ABS-SBK

Menanggulangi HIV/AIDS dan Narkoba Penerapan Nilai-nilai Agama dalam Penanggulangan HIV/AIDS dan Narkoba

Penutupan Pesantren 27 Ramadhan 1434H (25)
Oleh : H. Mas’oed Abidin[1]

Pendahuluan

1.            Pengidap HIV/AIDS dalam catatan WHO kian tahun bertambah. Di Indonesia jumlahnya mengalami peningkatan  termasuk Sumatera Barat sudah terdeteksi adanya pengidap HIV/AIDS tersebut.
2.            Pengidap HIV/AIDS dan penularannya disebabkan oleh hubungan kelamin gonta-ganti, baik terhadap lain jenis ataupun hubungan kelamin sama sejenis. Penularan kedua disebabkan oleh pemakaian suntikan atau mungkin juga oleh infeksi darah. Bila dilakukan di Rumah Sakit, kecil kemungkinan bisa terjadi, karena adanya sterilisasi. Kecuali kalau adanya kelalaian. Penggunaan alat suntik banyak dilakukan oleh pemakai obat bius, Narkoba.
3.            Agama Islam menyebut hubungan kelamin gonta ganti pasangan itu ZINA dan dengan lawan sejenis namanya LIWATH (homosexual) yang sangat dicela dan pernah dilakukan oleh umat Nabi Luth. Untuk kasus umat Nabi Luth ini jawaban penyelesaiannya adalah negeri itu ditelungkupkan oleh Allah. Peristiwa ini diceritakan oleh Kitab-kitab Suci yang ada.
4.            Beberapa negara didunia yang menganut faham libaralisme dan teguh memperjuangkan hak asasi manusia sangat melindungi kebebasan individu dan masyarakat untuk memiliki kebebasan, sampai kepada kebebasan melakukan hubungan sex dengan siapa saja atas dasar suka sama suka. Bahkan kaum homosex perlu dilindungi keberadaannya dan dibuatkan undang-undang yang menjamin akan kebebasan mereka untuk saling menjual diri sesama termasuk perlindungan kepada wanita-wanita pekerja sex, yang tidak lebih kerjanya hanya sebgai pelacur atau pezina.
5.            Agama menetapkan pezina itu tidak boleh berhubungan kelamin dengan orang baik-baik (mukmin) kecuali sesama mereka ahli pezina yakni antara pelacur laki-laki sesama pelacur laki-laki, atau pelacur laki-laki dengan pelacur perempuan.
6.            Bila terjadi hubungan dengan pelacur (laki-laki atau perempuan) kemudian berhubungan dengan keluarga baik-baik, inilah yang menyebabkan terjadinya penularan penyakit berbahaya itu.
7.            Laporan Kasus Narkoba 1999 Kapolda Sumbar hampir seluruh Resort Kepolisian (8 Polres) telah ditangkap banyak pelaku pengedar Narkoba (Ganja, Shabu-Shabu dan ectacy). Pelakunya berbagai kalangan Swasta, Penganggur, Mahasiswa, Pelajar SMU, pedagang, PNS, tani, sopir). Data yang tidak ada hanya di Polres Pasaman.[2]
8.            Berita-berita dari TV dan Radio bahwa masyarakat menyatakan perang terhadap Narkoba. Ungkapan Koran setiap hari menyebut tentang bahaya Narkoba ini. Narkoba sebenarnya saudara kembar Pekat. Kedua-duanya anak kandung dari keluarga GelapJahili.

 

Bahayanya sangat besar

(1). Pezina membahayakan dirinya dan orang lain, terutama keluarga terdekat, menjadi penyebarnya penyakit sipilis, kelamin, HIV/AIDS dan lain-lain.
(2). Pencandu Narkoba-Miras, adalah petaka pemakainya,
  • merubah kepribadian secara drastic, penantang, pemarah dan pelawan,
  • masa bodoh terhadap dirinya, semangat belajar menurun, berperangai seperti orang gila,
  • kejahatan sexual meruyak termasuk anak-anak dibawah umur,
  • hilang norma-norma hidup beradat, beragama, berhukum,
  • bisa menjadi penyiksa, putus asa, pemalas,
  • tidak punya harapan masa depan.
(3). Membahayakan sendi kehidupan bermasyarakat,
  • mengambil milik orang (mencuri),berbuat mesum,
  • mengganggu ketertiban umum,
  • tidak ada penyesalan berbuat kesalahan.
(4). Membahayakan bangsa dan negara.
·         Mengancam ketahanan nasional. Rusak generasi pewaris bangsa.
·         Hilangnya patriotisme. Musnah rasa cinta berbangsa.
·         Mengancam stabilitas keamanan kawasan.
Konspirasi internasional.
Pertentangan diantara penguasa dan pengusaha dalam percaturan politik internasional sering mengarah kepada persekongkolan. Lahirnya kekuatan anti agama bergulir menjadi konspirasi internasional. Sasaran utama di arahkan kepada kelompok beragama (islam) sejagat. Dengan melumpuhkan umat secara sistematik. Berkembangnya citra (imej) bahwa paham-ajaran agama adalah musuh bagi kehidupan manusia.
·         Tatanan dunia akan makmur mengikut lobi-lobi kebebasan.
·         Penerapannya berbingkai ethnic cleansing.
·         Tuduhan teroris ditujukan kepada gerakan dakwah dan penggelaran fundamentalis, radikalisme, keterbelakangan, tidak sesuai dengan kemajuan zaman.
·         Sasaran akhir kalangan generasi muda.
·         Dunia remaja menjadi enggan menerima ajaran agama dalam  kehidupan kesehariannya.
·         Konsepsi Islam dilihat hanya sebatas ritual dan seremonial.
·         Agama dianggap tidak cocok untuk menata kehidupan sosial ekonomi dan politik bangsa-bangsa.
·         Hubungan manusia secara internasional tidak pantas di kover oleh ajaran agama.
·         Pemahaman picik bahwa agama hanya bisa di terapkan untuk kehidupan akhirat tampak berkembang pesat. Agama tidak pantas menjawab tantangan dan penyelia tatanan masa kini.
·         Gejala lain adalah maraknya kehidupan sekuler materialisma. Dalam Islam diamati sebagai suatu tadzkirah (warning dan peringatan) wahyu, bila mampu dipahami secara jelas tertera dalam Al Quran (lihat QS. Al-Baqarah 120).
Hak asasi manusia.
Hak asasi akan selalu terpelihara dan terjamin, selagi kemerdekaan bertumpu kepada terpeliharanya kesopanan umum dan ketertiban negeri.
Hak asasi manusia secara pribadi tetap akan terlindungi bila setiap orang memandang dengan sadar bahwa setiap orang memiliki hak untuk tidak berbuat sesuka hati. Bila dalam mempertahankan hak asasinya mulai bertindak dengan tidak mengindahkan hak-hak orang lain, pada saat yang sama semua hak asasi itu tidak terlindungi lagi.
Kewajiban asasi untuk tidak melanggar kehormatan orang lain akan memberikan penghormatan kepada kemerdekaan orang lain, senyatanya adalah bingkai dari hak asasi manusia yang sebenarnya.
Perangi sungguh-sungguh.
(1). HIV/AIDS dan NARKOBA mestinya diperangi secara terpadu oleh seluruh lapisan masyarakat, petugas kemananan, kalangan pendidikan, sekolah dan kampus, alim ulama, ninik mamak, pendeknya seluruh elemen masyarakat.
(2). Iklan-iklan HIV/AIDS pada masa sekarang ini lebih banyak menguntungkan bagi produk kondom daripada takutnya kalangan pecandu sex bebas untuk melakukan perzinaan terang-terangan. Karena itu perlu diperankan agama dalam melawannya.
(3). Untuk Narkoba bisa dilaksanakan dengan,
  • Musnahkan.
  • Putuskan jaringan pengedaran.
  • Tegakkan hukum yang tegas.
  • Berikan penyuluhan masyarakat. Lakukan pencegahan.
  • Bina keluarga, remaja dan lingkungan,
  • Lakukan kegiatan edukasi. Menghilangkan factor penyebab dalam kerangka pre-emtif.
  • Preventif, mengawasi ketat jalur dan oknum pengedarnya, sehingga police hazard (potensi kejahatan) tidak berkembang menjadi ancaman factual.
  • Represif, penindakan tegas. Penegakan hukum secara tegas, dasarnya diatur oleh UU No.22 tahun 1997, UU.No.5 tahun 1997 yang dikenakan terhadap pemakai, pengedar, pembuat, pemasok, pemilik, penyimpan, pembawa untuk tujuan penyalah gunaan.
  • Narkoba diperangi dengan memutus jalur pengedaran.
Membongkar sindikasinya.
Mengungkap secara radikal latar belakang jaringannya.
Aparat keamanan dan kepolisian mesti bertindak konsekwen.
Melakukan rehabilitasi, overhead cost-nya sangat tinggi.
Hancurnya satu generasi, dan punahnya satu bangsa. Inilah yang sangat ditakutkan. Namun ada negara dunia yang terselubung menjadi sarang mafia pengedaran Narkoba Internasional.

Perspektif Agama

Agama Islam menempatkan NARKOBA dan MIRAS sebagai barang haram, menurut dalil Al Qurani.
a.                  Khamar, segala minuman (ic. Makanan) yang memabukkan, dan judi. Disebutkan dalam QS.2: 219 “ Pada keduanya itu terdapat dosa besar, dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi “dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”.
b.                  Khamar, judi (al-maysir), berkurban untuk berhala (al-anshab) dan mengadu nasib dengan anak panah (al-azlam), adalah keji (rijsun) dari amalan syaithan. Jauhilah agar menang. (QS.5, al-Maidah:90).
c.                   Permusuhan dan kebencian (kekacauan) ditengah kehidupan masyarakat ditimbulkan lantaran minuman khamar dan judi. Inilah kerja syaitan. Berakibat kepada lalai mengingat Allah dan meninggalkan shalat. Karena itu berhentilah. (QS.5:91).
d.                 Hadist diriwayatkan Tirmidzi dari Shahabat Anas RA, bahwa “Rasul SAW melaknat sepuluh orang disebabkan khamar (la’ana Rasulullah SAW fil-khamr ‘asyaratan):
  • Orang yang memerasnya (pembuatnya, ‘aa-shirahaa),
  • yang menyuruh memeras (produsen, mu’tashirahaa),
  • peminumnya (konsumen, syaa-ribahaa),
  • pembawanya (distributor, haa-milahaa),
  • yang minta diantarinya (pemesan, al-mahmulata ilaihi),
  • yang menuangkannya (pelayan, saa-qiyahaa),
  • penjualnya (retailer, baa-I’a-haa),
  • pemakan hasil penjualannya (aa-kila tsamanihaa),
  • pembelinya (al-musytariya lahaa),
  • yang minta dibelikannya (al-musytaraa-ta-lahu).
Hadist ini terdapat didalam Jami’ Tirmizi.[3]
e. Zina yang menjadi penyebab HIV/AIDS perlu diperangi sesuai bimbingan Agama. Disekolah-sekolah perlu diajarkan kembali etika pergaulan yang semestinya berisi ajaran bahwa pergaulan bebas itu terlarang oleh agama dan adat. Tidak semua kebisaaan dari Barat itu baik untuk ditiru.

Pandangan Adat di Ranah Minang

Di Ranah Minang, delapan perbuatan terkutuk, sangat dibenci. Pelakunya dikucilkan, digantung tinggi, dibuang jauh dan kebawah tak berurat keatas tak berpucuk dan ditengah digiriak kumbang.
Sumpah masyarakat sangat ditakuti oleh masyarakat beradat terhadap bahaya tuak, arak, sabuang, judi, rampok, rampeh, candu dan madat.
Rampok rampeh adalah penggambaran terhadap pelacur dan penjaja sex, dan perampas kebahagiaan rumah tangga, perampok kesehatan keluarga.

buya-bersama-walikota-padang-fauzi-bahar-dalam-satu-pengajian

Kesimpulan

            (1). Hanya satu kesimpulan; NARKOBA dan MIRAS, dalam pandangan dan ajaran agama Islam, adalah haram secara syar’i. Sangat membahayakan. Berdosa besar. Walau manfaatnya ada, tetapi mudharatnya lebih besar.
Perlu di berantas dengan berbagai cara. Secara adat dibenci. Ditinjau dari segi keamanan dan stabilitas, sangat berbahaya.
Menurut UU No.22/1997 pasal 78 ayat 1, ancaman pidana sepuluh tahun atau denda 500 juta rupiah.
UU. No.5/1997 pasal 59 ayat 1, pengguna, memproduksi, pengimpor,  penyimpan, pembawa, bisa diancam pidana 15 tahun dan denda 750 juta rupiah. Pasal 59 ayat 2, bila terorganisir diancam pidana 20 tahun atau denda 750 juta rupiah, Dan pasal 59 ayat 3 bila korporasi, jaringan sindikasi, diancam pidananya tambah lagi dengan denda 5 milyar rupiah.
Sudah cukup berat bukan ???
Pertanyaannya, kenapa belum dilaksanakan ???
(2). Sulitnya memberantas peredaran Narkoba ini, menimbulkan dugaan kuat adanya jaringan luas secara internasional. Dan tidak tertutup kemungkinan bahwa para Mafia Yahudi Internasional bermain padanya. Sebagaima diyakini bahwa gerakan Kristenisasi Internasional itu tidak semata batasnya isu agama tetapi lebih banyak kepada konspirasi politik, ekonomi, dan penguasaan suatu wilayah negara asing dengan kekuatan apa saja.
(3). Maka petugas keamanan terutama kepolisian perlu membersihkan diri dan citranya ditengah masyarakat luas.

 

Advertisements
Categories: ABS-SBK, Adat Basandi Syarak, Amar Makruf Nahi Munkar, Education, Masjid Raya Al Munawwarah Siteba, Tulisan Buya | Leave a comment

Konsep Masyarakat Madani dengan bimbingan Agama menuju Pemerintahan yang amanah

Gambar

Konsep Masyarakat Madani dengan bimbingan Agama

menuju Pemerintahan yang amanah

Oleh :

H. Mas’oed Abidin

 

Reformasi Menyikapi Perubahan Zaman

PEMBINA PERILAKU berakhlak menjadi kerja utama sepanjang masa. Sejak dulu, bangsa ini  sudah memiliki tata laku masyarakat sopan dan santun. Memiliki akhlak yang terpuji. Hidup beradat dalam tatanan yang shahih. Mengelola gerak kehidupan dengan pemahaman dan pengamalan nilai nilai haya’ (malu) dengan benar. Dalam kearifan lokal masyarakat Sumatera Barat disebutkan Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, Kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek, Nak urang Koto Hilalang, nak lalu ka Pakan Baso,  Malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso. Pembinaan terpadu masyarakat ini berawal dari lingkungan (rumah tangga dan wilayah) dengan menata kehidupan berbudi. Memacu gerak mencerdaskan umat. Mengokohkan aqidah tauhid yang kuat, mengamalkan Firman Allah.[1] 

Kini kita sedang menghadapi satu perubahan zaman. Perubahan adalah satu keniscayaan belaka, bahwa zaman senantiasa berubah dan musim selalu berganti. Perubahan dalam arus kesejagatan di era global. Seringkali membawa infiltrasi kebudayaan luar. Ketika pengamalan pelaksanaan adat istiadat masyarakat dalam wilayah administrasi pemerintahan Provinsi Sumatera Barat, tidak lagi kukuh pada puncak budaya ABSSBK maka mulai jalan di alieh urang lalu, sukatan di pancuang urang panggaleh. Pengaruh materialistic telah mengabaikan kaidah nilai-nilai tatalaku masyarakat beradat dan beragama. Penetrasi kebudayaan global telah menyuburkan kehidupan individualistic yang kental. Mengalahkan kepentingan masyarakat bersama. Idealisme kebudayaan mulai menjadi sasaran cercaan. Budaya jujur dianggap kolot. Pencapaian hasil kebersamaan (kolektifiteit) menjadi sangat tipis. Amanah menjadi rapuh. Kejujuran tidak bermakna lagi. Kerajinan dan kesetiaan diukur dengan jumlah pendapatan yang didapat. Pergeseran itu semestinya diamati dengan cermat. Kehidupan tanpa kawalan aturan jelas, pasti berdampak kepada kinerja dan praktek pemerintahan juga. Selain pula berakibat terhadap pengelolaan wilayah dan asset.

Pergeseran nilai ini juga bersintuhan langsung dengan pemeliharaan budaya bangsa dan budaya negara. Budaya negara kita Indonesia adalah UUD45, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI. Sedangkan budaya bangsa Indonesia adalah puncak puncak budaya daerah. Ketika kedua budaya itu melemah, perilaku yang mengedepan adalah perebutan prestise berbungkus materi. Menghadirkan prestasi yang memberi manfaat kepada rakyat banyak kurang diminati. Padahal masyarakat madani (civil society) dengan panduan nilai nilai reliji menyajikan motivasi hidup. Mendorong mobiltas horizontal (hablum min an-naas) dan mobilitas vertical (hablum min Allah) dalam gerakan amal. Menumbuhkan jiwa inovatif yang sarat dinamika dan kreativitas. Bersikap ikhlas dan tawakkal. Semestinya dari sisi ini reformasi watak di mulai untuk mendudukkan reformasi birokrasi. Tantangan besar hari ini adalah menata ulang masyarakat (replanting values) dengan nilai berketuhanan dan budaya. Menjaga martabat bangsa dan negara. Sasarannya menuju madaniyah (modern, maju, beradab). Menanamkan etika reliji dengan akhlak mulia adalah modal utama menapak alaf baru. Manakala nilai moral ini sudah pupus, pastilah bangsa ini akan ditingali oleh manusia modern yang biadab. Suatu individu atau kelompok yang kehilangan pegangan hidup, walau secara lahiriyah kaya materi tetapi miskin mental spiritual, akan terperosok ke dalam tingkah yang tidak mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai kehidupan akan bertukar dengan sikap acuh, lucah, sadis dan hedonistic. Amat tragis, kalau generasi yang kehilangan pegangan hidup itu adalah kelompok etnis di tengah kebangsaan Indonesia yang dikenal dan disebut muslim pula.

Konsep Masyarakat Madani

MADANI satu kata yang indah. Punya arti yang dalam. Kadang kala banyak juga yang menyalah artikannya. Apa itu sebenarnya madani. Bila diambil dari sisi pendekatan letterlijk maka madani berasal dari kata  m u d u n   arti sederhananya  m a j u  atau dipakai juga dengan kata  m o d e r n. Tetapi figurlijknya madani mengandung kata maddana al-madaina (مَدَّنَ المَدَاِئنَ) artinya, banaa-ha ( بَنَاهَا ) yakni membangun atau hadhdhara (حَضَّرَ ) yaitu memperadabkan dan tamaddana ( تَمَدَّنَ ) maknanya menjadi beradab — yang nampak dalam kehidupan masyarakatnya berilmu (periksa, rasio), memiliki rasa (emosi) secara individu maupun secara kelompok serta memiliki kemandirian (kedaulatan) dalam tata ruang dan peraturan-peraturan yang saling berkaitan, kemudian taat asas pada kesepakatan (hukum) yang telah ditetapkan dan diterima untuk kemashalahatan bersama. Karena itu orang Jepang dalam cara menyeberangnya saja sudah dapat disebut menjadi ciri madani itu.  

Masyarakat  madani ( الحَضْرِيُّ = al hadhariyyu) adalah masyarakat berbudaya dan al-madaniyyah (tamaddun) yang maju, modern, berakhlak dan memiliki peradaban, semestinya melaksanakan nilai-nilai agama (etika reliji) atau bagi kita mengamalkan ajaran Islam (syarak) dengan benar. Nilai nilai kebaikan akan selalu memenjarakan manusia. Karenanya nilai nilai agama Islam boleh saja tampak pada umat yang tidak atau belum menyatakan dirinya Islam, akan tetapi telah mengamalkan nilai Islam itu. Sesunguhnya Agama (Islam) tidak dibatasi ruang-ruang masjid, langgar, pesantren, majlis ta’lim semata.

Pengamalan nilai nilai agama sebenarnya menata gerak kehidupan riil. Memberi acuan pelaksana tatanan politik pemerintahan, sosial ekonomi, seni budaya, hak asasi manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi. Penerapan nilai etika reliji mewujudkan  masyarakat yang hidup senang dan makmur (تَنَعَّمَ = tana’ama) dengan aturan  (قَانُوْنٌ مَدَنِيٌّ = qanun madaniy) yang didalamnya terlindungi hak-hak privacy, perdata, ulayat dan hak-hak sipil masyarakat. Dapat diraih melalui pendidikan.

Masyarakat tamaddun (berbudaya) adalah masyarakat integratif secara sosial politik maupun ekonomi dengan asas watak masyarakat intinya adalah ketaatan. Kepatuhan dan keyakinan kepada Allah Azza wa Jalla. Masyarakat madani adalah masyarakat kuat mengamalkan nilai agama (etika reliji). Seperti dalam tatanan masyarakat Madinah el Munawwarah dimasa hayat Nabi Muhammad SAW. Sejahtera dalam keberagaman pluralistis ditengah bermacam anutan paham kebiasaan. Tetapi satu dalam pimpinan. Kekuatannya ada pada nilai dinul Islam. Mampu melahirkan masyarakat proaktif menghadapi perubahan. Bersatu di dalam kesaudaraan karena terdidik rohaninya. Pendidikan rohani merangkum aspek pembangunan sumber daya manusia dengan pengukuhan nilai ibadah dan akhlak dalam diri umat melalui solat, zikir. Pada akhirnya pendidikan watak atau domein ruhani ini mencakup aspek treatment. Rawatan dan pengawalan melalui taubat, tazkirah, tarbiyah, tau’iyah. Ditopang dua manazil atau sifat penting, yaitu Rabbaniah dan Siddiqiah.

Sifat Rabbaniah ditegakkan dengan benar diatas landasan pengenalan (makrifat) dan pengabdian (`ubudiah) kepada Allah melalui ilmu pengetahuan, pengajaran, nasihat, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Siddiqiah mencakup enam jenis kejujuran (al-sidq): 1. kejujuran lidah, 2. kejujuran niat dan kemauan (sifat ikhlas), 3. kejujuran azam, 4. kejujuran al-wafa’ (jujur dengan apa yang diucapkan dan dijanjikan), 5. kejujuran bekerja (prestasi karya), dan 6. kejujuran mengamalkan ajaran agama (maqamat al-din).

Kehidupan Madani terlihat pada kehidupan maju yang luas pemahaman (tashawwur) sehingga menjadi sumber pendorong kegiatan di bidang ekonomi yang lebih banyak bertumpu kepada keperluan jasmani (material needs). Spiritnya melahirkan pemikiran konstruktif (amar makruf) dan meninggalkan pemikiran destruktif (nahyun ‘anil munkar) melalui pembentukan tata cara hidup yang diajarkan agama Islam. Mengembangkan masyarakat Madani dimulai dari membangun domain kemanusiaan atau domain ruhiah melalui pendidikan rohani yang merangkum aspek preventif. Menjaga umat dari ketersesatan aqidah. Memelihara rakyat dari ketidakseimbangan emosional dan mental. Agar umat terhindar dari melakukan perbuatan haram, durjana dan kezaliman. Peningkatan mutu masyarakat dengan basis ilmu pengetahuan, basis budaya dan agama.

Moralitas Masyarakat Madani

ikap hati-hati sangat dituntut untuk meraih keberhasilan. Action planning di setiap lini adalah keterpaduan, kebersamaan, kesepakatan, dan keteguhan. Langkah awalnya menghidupkan musyawarah. Allah menghendaki kelestarian Agama secara mudah, luwes, elastis, tidak beku dan tidak bersitegang. Memupuk sikap taawun saling membantu dengan keyakinan bahwa Allah Yang Maha Rahman selalu membukakan pintu berkah dari langit dan bumi.

Keterpaduan masyarakat dan pemerintah menjadi kekuatan ampuh membangun kepercayaan rakyat banyak. Inilah inti reformasi yang dituju di abad baru ini. Tingkat persaingan akan mampu dimenangkan “kepercayaan” — trust.  Pengikat spiritnya adalah sikap Cinta kepada Bangsa dan Negara yang direkat oleh pengalaman sejarah. Salah menerjemahkan suatu informasi, berpengaruh bagi pengambilan keputusan. Sikap tergesa-gesa akan berakibat jauh bagi keselamatan orang banyak. Masyarakat majemuk dapat dibina dengan kekuatan etika reliji.

Peran serta masyarakat digerakkan melalui  musyawarah dan mufakat. Kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan “nawaitu” dalam diri masing-masing mengamalkan ajaran agama dengan benar. Sebab, manusia tanpa agama hakikinya bukan manusia sempurna. Tuntunan agama tampak pada adanya akhlak dan ibadah. Akhlak mlingkupi semua perilaku pada seluruh tingkat kehidupan. Nyata dalam contoh yang ditinggalkan Rasulullah.[2] 

Ketika kehidupan manusia kian bertambah modern dan peralatan teknologi semakin canggih, makin bertambah banyak masalah hati dan kejiwaan manusia yang tampil kepermukaan. Tidak segera mudah dapat diselesaikan. Solsusinya hanya mendekatkan diri kepada Allah SWT semata. Maka tuntutan kedepan mesti diawasi agar umat lahir dengan iman dalam ikatan budaya (tamaddun). Rahasia keberhasilan adalah “tidak terburu-buru” dalam bertindak. Selalu ada husnu-dzan (sangka baik) antara rakyat dan pemimpinnya. Kekuasaan akan berhasil jika menyentuh hati nurani rakyat banyak, sebelum kekuasaan itu menjejak bumi. Ukurannya adalah adil dan takarannya adalah  kemashlahatan umat banyak. Kemasannya adalah jujur secara transparan.

Umat perlu dihidupkan jiwanya. Menjadi satu umat yang mempunyai falsafah dan tujuan hidup (wijhah) yang nyata. Memiliki identitas (shibgah) dengan corak keperibadian terang (transparan). Rela berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan.  Masyarakat Madani yang dituntut oleh “syari’at” Islam menjadi satu aspek dari Sosial Reform yang memerlukan pengorganisasian (nidzam). Masyarakat Madani mesti mampu menangkap tanda‑tanda zaman — perubahan sosial, politik dan ekonomi — pada setiap saat dan tempat dengan optimisme besar. Sikap apatis adalah selemah‑lemah iman (adh’aful iman). Sikap diam (apatis) dalam kehidupan hanya dapat dihilangkan dengan bekerja sama melalui tiga cara hidup , yakni bantu dirimu sendiri (self help), bantu orang lain (self less help), saling membantu dalam kehidupan ini (mutual help).

Ketiga konsep hidup ini mengajarkan untuk menjauhi ketergantungan kepada pihak lain, artinya mandiri. Konsep madaniyah tampak  utama didalam pembentukan watak (character building) anak bangsa. Tentu saja melalui jalur pendidikan. Maka reformasi terhadap pengelolaan keperluan masyarakat atau birokrasi mesti meniru kehidupan lebah, yang kuat persaudaraannya, kokoh organisasinya, berinduk dengan baik, terbang bersama membina sarang, dan baik hasil usahanya serta dapat dinikmati oleh lingkungannya.

KHULASAH, Menampilkan Program Umatisasi

PENERAPAN RUHUL MADANIYAH atau jiwa kemajuan berkehendak kepada gerak yang utuh dan terprogram. Hasilnya tidak mungkin di raih dengan kerja sambilan, buah yang di petik, sesuai dengan bibit yang di tanam, demikian natuur-wet (sunnatullah, = undang-undang alami). Setiap unsur berkewajiban melaksanakan tugas tabligh atau dialogis kemudian mengajak dan mengujudkan kehidupan berperaturan (bertatakrama) di dunia (dinul-harakah al-alamiyyah). Melibatkan semua elemen untuk menghidupkan kesadaran dana kepatuhan hukum menjadi tugas bersama. Menurut nilai-nilai Al-Qur’an disebut ummat da’wah. [3] 

Ada beberapa tindakan yang mungkin dilakukan segera.

Pertama. Melakukan introspeksi di kalangan kita sendiri. Mengoreksi masihkah prinsip‑prinsip utama budaya bangsa dan budaya negara masih dipertahankan.

Kedua. Masing‑masing berusaha mengambil inisiatif dan aktif untuk mengikat kembali tali kesatuan dan persatuan bangsa dengan ikatan birokrasi tanpa gembar‑gembor, namun secara jujur dalam mengatasi semua persoalan di tengah rakyat yang kita pandu.

Ketiga, Memelihara kesempatan‑kesempatan yang ada dan tersedia dalam melakukan tatanan (system) dengan memperbesar frekwensi pertukaran fikiran secara informal dalam berbagai masalah keumatan, dalam suasana jernih, tenang dan bersih serta tidak berprasangka.

Keempat, Berusaha mencari titik‑titik pertemuan (kalimatin sawa) di antara sesama kalangan dan peribadi‑peribadi para intelektual (zu’ama), para pemegang kendali sistim (‘umara), dan para ikutan umat utama, para ulama dan aktifis pergerakan baik tua maupun muda, dalam ikatan yang tidak tegang dan kaku. Kekuatan terletak pada keluwesan pikiran dan keteguhan prinsip.  

Kelima, Menegakkan secara sungguh dan bertanggung jawab Nizhamul Mujtama’ (tata hidup bermasyarakat) diatas dasar aqidah Islamiyah dan Syari’ah.

Keenam,  Memelihara mutu ibadah di kalangan umat utama. Menetapkan mu’amalah (sosial, ekonomi, siyasah) dan Akhlak (pemeliharaan tata nilai melalui pendidikan dan kaderisasi yang terarah). Mengawalnya mulai dari rumah tangga, lingkungan (usrah) dan masyarakat (uswah).

Usaha menghadapi tantangan kontemporer yang sedang menjajah hati budi umat kini khususnya di Sumatera Barat (Minangkabau), dapat di tampilkan beberapa agenda kerja,

  1. Mengokohkan pegangan dengan keyakinan dasar agama sebagai suatu cara hidup yang komprehensif. Menyebarkan budaya wahyu membimbing kemampuan  akal.
  2. Memperluas penyampaian fiqh sosio politik, ekonomi, komunikasi, pendidikan dan lain-lain. Menguatkan peran perempuan (bundo kandung, muslimat) yang telah berhasil membentuk sejarah gemilang masa silam sebagai ibu dan pendidik di rumah tangga dan ditengah masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat.
  3. Menjalin dan membuat kekuatan bersama untuk menghambat gerakan yang  merusak adat budaya bangsa dan negara — terutama di Sumatera Barat yang memiliki puncak filosofi ABSSBK –. Diantaranya, memberi bekal yang cukup melalui pelatihan dan pembekalan ilmu yang memadai, membuatkan anggaran belanja yang memadai di daerah-daerah mendukung satu usaha terpadu kearah pendidikan watak umat dan meningkatkan keselarasan, kesatuan dan keupayaan mendalami budaya dan haraki Islami.
  4. Melahirkan masyarakat penyayang dengan kehidupan beradat sesuai ABSSBK sebagai ciri khas Masyarakat Madani di Sumatera Barat.v

 

Padang, Pebruari 2012.

 


[1]    Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama (syariat, syarak) dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya (dengan cara-cara mengamalkannya pada setiap perilaku dan tindakan dengan kehidupan beradat), apabila mereka telah kembali kepadanya – kekampung halamannya –, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS.IX, at Taubah, ayat 122).

[2]    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا  “Sesungguhnya telah ada bagi kamu pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik (uswah hasanah), yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS.33, al Ahzab : 21).

[3]    وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ   Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran, 3 : 104 ).

Categories: ABS-SBK, Adat Basandi Syarak, Amar Makruf Nahi Munkar, Buku Buya, Buya Masoed Abidin, Dakwah Komprehensif, Komentar, Komentar Buya, Strategi Pendidikan Madani, Surau, Tauhid, Tulisan Buya, Uncategorized | Leave a comment

Jalan menuju Surga …

Jalan menuju Surga

Oleh H. Mas’oed Abidin

Sesungguhnya jalan menuju SURGA itu adalah dengan menahan diri dari hawa nafsu. Mengikuti hawa nafsu akan membawa jalan menuju NERAKA. Menahan diri dari godaan nafsu hanyalah karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesuai firman-Nya :

“ Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS: An-Naazi’aat: 40-41)

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah SAW :

حَفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحَفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ

NERAKA dikelilingi dengan SYAHWAT dan SURGA dikelilingi oleh KESULITAN KESULITAN

Jalan menuju ke NERAKA lebih disukai, seperti contohnya pergaulan antara lelaki dan perempuan tanpa batas, zina dan minuman memabukkan, korupsi dan penipuan untuk memperkaya diri, penyelewengan dan mengkhianati amanah jabatan dan ketidak pedulian dengan nilai-nilai kebaikan, termasuk memusuhi Allah dan para rasul, lari dan lalai dari menyembah Allah, ketundukan kepada materi, senang tolong menolong berbuat zholim.

Seseorang cenderung akan mengerjakan apa yang diinginkan nafsunya walau itu bertentangan dengan kehendak Allah dan Rasul. Hal ini mengakibatkan:

“ Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan,” (QS: Maryam: 59)

dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): “Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; Maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik“.(QS: Al-Ahqaaf: 20)

Jalan ke surga sulit bagi nafsu mengikutinya. Walau sebenarnya pekerjaan itu mudah, seperti Dzikir, pikir, tauhid, pengabdian, tawakal, khouf, harapan, wudhu, sholat, puasa, zakat, haji, hijab, tidak leluasa berduaan antara lelaki perempuan tanpa batas, tidak minum yang memabukkan, tidak berzinah, selalu berakhlak yang mulia (karimah), meninggalkan kemunafikan, bersabar atas semua di datangkan Allah dengan mengharap redha Nya.

Jalan ke surga harus ditempuh dengan jiwa yang sadar. Berpegang teguh kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apapun kesulitan tidak cepat berputus asa. Pada hakekatnya kesulitan bukan kesulitan.

Allah Azza wa Jalla tidak membebanikan pada diri hamba Nya sesuatu yang di luar pikulannya. Allah Azza wa Jalla selalu berada dekat dalam jiwa hamba Nya. Para Rasulullah telah mengingatkan berita gembira dengan Wahyu Nya.  Adzab hukuman dari Allah hanya teruntuk bagi yang melanggar ketentuan-ketentuan Allah di dunia. Kehidupan baik dan nikmat abadi disediakan bagi orang-orang yang berserah diri dan taat di dunia dan di akhirat.

Marilah kita memohon agar jalan hidup kita semata-mata diarahkan MENUJU JALAN KE SURGA. Kita memohon selalu kepada Allah swt, agar jalan hidup kita dihindarkan oleh Allah dari jalan MENUJU KE NERAKA.  Firman Alah ;

 “ Dan Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. “ (QS: Al-Kahfi: 29)

“ Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97).

Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.

Wasiat Rasulullah SAW

Ketika ajal Rasulullah makin dekat, Beliau pun memanggil para sahabat ke rumah Siti Aisyah dan Beliau bersabda: “Selamat datang, semoga Allah SWT mengasihi kalian, saya berwasiat kepada kalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah SWT dan mentaati segala perintah-Nya. Sesungguhnya hari perpisahan saya dengan kalian sudah dekat, itu berarti semakin dekat pula kembalinya seorang hamba kepada Allah SWT dan menempatkannya di surga-Nya.

“Kalau sampai ajalku, hendaklah Ali yang memandikanku, Fadhl  bin Abas hendaklah menuangkan air dan Usamah bin Zaid hendaklah menolong keduanya. Setelah itu kafanilah aku dengan pakaianku sendiri. Jika kalian menghendaki, kafanilah aku dengan kain Yaman yang putih. Jika engkau memandikan aku, hendaklah engkau letakkan aku di atas balai tempat tidurku dalam rumahku ini. Setelah itu kalian keluarlah sebentar meninggalkan aku.”

“Pertama yang akan menshalati aku ialah Allah SWT, kemudian diikuti oleh malaikat Israfil, Malaikat Mikail dan yang terakhir malaikat Izrail beserta dengan semua para pembantunya. Setelah itu, barulah kalian masuk semua mensalatiku.”

Setelah para sahabat mendengar ucapan yang sungguh menyayat hati itu, mereka pun menangis dengan suara yang keras dan berkata : “Ya, Rasulullah SAW Anda adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami dan untuk semua, selama ini Anda memberi kekuatan pada kami dan Anda pula pemimpin yang mengurus semua perkara kami. Apabila Anda sudah tiada nanti, kepada siapakah kami bertanya setiap ada persoalan muncul ?.”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda : “Dengarlah para sahabatku, aku tinggalkan kepada kalian jalan yang benar dan jalan yang terang, dan telah aku tinggalkan dua penasehat. Yang satu pandai bicara dan yang satu lagi diam saja. Yang pandai bicara itu adalah Alquran dan yang diam itu ialah maut. Apabila ada persoalan yang sulit dan berbelit di antara kalian, hendaklah kalian kembali kepada Alquran dan Hadistku dan sekiranya hati engkau keras, lembutkan dia dengan mengambil pelajaran dari mati.”

Setelah Rasulullah SAW berkata demikian, Beliau kemudian mulai merasakan sakit. Dalam bulan Safar Rasulullah sakit selama 18 hari dan sering diziarahi para sahabat. Dalam sebuah kitab diterangkan Rasulullah diutus pada Hari Senin dan wafat pada Hari Senin.

Pada Hari Senin penyakit Beliau bertambah berat. Setelah Bilal selesai adzan subuh, Bilal pun pergi ke rumah Rasulullah SAW. Sampai di sana, Bilal memberi salam : “Assalamu’alaika ya Rasulullah.” Lalu dijawab Fatimah :“Rasulullah SAW masih sibuk dengan urusan Beliau.”

Setelah Bilal mendengar penjelasan dari Fatimah, Bilal pun kembali ke masjid tanpa memahami kata-kata Fatimah itu. Ketika waktu subuh hampir habis, Bilal pergi sekali lagi ke rumah SAW dan memberi salam seperti tadi. Kali ini salam Bilal telah didengar Rasulullah SAW. Baginda berkata : “Masuklah wahai Bilal, sesungguhnya penyakitku ini semakin berat, oleh karena itu, kau suruhlah Abu Bakar mengimami salat subuh berjamaah dengan mereka yang hadir.” Setelah mendengar kata-kata Rasulullah, Bilal pun berjalan menuju masjid sambil meletakkan tangan di atas kepala, seraya berkata :“Aduh musibah.”

Setelah Bilal sampai di masjid, Bilal pun memberitahu Abu Bakar tentang apa yang telah Rasulullah SAW katakan kepadanya. Abu Bakar tidak dapat menahan dirinya saat ia melihat mimbar kosong. Lantas dengan suara keras Abu Bakar menangis hingga ia jatuh pingsan. Melihat peristiwa itu maka riuhlah dalam masjid, sehingga Rasulullah bertanya kepada Fatimah : “Wahai Fatimah apa yang telah terjadi?” Fatimah pun berkata : “Keriuhan kaum muslimin, sebab Anda tidak pergi ke masjid.”

Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali dan Fadhl bin Abas, lalu beliau bersandar pada kedua bahu mereka dan terus pergi ke masjid. Setelah sampai di masjid, Rasulullah pun salat subuh bersama dengan para jamaah. Setelah selesai salat subuh, Beliau berkata :“Wahai kaum muslimin, kalian senantiasa dalam pertolongan dan penjagaan Allah. Oleh karena itu, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah SWT dan mengerjakan segala perintah-Nya. Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia ini dan kalian. Hari ini adalah hari pertamaku di akhirat dan hari terakhirku di dunia.” Setelah berkata demikian, Rasulullah SAW pun pulang ke rumah.

Dalam Islam, setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya. Akibat buruk dan baik adalah buah perilakunya sendiri. Al Qur’an menyatakan :

“Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seseorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain. Dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.“ (Q.S Al-Israa’: 15).

 

Izrail Menjemput Rasulullah

Allah SWT mewahyukan kepada Malaikat Izrail : “Wahai Izrail, pergilah engkau kepada kekasihku dengan sebaik-baik wajah, dan jika engkau hendak mencabut rohnya, hendaklah engkau melakukan dengan cara yang paling lembut sekali. Jika engkau pergi ke rumahnya, minta izinlah terlebih dahulu. Kalau ia izinkan engkau masuk, maka masuklah engkau ke rumahnya dan kalau ia tidak izinkan engkau masuk, hendaklah engkau kembali padaku.”

Malaikat Izrail pun turun menyerupai orang Arab Baduwi. Setelah Malaikat Izrail sampai di hadapan rumah Rasulullah dan memberi salam : “Assalamu’alaikum yaa ahla bait nubuwwati wa ma danir risaalatia adkhulu?” (mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kalian, wahai penghuni rumah Nabi dan sumber risalah, bolehkah saya masuk?). Ketika Fatimah mendengar ada orang memberi salam, ia pun berkata : “Wahai hamba Allah, Rasulullah SAW sedang sibuk, sebab sakitnya yang semakin berat.”

Kemudian Malaikat Izrail berkata lagi seperti semula, dan kali ini seruan malaikat itu telah didengar oleh Rasulullah SAW, lantas beliau bertanya kepada Fatimah :“Wahai Fatimah, siapakah di depan pintu itu.” Fatimah menjawab : “Ya Rasulullah, ada seorang Arab Baduwi memanggilmu, aku telah katakan padanya bahwa Anda sedang sibuk sebab sakit, sebaliknya dia memandang saya dengan tajam sehingga badan saya terasa menggigil.” Kemudian Rasulullah SAW berkata :“Wahai Fatimah, tahukah engkau siapakah orang itu?Jawab Fatimah : “Tidak ayah.”  Rasulullah menjawab ; “Dia adalah Malaikat Izrail , malaikat yang akan memutuskan segala macam nafsu syahwat yang memisahkan perkumpulan-perkumpulan dan yang memusnahkan semua rumah serta meramaikan kubur.”

Fatimah tidak dapat menahan air matanya lagi setelah mengetahui, bahwa saat perpisahan dengan ayahandanya semakin dekat. Beliau pun berkata : “Janganlah engkau menangis wahai Fatimah, engkaulah orang pertama dalam keluargaku yang akan bertemu denganku.”

Rasulullah SAW mempersilahkan Malaikat Izrail masuk. Malaikat Izrail masuk dengan mengucap : “Assalamu’alaikum ya Rasulullah.” Lalu Rasulullah SAW menjawab : “Waalaikas-saalam, wahai Izrail, engkau datang menziarahi aku atau untuk mencabut rohku?” Berkata malaikat Izrail : “Kedatangan saya adalah untuk menziarahimu dan untuk mencabut rohmu, itupun kalau engkau izinkan. Kalau tidak engkau izinkan, aku akan kembali.” Berkata Rasulullah SAW :“Wahai Izrail, dimanakah engkau tinggalkan Jibril?” Berkata Izrail : “Saya tinggalkan Jibril di langit dunia, semua para malaikat sedang memuliakan dia.”

Tidak berapa lama, Jibril pun turun dan duduk dekat (di samping) kepala Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah SAW melihat kedatangan Jibril, Beliau pun berkata, “Wahai Jibril, tahukah engkau bahwa ajalku sudah dekat.” Berkata Jibril : “Ya aku tahu.”. Rasulullah bertanya; “Wahai Jibril, beritahu kepadaku kemuliaan yang menggembirakanku di sisi Allah SWT.” Berkata Jibril : “Sesungguhnya semua pintu langit telah dibuka, para malaikat berbaris rapi menanti rohmu di langit. Semua pintu surga telah dibuka, dan semua para bidadari sudah berhias menanti kehadiran rohmu.”

Berkata Rasulullah SAW “Alhamdulillah. Sekarang engkau katakan tentang umatku di hari kiamat nanti.” Berkata Jibril, Allah SWT telah berfirman  “Sesungguh nya Aku telah melarang semua para Nabi masuk ke dalam surga sebelum engkau masuk terlebih dahulu, dan aku juga melarang semua umat memasuki surga sebelum umatmu memasuki terlebih dahulu.”

Berkata Rasulullah SAW: “Sekarang aku telah lega dan telah hilang rasa susahku. Wahai Izrail, dekatlah engkau padaku.” Ketika rohnya sampai pada ubun-ubun (pusat), Rasulullah SAW berkata : “Wahai Jibril, alangkah dahsyatnya kematian itu.” Jibril mengalihkan pandangan dari Rasulullah SAW, ketika mendengar kata-kata Beliau. Melihat sikap Jibril itu Rasulullah SAW berkata :“Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka melihat wajahku?” Jibril berkata : “Wahai kekasih Allah, siapakah orang yang sanggup melihat wajahmu di kala engkau dalam sakaratul maut ?”

Anas bin Malik RA bercerita, ketika roh Rasulullah SAW sampai di dada, Beliau bersabda :“Aku wasiatkan kepada engkau agar kalian menjaga salat dan apa-apa yang telah diperintahkan kepadamu.”  

Ali bin Abi Thalib berkata : “Sungguh Rasulullah ketika menjelang saat terakhir, telah menggerakkan kedua bibir Beliau sebanyak dua kali, dan saya meletakkan telinga saya dekat dengan Rasulullah, seraya Beliau berkata : “Umatku, umatku.”

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS.3, Ali Imran ayat 144).

Nabi Muhammad s.a.w. hanya seorang manusia yang diangkat Allah menjadi rasul.  Rasul-rasul sebelumnya telah wafat. Ada yang wafat karena terbunuh ada pula yang karena sakit biasa. Nabi Muhammad s.a.w. juga akan wafat seperti halnya Rasul-rasul yang terdahulu itu. Ketika berkecamuknya perang Uhud tersiarlah berita bahwa Nabi Muhammad s.a.w. mati terbunuh. Berita ini mengacaukan kaum muslimin, sehingga ada yang bermaksud meminta perlindungan kepada Abu Sufyan (pemimpin kaum Quraisy). Orang-orang munafik mengatakan kalau Nabi Muhammad itu seorang Nabi tentulah Dia tidak akan mati terbunuh. Maka Allah menurunkan ayat ini untuk menenteramkan hati kaum muslimin dan membantah orang munafik itu.(Sahih Bukhari bab Jihad).

Abu Bakar r.a. membacakan ayat ini ketika terjadi kegelisahan di kalangan sahabat di hari wafatnya Nabi Muhammad s.a.w. untuk menenteramkan Umar Ibnul Khaththab r.a. dan sahabat-sahabat yang tidak percaya tentang kewafatan Nabi itu. (Sahih Bukhari bab Ketakwaan Sahabat).

إِنَّ اللهَ وَ مَلاَئِكَتِهِ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبـِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا.

Categories: ABS-SBK, Amar Makruf Nahi Munkar, Buku Buya, Buya Masoed Abidin, dakwah ilaa Allah, Komentar, Komentar Buya, Surau, Tauhid, Tulisan Buya, Uncategorized | Leave a comment

Hijrah Meninggalkan Jahiliyyah


وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan orang-orang yang berhaijrah karena Allah setelah mereka dianiaya. Pasti kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar kalau mereka mengetahui”

(Q.S. An Nahl: 41)

Peringatan Tahun Baru Hijriyyah selalu menyegarkan ingatan kita akan peristiwa Hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW beserta para sahabat beliau dari kota Makkah menuju Madinah. Sedemikian besar nilai yang terkandung di dalam peristiwa tersebut, sehingga Khalifah Umar bin Klathtbab r.a menjadikannya sebagai awal perhitungan tahun Islam. Menurut Prof. Dr. Nourouzaman Shiddiqi, MA dalam bukunya” Jeram-jeram Peradaban Muslim”, Tahun Hijriyyah ditetapkan oleh Umar bin Khaththab pada tahun ketujuh belas dihitung dari tahun terjadinya peristiwa Hijrah atau tahun kelima dari masa pemerintahannya (halaman 81).

Menurut Ibnu Qayyim al Jauziyyah, hijrah terdiri dan dua jenis besar.

Pertama, hijrah fisik, berupa perpindahan fisik baik personal maupun massal dari satu daerah ke daerah lain.

Kedua, hijrah hati nurani. Hijrah ini tidak sekedar memerlukan perpindahan fisik, melainkan lebih pada orientasi niat dan aktifitas hati. Berhijrah dalam bentuk kedua ini adalah berangkat dari sesuatu yang haram menuju yang halal. Meninggalkan sesuatu yang syubhat menuju yang haq. Mencampakkan sesuatu yang bersifat kemaksiatan dan kekufuran menuju rahmat dan ridha llahi. Menjauhi segala bentuk kedzoliman menuju kemaslahatan dan keadilan. Mencegah yang munkar, menganjurkan yang ma’ruf.

Meninggalkan yang dilarang oleh Allah dan mengerjakan yang diperintahkan-Nya. Memusnahkan tradisi dan budaya Jahiliyyah menuju tradisi dan budaya Islamy. Sebagaimana keterangan sebuah Riwayat yang bersumber dan Sayyidah ‘Aisyah r.a yang menerangkan sebuah hadits Rasulullah SAW “bahwa sesudah penaklukkan Makkah tidak ada lagi hijrah, melainkan yang ada adalah Jihad dan niat” (H.R. Ahmad).

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan, bahwa yang kita perlukan dan harus kita lakukan adalah hijrah rohani dengan cara mengamalkan seluruh ajaran Islam yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW dengan benar dan utuh serta menyeluruh, tidak setengah hari. Berjuang fi Sabilillah dengan harta dan pikiran, berbuat ihsan (kebajikan), melaksanakan semua perintah Allah dalam bentuk ibadah dan amal sholeh serta menjauhi semua yang dilarang oleh Allah SWT. Terakhir adalah menyegerakan tobat dan ingat mati. Dan yang tak kalah pentingnya dan makna hijrah bagi kita Ummat Islam saat ini adalah bagaimana sikap kita dalam memusnahkan tradisi dan budaya jahiliyyah dan kemudian melestarikan tradisi dan budaya yang Islami yang penuh ridho Allah SWT. Situasi batin yang demikianlah yang dirasakan oleh kaum Muslimin ketika berada dalam naungan Negara Madinah yang sepenuhnya tunduk kepada ketentuan Islam yang rahmatan lil ‘alamin itu.

Ada beberapa karakteristik Jahiliyyah yang perlu kita ketahui. Diantaranya adalah:

Pertama, pengkultusan individu. Allah SWT berfir-man: “Ingatlah hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata) “kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (Q.S. Az-Zumar :3)

Kedua,   bertahan dengan tradisi nenek moyang yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Dalam hal ini Allah SWT memaparkan dalam firman-Nya: “Apabila dikatakan kepada mereka: “ Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul, “Mereka menjawab, “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya“. Dan apakah mereka akan tetap mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula,) mendapat petunjuk?“ (Q.S Al Maa-idah:104)

Ketiga, perjudian dan minuman keras serta tradisi mabuk­-mabukkan. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaithan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat maka berhentilah kamu (dar mengerjakan perbuatan itu).” (Q.S Al Maidah : 90-91)

Keempat, perzinahan yang terlokalisir (Prostitusi) Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu mendekati Zina, Sesungguhnya Zina itu adalah suatu perbuatan keji. Dan suatu jalan yang buruk” (Q.S Al-Isra’: 32)

Kelima, tabarruj (khususnya bagi wanita. Suka ber-solek dan mempertontonkan keelokan tubuh dan kecantikannya kepada khalayak ramai). Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku (tabarruj) seperti orang jahiliyyah yang dahulu.“ (Q.S. Al Ahzab : 33)

Keenam, menganggap riba sama dengan perdagangan yang sah. Allah SWT berfirman: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaithan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demiklan itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesung-guhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dan mengambil nba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni nereka, mreka kekal di dalamnya”. (Q.S Al-Baqarah: 275)

Ketujuh, menganggap hukuman Allah tidak relevan dan menganggap enteng serta mempermainkannya. Allah SWT. Berfirman: “Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik dari pada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Q.S Al-Maidah: 50)

Sebagai penutup dari tulisan ini, marilah kita berdoa kehadirat Allah SWT semoga Allah selalu menjaga dan memelihara serta melindungi kemurnian aqidah yang telah kita miliki serta menyempurnakannya dengan rahmat serta hidayah-Nya yang pasti selalu kita idamkan. Dan hanya ridho-Nya lah yang kita harap.

Allahu A’lam bi as-Shawwab.

Wassalam

Buya H.Mas’oed Abidin

Categories: ABS-SBK, Adat Basandi Syarak, Buya Masoed Abidin, dakwah ilaa Allah, Hijrah, Komentar, Komentar Buya, Surau, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

Kuatkan silaturahim dan perbanyak sahabat, agar kesulitan yang datang dapat disambut dengan ikhlas dan sabar

oleh Masoed Abidin ZAbidin Jabbar pada 20 Juli 2011 jam 19:17

Sekencang apapun kita lari menjauhkan dari kesulitan atau ujian yang akan datang menghampiri kita,

namun kesulitan itu akan tetap menyentuh badan dan jiwa kita, bila masanya berkunjung telah tiba.

 

Rumusan “baja kehidupan” seperti ini, memang berlaku pada semua manusia,

bahkan juga berlaku untuk sang raja dan penguasa yang paling berkuasa sekalipun.

 

Tidak akan datang kepada kalian satu cobaan pun kecuali yang telah ditetapkan oleh Allah berlakunya pada diri seseorang.

 

Menyadari akan kuatnya hukum “takdir” dan “qadha” ini,

maka didikan kepada diri untuk selalu ikhlas ketika kesulitan datang berkunjung amatlah berguna.

 

Syukur sekali bila seseorang dapat tersenyum

ketika memeluk kesulitan yang datang bertandang seketika itu..

 

Tidak dibuat sakit dan frustrasi atas kesulitan yang datang menjelang

sejenak itu saja sebenarnya sudah amat sangat disyukuri.

 

Pelukan kebajikan dalam menetapkan kebijakan hidup seperti inilah

yang datang ketika sang hidup sempat membanting kiri kanan,

bahkan menghempas dari sebuah ketinggian.

 

Sakit memang, dan memang sakit dihimpit oleh kesulitan itu.

Akan tetapi akan lebih sakit dan menderita,

ketika saatnya kesulitan sudah tiba untuk datang berkunjung,

dimana kita tidak punya pilihan lain terkecuali

membukakan pintu kehidupan dengan penuh keredhaan.

 

Seterpaksa apapun

hanya keikhlasanlah satu-satunya

modal berguna dalam hal seperti ini …

Bila keikhlasan untuk bersabar telah sirna

di saat kemalangan dan kesempitan

datang bertandang ke tengah kehidupan ini,

tentulah sakit akan bertambah sakit

karena hilangnya tempat berteduh dan berpegangan.

 

Malang sangat orang yang kehilangan keiikhlasan di saat cobaan dan himpitan datang menjelang.

 

Senyum penerimaan ketika kesulitan tiba memang terasa kecut di bibir.

Sebagaimana halnya logam mulia yang mahal harganya

yang sedang ditempa menjadi perhiasan yang indah,

selalu akan melalui kesulitan demi kesulitan,

sedari semprotan panasnya api yang membara melumerkan,

kemudian dihajar oleh palu dan gergaji,

ditambah kerasnya cubitan tang,

ditambah goresan-goresan ampelas dan kikiran,

membentuk indahnya perhiasan,

dan akhirnya tempahan itu,

akan terpajang pada tempat yang mahal harganya.

 

Demikianlah seumpama perumpamaan

kalau badan dan jiwa ini ditempa dengan ujian dan cobaan

untuk menjadi kualitasnya lebih indah dan lebih sempurna dari sebelumnya.

 

Namun sudah sedemikian ujian dilalui,

akan tetap saja ada sisa-sisa ketakutan

yang membuat manusia selalu menghindar dari kesulitan…

 

Jalan yang paling baik adalah pasrah menerima ujian dari Allah dengan ikhlas dan shabar.

 

Selebar apapun goresan luka yang dibuat oleh kesulitan,

masih ada tersedia yang amat berguna

dalam menempuh pengalaman-pengalaman menyulitkan ini..

dia adalah s a h a b a t ….

 

Sungguhpun tidak semua sahabat fasih dalam memberikan n a s e h a t …

namun dengan kesediaan kita untuk mendengar,

dan pancaran sinaran mata yang berisi empati,

kesediaan untuk berbagi duka,

niscaya akan membuat   s a h a b a t   sejati itu menjadi berlian

yang amat berguna dalam keadaan kesulitan datang menghampiri…

 

Maka tiada lain yang perlu dikuatkan adalah

s i l a t u r r a h i m    jua adanya.

 

Amat merugi orang yang lari dari kesulitan

dan menjauh pula dari silaturahim

membangun sinerji dalam bersahabat yang baik …

 

Moga kita semua terhindar dari kecelaan yang sedemikian itu ..

A m i n ….

Categories: ABS-SBK, Amar Makruf Nahi Munkar, Buya Masoed Abidin, dakwah ilaa Allah, Education, Komentar Buya, Tulisan Buya | Leave a comment

Hijrah Meninggalkan Jahiliyyah


وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan orang-orang yang berhaijrah karena Allah setelah mereka dianiaya. Pasti kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar kalau mereka mengetahui”

(Q.S. An Nahl: 41)

Peringatan Tahun Baru Hijriyyah selalu menyegarkan ingatan kita akan peristiwa Hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW beserta para sahabat beliau dari kota Makkah menuju Madinah. Sedemikian besar nilai yang terkandung di dalam peristiwa tersebut, sehingga Khalifah Umar bin Klathtbab r.a menjadikannya sebagai awal perhitungan tahun Islam. Menurut Prof. Dr. Nourouzaman Shiddiqi, MA dalam bukunya” Jeram-jeram Peradaban Muslim”, Tahun Hijriyyah ditetapkan oleh Umar bin Khaththab pada tahun ketujuh belas dihitung dari tahun terjadinya peristiwa Hijrah atau tahun kelima dari masa pemerintahannya (halaman 81).

Menurut Ibnu Qayyim al Jauziyyah, hijrah terdiri dan dua jenis besar.

Pertama, hijrah fisik, berupa perpindahan fisik baik personal maupun massal dari satu daerah ke daerah lain.

Kedua, hijrah hati nurani. Hijrah ini tidak sekedar memerlukan perpindahan fisik, melainkan lebih pada orientasi niat dan aktifitas hati. Berhijrah dalam bentuk kedua ini adalah berangkat dari sesuatu yang haram menuju yang halal. Meninggalkan sesuatu yang syubhat menuju yang haq. Mencampakkan sesuatu yang bersifat kemaksiatan dan kekufuran menuju rahmat dan ridha llahi. Menjauhi segala bentuk kedzoliman menuju kemaslahatan dan keadilan. Mencegah yang munkar, menganjurkan yang ma’ruf.

Meninggalkan yang dilarang oleh Allah dan mengerjakan yang diperintahkan-Nya. Memusnahkan tradisi dan budaya Jahiliyyah menuju tradisi dan budaya Islamy. Sebagaimana keterangan sebuah Riwayat yang bersumber dan Sayyidah ‘Aisyah r.a yang menerangkan sebuah hadits Rasulullah SAW “bahwa sesudah penaklukkan Makkah tidak ada lagi hijrah, melainkan yang ada adalah Jihad dan niat” (H.R. Ahmad).

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan, bahwa yang kita perlukan dan harus kita lakukan adalah hijrah rohani dengan cara mengamalkan seluruh ajaran Islam yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW dengan benar dan utuh serta menyeluruh, tidak setengah hari. Berjuang fi Sabilillah dengan harta dan pikiran, berbuat ihsan (kebajikan), melaksanakan semua perintah Allah dalam bentuk ibadah dan amal sholeh serta menjauhi semua yang dilarang oleh Allah SWT. Terakhir adalah menyegerakan tobat dan ingat mati. Dan yang tak kalah pentingnya dan makna hijrah bagi kita Ummat Islam saat ini adalah bagaimana sikap kita dalam memusnahkan tradisi dan budaya jahiliyyah dan kemudian melestarikan tradisi dan budaya yang Islami yang penuh ridho Allah SWT. Situasi batin yang demikianlah yang dirasakan oleh kaum Muslimin ketika berada dalam naungan Negara Madinah yang sepenuhnya tunduk kepada ketentuan Islam yang rahmatan lil ‘alamin itu.

Ada beberapa karakteristik Jahiliyyah yang perlu kita ketahui. Diantaranya adalah:

Pertama, pengkultusan individu. Allah SWT berfir-man: “Ingatlah hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata) “kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (Q.S. Az-Zumar :3)

Kedua,   bertahan dengan tradisi nenek moyang yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Dalam hal ini Allah SWT memaparkan dalam firman-Nya: “Apabila dikatakan kepada mereka: “ Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul, “Mereka menjawab, “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya“. Dan apakah mereka akan tetap mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula,) mendapat petunjuk?“ (Q.S Al Maa-idah:104)

Ketiga, perjudian dan minuman keras serta tradisi mabuk­-mabukkan. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaithan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat maka berhentilah kamu (dar mengerjakan perbuatan itu).” (Q.S Al Maidah : 90-91)

Keempat, perzinahan yang terlokalisir (Prostitusi) Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu mendekati Zina, Sesungguhnya Zina itu adalah suatu perbuatan keji. Dan suatu jalan yang buruk” (Q.S Al-Isra’: 32)

Kelima, tabarruj (khususnya bagi wanita. Suka ber-solek dan mempertontonkan keelokan tubuh dan kecantikannya kepada khalayak ramai). Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku (tabarruj) seperti orang jahiliyyah yang dahulu.“ (Q.S. Al Ahzab : 33)

Keenam, menganggap riba sama dengan perdagangan yang sah. Allah SWT berfirman: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaithan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demiklan itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesung-guhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dan mengambil nba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni nereka, mreka kekal di dalamnya”. (Q.S Al-Baqarah: 275)

Ketujuh, menganggap hukuman Allah tidak relevan dan menganggap enteng serta mempermainkannya. Allah SWT. Berfirman: “Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik dari pada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Q.S Al-Maidah: 50)

Sebagai penutup dari tulisan ini, marilah kita berdoa kehadirat Allah SWT semoga Allah selalu menjaga dan memelihara serta melindungi kemurnian aqidah yang telah kita miliki serta menyempurnakannya dengan rahmat serta hidayah-Nya yang pasti selalu kita idamkan. Dan hanya ridho-Nya lah yang kita harap.

Allahu A’lam bi as-Shawwab.

Wassalam

Buya H.Mas’oed Abidin

Categories: ABS-SBK, Adat Basandi Syarak, Buya Masoed Abidin, dakwah ilaa Allah, Hijrah, Komentar, Komentar Buya, Surau, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

Hijrah spiritual kedua adalah hijrah kepada Rasulullah SAW.

Hijrah Spritual

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

“Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dan Allah untukmu.”  (Q.S. Adz Zariyat : 50)

Menurut Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Hijrah ada dua macam: Hijrah fisik, yakni hijrah dan sebuah negeri ke negeri lain dan Hijrah spiritual, yakni hijrahnya hati manusia kepada Allah dan Rasul-Nya.

Hijrah spiritual yang dimaksud dengan perjalanan kembalinya seorang hamba dengan penuh ketataan (itha’ah) kepada Allah dan rasul-Nya adalah sebuah penjalanan yang harus ditempuh oleh setiap hamba. Karena hanya dengan kembali kepada Allah dan rasul-Nya ia terjamin dan azab yang mengancamnya. Disamping hijrah inilah yang dituntut dan diinginkan oleh Sang Pencipta dan hamba-hamba-Nya.

Hijrah spiritual pertama; Hijrah ‘dar’ dan ‘menuju’ Allah SWT (Firaarminallah wa firaar ilallah)

Ada dua unsur yang terkandung di dalam hijrah; ‘dari’ (permulaan) dan ‘menuju’ (tujuan). Yang dimaksud firaar minallah adalah suatu keyakinan bahwa segala sesuatu berawal dan berasal dar dan atas kehendak Allah yang Maha Esa. dan mengimani bahwa segala taqdir berasal dar Allah. Sebab segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah pasti akan terjadi. Dan segala sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Allah, maa tidak akan pemah terjadi. Inilah yang dikatakan hijrah dan Allah menuju Allah. Di dalam hijrah ini tendapat unsur tauhid Rubuhiyy’ah.

Bentuk hijrah firaar minallah ini dapat kita tauladani dar kehidupan Rasulullah SAW, diantaranya ialah yang dapat kita temukan dalam do’a-do’a beliau.

Diantara do’a-do’a beliau adalah:Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasai, dan Ibnu Majah, dan Saiydah ‘Aisyah r.a bahwa Rasulullah SAW pernah bendo’a di waktu sedang sujud: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan dengan ridha-Mu dari murka-Mu, (aku berlindung kepada-Mu) dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu, dan aku memohon penlindungan dengan-Mu dari-Mu. Aku tidak menghitung jumlah pujian yang aku sampaikan kepada-Mu sebagaimana Engkau memuji Dzat-Mu sendiri”

Diriwayatkan dan Al Barra’ ibn ‘Azib, dia berkata Rasulullah SAW bersabda: “Jika kamu menghampiri tempat pembaringanmu. maka berwudhu’lah (terlebih dahulu) sebagaimana kamu berwudhu’ untuk shalat. Setelah itu berbaringlah kamu di atas sisi tubuh yang sebelah kanan. Ke-mudian berdo’a: “Ya Allah, sesungguhnya aku telah menye-rahkan jiwaku kepada-Mu, menghadapkan wajahku kepada-Mu, menggantungkan urusanku kepada­Mu dan mengem-balikan diriku kepada-Mu. Tidak ada tempat kembali dan tempat menyelamatkan diri dari-Mu kecuali kepada-Mu.“(HR. Bukhari)

Sesungguhnya firaar ilallah lah adalah mengandung pengertian bahwa seseorang hanya mengesakan Allah ketika mencari sesuatu dan ketika mengerjakan sesuatu sehiggga semua yang ia lakukan mempunyai nilai ketaatan dan ibadah kepada Allah.

Oleh karena itu hendaklah seseorang berhijrah dan mahabbah (kecintaan) kepada selain Allah menuju mahabbah kepada Allah SWT. Hendaklah seseorang hijrah dar penghambaan terhadap selain Allah menuju penghambaan kepada Allah. Hendaklah seseorang hijrah dan khauf (merasa takut), raja’ (mengharap) dan tawakkal (berserah diri) kepada selain Allah menuju hijrah merasa takut, mengharnap dan berserah diri kepada Allah semata. Hendaklah seseorang hijrah dan berdo’a, meminta, tunduk, dan merendah kepada selain Allah menuju hijrah untuk berdo’a, meminta, tunduk dan merendah hanya kepada Allah t’ala. Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan firaar ilallah (hijrah kepada Allah), sebagaimana firman Allah dalam surat Adz-Dzaariyat ayat 50. Dan di dalam firaar ilaallah ini terkandung unsur tauhid ilahiyyah.

Sesungguhnya hijrah kepada Allah mengandung dua pengertian: Pertama, hijrah dan sesuatu yang tidak disenangi oleh Allah. Kedua, mendatangi sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh-Nya. Sedangkan pangkal dar dua pengertian hijrah pada Allah dimaksud adalah rasa cinta dan benci; cinta untuk mengerjakan sesuatu yang diridhai Allah dan benci terhadap sesuatu yang dilarang Allah.

Orang yang hijrah dari sesuatu menuju sesuatu harus lebih mencintai sesuatu yang akan dia tuju dari pada yang akan dia tinggalkan. Oleh karena itu seseorang wajib untuk berhijrah kepada Tuhannya setiap saat hingga ajal menjemputnya. Disinilah diperlukannya sikap istiqamah.

“Amal ibadah yang paling dicintai Allah adalah yang selalu kontinu (terus ­menerus dilakukan) meskipun sedikit“(H.R. Saiydah ‘Aisyah)

Mengenang peristiwa Hijrah dalam rangka menyambut Tahun Baru Hijriyah 1432

Hijrah kepada Rasulullah SAW adalah ketaatan dalam melaksanakan sunnah Rasulullah SAW yang diwu-judkan dalam kehidupan sehari-hari, mencontoh keteladanan akhlaq beliau yang mulia, sehingga kita merasakan seakan kita hidup bersama dan dengan Rasulullah SAW. Salah satu corak kepribadian dan gaya kehidupan beliau yang harus kita contoh adalah sebagaimana yang kita dapati dalam ungkapan penuh hikmah Syeikh Ja’far Al Barzanjy dalam buku monumentalnya Al-Barzarjie;

“Nabi SAW adalah seorang yang sangat pemalu dan tawadhu’, mau memperbaiki sandalnya, menambal dan menjahit pakaiannya, memeras susu kambingnya serta melayani keluarganya dengan cara yang baik. Beliau suka kepada orang-orang fakir dan miskin, suka duduk-duduk bersama mereka, sering mengunjungi mereka yang sakit serta mengantar jenazah mereka. Beliau sama sekali tidak mau meremehkan orang fakir yang sangat menderita dan dikecam kefakiran. Beliau duduk gentar menghadapi pura raja, beliau marah karena Allah dan ridha semata-mata karena ridha Allah. Beliau pernah menyelipkan batu di perutnya untuk mengurangi rasa lapar, meskipun beliau telah dianugerahi segala kunci kekayaan bumi. Beliau senantiasa mempersedikit perkataan yang tidak bermanfaat dan selalu memulai mengucapkan salam jika bertemu dengan seseorang. Beliau suka bergaul dengan orang-orang yang berbudi mulia dan memuliakan orang-orang yang terhormat. Beliau suka bergurau (‘bercanda,) tetapi tidak mengatakan sesuatu kecuahiperkataan yang benar yang disukaiAllah Ta ‘ala dan yang diridhai-Nya.

 

Wassalam

Buya H. Mas’oed Abidin

Categories: ABS-SBK, Amar Makruf Nahi Munkar, Buya Masoed Abidin, Education, Hijrah, Komentar, Komentar Buya, Pendidikan, Surau, Tauhid | Leave a comment

Wisata Religi Pariaman Syekh Burhanuddin, Dari Marapalam Menuju Adat Basandi Syarak M. Rizal – detikNews

Kamis, 22/07/2010 18:06 WIB
Wisata Religi Pariaman
Syekh Burhanuddin, Dari Marapalam Menuju Adat Basandi Syarak
M. Rizal – detikNews


Foto: Rizal / detikcom

Pariaman – Makam Syekh Burhanuddin di daerah pantai Ulakan, Pariaman, Sumatera Barat tampak resik. Makam Syeikh Burhanuddin terletak di dalam sebuah kompleks pemakaman khusus yang dikelilingi pagar tembok setinggi dua meter. Di kiri dan kanan makam Syeikh Burhanuddin terdapat makam para penggantinya. Sementara di bagian luar, berderet sejumlah kios atau lapak para pedagang cenderamata, kitab, dan juga makanan.

Tidak sulit untuk mengetahui sejarah sang ulama. Para penjaga makam dengan ramah akan menjelaskan panjang lebar sejarah ulama besar Minang ini. Bahkan di sekitar areal makam, dijual pula buku sejarah Syekh Burhanuddin. Salah satunya bersumber dari naskah Arab Melayu berjudul ‘Surat Keterangan Saya Faqih Saghir Ulamiyah Tuanku Samiq Syekh Jalaluddin Ahmad Koto Tuo’, yang ditulis tahun 1823.

Syekh Burhanuddin adalah seorang ulama dan pengembang agama Islam di Minangkabau yang dilahirkan di Guguk Sikaladi Pariangan, Padang Panjang dengan nama kecil Pakiah Pono. Ayah Pono bernama Pampak Sakti gelar Karimun Merah dan Ibunya bernama Cukup Bilang Pandai. Pono mendapat nama baru Burhanuddin, ketika belajar agama Islam selama 15 tahun kepada Syeikh Abdur Rauf bin Ali Al Fansuri Al Jawi Assingkili atau Syah Kuala di Aceh.

Sebelum belajar di Aceh, Pakiah Pono sempat belajar kepada Syeikh Madinah. Sekembali dari Aceh, Syekh Burhanuddin membawa ajaran Tariqat Syatariah ke Ulakan dan menyebar ke sejumlah daerah Minangkabau. Ilmu pengetahuan Syeikh Burhanuddin dinilai tinggi karena tempaan dari Mufti Kerajaan Iskandar Muda, Aceh, Syeikh Abdur Rauf ini menjadikannya piawai dalam persoalan kenegaraan.

Bahkan, karena kepiawaian ilmu politiknya itu, Syeikh Burhanuddin mencapai kesepakatan dengan pemimpin Kerajaan Minangkabau. Kesepakatan itu adalah bahwa hukum adat dan hukum agama sama-sama dipakai sebagai pedoman hidup dalam masyarakat di Minangkabau. Ketentuan adat dan hukum agama Islam dalam masyarakat Minangkabau yang matrilineal sebagai suatu proses integrasi lebih dikenal dengan ‘Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah’.

Kesepakatan itu dibuat di Bukit Marapalam antara para tokoh adat dan kerajaan di Minangkabau ini, terkait adat yang kuat saat itu dengan berkembangnya ajaran Islam. Karena sempat terjadi pergolakan saat itu, dengan pendekatan Syeikh Burhanuddin yang sangat halus dan penuh kesopanan itu maka tercapailah kesepakatan antara rakyat dan ulama pada tahun 1668.

Konsepsi Marapalam ini dengan kerendahan hati disampaikan ke hadapan daulat Raja Pagaruyung. Kepada pembesar kerajaan dimintakan pertimbangan yang diterima dengan suara bulat. Syeikh Burhanuddin dan pengikutnya diberikan kebebasan seluas-luasnya mengembang agama Islam di seluruh Minangkabau.

Kesepakatan itu cepat tercapai dengan waktu singkat, karena Syeikh Burhanuddin memegang teguh falsafah gurunya, Syeikh Abdur Rauf, yaitu ‘Adat Bak Po Teumeureuhum, Hukom bak Syiah Kuala’ atau adat kembali pada raja Iskandar Muda, hukum agama pada Syiah Kuala. Perjanjian Marapalam kemudian berkembang menjadi suatu proses penyesuaian terus menerus antara adat dan agama Islam, saling menopang sebagai pedoman hidup masyarakat Minangkabau.

(zal/fay)

http://www.detiknews.com/read/2010/07/22/180649/1404869/159/syekh-burhanuddin-dari-marapalam-menuju-adat-basandi-syarak?881103605

Categories: ABS-SBK, Sejarah | Leave a comment

Generasi Muda dan ABSSBK

Generasi Muda dan Internalisasi ABS-SBK
Rabu, 14 Januari 2009
Oleh : Marjohan, Sekretaris PW Muhammadiyah Sumbar 1990-1995
Mengacu pada terminologi Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI),

pemuda atau generasi muda  adalah manusia yang berumur 17—40 tahun.

Sedangkan dalam Tarekh Islam (tahun ke 40/’Amul Fiil, Tahun Gajah),

Khalifah Ali bin Abi Thalib (20–an tahun), disebut oleh Nabi Muhammad SAW

sebagai pemuda, ketika mengikrarkan dua kalimat syahadat di hadapan Rasul,

sewaktu beliau baru saja menerima wahyu pertama di Gua Hira,

pada 14 abad lampau!

Gelora generasi muda tersebut antara lain berupa heroisme, romantisme dan

aktualisme. Dalam kancah kehidupan yang digumulinya, figur generasi muda,

baik individual maupun kolektif, selalu punya obsesi menujukkan jati diri

(self actualization) sebagai manusia yang punya makna atau arti sebuah hidup.

Mereka mampu menyandang tanggung jawab (mas’uliyah/accountability) betapa

pun beratnya. Mereka berusaha gigih memunculkan potensi diri sebagai manusia

kaya poweritas tinggi. Aura jiwa mudanya kerap menggeliat ke permukaan.

Terutama ketika kondisi sosial objektif masyarakat sedang labil.

Berbekal potensi diri plus aura muda itu pula, generasi muda sepanjang

perjalanan sejarah, senantiasa memosisikan diri sebagai pilar kekuatan umat /

masyarakat; motivator kebangkitan umat; dan penegak nilai kemuliaan; serta

penegak tiang pancang nilai budaya.  Lebih dari itu, generasi muda adalah juga

pembawa panji–panji kebenaran (al–haq), serta pengawal barisan bagi menjuluk

kemenangan dan kemaslahatan umat. Seabreg perspektif ideal konsepsional

tersebut, bukan berarti generasi muda sunyi dari permasalahan rumit yang

mengitari bahkan mengintainya tiap saat.

Sebagai akibat alam global yang kian merangkak maju, tak sedikit  generasi

muda yang terkontaminasi, sehingga mereka terjerembab ke dalam lumpur

kenistaan yang mengkhawatirkan banyak orang.

Dekadensi moral dalam berbagai bentuk dan manifesasinya, menjadi

pemandangan yang menyesakkan rongga dada. Indikasinya?

Yang namanya kumpul kebolisme, vandalisme, brutalisme dan anarkisme,

menghiasi media cetak dan media elektronik hampir tiap saat.

Kondisi bisa kian runyam, sebab selain kerapuhan kepribadian yang acap-kali

menggerayangi generasi muda, social control dari orang tua selaku pendidik

utama pun amat lemah. Ironisnya, regulasi dan program pemberdayaan generasi

muda, yang digulirkan legislatif dan eksekutif, terkesan hanya menyentuh kulit–

kulit bawang, demi meraup tujuan–tujuan sehasta ke depan  (materialistis,

pragmatis dan politis-praktis).

Akibat dari semua itu, sebagian generasi muda sepertinya masih renggang dari

prinsip–prinsip Islam secara substansial dan normatif doktrinal.

Khusus di  Minangkabau, kredo Islam substantif yang bertelekan pada al-Qur,an

dan Sunnah Rasul yang shahih lagi mutawatir itu, diungkapkan dalam satu

adagium : Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABSSBK).

Syarak (syari’at) mangato adat mamakai!

Menelusuri lebih intens hal ihwal ABSSK, sampai kini tetap saja mengapung

ke perumahan pecaturan  pemikiran dari berbagai kalangan. Kaum literati adat,

berpendapat bahwa ABSSBK dideklerasikan di Puncak Pato Bukik Marapalam,

Lintau Luhak nan Tuo, Tanah Datar.

Ungkapan adat yang kerap dipakai atas konsensus kaum adat dan kaum Agama

ini adalah “adat basentak turun (dari darek/darat ke pesisir/Pariaman),

dan Syarak basentak naiak” (dari pesisir/pantai ke darek).

Lalu, berpijak pula pada rumusan Seminar Nasional 200 Tahun Tuanku Imam

Bonjol dan Tuanku Rao, 17–18 Desember 2008, di Lubuk Sikaping–yang

dinara-sumberi sejarawan Prof. Dr. Taufik Abdullah, Drs. Syafnir Aboe Nain,

Dr. Haedar Nashir, Prof. Dr. Mestika Zed, Prof. Dr. Gusti Asnan, Dr. Saafroeddin

Bahar dan Dr. Ichwan Azhari (dimoderatori Pimpinan Harian Padang Ekspres,

St. Zaili Asril & Budayawan/Sastrawan Darman Moenir), dikatakan bahwa

deklerasi Bukik Marapalam, kurang didukung fakta sejarah yang shahih lagi

akurat, dan sangat riskan untuk dipertanggungjawabkan secara ilmiah

berorientasi historis.

Kalau begitu duduk perkaranya, lalu bagaimana pula kajian kaum substansialis

dan historikalis adat tentang ABSSBK?

Bertolak dari penelusuran panjang lagi menukik sejarawan Syafnir Aboe Nain

— seperti dicurai-paparkan di forum seminar tersebut, ditemui bahwa kredo

adat bersendi Syarak, punya tali-temali dengan gerakan Padri dengan tokoh

sentral Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Rao dan Tuanku Tambusai.

Beliau–beliau inilah yang digelari  Prof. Dr. Hamka (1971) sebagai trio pembaru

pemikiran Islam (tajdidu fi al-Islam ) di, dan dari Minangkabau/Melayu.

Sebelumnya, ulama kharismatik dan sejarawan otodidak ini,

telah pula menyematkan trio pembaru Islam terhadap Haji Miskin, Haji Piobang

dan Haji Soemanik (1803–1807)—yang  berhasil secara  spektakuler meletakan

kerangka dasar gerakan Padri.

Senada dengan Hamka, sejarawan Syafnir Aboe Nain, juga lebih cendrung

menyebut Padri sebagai sebuah gerakan. Bukan perang Padri yang dalam

versi penulis-penulis Belanda, justru telah menyemburatkan konflik horizontal

antara kaum Agama dan kaum adat, seperti yang dipahami masyarakat dan

generasi muda selama ini.

Soalnya, yang namanya terminologi gerakan berkonotasi penelusuran sejarah

pemikiran Islam, yang mengandung sekebat gagasan, tindakan, pelaku, visi-misi

dan perjuangan, serta implementasinya dalam dinamika masyarakat yang dicita

dan dicitrakan Dinul Islam.

Yaitu suatu tatanan masyarakat yang berkualitas (khaira ummah /

QS ali-Imran : 110), dalam semua dimensi kehidupan.

Dengan kata lain, gerakan Padri yang bibitnya telah disemai Haji Miskin,

Haji Piobang, dan Haji Soemanik, Tuanku Nan Renceh dan Tuanku Mansiangan

(1803), punya obsesi besar, merajut masyarakat yang seimbang antara

aspek ‘aqidah, ‘ibadah, akhlaqu al-karimah, dan mu’amalah dunyawiyah.

Yang disebut penggal akhir, tak cuma berkutat dalam hal sosial politik,

yang lebih penting  penggawe Padri juga menggerakkan ekonomi kerakyatan

berbasis kultural (Chrestine Dobbin, 2007).

Guna mewariskan platform gerakan plus keperjuangan Padri tersebut,

Tuanku Imam Bonjol justru menuangkan pemikiran yang bergelayut di dada

(al-‘ilmu fish-shudur/ilmu & hikmah bersumber di dada), dan di kepala beliau

menjadi sebuah buku, yaitu “Naskah Tuanku Imam Bonjol”–yang kemudian

dilanjutkan anaknya, Sultan Chaniago.

Dalam dokumen yang semula berserak-serak, lalu disadur  Syafnir Aboe Nain

(2007), dengan tajuk yang sama, didapatkan penjelasan tentang proses lahirnya

(hukum) Adat Bersendi Syara’. ***

http://www.padangekspres.co.id/content/view/28080/55/

Categories: ABS-SBK, Globalisasi, Tauhid, Tuanku Imam Bonjol, Uncategorized | Leave a comment

Urgensi Hijrah

Kiat MEnumbuhkan Militansi Ummat

Oleh : H.Mas’oed Abidin

Fenomena Hijrah

past-photo-masoed-abidinHijrah berarti pindah kenegeri lain – emigrasi / eksodus – [1].

Dalam sejarah Islam, hijrah Rasul adalah satu peristiwa Sirah Nabawi (sejarah Rasulullah SAW) bersama-sama Mukminin pindah dari Makkah ke Madinah pada satu setengah millenium yang lalu, dan kemudian menjadi awal penghitungan tahun baru Islam di zaman Sahabat Umar Ibnu Al-Khattab RA di saat menjabat Khalifah III sesudah wafatnya Rasulullah SAW.

Hijrah bukan melarikan diri karena takut siksaan, atau karena tekanan musyrikin Quraisy semata. Hijrah adalah satu peristiwa penting yang menjadi titik awal — starting-point — kebangkitan Dakwah Islam, dedikasi keyakinan Tauhid — beriman kepada Allah, bukti kepatuhan, buah kesetiaan –, ketaatan kepada prinsip-prinsip ajaran tauhid.

Hijrah adalah jawaban tegas seorang mukmin atas seruan Allah, tanda kecintaan sejati – mahabbah — kepada Muhammad Rasulullah SAW. Cinta akan Allah dan Rasul SAW dibuktikan oleh kemampuan menundukkan kecintaan kepada harta benda, sanak keluarga dan kerelaan menggantinya dengan keikhlasan menerima Ajaran Islam.

Hijrah adalah fenomena kekuatan umat Mukminin. Citra ajaran dan latihan dari Rasulullah SAW,– ujian menghadapi krisis — akan tersua sepanjang masa. [2]

Hijrah adalah gerakan nyata dari interpretasi Wahyu Al Quran. Hijrah adalah kebenaran perjalanan sejarah manusia pemilik keyakinan tauhid — berakidah Islam — sepanjang masa, siap sedia melaksanakan reformasi actual — menanggalkan kehidupan jahili — menumbuh biasakan karakter masyarakat Sunnah – Islami — dalam membentuk generasi Qurani.

Membentuk Militansi Khayra Ummah

Hijrah pada hakekatnya melahirkan militansi – bersemangat, penuh ghairah dalam melakukan sesuatu (lihat KUBI, hal.898) – di tengah ummat tauhid itu.

Militansi menampilkan sosok umat bermutu — khaiyr-ummah –, yakni umat yang siap memikul tanggung jawab manusiawi – menjadi khalifah Allah di muka bumi – itulah puncak kewibawaan ajaran Islam.

Setiap upaya menjadikan Islam sebagai agama yang haq (benar) dari Allah oleh ummat yang militan — secara pasti tidak bisa dirusak oleh perdayaan dan tekanan dari golongan musyrikin – atheism — Quraisy.

Dalam fenomena kekinian — di era global dan arus kebebasan informasi – tekanan paham-paham – atheis, sekuler, anarchism, permissivism – dalam bentuk neo-communism bergenetika tidak berakhlaq.

Militansi ummat mengamalkan ajaran Islam – di antaranya menampilkan akhlak Islami yang karimah – menjadi satu-satunya benteng terkuat melindungi harkat-martabat kemanusiaan.

Militansi Muhajirin — umat yang tidak cemas dan takut – berhadapan dengan penangkapan, pemenjaraan, pembunuhan, pengusiran, penculikan, pengucilan, intimidasi — dari pihak Jahiliyah Qureisy –, tidak takut menentang kemusyrikan maupun atheis – laa diniyah –, walau dalam masa yang panjang tidak boleh berhubungan dagang — embargo ekonomi — serta bermacam usaha makar yang diperlakukan terhadap Rasulullah SAW dan orang-orang Mukmin di masa itu. [3]

Tantangan Ummat Di Depan

Kebiasaan sikap Masyarakat Jahiliyah yang selalu menyembah berhala, hilangnya batas halal-haram, berkelakuan keji tercela — zina, sadis, miras, korupsi, kolusi, manipulasi, hedonis dan riba, dan segala bentuk p[enyakit masyarakat –, menjadi ancaman terhadap jiran, memutus silaturrahim dengan membahayakan ketenteraman tetangga, yang kuat menelan yang lemah.[4]

Strukturisasi ruhaniyah Risalah Muhammad SAW, dikenal shiddiq (lurus, transparan), amanah (jujur), tabligh (dialogis), fathanah (ilmiah), memancangkan keyakinan bersih kepada kekuasaan Allah Yang Esa (tauhidiyah), percaya kepada hari berbangkit (akhirat), disiplin dalam beribadah (syari’at), memiliki optimisme yang tinggi terhadap luasnya bumi (rezki), hidup dalam kesaudaraan mendalam (mu-akhah), — sesungguhnya adalah bentuk-bentuk militansi yang dikiatkan dan di kaitkan kepada setiap pribadi mukmin –, siap sedia untuk berhijrah – tidak ada hijrah lagi sesudah futuh Makkah, dan yang sebenar hijrah itu adalah meninggalkan apa-apa yang dilarangkan oleh Allah – maka hijrah sedemikian semata-mata dikerjakan hanya mengharapkan balasan (pahala) dari Allah semata.[5]

Hijrah telah menjadi ketetapan operatif yang berlangsung terus menerus dalam proses restrukturisasi masyarakat baru, — tegak dengan ikatan kepercayaan, dengan prinsip dasar yang lebih tinggi dari sekedar hubungan solidaritas kelompok ‘ashabiyah, nepotisme –.

Kemudian, tumbuh-kembang menjadi masyarakat majemuk pertama yang hidup diatas landasan keadilan berkemakmuran dengan kekayaan — iman, harta dan ilmu – menjadi sumber kekuatan dalam membangun.[6] Nash (teks) Al Quran membuktikan pula bahwa masyarakat Madinah tumbuh berkeamanan yang tenteram serta dihuni tidak hanya oleh umat Mukmin — homogrenitas agama –, tapi juga oleh Yahudi-Nashara (Judeo-kristiani) dan bahkan kalangan Munafik (hipokrit).

Hijrah telah membentuk tatanan masyarakat yang terbuka untuk semua. Kesempatan berkembang mencari kehidupan berdasar hak asasi yang sama bagi semua anggota masyarakatnya — tidak ada kelompok yang bisa mencegah berbagai anggota masyarakatnya untuk maju –, menjadi salah satu keutamaan yang ditampilkan Islam membangun satu masyarakat yang kuat berdasarkan sikap saling mengasihi (ukhuwwah dan mahabbah) dan saling membantu (ta’awun). Peradaban Islami yang tinggi melahirkan suatu lingkungan yang sehat politik, ekonomi, kebudayaan dan materil, memungkinkan manusia mengarahkan dirinya untuk menyembah Allah dalam semua kegiatan — lihat QS.Tahrim,ayat 6 — tanpa rintangan dari institusi-institusi yang memerintah di masyarakat itu.

Khulasah

  • Masyarakat akan tetap dianggap terbelakang sepanjang ia gagal menciptakan satu lingkungan yang tepat untuk menyembah Allah sesuai dengan syari’at-Nya. Tidak dapat disangkal bahwa Islam dan Iman mampu membangkitkan motivasi kuat dengan keyakinan diri yang unggul dengan militansi penghayatan dan pengamalan syari’at agamanya.
  • Memiliki kebebasan terarah dan bertanggung jawab, baik secara moral maupun intelektual adalah menjadi satu catatan kaki dari sejarah hijrah yang tak boleh di abaikan.
  • Generasi umat Islam hari ini harus mampu mencapai visi baru dalam gelombang kesadaran Islam. Pengaruhnya akan tampak jelas dalam tatanan kehidupan duniawi.
  • Hanya kelompok Yahudi (zionis) yang tidak akan pernah diam. Mereka akan selalu berupaya sekuat daya agar manusia senantiasa mengikut millah (konsepsi dan cara-cara) mereka. Walan tardha ‘ankal yahauudu wa lan-nashara hatta tattabi’ millatahum (QS.2:120).

Wallahu a’lamu bis-shawaab

.

Padang, Muharram 1430 H


[1] Al ‘Ashry, Kamus Kontemporer Arab Indonesia, Atabik Ali, Ahmad Zuhdi Mudhor, Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, Cetakan Pertanma, 1996, hal.1966. dan lihat juga Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al Munawwir Pustaka Progressif Surabaya 1997, hal. 1489.

[2] “ wadzkuruu idz antum qalilun, mustadh-‘afuuna fil-ardhi. Takhaa-fuuna an yatakhat-tafakumun-naasu. Fa awaakum, wa ayyadakum bi nashrihi, wa razaqakum minat-thaiyibaati, la’allakum tasykurun”, artinya ; Dan ingatlah (hai para Muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas dipermukaan bumi (Makkah), kamu takut orang-orang (Makkah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (di Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongannya, dan diberinya kamu rezeki dari yang baik-baik, agar kamu bersyukur” (QS.8, al-Anfaal :26).

[3] ”wa idz yamkuru bikal-ladzina kafaruu, liyutsbituuka aw yaqtuluuka, aw yugrijuuka. Wa yamkuruuna, wa yamkurullahu. Wallahu khairul makirina” , artinya :Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakan kamu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya” (QS.8, al Anfal :30).

[4] Lihat “Al Islam Ruhul Madaniyah”, berisi jawaban Sahabat Ja’far bin Abi Thalib kepada Kaisar Negus di Habsyi.

[5] “Wa man yuhaajir fii sabiilillahi yajid fil-ardhi muraghaban katsiraran wa sa’ah. Wa man yakhruj min baitihi muhajiran ilallahi wa rasulihi tsumma yudrikhul mautu faqad waqa’a ajruhu ‘alallahi. Wa kanallahu ghafuran rahiman” artinya Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati dimuka bumi ini tempat berhijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ketempat yang dituju), maka sesungguhnya telah tetap pahalanya disisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.4, an-Nisa’:100).

[6] Sejarah kemudian membuktikan betapa Shahabat Ali bin Abi Thalib pernah diadili atas aduan seorang Yahudi dengan dakwaan pemilikan seperangkat baju besi oleh seorang hakim Muslim dan akhirnya demi hukum dan keadilan Ali bin Abi Thalib bisa di kalahkan lantaran tidak dapat mengetangahkan bukti-bukti di pengadilan (mahkamah).

Categories: ABS-SBK, Amar Makruf Nahi Munkar, Hijrah, Komentar Buya, Sejarah, Tulisan Buya | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.