Komentar

2013 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 21,000 times in 2013. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 8 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Categories: Komentar, Uncategorized | Leave a comment

TIGA PILAR Dienul Haq

Surau Singgalang

TIGA PILAR Dienul Haq

Oleh Masoed Abidin

« Sesungguhnya agama disisi Allah Hanyalah Islam » (Q.S. Ali Imran: 19). Inilah sebuah pernyataan dari Allah Azza wa Jalla tentang agama yang amat diperlukan oleh manusia dalam kehidupan untuk meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Allah berfirman, “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu , maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (Q.S. Al-Baqarah: 132).

Didalam ayat lainnya disebutkan “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam. Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Q.S. Ali Imran: 85).

Dengan agama dibentang konsep tentang kehidupan dan kemana arah tujuannya serta bimbingan tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sekitarnya melalui tiga pilar saling berkaitan yakni Aqidah, Syari’ah, dan Akhlaq.

Umar bin Khaththab r.a berkata, “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk di dekat Rasulullah SAW. Tiba-tiba tampak dihadapan kami seorang laki-laki berpakaian putih bersih dan rambut hitam pekat. Tidak tampak dalam dirinya tanda-tanda sehabis perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Maka duduklah orang itu disisi Rasulullah. Lalu ia sandarkan lututnya kepada lutut beliau. Meletakkan tangannya di atas paha beliau, kemudian berkata: “Wahai Muhammad, terangkan kepadaku tentang Islam!” Rasulullah SAW menjawab, “Islam itu adalah, hendaknya engkau bersyahadat, bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah; hendaklah engkau tegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa pada bulan Ramadhan dan melaksanakan haji ke Baitullah jika engkau mampu.” Orang itu berkata, “Engkau benar!”. Kami heran, ia bertanya dan ia pula yang membenarkannya.

Orang itu berkata, “Terangkan kepadaku tentang iman!”. Rasulullah SAW menjawab, “Hendaklah engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan pada hari akhirat serta hendaklah engkau beriman pada takdir yang baik atau buruk!” Orang itu berkata, “Engkau benar!” seraya berkata, “Terangkan kepadaku tentang ihsan!”. Rasulullah SAW bersabda, “hendaklah engkau beribadah kepada Allah, seolah-olah engkau melihat-Nya. Maka, jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihatmu.” Ia berkata, “Beritahukan kepadaku tentang hari kiamat”. Rasulullah menjawab, “Yang ditanya tidak lebih mengetahui dari yang bertanya.” Selanjutnya ia bertanya, “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya.” Rasulullah menjawab, “jika seorang hamba sahaya melahirkan majikannya, jika engkau melihat orang miskin dan papa, berpakaian compang camping dan bergembala kambing, namun berlomba-lomba dalam kemegahan bangunan.” Kemudian, orang yang bertanya itu berlalu. Aku terdiam.

Kemudian Rasulullah bertanya kepadaku, “Wahai Umar, tahukah engkau siapakah yang bertanya tadi?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Rasulullah bersabda, “orang itu adalah Jibril, ia datang kepadamu untuk mengajarkan tentang agamamu”. (H.R. Muslim).

Hadits shahih Rasulullah ini memuat seluruh bab tentang Islam, Iman, Ihsan dan tanda-tanda hari kiamat. Islam dimulai dengan ikrar Syahadatain yakni penyerahan total jiwa, akal, perasaan dan keinginan atau aziimah dengan meyakini “bahwa tiada Tuhan kecuali Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya”.

Ampuni aku Ya Allah_n

Syahadat ini menjadi pengendali kehidupan dalam perkara halal haram dan berinteraksi sosial antara muslimin dengan non muslimin, antara seorang dengan sahabat dan tetangganya. Sesungguhnya tidak satupun selain Allah yang mengatur perjalanan hidup kita. Allah A’lam As-Shawwab.***

Categories: Amar Makruf Nahi Munkar, Buya Masoed Abidin, dakwah ilaa Allah, Komentar, Komentar Buya, Ramadhan, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

Konsep Masyarakat Madani dengan bimbingan Agama menuju Pemerintahan yang amanah

Gambar

Konsep Masyarakat Madani dengan bimbingan Agama

menuju Pemerintahan yang amanah

Oleh :

H. Mas’oed Abidin

 

Reformasi Menyikapi Perubahan Zaman

PEMBINA PERILAKU berakhlak menjadi kerja utama sepanjang masa. Sejak dulu, bangsa ini  sudah memiliki tata laku masyarakat sopan dan santun. Memiliki akhlak yang terpuji. Hidup beradat dalam tatanan yang shahih. Mengelola gerak kehidupan dengan pemahaman dan pengamalan nilai nilai haya’ (malu) dengan benar. Dalam kearifan lokal masyarakat Sumatera Barat disebutkan Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, Kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek, Nak urang Koto Hilalang, nak lalu ka Pakan Baso,  Malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso. Pembinaan terpadu masyarakat ini berawal dari lingkungan (rumah tangga dan wilayah) dengan menata kehidupan berbudi. Memacu gerak mencerdaskan umat. Mengokohkan aqidah tauhid yang kuat, mengamalkan Firman Allah.[1] 

Kini kita sedang menghadapi satu perubahan zaman. Perubahan adalah satu keniscayaan belaka, bahwa zaman senantiasa berubah dan musim selalu berganti. Perubahan dalam arus kesejagatan di era global. Seringkali membawa infiltrasi kebudayaan luar. Ketika pengamalan pelaksanaan adat istiadat masyarakat dalam wilayah administrasi pemerintahan Provinsi Sumatera Barat, tidak lagi kukuh pada puncak budaya ABSSBK maka mulai jalan di alieh urang lalu, sukatan di pancuang urang panggaleh. Pengaruh materialistic telah mengabaikan kaidah nilai-nilai tatalaku masyarakat beradat dan beragama. Penetrasi kebudayaan global telah menyuburkan kehidupan individualistic yang kental. Mengalahkan kepentingan masyarakat bersama. Idealisme kebudayaan mulai menjadi sasaran cercaan. Budaya jujur dianggap kolot. Pencapaian hasil kebersamaan (kolektifiteit) menjadi sangat tipis. Amanah menjadi rapuh. Kejujuran tidak bermakna lagi. Kerajinan dan kesetiaan diukur dengan jumlah pendapatan yang didapat. Pergeseran itu semestinya diamati dengan cermat. Kehidupan tanpa kawalan aturan jelas, pasti berdampak kepada kinerja dan praktek pemerintahan juga. Selain pula berakibat terhadap pengelolaan wilayah dan asset.

Pergeseran nilai ini juga bersintuhan langsung dengan pemeliharaan budaya bangsa dan budaya negara. Budaya negara kita Indonesia adalah UUD45, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI. Sedangkan budaya bangsa Indonesia adalah puncak puncak budaya daerah. Ketika kedua budaya itu melemah, perilaku yang mengedepan adalah perebutan prestise berbungkus materi. Menghadirkan prestasi yang memberi manfaat kepada rakyat banyak kurang diminati. Padahal masyarakat madani (civil society) dengan panduan nilai nilai reliji menyajikan motivasi hidup. Mendorong mobiltas horizontal (hablum min an-naas) dan mobilitas vertical (hablum min Allah) dalam gerakan amal. Menumbuhkan jiwa inovatif yang sarat dinamika dan kreativitas. Bersikap ikhlas dan tawakkal. Semestinya dari sisi ini reformasi watak di mulai untuk mendudukkan reformasi birokrasi. Tantangan besar hari ini adalah menata ulang masyarakat (replanting values) dengan nilai berketuhanan dan budaya. Menjaga martabat bangsa dan negara. Sasarannya menuju madaniyah (modern, maju, beradab). Menanamkan etika reliji dengan akhlak mulia adalah modal utama menapak alaf baru. Manakala nilai moral ini sudah pupus, pastilah bangsa ini akan ditingali oleh manusia modern yang biadab. Suatu individu atau kelompok yang kehilangan pegangan hidup, walau secara lahiriyah kaya materi tetapi miskin mental spiritual, akan terperosok ke dalam tingkah yang tidak mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai kehidupan akan bertukar dengan sikap acuh, lucah, sadis dan hedonistic. Amat tragis, kalau generasi yang kehilangan pegangan hidup itu adalah kelompok etnis di tengah kebangsaan Indonesia yang dikenal dan disebut muslim pula.

Konsep Masyarakat Madani

MADANI satu kata yang indah. Punya arti yang dalam. Kadang kala banyak juga yang menyalah artikannya. Apa itu sebenarnya madani. Bila diambil dari sisi pendekatan letterlijk maka madani berasal dari kata  m u d u n   arti sederhananya  m a j u  atau dipakai juga dengan kata  m o d e r n. Tetapi figurlijknya madani mengandung kata maddana al-madaina (مَدَّنَ المَدَاِئنَ) artinya, banaa-ha ( بَنَاهَا ) yakni membangun atau hadhdhara (حَضَّرَ ) yaitu memperadabkan dan tamaddana ( تَمَدَّنَ ) maknanya menjadi beradab — yang nampak dalam kehidupan masyarakatnya berilmu (periksa, rasio), memiliki rasa (emosi) secara individu maupun secara kelompok serta memiliki kemandirian (kedaulatan) dalam tata ruang dan peraturan-peraturan yang saling berkaitan, kemudian taat asas pada kesepakatan (hukum) yang telah ditetapkan dan diterima untuk kemashalahatan bersama. Karena itu orang Jepang dalam cara menyeberangnya saja sudah dapat disebut menjadi ciri madani itu.  

Masyarakat  madani ( الحَضْرِيُّ = al hadhariyyu) adalah masyarakat berbudaya dan al-madaniyyah (tamaddun) yang maju, modern, berakhlak dan memiliki peradaban, semestinya melaksanakan nilai-nilai agama (etika reliji) atau bagi kita mengamalkan ajaran Islam (syarak) dengan benar. Nilai nilai kebaikan akan selalu memenjarakan manusia. Karenanya nilai nilai agama Islam boleh saja tampak pada umat yang tidak atau belum menyatakan dirinya Islam, akan tetapi telah mengamalkan nilai Islam itu. Sesunguhnya Agama (Islam) tidak dibatasi ruang-ruang masjid, langgar, pesantren, majlis ta’lim semata.

Pengamalan nilai nilai agama sebenarnya menata gerak kehidupan riil. Memberi acuan pelaksana tatanan politik pemerintahan, sosial ekonomi, seni budaya, hak asasi manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi. Penerapan nilai etika reliji mewujudkan  masyarakat yang hidup senang dan makmur (تَنَعَّمَ = tana’ama) dengan aturan  (قَانُوْنٌ مَدَنِيٌّ = qanun madaniy) yang didalamnya terlindungi hak-hak privacy, perdata, ulayat dan hak-hak sipil masyarakat. Dapat diraih melalui pendidikan.

Masyarakat tamaddun (berbudaya) adalah masyarakat integratif secara sosial politik maupun ekonomi dengan asas watak masyarakat intinya adalah ketaatan. Kepatuhan dan keyakinan kepada Allah Azza wa Jalla. Masyarakat madani adalah masyarakat kuat mengamalkan nilai agama (etika reliji). Seperti dalam tatanan masyarakat Madinah el Munawwarah dimasa hayat Nabi Muhammad SAW. Sejahtera dalam keberagaman pluralistis ditengah bermacam anutan paham kebiasaan. Tetapi satu dalam pimpinan. Kekuatannya ada pada nilai dinul Islam. Mampu melahirkan masyarakat proaktif menghadapi perubahan. Bersatu di dalam kesaudaraan karena terdidik rohaninya. Pendidikan rohani merangkum aspek pembangunan sumber daya manusia dengan pengukuhan nilai ibadah dan akhlak dalam diri umat melalui solat, zikir. Pada akhirnya pendidikan watak atau domein ruhani ini mencakup aspek treatment. Rawatan dan pengawalan melalui taubat, tazkirah, tarbiyah, tau’iyah. Ditopang dua manazil atau sifat penting, yaitu Rabbaniah dan Siddiqiah.

Sifat Rabbaniah ditegakkan dengan benar diatas landasan pengenalan (makrifat) dan pengabdian (`ubudiah) kepada Allah melalui ilmu pengetahuan, pengajaran, nasihat, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Siddiqiah mencakup enam jenis kejujuran (al-sidq): 1. kejujuran lidah, 2. kejujuran niat dan kemauan (sifat ikhlas), 3. kejujuran azam, 4. kejujuran al-wafa’ (jujur dengan apa yang diucapkan dan dijanjikan), 5. kejujuran bekerja (prestasi karya), dan 6. kejujuran mengamalkan ajaran agama (maqamat al-din).

Kehidupan Madani terlihat pada kehidupan maju yang luas pemahaman (tashawwur) sehingga menjadi sumber pendorong kegiatan di bidang ekonomi yang lebih banyak bertumpu kepada keperluan jasmani (material needs). Spiritnya melahirkan pemikiran konstruktif (amar makruf) dan meninggalkan pemikiran destruktif (nahyun ‘anil munkar) melalui pembentukan tata cara hidup yang diajarkan agama Islam. Mengembangkan masyarakat Madani dimulai dari membangun domain kemanusiaan atau domain ruhiah melalui pendidikan rohani yang merangkum aspek preventif. Menjaga umat dari ketersesatan aqidah. Memelihara rakyat dari ketidakseimbangan emosional dan mental. Agar umat terhindar dari melakukan perbuatan haram, durjana dan kezaliman. Peningkatan mutu masyarakat dengan basis ilmu pengetahuan, basis budaya dan agama.

Moralitas Masyarakat Madani

ikap hati-hati sangat dituntut untuk meraih keberhasilan. Action planning di setiap lini adalah keterpaduan, kebersamaan, kesepakatan, dan keteguhan. Langkah awalnya menghidupkan musyawarah. Allah menghendaki kelestarian Agama secara mudah, luwes, elastis, tidak beku dan tidak bersitegang. Memupuk sikap taawun saling membantu dengan keyakinan bahwa Allah Yang Maha Rahman selalu membukakan pintu berkah dari langit dan bumi.

Keterpaduan masyarakat dan pemerintah menjadi kekuatan ampuh membangun kepercayaan rakyat banyak. Inilah inti reformasi yang dituju di abad baru ini. Tingkat persaingan akan mampu dimenangkan “kepercayaan” — trust.  Pengikat spiritnya adalah sikap Cinta kepada Bangsa dan Negara yang direkat oleh pengalaman sejarah. Salah menerjemahkan suatu informasi, berpengaruh bagi pengambilan keputusan. Sikap tergesa-gesa akan berakibat jauh bagi keselamatan orang banyak. Masyarakat majemuk dapat dibina dengan kekuatan etika reliji.

Peran serta masyarakat digerakkan melalui  musyawarah dan mufakat. Kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan “nawaitu” dalam diri masing-masing mengamalkan ajaran agama dengan benar. Sebab, manusia tanpa agama hakikinya bukan manusia sempurna. Tuntunan agama tampak pada adanya akhlak dan ibadah. Akhlak mlingkupi semua perilaku pada seluruh tingkat kehidupan. Nyata dalam contoh yang ditinggalkan Rasulullah.[2] 

Ketika kehidupan manusia kian bertambah modern dan peralatan teknologi semakin canggih, makin bertambah banyak masalah hati dan kejiwaan manusia yang tampil kepermukaan. Tidak segera mudah dapat diselesaikan. Solsusinya hanya mendekatkan diri kepada Allah SWT semata. Maka tuntutan kedepan mesti diawasi agar umat lahir dengan iman dalam ikatan budaya (tamaddun). Rahasia keberhasilan adalah “tidak terburu-buru” dalam bertindak. Selalu ada husnu-dzan (sangka baik) antara rakyat dan pemimpinnya. Kekuasaan akan berhasil jika menyentuh hati nurani rakyat banyak, sebelum kekuasaan itu menjejak bumi. Ukurannya adalah adil dan takarannya adalah  kemashlahatan umat banyak. Kemasannya adalah jujur secara transparan.

Umat perlu dihidupkan jiwanya. Menjadi satu umat yang mempunyai falsafah dan tujuan hidup (wijhah) yang nyata. Memiliki identitas (shibgah) dengan corak keperibadian terang (transparan). Rela berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan.  Masyarakat Madani yang dituntut oleh “syari’at” Islam menjadi satu aspek dari Sosial Reform yang memerlukan pengorganisasian (nidzam). Masyarakat Madani mesti mampu menangkap tanda‑tanda zaman — perubahan sosial, politik dan ekonomi — pada setiap saat dan tempat dengan optimisme besar. Sikap apatis adalah selemah‑lemah iman (adh’aful iman). Sikap diam (apatis) dalam kehidupan hanya dapat dihilangkan dengan bekerja sama melalui tiga cara hidup , yakni bantu dirimu sendiri (self help), bantu orang lain (self less help), saling membantu dalam kehidupan ini (mutual help).

Ketiga konsep hidup ini mengajarkan untuk menjauhi ketergantungan kepada pihak lain, artinya mandiri. Konsep madaniyah tampak  utama didalam pembentukan watak (character building) anak bangsa. Tentu saja melalui jalur pendidikan. Maka reformasi terhadap pengelolaan keperluan masyarakat atau birokrasi mesti meniru kehidupan lebah, yang kuat persaudaraannya, kokoh organisasinya, berinduk dengan baik, terbang bersama membina sarang, dan baik hasil usahanya serta dapat dinikmati oleh lingkungannya.

KHULASAH, Menampilkan Program Umatisasi

PENERAPAN RUHUL MADANIYAH atau jiwa kemajuan berkehendak kepada gerak yang utuh dan terprogram. Hasilnya tidak mungkin di raih dengan kerja sambilan, buah yang di petik, sesuai dengan bibit yang di tanam, demikian natuur-wet (sunnatullah, = undang-undang alami). Setiap unsur berkewajiban melaksanakan tugas tabligh atau dialogis kemudian mengajak dan mengujudkan kehidupan berperaturan (bertatakrama) di dunia (dinul-harakah al-alamiyyah). Melibatkan semua elemen untuk menghidupkan kesadaran dana kepatuhan hukum menjadi tugas bersama. Menurut nilai-nilai Al-Qur’an disebut ummat da’wah. [3] 

Ada beberapa tindakan yang mungkin dilakukan segera.

Pertama. Melakukan introspeksi di kalangan kita sendiri. Mengoreksi masihkah prinsip‑prinsip utama budaya bangsa dan budaya negara masih dipertahankan.

Kedua. Masing‑masing berusaha mengambil inisiatif dan aktif untuk mengikat kembali tali kesatuan dan persatuan bangsa dengan ikatan birokrasi tanpa gembar‑gembor, namun secara jujur dalam mengatasi semua persoalan di tengah rakyat yang kita pandu.

Ketiga, Memelihara kesempatan‑kesempatan yang ada dan tersedia dalam melakukan tatanan (system) dengan memperbesar frekwensi pertukaran fikiran secara informal dalam berbagai masalah keumatan, dalam suasana jernih, tenang dan bersih serta tidak berprasangka.

Keempat, Berusaha mencari titik‑titik pertemuan (kalimatin sawa) di antara sesama kalangan dan peribadi‑peribadi para intelektual (zu’ama), para pemegang kendali sistim (‘umara), dan para ikutan umat utama, para ulama dan aktifis pergerakan baik tua maupun muda, dalam ikatan yang tidak tegang dan kaku. Kekuatan terletak pada keluwesan pikiran dan keteguhan prinsip.  

Kelima, Menegakkan secara sungguh dan bertanggung jawab Nizhamul Mujtama’ (tata hidup bermasyarakat) diatas dasar aqidah Islamiyah dan Syari’ah.

Keenam,  Memelihara mutu ibadah di kalangan umat utama. Menetapkan mu’amalah (sosial, ekonomi, siyasah) dan Akhlak (pemeliharaan tata nilai melalui pendidikan dan kaderisasi yang terarah). Mengawalnya mulai dari rumah tangga, lingkungan (usrah) dan masyarakat (uswah).

Usaha menghadapi tantangan kontemporer yang sedang menjajah hati budi umat kini khususnya di Sumatera Barat (Minangkabau), dapat di tampilkan beberapa agenda kerja,

  1. Mengokohkan pegangan dengan keyakinan dasar agama sebagai suatu cara hidup yang komprehensif. Menyebarkan budaya wahyu membimbing kemampuan  akal.
  2. Memperluas penyampaian fiqh sosio politik, ekonomi, komunikasi, pendidikan dan lain-lain. Menguatkan peran perempuan (bundo kandung, muslimat) yang telah berhasil membentuk sejarah gemilang masa silam sebagai ibu dan pendidik di rumah tangga dan ditengah masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat.
  3. Menjalin dan membuat kekuatan bersama untuk menghambat gerakan yang  merusak adat budaya bangsa dan negara — terutama di Sumatera Barat yang memiliki puncak filosofi ABSSBK –. Diantaranya, memberi bekal yang cukup melalui pelatihan dan pembekalan ilmu yang memadai, membuatkan anggaran belanja yang memadai di daerah-daerah mendukung satu usaha terpadu kearah pendidikan watak umat dan meningkatkan keselarasan, kesatuan dan keupayaan mendalami budaya dan haraki Islami.
  4. Melahirkan masyarakat penyayang dengan kehidupan beradat sesuai ABSSBK sebagai ciri khas Masyarakat Madani di Sumatera Barat.v

 

Padang, Pebruari 2012.

 


[1]    Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama (syariat, syarak) dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya (dengan cara-cara mengamalkannya pada setiap perilaku dan tindakan dengan kehidupan beradat), apabila mereka telah kembali kepadanya – kekampung halamannya –, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS.IX, at Taubah, ayat 122).

[2]    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا  “Sesungguhnya telah ada bagi kamu pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik (uswah hasanah), yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS.33, al Ahzab : 21).

[3]    وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ   Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran, 3 : 104 ).

Categories: ABS-SBK, Adat Basandi Syarak, Amar Makruf Nahi Munkar, Buku Buya, Buya Masoed Abidin, Dakwah Komprehensif, Komentar, Komentar Buya, Strategi Pendidikan Madani, Surau, Tauhid, Tulisan Buya, Uncategorized | Leave a comment

Jalan menuju Surga …

Jalan menuju Surga

Oleh H. Mas’oed Abidin

Sesungguhnya jalan menuju SURGA itu adalah dengan menahan diri dari hawa nafsu. Mengikuti hawa nafsu akan membawa jalan menuju NERAKA. Menahan diri dari godaan nafsu hanyalah karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesuai firman-Nya :

“ Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS: An-Naazi’aat: 40-41)

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah SAW :

حَفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحَفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ

NERAKA dikelilingi dengan SYAHWAT dan SURGA dikelilingi oleh KESULITAN KESULITAN

Jalan menuju ke NERAKA lebih disukai, seperti contohnya pergaulan antara lelaki dan perempuan tanpa batas, zina dan minuman memabukkan, korupsi dan penipuan untuk memperkaya diri, penyelewengan dan mengkhianati amanah jabatan dan ketidak pedulian dengan nilai-nilai kebaikan, termasuk memusuhi Allah dan para rasul, lari dan lalai dari menyembah Allah, ketundukan kepada materi, senang tolong menolong berbuat zholim.

Seseorang cenderung akan mengerjakan apa yang diinginkan nafsunya walau itu bertentangan dengan kehendak Allah dan Rasul. Hal ini mengakibatkan:

“ Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan,” (QS: Maryam: 59)

dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): “Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; Maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik“.(QS: Al-Ahqaaf: 20)

Jalan ke surga sulit bagi nafsu mengikutinya. Walau sebenarnya pekerjaan itu mudah, seperti Dzikir, pikir, tauhid, pengabdian, tawakal, khouf, harapan, wudhu, sholat, puasa, zakat, haji, hijab, tidak leluasa berduaan antara lelaki perempuan tanpa batas, tidak minum yang memabukkan, tidak berzinah, selalu berakhlak yang mulia (karimah), meninggalkan kemunafikan, bersabar atas semua di datangkan Allah dengan mengharap redha Nya.

Jalan ke surga harus ditempuh dengan jiwa yang sadar. Berpegang teguh kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apapun kesulitan tidak cepat berputus asa. Pada hakekatnya kesulitan bukan kesulitan.

Allah Azza wa Jalla tidak membebanikan pada diri hamba Nya sesuatu yang di luar pikulannya. Allah Azza wa Jalla selalu berada dekat dalam jiwa hamba Nya. Para Rasulullah telah mengingatkan berita gembira dengan Wahyu Nya.  Adzab hukuman dari Allah hanya teruntuk bagi yang melanggar ketentuan-ketentuan Allah di dunia. Kehidupan baik dan nikmat abadi disediakan bagi orang-orang yang berserah diri dan taat di dunia dan di akhirat.

Marilah kita memohon agar jalan hidup kita semata-mata diarahkan MENUJU JALAN KE SURGA. Kita memohon selalu kepada Allah swt, agar jalan hidup kita dihindarkan oleh Allah dari jalan MENUJU KE NERAKA.  Firman Alah ;

 “ Dan Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. “ (QS: Al-Kahfi: 29)

“ Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97).

Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.

Wasiat Rasulullah SAW

Ketika ajal Rasulullah makin dekat, Beliau pun memanggil para sahabat ke rumah Siti Aisyah dan Beliau bersabda: “Selamat datang, semoga Allah SWT mengasihi kalian, saya berwasiat kepada kalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah SWT dan mentaati segala perintah-Nya. Sesungguhnya hari perpisahan saya dengan kalian sudah dekat, itu berarti semakin dekat pula kembalinya seorang hamba kepada Allah SWT dan menempatkannya di surga-Nya.

“Kalau sampai ajalku, hendaklah Ali yang memandikanku, Fadhl  bin Abas hendaklah menuangkan air dan Usamah bin Zaid hendaklah menolong keduanya. Setelah itu kafanilah aku dengan pakaianku sendiri. Jika kalian menghendaki, kafanilah aku dengan kain Yaman yang putih. Jika engkau memandikan aku, hendaklah engkau letakkan aku di atas balai tempat tidurku dalam rumahku ini. Setelah itu kalian keluarlah sebentar meninggalkan aku.”

“Pertama yang akan menshalati aku ialah Allah SWT, kemudian diikuti oleh malaikat Israfil, Malaikat Mikail dan yang terakhir malaikat Izrail beserta dengan semua para pembantunya. Setelah itu, barulah kalian masuk semua mensalatiku.”

Setelah para sahabat mendengar ucapan yang sungguh menyayat hati itu, mereka pun menangis dengan suara yang keras dan berkata : “Ya, Rasulullah SAW Anda adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami dan untuk semua, selama ini Anda memberi kekuatan pada kami dan Anda pula pemimpin yang mengurus semua perkara kami. Apabila Anda sudah tiada nanti, kepada siapakah kami bertanya setiap ada persoalan muncul ?.”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda : “Dengarlah para sahabatku, aku tinggalkan kepada kalian jalan yang benar dan jalan yang terang, dan telah aku tinggalkan dua penasehat. Yang satu pandai bicara dan yang satu lagi diam saja. Yang pandai bicara itu adalah Alquran dan yang diam itu ialah maut. Apabila ada persoalan yang sulit dan berbelit di antara kalian, hendaklah kalian kembali kepada Alquran dan Hadistku dan sekiranya hati engkau keras, lembutkan dia dengan mengambil pelajaran dari mati.”

Setelah Rasulullah SAW berkata demikian, Beliau kemudian mulai merasakan sakit. Dalam bulan Safar Rasulullah sakit selama 18 hari dan sering diziarahi para sahabat. Dalam sebuah kitab diterangkan Rasulullah diutus pada Hari Senin dan wafat pada Hari Senin.

Pada Hari Senin penyakit Beliau bertambah berat. Setelah Bilal selesai adzan subuh, Bilal pun pergi ke rumah Rasulullah SAW. Sampai di sana, Bilal memberi salam : “Assalamu’alaika ya Rasulullah.” Lalu dijawab Fatimah :“Rasulullah SAW masih sibuk dengan urusan Beliau.”

Setelah Bilal mendengar penjelasan dari Fatimah, Bilal pun kembali ke masjid tanpa memahami kata-kata Fatimah itu. Ketika waktu subuh hampir habis, Bilal pergi sekali lagi ke rumah SAW dan memberi salam seperti tadi. Kali ini salam Bilal telah didengar Rasulullah SAW. Baginda berkata : “Masuklah wahai Bilal, sesungguhnya penyakitku ini semakin berat, oleh karena itu, kau suruhlah Abu Bakar mengimami salat subuh berjamaah dengan mereka yang hadir.” Setelah mendengar kata-kata Rasulullah, Bilal pun berjalan menuju masjid sambil meletakkan tangan di atas kepala, seraya berkata :“Aduh musibah.”

Setelah Bilal sampai di masjid, Bilal pun memberitahu Abu Bakar tentang apa yang telah Rasulullah SAW katakan kepadanya. Abu Bakar tidak dapat menahan dirinya saat ia melihat mimbar kosong. Lantas dengan suara keras Abu Bakar menangis hingga ia jatuh pingsan. Melihat peristiwa itu maka riuhlah dalam masjid, sehingga Rasulullah bertanya kepada Fatimah : “Wahai Fatimah apa yang telah terjadi?” Fatimah pun berkata : “Keriuhan kaum muslimin, sebab Anda tidak pergi ke masjid.”

Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali dan Fadhl bin Abas, lalu beliau bersandar pada kedua bahu mereka dan terus pergi ke masjid. Setelah sampai di masjid, Rasulullah pun salat subuh bersama dengan para jamaah. Setelah selesai salat subuh, Beliau berkata :“Wahai kaum muslimin, kalian senantiasa dalam pertolongan dan penjagaan Allah. Oleh karena itu, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah SWT dan mengerjakan segala perintah-Nya. Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia ini dan kalian. Hari ini adalah hari pertamaku di akhirat dan hari terakhirku di dunia.” Setelah berkata demikian, Rasulullah SAW pun pulang ke rumah.

Dalam Islam, setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya. Akibat buruk dan baik adalah buah perilakunya sendiri. Al Qur’an menyatakan :

“Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seseorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain. Dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.“ (Q.S Al-Israa’: 15).

 

Izrail Menjemput Rasulullah

Allah SWT mewahyukan kepada Malaikat Izrail : “Wahai Izrail, pergilah engkau kepada kekasihku dengan sebaik-baik wajah, dan jika engkau hendak mencabut rohnya, hendaklah engkau melakukan dengan cara yang paling lembut sekali. Jika engkau pergi ke rumahnya, minta izinlah terlebih dahulu. Kalau ia izinkan engkau masuk, maka masuklah engkau ke rumahnya dan kalau ia tidak izinkan engkau masuk, hendaklah engkau kembali padaku.”

Malaikat Izrail pun turun menyerupai orang Arab Baduwi. Setelah Malaikat Izrail sampai di hadapan rumah Rasulullah dan memberi salam : “Assalamu’alaikum yaa ahla bait nubuwwati wa ma danir risaalatia adkhulu?” (mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kalian, wahai penghuni rumah Nabi dan sumber risalah, bolehkah saya masuk?). Ketika Fatimah mendengar ada orang memberi salam, ia pun berkata : “Wahai hamba Allah, Rasulullah SAW sedang sibuk, sebab sakitnya yang semakin berat.”

Kemudian Malaikat Izrail berkata lagi seperti semula, dan kali ini seruan malaikat itu telah didengar oleh Rasulullah SAW, lantas beliau bertanya kepada Fatimah :“Wahai Fatimah, siapakah di depan pintu itu.” Fatimah menjawab : “Ya Rasulullah, ada seorang Arab Baduwi memanggilmu, aku telah katakan padanya bahwa Anda sedang sibuk sebab sakit, sebaliknya dia memandang saya dengan tajam sehingga badan saya terasa menggigil.” Kemudian Rasulullah SAW berkata :“Wahai Fatimah, tahukah engkau siapakah orang itu?Jawab Fatimah : “Tidak ayah.”  Rasulullah menjawab ; “Dia adalah Malaikat Izrail , malaikat yang akan memutuskan segala macam nafsu syahwat yang memisahkan perkumpulan-perkumpulan dan yang memusnahkan semua rumah serta meramaikan kubur.”

Fatimah tidak dapat menahan air matanya lagi setelah mengetahui, bahwa saat perpisahan dengan ayahandanya semakin dekat. Beliau pun berkata : “Janganlah engkau menangis wahai Fatimah, engkaulah orang pertama dalam keluargaku yang akan bertemu denganku.”

Rasulullah SAW mempersilahkan Malaikat Izrail masuk. Malaikat Izrail masuk dengan mengucap : “Assalamu’alaikum ya Rasulullah.” Lalu Rasulullah SAW menjawab : “Waalaikas-saalam, wahai Izrail, engkau datang menziarahi aku atau untuk mencabut rohku?” Berkata malaikat Izrail : “Kedatangan saya adalah untuk menziarahimu dan untuk mencabut rohmu, itupun kalau engkau izinkan. Kalau tidak engkau izinkan, aku akan kembali.” Berkata Rasulullah SAW :“Wahai Izrail, dimanakah engkau tinggalkan Jibril?” Berkata Izrail : “Saya tinggalkan Jibril di langit dunia, semua para malaikat sedang memuliakan dia.”

Tidak berapa lama, Jibril pun turun dan duduk dekat (di samping) kepala Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah SAW melihat kedatangan Jibril, Beliau pun berkata, “Wahai Jibril, tahukah engkau bahwa ajalku sudah dekat.” Berkata Jibril : “Ya aku tahu.”. Rasulullah bertanya; “Wahai Jibril, beritahu kepadaku kemuliaan yang menggembirakanku di sisi Allah SWT.” Berkata Jibril : “Sesungguhnya semua pintu langit telah dibuka, para malaikat berbaris rapi menanti rohmu di langit. Semua pintu surga telah dibuka, dan semua para bidadari sudah berhias menanti kehadiran rohmu.”

Berkata Rasulullah SAW “Alhamdulillah. Sekarang engkau katakan tentang umatku di hari kiamat nanti.” Berkata Jibril, Allah SWT telah berfirman  “Sesungguh nya Aku telah melarang semua para Nabi masuk ke dalam surga sebelum engkau masuk terlebih dahulu, dan aku juga melarang semua umat memasuki surga sebelum umatmu memasuki terlebih dahulu.”

Berkata Rasulullah SAW: “Sekarang aku telah lega dan telah hilang rasa susahku. Wahai Izrail, dekatlah engkau padaku.” Ketika rohnya sampai pada ubun-ubun (pusat), Rasulullah SAW berkata : “Wahai Jibril, alangkah dahsyatnya kematian itu.” Jibril mengalihkan pandangan dari Rasulullah SAW, ketika mendengar kata-kata Beliau. Melihat sikap Jibril itu Rasulullah SAW berkata :“Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka melihat wajahku?” Jibril berkata : “Wahai kekasih Allah, siapakah orang yang sanggup melihat wajahmu di kala engkau dalam sakaratul maut ?”

Anas bin Malik RA bercerita, ketika roh Rasulullah SAW sampai di dada, Beliau bersabda :“Aku wasiatkan kepada engkau agar kalian menjaga salat dan apa-apa yang telah diperintahkan kepadamu.”  

Ali bin Abi Thalib berkata : “Sungguh Rasulullah ketika menjelang saat terakhir, telah menggerakkan kedua bibir Beliau sebanyak dua kali, dan saya meletakkan telinga saya dekat dengan Rasulullah, seraya Beliau berkata : “Umatku, umatku.”

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS.3, Ali Imran ayat 144).

Nabi Muhammad s.a.w. hanya seorang manusia yang diangkat Allah menjadi rasul.  Rasul-rasul sebelumnya telah wafat. Ada yang wafat karena terbunuh ada pula yang karena sakit biasa. Nabi Muhammad s.a.w. juga akan wafat seperti halnya Rasul-rasul yang terdahulu itu. Ketika berkecamuknya perang Uhud tersiarlah berita bahwa Nabi Muhammad s.a.w. mati terbunuh. Berita ini mengacaukan kaum muslimin, sehingga ada yang bermaksud meminta perlindungan kepada Abu Sufyan (pemimpin kaum Quraisy). Orang-orang munafik mengatakan kalau Nabi Muhammad itu seorang Nabi tentulah Dia tidak akan mati terbunuh. Maka Allah menurunkan ayat ini untuk menenteramkan hati kaum muslimin dan membantah orang munafik itu.(Sahih Bukhari bab Jihad).

Abu Bakar r.a. membacakan ayat ini ketika terjadi kegelisahan di kalangan sahabat di hari wafatnya Nabi Muhammad s.a.w. untuk menenteramkan Umar Ibnul Khaththab r.a. dan sahabat-sahabat yang tidak percaya tentang kewafatan Nabi itu. (Sahih Bukhari bab Ketakwaan Sahabat).

إِنَّ اللهَ وَ مَلاَئِكَتِهِ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبـِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا.

Categories: ABS-SBK, Amar Makruf Nahi Munkar, Buku Buya, Buya Masoed Abidin, dakwah ilaa Allah, Komentar, Komentar Buya, Surau, Tauhid, Tulisan Buya, Uncategorized | Leave a comment

Napak Tilas Peristiwa Hijrah dari Makkah ke Madihah

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ(41)الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ(42)

“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pusti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adulah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakal.” (Q.S. An Nahl: 41-42)

Pada hari Kamis tanggal 26 Safar tahun 14 dari nubuwah, bertepatan dengan tanggal 12 September 622 M atau kira-kira selang dua bulan setengah setelah Baiat Aqabah Kubra di Darun Dakwah diadakan pertemuan tertutup yang dihadiri para wakil dan setiap kabilah Quraisy. (Mengenai hari, tanggal dan tahun banyak pendapat dan termasuk pula pendapat tentang kapan dilaksanakannya hijrah dan tibanya Rasulullah SAW di Quba dan memasuki Madinah, pen). Tampak hadir saat itu para orang-orang penting dan seluruh kabilah Quraisy, diantaranya: Abu Jalil bin Hisyam, dari kabilah Bani Makhzum,       Jubair bin Muth’im dan Thu’aimah bin Ady’ serta al Harits bin Amir dari Bani Naufal bin Abdi Manaf,    Syaibah dan Utbah, anak Rabi’ah serta Abu Sufyan bin Harb dari Bani Syams bin Abdi Manaf,          An Nadhr bin Al Harits dari Bani Abdid Dar (pernah melempar Rasulullah dengan isi perut binatang), Abul Bakhtary bin Hisyam, Zam’ah bin Al Aswad dan Hakim bin Hizam dari Bani Asad bin Abdul Uzza,      Nubih dan Munabbih, anak Al Hajjaj dari Bani Sahm,           Umayyah bin Khalaf dari Bani Jumah dan Undangan perorangan, Abu Lahab serta seorang tamu tak diundang yang mengaku berasal dan Najd (Diantara ulama tarikh mengatakan bahwa tamu tak diundang itu adalah Iblis yang berbentuk manusia dan ada juga yang tidak menyebutkan kehadiran Abu Lahab dalam pertemuan ini).

Inti permasalahan yang mereka bicarakan adalah bahwa mereka ingin menyingkirkan bahaya yang mengancam eksistensi mereka. Dan ancaman itu bersumber dan pembawa panji dakwah Islam, tak lain adalah Muhammad SAW.

Banyak pendapat dan usulan yang diajukan peserta rapat dalam mencari cara  efektif dan jalan keluar untuk “menghabisi” orang yang dianggap paling berbahaya ini. Setelah berpikir keras dan di saat berbagai usulan dan cara pemecahan mulai disampaikan. tenjadi perdebatan yang cukup alot. Rapat dibuka o]eh Abu Jahal. Sebagai kata pengatar dan pembuka rapat ia berkata: “Hari ini, para pemuka dan ketua dan kabilah-kabilah Arab dan para pemimpin Quraisy serta para pembesar dan tiap-tiap suku bangsa Quraisy harus mengambil keputusan yang sesung-guhnya, cara apa yang hendak kita jalankan untuk memus-nahkan pergerakan Muhammad yang sedang menyala-nyala di segenap penjuru daerah Hijaz ini?  Rapat hari ini adalah rapat kita yang terkhir untuk memecahkan soal ini. Marilah soal ini kita penbincangkan bersama-­sama sebelum kita mengambil suatu keputusan yang pasti!“

Abul Aswad berkata, “Kita usir dan enyahkan dia dari tengah kita. Setelah itu kita tidak ambil pusing ke mana ia akan pergi dan bagaimana nasibnya. Kita tangani urusan kita sendiri dan kita galang persatuan seperti dulu lagi. Usulan ini disambung dengan usulan Abu Bakhtary “Masukkan dia ke dalam kerangkeng besi, tutup pintunya rapat-rapat, kemudian biarkan dia seperti nasib yang dialami para penyair sebelumnya (Zuhair dan An Nabighah) hingga meninggal dunia.”

Setelah dua usulan ini dan usulan dan peserta rapat lainnya ditolak, maka ada satu usulan lagi yang akhirnya diterima oleh peserta rapat. Usulan itu disampaikan oleh Abu Jahal la‘natullah alaih -versi lain mengatakan usulan ini disampaikan oleh Abu Lahab. Dia berkata, “Menurutku, kita tunjuk seorang yang gagah perkasa, berdarah bangsawan dan biasa menjadi penengah dari setiap kabilah. Masing-masing pemuda kita beri pedang yang tajam, lalu mereka harus mengepungnya, kemudian menebas Muhammad dengan sekali. tebasan, layaknya tebasan satu orang hingga ia meninggal. Dengan begitu kita bisa merasa tenang dari gangguannya. Jika mereka berbuat seperti itu, maka darahnya bercecer dari semua kabilah, sehingga Bani Abdi Manaf tidak akan sanggup memerangi semua kaumnya, dan dengan lapang dada mereka akan menerima keadaan ini dan kita pun menerimanya.”

Sebagaimana yang telah dirancang, rencana jahat itu akan dilaksanakan pada tengah malam. Tetapi Allah Al Hafidz, Yang Maha Memelihara, Menjaga dan Melindungi Nabi dan Rasulnya, Muhammad SAW. Firman Allah SWT surat Al Anfal :30

Malaikat Jibril menyampaikan perintah Allah bahwa Allah memerintahkan beliau berangkat hijrah ke Madinah. Jibril berkata: “Wahai Rasulullah! Jangunlah engkau tidur malam ini di atas tempat tidur engkau yang engkau telah biasa tidur diatasnya. Sesungguhnya Allah memerintahkan agar engkau segera berhijrah ke Madinah.”

Pada saat-saat yang kritis itu Rasulullah SAW bersabda ke pada Ali bin Abi Thalib ra, “Tidurlah di atas tempat tidurku, benselimutlah dengan mantelku. Sesung-guhnya engkau tetap akan aman dari gangguan mereka yang engkau khawatirkan.”

Kemudian keluarlah beliau dan rumahnya menuju rumah Abu Bakar ra. Setelah beliau masuk ke rumah Abu Bakar, beliau bersabda ke pada Abu Bakar ra:“Sesungguhnya Allah Ta‘ala telah mengizinkan aku keluar dan hijrah (dari Makkah ke Madinah)” Abu Bakar bertanya: “Bertemankan saya wahai Rasulullah?“ Beliau menjawab:  “Ya, Dengan izin Allah”

Malam hari sebelum fajar menyingsing, tanggal 27 Shafar tahun 14 dari nubuwah, Rasulullah bersama sahabat beliau Abu Bakar pergi meninggalkan rumah ke kuar dari Makkah menuju ke sebuah gunung yang bemama Tsaur dengan jarak tempuh kurang lebih lima mil.

Jalan menuju gua di gunung Tsaur ini cukup terjal, menanjak sulit dan berat. Beliau berjalan tanpa mengenakan alas kaki. bahkan ada yang menyebutkan bahwa beliau berjalan dengan cara berjinjit, agar tidak meninggalkan jejak dan bekas telapak di atas tanah.

Setelah tiga malam berada di gua, maka pada malan senin tanggal 1 Rabi’ul Awwal tahun pertama H. Atau pada tanggal 16 September 622 M., Rasulullah SAW, Abu Bakar ra., Amir bin Fuhairah beserta seorang penunjuk jalan yang bernama Abdullah bin Uraiqith keluar dar gua berangkat menuju Madinah. Rasulullah SAW duduk di atas unta yang dalam kitab tarikh disebutkan dengan nama “al Qushwa”.

Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfury dalam buku Sirahnya Ar Rahiq al Makhtum menukil dan Ibnu Ishaq mengenai daerah dan tempat yang dilalui oleh Rasulullah SAW, yaitu Usfan. dataran rendah amaj melewati Qudaid, Al Harrar, Tsaniyatul Marrah, Liqfa. Madlajah Liqf. Madlajah Majah, Marjih Mahaj, Marjih Dzil Ghadhawain, Dzi Kasyr, Al Jadajid. Al Ajrad, Dzu Salam, Madlajah Ti’hin, Al Ababid, Al Fajjah, Al Arj, Tsaniyatul A’ir dar arab kanan Rakubah, Ri’m. lalu tiba di Quba.”

Pada hari Senin tanggal 8 Rabi’ul Awwal tahun ke 14 dari nubuwwah atau tahun pertama dar hijrah. bertepatan dengan tanggal 23 september 622 M., Rasulullah dan rombongan tiba di Quba dengan sambutan yang luar biasa oleh kaum musliinin yang ada di sana. Kemudian berjalan hingga berhenti di Bani Amr bin Auf. Abu Bakar berdiri, sementara Rasulullah duduk sambil diam. Orang-orang Anshar yang belum pernah melihat dan bertemu Rasulullah. mengira bahwa yang berdiri itulah Rasulullah (padahal Abu Bakar). Tatkala panas matahari mengenai Rasulullah, maka Abu Bakar segera memayungi beliau dengan mantelnya Saat itulah mereka baru tahu bahwa yang duduk dan diam itulah Rasulullah SAW.

Rasulullah di Quba berada di rumah Kultsum bin Al Hidm. Beliau berada di Quba selama empat hari, yaitu hari Senin. Selasa. Rabu dan Kamis. Di sana beliau dan para sahabat juga kaum muslimin lainnya membangun masjid Quba dan shalat di dalamnya. Pada hari Jum’at beliau melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Shalat Jum’at dilaksanakan di Bani Salim bin Auf. Seusai shalat Jum’at. Rasulullah beserta rombongan memasuki Madinah. Sejak hari itu lah Yatsrib dinamakan Madinatur Rasul yang kemudian disingkat dengan nama Madinah (Madinah al Munawwarah).

Wassalamu’alaikum

Buya H.Mas’oed Abidin

Categories: Amar Makruf Nahi Munkar, Buya Masoed Abidin, dakwah ilaa Allah, Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia, Globalisasi, HAM, Hijrah, Komentar, Komentar Buya, Pendidikan, Surau, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

Hijrah Meninggalkan Jahiliyyah


وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan orang-orang yang berhaijrah karena Allah setelah mereka dianiaya. Pasti kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar kalau mereka mengetahui”

(Q.S. An Nahl: 41)

Peringatan Tahun Baru Hijriyyah selalu menyegarkan ingatan kita akan peristiwa Hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW beserta para sahabat beliau dari kota Makkah menuju Madinah. Sedemikian besar nilai yang terkandung di dalam peristiwa tersebut, sehingga Khalifah Umar bin Klathtbab r.a menjadikannya sebagai awal perhitungan tahun Islam. Menurut Prof. Dr. Nourouzaman Shiddiqi, MA dalam bukunya” Jeram-jeram Peradaban Muslim”, Tahun Hijriyyah ditetapkan oleh Umar bin Khaththab pada tahun ketujuh belas dihitung dari tahun terjadinya peristiwa Hijrah atau tahun kelima dari masa pemerintahannya (halaman 81).

Menurut Ibnu Qayyim al Jauziyyah, hijrah terdiri dan dua jenis besar.

Pertama, hijrah fisik, berupa perpindahan fisik baik personal maupun massal dari satu daerah ke daerah lain.

Kedua, hijrah hati nurani. Hijrah ini tidak sekedar memerlukan perpindahan fisik, melainkan lebih pada orientasi niat dan aktifitas hati. Berhijrah dalam bentuk kedua ini adalah berangkat dari sesuatu yang haram menuju yang halal. Meninggalkan sesuatu yang syubhat menuju yang haq. Mencampakkan sesuatu yang bersifat kemaksiatan dan kekufuran menuju rahmat dan ridha llahi. Menjauhi segala bentuk kedzoliman menuju kemaslahatan dan keadilan. Mencegah yang munkar, menganjurkan yang ma’ruf.

Meninggalkan yang dilarang oleh Allah dan mengerjakan yang diperintahkan-Nya. Memusnahkan tradisi dan budaya Jahiliyyah menuju tradisi dan budaya Islamy. Sebagaimana keterangan sebuah Riwayat yang bersumber dan Sayyidah ‘Aisyah r.a yang menerangkan sebuah hadits Rasulullah SAW “bahwa sesudah penaklukkan Makkah tidak ada lagi hijrah, melainkan yang ada adalah Jihad dan niat” (H.R. Ahmad).

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan, bahwa yang kita perlukan dan harus kita lakukan adalah hijrah rohani dengan cara mengamalkan seluruh ajaran Islam yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW dengan benar dan utuh serta menyeluruh, tidak setengah hari. Berjuang fi Sabilillah dengan harta dan pikiran, berbuat ihsan (kebajikan), melaksanakan semua perintah Allah dalam bentuk ibadah dan amal sholeh serta menjauhi semua yang dilarang oleh Allah SWT. Terakhir adalah menyegerakan tobat dan ingat mati. Dan yang tak kalah pentingnya dan makna hijrah bagi kita Ummat Islam saat ini adalah bagaimana sikap kita dalam memusnahkan tradisi dan budaya jahiliyyah dan kemudian melestarikan tradisi dan budaya yang Islami yang penuh ridho Allah SWT. Situasi batin yang demikianlah yang dirasakan oleh kaum Muslimin ketika berada dalam naungan Negara Madinah yang sepenuhnya tunduk kepada ketentuan Islam yang rahmatan lil ‘alamin itu.

Ada beberapa karakteristik Jahiliyyah yang perlu kita ketahui. Diantaranya adalah:

Pertama, pengkultusan individu. Allah SWT berfir-man: “Ingatlah hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata) “kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (Q.S. Az-Zumar :3)

Kedua,   bertahan dengan tradisi nenek moyang yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Dalam hal ini Allah SWT memaparkan dalam firman-Nya: “Apabila dikatakan kepada mereka: “ Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul, “Mereka menjawab, “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya“. Dan apakah mereka akan tetap mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula,) mendapat petunjuk?“ (Q.S Al Maa-idah:104)

Ketiga, perjudian dan minuman keras serta tradisi mabuk­-mabukkan. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaithan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat maka berhentilah kamu (dar mengerjakan perbuatan itu).” (Q.S Al Maidah : 90-91)

Keempat, perzinahan yang terlokalisir (Prostitusi) Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu mendekati Zina, Sesungguhnya Zina itu adalah suatu perbuatan keji. Dan suatu jalan yang buruk” (Q.S Al-Isra’: 32)

Kelima, tabarruj (khususnya bagi wanita. Suka ber-solek dan mempertontonkan keelokan tubuh dan kecantikannya kepada khalayak ramai). Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku (tabarruj) seperti orang jahiliyyah yang dahulu.“ (Q.S. Al Ahzab : 33)

Keenam, menganggap riba sama dengan perdagangan yang sah. Allah SWT berfirman: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaithan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demiklan itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesung-guhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dan mengambil nba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni nereka, mreka kekal di dalamnya”. (Q.S Al-Baqarah: 275)

Ketujuh, menganggap hukuman Allah tidak relevan dan menganggap enteng serta mempermainkannya. Allah SWT. Berfirman: “Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik dari pada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Q.S Al-Maidah: 50)

Sebagai penutup dari tulisan ini, marilah kita berdoa kehadirat Allah SWT semoga Allah selalu menjaga dan memelihara serta melindungi kemurnian aqidah yang telah kita miliki serta menyempurnakannya dengan rahmat serta hidayah-Nya yang pasti selalu kita idamkan. Dan hanya ridho-Nya lah yang kita harap.

Allahu A’lam bi as-Shawwab.

Wassalam

Buya H.Mas’oed Abidin

Categories: ABS-SBK, Adat Basandi Syarak, Buya Masoed Abidin, dakwah ilaa Allah, Hijrah, Komentar, Komentar Buya, Surau, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

Memanfaatkan Ramadhan Dengan Optimal dalam merebut derajat Muttaqin yang “ihtisab” (selalu berhatihati)

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Alhamdulillah, dalam upaya mendorong umat Islam untuk meraih keampunan Allah pada bulan Ramadhan Mubarak, kita temui pesan Rasulullah SAW  yang bermaksud ;  “Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan dasar iman dan ihtisab, niscaya diampunkan dosa-dosanya terdahulu.”

Ada beberapa kaedah yang dapat memandu kita ke arah pencapaian derajat Muttaqin dengan kehatihatian menjaga ibadah puasa Ramadhan ini, antara lain :

  1. Hendaklah selalu bergiat dengan amalan yang baik agar bulan Ramadhan Mubarak ini dapat memberi peluang emas dalam melakukan muhasabah  atau penilaian terhadap nilai amalan  ibadat selama ini. Melalui ibadah (ta’mir) Ramadhan dapat menyimak dan meluruskan perjalanan kehidupan kita semua. Hendaklah mengambil iktibar (pelajaran) bahwa peredaran waktu dan perputaran jarum jam mengingatkan kita bahwa usia ini semakin berkurang. Dalam hitungan umur bertambah, tetapi kenyataannya jatah hidup di dunia ini makin pendek. Manfaatkan masa beristighfar di dalam bulan Ramadhan Mubarak ini.
  2. Hendaklah di bulan Ramadhan tekun menunaikan sholat fardhu dan sholat Tarawih dengan berjamaah, meramaikan masjid dimanapun kita berada. Rasulullah SAW telah bersabda bahwa .. “Sesiapa saja  sholat (berjamaah) bersama imam (lalu ditunggunya) sehingga imam beredar (beringsut dari tempat duduknya), niscaya akan ditulis baginya ganjaran beribadat satu malam”.
  3. Biasakanlah lidah untuk berzikir terus menerus, dan jangan tergolong ke dalam kategori orang-orang yang hanya berdzikir sedikit saja. Bulan Ramadhan adalah bulan ibadat dan beramal, bukan bulan untuk tidur dan bermalas-malasan.
  4. Semasa kita merasakan “lapar” karena “menahan” dalam melaksanakan ibadah puasa, ingatlah selalu bahwa kita adalah makhluk yang lemah. Kita tidak akan mendapatkan berbagai makanan dan minuman serta nikmat sekarang ini, apabila bukan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memberikannya. Bergiatlah agar tetap memberi makanan untuk orang yang berbuka puasa, keuntungannya amat besar di sisi Allah Azza wa Jalla. Bentuklah diri menjadi hamba Allah yang bersyukur.
  1. Rebutlah peluang pada bulan Ramadhan ini untuk menjauhi buat selama-lamanya segala sesuatu yang tidak bermanfaat. Jauhilah segala yang dapat mendatangkan mudharat.   Ketahuilah bahwa bulan Ramadhan Mubarak ini adalah tetamu yang hanya datang sekejap saja. Maka layanilah ia dengan baik. Ingatlah bahwa sebentar lagi Ramadhan ini akan segera pergi bila Syawal telah menjelang. Akan susah mendatanginya lagi jika dia telah menghilang. Manfaatkan waktu Ramadhan semasa masih bersama kita. Ketahuilah bahwa amal ibadat itu adalah satu amanah. Hisab dan koreksilah diri, apakah sudah melakukan amal ibadah seperti yang dituntut atau dikehendaki oleh Allah dan Rasul Nya?
  1. Ketahuilah bahwa Allah SWT bersifat Maha Pemurah dan Maha Penyayang.  Allah menerima taubat daripada orang-orang yang bertaubat. Dan Allah juga bersifat Maha  dahsyat siksaanNya. Ketahuilah pula bahwa Allah adakalanya menangguhkan siksaanNya, tapi ketahuilah bahwa Allah itu samasekali tidak pernah lengah dan lalai. Besegeralah memohon kemaafan dari pihak yang pernah terzalimi sebelum ia sempat merebut dan merampas pahala amal soleh yang kita lakukan.
  2. Ketahuilah bahwa Allah SWT memang membolehkan hambaNya melakukan sesuatu yang akan menghibur diri. Menghabiskan masa untuk semata mata berhibur santai, niscaya akan melenyapkan peluang buat merebut kebajikan. Ingatlah, apabila anda melakukan maksiat lalu Allah menutupi kasus anda, maka sadarilah bahwa yang demikian itu adalah satu peringatan buat anda, agar anda segera bertaubat. Bersegeralah bertaubat. Tanamkanlah azam (keteguhan hati) untuk tidak kembali malakukan maksiat. Hindarilah bergaul dengan teman-teman jahat. Giatlah bergaul dengan golongan solihin dan orang-orang yang baik.
  3. Jauhilah sifat “mubazir” dalam perbelanjaan, makan-minum, dan lain-lain di dalam bulan Ramadhan ini. Perbuatan mubazir adalah satu perbuatan yang amat dibenci oleh Allah. Mubazir itu perbuatan syaithan. Perilaku mubazir  akan mengurangkan amalan sedekah. Padahal amalan sedekah akan mendapat ganjaran pahala yang besar dari sisi Allah Azza wa Jalla, serta akan membuka berpuluh puluh pintu kebaikan dan rezeki. Jangan berlebih-lebihan dalam hal menyediakan berbagai jenis makanan berbuka (dan sahur). Hal ini akan membuat ahli keluarga sibuk, lantas mereka akan kehilangan peluang di siang (dan malam) hari memperbanyak tilawah Al-Quran. Kurangilah kegiatan mendatangi pusat-pusat perniagaan pada malam-malam bulan Ramadhan, terutama sekali di akhir Ramadhan, agar masa keemasan tersebut tidak hilang lenyap tanpa bekas dalam jiwa dan pembinaan karakter shaum Ramadhan ini.
  4. Bergiatlah memperdalam ilmu dalam bidang tafsir Al-Quran, Hadis Rasulullah SAW, sejarah Islam, dan ilmu-ilmu agama, karena menuntut ilmu adalah ibadat. Bimbinglah orang yang di bawah penjagaan kita ke arah yang bermanfaat  dalam hal agama. Anak turunan yang dalam bimbingan kita akan lebih mudah menerima bimbingan dari pembimbingnya bila dibanding jika diberikan oleh orang lain.
  5. Rebutlah peluang beriktikaf walaupun hanya sebentar.  Sebaik baiknya manfaatkan 10 malam Ramadhan terakhir, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah.
  6. Bergiatlah melakukan Qiyamullail di sepuluh malam terakhir Ramadhan karena di dalamnya terdapat malam utama, yakni Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.
  7. Janganlah sekali-kali berbuka di siang hari tanpa uzur syar’i. Barang siapa berbuka pada suatu hari di siang hari di bulan mulia ini, ia tidak akan dapat mengganti (mengqadha)nya dengan puasa walau satu tahun.
  8. Bercita citalah dengan teguh hati untuk melanjutkan kebiasaan baik yang dapat dibuat di dalam bulan Ramadhan Mubarak ini. Berharaplah  akan meneruskan kebiasaan baik itu sesudah bulan Ramadhan berangkat meninggalkan kita kelak. Rebutlah peluang dan kesempatan untuk melakukan puasa-puasa sunat, dan jangan hanya merasa cukup karena telah berpuasa dengan puasa Ramadhan ini saja. Masih banyak kesempatan berpuasa sunat di luar Ramadhan.
  9. Semasa beriang gembira di Hari Raya, ingatlah, bahwa dikeliling kita ada terdapat golongan anak yatim, golongan dhu’afa yang fuqara’ dan golongan masikin. Ketahuilah bahwa amal baik terhadap mereka adalah ketika kita mampu mengubah keadaan mereka (sehingga tidak berkeliling meminta minta). Bersegeralah mensyukuri nikmat Allah, dengan mengulurkan bantuan buat mereka. Biasakan diri pergi seawal mungkin ke mesjid sebagai bukti kerinduan yang mendalam kepada kasih sayang Allah Azza wa Jalla. Bertakbirlah dengan suara nyaring pada malam Hari Raya, dan di pagi harinya sehingga sampai menunaikan solat Idul Fithri.
  10. Simpulannya, lakukanlah muhasabah terhadap segala hal dan urusan. Pelihara  solat berjamaah. Tunaikan zakat. Hubungkan silatur rahim. Berbakti kepada kedua ibu-bapa. Beri perhatian terhadap jiran tetangga. Maafkan orang-orang yang ada perselisihan dengan kita. Hindarkan diri dari perbuatan mubadzir. Didik orang yang di bawah tanggungan jawab kita. Ambil perhatian yang sungguh sungguh terhadap kehidupan sesama muslim. Jangan diselewengkan jabatan dan kepercayaan umat untuk kepentingan diri sendiri. Tumbuhkan kerinduan dan perasaan gembira terhadap nasihat ke arah kebaikan. Jauhi sifat ria. Cintai saudara atau teman sejawat seperti mana sikap mencintai terhadap diri  sendiri. Selalu berusaha untuk islah yakni menyelesaikan hubungan yang retak, menajauhi ghibah (gunjing). Perbanyak tilawah Al-Quran, merenungkan maknanya, dan khusyuk semasa mendengarkan Kalamullah. La’allakum Tattaquun. La’allakum tasykuruun. Insyaallah akan dapat meraih puasa yang “ihtisab”, sehingga “ghufira lahuu maa taqaddama min dzanbihi”  yakni akan diampuni dari dosa dosanya terdahulu.  Semoga kita mampu mengingati dan mengamalkannya.  Wassalam

Padang, 1 Ramadhan 1432 H / 1 Agustus  2011

Categories: Amar Makruf Nahi Munkar, Buya Masoed Abidin, Komentar, Komentar Buya, Puasa Ramadhan, Ramadhan, Surau, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

Panduan Amalan Puasa Ramadhan untuk meraih derajat “ihtisab” (berhatihati)

Oleh : H. Mas’oed Abidin

            Alhamdulillah, dalam upaya mendorong umat Islam untuk meraih keampunan Allah pada bulan Ramadhan Mubarak, kita temui pesan Rasulullah SAW  yang bermaksud ;  “Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan dasar iman dan ihtisab, niscaya diampunkan dosa-dosanya terdahulu.”

            Ada beberapa kaedah atau pendekatan yang dapat memandu kita ke arah pencapaian derajat kehatihatian dalam memelihara ibadah puasa di dalam Ramadhan ini atau untuk meraih maqam ihtisab itu, antara lain :

  1. Hendaklah selalu bergiat dengan amalan yang baik agar bulan Ramadhan Mubarak ini dapat memberikan peluang emas bagi kita dalam melakukan muhasabah  atau penilaian terhadap nilai amalan  ibadat kita selama ini. Dengan atau melalui ibadah di dalam bulan Ramadhan ini kita dapat menyimak dan membetulkan atau meluruskan perjalanan kehidupan kita semua. Hendaklah mengambil iktibar (pelajaran) bahwa peredaran waktu dan perputaran jarum jam akan mengingatkan kita semua bahwa usia ini semakin berkurang. Dalam hitungan umur bertambah, tetapi kenyataannya jatah masa hidup di dunia ini makin pendek. Oleh karena itu pergunakanlah masa beristighfar di dalam bulan Ramadhan Mubarak ini.
  2. Hendaklah di bulan Ramadhan tekun menunaikan sholat fardhu dan sholat Tarawih dengan berjamaah, meramaikan masjid dimanapun kita berada. Rasulullah SAW telah bersabda bahwa .. “Sesiapa saja  sholat (berjamaah) bersama imam (lalu ditunggunya) sehingga imam beredar (beringsut dari tempat duduknya), niscaya akan ditulis baginya ganjaran beribadat satu malam”.
  3. Biasakanlah lidah untuk berzikir secara terus menerus, dan janganlah tergolong ke dalam kategori orang-orang yang tidak mau berzikir atau hanya berdzikir sedikit saja. Bulan Ramadhan adalah bulan ibadat dan bulan beramal, bukan bulan untuk tidur dan bermalas-malasan. 
  4. Semasa kita merasakan “lapar” karena “menahan” dalam melaksanakan ibadah puasa, maka ingatlah selalu bahwa kita adalah makhluk yang lemah. Kita tidak akan mendapatkan berbagai makanan dan minuman serta nikmat yang ada di tangan kita sekarang ini, apabila bukan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memberikannya. Bergiatlah agar kita tetap memberi makanan untuk orang yang berbuka puasa, karena keuntungannya amat besar dari sisi Allah Azza wa Jalla.Maka bentuklah diri menjadi hamba Allah yang bersyukur.
  5. Rebutlah peluang pada bulan Ramadhan ini untuk menjauhi buat selama-lamanya segala sesuatu yang tidak bermanfaat buat kita, jauhilah segala yang dapat mendatangkan mudharat kepada kita.  Ketahuilah bahwa bulan Ramadhan Mubarak ini adalah tetamu yang hanya datang sekejap saja. Maka layanilah ia dengan baik. Ingatlah bahwa sebentar lagi Ramadhan ini akan segera pergi bila Syawal telah menjelang. Akan susah mendatanginya lagi jika dia telah menghilang. Manfaatkan waktu selagi Ramadhan masih bersama kita. Ketahuilah bahwa amal ibadat itu adalah satu amanah, oleh sebab itu hisab dan koreksilah diri, apakah sudah melakukan amal ibadah seperti yang dituntut atau dikehendaki oleh Allah dan Rasul Nya?
  6. Ketahuilah bahwa Allah SWT bersifat Maha Pemurah dan Maha Penyayang, Allah menerima taubat daripada orang-orang yang bertaubat. Dan Allah juga bersifat Maha  dahsyat siksaanNya. Ketahuilah pula bahwa Allah adakalanya menangguhkan siksaanNya, tapi ketahuilah bahwa Allah itu samasekali tidak pernah lengah dan lalai. Besegeralah memohon kemaafan dari pihak yang pernah terzalimi sebelum ia sempat merebut dan merampas pahala amal soleh yang kita lakukan. 
  7. Ketahuilah bahawa Allah SWT memang membolehkan hambaNya melakukan sesuatu yang akan menghibur diri (dari kepenatan), akan tetapi menghabiskan masa untuk semata mata berhibur santai, niscaya tentu saja akan melenyapkan peluang buat merebut kebajikan. Apabila anda melakukan maksiat lalu Allah menutupi kasus anda, maka sadarilah bahwa yang demikian itu adalah satu peringatan buat anda, agar anda segera bertaubat. Maka oleh sebab itu bersegeralah bertaubat, tanamkanlah azam (keteguhan hati) untuk tidak kembali malakukan maksiat tersebut. Hindarilah bergaul dengan teman-teman jahat, giatlah bergaul dengan golongan solihin dan orang-orang yang baik. 
  8. Jauhilah sifat “mubazir” dalam perbelanjaan, makan-minum, dan lain-lain di dalam bulan Ramadhan ini. Perbuatan mubazir adalah satu perbuatan yang amat dibenci oleh Allah karena mubazir itu perbuatan syaithan. Perilaku mubazir  akan mengurangkan amalan sedekah. Padahal amalan sedekah akan mendapat ganjaran pahala yang besar dari sisi Allah Azza wa Jalla, serta akan membuka berpuluh puluh pintu kebaikan dan rezeki. Jangan berlebih-lebihan dalam hal menyediakan berbagai jenis makanan berbuka (dan sahur), hal ini akan membuat ahli keluarga sibuk, lantas mereka akan kehilangan peluang di siang (dan malam) hari memperbanyak tilawah Al-Quran. Kurangilah kegiatan mendatangi pusat-pusat perniagaan pada malam-malam bulan Ramadhan, terutama sekali di akhir Ramadhan, agar masa keemasan tersebut tidak hilang lenyap sedemikian rupa tanpa bekas dalam jiwa dan pembinaan karakter shaum Ramadhan ini. 
  9. Bergiatlah memperdalam ilmu dalam bidang tafsir Al-Quran, Hadis Rasulullah SAW, sejarah Islam, dan ilmu-ilmu agama, kerana menuntut ilmu adalah ibadat. Bergiatlah membimbing orang-orang di bawah penjagaan kita ke arah yang bermanfaat buat mereka dalam hal agama, mereka akan lebih mudah menerima bimbingan daripada orang yang menjaganya jika dibandingkan dengan bim,bingan dari orang lain. 
  10. Rebutlah peluang beriktikaf walaupun hanya sebentar.  Sebaik baiknya manfaatkan 10 malam Ramadhan terakhir, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam. Bergiatlah melakukan Qiyamullail di sepuluh terakhir Ramadhan, karena akhir malam Ramadhan itu adalah malam utama, di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, lebih baik dari seribu bulan.
  11. Janganlah sekali-kali berbuka di siang hari tanpa uzur syar’i, karena barang siapa berbuka pada suatu hari di siang hari di bulan mulia ini, ia tidak akan dapat mengganti (mengqadha)nya dengan puasa walau satu tahun.
  12. Bercita citalah dengan teguh hati untuk melanjutkan kebiasaan baik yang dapat dibuat di dalam bulan Ramadhan Mubarak ini. Berharaplah pula  akan meneruskan kebiasaan baik itu sesudah bulan Ramadhan berangkat meninggalkan kita kelak. Sebaik baiknya hendaklah merebut peluang dan kesempatan untuk melakukan puasa-puasa sunat, dan jangan hanya merasa cukup karena telah berpuasa dengan puasa Ramadhan ini saja. Masih banyak kesempatan berpuasa sunat di luar Ramadhan.
  13. Semasa beriang gembira di Hari Raya, ingatlah, bahwa dikeliling kita ada terdapat golongan anak yatim, golongan dhu’afa yang fuqara’ dan golongan misikin. Ketahuilah bahawa di antara jasa baik terhadap mereka adalah ketika kita mampu mengubah keadaan mereka (sehingga tidak berkeliling meminta minta). Oleh karena sedemikian itu bersegeralah mensyukuri nikmat Allah, dan mengulurkan bantuan buat mereka. 
  14. Ketahuilah bahwa Hari Raya Idul Fithri adalah hari bersyukur kepada Allah. Maka,  jangan jadikan hari raya itu menjadi hari “kebebasan” dari perkara-perkara yang dilarang dimana selama sebulan ini kita telah dilatih “menahan diri” atau imsak daripadanya pada bulan mulia (bulan Ramadhan). Membiasakan diri pergi seawal mungkin (tabkir) ke mesjid adalah sebagai bukti menunjukkan kerinduan yang mendalam kepada kasih sayang Allah Azza wa Jalla. Baik sekali bertakbir dengan suara nyaring pada malam Hari Raya, dan di pagi harinya sehingga sampai kepada menunaikan waktu solat di pagi Hari Raya Idul Fithri. 
  15. Lakukanlah muhasabah terhadap segala perihal dan urusan, terutama sekali mengenai : memelihara solat berjamaah, menunaikan zakat, hubungan silatur rahim, berbakti kepada kedua ibu-bapa, memberi perhatian terhadap jiran tetangga, memaafkan orang-orang yang ada hubungan perselisihan dengan kita,  menghindarkan diri dari perbuatan mubadzir,  mendidik orang yang di bawah tanggungan jawab kita, mengambil perhatian yang sungguh sungguh terhaadap kehidupan sesama muslim, tidak menggunakan jabatan dan kepercayaan umat untuk kepentingan diri sendiri, tumbuhkan kerinduan dan perasaan gembira terhadap nasihat dan tunjuk ajar ke arah kebaikan, menjauhi sifat ria, mencintai saudara atau teman sejawat sepertimana sikap mencintai terhadap diri  sendiri, sentiasa berusaha untuk islah yakni menyelesaikan hubungan yang retak, menajauhi ghibah (gunjing), memperbanyak tilawah Al-Quran, merenungkan maknanya, dan khusyuk semasa mendengarkan Kalamullah.

Insyaallah dengan perpegangan tersebut kita akan dapat meraih puasa yang “ihtisab”, sehingga “ghufira lahuu maa taqaddama min dzanbihi”  yakni akan diampuni dari dosa dosanya terdahulu.

Semoga kita mampu mengingati dan mengamalkannya.

Wassalam

Padang, 29 Sya’ban 1432 H /  30 Juli 2011

 

Categories: Buya Masoed Abidin, Komentar, Komentar Buya, Puasa Ramadhan, Ramadhan, Surau, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

DALAM SAHUR ADA BAROKAH

oleh: H. Mas’oed Abidin

Sabda Rasulullah SAW “Bersahurlah kamu, karena dalm sahur itu ada keberkatan” (Al Hadist riwayat enam perawi hadist kecuali Abu Daud). Sahur adalah pertanda awal pelaksanaan ibadah puasa di setiap hari.

Bersahur adalah  suatu suruhan (sunnah) Rasulullah SAW, yang juga merupakan rahmat dari Allah.  Sahur memiliki kaitan erat dengan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Sahur hendaklah pelaksanaannya di tak-khir kan atau dilambatkan waktu nya menjelang mendekati  waktu subuh. Maksudnya supaya dapat dipersiapakan kekuatan jasmani di siang hari di kala menahan (imsak), juga supaya shalat shubuh sebagai salah satu sendi asas Agama Islam itu tidak tercecerkan. 

Sahur merupakan pembeda antara puasa umat Islam dengan kalangan non Islam (Yahudi, Nasrani) dan sebagainya.

Bagi masyarakat muslim di Minangkabau makan sahur disebut makan parak siang atau makan sebelum fajar pertanda siang akan datang. Selanjutnya bimbingan Allah dalam firmanNya menyebutkan bahwa pada malam hari bulan Ramadhan itu seseorang Muslim dapat melakukan hubungan dengan keluarganya, dapat juga makan dan minum hingga terbitnya fajar, sebagaimana isi Wahyu Al Quran berbunyi ; “ wa kuluu wa-asyrabuu hatta yatayyana lakum al khiatul abyadhu min al khaitil aswadi minal fajr, tsumma atimmu ash-shiyaama ila al-laili” artinya “makanlah dan minumlah hingga kamu dapat membedakan antara benang putih dan hitam di waktu fajar, dan kemudian sempurnakan puasamu hingga datang malam (QS.2:187).

Agama Islam tidak membenarkan seseorang untuk berpuasa sepanjang hari dan malam, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah mengubah hukum-hukum Allah.

Bagi setiap muslim berpuasa diawali dengan sahur dan diakhiri dengan ifthar(berbuka) setiap harinya. Demikianlah hudud (ketentuan hukum) dari Allah.

Pelaksanaan sahur sebelum imsak atau fajar datang ini menjadi kesiapan diri melaksanakan hukum-hukum Allah secara benar tanpa reserve. Lebih jauh mengajarkan seseorang Muslim untuk teguh dalam menjaga dan melaksanakan hukum-hukum yang ditetapkan sepanjang hidupnya.

Sesungguhnya seseorang Muslim dengan ibadah yang dikerjakan dididik teguh mengamalkan hukum untuk kemashlahatan bersama.  Dia akan berani mengatakan yang hak itu benar dan yang bathil itu adalah salah. Hukum adalah kebenaran dari Allah, bukan kekuasaan karena mengikut hawa nafsu belaka.

Ibadah puasa (shaum) akan melahirkan sifat sabar (tabah dengan kejujuran) dan istiqamah (konsisten, teguh berpendirian) serta qanaah (sikap merasa cukup sesuai dengan hak yang dimiliki).

Ketiga sifat utama ini dilatih dengan intensif pada setiap rukun puasa dengan penuh kedisiplinan diri. Disiplin yang tidak dipaksakan dari luar tapi disiplin yang ditumbuhkan dari dalam mengakar pada sikap dan berbuah dalam tindakan. Sungguh benar Rasulullah SAW dengan tugasnya sebagai “rahmatan lil-alamin”.

Padang, Ramadhan 1432 H/Agustus 2011 M

Categories: Amar Makruf Nahi Munkar, Buya Masoed Abidin, Komentar, Komentar Buya, Puasa Ramadhan, Ramadhan, Surau, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

Rihlah Ibadah Umroh ke Makkah al Mukarromah, Maret 2011 bersama jamaah Al Munawwarah Padang diselenggarakan oleh Arnussa Tour Jakarta

Bermaksud ke Miqat Ja'ranah berangkat dari Hotel Rawabi Bustan, Makkah

Bersiap ke Miqat Ja'ranah

Menunggu Kenderaan menuju ke Ja'ranah

Menuju Miqat

Kunjungan ke Jabal Rahmah di Arofah

Bersama Jamaah Al Munawwarah Padang

Perjalanan Umroh, Maret 2011

Bersama onta di Arofah

Depan Masjid Al Haram Makkah al Mukarromah

Menuju Masjidil Haram untuk shalat Dzuhur

Selesai Thawaf

Yaa Allah terimalah ibadah kami dengan redha Mu .. Amin

Selesai Thawaf sejenak di depan Multazam

Menuju Mas'a untuk Sa'i antara Shafa dan Marwa

Indahnya Masjdil Haram di Makkah al Mukarramah. Siapa saja yang shalaat di dalamnya lillahi Ta'ala tentu akan mendapat keutamaan sama dengan 100.000 shalat di masjid yang lainnya

Ketika kunjungan ke Arofah

Bersama Mahmil Arief, tour leader dari Arnussa Tour di Arofah

Suasana di Hotel Rawabi Bustan, Makkah .. Menyenangkan .. Alhamdulillah

Dalam perjalanan ke Madinah singgah sejenak di warung "gahwah" melawan dinginnya udara di luar .. Alhamdulillah ...

Perjalanan Umroh Maret 2011

Dengan wajah cerah menuju perjalanan umroh di bulan Maret 2011 ini, semoga perejhalanan ini diredhoi Allah Azza wa Jalla .. Amin

Categories: Arnussa Tour, Buya Masoed Abidin, Komentar, Maret 2011, Siruu fil ardhi | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.