Politics

Pergeseran Nilai

Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka. (Pada hal), orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri mereka sendiri.

Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-olokkannya” (QS.30, Ar-Rum, ayat 9-10).

Sekarang, kita menyaksikan satu kondisi terjadinya pergeseran pandangan masyarakat di dunia ini. Hampir di mana mana kemelut social dan politik terjadi. Maka umat Islam dengan ajaran agama yang lurus wajib berperan aktif kedepan di abad ini. Melaksanakan secara murni konsep agama dalam setiap perubahan, agar peradaban kembali gemerlapan.

Berpaling dari sumber kekuatan murni, Kitabullah dan Sunnah Rasul, dengan menanggalkan komitmen prinsip syar’i dan akhlak Islami akan berakibat fatal untuk umat Islam, bahkan penduduk bumi. Pada gilirannya umat Islam akan menjadi santapan konspirasi dari kekuatan asing. Konsekwensinya adalah wilayah yang sudah terpecah akan sangat mudah untuk dikuasai.

Kembali kepada watak Islam sudah tidak dapat ditawar-tawar lagi. Bila kehidupan manusia ingin diperbaiki. Tuntutannya agar umat lahir kembali dengan iman dan amal nyata. Tatanan masyarakat harus dibangun diatas landasan persatuan (QS.al-Mukminun:52).  Mayarakat mesti ditumbuhkan dibawah naungan ukhuwwah (QS.al-Hujurat:10).  Anggota masyarakatnya didorong hidup dalam prinsip ta’awunitas (kerjasama) dalam al-birri (format kebaikan) dan ketakwaan (QS.al-Maidah:2). Hubungan bermasyarakat didasarkan atas ikatan mahabbah (cinta kasih), sesuai sabda Rasul: “Tidak beriman seorang kamu sebelum mencintai orang lain seperti menyayangi diri sendiri”. Setiap masalah diselesaikan dengan musyawarah (QS.asy-Syura:38).  Tujuan akhirnya, penjelmaan satu tatanan masyarakat yang pantang berpecah belah (QS.Ali Imran:103).

Rahasia keberhasilan adalah “tidak terburu-buru” (isti’jal) dalam bertindak. Tidak memetik sebelum ranum. Tidak membiarkan jatuh ketempat yang dicela. Kepastian amalan adanya husnu-dzan (sangka baik) sesama umat. Mengiringi semua itu adalah tawakkal kepada Allah.

Dalam tatanan berpemerintahan, kekuasaan akan berhasil jika menyentuh hati nurani rakyat banyak, sebelum kekuasaan itu menjejak bumi. Ukurannya adalah adil dan tanggap terhadap aspirasi yang berkembang. Takarannya adalah  kemashlahatan umat banyak. Kemasannya adalah jujur secara transparan. Kekuatan hati (dhamir) penduduk (rakyat) terletak pada ditanamkannya kecintaan yang tulus.

Menghidupkan energi ruhanik lebih didahulukan sebelum menggerakkan fisik umat. Titik lemah umat karena hilangnya akhlaq (moralitas) Islami.

Enggan memahami syari’at, berakibat hilangnya kecintaan (kesadaran) terhadap tanggung jawab bermasyarakat dan berbangsa. Lahirnya radikalisme,yang berlebihan di dalam segala tindakan akan menghapuskan watak Islam. Tidak menghormati hubungan antar manusia, merupakan kebodohan pengertian terhadap prinsip sunnah. Akibatnya adalah tindakan anarkis (merusak).

Inilah yang sedang dihadapi oleh semua bangsa di dunia yang bergolak karena hilangnya kepercayaan dan bergesernya nilai ditengah kehidupan masyarakatnya. Sebuah pelajaran berharga dari apa yang telah dan tengah berlangsung di daerah tanduk Afrika.

Wallahu a’lamu bis-shawaab.

 

Advertisements
Categories: Amar Makruf Nahi Munkar, bumi kinanah, Buya Masoed Abidin, Globalisasi, Komentar, Komentar Buya, Politics, Sejarah, Siruu fil ardhi | Leave a comment

Approach from every angle needed to prevent terrorism, ulema says

Tuesday, October 5, 2010 12:04 WIB | National | | Viewed 600 time(s)
Padang, West Sumatra (ANTARA News) – An ulema of West Sumatra, Mas`oed Abidin, said on Tuesday the government needs to a have a multi angle approach to tackle the spread of terrorism in Indonesia. 

“Terrorism may be the rest of several people angry or dissatisfied with their surroundings. Social and political imbalance may also be another factor which contributes to the spread of terrorism in the society,” said the ulema.

He suggested the government to draw up a special curriculum on the concept of putting the country`s interest as first priority. Mas`oed said physical and economic development was not enough to security of a country against terror.

He said the government has not given adequate attention particularly to the national ideology in the national curriculum.

Mas`oed also expressed concern about Islam being associated with terrorism. He said
Islam taught its followers to build a good character, not to terrorize people.

Earlier, the Indonesian Council of Ulemas (MUI) appealed to avoid discrediting Islam in the country`s current terrorist eradication efforts.

“We do not wish terrorist eradication efforts to cause the cornering of Islam as it will only create more problems,” associate MUI chairman Ma`ruf Amin said.

He said that terrorism was not identical to Islam. He also said that terrorism has nothing to do with jihad (holy war) and MUI had already issued a fatwa (edict) condemning terrorism.

MUI has since 2003 issued an edict on terrorism. It states that terrorism is a crime against humanity and civilization, as well as seriously threatening national sovereignty, security and world peace and public welfare.

Jihad, meanwhile, according to MUI, may mean two things. Firstly all kinds of efforts and willingness to face difficulties in fighting aggression from the enemy in all its forms.

Secondly, all kinds of efforts seriously and continuously made to safeguard and extol the religion of Allah.

The MUI fatwa also tells about the difference between jihad and terrorism. According to MUI, terrorism is destructive and anarchic aimed at creating fear and/or destroying other parties without regard of the law and limits targets.

Jihad, meanwhile, is about improvement although it might possibly be done by war aimed at extolling religion and/or defending those being oppressed and done according to shariah laws with clear targets. (*)

COPYRIGHT © 2010

Ikuti berita terkini di handphone anda http://m.antaranews.com

Categories: Amar Makruf Nahi Munkar, Buya Masoed Abidin, Globalisasi, Komentar, Komentar Buya, Politics, Tauhid | Leave a comment

Infokom

Berapa pokok pikiran dalam Studi Penyusunan Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Bidang Komunikasi dan Informatika, Tahun 2010-2014, bertempat di Bedu Ata Meeting Room, The Ambacang Hotel, Jalan Bundo Kanduang, Padang, pada hari Senin, tanggal 16 Juni 2008.

Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

1.         Mensosialisasikan bukti-bukti tentang pelaksanaan dan cita-cita bernegara dalam bingkai NKRI, yang dicetuskan pada Proklamasi 17 Agustus 1945, di mana jelas diserap oleh masyarakat luas bahwa pelaksanaan pembangunan, telah dikerjakan oleh tenaga-tenaga yang dinamik, dan ahli, dikonsolidasi mendjadi kesatuan tenaga membangun.

2.         Pembangunan itu dikerjakan secara rasionil menurut suatu rencana yang tepat urutan dan susunannya, dan dengan tekad yang kuat, kemauan jang jujur. Semangat nasionalis yang didukung oleh keyakinan agama yang berpegang kepada Pancasila tidak sanggup melaksanakan pembangunan secara rasionil dan terencana, niscaya satu ketika, kaum lain yang tidak memiliki jiwa nasionalis dan agamis akan mengambil peran membangun negeri ini.

3.         Memperhatikan perkembangan politik dunia di masa lampau, maka peran pemuda sekarang, dan yang akan dating di dalam kancah pembangunan bangsa semestinya menjadi insane Indonesia yang  bertanggung jawab di masa datang, dapat mengambil pelajaran dari kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi di masa lalu. Peran infokom krusial di sini.

4.         Kesalahan-kesalahan dan kekurangan-kekurangan di masa lalu hendaklah membuka pikiran untuk mendapatkan kembali jalan yang benar, yang disinari oleh pelita Pancasila. Kesalahan yang terutama telah dan pernah dilakukan oleh pemimpin-pemimpin rakyat ialah telah menjadikan Pancasila sebagai lip-service belaka.

5.         Meraih cita-cita pembangunan tidaklah tugas ringan, karena main stream pembangunan adalah untuk membangun Indonesia jang adil dan makmur. Hingga saat ini, negara kita masih berpegang kepada Pancasila sebagai bimbingan dalam melaksanakan tugas yang berat itu. Dalam masa-masa pertama, dalam menegakkan dan membela kemerdekaan, semua komponen dan lapisan rakyat Indonesia berpegang kepada Pancasila dengan hati jang murni, kecuali hanya golongan P.K.I. jang menikam dari belakang dengan bermacam pemberontakan di antaranya Madiun.

6.         Membangun berlandaskan alas filosofi bernegara yakni Pancasila, bermakna segala tindakan dikemudikan oleh kepentingan nasional Konsekwensinya, kepentingan golongan dan pribadi terletak di belakang.

7.         Dalam masa-masa tujuh dasawarsa yang panjang, setelah Indonesia merdeka, bersatu dan berdaulat terlaksana, kadangkala generasi bangsa lupa bahwa periode ini baru pada permulaan, dan bangsa belum sampai kepada tujuan. Saat-saat ini adalah masa yang paling tepat untuk memulai dan atau pembangunan Indonesia jang adil dan makmur dengan segala tenaga jang ada pada kita. Namun, dalam masa aitu pula, terlihat adanya penjelewengan dari Pancasila mulai terjadi, sehingga berbagai kemelut social politik berkembang dengan pesat. Tampak nyata, bahwa  kepentingan negara dan masjarakat sering dibelakangkan dari kepentingan partai dan peribadi.

8.         Selain dari itu pemimpin-pemimpin partai lupa bahwa demokrasi tidak lahir begitu saja dengan telah diproklamirkan dan dituliskan dalam suatu piagam, melainkan mesti dihidupkan sungguh-sungguh dalam asuhan dan latihan. Di sini tugas berat semua elemen bangsa, dan peran itu akan terasa ringan bila Infokom berperan baik. Berlakunya low enforcment dalam negara menjadi pendukung utama bagi terlaksananya kehidupan berdemokrasi yang baik. Demokrasi hanya bisa terjamin dalam negara hukum. Tiap-tiap tindakan yang melakukan hukum sendiri adalah anarchi, bertentangan dengan sifat-sifat demokrasi.

9.         Semua generasi anak bangsa mesti mengetahui dan atau menginsafi benar-benar, bahwa demokrasi yang meluap-luap tanpa rambu-rambu filosofi berengara akan menjadi anarki, dan demokrasi akan tersingkir oleh pemahaman idea permissivisness. Demokrasi ada hukumnya, ada aturannya tentang mencapai kekuasaan. Demokrasi menghendaki aturan dan keadaan yang teratur, bukanlah rebutan kekuasaan dengan jalan serampangan saja. Bila kondisi ini terjadi, maka cita-cita mencapai Indonesia jang adil dan makmur di bawah lindungan dan rahmat Allah Tuhan yang Maha Esa malahan akan bertambah djauh. Aktivita berbegara hanya akan terpusat kepada “show”, pertundjukan kemegahan dan kebesaran yang kosong. Pada masa itu, akan terjadi demokrasi yang seharusnya dijiwai oleh Pancasila akan hilang samasekali, dan mau tidak mau akan digantikan oleh kultus perseorangan. Inflasi pasti meradjalela, ekonomi akan meluncur terus menerus dengan tidak ada remnya. Negara tentu akan menuju kebangkrutan. Di sini peran sentral dapat di ambil oleh infokom.

10.  Infokom mestinya berperan sebagai pusat informasi, yang memberi kekuatan kepada pembentukan “disiplin bangsa” dalam NKRI, dengan mensosialisasikan disiplin diri (zelf-disiplin), menjadi bangsa yang mengenal harkat dirinya, mengerti akan kecakapan yang dipunyai, dan tahu akan batas kesanggupannya. Dalam tatanan global yang modern, setidaknya ada tiga macam sikap kepemimpinan, (a). a h l i dalam bidangnya, (b). mengerti perkembangan politik dan sistim bernegara, (c). menyiapkan pemimpin dan pejabat Negara (states-man) yang akan menjalankan dan memimpin politik negara  dengan penuh tanggung jawab.

 

Masa pembangunan  era otonomi

1)     Perkembangan era politik seringkali  tajam dan runcing dalam perdebatan, dengan pendirian sangat subjektif, menentang segala yang berlawanan dengan kejakinan politiknya. Adalah tugas infokom meluruskan pandangan terutama tertuju kepada negara, mencari jalan bagaimana mengemudikan negara dengan sebaik-baiknya melalui gelombang dan karang dalam pertentangan politik. Infokom tidak bvoleh runcing pula dalam penyajiannya, tetapi tegas dan bidjaksana, bahkan perlu suggestif mempengaruhi generasi bangsa untuk tetap berada pada jalur cita-cita bernegara. Kareba itu infokom di dalam alur pemerintahan tidak cukup kiranya mengetahui dan mempunyai pendirian politik saja, tetapi harus pula mempunyai pengetahuan mendasar dalam hal pemerintahan, negeri dan daerahnya. Infokom harus menjadi penggerak kepada perwujudan cita-cita the right man on the right place.

2)     Rakyat perlu di didik mengerti akan kewajiban dan tanggung jawab sebagai wagra negara. Rakyat tidak semata berguna untuk mendapatkan sejumlah suara mendukung. Namun, rakyat menjadi pemilik kedaulatan dalam arti bertanggung jawab sesuai dengan ukuran kekuasaan yang diwakilkan oleh mereka. Kedaulatan rakyat tidak saja menghendaki kekuasaan yang dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan cara bermusyawarat, melainkan menghendaki juga tanggung jawab rakyat jang seukuran dengan kekuasaan yang dilakukan itu. Dan tak dapat disangkal bahwa dalam daerah tanggung jawab pasti banyak terdapat kekurangan, maka pemerintahan negeri melalui infokom harus berjalan dengan se-efektif-efektifnya.

3)     Infokom mempunyai kemestian menumbuhkan kesadaran (keinsafan) bernegara di tengah masyarakat bangsa, sehingg kedudukan negara kita di mata dunia kelihatan kokoh. Ada beberapa beban utama yang tidak mungkin dilalaikan, (a). k e i n s j a f a n  n a s i o n a l  yang ada di dalam diri satu  satu bangsa yang merdeka dan berdaulat, akan melahirkan tanggung jawab dan  kewajiban bersama untuk mempertahankan kemerdekaan tanah air dengan segala jiwa dan raga. Kesadaran nasional ini mestinya menjadi kebanggaan dan bahkan  menjadi pendorong untuk mengobarkan semangat kebangsaan yang muaranya tentu adalah keinginan dan keikhlasan berkorban untuk bangsa dan negaranya.  Dengan keinsafan nasional seorang akan terhindar dari mengorbankan negaranya untuk kepentingan diri sendiri. (b).  k e i n s a f a n  b e r n e g a r a  yaitu pengertian bahwa kita yang mempunyai negara, yang ada hukumnya, ada peraturannya dan memunyai susunannya yang tertentu. Berbagai-bagai tindakan yang merugikan negara, memberi keyakinan kepada kita, bahwa keinsafan itu belum merata dan belum cukup mendalam. Sering-sering orang tak dapat membedakan partai dari negara, menyangka bahwa negara itu dalam hidupnya sama saja dengan partai atau perkumpulan. Negara adalah satu badan di mana orang tidak merdeka keluar masuk menjadi warganya. Ini tugas Infokom.

Categories: Adat Basandi Syarak, Amar Makruf Nahi Munkar, Buya Masoed Abidin, Education, Ekonomi anak nagari, Globalisasi, HAM, Infokom, Iptek, Komentar, Komentar Buya, Masyarakat Adat, Minangkabau, Pluralitas, Politics, Surau, Tulisan Buya | Leave a comment

Akidah Tauhid dan Akhlak Qurani adalah Ruh Pengembangan Madrasah atau Pesantren

Akidah Tauhid dan Akhlak Qurani

Ruh Dakwah Pendidikan, Strategi Menghidupkan

Pembinaan Madrasah, di Sumatera Barat

Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

 

Pendahuluan                                                                 

Upaya dan usaha umat Islam di Sumatera Barat di dalam menghidupkan perguruan Islam yang disebut Madrasah (kini lazim disebut Pesantren) sepanjang sejarah pendidikan Islam di Indonesia.

Khusus untuk daerah Minangkabau, Provinsi Sumatera Barat, upaya itu tampak jelas sejak dari mula pendiriannya oleh ulama di nagari dan masyarakat selingkarannya. Demikian pula dengan pengembangan madrasah-madrasah itu, sejak dari surau, mulai dari wirid ke madrasah, sampai ke perguruan tinggi, selalu dengan perlibatan dan pemberdayaan semua potensi masyarakat, sejak dari kampong sampai ke rantau.

Usaha-usaha terpadu ini, telah melahirkan berbagai tingkat pendidikan, sejak dari tingkat awaliyah, ibtidaiyah, tsanawiyah, ‘aliyah, hingga ketingkat kulliyah. Hasilnya, hingga saat ini, kita temui sebagai upaya bersama masyarakat, yang sesungguhnya sudah melalui rentang waktu yang panjang.

Selama dua abad sampai sekarang, sejak kembalinya tiga serangkai ulama zuama Minangkabau (1802), yaitu Haji Miskin di Pandai Sikek, Luhak Agam, Haji Abdur Rahman, di Piobang, Luhak Limopuluah, dan Haji Muhammad Arief, di Sumanik, Luhak nan Tuo, Tanah Datar, lazim dikenal bergelar Tuanku Lintau. Ketiga mujahid dakwah ini telah membawa penyadaran pemikiran dan memacu semangat umat mengamalkan agama Islam yang benar di dalam kehidupan beradat di Minangkabau. Jalan yang mesti ditempuh adalah menggiatkan masyarakat menuntut ilmu.

Perkembangan Intelektual Pengujung Abad ke-19

Sumatera Barat menandai satu masa perkembangan sosial dan intelektual yang deras dipengujung abad ke 19. Diawali pulangnya putra-putra Minangkabau dari menimba ilmu di Mekah.

Mereka membawa ruh pembaharuan pendidikan Islam sebagaimana digerakan Muhammad Abduh dan Jamaluddin al-Afghani dari Mesir. Ruh pendidikan madrasah di Minangkabau itu, tidak dapat dilepaskan dari pelajaran-pelajaran yang diberikan seorang pelopor gerakan pembaruan di Minangkabau yang banyak menyebarkan pikirannya dari Mekah pada awal abad ke-20 Beliau adalah Syekh Ahmad Khatib EL Minangkabawy (1855)[1], turunan dari seorang hakim gerakan Paderi yang sangat anti penjajahan Belanda. [2]

Di samping itu ada seorang pembaru yang tidak dapat dilupakan, walau lebih dikenal di tanah serantau, yaitu Syekh Taher Djalaluddin (1869-1956)[3]. Syekh Taher Djalaluddin terbilang seorang tertua dan pelopor ajaran Ahmad Khatib di Minangkabau dan di tanah Melayu. Dia juga adalah guru kalangan pembaru Minangkabau. Pengaruhnya tersebar pada murid-muridnya melalui majalah Al-Imam dan melalui sekolah yang didirikannya di Singapura bersama Raja Ali Haji bin Ahmad pada tahun 1908. Sekolah yang bernama Al-Iqbal al-Islamiyah, menjadi model Sekolah Adabiyah yang didirikan oleh Haji Abdullah Ahmad di Padang pada tahun 1908.

Ulama-ulama Minangkabau itu, di antaranya Muhammad Djamil Djambek atau Inyik Djambek (1860-1947)[4], M. Thaib Umar di Sungayang (1874-1920), Haji Abdul Karim Amarullah atau Inyik Rasul (1879-1945)[5], Haji Abdullah Ahmad (1878 – 1933)[6], dan Syekh Ibrahim Musa[7]. Mereka menyebarkan peranannya dalam mendirikan lembaga pendidikan Islam yang bersifat modern.

Nafas yang ditiupkan oleh ruh dakwah pendidikan membawa satu perubahan besar dan signifikan di masanya. Para ulama suluah bendang di nagari memasuki era baru. Mereka menjadi kelompok pembaru di sisi ehidupan sosial masyarakat. Di antaranya Zainuddin Labai al-Yunusi (1890- 1934)[8] di Padangpanjang.  

Madrasah dan Surau Mengawal Ruhul Islam

Umumnya para murid bekas ulama-ulama tersebut kemudian menjadi pelopor pembaruan pemikiran Islam di Ranah Minang melalui surau. Keadaan ini bergerak terus, sesuai dinamika dan tuntutan zaman, hingga ke masa pergerakan kemerdekaan.

Madrasah telah menjadi markas pergerakan bawah tanah (silent operation) menentang kaum penjajah, sehingga berakibat semua gerak dan geliatnya selalu dicurigai oleh penguasa penjajahan semasa. Dicatat oleh sejarah bahwa benang merah yang dipunyai para pejuang adalah terpelajar, beragama yang taat dan peribadi mandiri.

Dari surau penguatan madrasah dimulai. Orientasi pendidikan ditekankan pada penanaman aqidah. Didukung dengan ilmu‑ilmu agama, pembinaan fisik, dan mental (melalui latihan silat), pelajaran kesenian dan ketrampilan. Lulusan surau ideal inilah kombinasi ulama, pejuang, jiwa seni, mandiri dan terampil.

Setelah masuknya pendidikan modern awal abad ke 20 (1929) surau berkembang dengan sistem klasikal. Contohnya Madrasah Irsyadin Naas (MIN), Perguruan Diniyah Puteri, Thawalib dan Perguruan Muhammadiyah.

Berurat ke  Hati  Masyarakat

Para pemuka masyarakat di masa itu umunya jebolan madrasah. Mereka memiliki pikiran maju rasional dan cinta tanah airnya. Sesuai bimbingan agama Islam yang diterima dari pelajaran surau dan madrasah. Para thalabah lulusan madrasah Thawalib dan pendidikan sistim surau, umumnya berkiprah di kampung halaman setelah selesai menuntut ilmu, dengan mendirikan sekolah-sekolah agama, bersama-sama dengan masyarakat, memulainya dari akar rumput.

Pemberdayaan potensi masyarakat digerakkan secara maksimal dan terpadu untuk menghidupkan pendidikan Islam. Untuk mencerdaskan umat dan menanamkan budi pekerti (akhlak Islami). Seiring pula dengan berlakunya kaedah adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah, para ulama adalah tempat meminta kata putus (bamuti).[9]

Pandangan dan pemahaman para lulusan madrasah sangat nyata berbeda dengan anutan jebolan sekolah gubernemen di masa penjajahan. Maka tidak jarang terjadi di masa itu, ada pandanagan dan anggapan pemisah antara kaum ulama (santri, urang siak, mualim, urang surau) yang bersekolah di madrasah dengan kalangan ambtenaren berdasi berpentalon.

Perbedaan tajam itu, berakibat kepada perlakuan pemerintah masa itu, dalam melihat dan menilai madrasah, sebagai lembaga pendidikan kelas dua, bahkan terkesan berlawanan dengan pihak pemerintah. 

Di masa perjalanan kemerdekaan, dan pembangunan sentralistik madrasah mengalami pembedahan-pembedahan pula pada tubuhnya.

Dekat Mendekati

Pada dua decade 1970 pemerintah mulai membuka akses lebih besar ke dunia pendidikan madrasah Islam, dengan mulai melakukan rekonsiliasi dengan Islam melalui dekat mendekati dan penyesuaian penyesuaian (rapprochement). Terjadi penyeragaman. Ciri khas dari Madrasah mulai tiada.

Konsekwensinya, pendidikan dan program madrasah disejajarkan dan bergayut kepada pemerintah, maka akibat yang terasa adalah kurangnya kemandirian perguruan madrasah dinagari-nagari dan dampak negatifnya potensi masyarakat melemah.

Padahal pada awal keberadaan madrasah itu, sejak abad 18 sebagai kita sebut di atas para ulama penggagas dan pengasuh madrasah memiliki jalinan hubungan yang kuat dengan masyarakat. Ada suatu hubungan saling menguntungkan (symbiotic relationship). Sehingga madrasah menjadi kekuatan perlawanan membisu (silent opposition) dan respon pemimpin serta komunitas Muslim terhadap penjajahan.

Merosotnya peran kelembagaan pendidikan madrasah di Minangkabau dalam bentuk surau, telah mendorong pengasuh untuk mengadopsi sistim pendidikan seperti perguruan tradisional di Jawa.

Akibatnya, pemeranan masyarakat dan lingkungan di dalam menghidupkan kembali ruh pendidikan madrasah, khususnya dalam bidang dana dan daya (tenaga pengajar) menjadi kurang.

Madrasah hanya dapat hidup dengan dukungan pemilik badan pengasuh madrasah, serta pendapatan-pendapatan madrasah itu sendiri. Keadaan ini menjadi lebih berat, ketika madrasah menjadi anak tiri pemerintah seperti di masa lalu.

Ironisnya masyarakat lingkungan tidak pula mengaggap madrasah sebagai anak kandungnya lagi.

Sering terjadi madrasah lahir dan tumbuh sebagai anak yatim di lingkungan masyarakat yang melahirkan madrasah itu.

Peran serta masyarakat mesti ditumbuhkan kembali di dalam peningkatan manajemen pendidikan yang lebih accountable dari segi keuangan maupun organisasi, sehingga sumber finansial masyarakat dipertanggung jawabkan lebih efisien dan kualitas pendidikan – quality oriented – yang mendorong madrasah menjadi lembaga center of excellence.

Tantangan kesejagatan yang deras kini berupa materialistis, sekularistis, hedonistic dan hilangnya budaya luhur, menuntut agar Madrasah dapat menghasilkan anak didik berparadigma ilmu yang komprehensif, yakni pengetahuan agama plus keterampilan. Konsekwensinya sistim pendidikan Islam tidak boleh terpisah. Mesti menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Muslim keseluruhan.

Perlu penerapan nilai-nilai agama dan ibadah.

Penguatan perilaku beradat.

Pengintegrasian iptek, imtaq dan akhlaq.

Melalui pengembangan ini madrasah akan menjadi pusat membangun sahsiah generasi dengan sifat-sifat ruhaniah yang halus, dan sifat-sifat akhlaq yang mulia.

Secara ideal, peran madrasah adalah perwujudan dari tujuan pendidikan nasional yang “Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab, serta berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”. (UU No. 20 th 2003, Sistem Pendidikan Nasional).

Dengan terjaganya ruh dakwah dan pendidikan, maka madrasah akan lebih mudah mencapai sasarannya. Membuat anak didik menjadi terdidik, berkualitas, capable, fungsional, integrated ditengah masyarakatnya. Inilah hakikat dari dakwah bil hal.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk mempunyai kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Pendidikan dan peran dakwah

Peran da’wah di Minangkabau adalah menyadarkan umat akan peran  membentuk diri mereka sendiri, إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ  “Sesungguhnya Allah tidak akan merobah nasib satu kaum, hingga kaum itu sendiri yang berusaha merobah sikap mereka sendiri.”

Dalam kenyataan social dalam kehidupan anak nagari wajib diakui keberadaan mereka dengan menjunjung tinggi puncak-puncak kebudayaan mereka, menyadari potensi besar yang dimiliki akan mendorong kepada satu bentuk kehidupan bertanggung jawab.

Inilah tuntutan terhadap Da’wah Ilallah, yakni seruan kepada Islam — agama yang diberikan Khaliq untuk manusia –, yang penyiarannya dilanjutkan oleh da’wah, untuk kesejahteraan hidup manusia. Risalah merintis, da’wah dan pendidikan melanjutkan

Kewajiban Membangun Generasi Penyumbang (innovator)

        UUD 1945 meletakkan kewajibkan kepada Pemerintah untuk mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistim pendidikan Nasional yang meningkatkan Keimanan dan Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan demikian ada kewajiban membentuk generasi penyumbang dalam bidang pemikiran (aqliyah), ataupun pembaharuan (inovator) harus menjadi sasaran perioritas.[10]

          Keberhasilan akan selalu ditentukan oleh adanya keunggulan pada institusi di bidang pendidikan. Pendidikan ditujukan untuk membentuk generasi yang menguasai pengetahuan dengan kemampuan dan pemahaman mengidentifikasi masalah yang dihadapi. Seterusnya, mengarah kepada kaderisasi diiringi oleh penswadayaan kesempatan-kesempatan yang ada. Generasi baru yang mampu mencipta akan menjadi syarat utama keunggulan. Kekuatan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada.

Generasi penerus harus taat hukum. Upaya ini dilakukan dengan memulai dari lembaga pendidikan (madrasah), masyarakat lingkungan, keluarga dan rumah tangga. Memungsikan peranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif. Memperkaya warisan budaya dengan menanamkan sikap setia, cinta dan rasa tanggung jawab, sehingga patah tumbuh hilang berganti.

Menanamkan aqidah shahih (tauhid) dengan istiqamah pada agama Islam yang dianut. Menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur. Apabila sains dipisah dari aqidah syariah dan akhlak, niscaya yang akan lahir saintis tak bermoral agama. Kesudahannya, ilmu banyak dengan iman yang tipis, berujung dengan sedikit kepedulian di tengah bermasyarakat.

Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus didalam membentuk SDM, maka di samping kurikulum ilmu terpadu dan holistik, sangat perlu dirancang kualita pendidik (murabbi) yang sejak awal mendapatkan pembinaan terpadu. Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik, dan bukan utopis.

Membentuk Sumber Daya Manusia  berkualitas

Kita berkewajiban membentuk SDM menjadi sumber daya umat (SDU) yang berciri kebersamaan dengan nilai asas “gotong royong”, berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas.

Beberapa model dapat dikembangkan. Pemurnian wawasan fikir disertai  kekuatan zikir, penajaman visi, perubahan melalui ishlah atau perbaikan. Mengembangkan keteladanan (uswah hasanah) dengan sabar, benar, dan memupuk rasa kasih sayang melalui pengamalan warisan spiritual religi serta menguatkan solidaritas beralaskan iman dan adat istiadat luhur. 

“Nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”. Intensif menjauhi kehidupan materialistis, sebagai upaya menghadapi tantangan global.  dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.

Para pendidik (murabbi) adalah bagian dari suluah bendang dengan uswah hidup mempunyai sahsiah[11] (شخصية) bermakna pribadi yang melukiskan sifat individu mencakup gaya hidup, kepercayaan, kesadaran beragama dan harapan, nilai, motivasi, pemikiran, perasaan,  budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak akan mampu menghadirkan kesan positif masyarakat Nagari.

Faktor kepribadian tetap diperlukan dalam proses pematangan sikap perilaku anak didik yang mencerminkan  watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seseorang.[12]

Ciri kepribadian syarak yang mesti ditanamkan merangkum sifat-sifat,

1.      Sifat Ruhaniah dan Akidah, mencakup ;

a.      keimanan yang kental kepada Allah yang Maha Sempurna,

b.     keyakinan mendalam terhadap hari akhirat, dan

c.       kepercayaan kepada seluruh asas keimanan (arkan al iman).

2.      Sifat-Sifat Akhlak, tampak di dalam perilaku;

a.  Benar, jujur, menepati janji dan amanah.

b. Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan,

c.   Tawadhu’, sabar, tabah dan cekatan,

d. Lapang dada – hilm –, pemaaf dan toleransi.

e.  Bersikap ramah, pemurah, zuhud dan berani bertindak.

3.    Sifat Mental, Kejiwaan dan Jasmani, meliputi,

  3.1. Sikap Mental,

a.      Cerdas, pintar, menguasai spesialisasi (takhassus),

b.     Mencintai bidang akliah yang sehat, fasih,  bijak.

c.       Mengenali ciri, watak, kecenderungan masyarakat.

3.2. Sifat Kejiwaan,

a.      emosi terkendali, optimis hidup, harap kepada Allah,

b.     Percaya diri dan mempunyai kemauan yang kuat.

c.       Lemah lembut, baik dalam pergaulan dengan masyarakat.

3.3. Sifat Fisik,

a.      mencakup sehat tubuh,

b.     berpembawaan menarik, bersih,

c.       rapi (kemas) dan menyejukkan.

Senarai panjang menerangkan sikap pendidik berkelakuan baik, penyayang dan penyabar, berdisiplin baik, adil menerapkan aturan.

Mampu melakukan strukturisasi ruhaniyah. Murabbi dapat mewujudkan delapan tanggung jawab dalam hidup;

1)      Tanggungjawab terhadap Allah, dengan keyakinan iman dan kukuh ibadah istiqamah, beramal soleh dengan khusyuk dalam mencapai derajat taqwa dan mengagungkan syiar Islam dengan perilaku beradat dan beradab.

2)      Tanggungjawab terhadap Diri, mengupayakan keselamatan diri sendiri, baik aspek fisik, emosional, mental maupun moral, bersih dan mampu berkhidmat kepada Allah, masyarakat dan negara.

3)      Tanggungjawab terhadap Ilmu, menguasai ilmu secara mendalam dan menelusuri dimensi spiritualitas Islam dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan untuk tujuan kemanusiaan dan kesejahteraan umat manusia.

4)      Tanggungjawab terhadap Profesi, tidak bertingkah menghilangkan kepercayaan orang ramai dan dapat memelihara maruah dengan amanah.

5)      Tanggungjawab terhadap Nagari, mengutamakan keselamatan anak Nagari dan memfungsikan lembaga-lembaga pendidikan (surau) dengan ikhlas.

6)      Tangungjawab Terhadap Sejawat, menghindari mencemarkan sejawat dan berusaha sepenuh hati mengedepankan kemajuan social karena Allah.

7)      Tanggungjawab terhadap Masyarakat dan Negara, tidak mengabaikan kepentingan masyarakat atau negara dan selalu menjaga syari’at Allah.

8)      Tanggung jawab kepada Rumah Tangga dan Ibu Bapa, dengan menghormati tanggungjawab utama ibu bapa dengan mewujudkan hubungan mesra dan kerjasama yang erat di antara institusi pendidikan dengan rumahtangga.

 

Kesimpulannya,

1.      Ruh pendidikan madrasah afalah aqidah tauhid dan akhlaqul karimah. Pemetaannya  akan berhasil di lapangan pendidikan dengan kesepakatan pelaksana-pelaksananya. Perlu digalang saling pengertian, koordinasi sesame, mempertajam faktor-faktor pendukung, membuka pintu dialog persaudaraan.

2.      Ukuran madrasah berkualitas adalah kemampuan menampilkan nilai-nilai Al-Qur’an dengan gerak amal nyata yang terus menerus, dibuktikan dalam seluruh aktivitas kehidupan, dengan kemampuan bergaul, mencintai, berkhidmat, mengajak (da’wah), merapatkan potensi barisan dalam mengerjakan amal-amal Islami secara bersama-sama, sehingga berbuah pengamalan agama yang mendunia.

3.      Setiap generasi Muslim yang ditempa di Madrasah mampu mengamalkan nilai-nilai Al Qur’an, dan wajib mengemban missi yang berat dan mulia, yaitu merombak kekeliruan ke arah kebenaran. Inilah yang harus selamanya dijaga menjadi ruh dari pembinaan madrasah.

4.      Pembinaan Madrasah berkualitas dan mandiri berkehendak kepada gerak yang kontinyu, utuh dan terprogram. Hasilnya tidak mungkin diraih dengan kerja sambilan. Karena buah yang dipetik adalah sesuai dengan bibit yang ditanam, sesuai natuur-wet (sunnatullah, = undang-undang alami).

5.      Madrasah adalah perangkat seutuhnya menuju kepada kemajuan. Di tengah tantangan berjibun ini, kerjakan sekarang mana yang dapat, mulailah dengan apa yang ada, karena yang ada itu sebenarnya sudah amat cukup untuk memulai. Tumbuhkan kesadaran keumatan yang kolektif. Setiap Muslim harus memulai melakukan perbaikan (ishlah) di bidang Da’wah dan Pendidikan. Kerja ini tidak akan pernah berhenti, dan akan berkembang terus sesuai dengan variasi zaman yang selalu berubah. Tujuan harus tetap menuju redha Allah. Inilah ruhnya Madrasah.

 

Wabillahitaufiq wal hidayah,

Padang, 25 Jumadil Akhir 1429 H / 29 Juni 2008 M.

 

 

 

 

 

  


Catatan Akhir :

 

[1] Ahmad Khatib dilahirkan di Bukittinggi, pada tahun 1855, oleh ibu bernama Limbak Urai, saudara dari Muhammad Shaleh Datuk Bagindo, Laras, Kepala Nagari Ampek Angkek berasal dari Koto Tuo Balaigurah, Kecamatan Ampek Angkek Candung. Ayahnya adalah Abdullatief Khatib Nagari, saudara dari Datuk Rangkayo Mangkuto, Laras, Kepala Nagari Kotogadang, Kecamatan IV Koto, di seberang ngarai Bukittinggi. Ahmad Khatib anak terpandang, dari keluarga berlatar belakang agama dan adat yang kuat, generasi pejuang Paderi, dari keluarga Pakih Saghir dan Tuanku nan Tuo.

[2]  Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942,Jakarta, LP3ES, 1980, hal.38 

[3] Pada masa mudanya dia dipanggil Muhammad Taher bin Syekh Muhamad, lahir di Ampek Angkek tahun 1869, anak dari Syekh Cangking, cucu dari Faqih Saghir yang bergelar Syekh Djalaluddin Ahmad Tuanku Sami’, pelopor kembali ke ajaran syariat bersama Tuanku Nan Tuo. Mata rantai para ulama ini pada hakikatnya ikut menjadi pengawal ruh dakwah pendidikan di madrasah-madrasah di Minangkabau, Sumatera Barat di zamannya. Mulai tahun 1900, Syekh Taher Djalaluddin menetap di Malaya, dan diangkat menjadi Mufti Kerajaan Perak. Eratnya hubungan Syekh Taher Djalaluddin dengan Al-Azhar di Kairo, maka dia menambahkan al-Azhari di belakang namanya.

[4] Syekh Djamil Djambek dilahirkan di Bukittinggi pada tahun 1860 , anak dari Muhammad Saleh Datuk Maleka, Kepala Nagari Kurai. Ibunya berasal dari Betawi. Syekh Djamil Djambek meninggal  tahun 1947 di Bukittinggi.

[5]  Haji Rasul lahir di Sungai Batang, Maninjau, tahun 1879, anak seorang ulama Syekh Muhammad Amarullah gelar Tuanku Kisai. Pada 1894, pergi ke Mekah, belajar selama 7 tahun. Sekembali dari Mekah, diberi gelar Tuanku Syekh Nan Mudo. Kemudian kembali bermukim di Mekah sampai tahun 1906, memberi pelajaran di Mekah, di antara murid-muridnya termasuk Ibrahim Musa dari Parabek, yang menjadi seorang pendukung terpenting dari pembaruan pemikiran Islam di Minangkabau. Haji Rasul meninggal di jakarta 2 Juni 1945

[6]  Haji Abdullah Ahmad lahir di Padang Panjang pada tahun 1878, anak dari Haji Ahmad, seorang ulama dan pedagang. Ibunya berasal dari Bengkulu, masih trah dari pengikut pejuang Sentot Ali Basyah. Untuk mengetahui biografi menarik lebih lanjut tentang tokoh-tokoh ini, lihat Tamar Djaja, Pustaka Indonesia: Riwayat Hidup Orang-Orang Besar Tanah Air. Bulan Bintang Jakarta, 1966.

[7] Syekh Ibrahim Musa dilahirkan di Parabek, Bukittinggi pada tahun 1882. Setelah belajar pada beberapa perguruan, pada umur 18 tahun ia berangkat ke Mekah dan belajar di negeri itu selama 8 tahun. Ia kembali ke Minangkabau pada tahun 1909 dan  mulai mengajar pada tahun 1912. kemudian ia berangkat lagi ke Mekah pada tahun berikutnya dan kembali pada tahun 1915. Saat itu ia telah mendapat gelar Syekh Ibrahim Musa atau Inyiak Parabek sebagai pengakuan tentang agama. Syekh Ibrahim Musa tetap diterima oleh golongan tradisi, walaupun ia membantu gerakan pembaruan. Ia menjadi anggota dua organisasi Kaum Muda dan kaum Tua, yaitu Persatuan Guru Agama Islam (PGAI) dan Ittihadul Ulama.

[8] Zainuddin Labai al-Yunusi lahir di Bukit Surungan Padang Panjang pada tahun 1890. Ayahnya bernama Syekh Muhammad Yunus. Zainuddin Labai adalah seorang auto-didact, yang mempelajari ilmu dan agama dengan tenaga sendiri. Pengetahuannya banyak diperolehnya dengan membaca dan kemampuan dalam bahasa-bahasa Inggris, Belanda dan Arab yang dikuasainya. Koleksi bukunya meliputi buku-buku bermacam bidang seperti aljabar, ilmu bumi, kimia dan agama. Enam tahun membantu Syekh Haji Abbas, seorang ulama di Padang Japang, Payakumbuh dalam bidang kegiatan praktis. Dalam tahun 1913, Zainuddin memilih Padang Panjang sebagai tempat tinggalnya. Ia memulai mengajar di Surau Jembatan Besi, bersama Rasul dan  Haji Abdullah Ahmad. Zainuddin Labai termasuk seorang yang mula-mula mempergunakan sistem kelas dengan kurikulum teratur yang mencakup pengetahun umum seperti bahasa, matematika, sejarah, ilmu bumi di samping pelajaran agama. Ia pun mengorganisir sebuah klub musik untuk murid-muridnya, yang pada saat itu kurang diminati oleh kalangan kaum agama. Ia seorang yang produktif dalam menulis buku teks tentang fikh dan tatabahasa Arab untuk sekolahnya. Ia memimpin majalah Al-Munir di Padang Panjang. Zainuddin Labai adalah seorang termuda di antara tokoh pembaru pemikiran Islam  di Minangkabau. Ia termasuk seorang anggota pengurus Thawalib dan mendirikan pula perkumpulan Diniyah pada tahun 1922 dengan tujuan bersama-sama membina kemajuan sekolah itu.

[9] Semuanya didorong oleh pengamalan Firman Allah, 

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَولأ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

  Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya, apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.QS.IX, at Taubah, ayat 122.   

[10] QS.3:139 menyiratkan optimisme besar untuk penguasaan masa depan. Masa depan – al akhirah – ditentukan oleh aktifitas amaliyah (QS.6:135) bandingkan dengan QS.11:93 dan QS.11:121, bahwa kemuliaan (darjah) sesuai dengan sumbangan hasil usaha.

[11] Syakhshiyah didifinisikan sebagai organisasi dinamik sesuatu sistem psyikofisikal di dalam diri seorang yang menentukan tingkah laku dan fikirannya yang khusus.  Sistem psyikofisikal merangkum segala unsur-unsur psikologi seperti tabiat, sikap, nilai, kepercayaan dan emosi, bersama dengan unsur-unsur fisikal seperti bentuk tubuh, saraf, kelenjar, wajah dan gerak gerik seseorang (G.W Allport, dalam ”Pattern and Growth in Personality”, lihat juga, Mok Soon Sang, 1994:1).

[12] Syakhshiyah mempunyai tiga ciri keunikan dengan arti kebolehan  atau kemampuan untuk berubah dan di ubah; sebagai hasil pembelajaran atau pengalaman dan organisasi. Maka syakhshiyah bukan  sekadar himpunan tingkahlaku, tetapi melibatkan corak tindakan dan operasi yang bersifat konsisten.

Categories: Adat Basandi Syarak, Amar Makruf Nahi Munkar, Buya Masoed Abidin, Iptek, Komentar, Masyarakat Adat, Minangkabau, Nagari, PAUD, Pendidikan, Politics, Sejarah, Surau, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

Zaman Berubah Musim Berganti

 

Kader

Zaman terus beredar dan tiap-tiap zaman dan rijalnya.
Babakan pentas bisa beralih, pemainnya bisa berganti. jalan cerita sudah wajar pula menghendaki peralihan babak dan penggantian pemain sesuatu waktu.
Memang itulah yang menjadi latar belakang pikiran kita, dalam usaha pembinaan ummat yang akan  lebih panjang  umurnya dari pada usia seseorang pemimpin sesuatu waktu.

Maka yang tidak boleh tidak kita lakukan menjadi suatu “conditiosine quanon”, ialah meletakkan dasar bagi kontinuiteit aqidah dan qaidah, diatas mana khittah harus didasarkan.

Satu-satunya jalan itu, ialah ;
Membimbing dan mempersiapkan tunas-tunas muda dari generasi yang akan menyambung permainan di pentas sejarah.
Mempersiapkan jiwa mereka, melengkapkan pengetahuan dan pengalaman mereka, mencetuskan api cita-cita mereka, menggerakkan dinamik mereka, menghidupkan “zelf – disiplin” mereka yang tumbuh dari Iman dan Taqwa.
Bukanlah itu suatu pekerjaan tersambil, sekedar pengisi-pengisi waktu yang kebetulan berlebih.

Tempo-tempo ini adalah pekerjaan yang “masuk agenda”, yang untuknya harus disediakan waktu, harus dilakukan dengan sadar dan pragmatis.
Dalam rangka ini ada dua hal yang perlu diperhatikan;

(A). Mereka dari generasi baru itu telah beruntung mendapat kesempatan yang lebih luas dibidang menuntut ilmu, baik ilmu jiwa duniawi ataupun ukhrawi, dari pada mereka dari angkatan 25 (duapuluh lima-an) dulu, syukur.
Tapi dasar Iman dan Taqwa yang merupakan sumber kekuatan dan pedoman akhlaq dan karakter menjadi bekal yang tidak boleh tidak harus mereka miliki untuk menjalankan tugas – yang akan mereka jalankan itu.
Ini hanya dapat dicapai dengan r i a d a h  dalam arti yang luas.
(Disinilah terletaknya fungsi yang khusus dari Masjid menjadi lembaga risalah yang hidup dan dinamis menjadi pusat pembinaan ummat dan pembentukan kader).
Apa yang kita lihat dan rasakn dalam “keadaan” sekarang ini, cukuplah kiranya menjadi peringatan bagi kita, betapa pentingnya meletakkan “dasar jiwa” bagi para calon pemimpin ummat.
Banyak orang yang tadinya bertolak dari rumah dengan niat dan semboyan hendak menegakkan panji-panji “kalimat ilahi”, akan tetapi lantaran  dasar yang tidak kuat ditengah perjalanan, tertempuh jalan yang disebut “tujuan menghalalkan semua cara”.
Lupa mereka bahwa panji-panji Kalimat Allah itu tidak dapat berkibar bila dalam perjalanan dia terus diinjak-injak oleh kaki yang membawanya sendiri.

(B). Fakultas dari bermacam-macam jurusn sudah ada yang mempersiapkan mereka untuk jadi “sarjana”.
Kita menghajatkan teoritis yang tajam dan efektif.
Di samping itu yang dihajatkan dalam pembinaan ummat ialah “opsir lapangan” yang bersedia dan pandai berkecimpung di tengah-tengah ummat.
Kalaupun dihajatkan sarjana-sarjana, yang diperlukan bukan semata-mata sarjana yang “melek buku” tetapi “buta masyarakat”.
Sedangakn kemahiran membaca “kitag masyarakt” itu tidak dapat diperoleh dalam ruang kuliah dan perpustakaan semata-mata.
Oleh karena itu mereka perlu di-introdusir ke tengah-tengah ummat dan turut aktif bersama-sama menghadapi dan mencoba mengatasi persoalan dari kehidupan ummat dipelbagai bidang.
Sehingga mereka dapat merasakan denyutan jantung ummat, dan lambat laun berurat pada hati ummat itu.
Makin pagi makin baik ……,
(Banyak dari antara gejala dari keadaan sekarang ini yang dapat dielakkan tadinya, kalau tidaklah terlampau banyak kita mempunyai  “salon politik” yang menjadikan pemimpin amateur).

Maka di tengah-tengah masyarakat yang hidup itulah dapat berlaku proses “timbang terima” secara berangsur-angsur, antara yang akan pergi dan yang akan menyambung, patah tumbuh hilang berganti.
Sebab kesudahannya, yang dapat mencetuskan “api” ialah batu api juga.

Konsolidasi & Polarisasi
Tenaga-tenaga yang sudah dikumpulkan kembali secara selektif, usaha-usaha lama yang tlah digiatkan lagi,
kegiatan-kegiatan baru dalam pelbagai bentuk yang sudah tumbuh dengan spontan dimana-mana itu.
hanya akan dapat bertahan lama dan akan lebih efektif apabila semua itu di konsolidir dengan menyatukan aqidah dan qaidah, menyesuaikan langkah dalam suatu strategi yang sama.
Kalau tidak, kegiatan lokal dan regional itu bisa jadi “mangsa” atau terdesak dalam kompetisi antara bermacam-macam kekuatan dan aliran-aliran yang sama berkompetisi dengan kita, sudah  sama-sama kita ketahui masing-masingnya sudah dipolarisasi dalam organisasi masing-masing yang utuh.
Teranglah bahwa usaha integrasi harus diiringi segera oleh polarisasi melalui koordinasi kegiatan-kegiatan yang sejenis.
Ada lembaga-lembaga, yayasan-yayasan dibidang sosial, dakwah dan kebudayaan yang diselenggarakan oleh para keluarga.
Lembaga dan badan-badan itu perlu disatukan langkahnya, diadakan di antaranya pembagian lapangan, kerja sama, saling bantu membantu, dan yang utama disatukan faham mereka, strategi yang akan ditempuh.
Di antara keluarga kita cukup banyak menulis, yang penanya subur dan bermutu, mereka perlu diketemukan antara satu sama lain.
Kalau  belum bisa dalam bentuk  organisasi yang formil, dengan mengadakan diskusi (seminar), dan pertemuan se waktu-waktu guna pembahas persoalan yang timbul dalam bidang mereka, dan guna menyesuaikan langkah  serta pedoman dalam rangka tujuan dan mengisi “accu”  ummat.
Banyak sekolah-sekolah menengah dan fakultas-fakultas bertebaran dibeberapa tempat, dan diselenggarakan oleh keluarga kita.
Cara bekerjanya taman-taman pendidikan itu perlu  disesuaikan dengan tujuan untuk  membina kader dalam arti yang sebenarnya, tidak sekedar penambah banyak orang yang bergelar sarjana.

Ini perlu peninjauan dan penjelajahan bersama antara pemimpin-pemimpin instelling-instelling tersebut.
Perlu kontak, perlu mempool keahlian dan pengalaman.
Bagaimana sebenarnya agar menghidupkan masjid menjadi pusat pembinaan ummat yang efektif, agar jangan asal ramai  orang bershalat jamaah  saja.
Ini perlu kepada koordinasi. Dan begitulah seterusnya.
Kalau re-integrasi dibidang kepala keluarga seperti dimaksud dalam paal terdahlu bis dinamakan reintegrasi secara vertikal (taushiyatul khamsah bab 1 dan 2), maka reintegrasi dari kegiatan yang sejenis  ini bisa dinamakan reintegrasi horizontal.

Kedua-duanya dilakukan sejalan, dan kedua-keduanya menuju kepada konsolidasi dan polarisasi keseluruhannya, yakni adanya potensi yang riil tersusun dan aktif dalam wijhah, khittah dan strategi yang satu.
Formilnya tenaga-tenaga itu kalau perlu biar bersifat lokal atau regional akan tetapi hakikatnya ;

Ini semua memerlukan tenaga yang khusus, dan pembagian tugas menurut bidang masing-masing.
Segala sesuatu di selenggarakan tanpa gembar-gembor, semuanya legal bersumber kepada hak-hak azasi yang juga dijamin oleh Undang-Undang Dasar Negara.
Taushiatul Khamsah

Kalau kita memperhatikan risalah “At Taushiatul Khamsah”, oleh Al Ustadz ABU LIHJAH, teranglah yang pertama-tama dimaksudkan olehnya ialah :
Konservasi – yakni menghimpunkan atau pemeliharan apa yang ada
Maksud konversi itu untuk membukakan jalan bagi re-integrasi yakni “menghimpun yang tadinya berserakan”.
 
Re-integrasi hanya akan bermanfaat apabila disusuli oleh konsolidasi, penyatuan bagi apa yang sudah dihimpun.
Bila konsolidasi sudah terjelma, segala langkah dapat diajukan secara tertib, dalam konfrontasi terhadap pelbagai peristiwa dan keadaan.
Begitu intisari dari “At Taushiatul Khamsah”, ….

Sekarang sudah sekian masa yang lewat, sudah patut pula dibuat sekedar balans
Alhamdulillah, konservasi itu sampai sekrang berhasil juga. Pada umumnya tidak mengecewakan.

Terutama ialah berkat adanya “anti toxine” lama yang masih mengalir pada jamaah-jamaah utuh.
Bisa timbul pertanyaan ; “apakah “utuh” itu ?
Artinya bukan sekedar tidak masuk jamaah lain-lain?
Jika pada umumnya demikian, ini barulah “taraf minimal” sifatnya baru negatif. Sudah tentu proses konservasi tidak boleh berhenti disitu.
Pisang juga kalau diperam lama-lama, walaupun tidak akan berobah menjadi mangga, dia akan ranum, cair tidak bisa dipergunakan lagi.
Kalau kita memperhatikan dengan tajam, tak dapat disangkal, bahwa dikalangan jamaah, sudah juga ada mulai kelihatan gejala-gejala “ranun” itu.
Ada yang “uzlah”pasif
Ada yang mungkin dengan tidak sudah kian lama kian hanyut, atau mereka terlihat dalam arus maksiat 100%.
Ada yang hanya mengeluh;
Yah, apa boleh buat, apa boleh di bikin dalam keadaan seperti sekarang ini.
Lalu menunggu perkembangan keadaan. Kalau-kalau keadaan akan berubah.
Seolah-olahnya nanti itu, akan kedengaran semacam gong besar, menandakan “keadaan sudah berubah”.
Sedangkan, andaikatapun akan ada kejadian semacam itu, belum tentu pula olehnya apa yang seharusnya diperbuatnya disaat itu selain dari pada terkejut.

Memang zaman itu akan berubah juga, dengan atau tanpa kita.
Soalnya ialah apakah perubahan itu akan menguntungkan kita atau akat merugikan kita.
Ini tentulah akan bergantung kepada :
Apakah kita memasukkan andil kedalam zaman itu dari sekarang atau tidak.
Oleh karena itu dari konservasi pasif, kita harus meningkat kepada re-integrasi yang aktif.
 
Re-integrasi dalam tiga bidang :
(1). bidang ummat,
(2). bidang pemimpin,
(3). bidang kader.

Risalah Alif-baa-taa, sudah mengemukakan sebahagian dari usaha re-integrasi ummat yang dipancarkan dari “lembaga risalah” warisan Rasul.
 
Re-integrasi dalam bentuk ini, adalah hal yang primer, dan tidak boleh tidak. Baik untuk jangka  pendek maupun dalam jangka panjang, dalam suasana keadaan bagaimana pun coraknya, walaupun sudah ada juga di samping itu bentuk dan saluran-saluran lain.

Dia merupakan generator yang memancarkan aliran listrik, untuk penggerakkan lain-lain saluran itu.
Jangan kita lupakan bahwa yang paling  menderita kerusakan oleh keadaan yang sekarang ini, bukanlah kehidupan materi, tetapi kehidupan rohani.
Sejarah cukup membuktikan bahwa kendatipun keadaan pada suatu waktu pulih dalam bentuk lahirnya, tetapi masih panjang sekali masa yang diperlukan lagi, untuk pemulihan kesehatan dan kemantapan rohani itu.
Untuk merawat luka “kehidupan rohani” itu,  kemanakan lagi akan di cari obatnya, selain daripada kepada “lembaga risalah” yang hidup dan dapat memancarkan ….?

ASPEK EKONOMI
Aspek hidup ekonomi seseorang atau suatu masyrakat tidak terlepas dari aspek hidup yang lain. Dengan demikian, usaha memperbaiki kehidupan ekonomi, di samping mempertimbangkan faktor faktor ekonomi, juga tidak kalah pentingnya dengan faktor-faktor   non   okonomi.

Usaha perbaikan ekonomi dalam masyarakat liberal lebih ditujukan untuk memperbaiki proses kegiatan ekonomi itu sendiri, yaitu siklus produksi   distribusi   konsumsi, yang ditekan terutama pada teknis ekonomis.
Sebaliknya, pada sistim ekonomi sosialis perbaikan lebih diarah¬kan pada masyarakat di mana kegiatan ekonomi berlangsung.

Namun demikian pengertian masyarakat di sini adalah pengertian kesatuan kolektif komunitas, sehingga harkat manusia menjadi individu kerap kali dilupakan dan dikorbankan.

Dua pendekatan pengembangan tersebut menghasilkan pola perkembangan yang berbeda.
Ekonomi liberal atau kapitalstik, yang berorentasi pada komponen modal/pengusaha, mampu menghasilkan perkembangan ekonomi yang relatif cepat tetapi disertai dengan ketidakadilan ekonomi.
Sebaliknya, sistim ekonomi sosialis secara teoritik mampu melahirkan aspek keadilan ekonomi, tetapi perkembangan tekah menempatkan elite penguasa menjadi pendominasi perencanaan, pelaksanaan dan penikmatan hasil   hasil ekomomi.

Tujuan   tujuan ekonomi yang ingin dicapai oleh setiap bangsa pada prinsipnya sama, yaitu:
(a). mewujudkan perkembangan ekonomi:
(b). keadilan ekonomi dalam semua tahapan kegiatannya, produksi, distribusi , dan konsumsi: dan yang sebenarnya merupakan tujuan antara atau pendukung bagi tercapainya dua tujuan tersebut ialah stabilitas ekonomi, baik, baik stabilitas kesempatan kerja, stabilitas harga, maupun keamanan ekonomi, termasuk jaminan hidup warga masyarakat dihari tua.

Tujuan   tujuan ekonomi ini dalam prktek sukar dicapai secara bersamaan. Hingga saat ini belum ada konsep teoritik yang mantap untuk dapat mengembangkan ekonomi ekonomi atau bangsa yang secara berimbang mencapai tingkat pertumbuhan yang cepat sekaligus dengan tingkat keadilan ekonominya.

Dari sisi lain, kalau kemerosotan ekonomi suatu masyarakat atau bangsa terjadi,baik berupa tingkat inflasi yang tinggi maupun rusaknya sektor produksi pertanian akibat bencana alam, ataupun karena sebab lain, biasanya yang paling dahulu merasakan akibatnya dan yang paling parah keadaanya adalah masyarakat lapisan bawah, yang miskin dan lemah. Ini terjadi baik di negara sosialis.

Di negara kapitalis, karena modal begitu dominan posisinya, maka kelompok yang bermodal tidak mampu melakukan kegiatan okonomi secara bebas. Di negara sosialis, yang umumnya pemerintahannya bersifat otoiter, masyarakat miskin tidak dapat bertindak menjadi subjek yang menentukan, melainkan menjadi objek pelaksana kegiatan ekonomi.

Islam yang berdasarkan diri pada prinsip persamaan kedudukan,prinsif keadilan tuntutan jaminan sosial yang jelas, prinsip perimbangan antara hak dan kewajiban,serta tuntutan hidup tolong   menolong, memungkinkan dikurangi penderitaankaum lemah dalam menghadapi goncangan ekonomi. Dengan mengembangkan sikap kebersamaan dalam menikmati keuntungan dan menaggung kerugian (profit sharing dan risk sharing) dalam berbagai kegiatan ekonomi,baik dalam fungsinya menjadi produsen, distributor, maupun menjadi konsumen, keserasian hubungan antara unit unit ekonomi dalam masyarakat dapat dijamin.

Dari sisi lain, dapat dilihat bahwa kalau sistem ekonomi kapitalistik lebih “berpihak” pada pemilik modal (pengusaha), sementara sistem ekonomi sosialistik lebih “berpihak” pada buruh, tidak mungkinkah “sistem ekonomi yang Islami” mempunyai potensi untuk menyeimbangkan pemihakan tersebut bukan saja pada pengusaha dan buruh, tetapi terutama uga pada konsumen? Jawaban jawaban filositik teoritik mungkin pernah dilontarkan dan cukup meyakinkan kebenarannya. Namun, secara operasional empirik perlu pengembangan  lebih lanjut.

Kondisi perekonomian Indonesia, setelah periode menikmati manisnya minyak bumi mendekati penghujungnya, mulai menghadapi permasalahan yang cukup serius karena sumber utama devisa negara tersebut makin menyusut jumlah-nya. Di sisi lain, upaya mwendapatkan devisa non minyak belum menunjukkan hasil yang memuaskan.
Sementara itu, kegiatan perekonomian di dalam negeri sendiri makin terasa lesu, baik karena pengaruh resesi dunia maupun menjadi akibat faktor faktor internal sendiri. Kecenderungan yang demikian itu, menyebabkan sebagian pengamat pesimistik memandang perkembangan ekonomi Indonesia.

Walaupun problema problema yang mengakibatkan lambannya perkembangan ekonomi dapat berbeda antara satu negara dengan negara lain, tetapi kesamaan umum tetap ada yaitu bahwa di dalamnya terkait variabel variabel ekonomis maupun non ekonomis.

Kedua variabel pokok ini harus dilihat baik melalui pendekatan statis maupun pendekatan dinamis, sehingga dapat melahirkan pemahaman yang menyeluruh dan terpadu.
Setidak tidaknya ada lima permasalahan pokok yang dihadapi perekonomian Indonesia yaitu: masalah modal, masalah tenaga kerja, kejujuran pelaku kegiatan ekonomi.
Dua permasalahan yang terakhir termasuk problema non ekonomis.
  
Masalah permodalan.
Masalah permodalan menyangkut keterbatasan sumber modal baik dari dalam maupun dari luar negeri. Selain dari itu, daya serap investasipun terbatas juga karena sempitnya pasaran hasil produksi, baikunuk ekspor maupun [asaran dalam negeri. Permasalahan ini diperberat lagi dengan efisiensi pemanfaatan modal yang rendah dan arah investasi yang kerap kali tidak disertai dengan perencanaan yang matang. Akibatnya, angka cor (capital out put ratio) tinggi dan matarantai pengaruh ke muka dan ke belakang kecil, backward and foreward linkage terbatas.

Masalah ketenagakerjaan.
Melihat fenomena ketenagakerjaan di Indonesia, terdapat semacam paradoksal, yakni di atu fihak pengangguran makin membengkak tetapi di fihak lain dirasakan kebutuhan akan tebnaga kerja tertentu, terutama tenaga ahli dan menengah. Hal ini terjadi karena jumlah tenaga kerja kasar dan tidak terlatih (non profesional) amat banyak, sebaliknya tenaga ahli dan terlatih amat terbatas, kecuali untuk bidang tertentu.

 
Kerawanan tenagakerja ini makin diperberat dengan dua hal, yaitu :
(1) meningkatnya perkembangan sektor sektor ekonomi dengan teknologi tinggi (yang sebenarnya dapat dicapai dengan teknologi yang lebih rendah), dan
(2) sikap angkatan kerja yang statis, etos kerjayang rendah, dan langkanya motivasi wiraswasta.

Masalah keadilan ekonomi.
Sekalipun peranan pemerintah dalam bidang ekonomi, terutama sejak 1967, cukup dominan, tetapi kebebasan bersaing sektor swasta makin tajam.
Di satu fihak, perkembangan ekonomi dapat dipercepat karena fihak swasta domestik maupun asing yang bermodal kuat mampu mendirikan berbagi alat produksi dalam skala besar, teknologi canggih, efisiensi tinggi, yang memungkinkan kualitas produksi meningkat, hingga keuntungan yang diperoleh menjadi besar.

Di fihak lain, sektor sektor ekonomi yang menyangkut hajat hidup rakyat banyak makkin melemah, terutama sektor informal. Kerajinan rumah tangga di desa, industri kecil di kota, transportasi non mesin sebagian bangkrut. Fenomena yang ironi terlihat: yang besar makin kuat sementara yang kecil makin lumpuh atau mati.

Keterbatasan lapangan kerja di pedesaan mengakibatkan meningkatnya secara besar besaran urbanisasi, yang bukan saja menambah pengangguran di kota dan di desa, tetapi juga timbulnya dampak sosial yang negatif.
Upaya pemerintah meningkatkan keadilan ekonomi dengan mencanangkan delapan jalur pemerataan, rupanya menitikberatkan pada pertimbangan ekonomi, terutama yang berorientasi pada pertumbuhan.

Walaupun telah diakui banyak segi kelemahannya, masih juga dilaksanakan di Indonesia. Sementara itu isue “keadilan sosial” atau “emansipasi sosial” menjadi strategi alternatif, walaupun telah mendapat pasaran di forum kajian teoritik (di berbagai forum akademik) rupanya belum mendapat pasaran dalam praktek.  

Dengan menyusutnya secara tajam sumber modal yang dikuasai pemerintah khususnya dari hasil minyak bumi sejak tahun 1982, peranan swasta bermodal besar semakin dominan, situasi liberal yang kapitalistik makin mendapat angin, sehingga kegiatan ekonomi lemah, termasuk koperasi, semakin memburuk.

Sinyaleman sistem ekonomi Indonesia lebih condong ke ekonomi kapitalistik makin mendapat pembuktian empirik yang valid dengan fenomena fenomena ekonomi di atas. Kalau dimulai tahun 1967 sektor ekonomi modern menjadi pelopor perkembangan ekonomi, maka semenjak 1982 sektor modern inipun mengalami kesuraman menjadimana halnya sektor ekonomi yang telah tersingkir dan dikalahkan oleh sektor ekonomi modern tersebut.

Problematika ekonomi Indonesia yang kompleks tersebut, yang memprihatinkan seluruh bangsa Indonesia terutama golongan menengah dan bawah, sebenarnya hampir identik dengan problematika ekonomi ummat Islam.

Ummat Islam, di samping merupakan bagian mayoritas rakyat Indonesia, hampir semuanya menduduki strata sosial ekonomi menengah bawah  dan bawah. Sektor ekonomi informal,terutama, dilakukan oleh ummat Islam. Sebaliknya pada sektor ekonomi kuat dan menengah kuat justru ummat Islam merupakan minoritas dan tidak berperan menentukan. Fihak yang paling berperan justru pengusaha pengusaha non pribumi baik WNI maupun WNA yang menguasai matarantai ekonomi yang tidak terputuskan sejak dari impor sampai ke pedesaan, dan dari pedesaan sampai ke eksport.

Di sisi lain dapat dilihat bahwa sektor pemerintah memegang peranan yang cukup besar dalam perekonomian, baik menjadi konsumen berbagai hasil produksi maupun menjadi produsen barang barang penting bagi kebutuhan rakyat banyak.
Dalam kaitan ini, baik pemborong yang mensuplai kebutuhan pemerintah maupun penyalur hasil produksi pemerintah hampir seluruhnya dinikmati oleh pengusaha menengah kuat dan kuat, terutama yang memiliki hubungan yang akrab dengan pejabat yang berwenang.

Suatu hal yang menimbulkan rasa syukur, ialah bahwa berkat latihan-latihan mental dan amal semenjak dahulu itu, dibeberapa tempat masih ada anggota-anggota (jamaah) yang menerjunkan diri dalam penyelenggaraan bermacam-macam amal, dibidang pendidikan, dakwah dan lain-lain amal sosial. Kebanyakan bersifat lokal.

Yang diperlukan bagi mereka ialah ;
(1). perhatian dari pada kepala keluarga (jamaah), dorongan dan tempo-tempo juga tuntunan.
(2). hubungan antara satu kegiatan lokal dengan kegiatan lokal lainnya walaupun berupa “hubungan moril”.
(3). menduduk-kan “nawaitu”nya,
Yang tersebut belakangan ini, “menduduk-kan nawaitu-nya” penting sekali artinya dalam rangka re-integrasi dan konsolidasi.
Sebab besar bedanya antara seseorang yang melakukan sesuatu kegiatan dengan alam pikiran, bahwa dia sudah pindah perahu, lantaran menganggap bahwa perahunya yang lama sudah kandas,   dengan seseorang yang  melaksanakan kegiatannya, walaupun  sama jenisnya, tetapi dengan niat dan pengertian bahwa dengan cara itu dia melaksanakan bidang kesatu da kedua dari pasal tiga qanun asasinya.

Yang pertama merasa,  dia sudah pindah ke alam lain sama sekali, dimana juga dirasanya tidak ada resiko.

Yang kedua merasa, masih merasa  dalam alam yang lama, sedang melanjutkan amal usaha dalam rangka yang lama itu, walaupun sebahagian seberapa yang mungkin menurut ruang dan waktu.

Pada umumnya, mendudukkan niat-memperbaharui dan menyegarkan aqidah dan qaidah suatu partai politik, dalam arti yang lazim. Dia adalah lebih dari di-ikat oleh kesatuan  idea dibidang politik, akan tetapi juga dan terutama oleh tali ukhuwwah yang berurat pada  keimanan.

Yang tidak boleh bergerak itu ialah dan hanyalah satu bentuk atau forum dari sudut yang mengenai praktis politik.

Tapi bagaimana orang akan biasa akan meniadakan tubuh jamaah sendiri, sedang dia ini berakar  dalam kalbu masing-masing anggota  keluarganya.
Yang perlu terus kita usahakan ialah menghidup  suburkan rasa dan  kesadaran ke jamaah-an ini di antara para keluarga.

Aspek Ilmu dan Teknologi
Manusia diciptakan Allah menjadi makhluk yang paling baik strukturnya, paling mulia, melebihi dan mengatasi makhluk yang lain (At Tien:4, Al Isra’:70). Namun, kemudian menjadian mereka muncul menjadi makhluk yang bersegi negatif, bodoh, zalim dan kikir (Al Ahzab:72, Al Isra’:100), atau bahkan paling hina (At Tien:5). Dengan demikian, manusia asalnya adalah makhluk yang potensial paling unggul, termulia, namun dalam pertumbuhannya belum tentu demikian.

Oleh karenanya, ada semacam kewajiban yang inheren dalam diri manusia, yaitu mengaktualkan keunggulan kwalitas tersebut, baik segi fisik, mental, intelektual, maupun spiritualnya. Aktualisasi potensi diri menjadi makhluk yang paling superior tersebut merupakan salah satu fungsi kodrati manusia, suatu proses “ihsanisasi”.
Fungsi kodrati manusia yang lain adalah fungsi “pengabdian” (adz Dzariat:56, Al Bayyinah:5), yang disamping berdimensi transendental (ibadah khusus), juga tercer¬min dalam dimensi horisontal, yaitu pengabdian kepada sesama manusia dengan amal shalih (ibadah umum). “Kekhalifahan” adalah fungsi kodrati yang lain (Al Bawarah:30, Al An’am:165), yaitu menjadi wakil Allah dalam mengelola dan mengatur kehidupan di dunia agar tercipta harmoni dan kesejahteraan di bawah ridho Nya. Fungsi kodrati yang lain adalah “kerisalahan” (Ali Imran:104, Al Maidah:67), menyampaikan kebenaran dienul Islam menjadi pedoman hidup manusia untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan.

Bagaimana manusia dapat menunaikan keempat fungsi kodrati tersebut (ihsanisasi, pengabdian, kekhalifahan, dan kerisalahan), manusia dengan kemampuan fisik, intelek¬tual dan mentalnya membutuhkan “jalan kebenaran” yang bersumber pada kebenaran hakkiki. Sumber kebenaran yang mutlak  hanyalah datang dari Allah semata.

Untuk dapat menangkap kebenaran tersebut kepada manusia tersedia dua ‘jalur’, yaitu wahyu dan ayat kauniah, manusia membutuhkan interpretasi terhadap keduanya. Interpretasi terhadap wahyu (Qur’an dan Sunah) sering dikenal menjadi “tafsir”, sementara interpretasi terhadap fenomena fenomena kauniah dikenal menjadi “ilmu pengetahuan”.

Ilmu dan teknologi berkembang didorong oleh kebutuhan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, untuk dapat mempertahankan eksistensinya yaitu berinteraksi secara harmoni dengan lingkungan alamnya.

Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia mampu memperoleh kemudahan kemudahan dalam melakukan kehidepan sehari hari, dalam memenuhi fungsi hidupnya. Dengan ungkapan lain, makna dikembangkan ilmu dan teknologi oleh manusia (aspek aksiologis ilmu dan teknologi) ialah menjadi alat agar manusia dapat memenuhi misi atau makna kehidupannya di dunia.

Perkembangan ilmu, serta teknologi yang menyertainya dicapai manusia melalui matarantai yang panjang dari upaya manusia untuk dengan kemampuan “interpretasi ayat kauniah” nya yang berupa kemampuan observasi, abstraksi, pengkajian dan eksperimentasi mereka. Perkembangan ilmu dan teknologi yang dicapai oleh ummat manusia hingga saat ini telah mendorong ‘loncatan peradaban’ yang mencengangkan.

Perkembangan ini sedemikian menyilaukan ummat manusia sehingga menggeser persepsi mereka tentang ilmu dan teknologi, yang semula menjadi alat untuk berinteraksi dengan lingkungan alaminya, menjadi sesuatu yang lebih dari itu. Ilmu dan teknologi seringa dipandang menjadi yang mampu memecahkan segalanya, lahirlah rasionalisme. Ilmu dan teknologi seolah menjadi “tuhan”.

Di sisi lain, disadari pula bahwa perkembangan ilmu dan teknologi tidak hanya berkembag oleh kemampuan rasional manusia saja, akan tetapi dipengaruhi pula oleh corak pemikiran filsafati (pandangan budaya, keyakinan dan agama) para pengembangnya. Dengan demikian, perkembangan ilmu dan teknologi taklah netral, tetapi diwarnai pula oleh presuposisi presuposisi tertentu.

Hal ini akan semakin nyata dirasakan pada spektrum ilmu ilmu sosial. Pertanyaan ini cukup bermakna mengingat ilmu dan teknologi yang dimiliki manusia saat ini dikembangkan dengan kurang memperhatikan nilai nilai moralitas kemanusiaan, nilai nilai keagamaan. 

Bagi bangsa Indonesia yang juga berarti bagi ummat Islam, perkembangan ilmu dan teknologi juga menunjukkan permasalahan tesendiri, yaitu kenyataan ketinggalan dan sifat ketergantungan yang berkepanjangan tehadap dunia barat.

Di samping itu, proses alih iptek (transfer of     science dan technology) yang kita lakukan berlangsung tanpa sandaran etis yang kuat, sehingga proses ahli iptek tersebut kadang kadang secara sadar atau tidak disertai pula alih nilai (transfer of value) Barat, yang dalam beberapa hal bukan saja bertentangan dengan nilai nilai budaya bangsa, terutama bertentangan dengan nilai nilai Islam.
Efek samping lain proses alih iptek seperti disebutkan diatas juga tidak menjamin terpecahkannya secara memadai permasalahan utama yang dihadapi bangsa Indonesia sendiri, seperti : kemiskinan, defisiensi pendidikan, defisiensi gizi dan kesehatan, kelangkaan kesempatan kerja, dan menjadinya. Hal ini terjadi karena paket paket teknologi yang ditransfer pada umumnya dirancang untuk menghadapi problematika kehidupan masyarakat maju dan sekularistik, yang berbeda dengan problema sosial budaya bangsa Indonesia dan ummat Islam didalamnya.
Kenyataan tentang perkembangan ilmu dan teknologi diatas dapat menimbulkan dilema etis bangsa Indonesia, terutama kaum muslim dan cendekiawannya. Disatu sisi, bagaimanapun juga ilmu dan teknologi akan selau berkembang, karena perkembangannya sendiri adalah suatu sunatullah.

Tanpa mengikuti dan menggunakan kemajuan ilmu dan teknologi, ummat Islam akan terbelakang dan akan inferior dalam perkembangan budayanya. Akan tetapi di sisi lain, kemajuan yang dicapai oleh ilmu dan teknologi itu tanpa sandaran etis yang kuat akan dapat menjerumuskan ummat pada kehidupan yang materialistik.
Ilmu dan teknologi, menurut pandangan Islam, mestinya dikembangkan dan diperuntukkan bagi pemenuhan fungsi fungsi koderati manusia di atas.

Bagaiman dengan ilmu dan teknologinya manusia mampu mengaktualisasikan dirinya menjadi makhluk yang termulia, menajdi wakil Allah dalam mengelola dunia, membudayakan manusia sesuai dengan ketinggian dengan martabatnya dihadapan Allah. Ilmu dan teknologi mestinya dimanfaatkan manusia untuk menunaikan tugas kerisalahannya dan menyingkatkan pengabdiannya terhadap sesama manusia menjadi manifestasi pengabdiannya kepada Al Khalik.

Dari uraian di atas, dapat diidentifikasi permasala¬han yang dihadapi ummat Islam Indonesia, khususnya kelompok cendekiawannya, dibidang ilmu dan teknologi menjadi

(1) Bagaimana ummat Islam dapat mendudukkan kembali fungsi ilmu dan teknologi menjadi sarana manusia untuk menunaikan fungsi fungsi kodratinya menjadi hamba Allah ? Dan bagaimana cendekiawan muslim mampu mengambangkan ilmu dan teknologi tanpa terjerumus pada pola berfikir materialistik dan sekularistik ?

(2) Bagaimanakah ummat Islam mampu menguraikan ketinggalan dan ketergantungannya di bidang ilmu dan teknologi dari dunia barat ? Dan bagaimana proses alih ilmu dan alih teknologi dapat berlangsung tanpa menimbulkan efek negatif alih nilai dan budaya barat? 

Sesungguhnya kita masih banyak  mempunyai saluran tenaga.
Saluran-saluran lama dan saluran-saluran baru…
Dan bisa pula ditambh dengan yang paling baru lagi.
Di antara saluran-saluran yang lama, ada yang sudah lumpuh. Tapi masih ada kerangkanya, dan masih ada pusatnya, walaupun sudah sama-sama lumpuh. Pesat jalannya dengan lambang lain.

Mengenai ini perlu diajari dan diusahakan bagaiaman menggiatkan lagi yang sudah lumpuh.
Di samping itu dimana  pertukaran lambang, yang bertukar hanyalah lambangnya bukanlah jiwanya.

Untuk itu re-integrasi dikalangan para kepala keluarga tadinya merupakan syarat muthlak.
Sudah dapat dimaklumi, bukan sebanyak itu para kepala keluarga tadinya, tentu ada yang sudah lama lucutnya, atau lumpuh atau mulai ranum. Ada pula yang baru sekarang banyak kukunya yang sebenarnya.

Kalau dia dahulu menjadi kepala keluarga dengan “tanda kutip”, dia sebetulnya benar-benar menjadi kepala keluarga, yang bernafas keluar badan. Kalaupun sekarang dia tidak terang-terang menentan, tetapi dari langkah lakunya dan ucapannya dia bukan keluarga lagi.

Berada dalam keadaan semacam ini, maka usaha re-integrasi dibidang ini, kita harus mulai dari alif-baa-taa.

Mulailah dari teras yang tetap segar tandanya mereka sudah lulus ujian, sudah berjalan dengan tertib, berangsur-angsur, yang dengan izin Allah lebih baik dari yang tidak ada lagi itu.

Dan jika mereka yang sudah lemah-lemah lutut itu sekarang ini, sudah melihat perkembangan menuju kearah yang agak menggembirakan dan memberi harapan, nanti akan kembali.

Kita boleh coba mengobati lutut mereka yang lemah itu, tapi jangan kita  paksa-paksakan. Nanti kita kecewa, dan mereka sendiripun  kesal.
Adapun bekas golongan kepala keluarga dengan “tanda kutip” itu, terbaik-baik saja kita dalam pergaulan sehari-hari, menjadimana juga kita berbaik-baik dalam pergaulan sehari-hari dengan sesama manusia, walaupun berlainan jamaahnya.
Akan tetapi kalau sudah, mengenai hal-hal yang mengenai risalah kita, disitu ada garis demokrasi yang tajam dan kita harus mampu bersikap ;
“ Jangan kawan-kawan turut keluar bersama kami sama sekali” …..,
Mengenai hal yang semacam ini, akan berfaedah sekali bila kita memperhatikan kembali, antara lain Surat At Taubah ayat 60 – 99 ….., dimana kita dapat berkenalan semacam corak manusia.

Silahkan ulangi mentelaahnya,
kemudian teruskan pada ayat 100 dan seterusnya ….,
 
Re-integrasi pada niveau kepala keluarga adalah integrasi selectif. Sesungguhnya hikmah Allah menurunkan sesuatu ujian, adalah guna seleksi.
Bukan untuk satu neveau golongan saja.
bukanlah keseluruhannya bisa diganti dengan ummat yang lebih baik,
Maka perlulah sekali para kepala keluarga mengadakan silaturahmi sewaktu-waktu.

Dalam silaturahmi itu terutama dapatlah diperbaharui ikatan ukhuwwah yang menjasdi salah satu sumber kekuatan lahir dan batin, dimana pula dapat dibuat inventarisasi dari tenaga-tenaga yang ada, baik yang berupa faktor-faktor objektif ataupun faktor-faktor subjektif.

Dapat saling lengkap melengkapi suatu fakta dan data yang perlu sama diketahui.
Mungkin pula atas penilaian bersama itu dapat disusun satu  daftar usaha, untuk jangka pendek dan jangka panjang.
Satu dan lainnya dengan semboyan dan tekad;
“ yang sulit kita kerjakan sekarang,
“ yang tak mungkin, kita kerjakan berseok …
Insya Allah,
“ yang mudah sudah banyak orang lain mengerjakannya
Jangan tinggalkan semuanya bila sebelum semua dapat dilaksanakan.
Dalam silaturahmi, antara lain dapat dibuat balans dari usaha yang sudah dilakukan dan yang belum dapat dilakukan.
Dan di coba lagi maju selangkah,
dan begitu seterusnya ……
Pendeknya satu dan lainnya, sudah sama kita fahami.
Tak  perlulah disini “orang tua diajar pula memakan bubur lagi”.
Pokoknya, Re-integrasi keluarga menghendaki re-integrasi kepala keluarga yang selektif.
 
Re-integrasi aktif menghendaki aktiviteit.
Aktivited menghendaki bimbingan.
Rencana harus berdasarkan penilaian fakta dan data yang up to date, dan tepat.
Bimbingan harus berdasarkan rencana,
Ini semuanya menghendaki adanya pengumpulan fakta dan data  yang dapat dipertanggung jawaban dalam silaturahmi  lokal,
interlokal (dan sentral dimana bisa) …..

Akhirul kalam
Sekianlah beberapa pokok pikiran mengenai re-integrasi dalam tiga bidang itu, menjadi landasan dari taraf-taraf selanjutnya konsolidasi, polarisasi dalam rangka taushiyatul khamsah.
Adapun tafsir dari taushiyatul khamsah adalah tanfiznya.
Kata Saidina Umar bin Khatab R.A. tidak ada faedahnya suatu pemikiran selama tidak ada pelaksanannya.
Maka tanfiz berkehendak kepada ; program, pembagian tugas-tugas, pelaksanaan, balans, program lagi ….., dan begitu seterusnya.
Tak usah ditegaskan lagi bahwa ini berkehendak kepada pengkhidmatan dalam bermacam bentuk ; daya cipta, waktu, keringat, harta (untuk tidak menyebutkan bentuk-bentuk yang lebih dari pada itu dulu).
Ini sudah menjasdi sunnatullah,
laa tabdila likhalqillah …..,
Mudah-mudahan tidaklah kita akan masuk golongan yang pernah disentil oleh seorang penyair ;
“  kejayaan jua yang kau  idamkan,
jalan mencapainya kau tempuh tidak,
Betapakah kapal akan berlayar ditanah kering.
Bismillah …..

 

 

Categories: Amar Makruf Nahi Munkar, Buya Masoed Abidin, Education, Ekonomi anak nagari, Iptek, Komentar, Masyarakat Adat, Politics, Surau, Tauhid | 1 Comment

Hematlah Energi yang disediakan Alam secara terbatas

HEMATLAH DENGAN ENERGI YANG TERSEDIA DI ALAM SEMESTA
SEBAGAI PENGAMALAN DARI AJARAN ISLAM DAN ETIKA RELIGI

Oleh : H. Mas’oed Abidin

ALAM TUNDUK PADA KEKUASAAN ALLAH
Firman Allah menyebutkan, “Sesungguhnya pada langit dan bumi terdapat tanda-tanda…”

” Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman.” (QS.45, al Jatsiyah : 3).

Manusia – penduduk bumi -, yang disebut khalifah – penguasa, pengelola, penerima amanah sebagai penjaga dan pembaharu dari alam yang telah diciptakan Allah untuk makhluk ini –, wajib menjaga agar alam itu tetap lestari.

Salah kelola alam adalah kesalahan (dosa) besar yang mengakibatkan bencana karena energi alam tidak termanfaatkan.
Hal ini lebih awal dirasakan oleh manusia.
” dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan dan mereka di liputi oleh (azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya. ” (QS.45, al Jatsiyah : 33).

BUMI DAN LANGIT SATU DAN LAINNYA TERKAIT
Ilmu pengetahuan kosmologi moderen, secara observasi maupun teori, menunjukkan dengan jelas bahwa, pada suatu ketika dalam waktu, keseluruhan alam semesta adalah tak sesuatupun melainkan sebuah AWAN BERUPA ASAP, yaitu sebuah komposisi padatan tinggi yang gelap dan gas yang panas.

Hal ini amatlah jelas sesuai dengan firman Allah didalam Alquran menyebutkan,
…. dan kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. (QS.41, Fush-shilat : 11).

Sekaligus ayat ini menjelaskan kepada manusia bahwa ”alam patuh kepada perintah dan hukum Allah”

Alam dijadikan lengkap dengan sumber energi.
Terbatas.
Di antaranya air.
“ dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga mau beriman – percaya akan kekuasaan Allah –?” (QS.21, al Anbiya’ : 30).

Persoalan mendasar adalah ;
1. Sikap jiwa (mental attitude) yang wajib dipunyai dalam mengaji fenomena alam
2. Iman – percaya –, dengan yakin terhadap kekuasaan dan keesaan Allah Khaliqul Alam.
3. ”Air merupakan unsur utama dari benda hidup.”. Dari 50 hingga 90 persen dari berat organisme hidup adalah air.”

Allah telah membangun langit itu, dan dia pula yang meluaskannya.
Alam tidak terjadi dengan sendirinya.
Dia dijadikan dan tunduk kepada aturan baku yang telah ditetapkan oleh pencitanya.
Para ilmuan berkata,”pengetahuan kami mengenai ekspansi alam semesta masih sangat terbatas”.

Dengan wahyu Allah pengetahuan lebih meningkat.
Manusia mesti mengelola dan menghadapi fenomena alam sesudah dan sebelum terjadi, dengan mudah dipelajari bahwa alam berjalan dengan aturan baku (sunnatullah – natuurwet) itu.
Dan Allah berfirman,
” dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. masing-masing dari keduanya itu BERENANG di dalam GARIS EDAR-nya. ” (QS.21, al Anbiyak : 33).

ANGIN ADALAH SUMBER ENERGI YANG PALING BERHARGA.
” dan Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa berita (kabar) gembira, dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (yakni hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang bersih, ” (QS.25, al Furqan : 48).

” dan Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman, angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Anbiya’ : 81).

Angin adalah sumber energi.
1. Dengan energi itu, aman berjalan di daratan terbuka– tidak perlu AC dan freon yang membuat lapisan ion menipis, penyebab pemanasan global –.

2. Dengan angin memudahkan (berlayar) di lautan, meluncurkan bahtera membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik.

Sumber energi tidak akan mendatangkan manfaat, ketika ;
a. tidak mau menjaga alam sebagai sumber energi.
b. enggan mengelola kelestarian di alam ini.

Bukti dan tanda kekuasan Allah, dikirim angin sebagai pembawa berita gembira.
Awan tebal ditiup angin, lalu hujan turun, menjadi rahmat Allah dengan tumbuhnya biji-bijian yang disemai, menghijaukan tanaman, mengganti putik menjadi buah, dan seterusnya.

Ketika alam dirusak, maka air hujan yang turun berubah menjadi banjir, membawa petaka. Angin bertiup kencang, tanpa penghalang kayu di hutan, ikut menghancurkan rumah dan bangunan.

Perintah kepada manusia pandailah menjaga alam, dan hematlah menggunakan energi yang disediakan oleh alam itu.
” dan Allah Dia-lah Yang mengirimkan angin ; lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu kesuatu negeri yang mati lalu Kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu.” (QS. 35, Fathir : 9).

AIR ADALAH SUMBER ENERGI KEHIDUPAN
Allah mengumpamakan yang benar dan yang bathil dengan air dan buih. Buih akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya. Namun, air yang memberi manfaat kepada manusia akan tetap ada di bumi. Memberikan perbandingan antara logam yang mencair dalam air dan buihnya. Buih akan lenyap dan tidak ada gunanya bagi manusia –.”

Kejadian alam semesta tergantung kepada kekuasaan Allah SWT.
” dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa ” (QS. 51, adz-Dzariyat : 47).

“Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemu-lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan.” (QS. 54, al Qamar : 12).

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir)” (QS.15, al Hijr : 45).

Umat manusia sekarang mesti;
a. menjaga potensi energi yang ada dalam air,
b. mengolahnya dengan sebaiknya.
c. Air sumber energi terbarukan, jika kita pandai memanfaatkannya.

ALAM TUNDUK KEPADA KETENTUAN HUKUM ALLAH DAN WAKTU
” Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan MENUNDUKKAN matahari dan bulan, MASING-MASING BERJALAN MENURUT WAKTU YANG DITENTUKAN. Ingatlah, Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. 39, az-Zumar : 5).

GUNUNG-GUNUNG MENJADI PASAK BUMI
” Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?,” (QS. 78, an Naba’ : 6-7).

Ilmu pengetahuan moderen telah membuktikan bahwa, “Gunung-gunung memiliki akar-akar yang menjuntai ke bawah.”
Selanjutnya, “Ilmu-ilmu pengetahuan bumi moderen telah membuktikan bahwa gunung-gunung memiliki akar-akar yang dalam di bawah permukaan tanah.”

“ dan Dia MENANCAPKAN (mengukuhkan) gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak GONCANG bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk,” (QS.16, An Nahl : 15).

Para ilmuan peneliti menyimpulkan bahwa, “Gunung-gunung memainkan peranan penting dalam membuat kestabilan pada kerak bumi.”
Lebih jauh dinyatakan bahwa, “Seperti halnya teori moderen mengenai lapisan tektonik menyatakan bahwa gunung-gunung bekerja sebagai stabilisator-stabilisator bagi bumi baru saja mulai dipahami dalam kerangka kerja mengenai lapisan tektonik sejak akhir 1960-an”

ALQURAN JELASKAN PERGERAKAN AWAN
Di saat terjadi gempa di Sumbar, banyak orang menyaksikan keajaiban di langit, tampak awan bertuliskan kata Allah atau Muhammad.

Perlu dipahami bahwa ;
a. Alam ada dalam kuasa Allah.
b. Tidak pula ada mistik-mistik-kan.
c. Cerdaslah menatap awan.

” Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya ….” (QS.24, an-Nuur : 43).

Kekuasaan Allah terlihat jelas ketika awan-awan bergerak perlahan-lahan.
Ditiup angin. Kemudian, Dia menggabungkan mereka bersama-sama.

Awan-awan dalam formasi menggunung (masif) mulai membentuk manakala angin mendorong gumpalan-gumpalan kecil awan putih menuju suatu area dimana awan-awan itu bertemu.
Kemudian, masuk ke dalam satu susunan.
Bergabung : Awan kecil bergabung membentuk awan lebih besar, berbagai formasi.
Bertimbun : Awan-awan kecil bergabung, membubung tinggi, lebih besar ke atas… disebabkan badan awan bertumbuh vertikal, sehingga awan tersusun makin tinggi .. Selanjutnya, engkau melihat hujan turun dari celah-celahnya. Ketika titik-titik air menjadi terlalu berat bagi pembubungan untuk mendukungnya, air mulai turun dari awan sebagai hujan, salju, dsb.

“…Dan Dia menurunkan SALJU dari gunung-gunung di langit, maka Dia menimpakan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan
Dia menghindarkannya dari siapa yang dikehendaki-Nya.
Hampirlah sinar kilat itu menghilangkan penglihatan.”

Ahli-ahli meteorologi telah menemukan bahwa awan-awan yang menggunung, dan hujan salju, mencapai suatu ketinggian 25.000 hingga 30.000 ft (+/- 6 hingga 8 km).

Awan-awan menjadi beraliran listrik ketika salju jatuh melalui suatu wilayah dalam awan yang yang berisi serpihan-serpihan kristal-kristal es super dingin… Salju, dengan tegangan yang negatif, jatuh melalui bagian bawah awan ini menjadi bermuatan negatif. Muatan negatif ini dinetralkan ke tanah jadi kilat.

HEMAT DALAH SIKAP JIWA ORANG PERCAYA (BERIMAN).
Boros (= israaf) sama artinya dengan melakukan sesuatu tidak dalam rangka ketaatan. Boros dan melampaui batas adalah penyakit rohani yang sangat merusak bangsa.

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB BOROS ;
1. Latar belakang keluarga.
2. Keluasan rezki diperoleh setelah Kesempitan.
a. Lupa kepada kesulitan yang pernah ada,
b. Tidak mampu bersikap sabar,
c. Tidak mampu bersikap Tawassuh (pertengahan) dan
I’tidaal (seimbang) dalam menggunakan pemberian Allah melalui alam
d. Bersikap tabzir (menyia-nyiakan harta).

Amr bin Auf r.a meriwayatkan Rasulullah bersabda: “Demi Allah,
bukanlah kefaqiran yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi aku khawatir
jika dunia telah dihamparkan kepada kalian sebagaimana dihamparkan
kepada umat terdahulu, kemudian kalian akan saling berlomba, sehingga
akhirnya hal itu akan membinasakan kalian sebagaimana telah
membinasakan mereka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

3. Lalai terhadap dahsyatnya hari kiamat.
4. Lalai terhadap realitas kaum muslimin.
Disebabkan beberapa faktor ;
a. ‘beku’ perasaanya,
b. ‘mati’ rasa belas kasihannya,
c. Hilang rasa ukhuwwah tidak memikirkan kondisi saudaranya.

DAMPAK BURUK DARI TIDAK HEMAT ATAU BOROS.
a. Timbul penyakit fisik.
b. Hati jadi Kesat), Beku berfikir, malas Ibadah.
c. Meningkatnya Nafsu Syahwat
d. Tidak mampu menghadapi ujian dan kesulitan.
e. Lenyap Sifat sosial dan solidaritas sesama.
f. Mudah terjerumus mencari jalan yang Haram.
Rasulullah SAW bersabda : “Akan datang kepada manusia suatu masa,
di mana kala itu seseorang tidak lagi mempedulikan darimana ia
mendapatkan hartanya, apakah halal atau haram.” (HR. An Nasa’i)
g. Tidak dicintai Allah.
Menjadi teman Syaithan.
« …. dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. »

(QS.6, Al An’am : 141).

« Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara
syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. »
(Q.S. Al Israa’ : 26-27)

SALAH MEMANFAATKAN POTENSI ALAM, ENERGI ALAM MELEDAK.
Kekuasaan Allah sangat ilmiah, dan sangat jelimet penuh perhitungan ;

”dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya, dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan — Yang dimaksud berpasang-pasangan, ialah jantan dan betina, pahit dan manis, putih dan hitam, besar kecil dan sebagainya. –, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS.13, ar Ra’ad : 3).

Lebih menakjubkan ayat Alquran yang menyebutkan,
” Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak (berkilauan).” (QS.55, ar Rahman : 37).

Renungkan hasil pandangan ilmu pengetahuan moderen. Ketika gambar direkam dari Teleskop Ruang Angkasa NASA dari “Cat’s Eye Nebula”, sebuah ledakan bintang 3.000 tahun cahaya, Alquran menyebut :menjadi mawar merah seperti minyak (berkilauan).

” Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Tigapuluh tiga kali kalimat yang sama ini di ulang, agar manusia tidak sempat melupakan nikmat Allah.
Lalai dan sombong dari mengingat kuasa Allah adalah satu mental attitude (karakter) yang menjadi penyebab datangnya bencana.

KAUSALITA ANTARA ALAM DAN MENTALITA MANUSIA.
1. ADA HUKUM KAUSAL ANTARA SIKAP JIWA DAN BENCANA.
Apapun yang menimpa kamu berupa sayyiatin (bencana dan kekurangan),
tersebab kelalaian diri sendiri. Manusia wajib berhati-hati dalam hidup di alam.

2. HARTA DAN KELUARGA TIDAK MAMPU MENOLAK BENCANA DARI ALLAH.
Sikap durhaka dan sombong dalam menjaga dan memelihara alam, akan
mengundang bencana.

3. MENCARI SIHIR, MAGIS, PARANORMAL AKAN MENGUNDANG BENCANA.
Sejarah Fir’aun berulang lagi di zaman modern. Ilmu eksakta ditinggalkan,
berpindah kepada sihir dan kekuatan magis. Akhirnya, mereka karam.

4. UMAT LALAI IBADAH, LIDAH BERAT SEBUT ASMA ALLAH, BENCANA MELANDA.
a. keimanan tipis,
b. pesan agama mulai melemah,
c. melampaui batas menggunakan potensi dan alam, adalah penyebab
utama siksaan hidup yang menyerang penduduk negeri.

5. MENJAUHI PERINTAH AGAMA, MERUSAK ALAM, MENGUNDANG BENCANA.
a. kezaliman yang terjadi akan mendorong sikap aniaya.
b. terlambat sadar akan menenggelamkan kedasar laut.

” hingga ketika Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah
dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang
dipercayai oleh Bani Israil, dan saya Termasuk orang-orang yang
berserah diri (kepada Allah)”. Apakah sekarang (baru kamu percaya),
Padahal Sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu
Termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.”
(QS.10, Yunus : 90-91).

6. BISIKAN NURANI RAKYAT KECIL BERMUNAJAT IKHLAS, DIJAWAB ALLAH.
Inilah bentuk kausalita antara jiwa dan perubahan pada fenomena alam.
a. Allah perkenankan permohonan umat tertindas.
b. Bertubi-tubi azab menimpa,
c. Bencana akan melanda dalam negeri. Kemarau panjang dan
kurangnya makanan pokok dan buah-buahan.

” dan Sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir’aun dan) kaumnya
dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan
buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran.”
(QS. 7, al A’raaf : 130).

7. MEMPEROLOK-OLOK KEKUASAAN ALLAH, JUGA MENGUNDANG BENCANA.
a. Ketika kesempitan berganti dengan kemakmuran, mereka menjadi
sombong diri.
b. Ketika keberhasilan diraih, mereka berkata :
“Itu adalah karena (usaha) kami”.
c. Ketika ditimpa kesusahan, mereka lemparkan kesialan itu kepada
ketidak mampuan agama. Bencana taufan (banjir), hama belalang,
kutu, katak dan air minum berubah menjadi darah.

” Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak
dan darah — air minum mereka berubah menjadi darah.– sebagai bukti
yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah
kaum yang berdosa.”(QS.7 : 133)

” Kemudian Kami menghukum mereka, Maka Kami tenggelamkan mereka
di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka
adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu.”
(QS.7, al A’raf : 136).

Akhirnya, hancur semua yang telah dibangun.

8. LUPA AKAN KEKUASAAN ALLAH, AKAN MENDAPAT LAKNAT DAN KUTUKAN.
” dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula)
di hari kiamat. la’nat itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan.”

(QS.11, Hud : 99).

Merusak potensi dan energi alam (bersikap durhaka) akan keluar dari keindahan serta perbendaharaan kekayaan alam, akhirnya akan menjadi musuh kehidupan.

Pelajaran besar dari wahyu, umat manusia mesti memahami hukum kausalita yang ditetapkan Allah SWT bertalian dengan sikap jiwa dan fenomena alam.
“Maka Kami keluarkan Fir’aun dan kaumnya dari taman-taman dan mata air, dan (dari) perbendaharaan dan kedudukan yang mulia. — Dengan pengejaran Fir’aun dan kaumnya untuk menyusul Musa dan Bani Israil, Maka mereka telah ke luar dari negeri mereka dengan meninggalkan kerajaan, kebesaran, kemewahan dan sebagainya. — ” (QS. 26, asy-Syuraa : 57-58).

KESIMPULAN :
I. Umat dakwah mesti mempelajari peristiwa alam dengan cara sikap positif.
a. Tidak mengulangi kesalahan dan kenaifan umat terdahulu,
agar terhindar dari musibah yang disebabkan meledaknya energi alam,
b. Jeli dan arif memahami fenomena alam dengan energi dan potensi alam
sebagai anugeran Allat SWT,
c. Kemauan yang sungguh mengamalkan bimbingan dan tuntunan Allah dengan
beragama secara kaffah.

II. Menjaga Alam dengan menjaga Kesuburan Nafs sangat di anjurkan;
a. dengan ibadah teratur,
b. memperbanyak zikrullah, membaca al-Qur’an, melakukan shalat sunnat
malam (tahajjud),
c. hidup dengan menghindari yang diharamkan.

III. Melakukan tazkiyah nafs didukung oleh himmah (minat) yang kuat,
a. niat yang tulus, keyakinan yang benar dengan cara yang benar,
b. khusyuk (fokus) didalam pemanfaatan sumber dan potensi energi alam,
c. memiliki kesadaran ruhani,
d. menjaga garis-garis yang telah ditetapkan Allah untuk alam ini.

Kita memerlukan zikir, supaya Allah selalu bersama kita dalam menuju
redhaNya. Keseimbangan ilmu dan zikir muthlak dalam perjalan hidup
manusia.
Hakikatnya tidak akan ada perjalanan kehidupan, melainkan dengan
keduanya.

IV. Membersihkan diri (muhasabah) dan merawat hati dilakukan dengan
membersihkan niat, akidah dan ibadah yang wajib didukung ilmu.
a. Tidak berlaku sebuah amal tanpa ilmu.
Tidak berarti setumpuk ilmu, tanpa diamalkan.
b. Kesadaran, hanya Allah semata yang punya kebesaran.
c. Menjaga energi alam adalah tugas yang mulia.

Al Quran menyatakan peran agama multi-fungsi, yakni mengeluarkan manusia dari sisi gelap kealam terang cahaya (nur, hidayah, iman dan peradaban).

Membentuk masyarakat mestilah dengan basis ilmu pengetahuan, basis budaya –saling menghargai dalam satu keluarga bangsa –, dan agama – menjaga ibadah, akhlaq dan akidah shahihah–.

1. Nilai etika reliji (akhlaq mulia) melahirkan masyarakat proaktif dalam menyikapi
dan menghadapi perubahan alam.
2. Kehidupan ditengah alam adalah satu realitas yang mesti diterima sebagai
satu sunnatullah dan disambut dengan usaha.
3. Hidup dan kehidupan ditandai dengan selalu melakukan perbaikan dengan
menjaga peningkatan mutu diri dan masyarakat.

Di sinilah peran terbesar umat dakwah untuk ikut aktif menata ulang masyarakat dengan nilai-nilai kehidupan berketuhanan dan bertamaddun itu.

Wabillahitaufiq wal hidayah

Categories: ABS-SBK, Buya Masoed Abidin, Education, Ekonomi anak nagari, Energi, Globalisasi, HAM, Iptek, Kekayaan alam, Komentar, Masyarakat Adat, Minangkabau, Pendidikan, Politics | Leave a comment

Menatap Masa Depan Bangsa

MASA DEPAN

OLEH: H.MAS’OED ABIDIN

Betapapun krisis tengah melanda Indonesia sebagai bahagian dari kawasan Asia Tenggara, namun sebagai bangsa yang besar semestinya bersikap optimis dengan dorongan semangat besar bahwa bangsa (kawasan) ini akan menjadi pusat kegiatan masa datang, baik dalam penguasaan ekonomi ataupun intelektual menghadapi percaturan abad ke duapuluh satu.

Suatu kenyataan, instalasi kekuatan ekonomi terpegang oleh bahagian terkecil (selected minority) dengan penguasaan kebutuhan mayoritas penduduk di pedesaan.
Namun, bila kekuatan kecil ini mampu membangkitkan peran penguasaan kebutuhan terbesar masyarakat, adalah suatu keniscayaan semata bangsa ini akan dapat bergerak secara pasti menjadi umat yang di perhitungkan.

Sulit untuk di elakkan, adanya suatu keharusan memelihara gerak pertumbuhan dari bawah (bottom-up).
Usaha nyata perlu dikembangkan melalui ekonomi keluarga dan pemungsian kekuatan ekonomi pasar dari pedesaan.
Karena, yang akan memimpin orang banyak adalah yang bisa berbuat banyak untuk orang banyak itu.

Peranan generasi mendatang harus di siapkan pada dasar kesepahaman memelihara destiny sendiri, dengan menanamkan kebebasan terarah untuk menumbuh kembangkan tanggung jawab bersama, dalam upaya meningkatkan daya saing dan menghasilkan hal-hal yang produktif, pada gilirannya akan membuahkan beragam hasil usaha yang dinikmati bersama.

Memang ada satu kecemasan bahwa sebahagian generasi yang bangkit kurang menyadari tempat berpijak.
Sebenarnya suatu kelaziman belaka pada kawasan yang tengah berkembang tampilan kolektivitas lebih mengedepan dari pada aktivitas individu.

Dalam hubungan ini diperlukan penyatuan gerak langkah memelihara sikap-sikap yang harmonis dengan menghindari adanya tindakan eksploitasi dalam hubungan bermasyarakat.
Penguatan daya implementasi konsep-konsep aktual menjadi sangat penting, melalui research dan pengembangan serta kualita dalam membentuk kondisi.

Pemberdayaan institusi (lembaga) kemasyarakatan yang ada (adat, agama, perguruan tinggi), dalam mencapai ujud keberhasilan, mesti disejalankan dengan kelompok umara’ (penguasa) yang adil (kena pada tempatnya).

Ketersambungan pendapat ilmuan dan para pengamat melalui dialog, dan penekanan amanah pada pemegang-pemegang kendali ekonomi, serta penyatuan gerak seluruh masyarakat yang ujud dalam do’a (harapan) berpadu pada usaha (kenyataan), merupakan pekerjaan mendesak dalam meniti suatu pengembangan pembangunan (development).

Pemeranan seni mengajak secara aktif (dakwah) akan menyokong mempertahankan apa yang kita miliki dan membuat apa yang belum kita miliki.

Akhlak mulia adalah suatu kemestian bagi mendorong tumbuhnya pro-aktif dalam gerak pembangunan fisik dan non-fisik.

Suatu kecemasan bahwa diantara generasi yang tengah berkembang belum siap memerankan tugas di masa depan, memang beralasan.

Gejala itu terlihat dari banyaknya generasi bangsa yang masih terdidik dalam bidang non-science (seperti, kecenderungan terhadap yang berbau mistik, paranormal, pedukunan, penguasaan kekuatan jin, budaya lucah, pergaulan bebas, kecanduan ectacy,dan konsumsi penanyangan pornografi) di tengah berkembangnya iptek.

Gejala ini tampil pada permukaan tata pergaulan yang dipermudah oleh penayangan informasi produk cyber space.

Keinginan yang tidak selektif, peniruan gaya hidup yang tidak berukuran, sesungguhnya akan lebih banyak menghambat kesiapan menatap masa depan.

Kemungkinan ini bisa terjadi karena kurangnya interest terhadap agama dan mulai meninggalkan puncak-puncak budaya yang diwarisi, diperberat oleh tindakan para pemimpin formal dan non-formal yang kebanyakannya masih terpaut pada pengamatan tradisional dan non-science.

Problematika ini akan teratasi dengan usaha berketerusan dalam memelihara kemurnian aqidah (tauhid) supaya tidak terjadi pemahaman dan pengamalan keseharian agama yang campur aduk, serta usaha berkesinambungan dalam menjaga agar tidak terjerumus dalam kehidupan materialis.

Upaya yang intensif ini semestinya berkemampuan menggiring Sumber Daya Umat tetap bertumpu kepada science dengan nilai agama dan budaya.
Tugas ini perlu di emban secara terpadu.

Categories: Amar Makruf Nahi Munkar, Buya Masoed Abidin, Education, Ekonomi anak nagari, Globalisasi, Komentar, Masyarakat Adat, Pluralitas, Politics, Sejarah | Leave a comment

Tuntunan Akhlak dalam Ajaran Islam

Tuntunan Akhlak, Ajaran Islam

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Ajaran Islam sangat banyak memberikan dorongan kepada sikap-sikap untuk maju.
Kemajuan materi (madiyah) akan terpacu oleh akhlak manusia yang menggenggam materi tersebut.

Akhlak, konsep abadi dari Khalik Maha Pencipta muthlak mestinya dilakukan makhluk manusia yang telah diciptakan.
Premis ini, memberikan suatau kenyataan bahwa makhluk manusia mesti terikat erat dengan Khalik sang Pencipta.

Akhlak adalah jembatan yang mendekatkan makhluk dengan Khaliknya.
Menjadi parameter menilai sempurna atau tidaknya ihsan Muslim itu. Melaksanakan agama sama artinya dengan ber akhlak sesuai dengan tuntunan agama Islam.
Karena itu, agama bukanlah sebuah beban, melainkan adalah sebuah identitas (cirri, shibgah).

Membebaskan diri dari ketentuan Maha Pencipta, atau membebaskan manusia dari nilai-nilai agama (seperti free of values yang banyak dipahami oleh masyarakat liberalistik) akan berakibat makhluk manusia menjadi makhluk yang tidak punya makna.
Semestinya agama harus dilihat sebagai satu kebutuhan utama.

Betapapun kebutuhan materi telah dapat dipenuhi, suasana hidup akan selalu hambar dan gersang manakala kebutuhan ruhanik (immaterial, spirituil) tidak diperhatikan.
Selalu akan tampak bahwa manusia tanpa agama sama saja dengan makhluk yang bukan manusia.
Perikehidupan tanpa bimbingan agama, artinya sama dengan peri kehidupan tidak berperikemanusiaan.

Para Nabi dan Rasul yang diutus kepada manusia bertugas memberikan tuntunan akhlak dalam semua prilaku kehidupan.
Rujukan dari tuntunan akhlak adalah wahyu Allah.
Semua bimbingan yang terdapat pada semua kitabsuci samawi menekankan kepada terpeliharanya adab pergaulan antar manusia dan sesama makhluk. Tatanan adab pergaulan dimasud selalu di ikat dengan hubungan kasih (mahabbah) dengan Khalik Maha Pencipta, yang disebut dengan ibadah.

Tuntunan akhlak dan ibadah bukanlah sebatas teori, tetapi semua prilaku pada seluruh tingkat pelaksanaan hubungan kehidupan.
Terlihat nyata dalam bentuk prilaku, contoh dan uswah.

Firman Allah menyebutkan “Sesungguhnya telah ada bagi kamu pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik (uswah hasanah), yaitu bagi orang yang mengharap[kan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS.33, al Ahzab : 21).

Rasulullah SAW menyebutkan satu tugas risalahnya sebagai “Hanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (al Hadist).

Pentingnya akhlak di ungkap banyak penyair (ahli hikmah) “innama umamul akhlaqu maa baqiyat, wa inhumu dzahabat akhlaquhum dzahabuu”, yang di artikan, “tegak rumah karena sendi, sendi hancur rumah binasa. Tegaknya bangsa karena berbudi, budi hancur luluhlah bangsa”.

Masyarakat Minangkabau dengan falsafah “adat basabdi syarak, syarak basandi kitabullah”, sangat banyak menampilkan pepatah, pribahasa yang mengandung ajaran tentang akhlak ini.

Seperti disebutkan, “Nan kuriak kundi, nan sirah sago, nan baiak budi, nan indah baso”, atau “Bahaso manunjuakkan banso” artinya bahasa menunjukkan bangsa, yakni baik buruk perangai (akhlak) menunjukkan tinggi rendahnya asal keturunan (bangsa).

Akhlak Budi Pekerti, tidak dapat dilupakan selamanya.
Akan selalu hidup dan disebut-sebut, walaupun sipelakunya sudah tiada.
“Utang ameh buliah dibaia, utang budi dibao mati”.

Categories: ABS-SBK, Buya Masoed Abidin, Education, Komentar, Masyarakat Adat, Minangkabau, Politics | Leave a comment

Menerapkan Iptek dengan Bimbingan Islam

Penerapan Iptek dalam Islam

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Firman Allah dalam QS. 3, Ali Imran : 110, artinya, “Kamu adalah umat yang paling baik (khaira ummah, umat pilihan), yang dilahirkan untuk kepentingan manusia; menyuruh mengerjakan yang benar dan melarang membuat salah, serta beriman kepada Allah. Sekiranya orang-orang keturunan Kitab itu beriman, sesungguhnya itu baik untuk mereka. Sebahagian mereka ada yang beriman, tetapi kebanyakannya orang-orang yang jahat”.

Dijelaskan dengan ayat ini bahwa Umat Islam adalah umat pilihan, terbaik. Bila keturunan Kitab sebelumnya mau menerima dinul Islam , mereka akan lebih baik dari umat ini.

Tetapi mereka kufur, dan sebahagian lagi jahat, menolak ajaran Allah SWT. Disinilah terdapat tantangan disamping peluang terhadap umat pilihan (umat Islam) sepanjang masa dalam meniti setiap perubahan zaman.

Khaira ummah yang menjadi identitas umat Islam itu selalu istiqamah (Konsisten) dengan perangai utama.
Tetap membawa, menyeru, mengajak umat kepada yang baik, amar makruf. Melarang membuat salah, nahyun ‘anil munkar.
Tetap beriman dengan Allah.

Amar makruf, hanya bisa dilaksanakan dengan ilmu pengatahuan. Karena itulah tatkala pertama kali manusia diciptakan kepadanya beberapa perangkat ilmu (QS.2:30-35).
Dalam mengemban misi mulia, khalifah di permukaan bumi.

Nahyun ‘anil munkar, melarang dari yang salah.
Perlu ilmu pengetahuan tentang makruf dan munkar artinya mengerti tentang suruhan berbuat baik dan larangan berbuat salah (QS.3:104,114; QS.5:78-79; QS.9:71,112; QS.22:41; QS.31:17).

Amar Makruf Nahi Munkar sangat sesuai dengan martabat manusia.
Patokan makruf (baik, disuruh) dan munkar (salah, terlarang) dipagari oleh halal (right, benar) dan haram (wrong, salah).
Bukan like or dislike (suka atau tidak). Kerancuan menerapkan benar dan salah dikehidupan sehari-hari disebab kurangnya ilmu pengetahuan tentang right dan wrong.
Selain dari kebiasaan meninggalkan ajaran agama, tidak teguh (tidak istiqamah) menjalankan right dan wrong tersebut.

Bila diteliti bahwa ayat pertama turun adalah (Iqra’, artinya baca) QS. 96, Al ‘Alaq 1-5.
Membaca dan menulis, adalah “jendela ilmu pengetahuan”.
Dijelaskan, dengan membaca dan menulis akan mendapatkan ilmu pengetahuan yang sebelumnya tidak diketahui (‘allamal-insana maa lam ya’lam).

Ilham dan ilmu belum berakhir.
Wahyu Allah berfungsi sebagai sinyal dan dorongan kepada manusia untuk mendalami pemahaman sehingga mampu membaca setiap perubahan zaman dan pergantian masa.

Keistimewaan ilmu, menurut wahyu Allah,antara lain ;
Yang mengetahui pengertian ayat-ayat mutasyabihat hanyalah Allah dan orang-orang yang dalam ilmunya (QS.2:7).
Orang berilmu mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah (QS.3:18).
Di atas orang berilmu, masih ada lagi yang Maha Tahu, (QS.12:76).
Bertanyalah kepada ahli ilmu kalau kamu tidak tahu, (QS.16:43, dan 21:7). Jangan engkau turut apa-apa yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu (QS.17:36). Kamu hanya mempunyai ilmu tentang ruh sedikit sekali (QS.17:85). Memohonlah kepada Allah supaya ilmu bertambah (QS.20:114).
Ilmu mereka (orang yang menolak ajaran agama) tidak sampai tentang akhirat (QS.27:66).
Hanyalah orang-orang berilmu yang bisa mengerti (QS.29:43).
Yang takut kepada Allah hanyalah orang-orang berilmu (QS.35:28).
Tuhan meninggikan orang-orang beriman dan orang-orang berilmu beberapa tingkatan (QS.58:11).
Tuhan mengajarkan dengan pena (tulis baca) dan mengajarkan kepada manusia ilmu yang belum diketahuinya (QS.96:4-5).

Sebenarnya umat pengamal wahyu Allah (Islam) pemilik identitas (ciri, sibghah) yang jelas, yaitu menguasai ilmu pengetahuan.
Mereka adalah innovator, memiliki daya saing, imagination, kreatif, inisiatif, teguh dalam prinsip (istiqamah, consern), berfikir objektif dan mempunyai akal budi.

Teknologi hanyalah suatu keterampilan, hasil dari ilmu pengetahuan berkenaan dengan teknik, serba mesin itu.
Teknologi tidak berarti bila manusia dibelakang teknologi itu tidak berfungsi, tidak berperan dan mati.
Sebelum teknologi dihidupkan, wajib lebih dahulu menghidupkan dhamir manusia yang akan mempergunakan perangkat teknologi, agar hasil yang diperoleh bermanfaat untuk kehidupan manusia.
Jangan sebaliknya merusak kehidupan itu sendiri.

Pemilik ilmu pengetahuan dan pengguna teknologi mestinya mampu mencipta dan menampilkan produk teknologi ditengah kehidupan dunia menyeluruh (global) tanpa merusak harkat manusia melalui produk hasil ciptaan teknologi tersebut.

Di sini sebenarnya arti penerapan Iptek dari sudut pandang agama Islam. Iptek menjadi musuh kemanusian bila hasilnya menghancurkan harkat (derajat) manusia.
Iptek juga sangat penting teramat berguna dalam meningkatkan taraf hidup manusia.
Karena itu perlu ada saringan pengguna iptek itu.
Saringannya adalah agama, akal budi, dan di Minangkabau adalah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

Categories: Buya Masoed Abidin, Education, Komentar, Pendidikan, Politics, Surau | Leave a comment

Sistim Kekeluargaan Matrilineal

SISTIM KEKELUARGAAN MATRILINEAL

Oleh H.Mas’oed Abidin

Sistem matrilineal adalah suatu sistem yang mengatur kehidupan dan ketertiban suatu masyarakat yang terikat dalam suatu jalinan kekerabatan dalam garis ibu. Seorang anak laki-laki atau perempuan merupakan klen dari perkauman ibu.
Ayah tidak dapat memasukkan anaknya ke dalam sukunya sebagaimana yang berlaku dalam sistem patrilineal.
Oleh karena itu, waris dan sako-pusaka diturunkan menurut garis ibu pula.
Menurut Muhammad Radjab (1969) sistem matrilineal mempunyai ciri-cirinya sebagai berikut;
1. Keturunan dihitung menurut garis ibu.
2. Suku terbentuk menurut garis ibu
3. Tiap orang diharuskan kawin dengan orang luar sukunya (exogami)
4. Pembalasan dendam merupakan satu kewajiban bagi seluruh suku
5. Kekuasaan di dalam suku, menurut teori, terletak di tangan “ibu”, tetapi jarang sekali dipergunakan, sedangkan
6. Yang sebenarnya berkuasa adalah saudara laki-lakinya
7. Perkawinan bersifat matrilokal, yaitu suami mengunjungi rumah istrinya
8. Hak-hak dan pusaka diwariskan oleh mamak kepada kemenakannya dan dari saudara laki-laki ibu kepada anak dari saudara perempuan.
Sistem kekerabatan ini tetap dipertahankan masyarakat Minangkabau sampai sekarang. Bahkan selalu disempurnakan sejalan dengan usaha menyempurnakan sistem adatnya. Terutama dalam mekanisme penerapannya di dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu peranan seorang penghulu ataupun ninik mamak dalam kaitan bermamak berkemanakan sangatlah penting.
Bahkan peranan penghulu dan ninik mamak itu boleh dikatakan sebagai faktor penentu dan juga sebagai indikator, apakah mekanisme sistem matrilineal itu berjalan dengan semestinya atau tidak.
Jadi keberadaan sistem ini tidak hanya terletak pada kedudukan dan peranan kaum perempuan saja, tetapi punya hubungkait yang sangat kuat dengan institusi ninik mamaknya di dalam sebuah kaum, suku atau klen.
Sebagai sebuah sistem, matrilineal dijalankan berdasarkan kemampuan dan berbagai penafsiran oleh pelakunya; ninik-mamak, kaum perempuan dan anak kemenakan. Akan tetapi sebuah uraian atau perincian yang jelas dari pelaksanaan dari sistem ini, misalnya ketentuan-ketentuan yang pasti dan jelas tentang peranan seorang perempuan dan sanksi hukumnya kalau terjadi pelanggaran, ternyata sampai sekarang belum ada. Artinya tidak dijelaskan secara tegas tentang hukuman jika seorang Minang tidak menjalankan sistem matrilineal tersebut.
Sistem itu hanya diajarkan secara turun temurun kemudian disepakati dan dipatuhi, tidak ada buku rujukan atau kitab undang-undangnya. Namun begitu, sejauh manapun sebuah penafsiran dilakukan atasnya, pada hakekatnya tetap dan tidak beranjak dari fungsi dan peranan perempuan itu sendiri. Hal seperti dapat dianggap sebagai sebuah kekuatan sistem tersebut yang tetap terjaga sampai sekarang.
Pada dasarnya sistem matrilineal bukanlah untuk mengangkat atau memperkuat peranan perempuan, tetapi sistem itu dikukuhkan untuk menjaga, melindungi harta pusaka suatu kaum dari kepunahan, baik rumah gadang, tanah pusaka dan sawah ladang.
Bahkan dengan adanya hukum faraidh dalam pembagian harta menurut Islam, harta pusaka kaum tetap dilindungi dengan istilah “pusako tinggi”, sedangkan harta yang boleh dibagi dimasukkan sebagai “pusako randah”.
Dalam sistem matrilineal perempuan diposisikan sebagai pengikat, pemelihara dan penyimpan, sebagaimana diungkapkan pepatah adatnya amban puruak atau tempat penyimpanan. Itulah sebabnya dalam penentuan peraturan dan perundang-undangan adat, perempuan tidak diikut sertakan. Perempuan menerima bersih tentang hak dan kewajiban di dalam adat yang telah diputuskan sebelumnya oleh pihak ninik mamak.
Perempuan menerima hak dan kewajibannya tanpa harus melalui sebuah prosedur apalagi bantahan. Hal ini disebabkan hak dan kewajiban perempuan itu begitu dapat menjamin keselamatan hidup mereka dalam kondisi bagaimanapun juga. Semua harta pusaka menjadi milik perempuan, sedangkan laki-laki diberi hak untuk mengatur dan mempertahankannya.
Perempuan tidak perlu berperan aktif seperti ninik mamak. Perempuan Minangkabau yang memahami konstelasi seperti ini tidak memerlukan lagi atau menuntut lagi suatu prosedur lain atas hak-haknya. Mereka tidak memerlukan emansipasi lagi, mereka tidak perlu dengan perjuangan gender, karena sistem matrilineal telah menyediakan apa yang sesungguhnya diperlukan perempuan.
Para ninik-mamak telah membuatkan suatu “aturan permainan” antara laki-laki dan perempuan dengan hak dan kewajiban yang berimbang antar sesamanya.
Oleh karena itulah institusi ninik-mamak menjadi penting dan bahkan sakral bagi kemenakan dan sangat penting dalam menjaga hak dan kewajiban perempuan. Keadaan seperti ini sudah berlangsung lama, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dengan segala plus minusnya.
Keunggulan dari sistem ini adalah, dia tetap bertahan walau sistem patrilineal juga diperkenalkan oleh Islam sebagai sebuah sistem kekerabatan yang lain pula. Sistim matrilieal tidak hanya jadi sebuah “aturan” saja, tetapi telah menjadi semakin kuat menjadi suatu budaya, way of live, kecenderungan yang paling dalam diri dari setiap orang Minangkabau.
Sampai sekarang, pada setiap individu laki-laki Minang misalnya, kecenderungan mereka menyerahkan harta pusaka, warisan dari hasil pencahariannya sendiri, yang seharusnya dibagi menurut hukum faraidh kepada anak-anaknya, mereka lebih condong untuk menyerahkannya kepada anak perempuannya.
Anak perempuan itu nanti menyerahkan pula kepada anak perempuannya pula. Begitu seterusnya. Sehingga Tsuyoshi Kato dalam disertasinya menyebutkan bahwa sistem matrilineal akan semakin menguat dalam diri orang-orang Minang walaupun mereka telah menetap di kota-kota di luar Minang sekalipun. Sistem matrilineal tampaknya belum akan meluntur sama sekali, walau kondisi-kondisi sosial lainnya sudah banyak yang berubah.
Untuk dapat menjalankan sistem itu dengan baik, maka mereka yang akan menjalankan sistem itu haruslah orang Minangkakabu itu sendiri. Untuk dapat menentukan seseorang itu orang Minangkabau atau tidak, ada beberapa ketentuannya, atau syarat-syarat seseorang dapat dikatakan sebagai orang Minangkabau.
Syarat-syarat seseorang dapat dikatakan orang Minangkabau;
1. Basuku (bamamak bakamanakan)
2. Barumah gadang
3. Basasok bajarami
4. Basawah baladang
5. Bapandan pakuburan
6. Batapian tampek mandi
Seseorang yang tidak memenuhi ketentuan tersebut di dalam berkaum bernagari, dianggap “orang kurang” atau tidak sempurna. Bagi seseorang yang ingin menjadi orang Minang juga dibuka pintunya dengan memenuhi berbagai persyaratan pula.
Dalam istilah inggok mancangkam tabang basitumpu. Artinya orang itu harus masuk ke dalam sebuah kaum atau suku, mengikuti seluruh aturan-aturannya.
Ada empat aspek penting yang diatur dalam sistem matrilienal;
A. PENGATURAN HARTA PUSAKA
Harta pusaka yang dalam terminologi Minangkabau disebut harato jo pusako. Harato adalah sesuatu milik kaum yang tampak dan ujud secara material seperti sawah, ladang, rumah gadang, ternak dan sebagainya.
Pusako adalah sesuatu milik kaum yang diwarisi turun temurun baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Oleh karena itu di Minangkabau dikenal pula dua kata kembar yang artinya sangat jauh berbeda; sako dan pusako.
1. Sako
Sako adalah milik kaum secara turun temurun menurut sistem matrilineal yang tidak berbentuk material, seperti gelar penghulu, kebesaran kaum, tuah dan penghormatan yang diberikan masyarakat kepadanya.
Sako merupakan hak bagi laki-laki di dalam kaumnya. Gelar demikian tidak dapat diberikan kepada perempuan walau dalam keadaan apapun juga. Pengaturan pewarisan gelar itu tertakluk kepada sistem kelarasan yang dianut suku atau kaum itu.
Jika menganut sistim kelarasan Koto Piliang, maka sistem pewarisan sakonya berdasarkan; patah tumbuah. Artinya, gelar berikutnya harus diberikan kepada kemenakan langsung dari si penghulu yang memegang gelar itu. Gelar demikian tidak dapat diwariskan kepada orang lain dengan alasan papun juga.
Jika tidak ada laki-laki yang akan mewarisi, gelar itu digantuang atau dilipek atau disimpan sampai nanti kaum itu mempunyai laki-laki pewaris.
Jika menganut sistem kelarasan Bodi Caniago, maka sistem pewarisan sakonya berdasarkan hilang baganti. Artinya, jika seorang penghulu pemegang gelar kebesaran itu meninggal, dia dapat diwariskan kepada lelaki di dalam kaum berdasarkan kesepakatan bersama anggota kaum itu. Pergantian demikian disebut secara adatnya gadang balega.
Di dalam halnya gelar kehormatan atau gelar kepenghuluan (datuk) dapat diberikan dalam tiga tingkatan:
a. Gelar yang diwariskan dari mamak ke kemenakan. Gelar ini merupakan gelar pusaka kaum sebagaimana yang diterangkan di atas. Gelar ini disebut sebagai gelar yang mengikuti kepada perkauman yang batali darah.
b. Gelar yang diberikan oleh pihak keluarga ayah (bako) kepada anak pisangnya, karena anak pisang tersebut memerlukan gelar itu untuk menaikkan status sosialnya atau untuk keperluan lainnya. Gelar ini hanya gelar panggilan, tetapi tidak mempengaruhi konstelasi dan mekanisme kepenghuluan yang telah ada di dalam kaum. Gelar ini hanya boleh dipakai untuk dirinya sendiri, seumur hidup dan tidak boleh diwariskan kepada yang lain; anak apalagi kemenakan. Bila si penerima gelar meninggal, gelar itu akan dijemput kembali oleh bako dalam sebuah upacara adat. Gelar ini disebut sebagai gelar yang berdasarkan batali adat.
c. Gelar yang diberikan oleh raja Pagaruyung kepada seseorang yang dianggap telah berjasa menurut ukuran-ukuran tertentu. Gelar ini bukan gelar untuk mengfungsinya sebagai penghulu di dalam kaumnya sendiri, karena gelar penghulu sudah dipakai oleh pengulu kaum itu, tetapi gelaran itu adalah merupakan balasan terhadap jasa-jasanya. Gelaran ini disebut secara adat disebabkan karena batali suto. Gelar ini hanya boleh dipakai seumur hidupnya dan tidak boleh diwariskan. Bila terjadi sesuatu yang luar biasa, yang dapat merusakkan nama raja, kaum, dan nagari, maka gelaran itu dapat dicabut kembali.
2. Pusako
Pusako adalah milik kaum secara turun temurun menurut sistem matrilineal yang berbentuk material, seperti sawah, ladang, rumah gadang dan lainnya.
Pusako dimanfaatkan oleh perempuan di dalam kaumnya.
Hasil sawah, ladang menjadi bekal hidup perempuan dengan anak-anaknya. Rumah gadang menjadi tempat tinggalnya.
Laki-laki berhak mengatur tetapi tidak berhak untuk memiliki.
Karena itu di Minangkabau kata hak milik bukanlah merupakan kata kembar, tetapi dua kata yang satu sama lain artinya tetapi berada dalam konteks yang sama. Hak dan milik.
Laki-laki punya hak terhadap pusako kaum, tetapi dia bukan pemilik pusako kaumnya.
Dalam pengaturan pewarisan pusako, semua harta yang akan diwariskan harus ditentukan dulu kedudukannya.
Kedudukan harta pusaka itu terbagi dalam;
a. Pusako tinggi.
Harta pusaka kaum yang diwariskan secara turun temurun berdasarkan garis ibu. Pusaka tinggi hanya boleh digadaikan bila keadaan sangat mendesak sekali hanya untuk tiga hal saja; pertama, gadih gadang indak balaki, kedua, maik tabujua tangah rumah, ketiga, rumah gadang katirisan. Selain dari ketiga hal di atas harta pusaka tidak boleh digadaikan apalagi dijual.
b. Pusako randah.
Harta pusaka yang didapat selama perkawinan antara suami dan istri. Pusaka ini disebut juga harta bawaan, artinya modal dasarnya berasal dari masing-masing kaum. Pusako randah diwariskan kepada anak, istri dan saudara laki-laki berdasarkan hukum faraidh, atau hukum Islam.
Namun dalam berbagai kasus di Minangkabau, umumnya, pusako randah ini juga diserahkan oleh laki-laki pewaris kepada adik perempuannya. Tidak dibaginya menurut hukum faraidh tersebut. Inilah mungkin yang dimaksudkan Tsuyoshi Kato bahwa sistem matrilineal akan menguat dengan adanya keluarga batih. Karena setiap laki-laki pewaris pusako randah akan selalu menyerahkan harta itu kepada saudara perempuannya. Selanjutanya saudara perempuan itu mewariskan pula kepada anak perempuannya. Begitu seterusnya. Akibatnya, pusako randah pada mulanya, dalam dua atau tiga generasi berikutnya menjadi pusako tinggi pula.

PERANAN LAKI-LAKI
Kedudukan laki-laki dan perempuan di dalam adat Minangkabau berada dalam posisi seimbang. Laki-laki punya hak untuk mengatur segala yang ada di dalam perkauman, baik pengaturan pemakaian, pembagian harta pusaka, perempuan sebagai pemilik dapat mempergunakan semua hasil itu untuk keperluannya anak beranak.
Peranan laki-laki di dalam dan di luar kaumnya menjadi sesuatu yang harus dijalankannya dengan seimbang dan sejalan.
1. SEBAGAI KEMENAKAN
Di dalam kaumnya, seorang laki-laki bermula sebagai kemenakan (atau dalam hubungan kekerabatan disebutkan; ketek anak urang, lah gadang kamanakan awak). Sebagai kemenakan dia harus mematuhi segala aturan yang ada di dalam kaum. Belajar untuk mengetahui semua aset kaumnya dan semua anggota keluarga kaumnya.
Oleh karena itu, ketika seseorang berstatus menjadi kemenakan, dia selalu disuruh ke sana ke mari untuk mengetahui segala hal tentang adat dan perkaumannya.
Dalam kaitan ini, peranan Surau menjadi penting, karena Surau adalah sarana tempat mempelajari semua hal itu baik dari mamaknya sendiri maupun dari orang lain yang berada di surau tersebut.
Dalam menentukan status kemenakan sebagai pewaris sako dan pusako, anak kemenakan dikelompokan menjadi tiga kelompok:
a. Kemenakan di bawah daguak
b. Kemenakan di bawah pusek
c. Kemenakan di bawah lutuik
Kemenakan di bawah daguak adalah penerima langsung waris sako dan pusako dari mamaknya.
Kemenakan di bawah pusek adalah penerima waris apabila kemenakan di bawah daguak tidak ada (punah).
Kemenakan di bawah lutuik, umumnya tidak diikutkan dalam pewarisan sako dan pusako kaum.
2. SEBAGAI MAMAK
Pada giliran berikutnya, setelah dia dewasa, dia akan menjadi mamak dan bertanggung jawab kepada kemenakannya. Mau tidak mau, suka tidak suka, tugas itu harus dijalaninya. Dia bekerja di sawah kaumnya untuk saudara perempuannya anak-beranak yang sekaligus itulah pula kemenakannya. Dia mulai ikut mengatur, walau tanggung jawab sepenuhnya berada di tangan mamaknya yang lebih tinggi, yaitu penghulu kaum.
3. SEBAGAI PENGHULU
Selanjutnya, dia akan memegang kendali kaumnya sebagai penghulu. Gelar kebesaran diberikan kepadanya, dengan sebutan datuk. Seorang penghulu berkewajiban menjaga keutuhan kaum, mengatur pemakaian harta pusaka. Dia juga bertindak terhadap hal-hal yang berada di luar kaumnya untuk kepentingan kaumnya.
Setiap laki-laki terhadap kaumnya selalu diajarkan; kalau tidak dapat menambah (maksudnya harta pusaka kaum), jangan mengurangi (maksudnya, menjual, menggadai atau menjadikan milik sendiri).
Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa peranan seorang laki-laki di dalam kaum disimpulkan dalam ajaran adatnya;
Tagak badunsanak mamaga dunsanak
Tagak basuku mamaga suku
Tagak ba kampuang mamaga kampuang
Tagak ba nagari mamaga nagari

PERANAN LAKI-LlAKI DI LUAR KAUM
Selain berperan di dalam kaum sebagai kemanakan, mamak atau penghulu, seorang anak lelaki setelah dia kawin dan berumah tangga, dia mempunyai peranan lain sebagai tamu atau pendatang di dalam kaum isterinya.
Artinya di sini, dia sebagai duta pihak kaumnya di dalam kaum istrinya, dan istri sebagai duta kaumnya pula di dalam kaum suaminya.
Satu sama lain harus menjaga kesimbangan dalam berbagai hal, termasuk perlakuan-perlakuan terhadap anggota kaum kedua belah pihak.

Di dalam kaum istrinya, seorang laki-laki adalah sumando (semenda).
Sumando ini di dalam masyarakat Minangkabau dibuatkan pula beberapa kategori;

a. Sumando ninik mamak. Artinya, semenda yang dapat ikut memberikan ketenteraman pada kedua kaum; kaum istrinya dan kaumnya sendiri.
Mencarikan jalan keluar terhadap sesuatu persoalan dengan sebijaksana mungkin. Dia lebih berperan sebagai seorang yang arif dan bijaksana.
Sikap ini yang sangaat dituntut pada peran setiap sumando di Minangkabau.

Dua sifat berikut semestinya dijauhi, yaitu ;
b. Sumando kacang miang. Artinya, sumando yang membuat kaum istrinya menjadi gelisah karena dia memunculkan atau mempertajam persoalan-persoalan yang seharusnya tidak dimunculkan.
Sikap seperti ini tidak boleh dipakai.

c. Sumando lapik buruk. Artinya, sumando yang hanya memikirkan anak istrinya semata tanpa peduli dengan persoalan-persoalan lainnya.
Dikatakan juga sumando seperti seperti sumando apak paja, yang hanya berfungsi sebagai tampang atau bibit semata.
Sikap seperti ini juga tidak boleh dipakai dan harus dijauhi.

Sumando tidak punya kekuasan apapun di rumah istrinya, sebagaimana yang selalu diungkapkan dalam pepatah petitih;
Sadalam-dalam payo
Hinggo dado itiak
Sakuaso-kuaso urang sumando
Hinggo pintu biliak

Sebaliknya, peranan sumando yang baik dikatakan;
Rancak rumah dek sumando
Elok hukum dek mamaknyo

KAUM DAN PESUKUAN
Orang Minangkabau yang berasal dari satu keturunan dalam garis matrilineal merupakan anggota kaum dari keturunan tersebut.

Di dalam sebuah kaum, unit terkecil disebut samande.
Yang berasal dari satu ibu (mande).
Unit yang lebih luas dari samande disebut saparuik.
Maksudnya berasal dari nenek yang sama.
Kemudian saniniak maksudnya adalah keturunan nenek dari nenek.
Yang lebih luas dari itu lagi disebut sakaum.

Kemudian dalam bentuknya yang lebih luas, disebut sasuku.
Maksudnya, berasal dari keturunan yang sama sejak dari nenek moyangnya.

Suku artinya seperempat atau kaki.
Jadi, pengertian sasuku dalam sebuah nagari adalah seperempat dari penduduk nagari tersebut.
Karena, dalam sebuah nagari harus ada empat suku besar.

Padamulanya suku-suku itu terdiri dari Koto, Piliang, Bodi dan Caniago.
Dalam perkembangannya, karena bertambahnya populasi masyarakat setiap suku, suku-suku itupun dimekarkan.

Koto dan Piliang berkembang menjadi beberapa suku; Tanjuang, Sikumbang, Kutianyir, Guci, Payobada, Jambak, Salo, Banuhampu, Damo, Tobo, Galumpang, Dalimo, Pisang, Pagacancang, Patapang, Melayu, Bendang, Kampai, Panai, Sikujo, Mandahiliang, Bijo dll.

Bodi dan Caniago berkembang menjadi beberapa suku; Sungai Napa, Singkuang, Supayang, Lubuk Batang, Panyalai, Mandaliko, Sumagek dll.

Dalam majlis peradatan keempat pimpinan dari suku-suku ini disebut urang nan ampek suku.

Dalam sebuah nagari ada yang tetap dengan memakai ampek suku tapi ada juga memakai limo suku, maksudnya ada nama suku lain; Malayu yang dimasukkan ke sana.

Sebuah suku dengan suku yang lain, mungkin berdasarkan sejarah, keturunan atau kepercayaan yang mereka yakini tentang asal sulu mereka, boleh jadi berasal dari perempuan yang sama.

Suku-suku yang merasa punya kaitan keturunan ini disebut dengan sapayuang. Dari beberapa payuang yang juga berasal sejarah yang sama, disebut sahindu.
Namun, yang lazim dikenal dalam berbagai aktivitas sosial masyarakat Minangkabau adalah; sasuku dan sapayuang saja.

Sebuah kaum mempunyai keterkaitan dengan suku-suku lainnya, terutama disebabkan oleh perkawinan.
Oleh karena itu kaum punya struktur yang umumnya dipakai oleh setiap suku;

STRUKTUR DI DALAM KAUM
Di dalam sebuah kaum, strukturnya sebagai berikut;

a. Mamak yang dipercaya sebagai pimpinan kaum yang disebut Penghulu bergelar datuk.

b. Mamak-mamak di bawah penghulu yang dipercayai memimpin setiap rumah gadang, karena di dalam satu kaum kemungkinan rumah gadangnya banyak.
Mamak-mamak yang mempimpin setiap rumah gadang itu disebut; tungganai.
Seorang laki-laki yang memikul tugas sebagai tungganai rumah pada beberapa suku tertentu mereka juga diberi gelar datuk.

Di bawah tungganai ada laki-laki dewasa yang telah kawin juga, berstatus sebagai mamak biasa.
Di bawah mamak itulah baru ada kemenakan.

STRUKTUR TALI PERKAWINAN DENGAN SUKU LAIN.
Akibat dari sistem matrilienal yang mengharuskan setiap anggota suku harus kawin dengan anggota suku lain, maka keterkaitan akibat perkawinan melahirkan suatu struktur yang lain, struktur yang mengatur hubungan anggota sebuah suku dengan suku lain yang terikat dalam tali perkawinan tersebut.

a. Induk bako anak pisang
Induak bako anak pisang merupakan dua kata yang berbeda; induak bako dan anak pisang. Induak bako adalah semua ibu dari keluarga pihak ayah.
Bako adalah semua anggota suku dari kaum pihak ayah.
Induak bako punya peranan dan posisi tersendiri di dalam sebuah kaum pihak si anak.

b. Andan pasumandan
Andan pasumandan juga merupakan dua kata yang berbeda; andan dan pasumandan.
Pasumandan adalah pihak keluarga dari suami atau istri. Suami dari rumah gadang A yang kawin dengan isteri dari rumah gadang B, maka pasumandan bagi isteri adalah perempuan yang berada dalam kaum suami.
Sedangkan andan bagi kaum rumah gadang A adalah anggota kaum rumah gadang C yang juga terikat perkawinan dengan salah seorang anggota rumah gadang B.

c. Bundo Kanduang
Dalam masyarakat Minangkabau dewasa ini kata Bundo Kanduang mempunyai banyak pengertian pula, antara lain;
a). Bundo kanduang sebagai perempuan utama di dalam kaum, sebagaimana yang dijelaskan di atas.
b). Bundo Kanduang yang ada di dalam cerita rakyat atau kaba Cindua Mato. Bundo Kanduang sebagai raja Minangkabau atau raja Pagaruyung.
c). Bundo kanduang sebagai ibu kanduang sendiri.
d). Bundo kanduang sebagai sebuah nama organisasi perempuan Minangkabau yang berdampingan dengan LKAAM.

Bundo kanduang sebenarnya adalah Bundo Kanduang sebagai perempuan utama.

Bundo kanduang sebagai perempuan utama

Apabila ibu atau tingkatan ibu dari mamak yang jadi penghulu masih hidup, maka dialah yang disebut Bundo Kanduang, atau mandeh atau niniek. Dialah perempuan utama di dalam kaum itu.

Perempuan yang disebut bundo anduang dalam kaumnya, mempunyai kekuasaan lebih tinggi dari seorang penghulu karena dia setingkat ibu, atau ibu penghulu itu betul.

Dia dapat menegur penghulu itu apabila si penghulu melakukan suatu kekeliruan. Perempuan-perempuan setingkat mande di bawahnya, apabila dia dianggap lebih pandai, bijak dan baik, diapun sering dijadikan perempuan utama di dalam kaum.

Secara implisit tampaknya, perempuan utama di dalam suatu kaum, adalah semacam badan pengawasan atau lembaga kontrol dari apa yang dilakukan seorang penghulu.

Categories: Buya Masoed Abidin, Masyarakat Adat, Minangkabau, Politics | Leave a comment

Blog at WordPress.com.