Strategi Pendidikan Madani

Konsep Masyarakat Madani dengan bimbingan Agama menuju Pemerintahan yang amanah

Gambar

Konsep Masyarakat Madani dengan bimbingan Agama

menuju Pemerintahan yang amanah

Oleh :

H. Mas’oed Abidin

 

Reformasi Menyikapi Perubahan Zaman

PEMBINA PERILAKU berakhlak menjadi kerja utama sepanjang masa. Sejak dulu, bangsa ini  sudah memiliki tata laku masyarakat sopan dan santun. Memiliki akhlak yang terpuji. Hidup beradat dalam tatanan yang shahih. Mengelola gerak kehidupan dengan pemahaman dan pengamalan nilai nilai haya’ (malu) dengan benar. Dalam kearifan lokal masyarakat Sumatera Barat disebutkan Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, Kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek, Nak urang Koto Hilalang, nak lalu ka Pakan Baso,  Malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso. Pembinaan terpadu masyarakat ini berawal dari lingkungan (rumah tangga dan wilayah) dengan menata kehidupan berbudi. Memacu gerak mencerdaskan umat. Mengokohkan aqidah tauhid yang kuat, mengamalkan Firman Allah.[1] 

Kini kita sedang menghadapi satu perubahan zaman. Perubahan adalah satu keniscayaan belaka, bahwa zaman senantiasa berubah dan musim selalu berganti. Perubahan dalam arus kesejagatan di era global. Seringkali membawa infiltrasi kebudayaan luar. Ketika pengamalan pelaksanaan adat istiadat masyarakat dalam wilayah administrasi pemerintahan Provinsi Sumatera Barat, tidak lagi kukuh pada puncak budaya ABSSBK maka mulai jalan di alieh urang lalu, sukatan di pancuang urang panggaleh. Pengaruh materialistic telah mengabaikan kaidah nilai-nilai tatalaku masyarakat beradat dan beragama. Penetrasi kebudayaan global telah menyuburkan kehidupan individualistic yang kental. Mengalahkan kepentingan masyarakat bersama. Idealisme kebudayaan mulai menjadi sasaran cercaan. Budaya jujur dianggap kolot. Pencapaian hasil kebersamaan (kolektifiteit) menjadi sangat tipis. Amanah menjadi rapuh. Kejujuran tidak bermakna lagi. Kerajinan dan kesetiaan diukur dengan jumlah pendapatan yang didapat. Pergeseran itu semestinya diamati dengan cermat. Kehidupan tanpa kawalan aturan jelas, pasti berdampak kepada kinerja dan praktek pemerintahan juga. Selain pula berakibat terhadap pengelolaan wilayah dan asset.

Pergeseran nilai ini juga bersintuhan langsung dengan pemeliharaan budaya bangsa dan budaya negara. Budaya negara kita Indonesia adalah UUD45, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI. Sedangkan budaya bangsa Indonesia adalah puncak puncak budaya daerah. Ketika kedua budaya itu melemah, perilaku yang mengedepan adalah perebutan prestise berbungkus materi. Menghadirkan prestasi yang memberi manfaat kepada rakyat banyak kurang diminati. Padahal masyarakat madani (civil society) dengan panduan nilai nilai reliji menyajikan motivasi hidup. Mendorong mobiltas horizontal (hablum min an-naas) dan mobilitas vertical (hablum min Allah) dalam gerakan amal. Menumbuhkan jiwa inovatif yang sarat dinamika dan kreativitas. Bersikap ikhlas dan tawakkal. Semestinya dari sisi ini reformasi watak di mulai untuk mendudukkan reformasi birokrasi. Tantangan besar hari ini adalah menata ulang masyarakat (replanting values) dengan nilai berketuhanan dan budaya. Menjaga martabat bangsa dan negara. Sasarannya menuju madaniyah (modern, maju, beradab). Menanamkan etika reliji dengan akhlak mulia adalah modal utama menapak alaf baru. Manakala nilai moral ini sudah pupus, pastilah bangsa ini akan ditingali oleh manusia modern yang biadab. Suatu individu atau kelompok yang kehilangan pegangan hidup, walau secara lahiriyah kaya materi tetapi miskin mental spiritual, akan terperosok ke dalam tingkah yang tidak mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai kehidupan akan bertukar dengan sikap acuh, lucah, sadis dan hedonistic. Amat tragis, kalau generasi yang kehilangan pegangan hidup itu adalah kelompok etnis di tengah kebangsaan Indonesia yang dikenal dan disebut muslim pula.

Konsep Masyarakat Madani

MADANI satu kata yang indah. Punya arti yang dalam. Kadang kala banyak juga yang menyalah artikannya. Apa itu sebenarnya madani. Bila diambil dari sisi pendekatan letterlijk maka madani berasal dari kata  m u d u n   arti sederhananya  m a j u  atau dipakai juga dengan kata  m o d e r n. Tetapi figurlijknya madani mengandung kata maddana al-madaina (مَدَّنَ المَدَاِئنَ) artinya, banaa-ha ( بَنَاهَا ) yakni membangun atau hadhdhara (حَضَّرَ ) yaitu memperadabkan dan tamaddana ( تَمَدَّنَ ) maknanya menjadi beradab — yang nampak dalam kehidupan masyarakatnya berilmu (periksa, rasio), memiliki rasa (emosi) secara individu maupun secara kelompok serta memiliki kemandirian (kedaulatan) dalam tata ruang dan peraturan-peraturan yang saling berkaitan, kemudian taat asas pada kesepakatan (hukum) yang telah ditetapkan dan diterima untuk kemashalahatan bersama. Karena itu orang Jepang dalam cara menyeberangnya saja sudah dapat disebut menjadi ciri madani itu.  

Masyarakat  madani ( الحَضْرِيُّ = al hadhariyyu) adalah masyarakat berbudaya dan al-madaniyyah (tamaddun) yang maju, modern, berakhlak dan memiliki peradaban, semestinya melaksanakan nilai-nilai agama (etika reliji) atau bagi kita mengamalkan ajaran Islam (syarak) dengan benar. Nilai nilai kebaikan akan selalu memenjarakan manusia. Karenanya nilai nilai agama Islam boleh saja tampak pada umat yang tidak atau belum menyatakan dirinya Islam, akan tetapi telah mengamalkan nilai Islam itu. Sesunguhnya Agama (Islam) tidak dibatasi ruang-ruang masjid, langgar, pesantren, majlis ta’lim semata.

Pengamalan nilai nilai agama sebenarnya menata gerak kehidupan riil. Memberi acuan pelaksana tatanan politik pemerintahan, sosial ekonomi, seni budaya, hak asasi manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi. Penerapan nilai etika reliji mewujudkan  masyarakat yang hidup senang dan makmur (تَنَعَّمَ = tana’ama) dengan aturan  (قَانُوْنٌ مَدَنِيٌّ = qanun madaniy) yang didalamnya terlindungi hak-hak privacy, perdata, ulayat dan hak-hak sipil masyarakat. Dapat diraih melalui pendidikan.

Masyarakat tamaddun (berbudaya) adalah masyarakat integratif secara sosial politik maupun ekonomi dengan asas watak masyarakat intinya adalah ketaatan. Kepatuhan dan keyakinan kepada Allah Azza wa Jalla. Masyarakat madani adalah masyarakat kuat mengamalkan nilai agama (etika reliji). Seperti dalam tatanan masyarakat Madinah el Munawwarah dimasa hayat Nabi Muhammad SAW. Sejahtera dalam keberagaman pluralistis ditengah bermacam anutan paham kebiasaan. Tetapi satu dalam pimpinan. Kekuatannya ada pada nilai dinul Islam. Mampu melahirkan masyarakat proaktif menghadapi perubahan. Bersatu di dalam kesaudaraan karena terdidik rohaninya. Pendidikan rohani merangkum aspek pembangunan sumber daya manusia dengan pengukuhan nilai ibadah dan akhlak dalam diri umat melalui solat, zikir. Pada akhirnya pendidikan watak atau domein ruhani ini mencakup aspek treatment. Rawatan dan pengawalan melalui taubat, tazkirah, tarbiyah, tau’iyah. Ditopang dua manazil atau sifat penting, yaitu Rabbaniah dan Siddiqiah.

Sifat Rabbaniah ditegakkan dengan benar diatas landasan pengenalan (makrifat) dan pengabdian (`ubudiah) kepada Allah melalui ilmu pengetahuan, pengajaran, nasihat, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Siddiqiah mencakup enam jenis kejujuran (al-sidq): 1. kejujuran lidah, 2. kejujuran niat dan kemauan (sifat ikhlas), 3. kejujuran azam, 4. kejujuran al-wafa’ (jujur dengan apa yang diucapkan dan dijanjikan), 5. kejujuran bekerja (prestasi karya), dan 6. kejujuran mengamalkan ajaran agama (maqamat al-din).

Kehidupan Madani terlihat pada kehidupan maju yang luas pemahaman (tashawwur) sehingga menjadi sumber pendorong kegiatan di bidang ekonomi yang lebih banyak bertumpu kepada keperluan jasmani (material needs). Spiritnya melahirkan pemikiran konstruktif (amar makruf) dan meninggalkan pemikiran destruktif (nahyun ‘anil munkar) melalui pembentukan tata cara hidup yang diajarkan agama Islam. Mengembangkan masyarakat Madani dimulai dari membangun domain kemanusiaan atau domain ruhiah melalui pendidikan rohani yang merangkum aspek preventif. Menjaga umat dari ketersesatan aqidah. Memelihara rakyat dari ketidakseimbangan emosional dan mental. Agar umat terhindar dari melakukan perbuatan haram, durjana dan kezaliman. Peningkatan mutu masyarakat dengan basis ilmu pengetahuan, basis budaya dan agama.

Moralitas Masyarakat Madani

ikap hati-hati sangat dituntut untuk meraih keberhasilan. Action planning di setiap lini adalah keterpaduan, kebersamaan, kesepakatan, dan keteguhan. Langkah awalnya menghidupkan musyawarah. Allah menghendaki kelestarian Agama secara mudah, luwes, elastis, tidak beku dan tidak bersitegang. Memupuk sikap taawun saling membantu dengan keyakinan bahwa Allah Yang Maha Rahman selalu membukakan pintu berkah dari langit dan bumi.

Keterpaduan masyarakat dan pemerintah menjadi kekuatan ampuh membangun kepercayaan rakyat banyak. Inilah inti reformasi yang dituju di abad baru ini. Tingkat persaingan akan mampu dimenangkan “kepercayaan” — trust.  Pengikat spiritnya adalah sikap Cinta kepada Bangsa dan Negara yang direkat oleh pengalaman sejarah. Salah menerjemahkan suatu informasi, berpengaruh bagi pengambilan keputusan. Sikap tergesa-gesa akan berakibat jauh bagi keselamatan orang banyak. Masyarakat majemuk dapat dibina dengan kekuatan etika reliji.

Peran serta masyarakat digerakkan melalui  musyawarah dan mufakat. Kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan “nawaitu” dalam diri masing-masing mengamalkan ajaran agama dengan benar. Sebab, manusia tanpa agama hakikinya bukan manusia sempurna. Tuntunan agama tampak pada adanya akhlak dan ibadah. Akhlak mlingkupi semua perilaku pada seluruh tingkat kehidupan. Nyata dalam contoh yang ditinggalkan Rasulullah.[2] 

Ketika kehidupan manusia kian bertambah modern dan peralatan teknologi semakin canggih, makin bertambah banyak masalah hati dan kejiwaan manusia yang tampil kepermukaan. Tidak segera mudah dapat diselesaikan. Solsusinya hanya mendekatkan diri kepada Allah SWT semata. Maka tuntutan kedepan mesti diawasi agar umat lahir dengan iman dalam ikatan budaya (tamaddun). Rahasia keberhasilan adalah “tidak terburu-buru” dalam bertindak. Selalu ada husnu-dzan (sangka baik) antara rakyat dan pemimpinnya. Kekuasaan akan berhasil jika menyentuh hati nurani rakyat banyak, sebelum kekuasaan itu menjejak bumi. Ukurannya adalah adil dan takarannya adalah  kemashlahatan umat banyak. Kemasannya adalah jujur secara transparan.

Umat perlu dihidupkan jiwanya. Menjadi satu umat yang mempunyai falsafah dan tujuan hidup (wijhah) yang nyata. Memiliki identitas (shibgah) dengan corak keperibadian terang (transparan). Rela berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan.  Masyarakat Madani yang dituntut oleh “syari’at” Islam menjadi satu aspek dari Sosial Reform yang memerlukan pengorganisasian (nidzam). Masyarakat Madani mesti mampu menangkap tanda‑tanda zaman — perubahan sosial, politik dan ekonomi — pada setiap saat dan tempat dengan optimisme besar. Sikap apatis adalah selemah‑lemah iman (adh’aful iman). Sikap diam (apatis) dalam kehidupan hanya dapat dihilangkan dengan bekerja sama melalui tiga cara hidup , yakni bantu dirimu sendiri (self help), bantu orang lain (self less help), saling membantu dalam kehidupan ini (mutual help).

Ketiga konsep hidup ini mengajarkan untuk menjauhi ketergantungan kepada pihak lain, artinya mandiri. Konsep madaniyah tampak  utama didalam pembentukan watak (character building) anak bangsa. Tentu saja melalui jalur pendidikan. Maka reformasi terhadap pengelolaan keperluan masyarakat atau birokrasi mesti meniru kehidupan lebah, yang kuat persaudaraannya, kokoh organisasinya, berinduk dengan baik, terbang bersama membina sarang, dan baik hasil usahanya serta dapat dinikmati oleh lingkungannya.

KHULASAH, Menampilkan Program Umatisasi

PENERAPAN RUHUL MADANIYAH atau jiwa kemajuan berkehendak kepada gerak yang utuh dan terprogram. Hasilnya tidak mungkin di raih dengan kerja sambilan, buah yang di petik, sesuai dengan bibit yang di tanam, demikian natuur-wet (sunnatullah, = undang-undang alami). Setiap unsur berkewajiban melaksanakan tugas tabligh atau dialogis kemudian mengajak dan mengujudkan kehidupan berperaturan (bertatakrama) di dunia (dinul-harakah al-alamiyyah). Melibatkan semua elemen untuk menghidupkan kesadaran dana kepatuhan hukum menjadi tugas bersama. Menurut nilai-nilai Al-Qur’an disebut ummat da’wah. [3] 

Ada beberapa tindakan yang mungkin dilakukan segera.

Pertama. Melakukan introspeksi di kalangan kita sendiri. Mengoreksi masihkah prinsip‑prinsip utama budaya bangsa dan budaya negara masih dipertahankan.

Kedua. Masing‑masing berusaha mengambil inisiatif dan aktif untuk mengikat kembali tali kesatuan dan persatuan bangsa dengan ikatan birokrasi tanpa gembar‑gembor, namun secara jujur dalam mengatasi semua persoalan di tengah rakyat yang kita pandu.

Ketiga, Memelihara kesempatan‑kesempatan yang ada dan tersedia dalam melakukan tatanan (system) dengan memperbesar frekwensi pertukaran fikiran secara informal dalam berbagai masalah keumatan, dalam suasana jernih, tenang dan bersih serta tidak berprasangka.

Keempat, Berusaha mencari titik‑titik pertemuan (kalimatin sawa) di antara sesama kalangan dan peribadi‑peribadi para intelektual (zu’ama), para pemegang kendali sistim (‘umara), dan para ikutan umat utama, para ulama dan aktifis pergerakan baik tua maupun muda, dalam ikatan yang tidak tegang dan kaku. Kekuatan terletak pada keluwesan pikiran dan keteguhan prinsip.  

Kelima, Menegakkan secara sungguh dan bertanggung jawab Nizhamul Mujtama’ (tata hidup bermasyarakat) diatas dasar aqidah Islamiyah dan Syari’ah.

Keenam,  Memelihara mutu ibadah di kalangan umat utama. Menetapkan mu’amalah (sosial, ekonomi, siyasah) dan Akhlak (pemeliharaan tata nilai melalui pendidikan dan kaderisasi yang terarah). Mengawalnya mulai dari rumah tangga, lingkungan (usrah) dan masyarakat (uswah).

Usaha menghadapi tantangan kontemporer yang sedang menjajah hati budi umat kini khususnya di Sumatera Barat (Minangkabau), dapat di tampilkan beberapa agenda kerja,

  1. Mengokohkan pegangan dengan keyakinan dasar agama sebagai suatu cara hidup yang komprehensif. Menyebarkan budaya wahyu membimbing kemampuan  akal.
  2. Memperluas penyampaian fiqh sosio politik, ekonomi, komunikasi, pendidikan dan lain-lain. Menguatkan peran perempuan (bundo kandung, muslimat) yang telah berhasil membentuk sejarah gemilang masa silam sebagai ibu dan pendidik di rumah tangga dan ditengah masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat.
  3. Menjalin dan membuat kekuatan bersama untuk menghambat gerakan yang  merusak adat budaya bangsa dan negara — terutama di Sumatera Barat yang memiliki puncak filosofi ABSSBK –. Diantaranya, memberi bekal yang cukup melalui pelatihan dan pembekalan ilmu yang memadai, membuatkan anggaran belanja yang memadai di daerah-daerah mendukung satu usaha terpadu kearah pendidikan watak umat dan meningkatkan keselarasan, kesatuan dan keupayaan mendalami budaya dan haraki Islami.
  4. Melahirkan masyarakat penyayang dengan kehidupan beradat sesuai ABSSBK sebagai ciri khas Masyarakat Madani di Sumatera Barat.v

 

Padang, Pebruari 2012.

 


[1]    Tidak sepatutnya bagi orang Mukmin itu pergi semuanya kemedan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama (syariat, syarak) dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya (dengan cara-cara mengamalkannya pada setiap perilaku dan tindakan dengan kehidupan beradat), apabila mereka telah kembali kepadanya – kekampung halamannya –, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS.IX, at Taubah, ayat 122).

[2]    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا  “Sesungguhnya telah ada bagi kamu pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik (uswah hasanah), yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS.33, al Ahzab : 21).

[3]    وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ   Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran, 3 : 104 ).

Advertisements
Categories: ABS-SBK, Adat Basandi Syarak, Amar Makruf Nahi Munkar, Buku Buya, Buya Masoed Abidin, Dakwah Komprehensif, Komentar, Komentar Buya, Strategi Pendidikan Madani, Surau, Tauhid, Tulisan Buya, Uncategorized | Leave a comment

Pesantren Ramadhan 1432 H di Masjid Raya Al Munawwarah Siteba, Padang

Kegiatan diskusi Pesantren RamadhanKegiatan diskusi Pesantren Ramadhan

Categories: Buya Masoed Abidin, Komentar Buya, Masjid Raya Al Munawwarah Siteba, Ramadhan, Strategi Pendidikan Madani, Surau, Tauhid | Leave a comment

Menyambut Ramadhan dengan Meningkatkan Amal Ibadah

Mari kita ucapkan Selamat Datang Ramadhan, dan kita mulai dengan mempedomani bimbingan Rasulullah SAW tentang keutamaan bulan Ramadhan ini sesuai sabda beliau ;
عَنْ سَلْمَانُ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قال: خَطَبَنَا رسول الله صلعم فِى آخِرِ يَوْمٍ مِنْ شِعْبَانَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلُّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ مُبَارَكٌ شَهْرٌ فَيْهَ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مَنْ أَلْفِ شَهْرٍ شَهْرٌ جَعَلَ اللهُ صَيَامَهُ فَريِْضَةٌ وَ قَيَامَ لَيْلَهِ تَطَوُّعًا مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِى مَا سَوَاهُ وَ مَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فَيْهَ كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِى مَا سِوَاهُ وَ هُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ وَ الصَّبْرُ صَوَابُهُ الْجَنَّةُ وَ شَهْرُ المَوَاسَاةِ و َشَهْرُ يُزَادُ فَى رِزْقِ المُؤْمِنِ فَيْهَ مَنْ فَطَّرَ فِيْهَ صَائِمٍ كَانَ مَغْفِرَةً لِذُنوُبْهِ وَ عِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ وَ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقَصَ مَنْ أَجْرِهَ شَيْءٌ قَالُوْا يَا رسول الله: لَيْسَ ُكلُّنَا يَجِدُ مَا يُفَطِّرُ صَائِمًا. فقال رسول الله: يُعْطِى الله هَذاَ الثوّاَبَ مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا عَلَى ثَمْرَةٍ أو شَرْبَةٍ مَاءٍ أو مَذْقَةٍ لَبَنٍ. وَ هُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَ أَوْسَطُهٌ مَغْفِرَةٌ و آخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ مَنْ خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوْكِهِ فِيْهِ غَفِرَ اللهُ لَهُ وَ اعْتَقَهُ  مِنَ النَّارِ وَ اسْتَكْثَرُوْا فِيهِ مِنْ أَرْبَعِ ِخصَالٍ: خَصْلَتَيْنِ  تَرْضُوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ خَصْلَتَيْنِ لاَ غِنَاءَ بِكُمْ عُنْهُمَا. فَأَمَّا الخَصْلتَـَانِ اللِّسَانِ تُرْضُوْنَ ِبِهمَا رَبَّكُمْ فَشَهَادَةُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إلا اللهُ وَ تَسْتَغْفِرُوْنَهُ وَ أَمَّا الخِصْلَتَانَ اللَّتَانِ  لاَ غِنَاءَ بكُِمْ عَنْهُمَا فَسْئَلُوْنَ الله الجَنَّةَ وَ تعَوُْدُوْنَ بِهِ مِنَ النَّارِ وَ مَنْ سَقَى صَائِمًا سَقَاهُ اللهُ مِنْ خَوْضِى شَرْبَةً لاَ يَظْمَأُ حَتَّى يَدْخُلَ الجَنَّةَ.

Diriwayatkan dari Salman r.a, dia berkata, “Rasulullah SAW. telah memberi khutbahkepada kami pada akhir bulan Sya’ban, kemudian beliau bersabda, “Wahai manusia, sungguh telah dekat bulan yang agung lagi penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik pada seribu bulan. Bulan yang di dalamnya Allah telah menjadikan puasa sebagai fradhu dan bangun malam sebagai sunnat.

Barangsiapa yang mendekatkan diri di dalamnya dengan melakukan amalan sunnah maka (pahalanya) seperti orang yang melakukan amalan fardhu pada bulan lainnya. Dan barangsiapa yang melakukan amalan fardhu di dalamnya, maka (pahalanya) seperti orang yang melakukan tujuh puluh amalan fardhu pada bulan lainnya.

Inilah bulan kesabaran dan pahala sabar adalah surga. Inilah bulan kasih sayang, bulan saat rezeki seorang mukmin ditambahkan.

Barangsiapa pada bulan tersebut memberi perbukaan pada orang yang berpuasa maka ia menjadi ampunan bagi dosa-dosanya, dan mendapat pahala yang sama tanpa sedikitpun mengurangi pahala orang itu.

Mereka berkata, “Wahai Rasuluhan,tidak setiap kami mempunyai makanan untuk diberikan kepada orang yang berbuka puasa”. Beliau bersabda, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi buka puasa meskipun dengan sebutir kurman, seteguh air, atau seteguk (secuil) susu.

Inilah bulan yang awalnya penuh ramat, pertengahannya penuh ampunan, dan akhirnya penuh kebebasan dari api neraka. Barangsiapa yang meringankan beban hamba-hamba sahanyanya pada bulan itu maka Allah akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka.

Perbanyaklah pada bulan itu melakukan empat hal. Dua di antaranya dapat membuat Tuhanmu Ridha. Dan dua hal lainnya kamu pasti berhajat kepada-Nya.

Adapun dua hal yang dapat membuat Tuhanmu ridha adalah bersaksi tiada tuhan selain Allah dan kamu mohon ampun kepada-Nya. Sedangkan dua hal yang kamu pasti berhajat kepadanya adalah kamu mohon surga kepada Allah dan kamu berlindung kepadanya dari neraka.

Barangsiapa memberi minum orang yang berbuka puasa maka Allah akan memberinya minum seteguk air di mana ia tidak akan merasa haus hingga masuk surga” (HE. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

عن أبى هُريرةَ رضى الله عنه أن رسول الله صلعم قال: الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثُ وَلاَ يَجْهَلُ و إنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنّىِ صَائِمٌ. وَ الذِي نَفْسِى بِيَدِهِ لَحُلُوْفٌ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ الله تعَاَلىَ مِنْ رِيْحِ الِمسْكِ، يَتْرُكُ طَعَامهُ و شَرَابَهُ و شَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِى، الصِّيَامِ لِى وَ أَتَا أَجْزِى بِهِ، وَ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا.

Diriwayatkan dari Abu Hurairata r.a Bahwasanya Rasulullah SAW. pernah bersabda: “Puasa adalah perisai (dari api neraka). Maka, orang yang berpuasa janganlah berhubungan badan dengan istrinya atau berbuat jahil, dan apabila seseorang memaki atau mengajak berkelahi, katakanlah kepadanya, “aku sedang berpuasa”.

Nabi SAW menambahkan, “Demi dia yang menggenggam jiwaku, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari bau misk (haruman kasturi).

Dan inilah perkatan Allah terhadap orang yang sedang berpuasa, ” ia tidak makan dan minum dan meninggalkan nafsunya semata karena Aku. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya, dan setiap kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat. (HR. Bukhari).

Selanjutnya Rasul SAW juga bersabda ;

عن سَهْلٍ رضى الله عنه عن النبى صلعم قال: إِنَّ فِى الجَنَّةِ بَابًا يُفَالُ له الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ. يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُوْنَ؟ فَيَقُوْمُوْنَ لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوا اُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

Diriwayatkan dari Sahl r.a Nabi SAW. pernah bersabda, “Ada sebuah pintu gerbang surga yang disebut Ar Rayyan, dan orang-orang yang berpuasa kelak pada hari kiamat akan masuk ke dalam surga melalui gerbang itu. Ia (Ar Rayyan) akan berseru, “Mana orang-ornag yang berpuasa?” Mereka (orang-orang yang berpuasa) pun bangkit dan semuanya masuk (ke dalam surga) melalui gerbang itu. Setelah mereka semua masuk, gerbang itu akan tertutup dan tidak ada seorangpun yang melaluinya lagi” (HR. Bukhari)

 
Kita sambut Ramadhan dengan meningkatkan amalan dan memperbanyak ubudiyah kita dengan mengharap redha Allah SWT.

Wassalam

Buya H.Masoed Abidin

Categories: Amar Makruf Nahi Munkar, Buya Masoed Abidin, dakwah ilaa Allah, Komentar, Ramadhan, Sehat, Strategi Pendidikan Madani, Surau, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

Iqrak (=Bacalah), Bismi Rabbika (=dengan Nama Rabb engkau), membuka lembaran baru kemajuan manusia yang manusiawi

Iqra’ bismi Rabbi-ka

Perintah Pertama Kepada Nabi Muhammad Saw

 

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَق َ(1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَق ٍ(2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ(3)الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ(5)

‘Iqra’ (bacalah) denqan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Iqra’ (bacalah), dan Tuhanmu lah yang Paling Pemurah, sang Mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia Mengajarkan kepada manusia apa sang tidak diketahuinya. (Q. Al ‘Alaq: 1-5)

 

Di saat usia Rasulullah SAW. hampir mencapai empat puluh tahun, beliau menyaksikan kondisi masyarakat kelilingnya disungkup oleh kejahiliyahan dan kemusyrikan. Dalam kondisi seperti itu Rasulullah mengambil keputusan untuk mencoba menjauh dari lingkungan yang tidak kondusif itu. Beliau memilih suatu gua yang tidak terlalu besar, jaraknya tidak terlalu jauh dari Makkah, yaitu gua Hira di Jahal Nur.

Pilihan Rasulullah untuk mengasingkan diri ini termasuk satu latihan dan ketetapan Allah atas diri beliau sebagai langkah persiapan untuk menerima peran lebih besar Menjadi Rasul utusan Allah. Di gua Hira inilah wahyu Allah SWT pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, yaitu firman Allah yang mengawali kitab suci Alquran, di awali dengan perintah untuk membaca (iqra’ = bacalah).

Fi’l amar atau kalimat perintah iqra (bacalah) di dalam firman Allah ini sama sekali tidak menjelaskan obyek (maf ‘ul bih) nya.

Dalam tinjauan ilmu Nahwu berarti bahwa perintah tersebut tidak ditujukan pada obyek tertentu. akan tetapi memiliki makna yang bersifat umum.

Menurut ilmu balaghah kalimat perintah ini tidak bersifat mutlaq, tetapi mu qayyat (bersyarat), yakni bahwa perintah iqra (membaca) pada konteks ayat bukanlah membaca sesuatu yang bebas nilai.

Perintah ini  mempunyai nilai hakiki, bismi rabbika alladzi khalaq (dengan nama Tuhan yang Maha Menciptakan).

Inilah yang membedakan antara membaca yang bernilai ibadah dengan membaca dalam bentuk yang lain dan tidak memiliki nilai apapun kecuali kesia-siaan.

Makna iqra’ ditafsirkan dengan bermacam ragam makna oleh para mufassirin (ulama tafsir). Di antaranya, perintah iqra (bacalah) menghendaki perpindahan dari pasif menjadi aktif dan diam kepada bergerak. yaitu;

“Bacalah yang tertulis, sehingga pengetahuan dan keahlian bertambah.

Bacalah yang didiktekan, diajarkan oleh utusan Tuhan. Sampai kamu sendiri mengerti dan yang mendengar memahami.

Bacalah yang termaktub dalam rahasia alam yang beraneka warna, agar kamu jadi sadar dan mendapat sinar iman.”

Membaca memiliki proses timbal balik antara individu secara total dengan informasi yang dibaca. Seseorang yang membaca akan memperoleh pengetahuan (ilmu). Membaca Al-Qur’an berarti menimba ilmu dari Al Qur’an. Membaca alam berarti menggali pengetahuan dan alam. Membaca tidak sekedar melihat atau mengeja bacaan tanpa mengetahui arti.

Disimpulkan  makna perintah iqra’ (membaca) tersebut mengandung beberapa pengertian.

Pertama,    bacalah ayat-ayat Allah sebagai kalamullah yang ada dalam Alquranul Karim (al Aayaat al Qauliyyah).  

Kedua,   bacalah ayat-ayat Allah yang tercipta dan terbentang di alam semesta (al  Aayaat al Kauniyah).

Dalam Alquran terdapat ratusan ayat yang memerintahkan manusia agar melihat. memperhatikan. memikirkan. merenungkan.

Demi terlaksananya perintah ini, maka Allah membekali manusia dengan beberapa instrumen. yang menjadi alat bagi mereka utuk memperoleh pengetahuan, di antaranya ;                  

Pancaindra manusia yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba menempati posisi yang sangat penting bagi manusia dan sangat berguna untuk menangkap pesan tentang benda-benda dan keadaan yang ada di lingkungan sekelilingnya.

Akal, yang berfungsi pada tataran rasionalitas. Akal memiliki kemampuan untuk mengumpul data, menganalisa, mengolah dan membuat kesimpulan dari yang telah tertangkap dan diinformasikan oleh pancaindra.

Intuisi atau ilham didapat tanpa melalui proses penalaran tertentu. Tidak semua orang bisa mendapatkan kemampuan intuitif dan ilham, kecuali orang-orang yang melakukan musyahadah melalui kontemplasi (perenungan), ibadah dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT.

Kemampuan dimiliki manusia sangat terbatas, baik bersifat fisik yang masih menyimpan misteri bagi manusia, apatah lagi yang bersifat non-fisik dan irrasional yang tidak mampu dicerna akal.

Wahyu membimbing manusia, agar tidak tertipu oleh indra dan akalnya yang terbatas. Wahyu memberikan kepastian agar akal tidak mengelana tanpa arab yang dapat membawa kepada ketersesatan dari kebenaran yang hakiki.

Wahyu adalah pengetahuan dan kebenaran tertinggi yang datang dari Dzat Yang Maha Tinggi dan Yang Maha Tahu segala rahasia alam semesta ini.

Wahyu Allah adalah kebenaran yang bersifat mutlak.

Seiring dengan berkembangnya budaya dan peradaban manusia di masa modern dan era globalisasi, situasi dan kondisi masyarakat pun mengalami perubahan yang sangat drastis. Tuntutan hidup pada segala sisi aspek kehidupan mesti dihadapi dan harus diatasi. Keperluan manusia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi tak terelakkan menjadi salah satu sarana yang diperlukan dan dapat mengantarkan pada kemudahan penguasaan alam kelilingnya.

Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi prasyarat imperatif di dalam menatap perkembangan zaman dan menjadi dorongan inovasi peradaban semua ras manusia.

Dengan demikian, maka upaya meraihnya adalah dengan belajar. IQRA’ = bacaalah.

Allahu a ‘lam bishawab.

Wassalam

Buya H.Mas’oed Abidin

Categories: Amar Makruf Nahi Munkar, Buya Masoed Abidin, Education, Komentar, Masyarakat Adat, Ramadhan, Strategi Pendidikan Madani, Surau | Leave a comment

Akhlak lambang Kematangan Iman

Akhlakul Karimah

Lambat Kematangan Iman

أَحَبُّ عِبَادَ اللهِ إِلىَ اللهِ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Hamba-hamba Allah yang paling dicintai-Nya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka” (Shahih Al Jami’: 179)

Akhlak adalah bentuk jama’ dari yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabi’at. Berakar dari kata khalaqa yang berarti menciptakan. Kata-kata akhlak seakar dengan kata khaliq (pencipta), makhluq (yang diciptakan) dan khalaq (penciptaan).

Abdul Karim Zaidan mendefinisikan akhlak sebagai berikt ; “Akhlak adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengan sorotan dan timbangannya, seseorang dapat menilai perbuatannya baik atau buruk, untuk kemudian memilih melakukan atau meninggalkannya.”

Dapat disimpulkan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, akan muncul secara spontan ketika diperlukan, tanpa pemikiran atau pertimbangan dan tidak memerlukan dorongan dari luar. Dalam Mu’jam Al Wasith disebutkan; Min ghairi hajah ila fikr wa ru’yah (tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan).

Muhammad Abdullah Draz dalam bukunya Dustur Al Akhlak fil Islam membagi ruang lingkup akhlak kepada lima bagian, yaitu : Akhlak peribadi (Al Akhlak Al Fardhiyah), Akhlak Berkeluarga (Al Akhlak Al Usairiyah), Akhlak Bermasyarakat (Al Akhlak Al Ijtima’iyah), 4.Akhlak Bernegara (Al Akhlak Ad Daulah), Akhlak Beragama (Al Akhlak Ad Diniyah).[1]

Akhlakul karimah sangatlah tinggi kedudukannya dalam penilaian Islam. Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Rasulullah selalu menakar baik buruknya akhlak seseorang sebagai ukuran kualitas imannya. Maka akhlak Islami paling kurang juga memiliki lima ciri-ciri khas yaitu:

1. Akhlak Rabbani

Akhlak Islam bersumber dari wahyu Ilahi yang termasuk dalam Al Qur’an dan Sunnah. Dalam Al Qur’an terdapat lebih 1.500 ayat yang mengandung ajaran akhlak, baik dalam teori atau praktik. Begitu pula dalam hadits-hadits Nabi, amat banyak memberi pedoman tentang akhlak. Sifat Rabbani dari akhlak bertujuan memperoleh kebahagiaan di dunia sekarang dan di akhirat nanti.

Ciri Rabbani dalam akhlak Islam bukanlah moral yang tradisional dan situasional, tetapi akhlak yang benar-benar memiliki nilai mutlak. Akhlak Rabbani mampu menghindari kekacauan nilai moralitas dalam kehidupan manusia.

Al Qur’an mengajarkan, « Inilah jalan-Ku yang lurus, hendaklah kamu mengikutinya, jangn kamu ikuti jalan-jalan lain, sehingga kamu bercerai berai dari jalan-Nya. Demikian yang diperintahkan kepadamu, agar kamu bertaqwa. » (Q.S. Al An’am: 153)

2. Akhlak Manusiawi

Akhlak Islam memenuhi tuntutan fitrah manusia. Kerinduan jiwa manusia kepada kebaikan akan terpenuhi dengan mengikuti ajaran akhlak dalam Islam. Ajaran akhlak dalam Islam diperuntukkan bagi manusia yang merindukan kebahagiaan dalam arti hakiki bukan kebahagiaan yang sementara. Akhlak Islam adalah akhlak yang benar-benar memelihara eksistensi manusia sebagai makhluk terhormat, sesuai dengan fitrahnya.

3. Akhlak Menyeluruh (Universal)

Akhlak dalam Islam sesuai dengan kemanusiaan secara meluas (universal), mencakup segala aspek hidup manusia, baik yang dimensinya vertikal maupun horizontal. Sebagai contoh Al Qur’an menyebutkan sepuluh macam keburukan yang wajib dijauhi oleh setia orang.

a. Dilarang menyekutukan Allah,

b. Dilarang durhaka kepada orang tua,

c. Dilarang membunuh anak karena takut miskin,

d. Dilarang berbuat keji baik secara terbuka maupun secara tersembunyi,

e. Dilarang membunuh orang tanpa alasan yang sah,

f. Dilarang makan harta anak yatim,

g. Dilarang mengurangi takaran dan timbangan,

h. Dilarang membebani orang lain kewajiban yang melampaui kekuatannya,

i. Dilarang melakukan persaksian tidak adil,

j. Dilarang mengkhianati janji dengan Allah.

4. Akhlak yang sangat seimbang

Akhlak dalam Islam berada di tengah antara yang khayalan manusia sebagai malaikat yang semata bertumpu kepada segi kebaikan saja tanpa dorongan nafsu dengan sifat-sifat hewaniyah yang menitik beratkan sifat keburukannya saja. Manusia menurut pandangan Islam memiliki dua kekuatan dalam dirinya Kekuatan baik pada hati nurani dan akalnya. Kekuatan buruk pada hawa nafsunya. Manusia memiliki naluri hewaniyah dan juga ruhiyah malaikat. Manusia memiliki unsur rohani dan jasmani yang dilayani secara amat seimbang.

Manusia hidup tidak hanya di dunia kini, tetapi akan berlanjut dengan kehidupan akhirat. Hidup di dunia merupakan ladang bagi akhirat. Akhlak Islam memenuhi tuntutan kebutuhan manusia, jasmani dan rohani. Secara seimbang pula menuntun hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Bahkan memenuhi kebutuhan peribadi harus seimbang memenuhi kewajiban terhadap masyarakat.

5. Akhlak dalam kehidupan nyata

Akhlak Islam memperhatikan kenyataan hidup manusia. Meskipun manusia dinyatakan sebagai makhluk yang memiliki kelebihan di banding dengan makhluk-makhluk yang lain, tetapi manusia mempunyai kelemahan. Manusia mempunyai kecenderungan manusiawi dan berbagai macam kebutuhan material dan spritual. Kelemahan-kelemahan manusia itu sangat memungkinkan bagi manusia melakukan kesalahan-kesalahan dan pelanggaran. Oleh sebab itu Islam memberikan kesempatan kepada manusia yang melakukan kesalahan untuk memperbaiki diri dengan bertaubat dan beristighfar. Bahkan dalam keadaan terpaksa, Islam membolehkan manusia melakukan sesuatu yang dalam keadaan biasa tidak dibenarkan.

Ketika umat Islam melakukan panduan akhlak sesuai dengan bimbingan Alquran dan Sunnah Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam, maka tampaklah perilaku umat itu aneh dan ganjil sekali.

Wallahu a’lamu bis-shawaab.

Wassalam Buya H.Masoed Abidin


[1] Dikuatkan oleh Drs. Yunhar Ilyas, Lc., MA. dalam bukunya “Kuliah Akhlak”.

Categories: Adat Basandi Syarak, Amar Makruf Nahi Munkar, Buya Masoed Abidin, dakwah ilaa Allah, Komentar, Masyarakat Adat, Pendidikan, Ramadhan, Strategi Pendidikan Madani, Surau, Tauhid, Tulisan Buya | Leave a comment

Pengebangan Moral dan Nilai Agama dalam PAUD

Pengembangan Moral dan Nilai- Nilai Agama Dalam pendidikan anak usia dini (paud)[1]


H. Mas’oed Abidin[2]

 

Mukaddimah

Sudah lama kita mendengar ungkapan, “jadilah kamu berilmu yang mengajarkan ilmunya, atau belajar (muta’alliman), atau menjadi pendengar (mustami’an). Dan, jangan menjadi kelompok keempat, yang tidak memiliki aktifitias keilmuan sama sekali. Yakni, tidak mengajar, tidak pula belajar, serta enggan untuk mendengar”.

Peran Guru di tengah umat dan anak didiknya, adalah sesuatu pengabdian mulia, dan tugas sangat berat. Mereka adalah pelopor pembangunan (agent of changes). Bekal utamanya adalah keyakinan  dan keimanan kepada Allah SWT, hidup beradat,  berakhlaq mulia. Inilah, yang menjadi program utama di dalam pendidikan anak usia dini (PAUD). Tugas itu berat. Umat hanya mungkin dibentuk melalui satu proses pembelajaran, dengan pengulangan terus menerus (kontiniutas), pencontohan (uswah) yang baik. Pekerjaan ini memerlukan ketaletenan dan semangat yang prima.

Kemuliaan seorang guru (pendidik) terpancar dari keikhlasan membentuk umat dan anak manusia menjadi pintar, beriman, berakhlaq, berilmu, mengamalkan ilmunya, untuk kebaikan diri sendiri, keluarga, dan kemaslahatan umat, di kelilingnya, serta mempunyai ibadah yang teratur, shaleh pribadi, dan shaleh social, dengan tauhid yang istiqamah.

Keberhasilan murabbi (guru) akan banyak didukung oleh kearifan, yang dibangun oleh kedalaman pengertian, pengalaman dalam membaca situasi, serta upaya dan kondisi yang kondusif di sekitarnya.

tantangan di  abad ke 21

Abad ini ditandai oleh, (a). mobilitas serba cepat dan modern, (b). persaingan keras dan kompetitif, (c). komunikasi serba efektif, dalam satu global village, dan (d). Akibatnya,  banyak ditemui limbah budaya kebaratan (westernisasi).

Alaf baru ini  hadir dengan cabaran global yang menuntut keteguhan, dalam menghadapi tantangan yang berjibun banyaknya, di antaranya infiltrasi budaya sekularis  yang menjajah mentalitas manusia, the globalization life style meniru sikap yahudi, suburnya budaya lucah (sensate culture), menjauh dari adat budaya luhur, pemujaan nilai rasa panca indera, menonjolkan keindahan sensual, erotik, seronok, ganas semata mengejar kesenangan badani, kebiasaan miras, pergaulan bebas, kecanduan madat dan narkoba.

Menghadapi tantangan ini, semua elemen masyarakat berkewajiban memper­siapkan generasi yang siap bersaing dalam era global terse­but, dengan sibghah yang nyata, melalui pendidikan anak pada usia dini.

Penyimpangan perilaku menjadi ukuran atas kemunduran moral dan akhlak. Hilangnya kendali para remaja, berakibat ketahanan bangsa akan lenyap dengan lemahnya remaja.

Penyebab utama di antaranya, rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan,  hilangnya tokoh panutan, berkembangnya kejahatan di kalangan orang tua, luputnya tanggung jawab lingkungan dan masyarakat, impotensi di kalangan pemangku adat, hilangnya wibawa ulama, dan suluah bendang di nagari, bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi bisnis, dan profesi da’i, guru, dan suluah bendang, dilecehkan.

Perilaku umat juga berubah

Interaksi dan ekspansi kebudayaan dari luar, bergerak secara meluas. Pengaruh budaya asing berkembang pesat, seperti pengagungan materia secara berlebihan (materialistik), pemisahan kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik), pemujaan kesenangan indera mengejar kenikmatan badani (hedonistik).

Perilaku di atas merupakan penyimpangan sangat jauh dari budaya luhur. Pada akhirnya, melahirkan Kriminalitas, perilaku Sadisme, dan Krisis moral, secara meluas.

Perubahan dalam hidup beradat juga telah merambah Minangkabau. 

Adat ndak dipacik arek, agamo ndak dipagang taguah.

Fakta menunjukkan bahwa adat tidak berdampak banyak terhadap generasi muda. Tempat bertanya tidak ada, Sudah banyak yang tidak mengerti adat. Karena itu, generasi muda di Nagari mulai kebingungan.

Manakala problematika sosial ini lupa mengantisipasi melalui gerakan dakwah, melalui Pendidikan Anak Usia Dini berbasis aqidah, maka arus globalisasi ini membawa perubahan yang negatif.

Hilangnya keseimbangan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, yang menyebabkan timbulnya berbagai krisis.

Perilaku luhur akan bergeser, dan menipisnya ukhuwah, serta berkembangnya perbuatan maksiat. Maka sekolah atau pendidikan berbasis aqidah, mesti menjadi cerminan idealitas masyarakat yang mempertahankan pembelajaran budi akhlak.

Pergeseran budaya akan terjadi ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, seperti kegemaran berkorupsi, aqidah tauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, serta suka melalaikan ibadah.

Salah satu solusi untuk mengatasi problematika keumatan ini, adalah dengan melaksanakan pendidikan aqidah pada anak usia dini (PAUD), dengan menambah ilmu, menguatkan amal, menanamkan akhlak, menjaga ibadah dan karakter umat, dengan berpedoman wahyu Allah SWT.

Pendidikan aqidah dan akhlaq, membawa umat kepada bertaqwa. Janji Allah SWT sangat tepat, ” apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi. (QS.7,al-A’raf:96).

Menghidupkan Antisipasi Umat

Umat mesti diajak mengantisipasi perkembangan global agar tidak menjadi kalah. Dalam persaingan dimaksud, beberapa upaya mesti disejalankan dengan ;

a.       Memantapkan watak terbuka,

b.      Pendidikan aqidah tauhid,

c.       Mengamalkan nilai-nilai amar makruf nahi munkar,

d.      Integrasi moral yang kuat,

e.       Memiliki penghormatan terhadap orang tua,

f.        Mempunyai adab percakapan di tengah pergaulan,

g.       Pendalaman ajaran agama tafaqquh fid-diin, berpijak pada nilai-nilai ajaran Islam yang universal tafaqquh fin-naas.

h.      Perhatian besar terhadap masalah sosial atau umatisasi,

i.         Memacu penguasaan ilmu pengetahuan,

j.         Kaya dimensi dalam pergaulan rahmatan lil ‘alamin,

k.       Iman dan ibadah, menjadi awal dari ketahanan bangsa.

 

Ketahanan umat dan bangsa, pada umumnya terletak pada kekuatan ruhaniyah, keyakinan agama dengan iman taqwa dan siasah kebudayaan.

Intinya adalah tauhid. Implementasinya akhlaq.

Program pendidikan anak usia dini (PAUD) dapat dilakukan dengan nuansa surau. Surau adalah suatu institusi yang khas dalam masyarakat Minangkabau. Fungsinya bukan sekedar tempat sholat. Juga sebagai tempat pendidikan dan tempat mendapat pengajaran bagi anak muda. Banyak tokoh-tokoh besar di Minangkabau lahir dari surau. Pengelolaan pendidikan bernuansa surau, pada masa sekarang bisa dihidupkan kembali. Esensi dan semangatnya lewat menggerakkan kebersamaan anak Nagari.

Para pendidik mesti tampil mengambil peran, karena  ada gejala, adat tidak memberi pengaruh yang banyak terhadap generasi muda di Minangkabau, dan adanya tendensi bahwa generasi tua, terlihat kurang pula memberikan suri teladan.

Akibatnya, generasi muda jadi bersikap apatis terhadap adat itu sendiri.

Peran para pendidik mesti membentuk watak Generasi Sumatera Barat, sesuai petatah yang berbunyi, “Indak nan merah pado kundi, indak nan bulek pado sago, Indak nan indah pado budi,  indak nan elok pado baso. Anak ikan dimakan ikan,  gadang di tabek anak tanggiri, ameh bukan pangkaik pun bukan, budi sabuah nan diharagoi. Dulang ameh baok balaie, batang bodi baok pananti, utang ameh buliah bababie,  utang budi dibaok mati.”

Ada enam unsur yang diperlukan untuk membentuk masyarakat yang mandiri dan berprestasi, melalui harakah dakwah, dalam pendidikan bernuansa surau ;  

1. IMAN, 2. ILMU, 3. Kerukunan, Ukhuwah dan Interaksi,  4. Akhlaq, Moralitas sebagai Kekuatan Ruhiyah, 5. Badunsanak, sikap Gotong royong (Ta’awun), 6. Menjaga Lingkungan sebagai Social Capital, menerapkan Eko Teknologi.

Kegiatan Pendidikan Anak Usia DINI (PAUD), mesti dijadikan upaya pembinaan karakter anak, dengan berbasis nilai-nilai agama, yang akan menjadi pagar adat dan syarak, dalam menghadapi krisis identitas, sebagai  akibat dari perubahan dalam nilai – nilai adat.

mengajak, mendidik,  dan mengamalkan Islam

Peran Guru atau Murabbi dalam mendidik anak sejak usia dini adalah ibarat Suluah Bendang di  tengah umat, yang dilaksanakan dengan keikhlasan sebagai satu pengabdian mulia dan tugas berat.

Keikhlasan membentuk umat jadi pintar, beriman, berakhlaq, berilmu, beramal baik, membina diri, kemashlahatan umat, dan keluarga, menjadi panutan dan ikutan, ibadahnya teratur, shaleh peribadi dan sosial, beraqidah tauhid yang shahih dan istiqamah.

Pendidikan anak sejak usia dini ini, tidak terlepas dari upaya menyiapkan satu generasi yang beradab, berakhlaq, berakidah dan berprestasi, melalui ;

Ø Membudayakan Wahyu Al Quran dalam memakaikan adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah, melalui pendidikan dan pelatihan-pelatihan,

Ø Implementasinya, dalam perilaku anak berakidah, dan berakhlaq, dalam kerangka lebih luas, menghidupkan dakwah membangun negeri.

Perintah untuk melaksanakan tugas-tugas da’wah itu, secara kontinyu atau terus menerus, dan sambung bersambung.

 

Pelaksana Dakwah adalah setiap Muslim

Setiap mukmin adalah umat da’wah pelanjut Risalah Rasulullah yakni Risalah Islam. Umat dan para murabbi (pendidik) mesti berupaya sekuat tenaga untuk meneladani pribadi Muhammad SAW, dalam membentuk effectif leader dengan mengamalkan inti dan isi Agama Islam, yakni akhlaq Islami, Aqidah tauhid yang shahih, kesalehan, dan keyakinan kepada hari akhirat, ”Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab, 33 : 21).

Islam Mendidikkan Kepribadian

Uswah atau contoh tauladan terpuji, melukiskan kesan positif dalam mayarakat. Alat canggih teknologi modern tidak dapat mengambilalih peran orang tua dalam uswah. Faktor manusia tetap diperlukan dalam proses pematangan sikap pribadi seseorang anak, sejak usia dini, dengan menanamkan laku perangai (syahsiah), yang mencerminkan  watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seorang[3]

Sahsiyah Murabbi membawa Keberhasilan Pendidikan ISLAM

Tidak diragukan lagi bahwa guru — murabbi, muallim, – yang punya kepribadian baik serta uswah hidup yang terpuji akan mampu melukiskan kesan positif dalam diri anak didik mereka.

Alat teknologi modern walau bagaimanapun canggihnya tidak akan dapat mengambil alih peranan guru. Faktor manusia tetap diperlukan dalam proses pembentukan dan pematangan sikap pribadi para anak didik dan menanamkan laku perangai — syahsiah — murid. Tegasnya sahsiah mencerminkan  watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seseorang [4]

Ciri Utama atau Syahsiah (شخصية) itu bermakna pribadi atau personality, yang  menggambarkan sifat individu yang merangkum padanya gaya hidup, kepercayaan, harapan, nilai, motif, pemikiran, perasaan,  budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak seseorang.[5]

Banyak kajian telah dibuat tentang sifat-sifat yang perlu ada pada seorang guru (murabbi, mu’allim) yang baik dan akan menghasilkan kesan mendalam pada proses pengajaran yang mereka sampaikan.[6] Karena itu, sifat dan ciri guru muslim hendaklah merangkum :

    A.  Sifat Ruhaniah dan Akidah

1.      Keimanan yang kental kepada Allah yang Maha Sempurna

2.      Keyakinan mendalam terhadap hari akhirat, hari berbangkit dan hari pembalasan

3.      Kepercayaan kepada seluruh para Rasul di iringi dengan sifat dan asas keimanan (arkan al iman) yang lain.

    B.   Sifat-Sifat Akhlak

1.      Benar dan jujur

2.      Menepati janji dan Amanah

3.      Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan

4.      Merendah diri – tawadhu’ —

5.      Sabar, tabah dan cekatan

6.      Lapang dada – hilm –, Pemaaf dan toleransi

7.      Menyayangi murid, mengutamakan kepentingan orang banyak dengan  sikap pemurah, zuhud dan berani bertindak.

    C.  Sifat Mental, Kejiwaan dan Jasmani

1. Sikap Mental

·         Cerdas (Kepintaran teori, amali dan sosial), menguasai mata anak didikan  takhassus

·         Luas pengetahuan umum dan  ilmiah yang sehat

·         Mengenal ciri, watak, kecenderungan dan keperluan murid, fasih, bijak dan cakap di dalam penyampaian

2. Sifat Kejiwaan

·         Tenang dengan emosi mantap terkendali, optimistik dalam hidup, penuh harap kepada Allah dan tenang jiwa bila mengingatiNya.

·         Percaya diri dan mempunyai kemauan yang kuat, lemah lembut dan baik dalam pergaulan

·         Berfikiran luas dan mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat

3.  Sifat Fisik

·         Sehat tubuh dan badan dari penyakit menular

·         Berperawakan menarik, bersih, rapi (kemas) dan menyejukkan.

 

Berapa penilitian di beberapa negara maju terdapat daftar sikap yang diinginkan ada pada para murabbi (guru)  :

·         Berkelakuan baik (penyayang dan penyabar), mampu menguraikan anak didikan dengan jelas, berdisiplin, amanah dan menunaikan janji,

·         Mempunyai sahsiah yang dihormati, berkemauan yang kuat, berbakat kepimpinan yang tinggi, berpengetahuan umum yang luas, bersikap menarik dan bersuara yang merangkul dan mendidik,

·         Pandai memberi nasihat, simpati terhadap kelemahan murid, pandai memilih kata-kata, tanggap dengan suasana murid di rumah, dan mengujudkan sikap kerjasama, serta  bersemangat riadah dan kedisiplinan

Guru muslim (murabbi) yang mempunyai sahsiah yang baik ialah guru yang mengamalkan etika keguruan Islam yang standard dan mempunyai personaliti yang baik.

Etika Guru Muslim

Etika pendidik Islam yang profesial, memiliki beberapa tanggung jawab yang dapat diawali oleh kemauan dari dalam diri guru dan kemudian dapat ditukuk tambah oleh khalayak pendidik dan dihayati sebagai suatu etika profesi keguruan, antara lain ;   

1. Tanggungjawab Terhadap Allah

Etika guru muslim terhadap Allah ialah :

1.      Senantiasa memantapkan keyakinan kepada Allah dengan ibadah.

2.      Bersifat istiqamah, dengan semangat berbakti dan beramal soleh.

3.      Wajib menghayati rasa khusyuk, takut dan harap kepada Allah, dan selalu bersyukur kepada Allah di samping selalu berdoa kepadaNya dengan membaca ayat-ayat Allah dan merendahkan diri kehadratNya.

 2. Tanggungjawab Terhadap Diri

1.      Guru muslim hendaklah memastikan keselamatan diri sendiri, mencakup aspek fisik, emosional, mental maupun moral, bersih diri, pakaian, dan tempat tinggal.

2.      Memahami kekuatan dan kelemahan diri untuk boleh dimanfaatkan serta ditingkatkan dari segenap aspek dan dapat berkhidmat sebanyak mungkin kepada Allah, masyarakat dan negara.

3.      Melibatkan diri dengan program dan agenda yang dapat meningkatkan kualiti profesi seorang guru.

3. Tanggungjawab Terhadap Ilmu

1.      Memastikan penguasaan ilmu takhassus secara mantap dan mendalam, bercita dan berbuat — iltizam — dengan amanah ilmiah.

2.      Sunguh-sungguh mengamalkan ilmu yang dimiliki dan mengembangkan untuk dianak didiki, dan selalu mengikuti perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan terbaru dalam rangkaian pembelajaran ilmu berkaitan.

3.      Sepanjang masa menelusuri sudut atau dimensi spirituality Islam dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan.

4. Tanggungjawab terhadap Profesi

1.      Seorang guru tidaklah boleh bertingkah laku yang mencemarkan sifat profesinya yang berakibat kurangnya kepercayaan orang ramai terhadap profesi perguruan.

2.      Guru bertugas sebagai pengganti ibu bapa dalam usaha membentuk tingkah laku anak didiknya ke arah sikap perangai yang diterima oleh masyarakat, dan menumpukan perhatian terhadap keperluan setiap anak didiknya.

3.      Dia haruslah mendidik dan mengambil tindakan secara adil terhadap semua anak didik, tanpa membedakan tempat asal keluarga, intelek, akademik dan status-status lain.

5. Tanggungjawab Terhadap anak didik

1.      Guru muslim hendaklah lebih mengutamakan kebajikan dan keselamatan anak didiknya.

2.      Bersikap adil terhadap, tanpa membedakan faktor-faktor jasmani, mental, emosi, politik, ekonomi, sosial, keturunan dan agama anak didiknya.

3.      Menampilkan suatu cara pakaian, pertuturan dan tingkah laku yang dapat memberikan contoh yang baik kepada anak didiknya.

6. Tangungjawab Terhadap Rekan Sejawat

1.      Guru muslim senantiasa berusaha dengan sepenuhnya menunaikan tanggungjawab dengan rajin dan bersungguh-sungguh dan mengekalkan kemajuan ikhtisas dan sosial.

2.      Senantiasa bersedia membantu rekan sejawat terutamanya mereka yang baru dalam profesi perguruan.

3.      Mawas diri dan tidak mencemarkan nama baik profesi pendidik.

7. Tanggungjawab terhadap masyarakat dan Negara

1.      Mengelakkan diri daripada meyebarkan sesuatu ajaran yang dapat  merusak kepentingan anak didik, masyarakat atau negara, ataupun yang dapat  bertentangan dengan aturan bernegara.

2.      Memupuk dalam diri setiap anak didik sikap dan nilai yang dapat  membantu dan membimbing mereka untuk menjadi warga negara yang taat setia, bertanggungjawab dan berguna, menghormati orang-orang yang lebih tua dan menghormati adanya perbedaan kebudayaan, keturunan dan agama.

3.      Menghormati masyarakat tempat mereka berkhidmat dan memenuhi segala tanggungjawab sebagai seorang warganegara dan senantiasa sanggup mengambil bahagian dalam sebarang kegiatan masyarakat. Berpegang kepada tingkah laku yang sopan yang diterima oleh masyarakat dan menjalani kehidupan harian dengan baik.

8. Tanggungjawab Terhadap Ibu Bapa dan rumah tangga

1.      Menghormati tanggungjawab utama ibu bapa terhadap anak-anak mereka.

2.      Berusaha mewujudkan hubungan mesra dan kerjasama yang erat di antara institusi pendidikan dengan rumahtangga.

3.      Menganggap semua maklumat yang diberikan oleh ibu bapa mengenai keadaan rumahtangga atau anak mereka sebagai sulit dan tidak akan membocorkannya kepada sesiapa kecuali kepada mereka yang berhak mengetahuinya.

Keberhasilan Pendidikan Islam

Meskipun ciri dan sahsiah guru yang baik telah dicapai namun itu tidak pula bermakna pengajaran mereka dengan sendirinya berkesan.

Pengajaran yang disampaikan oleh guru akan berkesan atau tidak, amat bergantung kepada beberapa faktor yang berkaitan degan proses belajar dan mengajar yang menjadi hubungan erat antara guru dan anak didiknya.

Tantangan yang dihadapi oleh para guru dalam mengajar murid-murid  zaman ini bukanlah suatu yang mudah. Guru berhadapan dengan kenakalan remaja yang semakin serius. Ibu bapa harus ikut serta dalam memudahkan kerja guru-guru di sekolah.

Masyarakat juga wajib memainkan peranan sebagai pendukung keberhasilan guru dalam pembelajaran terhadap murid-murid mereka. Tanpa kerjasama semua pihak proses pendidikan tidak akan berjaya menghasilkan generasi  yang baik.

            Membentuk Generasi Masa Depan

Perkembangan kedepan banyak ditentukan oleh peranan generasi penerus dengan ruang interaksi yang jelas. Pendidik harus menjadi agen sosialisasi yang menggerakkan kehidupan masa depan lebih baik. Kita memerlukan generasi yang handal, dengan beberapa sikap;

a.      individu yang berakhlak, berpegang pada nilai-nilai mulia iman dan taqwa, daya kreatif dan inno­vatif, dipadukan dengan kerja sama berdisiplin, kritis dan dinamis, memiliki vitalitas tinggi, tidak mudah terbawa arus, sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan.

b.      memahami nilai‑nilai budaya luhur, punya jati diri yang jelas, generasi  yang menjaga destiny, motivasi yang bergantung kepada Allah, yang patuh dan taat beragama akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan,

c.        memahami dan mengamalkan nilai‑nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, mempunyai motivasi dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik‑material, tanpa harus mengorbankan nilai‑nilai kemanusiaan.

Kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) dengan basis iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat. Hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional.

Pendidikan anak usia dini, akan berperan membentuk mental umat – dengan FAST -, satu ranah ruhani yang memiliki kekuatan ;

q  Fathanah (Ilmiah),

q  Amanah (jujur),

q  Amaliyah (transparan),

q  Shiddiq (lurus),

q  Shaleh (Yakin terhadap akhirat),

q  Setia (ukhuwah mendalam),

q  Tabligh (Dialogis),

q  Tauhid (Percaya kepada Allah),

q  Taat (Disiplin),

Generasi baru harus mampu mencipta, menjadi syarat utama keunggulan. Keutuhan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada.

Generasi muda harus dibina menjadi umat dakwah, dengan memiliki budaya yang kuat berintikan nilai-nilai dinamik yang relevan dengan realiti kemajuan di era globalisasi, yakni nilai-nilai agama Islam.

Generasi masa depan (era globalisasi) mesti Memiliki ; budaya luhur (tamaddun), berpaksikan tauhidik, kreatif dan dinamik, memiliki utilitarian ilmu berasaskan epistemologi Islam yang jelas, tasawwur (world view) yang integratik dan umatik sifatnya (bermanfaat untuk semua, terbuka dan transparan).

Pendidikan dikembangkan sejak usia dini si anak, dengan menekankan pada pendidikan akhlak, budi pekerti, dengan tujuan yang jelas ;

ü  Menghambat gerakan-gerakan yang  merusak Islam.

ü  Menimbulkan keinsafan tentang perlunya adil sesuai syara’ Islam.

ü  Melahirkan masyarakat penyayang yang tidak aniaya satu sama lain.

ü Menanamkan tata kehidupan saling kasih mengasihi dan beradab sopan. Akhlak karimah  adalah tujuan sesungguhnya dari proses pendidikan, dan menjadi wadah dalam menerima ilmu lainnya, dan membimbing umat kearah amal karya, kreasi, inovasi, motivasi yang shaleh (baik).

Akhlak, adalah jiwa pendidikan, Inti ajaran  Agama, dan  buah keimanan.

Bahasa Dakwah adalah Bahasa Kehidupan

Mendidik tidak dapat dipisah dari satu gerakan dakwah. Menggalang saling pengertian, koordinasi sesamanya mempertajam faktor-faktor pendukungnya, membuka pintu dialog persaudaraan (hiwar akhawi), untuk membentuk efektif leader, mencontoh peribadi Rasulullah SAW, menjadi satu kunci keberhasilan da’wah Risalah.

Aktualisasi dari nilai-nilai Al-Qur’an itu, hanya bisa diwujudkan dengan gerakan amal nyata yang berkesinambungan (kontinyu), dalam seluruh aktivitas kehidupan manusia, melalui kemampuan bergaul, mencintai, berkhidmat, menarik, mengajak (da’wah) , merapatkan potensi barisan (shaff), mengerjakan amal-amal Islami secara bersama-sama (jamaah).

Setiap Muslim harus melakukan perbaikan (ishlah) kualitas diri sendiri, sebagaimana arahan Rasulullah “Mulailah dari diri kamu kemudian lanjutkan kepada keluargamu dan kepada lingkunganmu” (Al Hadist), dan perbaikan kualitas lingkungan, keluarga, hubungan sosial masyarakat, sosial ekonomi, kebudayaan dan pembinaan alam lingkungan yang berkesinambungan.

Pendidikan usia dini ini tidak akan berhenti dan akan berkembang terus sesuai dengan variasi zaman yang senantiasa berubah, dengan tujuan utama membentuk generasi pintar, berilmu, dan berbudaya dengan akhlaq karimah.

Pengembangan pendidikan berkualitas (quality oriented), akan mendorong lahirnya umat yang mempunyai ilmu yang komprehensif, yakni pengetahuan agama plus keterampilan, dengan aqidah tauhid yang istiqamah.

Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan sumber-sumber belajar di dalam masyarakat menjadi bagian integral dari masyarakat Muslim secara keseluruhan.

Dengan pengembangan dakwah ini, maka surau dan masjid, dapat menjadi core, atau inti, mata dan pusat dari learning society, masyarakat belajar. Sasarannya, agar lahir umat dakwah yang terdidik, berkualitas, capable, fungsional, integrated di tengah masyarakatnya.

Setiap Muslim harus ‘arif, dalam menangkap setiap pergeser­an yang terjadi karena perubahan zaman ini, juga menjanjikan peluang‑peluang yang ada, sehingga memiliki visi jauh ke depan dalam percaturan hidup dunia (Q.S. 28: 77).

Kekuatan Tauhid

Paradigma tauhid, laa ilaaha illa Allah, mencetak manusia menjadi ‘abid (yang mengabdi kepada Allah) dalam arti luas mampu melaksanakan ajaran syar’iy mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasul Allah, menjadi manusia mandiri (self help), sesuai eksistensi manusia itu di jadikan.[7] Manusia pengabdi (‘abid) adalah manusia yang tumbuh dengan aqidah Islamiyah yang kokoh.

Aqidah Islamiah adalah sendi fundamental dinul Islam, Aqidah adalah langkah awal untuk menjadi muslim. Aqidah adalah keyakinan bulat, tanpa ragu dan bimbang,  Aqidah membentuk watak manusia Patuh dan taat,  sebagai bukti penyerahan total kepada Allah.

       Aqidah menuntun hati manusia kepada pembenaran  kekuasaan tunggal Allah secara absolut. Aqidah ini membimbing hati manusia merasakan nikmat rasa aman dan tentram dalam mencapai Nafsul Mutmainnah dengan segala sifat-sifat utama.[8]

Manusia berjiwa bersih (muthmainnah) selalu memenuhi janjinya terhadap Allah, dan melaksanakan semua perintah Allah secara konsekwen.[9]

Konsistensi, atau ke-istiqamah-an membentuk manusia patuh dan taat dalam mengamalkan syari’at Islam secara tidak terputus ibarat akar dengan pohonnya.[10]  Maka hakikinya tanpa aqidah tidak ada artinya seorang muslim. Aqidah Islamiyah ialah Iman kepada Allah dengan mengakui eksistensiNya (wujudNya).

Ibadah bermakna secara konsisten penuh keikhlasan melaksanakan perintah-perintah Allah tanpa reserve. Konsistensi aqidah tauhid bersedia meninggalkan apa saja bentuk larangan dari Allah, dengan sikap ketaatan dan disiplin diri, karena mencari redha Allah.

Sikap tawakkal adalah konsekwensi dari ikhtiar dan usaha sesuai keyakinan tauhid.

Tawakkal dan ikhtiar usaha selalu jalan seiring.

Keduanya berjalin berkulindan merupakan mekanisme terpadu dalam kerangka kekuasaan Allah Yang Maha Agung.

Keyakinan tauhid mengajarkan kesadaran mendalam bahwa Allah selalu ada di samping manusia.

Keyakinan tauhid mampu menepis rasa takut dan menghapus gentar dalam menghadapi resiko hidup. Hilangnya aqidah tauhid melahirkan fatalistis atau bersikap apatis dan pesimis.

Keyakinan tauhid, adalah kekuatan besar dari energi ruhaniah yang mendorong manusia untuk hidup inovatif.

Membangun SDM menjadi SDU

Kita berkewajiban membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi Sumber Daya Umat (SDU) yang berciri kebersamaan dengan nilai berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas. 

Beberapa model perlu dikembangkan di kalangan para pendidik, seperti ; pemurnian wawasan fikir, kekuatan zikir, penajaman visi, perubahan melalui ishlah atau perbaikan, mengembangkan keteladanan uswah hasanah, sabar, benar, memupuk rasa kasih sayang, dan pendalaman spiritual religi.

Menguatkan solidaritas beralaspijak kepada iman dan adat istiadat luhur, “nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”. Intensif menjauhi kehidupan materialistis, “dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.

Khatimah

1.      Menetapkan langkah kedepan ;

a.           pembinaan human capital dengan keluasan ruang gerak mendapatkan pendidikan,

b.           pembinaan generasi yang memiliki jati diri, padu dan lasak, integreted inovatif.

c.            mengasaskan agama dan akhlak sebagai dasar pendidikan pada anak sejak usia dini.

d.           mencetak anak-anak muslim berilmu yang benar, beriman taqwa.

e.           membina wawasan yang menyatu dengan akidah, budaya bangsa, dan bahasa.

f.             mewujudkan masyarakat yang berasas keadilan sosial yang jelas.

2.      Mengokohkan pegangan umat dengan keyakinan dasar Islam sebagai suatu cara hidup yang komprehensif.

3.      Menyebarkan budaya wahyu di atas kemampuan  akal.

4.       Meyakini Peran krusial Ajaran Islam, bahwa kemenangan hanya disisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS.8, Al-Anfal : 9-10).

5.      Generasi penerus harus taat hukum, dapat dilakukan dengan cara ;

a.      memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga,

b.      memperkokoh peran orang tua, ibu bapak ,

c.       pemeranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif,

d.      memperkaya warisan budaya, setia, cinta dan rasa tanggung jawab patah tumbuh hilang berganti

e.      menanamkan aqidah shahih (tauhid), dan istiqamah pada agama yang dianut,

f.        menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur.

g.      menanamkan kesadaran, tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah

h.      penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam

i.        melazimkan musyawarah dengan disiplin, sebagai nilai puncak budaya Islam  yang benar.

Budaya adalah wahana kebangkitan bangsa. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya. Sesuatu akan selalu indah selama benar. Demikianlah semoga Allah senantiasa Meridhai.

 Padang, 12 Januari 2008.


[1]   Disampaikan dalam Pelatihan Pendidikan PAUD se Sumatera Barat, pada tanggal 9 s/d. 13 Januari 2008, di Gedung Pusdiklat Bhakti Bunda Sumatera Barat, di Jl. Asahan No.2, Komplek GOR H. Agus Salim, Padang., Sumatera Barat.

[2]   Ketua Umum BAZ Sumbar, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumbar, Wakil Ketua Dewan Penasehat MUI Sumbar, dalam Pelatihan Pendidikan PAUD di Sumatera Barat, pada tanggal 1 s/d. 4 September 2007, di Kompleks Sekolah ITI/INS Kayu Tanam 1926, di Jl. Raya Padang Bukit Tinggi, Km.53, Kayutanam – 25585, Sumatera Barat.

[3]   Sahsiah mempunyai tiga ciri utama. Pertama ialah keunikan dengan maksud tersendiri. Kedua  kebolehan  atau kemampuannya untuk berubah dan diubah; sebagai hasil pembelajaran atau pengalaman. Ketiga ialah organisasi. Dengan perkataan  lain  ia bukan  sekadar himpunan tingkahlaku  sebaliknya ia melibatkan corak tindakan dan operasi yang bersifat konsisten.

[4]   Sahsiah mempunyai tiga ciri utama. Pertama ialah keunikan dengan maksud tersendiri. Kedua  kebolehan  atau kemampuannya untuk berubah dan diubah; sebagai hasil pembelajaran atau pengalaman. Ketiga ialah organisasi. Dengan perkataan  lain  ia bukan  sekadar himpunan tingkahlaku  sebaliknya ia melibatkan corak tindakan dan operasi yang bersifat konsisten.

[5]  G.W Allport dalam bukunya ”Pattern and Growth in Personality”, mendifinisikan sahsiah sebagai organisasi dinamik sesuatu sistem psikofisikal di dalam diri seorang individu yang menentukan tingkah laku dan fikirannya yang khusus.  Sistem psikofisikal merangkumi segala-gala unsur-unsur psikologi seperti tabiat, sikap, nilai, kepercayaan dan emosi, bersama dengan unsur-unsur fisikal seperti bentuk tubuh badan, urat saraf, kelenjar, wajah dan gerak gerik seseorang ( Mok Soon Sang, 1994:1).

[6]  Menurut Prof Omar al-Toumi al-Syibani

[7]  Lihat QS.adz-Dzariat, : 57.

[8]  Lihat QS.89:27, dan  QS.13:20-24

[9]  Sesuai bimbingan dalam  QS.6:82.

[10]  Lihat QS.14:24-25.

Categories: Buya Masoed Abidin, Education, Komentar, Masyarakat Adat, PAUD, Pendidikan, Strategi Pendidikan Madani, Surau | Leave a comment

Menghadapi ancaman Narkoba

peran Ulama di tengah dilematis

Laju PORNOGRAFI dan PORNOAKSI … ???

oleh : H. Mas’oed Abidin

 

Mukaddimah

Indonesia berada di urutan kedua setelah Rusia yang menjadi surga bagi pornografi.[1] Fakta di lapangan membuktikan, tak ada negara di mana VCD porno lebih mudah didapatkan seperti di negeri ini, peredaran media cetak (majalah, tabloid), media interaktif (internet) berbau porno[2], gambar bugil di majalah menciplak Playboy atau Hustler, obrolan seks di radio dan tayangan kencan di televisi semakin “berani”. Pemberitaan aktivitas seksual yang bertentangan syariat, justru terkesan di besarkan. Masyarakat resah melihat media cetak dan elektronika banyak menampilkan pornografi, berbarengan VCD porno bebas diperjualbelikan dan ditonton oleh anak-anak di bawah umur, sehingga ekses yang timbul adalah kriminalitas seks di kalangan remaja meningkat tajam. TV sebagai media informasi, edukasi, entertainment dan juga sosial control ekonomi yang stabil, berperan penting membentuk opini masyarakat, dan menggiring perilaku masyarakat (negative atau positif).

Sebuah buku berjudul Jakarta under Cover mengejutkan banyak kalangan, ternyata Jakarta tidak jauh beda dengan Paris, Amsterdam, atau Moskow, dalam soal pornografi (media porno) maupun pornoaksi (aksi porno), telah menghabiskan biaya besar, diperkirakan perputaran uang di “bisnis” ini ratusan miliar rupiah setiap hari, maka jangan terkejut kalau bisnis porno di kawal sindikat besar.

 

Menyoal Sikap Ulama, Masyarakat, dan Pemerintah

Sebuah ironi, negeri Muslim terbesar di dunia ini tidak bisa mencegah budaya lucah. Masyarakat terkesan tutup mulut membiarkan proses pornografi menari-nari di atas pentas  modernisasi dan globalisasi, sementara generasi remaja menilai perkembangan itu wajar saja.

Kaum ulama, yang memiliki tugas mengingatkan masyarakat dan penguasa, hanya mampu mengungkapkan “keprihatinan”. Bahasa politik berteriak kini era demokratisasi. Pejuang kebebasan bersorak, hak asasi junjung tinggi, walau perangai manusia tak humanis. Maka ungkapan keprihatinan menjadi ketidaksetujuan terendah. Protes apalagi “aksi pencegahan” di anggap ketinggalan dan tradisional, di beri label tidak tahu zaman berubah. Ada juga satu-dua ulama protes keras pornoaksi, hasilnya sering kontraproduktif. Apa pasal ? Pertama, si ulama dan lembaga masyarakat yang melihat pornografi itu bahaya, akan di tuduh ramai-ramai “munafik”. Akhirnya, gerakan membebaskan perilaku porno, dibela mati-matian oleh publik yang dikendalikan opini media dan aktor pornografi/pornoaksi, bahkan generasi muda harapan masa depan ikutan menjauhi ulama yang diberi cap « kolot » tadi. Akibatnya,, makin banyak ulama memilih diam daripada dijadikan “promotor gratis” aktor maksiat.

Di sisi lain, usaha melarang pornografi/aksi melalui jalur hukum dengan membuat RUU memasukkan pornografi/aksi sebagai tindak pidana dalam KUHP, ternyata mentah di tengah sidang dewan, sering pula masyarakat di dorong menentang produk aturan yang membatasi porno aksi atau penyakit masyarakat, contoh kasus perda pekat di Sumbar. Pornografi dan pornoaksi akan bersatus legal, kalau pasal-pasal karet di tarik-tarik longgar, karena dianggap bertentangan HAM, bahkan tidak akan menjadi delik dalam KUHP secara tekstual. Inilah yang sering dipakai pembela pornografi/pornoaksi, dengan pertanyaan seputar definisi pornografi/pornoaksi. Jawaban yang diberikan tentu semakin membingungkan.[3] Namun demikian, ini tidak aneh. Maka RUU Pornografi harus mencantumkan kriteria yang tegas dan parameter terinci tentang definisi pornografi sehingga dalam pelaksanaannya tidak mengalami perbedaan interpretasi yang beragam. Hal ini mengingat standar pornografi antara satu orang dengan lainnya berbeda.

Kebingungan terjadi karena tolok ukur yang dipegang adalah “kesepakatan” masyarakat tentang manfaat atau bahaya. Padahal, masyarakat selalu berubah dan bisa jadi pada suatu saat tidak sadar, bahwa kesepakatan di antara mereka akan berdampak serius bagi keberlangsungan masyarakat di masa depan. Yang jelas, kesepakatan masyarakat itu selalu disetir oleh para pengendali opini atau para pembuat pendapat yang memiliki kepentingan bisnis, reputasi, dll. Tidak jarang, di suatu negeri, mereka mengobral berbagai bentuk maksiat (judi, minuman keras, pornografi/pornoaksi) untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari kemelut zaman yang sedang terjadi. Tolok ukur seperti ini muncul ketika suatu masyarakat memutuskan untuk memisahkan agama dari kehidupan (sekularisme). Dalam negara yang di bangun di atas sistem sekular, agama tidak akan mendapat peran mengatur masyarakat melalui undang-undang, kecuali sebagian kecil (UU zakat, UU haji, UU kawin, dan yang kecil-kecil lainnya).

 

Kemajuan IT dan berkembangnya Cyberporn

Pornografi di dunia maya lewat internet (cyberporn) terus berkembang, dapat “merusak” moral anak muda, karena semakin banyak “tempat wisata” yang dapat dikunjungi pecandu situs cabul. Bisnis di bidang ini cukup pesat, terbukti dengan tingginya transaksi akses internet porno.[4]  Dapat dibayangkan berapa merosotnya moral bangsa bila cyberporn terus dibiarkan “mengobok-ngobok” generasi muda. Menurut survei yang pernah dilakukan oleh Forester Research, hampir 80% lalu lintas internet  mengarah ke situs-situs dewasa (porno), ternyata masyarakat internet sangat “menikmati” hadirnya situs-situs porno ini. Maraknya situs-situs porno ini telah “mengganggu” kesusilaan dunia internasional.

Di Amerika, beberapa organisasi non-pemerintah (NGO) mulai melakukan upaya  membendung pemekaran cyberporn, karena pornografi bersinggungan dengan peraturan (hukum) di mana situs porno itu dapat diakses. Keberadaan cyberporn mestinya dapat dibendung dengan cara yang bersifat preventif, dan menghadirkan prakondisi komunitas di internet untuk mematuhi hukum tertulis ataupun tidak tertulis. Cyberporn dapat juga di batasi dengan memberlakukan hukum tertulis (hukum positif). Namun, tidak mudah dilakukan karena perlu keberanian di tengah banyak kendala.

Cyberporn adalah satu kejahatan yang sulit untuk “dipagari”. Pembatasan ini hanya dapat dilakukan melalui dua cara,

1.      mengoptimalkan peraturan hukum dengan melakukan penafsiran atas ketentuan yang ada di dalam KUHP,

2.      mengefektifkan fungsi keluarga dalam memberikan pemahaman dan pendidikan seks agar lebih terarah.

Yang terpenting adalah bagaimana hukum (peraturan) yang ada berjalan optimal. Keberlakuan hukum dalam masyarakat tentunya tidak terlepas dari masyarakat itu sendiri, terutama bagaimana masyarakat memandang cyberporn itu. Sementara, kalangan liberal berpendapat biarkan masyarakat menentukan baik dan buruk, melanggar susila atau tidak, masyarakat yang menetapkan kriteria tersebut.

 

Faktor Ekonomi

Di samping banyak orang bermental bejat yang terlibat pornografi/pornoaksi, tidak sedikit yang menjadi korban dan bias belaka. Kita dapat merasakan, imbalan tak sebanding dengan hilangnya sebuah nama baik, keutuhan keluarga yang jauh dari ridha Allah, telah diderita oleh pengedar VCD porno. Pekerja seks komersial (pelacur) menjawab, umumnya terpaksa karena desakan ekonomi. Tidak aneh, berbagai razia oleh terhadap penyaji maksiat tidak mampu menghabisi bisnis haram ini secara permanen.

Mungkin akan lain halnya bila desakan ekonomi bisa diatasi. Betapapun, orang akan cenderung menggeluti profesi terhormat, aman, dan menenteramkan menuju hari tua. Karena itu, melihat masalah ekonomi yang sangat kompleks membelit negeri ini, tak ada cara lain kecuali menerapkan sistem ekonomi lebih adil dan manusiawi untuk mnjauhkan banyak orang dari “bisnis setan” sehingga tidak banyak orang terperosok memasuki dunia pornografi dan pornoaksi karena alasan kesulitan ekonomi.

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ،  وَ إِنَّ اللهَ تَعَالَى مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا،  فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ،  فَاتَّقُوْا الدُّنْيَا،  وَ اتَّقُوْا النِّسَاءَ ……! (رواه مسلم)

« Dunia ini hijau menyenangkan, dan Allah SWT menempatkan kamu di dalamnya dalam posisi yang berbeda-beda, maka yang akan di nilai adalah bagaimana kamu beramal dan berkarya di dalamnya, untuk itu berhati-hatilah terhadap tipuan dunia, dan hati-hati juga terhadap  rayuan perempuan » (HR. Muslim).

Oleh karena itu, bagi kaum Muslim, yang paling mendasar adalah bagaimana agar seluruh sistem kehidupan pribadi, bermasyarakat, dan bernegara di bangun lebih kokoh pada nilai-nilai agama, bukan pada asas keduniawian semata yang sekular sifatnya. Sistim kehidupan mesti di atur oleh agama, bagi seorang muslim adalah dasar Islam!

 

Batasan Pornografi/Pornoaksi Menurut Islam

Islam memberikan definisi yang jelas tentang pornografi dan pornoaksi.

Pornografi adalah produk grafis (tulisan, gambar, film), baik dalam bentuk majalah, tabloid, VCD, film-film atau acara-acara di TV, situs-situs porno di internet, atau bacaan porno yang mengumbar sekaligus menjual aurat, artinya aurat menjadi titik pusat perhatian.

Pornoaksi adalah sebuah perbuatan memamerkan aurat yang digelar dan ditonton secara langsung; dari mulai aksi yang “biasa-biasa” saja seperti aksi para artis di panggung-panggung hiburan umum hingga yang luar biasa dan atraktif seperti tarian telanjang atau setengah telanjang di tempat-tempat hiburan khusus (diskotek-diskotek, klab-klab malam, dll). Tentu saja, dalam konteks pornografi dan pornoaksi yang mengumbar aurat ini, yang di maksud adalah aurat menurut syariat Islam. Seorang wanita yang memperlihatkan sekadar rambut atau bagian bawah kakinya, misalnya, jelas termasuk orang yang mengumbar aurat. Sebab, aurat wanita dalam pandangan Islam adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan.

Secara fikih, menyaksikan secara langsung aurat seseorang yang bukan haknya (pornoaksi) adalah haram, kecuali untuk tujuan yang dibenarkan syara, pertolongan medis. Ini berlaku juga pada para pembuat pornografi (kamerawan, pengarah gaya, sutradara, dsb.). Sementara itu, sebuah benda dengan muatan pornografi di hukumkan sebagai mubah.

Kemubahan dapat berubah menjadi haram ketika benda (sarana/wasilah) itu dipastikan dapat menjerumuskan pada tindakan keharaman. Kaidah ushul fikih yang mu’tabar menyebutkan, ”Sarana yang menjerumuskan pada tindakan keharaman adalah haram”. Hal ini berlaku terhadap penyebarluasan pornografi pornoaksi yang memiliki dampak serius di masyarakat. Seseorang berhadapan dengan suatu media porno, dipandang belum melakukan aktivitas haram (karena media sebagai benda adalah mubah). Akan tetapi, bila ikut usaha membuat atau menyebarkanluaskan media porno, maka menurut syariat, dia telah melakukan aktivitas yang haram.

Hukum positif yang ada tetap akan berlaku efektif jika penegak hukum berani melakukan “modifikasi” hukum. Perkembangan teknologi tidaklah menjadikan hukum tidak bekerja. Cyberporn hanya ekses dari perkembangan teknologi itu sendiri. Tidak ada yang berubah, kecuali media penyampaiannya. Subtansinya tetaplah sama, pornografi dan haram.

 

Solusi Islam

Islam menghargai kebebasan seseorang untuk berekspresi dalam koridor syariat. Islam mengakui setiap manusia memiliki naluri seksual. Namun diperintah menyalurkan sesuai syariat. Islam sebagai mabda’ (ideologi) memiliki cara-cara yang khas menyelesai masalah yang dihadapi manusia tanpa menelantarkan kebutuhan, dan tidak pula mengabaikan kenyamanan dan hajat manusia banyak dalam masyarakat bermartabat.

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنِ إِيْمَانا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، اَلْمُوَطِؤُّوْنَ أَكْنَافًا، الذِين يَألَّفُوْن و يُؤْلَفُوْنَ  (رواه الطبراني و أبو نعيم)

“Iman seorang mukmin yang sempurna adalah, yang baik akhlaqnya, mau merenangkan  sayap, saling melindungi, dan lemah lembut sesamanya” (HR. Thabraniy dan Abu Nu’aim).

Islam memberikan tuntunan hidup dan aturan bermasyarakat yang akan menjaga agar setiap orang memahami tujuan hidup yang sahih dengan tolok ukur kebahagiaan yang hakiki dunia akhirat. Jika masyarakat mempunyai akhlak yang baik, serta ekonomi yang stabil, akhirnya demand (permintaan) pada bisnis pornografi maupun pornoaksi pun akan merosot tajam. Setiap bisnis selalu berputar pada adanya supply (penawaran) dan demand (permintaan). Maka kedua unsur supply dan demand di dalam bisnis pornografi dan pornoaksi harus dihancurkan. Islam menetapkan agar dalam wilayahnya orang tidak mengumbar aurat, kecuali dalam hal-hal yang dibenarkan syariat, agar terpelihara ketertiban.

Islam juga menetapkan satu perangkat  ekonomi berjalan dengan benar. Ada kewajiban membangun satu kondisi dimana orang leluasa mencari nafkah yang halal, dan terhindar dari bisnis pornografi atau pornoaksi. Pemerintahan menurut ajaran agama Islam, berkewajiban mendidik rakyat untuk berpola sikap dan perilaku Islami. Media massa di arahkan agar tidak  memprovokasi umat dengan stimulasi yang merangsang kebutuhan pornografi dan pornoaksi. Demikian juga keberadaan berbagai sarana hiburan yang selama ini menjadi ajang pertemuan pelaku kemaksiatan, mesti di bersihkan tanpa harus merusak fisiknya. Pemerintah pada seluruh tingkat mengatasi masalah kerusakan moral ini dengan perbaikan pendidikan dan ekonomi, kemudian menghapus para penganjur pornografi dan pornoaksi dengan menanamkan kesadaran hukum, dan kepada setiap yang nekad melanggar hukum, maka negara tak ragu menerapkan sanksi represif. Di dalam Islam, ada hukuman jilid (pukul) dan rajam yang di jatuhkan kepada pezina, bahkan dapat diganti dengan cara-cara yang sesuai serta berdampak kejeraan. Hukuman ta’zir dan mempermalukan dapat diterapkan bagi para pengelola dan pendukung bisnis ini.

Definisi zina dalam Islam sangat jelas, yakni setiap hubungan dan aksi seksual yang di lakukan oleh pihak-pihak yang tidak di ikat oleh pernikahan.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Israk, 17:32)

 

Ini jelas berbeda dengan definisi KUHP yang hanya membatasi perzinaan sebatas pada orang-orang yang berstatus kawin dan pasangannya yang keberatan atas selingkuhnya. Definisi KUHP ini jelas tidak akan mampu melibas aktor-aktor pornografi dan pornoaksi yang statusnya tidak kawin atau justru terjadi atas suruhan dan ‘doa-restu’ pasangannya.

 

الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mu’min.” (QS. An Nuur, 24 : 3)

 

KESIMPULAN

Walhasil, memberantas pornografi/pornoaksi tak bisa sepotong-sepotong, namun harus komprehensif, harus di mulai dari akar fondasinya, dengan melibas sistem hukum sekular dan menggantinya dengan sistem hukum agamis, karena  Allah Swt. telah berfirman:

 

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliah yang kalian kehendaki? Siapakah yang lebih baik hukumnya selain Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS al-Maidah,  5 : 50).

 


[1]  Laporan Kantor Berita Associated Press (AP), diberitakan pers tahun lalu(Republika, 17/07/2003).

[2] Berdasarkan laporan terakhir yang dikeluarkan oleh American Demographics Magazine menunjukkan adanya peningkatan keberadaan situs porno di internet. Data diperoleh dari sextracker.com. Jumlah situs yang menyediakan pornografi meningkat dari 22.100 pada 1997 menjadi 280.300 pada 2000 atau melonjak 10 kali lebih dalam kurun tiga tahun!.

 

[3] Dosen Institut Agama Islam (IAIN) Sumatera Utara, Prof Dr Syahrin Harahap, mengatakan, saat ini kegiatan pornografi di Tanah Air sudah sangat meresahkan warga masyarakat. “Pemerintah dan DPR agar secepatnya untuk mengesahkan UU Anti Pornografi”.

[4] Pada tahun 1998 saja, di Amerika transaksi ini  hampir bernilai AS$1,4 miliar.

Categories: Adat Basandi Syarak, Amar Makruf Nahi Munkar, Buya Masoed Abidin, Education, Globalisasi, Komentar, Masyarakat Adat, Pendidikan, Strategi Pendidikan Madani, Surau | Leave a comment

Nilai-Nilai Agama Islam dalam Muatan Ajar di Sekolah-Sekolah, melihat seabad perjalanan hari Kebangkitan Nasional.


NILAI AGAMA ISLAM DAN MUATAN LOKAL
DI SUMATERA BARAT

Oleh; H. MAS’OED ABIDIN

Visi Misi Pendidikan Indonesia ;
Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan Suatu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. (UUD-45)

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk mempunyai kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”, dan
“Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab, serta
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”.
(UU No. 20 th 2003, Sistem Pendidikan Nasional)

MUKADDIMAH

Nilai-nilai agama Islam mendorong ke penguasaan ilmu pengetahuan, seperti adanya anjuran, “jadilah kamu berilmu yang mengajarkan ilmunya (‘aaliman), atau belajar (muta’alliman), atau menjadi pendengar (mustami’an), dan jangan menjadi kelompok keempat (rabi’an). Anjuran ini mengingatkan pentingnya menjaga proses dan kegiatan belajar mengajar. Pendidikan dan menuntut ilmu adalah satu kewajiban asasi anak manusia.

Dengan ilmu, seseorang akan mengabdikan kehidupannya dengan ikhlas, cerdas, pintar, dan berakhlak, serta berkarya baik (shaleh).
Dengan ilmu dapat dijelmakan hasanah pada diri, kerluarga, dan di tengah umat di kelilingnya.
Pengamalan agama di bidang pendidikan, bertujuan membentuk sumber daya manusia pintar, cekatan, berilmu, mampu, kreatif dan produktif, kait berkait dengan peningkatan kemampuan masyarakat dari sisi ekonomi, mendorong partisipasi di dalam menjelmakan kebaikan untuk diri, keluarga, kemaslahatan dan kemajuan generasi bangsa pada umumnya.

Tujuan ini dapat diraih dengan program pendidikan dan proses pembelajaran terpadu, terintegrasi antara konsep dan aplikasi, disertai peningkatan kesadaran seluruh masyarakat.

Pekerjaan ini perlu semangat (spirit) dan kearifan (political will) di dalam penguatan jaringan pengertian (networking) dan tatanan pendidikan di antara individu, kelompok keluarga, dan lembaga pendidikan.

Bimbingan agama menyebutkan, “menuntut ilmu adalah wajib, bagi setiap lelaki dan perempuan muslim” (Al-Hadist).

Dan pesan Rasul SAW juga mengingatkan, “siapa yang inginkan mendapat keberhasilan di dunia, hanya didapat dengan ilmu, dan siapa yang inginkan akhirat juga dengan ilmu, dan siapa yang inginkan keduanya juga dengan ilmu” (Al-Hadist).

MENGHADAPI FENOMENA GLOBAL

Di tengah kehidupan kini, terasa ada satu fenomena kecintaan budaya luar (asing) menghimpit.

Pengaruhnya ke perubahan perilaku masyarakat, antara lain pengagungan materi (materialistic) secara berlebihan, amat kentara.
Kecenderungan memisah kehidupan dari supremasi agama (sekularistik) makin kuat.
Pemujaan kesenangan indera dan kenikmatan badani (hedonistik), susah dihindari. Hakikinya, perilaku umat mulai menjauh dari nilai-nilai budaya luhur dan nilai-nilai agama.

Sungguhpun masyarakat Sumatera Barat umumnya mempunyai kaedah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, namun terasa mulai terabaikan. Akibatnya terasakan ke cara pemenuhan kebutuhan masyarakat mulai payah, beriring dengan malas menambah ilmu, dan enggan berprestasi.

Hal inilah pada akhirnya mudah mengundang suburnya kriminalitas, sadisme, dan krisis secara meluas.

Pergeseran budaya dengan mengabaikan nilai-nilai agama membuat penyakit sosial jadi kronis, gemar berkorupsi, lemah aqidah, tipis tauhid, lalai ibadah dan berperilaku tidak Islami.

Paradigma giat merantau dan badagang sambil menuntut ilmu , bergeser ke menumpuk materi dengan mengabaikan ilmu serta lalai menguasai keterampilan. Ketidakberdayaan generasi tampil dari ketertinggalan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta lemah minat menyerap informasi dan komunikasi.
Ketertingalan ini pula yang menjadi penghalang pencapaian keberhasilan di segala bidang.
Hilang network, menjadi titik lemah penilaian terhadap generasi bangsa.

Tantangan ini mesti diatasi dengan kejelian menangkap peluang, memadukan nilai-nilai agama Islam ke penguasaan ilmu pengetahuan.
Nilai-nilai agama memacu peningkatan kualitas diri.
Penerapan nilai-nilai Islam diujudkan melalui proses pembelajaran terpadu (integrated), hingga ke tingkat perguruan tinggi.
Penekanan kepada uswah (contoh tauladan), akhlak agama (etika religi), ibadah (syari’at), serta nilai luhur adat istiadat Minangkabau, menjadi kekuatan dari kearifan lokal.

Tidak boleh ada kelalaian dan kemalasan di tengah mobilitas serba cepat, dan modern.
Persaingan tajam dan keras, tidak dapat dielakkan dari laju informasi dan kencangnya komunikasi tanpa batas.

Kemampuan bersaing dalam tantangan sosial budaya, ekonomi, politik, di era globalisasi mengait ke semua aspek kehidupan. Imbasannya akan teratas dengan menguasai iptek, ICT dan akhlak yang teguh.

Integrasi akhlak yang kuat dari pendalaman ajaran agama (tafaqquh fid-diin) sejalan dengan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Islam yang universal (tafaqquh fin-naas) dalam masalah sosial (umatisasi), tampak di dalam kebersamaan sebagai buah dari taqwa, dan berperilaku responsif serta kritis menatap perkisaran zaman. Pendidikan dengan materi pembelajaran yang padu antara nilai-nilai etika religi (akhlak mulia) dengan konsep ilmu pengetahuan akan memberi kekuatan kepada generasi terdidik untuk dengan mudah menggeluti kehidupan duniawi bertaraf perbedaan, memiliki kaya dimensi dalam pergaulan rahmatan lil ‘alamin di seluruh nagari dan di tengah bangsa-bangsa.

Ketahanan umat, bangsa dan daerah, ada pada kekuatan ruhaniyah dengan iman dan siasah kebudayaan.
Intinya tauhid.
Pengamalan ajaran syarak (agama Islam), implementasinya ada pada akhlak. Aplikasinya mampu menata kehidupan berperilaku dengan adat istiadat dalam lingkaran nagari.

Generasi Sumatera Barat secara menyeluruh akan menjadi baik, jika mampu mengembalikan nilai-nilai etika adat (ABS-SBK) dan nilai-nilai agama Islam.
Dalam hubungan bermasyarakat, dapat dilakukan dengan “memulai dari diri sendiri, mencontohkannya kepada masyarakat lain”, (Al Hadist).
Inilah cara pendidikan yang tepat.

Bimbingan Allah SWT dalam Alquran menjelaskan, “ bila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan dari langit dan di bumi (QS.7,al-A’raf:96).

Penguatan dan penyebaran informasi dan komunikasi, dimulai dari pendidikan dan pembelajaran yang terpadu.

Beberapa contoh Nilai-Nilai Agama dalam Ilmu Pengetahuan.

1. Nilai-nilai agama Islam mengarahkan perhatian kepada alam sekeliling yang merupakan sumber kehidupan bagi manusia.
Diarahkan pandangan dan penelitian kepada alam tumbuh-tumbuh yang indah, berbagai warna, menghasilkan buah bermacam rasa.
” Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.”

2. Nilai agama Islam juga mengarahkan perhatian memahami alam hewan dan ternak, yang serba guna, dapat dijadikan kendaraan pengangkutan barang, serta dagingnya sumber gizi, dapat dimakan, kulitnya dipakai sebagai sandang. Dengan pembelajaran itu, manusia dapat menjaga, memeliharanya sebagai anugerah Allah.
“Dia telah menciptakan binatang ternak untukmu, padanya ada bulu (kulit) yang menghangatkan, dan berbagai-bagai manfa’at, dan sebagiannya kamu makan” (QS.16, An Nahl : 5).

3. Nilai-nilai agama Islam juga mengarahkan ke perbendaharaan bumi yang berisi logam yang mempunyai kekuatan besar dan banyak manfaat.
Dengan demikian lahir beragam ilmu bertalian dengan pengolahan, pemeliharaan, eksplorasi hasil tambang, mineral, ataupun penjagaan sumber-sumber hayati baik flora dan fauna.
“Dan Dia telah menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu dimudahkan untukmu dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi kaum yang memahaminya.
Dan Dia menundukkan pula apa-apa yang Dia ciptakan untukmu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mau mengambil pelajaran”
(QS.16, An Nahl : 12-13).

4. Diarahkan pula perhatian ke lautan samudera yang terhampar luas, berisikan ikan dan berdaging segar, dan perhiasan yang dapat dipakai, permukaannya dapat diharungi dengan kapal-kapal; supaya kamu dapat mencari karunia-Nya (karunia Allah).
Demikian itu, tiada lain supaya manusia pandai bersyukur, pandai menjaga dan memelihara, di samping memanfaatkan untuk kemashlahatan umat manusia jua.

5. Demikian pula diarahkan perhatian ke bintang di langit, yang dapat digunakan sebagai petunjuk-petunjuk jalan, penentuan arah bagi musafir”.

6. Dibangkitkan kesadaran kepada ruang dan waktu (space and time consciousness) kepada peredaran bumi, bulan dan matahari. Pertukaran malam dan siang dan pertukaran musim, yang memudahkan perhitungan bulan dan tahun, antara lain juga saat untuk menunaikan rukun Islam yang kelima kepada kepentingannya waktu, yang kita pasti merugi bila tidak diisi dengan amal perbuatan.

7. Di jadikan malam menyelimuti kamu (untuk beristirahat), dan kami jadikan siang untuk mencari nafkah hidup. Malam itu disebut sebagai pakaian, karena malam itu gelap menutupi jagat sebagai pakaian menutupi tubuh manusia.
Artinya mengajarkan manusia tidak boleh lalai dalam memanfaatkan waktu dengan baik.

8. Ditanamkan kesadaran pembelajaran betapa luasnya bumi Allah. Dianjurkan supaya jangan tetap tinggal terkurung dalam lingkungan yang kecil, dan sempit, terjadilah emigrasi, transmigrasi, mobilitas vertikal dan horizontal, transportasi dan komunikasi. .

9. Allah SWT menciptakan bumi jadi mudah untuk digunakan. Beredarlah di atas permukaan bumi, makanlah rezeki dariNya dan kepadaNya tempat kembali.

10. Kalau dihitung segala ni’mat Allah, tidak mampu manusia menghitungnya.

Nilai-nilai agama itu bermuatan pembelajaran karakter agar manusia terdidik menjadi insan yang pandai mengendalikan diri, tidak boros, dan tidak melewati batas, dan tidak berlebihan“.

Nilai-nilai agama Islam bermuatan pembelajaran bahwa alam di tengah mana manusia berada, tidak diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan sia-sia. Di dalamnya terkandung faedah kekuatan, dan khasiat yang diperlukan manusia mempertinggi dan memperkembang mutu hidup jasmani dan rohaninya.

Manusia diharuskan membanting tulang dan memeras otak untuk mengambil sebanyak-banyak faedah alam sekelilingnya, menikmatinya, sambil mensyukurinya, beribadah kepada Ilahi.

Manusia harus menjaga diri dari perbuatan yang melanggar batas-batas kepatutan dan kepantasan.

Manusia mesti menjaga diri agar tidak dibawa hanyut materi dan hawa nafsu yang merusak.
Sikap itu lahir dari proses pembelajaran dari materi ajar yang berisi muatan nilai-nilai agama Islam.

Manusia dikenalkan dengan bentuk persembahan manusia kepada Maha Pencipta, yang menghendaki keseimbangan antara kemajuan di bidang rohani dan jasmani.

Hasil nyata dorongan tersebut tergantung dalam atau dangkalnya sikap hidup yang dibentuk oleh pendidikan sesuai materi ajar yang digunakan.

Materi bermuatan nilai-nilai agama Islam akan berurat berakar di jiwa umat, yang pada gilirannya mendorong pemupukan tingkat kecerdasan yang dicapai dan keadaan umum di mana mereka berada.

Sebagai masyarakat adat dengan pegangan adat bersendi syariat dan syariat bersendikan Kitabullah, maka kaedah adat memberi pelajaran-pelajaran antara lain:

1. Bekerja:
Ka lauik riak mahampeh
Ka karang rancam ma-aruih
Ka pantai ombak mamacah
Jiko mangauik kameh-kameh
Jiko mencancang, putuih – putuih
Lah salasai mangko-nyo sudah

Bekerja sepenuh hati, dengan mengerahkan semua potensi yang ada.
Bila mengerjakan sesuatu tidak lalai ataupun enggan.
Tidak berhenti sebelum sampai Tidak berakhir sebelum benar-benar sudah.

2. Mempedulikan tata cara atau prosedur:

Senteng ba-bilai,
Singkek ba-uleh
Ba-tuka ba-anjak
Barubah ba-sapo

Anggang jo kekek cari makan,
Tabang ka pantai kaduo nyo,
Panjang jo singkek pa uleh kan,
mako nyo sampai nan di cito,

Adat mati janguak man janguak,
Adat isi bari mam-bari,
Adat tidak salang ma-nyalang,
Karajo baiak ba-imbau-an,
Karajo buruak bahambau-an,

Panggiriak pisau si rauik,
Patunggkek batang lintabung,
Salodang ambiak ka nyiru.
Setitiak jadikan lauik,
Sakapa (sekepal) jadikan gunuang,
Alam takambang jadi guru.

Belajar kepada alam, mengambil pelajaran dari perjalanan hidup yang tengah diharungi. Seiring bidal dengan pantun;

Biduak dikayuah manantang ombak,
Laia di kambang manantang angin,
Nangkodoh ingek kamudi,
Padoman nan usah dilupokan.

Pawang biduak nan rang Tiku,
Pandai mandayuang manalungkuik,
Basilang kayu dalam tungku,
Disinan api mangko hiduik.

Musyawarah adalah inti ajaran Islam.
Tidak boleh membiarkan umat dan generasi meninggalkan prinsip musyawarah. Sikap hati-hati sangat dituntut dipunyai oleh setiap orang sesuai nilai-nilai Islam. Kehati-hatian dalam bertindak pertanda kejernihan berfikir, dan langkah awal meraih keberhasilan dalam segala hal.

Jiko mangaji dari alif,
Jiko babilang dari aso,
Jiko naiak dari janjang,
Jiko turun dari tanggo.

Pemahaman adat bersendi syarak dan syari’at bersendi Kitabullah mesti ditanamkan.
Umat Islam mesti hidup dengan kecerdasan (rasyid) berpegang kuat ke ajaran Alquran dan sunnah Rasul Allah.
Sadar iman dibuktikan dengan benci kepada dosa dan maksiyat.
Umat akan menjadi lebih kuat, dengan kecerdasan dan iman yang kokoh.

Pendidikan harus dilakukan sungguh-sungguh sebagai anugerah Allah.
Karakter dan moralitas hidup berbangsa akan tampak dalam cinta persaudaraan dan kuat persatuannya.
Sikap jiwa atau karakter umat mesti dibangun untuk menempuh kehidupan yang dikaitkan dengan arif dalam bertindak dan memilih.

Hendak kaya, badikit-dikit (hemat)
Hendak tuah, bertabur urai (penyantun)
Hendak mulia, tepati janji (amanah)
Hendak lurus, rentangkan tali (mematuhi peraturan)
Hendak beroleh, kuatlah mancari (etos kerja yang tinggi)
Hendak nama, tinggalkan jasa (berbudi daya)
Hendak pandai, rajin belajar (rajin dan berinovasi)
Karena sekata, makanya ada (rukun dan partisipatif)
Karena sekutu makanya maju (memelihara mitra usaha)
Karena emas semua kemas (perencanaan masa depan)
Karena padi makanya manjadi (pelihara sumber ekonomi)

Nilai-nilai Islam mengajarkan bahwa bumi Allah yang terbentang luas ini, menuntut sikap bersungguh-sungguh dalam mengolah dan mengelolanya, dengan rajin dan pintar.

Tantangan berat di manapun akan mampu diatasi oleh generasi terdidik dengan muatan nilai-nilai agama dalam proses pembelajarannya.
Kemampuan itu tumbuh karena mencari redha Allah.
Dengannya, pendapatan meningkat, dan kesejahteraan terbuka luas. Peluang usaha dan mobilitas terjaga dengan kebersamaan.

Nan lorong tanami tabu,
Nan tunggang tanami bambu,
Nan gurun buek kaparak
Nan bancah jadikan sawah,
Nan munggu pandan pakuburan,
Nan gauang katabek ikan,
Nan padang kubangan kabau,
Nan rawang ranangan itiak.

Pemanfaatan alam yang terbatas di ranah ini, menjadi lebih bermanfaat bila mampu menata dengan baik serta menempatkan sesuatu menurut keadaan dan musim, serta tidak merusak alam lingkungan.

Alah bakarih samporono,
Bingkisan rajo Majopahik,
Tuah basabab bakarano,
Pandai batenggang di nan rumik.
Sudah berkeris sempurna, bingklisan raja Majapahit, Tuah bersebab berkarena, pandai bertenggang pada yang runmit.
Latiak-latiak tabang ka Pinang
Hinggok di Pinang duo-duo,
Satitiak aie dalam piriang,
Sinan bamain ikan rayo.

“Letih-letik (sejenis burung pipit) terbang ke Pinang, hinggap di Pinang dua-dua, Setitik air dalam pirin, di sana bermain ikan raya (sejenis ikan nila)”

3. Berorientasi kepada kemakmuran

Rumah gadang gajah maharam,
Lumbuang baririk di halaman,
Rangkiang tujuah sajaja,
Sabuah si bayau-bayau,
Panenggang anak dagang lalu,
Sabuah si Tinjau Lauik,
Birawati lumbuang nan banyak,
Makanan anak kamanakan.

4. Bersikap hati-hati dan penuh perhitungan:

Ingek sabalun kanai,
Kulimek balun abih,
Ingek-ingek nan ka-pai
Agak-agak nan ka-tingga.

Setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pendidikan membangun umat lahir dan batin material dan spiritual, pasti akan menemui di dalam nilai-nilai Islam itu satu iklim (mental climate) yang subur.

Intinya, diperlukan orang-orang yang ahli di bidangnya untuk menatap setiap perubahan yang berlaku.

Mengabaikan nilai-nilai agama Islam ini, di zaman modernisasi sekarang ini berarti satu kerugian. Berarti mengabaikan satu partner “yang amat berguna” dalam pembangunan masyarakat dan negara.

Membangun kesejahteraan bertitik-tolak pada pembinaan unsur manusianya. Masalah perilaku umat mesti dibimbing oleh ajaran (syari’at) agama yang haq. Sesuai dengan syarak mengata, maka adat atau perilaku memakaikan.

Tasindorong jajak manurun,
tatukiak jajak mandaki,
adaik jo syarak kok tasusun,
bumi sanang padi manjadi.

Apabila adat dan syarak tersusun dengan baik, masyarakat akan tenteram (bumi senang, padi menjadi).
Kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi aman dan damai.
Perekonomian masyarakat akan berkembang.

HILANGNYA AKHLAK MENJADIKAN SDM LEMAH
Perilaku individu dan masyarakat, selalu menjadi ukuran tingkatan moral dan akhlak.
Hilang kendali menjadikan ketahanan bangsa kemah.
Hilangnya panutan pengawal budaya dan pupusnya wibawa keilmuan mengamalkan nilai-nilai agama Islam, menjadikan daya saing anak nagari menjadi lemah.

Lemahnya tanggung jawab masyarakat, berdampak kepada meluasnya tindak kejahatan.
Hilang keseimbangan, enggan berusaha telah melebarkan frustrasi sosial dalam menghadapi berbagai kemelut.
Krisis nilai karena bergeser akhlak, menjadikan tanggung jawab moral mengarah ke tidak acuh (permisiveness).
Perilaku maksiat, aniaya dan durjana, payah membendung.
Pergaulan masyarakat mengalami gesekan-gesekan.

Sikap penyayang dan adil, sesungguhnya yang jadi pengikat hubungan harmonis dengan lingkungan, ulayat, dan ekosistim lebih sempurna.

Sesuatu akan selalu indah selama benar.
Budaya berakhlak mulia adalah wahana kebangkitan bangsa.
Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya. Memperkaya warisan budaya dengan aqidah tauhid, istiqamah pada syari’at agama Islam, akan menularkan ilmu pengetahuan yang segar, dengan tradisi luhur.

MEMBENTUK SUMBER DAYA MANUSIA BERKUALITAS
Kita wajib membentuk sumber daya umat yang memiliki nilai asas berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas.

Bila pendidikan telah menjadi modus operandus membentuk SDM, maka kurikulum ilmu terpadu dan holistik, perlu disejalankan dengan metodologis madani (tamaddun) yang berprestasi di Sumatera Barat.

Kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) berasas iman dan taqwa akan membuat ketahanan umat.
Hubungan ruhaniyah ini lebih lama bertahan dari hanya hubungan structural. Domein ruhiyah perlu dibangun sungguh-sungguh.

SIMPULAN MENGUATKAN LEMBAGA PENDIDIKAN
Tujuan pendidikan secara sederhana adalah membina anak didik agar memiliki pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang baik sehingga sanggup menghadapi tantangan hidupnya di masa yang akan datang dengan kecerdasan yang dimilikinya.

Pada saat ini lembaga pendidikan kita belum dapat menghasilkan apa yang diharapkan karena proses pendidikan belum berjalan dengan benar. Di antaranya ;

• Pendidikan terlalu akademis, kurang menghubungkannya dengan kenyataan dalam kehidupan.

• Pendidikan masih saja menekankan pada jumlah informasi yang dapat dihafal, bukan bagaimana menggunakan informasi untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

• Pendidikan kurang menekankan pada berfikir kritis dan kreatif.

• Pendidikan kurang memberi tekanan pada pembentukan nilai dan sikap yang mencerminkan agama dan budaya serta etos kerja yang baik.
• Orientasi pendidikan pada lulus ujian dan ijazah, bukan pada kemampuan nyata yang dimiliki.

Kepastian kebijakan pemerintah daerah, dengan satu political action yang mendorong pengajaran Nilai-Nilai Agama Islam melalui jalur pendidikan formal dan non-formal.
Political will ini sangat menentukan dalam membentuk generasi masa datang yang kuat.

Beberapa langkah nyata dapat ditempuh ;
a. Memperbaiki proses belajar mengajar sehingga tekanan tidak lagi hanya pada penguasaan jumlah informasi, tetapi bagaimana mencari dan mengolah informasi secara kritis dan kreatif, pembentukan kepribadian dan sikap yang baik.

b. Sekolah perlu memiliki perpustakaan yang menyediakan sumber belajar yang lengkap untuk memperluas wawasan siswa dan tidak mencukupkan hanya pada buku teks.

c. Keberhasilan sekolah di ukur dari kemampuan siswanya memenuhi standar

d. Dorong sekolah untuk bersaing secara sehat dengan mengutamakan mutu.

e. Perlu pembudayaan nilai-nilai budaya Minangkabau yang berakar ke Islam dalam keseharian di sekolah oleh seluruh warga tanpa kecuali.

Pemerintah daerah perlu mengontrol pertumbuhan sekolah swasta melalui penetapan standar yang ketat.

Sosialisasi pengetatan standar mutu sekolah-sekolah secara terus menerus, mesti dilakukan secara konsisten.

Mengembangkan keteladanan (uswah hasanah) dengan sabar, benar, dan memupuk rasa kasih sayang melalui pengamalan warisan spiritual religi.

Menguatkan solidaritas beralaskan iman dan adat istiadat luhur.
“Nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”.

Pendidikan generasi bangsa harus mampu melakukan strukturisasi ruhaniyah dalam upaya mencetak generasi yang bertanggung jawab, dengan mengajarkan nilai-nilai agama Islam.

Strategi pendidikan maju, dan berperadaban, menjadi satu nikmat yang wajib dipelihara, agar selalu bertambah.

KHULASAHNYA ;

Nilai-nilai Ajaran Tauhid senantiasa menguatkan hati, dengan kekuatan iman dan taqwa, bersikap madani dan mandiri, serta berperilaku akhlak mulia dengan meraih prestasi.
Modal keyakinan tauhid memacu generasi terpelajar untuk bangkit dengan sikap positif.

a. Menjadi sumber kekuatan dalam proses pembangunan
b. Menggerakkan integrasi aktif,
c. Menjadi subjek dan penggerak pembangunan daerah dan bangsanya.

Sebagai penutup, mari kita lihat perubahan di tengah arus globalisasi hanya sebagai satu ujian, yang mendorong kita untuk selalu dapat berbuat lebih baik.

Ketika bangsa sedang meniti cobaan demi cobaan yang melanda, mari tanamkan keyakinan kuat, bahwa di balik itu, pasti ada tangan kekuasaan Allah SWT, yang sedang merancang sesuatu yang lebih baik untuk kita, inna ma’al ‘ushry yusraa.

Sebagai bangsa kita mesti sadar bahwa apapun yang terjadi di alam ini adalah atas kehendak dan izin Allah Yang Maha Kuasa.

Sikap terbaik dalam menghadapi ujian demi ujian, adalah sabar pada terpaan awal kejadian dengan ridha.

Tingkatkan kekuatan iman dan taqwa.
Amalkan akhlak mulia sesuai adat istiadat bersendi syarak.
Dijaga ibadah dengan teratur.
Kuatkan diri dengan berdoa.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الرِّضَى بَعْدَ القَضَى
“Duhai Allah, hamba mohon kepada-Mu sikap ridha dalam menerima ketentuan-Mu”

Semoga Allah memberi kekuatan memelihara amanah bangsa ini dan senantiasa mendapatkan redha-Nya. A m i n.

Padang, di se abad Hari Kebangkitan Nasional, dan Pendidikan Nasional, Mei 2008.

Categories: Adat Basandi Syarak, Buya Masoed Abidin, Education, Komentar, Masyarakat Adat, Minangkabau, PAUD, Pendidikan, Politics, Strategi Pendidikan Madani, Surau | 3 Comments

Strategi Pembangunan Pendidikan yang Berkualitas dan Madani

STRATEGI PEMBANGUNAN PENDIDIKAN YANG BERKUALITAS DAN MADANI
DI SUMATERA BARAT

Oleh,
H. MAS’OED ABIDIN

Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau
Wakil Ketua Dewan Penasehat MUI Sumbar
Ketua Umum Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM)
Provinsi Sumatera Barat

Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem
pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan
kepada Tuhan yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. (UUD-45)
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk mempunyai kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”, dan
“Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab,
serta berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa”.
(UU No. 20 th 2003, Sistem Pendidikan Nasional)

MUKADDIMAH

Kemulian pengabdian seorang pendidik terpancar dari keikhlasan membentuk anak manusia menjadi pintar, berilmu, berakhlak dan pengamal ilmu yang menjelmakan kebaikan pada diri, kerluarga, dan di tengah umat kelilingnya.

Namun sekarang, kita menatap fenomena mencemaskan. Penetrasi bahkan infiltrasi budaya asing ternyata berkembang pesat. Pengaruhnya tampak pada perilaku pengagungan materia secara berlebihan (materialistik) dan kecenderungan memisah kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik). Kemudian berkembang pula pemujaan kesenangan indera dengan mengejar kenikmatan badani (hedonistik).

Hakekatnya, telah terjadi penyimpangan perilaku yang sangat jauh dari budaya luhur – adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah-. Kesudahannya, rela atau tidak, pasti mengundang kriminalitas, sadisme, dan krisis secara meluas.

Pergeseran paradigma materialistic acapkali menjadikan para pendidik (murabbi) tidak berdaya menampilkan model keteladanan. Ketidakberdayaan itu, menjadi penghalang pencapaian hasil membentuk watak anak nagari. Sekaligus, menjadi titik lemah penilaian terhadap murabbi bersangkutan.

Tantangan berat ini hanya mungkin dihadapi dengan menampilkan keterpaduan dalam proses pembelajaran dan pengulangan contoh baik (uswah) terus menerus.

Jati diri bangsa terletak pada peran maksimal ibu bapa – yang menjadi kekuatan inti masyarakat – dalam rumah tangga.

Pekerjaan ini memerlukan ketaletenan dengan semangat dan cita-cita yang besar ditopang kearifan.

Kedalaman pengertian serta pengalaman di dalam membaca situasi dan upaya menggerakkan masyarakat sekitar yang mendukung proses pendidikan.

Usaha berkesinambungan mesti sejalan dengan,
a. pengokohan lembaga keluarga (extended family),
b. pemeranan peran serta masyarakat secara pro aktif,
c. menjaga kelestarian adat budaya (hidup beradat).

Setiap generasi yang dilahirkan dalam satu rumpun bangsa (daerah) wajib tumbuh menjadi,
a. Kekuatan yang peduli dan pro-aktif dalam menopang
pembangunan bangsanya.
b. Mempunyai tujuan yang jelas, menciptakan kesejahteraan
yang adil merata melalui program-program pembangunan.
c. Sadar manfaat pembangunan merata dengan,
1. prinsip-prinsip jelas,
2. equiti yang berkesinambungan,
3. partisipasi tumbuh dari bawah dan datang dari atas,
4. setiap individu di dorong maju
5. merasa aman yang menjamin kesejahteraan.

MENGHADAPI ARUS KESEJAGATAN
Kesejagatan (global) yang deras secara dinamik perlu dihadapi dengan penyesuaian kadar apa yang di kehendaki.

Artinya, arus kesejagatan tidak boleh mencabut generasi dari akar budaya bangsanya.

Sebaliknya, arus kesejagatan itu mesti dirancang dapat ditolak mana yang tidak sesuai.

Abad keduapuluhsatu (alaf baru) ini ditandai mobilitas serba cepat dan modern. Persaingan keras dan kompetitif seiring dengan laju informasi dan komunikasi serba efektif tanpa batas.

Bahkan, tidak jarang membawa pula limbah budaya ke barat-baratan, menjadi tantangan yang tidak mudah dicegah.

Menjadi pertanyaan, apakah siap mengha¬dapi perubahan cepat penuh tantangan, tanpa kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas yang berani melawan terjangan globalisasi itu?”

Semua elemen masyarakat berkewajiban menyiapkan generasi yang mampu bersaing di era tantangan sosial budaya, ekonomi, politik, menyangkut semua aspek kehidupan manusia.

Globalisasi membawa perubahan perilaku, terutama terhadap generasi muda.

Jika tidak mempunyai kekuatan ilmu, akidah dan budaya luhur, akan terancam menjadi generasi buih, sewaktu-waktu terhempas di karang dzurriyatan dhi’afan, menjadi “X-G” atau the loses generation.

Membiarkan diri terbawa arus deras perubahan sejagat tanpa memperhitungkan jati diri akhirnya menyisakan malapetaka.

Pemahaman ini, perlu ditanamkan di kala melangkah ke alaf baru.

Kelemahan mendasar terdapat pada melemahnya jati diri.
Kelemahan ini dapat terjadi karena kurangnya komitmen kepada nilai luhur agama (syarak) yang menjadi anutan bangsa.

Lemahnya jati diri akan dipertajam oleh tindakan isolasi diri lantaran kurang kemampuan dalam penguasaan “bahasa dunia” (politik, ekonomi, sosial, budaya).

Ujungnya, generasi bangsa menjadi terjajah di negerinya sendiri. Mau tidak mau, tertutup peluang berperan serta dalam kesejagatan. Kurang percaya diri lebih banyak disebabkan oleh,
a. Lemah penguasaan teknologi dasar yang menopang
perekonomian bangsa,
b. Lemah minat menuntut ilmu.

HILANGNYA AKHLAK MENJADIKAN SDM LEMAH

Penyimpangan perilaku menjadi ukuran moral dan akhlak.
Hilang kendali menjadi salah satu penyebab lemahnya ketahanan bangsa.

Yang merasakan akibatnya, terutama tentulah generasi muda, lantaran rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan.

Hapusnya panutan dan impotensi tokoh pemangku adat dalam mengawal budaya syarak, dan pupusnya wibawa ulama menjaga syariat agama, memperlemah daya saing anak nagari.

Lemahnya tanggung jawab masyarakat, akan berdampak dengan terbiarkan kejahatan meruyak secara meluas.

Interaksi nilai budaya asing yang bergerak kencang tanpa kendali, akan melumpuhkan kekuatan budaya luhur anak nagari.
Bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi bisnis.
Akibatnya, profesi guru (murabbi) mulai dilecehkan.

Hilang keseimbangan telah mendatangkan frustrasi sosial yang parah.
Tatanan bermasyarakat tampil dengan berbagai kemelut.
Krisis nilai akan menggeser akhlak dan tanggungjawab moral sosial
ke arah tidak acuh (permisiveness).
Dan bahkan, terkesan toleran terhadap perlakuan maksiat, aniaya dan durjana.

Konsep kehidupan juga mengalami krisis dengan pergeseran pandang (view) terhadap ukuran nilai.
Sehingga, tampil pula krisis kridebilitas dalam bentuk “erosi kepercayaan”. Peran orang tua, guru dan pengajar di mimbar kehidupan mengalami kegoncangan wibawa.

Giliran berikutnya, lembaga-lembaga masyarakat berhadapan dengan krisis tanggung jawab kultural yang terkekang sistim dan membelenggu dinamika.

Orientasi kepentingan elitis sering tidak populis dan tidak demokratis.
Dinamika perilaku mempertahankan prestasi menjadi satu keniscayaan beralih ke orientasi prestise dan keijazahan.
Tampillah krisis solidaritas.

Kesenjangan sosial, telah mempersempit kesempatan mendapatkan pendidikan dan pekerjaan secara merata.
Idealisme pada generasi muda tentang masa datang mereka, mulai kabur.

Perjalanan budaya (adat) terkesan mengabaikan nilai agama (syarak).

Pengabaian ini pula yang mendatangkan penyakit sosial yang kronis,
di antaranya kegemaran berkorupsi.

Adalah suatu keniscayaan belaka, bahwa masa depan sangat banyak ditentukan oleh kekuatan budaya yang dominan.

Sisi lain dari era kesejagatan adalah perlombaan mengejar kemajuan seperti pertumbuhan ekonomi dan komunikasi untuk menciptakan kemakmuran.

Lemahnya syarak (aqidah tauhid) di tengah mesyarakat serta merta mencerminkan perilaku tidak Islami yang senang melalaikan ibadah.

GENERASI PENYUMBANG

Membentuk generasi penyumbang dalam bidang pemikiran (aqliyah), ataupun pembaharuan (inovator) harus menjadi sasaran perioritas.

Keberhasilan akan selalu ditentukan oleh adanya keunggulan pada institusi di bidang pendidikan.

Pendidikan ditujukan untuk membentuk generasi yang menguasai pengetahuan dengan kemampuan dan pemahaman mengidentifikasi masalah yang dihadapi.

Seterusnya, mengarah kepada kaderisasi diiringi oleh penswadayaan kesempatan-kesempatan yang ada.

Generasi baru yang mampu mencipta akan menjadi syarat utama keunggulan.

Kekuatan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada.

Generasi muda harus menjadi aktor utama dalam pentas kesejagatan.
Mereka mesti dibina dengan budaya kuat yang berintikan “nilai-nilai dinamik” dan relevan dalam kemajuan di zaman itu.

Generasi masa depan yang diminati, lahir dengan budaya luhur (tamaddun) berlandaskan tauhidik, kreatif dan dinamik.

Maka, strategi pendidikan mesti mempunyai utilitarian ilmu berasas epistemologi Islam yang jelas.

Sasarannya, untuk membentuk generasi yang tumbuh dengan tasawwur (world view) yang integratik dan umatik sifatnya.

Artinya, pendidikan mengarah kepada membentuk generasi yang bermanfaat untuk semua, terbuka dan transparan.

Generasi sedemikian hanya dapat dikembangkan melalui pendidikan akhlak, budi pekerti dan penguasaan ilmu pengetahuan.

Maka akhlak karimah adalah tujuan sesungguhnya dari proses pendidikan, dan menjadi wadah diri dalam menerima ilmu-ilmu lainnya, karena pada akhirnya ilmu yang benar, akan membimbing umat ke arah amal karya, kreasi, inovasi, motivasi yang baik (shaleh).

Dengan demikian, diyakini bahwa akhlak adalah jiwa pendidikan, inti ajaran agama, buah dari keimanan.

Generasi penerus harus taat hukum.
Upaya ini dilakukan dengan memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga.

Mengokohkan peran orang tua, ibu bapak, dan memungsikan peranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif.

Memperkaya warisan budaya dilakukan dengan menanamkan sikap setia, cinta dan rasa tanggung jawab, sehingga patah tumbuh hilang berganti.

Menanamkan aqidah shahih (tauhid) dengan istiqamah pada agama Islam yang dianut.

Menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur.

Apabila sains dipisah dari aqidah syariah dan akhlak, niscaya yang akan lahir saintis tak bermoral agama.
Kesudahannya, ilmu banyak dengan iman yang tipis, berujung dengan sedikit kepedulian di tengah bermasyarakat.

Langkah-langkah ke arah pembentukan generasi mendatang sesuai bimbingan Kitabullah QS.3:102 mesti dipandu pada jalur pendidikan, formal atau non formal.

Mencetak anak bangsa yang pintar dan bertaqwa (QS.49:13), oleh para pendidik (murabbi) yang berkualitas pula. Keberhasilan gerakan dengan pengorganisasian (nidzam) yang rapi.

Menyiapkan orang-orang (SDM) yang kompeten, dengan peralatan memadai.

Penguasaan kondisi umat, dengan mengenali permasaalahan keumatan.

Mengenali tingkat sosial dan budaya daerah, hanya dapat di baca dalam peta dakwah yang bagaimanapun kecilnya, memuat data-data tentang keadaan umat yang akan diajak berperan tersebut.

Di sini terpampang langkah pendidikan yang strategis itu.

Di samping itu perlu pula menanamkan kesadaran serta tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah.

Sikap penyayang dan adil, akan dapat memelihara hubungan harmonis dengan alam, sehingga lingkungan ulayat dan ekosistim dapat terpelihara.

Melazimkan musyawarah dengan disiplin, akan menjadikan masyarakat teguh politik dan kuat dalam menetapkan posisi tawar.

Kukuh ekonomi serta bijak memilih prioritas pada yang hak, menjadi identitas generasi yang menjaga nilai puncak budaya Islami yang benar.

Sesuatu akan selalu indah selama benar.
Semestinya disadari bahwa budaya adalah wahana kebangkitan bangsa.
Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya.

PENGUATAN NILAI BUDAYA (TAMADDUN)
Madani mengandung kata maddana al-madaina atau banaa-ha, artinya membangun atau hadhdhara, maknanya memperadabkan dan tamaddana artinya menjadi beradab dengan hidup berilmu (rasio), mempunyai rasa (arif, emosi) secara individu dan kelompok mempunyai kemandirian (kekuatan dan kedaulatan) dalam tata ruang, peraturan dan perundangan yang saling berkaitan.(Al Munawwir, 1997:1320, dan Al-Munjid, al-Mu’ashirah, 2000:1326-1327).

Masyarakat madani (al hadhariyyu) adalah masyarakat berbudaya yang maju, modern, berakhlak dan mempunyai peradaban melaksanakan ajaran agama (syarak) dengan benar.

Masyarakat madani (tamaddun) adalah masyarakat berbudaya dan berakhlaq. Akhlaq adalah melaksanakan ajaran agama (Islam).

Memerankan nilai-nilai tamaddun — agama dan adat budaya — di dalam tatanan kehidupan masyarakat, menjadi landasan kokoh meletakkan dasar pengkaderan (re-generasi) agar tidak terlahir generasi yang lemah. Kegiatan utama diarahkan kepada kehidupan sehari-hari.

Keterlibatan generasi muda pada aktifitas-aktifitas lembaga agama dan budaya, dan penjalinan hubungan erat yang timbal balik antara badan-badan kebudayaan di dalam maupun di luar daerah , menjadi pendorong lahirnya generasi penyumbang yang bertanggung jawab.

Generasi penyumbang (inovator) sangat perlu dibentuk dalam kerangka pembangunan berjangka panjang.

Bila terlupakan, yang akan lahir adalah generasi pengguna (konsumptif) yang tidak bersikap produktif, dan akan menjadi benalu bagi bangsa dan negara.

Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus didalam membentuk SDM, maka di samping kurikulum ilmu terpadu dan holistik, sangat perlu dirancang kualita pendidik (murabbi) yang sejak awal mendapatkan pembinaan terpadu.

Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik, dan bukan utopis.

Keberhasilan perkembangan generasi penerus ditentukan dalam menumbuhkan sumber daya manusia yang handal.

Mereka, mesti mempunyai daya kreatif dan ino¬vatif, dipadukan dengan kerja sama berdisiplin, kritis dan dinamis.
Mempunyai vitalitas tinggi, dan tidak mudah terbawa arus.

Generasi yang sanggup menghadapi realita baru, dengan memahami nilai nilai budaya luhur.

Selalu siap bersaing dalam basis ilmu pengetahuan dengan jati diri yang jelas dan sanggup menjaga destiny, mempunyai perilaku berakhlak.

Berpegang teguh kepada nilai-nilai mulia iman dan taqwa, mempunyai motivasi yang bergantung kepada Allah, yang patuh dan taat beragama.

Mereka, akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan.
Memahami dan mengamalkan nilai nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, memberikan motivasi emansipatoris dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik material, tanpa harus mengorbankan nilai nilai kemanusiaan.

Semestinya dipahami bahwa kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) dengan basis iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat.

Hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional. Karena itu, perlulah domein ruhiyah itu dibangun dengan sungguh-sungguh;

a. pemantapan metodologi,
b. pengembangan program pendidikan,
c. pembinaan keluarga, institusi, dan lingkungan,
d. pemantapan aqidah (pemahaman aktif ajaran Agama)

MEMBENTUK SUMBER DAYA MANUSIA BERKUALITAS

Kita berkewajiban membentuk SDM menjadi sumber daya umat (SDU) yang berciri kebersamaan dengan nilai asas “gotong royong”, berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas. Beberapa model dapat dikembangkan di kalangan para pendidik.

Antara lain, pemurnian wawasan fikir disertai kekuatan zikir, penajaman visi, perubahan melalui ishlah atau perbaikan.

Mengembangkan keteladanan (uswah hasanah) dengan sabar, benar, dan memupuk rasa kasih sayang melalui pengamalan warisan spiritual religi serta menguatkan solidaritas beralaskan iman dan adat istiadat luhur.
“Nan kuriak kundi nan sirah sago,
nan baik budi nan indah baso”.

Akhirnya, intensif menjauhi kehidupan materialistis, “dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.

Para pendidik (murabbi) adalah bagian dari suluah bendang dengan uswah hidup mempunyai sahsiah (شخصية) bermakna pribadi yang melukiskan sifat individu mencakup gaya hidup, kepercayaan, kesadaran beragama dan harapan, nilai, motivasi, pemikiran, perasaan, budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak akan mampu menghadirkan kesan positif masyarakat Nagari.

Faktor kepribadian tetap diperlukan dalam proses pematangan sikap perilaku anak didik yang mencerminkan watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seseorang.

Ciri kepribadian syarak yang mesti ditanamkan merangkum sifat-sifat,
1. Sifat Ruhaniah dan Akidah, mencakup ;
a. keimanan yang kental kepada Allah yang Maha Sempurna,
b. keyakinan mendalam terhadap hari akhirat, dan
c. kepercayaan kepada seluruh asas keimanan (arkan al iman) yang lain.

2. Sifat-Sifat Akhlak, tampak di dalam perilaku;
a. Benar, jujur, menepati janji dan amanah.
b. Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan,
c. Tawadhu’, sabar, tabah dan cekatan,
d. Lapang dada – hilm –, pemaaf dan toleransi.
e. Bersikap ramah, pemurah, zuhud dan berani bertindak.

3. Sifat Mental, Kejiwaan dan Jasmani, meliputi,
3.1. Sikap Mental,
a. Cerdas — pintar teori, amali dan sosial –,
menguasai spesialisasi (takhassus),
b. Mencintai bidang akliah yang sehat, fasih,
bijak penyampaian.
c. Mengenali ciri, watak, kecenderungan masyarakat Nagari

3.2. Sifat Kejiwaan,
a. emosi terkendali, optimis dalam hidup, harap kepada Allah,
b. Percaya diri dan mempunyai kemauan yang kuat.
c. Lemah lembut dan baik dalam pergaulan dengan masyarakat.

3.3. Sifat Fisik,
a. mencakup sehat tubuh,
b. berpembawaan menarik, bersih,
c. rapi (kemas) dan menyejukkan.

Satu daftar senarai panjang menerangkan sikap pendidik adalah berkelakuan baik (penyayang dan penyabar), berdisiplin baik, adil dalam menerapkan aturan.

Memahami masalah dengan amanah dan mampu memilah intan dari kaca.

Mempunyai kemauan yang kuat serta bersedia memperbaiki kesalahan dengan sadar.

Selanjutnya tidak menyimpang dari ruh syari’at.
Maknanya, mampu melakukan strukturisasi ruhaniyah.

Para murabbi dapat mewujudkan delapan tanggung jawab dalam hidup;
1). Tanggungjawab terhadap Allah, dengan keyakinan iman
dan kukuh ibadah bersifat istiqamah, iltizam beramal soleh
dengan rasa khusyuk dalam mencapai derajat taqwa dan
mengagungkan syiar Islam dengan perilaku beradat dan beradab.

2). Tanggungjawab terhadap Diri, mengupayakan keselamatan diri,
baik aspek fisik, emosional, mental maupun moral,
bersih dan mampu berkhidmat kepada Allah,
masyarakat dan negara.

3). Tanggungjawab terhadap Ilmu, menguasai ilmu takhassus
secara mendalam dan menelusuri dimensi spiritualitas Islam
dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan untuk
tujuan kemanusiaan dan kesejahteraan umat manusia.

4). Tanggungjawab terhadap Profesi, tidak bertingkah laku yang
menghilangkan kepercayaan orang ramai dan dapat
memelihara maruah diri dengan amanah.

5). Tanggungjawab terhadap Nagari, mengutamakan
keselamatan anak Nagari dan memfungsikan lembaga
lembaga pendidikan (surau) dengan ikhlas.

6). Tangungjawab Terhadap Sejawat, menghindari tindakan yang
mencemarkan sejawat dengan berusaha sepenuh hati
mengedepankan kemajuan social hanya karena Allah.

7). Tanggungjawab terhadap Masyarakat dan Negara,
tidak merusak kepentingan masyarakat atau negara dan
selalu menjaga kerukunan bernegara di bawah syari’at Allah.

8). Tanggung jawab kepada Rumah Tangga dan Ibu Bapa,
dengan menghormati tanggungjawab utama ibu bapa
dengan mewujudkan hubungan mesra dan kerjasama
yang erat di antara institusi pendidikan dengan rumahtangga.

MENGHIDUPKAN PARTISIPASI UMAT

Umat mesti mengantisipasi berbagai krisis dengan kekuatan agama dan budaya (adat dan syarak) agar tidak menjadi kalah di tengah era persaingan.

Memantapkan watak terbuka dan pendidikan akhlak berlandaskan ajaran tauhid. Mengamalkan nilai-nilai amar makruf nahi munkar seperti tertera dalam QS.31, Lukman:13-17.

Menghadapi degradasi akhlak dapat dilakukan berbagai program.

Antara lain ;
1. INTEGRASI AKHLAK yang kuat dengan menanamkan penghormatan
terhadap orang tua.
Mempunyai adab percakapan di tengah pergaulan.
Pendalaman ajaran agama (tafaqquh fid-diin).
Berpijak kepada nilai-nilai Islam yang universal (tafaqquh fin-naas).
Membawa masyarakat memperhatikan masalah sosial (umatisasi)
dengan teguh.
Menetapkan kepentingan bersama dengan ukuran taqwa,
responsif dan kritis dalam mengenali kehidupan duniawi yang bertaraf
perbedaan.

Tahap selanjutnya mendorong kepada penguasaan ilmu pengetahuan.
Kaya dimensi dalam pergaulan bersama mencercahkan rahmatan lil ‘alamin
pada seluruh aspek kehidupan.

2. KEKUATAN RUHIYAH.
Ketahanan umat, bangsa dan daerah terletak pada kekuatan ruhiyah
dengan iman taqwa dan siasah kebudayaan.
Intinya adalah tauhid.
Implementasinya akhlak.
Umat kini akan menjadi baik dan berjaya,
apabila sebab-sebab kejayaan umat terdahulu dikembalikan.
Bertindak atas dasar anutan yang kuat,
yakni “memulai dari diri sendiri, mencontohkannya kepada
masyarakat lain”, (Al Hadist).

3. JALINAN KERJASAMA yang kuat rapi – network, nidzam –
antara lembaga perguruan secara akademik,
dengan meningkatkan pengadaan pengguna fasilitas.

a. Mendorong pemilikan jati diri berbangsa dan bernegara.
b. Memperkokoh interaksi kesejagatan dengan melakukan
penelitian bersama, penelaahan perubahan-perubahan di desa
dan kota, antisipasi arus kesejagatan dengan
penguatan jati diri generasi.
c. Pengoperasionalan hasil-hasil penelitian,
d. Meningkatkan kerja sama berbagai instansi yang dapat
menopang peningkatan kesejahteraan.

Menggali ekoteknologi dengan kearifan yang ramah lingkungan.

Menanam keyakinan actual, bahwa yang ada sekarang adalah milik generasi mendatang.

Keyakinan ini menumbuhkan penyadaran bahwa beban kewajiban generasi adalah memelihara dan menjaga untuk diwariskan kepada gererasi pengganti, secara berkesinambungan, lebih baik dan lebih sempurna.

Aktifitas ini akan memacu peningkatan daya kinerja di berbagai bidang garapan melalui,
a. rancangan pembangunan pendidikan arus bawah,
b. mempertajam alur pemikiran melalui pendidikan dengan
pendekatan holistik (holistic approach) menurut cara yang tepat.

Allah mengingatkan, apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi (QS.7,al-A’raf:96).

Artinya, mengajak Umat mempelajari dan mengamalkan iman dan taqwa (tuntutan syarak sesuai ajaran Islam).

Selanjutnya, menggiatkan penyebaran dan penyiaran dakwah, untuk mencapai keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia.

DI BAWAH KONSEP REDHA ALLAH

Setiap Muslim harus melakukan perbaikan (ishlah) pada dua sisi. Dimulai dengan, ishlah an-nafsi, yaitu perbaikan kualitas diri sendiri, sebagaimana arahan Rasulullah, “Mulailah dari diri kamu kemudian lanjutkan kepada keluargamu” (Al Hadist).

Selanjutnya islah al-ghairi yaitu perbaikan kualitas lingkungan menyangkut masalah hubungan sosial masyarakat, sosial ekonomi, kebudayaan dan pembinaan alam lingkungan yang dikenal sebagai sustainable development atau pengembangan berkesinambungan.

Langkah awal yang harus ditempuh adalah menanamkan kesadaran tinggi tentang perlunya perubahan dan dinamik yang futuristik.

Penggarapan secara sistematik dengan pendekatan proaktif, untuk mendorong terbangunnya proses pengupayaan (the process of empowerment), umat membangun dan memelihara akhlak.

MELAKSANAKAN TUGAS DAKWAH terus menerus dengan petunjuk yang lurus (QS.Al-Ahzab, 33 : 45-46) dibuktikan dengan beribadah kepada Allah.

Mengawal generasi Sumbar yang tetap kuat melaksanakan ajaran agama Islam secara kaffah.

Menjauhi pikiran, konsep dan ajakan yang mengarah atau membawa kepada sikap musyrik.

Mengingatkan selalu untuk bersiap kembali kepada-Nya (QS.Al Qashash, 28 : 87).

Setiap muslim hakikinya adalah umat dakwah pelanjut Risalah Rasul yakni Islam.

Dari sini, berawal gerakan syarak mangato adat memakai, artinya hidup dan bergaul dengan meniru watak pendakwah pertama, Muhammad Rasulullah SAW.

Meneladani pribadi Muhammad SAW untuk membentuk effectif leader di medan dakwah dalam menuju inti agama Islam (QS. Al Ahzab, 33 : 21).

Dakwah selalu akan berkembang sesuai variasi zaman yang senantiasa berubah.

Tahapan berikutnya perencanaan terarah, untuk mewujudkan keseimbangan antara minat dan keterampilan dengan strategi (siyasah) yang jelas.

Aspek pelatihan menjadi faktor utama pengupayaan. Konsep-konsep visi, misi, memang sering terbentur oleh lemahnya metodologi dalam operasional (pencapaian).

Maka dalam tahap pelaksanaan mesti diupayakan secara sistematis (the level of actualization).

Menetapkan langkah ke depan pembinaan human capital dengan keluasan ruang gerak mendapatkan pendidikan.

Pembinaan generasi muda yang akan mewarisi pimpinan berkualitas wajib mempunyai jati diri, padu dan lasak, integreted inovatif.

Langkah yang dapat dilakukan adalah mengasaskan agama dan akhlak mulia sebagai dasar pembinaan.

Langkah drastik berikutnya mencetak ilmuan beriman taqwa seiring dengan pembinaan minat dan wawasan.

Generasi muda Sumbar ke depan mesti menyatukan akidah, budaya dan bahasa bangsa, untuk dapat mewujudkan masyarakat madani yang berteras keadilan sosial yang terang.

Strategi pendidikan yang madani (maju, dan berperadaban) menjadi satu nikmat yang wajib dipelihara, agar selalu bertambah.

Perlu ada kepastian dari pemerintah daerah dengan satu political action yang jelas tegas berkelanjutan, untuk mendorong pengamalan ajaran Agama (syarak) Islam, melalui jalur pendidikan formal dan non-formal secara nyata.

Political will, akan sangat menentukan dalam membentuk generasi muda Sumbar yang kuat dan berjaya di masa datang.

Ajaran tauhid mengajarkan agar kita menguatkan hati, karena Allah selalu beserta orang yang beriman.

Dengan bermodal keyakinan tauhid ini, niscaya generasi terpelajar akan bangkit dengan pasti dan sikap yang positif.
a. Menjadi sumber kekuatan dalam proses pembangunan
b. Menggerakkan integrasi aktif,
c. Menjadi subjek dan penggerak pembangunan nagari
dan daerahnya sendiri.

Semoga Allah memberi kekuatan memelihara amanah bangsa ini dan senantiasa meredhai.

Amin.

Wabillahit-taufiq wal hidayah,

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi wa barakatuh.

Categories: Masyarakat Adat, PAUD, Strategi Pendidikan Madani, Tulisan Buya | 1 Comment

Create a free website or blog at WordPress.com.