Panduan Amalan Puasa Ramadhan untuk meraih derajat “ihtisab” (berhatihati)

Oleh : H. Mas’oed Abidin

            Alhamdulillah, dalam upaya mendorong umat Islam untuk meraih keampunan Allah pada bulan Ramadhan Mubarak, kita temui pesan Rasulullah SAW  yang bermaksud ;  “Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan dasar iman dan ihtisab, niscaya diampunkan dosa-dosanya terdahulu.”

            Ada beberapa kaedah atau pendekatan yang dapat memandu kita ke arah pencapaian derajat kehatihatian dalam memelihara ibadah puasa di dalam Ramadhan ini atau untuk meraih maqam ihtisab itu, antara lain :

  1. Hendaklah selalu bergiat dengan amalan yang baik agar bulan Ramadhan Mubarak ini dapat memberikan peluang emas bagi kita dalam melakukan muhasabah  atau penilaian terhadap nilai amalan  ibadat kita selama ini. Dengan atau melalui ibadah di dalam bulan Ramadhan ini kita dapat menyimak dan membetulkan atau meluruskan perjalanan kehidupan kita semua. Hendaklah mengambil iktibar (pelajaran) bahwa peredaran waktu dan perputaran jarum jam akan mengingatkan kita semua bahwa usia ini semakin berkurang. Dalam hitungan umur bertambah, tetapi kenyataannya jatah masa hidup di dunia ini makin pendek. Oleh karena itu pergunakanlah masa beristighfar di dalam bulan Ramadhan Mubarak ini.
  2. Hendaklah di bulan Ramadhan tekun menunaikan sholat fardhu dan sholat Tarawih dengan berjamaah, meramaikan masjid dimanapun kita berada. Rasulullah SAW telah bersabda bahwa .. “Sesiapa saja  sholat (berjamaah) bersama imam (lalu ditunggunya) sehingga imam beredar (beringsut dari tempat duduknya), niscaya akan ditulis baginya ganjaran beribadat satu malam”.
  3. Biasakanlah lidah untuk berzikir secara terus menerus, dan janganlah tergolong ke dalam kategori orang-orang yang tidak mau berzikir atau hanya berdzikir sedikit saja. Bulan Ramadhan adalah bulan ibadat dan bulan beramal, bukan bulan untuk tidur dan bermalas-malasan. 
  4. Semasa kita merasakan “lapar” karena “menahan” dalam melaksanakan ibadah puasa, maka ingatlah selalu bahwa kita adalah makhluk yang lemah. Kita tidak akan mendapatkan berbagai makanan dan minuman serta nikmat yang ada di tangan kita sekarang ini, apabila bukan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memberikannya. Bergiatlah agar kita tetap memberi makanan untuk orang yang berbuka puasa, karena keuntungannya amat besar dari sisi Allah Azza wa Jalla.Maka bentuklah diri menjadi hamba Allah yang bersyukur.
  5. Rebutlah peluang pada bulan Ramadhan ini untuk menjauhi buat selama-lamanya segala sesuatu yang tidak bermanfaat buat kita, jauhilah segala yang dapat mendatangkan mudharat kepada kita.  Ketahuilah bahwa bulan Ramadhan Mubarak ini adalah tetamu yang hanya datang sekejap saja. Maka layanilah ia dengan baik. Ingatlah bahwa sebentar lagi Ramadhan ini akan segera pergi bila Syawal telah menjelang. Akan susah mendatanginya lagi jika dia telah menghilang. Manfaatkan waktu selagi Ramadhan masih bersama kita. Ketahuilah bahwa amal ibadat itu adalah satu amanah, oleh sebab itu hisab dan koreksilah diri, apakah sudah melakukan amal ibadah seperti yang dituntut atau dikehendaki oleh Allah dan Rasul Nya?
  6. Ketahuilah bahwa Allah SWT bersifat Maha Pemurah dan Maha Penyayang, Allah menerima taubat daripada orang-orang yang bertaubat. Dan Allah juga bersifat Maha  dahsyat siksaanNya. Ketahuilah pula bahwa Allah adakalanya menangguhkan siksaanNya, tapi ketahuilah bahwa Allah itu samasekali tidak pernah lengah dan lalai. Besegeralah memohon kemaafan dari pihak yang pernah terzalimi sebelum ia sempat merebut dan merampas pahala amal soleh yang kita lakukan. 
  7. Ketahuilah bahawa Allah SWT memang membolehkan hambaNya melakukan sesuatu yang akan menghibur diri (dari kepenatan), akan tetapi menghabiskan masa untuk semata mata berhibur santai, niscaya tentu saja akan melenyapkan peluang buat merebut kebajikan. Apabila anda melakukan maksiat lalu Allah menutupi kasus anda, maka sadarilah bahwa yang demikian itu adalah satu peringatan buat anda, agar anda segera bertaubat. Maka oleh sebab itu bersegeralah bertaubat, tanamkanlah azam (keteguhan hati) untuk tidak kembali malakukan maksiat tersebut. Hindarilah bergaul dengan teman-teman jahat, giatlah bergaul dengan golongan solihin dan orang-orang yang baik. 
  8. Jauhilah sifat “mubazir” dalam perbelanjaan, makan-minum, dan lain-lain di dalam bulan Ramadhan ini. Perbuatan mubazir adalah satu perbuatan yang amat dibenci oleh Allah karena mubazir itu perbuatan syaithan. Perilaku mubazir  akan mengurangkan amalan sedekah. Padahal amalan sedekah akan mendapat ganjaran pahala yang besar dari sisi Allah Azza wa Jalla, serta akan membuka berpuluh puluh pintu kebaikan dan rezeki. Jangan berlebih-lebihan dalam hal menyediakan berbagai jenis makanan berbuka (dan sahur), hal ini akan membuat ahli keluarga sibuk, lantas mereka akan kehilangan peluang di siang (dan malam) hari memperbanyak tilawah Al-Quran. Kurangilah kegiatan mendatangi pusat-pusat perniagaan pada malam-malam bulan Ramadhan, terutama sekali di akhir Ramadhan, agar masa keemasan tersebut tidak hilang lenyap sedemikian rupa tanpa bekas dalam jiwa dan pembinaan karakter shaum Ramadhan ini. 
  9. Bergiatlah memperdalam ilmu dalam bidang tafsir Al-Quran, Hadis Rasulullah SAW, sejarah Islam, dan ilmu-ilmu agama, kerana menuntut ilmu adalah ibadat. Bergiatlah membimbing orang-orang di bawah penjagaan kita ke arah yang bermanfaat buat mereka dalam hal agama, mereka akan lebih mudah menerima bimbingan daripada orang yang menjaganya jika dibandingkan dengan bim,bingan dari orang lain. 
  10. Rebutlah peluang beriktikaf walaupun hanya sebentar.  Sebaik baiknya manfaatkan 10 malam Ramadhan terakhir, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam. Bergiatlah melakukan Qiyamullail di sepuluh terakhir Ramadhan, karena akhir malam Ramadhan itu adalah malam utama, di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, lebih baik dari seribu bulan.
  11. Janganlah sekali-kali berbuka di siang hari tanpa uzur syar’i, karena barang siapa berbuka pada suatu hari di siang hari di bulan mulia ini, ia tidak akan dapat mengganti (mengqadha)nya dengan puasa walau satu tahun.
  12. Bercita citalah dengan teguh hati untuk melanjutkan kebiasaan baik yang dapat dibuat di dalam bulan Ramadhan Mubarak ini. Berharaplah pula  akan meneruskan kebiasaan baik itu sesudah bulan Ramadhan berangkat meninggalkan kita kelak. Sebaik baiknya hendaklah merebut peluang dan kesempatan untuk melakukan puasa-puasa sunat, dan jangan hanya merasa cukup karena telah berpuasa dengan puasa Ramadhan ini saja. Masih banyak kesempatan berpuasa sunat di luar Ramadhan.
  13. Semasa beriang gembira di Hari Raya, ingatlah, bahwa dikeliling kita ada terdapat golongan anak yatim, golongan dhu’afa yang fuqara’ dan golongan misikin. Ketahuilah bahawa di antara jasa baik terhadap mereka adalah ketika kita mampu mengubah keadaan mereka (sehingga tidak berkeliling meminta minta). Oleh karena sedemikian itu bersegeralah mensyukuri nikmat Allah, dan mengulurkan bantuan buat mereka. 
  14. Ketahuilah bahwa Hari Raya Idul Fithri adalah hari bersyukur kepada Allah. Maka,  jangan jadikan hari raya itu menjadi hari “kebebasan” dari perkara-perkara yang dilarang dimana selama sebulan ini kita telah dilatih “menahan diri” atau imsak daripadanya pada bulan mulia (bulan Ramadhan). Membiasakan diri pergi seawal mungkin (tabkir) ke mesjid adalah sebagai bukti menunjukkan kerinduan yang mendalam kepada kasih sayang Allah Azza wa Jalla. Baik sekali bertakbir dengan suara nyaring pada malam Hari Raya, dan di pagi harinya sehingga sampai kepada menunaikan waktu solat di pagi Hari Raya Idul Fithri. 
  15. Lakukanlah muhasabah terhadap segala perihal dan urusan, terutama sekali mengenai : memelihara solat berjamaah, menunaikan zakat, hubungan silatur rahim, berbakti kepada kedua ibu-bapa, memberi perhatian terhadap jiran tetangga, memaafkan orang-orang yang ada hubungan perselisihan dengan kita,  menghindarkan diri dari perbuatan mubadzir,  mendidik orang yang di bawah tanggungan jawab kita, mengambil perhatian yang sungguh sungguh terhaadap kehidupan sesama muslim, tidak menggunakan jabatan dan kepercayaan umat untuk kepentingan diri sendiri, tumbuhkan kerinduan dan perasaan gembira terhadap nasihat dan tunjuk ajar ke arah kebaikan, menjauhi sifat ria, mencintai saudara atau teman sejawat sepertimana sikap mencintai terhadap diri  sendiri, sentiasa berusaha untuk islah yakni menyelesaikan hubungan yang retak, menajauhi ghibah (gunjing), memperbanyak tilawah Al-Quran, merenungkan maknanya, dan khusyuk semasa mendengarkan Kalamullah.

Insyaallah dengan perpegangan tersebut kita akan dapat meraih puasa yang “ihtisab”, sehingga “ghufira lahuu maa taqaddama min dzanbihi”  yakni akan diampuni dari dosa dosanya terdahulu.

Semoga kita mampu mengingati dan mengamalkannya.

Wassalam

Padang, 29 Sya’ban 1432 H /  30 Juli 2011

 

Categories: Buya Masoed Abidin, Komentar, Komentar Buya, Puasa Ramadhan, Ramadhan, Surau, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: