Education

Menanggulangi HIV/AIDS dan Narkoba Penerapan Nilai-nilai Agama dalam Penanggulangan HIV/AIDS dan Narkoba

Penutupan Pesantren 27 Ramadhan 1434H (25)
Oleh : H. Mas’oed Abidin[1]

Pendahuluan

1.            Pengidap HIV/AIDS dalam catatan WHO kian tahun bertambah. Di Indonesia jumlahnya mengalami peningkatan  termasuk Sumatera Barat sudah terdeteksi adanya pengidap HIV/AIDS tersebut.
2.            Pengidap HIV/AIDS dan penularannya disebabkan oleh hubungan kelamin gonta-ganti, baik terhadap lain jenis ataupun hubungan kelamin sama sejenis. Penularan kedua disebabkan oleh pemakaian suntikan atau mungkin juga oleh infeksi darah. Bila dilakukan di Rumah Sakit, kecil kemungkinan bisa terjadi, karena adanya sterilisasi. Kecuali kalau adanya kelalaian. Penggunaan alat suntik banyak dilakukan oleh pemakai obat bius, Narkoba.
3.            Agama Islam menyebut hubungan kelamin gonta ganti pasangan itu ZINA dan dengan lawan sejenis namanya LIWATH (homosexual) yang sangat dicela dan pernah dilakukan oleh umat Nabi Luth. Untuk kasus umat Nabi Luth ini jawaban penyelesaiannya adalah negeri itu ditelungkupkan oleh Allah. Peristiwa ini diceritakan oleh Kitab-kitab Suci yang ada.
4.            Beberapa negara didunia yang menganut faham libaralisme dan teguh memperjuangkan hak asasi manusia sangat melindungi kebebasan individu dan masyarakat untuk memiliki kebebasan, sampai kepada kebebasan melakukan hubungan sex dengan siapa saja atas dasar suka sama suka. Bahkan kaum homosex perlu dilindungi keberadaannya dan dibuatkan undang-undang yang menjamin akan kebebasan mereka untuk saling menjual diri sesama termasuk perlindungan kepada wanita-wanita pekerja sex, yang tidak lebih kerjanya hanya sebgai pelacur atau pezina.
5.            Agama menetapkan pezina itu tidak boleh berhubungan kelamin dengan orang baik-baik (mukmin) kecuali sesama mereka ahli pezina yakni antara pelacur laki-laki sesama pelacur laki-laki, atau pelacur laki-laki dengan pelacur perempuan.
6.            Bila terjadi hubungan dengan pelacur (laki-laki atau perempuan) kemudian berhubungan dengan keluarga baik-baik, inilah yang menyebabkan terjadinya penularan penyakit berbahaya itu.
7.            Laporan Kasus Narkoba 1999 Kapolda Sumbar hampir seluruh Resort Kepolisian (8 Polres) telah ditangkap banyak pelaku pengedar Narkoba (Ganja, Shabu-Shabu dan ectacy). Pelakunya berbagai kalangan Swasta, Penganggur, Mahasiswa, Pelajar SMU, pedagang, PNS, tani, sopir). Data yang tidak ada hanya di Polres Pasaman.[2]
8.            Berita-berita dari TV dan Radio bahwa masyarakat menyatakan perang terhadap Narkoba. Ungkapan Koran setiap hari menyebut tentang bahaya Narkoba ini. Narkoba sebenarnya saudara kembar Pekat. Kedua-duanya anak kandung dari keluarga GelapJahili.

 

Bahayanya sangat besar

(1). Pezina membahayakan dirinya dan orang lain, terutama keluarga terdekat, menjadi penyebarnya penyakit sipilis, kelamin, HIV/AIDS dan lain-lain.
(2). Pencandu Narkoba-Miras, adalah petaka pemakainya,
  • merubah kepribadian secara drastic, penantang, pemarah dan pelawan,
  • masa bodoh terhadap dirinya, semangat belajar menurun, berperangai seperti orang gila,
  • kejahatan sexual meruyak termasuk anak-anak dibawah umur,
  • hilang norma-norma hidup beradat, beragama, berhukum,
  • bisa menjadi penyiksa, putus asa, pemalas,
  • tidak punya harapan masa depan.
(3). Membahayakan sendi kehidupan bermasyarakat,
  • mengambil milik orang (mencuri),berbuat mesum,
  • mengganggu ketertiban umum,
  • tidak ada penyesalan berbuat kesalahan.
(4). Membahayakan bangsa dan negara.
·         Mengancam ketahanan nasional. Rusak generasi pewaris bangsa.
·         Hilangnya patriotisme. Musnah rasa cinta berbangsa.
·         Mengancam stabilitas keamanan kawasan.
Konspirasi internasional.
Pertentangan diantara penguasa dan pengusaha dalam percaturan politik internasional sering mengarah kepada persekongkolan. Lahirnya kekuatan anti agama bergulir menjadi konspirasi internasional. Sasaran utama di arahkan kepada kelompok beragama (islam) sejagat. Dengan melumpuhkan umat secara sistematik. Berkembangnya citra (imej) bahwa paham-ajaran agama adalah musuh bagi kehidupan manusia.
·         Tatanan dunia akan makmur mengikut lobi-lobi kebebasan.
·         Penerapannya berbingkai ethnic cleansing.
·         Tuduhan teroris ditujukan kepada gerakan dakwah dan penggelaran fundamentalis, radikalisme, keterbelakangan, tidak sesuai dengan kemajuan zaman.
·         Sasaran akhir kalangan generasi muda.
·         Dunia remaja menjadi enggan menerima ajaran agama dalam  kehidupan kesehariannya.
·         Konsepsi Islam dilihat hanya sebatas ritual dan seremonial.
·         Agama dianggap tidak cocok untuk menata kehidupan sosial ekonomi dan politik bangsa-bangsa.
·         Hubungan manusia secara internasional tidak pantas di kover oleh ajaran agama.
·         Pemahaman picik bahwa agama hanya bisa di terapkan untuk kehidupan akhirat tampak berkembang pesat. Agama tidak pantas menjawab tantangan dan penyelia tatanan masa kini.
·         Gejala lain adalah maraknya kehidupan sekuler materialisma. Dalam Islam diamati sebagai suatu tadzkirah (warning dan peringatan) wahyu, bila mampu dipahami secara jelas tertera dalam Al Quran (lihat QS. Al-Baqarah 120).
Hak asasi manusia.
Hak asasi akan selalu terpelihara dan terjamin, selagi kemerdekaan bertumpu kepada terpeliharanya kesopanan umum dan ketertiban negeri.
Hak asasi manusia secara pribadi tetap akan terlindungi bila setiap orang memandang dengan sadar bahwa setiap orang memiliki hak untuk tidak berbuat sesuka hati. Bila dalam mempertahankan hak asasinya mulai bertindak dengan tidak mengindahkan hak-hak orang lain, pada saat yang sama semua hak asasi itu tidak terlindungi lagi.
Kewajiban asasi untuk tidak melanggar kehormatan orang lain akan memberikan penghormatan kepada kemerdekaan orang lain, senyatanya adalah bingkai dari hak asasi manusia yang sebenarnya.
Perangi sungguh-sungguh.
(1). HIV/AIDS dan NARKOBA mestinya diperangi secara terpadu oleh seluruh lapisan masyarakat, petugas kemananan, kalangan pendidikan, sekolah dan kampus, alim ulama, ninik mamak, pendeknya seluruh elemen masyarakat.
(2). Iklan-iklan HIV/AIDS pada masa sekarang ini lebih banyak menguntungkan bagi produk kondom daripada takutnya kalangan pecandu sex bebas untuk melakukan perzinaan terang-terangan. Karena itu perlu diperankan agama dalam melawannya.
(3). Untuk Narkoba bisa dilaksanakan dengan,
  • Musnahkan.
  • Putuskan jaringan pengedaran.
  • Tegakkan hukum yang tegas.
  • Berikan penyuluhan masyarakat. Lakukan pencegahan.
  • Bina keluarga, remaja dan lingkungan,
  • Lakukan kegiatan edukasi. Menghilangkan factor penyebab dalam kerangka pre-emtif.
  • Preventif, mengawasi ketat jalur dan oknum pengedarnya, sehingga police hazard (potensi kejahatan) tidak berkembang menjadi ancaman factual.
  • Represif, penindakan tegas. Penegakan hukum secara tegas, dasarnya diatur oleh UU No.22 tahun 1997, UU.No.5 tahun 1997 yang dikenakan terhadap pemakai, pengedar, pembuat, pemasok, pemilik, penyimpan, pembawa untuk tujuan penyalah gunaan.
  • Narkoba diperangi dengan memutus jalur pengedaran.
Membongkar sindikasinya.
Mengungkap secara radikal latar belakang jaringannya.
Aparat keamanan dan kepolisian mesti bertindak konsekwen.
Melakukan rehabilitasi, overhead cost-nya sangat tinggi.
Hancurnya satu generasi, dan punahnya satu bangsa. Inilah yang sangat ditakutkan. Namun ada negara dunia yang terselubung menjadi sarang mafia pengedaran Narkoba Internasional.

Perspektif Agama

Agama Islam menempatkan NARKOBA dan MIRAS sebagai barang haram, menurut dalil Al Qurani.
a.                  Khamar, segala minuman (ic. Makanan) yang memabukkan, dan judi. Disebutkan dalam QS.2: 219 “ Pada keduanya itu terdapat dosa besar, dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi “dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”.
b.                  Khamar, judi (al-maysir), berkurban untuk berhala (al-anshab) dan mengadu nasib dengan anak panah (al-azlam), adalah keji (rijsun) dari amalan syaithan. Jauhilah agar menang. (QS.5, al-Maidah:90).
c.                   Permusuhan dan kebencian (kekacauan) ditengah kehidupan masyarakat ditimbulkan lantaran minuman khamar dan judi. Inilah kerja syaitan. Berakibat kepada lalai mengingat Allah dan meninggalkan shalat. Karena itu berhentilah. (QS.5:91).
d.                 Hadist diriwayatkan Tirmidzi dari Shahabat Anas RA, bahwa “Rasul SAW melaknat sepuluh orang disebabkan khamar (la’ana Rasulullah SAW fil-khamr ‘asyaratan):
  • Orang yang memerasnya (pembuatnya, ‘aa-shirahaa),
  • yang menyuruh memeras (produsen, mu’tashirahaa),
  • peminumnya (konsumen, syaa-ribahaa),
  • pembawanya (distributor, haa-milahaa),
  • yang minta diantarinya (pemesan, al-mahmulata ilaihi),
  • yang menuangkannya (pelayan, saa-qiyahaa),
  • penjualnya (retailer, baa-I’a-haa),
  • pemakan hasil penjualannya (aa-kila tsamanihaa),
  • pembelinya (al-musytariya lahaa),
  • yang minta dibelikannya (al-musytaraa-ta-lahu).
Hadist ini terdapat didalam Jami’ Tirmizi.[3]
e. Zina yang menjadi penyebab HIV/AIDS perlu diperangi sesuai bimbingan Agama. Disekolah-sekolah perlu diajarkan kembali etika pergaulan yang semestinya berisi ajaran bahwa pergaulan bebas itu terlarang oleh agama dan adat. Tidak semua kebisaaan dari Barat itu baik untuk ditiru.

Pandangan Adat di Ranah Minang

Di Ranah Minang, delapan perbuatan terkutuk, sangat dibenci. Pelakunya dikucilkan, digantung tinggi, dibuang jauh dan kebawah tak berurat keatas tak berpucuk dan ditengah digiriak kumbang.
Sumpah masyarakat sangat ditakuti oleh masyarakat beradat terhadap bahaya tuak, arak, sabuang, judi, rampok, rampeh, candu dan madat.
Rampok rampeh adalah penggambaran terhadap pelacur dan penjaja sex, dan perampas kebahagiaan rumah tangga, perampok kesehatan keluarga.

buya-bersama-walikota-padang-fauzi-bahar-dalam-satu-pengajian

Kesimpulan

            (1). Hanya satu kesimpulan; NARKOBA dan MIRAS, dalam pandangan dan ajaran agama Islam, adalah haram secara syar’i. Sangat membahayakan. Berdosa besar. Walau manfaatnya ada, tetapi mudharatnya lebih besar.
Perlu di berantas dengan berbagai cara. Secara adat dibenci. Ditinjau dari segi keamanan dan stabilitas, sangat berbahaya.
Menurut UU No.22/1997 pasal 78 ayat 1, ancaman pidana sepuluh tahun atau denda 500 juta rupiah.
UU. No.5/1997 pasal 59 ayat 1, pengguna, memproduksi, pengimpor,  penyimpan, pembawa, bisa diancam pidana 15 tahun dan denda 750 juta rupiah. Pasal 59 ayat 2, bila terorganisir diancam pidana 20 tahun atau denda 750 juta rupiah, Dan pasal 59 ayat 3 bila korporasi, jaringan sindikasi, diancam pidananya tambah lagi dengan denda 5 milyar rupiah.
Sudah cukup berat bukan ???
Pertanyaannya, kenapa belum dilaksanakan ???
(2). Sulitnya memberantas peredaran Narkoba ini, menimbulkan dugaan kuat adanya jaringan luas secara internasional. Dan tidak tertutup kemungkinan bahwa para Mafia Yahudi Internasional bermain padanya. Sebagaima diyakini bahwa gerakan Kristenisasi Internasional itu tidak semata batasnya isu agama tetapi lebih banyak kepada konspirasi politik, ekonomi, dan penguasaan suatu wilayah negara asing dengan kekuatan apa saja.
(3). Maka petugas keamanan terutama kepolisian perlu membersihkan diri dan citranya ditengah masyarakat luas.

 

Categories: ABS-SBK, Adat Basandi Syarak, Amar Makruf Nahi Munkar, Education, Masjid Raya Al Munawwarah Siteba, Tulisan Buya | Leave a comment

Kuatkan silaturahim dan perbanyak sahabat, agar kesulitan yang datang dapat disambut dengan ikhlas dan sabar

oleh Masoed Abidin ZAbidin Jabbar pada 20 Juli 2011 jam 19:17

Sekencang apapun kita lari menjauhkan dari kesulitan atau ujian yang akan datang menghampiri kita,

namun kesulitan itu akan tetap menyentuh badan dan jiwa kita, bila masanya berkunjung telah tiba.

 

Rumusan “baja kehidupan” seperti ini, memang berlaku pada semua manusia,

bahkan juga berlaku untuk sang raja dan penguasa yang paling berkuasa sekalipun.

 

Tidak akan datang kepada kalian satu cobaan pun kecuali yang telah ditetapkan oleh Allah berlakunya pada diri seseorang.

 

Menyadari akan kuatnya hukum “takdir” dan “qadha” ini,

maka didikan kepada diri untuk selalu ikhlas ketika kesulitan datang berkunjung amatlah berguna.

 

Syukur sekali bila seseorang dapat tersenyum

ketika memeluk kesulitan yang datang bertandang seketika itu..

 

Tidak dibuat sakit dan frustrasi atas kesulitan yang datang menjelang

sejenak itu saja sebenarnya sudah amat sangat disyukuri.

 

Pelukan kebajikan dalam menetapkan kebijakan hidup seperti inilah

yang datang ketika sang hidup sempat membanting kiri kanan,

bahkan menghempas dari sebuah ketinggian.

 

Sakit memang, dan memang sakit dihimpit oleh kesulitan itu.

Akan tetapi akan lebih sakit dan menderita,

ketika saatnya kesulitan sudah tiba untuk datang berkunjung,

dimana kita tidak punya pilihan lain terkecuali

membukakan pintu kehidupan dengan penuh keredhaan.

 

Seterpaksa apapun

hanya keikhlasanlah satu-satunya

modal berguna dalam hal seperti ini …

Bila keikhlasan untuk bersabar telah sirna

di saat kemalangan dan kesempitan

datang bertandang ke tengah kehidupan ini,

tentulah sakit akan bertambah sakit

karena hilangnya tempat berteduh dan berpegangan.

 

Malang sangat orang yang kehilangan keiikhlasan di saat cobaan dan himpitan datang menjelang.

 

Senyum penerimaan ketika kesulitan tiba memang terasa kecut di bibir.

Sebagaimana halnya logam mulia yang mahal harganya

yang sedang ditempa menjadi perhiasan yang indah,

selalu akan melalui kesulitan demi kesulitan,

sedari semprotan panasnya api yang membara melumerkan,

kemudian dihajar oleh palu dan gergaji,

ditambah kerasnya cubitan tang,

ditambah goresan-goresan ampelas dan kikiran,

membentuk indahnya perhiasan,

dan akhirnya tempahan itu,

akan terpajang pada tempat yang mahal harganya.

 

Demikianlah seumpama perumpamaan

kalau badan dan jiwa ini ditempa dengan ujian dan cobaan

untuk menjadi kualitasnya lebih indah dan lebih sempurna dari sebelumnya.

 

Namun sudah sedemikian ujian dilalui,

akan tetap saja ada sisa-sisa ketakutan

yang membuat manusia selalu menghindar dari kesulitan…

 

Jalan yang paling baik adalah pasrah menerima ujian dari Allah dengan ikhlas dan shabar.

 

Selebar apapun goresan luka yang dibuat oleh kesulitan,

masih ada tersedia yang amat berguna

dalam menempuh pengalaman-pengalaman menyulitkan ini..

dia adalah s a h a b a t ….

 

Sungguhpun tidak semua sahabat fasih dalam memberikan n a s e h a t …

namun dengan kesediaan kita untuk mendengar,

dan pancaran sinaran mata yang berisi empati,

kesediaan untuk berbagi duka,

niscaya akan membuat   s a h a b a t   sejati itu menjadi berlian

yang amat berguna dalam keadaan kesulitan datang menghampiri…

 

Maka tiada lain yang perlu dikuatkan adalah

s i l a t u r r a h i m    jua adanya.

 

Amat merugi orang yang lari dari kesulitan

dan menjauh pula dari silaturahim

membangun sinerji dalam bersahabat yang baik …

 

Moga kita semua terhindar dari kecelaan yang sedemikian itu ..

A m i n ….

Categories: ABS-SBK, Amar Makruf Nahi Munkar, Buya Masoed Abidin, dakwah ilaa Allah, Education, Komentar Buya, Tulisan Buya | Leave a comment

Hijrah spiritual kedua adalah hijrah kepada Rasulullah SAW.

Hijrah Spritual

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

“Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dan Allah untukmu.”  (Q.S. Adz Zariyat : 50)

Menurut Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Hijrah ada dua macam: Hijrah fisik, yakni hijrah dan sebuah negeri ke negeri lain dan Hijrah spiritual, yakni hijrahnya hati manusia kepada Allah dan Rasul-Nya.

Hijrah spiritual yang dimaksud dengan perjalanan kembalinya seorang hamba dengan penuh ketataan (itha’ah) kepada Allah dan rasul-Nya adalah sebuah penjalanan yang harus ditempuh oleh setiap hamba. Karena hanya dengan kembali kepada Allah dan rasul-Nya ia terjamin dan azab yang mengancamnya. Disamping hijrah inilah yang dituntut dan diinginkan oleh Sang Pencipta dan hamba-hamba-Nya.

Hijrah spiritual pertama; Hijrah ‘dar’ dan ‘menuju’ Allah SWT (Firaarminallah wa firaar ilallah)

Ada dua unsur yang terkandung di dalam hijrah; ‘dari’ (permulaan) dan ‘menuju’ (tujuan). Yang dimaksud firaar minallah adalah suatu keyakinan bahwa segala sesuatu berawal dan berasal dar dan atas kehendak Allah yang Maha Esa. dan mengimani bahwa segala taqdir berasal dar Allah. Sebab segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah pasti akan terjadi. Dan segala sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Allah, maa tidak akan pemah terjadi. Inilah yang dikatakan hijrah dan Allah menuju Allah. Di dalam hijrah ini tendapat unsur tauhid Rubuhiyy’ah.

Bentuk hijrah firaar minallah ini dapat kita tauladani dar kehidupan Rasulullah SAW, diantaranya ialah yang dapat kita temukan dalam do’a-do’a beliau.

Diantara do’a-do’a beliau adalah:Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasai, dan Ibnu Majah, dan Saiydah ‘Aisyah r.a bahwa Rasulullah SAW pernah bendo’a di waktu sedang sujud: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan dengan ridha-Mu dari murka-Mu, (aku berlindung kepada-Mu) dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu, dan aku memohon penlindungan dengan-Mu dari-Mu. Aku tidak menghitung jumlah pujian yang aku sampaikan kepada-Mu sebagaimana Engkau memuji Dzat-Mu sendiri”

Diriwayatkan dan Al Barra’ ibn ‘Azib, dia berkata Rasulullah SAW bersabda: “Jika kamu menghampiri tempat pembaringanmu. maka berwudhu’lah (terlebih dahulu) sebagaimana kamu berwudhu’ untuk shalat. Setelah itu berbaringlah kamu di atas sisi tubuh yang sebelah kanan. Ke-mudian berdo’a: “Ya Allah, sesungguhnya aku telah menye-rahkan jiwaku kepada-Mu, menghadapkan wajahku kepada-Mu, menggantungkan urusanku kepada­Mu dan mengem-balikan diriku kepada-Mu. Tidak ada tempat kembali dan tempat menyelamatkan diri dari-Mu kecuali kepada-Mu.“(HR. Bukhari)

Sesungguhnya firaar ilallah lah adalah mengandung pengertian bahwa seseorang hanya mengesakan Allah ketika mencari sesuatu dan ketika mengerjakan sesuatu sehiggga semua yang ia lakukan mempunyai nilai ketaatan dan ibadah kepada Allah.

Oleh karena itu hendaklah seseorang berhijrah dan mahabbah (kecintaan) kepada selain Allah menuju mahabbah kepada Allah SWT. Hendaklah seseorang hijrah dar penghambaan terhadap selain Allah menuju penghambaan kepada Allah. Hendaklah seseorang hijrah dan khauf (merasa takut), raja’ (mengharap) dan tawakkal (berserah diri) kepada selain Allah menuju hijrah merasa takut, mengharnap dan berserah diri kepada Allah semata. Hendaklah seseorang hijrah dan berdo’a, meminta, tunduk, dan merendah kepada selain Allah menuju hijrah untuk berdo’a, meminta, tunduk dan merendah hanya kepada Allah t’ala. Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan firaar ilallah (hijrah kepada Allah), sebagaimana firman Allah dalam surat Adz-Dzaariyat ayat 50. Dan di dalam firaar ilaallah ini terkandung unsur tauhid ilahiyyah.

Sesungguhnya hijrah kepada Allah mengandung dua pengertian: Pertama, hijrah dan sesuatu yang tidak disenangi oleh Allah. Kedua, mendatangi sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh-Nya. Sedangkan pangkal dar dua pengertian hijrah pada Allah dimaksud adalah rasa cinta dan benci; cinta untuk mengerjakan sesuatu yang diridhai Allah dan benci terhadap sesuatu yang dilarang Allah.

Orang yang hijrah dari sesuatu menuju sesuatu harus lebih mencintai sesuatu yang akan dia tuju dari pada yang akan dia tinggalkan. Oleh karena itu seseorang wajib untuk berhijrah kepada Tuhannya setiap saat hingga ajal menjemputnya. Disinilah diperlukannya sikap istiqamah.

“Amal ibadah yang paling dicintai Allah adalah yang selalu kontinu (terus ­menerus dilakukan) meskipun sedikit“(H.R. Saiydah ‘Aisyah)

Mengenang peristiwa Hijrah dalam rangka menyambut Tahun Baru Hijriyah 1432

Hijrah kepada Rasulullah SAW adalah ketaatan dalam melaksanakan sunnah Rasulullah SAW yang diwu-judkan dalam kehidupan sehari-hari, mencontoh keteladanan akhlaq beliau yang mulia, sehingga kita merasakan seakan kita hidup bersama dan dengan Rasulullah SAW. Salah satu corak kepribadian dan gaya kehidupan beliau yang harus kita contoh adalah sebagaimana yang kita dapati dalam ungkapan penuh hikmah Syeikh Ja’far Al Barzanjy dalam buku monumentalnya Al-Barzarjie;

“Nabi SAW adalah seorang yang sangat pemalu dan tawadhu’, mau memperbaiki sandalnya, menambal dan menjahit pakaiannya, memeras susu kambingnya serta melayani keluarganya dengan cara yang baik. Beliau suka kepada orang-orang fakir dan miskin, suka duduk-duduk bersama mereka, sering mengunjungi mereka yang sakit serta mengantar jenazah mereka. Beliau sama sekali tidak mau meremehkan orang fakir yang sangat menderita dan dikecam kefakiran. Beliau duduk gentar menghadapi pura raja, beliau marah karena Allah dan ridha semata-mata karena ridha Allah. Beliau pernah menyelipkan batu di perutnya untuk mengurangi rasa lapar, meskipun beliau telah dianugerahi segala kunci kekayaan bumi. Beliau senantiasa mempersedikit perkataan yang tidak bermanfaat dan selalu memulai mengucapkan salam jika bertemu dengan seseorang. Beliau suka bergaul dengan orang-orang yang berbudi mulia dan memuliakan orang-orang yang terhormat. Beliau suka bergurau (‘bercanda,) tetapi tidak mengatakan sesuatu kecuahiperkataan yang benar yang disukaiAllah Ta ‘ala dan yang diridhai-Nya.

 

Wassalam

Buya H. Mas’oed Abidin

Categories: ABS-SBK, Amar Makruf Nahi Munkar, Buya Masoed Abidin, Education, Hijrah, Komentar, Komentar Buya, Pendidikan, Surau, Tauhid | Leave a comment

Mesjid Sebagai Pusat Pembinaan Ummat

Khuthbah Jum’at oleh Buya H. Mas’oed Abidin

الحَمْدُ ِللهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَسْتَهْدِيْهِ، وَ نَعُوْذُ بِاللهِ تَعَالىَ مِنْ سُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مَنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ،

وَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، أَدَّى الأَمَانَةَ، وَ بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَ نَصَحَ لِلأُمَّةِ، وَ جَاهَدَ فيِ اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلىَ هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، وَ عَلىَ آله وَصَحَابَتِهِ. وَ أَحْيِنَا اللَّهُمَّ عَلىَ سُنَّتِهِ، وَ أَمِتْنَا عَلَى مِلَّتِهِ، وَ احْشُرْنَا فيِ زُمْرَتـِهِ، مَعَ الَّذِيْنَ أَنـْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَ الشُّهَدَاءِ وَ الصَّالِحِيْنَ وَ حَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيْقًا. أَمَّا بَعْدُ.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا.

فِـــي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُــرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَال

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

“Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan petang, orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan, dan tidak (pula) oleh jual beli, atau aktivitas apapun dan mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, membayarkan zakat, mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (Q.S. An Nuur: 36-37)

Dalam sejarah tercatat, ketika Rasulullah SAW berhijrah dari Makkah ke Yatsrib (Madinah), setibanya beliau di Quba’ pada hari Senin tanggal 8 Rabi’ul Awwal tahun ke-14 nubuwwah atau tahun pertama hijrah, bertepatan tanggal 23 September 662 M langkah pertama yang beliau lakukan adalah membangun masjid.

Masjid Quba’ ini masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW. Beliau berada di Quba’ selama empat hari, yaitu hari Senin, Selasa, Rabu dan Kamis. Pada hari Jum’at tanggal 12 Rabi’ul Awwal, beliau berangkat menuju Madinah. Setelah beberapa hari di Madinah beliaupun mendirikan Masjid Madinah. Masjid itu merupakan ruang berdinding batu bata, bertiang batang kurma dan beratap pelepah kurma, sebagian dibiarkan terbuka. Di sampingnya digunakan sebagai tempat tinggal Nabi dan keluarga suffah yang tak punya rumah. Pada awalnya tak ada penerangan pada malam hari selain dan cahaya dari jerami yang dibakar pada waktu shalat Isya’. Selanjutnya baru digunakan lampu-lampu yang dipasang pada tiang-tiang batang kurma.

Satu yang dapat disimpulkan adalah bahwa Nabi SAW memberikan arti penting bagi pembangunan masjid. Bukan rumah kediaman beliau yang didahulukan dibangun, bukan juga sebuah benteng pertahanan untuk menghadapi kemungkinan serangan dari Makkah. Bagi Nabi masjid dianggap lebih penting daripada semua itu.

Masjid menjadi bagian utama dalam pembinaan umat dan masyarakat selanjutnya. Ini menunjukkan bahwa masjid menduduki tempat sangat penting dalam rangka membina peribadi dan masyarakat guna membentu peribadi dan masyarakat yang Islami.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (Q.S. At Taubah:108).

Dalam membangun masjid, Rasul SAW pesankan agar diperhatikan soal pemakmurannya, jangan sampai masjid dibangun dengan megah tapi hanya sedikit orang memakmurkan dan mengisi masjid untuk ibadah. Rasulullah SAW bersabda:

يأتى على أمتي زمان يتباهون بالمسجد ثم لا يعمرونها إلا قليلا

“Sungguh akan datang pada umatku suatu masa dimana mereka saling bermegah-megahan dengan membangun beberapa masjid tapi yang memakmurkannya hanya sedikit” (H.R. Abu Dawud)

Memakmurkan masjid (ta’mirul masjid) berarti memelihara, meramaikan dan menghidupkan suasana masjid, menjadi satu kesatuan. Tidak dapat dikatakan masjid itu makmur kalau masjid tidak terpelihara kebersihan dan keindahannya atau jarang dikunjungi atau tidak ada kegiatan bermasyarakat di dalamnya.

Pemeliharaan masjid meliputi mencegah kerusakan dan mengadakan perbaikan serta menjaga kebersihan  keindahannya. Kemudian mesti diperhatikan imarah dengan cara meramaikan dengan kegiatan keagamaan, taushiyah, diskusi dan dialog keislaman, membaca Al Qur’an, dan melaksanakan shalat secara berjama’ah.

Orang yang selalu memakmurkan masjid adalah orang pilihan yang diberi Allah hidayah sangat mahal. Mereka termasuk satu dari tujuh golongan dijamin Allah akan mendapatkan perlindungan Allah pada saat di mana tidak ada perlindungan yang berarti selain perlindungan-Nya, yaitu seseorang yang selalu terikat hatinya kepada masjid. Dalam Surat At Taubah ayat 18 Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَءَاتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Sesunguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka (semoga) merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Allah berfirman dalam hadits Qudsi: “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku bermaksud akan menurunkan siksaan kepada penduduk bumi, tetapi ketika Aku lihat penghuninya sedang memakmurkan rumah-Ku (masjid), saling mengasihi sesamanya karena Aku, selalu melakukan istighfar (meminta ampun kepada-Ku) di waktu sahur, Aku palingkan (jauhkan) siksaan itu dan mereka.” (H.Q.R Al Hafidz Al Bahaai, bersumber dan Anas r.a marfu’).

Hadits Qudsi ini memberi pengertian bahwasanya Allah SWT sangat memuliakan orang-orang yang memakmurkan masjid baik dengan shalat berjamaah, atau dengan kegiatan keagamaan Islam maupun dengan cara memeliharanya. Masjid adalah rumah Allah di bumi (Baitullah fil Ardh).

Fungsi Masjid zaman Rasulullah SAW diantaranya:

1.     Pusat kegiatan keagamaan dan Ibadah (shalat dan zikir),

2.    Tempat pertemuan Umat Islam,

3.    Pusat dakwah dan pendidikan rohani,

4.    Tempat pembinaan remaja muslim,

5.    Tempat musyawarah,

6.    Tempat konsultasi dan komunikasi (ekonomi),

7.    Tempat santunan dan kegiatan sosial budaya,

8.    Madrasah ilmu,

9.    Tempat bermula gerakan taushiyah dan amar ma’ruf nahi mungkar,

10. Tempat latihan jasmani mengatur siasat usaha,

11.  Tempat pengobatan,

12. Tempat perlindungan yang aman,

13. Aula tempat menerima tamu dan persinggahan musafir.

Agaknya masjid pada masa silam mampu berperan sedemian luas, disebabkan antara lain oleh :

a. Masyarakat masih sangat berpegang teguh kepada nilai, norma, dan jiwa agama,

b. Kemampuan pembina-pembina masjid menghu-bungkan kondisi sosial dan keperluan masyarakat dengan kegiatan masjid,

c. Manifestasi pemerintahan terlaksana di dalam masjid, baik pada peribadi­-peribadi pemimpin pemerintahan yang menjadi imam/khatib maupun di dalam ruangan-ruangan masjid yang dijadikan tempat kegiatan syura pemerintahan.

d. Masjid berfungsi sebagai pembinaan umat, memiliki  sarana yang tepat manfaat, menarik dan menyenangkan semua umat, baik dewasa, kanak-kanak, tua, muda, pria, wanita, yang terpelajar maupun tidak, sehat atau sakit, serta kaya dan miskin.

‘Amr bin Maimun Al Audy berkata: “Aku sering bertemu dengan para sahabat Rasulullah SAW mereka sering berkata bahwa masjid­-masjid itu adalah rumah Allah di bumi. Karena itu menjadi hak Allah memuliakan orang-orang yang mengunjunginya (berada di dalamnya).”

 

الحَمْدُ ِللهِ غَافِرِ الذَّنـْبِ وَ قَابِلِ التَّوْبِ شَدِيْدِ العِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ إِلَيْهِ اْلمَصِيْرُ. وَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، يُسَبِّحُ لَهُ مَا فيِ السَّموَاتِ وَ مَا فيِ الأَرْضِ، لَهُ المُلْكُ وَ لَهُ الحَمْدُ، وَ هُوَ عَلىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، البَشِيْرُ النَّذِيْرُ، وَ السِّرَاجُ المُنِيْرُ، صَلَوَاتُ اللهِ وَ سَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَ عَلىَ آلِهِ وَ صَحْبِهِ الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِهِ وَ عَزَّرُوْهُ وَ نَصَرُوْهُ وَ اتـَّبَعُوْا النُّوْرَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ اْلمُفْلِحُوْنَ. وَ رَضِيَ اللهُ عَمَّنْ دَعَا بِدَعْوَتِهِ وَ اهْتَدَى بِسُنَّتِهِ، وِ جَاهَدَ جِهَادَهُ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ.

إِنَّ اللهَ وَ مَلاَئِكَتِهِ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبـِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ المُؤْمِنَاتِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.

اللَّهُمَّ اصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتيِ فِيْهَا مَعَاشِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا آخِرَتِنَا الَّتيِ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَ اجْعَلِ اْلحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فيِ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ سَرٍ،

اللَّهُمَّ اجْعَلْ يَوْمَنَا خَيْرًا ِمنْ أَمْسِنَا، وَ اجْعَلْ غَدَنَا خَيْرًا ِمْن يَوْمِنَا، وَ احْسِنْ عَاقِبَتَنَا فيِ الأُمُوْرِ كُلِّهَا، وَ أَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَ عَذَابِ الآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ اْلعَفْوَ وَ العَافِيَةَ فيِ دِيْنِنَا وَ دُنْيَاناَ وَ أَهْلِيْنَا وَ أَمْوَالِنَا،

رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ وَ تبُ ْعَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.

وَ أَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ اْلمُنْكَرِ وَ لَذِكْرُ اللهِ أَ ْكـبَرُ

Categories: Buya Masoed Abidin, dakwah ilaa Allah, Education, Energi, Komentar, Pendidikan, Surau, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

Memulai Hidup dengan Langkah Baru

Oleh : Buya H. Mas’oed Abidin

“Bila enqkau berpulang ke alam baqa’ tanpa membawa bekal taqwa, sedang engkau melihat orang-orang lain membawanya pada hari penghimpunan,  pastilah engkau menyesal karena tidak seperti mereka. Mereka pulang  mempunyai persiapan sedang engkau tidak memiliki apapun ”. (Imam Ibnu Qayyim of Jauziyah dalam kitabnya Al Fawaid)

Al Hitami, pujangga sufi kelahiran Spanyol mengungkapkan dengan puitis bahwa, “Hidup itu ibarat tidur, sedang mati seolah bangun berbaur.” Pernyataan Al Hitami berisi wasiat, bahwa apapun yang sedang kita peroleh dalam hidup ini tak boleh disikapi dengan sombong atau lupa daratan dengan akibat meninggalkan kerabat dan sahabat.

Sebaiknya, bila sedang dirundung malang, mesti bersabar dengan tetap harus berusaha dan tidak boleh berputus asa. Sebenarnya rotasi kehidupan itu ibarat perputaran roda. Ketika sedang berada dibagian atas jangan merasa lebih, dan pula ketika berada di bawah jangan terlalu bersedih hati.

Menurut  akidah Islamiyah, hidup yang kini dijalani bukan hidup paripurna. Masih akan ditempuh sesi berikutnya. Yakni hidup sesudah mati. Satu kehidupan kekal abadi. Di akhirat kelak. Firman Allah SWT: “Mengapa kamu sekalian ingkar kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan­Nya kembali, kemudian kepada-Nya lah kamu dikembalikan”. (Q.S. Al-Baqarah: 28)

Semua yakin bahwa mati itu pasti akan datang. Cepat atau lambat. Tidak membedakan status sosial, ekonomi ataupun usia. Telah banyak orang kaya dihampiri malaikat Izrail. Tidak sedikit yang masih muda belia tiba-tiba meninggal. Kematian akan mendatangi segala umur dan semua lapisan di semua tempat. Firman Allah SWT: “Dimana saja kamu berada, kematian pasti akan menjumpai kamu, kendatipun kamu berada di benteng yang tinggi dan kokoh”. (Q.S An-Nisa’:78)

Seorang muslimin tidak seharusnya takut akan kematian. Kematian adalah awal dari sebuah kebahagiaan yang telah dijanjikan oleh Allah  bagi yang benar beriman dan banyak melakukan kebajikan. Walaupun bagi yang ingkar dan tidak memiliki bekal kebajikan, mati sangat ditakuti, karena selain harus bercerai dengan istri, berpisah dengan keluarga, dan melepaskan semua harta, berarti pula mereka mula merasakan penderitaan akibat siksaan yang berkepanjangan. Na ‘uzubillah.

Mari kita perhatikan tuntunan Rasulullah SAW berikut ini: “Pergunakanlah lima masa sebelum datang lima masa: pergunakanlah masa sehatmu sebelum datang sakitmu, pergunakanlah masa senggangmu sebelum datang masa sibukmu, pergunakanlah masa mudamu sebelum datang masa tuamu, pergunakanlah masa kayamu, sebelum datang masa kefakiranmu dan pergunakanlah masa hidupmu sebelum datang saat kematianmu”. (HR. Al Baihaqi)

Mulailah hidup dengan langkah yang baru, dengan energi dan semangat yang baru. Tinggalkan masa lalu yang kurang bermanfaat. Teruslah berjalan dengan menelusuri lorong-lorong kehidupan yang menuju ke kampung akhirat.

Umur yang dianugerahkan Allah hendaknya dimanfaatkan dengan baik dengan beramal dan beribadah. Manusia dijadikan untuk mengabdi kepada Allah SWT. Pergunakanlah waktu dengan baik. Allah bersumpah demi waktu.

وَالْعَصْرِ -إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ -إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Q.S. Al-’Ashr:1-3)

Waktu amat penting dan harus diperhatikan oleh manusia. Jika tak ada waktu, tidak akan ada perjalanan umur manusia. Malik bin Nabi mengungkap di dalam bukunya Syuruth An Nahdhah (Syarat-syarat Kebangkitan): “Waktu adalah sungai yang mengalir ke seluruh penjuru sejak dahulu kala, melintas pulau, kota, dan desa, membangkitkan semangat atau menina bobokkan manusia. Waktu diam seribu hasa, sampai-sampai manusia tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya, walaupun segala sesuatu -selain Allah- tidak akan mampu melepaskan diri darinya”. Maka, tidak memperhatikan waktu dan umur, akan membuat kehidupan sia-sia. Waktu sangatlah terbatas. Jika waktu telah berakhir (berlalu), ia tak akan bisa diganti atau kembali.

Sayidina Ali bin Ahi Thalib pernah berkata: “Rezki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat diharapkan perolehannya lebih banyak di hari esok, tetapi waktu yang berlalu hari ini, tidak mungkin kembali esok. Artinya, dalam menjalani kehidupan haruslah dengan penuh keimanan serta ketaqwaan kepada Allah SWT. Perbanyaklah amal shaleh. Jika umur atau perjalanan hidup tidak diisi taqwa, hidup akan hampa, tidak bermakna dan sia-sia. Dalam peredaran waktu terdapat kewajiban dan tanggung jawab. Manusia berkewajiban menggunakan kesempatan dan mengatur waktunya dengan baik.

Dalam Islam, setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya. Akibat buruk dan baik adalah buah perilakunya sendiri. Al Qur’an menyatakan : “Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seseorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain. Dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.“ (Q.S Al-Israa’: 15)

Di dalam Al-Quran kita temukan kisah tentang Luqman yang menasehati anaknya tentang kewajiban-kewajiban utama manusia. Ada tiga kewajiban manusia yang harus ia penuhi.

1.      Kewajiban manusia kepada Allah . (Q.S Luqman:13)

2.      Kewajiban anak kepada orang tua (Q.S. Luqman: 14)

3.      Kewajiban manusia kepada sesamanya (Q.S. Luqman:18 – 19)

Asy Syahid Hasan Al-Bana dalam “Hadits Tsulatsa”, yang disusun Ahmad Isa ‘Asyur Asy-Syahid, mengajari cara membagi waktu dalam rangka melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab. “Allah SWT telah memerintahkan kita untuk menggunakan waktu dalam empat hal”.

1.      Dalam hal yang dapat menyelamatkan agama kita, yaitu berupa ketaatan kepada Allah, manusia wajib menjaga waktunya.. Ini pun terbagi dua: (a). yang difardhukan oleh Allah seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan seterusnya. (b). yang dianjurkan oleh Allah berupa amalan-amalan nafilah (sunnah), seperti tilawatil Qur’an, sedekah, zikir, dan membaca shalawat nabi.

2.      Dalam hal-hal yang memberikan manfaat kepada kita, yakni untuk mencari rezki yang halal untuk keperluan kita dan keluarga yang kita tanggung, maka wajib memanfaatkan waktunya. Jika hal itu dilakukan dengan ikhlas, maka akan menjadi amal ibadah.

3.      Dalam hal yang mendatangkan manfaat kepada orang lain, merupakan bagian dari silaturrahim dalam bentuk pendekatan (qurbah/taqarrub) diri yang paling agung, maka manusia berkewajiban menyediakan waktunya.

4.      Dalam hal yang dapat memberi ganti atas sesuatu yang hilang dari kita, yaitu waktu istirahat, manusia wajib menggunakan waktunya. Sediakan waktu khusus untuk dapat memperbaharui dan menyegarkan kembali semangat dengan istirahat (irhanaa ya Bilaal bis-shalah), seperti berolah raga, berwisata (siruu fil-ardhi) dengan cara bermanfaat dan positif.

Dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Dzar Al Ghifari, Rasulullah SAW bersabda: “Yang berakal selama akalnya belum terkalahkan oleh hawa nafsunya, berkewajiban mengatur waktu-waktunya. Ada waktu yang digunakan untuk bermunajat dengan Tuhannya. Ada waktu yang digunakan untuk melakukan introspeksi (menghitung diri). Ada waktu yang digunakan untuk memikirkan ciptaan Allah (belajar). Ada pula waktu yang digunakan khusus untuk diri (dan keluarga) guna memenuhi keperluan makan dan minum.” (Diriwayatkan oleh lbnu Hibban).

Kita memasuki tahun 2011, awal tahun yang baru. Tahun yang lalu sudah menjadi masa yang lalu, tidak akan terbentang lagi sebagai masa depan. Tahun-tahun selanjutnya adalah tahun yang lain, menjadi kelanjutan dari perjalanan umur, jika Allah masih memberikan jatah hidup kepada kita.

Sekilas, masuknya tahun baru berarti bertambahlah umur kita satu tahun, Al hamdulilah. Kita patut bersyukur karena Allah telah memperpanjang umur kita. Namun, jika kita menyimak ungkapan bijak, “Umurku berkurang setiap hari.. .Sedang dosa terus bertambah… Bagaimana mungkin aku bisa memikulnya…”

Memasuki tahun baru berarti sisa umur kita makin berkurang. Otomatis, maut semakin dekat dan kita tidak tahu kapan berakhir. Sebelum umur berakhir, akal sehat yang bersandar kepada iman akan bangkit untuk semakin memacu diri dalam mengisi sisa umur dengan amal shaleh dan ketaqwaan.

Akal sehat dan iman taqwa memandu kita agar sisa umur tak sia-sia dan hidup tak boleh rugi.

Semoga Allah meridhai kita, Amin.

Allahu a ‘lam bishawab.

Categories: Buya Masoed Abidin, dakwah ilaa Allah, Education, Komentar, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

Keutamaan Dzulhijjah

Alhamdulillah, bulan Dzulhijah telah menghampiri kita. Bulan mulia dengan berbagai amalan mulia terdapat di dalamnya. Lantas apa saja amalan utama yang bisa kita amalkan di awal-awal Dzulhijah? Moga tulisan sederhana berikut bisa memotivasi saudara untuk banyak beramal di awal Dzulhijah.

Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Dzulhijah

Adapun keutamaan beramal di sepuluh hari pertama Dzulhijah diterangkan dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berikut,

« مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ ».

“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.”[1]

Dalil lain yang menunjukkan keutamaan 10 hari pertama Dzulhijah adalah firman Allah Ta’ala,

وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al Fajr: 2). Di sini Allah menggunakan kalimat sumpah. Ini menunjukkan keutamaan sesuatu yang disebutkan dalam sumpah.[2] Makna ayat ini, ada empat tafsiran dari para ulama yaitu: sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah, sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Ramadhan dan sepuluh hari pertama bulan Muharram.[3] Malam (lail) kadang juga digunakan untuk menyebut hari (yaum), sehingga ayat tersebut bisa dimaknakan sepuluh hari Dzulhijah.[4] Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan bahwa tafsiran yang menyebut sepuluh hari Dzulhijah, itulah yang lebih tepat. Pendapat ini dipilih oleh mayoritas pakar tafsir dari para salaf dan selain mereka, juga menjadi pendapat Ibnu ‘Abbas.[5]

Lantas manakah yang lebih utama, apakah 10 hari pertama Dzulhijah ataukah 10 malam terakhir bulan Ramadhan?

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma’ad memberikan penjelasan yang bagus tentang masalah ini. Beliau rahimahullah berkata, “Sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan lebih utama dari sepuluh malam pertama dari bulan Dzulhijjah. Dan sepuluh hari pertama Dzulhijah lebih utama dari sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dari penjelasan keutamaan seperti ini, hilanglah kerancuan yang ada. Jelaslah bahwa sepuluh hari terakhir Ramadhan lebih utama ditinjau dari malamnya. Sedangkan sepuluh hari pertama Dzulhijah lebih utama ditinjau dari hari (siangnya) karena di dalamnya terdapat hari nahr (qurban), hari ‘Arofah dan terdapat hari tarwiyah (8 Dzulhijjah).”[6]

Sebagian ulama mengatakan bahwa amalan pada setiap hari di awal Dzulhijah sama dengan amalan satu tahun. Bahkan ada yang mengatakan sama dengan 1000 hari, sedangkan hari Arofah sama dengan 10.000 hari. Keutamaan ini semua berlandaskan pada riwayat fadho’il yang lemah (dho’if). Namun hal ini tetap menunjukkan keutamaan beramal pada awal Dzulhijah berdasarkan hadits shohih seperti hadits Ibnu ‘Abbas yang disebutkan di atas.[7] Mujahid mengatakan, “Amalan di sepuluh hari pada awal bulan Dzulhijah akan dilipatgandakan.”[8]

6 Amalan Utama di Awal Dzulhijah

Ada 6 amalan yang kami akan jelaskan dengan singkat berikut ini.

Pertama: Puasa

Disunnahkan untuk memperbanyak puasa dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong kita untuk beramal sholeh ketika itu dan puasa adalah sebaik-baiknya amalan sholeh.

Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya[9], …”[10]

Di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama. [11]

Kedua: Takbir dan Dzikir

Yang termasuk amalan sholeh juga adalah bertakbir, bertahlil, bertasbih, bertahmid, beristighfar, dan memperbanyak do’a. Disunnahkan untuk mengangkat (mengeraskan) suara ketika bertakbir di pasar, jalan-jalan, masjid dan tempat-tempat lainnya.

Imam Bukhari rahimahullah menyebutkan,

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِى أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ أَيَّامُ الْعَشْرِ ، وَالأَيَّامُ الْمَعْدُودَاتُ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ . وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ ، وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا . وَكَبَّرَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِىٍّ خَلْفَ النَّافِلَةِ .

Ibnu ‘Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10 hari pertama Dzulhijah dan juga pada hari-hari tasyriq.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir. Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah.[12]

Catatan:

Perlu diketahui bahwa takbir itu ada dua macam, yaitu takbir muthlaq (tanpa dikaitkan dengan waktu tertentu) dan takbir muqoyyad (dikaitkan dengan waktu tertentu).

Takbir yang dimaksudkan dalam penjelasan di atas adalah sifatnya muthlaq, artinya tidak dikaitkan pada waktu dan tempat tertentu. Jadi boleh dilakukan di pasar, masjid, dan saat berjalan. Takbir tersebut dilakukan dengan mengeraskan suara khusus bagi laki-laki.

Sedangkan ada juga takbir yang sifatnya muqoyyad, artinya dikaitkan dengan waktu tertentu yaitu dilakukan setelah shalat wajib berjama’ah[13].

Takbir muqoyyad bagi orang yang tidak berhaji dilakukan mulai dari shalat Shubuh pada hari ‘Arofah (9 Dzulhijah) hingga waktu ‘Ashar pada hari tasyriq yang terakhir. Adapun bagi orang yang berhaji dimulai dari shalat Zhuhur hari Nahr (10 Dzulhijah) hingga hari tasyriq yang terakhir.

Cara bertakbir adalah dengan ucapan: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha illallah, Wallahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.

Ketiga: Menunaikan Haji dan Umroh

Yang paling afdhol ditunaikan di sepuluh hari pertama Dzulhijah adalah menunaikan haji ke Baitullah. Silakan baca tentang keutamaan amalan ini di sini.

Keempat: Memperbanyak Amalan Sholeh

Sebagaimana keutamaan hadits Ibnu ‘Abbas yang kami sebutkan di awal tulisan, dari situ menunjukkan dianjurkannya memperbanyak amalan sunnah seperti shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan beramar ma’ruf nahi mungkar.

Kelima: Berqurban

Di hari Nahr (10 Dzulhijah) dan hari tasyriq disunnahkan untuk berqurban sebagaimana ini adalah ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Silakan baca tentang keutamaan qurban di sini.

Keenam: Bertaubat

Termasuk yang ditekankan pula di awal Dzulhijah adalah bertaubat dari berbagai dosa dan maksiat serta meninggalkan tindak zholim terhadap sesama. Silakan baca tentang taubat di sini.

Intinya, keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu, sehingga amalan tersebut bisa shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan amalan sholih lainnya.[14]

Sudah seharusnya setiap muslim menyibukkan diri di hari tersebut (sepuluh hari pertama Dzulhijah) dengan melakukan ketaatan pada Allah, dengan melakukan amalan wajib, dan menjauhi larangan Allah.[15]

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Finished with aid of Allah, on 1st Dzulhijah 1431 H (07/11/2010), in KSU, Riyadh, KSA

Written by: Muhammad Abduh Tuasikal

www.rumaysho.com

Categories: Buya Masoed Abidin, dakwah ilaa Allah, Education, Komentar, Pendidikan, Siruu fil ardhi, Surau, Tulisan Buya | Leave a comment

Muhasabah Menyambut Tahun Baru Hijrah

Dzikrullah dan Muhasabah

Memantapkan Akhlaq Bermasyarakat Menyambut Tahun Baru Hijrah

Oleh : Buya H. Mas’oed Abidin

الحَمْدُ لله الذِي جَعَلَ لَنَا مَا فيِ الأرضِ لِلعِمَارَات وَ زَرْعِ الحَسَنَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ خَالِقُ الأرْض وَ السَّمَاوَات، و أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَ رَسُوْله الدَّاعِي إِلىَ دِيْنِهِ بِأَوْضَحِ البَيِّنَات. اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِك عَلَى سَيِّدِالكَائِنَات، نَبِيِّنَا مُحَمَّد وَ عَلىَ آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ التَّابِعِيْنَ المُجْتَهِدِين لِنَصْرَةِ الدِّين وَ إِزَالةِ المُنْكَرَات

Wahyu terakhir dalam Alquranul Karim,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الاِسْلامَ دِينًا

“Dihari ini, Aku lengkapkan untuk kamu agamamu, dan Aku sempurnakan untuk kamu ni’mat Ku, dan Aku nyatakan keredhaan depan-kabahKU untuk Islam menjadi agamamu” (QS.5, Al Maidah:3).

Kita diseru meraih redha Allah SWT dengan ;

a) Menafkahkan harta, di waktu lapang maupun sempit,

b) Menahan amarah dan mema`afkan orang,

c) Selalu berbuat kebajikan (muhsinin),

d) Ingat akan Allah, dan mohon ampun atas dosa-dosanya,

e) Tidak berbuat keji, padahal mereka tahu akibatnya..

Ketika kita ditimpa ujian, lima sikap ini amat perlu dalam mengatasi musibah ini. Hakekat dari akhlaq mulia adalah kepedulian, kemaafan, dan istighfar. Sabda Rasul SAW mengingatkan akan hamba yang sangat dicintai oleh Allah SWT, sesuai sabda Rasul SAW,

أَحَبُّ عِبَادَ اللهِ إِلىَ اللهِ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Hamba-hamba Allah yang paling dicintai-Nya adalah yang paling baik akhlaknya diantara mereka” (Shahih Al Jami’: 179).

Hidup kita ini tidak terlepas dari Keinginan2.

Keinginan tidak terlepas dari usaha. Makin tinggi keinginan seorang makin kuat usaha yang dilakukan. Keinginan dan usaha mesti dikuatkan dengan penyerahan diri kepada Allah SWT dengan memiliki sikap tawakkal. Tawakkal akan mendorong motivasi dhamir masyarakat menjadi dinamis, khusus di Ranah Minang.

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS.65, at-Thalaq:3).

Allah SWT telah menjadikan tawakkal sebagai syarat dari iman. Bila tawakkal hilang, maka hilang pula iman itu.

Tawakkal adalah ibadah hati yang melahirkan semangat utama, dan akhlak paling mulia. Tawakkal menduduki posisi penting dalam agama, dan maqam mulia di kalangan orang mukmin. Tawakkal adalah darjah muttaqin paling tinggi dalam taqarrub kepada Allah SWT. Tawakkal adalah bekerja keras dengan sikap yang konsisten.

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ على اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُوْ خِمَاصًا وَ تَرُوْحُ بِطَانًا.

“ Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya Allah akan memberikan rezki seperti kepada seekor burung yang keluar terbang pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang ”.(HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Tawakkal himpunan Ma’rifah dengan Allah

Dengan mengenali sifat-sifat Allah hati teguh di maqam tauhid. Yakin kepada Allah. Menyandarkan urusan dengan tenang kepada-Nya. Anggapan baik kepada Allah Azza wa Jalla. Dan ridha kepada Allah dengan menyerahkan semua kepada-Nya.

وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلا

“Dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (QS. Al Ahzab: 3).

Tawakkal yang benar adalah selalu ingat kepada Allah dalam setiap tindakan.Tempat Dzikir berada di dalam hati. Tidak diujung lidah belaka. Dzikir menjadikan qalbu khusyu’ (focus) dan tawadhu’ (merendah) dengan rasa khauf (takut) dan raja’ (harap). Dzikir, pangkal ketentraman dan kedamaian. Allah adalah sumber ketenangan dan kedamaian.

Mencapai Kedamaian mendatangi Sumbernya

Sumber kebahagiaan adalah Allah SWT. Mendatangi-Nya adalah dengan membersamakan diri dengan Do’a.

عَنْ عَلِىِّ بن أَبِي طَالِبِ رَضِىَ الله عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ، قال رسول الله ص.م: الدُّعَاءُ سِلاَحُ المُؤْمِنِ وَ عِمَادُ الدِّيْنِ وَ نُوْرَ السَّمَاوَاتِ وَ اْلأَرْضِ

“Dari Ali bin Abi Thalib r.a. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : Doa adalah senjata orang mukmin, tiang agama dan cahaya langit dan bumi.” (HR. Al Hakim)

Dzikir itulah jalan pembersamaan dengan Allah SWT (ma’rifatullah) yang dengannya qalbu jadi tenteram. “… Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu…” (Q.S. Al Baqarah: 152).

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” (Q.S. Ar Ra’d: 28)

Meninggalkan zikrullah berarti membuka keleluasaan syetan untuk menguasai diri kita dan membawa kita kepada tindakan dzalim dan maksiyat. Firman Allah :

اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلاَ إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Syetan telah menguasai mereka dan menjadikan mereka lupa mengingat Allah (zikrullah); mereka itu jadi golongan syetan. Ketahuilah, sesungguhnya golongan syetan adalah golongan yang merugi.” (Q.S. Mujadilah: 19)

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ خَيْرًا فَتَحَ لَهُ قُفْلَ قَلْبِهِ وَ جَعَلَ فِيْهِ الْيَقِيْنَ وَ الصِّدْقَ وَ جَعَلَ قَلْبَهُ وَاعِيًا لِمَا سَلَكَ فِيْهِ وَ جَعَلَ قَلْبَهُ سَلِيْمًا وَلِسَانَهُ صَادِقًا وَ خَلِيْقَتَهُ مُسْتَقِيْمَةً وَ جَعَلَ أُذُنَهُ سَمِيْعَةً وَ عَيْنَهُ بَصِيْرَة ً) رواه الشيخ عن أبي ذر(

Apabila Allah hendak mendatangkan kebaikan kepada hambaNya dibukakan kunci hatinya dan dimasukkan ke dalamnya keyakinan dan kebenaran dan dijadikan hatinya menyimpan apa yang masuk ke dalamnya dan dijadikan hatinya bersih, lidahnya berkata benar, budinya lurus, telinganya sanggup mendengar dan matanya melihat dengan terangan. (HR. Syekh dari Abu Zar).

Hati yang sudah terbuka wajib dipupuk terus dengan mujahadah dan kesungguhan. Mujahadah adalah suatu keniscayaan yang mesti dilakukan siapa saja yang menginginkan kebersihan jiwa dan kematangan iman dan taqwa. Bertahan dalam lapar (puasa) dan bangun tahajjud di perempat malam, adalah sesuatu yang mudah. Membina akhlak dan membersihkan jiwa dari yang mengotorinya sangatlah sulit. Hati dan fikiran mesti dijaga baik, dengan menambah ilmu, mendengar nasehat yang diajarkan Rasulullah SAW, dan melengkapi diri budi pekerti mulia. Tasbih, tahmid dan istigfar memperkuat sifat istiqamah, konsisten dalam garis Allah di medan juang manapun berada supaya tidak hanyut di bawah arus.

Membangun umat berawal dari Silaturrahim.

صِلَةُ الرَّحِمِ وَ حُسْنُ اْلخُلُقِ وَ حُسْنُ الِجوَارِ يُعَمِّرْنَ الدِّيَارَ وَ يَزِدْنَ فِى الأعْمَارِ. }رواه أحمد{

“Menghubungkan silaturrahim, budi pekerti yang baik den berbuat baik terhadap tetangga, itulah yang akan meramaikan kampung dan menambah umur”. (HR Ahmad)

Khalifah Umar Ibnu Khattab menegaskan ;

نَحْنُ قَوْمٌ أَعَزَّنَا الله بِالإِسْلاَم فَمَهْمَا ابْتَغَيْنَا العِزَّةَ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ بِهِ أَذَلَّنَا اللهُ }رواه الحكم{

Kita adalah umat yang telah dibikin berjaya oleh Allah dengan bimbingan agama Islam, kalaulah (satu kali) kita ingin mencapai kejayaan lagi dengan bimbingan selain agama Islam, (sudah pasti) malah kehinaanlah yang akan ditimpakan Allah kepada kita.”

Pemimpin berperan menyejahterakan Umatnya.

السُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِى الأرْضِ، يَأوِى إِلَيْهِ الضَّعِيْفِ وَ بِهِ يَنْتَصِرُ المَظْلُوْمُ وَ مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ الله فِى الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ القِيَامَةِ. }رواه ابن النجار عن أبي هريرة{

“Penguasa (pemerintahan) yang dilindungi oleh Allah di bumi, lantaran berlindung kepadanya orang lemah dan karena orang teraniaya mendapatkan pertolongan (dengan adil). Barang siapa di dunia memuliakan penguasa yang menjalankan perintah Allah, niscaya orang itu di hari kiamat dimuliakan pula oleh Allah” (Diriwayatkan oleh ibnu Najar dari Abu Hurairah).

Pemimpin yang baik akan menjadikan kehidupan dunia jernih di mata rakyatnya.

خِيَارُ أَئِمَّتُكُمُ الذِّينَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَ يُحِبُّوْنكَمُ ْو َتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ وَ يُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ.

“Pemimpin kamu yang terbaik ialah yang kamu cintai dia setulus hati, sedang mereka pun mencintai kamu rakyatnya dengan sesungguh hati pula. Kamu selalu mendo’akan keselamatan mereka kepada Allah, begitu pula mereka selalu berdo’a dan berusaha keras untuk kesejahteraan kamu rakyatnya, dengan seikhlas hati pula.

وَ شِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الذِّيْنَ تَبْغُضُوْنَهُمْ وَ يَبْغْضُوْنَكُمْ تلَعِْنُوْنـَـهُمْ وَ يَلْعَنُوْنَكُمْ. }رواه مسلم عن ابن مالك{

Sejahat-jahat pimpinan kamu ialah mereka yang selalu kamu benci karena tindak tanduknya yang tidak adil, dan merekapun membenci kamu rakyatnya setengah mati. Kamu selalu mengutuk dan melaknat mereka supaya kekuasaan mereka cepat tumbang,sedangkan mereka sendiri mengutuki kamu pula dengan cara mempersulit dan menyengsarakan kamu rakyatnya….” (Hadits menurut riwayat Imam Muslim dari A’uf bin Malik).

Rasul SAW menyebutkan peran Hartawan

الدُّنْيَا الأَرْبَعَةُ نَفَرٍ: عَبْدٌ رِزْقَهُ الله مَالاً وَ عِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيْهِ وَ يَصِلُ فِيْهِ رَحِمَهُ وَ يَعْلَمُ اللهُ حَقًّا فَهذَا بِأَفْضَلِ المَنَازِلِ. }رواه الترمذي{

“ Dunia ini berada dalam genggaman empat tahapan; seorang yang diberi rezki oleh Allah dengan kekayaan dan ilmu, lalu dengan kekayaan itu dia bertaqwa kepada Allah,selanjutnya di ikat tali silahturrahmi dengan masyarakat, kemudian di perhatikannya benar batas-batas hak untuk Allah. Maka disanalah kedudukan sebaik-baiknya.” (HR.Tirmidzi)

Peran umarak amat menentukan.

إِذَا كَانَ أُمَرَائُكُمْ خَيَارُكُمْ وَ أَغْنِيَائُكُمْ سَمَحَائُكُمْ وَ أَمْرُكُمْ شُوْرَى بَيْنَكُمْ فَظَهَرَ الأَرْضِ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ بَطْنِهَا

Manakala para pemimpin kamu diambil dari dari orang-orang baik di antara kamu dan para orang kaya kamu adalah orang-orang penyantun di antara kamu serta semua urusan kamu di musyawarahkan di antara sesamamu maka punggung bumi akan lebih baik sebagai tempat tinggalmu daripada — mati berkalang tanah, dalam perut bumi.

Dunia berkabung ketika Pemimpin buruk Perangai.

إِذَا كَانَ أُمَرَائكُِمْ شِرَرُكُمْ وَ أَغْنِيَائِكُمْ بُخَلاَئِكُمْ وَ أَمْرُكُمْ فِى يَدِ نِسَائِكُمْ فَبَطْنِ الأَرْضِ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ ظَهْرِهَا.

“ Jika Umarak kamu terambil dari mereka-mereka yang jahat, hartawan kamu adalah manusia-manusia bakhil budak harta, dan segala persoalan kemasyarakatan kamu tidak di musyawarahkan lagi, akan tetapi terombang ambing dalam permainan hawa nafsu wanita yang mengendalikan dari belakang, maka dalam masyarakat yang demikian, perut bumi yakni mati berkalang tanah, lebih baik dari hidup bercermin bangkai”. Na’izubillahi min zaalik.

Dengan ibadah lakukan Muhasabah.

Peribadi muslim yang kuat iman tampil dengan pekerti terpuji, terutama dengan rasa malu. Sabda Rasul SAW,

العَدْلُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الأُمَرَاءِ أَحْسَنُ،

السَّخَاءُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الأَغْنِيَاءِ أَحْسَنُ،

اَلْوَرَعُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى العُلَمَاءِ أَحْسَنُ،

الصَّبْرُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الفُقَرَاءِ أَحْسَنُ،

التَّوْبَةُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الشَّبَابِ أَحْسَنُ،

الَحيَاءُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى النِّسَاءِ أَحْسَنُ.

}رواه الديلمى عن عمر{

Keadilan itu baik, akan tetapi lebih baik kalau berada pada umarak(pejabat pemerintahan).

Kedermawanan itu baik, namun akan lebih baik jika ada pada orang-orang yang mampu (hartawan).

Hemat cermat itu sangat baik, akan tetapi lebih baik kalau cermat itu berada pada orang berilmu.

Kesabaran itu baik, namun akan lebih baik kalau ada pada orang miskin.

Tobat (meninggalkan dosa itu baik), tetapi akan lebih baik kalau ada pada pemuda.

Malu itu baik, tetapi akan lebih baik kalau ada pada perempuan”. (HR. Dailami dari Umar bin Khattab).

Padang, 1 Muharram 1430 H

Categories: Buya Masoed Abidin, Education, Hijrah, Komentar, Komentar Buya, Surau, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

Iqrak (=Bacalah), Bismi Rabbika (=dengan Nama Rabb engkau), membuka lembaran baru kemajuan manusia yang manusiawi

Iqra’ bismi Rabbi-ka

Perintah Pertama Kepada Nabi Muhammad Saw

 

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَق َ(1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَق ٍ(2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ(3)الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ(5)

‘Iqra’ (bacalah) denqan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Iqra’ (bacalah), dan Tuhanmu lah yang Paling Pemurah, sang Mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia Mengajarkan kepada manusia apa sang tidak diketahuinya. (Q. Al ‘Alaq: 1-5)

 

Di saat usia Rasulullah SAW. hampir mencapai empat puluh tahun, beliau menyaksikan kondisi masyarakat kelilingnya disungkup oleh kejahiliyahan dan kemusyrikan. Dalam kondisi seperti itu Rasulullah mengambil keputusan untuk mencoba menjauh dari lingkungan yang tidak kondusif itu. Beliau memilih suatu gua yang tidak terlalu besar, jaraknya tidak terlalu jauh dari Makkah, yaitu gua Hira di Jahal Nur.

Pilihan Rasulullah untuk mengasingkan diri ini termasuk satu latihan dan ketetapan Allah atas diri beliau sebagai langkah persiapan untuk menerima peran lebih besar Menjadi Rasul utusan Allah. Di gua Hira inilah wahyu Allah SWT pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, yaitu firman Allah yang mengawali kitab suci Alquran, di awali dengan perintah untuk membaca (iqra’ = bacalah).

Fi’l amar atau kalimat perintah iqra (bacalah) di dalam firman Allah ini sama sekali tidak menjelaskan obyek (maf ‘ul bih) nya.

Dalam tinjauan ilmu Nahwu berarti bahwa perintah tersebut tidak ditujukan pada obyek tertentu. akan tetapi memiliki makna yang bersifat umum.

Menurut ilmu balaghah kalimat perintah ini tidak bersifat mutlaq, tetapi mu qayyat (bersyarat), yakni bahwa perintah iqra (membaca) pada konteks ayat bukanlah membaca sesuatu yang bebas nilai.

Perintah ini  mempunyai nilai hakiki, bismi rabbika alladzi khalaq (dengan nama Tuhan yang Maha Menciptakan).

Inilah yang membedakan antara membaca yang bernilai ibadah dengan membaca dalam bentuk yang lain dan tidak memiliki nilai apapun kecuali kesia-siaan.

Makna iqra’ ditafsirkan dengan bermacam ragam makna oleh para mufassirin (ulama tafsir). Di antaranya, perintah iqra (bacalah) menghendaki perpindahan dari pasif menjadi aktif dan diam kepada bergerak. yaitu;

“Bacalah yang tertulis, sehingga pengetahuan dan keahlian bertambah.

Bacalah yang didiktekan, diajarkan oleh utusan Tuhan. Sampai kamu sendiri mengerti dan yang mendengar memahami.

Bacalah yang termaktub dalam rahasia alam yang beraneka warna, agar kamu jadi sadar dan mendapat sinar iman.”

Membaca memiliki proses timbal balik antara individu secara total dengan informasi yang dibaca. Seseorang yang membaca akan memperoleh pengetahuan (ilmu). Membaca Al-Qur’an berarti menimba ilmu dari Al Qur’an. Membaca alam berarti menggali pengetahuan dan alam. Membaca tidak sekedar melihat atau mengeja bacaan tanpa mengetahui arti.

Disimpulkan  makna perintah iqra’ (membaca) tersebut mengandung beberapa pengertian.

Pertama,    bacalah ayat-ayat Allah sebagai kalamullah yang ada dalam Alquranul Karim (al Aayaat al Qauliyyah).  

Kedua,   bacalah ayat-ayat Allah yang tercipta dan terbentang di alam semesta (al  Aayaat al Kauniyah).

Dalam Alquran terdapat ratusan ayat yang memerintahkan manusia agar melihat. memperhatikan. memikirkan. merenungkan.

Demi terlaksananya perintah ini, maka Allah membekali manusia dengan beberapa instrumen. yang menjadi alat bagi mereka utuk memperoleh pengetahuan, di antaranya ;                  

Pancaindra manusia yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba menempati posisi yang sangat penting bagi manusia dan sangat berguna untuk menangkap pesan tentang benda-benda dan keadaan yang ada di lingkungan sekelilingnya.

Akal, yang berfungsi pada tataran rasionalitas. Akal memiliki kemampuan untuk mengumpul data, menganalisa, mengolah dan membuat kesimpulan dari yang telah tertangkap dan diinformasikan oleh pancaindra.

Intuisi atau ilham didapat tanpa melalui proses penalaran tertentu. Tidak semua orang bisa mendapatkan kemampuan intuitif dan ilham, kecuali orang-orang yang melakukan musyahadah melalui kontemplasi (perenungan), ibadah dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT.

Kemampuan dimiliki manusia sangat terbatas, baik bersifat fisik yang masih menyimpan misteri bagi manusia, apatah lagi yang bersifat non-fisik dan irrasional yang tidak mampu dicerna akal.

Wahyu membimbing manusia, agar tidak tertipu oleh indra dan akalnya yang terbatas. Wahyu memberikan kepastian agar akal tidak mengelana tanpa arab yang dapat membawa kepada ketersesatan dari kebenaran yang hakiki.

Wahyu adalah pengetahuan dan kebenaran tertinggi yang datang dari Dzat Yang Maha Tinggi dan Yang Maha Tahu segala rahasia alam semesta ini.

Wahyu Allah adalah kebenaran yang bersifat mutlak.

Seiring dengan berkembangnya budaya dan peradaban manusia di masa modern dan era globalisasi, situasi dan kondisi masyarakat pun mengalami perubahan yang sangat drastis. Tuntutan hidup pada segala sisi aspek kehidupan mesti dihadapi dan harus diatasi. Keperluan manusia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi tak terelakkan menjadi salah satu sarana yang diperlukan dan dapat mengantarkan pada kemudahan penguasaan alam kelilingnya.

Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi prasyarat imperatif di dalam menatap perkembangan zaman dan menjadi dorongan inovasi peradaban semua ras manusia.

Dengan demikian, maka upaya meraihnya adalah dengan belajar. IQRA’ = bacaalah.

Allahu a ‘lam bishawab.

Wassalam

Buya H.Mas’oed Abidin

Categories: Amar Makruf Nahi Munkar, Buya Masoed Abidin, Education, Komentar, Masyarakat Adat, Ramadhan, Strategi Pendidikan Madani, Surau | Leave a comment

Tauhid adalah Ruh Pendidikan Madrasah

Akidah dan Akhlak

Ruh Dakwah Pendidikan, Strategi Menghidupkan

Pembinaan Madrasah, di Sumatera Barat

Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

 

Pendahuluan                                                                 

Upaya dan usaha umat Islam di Sumatera Barat di dalam menghidupkan perguruan Islam yang disebut Madrasah (kini lazim disebut Pesantren) sepanjang sejarah pendidikan Islam di Indonesia.

Khusus untuk daerah Minangkabau, Provinsi Sumatera Barat, upaya itu tampak jelas sejak dari mula pendiriannya oleh ulama di nagari dan masyarakat selingkarannya. Demikian pula dengan pengembangan madrasah-madrasah itu, sejak dari surau, mulai dari wirid ke madrasah, sampai ke perguruan tinggi, selalu dengan perlibatan dan pemberdayaan semua potensi masyarakat, sejak dari kampong sampai ke rantau.

Usaha-usaha terpadu ini, telah melahirkan berbagai tingkat pendidikan, sejak dari tingkat awaliyah, ibtidaiyah, tsanawiyah, ‘aliyah, hingga ketingkat kulliyah. Hasilnya, hingga saat ini, kita temui sebagai upaya bersama masyarakat, yang sesungguhnya sudah melalui rentang waktu yang panjang.

Selama dua abad sampai sekarang, sejak kembalinya tiga serangkai ulama zuama Minangkabau (1802), yaitu Haji Miskin di Pandai Sikek, Luhak Agam, Haji Abdur Rahman, di Piobang, Luhak Limopuluah, dan Haji Muhammad Arief, di Sumanik, Luhak nan Tuo, Tanah Datar, lazim dikenal bergelar Tuanku Lintau. Ketiga mujahid dakwah ini telah membawa penyadaran pemikiran dan memacu semangat umat mengamalkan agama Islam yang benar di dalam kehidupan beradat di Minangkabau. Jalan yang mesti ditempuh adalah menggiatkan masyarakat menuntut ilmu.

Perkembangan Intelektual Pengujung Abad ke-19

Sumatera Barat menandai satu masa perkembangan sosial dan intelektual yang deras dipengujung abad ke 19. Diawali pulangnya putra-putra Minangkabau dari menimba ilmu di Mekah.

Mereka membawa ruh pembaharuan pendidikan Islam sebagaimana digerakan Muhammad Abduh dan Jamaluddin al-Afghani dari Mesir. Ruh pendidikan madrasah di Minangkabau itu, tidak dapat dilepaskan dari pelajaran-pelajaran yang diberikan seorang pelopor gerakan pembaruan di Minangkabau yang banyak menyebarkan pikirannya dari Mekah pada awal abad ke-20 Beliau adalah Syekh Ahmad Khatib EL Minangkabawy (1855)[1], turunan dari seorang hakim gerakan Paderi yang sangat anti penjajahan Belanda. [2]

Di samping itu ada seorang pembaru yang tidak dapat dilupakan, walau lebih dikenal di tanah serantau, yaitu Syekh Taher Djalaluddin (1869-1956)[3]. Syekh Taher Djalaluddin terbilang seorang tertua dan pelopor ajaran Ahmad Khatib di Minangkabau dan di tanah Melayu. Dia juga adalah guru kalangan pembaru Minangkabau. Pengaruhnya tersebar pada murid-muridnya melalui majalah Al-Imam dan melalui sekolah yang didirikannya di Singapura bersama Raja Ali Haji bin Ahmad pada tahun 1908. Sekolah yang bernama Al-Iqbal al-Islamiyah, menjadi model Sekolah Adabiyah yang didirikan oleh Haji Abdullah Ahmad di Padang pada tahun 1908.

Ulama-ulama Minangkabau itu, di antaranya Muhammad Djamil Djambek atau Inyik Djambek (1860-1947)[4], M. Thaib Umar di Sungayang (1874-1920), Haji Abdul Karim Amarullah atau Inyik Rasul (1879-1945)[5], Haji Abdullah Ahmad (1878 – 1933)[6], dan Syekh Ibrahim Musa[7]. Mereka menyebarkan peranannya dalam mendirikan lembaga pendidikan Islam yang bersifat modern.

Nafas yang ditiupkan oleh ruh dakwah pendidikan membawa satu perubahan besar dan signifikan di masanya. Para ulama suluah bendang di nagari memasuki era baru. Mereka menjadi kelompok pembaru di sisi ehidupan sosial masyarakat. Di antaranya Zainuddin Labai al-Yunusi (1890- 1934)[8] di Padangpanjang.  

Madrasah dan Surau Mengawal Ruhul Islam

Umumnya para murid bekas ulama-ulama tersebut kemudian menjadi pelopor pembaruan pemikiran Islam di Ranah Minang melalui surau. Keadaan ini bergerak terus, sesuai dinamika dan tuntutan zaman, hingga ke masa pergerakan kemerdekaan.

Madrasah telah menjadi markas pergerakan bawah tanah (silent operation) menentang kaum penjajah, sehingga berakibat semua gerak dan geliatnya selalu dicurigai oleh penguasa penjajahan semasa. Dicatat oleh sejarah bahwa benang merah yang dipunyai para pejuang adalah terpelajar, beragama yang taat dan peribadi mandiri.

Dari surau penguatan madrasah dimulai. Orientasi pendidikan ditekankan pada penanaman aqidah. Didukung dengan ilmu‑ilmu agama, pembinaan fisik, dan mental (melalui latihan silat), pelajaran kesenian dan ketrampilan. Lulusan surau ideal inilah kombinasi ulama, pejuang, jiwa seni, mandiri dan terampil.

Setelah masuknya pendidikan modern awal abad ke 20 (1929) surau berkembang dengan sistem klasikal. Contohnya Madrasah Irsyadin Naas (MIN), Perguruan Diniyah Puteri, Thawalib dan Perguruan Muhammadiyah.

Berurat ke  Hati  Masyarakat

Para pemuka masyarakat di masa itu umunya jebolan madrasah. Mereka memiliki pikiran maju rasional dan cinta tanah airnya. Sesuai bimbingan agama Islam yang diterima dari pelajaran surau dan madrasah. Para thalabah lulusan madrasah Thawalib dan pendidikan sistim surau, umumnya berkiprah di kampung halaman setelah selesai menuntut ilmu, dengan mendirikan sekolah-sekolah agama, bersama-sama dengan masyarakat, memulainya dari akar rumput.

Pemberdayaan potensi masyarakat digerakkan secara maksimal dan terpadu untuk menghidupkan pendidikan Islam. Untuk mencerdaskan umat dan menanamkan budi pekerti (akhlak Islami). Seiring pula dengan berlakunya kaedah adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah, para ulama adalah tempat meminta kata putus (bamuti).[9]

Pandangan dan pemahaman para lulusan madrasah sangat nyata berbeda dengan anutan jebolan sekolah gubernemen di masa penjajahan. Maka tidak jarang terjadi di masa itu, ada pandanagan dan anggapan pemisah antara kaum ulama (santri, urang siak, mualim, urang surau) yang bersekolah di madrasah dengan kalangan ambtenaren berdasi berpentalon.

Perbedaan tajam itu, berakibat kepada perlakuan pemerintah masa itu, dalam melihat dan menilai madrasah, sebagai lembaga pendidikan kelas dua, bahkan terkesan berlawanan dengan pihak pemerintah. 

Di masa perjalanan kemerdekaan, dan pembangunan sentralistik madrasah mengalami pembedahan-pembedahan pula pada tubuhnya.

Dekat Mendekati

Pada dua decade 1970 pemerintah mulai membuka akses lebih besar ke dunia pendidikan madrasah Islam, dengan mulai melakukan rekonsiliasi dengan Islam melalui dekat mendekati dan penyesuaian penyesuaian (rapprochement). Terjadi penyeragaman. Ciri khas dari Madrasah mulai tiada.

Konsekwensinya, pendidikan dan program madrasah disejajarkan dan bergayut kepada pemerintah, maka akibat yang terasa adalah kurangnya kemandirian perguruan madrasah dinagari-nagari dan dampak negatifnya potensi masyarakat melemah.

Padahal pada awal keberadaan madrasah itu, sejak abad 18 sebagai kita sebut di atas para ulama penggagas dan pengasuh madrasah memiliki jalinan hubungan yang kuat dengan masyarakat. Ada suatu hubungan saling menguntungkan (symbiotic relationship). Sehingga madrasah menjadi kekuatan perlawanan membisu (silent opposition) dan respon pemimpin serta komunitas Muslim terhadap penjajahan.

Merosotnya peran kelembagaan pendidikan madrasah di Minangkabau dalam bentuk surau, telah mendorong pengasuh untuk mengadopsi sistim pendidikan seperti perguruan tradisional di Jawa.

Akibatnya, pemeranan masyarakat dan lingkungan di dalam menghidupkan kembali ruh pendidikan madrasah, khususnya dalam bidang dana dan daya (tenaga pengajar) menjadi kurang.

Madrasah hanya dapat hidup dengan dukungan pemilik badan pengasuh madrasah, serta pendapatan-pendapatan madrasah itu sendiri. Keadaan ini menjadi lebih berat, ketika madrasah menjadi anak tiri pemerintah seperti di masa lalu.

Ironisnya masyarakat lingkungan tidak pula mengaggap madrasah sebagai anak kandungnya lagi.

Sering terjadi madrasah lahir dan tumbuh sebagai anak yatim di lingkungan masyarakat yang melahirkan madrasah itu.

Peran serta masyarakat mesti ditumbuhkan kembali di dalam peningkatan manajemen pendidikan yang lebih accountable dari segi keuangan maupun organisasi, sehingga sumber finansial masyarakat dipertanggung jawabkan lebih efisien dan kualitas pendidikan – quality oriented – yang mendorong madrasah menjadi lembaga center of excellence.

Tantangan kesejagatan yang deras kini berupa materialistis, sekularistis, hedonistic dan hilangnya budaya luhur, menuntut agar Madrasah dapat menghasilkan anak didik berparadigma ilmu yang komprehensif, yakni pengetahuan agama plus keterampilan. Konsekwensinya sistim pendidikan Islam tidak boleh terpisah. Mesti menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Muslim keseluruhan.

Perlu penerapan nilai-nilai agama dan ibadah.

Penguatan perilaku beradat.

Pengintegrasian iptek, imtaq dan akhlaq.

Melalui pengembangan ini madrasah akan menjadi pusat membangun sahsiah generasi dengan sifat-sifat ruhaniah yang halus, dan sifat-sifat akhlaq yang mulia.

Secara ideal, peran madrasah adalah perwujudan dari tujuan pendidikan nasional yang “Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab, serta berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”. (UU No. 20 th 2003, Sistem Pendidikan Nasional).

Dengan terjaganya ruh dakwah dan pendidikan, maka madrasah akan lebih mudah mencapai sasarannya. Membuat anak didik menjadi terdidik, berkualitas, capable, fungsional, integrated ditengah masyarakatnya. Inilah hakikat dari dakwah bil hal.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk mempunyai kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Pendidikan dan peran dakwah

Peran da’wah di Minangkabau adalah menyadarkan umat akan peran  membentuk diri mereka sendiri, إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ  “Sesungguhnya Allah tidak akan merobah nasib satu kaum, hingga kaum itu sendiri yang berusaha merobah sikap mereka sendiri.”

Dalam kenyataan social dalam kehidupan anak nagari wajib diakui keberadaan mereka dengan menjunjung tinggi puncak-puncak kebudayaan mereka, menyadari potensi besar yang dimiliki akan mendorong kepada satu bentuk kehidupan bertanggung jawab.

Inilah tuntutan terhadap Da’wah Ilallah, yakni seruan kepada Islam — agama yang diberikan Khaliq untuk manusia –, yang penyiarannya dilanjutkan oleh da’wah, untuk kesejahteraan hidup manusia. Risalah merintis, da’wah dan pendidikan melanjutkan

Kewajiban Membangun Generasi Penyumbang (innovator)

        UUD 1945 meletakkan kewajibkan kepada Pemerintah untuk mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistim pendidikan Nasional yang meningkatkan Keimanan dan Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan demikian ada kewajiban membentuk generasi penyumbang dalam bidang pemikiran (aqliyah), ataupun pembaharuan (inovator) harus menjadi sasaran perioritas.[10]

          Keberhasilan akan selalu ditentukan oleh adanya keunggulan pada institusi di bidang pendidikan. Pendidikan ditujukan untuk membentuk generasi yang menguasai pengetahuan dengan kemampuan dan pemahaman mengidentifikasi masalah yang dihadapi. Seterusnya, mengarah kepada kaderisasi diiringi oleh penswadayaan kesempatan-kesempatan yang ada. Generasi baru yang mampu mencipta akan menjadi syarat utama keunggulan. Kekuatan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada.

Generasi penerus harus taat hukum. Upaya ini dilakukan dengan memulai dari lembaga pendidikan (madrasah), masyarakat lingkungan, keluarga dan rumah tangga. Memungsikan peranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif. Memperkaya warisan budaya dengan menanamkan sikap setia, cinta dan rasa tanggung jawab, sehingga patah tumbuh hilang berganti.

Menanamkan aqidah shahih (tauhid) dengan istiqamah pada agama Islam yang dianut. Menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur. Apabila sains dipisah dari aqidah syariah dan akhlak, niscaya yang akan lahir saintis tak bermoral agama. Kesudahannya, ilmu banyak dengan iman yang tipis, berujung dengan sedikit kepedulian di tengah bermasyarakat.

Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus didalam membentuk SDM, maka di samping kurikulum ilmu terpadu dan holistik, sangat perlu dirancang kualita pendidik (murabbi) yang sejak awal mendapatkan pembinaan terpadu. Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik, dan bukan utopis.

Membentuk Sumber Daya Manusia  berkualitas

Kita berkewajiban membentuk SDM menjadi sumber daya umat (SDU) yang berciri kebersamaan dengan nilai asas “gotong royong”, berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas.

Beberapa model dapat dikembangkan. Pemurnian wawasan fikir disertai  kekuatan zikir, penajaman visi, perubahan melalui ishlah atau perbaikan. Mengembangkan keteladanan (uswah hasanah) dengan sabar, benar, dan memupuk rasa kasih sayang melalui pengamalan warisan spiritual religi serta menguatkan solidaritas beralaskan iman dan adat istiadat luhur. 

“Nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”. Intensif menjauhi kehidupan materialistis, sebagai upaya menghadapi tantangan global.  dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.

Para pendidik (murabbi) adalah bagian dari suluah bendang dengan uswah hidup mempunyai sahsiah[11] (شخصية) bermakna pribadi yang melukiskan sifat individu mencakup gaya hidup, kepercayaan, kesadaran beragama dan harapan, nilai, motivasi, pemikiran, perasaan,  budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak akan mampu menghadirkan kesan positif masyarakat Nagari.

Faktor kepribadian tetap diperlukan dalam proses pematangan sikap perilaku anak didik yang mencerminkan  watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seseorang.[12]

Ciri kepribadian syarak yang mesti ditanamkan merangkum sifat-sifat,

1.      Sifat Ruhaniah dan Akidah, mencakup ;

a.      keimanan yang kental kepada Allah yang Maha Sempurna,

b.     keyakinan mendalam terhadap hari akhirat, dan

c.       kepercayaan kepada seluruh asas keimanan (arkan al iman).

2.      Sifat-Sifat Akhlak, tampak di dalam perilaku;

a.  Benar, jujur, menepati janji dan amanah.

b. Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan,

c.   Tawadhu’, sabar, tabah dan cekatan,

d. Lapang dada – hilm –, pemaaf dan toleransi.

e.  Bersikap ramah, pemurah, zuhud dan berani bertindak.

3.    Sifat Mental, Kejiwaan dan Jasmani, meliputi,

  3.1. Sikap Mental,

a.      Cerdas, pintar, menguasai spesialisasi (takhassus),

b.     Mencintai bidang akliah yang sehat, fasih,  bijak.

c.       Mengenali ciri, watak, kecenderungan masyarakat.

3.2. Sifat Kejiwaan,

a.      emosi terkendali, optimis hidup, harap kepada Allah,

b.     Percaya diri dan mempunyai kemauan yang kuat.

c.       Lemah lembut, baik dalam pergaulan dengan masyarakat.

3.3. Sifat Fisik,

a.      mencakup sehat tubuh,

b.     berpembawaan menarik, bersih,

c.       rapi (kemas) dan menyejukkan.

Senarai panjang menerangkan sikap pendidik berkelakuan baik, penyayang dan penyabar, berdisiplin baik, adil menerapkan aturan.

Mampu melakukan strukturisasi ruhaniyah. Murabbi dapat mewujudkan delapan tanggung jawab dalam hidup;

1)      Tanggungjawab terhadap Allah, dengan keyakinan iman dan kukuh ibadah istiqamah, beramal soleh dengan khusyuk dalam mencapai derajat taqwa dan mengagungkan syiar Islam dengan perilaku beradat dan beradab.

2)      Tanggungjawab terhadap Diri, mengupayakan keselamatan diri sendiri, baik aspek fisik, emosional, mental maupun moral, bersih dan mampu berkhidmat kepada Allah, masyarakat dan negara.

3)      Tanggungjawab terhadap Ilmu, menguasai ilmu secara mendalam dan menelusuri dimensi spiritualitas Islam dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan untuk tujuan kemanusiaan dan kesejahteraan umat manusia.

4)      Tanggungjawab terhadap Profesi, tidak bertingkah menghilangkan kepercayaan orang ramai dan dapat memelihara maruah dengan amanah.

5)      Tanggungjawab terhadap Nagari, mengutamakan keselamatan anak Nagari dan memfungsikan lembaga-lembaga pendidikan (surau) dengan ikhlas.

6)      Tangungjawab Terhadap Sejawat, menghindari mencemarkan sejawat dan berusaha sepenuh hati mengedepankan kemajuan social karena Allah.

7)      Tanggungjawab terhadap Masyarakat dan Negara, tidak mengabaikan kepentingan masyarakat atau negara dan selalu menjaga syari’at Allah.

8)      Tanggung jawab kepada Rumah Tangga dan Ibu Bapa, dengan menghormati tanggungjawab utama ibu bapa dengan mewujudkan hubungan mesra dan kerjasama yang erat di antara institusi pendidikan dengan rumahtangga.

 

Kesimpulannya,

1.      Ruh pendidikan madrasah afalah aqidah tauhid dan akhlaqul karimah. Pemetaannya  akan berhasil di lapangan pendidikan dengan kesepakatan pelaksana-pelaksananya. Perlu digalang saling pengertian, koordinasi sesame, mempertajam faktor-faktor pendukung, membuka pintu dialog persaudaraan.

2.      Ukuran madrasah berkualitas adalah kemampuan menampilkan nilai-nilai Al-Qur’an dengan gerak amal nyata yang terus menerus, dibuktikan dalam seluruh aktivitas kehidupan, dengan kemampuan bergaul, mencintai, berkhidmat, mengajak (da’wah), merapatkan potensi barisan dalam mengerjakan amal-amal Islami secara bersama-sama, sehingga berbuah pengamalan agama yang mendunia.

3.      Setiap generasi Muslim yang ditempa di Madrasah mampu mengamalkan nilai-nilai Al Qur’an, dan wajib mengemban missi yang berat dan mulia, yaitu merombak kekeliruan ke arah kebenaran. Inilah yang harus selamanya dijaga menjadi ruh dari pembinaan madrasah.

4.      Pembinaan Madrasah berkualitas dan mandiri berkehendak kepada gerak yang kontinyu, utuh dan terprogram. Hasilnya tidak mungkin diraih dengan kerja sambilan. Karena buah yang dipetik adalah sesuai dengan bibit yang ditanam, sesuai natuur-wet (sunnatullah, = undang-undang alami).

5.      Madrasah adalah perangkat seutuhnya menuju kepada kemajuan. Di tengah tantangan berjibun ini, kerjakan sekarang mana yang dapat, mulailah dengan apa yang ada, karena yang ada itu sebenarnya sudah amat cukup untuk memulai. Tumbuhkan kesadaran keumatan yang kolektif. Setiap Muslim harus memulai melakukan perbaikan (ishlah) di bidang Da’wah dan Pendidikan. Kerja ini tidak akan pernah berhenti, dan akan berkembang terus sesuai dengan variasi zaman yang selalu berubah. Tujuan harus tetap menuju redha Allah. Inilah ruhnya Madrasah.

 

Wabillahitaufiq wal hidayah,

Padang, 25 Jumadil Akhir 1429 H / 29 Juni 2008 M.

 

 

 

 

 

  


Catatan Akhir :

 

[1] Ahmad Khatib dilahirkan di Bukittinggi, pada tahun 1855, oleh ibu bernama Limbak Urai, saudara dari Muhammad Shaleh Datuk Bagindo, Laras, Kepala Nagari Ampek Angkek berasal dari Koto Tuo Balaigurah, Kecamatan Ampek Angkek Candung. Ayahnya adalah Abdullatief Khatib Nagari, saudara dari Datuk Rangkayo Mangkuto, Laras, Kepala Nagari Kotogadang, Kecamatan IV Koto, di seberang ngarai Bukittinggi. Ahmad Khatib anak terpandang, dari keluarga berlatar belakang agama dan adat yang kuat, generasi pejuang Paderi, dari keluarga Pakih Saghir dan Tuanku nan Tuo.

[2]  Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942,Jakarta, LP3ES, 1980, hal.38 

[3] Pada masa mudanya dia dipanggil Muhammad Taher bin Syekh Muhamad, lahir di Ampek Angkek tahun 1869, anak dari Syekh Cangking, cucu dari Faqih Saghir yang bergelar Syekh Djalaluddin Ahmad Tuanku Sami’, pelopor kembali ke ajaran syariat bersama Tuanku Nan Tuo. Mata rantai para ulama ini pada hakikatnya ikut menjadi pengawal ruh dakwah pendidikan di madrasah-madrasah di Minangkabau, Sumatera Barat di zamannya. Mulai tahun 1900, Syekh Taher Djalaluddin menetap di Malaya, dan diangkat menjadi Mufti Kerajaan Perak. Eratnya hubungan Syekh Taher Djalaluddin dengan Al-Azhar di Kairo, maka dia menambahkan al-Azhari di belakang namanya.

[4] Syekh Djamil Djambek dilahirkan di Bukittinggi pada tahun 1860 , anak dari Muhammad Saleh Datuk Maleka, Kepala Nagari Kurai. Ibunya berasal dari Betawi. Syekh Djamil Djambek meninggal  tahun 1947 di Bukittinggi.

[5]  Haji Rasul lahir di Sungai Batang, Maninjau, tahun 1879, anak seorang ulama Syekh Muhammad Amarullah gelar Tuanku Kisai. Pada 1894, pergi ke Mekah, belajar selama 7 tahun. Sekembali dari Mekah, diberi gelar Tuanku Syekh Nan Mudo. Kemudian kembali bermukim di Mekah sampai tahun 1906, memberi pelajaran di Mekah, di antara murid-muridnya termasuk Ibrahim Musa dari Parabek, yang menjadi seorang pendukung terpenting dari pembaruan pemikiran Islam di Minangkabau. Haji Rasul meninggal di jakarta 2 Juni 1945

[6]  Haji Abdullah Ahmad lahir di Padang Panjang pada tahun 1878, anak dari Haji Ahmad, seorang ulama dan pedagang. Ibunya berasal dari Bengkulu, masih trah dari pengikut pejuang Sentot Ali Basyah. Untuk mengetahui biografi menarik lebih lanjut tentang tokoh-tokoh ini, lihat Tamar Djaja, Pustaka Indonesia: Riwayat Hidup Orang-Orang Besar Tanah Air. Bulan Bintang Jakarta, 1966.

[7] Syekh Ibrahim Musa dilahirkan di Parabek, Bukittinggi pada tahun 1882. Setelah belajar pada beberapa perguruan, pada umur 18 tahun ia berangkat ke Mekah dan belajar di negeri itu selama 8 tahun. Ia kembali ke Minangkabau pada tahun 1909 dan  mulai mengajar pada tahun 1912. kemudian ia berangkat lagi ke Mekah pada tahun berikutnya dan kembali pada tahun 1915. Saat itu ia telah mendapat gelar Syekh Ibrahim Musa atau Inyiak Parabek sebagai pengakuan tentang agama. Syekh Ibrahim Musa tetap diterima oleh golongan tradisi, walaupun ia membantu gerakan pembaruan. Ia menjadi anggota dua organisasi Kaum Muda dan kaum Tua, yaitu Persatuan Guru Agama Islam (PGAI) dan Ittihadul Ulama.

[8] Zainuddin Labai al-Yunusi lahir di Bukit Surungan Padang Panjang pada tahun 1890. Ayahnya bernama Syekh Muhammad Yunus. Zainuddin Labai adalah seorang auto-didact, yang mempelajari ilmu dan agama dengan tenaga sendiri. Pengetahuannya banyak diperolehnya dengan membaca dan kemampuan dalam bahasa-bahasa Inggris, Belanda dan Arab yang dikuasainya. Koleksi bukunya meliputi buku-buku bermacam bidang seperti aljabar, ilmu bumi, kimia dan agama. Enam tahun membantu Syekh Haji Abbas, seorang ulama di Padang Japang, Payakumbuh dalam bidang kegiatan praktis. Dalam tahun 1913, Zainuddin memilih Padang Panjang sebagai tempat tinggalnya. Ia memulai mengajar di Surau Jembatan Besi, bersama Rasul dan  Haji Abdullah Ahmad. Zainuddin Labai termasuk seorang yang mula-mula mempergunakan sistem kelas dengan kurikulum teratur yang mencakup pengetahun umum seperti bahasa, matematika, sejarah, ilmu bumi di samping pelajaran agama. Ia pun mengorganisir sebuah klub musik untuk murid-muridnya, yang pada saat itu kurang diminati oleh kalangan kaum agama. Ia seorang yang produktif dalam menulis buku teks tentang fikh dan tatabahasa Arab untuk sekolahnya. Ia memimpin majalah Al-Munir di Padang Panjang. Zainuddin Labai adalah seorang termuda di antara tokoh pembaru pemikiran Islam  di Minangkabau. Ia termasuk seorang anggota pengurus Thawalib dan mendirikan pula perkumpulan Diniyah pada tahun 1922 dengan tujuan bersama-sama membina kemajuan sekolah itu.

[9] Semuanya didorong oleh pengamalan Firman Allah, 

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَولأ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

  Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya, apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.QS.IX, at Taubah, ayat 122.   

[10] QS.3:139 menyiratkan optimisme besar untuk penguasaan masa depan. Masa depan – al akhirah – ditentukan oleh aktifitas amaliyah (QS.6:135) bandingkan dengan QS.11:93 dan QS.11:121, bahwa kemuliaan (darjah) sesuai dengan sumbangan hasil usaha.

[11] Syakhshiyah didifinisikan sebagai organisasi dinamik sesuatu sistem psyikofisikal di dalam diri seorang yang menentukan tingkah laku dan fikirannya yang khusus.  Sistem psyikofisikal merangkum segala unsur-unsur psikologi seperti tabiat, sikap, nilai, kepercayaan dan emosi, bersama dengan unsur-unsur fisikal seperti bentuk tubuh, saraf, kelenjar, wajah dan gerak gerik seseorang (G.W Allport, dalam ”Pattern and Growth in Personality”, lihat juga, Mok Soon Sang, 1994:1).

[12] Syakhshiyah mempunyai tiga ciri keunikan dengan arti kebolehan  atau kemampuan untuk berubah dan di ubah; sebagai hasil pembelajaran atau pengalaman dan organisasi. Maka syakhshiyah bukan  sekadar himpunan tingkahlaku, tetapi melibatkan corak tindakan dan operasi yang bersifat konsisten.

Categories: Buya Masoed Abidin, Education, Komentar, Masyarakat Adat, Minangkabau, Surau | Leave a comment

Pengebangan Moral dan Nilai Agama dalam PAUD

Pengembangan Moral dan Nilai- Nilai Agama Dalam pendidikan anak usia dini (paud)[1]


H. Mas’oed Abidin[2]

 

Mukaddimah

Sudah lama kita mendengar ungkapan, “jadilah kamu berilmu yang mengajarkan ilmunya, atau belajar (muta’alliman), atau menjadi pendengar (mustami’an). Dan, jangan menjadi kelompok keempat, yang tidak memiliki aktifitias keilmuan sama sekali. Yakni, tidak mengajar, tidak pula belajar, serta enggan untuk mendengar”.

Peran Guru di tengah umat dan anak didiknya, adalah sesuatu pengabdian mulia, dan tugas sangat berat. Mereka adalah pelopor pembangunan (agent of changes). Bekal utamanya adalah keyakinan  dan keimanan kepada Allah SWT, hidup beradat,  berakhlaq mulia. Inilah, yang menjadi program utama di dalam pendidikan anak usia dini (PAUD). Tugas itu berat. Umat hanya mungkin dibentuk melalui satu proses pembelajaran, dengan pengulangan terus menerus (kontiniutas), pencontohan (uswah) yang baik. Pekerjaan ini memerlukan ketaletenan dan semangat yang prima.

Kemuliaan seorang guru (pendidik) terpancar dari keikhlasan membentuk umat dan anak manusia menjadi pintar, beriman, berakhlaq, berilmu, mengamalkan ilmunya, untuk kebaikan diri sendiri, keluarga, dan kemaslahatan umat, di kelilingnya, serta mempunyai ibadah yang teratur, shaleh pribadi, dan shaleh social, dengan tauhid yang istiqamah.

Keberhasilan murabbi (guru) akan banyak didukung oleh kearifan, yang dibangun oleh kedalaman pengertian, pengalaman dalam membaca situasi, serta upaya dan kondisi yang kondusif di sekitarnya.

tantangan di  abad ke 21

Abad ini ditandai oleh, (a). mobilitas serba cepat dan modern, (b). persaingan keras dan kompetitif, (c). komunikasi serba efektif, dalam satu global village, dan (d). Akibatnya,  banyak ditemui limbah budaya kebaratan (westernisasi).

Alaf baru ini  hadir dengan cabaran global yang menuntut keteguhan, dalam menghadapi tantangan yang berjibun banyaknya, di antaranya infiltrasi budaya sekularis  yang menjajah mentalitas manusia, the globalization life style meniru sikap yahudi, suburnya budaya lucah (sensate culture), menjauh dari adat budaya luhur, pemujaan nilai rasa panca indera, menonjolkan keindahan sensual, erotik, seronok, ganas semata mengejar kesenangan badani, kebiasaan miras, pergaulan bebas, kecanduan madat dan narkoba.

Menghadapi tantangan ini, semua elemen masyarakat berkewajiban memper­siapkan generasi yang siap bersaing dalam era global terse­but, dengan sibghah yang nyata, melalui pendidikan anak pada usia dini.

Penyimpangan perilaku menjadi ukuran atas kemunduran moral dan akhlak. Hilangnya kendali para remaja, berakibat ketahanan bangsa akan lenyap dengan lemahnya remaja.

Penyebab utama di antaranya, rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan,  hilangnya tokoh panutan, berkembangnya kejahatan di kalangan orang tua, luputnya tanggung jawab lingkungan dan masyarakat, impotensi di kalangan pemangku adat, hilangnya wibawa ulama, dan suluah bendang di nagari, bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi bisnis, dan profesi da’i, guru, dan suluah bendang, dilecehkan.

Perilaku umat juga berubah

Interaksi dan ekspansi kebudayaan dari luar, bergerak secara meluas. Pengaruh budaya asing berkembang pesat, seperti pengagungan materia secara berlebihan (materialistik), pemisahan kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik), pemujaan kesenangan indera mengejar kenikmatan badani (hedonistik).

Perilaku di atas merupakan penyimpangan sangat jauh dari budaya luhur. Pada akhirnya, melahirkan Kriminalitas, perilaku Sadisme, dan Krisis moral, secara meluas.

Perubahan dalam hidup beradat juga telah merambah Minangkabau. 

Adat ndak dipacik arek, agamo ndak dipagang taguah.

Fakta menunjukkan bahwa adat tidak berdampak banyak terhadap generasi muda. Tempat bertanya tidak ada, Sudah banyak yang tidak mengerti adat. Karena itu, generasi muda di Nagari mulai kebingungan.

Manakala problematika sosial ini lupa mengantisipasi melalui gerakan dakwah, melalui Pendidikan Anak Usia Dini berbasis aqidah, maka arus globalisasi ini membawa perubahan yang negatif.

Hilangnya keseimbangan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, yang menyebabkan timbulnya berbagai krisis.

Perilaku luhur akan bergeser, dan menipisnya ukhuwah, serta berkembangnya perbuatan maksiat. Maka sekolah atau pendidikan berbasis aqidah, mesti menjadi cerminan idealitas masyarakat yang mempertahankan pembelajaran budi akhlak.

Pergeseran budaya akan terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, seperti kegemaran berkorupsi, aqidah tauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, serta suka melalaikan ibadah.

Salah satu solusi untuk mengatasi problematika keumatan ini, adalah dengan melaksanakan pendidikan aqidah pada anak usia dini (PAUD), dengan menambah ilmu, menguatkan amal, menanamkan akhlak, menjaga ibadah dan karakter umat, dengan berpedoman wahyu Allah SWT.

Pendidikan aqidah dan akhlaq, membawa umat kepada bertaqwa. Janji Allah SWT sangat tepat, ” apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi. (QS.7,al-A’raf:96).

Menghidupkan Antisipasi Umat

Umat mesti diajak mengantisipasi perkembangan global agar tidak menjadi kalah. Dalam persaingan dimaksud, beberapa upaya mesti disejalankan dengan ;

a.       Memantapkan watak terbuka,

b.      Pendidikan aqidah tauhid,

c.       Mengamalkan nilai-nilai amar makruf nahi munkar,

d.      Integrasi moral yang kuat,

e.       Memiliki penghormatan terhadap orang tua,

f.        Mempunyai adab percakapan di tengah pergaulan,

g.       Pendalaman ajaran agama tafaqquh fid-diin, berpijak pada nilai-nilai ajaran Islam yang universal tafaqquh fin-naas.

h.      Perhatian besar terhadap masalah sosial atau umatisasi,

i.         Memacu penguasaan ilmu pengetahuan,

j.         Kaya dimensi dalam pergaulan rahmatan lil ‘alamin,

k.       Iman dan ibadah, menjadi awal dari ketahanan bangsa.

 

Ketahanan umat dan bangsa, pada umumnya terletak pada kekuatan ruhaniyah, keyakinan agama dengan iman taqwa dan siasah kebudayaan.

Intinya adalah tauhid. Implementasinya akhlaq.

Program pendidikan anak usia dini (PAUD) dapat dilakukan dengan nuansa surau. Surau adalah suatu institusi yang khas dalam masyarakat Minangkabau. Fungsinya bukan sekedar tempat sholat. Juga sebagai tempat pendidikan dan tempat mendapat pengajaran bagi anak muda. Banyak tokoh-tokoh besar di Minangkabau lahir dari surau. Pengelolaan pendidikan bernuansa surau, pada masa sekarang bisa dihidupkan kembali. Esensi dan semangatnya lewat menggerakkan kebersamaan anak Nagari.

Para pendidik mesti tampil mengambil peran, karena  ada gejala, adat tidak memberi pengaruh yang banyak terhadap generasi muda di Minangkabau, dan adanya tendensi bahwa generasi tua, terlihat kurang pula memberikan suri teladan.

Akibatnya, generasi muda jadi bersikap apatis terhadap adat itu sendiri.

Peran para pendidik mesti membentuk watak Generasi Sumatera Barat, sesuai petatah yang berbunyi, “Indak nan merah pado kundi, indak nan bulek pado sago, Indak nan indah pado budi,  indak nan elok pado baso. Anak ikan dimakan ikan,  gadang di tabek anak tanggiri, ameh bukan pangkaik pun bukan, budi sabuah nan diharagoi. Dulang ameh baok balaie, batang bodi baok pananti, utang ameh buliah bababie,  utang budi dibaok mati.”

Ada enam unsur yang diperlukan untuk membentuk masyarakat yang mandiri dan berprestasi, melalui harakah dakwah, dalam pendidikan bernuansa surau ;  

1. IMAN, 2. ILMU, 3. Kerukunan, Ukhuwah dan Interaksi,  4. Akhlaq, Moralitas sebagai Kekuatan Ruhiyah, 5. Badunsanak, sikap Gotong royong (Ta’awun), 6. Menjaga Lingkungan sebagai Social Capital, menerapkan Eko Teknologi.

Kegiatan Pendidikan Anak Usia DINI (PAUD), mesti dijadikan upaya pembinaan karakter anak, dengan berbasis nilai-nilai agama, yang akan menjadi pagar adat dan syarak, dalam menghadapi krisis identitas, sebagai  akibat dari perubahan dalam nilai – nilai adat.

mengajak, mendidik,  dan mengamalkan Islam

Peran Guru atau Murabbi dalam mendidik anak sejak usia dini adalah ibarat Suluah Bendang di  tengah umat, yang dilaksanakan dengan keikhlasan sebagai satu pengabdian mulia dan tugas berat.

Keikhlasan membentuk umat jadi pintar, beriman, berakhlaq, berilmu, beramal baik, membina diri, kemashlahatan umat, dan keluarga, menjadi panutan dan ikutan, ibadahnya teratur, shaleh peribadi dan sosial, beraqidah tauhid yang shahih dan istiqamah.

Pendidikan anak sejak usia dini ini, tidak terlepas dari upaya menyiapkan satu generasi yang beradab, berakhlaq, berakidah dan berprestasi, melalui ;

Ø Membudayakan Wahyu Al Quran dalam memakaikan adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah, melalui pendidikan dan pelatihan-pelatihan,

Ø Implementasinya, dalam perilaku anak berakidah, dan berakhlaq, dalam kerangka lebih luas, menghidupkan dakwah membangun negeri.

Perintah untuk melaksanakan tugas-tugas da’wah itu, secara kontinyu atau terus menerus, dan sambung bersambung.

 

Pelaksana Dakwah adalah setiap Muslim

Setiap mukmin adalah umat da’wah pelanjut Risalah Rasulullah yakni Risalah Islam. Umat dan para murabbi (pendidik) mesti berupaya sekuat tenaga untuk meneladani pribadi Muhammad SAW, dalam membentuk effectif leader dengan mengamalkan inti dan isi Agama Islam, yakni akhlaq Islami, Aqidah tauhid yang shahih, kesalehan, dan keyakinan kepada hari akhirat, ”Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab, 33 : 21).

Islam Mendidikkan Kepribadian

Uswah atau contoh tauladan terpuji, melukiskan kesan positif dalam mayarakat. Alat canggih teknologi modern tidak dapat mengambilalih peran orang tua dalam uswah. Faktor manusia tetap diperlukan dalam proses pematangan sikap pribadi seseorang anak, sejak usia dini, dengan menanamkan laku perangai (syahsiah), yang mencerminkan  watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seorang[3]

Sahsiyah Murabbi membawa Keberhasilan Pendidikan ISLAM

Tidak diragukan lagi bahwa guru — murabbi, muallim, – yang punya kepribadian baik serta uswah hidup yang terpuji akan mampu melukiskan kesan positif dalam diri anak didik mereka.

Alat teknologi modern walau bagaimanapun canggihnya tidak akan dapat mengambil alih peranan guru. Faktor manusia tetap diperlukan dalam proses pembentukan dan pematangan sikap pribadi para anak didik dan menanamkan laku perangai — syahsiah — murid. Tegasnya sahsiah mencerminkan  watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seseorang [4]

Ciri Utama atau Syahsiah (شخصية) itu bermakna pribadi atau personality, yang  menggambarkan sifat individu yang merangkum padanya gaya hidup, kepercayaan, harapan, nilai, motif, pemikiran, perasaan,  budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak seseorang.[5]

Banyak kajian telah dibuat tentang sifat-sifat yang perlu ada pada seorang guru (murabbi, mu’allim) yang baik dan akan menghasilkan kesan mendalam pada proses pengajaran yang mereka sampaikan.[6] Karena itu, sifat dan ciri guru muslim hendaklah merangkum :

    A.  Sifat Ruhaniah dan Akidah

1.      Keimanan yang kental kepada Allah yang Maha Sempurna

2.      Keyakinan mendalam terhadap hari akhirat, hari berbangkit dan hari pembalasan

3.      Kepercayaan kepada seluruh para Rasul di iringi dengan sifat dan asas keimanan (arkan al iman) yang lain.

    B.   Sifat-Sifat Akhlak

1.      Benar dan jujur

2.      Menepati janji dan Amanah

3.      Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan

4.      Merendah diri – tawadhu’ —

5.      Sabar, tabah dan cekatan

6.      Lapang dada – hilm –, Pemaaf dan toleransi

7.      Menyayangi murid, mengutamakan kepentingan orang banyak dengan  sikap pemurah, zuhud dan berani bertindak.

    C.  Sifat Mental, Kejiwaan dan Jasmani

1. Sikap Mental

·         Cerdas (Kepintaran teori, amali dan sosial), menguasai mata anak didikan  takhassus

·         Luas pengetahuan umum dan  ilmiah yang sehat

·         Mengenal ciri, watak, kecenderungan dan keperluan murid, fasih, bijak dan cakap di dalam penyampaian

2. Sifat Kejiwaan

·         Tenang dengan emosi mantap terkendali, optimistik dalam hidup, penuh harap kepada Allah dan tenang jiwa bila mengingatiNya.

·         Percaya diri dan mempunyai kemauan yang kuat, lemah lembut dan baik dalam pergaulan

·         Berfikiran luas dan mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat

3.  Sifat Fisik

·         Sehat tubuh dan badan dari penyakit menular

·         Berperawakan menarik, bersih, rapi (kemas) dan menyejukkan.

 

Berapa penilitian di beberapa negara maju terdapat daftar sikap yang diinginkan ada pada para murabbi (guru)  :

·         Berkelakuan baik (penyayang dan penyabar), mampu menguraikan anak didikan dengan jelas, berdisiplin, amanah dan menunaikan janji,

·         Mempunyai sahsiah yang dihormati, berkemauan yang kuat, berbakat kepimpinan yang tinggi, berpengetahuan umum yang luas, bersikap menarik dan bersuara yang merangkul dan mendidik,

·         Pandai memberi nasihat, simpati terhadap kelemahan murid, pandai memilih kata-kata, tanggap dengan suasana murid di rumah, dan mengujudkan sikap kerjasama, serta  bersemangat riadah dan kedisiplinan

Guru muslim (murabbi) yang mempunyai sahsiah yang baik ialah guru yang mengamalkan etika keguruan Islam yang standard dan mempunyai personaliti yang baik.

Etika Guru Muslim

Etika pendidik Islam yang profesial, memiliki beberapa tanggung jawab yang dapat diawali oleh kemauan dari dalam diri guru dan kemudian dapat ditukuk tambah oleh khalayak pendidik dan dihayati sebagai suatu etika profesi keguruan, antara lain ;   

1. Tanggungjawab Terhadap Allah

Etika guru muslim terhadap Allah ialah :

1.      Senantiasa memantapkan keyakinan kepada Allah dengan ibadah.

2.      Bersifat istiqamah, dengan semangat berbakti dan beramal soleh.

3.      Wajib menghayati rasa khusyuk, takut dan harap kepada Allah, dan selalu bersyukur kepada Allah di samping selalu berdoa kepadaNya dengan membaca ayat-ayat Allah dan merendahkan diri kehadratNya.

 2. Tanggungjawab Terhadap Diri

1.      Guru muslim hendaklah memastikan keselamatan diri sendiri, mencakup aspek fisik, emosional, mental maupun moral, bersih diri, pakaian, dan tempat tinggal.

2.      Memahami kekuatan dan kelemahan diri untuk boleh dimanfaatkan serta ditingkatkan dari segenap aspek dan dapat berkhidmat sebanyak mungkin kepada Allah, masyarakat dan negara.

3.      Melibatkan diri dengan program dan agenda yang dapat meningkatkan kualiti profesi seorang guru.

3. Tanggungjawab Terhadap Ilmu

1.      Memastikan penguasaan ilmu takhassus secara mantap dan mendalam, bercita dan berbuat — iltizam — dengan amanah ilmiah.

2.      Sunguh-sungguh mengamalkan ilmu yang dimiliki dan mengembangkan untuk dianak didiki, dan selalu mengikuti perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan terbaru dalam rangkaian pembelajaran ilmu berkaitan.

3.      Sepanjang masa menelusuri sudut atau dimensi spirituality Islam dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan.

4. Tanggungjawab terhadap Profesi

1.      Seorang guru tidaklah boleh bertingkah laku yang mencemarkan sifat profesinya yang berakibat kurangnya kepercayaan orang ramai terhadap profesi perguruan.

2.      Guru bertugas sebagai pengganti ibu bapa dalam usaha membentuk tingkah laku anak didiknya ke arah sikap perangai yang diterima oleh masyarakat, dan menumpukan perhatian terhadap keperluan setiap anak didiknya.

3.      Dia haruslah mendidik dan mengambil tindakan secara adil terhadap semua anak didik, tanpa membedakan tempat asal keluarga, intelek, akademik dan status-status lain.

5. Tanggungjawab Terhadap anak didik

1.      Guru muslim hendaklah lebih mengutamakan kebajikan dan keselamatan anak didiknya.

2.      Bersikap adil terhadap, tanpa membedakan faktor-faktor jasmani, mental, emosi, politik, ekonomi, sosial, keturunan dan agama anak didiknya.

3.      Menampilkan suatu cara pakaian, pertuturan dan tingkah laku yang dapat memberikan contoh yang baik kepada anak didiknya.

6. Tangungjawab Terhadap Rekan Sejawat

1.      Guru muslim senantiasa berusaha dengan sepenuhnya menunaikan tanggungjawab dengan rajin dan bersungguh-sungguh dan mengekalkan kemajuan ikhtisas dan sosial.

2.      Senantiasa bersedia membantu rekan sejawat terutamanya mereka yang baru dalam profesi perguruan.

3.      Mawas diri dan tidak mencemarkan nama baik profesi pendidik.

7. Tanggungjawab terhadap masyarakat dan Negara

1.      Mengelakkan diri daripada meyebarkan sesuatu ajaran yang dapat  merusak kepentingan anak didik, masyarakat atau negara, ataupun yang dapat  bertentangan dengan aturan bernegara.

2.      Memupuk dalam diri setiap anak didik sikap dan nilai yang dapat  membantu dan membimbing mereka untuk menjadi warga negara yang taat setia, bertanggungjawab dan berguna, menghormati orang-orang yang lebih tua dan menghormati adanya perbedaan kebudayaan, keturunan dan agama.

3.      Menghormati masyarakat tempat mereka berkhidmat dan memenuhi segala tanggungjawab sebagai seorang warganegara dan senantiasa sanggup mengambil bahagian dalam sebarang kegiatan masyarakat. Berpegang kepada tingkah laku yang sopan yang diterima oleh masyarakat dan menjalani kehidupan harian dengan baik.

8. Tanggungjawab Terhadap Ibu Bapa dan rumah tangga

1.      Menghormati tanggungjawab utama ibu bapa terhadap anak-anak mereka.

2.      Berusaha mewujudkan hubungan mesra dan kerjasama yang erat di antara institusi pendidikan dengan rumahtangga.

3.      Menganggap semua maklumat yang diberikan oleh ibu bapa mengenai keadaan rumahtangga atau anak mereka sebagai sulit dan tidak akan membocorkannya kepada sesiapa kecuali kepada mereka yang berhak mengetahuinya.

Keberhasilan Pendidikan Islam

Meskipun ciri dan sahsiah guru yang baik telah dicapai namun itu tidak pula bermakna pengajaran mereka dengan sendirinya berkesan.

Pengajaran yang disampaikan oleh guru akan berkesan atau tidak, amat bergantung kepada beberapa faktor yang berkaitan degan proses belajar dan mengajar yang menjadi hubungan erat antara guru dan anak didiknya.

Tantangan yang dihadapi oleh para guru dalam mengajar murid-murid  zaman ini bukanlah suatu yang mudah. Guru berhadapan dengan kenakalan remaja yang semakin serius. Ibu bapa harus ikut serta dalam memudahkan kerja guru-guru di sekolah.

Masyarakat juga wajib memainkan peranan sebagai pendukung keberhasilan guru dalam pembelajaran terhadap murid-murid mereka. Tanpa kerjasama semua pihak proses pendidikan tidak akan berjaya menghasilkan generasi  yang baik.

            Membentuk Generasi Masa Depan

Perkembangan kedepan banyak ditentukan oleh peranan generasi penerus dengan ruang interaksi yang jelas. Pendidik harus menjadi agen sosialisasi yang menggerakkan kehidupan masa depan lebih baik. Kita memerlukan generasi yang handal, dengan beberapa sikap;

a.      individu yang berakhlak, berpegang pada nilai-nilai mulia iman dan taqwa, daya kreatif dan inno­vatif, dipadukan dengan kerja sama berdisiplin, kritis dan dinamis, memiliki vitalitas tinggi, tidak mudah terbawa arus, sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan.

b.      memahami nilai‑nilai budaya luhur, punya jati diri yang jelas, generasi  yang menjaga destiny, motivasi yang bergantung kepada Allah, yang patuh dan taat beragama akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan,

c.        memahami dan mengamalkan nilai‑nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, mempunyai motivasi dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik‑material, tanpa harus mengorbankan nilai‑nilai kemanusiaan.

Kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) dengan basis iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat. Hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional.

Pendidikan anak usia dini, akan berperan membentuk mental umat – dengan FAST -, satu ranah ruhani yang memiliki kekuatan ;

q  Fathanah (Ilmiah),

q  Amanah (jujur),

q  Amaliyah (transparan),

q  Shiddiq (lurus),

q  Shaleh (Yakin terhadap akhirat),

q  Setia (ukhuwah mendalam),

q  Tabligh (Dialogis),

q  Tauhid (Percaya kepada Allah),

q  Taat (Disiplin),

Generasi baru harus mampu mencipta, menjadi syarat utama keunggulan. Keutuhan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada.

Generasi muda harus dibina menjadi umat dakwah, dengan memiliki budaya yang kuat berintikan nilai-nilai dinamik yang relevan dengan realiti kemajuan di era globalisasi, yakni nilai-nilai agama Islam.

Generasi masa depan (era globalisasi) mesti Memiliki ; budaya luhur (tamaddun), berpaksikan tauhidik, kreatif dan dinamik, memiliki utilitarian ilmu berasaskan epistemologi Islam yang jelas, tasawwur (world view) yang integratik dan umatik sifatnya (bermanfaat untuk semua, terbuka dan transparan).

Pendidikan dikembangkan sejak usia dini si anak, dengan menekankan pada pendidikan akhlak, budi pekerti, dengan tujuan yang jelas ;

ü  Menghambat gerakan-gerakan yang  merusak Islam.

ü  Menimbulkan keinsafan tentang perlunya adil sesuai syara’ Islam.

ü  Melahirkan masyarakat penyayang yang tidak aniaya satu sama lain.

ü Menanamkan tata kehidupan saling kasih mengasihi dan beradab sopan. Akhlak karimah  adalah tujuan sesungguhnya dari proses pendidikan, dan menjadi wadah dalam menerima ilmu lainnya, dan membimbing umat kearah amal karya, kreasi, inovasi, motivasi yang shaleh (baik).

Akhlak, adalah jiwa pendidikan, Inti ajaran  Agama, dan  buah keimanan.

Bahasa Dakwah adalah Bahasa Kehidupan

Mendidik tidak dapat dipisah dari satu gerakan dakwah. Menggalang saling pengertian, koordinasi sesamanya mempertajam faktor-faktor pendukungnya, membuka pintu dialog persaudaraan (hiwar akhawi), untuk membentuk efektif leader, mencontoh peribadi Rasulullah SAW, menjadi satu kunci keberhasilan da’wah Risalah.

Aktualisasi dari nilai-nilai Al-Qur’an itu, hanya bisa diwujudkan dengan gerakan amal nyata yang berkesinambungan (kontinyu), dalam seluruh aktivitas kehidupan manusia, melalui kemampuan bergaul, mencintai, berkhidmat, menarik, mengajak (da’wah) , merapatkan potensi barisan (shaff), mengerjakan amal-amal Islami secara bersama-sama (jamaah).

Setiap Muslim harus melakukan perbaikan (ishlah) kualitas diri sendiri, sebagaimana arahan Rasulullah “Mulailah dari diri kamu kemudian lanjutkan kepada keluargamu dan kepada lingkunganmu” (Al Hadist), dan perbaikan kualitas lingkungan, keluarga, hubungan sosial masyarakat, sosial ekonomi, kebudayaan dan pembinaan alam lingkungan yang berkesinambungan.

Pendidikan usia dini ini tidak akan berhenti dan akan berkembang terus sesuai dengan variasi zaman yang senantiasa berubah, dengan tujuan utama membentuk generasi pintar, berilmu, dan berbudaya dengan akhlaq karimah.

Pengembangan pendidikan berkualitas (quality oriented), akan mendorong lahirnya umat yang mempunyai ilmu yang komprehensif, yakni pengetahuan agama plus keterampilan, dengan aqidah tauhid yang istiqamah.

Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan sumber-sumber belajar di dalam masyarakat menjadi bagian integral dari masyarakat Muslim secara keseluruhan.

Dengan pengembangan dakwah ini, maka surau dan masjid, dapat menjadi core, atau inti, mata dan pusat dari learning society, masyarakat belajar. Sasarannya, agar lahir umat dakwah yang terdidik, berkualitas, capable, fungsional, integrated di tengah masyarakatnya.

Setiap Muslim harus ‘arif, dalam menangkap setiap pergeser­an yang terjadi karena perubahan zaman ini, juga menjanjikan peluang‑peluang yang ada, sehingga memiliki visi jauh ke depan dalam percaturan hidup dunia (Q.S. 28: 77).

Kekuatan Tauhid

Paradigma tauhid, laa ilaaha illa Allah, mencetak manusia menjadi ‘abid (yang mengabdi kepada Allah) dalam arti luas mampu melaksanakan ajaran syar’iy mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasul Allah, menjadi manusia mandiri (self help), sesuai eksistensi manusia itu di jadikan.[7] Manusia pengabdi (‘abid) adalah manusia yang tumbuh dengan aqidah Islamiyah yang kokoh.

Aqidah Islamiah adalah sendi fundamental dinul Islam, Aqidah adalah langkah awal untuk menjadi muslim. Aqidah adalah keyakinan bulat, tanpa ragu dan bimbang,  Aqidah membentuk watak manusia Patuh dan taat,  sebagai bukti penyerahan total kepada Allah.

       Aqidah menuntun hati manusia kepada pembenaran  kekuasaan tunggal Allah secara absolut. Aqidah ini membimbing hati manusia merasakan nikmat rasa aman dan tentram dalam mencapai Nafsul Mutmainnah dengan segala sifat-sifat utama.[8]

Manusia berjiwa bersih (muthmainnah) selalu memenuhi janjinya terhadap Allah, dan melaksanakan semua perintah Allah secara konsekwen.[9]

Konsistensi, atau ke-istiqamah-an membentuk manusia patuh dan taat dalam mengamalkan syari’at Islam secara tidak terputus ibarat akar dengan pohonnya.[10]  Maka hakikinya tanpa aqidah tidak ada artinya seorang muslim. Aqidah Islamiyah ialah Iman kepada Allah dengan mengakui eksistensiNya (wujudNya).

Ibadah bermakna secara konsisten penuh keikhlasan melaksanakan perintah-perintah Allah tanpa reserve. Konsistensi aqidah tauhid bersedia meninggalkan apa saja bentuk larangan dari Allah, dengan sikap ketaatan dan disiplin diri, karena mencari redha Allah.

Sikap tawakkal adalah konsekwensi dari ikhtiar dan usaha sesuai keyakinan tauhid.

Tawakkal dan ikhtiar usaha selalu jalan seiring.

Keduanya berjalin berkulindan merupakan mekanisme terpadu dalam kerangka kekuasaan Allah Yang Maha Agung.

Keyakinan tauhid mengajarkan kesadaran mendalam bahwa Allah selalu ada di samping manusia.

Keyakinan tauhid mampu menepis rasa takut dan menghapus gentar dalam menghadapi resiko hidup. Hilangnya aqidah tauhid melahirkan fatalistis atau bersikap apatis dan pesimis.

Keyakinan tauhid, adalah kekuatan besar dari energi ruhaniah yang mendorong manusia untuk hidup inovatif.

Membangun SDM menjadi SDU

Kita berkewajiban membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi Sumber Daya Umat (SDU) yang berciri kebersamaan dengan nilai berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas. 

Beberapa model perlu dikembangkan di kalangan para pendidik, seperti ; pemurnian wawasan fikir, kekuatan zikir, penajaman visi, perubahan melalui ishlah atau perbaikan, mengembangkan keteladanan uswah hasanah, sabar, benar, memupuk rasa kasih sayang, dan pendalaman spiritual religi.

Menguatkan solidaritas beralaspijak kepada iman dan adat istiadat luhur, “nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”. Intensif menjauhi kehidupan materialistis, “dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.

Khatimah

1.      Menetapkan langkah kedepan ;

a.           pembinaan human capital dengan keluasan ruang gerak mendapatkan pendidikan,

b.           pembinaan generasi yang memiliki jati diri, padu dan lasak, integreted inovatif.

c.            mengasaskan agama dan akhlak sebagai dasar pendidikan pada anak sejak usia dini.

d.           mencetak anak-anak muslim berilmu yang benar, beriman taqwa.

e.           membina wawasan yang menyatu dengan akidah, budaya bangsa, dan bahasa.

f.             mewujudkan masyarakat yang berasas keadilan sosial yang jelas.

2.      Mengokohkan pegangan umat dengan keyakinan dasar Islam sebagai suatu cara hidup yang komprehensif.

3.      Menyebarkan budaya wahyu di atas kemampuan  akal.

4.       Meyakini Peran krusial Ajaran Islam, bahwa kemenangan hanya disisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS.8, Al-Anfal : 9-10).

5.      Generasi penerus harus taat hukum, dapat dilakukan dengan cara ;

a.      memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga,

b.      memperkokoh peran orang tua, ibu bapak ,

c.       pemeranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif,

d.      memperkaya warisan budaya, setia, cinta dan rasa tanggung jawab patah tumbuh hilang berganti

e.      menanamkan aqidah shahih (tauhid), dan istiqamah pada agama yang dianut,

f.        menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur.

g.      menanamkan kesadaran, tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah

h.      penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam

i.        melazimkan musyawarah dengan disiplin, sebagai nilai puncak budaya Islam  yang benar.

Budaya adalah wahana kebangkitan bangsa. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya. Sesuatu akan selalu indah selama benar. Demikianlah semoga Allah senantiasa Meridhai.

 Padang, 12 Januari 2008.


[1]   Disampaikan dalam Pelatihan Pendidikan PAUD se Sumatera Barat, pada tanggal 9 s/d. 13 Januari 2008, di Gedung Pusdiklat Bhakti Bunda Sumatera Barat, di Jl. Asahan No.2, Komplek GOR H. Agus Salim, Padang., Sumatera Barat.

[2]   Ketua Umum BAZ Sumbar, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumbar, Wakil Ketua Dewan Penasehat MUI Sumbar, dalam Pelatihan Pendidikan PAUD di Sumatera Barat, pada tanggal 1 s/d. 4 September 2007, di Kompleks Sekolah ITI/INS Kayu Tanam 1926, di Jl. Raya Padang Bukit Tinggi, Km.53, Kayutanam – 25585, Sumatera Barat.

[3]   Sahsiah mempunyai tiga ciri utama. Pertama ialah keunikan dengan maksud tersendiri. Kedua  kebolehan  atau kemampuannya untuk berubah dan diubah; sebagai hasil pembelajaran atau pengalaman. Ketiga ialah organisasi. Dengan perkataan  lain  ia bukan  sekadar himpunan tingkahlaku  sebaliknya ia melibatkan corak tindakan dan operasi yang bersifat konsisten.

[4]   Sahsiah mempunyai tiga ciri utama. Pertama ialah keunikan dengan maksud tersendiri. Kedua  kebolehan  atau kemampuannya untuk berubah dan diubah; sebagai hasil pembelajaran atau pengalaman. Ketiga ialah organisasi. Dengan perkataan  lain  ia bukan  sekadar himpunan tingkahlaku  sebaliknya ia melibatkan corak tindakan dan operasi yang bersifat konsisten.

[5]  G.W Allport dalam bukunya ”Pattern and Growth in Personality”, mendifinisikan sahsiah sebagai organisasi dinamik sesuatu sistem psikofisikal di dalam diri seorang individu yang menentukan tingkah laku dan fikirannya yang khusus.  Sistem psikofisikal merangkumi segala-gala unsur-unsur psikologi seperti tabiat, sikap, nilai, kepercayaan dan emosi, bersama dengan unsur-unsur fisikal seperti bentuk tubuh badan, urat saraf, kelenjar, wajah dan gerak gerik seseorang ( Mok Soon Sang, 1994:1).

[6]  Menurut Prof Omar al-Toumi al-Syibani

[7]  Lihat QS.adz-Dzariat, : 57.

[8]  Lihat QS.89:27, dan  QS.13:20-24

[9]  Sesuai bimbingan dalam  QS.6:82.

[10]  Lihat QS.14:24-25.

Categories: Buya Masoed Abidin, Education, Komentar, Masyarakat Adat, PAUD, Pendidikan, Strategi Pendidikan Madani, Surau | Leave a comment

Blog at WordPress.com.