Hijrah

Napak Tilas Peristiwa Hijrah dari Makkah ke Madihah

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ(41)الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ(42)

“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pusti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adulah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakal.” (Q.S. An Nahl: 41-42)

Pada hari Kamis tanggal 26 Safar tahun 14 dari nubuwah, bertepatan dengan tanggal 12 September 622 M atau kira-kira selang dua bulan setengah setelah Baiat Aqabah Kubra di Darun Dakwah diadakan pertemuan tertutup yang dihadiri para wakil dan setiap kabilah Quraisy. (Mengenai hari, tanggal dan tahun banyak pendapat dan termasuk pula pendapat tentang kapan dilaksanakannya hijrah dan tibanya Rasulullah SAW di Quba dan memasuki Madinah, pen). Tampak hadir saat itu para orang-orang penting dan seluruh kabilah Quraisy, diantaranya: Abu Jalil bin Hisyam, dari kabilah Bani Makhzum,       Jubair bin Muth’im dan Thu’aimah bin Ady’ serta al Harits bin Amir dari Bani Naufal bin Abdi Manaf,    Syaibah dan Utbah, anak Rabi’ah serta Abu Sufyan bin Harb dari Bani Syams bin Abdi Manaf,          An Nadhr bin Al Harits dari Bani Abdid Dar (pernah melempar Rasulullah dengan isi perut binatang), Abul Bakhtary bin Hisyam, Zam’ah bin Al Aswad dan Hakim bin Hizam dari Bani Asad bin Abdul Uzza,      Nubih dan Munabbih, anak Al Hajjaj dari Bani Sahm,           Umayyah bin Khalaf dari Bani Jumah dan Undangan perorangan, Abu Lahab serta seorang tamu tak diundang yang mengaku berasal dan Najd (Diantara ulama tarikh mengatakan bahwa tamu tak diundang itu adalah Iblis yang berbentuk manusia dan ada juga yang tidak menyebutkan kehadiran Abu Lahab dalam pertemuan ini).

Inti permasalahan yang mereka bicarakan adalah bahwa mereka ingin menyingkirkan bahaya yang mengancam eksistensi mereka. Dan ancaman itu bersumber dan pembawa panji dakwah Islam, tak lain adalah Muhammad SAW.

Banyak pendapat dan usulan yang diajukan peserta rapat dalam mencari cara  efektif dan jalan keluar untuk “menghabisi” orang yang dianggap paling berbahaya ini. Setelah berpikir keras dan di saat berbagai usulan dan cara pemecahan mulai disampaikan. tenjadi perdebatan yang cukup alot. Rapat dibuka o]eh Abu Jahal. Sebagai kata pengatar dan pembuka rapat ia berkata: “Hari ini, para pemuka dan ketua dan kabilah-kabilah Arab dan para pemimpin Quraisy serta para pembesar dan tiap-tiap suku bangsa Quraisy harus mengambil keputusan yang sesung-guhnya, cara apa yang hendak kita jalankan untuk memus-nahkan pergerakan Muhammad yang sedang menyala-nyala di segenap penjuru daerah Hijaz ini?  Rapat hari ini adalah rapat kita yang terkhir untuk memecahkan soal ini. Marilah soal ini kita penbincangkan bersama-­sama sebelum kita mengambil suatu keputusan yang pasti!“

Abul Aswad berkata, “Kita usir dan enyahkan dia dari tengah kita. Setelah itu kita tidak ambil pusing ke mana ia akan pergi dan bagaimana nasibnya. Kita tangani urusan kita sendiri dan kita galang persatuan seperti dulu lagi. Usulan ini disambung dengan usulan Abu Bakhtary “Masukkan dia ke dalam kerangkeng besi, tutup pintunya rapat-rapat, kemudian biarkan dia seperti nasib yang dialami para penyair sebelumnya (Zuhair dan An Nabighah) hingga meninggal dunia.”

Setelah dua usulan ini dan usulan dan peserta rapat lainnya ditolak, maka ada satu usulan lagi yang akhirnya diterima oleh peserta rapat. Usulan itu disampaikan oleh Abu Jahal la‘natullah alaih -versi lain mengatakan usulan ini disampaikan oleh Abu Lahab. Dia berkata, “Menurutku, kita tunjuk seorang yang gagah perkasa, berdarah bangsawan dan biasa menjadi penengah dari setiap kabilah. Masing-masing pemuda kita beri pedang yang tajam, lalu mereka harus mengepungnya, kemudian menebas Muhammad dengan sekali. tebasan, layaknya tebasan satu orang hingga ia meninggal. Dengan begitu kita bisa merasa tenang dari gangguannya. Jika mereka berbuat seperti itu, maka darahnya bercecer dari semua kabilah, sehingga Bani Abdi Manaf tidak akan sanggup memerangi semua kaumnya, dan dengan lapang dada mereka akan menerima keadaan ini dan kita pun menerimanya.”

Sebagaimana yang telah dirancang, rencana jahat itu akan dilaksanakan pada tengah malam. Tetapi Allah Al Hafidz, Yang Maha Memelihara, Menjaga dan Melindungi Nabi dan Rasulnya, Muhammad SAW. Firman Allah SWT surat Al Anfal :30

Malaikat Jibril menyampaikan perintah Allah bahwa Allah memerintahkan beliau berangkat hijrah ke Madinah. Jibril berkata: “Wahai Rasulullah! Jangunlah engkau tidur malam ini di atas tempat tidur engkau yang engkau telah biasa tidur diatasnya. Sesungguhnya Allah memerintahkan agar engkau segera berhijrah ke Madinah.”

Pada saat-saat yang kritis itu Rasulullah SAW bersabda ke pada Ali bin Abi Thalib ra, “Tidurlah di atas tempat tidurku, benselimutlah dengan mantelku. Sesung-guhnya engkau tetap akan aman dari gangguan mereka yang engkau khawatirkan.”

Kemudian keluarlah beliau dan rumahnya menuju rumah Abu Bakar ra. Setelah beliau masuk ke rumah Abu Bakar, beliau bersabda ke pada Abu Bakar ra:“Sesungguhnya Allah Ta‘ala telah mengizinkan aku keluar dan hijrah (dari Makkah ke Madinah)” Abu Bakar bertanya: “Bertemankan saya wahai Rasulullah?“ Beliau menjawab:  “Ya, Dengan izin Allah”

Malam hari sebelum fajar menyingsing, tanggal 27 Shafar tahun 14 dari nubuwah, Rasulullah bersama sahabat beliau Abu Bakar pergi meninggalkan rumah ke kuar dari Makkah menuju ke sebuah gunung yang bemama Tsaur dengan jarak tempuh kurang lebih lima mil.

Jalan menuju gua di gunung Tsaur ini cukup terjal, menanjak sulit dan berat. Beliau berjalan tanpa mengenakan alas kaki. bahkan ada yang menyebutkan bahwa beliau berjalan dengan cara berjinjit, agar tidak meninggalkan jejak dan bekas telapak di atas tanah.

Setelah tiga malam berada di gua, maka pada malan senin tanggal 1 Rabi’ul Awwal tahun pertama H. Atau pada tanggal 16 September 622 M., Rasulullah SAW, Abu Bakar ra., Amir bin Fuhairah beserta seorang penunjuk jalan yang bernama Abdullah bin Uraiqith keluar dar gua berangkat menuju Madinah. Rasulullah SAW duduk di atas unta yang dalam kitab tarikh disebutkan dengan nama “al Qushwa”.

Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfury dalam buku Sirahnya Ar Rahiq al Makhtum menukil dan Ibnu Ishaq mengenai daerah dan tempat yang dilalui oleh Rasulullah SAW, yaitu Usfan. dataran rendah amaj melewati Qudaid, Al Harrar, Tsaniyatul Marrah, Liqfa. Madlajah Liqf. Madlajah Majah, Marjih Mahaj, Marjih Dzil Ghadhawain, Dzi Kasyr, Al Jadajid. Al Ajrad, Dzu Salam, Madlajah Ti’hin, Al Ababid, Al Fajjah, Al Arj, Tsaniyatul A’ir dar arab kanan Rakubah, Ri’m. lalu tiba di Quba.”

Pada hari Senin tanggal 8 Rabi’ul Awwal tahun ke 14 dari nubuwwah atau tahun pertama dar hijrah. bertepatan dengan tanggal 23 september 622 M., Rasulullah dan rombongan tiba di Quba dengan sambutan yang luar biasa oleh kaum musliinin yang ada di sana. Kemudian berjalan hingga berhenti di Bani Amr bin Auf. Abu Bakar berdiri, sementara Rasulullah duduk sambil diam. Orang-orang Anshar yang belum pernah melihat dan bertemu Rasulullah. mengira bahwa yang berdiri itulah Rasulullah (padahal Abu Bakar). Tatkala panas matahari mengenai Rasulullah, maka Abu Bakar segera memayungi beliau dengan mantelnya Saat itulah mereka baru tahu bahwa yang duduk dan diam itulah Rasulullah SAW.

Rasulullah di Quba berada di rumah Kultsum bin Al Hidm. Beliau berada di Quba selama empat hari, yaitu hari Senin. Selasa. Rabu dan Kamis. Di sana beliau dan para sahabat juga kaum muslimin lainnya membangun masjid Quba dan shalat di dalamnya. Pada hari Jum’at beliau melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Shalat Jum’at dilaksanakan di Bani Salim bin Auf. Seusai shalat Jum’at. Rasulullah beserta rombongan memasuki Madinah. Sejak hari itu lah Yatsrib dinamakan Madinatur Rasul yang kemudian disingkat dengan nama Madinah (Madinah al Munawwarah).

Wassalamu’alaikum

Buya H.Mas’oed Abidin

Advertisements
Categories: Amar Makruf Nahi Munkar, Buya Masoed Abidin, dakwah ilaa Allah, Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia, Globalisasi, HAM, Hijrah, Komentar, Komentar Buya, Pendidikan, Surau, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

Hijrah Meninggalkan Jahiliyyah


وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan orang-orang yang berhaijrah karena Allah setelah mereka dianiaya. Pasti kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar kalau mereka mengetahui”

(Q.S. An Nahl: 41)

Peringatan Tahun Baru Hijriyyah selalu menyegarkan ingatan kita akan peristiwa Hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW beserta para sahabat beliau dari kota Makkah menuju Madinah. Sedemikian besar nilai yang terkandung di dalam peristiwa tersebut, sehingga Khalifah Umar bin Klathtbab r.a menjadikannya sebagai awal perhitungan tahun Islam. Menurut Prof. Dr. Nourouzaman Shiddiqi, MA dalam bukunya” Jeram-jeram Peradaban Muslim”, Tahun Hijriyyah ditetapkan oleh Umar bin Khaththab pada tahun ketujuh belas dihitung dari tahun terjadinya peristiwa Hijrah atau tahun kelima dari masa pemerintahannya (halaman 81).

Menurut Ibnu Qayyim al Jauziyyah, hijrah terdiri dan dua jenis besar.

Pertama, hijrah fisik, berupa perpindahan fisik baik personal maupun massal dari satu daerah ke daerah lain.

Kedua, hijrah hati nurani. Hijrah ini tidak sekedar memerlukan perpindahan fisik, melainkan lebih pada orientasi niat dan aktifitas hati. Berhijrah dalam bentuk kedua ini adalah berangkat dari sesuatu yang haram menuju yang halal. Meninggalkan sesuatu yang syubhat menuju yang haq. Mencampakkan sesuatu yang bersifat kemaksiatan dan kekufuran menuju rahmat dan ridha llahi. Menjauhi segala bentuk kedzoliman menuju kemaslahatan dan keadilan. Mencegah yang munkar, menganjurkan yang ma’ruf.

Meninggalkan yang dilarang oleh Allah dan mengerjakan yang diperintahkan-Nya. Memusnahkan tradisi dan budaya Jahiliyyah menuju tradisi dan budaya Islamy. Sebagaimana keterangan sebuah Riwayat yang bersumber dan Sayyidah ‘Aisyah r.a yang menerangkan sebuah hadits Rasulullah SAW “bahwa sesudah penaklukkan Makkah tidak ada lagi hijrah, melainkan yang ada adalah Jihad dan niat” (H.R. Ahmad).

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan, bahwa yang kita perlukan dan harus kita lakukan adalah hijrah rohani dengan cara mengamalkan seluruh ajaran Islam yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW dengan benar dan utuh serta menyeluruh, tidak setengah hari. Berjuang fi Sabilillah dengan harta dan pikiran, berbuat ihsan (kebajikan), melaksanakan semua perintah Allah dalam bentuk ibadah dan amal sholeh serta menjauhi semua yang dilarang oleh Allah SWT. Terakhir adalah menyegerakan tobat dan ingat mati. Dan yang tak kalah pentingnya dan makna hijrah bagi kita Ummat Islam saat ini adalah bagaimana sikap kita dalam memusnahkan tradisi dan budaya jahiliyyah dan kemudian melestarikan tradisi dan budaya yang Islami yang penuh ridho Allah SWT. Situasi batin yang demikianlah yang dirasakan oleh kaum Muslimin ketika berada dalam naungan Negara Madinah yang sepenuhnya tunduk kepada ketentuan Islam yang rahmatan lil ‘alamin itu.

Ada beberapa karakteristik Jahiliyyah yang perlu kita ketahui. Diantaranya adalah:

Pertama, pengkultusan individu. Allah SWT berfir-man: “Ingatlah hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata) “kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (Q.S. Az-Zumar :3)

Kedua,   bertahan dengan tradisi nenek moyang yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Dalam hal ini Allah SWT memaparkan dalam firman-Nya: “Apabila dikatakan kepada mereka: “ Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul, “Mereka menjawab, “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya“. Dan apakah mereka akan tetap mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula,) mendapat petunjuk?“ (Q.S Al Maa-idah:104)

Ketiga, perjudian dan minuman keras serta tradisi mabuk­-mabukkan. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaithan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat maka berhentilah kamu (dar mengerjakan perbuatan itu).” (Q.S Al Maidah : 90-91)

Keempat, perzinahan yang terlokalisir (Prostitusi) Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu mendekati Zina, Sesungguhnya Zina itu adalah suatu perbuatan keji. Dan suatu jalan yang buruk” (Q.S Al-Isra’: 32)

Kelima, tabarruj (khususnya bagi wanita. Suka ber-solek dan mempertontonkan keelokan tubuh dan kecantikannya kepada khalayak ramai). Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku (tabarruj) seperti orang jahiliyyah yang dahulu.“ (Q.S. Al Ahzab : 33)

Keenam, menganggap riba sama dengan perdagangan yang sah. Allah SWT berfirman: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaithan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demiklan itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesung-guhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dan mengambil nba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni nereka, mreka kekal di dalamnya”. (Q.S Al-Baqarah: 275)

Ketujuh, menganggap hukuman Allah tidak relevan dan menganggap enteng serta mempermainkannya. Allah SWT. Berfirman: “Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik dari pada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Q.S Al-Maidah: 50)

Sebagai penutup dari tulisan ini, marilah kita berdoa kehadirat Allah SWT semoga Allah selalu menjaga dan memelihara serta melindungi kemurnian aqidah yang telah kita miliki serta menyempurnakannya dengan rahmat serta hidayah-Nya yang pasti selalu kita idamkan. Dan hanya ridho-Nya lah yang kita harap.

Allahu A’lam bi as-Shawwab.

Wassalam

Buya H.Mas’oed Abidin

Categories: ABS-SBK, Adat Basandi Syarak, Buya Masoed Abidin, dakwah ilaa Allah, Hijrah, Komentar, Komentar Buya, Surau, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

Hijrah Meninggalkan Jahiliyyah


وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan orang-orang yang berhaijrah karena Allah setelah mereka dianiaya. Pasti kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar kalau mereka mengetahui”

(Q.S. An Nahl: 41)

Peringatan Tahun Baru Hijriyyah selalu menyegarkan ingatan kita akan peristiwa Hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW beserta para sahabat beliau dari kota Makkah menuju Madinah. Sedemikian besar nilai yang terkandung di dalam peristiwa tersebut, sehingga Khalifah Umar bin Klathtbab r.a menjadikannya sebagai awal perhitungan tahun Islam. Menurut Prof. Dr. Nourouzaman Shiddiqi, MA dalam bukunya” Jeram-jeram Peradaban Muslim”, Tahun Hijriyyah ditetapkan oleh Umar bin Khaththab pada tahun ketujuh belas dihitung dari tahun terjadinya peristiwa Hijrah atau tahun kelima dari masa pemerintahannya (halaman 81).

Menurut Ibnu Qayyim al Jauziyyah, hijrah terdiri dan dua jenis besar.

Pertama, hijrah fisik, berupa perpindahan fisik baik personal maupun massal dari satu daerah ke daerah lain.

Kedua, hijrah hati nurani. Hijrah ini tidak sekedar memerlukan perpindahan fisik, melainkan lebih pada orientasi niat dan aktifitas hati. Berhijrah dalam bentuk kedua ini adalah berangkat dari sesuatu yang haram menuju yang halal. Meninggalkan sesuatu yang syubhat menuju yang haq. Mencampakkan sesuatu yang bersifat kemaksiatan dan kekufuran menuju rahmat dan ridha llahi. Menjauhi segala bentuk kedzoliman menuju kemaslahatan dan keadilan. Mencegah yang munkar, menganjurkan yang ma’ruf.

Meninggalkan yang dilarang oleh Allah dan mengerjakan yang diperintahkan-Nya. Memusnahkan tradisi dan budaya Jahiliyyah menuju tradisi dan budaya Islamy. Sebagaimana keterangan sebuah Riwayat yang bersumber dan Sayyidah ‘Aisyah r.a yang menerangkan sebuah hadits Rasulullah SAW “bahwa sesudah penaklukkan Makkah tidak ada lagi hijrah, melainkan yang ada adalah Jihad dan niat” (H.R. Ahmad).

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan, bahwa yang kita perlukan dan harus kita lakukan adalah hijrah rohani dengan cara mengamalkan seluruh ajaran Islam yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW dengan benar dan utuh serta menyeluruh, tidak setengah hari. Berjuang fi Sabilillah dengan harta dan pikiran, berbuat ihsan (kebajikan), melaksanakan semua perintah Allah dalam bentuk ibadah dan amal sholeh serta menjauhi semua yang dilarang oleh Allah SWT. Terakhir adalah menyegerakan tobat dan ingat mati. Dan yang tak kalah pentingnya dan makna hijrah bagi kita Ummat Islam saat ini adalah bagaimana sikap kita dalam memusnahkan tradisi dan budaya jahiliyyah dan kemudian melestarikan tradisi dan budaya yang Islami yang penuh ridho Allah SWT. Situasi batin yang demikianlah yang dirasakan oleh kaum Muslimin ketika berada dalam naungan Negara Madinah yang sepenuhnya tunduk kepada ketentuan Islam yang rahmatan lil ‘alamin itu.

Ada beberapa karakteristik Jahiliyyah yang perlu kita ketahui. Diantaranya adalah:

Pertama, pengkultusan individu. Allah SWT berfir-man: “Ingatlah hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata) “kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (Q.S. Az-Zumar :3)

Kedua,   bertahan dengan tradisi nenek moyang yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Dalam hal ini Allah SWT memaparkan dalam firman-Nya: “Apabila dikatakan kepada mereka: “ Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul, “Mereka menjawab, “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya“. Dan apakah mereka akan tetap mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula,) mendapat petunjuk?“ (Q.S Al Maa-idah:104)

Ketiga, perjudian dan minuman keras serta tradisi mabuk­-mabukkan. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaithan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat maka berhentilah kamu (dar mengerjakan perbuatan itu).” (Q.S Al Maidah : 90-91)

Keempat, perzinahan yang terlokalisir (Prostitusi) Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu mendekati Zina, Sesungguhnya Zina itu adalah suatu perbuatan keji. Dan suatu jalan yang buruk” (Q.S Al-Isra’: 32)

Kelima, tabarruj (khususnya bagi wanita. Suka ber-solek dan mempertontonkan keelokan tubuh dan kecantikannya kepada khalayak ramai). Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku (tabarruj) seperti orang jahiliyyah yang dahulu.“ (Q.S. Al Ahzab : 33)

Keenam, menganggap riba sama dengan perdagangan yang sah. Allah SWT berfirman: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaithan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demiklan itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesung-guhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dan mengambil nba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni nereka, mreka kekal di dalamnya”. (Q.S Al-Baqarah: 275)

Ketujuh, menganggap hukuman Allah tidak relevan dan menganggap enteng serta mempermainkannya. Allah SWT. Berfirman: “Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik dari pada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Q.S Al-Maidah: 50)

Sebagai penutup dari tulisan ini, marilah kita berdoa kehadirat Allah SWT semoga Allah selalu menjaga dan memelihara serta melindungi kemurnian aqidah yang telah kita miliki serta menyempurnakannya dengan rahmat serta hidayah-Nya yang pasti selalu kita idamkan. Dan hanya ridho-Nya lah yang kita harap.

Allahu A’lam bi as-Shawwab.

Wassalam

Buya H.Mas’oed Abidin

Categories: ABS-SBK, Adat Basandi Syarak, Buya Masoed Abidin, dakwah ilaa Allah, Hijrah, Komentar, Komentar Buya, Surau, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

Napak Tilas Peristiwa Hijrah dari Makkah ke Madihah

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ(41)الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ(42)

“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pusti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adulah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakal.” (Q.S. An Nahl: 41-42)

Pada hari Kamis tanggal 26 Safar tahun 14 dari nubuwah, bertepatan dengan tanggal 12 September 622 M atau kira-kira selang dua bulan setengah setelah Baiat Aqabah Kubra di Darun Dakwah diadakan pertemuan tertutup yang dihadiri para wakil dan setiap kabilah Quraisy. (Mengenai hari, tanggal dan tahun banyak pendapat dan termasuk pula pendapat tentang kapan dilaksanakannya hijrah dan tibanya Rasulullah SAW di Quba dan memasuki Madinah, pen). Tampak hadir saat itu para orang-orang penting dan seluruh kabilah Quraisy, diantaranya: Abu Jalil bin Hisyam, dari kabilah Bani Makhzum,       Jubair bin Muth’im dan Thu’aimah bin Ady’ serta al Harits bin Amir dari Bani Naufal bin Abdi Manaf,    Syaibah dan Utbah, anak Rabi’ah serta Abu Sufyan bin Harb dari Bani Syams bin Abdi Manaf,          An Nadhr bin Al Harits dari Bani Abdid Dar (pernah melempar Rasulullah dengan isi perut binatang), Abul Bakhtary bin Hisyam, Zam’ah bin Al Aswad dan Hakim bin Hizam dari Bani Asad bin Abdul Uzza,      Nubih dan Munabbih, anak Al Hajjaj dari Bani Sahm,           Umayyah bin Khalaf dari Bani Jumah dan Undangan perorangan, Abu Lahab serta seorang tamu tak diundang yang mengaku berasal dan Najd (Diantara ulama tarikh mengatakan bahwa tamu tak diundang itu adalah Iblis yang berbentuk manusia dan ada juga yang tidak menyebutkan kehadiran Abu Lahab dalam pertemuan ini).

Inti permasalahan yang mereka bicarakan adalah bahwa mereka ingin menyingkirkan bahaya yang mengancam eksistensi mereka. Dan ancaman itu bersumber dan pembawa panji dakwah Islam, tak lain adalah Muhammad SAW.

Banyak pendapat dan usulan yang diajukan peserta rapat dalam mencari cara  efektif dan jalan keluar untuk “menghabisi” orang yang dianggap paling berbahaya ini. Setelah berpikir keras dan di saat berbagai usulan dan cara pemecahan mulai disampaikan. tenjadi perdebatan yang cukup alot. Rapat dibuka o]eh Abu Jahal. Sebagai kata pengatar dan pembuka rapat ia berkata: “Hari ini, para pemuka dan ketua dan kabilah-kabilah Arab dan para pemimpin Quraisy serta para pembesar dan tiap-tiap suku bangsa Quraisy harus mengambil keputusan yang sesung-guhnya, cara apa yang hendak kita jalankan untuk memus-nahkan pergerakan Muhammad yang sedang menyala-nyala di segenap penjuru daerah Hijaz ini?  Rapat hari ini adalah rapat kita yang terkhir untuk memecahkan soal ini. Marilah soal ini kita penbincangkan bersama-­sama sebelum kita mengambil suatu keputusan yang pasti!“

Abul Aswad berkata, “Kita usir dan enyahkan dia dari tengah kita. Setelah itu kita tidak ambil pusing ke mana ia akan pergi dan bagaimana nasibnya. Kita tangani urusan kita sendiri dan kita galang persatuan seperti dulu lagi. Usulan ini disambung dengan usulan Abu Bakhtary “Masukkan dia ke dalam kerangkeng besi, tutup pintunya rapat-rapat, kemudian biarkan dia seperti nasib yang dialami para penyair sebelumnya (Zuhair dan An Nabighah) hingga meninggal dunia.”

Setelah dua usulan ini dan usulan dan peserta rapat lainnya ditolak, maka ada satu usulan lagi yang akhirnya diterima oleh peserta rapat. Usulan itu disampaikan oleh Abu Jahal la‘natullah alaih -versi lain mengatakan usulan ini disampaikan oleh Abu Lahab. Dia berkata, “Menurutku, kita tunjuk seorang yang gagah perkasa, berdarah bangsawan dan biasa menjadi penengah dari setiap kabilah. Masing-masing pemuda kita beri pedang yang tajam, lalu mereka harus mengepungnya, kemudian menebas Muhammad dengan sekali. tebasan, layaknya tebasan satu orang hingga ia meninggal. Dengan begitu kita bisa merasa tenang dari gangguannya. Jika mereka berbuat seperti itu, maka darahnya bercecer dari semua kabilah, sehingga Bani Abdi Manaf tidak akan sanggup memerangi semua kaumnya, dan dengan lapang dada mereka akan menerima keadaan ini dan kita pun menerimanya.”

Sebagaimana yang telah dirancang, rencana jahat itu akan dilaksanakan pada tengah malam. Tetapi Allah Al Hafidz, Yang Maha Memelihara, Menjaga dan Melindungi Nabi dan Rasulnya, Muhammad SAW. Firman Allah SWT surat Al Anfal :30

Malaikat Jibril menyampaikan perintah Allah bahwa Allah memerintahkan beliau berangkat hijrah ke Madinah. Jibril berkata: “Wahai Rasulullah! Jangunlah engkau tidur malam ini di atas tempat tidur engkau yang engkau telah biasa tidur diatasnya. Sesungguhnya Allah memerintahkan agar engkau segera berhijrah ke Madinah.”

Pada saat-saat yang kritis itu Rasulullah SAW bersabda ke pada Ali bin Abi Thalib ra, “Tidurlah di atas tempat tidurku, benselimutlah dengan mantelku. Sesung-guhnya engkau tetap akan aman dari gangguan mereka yang engkau khawatirkan.”

Kemudian keluarlah beliau dan rumahnya menuju rumah Abu Bakar ra. Setelah beliau masuk ke rumah Abu Bakar, beliau bersabda ke pada Abu Bakar ra:“Sesungguhnya Allah Ta‘ala telah mengizinkan aku keluar dan hijrah (dari Makkah ke Madinah)” Abu Bakar bertanya: “Bertemankan saya wahai Rasulullah?“ Beliau menjawab:  “Ya, Dengan izin Allah”

Malam hari sebelum fajar menyingsing, tanggal 27 Shafar tahun 14 dari nubuwah, Rasulullah bersama sahabat beliau Abu Bakar pergi meninggalkan rumah ke kuar dari Makkah menuju ke sebuah gunung yang bemama Tsaur dengan jarak tempuh kurang lebih lima mil.

Jalan menuju gua di gunung Tsaur ini cukup terjal, menanjak sulit dan berat. Beliau berjalan tanpa mengenakan alas kaki. bahkan ada yang menyebutkan bahwa beliau berjalan dengan cara berjinjit, agar tidak meninggalkan jejak dan bekas telapak di atas tanah.

Setelah tiga malam berada di gua, maka pada malan senin tanggal 1 Rabi’ul Awwal tahun pertama H. Atau pada tanggal 16 September 622 M., Rasulullah SAW, Abu Bakar ra., Amir bin Fuhairah beserta seorang penunjuk jalan yang bernama Abdullah bin Uraiqith keluar dar gua berangkat menuju Madinah. Rasulullah SAW duduk di atas unta yang dalam kitab tarikh disebutkan dengan nama “al Qushwa”.

Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfury dalam buku Sirahnya Ar Rahiq al Makhtum menukil dan Ibnu Ishaq mengenai daerah dan tempat yang dilalui oleh Rasulullah SAW, yaitu Usfan. dataran rendah amaj melewati Qudaid, Al Harrar, Tsaniyatul Marrah, Liqfa. Madlajah Liqf. Madlajah Majah, Marjih Mahaj, Marjih Dzil Ghadhawain, Dzi Kasyr, Al Jadajid. Al Ajrad, Dzu Salam, Madlajah Ti’hin, Al Ababid, Al Fajjah, Al Arj, Tsaniyatul A’ir dar arab kanan Rakubah, Ri’m. lalu tiba di Quba.”

Pada hari Senin tanggal 8 Rabi’ul Awwal tahun ke 14 dari nubuwwah atau tahun pertama dar hijrah. bertepatan dengan tanggal 23 september 622 M., Rasulullah dan rombongan tiba di Quba dengan sambutan yang luar biasa oleh kaum musliinin yang ada di sana. Kemudian berjalan hingga berhenti di Bani Amr bin Auf. Abu Bakar berdiri, sementara Rasulullah duduk sambil diam. Orang-orang Anshar yang belum pernah melihat dan bertemu Rasulullah. mengira bahwa yang berdiri itulah Rasulullah (padahal Abu Bakar). Tatkala panas matahari mengenai Rasulullah, maka Abu Bakar segera memayungi beliau dengan mantelnya Saat itulah mereka baru tahu bahwa yang duduk dan diam itulah Rasulullah SAW.

Rasulullah di Quba berada di rumah Kultsum bin Al Hidm. Beliau berada di Quba selama empat hari, yaitu hari Senin. Selasa. Rabu dan Kamis. Di sana beliau dan para sahabat juga kaum muslimin lainnya membangun masjid Quba dan shalat di dalamnya. Pada hari Jum’at beliau melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Shalat Jum’at dilaksanakan di Bani Salim bin Auf. Seusai shalat Jum’at. Rasulullah beserta rombongan memasuki Madinah. Sejak hari itu lah Yatsrib dinamakan Madinatur Rasul yang kemudian disingkat dengan nama Madinah (Madinah al Munawwarah).

Wassalamu’alaikum

Buya H.Mas’oed Abidin

Categories: Amar Makruf Nahi Munkar, Buya Masoed Abidin, dakwah ilaa Allah, Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia, Globalisasi, HAM, Hijrah, Komentar, Komentar Buya, Pendidikan, Surau, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

Iqra’ (Perintah Pertama Kepada Nabi saw.)

Oleh Buya H. Mas’oed Abidin

 

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَق َ(1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَق ٍ(2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ(3)الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ(5)

‘Iqra’ (bacalah) denqan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Iqra’ (bacalah), dan Tuhanmu lah yang Paling Pemurah, sang Mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia Mengajarkan kepada manusia apa sang tidak diketahuinya. (Q. Al ‘Alaq: 1-5)

Di saat usia Rasulullah SAW. hampir mencapai empat puluh tahun, beliau menyaksikan kondisi masyarakatnya yang sangat memprihatinkan. Hidup dalam kejahiliyahan dan kemusyrikan. Dalam kondisi seperti itu Rasulullah mengambil keputusan -dengan petunjuk ilham ilahi- untuk membentang jarak dan kehidupan ramai. Beliau memilih suatu gua yang tidak terlalu besar, yang panjangnya empat hasta dan lebarnya antara tiga perempat hingga satu hasta. dan yang jaraknya kira-kira dua mu dari Makkah, yaitu gua Hira di Jahal Nur.

Pilihan Rasulullah untuk mengasingkan diri ini termasuk satu sisi dan ketentuan Allah atas diri beliau sebagai langkah persiapan untuk menerima urusan besar Yang sedang ditunggunya. Ruh manusia manapun yang realitas kehidupamwa akan disusupi suatu pengaruh dan dibawa ke arah lain. maka ruh itu harus dibuat kosong dan dengan mengasingkan diri untuk beberapa saat. dipisahkan dan herbagai kesibukan duniawi dan gejolak kehidupan serta kebisingan manusia yang membuatnya sibuk pada urusan kehidupan.

Di gua Hira inilah wahyu Allah SWT pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, yaitu firman Allah yang diawali dengan perintah untuk membaca (iqra’ bacalah).

Fi’l amar (kalimat perintah) iqra bacalah dalam firman Allah di atas. tidak dijelaskan obyek (maf ‘ul bih) nya. Hal ini dalam tinjauan ilmu Nahwu berarti bahwa perintah tersebut tidak ditujukan pada obyek tertentu. akan tetapi memiliki makna yang bersifat umum. Sedangkan menurut ilmu balaghah. kalimat perintah ini tidak bersifat mutlaq. tetapi mu qayyat (bersyarat). Maksudnya bahwa perintah iqra (membaca) pada konteks ayat bukanlah membaca yang bebas nilai, tetapi harus ber bismirab alladzi khalaq (dengan nama Tuhan yang Maha Menciptakan). Inilah yang membedakan antara membaca yang bernilai ibadah dengan membaca yang penuh kesia-siaan.

Makna iqra’ ditafsirkan dengan bermacam ragam makna oleh para mufassirin (ulama tafsir). Dalam buku I Panduan Berislam. paket Marifàt (DDP HIDAYATULLAH) disebutkan pendapat Buya H. Abdul Malik Ahmad yang menafsirkan perintah iqra ‘sebagai berikut. Bahwa perintah iqra (bacalah) menghendaki perpindahan dan pasif menjadi aktif dan diam kepada bergerak. yaitu; “Bacalah yang tertulis, sehingga pengetahuan dan keahlian bertambah. Bacalah yang didiktekan, diajarkan oleh utusan Tuhan. Sampai kamu sendiri mengerti dan yang mendengar memahami. Bacalah yang termaktub dalam rahasia alam yang beraneka warna, agar kamu jadi sadar dan mendapat sinar iman.”

Jadi membaca itu ada proses timbal balik antara individu secara total dengan informasi simbolik yang dibaca. Artinya. seseorang yang membaca akan memperoleh ilmu. Membaca Al-Qur’an berarti menimba ilmu dani Al Qur’an. Membaca alam berarti menggali pengetahuan dan alam. Jadi, membaca tidak sekedar melihat atau mengeja bacaan tanpa mengetahui arti.

Dan bendasarkan beberapa pendapat dan para ulama tafsir tentang makna perintah iqra’ dapatlah disimpulkan bahwa. makna perintah iqra’ (membaca) tersebut mengandung beberapa pengertian; Pertama, bacalah ayat-ayat Allah sebagai kalamullah yang termaktub dalam Al Qur’anul Karim (al Aayaat al Qauliyyah). Kedua,      bacalah ayat-ayat Allah yang tercipta dan terbentang di alam semesta (al  Aayaat al Kauniyah).

Dalam Al Qur’an terdapat ratusan ayat yang meme-rintahkan manusia agar melihat. memperhatikan. memikirkan. merenungkan dan perintah-perintah yang semakna dan in-heren dengan perintah “membaca”. Dan demi terlaksananya perintah ini, maka Allah membekali manusia dengan beberapa instrumen. yang menjadi alat bagi mereka utuk memperoleh pengetahuan. Instrumen tersebut antara lain:

Pancaindra, fungsi pancaindra manusia yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba menempati posisi yang sangat penting bagi manusia dan sangat berguna untuk menangkap pesan tentang benda-benda dan keadaan yang ada dilingkungan sekelilingnya.

Akal, akal yang dimaksud di sini adalah akal yang berfungsi pada tataran rasionalitas. Akal memiliki kemampuan untuk mengumpulkan data, menganalisa, mengolah dan membuat kesimpulan dari yang telah tertangkap dan diinformasikan oleh pancaindra.

Intuisi atau ilham, intuisi atau ilham didapat tanpa melalui proses penalaran tertentu. Tidak semua orang bisa mendapatkan kemampuan intuitif dan ilham. Pada umumnya yang memperolehnya adalah orang-orang yang melakukan musyahadah melalui kontemplasi (perenungan), ibadah dan taqarrub (inendekatkan diri kenada Allah SWT.

Wahyu, kemampuan yang dimiliki manusia sangatlah terbatas. Hal Yang bersifat fisik saja masih banyak yang menjadi misteri bagi manusia, apatah yang bersifat non-fisik dan irrasional (tak dapat dicapai oleh akal).

Wahyu membimbing manusia, agar tidak tertipu oleh indra dan akalnya yang terbatas itu. Wahyu memberikan kepastian akar akal manusia tidak berkelana tanpa arab yang menjadikannya tersesat dan kebenaran yang sesungguhnya. Wahyu adalah pengetahuan dan kebenaran tertinggi. karena ia datang dan Dzat Yang Maha Tinggi. Yang Maha Tahu segala rahasia alam semesta ini. Wahyu Allah adalah kebenaran yang bersifat mutlaq.

Catatan akhir. seiring dengan berkembangnya budaya dan peradaban manusia yang diistilahkan banyak orang dan para ahli dengan zaman modern dan era globalisasi, situasi dan kondisi masyarakat pun mengalami perubahan yang sangat drastis. Tuntutan hidup dalam segala aspek kehidupan harus mereka hadapi. Sehingga keperluan manusia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi tak terelakkan lagi. Sebagai salah satu sarana yang dapat mengantarkan mereka pada pengetahuan dan penguasaan IPTEK- yang telah terlanjur menjadi prasyarat imperatif bagi perkembangan zaman dan bagi inovasi peradaban semua ras manusia- adalah dengan belajar. Allahu a ‘lam bishawab.

Categories: Buya Masoed Abidin, Dakwah Komprehensif, HAM, Hijrah | Leave a comment

Jihad Akbar


أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkan sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberikan petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesaat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS. Al Jaatsiyah: 23)

Pada tahun kedua Hijriyah terjdilah Perang Badar. Sekembalinya dari perang Badar. Rasulullah SAW. Mengatakan kepada para sahabat “Kita kembali dari peperangan kecil dan akan menghadapi peperangan besar (Jihad Akbar)”. Diantara sahabat ada yang bertanya, “apakah ada lagi perang yang lebih besar  dan dahsyat dari perang Badar?” Beliau menjawab. “Perang melawan hawa nafsu di dalam diri masing-masing”.

Perjuangan membebaskan diri dari penguasaan hawa nafsu (jihadunnafsi) merupakan masalah yang sangat asasi yang terus dan senantiasa dilakukan oleh masing-masing diri. Bahkan Imam Ibnu Qayyim al Jauziyyah mengatakan bahwa perjuangan dalam mengendalikan diri agar terbebas dari jajahan hawa nafsu merupakan induk dari segala perjuangan. Perjuangan membebaskan diri dari penguasaan hawa nafsu barulah diutamakan untuk dilakukan, kemudian setelah itu barulah dimulai perjuangan-perjuangan lain; perjuangan melawan godaan syetan dan iblis, perjuangan mempertahankan marwah agama dari tangan-tangan jahil kaum kafirin dan munafikin serta berbagai bentuk perjuangan lainnya.

Dalam Al Qur’an disebutkan berbagai macam bentuk nafsu yang dapat disebutkan sebagai berikut:

An Nafsu Al Ammaarah Bis Suu’; yang sering mendorong manusia untuk melakukan dosa dan kejahatan. Firman Allah SWT: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan). Karena sesungguhnya nafsu itu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun Lagi Maha Penyanyang.” (QS. Yusuf: 53)

An Nafsullawwamah; yaitu nafsu yang sering menyesali diri. Firman Allah SWT: “… dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)” (QS. Al-Qiaamah: 2)

An Nafsus-awwamah; yaitu hawa nafsu yang sering menggambarkan dan menghiaskan sesuatu maksiat atau kejahatan menjadi indah dalam pandangan atau khayalnya. Firmah Allah SWT: “Ya’qub berkata: “hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. Yusuf: 83)

An Nafsul-mulhamah; yaitu nafsu yang sering mendorong kefajiran (kedurhakaan) dan ketaqwaan. Firman Allah SWT: “Maka Allah menghilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya.” (QS. Asy Syam: 8)

Disamping itu di dalam Al Qur’an dikemukakan juga tiga jenis nafsu yang lain: An Nafsul-Muthmainnah, An Nafsu-Radliah dan An Nafsul-Mardliyah

Sesungguhnya hawa nafsulah sebagai penyebab penyakit yang ada dalam diri manusia, seperti takabbur, ‘ujub, sum’ah, cinta dunia yang berlebihan, cinta kedudukan, cinta harta, serta perbuatan keji dan mungkar, segala bentuk kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia; berjudi, berzina, meminum-minuman yang memabukkan dan sebagainya.

Hawa nafsu pada dasarnya memperturutkan keinginan yang berlebihan serta kecenderungan jiwa kepada hal yang salah serta dilarang oleh ajaran Islam.

Allah SWT berfirman:

Andaikata kebenaran itu mengikuti hawa navsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini. (QS. Al Mu’minun: 7)

Sejarah manusia telah membuktikan, betapa banyak dari mereka yang terjatuh ke dalam jurang kenistaan lantaran diperbudak oleh hawa nafsunya; oleh syahwat, cinta butanya kepada harta benda, ambisinya kepada kedudukan dan kekuasaan, oleh ketenaran sesaat. Hal itu bukanlah disebabkan karena mereka kurang cerdas atau kurang pandai atau bodoh, tapi karena ketidakmampuan mereka mengendalikan hawa nafsu.

Ketidakmampuan menguasai dan mengendalikan hawa nafsunya inilah sebagai penyebab terjadinya dekadensi moral dan etika atau hancurnya akhlaq. Jika hawa nafsu telah menguasai diri seseorang, maka dirinya tidak dapat lagi membedakan antara yang hak dan yang batil, karena akal sehat dan hati nuraninya tak mampu lagi menuntunnya kepada kebenaran.

Para ulama selalu berpesan “Musuhmu yang paling berbahaya adalah nafsu yang ada di dalam dirimu”. Bahkan nafsu adalah musuh yang paling berbahaya bagi seluruh kehidupan manusia. Sebagaimana yang dinyatakan dalam Al Qur’an surah Al Jaasiyah: 23, bahwa Allah SWT akan mengunci mati hati dan pendengan serta “membutakan” penglihatan orang yang memperturutkan ajakan hawa nafsunya. Sehingga tertutuplah baginya jalan menuju kebenaran, dan terbukalah jalan kesesatan. Sedangkan orang yang mampu dan senantiasa berusaha menguasai dan mengendalikan hawa nafsunya yang selalu bergejolak, maka dirinya akan terpelihara dari hal-hal yang dimurkai Allah SWT dan ini akan mengantarkannya kepada ridha Allah SWT. sehingga pantaslah surga sebagai balasan atasnya.

Memperturut hawa nafsu (al hawa al muttaba’) adalah salah satu pangkal kehancuran manusia, hal ini dinyatakan sendiri oleh Rasulullah SAW. Ketika menyebutkan tiga hal yang dapat merusak dan menghan-curkan manusia, sebagaimana hadis beliau:

Tiga perkara yang akan merusak, (1) Hawa nafsu yang diperturutkan, (2) Kikir yang ditaati dan (3) Kekaguman seseorang pada dirinya sendiri”. (HR. Thabrani yang bersumber dari Anas r.a)

Penawar hawa nafsu yang paling ampuh adalah dengan terus melakukan tazkiyatun nafs dan tashfiyatul qalb, dawaamudz dzikri ilallah wal ‘ibadah lillah.

Allahu a’lam bishawab

Wassalamualaikum

Buya H.Mas’oed Abidin

Categories: Buya Masoed Abidin, dakwah ilaa Allah, Hijrah, Komentar, Komentar Buya, Pendidikan, Surau, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

Hidup Sekali … Hiduplah yang Berarti

Buya H. Mas’oed Abidin

 

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Kehidupan Dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”  (Q.S.Ali Imran:185)

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Sedangkan Kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” (Q.S.Al A’la: 17)

Generasi demi generasi telah dan akan berperan dalam mengisi panggung kehidupan ini. Umur dari hari ke hari bukan malah bertambah, tapi terus berkurang menuju sebuah pintu keabadian yang kemudian akan mengantarkan kita apakah ke dalam kebahagiaan ataukah dalam kesengsaraan. Kematian pasti akan menjemput setiap yang bernyawa.

“Dimana saja kamu berada, kematian akan menjemput kamu. Kendatipun kamu berada dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”. (Q.S. An Nisa :78)

Ajal adalah batas “jatah” hidup seseorang di dalam dunia yang fana ini. Kapan ajal menjemput kita ??? tiada seorangpun yang tahu.

“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.  (Q.S. Luqman :34)

Tanpa kita sadari memang, bahwa jatah hidup untuk beramal semakin hari semakin sempit dan berangsur-angsur habis, sedangkan dosa terus bertambah. Tobat selalu kita tunda dan bahkan kita sering tak pernah menyesali akan perbuatan dosa dan maksiat yang pernah kita lakukan. Seorang penyair mengungkapkan: “Engkau tetap dalam kelengahan dan hatimu Alpa. Hilanglah umurmu sedang dosa-dosamu tetap seperti keadaannya”

Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna. Dalam hal ini Al Qur’an menceritakan hal orang-orang yang menyesali perbuatannya setelah menyadari diri akan kealpaannya ketika masih hidup.

Allah SWT berfirman : “Dia mengatakan; “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal sholeh) untuk hidupku ini”. (Q.S. A1 Fajr: 24).

Sudah semestinya kita kaum muslimin, meman-faatkan kesempatan yang ada, sebelum kesempatan itu habis direnggut maut, dan janganlah hendaknya menunda untuk berbuat baik dengan menyia-menyiakan waktu dengan percuma karena mautpun tidak pernah menunda untuk menjemput kita. Jika demikian, maka bukankah sebaiknya kita selalu persiapkan diri setiap waktu bahkan setiap detik untuk menghadapi panggilan Allah yang datang secara tiba-tiba itu. Sebagaimana dikatakan dalam pepatah arab: “Barang siapa mengetahui jauhnya suatu perjalanan maka hendaklah ia bersiap-siap”.

Makna bersiap-siap dalam pepatah ini, apabila kita kaitan dengan persiapan untuk kehidupan akhirat adalah bahwa kita harus mempersiapkan “bekal’ dalam menghadapi kematian. Dan taqwa adalah sebaik-baik bekal.

“Berbekallah dan sebaik-baik bekal adalah taqwa”. (Q.S. Al Baqarah:197).

Sangat beruntung orang yang mampu memper-gunakan waktu dan kesempatan yang telah Allah berikan padanya yaitu dengan mensyukuri nikmat umur dan mempergunakannya dalam beribadah dan beramal sholeh. Dan Allah tidak pernah menganggap remeh setiap amal perbuatan seorang hamba. Baik atau buruk perbuatan seorang hamba, Allah SWT memperlihatkannya nanti di yaumil hisab.

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula“. (Q.S. Az Zalzalah : 7-8)

Bagaimana kita beramal sholeh ??? … Apakah harus dengan banyak berzakat, bersedekah, sering melakukan haji atau umrah atau dengan sesuatu yang harus menuntut pengorbanan materi ??? tentu jawabannya tidak. Karena kalau demikian berarti kebaikan (amal sholeh) hanya diperuntukkan khusus bagi orang-orang yang memiliki kelebihan materi saja, karena hanya mereka yang dapat melakukannya. Lantas bagaimana dengan orang-orang yang tidak memiliki kelebihan dalam hal materi ???

Oleh sebab itu Islam mengajarkan bahwa berbuat baik (amal sholeh) tidak selalu harus dengan mengeluarkan materi, akan tetapi dapat juga dilakukan walau hanya dengan sikap dan perilaku yang baik lagi bermanfaat buat orang banyak. Demikianlah ajaran Rasullah SAW. Sebagaimana sabda Beliau: “Sebaik-baik manusia adalah yang lebih baik akhlaqnya”.  (H.R. Thabarani dan Ibnu Umar r.a)

“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”. (H.R. Al Qadha’i dari Jabir r.a)

Dan tidak terdapat dalam satu hadits-pun yang menyatakan bahwa sebaik-baik manusia itu adalah yang sering menunaikan ibadah haji atau umrah, yang banyak sedekahnya, yang besar kurbannya, yang kuat puasa dan sholatnya dan semisalnya. Karena semua itu tidaklah berarti apa-apa jikalau akhlaqnya rusak dan jika mereka tidak bisa mengimplementasikan nilai-nilai ibadah yang mereka lakukan itu dalam realita kehidupan mereka dalam berinteraksi sosial di masyarakat.

Ibadah dan amal sholeh haruslah dilandasi dengan keikhlasan semata­-mata Lillahi ta‘ala.

Sia-sialah orang yang berhaji jika niatnya hanya ingin disebut “pak haji”, berkorban agar disebut orang yang berkemampuan, mengeluarkan zakat dan sedekah agar disebut dermawan, menganjurkan kearifan agar disebut orang yang alim atau arif bijaksana yang kesemuanya itu masih dilandasi oleh sifat riya‘, ujub dan takabbur.

Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya pada surat Al Maa’un ayat 1-7 yang berbunyi, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama ?. Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya. Orang-orang yang berbuat riya’. Dan enggan (menolong dengan) barang berguna”.

Allahu A‘lam Bisshawwab

Categories: Buya Masoed Abidin, Dakwah Komprehensif, Hijrah, Komentar, Komentar Buya, Pendidikan | Leave a comment

Sikap Hidup untuk Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

Oleh Buya H.Masoed Abidin

 

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا(2)وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا(3)

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melak-sanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. (Q.S. Ath Thalaq : 2-3)

Rasulullah ٍSAW. memberikan suatu petunjuk tentang sikap hidup yang akan membahagiakan kehidupan kita baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Rasulullah saw. bersabda: “Hiduplah kamu di dunia ini seperti tamu, dan jadikanlah masjid-­masjid seperti rumah. Dan hendaklah kamu lunakkan hatimu, dan perbanyaklah tafakkur dan menangis. Dan janganlah hawa nafsu kepada dunia ini memutuskan persiapanmu untuk kepentingan akhirat, yaitu kamu membangun bangunan yang tidak kamu diami, dan mengumpulkan harta yang tidak kamu makan, dan mengharapkan sesuatu yang tidak akan tercapai” (H.R. Abu Na’im)

1. Jadilah kamu di dunia seperti tamu

Harus di sadari. bahwa kehadiran kita di dunia yang fana ini hanya untuk sementara, bukan untuk selamanya; apalagi untuk hidup abadi. Karena sesungguhnya kehidupan yang kekal dan abadi hanya setelah kehidupan yang sementara ini, yaitu kehidupan akhirat. Disarnping itu, perlu pula kita sadari bahwa bumi yang kita diami ini dengan segala macam fasilitasnya adalah ciptaan dan milik Allah SWT bukan ciptaan kita dan milik kita. Jadi, kita berada di dunia ini bukan di bumi kita, melainkan di atas bumi milik Allah. Status kita tak lebih dari “seorang tamu” Allah yang mendapat jamuan dengan berbagai fasilitasnya.

Sebagai tamu, kitapun harus tahu apa misi dan tujuan kita bertamu; yakni menjalankan amanah sebagai khalifah-Nya di bumi dan untuk beribadah, mengabdi kepada-Nya. Tamu yang baik dan tahu diri adalah tamu yang dapat menyesuaikan diri serta mengikuti “aturan main” yang telah ditetapkan oleh “tuan rumah”.

Rasulullah. saw bersabda: “Akan datang suatu masa kepada umatku, dimana mereka lebih mencintai lima perkara dan melupakan lima perkara (1) mereka mencintai dunia dan melupakan hari pembalasan, (2) mereka mencintai gedung-gedung (megah) dan melupakan kubur, (3) mereka mencintai harta dan melupakan hari penghitungan (hisab), (4) mereka mencintai keluarga dan melupakan bidadari surqa, (5) dan mereka mencintai diri sendiri dan melupakan Allah. Mereka itu terlepas dariku dan aku pun melepaskan diri dari mereka”. (H.R. Ibnu Hajar)

2. Jadikanlah masjid seperti rumah.

“Masjid adafah rumah setiap orang yang bertaqwa, dan Allah menjamin kepada siapa yang menjadikan masjid sebagai rumahnya dengan kesenangan, rahmat dan kemudahan melintasi titian (shirath) hingga sampai kepada keridhaan Allah, yaitu ke surqa” (H.R. Ath Thabrani)

Rumah kita bangun agar dapat dipergunakan dalam keperluan hidup kita. Demikian pula hendaknya dengan masjid yang kita dirikan, haruslah dipergunakan sebagaimana fungsinya. Saat masjid kita bangun. konstrukisi atau arsitektumya bukanlah hal yang utama, yang utama adalah menjadikan masjid sebagai tempat yang efektif dalam mencetak umat yang bertaqwa kepada Rabbnya.

Membangun masjid janganlah seperti membangun usungan mayat (keranda) yang pada saat membangunnya kita lakukan beramai-ramai. bergotong royong, namun setelah masjid terbangun dengan megahnya, kita enggan memakmurkannya. Sehingga jadilah masjid bangunan yang sepi, menyendiri tanpa ada yang mau meramaikannya, baik dengan melaksanakan kegiatan ibadah fardhu seperti shalat. atau dengan kegiatan-kegiatan islami lainnya.

Rumah kita gunakan untuk menyimpan segala kekayaan, dan kita merasa betah didalamnya. Maka mesjidpun haruslah pula kita gunakan untuk menabung amal jari’ah dan amal shalih lainnya dan kita merasa betah di dalamnya. Hidup seorang muslim tidak dapat dipisahkan dengan masjid.

3. Melunakkan hati

Hati adalah sebagai organ tubuh yang sangat penting dan menentukan. Baik buruknya seseorang tergantung kepada baik dan buruknya hati. Dan gerak­-gerik serta lintasan hati seseoranglah yang akan Allah nilai. bukan bentuk fisiknya dan bukan pula sedikit atau banyaknya materi yang dimilikinya.

Hati yang lunak adalah hatinya para muttaqin. Orang yang bertaqwa adalah orang yang selalu memelihara hatinya. Solidaritas dan dedikasinya sangat tinggi, dan sikapnya yang lemah lembut, tidak pemarah, penuh maaf tanpa menyimpan rasa dendam adalah tanda kelembutan hatinya. Hanya dengan ketaqwaan, hati dapat kita lunakkan.

4. Banyak tafakkur dan menangis

Tafakkur adalah memikirkan segala ciptaan dan kekuasaan Allah SWT. Dengan melalui tafakkur, akan terungkap segala kegunaan dan rahasia alam ini. Bertafakkur akan mengantarkan kita kepada musyahadah (penyaksian) akan keagungan Rabbul ‘Alamin. Sehingga menumbuhkan rasa syukur atas karunia yang telah dilimpahkan. Hati dengan sendirinya akan menangis, menyadari betapa naifnya kita, betapa banyaknya nikmat Allah yang tak sempat kita syukuri. Dengan bertafakkur, hati akan merunduk, jiwa akan menghamba kepada Sang Maha Kuasa.

Adakalanya hati menangis karena sadar akan kesalahan dan dosa, adakalanya pula hati menangis karena tak mampu meredam kerinduan ingin bertemu kepada-Ny a.

5. Mengendalikan hawa nafsu

Nafsu hanya dapat terkendali dengan zikrullah. Dengan mengingat Allah, nafsu akan terkendali dan hatipun akan menjadi tentram. “Alaa Bidzikrillahi Tathmainnul Quluub”

Categories: Buya Masoed Abidin, dakwah ilaa Allah, Energi, Hijrah, Komentar, Komentar Buya, Pendidikan, Surau, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

Kesalehan yang Kaffah

Oleh Buya H. Mas’oed Abidin


إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (Q.S. Al Bayyinah: 7)

Dalam Al Qur’an sering kita dapati kata iman yang senantiasa dengan kata amal shaleh. Penggandaan kedua kata ini bukan tidak memiliki makna yang berarti, bahkan sebaliknya mengandung pengertian yang amat dalam.

Keimanan tidak pernah terpisah dari prilaku amal shaleh. Orang-orang yang benar-benar beriman akan selalu mengaplikasikan keimanannya dengan mengerjakan amal shaleh. Lebih lanjut Rasulullah dalam beberapa hadisnya menerangkan prilaku orang-orang yang beriman, di antaranya

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menghormati tamunya”. (H.R. Muslim)

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia tidak menyakiti tetangganya (HR. Bukhari & Muslim)

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik-baik atau diam (HR. Bukhari & Muslim)

Ketiga hadis di atas seolah mengindikasikan bahwa tanpa amal shaleh, iman seseorang belumlah sempurna. Sebab iman tidak hanya berucap dengan lisan, dan teryakini dalam hati, tapi lebih dari itu harus pula diaplikasikan dalam perbuatan amal shaleh.

Hubungan antara iman dan amal shaleh ini tampak jelas dalam firman Allah SWT -surat Al Baqarah ayat 2 & 3-, bahwa orang yang bertaqwa adalah mereka yang beriman kepada Yang Ghaib (Allah), mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Allah berikan kepada mereka. Pada ayat ini, perbuatan amal shaleh seperti shalat: shalat yang merupakan amal shaleh terhadap Allah dan menafkahkan harta yang merupakan amal shaleh terhadap sesama manusia, terlaksana setelah seseorang beriman kepada Yang Ghaib (Allah). Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa iman yang benar adalah yang senantiasa diiringi dengan perbuatan amal shaleh.

Adapun orang yang mengerjakan amal shaleh dinamakan orang yang shaleh. Sementara prilaku amal shaleh tersebut kita kenal dengan istilah keshalehan. Istilah keshalehan pada akhir-akhir ini telah berkembang secara dikotomis. Ada yang mengistilahkannya dengan keshalehan ritual, dan ada pula yang mengistilahkannya dengan keshalehan sosial. Jadi di dalam Islam seolah­-olah memang ada dua macam bentuk keshalehan.

Keshalehan ritual mereka identikkan dengan prilaku amal shaleh yang berhubungan dengan ibadah mahdhah, yakni ibadah yang semata-mata langsung berhubungan dengan Allah (hablun minallah), seperti shalat, puasa dan haji. Adapun istilah keshalehan sosial identik dengan prilaku seseorang yang mengerjakan amal shaleh yang berhubungan dengan mu‘amalah terhadap sesama manusia (hablun minannas), seperti kepedulian sosial, menyantuni anak yatim dan fakir miskin, suka menolong. mengayomi masyarakat dan sebagainya.

Padahal dalam Al Qur’an -Al Baqarah 2 & 3- sebagaimana yang diuraikan di atas, bahwasanya Allah SWT tidak membeda-bedakan perbuatan amal shaleh dalam prioritas tertentu. baik amal shaleh dalam kaitannya dengan hablun minallah ataupun amal shaleh dalam kaitannya dengan hablun minannas. Karena amal shaleh yang sebenarnya adalah keseimbangan antara keduanya.

Munculnya dikotomi dalam istilah keshalehan ini memang bermula dari fenomena kehidupan keberagamaan kaum muslimin sendiri. Di mana sering dijumpai sekelompok orang yang tekun beribadah, hidup da]am kezuhudan, bahkan ada yang berkali-kali menunaikan ibadah haji, namun kurang peduli akan keadaan dan nasib masyarakat dan saudara-saudaranya yang ada di sekelilingnya. Hatinya tidak tergerak untuk membantu saudara-saudaranya yang lemah (dhu ‘afa’), tertindas. Tidak turut serta menegakkan amar ma’ruf-nahi munkar, seolah-olah ibadah yang ia kerjakan yang penting untuk dan demi dirinya sendiri. Dan seolah-olah Islam hanya mengajarkan umatnya untuk bermu ‘amalah kepada Allah belaka.

Sebaliknya. sering juga dijumpai di antara kaum muslimin yang memiliki kepedulian terhadap masalah-masalah umat, memperhatikan hak-hak sesamanya, senantiasa berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan lslami, namun terkesan mengabaikan ibadah mahdhah (ritual) nya.

Di lain hal terkadang tidak jarang pula kita lihat ketidak harmonisan sikap dan hubungan antara kedua kelompok di atas, di mana masing-masing bersikap sinis satu sama lain. Masing-masing mengklaim bahwa amal shaleh yang mereka lakukanlah yang lebih utama.

Dalam hal ini. Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah dalam bukunya I’dad al Shabirin wa dzakirat al Syakirin, mengingatkan agar supaya suatu kelompok janganlah terlalu bangga dengan ibadah dan amal shaleh yang mereka kerjakan, serta menyatakan bahwa merekalah yang paling utama dalam menjalankan sunnah Nabi ketimbang kelompok lain. Kata beliau selanjutnya.

“Jika para mujahid dan orang~orang yang terjun ke medan perang berhujjah bahwa merekalah kelompok ‘yang paling utama, maka kelompok orang-orang yang berilmu juga berhak untuk berhujjah seperti itu. Jika orang-orang yang berzuhud dan meninggalkan keduniawian berhujjah bahwa inilah kelebihan Rasul yang mereka teladani. maka orang-orang yang aktif menekuni keduniaan, mengurusi masyarakat, pemerintahan, memimpin rakyat, melaksanakan perintah-Nya dalam menegakkan agama-Nya juga berhak untuk berhujjah. Jika orang miskin yang sabar berhujjah bahwa mereka mengikuti sifat mulia Nabi, maka orang kaya yang bersyukur juga berhak untuk berhujjah seperti itu…”

Sehingga Ibnu Qayyim berkata. “Yang paling berhak atas diri Rasulullah dalam meneladaninya adalah orang yang paling mengetahui sunnah beliau dan kemudian mengamalkannya”.

Dari ungkapan Ibnu Qayyim di atas tersirat sebuah pengertian bahwa ibadah dan amal shaleh bukan sekedar mu‘amalah ma‘allah semata, atau sebaliknya mu’amalah ma‘annas saja. Melainkan merupakan mu‘amalah yang kaaffah (totalitas), baik terhadap Allah maupun sesama makhluk. Sehingga keshalehan dalam Islam haruslah komplit, meliputi kedua aspek keshalehan tersebut. yakni keshalehan ritual (Hablun Minallah) dan keshalehan sosial (Hablun Minannas).

Gambaran komplit tentang keshalehan yang kaaffah ini dapat dilihat dari ibadah shalat yang dapat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan munkar.

Begitu pula ibadah puasa yang mendidik seseorang untuk bersikap toleran dan peduili terhadap kesusahan orang lain. Kedua contoh ibadah tersebut -sholat dan puasa- mengandung dua aspek keshalehan sekaligus, baik aspek ritual maupun sosial.

Keshalehan yang kaaffah ibarat air yang bersih dan suci, yang di dalam istilah fiqih adalah air yang “Thaahirun linafsihi wa muthahhirun lighairihi” (Suci bagi dzatnya sendiri dan mensucikan bagi yang lainnnya). Air ini tidak hanya hersih. tapi juga dapat digunakan untuk berthaharah (bersuci) seperti wudlu misalnya. Dan tidak semua air bersih dapat digunakan untuk berthaharah, seperti air kelapa, air teh dan sebagainya.

Untuk itu selayaknyalah setiap muslim meraih predikat keshalehan yang kaffah ini, sehingga ia tidak hanya shaleh secara ritual, dalam artian taat beribadah kepada Allah. Namun ia juga shaleh secara sosial, dalam artian senantiasa beramal shaleh terhadap sesamanya. Sehingga ia mampu menciptakan kemaslahatan bagi sesama. Ia disamping mampu menasehati dirinya sendiri, juga mampu menasehati orang lain. Namun jangan sampai hanya rnampu menasehati orang lain, tetapi tidak mampu menasehati diri sendiri.

­Allah SWT berfirman: “Mereka diliputi kehinaan di mana saja rnereka berada, kecuali jiika mereka berpegang kepada tali (agarna) Allah (Hablun Minallah) dan tali (perjanjian) dengan manusia (Hablun Minannas)…” (Q.S. Ali Imran: 112)

Shadaqallah …Allahu A’lam

Categories: Buya Masoed Abidin, dakwah ilaa Allah, HAM, Hijrah, Pendidikan, Surau, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

Waktu adalah kewajiban dan tanggungjawab

Oleh Buya H.Mas’oed Abidin


وَالْعَصْرِ(1)إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ(2)إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ(3)

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Q.S. Al-’Ashr:1-3)

Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan Al Qur’an menulis ungkapan Malik bin Nabi yang beliau kutib dari bukunya yang berjudul Syuruth An Nahdhah (Syarat-syarat Kebangkitan): “Waktu adalah sungai yang mengalir ke seluruh penjuru sejak dahulu kala, melintas pulau, kota, dan desa, membangkitkan semangat atau menina bobokkan manusia, ia diam seribu hahasa, sampai-sampai manusia tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya, walaupun segala sesuatu-selain Allah- tidak akan mampu melepaskan diri darinya”

Semua orang tahu, betapa berharganya yang namanya waktu. Islam sendiri menjelaskan bahwa yang paling berarti dalam kehidupan ini adalah waktu. Meskipun ada sebagian orang yang membatasi harga sebuah waktu hanya dengan berprinsip. Time is Money; waktu adalah uang.

Pada hakikatnya, yang namanya waktu tidak dapat diukur dengan ukuran serendah itu, hanya dinilai dengan nilai materi atau uang. Karena harga sebuah waktu jauh lebih berharga dari nilai mata uang, apapun mata uang itu. Karena waktu adalah sebuah anugerah Allah yang diberikan kepada manusia agar mempergunakannya dengan proposional demi kesejahteraannya dan demi kebahagiaannya, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Karena dapat di dalam sang waktu terdapat kewajiban dan tanggungjawab yang harus dipergunakan manusia dengan sebaik-baiknya. Waktu sangatlah terbatas. Jika waktu telah berakhir (berlalu), ia tak akan bisa diganti atau kembali.

Sayidina Ali bin Ahi Thalib pernah berkata: “Rezki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat diharapkan perolehannya lebih banyak dihari esok, tetapi waktu yang berlalu hari ini, tidak mungkin kembali esok.

Karena waktu adalah kewajiban dan tanggung jawab. maka manusia berkewajiban pula mempergunakan kesempatan dan mengaturnya dengan sebaik-baiknya.

Kesadaran akan kewajiban dan tanggung jawah, yang meliputi semua segi kehidupan manusia, adalah faktor-faktor yang paling fundamental dalam menentukan kesejahteraan individu dan masyarakat. Sayyid Mujtaba Musawi Lari dalam bukunya Meraih Kesempurnaan Spiritual (terjemahan dan buku yang berjudul Ethics and Spiritual Growth) mengutip ucapan Imam Al Sajjad AS yang dimuat dalam sebuah kitab karya Al Hurrani berjudul Tuhaf al ‘Uqul. Di dalam kitab tersebut Imam Al Sajjad AS menggambarkan watak yang serba mencakup dan kewajiban-kewajiban seseorang dalam berbagai bidang. Dia berkata: “Hendaklah engkau- semoga Allah merahmatimu- mengetahui hahwu Sang Pembeni Rezki segala makhluk telah menetapkan kewajiban-kewajiban dan hak-hak tertentu terhadapmu, yang jumlahnya begitu banyak dan meliputi seluruh prilakumu, setiap tindakan dan gerakanmu, setiap istirahat dan diammu, dan pada akhirnya, setiap anggota badan yang mematuhi kehendakmu. Hak-hak ini begitu nyata dan jelas, meskipun sebagian daninya melibatkan kewajiban yang lebih besar dan yang lain.”

Dalam Islam, setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya dan tidak seorangpun yang bertanggung jawab atas kewajiban dan tanggung jawab orang lain. Al Qur’an menyatakan : “Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seseorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain. Dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.“ (Q.S Al-Israa’: 15)

Di dalam Al-Quran kita temukan kisah tentang Luqman yang menasehati anaknya tentang kewajiban-kewajiban utama manusia. Di antaranya ada tiga kewajiban manusia yang harus ia penuhi.

1.  Kewajiban manusia kepada Allah . (Q.S Luqman:13)

2.  Kewajiban anak kepada orang tua (Q.S. Luqman: 14)

3.  Kewajiban manusia kepada sesamanya (Q.S. Luqman:18 – 19)

Asy Syahid Hasan Al-Bana mengajari kita bagaimana cara membagi waktu dalam rangka melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab. Dalam Buku Ceramah-ceramah Hasan Al Bana “Hadits Tsulatsa”, yang disusun Ahmad Isa ‘Asyur Asy-Syahid berkata, “Allah SWT telah memerintahkan kita untuk menggunakan waktu dalam empat hal”.

Pertama, dalam hal yang dapat menyelamatkan agama kita, yaitu berupa ketaatan kepada Allah. Ini pun terbagi dua: Hal-hal yang difardhukan oleh Allah kepada kita dan tertentu waktunya, seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan seterusnya. Hal-hal yang dianjurkan oleh Allah kepada kita berupa amalan-amalan nafilah (sunnah), seperti tilawatil Qur’an, sedekah, zikir, dan membaca shalawat nabi.

Kedua, dalam hal-hal yang juga memberikan manfaat kepada kita, berupa mencari rezki yang halal untuk keperluan kita dan keluarga yang kita tanggung. Jika hal itu kita lakukan dengan ikhlas, ia menjadi amal ibadah.

Ketiga, dalam hal yang mendatangkan manfaat kepada orang lain. Itu merupakan bagian dari bentuk pendekatan (qurbah/taqarrub) diri yang paling agung.

Keempat, dalam hal yang dapat memberi kita ganti atas sesuatu yang hilang dari kita, yaitu waktu istirahat. Karenanya, tentukanlah waktu khusus untukmu, yang di situ kamu bisa memperbaharui kegiatanmu dan menyegarkan kembali semangatmu. Itu bisa dilakukan dengan cara berolah raga, berwisata, atau bisa pula dengan cara-cara lain yang bermanfaat dan positif.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh lbnu Hibban yang bersumber dari Abu Dzar Al Ghifari, Rasulullah SAW bersabda: “Yang berakal selama akalnya belum terkalahkan oleh hawa nafsunya, berkewajiban mengatur waktu-waktunya. Ada waktu yang digunakan untuk bermunajat dengan Tuhannya, ada waktu yang digunakan untuk melakukan introspeksi (menghitung diri). Kemudian ada juga waktu yang digunakan untuk memikirkan ciptaan Allah (belajar), dan adapula waktu yang digunakan khusus untuk diri (dan keluarga) guna memenuhi keperluan makan dan minum.”

Wallahu A ‘lam bish Shawab

Categories: Buya Masoed Abidin, dakwah ilaa Allah, Hijrah, Komentar, Komentar Buya, Pendidikan, Surau, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.