Dakwah Komprehensif

Konsep Masyarakat Madani dengan bimbingan Agama menuju Pemerintahan yang amanah

Gambar

Konsep Masyarakat Madani dengan bimbingan Agama

menuju Pemerintahan yang amanah

Oleh :

H. Mas’oed Abidin

 

Reformasi Menyikapi Perubahan Zaman

PEMBINA PERILAKU berakhlak menjadi kerja utama sepanjang masa. Sejak dulu, bangsa ini  sudah memiliki tata laku masyarakat sopan dan santun. Memiliki akhlak yang terpuji. Hidup beradat dalam tatanan yang shahih. Mengelola gerak kehidupan dengan pemahaman dan pengamalan nilai nilai haya’ (malu) dengan benar. Dalam kearifan lokal masyarakat Sumatera Barat disebutkan Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, Kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek, Nak urang Koto Hilalang, nak lalu ka Pakan Baso,  Malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso. Pembinaan terpadu masyarakat ini berawal dari lingkungan (rumah tangga dan wilayah) dengan menata kehidupan berbudi. Memacu gerak mencerdaskan umat. Mengokohkan aqidah tauhid yang kuat, mengamalkan Firman Allah.[1] 

Kini kita sedang menghadapi satu perubahan zaman. Perubahan adalah satu keniscayaan belaka, bahwa zaman senantiasa berubah dan musim selalu berganti. Perubahan dalam arus kesejagatan di era global. Seringkali membawa infiltrasi kebudayaan luar. Ketika pengamalan pelaksanaan adat istiadat masyarakat dalam wilayah administrasi pemerintahan Provinsi Sumatera Barat, tidak lagi kukuh pada puncak budaya ABSSBK maka mulai jalan di alieh urang lalu, sukatan di pancuang urang panggaleh. Pengaruh materialistic telah mengabaikan kaidah nilai-nilai tatalaku masyarakat beradat dan beragama. Penetrasi kebudayaan global telah menyuburkan kehidupan individualistic yang kental. Mengalahkan kepentingan masyarakat bersama. Idealisme kebudayaan mulai menjadi sasaran cercaan. Budaya jujur dianggap kolot. Pencapaian hasil kebersamaan (kolektifiteit) menjadi sangat tipis. Amanah menjadi rapuh. Kejujuran tidak bermakna lagi. Kerajinan dan kesetiaan diukur dengan jumlah pendapatan yang didapat. Pergeseran itu semestinya diamati dengan cermat. Kehidupan tanpa kawalan aturan jelas, pasti berdampak kepada kinerja dan praktek pemerintahan juga. Selain pula berakibat terhadap pengelolaan wilayah dan asset.

Pergeseran nilai ini juga bersintuhan langsung dengan pemeliharaan budaya bangsa dan budaya negara. Budaya negara kita Indonesia adalah UUD45, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI. Sedangkan budaya bangsa Indonesia adalah puncak puncak budaya daerah. Ketika kedua budaya itu melemah, perilaku yang mengedepan adalah perebutan prestise berbungkus materi. Menghadirkan prestasi yang memberi manfaat kepada rakyat banyak kurang diminati. Padahal masyarakat madani (civil society) dengan panduan nilai nilai reliji menyajikan motivasi hidup. Mendorong mobiltas horizontal (hablum min an-naas) dan mobilitas vertical (hablum min Allah) dalam gerakan amal. Menumbuhkan jiwa inovatif yang sarat dinamika dan kreativitas. Bersikap ikhlas dan tawakkal. Semestinya dari sisi ini reformasi watak di mulai untuk mendudukkan reformasi birokrasi. Tantangan besar hari ini adalah menata ulang masyarakat (replanting values) dengan nilai berketuhanan dan budaya. Menjaga martabat bangsa dan negara. Sasarannya menuju madaniyah (modern, maju, beradab). Menanamkan etika reliji dengan akhlak mulia adalah modal utama menapak alaf baru. Manakala nilai moral ini sudah pupus, pastilah bangsa ini akan ditingali oleh manusia modern yang biadab. Suatu individu atau kelompok yang kehilangan pegangan hidup, walau secara lahiriyah kaya materi tetapi miskin mental spiritual, akan terperosok ke dalam tingkah yang tidak mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai kehidupan akan bertukar dengan sikap acuh, lucah, sadis dan hedonistic. Amat tragis, kalau generasi yang kehilangan pegangan hidup itu adalah kelompok etnis di tengah kebangsaan Indonesia yang dikenal dan disebut muslim pula.

Konsep Masyarakat Madani

MADANI satu kata yang indah. Punya arti yang dalam. Kadang kala banyak juga yang menyalah artikannya. Apa itu sebenarnya madani. Bila diambil dari sisi pendekatan letterlijk maka madani berasal dari kata  m u d u n   arti sederhananya  m a j u  atau dipakai juga dengan kata  m o d e r n. Tetapi figurlijknya madani mengandung kata maddana al-madaina (مَدَّنَ المَدَاِئنَ) artinya, banaa-ha ( بَنَاهَا ) yakni membangun atau hadhdhara (حَضَّرَ ) yaitu memperadabkan dan tamaddana ( تَمَدَّنَ ) maknanya menjadi beradab — yang nampak dalam kehidupan masyarakatnya berilmu (periksa, rasio), memiliki rasa (emosi) secara individu maupun secara kelompok serta memiliki kemandirian (kedaulatan) dalam tata ruang dan peraturan-peraturan yang saling berkaitan, kemudian taat asas pada kesepakatan (hukum) yang telah ditetapkan dan diterima untuk kemashalahatan bersama. Karena itu orang Jepang dalam cara menyeberangnya saja sudah dapat disebut menjadi ciri madani itu.  

Masyarakat  madani ( الحَضْرِيُّ = al hadhariyyu) adalah masyarakat berbudaya dan al-madaniyyah (tamaddun) yang maju, modern, berakhlak dan memiliki peradaban, semestinya melaksanakan nilai-nilai agama (etika reliji) atau bagi kita mengamalkan ajaran Islam (syarak) dengan benar. Nilai nilai kebaikan akan selalu memenjarakan manusia. Karenanya nilai nilai agama Islam boleh saja tampak pada umat yang tidak atau belum menyatakan dirinya Islam, akan tetapi telah mengamalkan nilai Islam itu. Sesunguhnya Agama (Islam) tidak dibatasi ruang-ruang masjid, langgar, pesantren, majlis ta’lim semata.

Pengamalan nilai nilai agama sebenarnya menata gerak kehidupan riil. Memberi acuan pelaksana tatanan politik pemerintahan, sosial ekonomi, seni budaya, hak asasi manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi. Penerapan nilai etika reliji mewujudkan  masyarakat yang hidup senang dan makmur (تَنَعَّمَ = tana’ama) dengan aturan  (قَانُوْنٌ مَدَنِيٌّ = qanun madaniy) yang didalamnya terlindungi hak-hak privacy, perdata, ulayat dan hak-hak sipil masyarakat. Dapat diraih melalui pendidikan.

Masyarakat tamaddun (berbudaya) adalah masyarakat integratif secara sosial politik maupun ekonomi dengan asas watak masyarakat intinya adalah ketaatan. Kepatuhan dan keyakinan kepada Allah Azza wa Jalla. Masyarakat madani adalah masyarakat kuat mengamalkan nilai agama (etika reliji). Seperti dalam tatanan masyarakat Madinah el Munawwarah dimasa hayat Nabi Muhammad SAW. Sejahtera dalam keberagaman pluralistis ditengah bermacam anutan paham kebiasaan. Tetapi satu dalam pimpinan. Kekuatannya ada pada nilai dinul Islam. Mampu melahirkan masyarakat proaktif menghadapi perubahan. Bersatu di dalam kesaudaraan karena terdidik rohaninya. Pendidikan rohani merangkum aspek pembangunan sumber daya manusia dengan pengukuhan nilai ibadah dan akhlak dalam diri umat melalui solat, zikir. Pada akhirnya pendidikan watak atau domein ruhani ini mencakup aspek treatment. Rawatan dan pengawalan melalui taubat, tazkirah, tarbiyah, tau’iyah. Ditopang dua manazil atau sifat penting, yaitu Rabbaniah dan Siddiqiah.

Sifat Rabbaniah ditegakkan dengan benar diatas landasan pengenalan (makrifat) dan pengabdian (`ubudiah) kepada Allah melalui ilmu pengetahuan, pengajaran, nasihat, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Siddiqiah mencakup enam jenis kejujuran (al-sidq): 1. kejujuran lidah, 2. kejujuran niat dan kemauan (sifat ikhlas), 3. kejujuran azam, 4. kejujuran al-wafa’ (jujur dengan apa yang diucapkan dan dijanjikan), 5. kejujuran bekerja (prestasi karya), dan 6. kejujuran mengamalkan ajaran agama (maqamat al-din).

Kehidupan Madani terlihat pada kehidupan maju yang luas pemahaman (tashawwur) sehingga menjadi sumber pendorong kegiatan di bidang ekonomi yang lebih banyak bertumpu kepada keperluan jasmani (material needs). Spiritnya melahirkan pemikiran konstruktif (amar makruf) dan meninggalkan pemikiran destruktif (nahyun ‘anil munkar) melalui pembentukan tata cara hidup yang diajarkan agama Islam. Mengembangkan masyarakat Madani dimulai dari membangun domain kemanusiaan atau domain ruhiah melalui pendidikan rohani yang merangkum aspek preventif. Menjaga umat dari ketersesatan aqidah. Memelihara rakyat dari ketidakseimbangan emosional dan mental. Agar umat terhindar dari melakukan perbuatan haram, durjana dan kezaliman. Peningkatan mutu masyarakat dengan basis ilmu pengetahuan, basis budaya dan agama.

Moralitas Masyarakat Madani

ikap hati-hati sangat dituntut untuk meraih keberhasilan. Action planning di setiap lini adalah keterpaduan, kebersamaan, kesepakatan, dan keteguhan. Langkah awalnya menghidupkan musyawarah. Allah menghendaki kelestarian Agama secara mudah, luwes, elastis, tidak beku dan tidak bersitegang. Memupuk sikap taawun saling membantu dengan keyakinan bahwa Allah Yang Maha Rahman selalu membukakan pintu berkah dari langit dan bumi.

Keterpaduan masyarakat dan pemerintah menjadi kekuatan ampuh membangun kepercayaan rakyat banyak. Inilah inti reformasi yang dituju di abad baru ini. Tingkat persaingan akan mampu dimenangkan “kepercayaan” — trust.  Pengikat spiritnya adalah sikap Cinta kepada Bangsa dan Negara yang direkat oleh pengalaman sejarah. Salah menerjemahkan suatu informasi, berpengaruh bagi pengambilan keputusan. Sikap tergesa-gesa akan berakibat jauh bagi keselamatan orang banyak. Masyarakat majemuk dapat dibina dengan kekuatan etika reliji.

Peran serta masyarakat digerakkan melalui  musyawarah dan mufakat. Kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan “nawaitu” dalam diri masing-masing mengamalkan ajaran agama dengan benar. Sebab, manusia tanpa agama hakikinya bukan manusia sempurna. Tuntunan agama tampak pada adanya akhlak dan ibadah. Akhlak mlingkupi semua perilaku pada seluruh tingkat kehidupan. Nyata dalam contoh yang ditinggalkan Rasulullah.[2] 

Ketika kehidupan manusia kian bertambah modern dan peralatan teknologi semakin canggih, makin bertambah banyak masalah hati dan kejiwaan manusia yang tampil kepermukaan. Tidak segera mudah dapat diselesaikan. Solsusinya hanya mendekatkan diri kepada Allah SWT semata. Maka tuntutan kedepan mesti diawasi agar umat lahir dengan iman dalam ikatan budaya (tamaddun). Rahasia keberhasilan adalah “tidak terburu-buru” dalam bertindak. Selalu ada husnu-dzan (sangka baik) antara rakyat dan pemimpinnya. Kekuasaan akan berhasil jika menyentuh hati nurani rakyat banyak, sebelum kekuasaan itu menjejak bumi. Ukurannya adalah adil dan takarannya adalah  kemashlahatan umat banyak. Kemasannya adalah jujur secara transparan.

Umat perlu dihidupkan jiwanya. Menjadi satu umat yang mempunyai falsafah dan tujuan hidup (wijhah) yang nyata. Memiliki identitas (shibgah) dengan corak keperibadian terang (transparan). Rela berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan.  Masyarakat Madani yang dituntut oleh “syari’at” Islam menjadi satu aspek dari Sosial Reform yang memerlukan pengorganisasian (nidzam). Masyarakat Madani mesti mampu menangkap tanda‑tanda zaman — perubahan sosial, politik dan ekonomi — pada setiap saat dan tempat dengan optimisme besar. Sikap apatis adalah selemah‑lemah iman (adh’aful iman). Sikap diam (apatis) dalam kehidupan hanya dapat dihilangkan dengan bekerja sama melalui tiga cara hidup , yakni bantu dirimu sendiri (self help), bantu orang lain (self less help), saling membantu dalam kehidupan ini (mutual help).

Ketiga konsep hidup ini mengajarkan untuk menjauhi ketergantungan kepada pihak lain, artinya mandiri. Konsep madaniyah tampak  utama didalam pembentukan watak (character building) anak bangsa. Tentu saja melalui jalur pendidikan. Maka reformasi terhadap pengelolaan keperluan masyarakat atau birokrasi mesti meniru kehidupan lebah, yang kuat persaudaraannya, kokoh organisasinya, berinduk dengan baik, terbang bersama membina sarang, dan baik hasil usahanya serta dapat dinikmati oleh lingkungannya.

KHULASAH, Menampilkan Program Umatisasi

PENERAPAN RUHUL MADANIYAH atau jiwa kemajuan berkehendak kepada gerak yang utuh dan terprogram. Hasilnya tidak mungkin di raih dengan kerja sambilan, buah yang di petik, sesuai dengan bibit yang di tanam, demikian natuur-wet (sunnatullah, = undang-undang alami). Setiap unsur berkewajiban melaksanakan tugas tabligh atau dialogis kemudian mengajak dan mengujudkan kehidupan berperaturan (bertatakrama) di dunia (dinul-harakah al-alamiyyah). Melibatkan semua elemen untuk menghidupkan kesadaran dana kepatuhan hukum menjadi tugas bersama. Menurut nilai-nilai Al-Qur’an disebut ummat da’wah. [3] 

Ada beberapa tindakan yang mungkin dilakukan segera.

Pertama. Melakukan introspeksi di kalangan kita sendiri. Mengoreksi masihkah prinsip‑prinsip utama budaya bangsa dan budaya negara masih dipertahankan.

Kedua. Masing‑masing berusaha mengambil inisiatif dan aktif untuk mengikat kembali tali kesatuan dan persatuan bangsa dengan ikatan birokrasi tanpa gembar‑gembor, namun secara jujur dalam mengatasi semua persoalan di tengah rakyat yang kita pandu.

Ketiga, Memelihara kesempatan‑kesempatan yang ada dan tersedia dalam melakukan tatanan (system) dengan memperbesar frekwensi pertukaran fikiran secara informal dalam berbagai masalah keumatan, dalam suasana jernih, tenang dan bersih serta tidak berprasangka.

Keempat, Berusaha mencari titik‑titik pertemuan (kalimatin sawa) di antara sesama kalangan dan peribadi‑peribadi para intelektual (zu’ama), para pemegang kendali sistim (‘umara), dan para ikutan umat utama, para ulama dan aktifis pergerakan baik tua maupun muda, dalam ikatan yang tidak tegang dan kaku. Kekuatan terletak pada keluwesan pikiran dan keteguhan prinsip.  

Kelima, Menegakkan secara sungguh dan bertanggung jawab Nizhamul Mujtama’ (tata hidup bermasyarakat) diatas dasar aqidah Islamiyah dan Syari’ah.

Keenam,  Memelihara mutu ibadah di kalangan umat utama. Menetapkan mu’amalah (sosial, ekonomi, siyasah) dan Akhlak (pemeliharaan tata nilai melalui pendidikan dan kaderisasi yang terarah). Mengawalnya mulai dari rumah tangga, lingkungan (usrah) dan masyarakat (uswah).

Usaha menghadapi tantangan kontemporer yang sedang menjajah hati budi umat kini khususnya di Sumatera Barat (Minangkabau), dapat di tampilkan beberapa agenda kerja,

  1. Mengokohkan pegangan dengan keyakinan dasar agama sebagai suatu cara hidup yang komprehensif. Menyebarkan budaya wahyu membimbing kemampuan  akal.
  2. Memperluas penyampaian fiqh sosio politik, ekonomi, komunikasi, pendidikan dan lain-lain. Menguatkan peran perempuan (bundo kandung, muslimat) yang telah berhasil membentuk sejarah gemilang masa silam sebagai ibu dan pendidik di rumah tangga dan ditengah masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat.
  3. Menjalin dan membuat kekuatan bersama untuk menghambat gerakan yang  merusak adat budaya bangsa dan negara — terutama di Sumatera Barat yang memiliki puncak filosofi ABSSBK –. Diantaranya, memberi bekal yang cukup melalui pelatihan dan pembekalan ilmu yang memadai, membuatkan anggaran belanja yang memadai di daerah-daerah mendukung satu usaha terpadu kearah pendidikan watak umat dan meningkatkan keselarasan, kesatuan dan keupayaan mendalami budaya dan haraki Islami.
  4. Melahirkan masyarakat penyayang dengan kehidupan beradat sesuai ABSSBK sebagai ciri khas Masyarakat Madani di Sumatera Barat.v

 

Padang, Pebruari 2012.

 


[1]    Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama (syariat, syarak) dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya (dengan cara-cara mengamalkannya pada setiap perilaku dan tindakan dengan kehidupan beradat), apabila mereka telah kembali kepadanya – kekampung halamannya –, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS.IX, at Taubah, ayat 122).

[2]    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا  “Sesungguhnya telah ada bagi kamu pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik (uswah hasanah), yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS.33, al Ahzab : 21).

[3]    وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ   Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran, 3 : 104 ).

Advertisements
Categories: ABS-SBK, Adat Basandi Syarak, Amar Makruf Nahi Munkar, Buku Buya, Buya Masoed Abidin, Dakwah Komprehensif, Komentar, Komentar Buya, Strategi Pendidikan Madani, Surau, Tauhid, Tulisan Buya, Uncategorized | Leave a comment

HMD DT.PALIMO KAYO Buya Datuk, Profil Tokoh Ulama dan Adat

 HMD DT.PALIMO KAYO

Buya Datuk,

Profil Tokoh Ulama dan Adat

 

 

Diantara Seratus sepuluh nama tokoh ulama terkemuka Minangkabau yang didapati dalam daftar yang dirunut sejak pertengahan abad ke-19, bahkan pada masa sebelumnya sampai pertengahan abad ini, terdapat nama Haji Mansur Daud Datuk Palimo Kayo, atau dikenal dengan sebutan Buya Datuk Palimo Kayo. Nama yang erat kaitannya dengan dunia pendidikan Islam serta kepribadiannya yang kompleks, baik sebagai seorang ulama maupun penghulu di Minangkabau.

Deretan panjang nama ulama-ulama yang terentang dalam masa lebih dua abad itu merupakan realitas sejarah.

Sejarah menumbuhkan kearifan.  Mungkin kita hanya akan terpaku ketika melihat perjuangan para pendahulu itu sebagai romantika masa silam belaka.  Bukankah tujuan kiprah dan perjuangan mereka relatif sama berbeda dengan apa yang diperjuangkan oleh para ulama masa kini,  yakni menegakkan dinul Islam.

Namun ada sisi-sisi yang ternyata amat mengesankan bila kita mengungkapkan kembali khasanah masa lalu itu.

Langgam, gaya hidup, perjuangan dan dakwah para ulama dahulu itu ternyata berlainan antara yang satu dengan lainnya.

Ciri khas masing-masing ulama menunjukkan karakter dan kekukuhan pribadi. Sesuatu yang terasa semakin hilang pada masa kini.  Padahal sebenarnya apa yang kita anggap sebagai sejarah masa silam adalah bagian dari masa kini.

Dalam kesejukan pagi, pada tanggal 17 Shafar 1321 H, bertepatan dengan tanggal 10 Maret 1905 di Pahambatan, Balingka, Kecamatan IV Koto (Kabupaten Agam) lahirlah seorang putra yang kemudian diberi nama Mansur.

Orang tua berbahagia yang menyambut kelahiran putranya kala itu adalah Syekh Daud Rasyidi dan Siti Rajab. Sebagai kepala keluarga, Syekh Daud Rasyidi sudah mengarahkan anaknya supaya taat beragama.

Selain itu Syekh senantiasa berupaya agar semua anak-anaknya antara lain; Anah, Mansur, Miramah, Sa’diah, Makmur dan Afifah  agar giat belajar.

Salah seorang putranya yaitu: Mansur Daud kemudian tumbuh dalam kerangka kemungkinan yang diberikan oleh latar belakang budaya serta lingkungan keluarga di sekitarnya.

CIKAL BAKAL PEMIMPIN UMAT

Pembentuk pribadi muslim yang pengaruhnya langsung terhadap Mansur Daud sudah diberikan oleh ayahnya,  yang pekerjaannya memang memberikan pengajian dan ceramah-ceramah agama.

Besarnya perhatian dalam keluarga terhadap pendidikan ini memacu semangat Mansur Daud untuk terus menekuni Islam.

 

Walaupun waktunya juga dibagi untuk kegiatan keseharian yang lainnya, tetapi, cikal bakal dirinya sebagai seorang  pemimpin Muslim sudah mulai terlihat.

Usia tujuh tahun memasuki sekolah Desa di Balingka pada tahun 1912. Pendidikan ini hanya diikuti selama satu tahun. Selanjutnya, beliau pindah ke Lubuk Sikaping dan melanjutkan ke Gouvernment School sampai tahun 1915.

Mansur Daud meninggalkan Lubuk Sikaping, kemudian mempelajari agama Islam secara khusus di perguruan Sumatera Thawalib pada tahun 1917.

Beliau langsung mendapat pendidikan dari ulama besar Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA)[1], sementara tetap mempelajari mata pelajaran agama pada Perguruan Islam Madrasah Diniyah di bawah asuhan Zainuddin Labay El Yunusi. Hampir seluruh waktunya diisi dengan mempelajari pendidikan agama Islam.

 

KE MEKAH DAN MENGEMBARA SEMASA MUDA

Usia Mansur Daud masih begitu muda ketika naik haji pada tahun 1923. Dalam usia yang belum cukup dua puluh tahun, beliau sudah menginjak kota suci Mekah serta langsung belajar agama Islam dengan Syekh Abdul Kadir Al Mandily. Salah seorang Imam Masjidil Haram itulah yang mendidik Mansur Daud selama lebih kurang satu tahun.

Tetapi, lantaran adanya perang saudara di Mekah kala itu, Mansur Daud terpaksa kembali pulang ke Indonesia.

Kepulangan itu mengantarkannya kembali menuntut ilmu di perguruan Islam Sumatera Thawalib, Parabek Bukittinggi.

Selama tahun 1924, Mansur Daud mendalami agama di perguruan Islam yang diasuh oleh Ibrahim Musa Parabek.

Suasana politik yang tak menentu, yakni menyebarnya pengaruh komunis ke dalam perguruan Sumatera Thawalib, membuat Mansur Daud memutuskan untuk menghindari.

Tahun 1925, Mansur Daud berangkat ke mancanegara, menuju India. Langkah ini ditempuhnya guna menghindari pengaruh komunis kala itu. Di Negeri itu Mansur Daud kembali pada dunia yang dihadapinya selama ini. Beliau belajar agama di Perguruan Islam Tinggi (Jamiah Islamiyah), Locknow, India. Abdul Kalam Azad sebagai Pemimpin  perguruan tersebut langsung jadi pengasuh sekaligus pengajarnya.

Selanjutnya, H. Mansur Daud melanjutkan belajar agama pada Islamic College di Heydrabad, India. Dua bersaudara yang memimpin perguruan itu Maulana  Syaukat Ali dan Maulana Muhammad Ali cukup dikenal, sehingga mereka dijuluki Two Brother oleh masyarakat. Serupa namanya, perguruan tinggi agama Islam yang mereka pimpin juga cukup dikenal oleh masyarakat, terbukti banyak murid yang datang dari luar India. H. Mansur Daud adalah salah seorang diantaranya.

Selama lebih kurang 5 (lima) tahun, H. Mansur Daud mengembara, menuntut ilmu di India. Pengembaraannya buat sementara ke mancanegara usai. Beliau pulang dan sempat singgah di Malaysia. Beliau langsung ke pulau Jawa.

 

AKTIFIS ORGANISASI

Setiba di Jawa Haji Mansur Daud bertemu dengan sejumlah tokoh pimpinan organisasi dan politik antara lain: H.O.S. Cokroaminoto, H. Agus Salim, K.H. Ahmad Dahlan, dan K.H. Fakhruddin.  Sejak bergabung dengan beberapa tokoh itu, beliau terpacu untuk berkiprah dalam organisasi.

 

Pada tahun 1930 Mansur Daud kembali ke Indonesia dari India. Aktivitas organisasi dimulainya kembali dan diwujudkan dalam suatu kongres di Sumatera Thawalib, Bukittinggi. Ketika berlangsung Kongres I Sumatra Thawalib (22-27 Mei 1930) yang mengubah nama organisasi tersebut menjadi Persatuan Muslimin Indonesia (PMI), Mansur Daud ditunjuk sebagai salah seorang anggota Pengurus Besar PMI. Pada Kongres I PMI di Payakumbuh (5-9 Agustus 1930), ia terpilih sebagai sekretaris jenderal PMI. Pada Kongres II PMI di Padang (9-10 Maret 1931), yang memutuskan mengubah organisasi sosial ini men­jadi partai politik yang dikenal dengan nama Per­satuan Muslimin Indonesia (Permi), ia pun ditun­juk sebagai sekretaris jenderal partai ini. Permi, yang berada di bawah pimpinan tokoh-tokoh Su­matra Thawalib dan para bekas mahasiswa dari Cairo (seperti Mochtar Luthfi dan Iljas Jacoub) ini, memperkenalkan ideologi “Islam dan kebangsaan”.

H. Mansur Daud ikut  berperan dalam membentuk partai politik Indonesia yaitu Persatuan Muslim Indonesia (PERMI). Pada tanggal 2 Desember 1932 Mansur Daud ditunjuk Permi sebagai ketua pelaksana Algemene Actie Protes Vergadering Permi, semacam tim perumus yang akan menyusun rancangan protes ter-hadap kebijaksanaan Belanda yang melakukan ordonansi sekolah partikelir, yang lebih dikenal dengan nama ordonansi “sekolah liar”.

Pada bulan Juli 1933 Permi melakukan sidang Pengurus Besar. Dalam sidang ini diputuskan bahwa Mansur Daud Datuk Palimo Kayo dipercaya menduduki jabatan ketua umum Permi sekaligus menjadi pemimpin umum majalah Permi yang bcrnama Medan Rakjat. Tetapi pemerintah Hindia Belanda melarang Permi melakukan pertemuan-pcrtemuan. Namun, larangan Belanda ini bagi Permi bukan halangan untuk bersidang.

 

Pada tanggal 10 Desember 1934, Mansur Daud ditangkap ketika mengkampanyekan rencana pro­tes yang telah disusun di Curup, Bengkulu, menyusul penangkapan pemimpin utama Permi, yakni H Jalaluddin Taib, H Iljas Jacoub, dan H Mochtar Luthfi. Ketiga tokoh ini kemudian dibuang ke Boven Digul. Datuk Palimo Kayo dipenjarakan di Bukittinggi. Tidak berapa lama kemu­dian ia dipindahkan ke penjara Suka Mulia di Medan. Ia baru dibebaskan dari penjara pada tahun 1935. Kemudian ia kembali ke Bukittinggi. Da­ri situ ia kemudian pergi ke Bengkulu, melakukan kegiatan dakwah pencarian dana pendidikan agama Islam untuk Sumatra bagian Selatan.

Periode penjajahan Jepang memperlihatkan kemajuan aktivitas H. Mansur Daud.  Pada tahun 1942 ia kembali aktif dalam kegiatan organisasi. Salah satu upayanya adalah membentuk badan koordinasi alim ulama Minangkabau.

Majlis Islam Tinggi (MIT), diketuai pertama kali oleh Sykeh Sulaiman Ar Rasuli, yang lebih dikenal dengan Inyiak Canduang, sedangkan Datuk Palimo Kayo menjabat sekretaris. Penjajahan Jepang membuat rakyat begitu menderita. MIT seolah menjadi tempat mengadu bagi rakyat. Jepang yang berupaya menghapus organisasi seperti Muhammadiyah dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah, seolah luput mewaspadai Majlis Tinggi Islam. Tokoh-ulama  yang duduk dalam MIT sangat berpengaruh dalam sepak terjang pejuang ketika berhadapan dengan pihak Jepang kala itu.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, MIT se-Sumatra melaksanakan muktamar pertama. Semula berdiri, Badan Koordinasi MIT ini hanya untuk daerah Minangkabau, namun kemudian berkembang sehingga meliputi seluruh keresidenan di Pulau Sumatra.

 

 

Dalam muktamar ini disepakati untuk membentuk satu MIT Sumatra, dengan ketuanya Syekh Muhammad Jamil Jambek dan sekretarisnya Mansur Daud Datuk Palimo Kayo. Dalam perkembangan selanjutnya, MIT memfusikan diri ke dalam Masyumi di Yogyakarta pada bulan Februari 1946. Masyumi di Sumatera pertama kali berkedudukan di Pematang Siantar, yang menjadi ibu kota Propinsi Sumatra ketika itu.

Pada tahun 1947, pemerintah pusat membagi Sumatra menjadi tiga propinsi, yaitu Sumatra Utara, Sumatra Tengah, dan Sumatra Selatan. Partai Masyumi pun membentuk pimpinan Masyumi untuk setiap pro­pinsi. Mansoer Doed Datuk Palimo Kayo pun ditunjuk memimpin Masyumi di Sumatra Tengah.

 

KIPRAH DALAM AGAMA DAN ADAT

Sejalan dengan kekalahan tentara Jepang, dan keberhasilan Bangsa Indonesia merebut kemerdekaan membuat segenap warga ingin mendarmabaktikan perjuangannya. H.Mansur Daud menggiatkan kiprahnya di bidang agama lewat dakwah dan ceramah di mesjid-mesjid. Ketika itu, Datuk Palimo Kayo muncul sebagai mubalig dan seorang tokoh Islam yang memperjuangkan hak-hak rakyat kecil. Upaya yang jelas dilakukan beliau adalah mendorong untuk membangun masjid, mushalla maupun sekolah agama. Hal terpenting, beliau sangat memperhatikan soal persatuan khususnya sesama alim ulama.

Dakwah yang disampaikan H. Mansur Daud, cukup didengar dan dihargai pendapatnya karena dinilai sebagai seorang mubalig yang istiqamah dan tetap eksis, terutama sejak M.I.T dan kemudian difusikan ke Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi).

Buya Mansur Daud Datuk Palimo Kayo, tetap didahulukan selangkah, ditinggikan seranting oleh anak kemenakan. Diserahi posisi penting dalam adat sebagai seorang ninik mamak. Gelar adat yang kemudian dipangkunya adalah Datuk Palimo Kayo.

Posisinya dalam raad (Dewan) Nagari dimanfaatkannya untuk memusyawarahkan soal harta pusaka bersama ninik mamak. Beliau juga aktif melakukan upaya meningkatkan dan mensejahterakan masyarakat khususnya di Minangkabau.

Pada tanggal 2-4 Mei 1953 di Gedung Nasional Bukittinggi,  para pemuka adat Minangkabau yang melaksanakan musyawarah adat memilih Buya Datuk menjadi ketua umum Badan Permusyawaratan Adat Mi­nangkabau. Kemudian alim ulama dan mubalig se-Sumatra Tengah, dalam musyawarah mereka pada 20-21 Agustus 1953, sepakat membentuk Badan Permusyawaratan Alim Ulama dan Mubalig Islam Sumatra Tengah dan menunjuk Buya Datuk Palimokayo sebagai ketua umumnya.

 

SEMANGAT DAN PENGABDIAN

Kegiatan di bidang politik semakin membawa HMD Datuk Palimo Kayo menjadi tokoh teras melalui semangat dan pengabdian yang ia curahkan. Terbukti ketika dirinya dipercaya sebagai Ketua umum Masyumi wilayah  Sumatera Tengah.  Salah satunya karyanya adalah membentuk markas Perjuangan Hizbullah guna mewaspadai kembalinya penjajah, meskipun Bangsa Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945.

Saat Masyumi mendapat tempat dengan keikutsertaan pada pemilihan umum pertama pada tahun 1955, HMD Datuk Palimo Kayo duduk di parlemen selama setahun sampai tahun 1956.

 

Ketika pemilihan umum pertama Indonesia berlangsung tahun 1955, Buya Datuk terpilih menjadi salah seorang anggota Dewan Perwakilan Rakjat. Karir politik HMD Datuk Palimo Kayo di tataran negara mulai tampak. Pada tanggal 20 September 1956 ia ditunjuk oleh pemerintah menjadi duta besar RI untuk Kerajaan Irak sampai tahun 1960. Selesai tugasnya menjadi dubes RI di Irak, ia kembali aktif di Masyumi dengan menduduki ja­batan ketua umum Masyumi wilayah Jakarta Raya sampai partai politik Islam Masyumi dibubarkan oleh Presiden Soekarno.

Antara tahun 1961-1967 HMD Datuk Palimo Kayo aktif berdakwah dan menekankan peningkatan kemakmuran umat. Upaya yang dilakukan melalui wadah sosial serupa itu kemudian semakin melengkapi pengabdian HMD Datuk Palimo Kayo dalam memperhatikan kesejahteraan rakyat.

Pada bulan Pebruari 1967 beliau ikut membidani berdirinya Dewan Da’wah Islamiah In­donesia Pusat dan ikut dalam jajaran pengurus bersama-sama dengan Bapak Mohamad Natsir dan kawan-kawan seperjuangan. Pada bulan Juni 1967 Buya Datuk Palimo Kayo ditunjuk sebagai koordinator Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia untuk daerah Sumatra Tengah yang meliputi daerah Su­matra Barat, Riau, dan Jambi, yang berkedudukan di Bukittinggi. Sejak itu ia mengabdikan dirinya di bidang dakwah dan berbagai kegiatan pendidikan Islam di Sumatra Barat.

Pada 3 Januari 1968, ketika Rumah Sakit Islam “Ibnu Sina” didirikan di Bukittinggi, ia ditunjuk pula sebagai ketua yayasan rumah sakit atau Yarsi Sumatera Barat, sampai beliau meninggal dunia.

Dalam musyawarah alim ulama se-Sumatra Barat tanggal 16-27 Mei 1968 di Bukittinggi, Datuk Palimo Kayo terpilih sebagai ketua umum Majelis Ulama Sumatra Barat. Ketika itu belum ada MUI atau Majlis Ulama Indonesia.

 

Pada Mu­syawarah Majlis Ulama Sumatra Barat II, ia kembali ter­pilih menjadi ketua umum. Oleh Buya Hamka, kiprah Majlis Ulama Sumatera Barat ini minta diperluas menjadi Majlis Ulama Indonesia. Maka, pada waktu pembentukan MUI Pusat di Jakarta,[2] pada tanggal  26 Juli hingga 2 Agustus 1975, selain dikukuhkan sebagai ketua umum MUI Sumatra Barat, ia juga diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan MUI Pusat.

Bidang pendidikan turut jadi perhatian beliau. Bersama-sama  guru agama Islam  beliau melangsungkan rapat pada  17 Desember 1978. Persatuan Guru-guru Agama Islam (PGAI) berupaya mengembangkan dunia pendidikan yang selama ini dipandang sangat strategis melahirkan tokoh-tokoh besar.

Dalam rapat kerja MUI Sumatra Barat pada tahun 1980 ia ter­pilih kembali menjadi ketua umum MUI Sumatra Barat. Selanjutnya di tahun 1984, ketika beberapa tokoh dan cendekiawan muslim di Padang membentuk Yayasan Dana Pembinaan dan Pengembangan Islam (Yadappi), beliau juga dipercaya untuk memimpin yayasan yang bertujuan untuk membantu perguruan-perguruan Islam di Sumatra Barat di bidang dana itu.

Riwayat hidup HMD Datuk Palimo Kayo yang begitu sarat dengan segala bentuk aktivitas memang layak mendapat perhatian secara ilmiah. Kelangkaan akan keberadaan ulama sekaliber HMD Datuk Palimo Kayo kiranya jadi titik tolak untuk mengenang tokoh ulama ini.[3]

Sejumlah kalangan yang dekat, baik dari keluarga maupun sesama ulama sangat menghargai keberadaannya.

Kalangan akademik kemudian menjadikan sosoknya sebagai sumber tulisan ilmiah sekaligus mencermati kiprahnya sepanjang hayatnya.

 

Banyak pihak memberikan penilaian tentang eksistensinya. Mengutip Sastrawan sekaligus Budayawan AA Navis dalam tulisan Marthias D. Pandoe tentang Buya HMD Datuk Palimo Kayo,

“sebagai seorang ulama yang konsekuen  dengan pendiriannya walau apapun dihadangnya.  Imannya kuat,  tidak dapat dibeli dengan kedudukan maupun uang. Mungkin riwayat hidupnya yang penuh pengalaman itu menjadikannya tangguh”. [4]

Hingga akhir hayatnya, Buya HMD Datuk Palimo Kayo senantiasa teguh dalam sikap telitinya, meskipun terhadap hal sekecil sekalipun.[5]

Dengan berbagai kegiatannya itu, khususnya sumbangannya kepada bangsa dan negara sebelum dan sesudah merdeka, pemerintah Indonesia memberikan penghargaan kepada Mansur Daud Datuk Palimo Kayo sebagai salah seorang Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia melalui Surat Keputusan Menteri Sosial No. Pol. 16/II/PK tang-gal 20 Mei 1960, yang kemudian dikuatkan lagi dengan Surat Keputusan Menteri Sosial No. Pol. 103/63/PK tanggal 13 Juni 1963.

 

Setelah mengalami sakit beberapa hari, ia meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Dr. M. Jamil, Padang, dan dimakamkan di Pemakaman Tunggul Hitam Padang. Tokoh ulama besar ini telah meninggalkan kita buat selama-lamanya pada tahun 1988.

Namun selama hayatnya beliau tetap memacu semangat dan militansi Islam yang tak kunjung padam. ***

 

 

 


Catatan :

[1]       HAKA adalah kependekan dari Haji Abdul Karim Amarullah, dikenal pula dengan sebutan Haji Rasul dan Inyiak DR. Abdul Karim Amarullah lahir di Nagari Sungai Batang, Maninjau, Agam, 10 Februari 1879 dan wafat di Jakarta tanggal 2 Juni 1945. Semasa kecil diberi nama Muhammad Rasul. Ibunya bernama Tarwasa, and ayahnya bernama Syekh Muhammad Amrullah, seorang ulama besar pula. HAKA adalah seorang pembaru pemikiran Islam, ulama besar awal abad ke-20, dari Minangkabau, ayah dari Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA). Sebagai anak dari seorang ulama besar waktu itu, Abdul Karim Amrullah memulai pendidikannya dengan belajar agama di desa Sibalantai, Tarusan, Pesisir Selatan, diawali dengan belajar Al-Qur’an selama satu tahun. Pada usia 13 tahun ia belajar nahu dan saraf kepada ayahnya sendiri. Belajar di surau adalah bentuk pendidikan Minangkabau masa itu. Pelajaran selanjutnya ia terima di Sungai Rotan, Pariaman pada Tuanku Sutan Muhammad Yusuf selama dua tahun sampai menamatkan buku Minhaj at-Tallbin karangan Imam Nawawi dan TafsirJalalain.

Pada 1894 (usian 15 tahun), ia dikirim ayahnya ke Mekah untuk belajar ilmu aga­ma Islam dengan seorang ulama besar asal Mi­nangkabau, yaitu Syekh Ahmad Khatib Mi­nangkabau, yang saat itu menjadi guru dan imam Masjidilharam. Ia belajar kepada Ahmad Khatib selama tujuh tahun, bersama dengan putra-putra Minangkabau lainnya, di antaranya Muhammad Jamil Jambek dan Taher Jalaluddin. Di samping belajar dengan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawy, Muhammad Rasul juga belajar ke­pada beberapa guru, seperti Syekh Abdullah Jamidin, Syekh Usman Serawak, Syekh Umar Bajened, Syekh Saleh Bafadal, Syekh Hamid Jeddah, Syekh Sa’id Yaman, dan juga kepada Syekh Yusuf Nabhani pengarang kitab “al-Anwar al-Muhammadiyah”. Di samping Syekh Ahmad Khatib, pemikiran keagamaan Jamaluddin al-Afgani, Muhammad Abduh, dan Syekh Muhammad Rasyid Rida juga membentuk pola pemikirannya.

Pada tahun 1901 Muhammad Rasul pulang ke kampungnya setelah menimba ilmu di Mekah. Pengaruh pemahaman gurunya Syekh Ahmad Khatib, membentuk Muhammad Rasul menjadi seorang yang radikal mengahadapi adat Minangkabau serta keras berhadapan tarekat-tarekat yang berkembang masa itu di Minangkabau, khusus Tarekat Naksyabandiah. Syekh Ahmad Kha­tib, gurunya, telah menulis beberapa buku yang mengungkap kekeliruan tarekat tersebut. Dan Muhammad Rasul telah menerima pendirian dan sikap gurunya ini dengan baik. Maka, Muhammad Rasul mencoba meluruskan praktek-praktek tarekat yang tidak ada dasarnya dalam Islam.

Perjuangannya cukup berat, karena ulama yang sepaham dengannya tidak terlalu banyak. Ulama-ulama yang berseberangan dengan cara dan pemikirannya termasuk pengikut ayahnya sendiri, seorang syekh dari Tarekat Naksyabandiah. Pertentangan pendirian antara ayah dengan anak tak dapat dihindari. Namun, Muhammad Rasul yang telah bergelar “Tuanku Syekh Nan Mudo”, tetap menjaga hubungan baik dan berbakti kepada ayahnya. Sebaliknya si ayah yang mengetahui pendirian anaknya bangga karena anaknya telah menjadi seorang yang berpendirian, berani dan sulit dikalahkan tanpa hujjah yang sahih. Pertentangan dengan para penganut Tarekat Naksyabandiah inilah yang kemudian melahirkan apa yang dikenal dengan pertentangan antara “Kaum Tua” dengan “Kaum Muda” di Minangkabau pada masa itu. “Kaum Muda” ini pada umumnya adalah murid-murid Syekh Ahmad Khatib. Ketika itu Muhammad Rasul telah berganti nama menjadi H. Abdul Karim Amrullah.

Ketika disuruh ayahnya mengantar adik-adiknya, Abdulwahab, Muhammad Nur dan Muhammad Yusuf ke Mekah, Muhammad Rasul berkesempatan menambah ilmunya. Sebelum berangkat ia dikawinkan dengan Raihanah binti Zakaria, yang digelarinya sebagai “Raihanatu Qalbi” (Bunga Mekar Hatiku). Rasul mulai mengajar di rumahnya di Syamiah dan di Masjidil Haram dengan mengambil tempat di Bab al-Ibrahim. Namun, Ia tidak dibolehkan mengajar oleh Syaikh-al-Islam Mu­hammad Sa’id Babsil (Mufti Mazhab Imam Syafi’i). Maka, Rasul mengajar di rumah keponakan Syekh Ahmad Khatib. Di antara muridnya adalah Ibrahim bin Musa Parabek dan Muhammad Zain Simabur. Kedua murid ini kelak menjadi ulama besar di Minangkabau.

Musibah meninggal Istrinya setelah melahirkan anak yang kedua yang juga meninggal dunia di Sungai Batang, menyebabkan Muhammad Rasul kembali ke Minangkabau. Sete­lah mengerjakan haji tahun 1906, ia pulang ke kampungnya dan kawin dengan adik istrinya yang bernama Safiah. Dari perkawinan inilah pada tanggal 16 Februari 1908 lahir anaknya yang bernama Abdul Malik, yang kemudian hari menjadi seorang ulama besar Indonesia, yaitu Prof. Dr. HAMKA.

Setelah berdirinya Sumatra Tawalib, ide Haji Abdul Karim Amrullah ini diteruskan oleh murid-muridnya, seperti Abdul Hamid Hakim, A.R. Sutan Mansur, dan Zainuddin Labay El-Yunusy, dengan menerbitkan majalah al-Munir al-Manar pada tahun 1918 di Padangpanjang. Dalam lawatan ke Jawa pada tahun 1925, ia sempat bertemu dan bertukar pikiran dengan HOS Tjokroaminoto dan KH Ahmad Dahlan. Kesan itu dibawa ke Sumatra Barat, bahwa Islam perlu diperjuangkan dengan sebuah organisasi. Perkumpulan yang ia dirikan sebelumnya dengan nama “Sendi Aman”, ditukar menjadi cabang Muhammadiyah di Sungaibatang, Maninjau.

Muhammad Rasul juga aktif dalam organisasi “Persatuan Guru-Guru Agama Islam”, yang didirikan H. Abdullah Ahmad pada tahun 1918. Pada tahun 1924 ia berdua dengan Abdullah Ahmad menjadi utusan kekongres kekhilafahan Dunia Islam di Cairo. Pikiran  bernas dan berani yang beliau ketengahkan mendapat perhatian besar dari Syekh Abdul Aziz asy-Syalabi. Setelah menyelidiki latar belakang dan riwayat hidup tokoh ulama Minangkabau ini, Syekh Abdul Aziz asy-Syalabi bersama Syekh Khalil al-Khalidi, bekas Mufti Palestina, dan Athaillah Effendi, menteri urusan awqaf negeri Irak, mengusulkan gelar “Doctor Honoris Causa” kepada kedua ulama Minangkabau ini, melalui munakasyah ditengah kongres Islam itu, Syekh Husain Wali yang juga adalah Syaikhul Al-Azhar menganugerahkan gelar Doktor Ilmu Agama kepada Dr. H. Abdul Karim Amrullah pada tahun 1926 dari Kongres Islam Sedunia di Cairo, Mesir.

Sebagai seorang yang memperjuangkan nasib rakyatnya, dia dicurigai oleh pemerintah Hindia Belanda. Pada 12 Januari 1941 dia ditahan dan dipenjarakan di Bukittinggi, dan Agustus 1941 diasing­kan ke Sukabumi. Ketika Belanda menyerah kepada Jepang tahun 1942 ia pindah ke Jakarta. Muhammad Hatta, mengatakan bahwa beliau adalah ulama yang mula sekali menyatakan “Revolusi Jiwa” kepada Jepang di Indone­sia, karena melawan keharusan menghormati Tenno Haika dengan membungkukkan badan ke arah timur laut. Ketika anaknya HAMKA ingin membawanya pulang, ia menga­takan bahwa dia merasa senang tinggal di Jawa.

Pada tanggal 2 Juni 1945 beliau mengembuskan nafasnya yang terakhir dengan tenang dan dimakamkan di Pemakaman Umum Karet, Jakarta. Pikiran dan perjuangan ulama besar ini ikut membentuk watak dan semangat perjuangan ulama-ulama muda Minangkabau, diantaranya Mansur Daud Datuk Palimo Kayo.

[2]       Pada tahun 1975, ketika Majelis Ulama Indone­sia (MUI) berdiri, HAMKA terpilih menjadi ketua umum pertama dan terpilih kembali untuk periode kepengurusan kedua pada tahun 1980.

[3]       Sungguh layak riwayat  hidup beliau ditulis di tingkat perguruan tinggi seperti yang telah ada berupa “Biografi”, yang disusun Linda Fauzia dalam tugas akhirnya untuk meraih sarjana, dengan analisisnya “Buya Haji Daud Datuk Palimo Kayo: Profil Seorang Ulama dan Penghulu di Minangkabau.”, Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang, 1993.

[4]       Kompas, 26 Juli 1981.

[5]       Kenyataan tersebut penulis ungkapkan sebagai seorang mubalig yang dalam kesehariannya Buya Datuk sangat giat mensyiarkan Agama Islam sampai ke pelosok desa dan selalu penulis iringkan semasa hidup beliau di Bukittinggi mulai dari tahun 1967.

Categories: Buya Masoed Abidin, Dakwah Komprehensif, Ulama Zuama Minangkabau | Leave a comment

Iqra’ (Perintah Pertama Kepada Nabi saw.)

Oleh Buya H. Mas’oed Abidin

 

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَق َ(1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَق ٍ(2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ(3)الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ(5)

‘Iqra’ (bacalah) denqan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Iqra’ (bacalah), dan Tuhanmu lah yang Paling Pemurah, sang Mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia Mengajarkan kepada manusia apa sang tidak diketahuinya. (Q. Al ‘Alaq: 1-5)

Di saat usia Rasulullah SAW. hampir mencapai empat puluh tahun, beliau menyaksikan kondisi masyarakatnya yang sangat memprihatinkan. Hidup dalam kejahiliyahan dan kemusyrikan. Dalam kondisi seperti itu Rasulullah mengambil keputusan -dengan petunjuk ilham ilahi- untuk membentang jarak dan kehidupan ramai. Beliau memilih suatu gua yang tidak terlalu besar, yang panjangnya empat hasta dan lebarnya antara tiga perempat hingga satu hasta. dan yang jaraknya kira-kira dua mu dari Makkah, yaitu gua Hira di Jahal Nur.

Pilihan Rasulullah untuk mengasingkan diri ini termasuk satu sisi dan ketentuan Allah atas diri beliau sebagai langkah persiapan untuk menerima urusan besar Yang sedang ditunggunya. Ruh manusia manapun yang realitas kehidupamwa akan disusupi suatu pengaruh dan dibawa ke arah lain. maka ruh itu harus dibuat kosong dan dengan mengasingkan diri untuk beberapa saat. dipisahkan dan herbagai kesibukan duniawi dan gejolak kehidupan serta kebisingan manusia yang membuatnya sibuk pada urusan kehidupan.

Di gua Hira inilah wahyu Allah SWT pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, yaitu firman Allah yang diawali dengan perintah untuk membaca (iqra’ bacalah).

Fi’l amar (kalimat perintah) iqra bacalah dalam firman Allah di atas. tidak dijelaskan obyek (maf ‘ul bih) nya. Hal ini dalam tinjauan ilmu Nahwu berarti bahwa perintah tersebut tidak ditujukan pada obyek tertentu. akan tetapi memiliki makna yang bersifat umum. Sedangkan menurut ilmu balaghah. kalimat perintah ini tidak bersifat mutlaq. tetapi mu qayyat (bersyarat). Maksudnya bahwa perintah iqra (membaca) pada konteks ayat bukanlah membaca yang bebas nilai, tetapi harus ber bismirab alladzi khalaq (dengan nama Tuhan yang Maha Menciptakan). Inilah yang membedakan antara membaca yang bernilai ibadah dengan membaca yang penuh kesia-siaan.

Makna iqra’ ditafsirkan dengan bermacam ragam makna oleh para mufassirin (ulama tafsir). Dalam buku I Panduan Berislam. paket Marifàt (DDP HIDAYATULLAH) disebutkan pendapat Buya H. Abdul Malik Ahmad yang menafsirkan perintah iqra ‘sebagai berikut. Bahwa perintah iqra (bacalah) menghendaki perpindahan dan pasif menjadi aktif dan diam kepada bergerak. yaitu; “Bacalah yang tertulis, sehingga pengetahuan dan keahlian bertambah. Bacalah yang didiktekan, diajarkan oleh utusan Tuhan. Sampai kamu sendiri mengerti dan yang mendengar memahami. Bacalah yang termaktub dalam rahasia alam yang beraneka warna, agar kamu jadi sadar dan mendapat sinar iman.”

Jadi membaca itu ada proses timbal balik antara individu secara total dengan informasi simbolik yang dibaca. Artinya. seseorang yang membaca akan memperoleh ilmu. Membaca Al-Qur’an berarti menimba ilmu dani Al Qur’an. Membaca alam berarti menggali pengetahuan dan alam. Jadi, membaca tidak sekedar melihat atau mengeja bacaan tanpa mengetahui arti.

Dan bendasarkan beberapa pendapat dan para ulama tafsir tentang makna perintah iqra’ dapatlah disimpulkan bahwa. makna perintah iqra’ (membaca) tersebut mengandung beberapa pengertian; Pertama, bacalah ayat-ayat Allah sebagai kalamullah yang termaktub dalam Al Qur’anul Karim (al Aayaat al Qauliyyah). Kedua,      bacalah ayat-ayat Allah yang tercipta dan terbentang di alam semesta (al  Aayaat al Kauniyah).

Dalam Al Qur’an terdapat ratusan ayat yang meme-rintahkan manusia agar melihat. memperhatikan. memikirkan. merenungkan dan perintah-perintah yang semakna dan in-heren dengan perintah “membaca”. Dan demi terlaksananya perintah ini, maka Allah membekali manusia dengan beberapa instrumen. yang menjadi alat bagi mereka utuk memperoleh pengetahuan. Instrumen tersebut antara lain:

Pancaindra, fungsi pancaindra manusia yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba menempati posisi yang sangat penting bagi manusia dan sangat berguna untuk menangkap pesan tentang benda-benda dan keadaan yang ada dilingkungan sekelilingnya.

Akal, akal yang dimaksud di sini adalah akal yang berfungsi pada tataran rasionalitas. Akal memiliki kemampuan untuk mengumpulkan data, menganalisa, mengolah dan membuat kesimpulan dari yang telah tertangkap dan diinformasikan oleh pancaindra.

Intuisi atau ilham, intuisi atau ilham didapat tanpa melalui proses penalaran tertentu. Tidak semua orang bisa mendapatkan kemampuan intuitif dan ilham. Pada umumnya yang memperolehnya adalah orang-orang yang melakukan musyahadah melalui kontemplasi (perenungan), ibadah dan taqarrub (inendekatkan diri kenada Allah SWT.

Wahyu, kemampuan yang dimiliki manusia sangatlah terbatas. Hal Yang bersifat fisik saja masih banyak yang menjadi misteri bagi manusia, apatah yang bersifat non-fisik dan irrasional (tak dapat dicapai oleh akal).

Wahyu membimbing manusia, agar tidak tertipu oleh indra dan akalnya yang terbatas itu. Wahyu memberikan kepastian akar akal manusia tidak berkelana tanpa arab yang menjadikannya tersesat dan kebenaran yang sesungguhnya. Wahyu adalah pengetahuan dan kebenaran tertinggi. karena ia datang dan Dzat Yang Maha Tinggi. Yang Maha Tahu segala rahasia alam semesta ini. Wahyu Allah adalah kebenaran yang bersifat mutlaq.

Catatan akhir. seiring dengan berkembangnya budaya dan peradaban manusia yang diistilahkan banyak orang dan para ahli dengan zaman modern dan era globalisasi, situasi dan kondisi masyarakat pun mengalami perubahan yang sangat drastis. Tuntutan hidup dalam segala aspek kehidupan harus mereka hadapi. Sehingga keperluan manusia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi tak terelakkan lagi. Sebagai salah satu sarana yang dapat mengantarkan mereka pada pengetahuan dan penguasaan IPTEK- yang telah terlanjur menjadi prasyarat imperatif bagi perkembangan zaman dan bagi inovasi peradaban semua ras manusia- adalah dengan belajar. Allahu a ‘lam bishawab.

Categories: Buya Masoed Abidin, Dakwah Komprehensif, HAM, Hijrah | Leave a comment

Hidup Sekali … Hiduplah yang Berarti

Buya H. Mas’oed Abidin

 

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Kehidupan Dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”  (Q.S.Ali Imran:185)

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Sedangkan Kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” (Q.S.Al A’la: 17)

Generasi demi generasi telah dan akan berperan dalam mengisi panggung kehidupan ini. Umur dari hari ke hari bukan malah bertambah, tapi terus berkurang menuju sebuah pintu keabadian yang kemudian akan mengantarkan kita apakah ke dalam kebahagiaan ataukah dalam kesengsaraan. Kematian pasti akan menjemput setiap yang bernyawa.

“Dimana saja kamu berada, kematian akan menjemput kamu. Kendatipun kamu berada dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”. (Q.S. An Nisa :78)

Ajal adalah batas “jatah” hidup seseorang di dalam dunia yang fana ini. Kapan ajal menjemput kita ??? tiada seorangpun yang tahu.

“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.  (Q.S. Luqman :34)

Tanpa kita sadari memang, bahwa jatah hidup untuk beramal semakin hari semakin sempit dan berangsur-angsur habis, sedangkan dosa terus bertambah. Tobat selalu kita tunda dan bahkan kita sering tak pernah menyesali akan perbuatan dosa dan maksiat yang pernah kita lakukan. Seorang penyair mengungkapkan: “Engkau tetap dalam kelengahan dan hatimu Alpa. Hilanglah umurmu sedang dosa-dosamu tetap seperti keadaannya”

Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna. Dalam hal ini Al Qur’an menceritakan hal orang-orang yang menyesali perbuatannya setelah menyadari diri akan kealpaannya ketika masih hidup.

Allah SWT berfirman : “Dia mengatakan; “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal sholeh) untuk hidupku ini”. (Q.S. A1 Fajr: 24).

Sudah semestinya kita kaum muslimin, meman-faatkan kesempatan yang ada, sebelum kesempatan itu habis direnggut maut, dan janganlah hendaknya menunda untuk berbuat baik dengan menyia-menyiakan waktu dengan percuma karena mautpun tidak pernah menunda untuk menjemput kita. Jika demikian, maka bukankah sebaiknya kita selalu persiapkan diri setiap waktu bahkan setiap detik untuk menghadapi panggilan Allah yang datang secara tiba-tiba itu. Sebagaimana dikatakan dalam pepatah arab: “Barang siapa mengetahui jauhnya suatu perjalanan maka hendaklah ia bersiap-siap”.

Makna bersiap-siap dalam pepatah ini, apabila kita kaitan dengan persiapan untuk kehidupan akhirat adalah bahwa kita harus mempersiapkan “bekal’ dalam menghadapi kematian. Dan taqwa adalah sebaik-baik bekal.

“Berbekallah dan sebaik-baik bekal adalah taqwa”. (Q.S. Al Baqarah:197).

Sangat beruntung orang yang mampu memper-gunakan waktu dan kesempatan yang telah Allah berikan padanya yaitu dengan mensyukuri nikmat umur dan mempergunakannya dalam beribadah dan beramal sholeh. Dan Allah tidak pernah menganggap remeh setiap amal perbuatan seorang hamba. Baik atau buruk perbuatan seorang hamba, Allah SWT memperlihatkannya nanti di yaumil hisab.

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula“. (Q.S. Az Zalzalah : 7-8)

Bagaimana kita beramal sholeh ??? … Apakah harus dengan banyak berzakat, bersedekah, sering melakukan haji atau umrah atau dengan sesuatu yang harus menuntut pengorbanan materi ??? tentu jawabannya tidak. Karena kalau demikian berarti kebaikan (amal sholeh) hanya diperuntukkan khusus bagi orang-orang yang memiliki kelebihan materi saja, karena hanya mereka yang dapat melakukannya. Lantas bagaimana dengan orang-orang yang tidak memiliki kelebihan dalam hal materi ???

Oleh sebab itu Islam mengajarkan bahwa berbuat baik (amal sholeh) tidak selalu harus dengan mengeluarkan materi, akan tetapi dapat juga dilakukan walau hanya dengan sikap dan perilaku yang baik lagi bermanfaat buat orang banyak. Demikianlah ajaran Rasullah SAW. Sebagaimana sabda Beliau: “Sebaik-baik manusia adalah yang lebih baik akhlaqnya”.  (H.R. Thabarani dan Ibnu Umar r.a)

“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”. (H.R. Al Qadha’i dari Jabir r.a)

Dan tidak terdapat dalam satu hadits-pun yang menyatakan bahwa sebaik-baik manusia itu adalah yang sering menunaikan ibadah haji atau umrah, yang banyak sedekahnya, yang besar kurbannya, yang kuat puasa dan sholatnya dan semisalnya. Karena semua itu tidaklah berarti apa-apa jikalau akhlaqnya rusak dan jika mereka tidak bisa mengimplementasikan nilai-nilai ibadah yang mereka lakukan itu dalam realita kehidupan mereka dalam berinteraksi sosial di masyarakat.

Ibadah dan amal sholeh haruslah dilandasi dengan keikhlasan semata­-mata Lillahi ta‘ala.

Sia-sialah orang yang berhaji jika niatnya hanya ingin disebut “pak haji”, berkorban agar disebut orang yang berkemampuan, mengeluarkan zakat dan sedekah agar disebut dermawan, menganjurkan kearifan agar disebut orang yang alim atau arif bijaksana yang kesemuanya itu masih dilandasi oleh sifat riya‘, ujub dan takabbur.

Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya pada surat Al Maa’un ayat 1-7 yang berbunyi, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama ?. Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya. Orang-orang yang berbuat riya’. Dan enggan (menolong dengan) barang berguna”.

Allahu A‘lam Bisshawwab

Categories: Buya Masoed Abidin, Dakwah Komprehensif, Hijrah, Komentar, Komentar Buya, Pendidikan | Leave a comment

Amar Makruf Nahi Munkar

Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Amar Makruf Nahi Munkar

Oleh : H Mas’oed Abidin

Dewan Dakwah mengutamakan amar makruf nahi munkar berbentuk reaksi, sosial kontrol sering pula dengan kepeloporan.

Ditujukan terhadap hal hal yang tidak sesuai dengan ajaran agama, disikapi secara reaktif bil-hikmah.

Artinya, Dewan Dakwah selalu mendukung pemikiran pemikiran baru jika bermanfaat dan tidak membingungkan umat, apalagi sampai menggoyang Aqidah.

Maka wajar saja, jika di samping kegiatan sosial, Dewan Dakwah juga mengikuti perkembangan politik, terutama yang berkaitan dengan agama.

Para pemimpin yang menggerakkan Dewan Dakwah sangat arif dalam membaca arus yang tengah berkembang.
Baik arus politik maupun sosial budaya.

Persepsi dan image buruk terhadap partai politik yang terbentuk pada zaman Orde Lama sebagai penyebab instabilitas semakin kental di zaman Orde Baru.

Persepsi tersebut telah dijadikan senjata propaganda sistematis untuk meminggirkan peran partai dalam percaturan politik nasional.

Sebagai gantinya penguasa dan meliter menjadikan Golkar sebagai mesin politik baru, yang sepanjang sejarah Orde Baru tidak mau menyebut dirinya partai.

Upaya peminggiran partai ini diawali ketika Pemerintah mengajukan 3 Rancangan Undang-undang politik yaitu RUU tentang partai politik, RUU sistem Pemilu dan RUU politik dalam legislatif.

Menyadari besarnya ancaman ketiga RUU itu terhadap eksistensi partai, anggota DPR waktu itu berusaha menggagalkan usaha pemerintah ini.

Namun tanpa sepengetahuan mereka, pada bulan Juli 1967, Soeharto melakukan negosiasi politik dengan para pimpinan partai yang hasilnya dikemudian hari dikenal dengan “konsesus nasional”.

Pertama, pemilihan akan dilaksanakan dengan sistem list (daftar) sebagaimana yang dikehendaki pimpinan partai.

Kedua, keanggotaan DPR diperbesar dari 347 orang menjadi 460 orang.

Ketiga, pemerintah berhak mengangkat 100 orang anggota DPR (75 mewakili kepentingan militer dan 25 mewakili kepentingan sipil non partai).
Dan mengangkat sepertiga anggota MPR.

Keempat, anggota ABRI melepaskan hak pilih mereka dalam pemilihan umum.

Konsesus yang mengubah peta politik parle-menter Indonesia ini meski jelas merugikan partai.

Sungguhpun begitu, tetap diterima oleh sebahagian para pimpinan partai karena mereka optimis akan memenangkan pemilihan umum.

Konsesus ini telah menimbulkan kemarahan banyak para politisi partai di DPR. Akibatnya, selama tahun 1967-1968 Soeharto mengeluarkan mereka dari legislatif dan menggantikannya dengan orang-orang-nya.

Masih dalam rangka melumpuhkan partai, keluarlah Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 12 tahun 1969 dan Peraturan Pemerintah No. 6 tahun 1970 yang intinya melarang pegawai negeri menjadi anggota partai politik.

Dan menetapkan pegawai-pegawai negeri harus memiliki monoloyalitas (kesetiaan tunggal) kepada pemerintah.
Dalam hal ini memilih Golkar.

Mereka yang bersikeras menjadi anggota Partai Politik, apalagi menjadi pengurusnya, harus rela keluar sebagai pegawai negeri.

Arus mencemaskan di bidang budaya berupa derasnya kebangkitan nativisme yakni kepercayaan dan anutan anutan yang dianggap dari nenek moyang yang dilestarikan secara turun temurun.

Kebangkitan kepercayaan dan pelestarian anutan nenek-moyang ini, yang bila dilihat bertolak belakang dengan ketentuan ayat-1 dari pasal 29 UUD 1945, yang menyatakan bahwa Indonesia memiliki keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa, ternyata mempunyai korelasi dengan proses sekularisasi atau spatialisasi pada kehidupan kemasyarakatan.

Proses modernisasi dibarengi dengan industrialisasi, urbanisasi, sekularisasi, secara besar besaran membawa perubahan sangat berarti dalam semua dampak sosio politiknya.
Telah menyebabkan makin cairnya pandangan ideologis umat dan bangsa.

Masyarakat industri, memang memiliki kecenderungan untuk mengalami sekularisasi.
Suatu upaya, yang memisahkan sektor sektor sosial budaya dari dominasi agama.

Sekularisasi yang berpangkal dari faham sekularisme materialisme berkembang lebih cepat pada ma¬syarakat indusri.
Sekularisme cenderung untuk meniadakan peranan agama.
Sekalipun kemungkinan bahwa agama sekedar mempunyai tempat dan kotak, berupa spatialisai agama, hanya memerani bidang “Rohaniah”.

Namun katanya sangat impoten sangat berperan dalam bidang kemasyarakatan yang lain.

Suatu kekhawatiran terbesar umat Islam dan bangsa Indonesia masa kini dan mendatang, adalah timbulnya masyarakat yang dikotakkan kedalam kelas kelas, berdasar kepentingan dan penguasaan ekonomi yang berbeda.

Dan, mungkin sekali saling bertentangan.
Kecenderungan kearah pengkelasan dalam masyarakat terlihat semakin meningkat pada tiga dasawarsa terakhir.

Berakibat kepada beban dakwah umat Islam menjadi semakin berat.
Dakwah Islam tidak semata harus menghadapi pemudaran dan pendangkalan nilai nilai agama.
Tetapi, dipaksa mesti juga berhadapan dengan fragmentasi sosial ke dalam kelas kelas ekonomi, pemilikan, dan materi.

Kebijakan perjuangan Islam menjadi bersifat ganda.
Di satu pihak, umat Islam mempunyai tugas nasional.
Mencegah pengkelasan masyar¬akat yang diakibatkan oleh sistem politik yang pragmatis.
Menerapkan secara aktual ekonomi berbasis kerakyatan.

Di lain pihak, umat Islam ingin mencegah sekularisasi.

Tugas ganda ini bertumpu pada keyakinan bahwa Islam sebagai agama dan pandangan hidup, harus mencegah pengkelasan masyarakat.

Pengkelasan masyarakat secara pasti mengarah dan berdampak kepada sekularisasi kehidupan.

Arus dari aliran spiritualisme nativisme sampai batas tertentu mempunyai raison d’etre.
Berhubung masyarakat industri selalu mempunyai ke cenderungan alienasi, yang diduganya dapat di tolong oleh spiritualisme yang merupakan terapi psikologis.

Spritualisme dianggap sampah masyarakat perasaan tidak aman warga masyarakat Industrial.
Lahir pula masyarakat dengan ilmu yang banyak diatas alas keimanan yang tipis. Too much science, too little faith.

Usaha yang perlu dijalankan untuk mengatasi gejala sekularisme dan nativisme dapat bersifat teoritik dan empirik.

Menghadapi sekularisme, secara teoritik Islam sudah mempunyai khasanah pustaka yang cukup luas.
Tinggal memasyarakatkannya, dan mengaktualisasikannya.

Dengan demikian garis besar upaya mencegah sekularisme ialah pengintregasian ilmu ilmu secara teoritk dalam sistem keagamaan.

Secara empirik, penanggulangan sekularisme adalah pengintregasian sistem budaya dalam sistem sosial dengan ajaran agama.

Tugas dakwah dalam menghadapi sekularisme menjadi sangat penting.

Nativisme, dapat dihadapi dengan ketinggian spiritualisme Islam.
Maka, secara teoritik sebenarnya, ajaran Islam dengan mudah dapat mengatasinya.

Dalam menghadapi sekularisme dan nativisme, persoalan yang tersulit adalah masalah kelem bagaan.

Senyatanya umat Islam cukup memiliki berbagai sumber daya, lembaga dan sumber ideologis bila mau berpedoman dari Risalah agama.

Masalahnya kini adalah usaha berketerusan memanfaatkan dan mengarahkan dakwah di bidang sosial budaya.
Guna menahan arus sekularisme.

Pada dasarnya nativisme timbul dari kepercayaan terhadap “warisan nenek moyang”.
Ditopang kesederhanaan berfikir.
Sama sekali bukan dikarenakan sifat sifat tercela yang membuat mereka terjauh dari cahaya ilahi (Aqidah tauhid).

Tidak semua warisan nenek moyang mesti ditinggalkan, ada yang masih bisa dipakai selama tidak berten¬tangan dengan aqidah Islamiyah.
Warisan nenek moyang yang sesuai dengan Islam dapat dilestarikan.
Bahkan dapat dikembangkan secara baik baik, mengharapkan kembali ruhul Islam.

Persoalan sekularisme dan nativisme menjadi makin kompleks, karena adanya jalinan kerjasama antara dua kekuatan sosial budaya.
Kerjasama ini terjadi karena mereka mempunyai kepentingan yang sama.

Keuntungan politik yang diperoleh nativisme selama ini, mempunyai latar belakang sosial dan sejarah.

Nativisme kebanyakan didukung oleh kebanyakan keturunan para priyayi (aristokrat), yang kemudian menjadi birokrat.

Secara historis pernah dalam masa yang panjang telah mempunyai jarak dengan budaya Islam.

Melalui dakwah yang intensif akan terpintal tali jarak sosial antara priyayi dan santri yang semakin dekat.
Kondisi ini dapat diharapkan membawa perkembangan sejarah sendiri.
Pada ujungnya akan cenderung untuk menyusutkan dukungan priyayi birokrat kepada nativisme.

Proses yang natural ini, akan terjadi sesudah masa generasi yang sekarang berada dalam birokrasi itu, berakhir.
Proses sejarah ini bisa dipercepat, dengan dakwah yang lebih intensif.
Karena itu perlu di tumbuhkan potensi umat.

Unsur-unsur yang ingin memojokkan umat Islam kini sedang bekerja keras. Kekuatan-kekuatan asingpun telah bermain.

Kita harus memperhatikan berbagai kegiatan yang ingin memojokkan umat Islam dengan cermat dan teliti.
Sehingga, maksud mereka yang sebenarnya jangan sempat terbuka lebar.
Jangan sampai terulang peristiwa masa lalu yang menyakitkan.
Mereka yang “bermain,” kita sama kita sesama antara umat Islam dengan penguasa menjadi jauh.

Dan akhirnya bukan saja kehidupan berbangsa terganggu, bahkan integrasi bangsa pun terancam.
Tanda-tanda disintegrasi bangsa sudah mulai ada yang melihatnya.

CR Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir dalam Dakwah Komprehensif pada bagian Gerak Langkah Dakwah Ilaa Allah oleh H. Mas’oed Abidin

Categories: Buku Buya, Dakwah Komprehensif, Masyarakat Adat, Mohamad Natsir, Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir | 1 Comment

Menjadi Opsir Lapangan, Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Membentuk Opsir Lapangan

Tuntutan zaman terus bergulir.
Perubahan zaman dengan segala akibatnya merupakan satu undang undang baja sejarah sebagai bagian dari “Sunnatullah”.

Maka yang sangat dibutuhkan untuk menggerakkan dakwah adalah teoritikus yang tajam, dan effektif.
Di samping itu, yang dihajatkan benar dalam pembinaan umat adalah, “opsir lapangan” yang bersedia dan pandai ber-kecimpung di tengah tengah umat.

Memang diperlukan para ilmuan atau sarjana yang berpengalaman.
Tetapi yang paling dihajatkan bukan semata mata sarjana yang “melek buku tetapi buta masyarakat”.

Kemahiran membaca “kitab masyarakat” tidak dapat diperoleh dalam ruang kuliah dan perpustakaan semata.

Karenanya, perlu di introdusir ke tengah masyarakat.
Untuk bisa berperan dalam menggiring dan mengawal umat, agar turut aktif bersama-sama, dalam menghadapi setiap persoalan.
Selalu mencoba mengatasi persoalan dari kehidupan umat di pelbagai bidang.
Sehingga melalui introdusir itu, dapat merasakan denyut jantung umat.

Lambat laun berurat pada hati umat itu.
Makin pagi makin baik….”, kata Bapak Mohamad Natsir.

Di tengah masyarakat yang hidup akan dapat berlangsung proses timbang terima kepemimpinan secara berangsur angsur.

Di kala itu, akan berlangsung suatu estafetta alamiah.
Antara pemimpin yang akan pergi dan yang akan menyambung.
Dalam suatu proses patah tumbuh hilang berganti.
Kesudahannya yang dapat mencetuskan api adalah batu api juga.

Inilah kewajiban setiap kepala keluarga, yang disebut pemimpin.
Justru di saat serba sulit itulah umat menghajatkan para pemimpin mereka.

Umat dapat tetap merasakan bahwa pemimpin mereka selalu berada di tengah tengah mereka.
Di dalam keadaan suka maupun dalam duka.
Arti yang lebih mendalam, adalah tetap bersama sama menghadapi persoalan.

Kunci keberhasilan pemimpin adalah, tetap berjalan dijalan Allah.
Selain itu, berkemampuan meng-identifikasi permasalahan umat.

Kadar seorang pemimpin selalu teguh dan setia, dalam tujuan pembinaan jamaah.

Dalam upaya meningkatkan kinerja, da’i harus berinteraksi dengan lingkungan secara aktif.
Siap melakukan dan menerima perubahan dalam tindakan yang benar.
Segala tindakan dan perbuatan akan selalu disaksikan oleh Allah, Rasul dan semua orang beriman.

Tentulah da’i sebagai pemimpin ditengah jamaahnya tidak boleh hidup dalam kekosongan.
Dia akan menjadi sumber manfaat bagi umat binaan.

Syarat utama menjadi muslim adalah bermanfaat terhadap orang lain.
Diantara bimbingan Rasulullah SAW mengingatkan,
Artinya, “seluruh makhluk adalah keluarga Allah, yang disayang olehnya yang bermanfaat untuk sesamanya”.(Sahih Muslim).

Golongan bukan tujuan.
Kelompok hanya sekedar sarana untuk mencapai tujuan.
Maka tugas kita adalah menebarkan kasih sayang, yang tampak dalam pelaksanaan amar makruf (sosial support) dan nahi munkar (sosial kontrol).
Artinya, “Sayangilah yang di bumi, niscaya kamu akan disayangi oleh yang di langit” (Musnad Tirmidzi).

Kepentingan kelompok harus tunduk kepada ke maslahatan umat.
Da’i sebagai kader perjuangan ditengah umat binaan tidak boleh mengurung diri.
Mengisolasi diri akan berdampak kepada terjauh dari sikap objektif.
Akibatnya akan menjadikan diri seorang yang lebih mementingkan golongan.
Mementingkan kelompok semata akan sama hal nya dengan membangun rumah untuk kepentingan rumah.

Masyarakat lingkungan adalah media satu-satunya tempat beroperasi para da’i di lapangan dakwah sepanjang hidup.

Perlulah diingat, bahwa “yang banyak diperhatikan umat adalah yang paling banyak memperhatikan kepentingan umatnya”.

Konsekwensinya setiap kader pemimpin umat harus siap menerima segala cobaan dari Allah.
Da’i harus punya kesadaran iman yang kokoh terhadap kekuasaan Allah, dan keyakinan kepada alam gaib akhirat tempat kembali seluruh kehidupan.

Kepercayaan kepada Allah secara benar akan menyelamatkan dari kesiasiaan berpikir terhadap sesuatu yang diluar wilayah ke mampuan rasio.
Rujukan keyakinan itu sesuai dengan bimbingan Al Quran dan Al-Hadist.

Alam semesta yang memiliki dimensi ruang, waktu, volume adalah milik Allah.
Kesemestaan alam berguna untuk sebesar manfaat bagi manusia.
Karena itu, da’i harus memiliki ilmu pengetahuan yang me madai dan tidak menjadikan dirinya tertutup, pasif atau mengisolasi diri.
Da’i, mestinya selalu aktif.

Pengetahuan Internasional penting untuk menunjang gerak dakwah dan harakah Islamiyah secara global.
Karena, umat Muslim ada di mana-mana.
Pengetahuan ini mendorong melakukan amar makruf, social support untuk menegakkan kebenaran.
Seiring dengan itu ada komitmen tegas terhadap nahi munkar, social control menghadapi kemungkaran.

Setiap da’i tahu bahwa seluruh dunia adalah tempat berkarya dan beramal.
Artinya “Dijadikan untukku seluruh punggung bumi untuk masjid (tempat berswujud, mengabdi) dan sebagai tempat yang bersih (bersuci)”. (Sahih Muslim, Sunan Abu Daud, Tirmidzi, an-Nasa-I, Ibnu Majah, Ad-Daramy dan Imam Ahmad bin Hanbal)

Sebagai kader pemimpin umat, mestilah da’i mempersiapkan diri dengan pengetahuan, yang akan menambah bekal kesadaran lokal, dengan mengenal;
(a) keadaan masyarakat binaan, aspek geografi, demografi,
(b) sejarah, latar belakang masyarakat, kondisi sosial, ekonomi,
(c) budaya, adat-istiadat.

Karena secara natural alamiah, setiap tanah ditumbuhi tanaman khas.
Pengetahuan lokal berguna memperbaiki masyarakat dengan semangat ihsan.
Dengan berbekal pengetahuan-pengetahuan tersebut akan mampu membuat analisis, kemudian akan menyajikan alternatif-alternatif.

Teori-teori yang khayali adalah angan-angan semata.
Masyarakat memerlukan kenyataan yang menyentuh kehidupan secara langsung.
Tujuan akhir menghapuskan ketidak seimbangan serius melalui pendidikan dan prinsip-prinsip Islami.

Bagi lingkungan masyarakat Islam umumnya, boleh saja disajikan berbagai hidangan, akan tetapi syarat hukumnya sama sekali tidak boleh dilupakan, yaitu semuanya mesti halal. Disini terlihat keseriusan dakwah dan pelayan umat.

Da’i adalah pemimpin di tengah kaumnya.
Artinya “Pemimpin bangsa (kaum) adalah pelayan mereka” (Sunan ad-Dailamy dan at-Thabarani).

Seorang da’i mesti menempatkan diri ditengah masyarakat dengan orientasi pengabdian yang luhur.
Sebisanya, sanggup menawarkan alternatif keumatan, dalam menjawab masalah umat dikelilingnya.

Sebagai pemimpin yang membina masyarakat dengan penuh perhatian dan keikhlasan.
Maka, keberadaannya di tengah umat menjadi perhatian dan selanjutanya akan mendapatkan dukungan masyarakat kelilingnya.

Tindakan awal yang akan menopang keberhasilan dakwah para da’i secara individu adalah dengan menguasai pengetahuan.
Minimal tentang kejadian sekitar.
Karenanya, da’i perlu mendapatkan supply informasi secara lokal dan nasional, yang amat berguna dalam menggerakkan umatnya agar mampu berpartisipasi pada setiap perubahan.

Para du’at perlu pula aktif dalam setiap pertemuan-pertemuan yang bertujuan menopang keberhasilan dakwah dan memelihara kesinambungan halaqah dan usrah.

Akhlak karimah, menopang keberhasilan da’i dalam setiap dakwah praktis, menyangkut keseharian umat seperti, kelahiran, perkawinan, dikala sakit dan kematian.
Paham benar tentang tantangan dimedan dakwah yang sangat banyak, namun uluran tangan yang didapat hanya sedikit.

Pemahaman sedemikian akan mampu mengatasi situasi dengan bermodalkan kesadaran.
Manfaatkan jalinan hubungan yang sudah lama terbina.

Suatu gerakan dakwah akan menjadi lemah bila tidak mampu berfungsi seperti sarang lebah atau kerajaan semut penuh vitalitas, enerjik, dan bernilai manfaat sesama masyarakatnya.

Secara Nasional mesti tertanam komitmen fungsional bermutu tinggi.
Memiliki kemampuan penyatuan konsep-konsep, alokasi sumber dana, perencanaan kerja secara komprehensif, akan mendorong terbentuknya center of excelences.

Pada ujungnya, tentulah tidak dapat ditolak suatu realita objektif bahwa, ” jika da’i banyak akan lebih banyak umat Islam yang dipimpin”.

Bila umat Islam banyak membaca, maka umat Islam akan memimpin dunia, sesuai isi firman Allah didalam al Quran Surah-96, al-‘Alaq, ayat:1-5.

Akhirnya, “Siapa yang paling banyak bisa menyelesaikan persoalan masyarakat, pastilah akan berpeluang banyak untuk mengatur masyarakat itu.”
Jujur dan Objektif sangatlah perlu.

Para da’I yang memiliki sikap jujur dan objektif dalam meng ambil pelajaran berguna, akan berkemampuan sanggup melihat diri dari dalam.
Rela menerima kritik konstruktif dari umat binaan, akan menanamkan kepercayaan diri dan mendorong untuk melakukan identifikasi kekurangan.

Kerelaan merupakan latihan internal untuk membentuk kejujuran.
Tidak jujur kepada diri, tentulah tidak dapat melatih diri kepada yang benar. Mampu melihat tambah kurang, terbuka untuk kompensasi dan ekualitas.

Bila dilakukan identifikasi kelemahan-kelemahan, umumnya timbul karena hilangnya komitmen mendasar.

Da’i adalah bagian dari gerakan dakwah dan produk dari dakwah.
Sebagai produk dakwah, maka da’i harus bersedia menghadapi aksi reaksi dalam nuansa konfrontatif maupun reformatif, termasuk dalam bidang budaya, politik sosial ekonomi.

Mengantisipasi keterbelakangan dengan konsep fikrah aktifitas terencana dengan kemampuan analisis.

Dalam pengalaman dakwah kemajuan selalu dihalangi kelemahan yang dimiliki. Keterbelakangan adalah penyakit yang melanda setiap orang.
Berbuat dengan keyakinan bahwa sukses hanya dari Allah’ akan melahirkan sikap tetap berusaha di jalan Allah.

Kesudahannya, rela mengakui kesalahan dan bersedia memperbaiki kekeliruan.
Suprioritas tergantung kepada ideologi wahyu bukan oleh superioritas manusianya.

Rusaknya da’i dalam dakwah selama ini karena melaksanakan pesan sponsor diluar ketentuan wahyu agama.
Perjuangan menghadapi kemunduran dakwah selalu dibarengi oleh kelemahan klasik kekurangan dana, tenaga, dan hilangnya kebebasan gerak.
Koreksian perlu dilakukan melalui kaji ulang dalam membudayakan konsultasi dan musyawarah untuk setiap masalah umat yang dihadapi.

Partisipasi aktif dalam mengambil dan melaksanakan keputusan akan mendorong kepada hidupnya jamaah.
Terpelihara semangat tim atau nidzam.

Akhirnya, dapatlah dibuktikan bahwa kerjasama lebih baik dari sendiri.
Kenyataan dalam perjalanan dakwah adalah ”al haqqu bi laa nidzaam, yaghlibuhul-bathil bi an-nidzam” artinya, sesuatu kebenaran yang tidak terorganisir, berpeluang abesar untuk dikalahkan oleh yang bathil, tetapi teratur.

Ungkapan ini senyatanya mengandung makna yang dalam.
Artinya juga adalah, pemain terbaik yang kehilangan semangat tim yang utuh selalu akan dikalahkan oleh pemain-pemain kurang bermutu tetapi memiliki semangat tim yang teratur.

Karena itu, libatkanlah seluruh potensi umat.
Pemeranan perempuan, anak-anak dan kalangan dhu’afak, sangat mendukung gagasan dan gerak dakwah.

Adanya ungkapan, “Innama tunsharuuna wa tur-zaquuna bi dhu’afaa-i-kum”, adalah mempunyai makna bahwa, kamu hanya akan terbantu oleh kalangan lemah diantara kamu.

Maka, perlibatan mereka pada program-program pembinaan dan dalam gerakan dakwah, seharusnya dijadikan prioritas.
Perang tidak akan dapat di menangkan manakala lebih dari 50 % kekuatan tidak di ikut sertakan.

Menghindari kepemimpinan otoriter berarti menjaga jiwa umat agar tidak mati. Masyarakat yang mati jiwa akan sulit diajak berpartisipasi dan akan ke hilangan semangat kolektifitas.

Bahaya dalam membina masyarakat adalah membiarkan umat mati di tangan pemimpin.
Tugas pemimpin menghidupkan umat.

Umat yang berada di tangan pemimpin otoriter dengan meninggalkan prinsip musyawarah sama halnya dengan menyerahkan mayat ke tangan orang yang memandikannya.

Karena itu, hidupkan lembaga dakwah sebagai institusi penting dalam masyarakat.

Fungsi yang selamanya tergantung kepada orang seorang akan menghilangkan kestabilan.
Kurangnya perencanaan akan menghapus semangat kelompok dan padamnya inisiatif.
Tujuan institusi menghidupkan dakwah.
Menggerakkan institusi dakwah bukan sekedar mengumpulkan materi.

Kewajiban yang teramat krusial adalah, menghidupkan ketahanan umat baik secara nasional maupun regional.

Sosialisasi mempertemukan pemikiran dan informasi, konsultasi dan formulasi strategi serta koordinasi di era globalisasi memasuki millenium ketiga menjadi tugas utama setiap da’i dalam menapak perubahan cepat dan drastis.

Di alaf baru, millenium ketiga, setiap hari akan terasa dunia se- makin mengecil. Tugas kita termasuk membuat rencana.
Membuat rencana kerja agar dakwah tidak dikelola secara krisis dan darurat. Tetapi, dakwah merupakan suatu pekerjaan rutin.

Kesalahan dalam membuat rencana, maka tujuan dakwah menjadi kabur.
Salah menempatkan sumber daya yang ada akan berakibat kesalahan prioritas.

Perencanaan matang menjadikan gerakan dakwah berangkat dari hal yang logis (ma’qul, rasionil), selanjutnya sasaran dakwah dapat diterima oleh semua pihak. Karena, dakwah bukan kerja part-time sambilan dan sukarela bagi yang giat dan aktif saja.
Tetapi harus menjadi tugas full-time dari seluruh spesialis ditengah masyarakat.

Dakwah mesti ditunjang oleh sarjana-sarjana spesialis, pedagang spesialis, birokrat spesialis, sehingga dapat disajikan sebagai suatu social action.
Maka sangat diperlukan generalitas murni dan meyakinkan secara rasionil tentang keindahan Islam.

Memahami fenomena besar dan menarik dari perkembangan globalisasi akan membuka peluang perkembangan Islam.

Mayoritas ilmuan pemimpin dunia secara universal mulai membaca tanda-tanda zaman, zeit-geist untuk siap menerima kembali per-adaban Islam sebagai alternatif untuk mewujudkan keselamatan didunia.

Dakwah kedepan adalah dakwah global.
Gerakan dakwah partial tujuannya adalah Islamisasi masyarakat Islam.
Lebih umum, tujuan dakwah secara global adalah membangun, berkorban, mendidik, mengabdi, membimbing kepada yang lebih baik.

Tugas yang tak boleh diabaikan dalam mencapai tujuannya adalah berupaya merobah imej dari konfrontatif kepada kooperatif.

Akhirnya dapat dimengerti bahwa kebajikan hanya akan ada pada hubungan yang terang dan transparan, sederhana dan tidak saling curiga.

Masyarakat akan pecah dan rugi karena hidup dalam kancah saling mencurigai. Gila kekuasaan akan berakibat berebut kekuasaan.
Ujungnya, masyarakat jadi terkoyak-koyak..

Nawaitu bekerja tidak untuk mencari sukses, atau hanya asal bekerja, sudah semestinya diubah.
Yang mesti ditampilkan adalah amal karya bermutu di tengah percaturan kesejagatan (globalisasi).

Bila dalam setiap pemilihan barang-barang, kita selalu cenderung untuk memilih produk berkualitas, maka sudah semestinya dalam menampilkan setiap amal-karya, ukurannya haruslah pula kepada kualitas juga.

Semakin kecil kesalahan akan semakin besar keberhasilan dalam menyampaikan risalah dakwah.
Maka tidak dapat ditolak, kemestian menggunakan semua adab-adab Islam menurut bingkai Al Quran dan Al-Hadist untuk menghadapi semua persoalan hidup manusia yang akan menjamin sukses dalam segala hal.

Seorang pemimpin perlu mengetengahkan, formula ukhuwah antar organisasi Islam, supaya dapat berjalan lebih baik dari keadaan sekarang.

Bila selama ini ukhuwah itu diartikan secara statis, dan sering dikaitkan dengan status, maka di masa datang tanggung jawab dakwah adalah mengembangkannya menjadi fungsional.

Re-fungsionalisasi organisasi formal yang andal, sangat berguna sebagai alat perjuangan.

Sistem komunikasi dan koordinasi antar organisasi Islam non formal, lebih di utamakan pada peningkatan pola pembinaan dan kaderisasi pimpinan organisasi non formal yang ada.

Sebagai alat perjuangan, maka organisasi Islam harus memerankan fungsinya dengan jelas dalam gerak dakwahnya, antara lain,

 pengikat umat menjadi jamaah yang lebih kuat, se¬hingga merupakan kekuatan sosial yang efektif,

 media pengembangan dan pemasyarakatan budaya Islami,

 media pendidikan dan pembinaan umat untuk mencapai derajat pribadi taqwa,

 merencanakan dan melaksanakan kegiatan dakwah Islamiyah.

 media pengembangan minat mengenai aspek kehidupan tertentu, ekonomi, sosial, budaya, dan politik dalam rangka mengembangkan tujuan kemasyarakatan yang adil dan sejahtera.

Begitulah semestinya peranan lembaga-lembaga dakwah dalam menapak alaf baru, atau millenium ketiga.

CR. Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir dalam “Dakwah Komprehensif”, Bagian Gerak dan Langkah Dakwah Ilaa Allah, oleh H.Mas’oed Abidin

Categories: Buku Buya, Dakwah Komprehensif, Mohamad Natsir, Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir | Leave a comment

Membina Kader, Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Membina Kader

Dalam menghimpun kembali potensi umat dalam satu keluarga besar yang sudah lama bercerai berai, harus dengan kerja keras.
Pembinaan semestinya dilakukan tahap demi tahap.
Bentuk kegiatannya terus menerus.
Di antaranya melalui Kegiatan Konservasi.

Melalui kegiatan ini diupayakan mencari, dan meng ajak kembali semua tokoh-tokoh dan pemimpin umat.
Terutama yang merupakan stok lama, dari kalangan keluarga besar pada seluruh tingkatan.
Usaha konservasi tidak boleh terhenti, sampai selesai.
Agar tidak terjadi proses pembusukan.

Sementara, terlihat bahwa proses pembusukan ini sering menggejala pada sebahagian anggota keluarga yang sempat uzlah atau terbawa hanyut bersama arus zaman.

Kegiatan konservasi perlu diikuti dengan kegiatan Re-Integrasi.
Upaya yang semula berupa kegiatan konservasi pasif, semestinya dilanjutkan dengan usaha re-integrasi aktif.
Tujuannya untuk menghimpun kembali anggota keluarga yang sudah berserakan.

Pada periode ini akan ada yang mengeluh.
Apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur.
Sepertinya mereka sedang menunggu gong perubahan.
Padahal gong yang ditunggu-tunggu belum tentu kapan pula akan berbunyi.
Dan belum pula terang, siapa yang akan memukul gong tersebut.

Karena itu upaya re-integrasi mesti jalan terus.
Usaha ini meliputi tiga bidang re-integrasi umat. re-integrasi pemimpin dan re-integrasi kader.

(1). Re-integrasi umat.
Akibat korban politik, “orde lama dan juga orde baru”, atau orde laba, yang paling dirasakan oleh umat adalah penderitaan kehidupan rohani.
Penderitaan kehidupan materi berbentuk krisis ekonomi dan moneter, telah melahirkan kelumpuhan fisik umat dimana-mana.

Pada hari ini penderitaan dan krisis kehidupan materi pada sebagian kecil umat golongan menengah keatas tidak sangat dirasakan.
Beban penderitaan kehidupan rohani terasa semakin parah justru terutama di kalangan menengah keatas itu.

Usaha untuk membangun potensi mayoritas umat semakin berat.
Kemana obatnya hendak dicari?
Sebetulnya, obat penyembuhannya tidak perlu dicari kemana-mana.
Salah satu obat penderitaan rohani adalah dengan meluruskan niat.
Bersedia kembali kepada tuntunan agama.

Namun perlu diingat bahwa nawaitu orang yang berpindah perahu, dengan anggapan bahwa perahu yang dahulu sudah kandas, tentu jauh berbeda, dengan nawaitu orang yang juga telah berpindah perahu, tetapi masih mau terikat kepada memikirkan nasib umat.
Biarlah bertukar lambang asal tidak bertukar jiwa.
Insya Allah ia tidak akan bernafas keluar badan.
Tidak pula asal bergayut pada sembarang kenderaan untuk sampai di tujuan.

(2). Re-integrasi pemimpin.
Pemimpin umat masih banyak.
Yang mulai langka adalah pemimpin panutan.
Begitu pula halnya akan ulama.

Ulama tidak langka, tapi yang langka adalah ulama yang memiliki kharismatik.
Kharisma seorang ulama atau pemimpin, antara lain ditentukan oleh :
Satu kata dengan perbuatan, punya prinsip dan pendirian hidup.
Kemudiannya, selalu berorientasi kepada kebenaran, dan selalu memikirkan nasib umat.

Demikian, di antara pegangan yang dipesankan Bapak Mohamad Natsir kepada da’i di medan dakwah.

Pemimpin yang dibutuhkan di setiap zaman adalah yang mampu melakukan re-integrasi umat ini. Mampu pula tampil sebagai konseptor, organisator.
Sebagai pemimpin, akan memikul beban pula selaku administrator, yang menjadi penggerak dan penyan dang pikulan.

Setidak-tidaknya pengumpul dana.
Dalam situasi seperti sekarang ini, pemimpin yang sangat diperlukan adalah pimpinan kolektif. Bukan pimpinan yang terletak pada satu tangan.
Begitu pesan Bapak Mohamad Natsir.

(3). Re-integrasi kader.
Pada setiap zaman ada rijalnya.
Bagaikan pertunjukan seni pentas, babak demi babak akan beralih.
Pemain bisa berganti.
Bahan cerita selalu bertukar.
Namun, khittah tidak boleh berobah.

Mempersiapkan kader sebagai pemain di pentas sejarah segera perlu dilakukan melalui lima garapan.

Usaha yang mestinya ditekuni dalam kerangka ini, adalah;
(1) Mempersiapkan jiwa kader (sejak dini)
(2) Melengkapkan pengalaman mereka
(3) Mencetuskan cita-cita
(4) Menggerak kan dinamika
(5) Menghidupkan self disiplin berlandas-kan iman dan taqwa.

Sungguhpun kerja sedemikian ini bukanlah kerja ringan.
Karenanya, tidak boleh dicecerkan.


CR. Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir dalam Dakwah Komrehensif, Bagian dari Gagasan dan Gerah Dakwah, oleh H. Mas’oed Abidin

Categories: Buku Buya, Dakwah Komprehensif, Mohamad Natsir, Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir | Leave a comment

Bagian dari Perjalan Sejarah Bangsa, Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir

Bahagian Dari Sejarah Bangsa

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Pertemuan hati dengan hati memegang peranan penting.
Diwujudkan secara nyata dalam menilai setiap situasi.

Sesudah Masyumi membubarkan diri, rehabilitasinya tidak diizinkan pemerintah sampai ke zaman Orde Baru, bahkan di era Reformasi.
Sangatlah wajar jika sebagian besar tokoh Masyumi di pusat dan di daerah-daerah seluruh Indonesia ikut mendirikan dan memelihara keberadaan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.

Sejak tahun 1967 sampai 1993, organisasi Dewan Dakwah ini dipimpin Bapak Mohamad Natsir, yang pernah memimpin Masyumi selama beberapa periode. Karena itu muncul anggapan, Dewan Dakwah adalah penerus Masyumi.

Masyumi sebagai satu partai politik Islam yang pernah hidup di Indonesia memiliki asas dan tujuan perjuangan yang jelas.
Terlihat dalam Tafsir Asasnya yang menjadi Program Perjuangannya.

Melihat perjuangan Masyumi sebagai Partai Politik Islam, dan kemudian tertanam anggapan bahwa Dewan Dakwah adalah pelanjut Masyumi, tidak sepenuhnya tepat.

Masyumi itu partai politik, sedang Dewan Dakwah adalah satu gerakan dakwah Islamiyah yang komprehensif.

Peran Dakwah menjangkau seluruh aspek kehidupan manusia dalam upaya menjadikan, “umat yang berbahagia di dunia dan berbahagia di akhirat dan terhindar dari siksaan neraka, dengan izin Allah“.

Dewan Dakwah tidak punya anggota yang terdaftar.
Karena bukan organisasi massa dan tidak pula organisasi politik.
Tetapi, simpatisannya banyak sekali.
Itu semua hanya lantaran orang orang Masyumi tidak boleh berpolitik.
Masak kami mau diam saja? Kata bapak DR. Anwar Harjono, SH.

Andaikata boleh berpolitik, akan kami dirikan partai politik.
Karena tidak boleh, maka kami terjun ke dunia dakwah.
Jadi, walaupun orangnya sama, peran mereka sudah berbeda.

Sangat wajar, bila pimpinan dan keluarga besar Bulan Bintang yang telah menjadi keluarga besar Dewan Dakwah tidak menginginkan agar keluarga besarnya buta politik.

Pada hakekatnya politik adalah seni mengatur masyarakat.
Kehidupan politik sering ditandai dengan konflik kepentingan antara kelompok masyarakat.

Umumnya politik berusaha untuk merealisasikan gagasan ideologi, menjadi realitas sosial yang ideal, menurut wawasan masing masing.
Kepentingan yang dimaksud dapat bersifat politis, ekonomis, kultural, maupun ideologis.

Bila diperhatikan, perjuangan politik umat Islam di Indonesia tampak peranan dari politik Islam yang mengalami penurunan secara konstan.
Keadaan itu, sebagai akibat kelemahan internal dalam tubuh umat.
Atau, karena mengalami penurunan efektivitas peran, sebagai akibat “erosi fungsional”.

Penurunan kualitas umat juga dikarenakan faktor ikatan jamaah, unsur kepemimpinan, dan melemahnya ukhuwah.

Faktor eksternal, utamanya diakibatkan oleh perekayasaan sosial dan politik dari pihak penguasa.
Kecendrungan erosi fungsional dan mengakarnya sifat ketergantungan serta “hanyut arus” lebih menonjol lagi.
Terutama dalam dua dasawarsa terakhir ini.
Bisa jadi karena perekayasaan politik yang datang dari luar.

Perekayasaan politik oleh pihak-pihak yang selalu berupaya melumpuhkan peranan politik rakyat dan umat Islam khususnya, terasa amat efektif sejak beberapa dasawarsa terakhir.

Kenyataan pula, proses pembangunan yang sangat berorientasi pada aspek ekonomi dan sangat pragmatik, secara langsung maupun tidak langsung, berpengaruh pada proses penumpulan pandangan ideologis masyarakat Indonesia.

Banyak daerah di Indonesia, yang pada zaman demokrasi parlementer didominasi oleh kekuatan politik Islam seperti Sumbar, Jabar, Sulsel, dan Kalsel, kini telah diwarnai kekuatan politik lain.

Secara sangat singkat kemorosotan peran politik Islam dalam sejarah Indonesia dapat dilukiskan dalam beberapa era yang pernah dilampauinya.

Saham kehidupan politik demokratik umat Islam sebenarnya dapat mengambil peranan politik secara representatif.

Tetapi kesempatan itu tidak pernah ada, juga tidak di masa Orde Baru.
Pada masa sebelum kelumpuhan kekuasaan Soekarno, partai politik Islam Masyumi sudah menuntut demokratisasi pemerintah-an dalam arti yang seluas-luasnya.

Demokrasi ini merupakan hasil perjuangan manusia seluruh dunia sepanjang sejarah.

Dalam era 1959 1965 peranan politik umat dan organisasi-organisasi Islam terpaksa didesak ke pinggir.
Demokrasi Terpimpin ala Soekarno telah menggeser kekuatan politik Islam.
Antara lain dengan pembubaran Masyumi.

Lebih jauh ditampilkan anggapan bahwa paham Bapak Mohamad Natsir tentang demokrasi, sangat bertolak belakang dengan demokrasi terpimpin yang akan diterapkan menurut “konsepsi Soekarno”.

Pak Syafruddin pernah mengingatkan ; “bahaya yang sebesar-besarnya yang mengancam negara Republik Indonesia, yakni bila demokrasi tenggelam dalam koalisi dan koalisi dimakan oleh anarki, dan anarki diatasi oleh golongan-golongan yang bersenjata dan oleh golongan-golongan yang menguasai golongan yang bersenjata itu”.

Bapak Mohamad Natsir juga bertanya, “apakah penegak demokrasi akan dapat mengembalikan kepercayaan yang ketika itu sedang goncang”

Selanjutnya kata Bapak Mohamad Natsir, “demokrasi yang harus ditegakkan ialah yang tidak mengambang, yang tidak menghasilkan kekacauan dan anarki, tetapi yang terpimpin, terbimbing oleh nilai-nilai moral dan nilai-nilai hidup yang tinggi”.

Mohammad Hatta berkeyakinan bahwa fondasi Demokrasi di Indonesia sudah cukup solid, karena di dukung oleh kombinasi organik tiga kekuatan sosial-religius, yang sudah mengakar di sebagian besar masyarakat kita.

Bila Demokrasi lenyap maka lenyaplah Indonesia merdeka.
Begitu prinsip Pak Hatta.

Bila pembangunan ekonomi pada masa Demokrasi Pancasila dinilai berhasil, maka pembangunan politik menurut banyak pengamat berjalan agak lambat.

Dua puluh tahun pertama pelaksanaan Demokrasi Pancasila sering terlihat bercirikan sikap otoriter sebagai warisan priode sebelumnya, masih dirasakan. Mungkin, disebabkan upaya mempertahankan stabilitas politik untuk pembangunan ekonomi.

Beberapa tahun terakhir, kelonggaran politik makin dirasakan.
Sekalipun masih jauh dari pelaksanaan sesungguhnya dari sistim Demokrasi Pancasila yang semestinya harus, menghormati kedaulatan rakyat.

Kritik terhadap pelaksanaan Demokrasi Pancasila, ialah longgarnya sistem kontrol sangat kentara tampil dalam birokrasi, hingga korupsi dan kolusi mencapai titik terparah sepanjang titik sejarah kontemporer Indonesia.

Bila kondisi semacam ini semakin menjamur, menurut pendapat berbagai kalangan, tidak mustahil bangsa ini akan keropos pada ahkirnya.
Terbukti di antaranya pada prolog era Reformasi.

Pada zaman Demokrasi Terpimpin, keragaman ideologi partai-partai terus di pertahankan. Gejala seperti ini juga tampak pada era reformasi.

Pada pelaksanaan Pemilihan Umum Juni 1999, Indonesia masuk kembali kedalam sistim multi partai, dengan 48 partai peserta Pemilihan Umum.
Kondisi ini dianggap sebagai suatu konsekwensi riil, dari tuntutan era reformasi, setelah lengsernya Presiden Soeharto.

Tuntutan demokratisasi dan Hak Asasi Manusia, yang tidak terlaksana pada masa Orde Baru, harus pula dilihatkan dengan lahirnya banyak partai politik.
Yang besar massanya ataupun yang gurem, semua berlomba untuk tampil. Sebuah euforia yang sangat menarik.

Pada Demokrasi Terpimpin zaman Nasakom dibawah kekuasaan Presiden Soekarno dibedakan antara partai yang “progressif revolusioner” dan yang “kontra revolusioner”.
Pembedaan dilakukan oleh ke kuasaan pemerintah.
Maka pada era reformasi rakyat yang membuat pemilahan.

Partai peserta pemilihan umum diberi kategori sebagai partai reformis dan partai-partai pendukung status quo.
Partai pendukung status quo dianggap masih memihak kepada Orde Baru, yang telah berkuasa selama 32 tahun (1966-1998).

Ketika Era Orde Baru, di masa kekuasaan Soeharto dinilai banyak melakukan Korupsi Kolusi dan Nepotisme.
Kondisi ini sesungguhnya mernjadi hujatan yang amat mengena, pada saat bergulirnya era reformasi.

Semasa pemerintahan Presiden Soekarno, yang dikenal mulai akrab dengan PKI pimpinan D.N.Aidit, maka Partai Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI), yang dikenal sangat menentang pelaksanaan Demokrasi Terpimpin, dikategorikan sebagai “partai yang kontra revolusi”.

Keterlibatan tokoh-tokoh pimpinan dari kedua partai, Masyumi dan PSI, seperti Mohamad Natsir, Syafroeddin Prawiranegara, Boerhanoeddin Harahap, Soemitro Djojohadikoesoemo, Mr. Assaat, Buya K.H.A.Malik Ahmad, Mohammad Syafe’i pimpinan INS Kayu Tanam.
Dijadikan alasan tematik kontra revolusi dan kelompok pemberontak yang sangat berbahaya bagi bangsa Indonesia.

Kebetulan saja memang, para pemimpin dari kedua partai politik dimaksud, memang ikut secara aktif didalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).
Akibatnya, semakin disudutkannya posisi kedua partai dimaksud.

Di dalam pandangan pemerintahan Orde Lama di bawah kekuasaan otoriter Soekarno, kedua partai dan tokoh-tokohnya mesti diamankan dalam tahanan. Akhirnya, tanpa adanya pembelaan, Masyumi dan juga terhadap Partai Sosialis Indonesia (PSI) mesti menerima hukuman, dibubarkan.

Partai Masyumi sebagai kekuatan umat Islam terbesar di masa pemilihan umum 1955 terpaksa harus menerima perintah pembubaran dirinya pada tanggal 15 Agustus 1960 dengan Penetapan Presiden No.200/1960”.

Dalam waktu tigapuluh hari sesudah Penetapan Presiden No.200/1960 itu, pimpinan Partai Masyumi harus menyatakan partainya bubar.
Kalau tidak, Masyumi akan dinyatakan sebagai “partai terlarang”.

Maka, bubarnya partai Masyumi dirasakan sebagai korban politik orde lama.

Bila ditilik dalam pelaksanaan undang-undang secara yuridis formil dan yuridis materil sekarang, Partai Masyumi sama sekali tidak beralasan untuk dibubarkan.
Dimasa pemerintahan Soeharto, atau era Orde Baru, secara logika politik, seharusnya Partai Masyumi dan PSI yang dengan jelas menjadi lawan Orde Lama, mestinya direhabilitir.

Apalagi, kalau melihat prinsip partai Masyumi serta garis kejuangan para pemimpin umat yang memimpin partai Islam terbesar ini.
Sejak masa lalu secara tegas sangat menentang Komunis.

Pemerintahan Orde Baru juga hadir seiring dengan partai komunis dibubarkan. Pemerintahan yang disebut sebagai anti komunis.
Semestinya rehabilitasi partai Masyumi ini harus sudah ada di masa pemerintahan Orde Baru.

Ironisnya, para pemimpin Masyumi masih tetap disingkirkan.
Berbagai intimidasi selalu diarahkan kepada pemimpin umat Islam.
Di antaranya Petisi 50 dijadikan sebagai alat rekayasa pelumpuhan potensi politik umat Islam.

Sejak peristiwa itu, sebenarnya di dalam tubuh umat dan bangsa sudah tumbuh bibit perlawanan.
Sungguhpun di antara umat dan pemimpin masih ada yang sanggup bertahan.
Hal itu karena masih tersisanya anti toxin di dalam urat nadi umat.
Anti toxin itu adalah keyakinan hidup, dengan berwawasan Iman dan Islam. Cintakan persatuan dan anti komunisme yang tidak pernah kendor.

Memang ada juga sebahagian umat yang menghadapinya dengan pengendapan secara pasif.
Berbentuk ‘uzlah sambil menunggu masa berubah.
Karena adanya keyakinan, bahwa per-ubahan itu pasti datang, sebagai suatu sunnatullah.
Hanya menunggu waktu ketika.

Kondisi ini sebenarnya telah ikut menguatkan diri umat.
Tumbuhnya disiplin dari dalam.
Tidak hanya sekedar tumbuh paksa dari luar, seperti disiplin itik pulang petang. Berbaris patuh teratur di bawah komando sebilah ranting.

Disiplin paksaan, seperti sudah lama kentara diterapkan sejak masa Demokrasi Terpimpin, tidak bermakna apa-apa terhadap ruh umat.

Dalam kemasan demi stabilitas keamanan, berulang juga pada era Orde Baru, selama 32 tahun pemerintahan Soeharto memerintah.
Bila kita amati kondisi umat pada dua era pemerintahan Orde Baru dan lama, atau orde bala ini, sasaran dan akibat yang dirasakan tetap sama.
Yaitu meminggirkan umat Islam sebagai suatu kekuatan politik di Indonesia.

Sebenarnya secara kuantita jumlah umat Islam masih sangat dominan.
Namun dalam kenyataan diarena politik Indonesia sejak masa Orde lama telah terjadi adu kekuatan.
Pertama antara komunis, selanjutnya dengan sekuler dan Islam-phobia.
PKI yang berhasil melakukan infiltrasi cukup jauh ke dalam tubuh PNI (PNI kiri) dengan menguasai Front Nasional di satu pihak dan TNI AD di lain pihak, telah memberikan peluang kepada pihak komunis untuk menjadi pemenang.

Sepeninggal pemerintahan Soekarno, perlawanan yang dihadapkan kepada umat Islam tetap berlangsung terencana, dan dirancang secara apik oleh kelompok phobia Islam.

Kelompok salibiyah serta kalangan sekuler yang merasa tidak senang kepada peranan pemimpin-pemimpin Islam di Republik ini, ikut berperan mengambil dan memanfaatkan kesempatan.

Berbagai semboyan untuk menyudutkan kelompok Islam dengan tuduhan extrem kanan, fundamentalis, hijau royo-royo, secara sistematis ditampilkan.
Jargon-jargon tersebut sebenarnya tidak lebih hanya pelampiasan kecemasan yang mendalam terhadap umat Islam.

Kecemasan mereka ini juga terlihat kepada sangat ditakuti berperannya ICMI dan Dewan Dakwah.

Kadangkala, Dewan Dakwah dan ICMI dianggap sebagai wadah kebangkitan serta pusat kekuatan umat Islam.
Kondisi dan penilaian seperti ini, merupakan salah satu bukti paling nyata, adanya kelompok phobia Islam di negeri ini.

Era Reformasi telah melahirkan banyak partai-partai.
Termasuk partai yang berani menyatakan prinsip berasas Islam.
Kehadiran partai-partai itu, malah tetap dilihat sebagai bahaya.
Aliran politik Islam tetap dicurigai, dengan membawa kecemasan tersendiri.
Para politisi nasionalis yang bernafas dengan keterikatan paham liberalisme ala barat dan dalih demokratisasi, mulai menghembuskan nafasnya dalam slogan Islam Yes, Partai Islam No.

Bahkan, tatkala pimpinan umat yang ada dalam Majlis Ulama Indonesia (MUI) dan Dewan Dakwah menyerukan kepada umat Islam di Indonesia untuk tetap memilih calon-calon legislatif yang se-Aqidah, se-iman atau yang sama beragama Islam, maka seruan tersebut telah dinilai tidak proporsional.

Seruan pemimpin umat Islam dianggap sangat meresahkan.
Bahkan malah dianggap membahayakan bagi kelangsungan kehidupan bernasional. Sungguh sangat aneh.

Bila di zaman Soekarno sengaja dilahirkan ber-bagai usaha dengan menampilkan kekuatan penyeimbang terhadap kekuatan politik Islam.
Kemudian, berkesudahan pada arena adu kekuatan politik di Front Nasional dalam format Nasakom.
Kenyataannya, tampilan tersebut baru berhenti setelah terjadi peralihan kekuatan, karena meledaknya peristiwa G 30 S/PKI.

Maka, merupakan hal yang wajar saja bila perjuangan memperoleh kekuasaan merupakan fenomena politik yang paling menonjol dalam masyarakat.
Karena porsi kekuasaan yang diperoleh setiap kekuatan sosial masyarakat akan berujung pada menerjemahkan semua cita citanya menjadi kenyataan konkrit.

Dengan kata lain, setiap kelompok sosial politik, lewat kekuasaan yang diperoleh, selalu berusaha melakukan alokasi otoritatif nilai nilai yang diyakininya.

Demikianlah yang telah terjadi semenjak tahun 1960-1966-1998 di kala gerak dakwah mulai di kebiri.

Di awali dengan menyuntikkan serum NASAKOM, kemudian ASAS TUNGGAL ke dalam pembuluh darah umat secara paksa di bawah resep Demokrasi Panca Sila.
Demokratisasi dan stabilitas dengan bungkus dan kemasan hak-hak asasi manusia, sangat banyak dijadikan alat penekan. ‘
Hal tersebut sangat berpengaruh bagi pelemahan peranan politik umat Islam sejak masa Demokrasi Terpimpin.

Akibat langsung yang dirasakan adalah, banyaknya pemimpin umat yang senyatanya menduduki pucuk pimpinan partai Islam ditangkap, ditahan dan dipenjarakan.

Di antaranya Bapak Mohammad Natsir dan Boerhanoeddin Harahap yang berada dalam tahanan dari tahun 1961 hingga 1967.
Bapak Prawoto Mangkusasmito, Mohammad Roem, M.Yunan Nasution, E.Z. Muttaqin dan KH Isa Anshary, ditahan pula di Madiun pada tahun 1962.
Demikian pula terhadap Ghazali Sjahlan, Jusuf Wibisono, Mr. Kasman Singodimejo di Sukabumi.
Dan juga penangkapan, penyiksaan, penahanan terhadap S. Soemarsono, A. Mukti, Djanamar Adjam, KH.M. Syaaf dan lainnya.
Kebanyakannya adalah pemimpin bekas partai Masyumi.

Pemimpin-pemimpin kecil di daerah-daerah juga ikut merasakan tekanan-tekanan. Dijauhi dan dikucilkan.

Suatu dinamika perjalanan sejarah perpolitikan di Indonesia.
Banyak partai yang telah membubarkan dirinya karena berseberangan dengan kebijaksanaan pemerintah Soekarno.
Dianggap juga berlawanan dengan Pemerintahan Orde Baru.

Diyakini pula, sebagai partai, maka umat Islam yang sangat menentang keras komunisme di Indonesia, namun tetap dianggap tidak sejalan dengan Orde Baru.
Padahal, kalau melihat perjalanan sejarah pemerintahan Orde Baru, tatkala memulai langkah pembangunan dengan menghapuskan semua paham politik komunis di Indonesia.

Semestinya, partai-partai politik yang Islam yang konsekwen itu sudah mendapatkan angin politik yang segar.
Seharusnya pula dalam perhitungan di atas kertas, Masyumi tentu bisa di rehabilitir kembali.
Alasannya sangat rasionil.
Dan, semestinya menjadi pertimbangan.
Karena, satu-satunya partai politik di Indonesia yang sejak awal berdirinya menentang paham komunisme adalah Masyumi.
Dan teman yang paling setia dalam menegakkan azas-azas berbangsa atau bernegara adalah umat Islam.

Akan tetapi, yang terjadi lain dari perhitungan.

Keluarga besar Bulan Bintang atau yang sedari dulunya akrab disebut simpatisan Masyumi telah terlanjur disebut “kontra revolusi”.
Bahkan sejak dahulu pula, di zaman Demokrasi Terpimpin atau Orde Lama telah dinamakan bekas “partai yang dilarang”.
Pemberian cap gelaran ini berjalan terus hingga berpuluh tahun.

Walaupun zaman telah berganti dengan Orde Baru, kekuatan umat Islam tetap didorong kepinggiran arena percaturan politik bangsa.
Rehabilitasi Masyumi, sampai hari ini tampaknya tetap sesuatu yang mustahil.

Beberapa pertanyaan seringkali tampil kepermukaan,
apakah rasa nasionalisme pimpinan Masyumi itu, terutama Natsir, diragukan ?

Atau, masihkah di ragukan sikap demokratisnya Natsir ?
Sudah luas dimaklumi pandangan dan pemikiran Natsir tentang “nasionalisme” dan “demokrasi”, kadangkala seiring-sejajar dengan pemikiran Barat modern.

Bahkan, sering pula ditakuti oleh orang-orang yang datang dari barat.
Bapak Mohamad Natsir menilai, nasionalisme dengan pandangan dan anggapan yang wajar.

Nasionalisme sebagai fithrah manusia untuk mencintai tanah air yang diyakini sebagai anugerah (rahmat) Allah.
Agama Islam mengajarkan agar umatnya menjaga tanah airnya sebagai suatu suruhan Agama Islam.

Nasionalisme menurut Natsir, harus mendapatkan nafas keagamaan agar tidak menimbulkan perasaan ta’ashub dan chauvinisme.
Karena itu, sejak muda, Natsir terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia menerima pandangan dalam perjuangan pembentukan sebuah negara bangsa (nation-state) adalah suatu keharusan.
Ia adalah sebuah alat yang perlu untuk merealisasikan ajaran-ajaran Islam kedalam situasi konkrit.

Bapak Mohamad Natsir sendiri memang menganut keyakinan bahwa politik harus ditundukkan kepada etika yang tinggi.

Dengan cara itu, keinginan untuk berkuasa sendiri dan “menghabisi” orang-orang tak sepaham dengan menghalalkan segala cara, harus dihindari jauh-jauh.

Salah paham terhadap Masyumi dan Dewan Dakwah memang selalu ada.
Tujuan Masyumi dalam anggaran dasarnya, memperjuangkan terlaksananya ajaran dan hukum Islam dalam kehidupan orang seorang, masyarakat, dan negara Republik Indonesia menuju keridhaan Allah.

Di samping itu dalam pandangan politiknya, Masyumi sangat konsekwen menentang komunisme dalam segala bentuk.
Dalam pandangan terakhir ini sangat sejalan dengan langkah awal Orde Baru.

Dalam perjalanan sejarah masa Orde Baru, pemerintah sangat mengutamakan kepada stabilitas keamanan.
Dengan banyak menerapkan dwifungsi ABRI.
Kondisi ini sangat dirasakan dalam berbagai sektor lembaga pemerintahan.

Dalam era “Orde Baru” peran politik Islam menjadi makin lemah.
Umat Islam dan sektor sipil pada umumnya tidak lagi mempunyai peranan dalam proses pengambi¬lan keputusan di Indonesia.

Semakin jelas kekuasaan hampir secara penuh dipegang oleh golongan birokrat baik sipil maupun militer, terutama melalui Golkar.

Dua partai lainnya hanya berfungsi sejauh tidak menggangu sistem yang telah diciptakan.
Beberapa ciri utama Orba terlukiskan dalam berbagai fenomena,

Pertama, Peranan militer sudah melimpah di-berbagai bidang, terutama dibidang politik dan birokrasi.
Dan jabatan jabatan, sejak dari bupati sampai gubernur dan sel sel birokrasi penting telah diisi oleh militer.

Kedua, Kekuasaan negara dibidang ekonomi adalah besar, di samping itu, sektor swasta sangat kentara dimonopoli oleh pemilik pemilik modal kuat dengan elite politik sebagai pelindungnya .

Ketiga, Tidak saja Golkar dan Parpol, melainkan juga seluruh organisasi massa, termasuk organisasi organisasi keagamaan yang harus berazas tunggal.
Yaitu asas tunggal Pancasila.

Dan, lebih jauh lagi Pancasila itu sakti dan sakral.
Mesti dicantumkan dalam setiap asas dan dasar suatu organisasi.
Walaupun kenyataannya, sering ditemui yang men-cantumkan asas Pancasila itu, berkelakuan politik yang bertentangan dengan Pancasila sendiri.
Seperti dalam contohnya, menjadikan organisasinya sebagai sarang dari kolusi dan korupsi.

Akibat langsung dirasakan bahwa pemaksaan kehendak kepada rakyat kecil, dirasakan telah menjauhkan masyarakat dari pemerintahnya.

Pada situasi seperti ini, Pancasila hanya seakan sebagai mantel.
Tidak lagi dijadikan falsafah hidup yang semestinya direalisasikan dalam kehidupan berbangsa.

Sangatlah ironis, bahwa organisasi agama juga tidak diperbolehkan berazaskan agamanya.
Ini telah menunjukkan bahwa para penentu proses sosial secara sadar atau tidak telah bertekad memasuki full grown sekularisme.

Keempat, dalam bidang agama di tingkat massa rakyat dan jabatan jabatan strategis di berbagai Departemen dan Pemerintah Daerah terasa dominasi golongan minoritas tertentu yang mengganggu rasa keadilan masyarakat luas.

Kelima, adanya usaha de-Islamisasi.
Pada era reformasi, yang di ubah barulah kulit pembungkus.
Esensi kekuasaan masih akan bertahan pada kelompok yang mengandalkan kekuatan besar, mungkin masih menjauh dari kebenaran dan keadilan.
Kekuatan Islam masih sangat dicemaskan.

Status quo kekuasaan baru masih tetap menjadi bahaya latent terhadap umat Islam.

Pada akhirnya, pendekatan pendekatan security terasa sangat menonjol, sehingga rasa tanggung jawab dan partisipasi masyarakat menjadi terhambat.

CR Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir dalam “Dakwah Komprehensif”, Bagian Gerak Langkah Dakwah Membangun Negeri, oleh HMas’oed Abidin

Categories: Buku Buya, Dakwah Komprehensif, Mohamad Natsir, Pesan Pesan Dakwah Mohamad Natsir | 1 Comment

Blog at WordPress.com.