Jangan Pasif

Jangan Berpangku Tangan

Oleh : H.Mas’oed Abidin

Dengan tidak mengurangi penghargaan terhadap apa yang tengah di lakukan untuk menyalurkan aspirasi umat, yang selama ini terpelanting timbull pertanyaan, apakah kita boleh pasif dan berpangku tangan saja sambil menunggu-nunggu apa yang sedang terjadi dan akan dilaksanakan oleh “pihak yang berwajib” itu ? Jawabnya tentu tidak !

Seorang “pemimpin” pemandu dan pembina umat, tidak boleh pasif dengan berpangku tangan.
Pertanggungan jawab moral seorang tidak mengizinkannya untuk bertindak tidak acuh (pasif) terhadap keadaan umat yang di pimpinnya.
Terutama semua yang oleh umum dianggap mempunyai kedudukan pemimpin tadinya, dalam seluruh strata kepemimpinan.

Bencana akan menimpa umat, apabila golongan pemimpin, besar ataupun kecil, disaat seperti sekarang ini asyik merawati diri, lalu mendandani kehidupan masing-masing.
Kemudian larut dan membiarkan umat tenggelam di dalam nasibnya tanpa pegangan yang pasti.
Umat yang lebih lemah tidak boleh dibiarkan mencari nasib masing-masing tanpa pegangan dan arah yang pastiserta tanpa bimbingan dan panduan. Inilah beban seorang “pemimpin”.

Timbul pertanyaan;
Apakah yang dapat dilakukan sekarang ?
Sementara, mungkin sekali pemimpin umat itu belum dan tidak mempunyai apa-apa?.
Tidak mempunyai kapital, tidak pula mempunyai wewenang apa-apa.
Memang ada bedanya, bagi yang sudah dianggap orang sebagai pemimpin dari orang ‘awam.

Makanya yang dianggap seorang pemimpin itu, ialah karena memiliki beberapa hal. Seharusnya, seorang pimimpin yang bijak wajib memiliki;
(a). Keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,
(b). Daya-pikir dan daya-cipta,
(c). Cara hidup yang bersih,
(d). Akhlak dan budi pekerti yang baik,
(e). Rasa cinta kepada Agama, Nusa dan Bangsa pada umumnya,
(f). Rasa setia kawan yang telah pernah terhimpun dalam hubungan persaudaraan, sebagai pembawaan sejarah dan persamaan pandangan hidup khususnya.

Yang dimiliki itu tidak dapat diukur dengan ukuran materiil atau kekuatan lahir. Akan tetapi tidak syak lagi, semua itu adalah modal dan tenaga pendorong.

Di samping itu ada pula modal yang terdapat di luar kita, yakni pada diri umat yang bersangkutan sendiri, berupa kemauan, kecakapan menurut bakat masing-masing, dan ketabahan hati menghadapi kesukaran, yang sudah tidak asing lagi bagi kehidupan mereka selama ini.

Di sekeliling kita terbentang bumi Allah yang kaya raya. terkandung di dalamnya seribu satu macam sumber hidup bagi tiap-tiap seseorang yang sungguh-sungguh berkemauan menggali dan mempergunakannya.

Semuanya merupakan modal yang cukup besar dan effektif apabila dipergunakan dengan sebaik-baiknya, dan akan diberkati oleh Allah Yang Maha Rahiem, bila dipergunakan dengan mengharapkan keredhaan Nya.

Leave a comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: