Tulisan Buya

Zakat sebagai Sarana Pembersih Jiwa dan Harta

 

 

Pendahuluan

 

Bukakan Pintu Hati

Kalau disadari, bahwa di keliling kita terserak sumber daya yang besar dari ummat, yang sedang terpelanting dan menderita, ada berbagai kelompok dan kedudukan. Diantaranya, Pelajar dan Mahasiswa, bekas pegawai-pegawai Negeri Sipil, Militer, pegawai perusahaan-perusahaan swasta dan guru-guru sekolah partikulir (Madrasah-Madrasah), Masyarakat Tani, pedagang kecil dan buruh kecil. Semuanya adalah sumber daya manusia (SDM) yang besar kontribusinya.

Walaupun diantaranya ada yang invalid, atau yang di tinggalkan oleh yang telah gugur, ada yang menderita tekanan kehidupan, dhu’afak, kehilangan rumah atau pekerjaan. Kesemuanya merupakan kekuatan masyarakat yang perlu di bina untuk ikut berperan aktif dalam proses kehidupan bangsa ditengah bergulirnya roda  pembangunan (development) itu. Untuk menghimpunnya, diperlukan usaha dengan berbagai upaya, baik yang bersifat psychologis  ataupun technis. Langkah pertama, adalah buka kan “pintu hati” dan “pintu rumah” bagi mereka yang memerlukan bantuan dalam rangka pemulihan kehidupan. Tunjukkan minat kepada mereka dengan ikhlas dan sungguh-sungguh. 

Andaikata belum mampu memberikan bantuan sewaktu itu juga, sekurang-kurangnya sokongan moril harus diberikan. Hidupkan harapan mereka kepada kekuatan kerahiman Ilahi, suburkan kepercayaan mereka kepada kekuatan yang ada pada diri mereka sendiri, dengan hati yang tulus ikhlas.

            Hati yang lebih tulus dan pikiran yang jernih serta lega akan kembali mengisii harapan. Upaya ini niscaya akan menambah himmah (gita dan minat)  untuk bekerja terus. Sekurang-kurangnya, akan menambah daya tahan ummat untuk menghindarkan diri dari tindakan menyalahi hukum Syar’iy, maupun urusan duniawi. Sekali-kali jangan ditinggalkan ummat dengan bermacam-macam perasaan tak tentu arah. Tanpa pegangan yang pasti, ummat akan patah hati dan semangat untuk bisa menjumpai kita kembali. 

Kriteria untuk merebut suatu keberhasilan oleh seorang pemimpin, dalam semua level kedudukannya, adalah selalu berada ditangah ummat yang di pimpinnya. “Tiap-tiap kamu adalah pemimpin, dan tiap-tiap pemimpin akan diminta pertanggungan jawab atas yang dipimpinnya”(Al Hadist Riwayat Al Bukhary, dari Abdullah Ibn Umar) Begitu peringatan Rasulullah SAW.

Pemikiran (ide) seorang pemimpin walaupun belum selalu komplet dan limitatif, menjadi tidak terbatas bila berpadu dengan pengalaman. Pengalaman disertai kearifan membaca kondisi keliling merupakan pelajaran sangat berharga sebagai penggugah dan pengantar pemikiran. Pengalaman serta daya pikir dan daya cipta, bila dipadukan akan sangat bermanfaat untuk menciptakan kesempurnaan dalam praktek.

 Sambil berjalan kumpulkan data pengalaman sebanyak mungkin, karena tindakan seperti ini bukan barang lama, tidak pula ilmu baru. Syukurlah,  bila ada kesadaran akan kenyataan bahwa semua hal baru dapat di kerjakan oleh semua orang, asal mau. Semua barang yang lama itu tetap akan baru, selama sesorang belum mengerjakannya. Yang terpenting selalu mencoba untuk membangkitkan kreativitas dalam berusaha. Sebagai upaya inovatif untuk tetap bersemangat dalam menjalani roda kehidupan ini.

            Barangkali juga dirasakan, bahwa di antara hal-hal itu ada yang demikian barunya sehingga sukar, malah rasa-rasa tak mungkin dapat mencapainya. Semboyan amal itu seharusnya adalah; “Yang mudah  sudah dikerjakan orang, Yang sukar kita kerjakan sekarang, Yang “tak mungkin” di kerjakan besok” Demikian diantara pesan Bapak DR.Mohamad Natsir (1961).

Dengan mengharapkan hidayat Ilahi, mari kita sahuti panggilan Allah SWT, “Katakanlah : Wahai kaumku, berbuatlah kamu sehabis-habis kemampuan-mu, akupun berbuat”!

 

Gerakkan Potensi Ummat

            Selalu saja menjadi pertanyaan yang agak sulit dijawab. Tentang darimana bisa diambilkan dana bagi pengentasan kemiskinan itu.

            Pertanyaan selanjutnya, siapa yang berkompeten melaksanakan usaha pengentasan kemiskinan tersebut?

            Bagaimana memulainya? Dan apakah kira-kira usaha itu akan berhasil segera? Barangkali, banyak lagi pertanyaan lainya yang mungkin tumbuh sesudah itu.

            Harus diakui secara sadar, bahwa “pengentasan kemiskinan” itu, bukanlah pekerjaan mudah. Tidak semudah mengucapkannya. Dan hasilnya, juga tidak bisa cepat, drastis dan sekali jalan.

            Secara berangsur-angsur, adalah pasti. Sesuai hukum alam, sebagai satu “sunnatullah” yang telah digariskan. Yaitu, “thabaqan ‘an thabaq”, atau “selangkah demi selangkah”.

            Jika tidak seluruhnya bisa berhasil, bukan berarti pula seluruhnya tidak dikerjakan. Kerjakan juga mana yang mungkin. Inilah dasar dari optimisme cita luhur itu.

            Pandangan ajaran Islam lebih tegas lagi. Setiap muslim, tidak dibebaskan membiarkan saudaranya (tetangganya) kelaparan di sampingnya. Sementara dia tidur kekenyangan. Begitu jelasnya ajaran Rasulullah, Shallallahu alaihi wa sallam.

            Karena itu, tugas ini menjadi beban setiap Muslim yang berada. Fii amwalihim naqqun ma luum. Di dalam hartanya, ada hak orang lain. Hak itu berupa infaq, shadaqah dan zakat. Zakat sebagai sumber dana ummat (Islam), pernah berperan membiayai perjuangan kemerdekaan.[1] Jauh sebelumnya, bahkan hingga kini, zakat merupakan satu sumber pembangunan bidang pendidikan agama. Banyak Madrasah, pesantren, yang telah dibangun dengan “dana zakat”, juga pembinaan Masjid dan Surau, atau barangkali ada yang sudah diperuntukkan pembuatan toko, kebun, kapal atau pabrik dengan uang zakat yang hasilnya di peruntukkan bagi kepentingan si miskin.[2]

            Alangkah banyaknya sumber dana ummat itu.[3] Disinilah peluang kerja bagi BADAN AMIL ZAKAT (BAZ) dan dapat disempurnakan menjadi baitul maal menghimpun sumber dana infaq dan shadaqah yang akan menjadi perencana, penghitung, pembagi dan penggerak pengumpulan zakat  dalam merencanakan pembangunan dan pengentasan kemiskinan ummat yang menjadi penyedia sumber pendapatan bagi orang-orang yang perlu di angkatkan. Begitulah angan-angan yang gerangan perlu dikembangkan dan GEBU MINANG bisa juga berperan mulai dari rantau. Badan amal ini bisa bertindak sebagai penggerak mewujudkan Nagari-nagari Binaan dengan  mengajak pihak-pihak berpunya menanamkan modalnya bagi kesejahteraan anak kemenakan di kampung halaman. Mungkin sekali, mengajak kerjasama “Bank Muamalat Indonesia”, dalam bentuk syarikat usaha. Berbagai hasil kelaknya, dengan mengawali pada berbagai tugas dan kerjaan.

            Masyarakat Minang adalah masyarakat muslim, yang beradat dan beragama Islam telah berjalin-berkelindan menjadi Adat bersendi syara’ , dan syara’ bersendi Kitabullah (Al Quran). Masjid dan Surau, serta Lembaga-lembaga Agama Islam, yang selama ini telah berperan sebagai ujung tombak “pengumpul zakat” dapat lebih di fungsikan dengan menampilkan  mutu dan kualitas ummat Islam sendiri. Akhirnya, “mass-media” dapat di minta partisipasi dalam pengumuman dan pelaporan setiap kegiatan pengumpulan dan pemanfaatan dana-dana ummat secara berkala dan bertanggung jawab.

            “Apa yang bisa dilakukan di sini” adalah awal dari gagasan tulisan ini maka terpulang kepada kita, darimana akan dimulai. Menggerakkan potensi ummat dengan mengharap ridha Allah, adalah tujuan utamanya. “Allahumma zidha ‘ilman”. Wahai Allah, tambahlah ilmu kami. Ilmu yang bermanfaat yang bisa dikembangkan, bisa diaplikasikan menjadi kenyataan. Karena Engkau tela berfirman,”Sesiapa yang telah Engkau berikan hikmah (yakni ilmu yang bermanfaat, bisa diterapkan untuk menciptakan kemaslahatan ummat banya, atas dasar ridha Engkau). Berarti mereka telah Engkau anugerahkan kebaikan yang besar.”  (Al Quran)

 


Upaya Memerangi Kemiskinan,

Kemelaratan dan Kebodohan

            PENGENTASAN kemiskinan, dengan pengertian usaha bersama-sama mengurangi tingkat kemiskinan perlu ditampilkan. Perlu dipentaskan. Karena usaha mengatasi kemisikinan di tengah kehidupan ummat, sesungguhnya merupakan usaha yang mulia.

            Agama Islam, dengan mempedomani Al Quran dan Sunnah Rasulullah selalu memberikan perhatian yang besar serta berkesinambungan terhadap masalah sosial ini. Ajaran Al Quran amat memperhatikan usaha-usaha penanggulangan kemiskinan.

            Tidak diragukan lagi, ayat-ayat pertama dari Mashhaf Al Quran, memberikan ciri-ciri sifat dan sikap seorang Muttaqin (orang yang bertaqwa). Diantaranya, orang yang percaya kepada Yang Ghaib (Allah), mendirikan shalat serta membelanjakan sebahagian rezekinya (hartanya) untuk kemaslahatan ummat banyak. Artinya, memberikan perhatian penuh terhadap kehidupan orang-orang miskin. Seperti tertera dalam Wahyu Allah, Surat Al Baqarah, 2 : 3 (Al Quran).

            Karena itu, seorang Muslim seyogyanya tidak perlu merasa sungkan dan segan, dalam berusaha mementaskan setiap usaha ke arah pengentasan kemiskinan.

            Al Quran yang menjadi pedoman setiap Muslim (jumlah kita diakui terbanyak di Dunia ini), seyogyanya mengambilkan pelajaran tentang cara-cara yang diajarkannya guna mengentaskan kemiskinan ummat.

            Karena sudah pasti, yang terbanyak di antara ummat yang berada di bawah garis kemiskinan itu, tentulah Muslim pula.

            Al Quran menceritakan, di kala seorang kafir (yang menolak ajaran Allah), dimasukkan ke dalam neraka, mereka ditanya, Apa sebabnya mereka tercampak ke dalam kehinaan (Neraka) ini. Jawabnya karena, pertama, Kami bukanlah termasuk golongan orang-orang yang shalat. Kedua, Kami tidak hendak memberi makan orang miskin. Ketiga, Kami asyik membicarkan kebathilan. Tanpa berusaha sedikitpun menghapus kebathilan itu. Habis hari karena berbincang. Tak ada waktu tersisa untuk mengubah kepincangan-kepincangan. Keempat, Kami mendustakan hari pembalasan (hari akhirat). Keyakinan mereka hanya terpaut kepada hal-hal duniawiyah semata. Yang ada hanya pemikiran masa kini, di sini. Tidak ada sama sekali berpikir dan berbuat untuk hari esok. Hari yang pasti didatangi setiap diri. Nanti, setelah mati. Keterangan tersebut jelas diterangkan Allah dalam Firman Nya, Al Quran Surah ke 74, Al Muddatsir ayat 40 – 47. Yang menjadi titik perbincangan adalah memberi makan orang miskin secara luas. Termasuk memberi makan, juga adalah menyiapkan sumber atau lahan usaha bagi si miskin. Hingga setiap saat mempunyai harapan dari hasil garapannya. Mereka tidak lagi disibukkan mengumpulkan sesuap nasi atau setekong beras untuk makan gari ini. Tapi, sudah mempunyai sumber usaha yang menghasilkan makan setiap hari. Untuk dirinya sendiri dan untuk keluarganya pula. Jadi, usaha melahirkan kemandirian.

            Secara konvensional, yang disebut miskin itu peminta-minta. Dia tidak punya kerja, kecuali hanya meminta-minta. Sungguhpun mereka punya hak untuk meminta-minta kepada orang yang berpunya (lihat Surat Adz Dzariyat, 51:19-20). Tapi sama-sama tidak bermartabat, membiarkan diri selalu menjadi peminta-minta. Atau juga tidak mulia tindakan si kaya yang memupuk terpeliharanya kebiasaan orang yang selalu meminta-minta.

            Dalam sebuah ajaran Rasululah Shallallahu ‘alaihi wassalam ditegaskan, “Mencari kayu api ke hutan, mengikatnya dan kemudian menjualnya, (berusaha dengan tangan sendiri, memeras keringat), kemudian hasilnya kamu terima, dan kamu makan berserta keluarga di rumah. Usaha demikian itu lebih bermartabat, daripada kamu berkeliling menengadahkan tangan meminta-minta, diberi ataupun tidak diberi oleh orang lain. Allah lebih senang kepada tangan yang di atas daripada tangan yang di bawah (peminta-minta).

 

            Pelunturan kadar ummat Islam lebih banyak disebabkan berjangkitnya wabah “kemelaratan” dan “kebodohan”, pada sebahagian besar ummat alternatif ini. Walaupun sebenarnya sinyal Al Quran menyebutkan bahwa posisi ummat itu berada pada papan atas, sesuai Firman Allah ; “Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnasi, ta’muruuna bil ma’rufi wa tanhauna ‘anil munkari, wa tu’minuuna billahi”, artinya sebenarnya kamu adalah ummat terbaik yang di tampilkan di tengah kehidupan manusia, karena kamu senantiasa mengajak kepada yang ma’ruf dan menegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah.  

 

Shibghah (identitas) sebagai “ummat terbaik” itu, tidak akan terwujud bila kadar ummat itu tersungkup oleh kemelaratan (baik secara fisik, materiil, dan keyakinan atau keimanan kepada Allah Yang Maha Esa). Kadar ummat itu pun akan luntur tersebab oleh kebodohan yang membelit seperti kebiasaan meniru apa yang ada pada orang lain tanpa memilih dan memilah bentuk yang akan ditiru itu (kerangka piki­ran, pandangan, dan polah tingkah), dalam fenomena kehid­upan aliran.

 

Menumbuhkan  Harga Diri

 

            Umar bin Khattab, memberikan arahan lebih keras. Tatkala dilihatnya seorang pemuda, duduk mendo’a menengadahkan tangan meminta rezeki. Tanpa berusaha meninggalkan pojok dinding Ka’bah. Sedari pagi hingga malam, hanya berseru dengan nada memelas.

            “Wahai Tuhan, berilah aku rezeki harta”. Begitulah yang didengar Umar bin Khattab, keluhan remaja yang memiliki tubuh sehat dan otot perkasa.

            Dengan nada keras, sembari mengancam dengan mata pedang, Umar mengingatkan,

            “Wahai pemuda. Janganlah sekali-kali kamu hanya pandai menengadahkan tangan, meminta-minta diturunkan rezeki harta. Kamu harus tahu, sejak langit berkembang, Allah tidak pernah menurunkan hujan emas dan perak. Gerakkan tanganmu! Allah akan beri kamu rezeki.”.

            Peringatan keras ini, memiliki ajaran dan pandangan yang sungguh dalam.

            Larangan meminta-minta. Tumbuhkan sikap berusaha. Melahirkan etos kerja yang tinggi. Sebagai pembuka jalan bagi pintu rezeki.

            Di sinilah terdapat salah satu kunci. Mengentaskan kemiskinan melalui “pemberian pelajaran”, menunbuhkan “harga diri”. Menumbuhkan “rasa malu” selalu menjadi beban orang lain. Jadi, harus ada program jelas untuk mengubah sikap kebiasaan.

            Orang miskin adalah orang yang serba kekurangan. Orang yang berkekurangan lantaran tidak mempunyai apa-apa. Tidak memiliki mata pencaharian. Tidak mempunyai kepandaian dalam mencari nafkah. Mereka perlu dibantu dan diangkatkan derajatnya.

            Dicarikan baginya lahan dan lapangan pekerjaan. Dibuatkan untuk mereka sumber pengidupan. Dididik mereka untuk bisa berusaha untuk hidup. Ajarkan mereka arti dan makna “madiri” dalam bentuk perbuatan dan kenyataan.

            Lebih halus ta’rif atau definisi yang diberikan Rasul Shallallahu ‘alaihi wassalam, sebagaimana diriwatkan Bukhari Muslim dalam shahihnya, bahwa “Orang miskin itu bukanlah mereka yang berkeliling meminta-minta (sebagai pemulung), agar diberikan kepadanya sesuap nasi atau sebuah dua biji korma. Tapi orang miskin itu, adalah mereka yang hidupnya tidak layak berkecukupan. Kemudian mereka diberi sedekah, dan sesudah itu mereka tidak pergi lagi meminta-minta kepada orang lainnya”. (HR. Bukhari dan Muslim, Shahih Insya Allah). Hadist lainnya menyebutkan; “Orang miskin itu, hanyalah orang yang menjaga kehormatannya.” Mereka perlu mendapatkan perhatian. Terhadap nasib mereka perlu ditumbuhkan kepedulian yang tinggi.

            Kemelaratan adalah musuh besar kemanusiaan, memelukan perlawanan gigih melenyapkannya, sesuai peringatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam “hampir saja kefakiran (kemelara­tan) itu yang membuka peluang untuk kufur (durhaka dan menolak kebenaran ajaran agama”.

            Kemelaratan adalah hasil sikap perbuatan manusia, seperti dalam memenuhi kebutuhan melalui kredit dan riba, dan hilangnya ukuran kepantasan dan kepatutan. Kemelaran juga terlahir karena hilangnya etos kerja, serta berjangkitnya perangai malas dan lalai (syaithaniyah). Kemelaratan, berkembang menjadi wabah di tengah ummat tatkala berdampingan dengan kebodohan.

            Kebodohan dalam membuat perhitungan serta pernilaian, terhadap urgensi, efisiensi, dan kurang teliti dalam melakukan pengukuran antara bayang‑bayang dan badan, atau antara pasak dengan tiang.

            Pada hakekatnya riba (kredit lunak berbunga besar), atau pinjaman yang salah penerapannya akan berakibat “meningkatnya harga barang yang normal menjadi sangat tinggi”, atau berpengaruh besar terhadap neraca pembayaran antar bangsa, kemudian berakibat melejitnya laju inflasi, akibatnya akan dirasakan pada semua orang pada semua tingkah penghidupan.

            Benih malas dominan mewarnai bangsa yang melarat dan bodoh, tumbuh subur pada generasi yang tidak memiliki kemampuan mengatur diri sendiri (mandiri) yang pada giliorannya terpaku pada konsepsi orang yang lebih kuat, membuka peluang eksploitasi manusia di tengah‑tengah manusia yang merdeka. Generasi yang malas dan bodoh mustahil diharap­kan memimpin bangsanya karena tidak memiliki aset apa‑apa (bernilai kosong) untuk dipersandingkan pada arena dunia kompetisi, terutama pada abad dua puluh satu, akan berpeluang dikutak‑katik‑kan orang lain, lantaran terlahir bermentalkan itik yang bisa dihalau hanya dengan sebilah ranting.

            Inilah problema yang akan di hadapi di abad mendatang, di saat dunia akan digeluti oleh persaingan yang keras dan perlombaan yang tajam, pada era persaingan bebas.      Kebodohan serta segala keterbelakangan yang mendera ummat Islam diberbagai belahan dunia saat ini sangat wajar dipulangkan kepada ummat Islam. Dia harus benar‑benar menjadikan ajaran Allah sebagai sumber keberkatan kehidu­pannya. Sebaliknya, ummat Islam itu maupun sebagai aparat pemerintahan maupun sebagai rakyat biasa, sangat wajar berusaha terus‑menerus menimba ilmu pengetahuan yang ada dalam kitab suci Alquran. Serta menjadikan Alquran benar‑benar sebagai pedoman hidup untuk mencapai kesejahteraan di dunia maupun di akhirat.

           

            Kajian menjadi sangat penting, bila kita sadari bahwa pelunturan kadar ummat Islam di negara ini, akan berakibat fatal bagi hilangnya kekuatan nasional, pada lebih dari 85 prosen penduduk negeri tercinta, Nusantara Indonesia, yang di awali dari hilangnya kesadaran berbangsa dan pudarnya semangat kebersamaan. Kalaulah ummat Islam masih saja “mendua”, maksudnya tidak sepenuh hati menjadikan Alqur’an sebagai pedoman hidup, maka selama itu pulalah ummat Islam akan ditimpa berbagai macam kegelisahan dengan berbagai bentuk penderitaan. Sebab, ummat Islam yang menderita itu, tidak bisa dilepas­kan dari keingkarannya pada kebenaran ayat‑ayat Alqur’an. Oleh sebab itu, marilah kita benar‑benar menjadikan Alqur­’an sebagai pedoman hidup yang membawa kesejahteraan secara keseluruhan. Wallahu a’lamu bis-shawaab.

 

            Fakir dan miskin, adalah bayangan kehidupan yang berbahaya. Bahayanya jelas di gambarkan oleh Rasulullah. Beliau berkata, “Hampir-hampir kefaqiran yang membawa kekufuran”. Walaupun tidak selamanya orang kufur itu terdiri dari orang fakir. Atau sebaliknya tidak pula selamanya orang berpunya terjauh dari kekufuran. Namun, dapat disimak terminologi sosialnya, bahwa kekufuran itu terbuka itu terbuka pada salah satu pintunya kefakiran. Maka mengatasi kefakiran dan kemiskinan, bermakna menghambat peluang kearah kekufuran. Disini terletak satu peran utama setiap muslim yang mampu. Kewajiban asasi, dalam kaitannya dengan “hablum minan naasi” atau hubungan horizontal antara sesama manusia (Muslim).

            Dalam hubungan ini, Ali bin Abi Thalib mengandaikan. “Andaikata, kefakiran atau kemiskinan mewujudkan dirinya dalam sosok tubuh seperti manusia, niscaya aku akan cabut pedangku. Aku tebas batang lehernya. Sehingga kemiskinan (kefakiran) itu tidak sempat hidup ditengah kehidupan manusia banyak.”. Ungkapan  Ali bin Abi Thalib ini dapat dimaknai sebagai pengumuman – Maklumat Kepala Negara — untuk perang melawan kemiskinan (kefakiran).

            Umar bin Khattab, langsung mementaskan di arena kekhalifahan beliau. Bagaimana beliau sendiri berperan langsung dalam mengentaskan kemiskinan di zamannya, dalam sebuah kisah popular bahwa Umar bin Khattab selalu melakukan perjalanan incognito, ke pelosok-pelosok nagari, ke gubuk-gubuk reot. Melihat dan meneliti keadaan kehidupan masyarakat kalangan bawah. Di suatu malam, Umar bin Khattab mendengan suara tangisan anak-anak dari sebuah gubuk. Terdengar pula dendangan ibu menentramkan tangisan anak itu. Setelah mendekat, Umar bin Khattab meminta izin kepada sang Ibu agar diperbolehkan masuk. Dalam dialog pendek, dari sang ibu didapat penjelasan, bahwa dia berusaha menenangkan tangisan anaknya yang tengah kelaparan. Untuk menghubur dan menenangkan anak menjelang tidur, ibu itu sengaja merebus batu. Umar bertanya kepadanya, “Wahai ibu, kenapa ibu tidak datang saja kepada Amirul Mukminin (Umar bin Khattab), untuk meminta pangan? Sehingga tidak perlu berbohong terhadap anakmu?”. Sang Ibu menjawab, “Seharusnya Amirul Mukminin tahu tentang nasib rakyatnya.” Umar segera bangkit dan pamit dengan wajah duka. Di dalam hatinya berkecamuk rasa iba dan tanggung jawab. Memang kewajibannya, membela rakyatnya yang miskin. Dia kumpulkan gandum yang ada dirumahnya. Dimasukkannya ke dalam karung. Dipikulnya sendiri dengan pundaknya. Dibawanya juga di malam hari itu, ke rumah ibu yang merebus baru untuk anaknya yang kelaparan. Dia masak sendiri gandum bawaannya hingga matang. Siap dihidangkan sebagai makanan yang layak. Dia berikan kepada anak yang tengah kelaparan itu. Diapun bergurau dengan anak itu sampai sang anak tertidur. Tidur bukan karena lapar. Tapi tidur dengan perut berisi. Demikian salah satu bentuk upaya nyata bagaimana Umar bin Khattab “mementaskan” usaha-usaha mengentaskan kemisikinan di zamannya.[4]

            Yang dapat dipetik dari pementasan itu, usaha-usaha pengentasan kemisikinan, perlu dilakukan secara nyata dan tidak boleh hanya sebatas keinginan dan teori belaka. Umar bin Khattab menjadi orang yang pertama dalam banyak hal. Pertama mendirikan baitul-maal, (pembagian warisan). Juga pertama kali mengirimkan bahan makanan melalui Laut Merah dari Mesir ke Madinah. Menetapkan pengenaan zakat atas ternak kuda. Menyediakan gudang-gudang yang berisi gandum (bahan pangan) bagi orang-orang yang kehabisan bahan makanan (fakir miskin).

 

Prinsip Zakat Pemerkasaan Paradigma Ummat

            ZAKAT merupakan satu institusi yang dapat dipakai sebagai alternatif bagi pengentasan kemiskinan ummat. Minimal terbatas bagi kalangan Muslim. Di tengah kehidupan sesama muslim.

            Atas dasar, “Saling bertolonganlah kamu atas kebaikan dan ketaqwaan”. (QS. Al Maidah, 5:2).

            Dengan demikian Al Quran, meletakkan prinsip ta‘awunitas atau partisipatif (saling tolong bertolongan untuk kebaikan dan ketaqwaan). Tidak ada prinsip ta’awunitas itu untuk keburukan maupun kema’shiyatan.

            Harus dibedakan, antara zakat dengan infaq dan shadaqah, dalam kaitannya sebagai perintah Allah. Walaupun diakui semuanya merupakan sumber dana ummat.

            ZAKAT merupakan dana yang wajib dikeluarkan, wajib di-tagih, wajib di-pungut, dari pemegang dana.

            INFAK  dan SHADAQAH lainnya (diluar zakat), harus digalakkan untuk dikeluarkan, sebagai alat untuk meningkatkan ukhuwwah (solidaritas) dan jihad ff sabiilillah (peningkatan amaliyah dalam meningkatkan dan mempertahankan aqidah dan kaedah di jalan Allah).

            Zakat, sebagaiman halnya shalat, merupakan satu arkaan min arkaanil-Islam. Sendi-sendi dari Islam. Zakat merupakan rukun (sendi) Islam yang ke-empat, setelah syahadatain, shalat, dan shaum (puasa).

            Dalam Kitab suci Al Quranul Karim, selalu diseiringkan perintah shalat dan zakat ini. Hingga dapat dikatakan, zakat inilah yang membedakan apakah seseorang itu mukmin atau kafir (munafik).

            Orang mukmin yang benar, selain mempercayai hari akhir, serta mengerjakan shalat, dan tidak mempersekutukan Allah, juga seorang pembayar zakat.

            Karena Al Quran selalu menghubungkan antara shalat dan zakat, maka para sahabat Rasulullah (salafus-shalih), selalu berperdapat, antara keduanya tidak boleh ada pemisahan.

            Al Quranul Karim juga menyebutkan zakat dengan kata-kata shadaqah. Bermakna shadaqah yang wajib. Sebagai pembuktian atas pembenaran perintah Allah, yang melekat pada harta benda seorang mukminin.

            Membayarkan zakat kewajiban muslim, sama halnya dengan kewajiban shalat. Maka memungut zakat dari seorang yang berkewajiban zakat merupakan perintah Allah pula. (At Taubah, 9:103). “Ambillah (pungutlah) dari sebahagian harta mereka sadaqah (zakat)”.

            Dalam pelaksanaan pemungutan zakat, harus ada satu badan. Bagi negara-negara Islam, perintah pemungutan datangnya dari Kepala Negara (Amirul Mukminin). Tentu melalui satu penegasan perundang-undangan, sesuai dengan Kitabullah. Untuk daerah kita, bisa dilakukan oleh Baitul Maal atau BADAN AMIL ZAKAT (BAZ) dan dapat disempurnakan menjadi rumah harta yang di dalamnya terdapat pengelolaan koleksi dan distribusi harta yang dihimpun dari sumber dana infaq dan shadaqah ummat.

            Karena itu, dalam pandangan Al Quran (Islam), seorang belum dapat di setarakan dengan orang-orang yang bertaqwa, sebelum dia mengeluarkan sebahagian hartanya (berupa zakat). Tanpa zakat, seseorang terjauh dari rahmat Allah.

 

Zakat Adalah Kewajiban Asasi Mukmin Berharta

            Tatkala Rasulullah mengirimkan utusan ke Yaman, bernama Mua’adz bin Jabal, Nabi menginstruksikan beberapa patokan yang harus dijalankannya. Antara lain, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam shahihnya.

            “Kau akan berada di tengah ummat Ahli Kitab. Ajaklah mereka mengakui, tidak ada Tuhan selain Allah dan Saya (Muhammad) adalah Rasul-Nya.

            “Bila mereka menerima (mengakui), beritahukanlah kepada mereka, bahwa mereka wajib melaksanakan shalat lima kali dalam sehari semalam.

            “Bila mereka telah menjalankannya, beritahukan pula, mereka diwajibkan mengeluarkan zakat, yang dipungut dari orang-orang kaya dan dikembalikan kepada orang-orang miskin.

            Dan bila mereka menjalankannya (shalat dan zakat ), maka kau harus melindungi harta kekayaan mereka itu. Selanjutnya rasulullah menegaskan lagi .

            “Dan takutlah kepada doa-doa orang yang teraniaya (diantaranya orang-orang miskin). Karena antara doa orang teraniaya dengan allah tidak ada batas (penghalang)“ (HR.Bukhari muslim, dari Anas Radhiallahu “anhu).

            “Aku diperintahkan memerangi manusia, kecuali bila mereka  meng-ikrar0kan syahadat, bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad Rasul Allah (kemudian) mendirikan Shalat dan membayarkan zakat”. (HR.Bukhari Muslim).

            Peringatan Rasullulah lainnya, berbunyi “Bila shadaqah  (zakat) bercampur dengan kekayaan laian. Bila harta kekayaan tidak dikeluarkan  zakatnya . Kekayaan itu akan binasa “ (HR Bazar dan Baihaqi , liaht Nailul Authar, jilid IV-126).

            Jelaslah zakat itu bagi seseorang Mukmin yang memiliki harta kekayaan, memiliki beberapa fungsi ,

1.      Perintah Allah (tanda pembenaran syahadat da shalat)

2.      Pembesih harta kekayaan

3.      Pengentasn Kemiskinan ummat, karena ditujukan kepada orang miskin.

4.      Sumber dana ummat, penggunaanya diarahkan kepada obyek tertentu (hasnaf delapan)

5.      Pembeda antara Mukmin & Munafik

            Kehidupan sehari-hari menberiakan bukti nyata “tidak ada orang yang melarat lantaran mengeluarkan zakat“. Bahkan sebaliknya yang sering bersua, orang kaya (Muslim), akhirnya tidak pernah mengenyan ketentraman , lantaran selalu menahan hak zakat..

            Zakat wajib dikelola dengan management yang benar. Sumbernya menjadi jelas, sebagai mana ditetapkan Al-qur’an. Setiap muslim yang mempunyao harta, wajib berzakat. Kewajiban demikian ditentukan berdasarkan batas (hisab) dari segi  jumlahnya . Batas juga dari waktu (haul), dalam setahun. Dan batas besarnya kewajiban yang wajib dikeluarkan . Sedari tingkat 2,5 (dua setengah) persen, 5 persen, 10 persen, bahkan ada yang sampai 20 persen dari besarnya kekayaan (hisab).

            Penerima zakat, juga dijelaskan dengan tegas. Antaranya Al Quran Surat At Taubah (IX) ayat 60. Ayat dari Firma Allah tersebut menjelaskan penerima  zakat tersebut adalah “orang-orang”. Subjeknya kelompok perorangan. Terdiri dari (1) .orang fakir  (2) . Orang Miskin  (3). Orang (para) Amil (pengelola zakat ). (4). Orang (para) Muallaf yang dibujuik hatinya. (5). Mereka (orang) yang diperhamba (membebaskan perbudakan ). (6). Mereka yang dililit hutang (mandi hutang). (7). Jihad dijalan Allah . (8). Dan orang yan gterlantar dalam perjalanan .

            “Demikian diwajibkan Allah Maha Tahu Maha Bijaksana (QS 9 : 60).

            Lima kelompok dari delapan asnaf ini adalah orang-orang yang amat memerlukan perhatian khusus. Karena mereka tengah berada ditepi jurang kemelaratan. Mereka adalah fakir,miskin, budak yang diperhamba, orang yang dililit hutang dan yang terlantar dalam perjalanan.

            Dua kelompok tengah berhadapan  dengan medan dakwah illallah . Ya’ni, Muallaf dan fisabilillah. Kelompok yang dengan kesadaran hati mereka menerima Islam, Problema yang dihadapi mereka bukan sedikit. Kadang-kadang berbentuk pengucilan dari kelompok (agama) anutan lamanya.

            Mereka cenderung tengah berproses kearah kemiskinan, jika tidak segera diantisipasi.

            Sebagaimana juga halnya “fisabilillah “. Mereka tengah berjihad. Bisa sebagai pejuang di meda laga, karena mempertahankan aqidah Islamiah. Bisa juga mereka yang tengah berdakwah didaerah sulit.

            Ruang lingkup fisabilillah ini cukup luas. Bisa juga mereka yang tengah menuntut ilmu pengetahuan, kemudian berkewajiban kembali ke tengah ummatrnya, membina dan mencerdaskan kel;ingkungannya.

            Pada hakekatnya, mereka bukanlah berjuang untuk diri sendiri, tetapi untuk kepentingan orang banyak . Atas redha Allah semata. Maka mereka perlu mendapatkan perhatian yang mendalam.

            Kesemua kelompok itu, mendapatkan porsi dari sumber zakat menurut prioritas secara kondisional dan situasional. Pengelolaanya adalah “amil” zakat. Untuk itu, mereka berhak mendapatkan bahagian. Intisarinya agar amanah untuk pihak-pihak yang diprioritaskan, tidak menyimpang kepada yang lainnya . Terciptanya keadilan dan pemerataan sesuai dengan program yang hendak dikembangkan. Amil zakat tetap akan menerima bahagian dari zakat itu, walau mereka terdir dari orang-orang berpunya juga. Terserah apakah bahagian imereka akan mereka nikmati berbentuk materi, atau akan mereka kembalikan lagi dalam bentuk shadaqah. Semuanya ini lebih banyak ditentukan oleh kualitas pribadi para amail.

            Bahkan ada kalanya orang-orang “berduit” yang diberi amanah sebagai “amil” zakat, bisa meniru apa yang dilakukan oleh Kaum Anshar (Madinah) terhadap kaum Muhajirin, dalm sejarah Hijrah  Rasullullah Shallallahu a’alaihi Wa Salam..

            Mulianya sikap mereka seperti diceritakan Allah di dalam Al Hasyr (QS.LIX) ayat -9 , antara lain mereka tunjukkan kasih sayang kepada orang berpindah ke kampung mereka, dan mereka tidak menaruh keinginan dalam  hati  terhadap apa yang diberikan kepada mereka (yang berpindah itu). Bahkan mereka utamakan kawannya lebih dari diri mereka sendiri meskipun mereka pun sedang berada di dalam kesusahan (pula). Demikian di antara bentuk-bentuk dari kualitas ummat, yang terbina karena iman mereka terhadap Allah. Hidup dalam kehidupan redha Allah.

 

Semestinya Zakat Harus Dipungut

            Tidak pantas, zakat hanya diberikan oleh pemilik harta kekayaan, menurut keinginan dan kepentingannya semata, apalagi hanya beralaskan belas kasihan. Karena zakat itu mesti diyakini sebagai titipan milik Allah yang wajib di keluarkan dari sejumlah harta kekayaan yang sedang dipunyai oleh seseorang orang berharta.

            Zakat harus dipungut dan dihitung hisab dan nisabnya secara pasti. Karena itu institusi “amil” perlu membagi dirinya menjadi pemungut (collector) dan pembagi zakat (distributor).

            Demi memudahkan para pemungut (kolektor,amil) dalam menjalankan tugasnya maka kemajuan iptek sekarang ini, memungkinkan sekali untuk menyusun lebih dahulu kohir (formulir zakat) .

            Selengkapnya dapat berisikan cara-cara yang tepat dan mudah bagi pemilik harta kekayaan untuk menghidupkan semangat berzakat. Juga memudahkan menghitung berapa sesungguhnya besar zakat mereka yang semestinya dikeluarkan.

            Akan salah kiprah jadinya, kalau ditemuinya juga pembayar zakat hanya mengeluarkan berupa kain sarung tua, ampelop uang di akhir tahun . Sebagaimana biasanya di bulan-bulan Ramadhan . Kemudian membagikan secara merata kepada siapa saja yang menurutnya pantas . Karena mungkin sasarannya kurang tetap. Dampaknya bisa berakibat memperbanyak jumlah orang miskin. Pendistribusian zakat perlu dipandu oleh Amil Zakat. Hal ini akan mempermudah terlaksananya “pementasan “ dan “pemintasan” dari usaha-usaha ke arah “pengentasan kemiskinan” ummat..

            Zakat sesungguhnya bukanlah milik pembayar zakat. Zakat adalah “harta milik Allah”, yang diamanahkan untuk dibayarkan kepda orang-orang tertentu “ yang ditentukan oleh Allah. Mungkin saja terjadi,pemilik zakat menyerahkan kepada badan (amil) tertentu . Tersebab karena keragu-raguan hati semata. Apakah zakatnya sampai kesasaran atau tidak.

            Maka dalam hal demikian itu menjadi tugas pokok dari amillah untuk mengumumkan pertanggung jawaban secara terbuka kepada ummat. Bisa sekali dengan memanfaatkan media massa yang ada dan menjangkau seluruh lapisan ummat.

 

Pemintasan Menghapus Kemiskinan

            Zakat sebagai penghapus kemiskinan telah dipentaskan sejak masa Rasullullah Shallalahu ‘alaihi Wassalam. Dalam sebuah hadist, sebagai mana diriwayatkan Bukhari Muslim, Rasullullah mengingatkan, “Meminta-minta tidak halal kecuali salah seorang dari tiga beban “. Pertama ,”orang yang menanggung beban berat (tidak mampu memikul sendiri ),maka baginya halal  meminta “,Ketiga “orang yang dibalut kemiskinan maka baginya pun halal meminta sampai dia kembali tegak dan hidup secara wajar “.”Selain dari tersebut  diatas haram baginya makan hasil meminta-minta.“. (HR.Bukhari Muslim, dari Qabishah al Hilali).

            Batasan dan larangan Rasulullah ini, membuka peluang boleh meminta sampai terangakat kemiskinan dan di dalamnya terkandung makna berilah kepada seorang miskin sessuatu yang menyebabkan sesudahnya di a bisa hidup wajar (terangkat kembali dari garis kemiskinan).

            Hidup layak, sebagai ukuran “kepantasan“, bervariasi sesuai kondisi kehidupan ummat dikala itu. Makanya kalangan miskin diangkat melalui pendidikan, pengajaran bagaimana membina hidup yang layak. Mengajarkan cara-cara mengolah kehidupan. Siap untuk membentuk hidup yang layak. Bisa melalui lapangan hidup pertanian, pertukangan, (nelayan) perikanan, perkebunan. Bahkan juga meniti usaha-usaha perniagaan.

            Untuk itu tentu perlu dikaji kesediaan “simiskin” untuk mengubah sikap jiwa. Dari menerima kemudian memakan .Menjadi penerima,pengolah, pemelihara dan baru memakan hasilnya, untuk dirinya dan keluarganya.

            Karena itu,tepat dan pantas jika kafir miskin diberi zakat hingga ia berkecukupan . Boleh dalam bentuk peralatan permodalan . Besarnya bantuan itu boleh disesuaikan dengan keperluan (untuk mengentaskan kemiskinan), agar dari usahanya diperoleh keuntungan. Meskipun jumlah permodalan itu besar (Imam Nawawi, Syarah Minhaj -VI/159).

            Bahkan Imam Syafei menegaskan, ”Bantuan zakat bisa dalam bentuk memberikan sebuah pekerjaan. Malah kemudian bisa pula ditambah untu usaha-usaha lainnya hingga dapat memenuhi kebutuhan si-miskin” (Al Umm). Yang kemudian pendapat ini disepakati pula oleh Imam Ahmad,”orang miskin boleh mengambil zakat untuk seluruh kebutuhan hidup (berupa sumber usaha yang berketerusan)” (Al Inshaf,III/238).

            Selanjutnya Ma’alim as Sunnah (II/239) menjelaskan pendapat Khattabi, ”Batas pemberian zakat adalah kecukupan (bagi simiskin yang diangkatkan derajatnya). Dengan zakat diciptakan kehidupan seseorang menjadi lebihj baik. Batas itu disesuaikan dengan kondisi serta tingakat kehidupan umum yang berlaku.Tentu akan berbeda pada tiap orang, sesuai dengan keadaaan mereka (bangsa)”.

            Pendapat-pendapat itu merujuk kepada kebijaksanaan umum yang pernah dilakukan oleh Umar bin Khattab. ”Kalau memberikan bantuan hendaknya mencukupi.”. Umar mementaskan dalam masa pemerintahannya . Umar pernah memberikan bantuan (zakat) berupa tiga ekor unta kepada seorang laki-laki yang memerlukan bantuan.

            Kemudian Umar pernah mengatakan niatnya yang teguh dalam “mengentaskan kenmiskinan “ di tengah rakyatnya .Akan aku ulangi pembagian zakat (sedekah) walaupun diantara mereka baru akan cukup dengan menyerahkan seratus ekor unta”.(Al Anwaal,565-566).

            Ternyatalah ,institusi zakat dapat dipergunakan secara efektif. Dalam usaha meningkatkan taraf hidup sesama muslimin untuk menjadi keluarga yang mampu dan hidup penuh dengan kelayakan, dalam ukuran ekonomis. Entaskan kemiskinan.

            Ini pula yang menjadi paham dai Imam Al Ghazzali (Ihya,I/207, al Halabi), ”Hendaknya zakat dapat dipakai untuk pembeli tanah (diolah bagi keperluan orang miskin ) dan hasilnya cukup untuk seumur hidup”.

            Maka termasuk “pantas” mempergunakan zakat untuk usaha yang berkesinambungan mendatangkan hasil tetap. Pantas juga membuka perkebunan dan lahan-lahan pertanian . Sebagai jalan “pintas” untuk mengentaskan kemiskinan itu.

            Yang perlu dijaga tujuan utama untuk kepentingan peningakatan taraf hidup orang melarat. Tidak untuk kepentingan yang lain dari itu.

            Disinilah peran BADAN AMIL ZAKAT (BAZ) DAN DAPAT DISEMPURNAKAN MENJADI BAITUL MAAL MENGHIMPUN SUMBER DANA INFAQ DAN SHADAQAH..

 

Jangan Berpangku Tangan

 

            Dengan tidak mengurangi penghargaan terhadap apa yang tengah di lakukan untuk menyalurkan  aspirasi ummat, yang selama ini terpelanting timbull pertanyaan, apakah kita boleh pasif dan berpangku tangan saja sambil menunggu-nunggu apa yang sedang terjadi dan akan dilaksanakan oleh “pihak yang berwajib” itu ?  Jawabnya  tentu tidak !

            Seorang “pemimpin” pemandu dan pembina ummat, tidak boleh pasif dengan berpangku tangan. Pertanggungan jawab moral seorang tidak mengizinkannya untuk bertindak  tidak acuh (pasif) terhadap keadaan ummat yang di pimpinnya. Terutama semua yang oleh umum dianggap mempunyai kedudukan pemimpin tadinya, dalam seluruh strata kepemimpinan.

           

Bencana akan menimpa ummat, apabila golongan pemimpin, besar ataupun kecil, disaat seperti sekarang ini asyik merawati diri, lalu mendandani  kehidupan masing-masing. Kemudian larut dan membiarkan ummat tenggelam di dalam nasibnya tanpa pegangan yang pasti. Ummat yang lebih lemah tidak boleh dibiarkan mencari nasib masing-masing tanpa pegangan dan arah yang pastiserta tanpa bimbingan dan panduan. Inilah beban seorang “pemimpin”.

            Timbul pertanyaan; Apakah yang dapat dilakukan sekarang ? Sementara, mungkin sekali pemimpin ummat itu belum dan tidak mempunyai apa-apa?. Tidak mempunyai kapital, tidak pula mempunyai wewenang apa-apa. Memang ada bedanya, bagi yang sudah dianggap orang sebagai pemimpin dari orang ‘awam.

           

Makanya yang dianggap seorang pemimpin itu, ialah karena memiliki beberapa hal. Seharusnya, seorang pimimpin yang bijak wajib memiliki;           (a). Keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, (b). Daya-pikir dan daya-cipta, (c). Cara hidup yang bersih, (d). Akhlaq dan budi pekerti yang baik, (e). Rasa cinta kepada Agama, Nusa dan Bangsa pada umumnya, (f). Rasa setia kawan yang telah pernah  terhimpun dalam hubungan persaudaraan, sebagai pembawaan sejarah dan persamaan pandangan hidup khususnya.

           

Yang dimiliki itu tidak dapat diukur dengan ukuran materiil atau kekuatan lahir. Akan tetapi tidak syak lagi, semua itu adalah modal dan tenaga pendorong. Di samping itu ada pula modal yang terdapat di luar kita, yakni pada diri ummat yang bersangkutan sendiri, berupa kemauan, kecakapan menurut bakat masing-masing, dan ketabahan hati menghadapi kesukaran, yang sudah tidak asing lagi bagi kehidupan mereka selama ini.

           

Disekeliling kita terbentang bumi Allah yang kaya raya. terkandung di dalamnya seribu satu macam sumber hidup bagi tiap-tiap seseorang yang sungguh-sungguh berkemauan menggali dan mempergunakannya.  Semuanya merupakan modal yang cukup besar dan effektif apabila dipergunakan dengan sebaik-baiknya, dan akan diberkati oleh Allah Yang Maha Rahiem, bila dipergunakan dengan mengharapkan keredhaan Nya.       

           

 

 

 

 



[1] Lihatlah, bagaimana gencarnya pengumpulan zakat, untuk pembeli senjata, pemberli pesawat udara (Seulawah satu). Dimasa kita berjuang mencapai kemerdekaan dimasa penjajahan kolonial Belanda dahulu (1945).

[2] Untuk melakukan studi banding, beberapa negeri tetangga telah lebih dahulu melakukannya. Mesir, sudah lebih dari seribu tahun mengelola uang zakat, untuk penguasaan tana-tanah produktif (pertanian), dan sarana-sarana ekonomi (perdagangan, dan pabrik-pabrik). Hasilnya samapai hari ii, menyantuni lembaga pendidikan tertua Al Azhar. Tidaklah berlebihan bila disebutkan bahwa Institut Al Azhar Mesir ini, merupakan institut terkaya, yang mengelola harta waqaf dan zakat.

[3] Bagaimana soalnya dengan kontraktor? Masihkah zakat dikeluarkan sebagai halnya petani? Sebahagiannya, ada yang mempersoalkan bahwa mereka terikat beban hutang dengan bank. Bagaimana pula dengan bank-bank, yang sekarang telah menjadi perusahaan (PT)? Adakah mereka mengeluarkan zakat?         Pertanyaan juga kepada para pegawai, yang jika dihitung, ada yang mendapatkan gaji, rendahnya Rp. 2,4 juta per tahung? Bahan ada yang lebih, hingga 50 sampai 100 juta? Atau yang yang menengah saja, sekitar Rp 12 juta setahun? Masihkah dipersoalkan, bahwa kami masih dihimpit hutang, karena pembelian mobil dan lain-lainnya, sampai dua atau tiga buah?             Secara sederhana, bisa dimulai menghitungnya. Kalaulah 2,5 persen dikeluarkan dalam bentuk zakat, barangkali kita memiliki sumber dana sekian milyar rupiah. Kalaulah 2,5 persen pula dari keuangan perusahaan besar seperti PT Semen Padang, PT Bank-bank, dan PT-PT lainnya, maka akan bertambah pula sekian ratus juta rupiah, pertahunnya. Menghitung, memang lebih mudah daripada memungut atau mengeluarkannya.

[4] Kita barangkali dapat meniru di zaman serba maju di abad global information ini dengan mendirikan satu lembaga amil zakat yang dikelola secara modern memiliki data-data selengkapnya tentang bagaimana menghitung zakat, kepada siapa di bagikan dan berapa sisa yang tersedia, dalam lingkungan kecil kemudian menjangkau lingkungan besar. Bukan sebaliknya.

Leave a comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: