijrah ke Madinah. Jibril berkata: “Wahai Rasulullah! Jangunlah engkau tidur malam ini di atas tempat tidur engkau yang engkau telah biasa tidur diatasnya. Sesungguhnya Allah memerintahkan agar engkau segera berhijrah ke Madinah.”

Pada saat-saat yang kritis itu Rasulullah SAW bersabda ke pada Ali bin Abi Thalib ra, “Tidurlah di atas tempat tidurku, benselimutlah dengan mantelku. Sesung-guhnya engkau tetap akan aman dari gangguan mereka yang engkau khawatirkan.”

Kemudian keluarlah beliau dan rumahnya menuju rumah Abu Bakar ra. Setelah beliau masuk ke rumah Abu Bakar, beliau bersabda ke pada Abu Bakar ra:“Sesungguhnya Allah Ta‘ala telah mengizinkan aku keluar dan hijrah (dari Makkah ke Madinah)” Abu Bakar bertanya: “Bertemankan saya wahai Rasulullah?“ Beliau menjawab:  “Ya, Dengan izin Allah”

Malam hari sebelum fajar menyingsing, tanggal 27 Shafar tahun 14 dari nubuwah, Rasulullah bersama sahabat beliau Abu Bakar pergi meninggalkan rumah ke kuar dari Makkah menuju ke sebuah gunung yang bemama Tsaur dengan jarak tempuh kurang lebih lima mil.

Jalan menuju gua di gunung Tsaur ini cukup terjal, menanjak sulit dan berat. Beliau berjalan tanpa mengenakan alas kaki. bahkan ada yang menyebutkan bahwa beliau berjalan dengan cara berjinjit, agar tidak meninggalkan jejak dan bekas telapak di atas tanah.

Setelah tiga malam berada di gua, maka pada malan senin tanggal 1 Rabi’ul Awwal tahun pertama H. Atau pada tanggal 16 September 622 M., Rasulullah SAW, Abu Bakar ra., Amir bin Fuhairah beserta seorang penunjuk jalan yang bernama Abdullah bin Uraiqith keluar dar gua berangkat menuju Madinah. Rasulullah SAW duduk di atas unta yang dalam kitab tarikh disebutkan dengan nama “al Qushwa”.

Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfury dalam buku Sirahnya Ar Rahiq al Makhtum menukil dan Ibnu Ishaq mengenai daerah dan tempat yang dilalui oleh Rasulullah SAW, yaitu Usfan. dataran rendah amaj melewati Qudaid, Al Harrar, Tsaniyatul Marrah, Liqfa. Madlajah Liqf. Madlajah Majah, Marjih Mahaj, Marjih Dzil Ghadhawain, Dzi Kasyr, Al Jadajid. Al Ajrad, Dzu Salam, Madlajah Ti’hin, Al Ababid, Al Fajjah, Al Arj, Tsaniyatul A’ir dar arab kanan Rakubah, Ri’m. lalu tiba di Quba.”

Pada hari Senin tanggal 8 Rabi’ul Awwal tahun ke 14 dari nubuwwah atau tahun pertama dar hijrah. bertepatan dengan tanggal 23 september 622 M., Rasulullah dan rombongan tiba di Quba dengan sambutan yang luar biasa oleh kaum musliinin yang ada di sana. Kemudian berjalan hingga berhenti di Bani Amr bin Auf. Abu Bakar berdiri, sementara Rasulullah duduk sambil diam. Orang-orang Anshar yang belum pernah melihat dan bertemu Rasulullah. mengira bahwa yang berdiri itulah Rasulullah (padahal Abu Bakar). Tatkala panas matahari mengenai Rasulullah, maka Abu Bakar segera memayungi beliau dengan mantelnya Saat itulah mereka baru tahu bahwa yang duduk dan diam itulah Rasulullah SAW.

Rasulullah di Quba berada di rumah Kultsum bin Al Hidm. Beliau berada di Quba selama empat hari, yaitu hari Senin. Selasa. Rabu dan Kamis. Di sana beliau dan para sahabat juga kaum muslimin lainnya membangun masjid Quba dan shalat di dalamnya. Pada hari Jum’at beliau melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Shalat Jum’at dilaksanakan di Bani Salim bin Auf. Seusai shalat Jum’at. Rasulullah beserta rombongan memasuki Madinah. Sejak hari itu lah Yatsrib dinamakan Madinatur Rasul yang kemudian disingkat dengan nama Madinah (Madinah al Munawwarah).

Wassalamu’alaikum

Buya H.Mas’oed Abidin

Categories: Amar Makruf Nahi Munkar, Buya Masoed Abidin, dakwah ilaa Allah, Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia, Globalisasi, HAM, Hijrah, Komentar, Komentar Buya, Pendidikan, Surau, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: