Jalan menuju Surga …

Jalan menuju Surga

Oleh H. Mas’oed Abidin

Sesungguhnya jalan menuju SURGA itu adalah dengan menahan diri dari hawa nafsu. Mengikuti hawa nafsu akan membawa jalan menuju NERAKA. Menahan diri dari godaan nafsu hanyalah karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesuai firman-Nya :

“ Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS: An-Naazi’aat: 40-41)

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah SAW :

حَفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحَفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ

NERAKA dikelilingi dengan SYAHWAT dan SURGA dikelilingi oleh KESULITAN KESULITAN

Jalan menuju ke NERAKA lebih disukai, seperti contohnya pergaulan antara lelaki dan perempuan tanpa batas, zina dan minuman memabukkan, korupsi dan penipuan untuk memperkaya diri, penyelewengan dan mengkhianati amanah jabatan dan ketidak pedulian dengan nilai-nilai kebaikan, termasuk memusuhi Allah dan para rasul, lari dan lalai dari menyembah Allah, ketundukan kepada materi, senang tolong menolong berbuat zholim.

Seseorang cenderung akan mengerjakan apa yang diinginkan nafsunya walau itu bertentangan dengan kehendak Allah dan Rasul. Hal ini mengakibatkan:

“ Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan,” (QS: Maryam: 59)

dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): “Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; Maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik“.(QS: Al-Ahqaaf: 20)

Jalan ke surga sulit bagi nafsu mengikutinya. Walau sebenarnya pekerjaan itu mudah, seperti Dzikir, pikir, tauhid, pengabdian, tawakal, khouf, harapan, wudhu, sholat, puasa, zakat, haji, hijab, tidak leluasa berduaan antara lelaki perempuan tanpa batas, tidak minum yang memabukkan, tidak berzinah, selalu berakhlak yang mulia (karimah), meninggalkan kemunafikan, bersabar atas semua di datangkan Allah dengan mengharap redha Nya.

Jalan ke surga harus ditempuh dengan jiwa yang sadar. Berpegang teguh kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apapun kesulitan tidak cepat berputus asa. Pada hakekatnya kesulitan bukan kesulitan.

Allah Azza wa Jalla tidak membebanikan pada diri hamba Nya sesuatu yang di luar pikulannya. Allah Azza wa Jalla selalu berada dekat dalam jiwa hamba Nya. Para Rasulullah telah mengingatkan berita gembira dengan Wahyu Nya.  Adzab hukuman dari Allah hanya teruntuk bagi yang melanggar ketentuan-ketentuan Allah di dunia. Kehidupan baik dan nikmat abadi disediakan bagi orang-orang yang berserah diri dan taat di dunia dan di akhirat.

Marilah kita memohon agar jalan hidup kita semata-mata diarahkan MENUJU JALAN KE SURGA. Kita memohon selalu kepada Allah swt, agar jalan hidup kita dihindarkan oleh Allah dari jalan MENUJU KE NERAKA.  Firman Alah ;

 “ Dan Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. “ (QS: Al-Kahfi: 29)

“ Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97).

Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.

Wasiat Rasulullah SAW

Ketika ajal Rasulullah makin dekat, Beliau pun memanggil para sahabat ke rumah Siti Aisyah dan Beliau bersabda: “Selamat datang, semoga Allah SWT mengasihi kalian, saya berwasiat kepada kalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah SWT dan mentaati segala perintah-Nya. Sesungguhnya hari perpisahan saya dengan kalian sudah dekat, itu berarti semakin dekat pula kembalinya seorang hamba kepada Allah SWT dan menempatkannya di surga-Nya.

“Kalau sampai ajalku, hendaklah Ali yang memandikanku, Fadhl  bin Abas hendaklah menuangkan air dan Usamah bin Zaid hendaklah menolong keduanya. Setelah itu kafanilah aku dengan pakaianku sendiri. Jika kalian menghendaki, kafanilah aku dengan kain Yaman yang putih. Jika engkau memandikan aku, hendaklah engkau letakkan aku di atas balai tempat tidurku dalam rumahku ini. Setelah itu kalian keluarlah sebentar meninggalkan aku.”

“Pertama yang akan menshalati aku ialah Allah SWT, kemudian diikuti oleh malaikat Israfil, Malaikat Mikail dan yang terakhir malaikat Izrail beserta dengan semua para pembantunya. Setelah itu, barulah kalian masuk semua mensalatiku.”

Setelah para sahabat mendengar ucapan yang sungguh menyayat hati itu, mereka pun menangis dengan suara yang keras dan berkata : “Ya, Rasulullah SAW Anda adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami dan untuk semua, selama ini Anda memberi kekuatan pada kami dan Anda pula pemimpin yang mengurus semua perkara kami. Apabila Anda sudah tiada nanti, kepada siapakah kami bertanya setiap ada persoalan muncul ?.”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda : “Dengarlah para sahabatku, aku tinggalkan kepada kalian jalan yang benar dan jalan yang terang, dan telah aku tinggalkan dua penasehat. Yang satu pandai bicara dan yang satu lagi diam saja. Yang pandai bicara itu adalah Alquran dan yang diam itu ialah maut. Apabila ada persoalan yang sulit dan berbelit di antara kalian, hendaklah kalian kembali kepada Alquran dan Hadistku dan sekiranya hati engkau keras, lembutkan dia dengan mengambil pelajaran dari mati.”

Setelah Rasulullah SAW berkata demikian, Beliau kemudian mulai merasakan sakit. Dalam bulan Safar Rasulullah sakit selama 18 hari dan sering diziarahi para sahabat. Dalam sebuah kitab diterangkan Rasulullah diutus pada Hari Senin dan wafat pada Hari Senin.

Pada Hari Senin penyakit Beliau bertambah berat. Setelah Bilal selesai adzan subuh, Bilal pun pergi ke rumah Rasulullah SAW. Sampai di sana, Bilal memberi salam : “Assalamu’alaika ya Rasulullah.” Lalu dijawab Fatimah :“Rasulullah SAW masih sibuk dengan urusan Beliau.”

Setelah Bilal mendengar penjelasan dari Fatimah, Bilal pun kembali ke masjid tanpa memahami kata-kata Fatimah itu. Ketika waktu subuh hampir habis, Bilal pergi sekali lagi ke rumah SAW dan memberi salam seperti tadi. Kali ini salam Bilal telah didengar Rasulullah SAW. Baginda berkata : “Masuklah wahai Bilal, sesungguhnya penyakitku ini semakin berat, oleh karena itu, kau suruhlah Abu Bakar mengimami salat subuh berjamaah dengan mereka yang hadir.” Setelah mendengar kata-kata Rasulullah, Bilal pun berjalan menuju masjid sambil meletakkan tangan di atas kepala, seraya berkata :“Aduh musibah.”

Setelah Bilal sampai di masjid, Bilal pun memberitahu Abu Bakar tentang apa yang telah Rasulullah SAW katakan kepadanya. Abu Bakar tidak dapat menahan dirinya saat ia melihat mimbar kosong. Lantas dengan suara keras Abu Bakar menangis hingga ia jatuh pingsan. Melihat peristiwa itu maka riuhlah dalam masjid, sehingga Rasulullah bertanya kepada Fatimah : “Wahai Fatimah apa yang telah terjadi?” Fatimah pun berkata : “Keriuhan kaum muslimin, sebab Anda tidak pergi ke masjid.”

Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali dan Fadhl bin Abas, lalu beliau bersandar pada kedua bahu mereka dan terus pergi ke masjid. Setelah sampai di masjid, Rasulullah pun salat subuh bersama dengan para jamaah. Setelah selesai salat subuh, Beliau berkata :“Wahai kaum muslimin, kalian senantiasa dalam pertolongan dan penjagaan Allah. Oleh karena itu, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah SWT dan mengerjakan segala perintah-Nya. Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia ini dan kalian. Hari ini adalah hari pertamaku di akhirat dan hari terakhirku di dunia.” Setelah berkata demikian, Rasulullah SAW pun pulang ke rumah.

Dalam Islam, setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya. Akibat buruk dan baik adalah buah perilakunya sendiri. Al Qur’an menyatakan :

“Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seseorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain. Dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.“ (Q.S Al-Israa’: 15).

 

Izrail Menjemput Rasulullah

Allah SWT mewahyukan kepada Malaikat Izrail : “Wahai Izrail, pergilah engkau kepada kekasihku dengan sebaik-baik wajah, dan jika engkau hendak mencabut rohnya, hendaklah engkau melakukan dengan cara yang paling lembut sekali. Jika engkau pergi ke rumahnya, minta izinlah terlebih dahulu. Kalau ia izinkan engkau masuk, maka masuklah engkau ke rumahnya dan kalau ia tidak izinkan engkau masuk, hendaklah engkau kembali padaku.”

Malaikat Izrail pun turun menyerupai orang Arab Baduwi. Setelah Malaikat Izrail sampai di hadapan rumah Rasulullah dan memberi salam : “Assalamu’alaikum yaa ahla bait nubuwwati wa ma danir risaalatia adkhulu?” (mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kalian, wahai penghuni rumah Nabi dan sumber risalah, bolehkah saya masuk?). Ketika Fatimah mendengar ada orang memberi salam, ia pun berkata : “Wahai hamba Allah, Rasulullah SAW sedang sibuk, sebab sakitnya yang semakin berat.”

Kemudian Malaikat Izrail berkata lagi seperti semula, dan kali ini seruan malaikat itu telah didengar oleh Rasulullah SAW, lantas beliau bertanya kepada Fatimah :“Wahai Fatimah, siapakah di depan pintu itu.” Fatimah menjawab : “Ya Rasulullah, ada seorang Arab Baduwi memanggilmu, aku telah katakan padanya bahwa Anda sedang sibuk sebab sakit, sebaliknya dia memandang saya dengan tajam sehingga badan saya terasa menggigil.” Kemudian Rasulullah SAW berkata :“Wahai Fatimah, tahukah engkau siapakah orang itu?Jawab Fatimah : “Tidak ayah.”  Rasulullah menjawab ; “Dia adalah Malaikat Izrail , malaikat yang akan memutuskan segala macam nafsu syahwat yang memisahkan perkumpulan-perkumpulan dan yang memusnahkan semua rumah serta meramaikan kubur.”

Fatimah tidak dapat menahan air matanya lagi setelah mengetahui, bahwa saat perpisahan dengan ayahandanya semakin dekat. Beliau pun berkata : “Janganlah engkau menangis wahai Fatimah, engkaulah orang pertama dalam keluargaku yang akan bertemu denganku.”

Rasulullah SAW mempersilahkan Malaikat Izrail masuk. Malaikat Izrail masuk dengan mengucap : “Assalamu’alaikum ya Rasulullah.” Lalu Rasulullah SAW menjawab : “Waalaikas-saalam, wahai Izrail, engkau datang menziarahi aku atau untuk mencabut rohku?” Berkata malaikat Izrail : “Kedatangan saya adalah untuk menziarahimu dan untuk mencabut rohmu, itupun kalau engkau izinkan. Kalau tidak engkau izinkan, aku akan kembali.” Berkata Rasulullah SAW :“Wahai Izrail, dimanakah engkau tinggalkan Jibril?” Berkata Izrail : “Saya tinggalkan Jibril di langit dunia, semua para malaikat sedang memuliakan dia.”

Tidak berapa lama, Jibril pun turun dan duduk dekat (di samping) kepala Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah SAW melihat kedatangan Jibril, Beliau pun berkata, “Wahai Jibril, tahukah engkau bahwa ajalku sudah dekat.” Berkata Jibril : “Ya aku tahu.”. Rasulullah bertanya; “Wahai Jibril, beritahu kepadaku kemuliaan yang menggembirakanku di sisi Allah SWT.” Berkata Jibril : “Sesungguhnya semua pintu langit telah dibuka, para malaikat berbaris rapi menanti rohmu di langit. Semua pintu surga telah dibuka, dan semua para bidadari sudah berhias menanti kehadiran rohmu.”

Berkata Rasulullah SAW “Alhamdulillah. Sekarang engkau katakan tentang umatku di hari kiamat nanti.” Berkata Jibril, Allah SWT telah berfirman  “Sesungguh nya Aku telah melarang semua para Nabi masuk ke dalam surga sebelum engkau masuk terlebih dahulu, dan aku juga melarang semua umat memasuki surga sebelum umatmu memasuki terlebih dahulu.”

Berkata Rasulullah SAW: “Sekarang aku telah lega dan telah hilang rasa susahku. Wahai Izrail, dekatlah engkau padaku.” Ketika rohnya sampai pada ubun-ubun (pusat), Rasulullah SAW berkata : “Wahai Jibril, alangkah dahsyatnya kematian itu.” Jibril mengalihkan pandangan dari Rasulullah SAW, ketika mendengar kata-kata Beliau. Melihat sikap Jibril itu Rasulullah SAW berkata :“Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka melihat wajahku?” Jibril berkata : “Wahai kekasih Allah, siapakah orang yang sanggup melihat wajahmu di kala engkau dalam sakaratul maut ?”

Anas bin Malik RA bercerita, ketika roh Rasulullah SAW sampai di dada, Beliau bersabda :“Aku wasiatkan kepada engkau agar kalian menjaga salat dan apa-apa yang telah diperintahkan kepadamu.”  

Ali bin Abi Thalib berkata : “Sungguh Rasulullah ketika menjelang saat terakhir, telah menggerakkan kedua bibir Beliau sebanyak dua kali, dan saya meletakkan telinga saya dekat dengan Rasulullah, seraya Beliau berkata : “Umatku, umatku.”

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS.3, Ali Imran ayat 144).

Nabi Muhammad s.a.w. hanya seorang manusia yang diangkat Allah menjadi rasul.  Rasul-rasul sebelumnya telah wafat. Ada yang wafat karena terbunuh ada pula yang karena sakit biasa. Nabi Muhammad s.a.w. juga akan wafat seperti halnya Rasul-rasul yang terdahulu itu. Ketika berkecamuknya perang Uhud tersiarlah berita bahwa Nabi Muhammad s.a.w. mati terbunuh. Berita ini mengacaukan kaum muslimin, sehingga ada yang bermaksud meminta perlindungan kepada Abu Sufyan (pemimpin kaum Quraisy). Orang-orang munafik mengatakan kalau Nabi Muhammad itu seorang Nabi tentulah Dia tidak akan mati terbunuh. Maka Allah menurunkan ayat ini untuk menenteramkan hati kaum muslimin dan membantah orang munafik itu.(Sahih Bukhari bab Jihad).

Abu Bakar r.a. membacakan ayat ini ketika terjadi kegelisahan di kalangan sahabat di hari wafatnya Nabi Muhammad s.a.w. untuk menenteramkan Umar Ibnul Khaththab r.a. dan sahabat-sahabat yang tidak percaya tentang kewafatan Nabi itu. (Sahih Bukhari bab Ketakwaan Sahabat).

إِنَّ اللهَ وَ مَلاَئِكَتِهِ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبـِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا.

Categories: ABS-SBK, Amar Makruf Nahi Munkar, Buku Buya, Buya Masoed Abidin, dakwah ilaa Allah, Komentar, Komentar Buya, Surau, Tauhid, Tulisan Buya, Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: